Rabu, 09 Mei 2018

PENDEKAR PEDANG PELANGI 15


Jilid 15
Soat Ban Ong menatap mata A Liong beberapa saat lamanya, ke¬mudian, menghela napas panjang berkali-kali.
"Kelihatannya laut di sini biasa-biasa saja. Tidak berbahaya. Bahkan berkesan sangat tenang. Tapi pada waktu-waktu tertentu air laut ini akan berubah men¬jadi ganas darn mengerikan . Jangankan hanya sampan kecil seperti ini, perahu dagang yang sangat besar pun tidak akan berani melewati tempat ini. Itulah se¬babnya daerah ini sangat sepi dan tak pernah dilalui orang."
"Tapi Locianpwe berdua berani juga sampai di sini, walaupun hanya dengan sampan kecil."
Soat Ban Ong tertawa. "Ya, karena selama setengah abad kami berdiam di sini, kami telah mengenal betul semua lika-liku dan rahasianya. Sehingga kami bisa memilih dan menghindari bahaya-bahaya yang ada. Nah, kau lihat tempat yang kini sedang dilalui oleh Kakek Bok Kek Ong itu? Tempat itu justru tempat yang paling aman dibandingkan dengan tempat-tempat yang lain. Tempat itu me¬rupakan titik pertemuan antara arus laut dari arah barat dan arus laut dari arah selatan. Karena tempat itu adalah tem¬pat bertemunya dua buah arus laut, ma¬ka di sekelilingnya banyak terbentuk pu-saran-pusaran maut yang berbahaya. Ka¬mi pernah menghitung, kira-kira ada se¬belas pusaran besar dan kecil di tempat itu. Semua pusaran itu dapat menghisap dan menelan perahu sebesar apa pun."
"Menghisap dan menelannya?"
"Ya, pusaran itu berputar pada poros¬nya. Semakin mendekati porosnya, putar¬annya semakin cepat dan kuat. Dan pa¬da porosnya itu terdapat lubang menga¬nga, yang siap menelan semua mangsa-nya."
A Liong mengerutkan dahinya dengan perasaan ngeri. Pikirannya \ segera membayangkan dasar laut yang gelap dan dalam di mana pusat dari pusaran itu berada. Di sana tentu banyak barang-barang atau makhluk-makhluk yang per¬nah ditelan oleh pusaran itu.
"Ah!" A Liong berdesah pendek. "Tapi mengapa kita tidak menghindar saja se¬jauh-jauhnya, keluar dari aliran arus ini?"
"Waduh, tidak semudah itu melaku¬kannya. Keluar dari arus ini berarti kita harus bertempur dengan rombongan ikan hiu dan ikan cucut yang haus darah. Ki¬ta tidak dapat melawan mereka dengan sampan sekeejj ini. Lubang mulut mere¬ka mampu mencaplok dan menelan sam¬pan ini berikut isinya."
"Lalu... kenapa Locianpwe tidak ber¬usaha membuat perahu yang lebih besar agar bisa keluar dari tempat ini?"
"Hai, bagaimana kami bisa membuat perahu besar kalau di pulau itu hanya ada tumbuhan jamur dan lumut? Coba kaulihat sampanku ini! Sampan ini hanya terbuat dari tulang rusuk ikan hiu. Ra-tusan batang tulang rusuk ikan hiu kami susun dan kami rekatkan dengan getah jamur. Kau tahu, berapa tahun kami harus menyelesaikan pembuatan sampan ini? Lima belas tahun!
A Liong terbelalak. Otomatis tangan¬nya meraba pinggiran sampan itu. Me¬mang benar, sampan itu terbuat dari ja¬jaran tulang rusuk ikan hiu. Kotoran dan lumut tebal yang tumbuh di sela-selanya telah menyembunyikan bentuk aslinya.
"Bukan main...." A Liong membatin.
Bok Kek Ong telah berhasil melewati daerah berbahaya itu. Kini giliran sam¬pan Kakek Soat Ban Ong yang harus me¬lewati daerah tersebut. *, Hati A Liong menjadi tega cangan air di bawah sampan m lai terasa. Semakin lama semakin kuat Bahkan hantaman ombak datang dari se¬gala jurusan. Kadang kala dari depan, kemudian dari belakang, dan di lain saat dari samping. Akibatnya Soat Ban Ong menjadi sulit mengendalikan arahnya. Namun demikian kakek itu tetap ber¬usaha mengarahkan sampannya ke tempat pertemuan dua arus itu.
A Liong merasa ngeri menyaksikan deburan air yang semakin lama semakin menggila. Semburan air yang melonjak ke atas membasahi udara di sekitarnya, membuat tempat itu bagaikan tertutup oleh kabut tebal. Bagi yang belum tahu, tempat itu tentu akan dihindari dan di¬jauhi. Padahal justru tempat itulah dae¬rah yang paling aman untuk menyeberang Di luar daerah itu merupakan daerah berbahaya yang menyimpan seribu jebak¬an mengerikan.
Rasa takut justru membuat A Liong tidak bisa memejamkan matanya. Begitu menembus kabut air itu ia merasakan goncangan-goncangan yang keras pada sampannya. Tubuhnya yang terguyur sem¬buran air itu merasakan adanya hawa panas dan dingin di sekitarnya. Remang-remang A Liong melihat jilatan-jilatan lidah ombak menggapai ke udara. Sepin¬tas lalu bagaikan jin dan setan yang ber¬loncatan gembira dalam semburan kabut tebal.
Kakek Soat Ban Ong mati-matian mengendalikan sampannya. Namun demi¬kian ia selalu berseru memperingatkan A Liong agar berpegangan dengan kuat. Sekali terpental dari sampan dan jatuh ke dalam air, berarti jiwa A Liong tak bisa tertolong lagi.
Meskipun tak bisa melihat dengan je¬las, tapi A Liong benar-benar kagum menyaksikan kehebatan Kakek Soat da¬lam mengemudikan sampannya. Berkali-kali kakek itu harus melompat, berjum-palitan, dan menjepit sampannya, untuk tetap menjaga agar sampan itu tidak terbalik.
"A Liong, pejamkan matamu! Jangan melihat apa-apa! Rasa ngeri-akan mem¬buatmu mual dan pusing! Berpeganglah kuat-kuat pada pinggir perahu.
Tapi mana bisa A Liong memejam¬kan matanya? Semakin dahsyat gempur¬an air laut menggoncang sampannya, jus¬tru semakin lebar pula pemuda itu mem¬buka matanya. Rasa takut dan ngeri ma¬lah membuat pemuda itu semakin waspa¬da. Matanya justru jelalatan ke sana ke mari, berjaga-jaga bila ada sesuatu yang membahayakan dirinya.
Semburan air yang tinggi, ditingkah oleh gemuruhnya suara air da angin, membuat suasana di tempat itu benar-benar menakutkan! Namun justru di tem¬pat itulah A Liong melihat betapa he-batnya kepandaian Kakek Soat Ban Ong. Kakek tua yang bertubuh gemuk pendek itu bergerak lincah melebihi kemampuan anak muda. Untuk mengendalikan sampan agar tidak bergeser dari tujuannya; serta menjaga agar sampan itu tidak terbalik. Kakek itu benar-benar mengeluarkan se-gala kesaktiannya. Sampan kecil yang ditumpangi A Liong itu bagaikan sebuah barang mainan saja baginya. Kadang-ka-, dang sampan itu dijepit dengan kedua kakinya dan dibawa melenting ke atas seperti meninjing keranjang sampah atau suatu saat dayung kecilnya yang terbuat dari tulang itu menghantam lidah ombak yang hendak menggempur sampan¬nya. Dan A Liong sampai melongo me¬nyaksikan ombak itu meledak berhambur¬an seperti menerjang batu karang!
"Siapa sebenarnya kakek ini? Rasa¬nya aku belum pernah mendengar nama¬nya di Dunia Persilatan...."
Mungkin ada sepeminuman teh lama¬nya mereka harus bertarung dengan tem¬pat berbahaya itu. Begitu terlepas dari tempat itu Kakek Soat masih harus me¬ngendalikan sampannya agar tetap bera-da pada jalur arus laut yang membawa¬nya. Sedikit saja melenceng, maka ke¬mungkinan hidup akan sangat kecil. Ka¬lau tidak ditelan oleh pusaran air, mere¬ka tentu akan dikeroyok dan diperebut¬kan oleh kawanan ikan buas.
A Liong mendengar bermacam-macam gaung suara angin di sekitarnya. Ada yang bernada rendah, tapi juga ada yang bernada tinggi. Suara itu seperti suara-suara gasing di lomba permainan anak-anak.
"Suara apa itu, Locianpwe?"
Soat Ban Ong menarik napas lega. Setelah melewati daerah berkabut itu tugasnya menjadi lebih ringan, walaupun sebenarnya bahaya-bahaya yang lain ma¬sih banyak lagi.
"Itulah suara Pusaran Air yang kuce¬ritakan tadi. Di kanan-kiri jalur perjalan¬an kita ini terdapat belasan Pusaran Air. Begitu kencangnya putaran air sehingga menimbulkan gesekan angin seperti itu."
Walaupun tidak merasa ngeri lagi, tapi wajah A Liong masih tampak pucat. Pemuda itu hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelas¬an kakek itu.
Kakek Bok Kek Ong yang telah me¬nunggu di depan, melambaikan tangan¬nya begitu melihat Kakek Soat Ban Ong keluar dari tabir kabut.
Kakek Soat Ban Ong membalas lam¬baian itu dan memberi isyarat untuk me¬neruskan perjalanan mereka.
"Kau lihat gugusan pulau-pulau di garis cakrawala itu? Di sanalah tempat tinggal kami...." Kakek Soat Ban Ong mengangkat jarinya ke depan. "Oooo, indah sekali...!" A Liong membelalakkan matanya. Di depan matanya terbentang sebuah pano¬rama alam yang luar biasa sekali. Per¬mukaan laut tampak berkilat-kilat kuning kemerahan. Sementara kabut yang ter-cipta dari semburan air pusaran, berte¬baran ke udara bagaikan mau menggapai langit. Ditingkah oleh cahaya mentari maka semburan kabut itu menciptakan beberapa lembar pelangi, yang berkelak-
kelok mempesonakan. Benar-benar kein¬dahan alam yang sangat mentakjubkan!
"Tempat ini memang selalu dikelilingi pelangi. Kabut tipis yang ditimbulkan oleh pusaran air itu akan membiaskan cahaya matahari dalam bentuk warna yang indah-indah."
Tiba-tiba A Liong teringat ucapan Kakek Soat Ban Ong tadi malam, pada saat kakek itu melihat dia untuk perta¬ma kali.
"Locianpwe... kalau tidak salah tadi malam Locianpwe mengatakan bahwa aku datang dari Pondok Pelangi. Apa yang Locianpwe maksudkan? Apakah ada Pon¬dok Pelangi di sekitar tempat ini? Di mana tempatnya?"
Sungguh mengherankan. Mendengar pertanyaan A Liong tentang Pondok Pe¬langi, wajah Kakek Soat Ban Ong tam¬pak kaget. Tapi cuma sebentar, karena di lain saat orang tua itu telah tertawa kembali.
"Yah... jauh di sebelah utara sana memang ada sebuah gugusan pulau lagi. Namanya Kepulauan Pelangi, karena se-
tiap hari tempat itu juga diselimuti pe¬langi. Berbeda dengan tempat tinggal ka¬mi, tempat itu sangat subur dan menye¬nangkan untuk tempat tinggal. Maka ti¬dak mengherankan bila pulau-pulau itu telah dihuni orang sejak ribuan tahun la¬lu. Mereka hanya terdiri dari tiga buah keluarga besar, yaitu Keluarga Soat, Souw, dan Bok. Karena tempat itu ter¬pencil dan tidak bisa didatangi orang, maka mereka mendirikan kekuasaan sen¬diri, terlepas dari daratan Tiongkok. Me¬reka menyebut negeri mereka Kerajaan Pelangi. Mereka mendirikan sebuah ista¬na sederhana yang disebut Pondok Pela-ngi. Dan yang paling menonjol dari me¬reka adalah ilmu silat khusus yang hanya bisa dipelajari oleh masyarakat mereka sendiri...."
A Liong mengerutkan keningnya dan kakek itu tertawa melihatnya.
"Kau tak percaya?"
A Liong tersenyum kecut. Ia memang tidak mempercayainya. Bagaimana mung¬kin sebuah ilmu silat hanya bisa dipela¬jari oleh masyarakat tertentu? Apakah ilmu silat itu menuntut sesuatu yang khusus dari orang yang ingin mempela¬jarinya? Misalnya orang itu harus mem¬punyai empat tangan atau empat kaki?
Kakek Soat Ban Ong duduk di ping¬giran sampan. Mereka telah melewati daerah berbahaya, dan kini tinggal me¬ngikuti arus saja. A Liong merasa lega. Sambil lalu pemuda itu ikut-ikutan duduk di tepi sampan.
"Aaaaaaah...!"
A Liong menjerit. Sampan itu bergo¬yang miring begitu menerima beban tu¬buhnya. Untunglah Kakek Soat Ban Ong cepat menyambar lengannya.
"Lalala, kenapa kau ini? Mau bunuh diri, ya? Enak saja duduk di pinggiran sampan. Kaukira tubuhmu itu enteng? Tubuh gembrot segede gajah begitu mau main goyang-goyangan, lalalalaaaa."
"Tapi... tapi... Locianpwe sendiri juga duduk di pinggiran sampan. Padahal Lo¬cianpwe... malah lebih gemuk dari pada saya." Dalam kegugupannya A Liong mencoba membela diri.
Tak terduga orang tua itu tertawa terkekeh-kekeh. Begitu geli hatinya se¬hingga matanya yang sipit itu sampai mengeluarkan air mata. Selesai tertawa tiba-tiba orang tua itu melemparkan da-yungnya ke laut, lalu tubuhnya yang ge¬muk pendek itu melesat mengejarnya.
Dayung kecil dari tulang ikan yang panjangnya hanya satu lengan orang de¬wasa itu jatuh di atas permukaan air. Dan sebelum benda itu hanyut dibawa gelombang, kaki kanan Soat Ban Ong le¬bih dulu mendarat di atasnya. Selanjut¬nya bagaikan seorang pemain sulap kakek itu berayun-ayun di atas dayung kecil tersebut. Sungguh sangat mengherankan sekali, dayung kecil itu sama sekali ti¬dak amblas atau terbenam karenanya.
Tentu saja pertunjukan ilmu meri¬ngankan tubuh yang nyaris sempurna itu benar-benar mengagumkan hati A Liong.
"Wah, seharusnya aku sudah tahu se¬jak tadi kalau orang tua ini memiliki ke¬saktian yang hebat."
Selesai mempertunjukkan kebolehan¬nya Kakek Soat Ban Ong kembali melon¬cat ke dalam sampan. Tak lupa dayung kecilnya itu dibawa pula. Dengan mengu¬lum senyum ia mengawasi A Liong.
"Nah, sebelum kau bisa berdiri di atas dayung ini... tak mungkin kau dapat du¬duk di pinggiran sampanku. Lalalaaaaa..."
"Wah, mana mungkin bisa...." A Liong menyahut dengan cepat.
"He, kenapa tidak bisa? Asal mau be¬lajar setiap orang pasti bisa."
A Liong tak menjawab. Sebenarnya ingin sekali dia belajar Ilmu Meringankan Tubuh seperti orang tua itu, karena dia juga ingin bisa bergerak lincah seperti halnya Siau In. Tapi bagaimana caranya? Sebagai orang yang baru saja kenal, tak mungkin kakek itu mau mengajarinya.
"Tapi Locianpwe tadi mengatakan bahwa ilmu silat dari Kerajaan Pelangi tidak bisa dipelajari oleh sembarang orang." A Liong menjawab sekenanya.
Tak terduga wajah Soat Ban Ong berubah hebat mendengar jawaban terse¬but. Matanya yang sipit berkilat-kilat memandang A Liong.
"Kau bilang apa? Kau tahu ilmu si¬latku dari... dari Pondok Pelangi?"
A Liong menjadi kaget juga. Sebenar¬nya dia cuma bicara sembarangan, kare¬na otaknya yang cerdas hanya menerka-nerka saja tentang siapa kakek itu.
"Maaf, Locianpwe. Aku hanya mendu¬ga-duga saja dari cerita Locianpwe tadi. Locianpwe mengatakan bahwa Pondok Pelangi hanya dihuni oleh keluarga Soat, Souw dan Bok. Sementara Locianpwe ber¬dua dari keluarga Soat dan Bok...."
Kakek Soat Ban Ong termangu seben¬tar, tapi sesaat kemudian tawanya me¬ledak lagi.
"Bukan main! Kau sangat cerdas dan teliti sekali, lalalala."
Wajah A Liong menjadi merah oleh pujian itu. Dan kakek itu semakin senang melihatnya.
"Sudahlah! Kita sudah sampai. Lihat ...! Pulau itu tak memiliki apa-apa, bukan?"
A Liong mengangkat mukanya. Benar, pulau itu telah berada di depan mata¬nya. Sebuah gugusan pulau berpasir putih, dengan batu-batu karang berwarna putih pula, membuat pulau itu bagaikan lembaran kapas yang terapung di atas air.
Demikianlah, akhirnya mereka sampai juga di tempat Kakek Soat Ban Ong. A Liong melihat Kakek Bok Kek Ong sudah mendaratkan sampannya di atas pasir. Bahkan kakek itu telah menyeretnya jauh ke daratan. Tampaknya kakek itu tak ingin sampannya yang sangat berharga itu ter¬seret kembali ke tengah lautan.
Selesai menyimpan sampannya, Kakek Bok Kek Ong segera menyelinap pergi tanpa menunggu kedatangan mereka. Na¬mun Kakek Soat Ban Ong juga tidak pe¬duli. Setelah mengikat sampannya di tempat aman, Kakek Soat Ban Ong sege¬ra menggandeng lengan A Liong.
"Nah, A Liong... marilah kita pergi ke rumahku dulu. Setelah menyiapkan makan kita bisa bercerita lagi. Ayoh...!"
Mereka berjalan ke tengah pulau, mengikuti jejak Bok Kek Ong yang telah berjalan lebih dulu. Di sepanjang jalan A Liong tidak henti-hentinya mengagumi panorama di atas pulau itu. Walaupun tidak ada tumbuh-tumbuhan besar, namun bebatuan yang ditumbuhi lumut dan ja-
mur itu mampu menampilkan pemandang¬an tersendiri.
Di bawah pantulan cahaya matahari, batu-batu karang yang menonjol di sana-sini itu seperti memercikan sinar warna-warni. Merah, biru, kuning, hijau. Sung¬guh indah sekali. Apalagi lumut dan ja¬mur yang tumbuh di atasnya juga memi¬liki warna yang bermacam-macam. Dari jauh tumbuh-tumbuhan kecil itu seperti rangkaian bunga yang mekar bersama-sama.
"Ah, suasananya benar-benar seperti di taman istana saja!" Tak terasa lidah A Liong berdecak kagum.
Kakek Soat Ban Ong mengajak A Liong ke suatu tempat di mana terda¬pat rimba batu karang yang menjulang tinggi ke udara. Seperti halnya bebatuan di tepi pantai tadi, maka batu karang raksasa yang ada di tempat itu juga memiliki warna yang beraneka macam. Berkilat-kilat gemerlapan seperti batu permata.
Kakek Soat Ban Ong memasuki sebu¬ah gua kecil. Di dalamnya tampak tertata rapi. Ada bermacam-macam peralat¬an di pojok gua itu. Ada peralatan ma¬sak, peralatan memancing dan sebagai-nya.
"Locianpwe tinggal di gua ini?"
Kakek Soat Ban, Ong mengangguk. "Memangnya ada apa?"
A Liong tidak menjawab. Dia justru keluar dan melongok ke luar gua. "Sejak tadi aku tidak melihat Bok Kek Ong Lo¬cianpwe. Ke manakah dia?"
' alala aa.. tentu saja dia berada di rumahnya sendiri. Eh, apakah kau ingin berkunjung ke sana, A Liong?"
"Oh? Jadi Locianpwe tidak tinggal bersama?"
"Wah, gawat! Jelek-jelek kami ber¬dua ini lelaki semua. Masa kami harus tinggal bersama seperti suami isteri, heh? Kau pikir salah satu dari kami ini banci?"
A Liong cepat merangkapkan tangan di depan dada. "Maaf, Locianpwe Bukan... bukan begitu maksudku. Locian- . pwe berdua tidak memiliki sanak sauda¬ra lagi. Bukankah lebih baik hidup berde-
katan... agar dapat saling tolong-meno¬long satu sama lain?"
"Wah, siapa bilang kami tidak mem¬punyai sanak saudara lagi? Kau salah! Keluarga kami sangat banyak. Cuma kami tak bisa bertemu dengan mereka, kare¬na semuanya berada di Kepulauan Pela-ngi." Kakek Soat Ban Ong menyela de¬ngan suara tinggi.
"Sangat banyak?" A Liong berdesah kaget. "Tapi... mengapa tak bisa ke sa¬na? Bukankah Locainpwe dapat naik sampan?"
Kakek Soat Ban Ong menatap A Liong dengan tajamnya. Mata itu seper¬ti hendak berbicara banyak, tapi tak ja¬di. Kakek itu membalikkan tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam gua. Wajah yang biasanya tampak gembira itu tertun¬duk lesu.
A Liong bergegas mengikutinya. Tapi kini pemuda itu tak berani berkata sem-barangan lagi. Dia segera duduk pula ketika kakek itu merebahkan tubuhnya di atas batu datar, yang selama ini di-pergunakan sebagai tempat tidur.
"Kau ingin tahu mengapa kami tidak dapat kembali ke Kepulauan Pelangi? Baiklah, aku akan bercerita. Tapi sebe¬lumnya aku ingin tahu juga tentang kau. Kau belum berkata sepatah pun tentang dirimu sendiri...” Akhirnya Kakek Soat Ban Ong berkata pelan.
A Liong tersenyum kecut. Setiap kali ditanya tentang dirinya atau riwayat hidupnya, pemuda itu selalu bingung dan salah tingkah. Riwayat hidupnya yang kurang manis itu membuatnya tidak enak setiap kali harus diceritakan.
"Tak ada yang bisa diceritakan, Lo-cianpwe. Siaute (aku yang hina ini) ha¬nyalah anak keturunan pengemis gelan¬dangan yang hidup dari mengais-ngais sisa makanan di jalanan. Siaute tidak tahu siapa orang tuaku, karena sejak ke¬cil siau-te berada dalam lingkungan ke¬lompok pengemis yang selalu berjalan dan berpindah-pindah dari kota ke kota."
Soat Ban Ong tersentak kaget. Mata¬nya memandang wajah A Liong hampir tak percaya. Masa anak gelandangan yang hidup menjadi pengemis bisa memiliki tubuh kekar, kuat dan sehat se¬perti itu?
"Kalau begitu... apa nama keluarga¬mu?" kakek sakti itu bertanya ragu.
A Liong cepat menggelengkan kepa¬lanya. "Jangankan nama keluarga, nama sendiri pun siau-te tak punya. Nama A Liong hanyalah sebutan yang diberikan oleh kawan-kawan, karena ada gambar tatto naga di dada siau-te."
Jawaban itu benar-benar mencengang¬kan Soat Ban Ong. Orang tua itu sama sekali tak menduga kalau A Liong mem¬punyai riwayat hidup yang runyam seper¬ti itu.
"Lalu... bagaimana kau bisa tercebur ke laut dan terseret ombak sampai ke Laut Utara? Apakah kau sudah bosan hi¬dup dan berniat bunuh diri?"
A Liong tersenyum. "Ah, Locianpwe ini ada-ada saja. Bagi siau-te hidup ini terasa nikmat dan menyenangkan. Bagai¬mana mungkin siau-te berniat untuk me¬ninggalkannya?"
"Kalau begitu... yah, sudahlah! Cerita¬kan saja semua riwayatmu! Tentu saja sejauh yang kauingat!"
A Liong menurut. Dibeberkannya se¬mua pengalaman dan riwayat hidupnya, seperti yang pernah dia ceritakan pula kepada Siau In. Lalu diceritakannya juga perjalanannya ke rumah Tabib Tong Kiat Teng bersama gadis itu. Hanya dalam hal terseretnya dia ke Laut Utara, dia benar-benar tak tahu. Selain malam sa¬ngat gelap, suasana di laut pun sangat asing baginya, sehingga ia benar-benar tidak tahu bagaimana dia sampai di Laut Utara.
Soat Ban Ong benar-benar terkesan pada penuturan A Liong. Terutama keti¬ka A Liong menceritakan tragedi pem¬bantaian di tepi pantai itu. Walaupun pa¬da saat itu A Liong dalam keadaan ping¬san, tapi Siau In telah menceritakan se¬muanya, sehingga A Liong bisa menutur¬kannya dengan lancar. Sebuah pertem¬puran yang amat dahsyat, yang melibat¬kan tokoh-tokoh kenamaan dari Beng-kau, lm-yang-kau, dan orang-orang Hun.
Kakek Soat Ban Ong sama sekali ti¬dak mengenal tokoh-tokoh dalam cerita
itu. Tapi cerita tentang kedahsyatan ilmu mereka benar-benar menggelitik hatinya. Sebagai orang yang sangat menyukai il¬mu silat, maka kaki dan tangannya men¬jadi gatal untuk menjajal ilmu kepandai¬an tokoh-tokoh dalam cerita itu.
"Kau bilang Orang Hun itu bisa ber¬gerak... seperti ini?" Orang tua itu ber¬seru penasaran.
Telapak tangan Soat Ban Ong tiba-tiba menepuk batu di bawahnya. Plaak! Kontan tubuhnya yang gemuk itu mence¬lat ke atas bagaikan seekor belalang yang menyentakkan kaki belakangnya. Gerakannya cepat bukan main, sehingga mata A Liong sama sekali tak bisa mengikutinya. Tahu-tahu kakek sakti itu-sudah melekat di atas langit-langit gua, seperti seekor cecak yang sedang menan¬ti mangsa.
Mulut A Liong ternganga menyaksi¬kan kecepatan gerak orang tua itu. Na¬mun demikian A Liong tak bisa memban¬dingkan, mana yang lebih cepat dan le¬bih tangkas antara Mo Hou dan Soat Ban Ong. Seperti telah diketahui pada saat pertempuran itu berlangsung /\ Liong dalam keadaan pingsan. Tapi yang jelas bagi A Liong kakek yang berada di depannya itu memang benar-benar he¬bat. Gerakan kakek itu sama sekali tak bisa diikuti dengan matanya. Bahkan ka¬kek itu juga mampu menempelkan tubuh¬nya di langit-langit gua. Tubuh yang ge¬muk itu melekat seperti cecak.
"Maaf, Locianpwe... siau-te tak bisa menilai. Pengetahuan siau-te tentang il¬mu meringankan tubuh sama sekali tidak ada”jawab Aliong sambil tersenyum malu.
Sesaat Ban Ong tertwa, lalukembali ke depan Aliog, ia tidak mendesak lebih lanjut, karena dari sinar mata A Liong saja dia bisa menduga apa yang ada di dalam pikiran pemuda itu.
"Jangan khawatir. Kami berdua sudah sepakat untuk mengajarkannya kepadamu. Meskipun kau tidak akan dapat mendala¬mi rahasia ilmu Pondok Pelangi secara tuntas, tapi paling tidak kau dapat me¬ngenal dan mainkan jurus-jurusnya. De¬ngan cara begitu tubuhmu akan selalu sehat dan cekatan, sehingga kau bisabertahan seperti kami nanti."
"Apa...? Mengapa harus tinggal di si¬ni? Apakah Locianpwe berdua hendak me¬nyandera aku?" A Liong menjerit keta¬kutan.
Kakek Soat Ban Ong tertawa. "Lala-la, tenang A Liong... tenang! Jangan menjerit-jerit begitu! Aku tidak bermak¬sud apa-apa. Aku tidak bermaksud me¬nyandera kamu. Apa gunanya? Tanpa ka¬mi sandera pun kau tak mungkin bisa keluar dari kawasan ini. “Kau lihat kami berdua, aku dan kakek Bok Kek Ong itu apakah kami berdua tak ingin keluar dari pulau ini dan kembali ke Pon dok Pelangi? Telah enam puluhan tahun kami berada di sini dan entah sudah be¬rapa ribu kali kami mencobanya. Tapi hasilnya? Padahal ilmu yang kami pelajari rasa-rasanya juga sudah cukup untuk mo¬dal menghadapi segala macam kesulitan. Nah...!" Ucapnya kemudian dengan suara renyah. Sama sekali tak ada kesan sedih ataupun kesal di wajahnya.
A Liong lah yang kemudian tertunduk sedih. Apa yang dikatakan orang tua itu tentu saja benar. Mereka tentu sudah kembali ke keluarganya kalau memang mampu. Mengapa harus susah-susah hidup sendirian di tempat terpencil seperti ini?
Ingat akan hal itu A Liong menjadi sedih sekali. Tak terasa satu persatu wajah kawan-kawannya berkelebat di pe¬lupuk matanya. Mereka hidup susah dan selalu dalam kesulitan, namun mereka selalu bergembira. Selalu berbagi rasa dan berbagi rejeki bersama-sama. Bahkan setelah ia memisahkan diri, karena ingin bekerja dan mendapatkan uang sendiri, ia selalu menyempatkan diri menjumpai kawan-kawannya itu. Dengan gaji yang diperolehnya, ia sering mentraktir atau membeli makanan untuk berpesta bersa¬ma.
Kawan-kawannya itu tentu akan me¬rasa kehilangan apabila lama dia tidak muncul. Pernah terjadi, gerombolannya itu berjalan berkeliling ribuan Lie jauh¬nya di daerah Tiong-goan, dari kota yang satu ke kota yang lain, hanya untuk men cari dirinya. Waktu itu secara diam-diam
ia pergi ke utara, keluar dari Tembok Besar untuk mencari pengalaman.
"Sudahlah, A Liong. Kau tidak per¬lu bersedih. Kau tidak boleh berputus asa. Setiap orang memiliki keberuntung¬annya sendiri-sendiri. Kami berdua me¬mang tidak mampu keluar dari tempat ini, tapi siapa tahu Thian entakdirkan lain buatmu? Nah, kalau memang nasib¬mu baik dan memperoleh jalan keluar dari tempat ini, kau harus tetap memiliki badan dan semangat yang sehat. Jangan menjadi manusia yang loyo dan sinting. Tidak akan ada gunanya lagi kalau waktu keberuntungan itu datang, engkau telah berubah menjadi sinting dan loyo. Benar tidak?"
Nasihat sederhana itu ternyata sangat mengena di hati A Liong. Ya, siapa ta¬hu? Selama ini ia selalu memiliki sema¬ngat yang tinggi. Segala macam kesulitan dan kesengsaraan selalu diterimanya de-ngan penuh tawakal dan lapang dada. Dia tak pernah mengeluh ataupun menyesali nasibnya. Sebaliknya dia malah selalu 'pemberi semangat dan membesarkan hati teman-temannya. Nah, kalau begitu mengapa sekarang dia harus bersedih?
Tidak seorang pun tahu, apa yang i akan terjadi besok atau lusa. Manusia : hanya wajib berusaha dan berikhtiar. Yah, siapa tahu nasibnya memang lain dari¬pada kedua orang tua itu?
"Terima kasih, Locianpwe. Siau-te benar-benar beruntung bisa menjadi mu¬ridmu. Siau-te berjanji akan belajar de¬ngan sepenuh hati. Mudah-mudahan siau-te mampu menerimanya sehingga tidak mengecewakan Locianpwe berdua."
A Liong segera berlutut di depan Ka¬kek Soat Ban Ong.
"Bagus! Bagus! Aku tahu kau anak yang baik. Lalalala...."
Orang tua itu merangkapkan kedua J tangannya sambil menengadahkan kepala¬nya ke atas, ke langit-langit gua. Sepa- i sang matanya tampak berkaca-kaca.
Demikianlah pada hari berikutnya A Liong sudah mulai belajar ilmu silat dari Kakek Soat Ban Ong. Karena A Liong pada dasarnya memang belum pernah belajar silat, maka Soat Ban Ong juga memulainya dari awal.
"Hari ini kau berlatih menggerak-gerakkan kaki tanganmu dulu, agar urat-uratmu menjadi lemas dan mapan. Cobalah dengan berlari mengelilingi pulau ini!"
"Baik, Locianpwe."
"Lalala, bagaimana kau ini? Panggil aku Suhu, dong!"
A Liong tertegun sebentar, namun segera menyadarinya. Bergegas ia mene¬kuk lututnya.
"Baik, Suhu." Ia memberi ho|rnat de¬ngan bersemangat. "Murid akan segera berlari mengelilingi pulau ini."
"Bagus! Nah, mulailah!"
A Liong mengangguk, kemudian ber¬gegas ke pantai. Dengan bersemangat ia lalu berlari di atas pasir. Karena sejak kecil dia sudah terbiasa melakukan cara-cara pernapasan yang diajarkan oleh orang tua tak dikenal itu, maka sekarang pun secara otomatis dia juga melakukan¬nya pula.
Dengan hembusan dan tarikan napas yang teratur A Liong berlari perlahan.
Kadang-kadang juga di dalam air yang dangkal. Karena pulau itu memang kecil dan berpantai pasir landai, maka A Liong tidak menemui kesulitan untuk mengeli¬linginya. Bahkan sambil berlari dia sem¬pat melihat-lihat panorama indah di se¬kitar pulau tersebut.
Memang benar . apa yang dikatakan oleh gurunya kemarin, bahwa gugusan pulau itu terdiri- dari beberapa buah pu¬lau kecil-kecil. Malah antara pulau yang satu dengan pulau yang lain hampir me-lekat satu sama lain. Masing-masing ha¬nya dibatasi oleh air setinggi lutut saja.
"Kelihatannya Suhu Bok Kek Ong ti¬dak tinggal di pulau ini, tapi di pulau se¬berang itu."
Sementara itu Soat Ban Ong meng¬ambil beberapa macam jamur yang seca¬ra khusus ditanamnya di pulau itu. Dia ingin menyiapkan makan siang untuk A Liong nanti. Dia juga mengambil bebera¬pa ekor ikan laut yang diternakkannya di dalam kolam.
Kakek Soat Ban Ong memang pandai memasak. Ikan laut itu dioles dengan jamur yang telah dilumatkan, kemudian diberi bumbu dan dibakar di atas api. Beberapa waktu kemudian asapnya yang berbau gurih itu telah berhembus ke ma¬na-mana, memenuhi udara di atas pulau kecil itu.
"Hei kura-kura gemuk! Kau mau ber¬pesta, ya?" Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja Kakek Bok Kek Ong telah berdiri di dekat Soat Ban Ong.
"Lalalala, apa kataku? Mudah sekali untuk memanggilmu. Buat saja masakan yang enak, -tanegung mukamu yang ru¬sak itu akan segera muncul." Soat Ban Ong tertawa meledek.
Tapi Bok Kek Ong tidak mempeduli-kan ejekan itu. Bahkan tanpa berbasa-basi lagi dia memungut ikan yang telah masak dan mencicipinya. Liurnya sampai menetes saking nikmatnya ia merasakan ikan laut bakar itu.
"Bukan main...! Enak sekali! Cek...
oolc«a« cek.!
"Wah! Wah! Masakan ini bukan untuk kita, Cacing Kurus! Ini untuk murid kita!
Apakah kau tak melihat dia sedang ber¬lari melemaskan otot-ototnya mengeli¬lingi pulau ini? Huh, kau ini!"
Tiba-tiba Bok Kek Ong menengadah¬kan wajahnya. Mulutnya berhenti mengu¬nyah.
' "Jadi... dia setuju menjadi murid ki¬ta?" katanya kemudian seperti tak per¬caya.
Soat Ban Ong mengangguk. Bibirnya yang tertutup kumis dan jenggot lebat berwarna hitam legam itu tersenyum.
"Tapi kau tak memaksanya, bukan?" Bok Kek Ong menegaskan lagi.
"Tentu saja tidak. Kau ini ada-ada saja. Memangnya mudah mempelajari il¬mu silat dari Pondok Pelangi? Apalagi tanpa keinginan dan semangat yang ting¬gi dari orang itu sendiri? Memaksa orang untuk belajar ilmu silat Pondok Pelangi, sama saja memaksa orang menjadi gila!"
Bok Kek Ong tertawa dan kembali mengunyah makanannya. "Wah, aku juga cuma bertanya saja, kok! Siapa tahu ka¬rena sulitnya mencari ahli waris, engkau lantas jual murah ilmu silat kita? Apa-
lagi selama ini juga baru sekali ini ada orang yang mampu keluar dari pusaran iblis itu. Dan kebetulan pula orang itu adalah seorang bocah yang bertulang amat bagus."
Soat Ban Ong ikut tertawa pula. sambil mengangkat pundak dia berkata santai. "Yah, kita memang orang yang beruntung. Karena selalu sabar dan ta¬wakal, jerih payah kita selama ini akhir¬nya membuahkan hasil pula. Memang un¬tuk mendapatkan ikan besar, diperlukan umpan yang sepadan pula. Bukankah be¬gitu Lo Kek Ong (Si Tua Kek Ong)?" Bok Kek Ong tidak menjawab.
bakar yang telah masak itu, ditaruhnya di dalam mangkuk batu, lalu dibawanya ke pantai. Bok Kek Ong bangkit pula. Seperti seekor kucing ia mengikuti dari belakang.
'JA Liong...! A Liong...!11 Soat Ban Ong berseru.
Sampai di atas hamparan pasir tiba-tiba Soat Ban Ong tertegun. Matanya terbelalak mengawasi bekas-bekas sepa¬tu di atas pasir tersebut. Hampir saja mangkuk batu yang dibawanya itu terle¬pas.
Bok Kek Ong cepat menghampiri. dia tersenyum, suatu hal yang tidak per¬nah dilakukannya selama ini. Biasanya setiap kali berhadapan dengan Soat Ban Ong, mereka tentu bertengkar dan ber¬debat. Bahkan kadang-kadang sampai berkelahi pula. Kelihatannya kedatangan A Liong tersebut telah mengubah pera¬ngainya.
Karena Bok Kek Ong tidak menja¬wab, maka Soat Ban Ong pun tidak am¬bil pusing pula. Diambilnya ikan-ikan
!'Ada apa, Lo Ban Ong (Si Tua Ban Ong) ...?" Ia menegur.
Soat Ban Ong menunjuk ke bekas se¬patu itu. "Banyak benar bekasnya! Bera¬pa puluh kali anak itu mengelilingi pulau ini?"
"Lhoh... memangnya kausuruh bagai¬mana dia?"
Soat Ban Ong menghela napas pan¬jang. Matanya segera melongok ke sana ke mari mencari bayangan A Liong. Dan wajahnya menjadi lega begitu melihat pemuda itu berlari mendatangi.
"A Liong berhenti dulu!" Dia berteri¬ak memanggil.
Pemuda itu berhenti di depan Soat Ban Ong. Namun serentak dilihatnya Bok Kek Ong juga ada di situ, A Liong cepat menghampiri dan berlutut di hadapannya.
Bok Kek Ong menyembunyikan pera¬saan gembiranya. Tangannya meraih pun¬dak A Liong dan ditariknya agar berdi¬ri. Mereka saling berpandangan. Tiba-tiba Bok Kek Ong tertegun menyaksikan wajah A Liong yang tampan itu sama sekali tidak berkeringat. Wajah pemuda itu masih tampak segar, seakan-akan ti¬dak pernah berlari atau melakukan sesu¬atu yang menguras tenaganya. Bahkan pernapasannya pun tetap halus dan ter- I atur. Sama sekali tidak tampak lelah I atau tersengal-sengal.
Ternyata Soat Ban Ong menjadi heran melihat kenyataan tersebut. Melihat be- " kas sepatu yang ada di atas pasir, bisa dikira-kira kalau A Liong lebih dari pu¬luhan kali melewati tempat itu. Tapi, mengapa pemuda itu sama sekali tidak kelihatan lelah? Bahkan berkeringat pun tidak?
"Anak baik, duduklah!" Akhi nya Bok Kek Ong menyuruh A Liong untuk duduk di atas pasir.
"Benar, A Liong. Duduklah! Marilah kita kukuhkan secara resmi hubungan gu¬ru dan murid ini dengan berpesta ikan bakar...." Soat Ban Ong berkata pula.
"Lo Ban Ong...?" Bok Keng Ong ber¬desah. Ia tak tahu apa yang hendak di¬lakukan oleh Soat Ban Ong terhadap A Liong.
Soat IJan Ong memberi tanda kepada kawannya itu. "Kita berpesta dulu. Urus¬an yang lain kita bicarakan belakangan."
Demikianlah siang hari itu Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong meresmikan A Liong sebagai murid mereka. Bok Kek Ong yang lebih tua daripada Soat Ban Ong disebut Toa-suhu, sedangkan Soat Ban Ong disebut dengan Ji-suhu. Selesai melakukan upacara sederhana, mereka berpesta ikan bakar yang dimasak oleh Soat Ban Ong tadi.
"Hmmmh! Omong-omong... sudah berapa kali kau mengitari pulau ini?" Sele¬sai makan Soat Ban Ong segera berta¬nya kepada A Liong.
A Liong mengangguk. "Lima puluh kali, Suhu!"
"Lima... puluh kali?" Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong berseru hampir berba¬reng. Mata mereka terbelalak seolah tak percaya.
"Benar, Suhu. Mengapa? Apakah ma¬sih harus ditambah lagi?" A Liong ber¬tanya dengan suara tegas.
"Ah, sudah cukup!" Soat Ban Ong bu¬ru-buru menggoyangkan tangannya.
Namun diam-diam Soat Ban Ong sa¬ling pandang dengan Bok Kek Ong. Sinar mata mereka menunjukkan perasaan he¬ran, karena menurut cerita A Liong sen¬diri, pemuda itu belum pernah belajar ilmu silat. Tapi kenyataannya berlari da¬ri pagi hingga siang hari, pemuda itu masih tetap segar bugar dan tidak me-ngeluarkan keringat yang berarti. Bah¬kan pernapasannya pun tetap biasa pula, tidak tersengal-sengal.
Apakah sebenarnya yang terjadi?
Apakah A Liong telah membohongi me¬reka? Tapi, bagaimana dengan jejak-jejak sepatu di atas pasir itu? Tidak mungkin jejak itu tiba-tiba tercipta sen¬diri, seolah-olah ada sepasukan hantu yang berbaris di tempat itu.
Satu-satunya kemungkinan memang hanya pada A Liong sendiri. Mungkin pe¬muda itu memang telah menyembunyi¬kan kepandaiannya.
Akhirnya Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong sepakat menanyakannya kepada A Liong.
"A Liong... tampaknya kau pernah be¬lajar ilmu silat, ya? Kau tidak merasa lelah meskipun telah berlari sekian la¬manya. Napasmu juga tidak tersengal-sengal pula...." Soat Ban Ong bertanya perlahan.
A Liong menatap kedua orang tua itu bergantian. Alisnya berkerut. Tapi sesa¬at kemudian otaknya yang cerdas sege¬ra menangkap kecurigaan mereka. Pemu¬da itu masih ingat akan keheranan Siau In ketika tubuhnya mampu menahan pu¬kulan dayung.
"Ah, maaf... Suhu. Siau-te memang benar-benar belum pernah belajar ilmu silat. Tapi kalau yang Suhu maksudkan itu tentang cara-cara pernapasan untuk menguatkan tubuh, siau-te memang per-nah mempelajarinya. Seorang kakek aneh mengajarkan kepada siau-te ketika siau-te masih kecil."
"Cara-cara pernapasan? Dapatkah kau perlihatkan cara pernapasan itu kepada kami?" Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong berdesah hampir berbareng.
"Tentu saja, Suhu. Begini...."
A Liong lalu duduk bersila di atas pasir. Punggungnya tegak lurus sampai kepala, sementara matanya menatap ta¬jam ke arah ujung hidungnya sendiri. Ke¬dua buah telapak tangannya yang terbu¬ka terkatup rapat di depan dada. Kemu- . dian dengan sikap yang amat tenang, serta penuh keyakinan, dia melakukan cara pernapasan seperti yang telah dia¬jarkan oleh kakek aneh dulu.
Dan tak lama kemudian dari ubun-ubun A Liong mengepul asap tipis ber¬warna putih. Asap itu tidak buyar terti-
up angin. Asap itu melayang ke atas perlahan-lahan, bagaikan ular kobra yang meliuk dan menari mengikuti irama su¬ling. Dan anehnya asap itu makin lama makin pekat, bahkan warnanyapun juga berubah. Sedikit demi sedikit asap putih itu berubah menjadi merah.
Bukan main kagetnya hati Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong! Cara dan bentuk ilmu pernapasan itu mirip sekali dengan ilmu pernapasan mereka! Asap yang tim¬bul di atas kepala pun nyaris sama pula.
Perbedaannya, asap A Liong itu jauh lebih pekat dan lebih kental daripada asap milik mereka! Dan asap yang tim¬bul di atas kepala A Liong cuma ada dua macam warna saja, yaitu merah dan putih. Demikian pula dengan bentuk asap nya. Asap milik A Liong cuma bergerak naik di atas kepalanya.
Sebaliknya asap yang mereka miliki bisa -berubah-ubah dalam tujuh macam warna, sesuai dengan warna pelangi. Bentuknya pun tidak hanya mengepul di atas kepala, tetapi bisa menebar lembut menyelimuti badan.
Akan tetapi bagaimanapun juga ke¬nyataan itu telah membuka mata Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong, bahwa A Liong memiliki sebuah ilmu pernapasan yang mirip dengan ilmu pernapasan dari Pondok Pelangi. Dan kenyataan itu be¬nar-benar menggelitik hati mereka untuk menyelidikinya.
Dengan sangat hati-hati Soat Bari Ong mendekati A Liong "Baiklah, A Liong... kau...?"
Ucapan Soat Ban Ong tiba-tiba ter¬henti ketika hidungnya mencium bau amis yang amat keras! Demikian kuat¬nya bau amis itu sehingga perut mereka menjadi mual dan mau muntah!
"Bau keringat! Kenapa bau keringat A Liong seperti ini?" Bok Kek Ong ber¬seru kaget.
A Liong menghentikan latihannya. Wajahnya kelihatan bingung ketika Soat Ban Ong tiba-tiba mengulurkan tangan¬nya, dan meraba tempurung kepalanya. Bahkan Bok Kek Ong yang berdiri di be¬lakangnya pun ikut-ikutan memeriksa be¬berapa jalan darah di sepanjang tulang
belakangnya.
"Aaaaaah...!" Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong sama-sama berteriak kaget.
Keduanya saling memandang, kemudi¬an bersama-sama menganggukkan kepala mereka. Ternyata dalam waktu yang bersamaan tadi mereka telah memeriksa tubuh A Liong. Soat Ban Ong meneliti bentuk tulang kepala A Liong, sedang¬kan Bok Kek Ong memeriksa susunan urat di sekitar tulang belakang. Dan ternyata mereka berdua menemukan hal-hal yang aneh dan mustahil!
Ternyata beberapa buah urat penting di kanan-kiri tulang belakang A Liong, telah disusun secara khusus seperti hal¬nya anak keturunan penghuni Pondok Pelangi. Dan susunan tersebut telah di-bentuk sejak A Liong lahir, sehingga tempurung A Liong telah tumbuh dalam bentuk yang khusus pula.
Soat Ban Ong memegang pundak A Liong dan menatap wajah pemuda itu dengan tajamnya. Kalau semula mereka hanya berpendapat bahwa ilmu pernapas¬an A Liong sangat mirip dengan ilmu pernapasan mereka, kini mereka justru menjadi yakin bahwa ilmu yang dimiliki A Liong benar-benar ilmu dari Pondok Pelangi!
"A Liong! Katakan yang sebenarnya! Siapakah kau ini? Bukankah engkau da¬tang dari Pondok Pelangi juga?"
Perubahan sikap gurunya itu benar-benar membingungkan A Liong. Dengan wajah pucat ia memandang Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong bergantian. Sinar matanya tampak bergetar, karena tidak mengerti apa yang sebenarnya dikehen¬daki oleh gurunya.
"Lo-cian... Locianpwe! A-ada apa se¬benarnya? Bukankah siau-te... sudah me¬ngatakannya? Siau-te anak seorang pe¬ngemis, , dan siau-te... tidak tahu menahu soal Pondok Pelangi."
A Liong berkata dengan suara geme¬tar, menandakan ucapannya itu benar-benar keluar dari lubuk hatinya. Dan se¬sungguhnya, baik Soat Ban Ong maupun Bok Kek Ong dapat merasakan juga. Tapi tanda-tanda khusus yang mereka temukan pada tubuh A Liong itu tidak
mungkin salah lagi. Tanda-tanda itu per¬sis seperti milik mereka! Tanda-tanda khusus bagi keturunan warga Pondok Pelangi!
Mereka benar-benar pusing. Di suatu pihak mereka percaya akan semua penu¬turan A Liong. Tapi di pihak lain mere¬ka juga yakin bahwa anak itu tentu anak keturunan dari Warga Pondok Pelangi.
Hanya ada satu hal yang membuat mereka sedikit ragu akan kebenaran du¬gaan mereka itu, yaitu bau amis yang keluar dari badan A Liong. Penghuni Pondok Pelangi rata-rata memiliki bau harum, bau khas yang timbul bila mere¬ka menghentakkan tenaga sakti mereka.
"A Liong, ketahuilah! Kami berdua benar-benar bingung melihatmu.... Semu¬la kami memang percaya pada riwayat hidupmu. Tapi setelah menyaksikan ke¬mampuanmu dan meneliti keadaan tubuh¬mu, kepercayaan tersebut menjadi kabur lagi. Ternyata sejak lahir susunan urat darahmu telah dibentuk sesuai dengan ilmu warisan dari Pondok Pelangi. Nah, hal itu berarti kau memiliki hubungan dengan Pondok Pelangi, karena hal itu tidak mungkin dilakukan oleh orang lain. Kecuali orang tuamu atau salah seorang dari para pengemis itu tahu tentang il¬mu warisan tersebut. Dan kalau memang demikian halnya, berarti orang itu ada¬lah orang dari Pondok Pelangi pula." Soat Ban Ong berkata dengan hati-hati.
"Tapi... jangan khawatir! Kami masih tetap percaya pada ceritamu. Kau tentu takkan membohongi kami." Bok Kek Ong ikut menambahkan.
Soat Ban Ong tersenyum. "Benar. Kami tetap percaya padamu. Tapi harap kau ingat juga, bahwa kami tetap ber¬pendapat bahwa kau tentu seorang anak keturunan Pondok Pelangi. Hanya saja... kami tak bisa menerka, apa yang dulu terjadi padamu. Mungkin kau memang keturunan seorang warga Pondok Pelangi yang terdampar di daratan Tiongkok."
Namun demikian kami juga belum ya¬kin pula pada dugaan itu, karena... tiba-tiba badanmu mengeluarkan bau amis yang amat menyengat! Padahal ilmu per¬napasan dari Pondok Pelangi justru mengakibatkan bau harum pada pemiliknya, bukan bau amis seperti itu." Bok Kek Ong menambahkan lagi.
Soat Ban Ong mengangguk. "Itulah sebabnya kami menanyakan lagi asai-usulmu. Tapi kalau kau memang benar-benar tidak tahu, kami berdua juga me¬makluminya. Mungkin kau memang anak keturunan warga Pondok Pelangi, yang ditemukan oleh kawanan pengemis, yang kemudian menjejalimu dengan makanan-makanan kotor, sehingga bau keringatmu menjadi amis^ ketika mengerahkan tenaga Bok Kek Ong menepuk pundak A Liong. "Tapi bisa juga kau bukan anak keturunan Pondok Pelangi. Mungkin memang anak pengemis, yang pada saat kelahiranmu mendapat pertolongan dari seorang warga Pondok Pelangi. Dan orang itu kebetulan menyukaimu, semua ingin mengangkatmu sebagai murid, se¬hingga ia mempersiapkan susunan urat-urat di dalam tubuhmu."
"Maksud Suhu... orang tua yang me¬ngajariku ilmu pernapasan itu? Tapi... orang itu hanya sekali saja bertemu de¬nganku." A Liong mencoba mengikuti ja¬lan pikiran gurunya.
"Mungkin juga. Yah, siapa tahu? Kau bisa menanyakannya bila bertemu nanti! Lalalalala...! Kulihat riwayat hidupmu sangat aneh dan menarik. Kurasa masih ada suatu rahasia yang belum kau keta-hui. Kau kelihatan berbeda dangan anak-anak sebayamu. Dan kau tidak sesuai menjadi seorang anak pengemis. Kau tentu bukan anak sembarangan. Tapi... yah, se¬baiknya kau menyelidikinya sendiri nanti. Lalalalala...!" Soat Ban Ong yang suka melucu itu tertawa.
A Liong tercenung diam. Kata-kata gurunya itu benar-benar tercerna ke da¬lam hatinya. Rahasia? Benarkah masih ada rahasia yang belum diketahuinya? Apakah itu?
Selama ini A Liong memang tidak pernah memikirkan siapa dirinya. Dia su dah pasrah akan nasibnya, dan ia tak per¬nah mempersoalkan siapa orang tuanya, la sudah menganggap dirinya sebagai ba¬gian dari kelompok pengemis itu.
Tapi kata-kata gurunya itu masuk akal juga. Selama ini nasibnya, jalan hi¬dupnya, memang tampak berbeda dengan para pengemis yang lain. Benarkah ia bukan keturunan mereka? Lalu anak si-apakah dia sebetulnya?
' "Tapi... apa yang telah siau-te ceri¬takan itu memang benar, Lo-cianpwe. Siau-te tidak berbohong." Akhirnya A Liong berkata dengan memelas.
"Yaya, kami tahu. Itulah sebabnya kami tetap menginginkan kau menjadi murid kami." Soat Ban Ong mengiyakan.
Sekarang kami akan menguji dulu lu. sebelum kami memberi pelajaran silat."
Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong lalu membawa A Liong ke tempat yang lebih datar. Mereka duduk melingkar saling berhadapan.
"Sekarang... coba kau kerahkan ilmu pernapasanmu tadi, lalu pukullah telapak tanganku ini!" Soat Ban Ogg -mengang¬kat tangannya ke depan.
"Memukul? Tapi cara pernapasan itu hanya digunakan untuk melawan hawa dingin, Suhu."
"Sudahlah! Kau turuti saja perintah kami!" Bok Kek Ong menimbrung.
Meskipun agak ragu, tetapi A Liong melaksanakan juga perintah itu. Setelah mengerahkan ilmu pernapasannya, sehing¬ga uap putih mengepul di atas kepala¬nya, tangannya diayun ke depan, ke arah s.e!apak tangan gurunya.
Whuuuuuut... dhug! A Liong meringis kesakitan. Buku tangannya bagaikan membentur sebongkah batu karang!
Sebaliknya Soat Ban Ong merengut ':arena kecele. Dia terlanjur mengerah¬kan sebagian besar tenaga dalamnya, ka¬rena ia melihat pekatnya asap yang me¬ngepul di ubun-ubun A Liong. Namun '•ukulan yang terlontar dari tangan pe¬muda itu ternyata tak berisi apa-apa. i ' jcan itu benar-benar tak tahu ilmu si¬at. Tidak tahu cara menyalurkan tena¬ga sakti untuk menyerang lawan!
Orang tua itu memandang Bok Kek '^ng untuk menanyakan pendapatnya.
"Baiklah! Kalau memang dia hanya membutuhkan ilmu itu untuk bertahan
terhadap udara dingin, artinya dia bisa menggunakannya untuk mempertahankan diri. Sekarang... biarlah dia tetap berta¬han! Kau saja yang menyerangnya!" Bok Kek Ong berkata.
"Menyerang dia? Hei, kau jangan ma¬in-main! Bocah ini bisa lumat oleh pukul-anku!"
"Belum tentu! Apakah kau tidak me¬lihat asapnya tadi? Asapmu belum tentu etebal itu!"
"Tapi...?" Soat Ban Ong bergumam ragu.
"Yah, tentu saja kau pun harus meli¬hat keadaan pula. Terlalu meremehkan, kau bisa celaka. Tapi terlalu bernafsu, kau juga bisa membunuhnya. Nah, laku¬kanlah!"
"Tidak! Kalau begitu kau saja yang menguji dia! Tenaga dalammu lebih baik daripada aku. Kaulah yang bisa meng¬aturnya."
Bok Kek Ong yang kurus itu menarik napas panjang. Terpaksa dia mengambil alih ujian itu. Sambil menggeser badan¬nya ia mengangguk kepada A Liong.
"Baiklah! Nah, A Liong... kau laku¬kan lagi cara pernapasan itu! Berbuat¬lah seperti kalau kau bertahan terhadap udara dingin, dan aku akan mencoba menghembuskan udara dingin kepadamu. Berusahalah untuk bertahan! Syukur kau bisa menolak atau menentangnya!"
"Baik, Suhu!"
Sekali lagi A Liong melakukan cara-cara pernapasannya. Begitu uap putih yang keluar dari ubun-ubunnya berubah menjadi merah, maka Bok Kek Ong juga mengerahkan tenaga dalamnya. Uap pu¬tih mengepul pula menyelimuti tubuh Bok Kek Ong, seakan-akan tubuh yang kurus itu telah berubah menjadi sebongkah es yang dingin. Lalu perlahan-lahan tangan orang tua itu mendorong ke depan.
Serangkum udara dingin meluncur me¬nuju ke dada A Liong. Desau suaranya seolah-olah mengalahkan suara angin yang bertiup dari arah barat. Untuk me¬nguji kekuatan A Liong, Bok Kek Ong sengaja mengeluarkan sepertiga dari se¬luruh tenaga saktinya.
A Liong tidak bereaksi atau berbuatapa-apa, selain tetap meneruskan sema¬dinya. Di dalam hatinya hanya ada satu keinginan, yaitu melawan hawa dingin yang tiba-tiba membentur dadanya.
Dan apa yang terjadi kemudian benar-benar membuat kecut hati Bok Kek Ong. Hentakan udara dingin dari telapak ta¬ngannya tiba-tiba terserap ke dalam alir¬an darah A Liong, dan ikut berputar di dalam tubuh, kemudian keluar melalui ubun-ubun dalam bentuk asap putih yang semakin tebal.
Bok Kek Ong terkejut. Dorongan te¬naga saktinya itu cukup untuk membu¬nuh seekor kerbau liar, namun kenyata¬annya tak selembar rambut pun tergon-cang dari tubuh A Liong. Bahkan dari raut wajahnya, pemuda itu sama sekali 1 tak merasakan gangguan tersebut.
Bok Kek Ong menambah tenaganya. Dan kali ini kedua telapak tangannya bersama-sama mendorong ke depan, meng gempur dada A Liong dengan dua pertiga bagian dari seluruh kekuatannya.
"Lo Kek Ong (Si Tua Kek Ong)...!" Soat Ban Ong berseru kaget, karena kekuatan Bok Kek Ong itu dapat melem¬parkan seekor gajah dengan gampangnya.
Tapi kekuatan A Liong benar-benar mentakjubkan. Begitu mendapat serangan yang lebih kuat, kekuatan yang terpen¬dam di dalam tubuhnya tiba-tiba juga bereaksi dengan keras pula. Segumpal hawa panas otomatis muncul dari bawah pusarnya, kemudian berputar dengan ce¬pat ke arah seluruh jalan darah di tu¬buhnya, membentuk asap tipis yang mem bungkus kulitnya.
Tiupan angin dingin yang meluncur dari tangan Bok Kek Ong itu menggem¬pur asap tipis yang menyelubungi badan A Liong! Terdengar suara desis yang ke¬ras sekali, seperti suara bara api tersi-ram air.
1 Asap mengepul semakin tebal di se¬keliling tubuh A Liong, namun pemuda itu seperti tak merasakan apa-apa. Bah¬kan ketika Bok Kek Ong menjadi pena¬saran, dan kemudian menghentakkan pu¬kulan udara kosongnya, tiba-tiba timbul daya tolak yang hebat dari tubuh A Liong!
Wuuuuuus...! Blugh!
Badan Bok Kek Ong yang kurus itu terlempar tinggi ke udara, kemudian ter¬hempas kembali ke atas pasir! Untung¬lah orang tua itu sudah menduganya le¬bih dahulu, sehingga tubuhnya tidak ter-banting ke pasir, tapi mendarat dengan ringan bagaikan segumpal kapas tertiup angin!
Untuk sesaat air muka Bok Kek Ong menjadi merah padam. Dia benar-benar tak mengira kalau A Liong memiliki te¬naga simpanan sedahsyat itu!
Sementara itu A Liong telah membuka matanya, dengan penuh harap ia menunggu pendapat kedua orang tua itu Sa ma sekali tak disadarinya, bahwa ia baru saja melemparkan Bok Kek Ong ke udara.
Soat Ban Ong buru-buru menghampiri sahabatnya. "Kau tidak apa-apa?"
Bok Kek Ong menggelengkan kepala¬nya. "Untung bukan engkau yang meng¬ujinya. Kalau kau yang maju, niscaya sa¬lah seorang dari kalian akan mati di te-pian pantai ini...."
"Ya-ya-ya, kulihat... kulihat tenaganya hebat sekali!"
“hebat sekali!"
Bok Kek Ong melirik ke arah A Liong, lalu mengangguk kuat-kuat. "Anak itu... benar-benar mempunyai tenaga ajaib. Dan... ia sama sekali tak menya¬darinya. Yang dia ketahui... tenaga itu hanya dipergunakan untuk menolak hawa dingin. Wah, Lo Ban Ong... jangan-jangan dia masih menyimpan tenaga yang lebih besar lagi!"
Soat Ban Ong menatap sahabatnya mata melotot. "Maksudmu... maksudmu lwekangnya masih lebih tinggi lagi.Waduh kalau begitu kita harus mengujinya lagi, kita harus tahu sampai dimana kekuatannya agar kita dapat menyesuaikan dengan pelajaran silatnya nanti”.
Bok Kek Ong mengerutkan keningnya. Kedua alisnya yang berbeda warna itu seolah-olah menumpuk jadi satu di te¬ngah dahi. "Baiklah...!"
"Bagaimana, Suhu?" A Liong tidak sabar lagi menantikan jawaban gurunya.
"Aku belum selesai, A Liong. Coba, kau ulangi lagi cara pernapasanmu tadi!
Aku akan mengujimu kembali."
A Liong berdesah pajang. Ia kelihat¬an kurang bergairah untuk melaksanakan perintah itu. Tapi apa boleh buat, ia terpaksa melakukannya juga.
Demikianlah, ketika asap putih di atas kepala A Liong sudah berubah men¬jadi merah, Bok Kek Ong segera menge¬rahkan lwekangnya pula. Karena dengan dua pertiga bagian tenaganya belum da¬pat mengusik kekuatan A Liong, maka kini Bok Kek Ong mengerahkan hampir seluruh tenaga saktinya. Terdengar sua¬ra gemeratak di dalam tubuh kurus itu, seolah-olah tulang-tulangnya pada berpa-tahan.
Untuk menguji kekuatannya, orang tua itu menepuk batu karang di sam¬pingnya. Perlahan-lahan saja. Plaaak...! Tapi batu karang sebesar kerbau itu ti¬ba-tiba merekah dan terbelah menjadi dua bagian!
Melihat demikian besar kekuatan yang dipersiapkan untuk menguji A Liong, Soat Ban Ong berteriak khawatir.
"Lo Kek Ong, hati-hati! Kalau anak itu sampai mati, kau harus bertanggung jawab!"
Bok Kek Ong tersenyum untuk mene¬nangkan hati sahabatnya. Lalu perlahan-lahan tangannya terangkat ke atas. Wuuuuuus...! Sekonyong-konyong tangan itu menerkam ke bawah, menuju ke da¬da A Liong! Angin dingin menyambar de¬ngan dahsyatnya seolah-olah hendak mem belah tubuh pemuda itu!
"Kek Ong, awas... kalau sampai cede¬ra, kubunuh kau!" Di dalam puncak ke¬khawatirannya Soat Ban Ong menjerit keras sekali. Thaaaaaas! Klaaaak! Tak ada benturan! Tak ada suara ke¬sakitan! Tapi hanya suara tepukan yang lemah! Namun apa yang terlihat di are¬na sungguh diluar dugaan!
Dalam posisi tetap berdiri Bok Kek | Ong masih menempelkan telapak tangan¬nya yang penuh tenaga itu di dada A Liong! Sedang pemuda itu sendiri juga tetap dalam keadaan duduk bersamadhi seperti semula. Bedanya, kalau wajah A Liong tetap tenang, segar dan bersih,
sebaliknya wajah Bok Kek Ong tampak merah padam, kaku dan penuh keringat! Bahkan mata orang tua itu tampak me¬lotot menahan sakit!
Sekejap Soat Ban Ong tak tahu apa yang terjadi di antara mereka. Tapi ke tika tampak olehnya sinar mata ketakut- ' an di wajah sahabatnya itu, ia baru me¬nyadari apa yang terjadi. Bok Kek Ong mendapat kesulitan besar!
"A Liong...! Hentikan! Hentikan ilmu pernapasanmu!"
Sambil berteriak Soat Ban Ong mele¬sat ke belakang Bok Kek Ong. Kemudian dengan cepat ia mengerahkan tenaga saktinya dan menepuk punggung sahabat¬nya itu. Plaaaak! Arus tenaga yang amat kuat mengalir dari dalam tubuhnya, mem banjir ke dalam tubuh Bok Kek Ong, dan , berbaur menjadi satu. Dengan tenaga gabungan itu mereka melawan daya se- j dot yang keluar dari dada A Liong!
Sedikit demi sedikit Soat Ban Ong meningkatkan penyaluran tenaga sakti¬nya. Tapi betapa kagetnya dia ketika se¬luruh kekuatan lwekangnya telah terhentak keluar, tenaga gabungan mereka te¬tap tak dapat mengatasi daya sedot yang keluar dari dalam tubuh A Liong!
Sekarang mereka benar-benar dalam kesulitan! Mereka tak kuasa untuk meng¬alihkan perhatian lagi. Sedetik saja me¬reka melepaskan konsentrasi, nyawa me¬reka akan melayang!
i Yang bisa mereka lakukan sekarang hanyalah bertahan. Bersama-sama mere¬ka menghentakkan seluruh sisa-sisa tena¬ga mereka. Keringat sampai membanjir membasahi pakaian mereka. Bahkan se¬saat kemudian tangan dan kaki mereka mulai bergetar.
Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong mu¬lai berpikir untuk berdoa ketika daya se¬dot itu mendadak hilang. Ternyata pada saat-saat terakhir A Liong telah meng¬hentikan semadinya. Teriakan Soat Ban Ong tadi telah menyadarkannya, meski¬pun agak lambat.
A Liong membuka matanya. Melihat dua orang gurunya terlentang tumpang tindih di depannya, wajahnya segera men jadi pucat ketakutan. Bergegas ia berlutut memohon maaf.
"Suhu! Apakah... apakah siau-te telah berbuat salah?"
Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong bang¬kit dengan cepat. Mereka saling pandang dengan wajah merah. Mereka hampir-hampir tidak percaya akan kejadian itu. Bagaimana mungkin seorang anak berusia lima belas tahun dapat mengalahkan te¬naga gabungan, yang telah mereka him¬pun selama lima puluhan tahun? Sungguh tidak masuk akal! Kekuatan sedahsyat itu hanya bisa diperoleh setelah berlatih selama seratus tahun! Mungkinkah A Liong seorang anak ajaib yang muncul setiap lima ratus tahun sekali? Kalau me¬mang demikian halnya, mereka benar-be¬nar beruntung. Mereka mendapatkan bi¬bit unggul untuk mewarisi ilmu mereka. Dan kenyataan itu sungguh sangat menggembirakan mereka.


 Jilid 14                                                                                                       Jilid 16