Rabu, 23 Mei 2018

PENDEKAR PEDANG PELANGI 16


Jilid 16
Setelah membersihkan pasir yang mengotori pakaian mereka. Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong mendekati A Liong kembali.

Kini cara mereka memandang kepada A Liong telah berubah, "A Liong! Kau tahu apa yang baru saja terjadi? Hmm, kau telah mengalahkan kami berdua! Rasa-rasanya kami tak mungkin lagi menjadi gurumu...." Bok Kek Ong berkata tegas.

"Suhu...?" A Liong berseru kecewa, "Siau-te benar-benar tak tahu apa-apa. Siau-te belum pernah belajar silat. Belum pernah berguru kepada siapapun juga. Siau-te hanya pernah diajari cara bernapas untuk mengusir hawa dingin oleh seorang kakek asing. Itupun hanya sekali saja, ketika siau-te berumur lima atau enam tahun! Suhu, siau-te berkata sebenarnya! Jangan tolak aku! Berilah aku kesempatan untuk berguru kepadamu...!"

Sekali lagi kedua orang tua itu saling pandang satu sama lain. Mereka saling bertukar pendapat.
Akhirnya Soat Ban Ong menganggukkan kepalanya. 


"Baiklah, A Liong. Kami memang percaya padamu. Kami menyadari bahwa hal-hal aneh dan ajaib itu, tentu bukan karena kehendakmu sendiri. Kami juga tahu bahwa sampai sekarang pun kau juga belum tahu apa yang telah terjadi pada dirimu. Ada suatu rahasia besar yang tampaknya menyelubungi kehidupanmu."

"Jadi...?"

"Yah! Kami tetap akan mengajarimu ilmu silat, agar kekuatanmu itu bisa dikendalikan dan dipergunakan dengan baik."

Betapa leganya hati A Liong! Untuk beberapa saat dia menatap wajah kedua gurunya itu dengan air mata berlinang. Kemudian dengan bersemangat ia berlutut dan menghentakkan dahinya berulang-ulang ke atas pasir.

"Sudahlah, silakan kau berdiri! Kami berdua akan meneliti keadaan tubuhmu dulu. Kami ingin tahu di mana letak keajaibanmu itu."

"Silakan, Suhu! Silakan...!"

A Liong melepas bajunya. Demikian pula dengan celana luarnya, sehingga ia hanya mengenakan celana dalam saja.

Soat Ban Ong dan Kek Ong benar-benar kagum menyaksikan badan yang tegap dan penuh otot itu. Sungguh seorang anak yang sehat dan berbakat untuk belajar silat!

Ketika tampak oleh mereka gambar 'tatto naga' di dada A Liong, mereka saling memandang dengan kening berkerut. Ternyata mereka berdua, yang belum pernah menginjakkan kaki di daratan Tiong-kok, tidak mengenal tanda itu. Mereka juga belum pernah mendengar bahwa di dunia kang-ouw ada partai persilatan yang memiliki tanda khusus seperti itu. Tak heran kalau akhirnya mereka menggeleng-gelengkan kepala tanda tak tahu.


Soat Ban Ong menarik napas panjang sambil memandang A Liong. "A Liong! Apakah kau ingat, siapa yang melukis gambar tatto naga di dadamu itu?"

A Liong menunduk, melihat gambar tatto naga di dadanya,, kemudian menggeleng. "Tidak, Suhu. Sejak kecil gambar ini sudah ada di sini. Semua orang yang mengenal aku juga mengatakan demikian. Itulah sebabnya orang memanggilku... A Liong (Si Naga)!"

Soat Ban Ong menatap mata Bok Kek Ong, demikian pula sebaliknya. Keduanya sama-sama berpikir bahwa gambar itu tentu ada artinya. Tapi, apakah itu?

"Bagaimana dengan pengemis-pengemis tua di kelompokmu? Apakah mereka juga tidak tahu?"

Sekali lagi A Liong menggelengkan kepalanya. "Mereka juga tidak tahu, Suhu. Ketika orang tua angkatku membawa aku ke dalam kelompok pengemis itu dan bergabung dengan mereka, gambar ini juga sudah ada. Tak seorangpun bisa menghapusnya, walaupun telah dibubuhi bermacam-macam obat penyembuh luka. Sampai orang tua angkatku tiada, dan aku berkeliaran sendiri bersama kelompokku, gambar ini tetap menempel di sini. Bahkan semakin bertambah umur, gambarnya juga semakin jelas."

"Dan... kau tak pernah berusaha untuk mencari tahu makna gambar itu? Setidak-tidaknya ingin tahu, siapa sebenarnya engkau ini?" Bok Kek Ong bertanya.

A Liong terhenyak. Matanya terbuka lebar, seolah-olah pertanyaan itu sangat aneh dan mengejutkannya. Tapi rasa kaget itu hanya sekejap. Di lain saat kepalanya telah tertunduk kembali.

"Siapa sebenarnya... Aku? Ah, Suhu! Bukankah aku anak gelandangan yang tak punya ayah ibu? Aku lahir di tempat sampah, seperti teman-temanku yang lain. Lalu, apa yang harus dicari?"

Bok Kek Ong tertawa sambil menggoyangkan tangannya. "Aaah, pendapat itu terlalu picik dan tidak masuk akal, A Liong. Mungkin kawan-kawanmu memang anak keturunan pengemis yang lahir di tempat sampah. Tapi..., kau? Rasanya tak seorangpun mau percaya kalau kau katakan dirimu seorang tidak memiliki ayah ibu, apalagi lahir di tempat sampah seperti katamu tadi. Sikap dari kepribadianmu sama sekali tak mencerminkan hal itu. Kami justru beranggapan bahwa kau memiliki asal-usul yang menarik. Kau bukan keturunan manusia sembarangan. Dari gambar tatto naga itu bisa diduga bahwa kau berasal dari keluarga atau golongan yang punya nama di tengah-tengah masyarakat ramai. Kau... atau teman-temanmu seharusnya tahu atau berpikir tentang hal itu."

A Liong tertegun. Matanya, terbelalak lebar menatap wajah gurunya. Ucapan orang tua itu bagaikan kilatan petir yang tiba-tiba menyeruak menerangi otaknya. Benarkah apa yang dikatakan orang tua itu?

"Maaf, Suhu. Siau-te... siau-te memang tak pernah memikirkannya. Kami, anak-anak pengemis, tidak pernah berpikir tentang kehidupan. Setiap hari kami hanya berjuang untuk tetap hidup, dan tak pernah berpikir tentang asal-usul kami. Apalagi harus berpikir tentang hari esok. Kami sudah pasrah pada nasib yang telah diberikan kepada kami." A Liong berhenti sejenak. 

Kemudian dengan nada yang agak bersemangat ia meneruskan. 'Tapi ucapan Suhu tadi, rasanya... ada benarnya juga. Kadangkala terlintas iuga dalam pikiran siau-te tentang hal itu. Benarkah aku ini anak seorang pengemis? Kalau benar, mengapa keadaanku banyak berbeda dengan anak-anak pengemis lainnya? Mengapa hanya aku yang memiliki gambar tatto naga ini? Mengapa hanya aku pula yang memiliki benjolan di pusar.  Dan... mengapa hanya aku juga yang mempunyai tubuh sehat dan kuat? Suhu benar! Seharusnya aku sudah memikirkan sejak dulu, dan tidak terlena oleh anggapan tentang anak sampah itu. Tidak mungkin manusia lahir dari sampah. Aku tentu mempunyai ayah ibu...."

Soat Ban Ong beringsut mendekati A Liong dan menepuk pundaknya. "Nah, kalau kau bisa keluar dari tempat ini, kau selidikilah asal-usulmu! Jangan sampai kau menyesal di kemudian hari! Siapa ahu orang tuamu masih mencarimu sam¬pai sekarang!"

"Suhu...???" A Liong berseru dengan wajah pucat.

"Sudahlah! Kau tak usah memikirkannya sekarang! Setelah tamat belajar silat nanti, kau boleh memikirkannya lagi! Sekarang duduklah! Biar kami meneliti keadaan di dalam tubuhmu. Mudah-mudahan kami bisa menemukan rahasia kehebatanmu tadi, sehingga kami dapat menemukan cara yang tepat dalam mem¬beri tuntunan silat kepadamu."

"Benar, kau tak usah memikirkannya sekarang. Kini bersiap sajalah untuk, kami periksa keadaan di dalam tubuhmu ...!” Bok Kek Ong menambahkan.

Demikianlah dengan sangat hati-hati, kedua orang tua itu mencoba mencari, di mana letak rahasia tenaga sakti A Liong. Soat Ban Ong duduk di depan sambil menempelkan kedua telapak tangannya di dada A Liong. Sedangkan Bok Kek Ong bersila di belakang dengan tangan melekat di punggung pemuda itu. Masing-masing berusaha menyusupkan tenaga dalamnya ke tubuh A Liong dengan hati-hati. Begitu ada perlawanan dari tenaga dalam A Liong, mereka cepat-cepat menariknya kembali, dan berpindah ke bagian lain.

Keringat mulai menitik di dahi Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong. Meskipun tidak sedang bertempur, namun cara mereka mengerahkan tenaga dalam secara khusus itu benar-benar menguras tenaga mereka. Dan semakin turun mendekati pusar A Liong, loncatan tenaga balik yang diakibatkan oleh daya tolak pemuda itu semakin kuat. Sedikit saja tenaga dalam kedua orang tua itu tersalur, maka sebuah kekuatan yang maha dahsyat segera menyembur keluar dari bawah pusar A Liong! Terlambat sedetik saja menarik saluran tenaga mereka, nyawa merekalah taruhannya! Untunglah dengan cara dari muka dan belakang, otomatis tenaga dahsyat itu terbelah menjadi dua jurusan. Namun demikian tetap saja mereka berdua tak kuasa menghadapinya.

Ketika sampai di bawah pusar, dimana benjolan sebesar ibu jari itu berada, telapak tangan Soat Ban Ong bergetar dengan hebat. Belum juga tenaga dalam orang tua itu tersalur, tempat itu sudah bergolak seperti kepundan gunung api!

Mata Soat Ban Ong terbeliak ketakutan! Tangannya yang menempel di atas benjolan itu tiba-tiba seperti tersedot ke dalam perut A Liong!

Untunglah Bok Kek Ong yang berada di belakang A Liong, segera tanggap akan bahaya yang menimpa sahabatnya! Kedua jari telunjuknya buru-buru ditekuk, kemudian menekan jalan darah keh-ping-hiat di kanan kiri tulang pinggul A Liong!

Untuk sedetik daya sedot dari perut A Liong seperti terhambat. Dan kesempatan tersebut tidak disia-siakan oleh Soat Ban Ong. Kakek itu cepat menarik tangannya hingga terlepas!

Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong bangkit berdiri sambil menyeka keringat mereka. Hampir saja mereka mendapat kesulitan lagi. Untung mereka bisa menyelamatkan diri.


Kedua orang tua itu memandang A Liong dengan kagum sekali. Sekarang mereka sudah mengetahui rahasia kekuatan A Liong. Pemuda itu memiliki sesuatu yang aneh di dalam perutnya, yang membuat tenaga dalamnya menjadi berlipat ganda kekuatannya. Tapi mereka tidak tahu, benda apa yang tersimpan di sana. Dan hal ini semakin meyakinkan mereka, bahwa asal-usul A Liong tidaklah seperti yang diceritakannya. Tentu ada rahasia tersembunyi dalam asal-usulnya, yang tidak diketahui oleh anak muda itu sendiri.

"A Liong...! Sekali lagi kau membuat kaget kami berdua! Ternyata di dalam perutmu tersimpan barang aneh, yang membuat tenaga saktimu (sinkang) menjadi tidak terukur tingginya! Kami tidak tahu barang apa itu, tetapi yang jelas barang tersebut telan berada di dalam perutmu sejak kau lahir di dunia. Dan kami yakin benda itu tidak berada begitu saja di dalam badanmu. Tentu ada orang yang sengaja memasukannya. Dan Orang itu tentu mempunyai hubungan dekat denganmu. Mungkin orang tuamu yang aseli, atau keluargamu yang lain. Dan... mereka tidak mungkin orang biasa, apalagi seorang pengemis atau gelandangan! Benda-benda langka seperti itu biasa dimiliki oleh tokoh-tokoh sakti atau orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi di masyarakat!"

A Liong menatap gurunya dengan wa¬jah kosong. Semua yang dikatakan orang tua itu merupakan hal-hal baru yang be¬lum pernah dipikirkannya. Namun, demi¬kian apa yang mereka katakan itu tera-sa mengandung kebenaran. Bahkan pikir¬an dan perasaannya dapat menerimanya.

"Suhu maksudkan... Suhu maksudkan benjolan di bawah pusarku ini? Memang dari sinilah bau amis itu bermula...."

Baik Soat Ban Ong maupun Bok Kek Ong menganggukkan kepalanya. "Ya! Untunglah selama ini tak ada orang yang berusaha mengambilnya. Benda itu merupakan sumber bahaya bagimu, sebab setiap orang tentu ingin memilikinya. Terutama orang-orang dan dunia persilatan!"

"Aaah...!"A Liong berdesah ketakutan.

Tapi Soat Ban Ong cepat mengelus pundak A Liong. "Jangan khawatir, A Liong! Kami akan mengajarimu mengendalikan kekuatan itu. Setelah kau mampu mengendalikannya, hmmmmm... tak seorangpun di dunia ini dapat mengalahkanmu. Termasuk kami berdua, bahkan Ketua Pondok Pelangi sendiri! Meskipun ilmu silatnya sangat sempurna, tapi kekuatannya takkan bisa menandingimu!"

"Ketua Pondok Pelangi? Siapakah dia, Suhu?" A Liong bertanya kaget.

Soat Ban Ong terbelalak. Ternyata tanpa disadari mulutnya telah kelepasan omong. Sebenarnya dia dan Bok Kek Ong tidak ingin bercerita tentang ketua Pondok Pelangi. Tapi kata-kata itu te¬lah terlanjur keluar dan tak bisa dijilat nya kembali.

Memang sebenarnya mereka enggan bercerita tentang Pondok Pelangi. Selain mereka berdua berasal dari tempat itu, mereka juga memiliki keluarga dan sanak saudara di sana. Bahkan mereka berdua mempunyai kedudukan tinggi dalam sistim pemerintahan di kepulauan kecil itu.

"Suhu, mengapa Suhu diam saja? Apakah dia musuhmu? Apakah dia pula yang mengasingkan Suhu ke mari?"


Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong tersentak. "Ah, tidak...! Bukan begitu...!" Mereka buru-buru menerangkan.

Demikianlah, karena tak ingin terjadi salah pengertian pada A Liong, maka kedua orang tua itu terpaksa berbicara tentang Pondok Pelangi!


Kepulauan kecil yang jauh terpencil dari dunia ramai itu hanya berpenduduk sekitar dua ribu orang. Mereka hanya terdiri dari tiga nama keluarga, yaitu Soat, Souw, dan Bok. Masing-masing marga atau keluarga itu mempunyai seorang Kepala Marga, yang sangat dijunjung tinggi oleh marganya. Mereka adalah orang yang paling dituakan dan pa¬ling tinggi ilmu silatnya di antara warganya. Dan sebagai kepala pemerintahan atau Pemimpin dari Negeri Kepulauan itu dipilih salah seorang aari tiga Kepala Marga tersebut. Orang itu akan bertin¬dak sebagai raja di kepulauan kecil tersebut.


Hampir sepanjang tahun negeri itu dibalut oleh udara dingin. Hanya beberapa bulan saja mereka melihat wajah matahari. Mereka biasa beternak rusa dan anjing, sementara kaum wanitanya mena¬nam rumput laut, jamur-jamur karang, dan tanaman obat-obatan.

Penduduk kepulauan itu memiliki se¬buah keistimewaan, yaitu ilmu silat ke¬turunan yang hanya bisa diwarisi oleh kalangan mereka sendiri. Ilmu silat ketu¬runan itu telah berabad-abad diwariskan kepada mereka oleh nenek moyang Kelu¬arga Soat, Souw dan Bok. Ilmu silat ke¬turunan itu diciptakan berdasarkan kekhu¬susan daerah itu, yaitu kabut pelangi yang selalu menyelimuti kepulauan terse¬but. Nenek moyang mereka menyebut ilmu silat itu dengan Ilmu Silat Cahaya Pelangi! Konon khabarnya ilmu silat itu merupakan sumber dari segala ilmu silat Tiongkok asli, sebelum Tat-mo Cou-su membawa ilmu silat baru dari India.
Sayang sekali, sekitar lima abad yang lalu salah seorang warga mereka melari¬kan diri dari kepulauan itu. Warga mereka yang bernama Souw Gi itu menjadi nekad karena patah hati. Cintanya dito¬lak oleh gadis dari Marga Bok. Tapi ke-pergian Souw Gi itu ternyata dengan membawa Pedang Pusaka kaum mereka, yaitu Pedang Pelangi! Semua itu bisa terjadi karena ayah Souw Gi adalah Ke¬pala Marga Souw yang terpilih sebagai Ketua Pondok Pelangi!
Ayah Souw Gi membentuk pasukan khusus untuk mencari pedang pusaka ser¬ta anaknya. Pasukan pilihan yang terdiri dari sepuluh orang itu berangkat dengan perahu-perahu kecil. Mereka menyebar ke segala penjuru.
Namun bertahun-tahun kemudian, hingga ayah Souw Gi meninggal, dan digantikap oleh ketua yang baru, pasukan pilihan itu tidak pernah kembali. Begitu pula ketika Ketua yang baru memben-tuk pasukan pilihan lagi, dan mengirim¬kan mereka keluar pulau, tidak seorang pun kembali pulang.
Sejak itu setiap pergantian Ketua, terjadi semacam tradisi untuk mengirim¬kan utusan khusus untuk mencari pedang pusaka tersebut. Tapi seperti halnya yang terdahulu, utusan-utusan itu tidak per-nah kembali pula.
Demikian pula halnya yang terjadi pada empat puluh tahun lalu. Saat itu terjadi pergantian Ketua, karena ketua yang lama telah meninggal, Kebetulan terpilih sebagai utusan khusus adalah Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong!
Pada saat itu Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong baru berusia dua puluh tahun. Keduanya memiliki bakat alam yang he¬bat, sehingga dalam usia muda meresa telah menyempurnakan ilmu silatnya. Kebetulan pula mereka adalah putera Kepala Marga mereka masing-masing.
Sebenarnya tugas itu sangat menye¬dihkan keluarga mereka, apalagi masing-masing sudah menikah pula. Tapi di lain pihak tugas itu juga membuat keluarga mereka merasa bangga. Utusan khusus untuk mencari pedang pusaka itu meru¬pakan tugas suci dari warga Pondok Pe¬langi. Oleh karena itu sebelum berang¬kat mereka berpesan kepada keluarga masing-masing, agar supaya anak mereka yang belum lahir bisa dikawinkan sa¬tu sama lain bila ternyata lelaki dan pe¬rempuan.
Demikianlah, Soat Ban Ong dan B k Kek Ong berangkat dengan sebuah jukung kecil tanpa layar. Mereka berlayar ke selatan, menuju ke daerah panas, karena mereka berpendapat bahwa seorang yang lari dari pulau mereka tentu menuju ke daerah panas. Tidak mungkin menuju ke kutub atau ke laut lepas.
Namun seperti halnya pendahulu-pen-dahulu mereka, mereka berdua pun ter¬nyata tak kuasa melawan keganasan alam. Belum juga keluar dari daerah pusaran air, jukung mereka telah dihantam ge¬lombang laut hingga pecah dan terdam¬par di gugusan pulau itu.
Sudah empat puluh tahun Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong bertahan di gu¬gusan pulau karang itu. Mereka terjebak di dalam lingkungan daerah berbahaya yang tidak mungkin bisa dilalui oleh manusia. Daerah itu adalah daerah ber¬bahaya, di mana beberapa arus laut le¬wat dan bertemu. Badai laut pun setiap saat juga selalu melanda daerah itu. Bahkan badai salju pun sering menyerang daerah itu pula.
Tanpa memiliki perahu besar tak mungkin bisa lewat di tempat itu. Na¬mun dengan ketekunan dan latihan keras, disertai pengamatan lingkungan yang te¬liti, akhirnya mereka berdua bisa berma¬in-main agak jauh dengan sampan buat¬an mereka. Meskipun demikian mereka tetap belum dapat keluar dari daerah berbahaya itu. Sampan kecil itu tak da¬pat bertahan terhadap badai laut. Cela-kanya, di kawasan berbahaya itu juga banyak dihuni oleh ikan hiu dan cucut, yang besarnya sepuluh atau lima belas kali lipat besar sampan mereka. Mudah saja bagi binatang itu untuk melahap me¬reka!
"Begitulah A Liong...!" Empat puluh tahun kami hidup di tempat ini. Setiap hari yang kami lakukan hanyalah berlatih silat dan mencari jalan, keluar dari tem¬pat ini."
"Dan... Suhu berdua belum mendapat¬kan jalan itu?"
Soat Ban Ong saling pandang dengan Bok Kek Ong, lalu menganggukkan kepa¬la. "Kami hampir menemukannya. Tapi karena jalan keluar itu menuju ke timur, kami tak berani- mencobanya. Kata orang di tempat matahari terbit itu tak ada kehidupan. Seluruhnya hanya terdiri dari air yang tak berujung pangkal. Tak mung kin manusia bisa hidup di sana, apalagi hanya dengan sampan kecil seperti milik kami."
"Kami lalu mencoba jalan yang lain lagi. Kami mencoba bersampan melawan arus menuju ke selatan...." Bok Kek Ong meneruskan cerita sahabatnya. "Semula memang sangat sulit sekali. Bayangkan! Arus itu deras sekali! Dengan segala ke¬kuatanku aku bisa mengayuhnya maju. Tapi sekejap saja aku berhenti menga¬yuh, sampan itu -sudah kembali ke tem¬pat semula. Nah, akibatnya seharian pe¬nuh sampan itu hampir tak dapat berge¬rak maju...."
"Tapi... Suhu bisa mengayuhnya sam¬pai jauh ke selatan, ke tempat Suhu me¬nemukan aku itu." A Liong memotong cerita gurunya.
"Tentu saja, karena kami telah ber¬latih selama sepuluh tahun untuk mela¬kukan hal itu. Latihan keras untuk me¬naklukkan arus itu membuat tenaga da¬lam kami tumbuh berlipat ganda. Kalau semula sekali kayuh kami hanya dapat maju setombak jauhnya, kini sekali ka¬yuh kami bisa meluncur sepuluh atau dua belas tombak ke depan!" Soat Ban Ong tersenyum bangga.
"Maka kami benar-benar kaget keti¬ka tenaga gabungan kami tak dapat me-ngalahkanmu! Kami berdua benar-benar tak percaya, karena dengan tingkat kami sekarang, rasanya Ketua Pondok Pelangi sendiri takkan mampu mengalahkan ka¬mi!" Tiba-tiba Bok Kek Ong menyela perkataan sahabatnya.
"Ah, Suhu... Jadi Jiwi Suhu tetap ya¬kin bahwa menentang arus itu merupakan jalan keluar satu-satunya?" A Liong mengalihkan pembicaraan tentang dirinya itu dengan bertanya kepada Bok Kek Ong.
"Yah, hanya itu jalan keluarnya. Diluar jalur arus adalah daerah berbahaya. Mengikuti arus, sama saja pergi ke dae¬rah tak berujung-pangkal alias... mati. Maka menurut kami, hanya menen¬tang aliran arus itulah satu satunya ja¬lan kebebasan. Tapi sekarang niat itu kami tangguhkan dulu. Kami akan meng¬ajarimu ilmu silat, agar kau juga bisa mengikuti kami keluar dari tempat ini."
A Liong cepat berlutut di depan Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong. Wajahnya sangat terharu.
"Terima kasih, Suhu...."
Betapa gembiranya hati A Liong men dengar kesanggupan gurunya. Tak terasa terngiang kembali janjinya kepada Siau In, bahwa pada suatu saat dia akan men jadi jago silat nomer satu. Dan tampak¬nya janji itu kini sudah mulai terasa di dalam genggamannya.
Demikianlah, hari - itu A Liong selalu teringat kepada Siau In, gadis cantik yang telah menolongnya dari keganasan orang-orang Hun. A Liong sama sekali tak menyangka bahwa gadis itu berada dalam cengkeraman penghuni kuburan.
*
**
Kita kembali lagi ke kuburan tua di balik bukit itu. Siau In yang dikurung di dalam ruangan gelap di bawah tanah ma¬sih saja merenungi nasibnya. Ruangan itu sama sekali tak ada pintu keuarnya.
"Cici, maafkan aku." Rintihnya per¬lahan. "Aku... aku, hah? Bau apa ini?"
Tiba-tiba hidung Siau In terasa mem baui asap masakan yang enak, sehingga otomatis perutnya menjadi lapar sekali.
"Nenek tua itu sedang memasak dan asapnya menjalar sampai di sini. Hmm, berarti ada ruangan lain di dekat ruang¬an ini. Baik, aku akan mencarinya...."
Seperti seekor anjing pelacak Siau In lalu menggunakan hidungnya untuk mencari asal asap masakan itu. Dan ter¬nyata kegigihannya membawa hasil pula. Ketika ia menunduk di samping peti-peti yang paling ujung, bau asap itu tera¬sa makin menyengat.
Siau In segera menggeser peti mati itu ke tengah. Sinar terang tampak me¬nyorot ke luar dari sebuah lobang besar di bawahnya. Ternyata lobang itulah pin¬tu keluarnya, tempat di mana nenek tua itu keluar masuk ke dalam ruangan ter¬sebut.
Siau In menjenguk ke dalam. Ia me¬lihat sebuah gua besar di balik lubang itu. Gua yang sudah ditata rapi dan di¬ratakan lantainya. Bahkan berbagai ma¬cam perabotan sederhana tampak tersu¬sun pula dengan teratur. Almari, tempat tidur, meja kursi, semuanya terbuat dari kayu kasar. Sebuah lampu minyak terle¬tak di atas meja.
Dengan hati-hati Siau In masuk ke dalam. Bau masakan tetap menyengat hidung, tetapi tak seorang pun tampak di dalam ruangan itu. Ruangan itu be¬nar-benar bersih dan rapi. Beberapa po-tong pakaian wanita tampak tergantung di dekat almari. Pakaian model lama ta¬pi masih kelihatan terawat baik. Di de¬kat almari itu terlihat lobang besar, yang tampaknya adalah pintu keluar dari ruangan tersebut. Dan dari lubang itulah datangnya bau masakan tadi.
Siau In bergegas menuju ke lubang besar itu. Bau masakan makin menusuk hidung.
"Siapakah kau...? Mengapa kau bisa sampai ke sini?" Tiba-tiba terdengar su¬ara wanita menyapa di dalam ruangan itu. Suaranya amat jelas dan nyaring, su-atu tanda kalau orang itu memiliki tena¬ga dalam yang sangat tinggi.
Siau In hampir melompat saking ka¬getnya. Otomatis seluruh uratnya mene¬gang, siap menghadapi segala kemung¬kinan. Matanya berputar, mencari arah suara itu. Aneh, tak seorang pun dilihat¬nya.
"Aku... aku tidak melihatmu. Di ma¬nakah k-k-kau...?" Siau In menjawab de¬ngan suara gemetar. Bayangan nenek tua itu kembali menghantuinya.
"Jawab dulu pertanyaanku, baru aku keluar menemuimu!"
Siau In mulai ketakutan. "Namaku... Tio Siau ln, dari aliran Im-yang-kau. Aku tersesat dan tidak dapat keluar dari tempat ini!"
"Tersesat? Siapa yang membawamu ke mari?"
"Lhoh...?" Siau In tertegun. Ternyata orang itu bukan Si Perempuan Tua yang menculiknya itu.
Hening sejenak. Berdebar hati Siau In menantikan jawaban orang itu. Kalau bukan penculiknya, lalu siapakah orang ini? Wah, jangan-jangan yang ini justru hantu sungguhan!
"jawablah! Mengapa diam saja?" Su¬ara itu kembali berdentang.
"Eh-oh... aku Tio Siau In, murid ke¬tua Cabang Im-yang-kau wilayah Timur. Guruku bernama Giam Pit Seng." Siau In tersentak kaget dan buru-buru menja¬wab dengan suara gemetar.
"Anggota aliran Im yang kau”i
"Yah... kau pernah mendengarnya?"
"Ya, tapi aku tidak mengenal tokoh-tokoh yang baru. Apakah Toat-beng-jin yang biasa disebut Lo-jin-ong itu masih hidup?"
Siau In mengerutkan dahinya, lalu mengangguk. Perasaannya menjadi tidak enak karena orang itu menanyakan to¬koh yang paling dihormati di dalam aliran Im-yang-kau.
"Ah... tentu sudah tua sekali. Eeem, lalu... bagaimana dengan... Kau Cusi (Pengurus Agama) Tong Ciak?"
Tong Ciak merupakan orang keperca¬yaan mendiang Kaisar Chin Si Hong-te, seperti halnya mendiang Jendral Beng Tian. Setelah kaisar terakhir Dinasti Chin tersebut runtuh dan kerajaan jatuh ke tangan Kaisar Liu Pang, Tong Ciak kembali lagi ke tempat asalnya, yaitu ke aliran Im-yang-kau. Karena sejak se¬mula tingkat kedudukannya memang su¬dah tinggi, maka ia segera diangkat menjadi Pengurus Agama. Dan itu terja¬di pada tiga puluhan tahun yang lalu, Ciak masih berumur tiga pu-ahun.
Hati Tio Siau In semakin kecut. Ter¬nyata orang itu juga sudah mengenal Tong Ciak pula. Bahkan caranya menye¬but seperti kepada sahabat atau orang yang memiliki kedudukan setingkat.
"Beliau juga dalam keadaan baik. Ta¬pi... sekarang beliau menjabat sebagai Ketua, bukan sebagai Pengurus Agama lagi."
"Oh... ya? Sekarang Ilmu Silat Kulit Dombanya tentu telah mencapai puncak-nya. Kata orang, lima belas tahun lalu dia sudah berada di tingkat ke sebelas."
Dada Siau In semakin berdebar-debar. Orang itu juga mengenal ilmu silat Alir¬an Im-yang-kau yang sangat dirahasia¬kan. Padahal Ilmu Silat Kulit Domba ha¬nya diketahui oleh tokoh-tokoh puncak mereka. Gurunya sendiri yang sudah ber¬kedudukan cukup tinggi, juga belum di-ijinkan untuk mempelajari ilmu rahasia tersebut.
"Locianpwe... si-siapakah?" Di dalam keraguannya Siau In bertanya. Ia tidak berani bersikap sembarangan lagi.
"Kau ingin tahu... siapa aku? Baik! Lihatlah...!"
Siau In tersentak dan hampir saja menjerit ketika tiba-tiba di depannya te¬lah berdiri seorang wanita yang sangat cantik. Cantik dan matang!
Dilihat dari rambutnya yang telah bercampur uban, usianya tentu sudah lebih dari empat puluh tahun. Tapi kalau dilihat dari kulit wajahnya yang tetap licin dan segar, orang takkan percaya kalau dikatakan umurnya lebih dari tiga puluh tahun. Pakaiannya yang longgar dan panjang itu hampir menutupi seluruh tubuhnya yang tinggi langsing. Hampir saja Siau In mengira bahwa ia sedang berhadapan dengan Souw Giok Hong, ga¬dis ayu yang dijumpainya di atas pohon itu. Wajah mereka sangat mirip satu sa¬ma lain. Hanya umur dan penampilan mereka saja yang berlainan.
"Kau terkejut? Mengapa? Kau pernah bertemu dengan aku?" Wanita cantik itu bertanya. Suaranya nyaring berwibawa.
Siau In menggeleng. Mulutnya belum bisa menjawab.
"Jangan takut! Aku tidak akan berbu¬at jahat kepadamu. Aku hanya ingin ta¬hu, bagaimana kau bisa sampai ke tem¬pat ini. Hmm, siapakah namamu tadi? Tio Siau In? Benarkah?"
Siau In mengangguk. Mulutnya tetap terkunci.
"Baiklah! Tenangkanlah dulu perasaan¬mu! Atau... kita keluar dulu? Marilah, akan kuperkenalkan kau dengan saudara¬ku!"
Wanita cantik itu lalu menggandeng lengan Tio Siau In dan membawanya ke¬luar melalui lubang besar tadi. Mereka menyusuri lorong panjang yang di kanan kirinya banyak dipasangi lampu minyak, sehingga tempat tersebut tampak terang benderang. Hembusan angin dingin me¬nerpa tubuh Siau In, seolah-olah dinding gua itu mempunyai banyak lubang angin.
Lorong itu berbelok-belok, naik turun, dan kadang-kadang menembus ke lubang gua yang lain. Demikianlah, setelah be¬berapa saat lamanya mereka berjalan, akhirnya Siauln.melihat sinar terang di kejauhan. Ternyata ujung lorong i nembus ke permukaan tanah.
Begitu keluar yang terlihat oleh Siau In adalah air terjun. Curahan air yang menebar panjang itu bagaikan selembar daun pintu yang menutupi pintu gua. Dan persis di mulut gua itu terlihat seorang wanita yang tidak kalah cantiknya de¬ngan wanita yang datang bersama Siau In. Bahkan usia mereka pun tampak se¬baya pula. Hanya bedanya, perawakan anita yang kini baru memasak itu lebih kecil dan agak lebih pendek. Penampilan-
nya juga tampak lebih sabar dan lembut.
"Lan-moi, lihatlah... siapa yang kuba¬wa ini? Aku hampir saja salah lihat. Ku¬kira kau yang berada di Bilik Semadhi, ternyata... dia! Lihat wajahnya, mirip denganmu, bukan?"
Wanita cantik yang sedang memasak itu agak kaget juga melihat kehadiran Siau In. Bibirnya tersenyum, tapi senyum nya segera hilang begitu melihat wajah Siau In. Matanya terbuka lebar seolah- olah ada sesuatu yang menarik perhati¬annya. Tetapi kemudian mata itu kemba-meredup, bahkan mulai berkaca-kaca. ''Kau benar... Cici. Aku benar-benar terkejut melihatnya. Siapakah dia...? Ah, kalau saja Cu Hua masih hidup...." Wanita berwajah lembut itu bergumam perlahan.
"Maafkan aku, Lan-moi. Aku tidak bermaksud membangkitkan ingatanmu pa¬da Cu Hua." Wanita yang datang bersa¬ma Siau In itu cepat meminta maaf.
Wanita berwajah lembut itu menghe¬la napas panjang sekali. Bahkan kepala¬nya menggeleng beberapa kali, seperti ingin melepaskan diri dari kabut ke¬nangan yang menyedihkan.
"Tidak apa, Cici. Melihat sikapmu ke¬pada anak itu, aku juga tahu... bahwa kau pun ingat kepada Han Sui pula. Anak ini memang sebaya dengan kedua anak kita itu. Sayang bocah-bocah manis itu telah mendahului kita."
Wanita cantik yang datang bersama Siau In itu tiba-tiba juga menarik napas panjang. Bahkan ia buru-buru berpaling untuk menyembunyikan matanya yang mulai memerah.
"Ah, Lan-moi... sudahlah. Bagaimana dengan masakanmu? Sudah siap belum? Ayolah, kita bersantap bersama. Kita ja¬mu tamu kita ini sambil... kita tanya¬kan asal-usulnya." Katanya kemudian un¬tuk mengalihkan suasana yang kurang menyenangkan itu.
Demikianlah, tiga orang wanita itu lalu makan bersama-sama. Matahari su¬dah naik hampir di atas kepala, membu¬at ruangan sempit di mulut gua itu te¬rasa segar dan nyaman. Suasana itu membuat nafsu makan Siau In menjadi
semakin bertambah, sehingga tanpa ma¬lu-malu lagi gadis itu menyerbu hidang¬an yang tersedia. Tingkahnya yang be¬bas tanpa kendali, namun wajar serta alami itu, justru sangat menyenangkan tuan rumah.
Dan pada saat makan itulah Siau In baru men a ari kalau tangan kiri wani¬ta cantik yang sudah mulai beruban ram¬butnya itu, hanya sebatas siku saja pan¬jangnya. Tampaknya lengan itu cacat atau terputus karena kecelakaan.
Namun demikian wanita cantik itu bergerak dengan leluasa. Cacat tubuh¬nya sama sekali tidak membuatnya kikuk. Sikapnya juga kelihatan biasa saja dan wajar.
"Tio Siau In, ketahuilah... kami ber¬dua telah lebih dari sepuluh tahun ting¬gal di guha ini. Riwayat hidup kami sa¬ngat menyedihkan sehingga kami tidak ingin mengingatnya lagi. Kau boleh me-nyebutku Bibi Lian, dan memanggil adik¬ku itu... Bibi Lan. Kau boleh tinggal bersama kami... kalau mau."
Siau In tersenyum sambil mengucapkan terima kasih.
"Lan-moi, anak ini bernama Tio Siau In. Gurunya adalah Ketua Cabang Im-yang-kau wilayah timur. Katanya dia di¬culik seorang wanita bongkok dan diba¬wa masuk ke lubang kuburan di atas sana."
"Im-yang-kau...?" Wanita cantik ber¬wajah lembut yang disebut Bibi Lan itu tersedak. Matanya yang redup dan sayu menatap wajah Siau In dengan tajamnya.
"Apakah Bibi Lan juga sudah menge¬nal Lo-jin-ong dan Tong Kaucu?" Tak terduga Siau In bertanya lebih dulu de ngan suara lucu. Dia berkata sambil me lirik ke arah Bibi Lian.
Wanita yang disebut Bibi Lan itu ti¬ba-tiba menundukkan wajahnya. Bibirnya yang tipis bergumam perlahan.
"Tentu saja. Bukankah aku dan Bibi Lian bersaudara? Apa yang dia kenal, tentu aku ketahui pula. Aku mengenal Lo-jin-ong seperti mengenal kakekku sen¬diri. Ah, apakah dia masih hidup?"
"Dia memang masih hidup, Lan-moi. Katanya tubuh Lo-jin-ong sudah bongkok,
tetapi masih tetap bersemangat men¬dampingi Kau Cu-si Tong Ciak, yang ki¬ni telah diangkat menjadi Kau-cu."
"Benarkah...?" Wanita berwajah lem¬but itu berdesah pendek, kemudian me¬nundukkan mukanya kembali. Matanya terpejam seperti ada sesuatu yang meng¬ganjal di hatinya.
Mereka lalu terdiam untuk beberapa saat, sehingga kesempatan itu segera di¬pergunakan Siau In untuk menceritakan pengalamannya selama ini. Dia berceri¬ta tentang tugas yang diberikan gurunya, serta pengalamannya bersama A Liong, Kedua wanita cantik itu saling ber¬pandangan. Wajah mereka sedikit beru¬bah. Bahkan Bibi Lan bergumam, tap» tak jelas.
"Lo-jin-ong mencari pemuda bertatro' Pihak kerajaan juga mengumpulkan para pemuda bertatto naga? Oh, apakah me¬reka masih tetap mencari keturunan Pa¬ngeran Liu Yang Kun?"
"Pangeran Liu Yang Kun? Siapakah dia, Bibi?"
Lagi-lagi kedua wanita cantik itu menarik napas panjang. Keduanya tidak se gera menjawab. Tampaknya seperti ada | sesuatu yang mereka pikirkan.
"Pangeran Liu Yang Kun adalah pute-ra mendiang Kaisar Liu Pang yang le¬nyap ketika akan dinobatkan menjadi Kaisar. Ah, sudahlah! Lanjutkan saja ce¬ritamu! Tak ada hubungannya dengan ce¬ritamu." Akhirnya Bibi Lian menerang¬kan dengan suara berat.
Meski tidak puas tapi Siau In tidak berani bertanya lebih lanjut. Dia lalu meneruskan ceritanya. Dia bercerita ten¬tang Wanita Bongkok yang membawanya ke liang kuburan.
"Kaumaksudkan... di atas Ruang Se¬madi itu ada Kamar Mayatnya? Eh, me¬ngapa tidak kaukatakan sejak tadi? Lan-moi, mari kita lihat!" Bibi Lian tiba-tiba berseru.
. Tiba-tiba saja kedua wanita cantik itu menghilang dari depan Siau In! Sepin¬tas hanya terlihat bayangan mereka, berkelebat masuk ke dalam gua! Siau In sampai melongo saking kagumnya! Gerak¬an mereka sama cepatnya dengan gerakan pemimpin rombongan orang Hun yang membantai prajurit kerajaan itu.
Siau In bangkit sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Timbul perasaan kagum dan perasaan ingin dapat menjadi seperti mereka. Alangkah bahagia hati¬nya bila dapat menjadi murid wanita-wanita sakti itu. Sambil melamun Siau In melangkah mengikuti mereka.
Namun baru selangkah kakinya mena¬pak, Siau In mendengar suara nyaring di balik tumpahan air terjun. Dengan tangkas Siau In membalikkan tubuh dan berjalan keluar mendekati air terjun. Sambil berlindung dari semburan air yang memercik ke mana-mana, Siau In beru¬saha mengintip keluar.
Suara teriakan yang disertai desau angin pukulan terdengar semakin jelas. Tapi Siau In tetap tak bisa melihatnya, karena curahan air menimpa bebatuan -di depan gua itu amat deras sekali. Per-cikan air seolah-olah menyelimuti tem¬pat itu sehingga semuanya tampak re¬mang-remang. Kadang-kadang memang kelihatan bayangan di luar air terjun.
"Wah, tampaknya ada pertempuran di luar sana. Tapi lubang gua ini tidak ada jalan keluarnya. Jalan satu-satunya hanya menerobos air terjun itu...."
Siau In mengawasi batu-batu besar yang berserakan di depan gua, di mana air terjun itu tercurah dari atas. Batu^ batu itu kelihatan licin dan berbahaya, sementara air yang menimpanya tentu memiliki kekuatan yang dahsyat pula.
"Apa boleh buat... kalau ingin keluar memang harus berani mencobanya!"
Tapi sebelum kakinya melangkah, ti¬ba-tiba terdengar suara panggilan yang berdengung di lubang telinganya.
"Siau In...!" Suara itu bergetar jelas melalui gelombang ilmu Coan-im-ji-bit.
"Wah, Bibi Lian memanggilku...." Siau In bergumam dan terpaksa mengu¬rungkan niatnya untuk menerobos air terjun.
Siau In lalu masuk kembali ke lorong gua dengan tergesa-gesa. Setelah bebe r apa kali berbelok, serta melewati bebe¬rapa buah gua, Siau In sampai ke sebu¬ah lorong kecil yang menanjak ke atas.
Di tempat itu baru Siau In sadar bahwa dia tersesat. Lorong itu bukan jalan me¬nuju Ruang Semadi.
"Ah, seharusnya aku sudah sadar ke¬tika tidak melewati lorong berlampu mi¬nyak itu...! Aduh, bagaimana sebaiknya? Oh, ada sinar terang di ujung lorong ini. Tentu ada lampu di sana. Baiklah, aku berjalan terus saja."
Karena lorong itu terlalu sempit, Siau In terpaksa merangkak. Beberapa saat kemudian telinga Siau In mendengar desau angin dan burung berkicau. Udara yang berhembus pun terasa lebih segar.
"Hei... ini jalan keluar!" Siau In ber¬sorak gembira.
Otomatis Siau In menjadi bersema¬ngat. Dan benar juga dugaannya. Seben¬tar kemudian mata Siau In menjadi silau oleh sorot matahari.
Siau In segera melompat keluar. Ter¬nyata lubang keluar itu berada di anta¬ra dua batu besar di tepi sungai. Lubang itu hampir tidak kelihatan karena tertu¬tup ilalang dan lebarnyapun hanya sete¬bal tubuh manusia dewasa.
Siau In melesat ke kanan dan ke kiri. Tempat itu benar-benar sepi. Sungai di depannya juga besar dan lebar, di mana airnya mengalir dengan tenang tanpa ri¬ak yang berarti.
"Sungai ini tentu dalam sekali dan... aha, kalau aku mengikuti alirannya, ten¬tu akan sampai di air terjun itu! Bagus, aku akan ke sana!"
Dengan wajah riang Siau In berlari di antara batu-batu yang berserakan di pinggir sungai. Sebentar saja ia sudah mendengar suara gemuruh itu.
"Nah, apa kataku? Lorong gua tadi memang berada di bawah sungai ini. Air terjun itu... wah!"
Tiba-tiba mulut Siau In ternganga. Aliran sungai itu sekonyong-konyong ter¬putus dan meluncur turun dengan deras¬nya. Air sungai yang dalam dan lebar itu bagai ditumpahkan ke bawah begitu saja! Dan ketika Siau In mencoba melo¬ngok ke bawah, kakinya buru-buru dita¬rik kembali ke belakang.
Ternyata air terjun itu cukup tinggi. Mungkin ada tiga belas atau lima belas tombak tingginya. Untuk menuruninya Siau In harus berjalan memutar cukup jauh, karena dinding tebing yang memba¬tasi air terjun itu sangat terjal dan licin berlumut.
Sampai di bawah Siau In semakin berhati-hati. Pengalamannya selama ini telah mengajarkan kepadanya, agar dia selalu waspada di manapun juga berada. Dia belum tahu siapa yang sedang berke¬lahi, tapi mengingat suara teriakan mere¬ka yang mampu menindih, bahkan dapat mengalahkan suara air terjun, Siau In yakin bahwa mereka bukan orang semba rangan.
Ternyata benar juga dugaan Siau In. Dia segera mengenal orang-orang yang sedang berkelahi itu. Mereka adalah orang-orang yang dilihatnya di kuburan pagi tadi, yaitu Si Wanita Bongkok dan tiga orang aneh berkain belacu kasar itu.
Sendirian Wanita Bongkok itu mela¬wan tiga orang lawannya. Meskipun sudah tua namun gerakannya tetap luar biasa lincahnya. Tubuhnya yang sudah meleng¬kung itu melenting ke sana k mari.
Dia tidak membawa senjata apa-apa, ta¬pi dari kedua telapak tangannya selalu tersembur angin tajam yang memburu lawan-lawannya. Dan bau aneh seperti bau dupa wangi menyebar sampai ke tempat Siau In.
Tapi ketiga orang lawannya juga ti¬dak kalah pula lincahnya. Mereka justru bergerak dengan cara yang lebih aneh dan mengerikan. Setiap kali kaki mere¬ka menapak di tanah, tubuh mereka tam¬pak terhuyung-huyung seperti orang ma¬buk berat. Namun setiap kali hendak ja¬tuh tubuh mereka segera melenting lagi dengan tangkasnya.
Demikianlah, pertempuran mereka be¬nar-benar seru dan menegangkan. Diban¬dingkan dengan pertempuran di tepi Pan¬tai Hang-ciu, pertempuran itu memang belum seberapa. Namun demikian per¬tempuran ini memiliki kesan tersendiri bagi Siau In. Cara dan gaya mereka ber¬kelahi sama sekali berbeda dengan ilmu silat kebanyakan.
Ternyata pada puncak pertempuran mereka, kedua pihak mempergunakan ilmu yang sama. Mereka bergerak kaku dan selalu bergoyang, seperti layaknya orang yang berdiri di atas geladak kapal. Entah mengapa, cara mereka bersilat yang aneh itu lama-lama menimbulkan perasaan seram dan ngeri di hati Siau In. Gadis itu serasa melihat sebuah aca¬ra ritual para pengikut setan. Bau dupa wangi serta kabut tipis tampak menyeli¬muti tubuh mereka, seperti halnya acara persembahan atau acara memanggil roh.
Bahkan suasana segar dan cerah tadi tiba-tiba juga berubah menjadi sunyi mencekam. Suara gemuruh air yang mula terasa bising, mendadak mere¬da. Sebaliknya telinga Siau In seperti mendengar suara nyamuk yang mende¬nging tiada henti-hentinya.
"Aduuuuh...!" Sekonyong-konyong Siau In mendekap kepalanya. Mulutnya meri¬ngis menahan sakit.
Ternyata suara mendenging itu sema¬kin lama semakin kuat dan tajam, hingga telinga Siau In menjadi sakit. Dan sebe¬lum gadis itu sempat menutup telinga¬nya, mendadak suara itu melengking ma-
kin kuat. Akibatnya seperti ada ribuan jarum yang tiba-tiba menyusup ke dalam telinga Siau In dan menyerang otaknya!
"Hentikan...!!!11 Karena tidak tahan lagi, maka Siau In berteriak sambil me¬loncat keluar dari persembunyiannya.
Tapi apa yang dilakukan gadis itu benar-benar suatu kesalahan besar. Rasa kaget membuat orang-orang itu cende¬rung untuk membela diri. Otomatis se¬muanya bergerak menyerang Siau In. Ada yang melontarkan jarum-jarum kecil. Ada yang menghembuskan asap beracun. Dan ada pula yang menerjang dengan pu¬kulan penuh tenaga sakti!
Serangan tak terduga itu menyambar dengan cepat sekali dan tidak mungkin Siau In bisa mengelakkannya. Apalagi ke¬pandaian mereka rata-rata memang ber¬ada jauh di atas gadis itu.
Disertai jerit kesakitan tubuh Siau In terpental ke belakang. Sesaat gadis itu mencoba untuk bangkit kembali, na¬mun gagal. Tubuhnya kembali terhempas ke tanah dan pingsan. Semua serangan lawannya tidak ada yang meleset. Semua mengenai tubuhnya.
Sejenak pertempuran itu berhenti. Masing-masing melihat korban serangan mereka, tapi ketika tidak seorangpun diantara mereka yang mengenal Siau In, mereka saling bercuriga satu sama lain.
“Kukira Kwa Yung Ling, ternyata… bukan! Hmmm siapakah gadis ini, Tai bong kuibo? Salah seorang dari tiga lelaki berbaju putih itu bertanya kepada Wanita bongkok.
“mana aku tahu? Aku juga mengira ia kawan yang kau bawa dari Tai bong pai, sejak dulu kalian, giam lo sam kui tak pernah pergi sendirian, selalu saja bertiga atau membawa kawan yang lain.” Wanita bongkok itu mengejek.
Orang tertua dari Giam lo tai bong itu mendengus, wajahnya yang pucat itu tampak semakin kusam.
“Kurang ajar, perempuan tua tak tahu diri! Sudah dekat liang kubur, masih juga bersikap sombong, mari kita teruskan
lagi pertempuran kita! Jangan harap kau dan Kwa Yung Lin bisa melepaskan diri dari hukuman Tai bong pai. Lihat serangan…!”
“bagus, kalau kalian memang bisa mengalahkan aku, akan kukatakan dimana Kwa Yu Ling berada!”
Maka pertempuranpun pecah kembali, masing-masing tak mau mengalah lagi, begitu bergebrak mereka segera mengeluarkan kemampuan sepenuhnya, sekali lagi tempat itu menjadi ajang pertempuran yang dahsyat.
Meskipun dari perguruan yang sama tapi kemampuan mereka memang berbeda, sejak kecil Tai bong kuibo ikut keluarga mendiang ketua Tai bongpai lama Kwa Eng Ki, meskipun tidak diambil murid tapi Kwa Eng Ki juga memberinya pelajaran silat.
Ketika Kwa Eng Ki meninggal dan diganti Kui Mo Siang, sutenya, Tai Bong Kui bo diangkat menjadi pengurus rumah tangga perguruan, meskipun Tai bong kui bo tetap berada di rumah keluarga Kwa Eng Ki, wanita itu tetap mengasuh Kwa Yung Ling, cucu perempuan Kwa Eng Ki.
Malapetaka timbul setelah Kui Mo Siang meninggal dunia.. Penggantinya Yok Si Ki, murid Mo Siang sendiri. Tapi wa¬tak mereka benar-benar bertolak bela¬kang. Yok Si Ki sangat kejam dan licik. Usianya yang masih terhitung muda, di¬tambah dengan ilmu silatnya yang ting¬gi membuat wataknya menjadi sombong dan sewenang-wenang. Lebih celaka lagi Yok Si Ki memiliki watak hidung belang dan suka main perempuan.
Banyak wanita dan gadis baik-baik yang menjadi korban kebiadabannya, di antaranya adalah Kwa Yung Ling, cucu Kwa Eng Ki sendiri. Padahal saat itu Kwa Yung Ling masih terlalu muda. Ha¬nya karena menolak menjadi isteri muda¬nya, Kwa Yung Ling ditangkap dan di¬masukkan ke dalam penjara. Dan di da¬lam penjara itu berkali-kali Kwa Yung Ling diperkosa dan dihina, sehingga akhirnya ia melahirkan seorang bayi pe¬rempuan.
Dua belas tahun lamanya Kwa Yung Ling terkurung bersama anaknya. Dan selama itu pula pengasuhnya, Tai-bong Kui-bo, tak pernah kelihatan batang hi¬dungnya. Perempuan itu menghilang se¬jak dikalahkan oleh pengawal-pengawal Yok Si Ki.
Selama dua belas tahun itu pula Yok Si Ki selalu menyebar anak buahnya un¬tuk mencari Tai-bong Kui-bo, karena wa¬nita itu ternyata menghilang bersama buku pusaka Tai-bong Pit-kip. Tetapt usahanya tak pernah berhasil. Tak se¬orang pun di antara orang-orangnya yatig dapat menemukan perempuan itu. Tai-bong Kui-bo seakan-akan sudah lenyap ditelan tanah.
Maka Yok Si Ki benar-benar tidak menduga ketika dua tahun yang lalu Tai-bong Kui-bo tiba-tiba muncul di gedang penjara, membunuh para penjaga, kemu¬dian membawa pergi Kwa Yung Ling dan anaknya! Bahkan ketika Tai-bong Kui-bo yang kini sudah tua dan bongkok itu ke-pergok dengan Hiat-tok Mo-li (Iblis Wa¬nita Darah Beracun), dia masih bisa me¬ngecoh dan meloloskan diri. Padahal Hiat-tok Mo-li merupakan orang nomor tiga di partai Tai-bong-pai setelah Yok Si Ki dan Mo-gan Wan-ong (Si Raja Ke¬ra Bermata Iblis).
Sebab itulah selama dua tahun ini Yok Si Ki benar-benar mengerahkan se¬luruh kekuatannya untuk memburu Tai-bong Kui-bo. Seluruh pelosok negeri di¬aduknya. Puluhan orang kepercayaannya tersebar hampir di segala tempat. Tak heran kalau akhirnya jejak perempuan tua itu dapat ditemukan juga. Giam-lo Sam-kui, tiga oraflg Petugas- Hukum dari Tai-bong-pai, berhasil mencium persembunyiannya1.dan sekarang ketiga iblis neraka itu mencoba meringkusnya.
Kepandaian Giam-lo Sam-kui memang masih di bawah Mo-gan Wan-ong mau¬pun Hiat-tok Mo-li. Tapi di dalam Par¬tai Tai-bong-pai, kedudukan Giam-lo Sam-kui sangat dihormati. Mereka berti¬ga adalah Pengawas Hukum di dalam Partai Tai-bong-pai. Kedudukan mereka sejajar dengan Pengurus Partai, yang kini dipegang oleh Mo-gan Wan-ong. Oleh karena itu tidak mengherankan bila me¬reka bertiga mampu melayani Tai-bong Kui-bo dengan baik.
Sebenarnya kepandaian Tai-bong Kui-bo sendiri juga sulit diduga pula. Selama dua belas tahun bersembunyi, ditambah dengan dua tahun dalam pelariannya ber¬sama Kwa Yung Ling, kesaktiannya benar-benar lain dengan Tai-bong Kui-bo dahu¬lu. Dengan mempelajari Buku Pusaka Tai-bong Pit-kip yang berisi rahasia Ilmu Silat Tai-bong-pai, ilmunya te¬lah meningkat berlipat ganda.
Sayang sekali cacat pada tulang punggungnya, akibat keroyokan pengawal Yok Si Ki lima belas tahun lalu, membuat dia tidak bisa mempelajari Tai-bong Pit-kip seca¬ra tuntas. Itulah sebabnya dalam per¬tempuran sekarang, Tai-bong Kui-bo tampak sangat geram kepada Giam-lo Sam-kui, karena ketiga Iblis Neraka ter¬sebut termasuk pula di antara para pe¬ngeroyoknya pada waktu itu.
Demikianlah, pada lima belas tahun lalu memang mudah bagi Giam-lo Sam-kui untuk mengalahkan Tai-bong Kui-bo.
Tapi sekarang mereka tidak dapat mela¬kukannya lagi. Kini ilmu silat Tai-bong Kui-bo telah sejajar dengan ilmu silat mereka. Bahkan tenaga dalam perempu¬an tua itu juga sudah mencapai tingkat¬an tertinggi pula.
Oleh karena itu pertempuran mere¬ka tidak mungkin selesai dalam waktu pendek. Masing-masing sudah saling me¬ngenal ilmu silat lawannya. Mereka ha¬nya bisa mengandalkan memujuran saja, siapa tahu lawan mereka lengah atau sa¬lah langkah—
Demikianlah, lima puluh jurus telah ' berlalu. Dan matahari pun mulai berge¬ser ke arah barat. Tubuh mereka telah mulai basah dengan keringat, sementara kekuatan mereka telah berimbang.
Namun menginjak jurus ke sembilan puluh, tiba-tiba perimbangan kekuatan mereka mulai berubah. Sedikit demi se- | dikit gerakan Tai-bong Kui-bo kelihatan | melemah. Bahkan setiap kali beradu te- I naga, mulut perempuan tua itu tampak menyeringai kesakitan. Malah sesekali 1 perempuan tua itu terhuyung seolah-olah kehilangan tenaga.
Ternyata perbedaan usia dan jumlah lawan berpengaruh juga pada daya tahan mereka. Walaupun berkepandaian tinggi tetapi tulang dan otot Tai-bong Kui-bo tidak sekuat dan sesegar tubuh Giam-lo Sam-kui yang masih muda. Apalagi Tai-bong Kui-bo memiliki cacat pada pung¬gungnya, sehingga ia selalu merasa kesa¬kitan setiap kali beradu kekuatan.
Semakin lama perimbangan kekuatan mereka juga semakin berat sebelah. Pe¬lan tetapi pasti perbedaan kekuatan itu membuat Tai-bong Kui-bo mulai terdesak. Malah beberapa saat kemudian satu dua pukulan mulai mendarat pada tubuh bongkok itu.
"Iblis pengecut...!" Perempuan tua itu menjerit-jerit.
"Sudahlah, Kui-bo! Lebih baik kau me¬nyerah saja dan katakan di mana Kwa Yung Ling berada!"
"Persetan! Kalian tidak mungkin... aduuuh!"
Sebuah sabetan kaki mengenai ping¬gang perempuan itu sehingga tubuhnya terlempar jauh. Tapi dengan gin-kangnya yang tinggi Tai-bong Kui-bo mampu men¬daratkan kakinya di atas tanah kembali. Meskipun demikian tendangan itu tetap melukai bagian dalam perutnya.
"Ayoh, cepat katakan! Di mana Kwa Yung Ling, hah...?" Saudara tertua dari Giam-lo Sam-kui membentak seraya me¬nahan dua saudaranya untuk memberi ke¬sempatan kepada lawannya.
Namun Tai-bong Kui-bo tak menja¬wab. Matanya justru mendelik penuh ha¬wa pembunuhan. Dan itu sudah cukup bagi Giam-lo Sam-kui untuk segera meng akhiri pertempuran mereka. Oleh karena "itu Giam-lo Sam-kui segera' mempersiap¬kan diri mereka untuk menggempur pe¬rempuan itu dengan kekuatan penuh.
Meski sedang goyah, tapi Tai-bong Kui-bo menyadari bahaya yang hendak menimpanya. Dalam * keadaan terdesak itulah timbul kenekatannya. Lebih baik mati daripada jatuh ke tangan lawannya.
Tiba-tiba Tai-bong Kui-bo bergeser mundur, berbareng dengan itu kedua ta¬ngannya terayun ke depan dan belakang
bergantian. Serentak dari kedua telapak tangannya berhembus angin berputar me¬ngelilingi tubuhnya, membentuk sebuah benteng untuk melindungi diri dari ser¬gapan lawannya.
Pusaran angin yang keluar dari tela¬pak tangan Tai-bong Kui-bo makin lama terasa semakin kuat, sehingga pengaruh¬nya mulai melanda pinggiran air terjun itu. Semak-semak mulai bergoyang, se-mentara dedaunan juga mulai tanggal dan bertebaran ke segala penjuru.
Tapi ke tiga iblis itu hampir tak ter¬pengaruh oleh kedahsyatan ilmu Tai-bong Kui-bo tersebut. Mereka bertiga tetap menerjang ke depan, menerobos benteng angin itu. Di dalam puncak ilmu mereka, Giam-lo Sam-kui benar-benar memiliki kekuatan seperti iblis. Ketiga pasang ta¬ngan mereka bagaikan palu godam yang menggedor benteng pertahanan Tai-bong Kui-bo. Dan akibatnya sungguh mende¬barkan!
Dhuuuuaaaaaarrrr!
Tubuh Tai-bong Kui-bo terpental ba¬lik bagaikan layang-layang putus! SebaUknya salah seorang di antara lawannya juga jatuh terduduk di atas rumput! Ter¬data benturan kekuatan itu telah mem-bawa korban!
"Kui-bo...!" Tiba-tiba terdengar jeritan dari jauh.
"Kwa Yung Ling!" Tiga Iblis dari Neraka itu menggeram bersama-sama. Salah seorang dari Giam-lo Sam-kui yang jatuh tadi telah dapat berdiri kembali.
Sekejap kemudian seorang wanita cantik berusia tiga puluh satu atau tiga puluh dua tahun, datang ke tempat itu dan menubruk tubuh Tai-bong Kui-bo yang tergeletak lemah di atas tanah. Darah segar tampak mengalir deras dari mulut perempuan tua itu.
"Kui-bo, bertahanlah! Aku akan me¬ngobati lukamu...!" Wanita yang tidak lain memang Kwa Yung Ling itu menangis di samping Tai-bong Kui-bo. Dia sama sekali tidak mempedulikan Giam-lo Sam-kui yang berdiri garang di sekeli¬lingnya.
Mata yang terpejam itu terbuka. Ke¬tika melihat kehadiran Kwa Yung Ling, mata yang telah mulai meredup itu tam¬pak kaget. Dengan segala kekuatan yang masih tersisa bibir itu dipaksakan untuk berkata.
"Ce-cepatlah... laari!" Bibir itu ber¬getar lemah, kemudian terkatup rapat kembali. Nyawa tua itu keburu lepas da¬ri tubuhnya.-
"Kui-bo...!!!" Sekali lagi wanita yang baru tiba itu menjerit pilu dan memeluk tubuh Tai-bong Kui-bo.
"Diam! Kau tidak perlu menangis la¬gi! Sekarang berikan buku itu dan ikut kami ke Tai-bong-pai!" Tiba-tiba orang tertua dari Giam-lo Sam-kui menghardik dan menyambar lengan Kwa Yung Ling.
Tapi dengan tangkas wanita cantik itu menghindar. Walau sedang menangisi pengasuhnya, namun Kwa Yung Ling te¬tap waspada terhadap lawan-lawannya. Maka ketika tangan Giam-lo Sam-kui menyambar, dia buru-buru melompat ke samping. Di lain saat ia telah berdiri tegak di hadapan lawan-lawannya. Bah¬kan tangan kanannya telah memegang selendang putih yang tadi membelit di pinggangnya. Di kedua ujung selendang itu terpasang gelang kecil dan besar.
"Kalian bertiga memang bukan manu¬sia baik-baik. Kalian telah mengkhianati sumpah kalian terhadap Tai-bong-pai. Kalian mengabdi kepada Si Iblis Yok Si Ki, yang telah berbuat makar terhadap Tai-bong-pai. Sebagai pejabat Pengawas Hukum seharusnya kalian tahu bahwa Yok Si Ki telah menginjak-injak peratur¬an dan adat istiadat Tai-bong-pai, yang selama ini dijunjung tinggi oleh leluhur kita."
Wajah Giam-lo Sam-kui yang putih pucat itu untuk sesaat berubah menjadi merah padam. Namun rasa malu justru membuat mereka menjadi marah sekali. Dengan pandangan mengerikan ketiga iblis itu mengangkat tangannya. Terde¬ngar suara berkerotokan ketika lengan itu mengeluarkan asap tipis berwarna keme¬rahan.
Sebagai seorang anggota partai Tai-bong-pai, Kwa Yung Ling segera tahu apa yang sedang dilakukan lawannya Cepat ia mengerahkan segala kemampuannya, semua ilmu yang diberikan men¬diang Tai-bong Kui-bo selama dua tahun ini. Selendang itu cepat direntangkan di depan dadanya. Seluruh tenaga sakti dia kerahkan di kedua lengannya, karena ia tahu bahwa dia bukan tandingan Giam-lo Sam-kui. Namun yang jelas ia tak mau menyerah begitu saja.
"Mulutmu sangat tajam, maka tiada jalan lain bagi kami selain membungkam mulutmu selama-lamanya! Nah, bersiap¬lah untuk mati!" Orang tertua dari Gia lo Sam-kui menggeram, kemudian mem¬beri aba-aba kepada saudaranya untuk menyerang.
Wuuuuuus! Singgggg! Taaaaak' Giam-lo Sam-kui tidak peduli lagi akan pandangan orang. Sebagai seorang tokoh Tai-bong-pai mereka tidak ma!u~ malu lagi mengeroyok seorang wanita muda. Bagi mereka yang penting adalah menunaikan tugas yang diberikan oleh Jcetua mereka. Mereka tidak ingin kehi¬langan kesempatan itu. Mereka harus se¬gera memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan buku Tai-bong Pit-kip itu kembali.
Mereka bertiga menyerang tanpa be¬las kasihan lagi. Seluruh kemampuan me¬reka tercurah untuk secepatnya membu¬nuh Kwa Yung Ling, kemudian mengele-dahnya.
Kwa Yung Ling memang tidak bisa berbuat banyak. Tai-bong Kui-bo saja kalah, apalagi dia. Meskipun selendang¬nya yang berujung gelang itu sangat ce¬pat dan bergerak lincah melindungi diri, tapi ketiga lawannya memiliki ilmu yang lebih tinggi daripada dia. Maka belasan jurus kemudian gerakan selendang itu justru menjadi kacau dan menyulitkan dirinya sendiri. Beberapa kali gelang di ujung selendang itu malah berbalik me¬nyerang dirinya. Bahkan tangkai selen¬dang itu sering membelit dan membe¬lenggu tangannya sendiri.
"Hihihi, kelihatannya selendangmu justru ingin mengantung lehermu sendiri. Lihat saja...!" Saudara termuda dari Giam-lo Sam-kui tertawa mengejek.
Benar juga. Pertempuran selanjutnya ketiga Iblis Neraka itu selalu berusaha untuk mempengaruhi jalannya ujung selendang Kwa Yung Ling. Mereka membu¬at gerakan agar selendang itu selalu ber-balik menyerang kepada tuannya. Dan hal itu tidak sulit mereka lakukan kare¬na kepandaian mereka memang jauh le¬bih tinggi daripada Kwa Yung Ling.
Beberapa jurus kemudian wanita can¬tik itu benar-benar dalam kesulitan. Be¬berapa kali ia ingin membuang selendang¬nya, tapi Giam-lo Sam-kui selalu men¬cegahnya. Selendang itu selalu berbalik kembali ke dalam genggamannya. Akhir¬nya dalam keputusasaannya Kwa Yung Ling nekat untuk mengadu jiwa. Ia tidak lagi mempedulikan keselamatannya. Se¬lendang itu diputar di atas kepalanya, kemudian ia hentakan dalam jurus yang tak terduga.
Giam-lo Sam-kui memang terkejut bukan main. Dalam gerakan ilmu silat Tai-bong-pai, tidak ada jurus memutar senjata sambil menghentak seperti itu. Gerakan itu justru sangat membahaya¬kan keselamatan sendiri, karena di dalam ajaran tenaga dalam Tai-bong-pai, gerak¬an tersebut justru akan memecah himpunan tenaga sakti di dalam tubuh, ke¬mudian menutup seluruh jalan darah yang ada. Menggunakan gerakan seperti itu sama saja dengan bunuh diri.
Tapi justru itu memang sengaja diciptakan oleh Tai-bong Kui-bo, yang ke¬mudian diajarkan kepada Kwa Yung Ling, untuk sewaktu-waktu dipergunakan bila tidak ada jalan lain lagi.


Jilid 15