Rabu, 09 Mei 2018

PENDEKAR PEDANG PELANGI 12

Jilid 12

“Ia tidak kembali lagi ke kota?"

"Yaaa... mungkin saja. Tapi lebih baik kita membuktikan dulu masih ada tidaknya adikmu di pantai. Setelah kita cari di pantai dia tidak ada, baru kita ke kota."

Seorangpun para anggota Hek-to-pai yang bertebaran di halaman depan itu berani menghalangi Liu Wan dan Tio Ciu In ketika sepasang muda-mudi itu melewati mereka. Bahkan mereka segera menyingkir untuk memberi jalan kepada Liu Wan.

"Heran...! Mengapa Kwe Tek Hun ti¬dak kelihatan? Bukankah dia tadi menghadapi para penjaga pintu gerbang itu?" Liu Wan bergumam kaget ketika tidak melihat Kwe Tek Hun di pintu gerbang masuk.

"Eh, Liu Twako... lihat pohon besar yang tumbang itu! Bukankah tidak ada badai yang mengamuk ini tadi? Mengapa pohon itu roboh?"

"Benar. Memang aneh. Marilah kita tanyakan kepada penjaga itu!"

Para penjaga pintu gerbang itu menjadi pucat wajahnya ketika Liu Wan dan Tio Ciu ln datang mendekati mereka.

"Hei! Katakan, ke mana teman kami tadi? Cepat!" hardik Liu Wan keras.

"Dia... dia pergi bersama seorang lelaki dan seorang wanita, setelah kedua orang itu mengalahkannya." salah seorang penjaga menjawab dengan suara gemetar.

Bukan main kagetnya Liu Wan dan Tio Ciu In! Demikian gugupnya Liu Wan mendengar laporan itu sehingga secara tak sadar tangannya menyambar leher baju penjaga tersebut.


"Apa katamu...? Katakan yang benar!"


Tentu saja penjaga itu semakin menjadi takut.


"Anu... anu... aku mengatakan yang... yang sebenarnya. Li-lihat pohon itu! La¬ki-laki yang mengaku dari Pondok Pelangi itu menumbangkannya dari jauh dengan... dengan pukulannya yang dahsyat, sehingga teman Tai-hiap mengaku kalah, dan... dan ikut pergi dengan mereka!"


Liu Wan melepaskan cengkeramannya dan mendorong penjaga itu ke belakang, sehingga menabrak teman-temannya. Mereka jatuh terjengkang tumpang-tindih.


"Sungguh gawat sekali, Ciu-moi. Orang yang bisa mengalahkan Kwe Tek Hun tentu bukan orang sembarangan. Rasanya aku pun takkan bisa menolong¬nya. Mungkin hanya tokoh-tokoh setingkat Hong-gi-hiap Souw Thian Hai, Guru¬ku, atau ayah Kwe Tek Hun sendiri yang bisa menghadapinya."

"Orang itu... orang itu memang me¬ngajak teman Tai-hiap untuk menemui ayahnya." penjaga yang didorong jatuh oleh Liu Wan tadi tiba-tiba berkata.

"Heh...? Jadi mereka pergi ke Pulau Meng-to?" Liu Wan berseru kaget.

"Ya-ya... mereka tadi memang nyebut-nyebut Pulau Meng-to." penjaga itu berkata pula.


"Aaaaah...." Liu Wan menarik napas panjang. Keningnya berkerut, dan untuk beberapa waktu lamanya pemuda itu tak berkata-kata lagi.

Tio Ciu In yang tak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Liu Wan segera menarik lengannya.

"Twako, apa yang kau pikirkan?"


Sekali lagi pemuda itu menghela na¬pas panjang, kemudian menggandeng ta¬ngan Tio Ciu In untuk dibawa keluar meninggalkan perkampungan itu. Liu Wan tetap melangkah ke arah pantai seperti rencananya semula.

Sementara itu matahari mulai bergulir dari atas kepala. Panasnya benar-benar mulai menyengat, sehingga pipi Tio Ciu In yang ranum itu menjadi kemerah-merahan. Beberapa tetes keringat juga mulai mengalir membasahi kening gadis ayu itu. Akan tetapi tak sepatah katapun keluh kesah yang keluar dari bibir tipis tersebut.

Justru Liu Wan lah yang akhirnya merasa kasihan melihatnya.

"Ah, panasnya bukan main! Kita berteduh dulu, Ciu-moi?"


"Tidak usah, Twako. Panas sedikit tidak apa. Kita berjalan terus saja hingga ke perkampungan Ui-thian-cung. Aku cepat-cepat ingin bertemu Siau In...."

"Tapi... tapi keringatmu mengalir membasahi pelipis dan lehermu. Pipimu ... pipimu...." Liu Wan tak berani mene¬ruskan kalimatnya. Matanya juga tidak berani memandang gadis itu lama-lama.

"Pipiku... kenapa, Twako?" Tio Ciu In mengerutkan alisnya yang lentik.

"Ah, tidak... tidak apa-apa!" tiba-tiba Liu Wan menjawab cepat sambil menundukkan mukanya. 


Suaranya bergetar seperti orang yang sedang menahan beban batin yang amat berat.

"Lho? Kau ini bagaimana, sih? Seper¬ti orang sedang kebingungan saja!" Tio Ciu In mendamprat kesal.

Liu Wan cuma tersenyum kecut, dan tak berani mengeluarkan suara apa-apa. Bahkan memandang, Tio Ciu ln pun ia tak berani. Rasanya seperti ada kesedihan di hatinya setiap kali memandang gadis ayu itu. Namun ia tak tahu, apa yang menyebabkan kesedihan itu.

Sebaliknya gadis itu sama sekali tak tahu apa yang sedang bergejolak di dada teman seperjalanannya. Ia hanya menduga kalau Liu Wan sedang bingung memikirkan kepergian Kwe Tek Hun.

"Siapa sebenarnya orang yang mengaku dari Pondok Pelangi itu? Mengapa Twako sangat mengkhawatirkan mereka?" akhirnya gadis itu bertanya perlahan.

Liu Wan tersentak seperti orang yang terbangun dari lamunannya segera menggeleng tanda tak tahu.

"Aku juga baru mendengarnya sekali ini. Tapi kalau benar apa yang dikatakan penjaga itu bahwa mereka dapat mengalahkan Kwe Tek Hun, rasanya kepandaian mereka benar-benar sangat tinggi. 
Hanya yang tidak kumengerti, mengapa mereka membawa Kwe Tek Hun ke Pulau Meng-to. Apakah orang-orang dari Pondok Pelangi itu bermusuhan dengan ayah Kwe Tek Hun, sehingga mereka menyandera Kwe Tek Hun?" 

Pemuda itu kemudian berkata agak lancar Tio Ciu In memandang Liu Wan sekejap, lalu cepat-cepat beralih ke pucuk-pucuk pepohonan tinggi yang tumbuh berjejer-jejer di pinggir jalan. Tak terasa pikiran gadis itu juga ikut terbenam pula di dalam urusan yang tak dimengertinya itu.

"Apakah kira-kira mereka itu mem¬punyai hubungan dengan gadis yang memusuhi kita di penginapan pagi tadi?" tiba-tiba Tio Ciu In bergumam.

Liu Wan terkejut. Pemuda itu tidak berpikir sampai ke sana, tapi kemungkinan tersebut memang bisa saja terjadi. Mereka sama-sama memiliki kepandaian yang sangat tinggi.

Angin terasa mulai berhembus dengan kencang, membawa butiran debu dan pasir ke mana-mana. Mereka berdua telah melewati hamparan tambak garam yang berpetak-petak di kanan kiri jalan. Laut pun mulai tampak di kejauhan, dengan garis pantai yang rimbun oleh pepohon¬an perdu dan alang-alang tinggi.

Mereka masih sempat menyaksikan bekas-bekas kesibukan luar biasa di pert kampungan nelayan itu. Belasan orang perajurit penjaga keamanan masih tam¬pak berada di sana. Bahkan di rumah Tiam Lok, kepala kampung Ui-thian cung itu masih kelihatan seregu pasukan keamanan kota Hang-ciu sedang beristirahat.

"Eh, tampaknya ada sesuatu yang ba¬ru saja terjadi di tempat ini, Lopek? Liu Wan mencoba bertanya kepada se orang nelayan tua yang sedang menambal jalanya.

Nelayan itu memandang Liu Wan dan Tio Ciu ln beberapa saat lamanya. Melihat wajah-wajah yang bersih dan halus dari kedua anak muda itu, ia kelihatan lesu.

"Yaaah... ada pembunuhan besar-besar an di pantai sebelah sana! Para Pemenang Perlombaan Mengangkat Arca dan pengawal mereka dibantai orang di atas pasir itu...."

"Ohhhh!" Liu Wan dan Tio Ciu ln yang sudah mendengar berita tersebut di markas Tiat-tung Kai-pang berdesah pendek.

”Apakah sanak saudara Kongcu ikut menjadi korban pula?”

“Oh, tidak … tidak!” Ciu In cepat-cepat menjawab. “Kedatangan kami berdua kemari memang mau mencari seseorang, tapi orang yang kami cari itu bukan salah seorang dari orang-orang yang terbunuh itu. Orang yang kami cari adalah seorang gadis muda berpakaian merah. Perawakannya biasa-biasa saja, tak begitu tinggi tapi juga tidak pendek, badannya agak kurus sedikit, rambutnya dikepang dua, Eh, apakah Lopek melihatnya…?”

Sekali lagi nelayan tua itu menatap Ciu In dan Liu Wan beberapa saat lamanya, keningnya berkerut, seolah-olah merasa heran, kaget dan curiga.

“Sungguh mengherankan …! Beberapa saat yang lalu juga ada yang bertanya kepadaku tentang gadis yang ciri-cirinya seperti itu….”

“Apa….? Ada orang lain yang bertanya kepada lopek? Siapa dia? Bagaimana ciri-cirinya?” Ciu In mendesak dengan suara penuh harap, gadis itu teringat akan suhengnya lagi.

Nelayan itu meletakkan jalanya, kemudian berdiri. “Dia seorang pemuda tampan, tingginya kira-kira sama dengan aku, kurus, rambutnya awut-awutan….”
“Oooohhh…” Ciu In berdesah kecewa karena ciri-ciri yang disebutkan bukan ciri Tan Sin Lun suhengnya.
“Nah…. Itu dia orangnya!” tiba-tiba nelayan tua itu berseru, tangannya menuding ke pintu masuk perkambungan Ui thian cung.
Liu Wan dan Ciu In menatap ke depan, mereka melihat seorang pemuda kurus mengenakan pakaian hitam kedodoran berjalan lesu ke arah mereka, tampaknya pemuda itu baru saja menemui kepala kampung.
“Tampaknya orang itu bukan suhengny…” Liu Wan berdesah hambar seperti kehilangan semanat.
Ciu In berpaling, sekejap, mata yang bulat indah itu menatap tajam penuh selidik, ada terungkap rasa heran dan tak mengerti pada pancaran sinar mata itu. Tapi mata indah itu segera berpaling kembali ketika Liu Wan balas memandangnya.
Tampaknya pemuda kurus yang tidak lain adalah Chin Tong Sia atau Put-tong-sia itu memang bermaksud menemui ne¬layan tua tersebut. Tapi ia menjadi ra¬gu-ragu melihat kehadiran Liu Wan dan Tio Ciu In, sehingga ia diam saja di de¬pan nelayan itu.
Liu Wan baru pertama kali ini meli¬hat pemuda itu, tapi Tio Ciu In sudah melihatnya di atas panggung perlombaan kemarin. Tio Ciu In masih ingat sekali karena pemuda itu telah membuat keri¬butan di atas panggung.
"Nah, apakah Tuan hendak bertanya tentang gadis itu lagi?" sekonyong-ko¬nyong nelayan tua itu mendahului berta¬nya kepada Chin Tong Sia yang tampak ragu-ragu.
Chin Tong Sia melirik ke arah Liu Wan dan Tio Ciu In, kemudian mengang¬guk lemah.
"Apakah engkau tetap belum melihat¬nya juga?" tanyanya kaku.
Nelayan tua itu menggelengkan kepa¬lanya. "Belum. Mungkin gadis itu me¬mang tidak pergi ke tempat ini. Tapi... eh, omong-omong... Kongcu dan Siocia ini juga menanyakan gadis itu. Apakah Tuan mengenal mereka?"
Chin Tong Sia memandang Liu Wan dan Tio Ciu In sekejap, kemudian meng¬angkat pundaknya. Sambil beranjak per¬gi pemuda itu meninggalkan pesan kepa¬da nelayan tersebut.
"Paman, tolong beritahukan kepadaku kalau gadis yang kumaksudkan itu lewat di sini. Aku berada di tempat penambat¬an perahu."
"Saudara, tunggu...!" Tio Ciu In yang menjadi penasaran itu tiba-tiba berseru memanggil.
Chin Tong Sia berhenti melangkah, lalu dengan cepat membalikkan tubuh¬nya. Dan pada saat membalikkan badan itulah buntalan pakaian Tio Siu In yang dibawanya melorot turun dan jatuh dari balik bajunya yang kedodoran,namun dengan tangkas dan cepat pula bungkus¬an itu disambarnya serta dimasukkan kembali ke balik bajunya.
Akan tetapi waktu yang hanya seke¬jap itu sudah cukup bagi Tio Ciu In. un¬tuk mengenali bungkusan pakaian adik¬nya.
"Nona memanggil saya?" Dengan te¬nang Chin Tong Sia menghadapi Tio Ciu In.
Sebaliknya Tio Ciu In sendiri juga mencoba untuk bersikap hati-hati pula. Dia ingin mencari tahu perihal hubungan adiknya dengan pemuda itu, sehingga pe¬muda itu kelihatan berhasrat sekali me-nemui Siau In.
"Maaf, kudengar dari Lopek ini Sau¬dara sedang mencari seorang gadis mu¬da berbaju merah di tempat ini. Eeem... apakah yang Saudara maksudkan itu ber¬nama Tio Siau ln?" dengan amat sopan Tio Siau In bertanya, membuat Liu Wan yang berdiri di sampingnya merasa ki¬kuk melihatnya.
Tak terduga wajah Chin Tong Sia, menjadi merah. Pertanyaan itu membuatnya bingung dan tak tahu harus men jawab apa, karena dia memang belum tahu nama gadis yang dicarinya itu.
"Ha-ha-haha-hihihi! Nona ayu, jangan kautanyakan nama gadis itu kepadanya! Dia takkan tahu, karena dia memang belum sempat menanyakan nama pacar¬nya itu!" Tiba-tiba terdengar suara se-rak berkumandang tanpa kelihatan orang¬nya.
"Suheng, mengapa kau suka benar mencampuri urusan orang? Apakah luka¬mu akibat mencampuri urusan orang-orang Hun tadi malam belum membuat¬mu jera?" Put-tong-sia menggeram ma¬rah. Matanya memandang nanar ke sega¬la penjuru, mencari tempat persembunyi¬an Put-pai-siu Hong-jin.
Wajah Liu Wan menjadi amat tegang pula. Suara tanpa ujud itu membuat jan¬tungnya berdegup lebih keras. Dan oto¬matis kakinya mendekati Tio Ciu In, siap untuk setiap saat melindungi gadis itu dari bokongan musuh.
Yang justru menjadi ketakutan ada¬lah nelayan tua itu. Mendengar suara tanpa ujud, padahal suara itu seakan-akan berada di dekatnya, membuat orang tua itu gemetar ketakutan. Setelah me-nengok ke sana ke mari, ia segera me¬ngambil langkah seribu, meninggalkan tumpukan jala yang belum selesai digu¬lungnya.
"Kurang ajar! Bikin ribut saja! Eh, maaf... aku akan mencari Suhengku du¬lu...."? akhirnya Chin Tong Sia berkata kesal.
"Tapi... Saudara belum menjawab pertanyaanku." Tio Ciu In_ cepat memo¬tong ucapan pemuda itu.
Chin Tong Sia tertegun, kakinya tak jadi melangkah. Sekejap wajahnya men¬jadi merah lagi, namun segera hilang pula.
"Bukankah Suhengku tadi sudah men¬jawabnya? Maaf, aku pergi dulu...."
"Tunggu...!" Tio Ciu In berseru sera¬ya melompat ke depan menghadang lang¬kah Chin Tong Sia.
Pemuda kurus itu berdiri tegak, urat-uratnya menegang, sehingga Liu Wan yang amat mengkhawatirkan keselamatan Tio Ciu In cepat-cepat bergeser mendampingi gadis itu.
"Apa yang Nona inginkan lagi?" Chin Tong Sia berdesis. Matanya menatap di¬ngin, terutama kepada Liu Wan yang ke¬lihatan selalu melindungi Tio Ciu In.
"Saudara, kulihat kau tadi membawa bungkusan pakaian. Apakah bungkusan itu milik gadis yang kaucari itu?" Tio Ciu In bertanya, suaranya tetap tenang.
Mata pemuda kurus itu tiba-tiba ber¬getar seolah-olah menahan marah.
"Apa peduli Nona dengan bungkusan pakaian itu? Kuharap Nona jangan men¬campuri urusan orang!" pemuda itu menggeram.
Ternyata Tio Ciu ln juga tidak sabar pula. "Apa? Aku tidak boleh mencampuri urusan Saudara? Bagaimana aku tidak boleh mencampuri urusan Saudara kalau bungkusan yang Saudara bawa itu milik Adikku?" jeritnya marah.
"Apa...?" Chin Tong Sia berseru kaget.
"Bungkusan itu milik Adikku! Tahu? Sekarang, berikan bungkusan itu kepada¬ku...!"
Tio Ciu In melangkah ke depan, tapi dengan cepat Chin Tong Sia bergeser ke belakang. Pemuda itu menatap Tio Ciu In dan Liu Wan dengan pandangan curi¬ga.
"Tidak! Aku tidak percaya kepadamu! Akan aku serahkan sendiri bungkusan ini kepada yang punya."
"Kurang ajar! Serahkan kepadaku!" Tio Ciu In menjerit, kemudian menye¬rang Chin Tong Sia.
Tapi dengan mudah pemuda kurus itu mengelakkannya. Hanya dengan mendoyongkan tubuhnya ke kiri, serangan Tio Ciu In gagal mengenai sasarannya. Bah¬kan ketika pemuda itu balas memukul dengan siku tangannya, Tio Ciu In men¬jadi gelagapan dibuatnya. Untunglah Liu Wan cepat membantu. Dari jauh Liu Wan melontarkan pukulan Thian-lui-kong-ciangnya!
Whuuuuus! Hembusan angin tajam menyambar siku Chin Tong Sia!
Chin Tong Sia cepat menarik kemba¬li serangannya, lalu berjumpalitan meng¬hindari sambaran angin tajam yang amat berbahaya itu.
Thaaaaar! Angin pukulan yang gagal mengenai sasaran itu menerjang gunduk¬an pasir yang menghamburkannya ke ma¬na-mana.
"Bagus...!" sekonyong-konyong Chin Tong Sia bersorak gembira, seakan-akan memperoleh mainan yang menyenangkan.
"Ciu-moi, minggirlah... dia bukan tandinganmu!" Liu Wan berseru.
Tio Ciu In menarik napas lega. Ham¬pir saja rusuknya patah. Dia tak mengira kalau lawannya bisa bergerak begitu. Sementara itu Liu Wan telah berha¬dapan dengan Chin Tong Sia. Seperti dua ekor ayam aduan mereka saling menak¬sir kekuatan lawannya.
"Maaf, Saudara... bolehkah aku tahu namamu?" Liu Wan menyapa lebih dulu.
"Boleh. Aku tak pernah menyembunyi¬kan namaku. Namaku Chin Tong Sia dari aliran Beng-kau. Dan kau sendiri tentu datang dari utara, bukan? Aku belum ta¬hu namamu, tapi aku kenal ilmu pukul-anmu tadi. Thian-lui-kong-ciang, bukan?"
Jawaban itu benar-benar mengejutkan Liu Wan dan Tio Ciu In , sama sekali mereka tak menyangka kalau pemuda itu dari aliran Beng-kau, salah satu aliran keagaam terbesar di daerah selatan, bahkan hati Tio Ciu In menjadi berdebar-debar pula karena pada tahun-tahun terakhir ini di antara aliran im yang kau di utara dan bengkau di selatan seperti bersaing dalam pertumbuhannya.
“Ah, kami sungguh tak menduga dapat berjumpa dengan seorang murid aliran Bengkau di pantai timur ini, aku memang dari utara dan ilmu pukulanku tadi kebetulan memang bernama Thian lui kong ciang…”
“Hmmm, bagus…. Bagus! Apakah gadis ini adikmu?”
Liu Wan mengangguk, hatinya mulai panas juga melihat kecongkakan lawannya.
“Oooh, jadi… kau juga ingin mengambil bungkusan ini?”
“Tentu saja, karena seperti yang dikatakan adikku ini bungkusan yang kau bawa itu, adalah milik adik kami.”
“Baiklah, kau boleh membawanya, asal…” Chin Tong Sia tak melanjutkan kata-katanya. Wajahnya yang tampan itu tiba-tiba tersenyum dingin.
“Asal apa?” Liu Wan mendesak, urat-uratnya menegang, siap untuk menggempur lawannya.
“Asal kalian bisa mengalahkan aku! Kalau kalian tidak mampu, jangan harap aku akan memberikannya!”
“Kurang ajar! Sombong sekali!” Liu Wan menggeram.
Lalu tanpa mengulur-ulur waktu lagi Liu Wan menerjang Chin Tong Sia dengan kedua telapak tangannya. Hembusan angin yang amat kuat meluncur dari telapak tangan tersebut, bergulung-gulung, susul menyusul, bagiaman gempuran ombak menerjang dada Chin Tong Sia.
”Wah, dahsyat sekali!” pemuda kurus itu berteriak kagum sekali sambil melompok tinggi ke udara.
Melihat lawannya bisa meloloskan diri dari gempuran pukulan udara kosongnya, Liu Wan cepat-cepat mengejarnya dengan sabetan sisi tangannya. Pukulan itu diarahkan ke lutut Chin Tong Sia yang masih mengapung di udara. Dan sekali lagi dari sisi telapak tangan itu berdesis angin tajam yang menyambar lebih dahu¬lu ke arah sasarannya. Liu Wan benar-benar tak memberi kesempatan kepada Chin Tong Sia untuk bernapas.
"wah, gila...! Gila! Hihihi-ha-haha! be¬nar-benar pukulan bagus! Sute, kau tak¬kan bisa mengelak lagi sekarang! Hoho-ho... tibalah ajalmu kini!" tiba-tiba su- I ara tanpa ujud itu ke bal i bergema di tempat itu.
"Suheng keparat! Suheng bermuka jelek! Kaukira aku tak bisa menghindar lagi? Huh, lihat...!"
Entah disebabkan karena ejekan atau cemoohan suhengnya itu, atau entah karena kemarahannya yang memuncak akibat di¬desak terus menerus oleh Liu Wan, tapi yang jelas pemuda kurus itu mendadak bisa melakukan suatu gerakan yang aneh, sulit, namun hebat bukan main! Tubuh¬nya yang terapung di udara itu tampak menggeliat beberapa kali ke samping, sehingga tubuhnya yang kecil kurus itu bagaikan segumpal kapas yang turun-naik ditiup angin!
"Wah, wah, wah, Setan Busuk! Setan Gila! Kau benar-benar telah melakukan jurus Menerobos Lubang Pintu Jala de¬ngan amat sempurna! Oh-ho-ho-ho, Sute ... selamat! Selamat! Kini sudah ada dua orang yang mampu melakukan gerakan itu di Aliran Beng-kau kita, kau dan aku... he-he-he-he!" suara tanpa ujud itu bersorak memuji gerakan Chin Tong Sia yang hebat.
Begitu indah dan mentakjubkan jurus yang diperlihatkan oleh Chin Tong Sia itu, hingga untuk sesaat lamanya Liu Wan ikut tertegun di tempatnya. Liu Wan baru sadar kembali ketika melihat lawannya itu telah berdiri siap di depan¬nya.
"Bagus!" Liu Wan memuji sambil me¬nerjang lawannya kembali. Kali ini dengan tusukan dua buah jari ke leher Chin Tong Sia.
Akan tetapi Chin Tong Sia tak ingin jadi sasaran terus-menerus. Sambil menghindari tusukan jari Liu Wan, tangán ka¬nannya menyambar ke depan, menuju ke uluhati lawannya. Serangannya amat ce-pat dan kuat bagaikan patukan ular ko¬bra!
"Wah, jelek... jelek! Siku tanganmu masih terlalu melebar ke luar lagi! Sute, kau bisa celaka! Pertahananmu menjadi rapuh!" Put-pai-siu Hong-jin yang belum juga mau memperlihatkan dirinya itu mencela gerakan Chin Tong Sia.
Entah benar atau kurang benar, na¬mun serangan itu sendiri sudah cukup merepotkan Liu Wan. Pemuda sakti itu terpaksa membuang tubuhnya ke kanan sambil menjejakkan kakinya ke atas un-tuk menghantam Chin Tong Sia, kemudi¬an berjumpalitan menjauhkan diri. Semua itu dilakukan Liu Wan karena dilihatnya kaki kiri Chin Tong Sia telah bersiap-siap menerjang tubuhnya.
"Aduuuh... salah! Seharusnya kau ti¬dak mengelak ke kanan! Seharusnya kau bergeser sedikit saja ke kiri, lalu meng¬hajar ketiak Suteku yang- terbuka itu! Huh, pasti suteku itu mampus!" suara
Put-pai-siu Hong-jin kembali terdengar, tapi kali ini mencela gerakan Liu Wan.
Sementara itu Tio Ciu In menonton pertempuran itu dengan perasaan kebat-kebit. Matanya selalu gelisah melirik ke sana ke mari, mencari orang yang bersu¬ara tanpa kelihatan ujudnya itu. Namun sampai bosan ia mencarinya, orang itu tetap tak kelihatan juga. Padahal tempal itu adalah tempat yang lapang, sama se¬kali tiada pepohonan atau pun bangunan rumah. Yang ada cuma gubug kecil reyot tempat nelayan tua tadi berteduh duri teriknya matahari! L)an bangunan reyot itu tak mungkin untuk bersembunyi, karena selain tak ada dindingnya, atapnya pun hanya dari daun-daun ilalang pula yang sudah bolong di sana-sini. Seekor kucing pun sudah cukup untuk meruntuhkan atap tersebut bila bertengger di atasnya.
Demikianlah dua jago muda itu sege¬ra bertempur pula dengan sengitnya. Masing-masing memperlihatkan kehebat¬an ilmunya. Liu Wan bersilat dengan gerakan-gerakan cepat dan bertenaga, sehingga setiap gerakannya menimbulkan gesekan atau pusaran angin yang sema¬kin lama semakin bertambah besar. Se-I dangkan lawannya yang berperawakan ke¬cil kurus itu bersilat dengan amat lincah j pula. Tubuhnya yang ringan itu bagaikan seekor tupai yang gesit dan lincah, ber¬loncatan ke sana ke mari menghindari badai serangan yang dilancarkan Liu Wan.
Pertempuran mereka benar-benar ra¬mai dan mengasyikkan untuk ditonton. Masing-masing tampaknya masih berusaha menjajagi kemampuan dan kekuatan la¬wannya, sehingga mereka bertempur de¬ngan sangat hati-hati dan tidak segera mengeluarkan ilmu simpanan mereka. Liu Wan masih tetap bersilat dengan ge¬rakan-gerakan cepat penuh tenaga, se¬mentara Chin Tong Sia melayaninya de¬ngan gerakan-gerakan yang manis, gesit serta lincah bukan main.
Tak terasa lima puluh jurus telah berlalu. Gesekan dan pusaran angin yang ditimbulkan oleh ilmu silat Liu Wan su¬dah demikian kuatnya sehingga debu dan pasir di mana mereka berdua berkelahi mulai terangkat dan berhamburan ke mana-mana. Bahkan gubug reyot tadi sudah mulai bergoyang-goyang mau roboh pula.
Tio Ciu In terpaksa mundur beberapa langkah menjauhi arena yang sekarang menjadi gelap oleh debu. Otomatis per¬tempuran yang hebat itu tak bisa diton¬ton lagi. Tubuh Liu Wan maupun Chin Tong Sia hanya tampak samar-samar sa¬ja dari luar.
"Wah-wah-wah, ilmu silat apa ini...? Kasar! Kasar sekali, seperti kerbau ber¬laga saja! Tak sedap dipandang! Huuuh, sebal mendingan tidur." Suara Put-pai-siu Hong-jin yang serak itu terdengar kembali namun nadanya terasa sangat kesal dan kecewa.
Pertempuran tetap berjalan terus, bahkan semakin lama arena yang mere¬ka pergunakan semakin lebar dan luas. Tampaknya mereka mulai meningkatkan kemampuan mereka masing-masing. Ma-lahan Liu Wan kelihatan sudah mulai menyelipkan pukulan-pukulan Thian-lui-kong-ciangnya, karena di, dalam pekat¬nya debu. yang bertaburan itu sesekali terdengar letupan-letupan kecil.
Akhirnya gubug reyot itu tak bisa ber tahan lagi. Tiang-tiangnya yang sudah ra¬puh itu roboh berpatahan, sementara atapnya yang rombeng terhempas entah ke mana. Dan Tio Ciu In sendiri terpak¬sa semakin menjauhi arena. Hatinya ma¬sih merasa kebat-kebit dan cemas. Ta¬kut kalau Liu Wan kalah, padahal pihak lawan masih ada satu orang lagi yang belum memperlihatkan diri, seorang la¬wan yang tampaknya justru lebih tang¬guh daripada pemuda kurus itu.
Sebenarnyalah, sekali ini Liu Wan memang benar-benar menghadapi lawan yang sangat berat. Chin Tong Sia memi¬liki kelincahan dan kegesitan yang luar biasa. Tubuhnya yang kurus kerempeng itu melejit dan berjumpalitan ke sana ke mari laksana tupai yang bermain akrobat di atas pohon. Gerakan tubuh¬nya ^eringkah sangat aneh, muskil dan sulit diduga, bahkan kadangkala seperti tak masuk di akal, sehingga lama kela¬maan Liu Wan menjadi bingung juga menghadapinya.
Akhirnya terpaksa juga Liu Wan mengeluarkan ilmu simpanannya, Thian-lui-kong-ciang. Setahap demi setahap gerak¬annya diperlamban, sehingga prahara atau angin ribut yang ditimbulkan, oleh ilmu silatnya tadi juga berangsur-angsur menja di reda pula. Angin Prahara itu bagaikan terhisap kembali ke dalam telapak ta¬ngannya, membuat kedua buah telapak tangan itu seolah-olah menggenggam ke¬kuatan angin yang sangat dahsyat. Dan memang itulah inti kekuatan Thian-lui-kong-ciang atau Telapak Tangan Halilin¬tar!
Sementara itu angin laut bertiup de¬ngan kencang.J le»iqgga kumelari debu dan pasir yang menyelimuti arena itu tersapu bersih dalam sekejap. Sekarang dua jago yang sedang berlaga itu keli¬hatan lagi. Keduanya masih bertempur dengan gigihnya, dan masing-masing te¬lah mulai memperlihatkan ilmu andalan¬nya.
Thian-lui-kong-ciang memang sebuah ilmu yang sangat dahsyat. Dengan me¬ngerahkan ilmu itu kaki dan tangan Liu Wan seolah-olah berubah menjadi besi yang beratnya ribuan kati. Setiap hen-takan kaki atau tangannya akan menim¬bulkan kekuatan yang dahsyat tiada ter¬kira. Bahkan angin pukulannya saja suJ dah mampu melumatkan semua sasaran yang ada.
Setelah Liu Wan melancarkan serang¬an dengan Thian-lui-kong-ciang, Chin Tong Sia memang mengalami kesulitan. Gerakan-gerakan Liu Wan yang ketat dan penuh tenaga itu seakan-akan mencipta-kan dinding-dinding pertahanan yang su-I lit ditembus. Bahkan dinding-dinding yang tercipta itu semakin lama terasa sema¬kin banyak sehingga ruang geraknya men¬jadi ciut. Otomatis ia tak dapat me¬ngembangkan ciri-ciri ilmu silat Aliran Beng-kau, yaitu kelincahan dan kegesit¬an tubuh.
Maka tiada jalan lain lagi bagi Chin Tong Sia selain mengeluarkan ilmu pun¬caknya, yaitu Chuo-mo-ciang (Ilmu Me¬nangkap Setan), andalan Aliran Beng-kau, yang salah satu jurusnya, Menerobos Lubang Pintu Jala, telah diperagakan, oleh Chin Tong Sia tadi. Dan sesuai dengan adat kebiasaan orang dusun, yang selalu menabuh bunyi-bunyian sambil berdoa atau bernyanyi di kala mengada-kan upacara adat menangkap setan, ma¬ka di setiap menjalankan ilmu Chuo-mo-ciang pun para anggaota Aliran Bengkauw tentu 'bocor' pula mulutnya. Dan karena sebagian besar ilmu silat Chin Tong Sia itu hasil didikan suhengnya, maka 'kebo¬coran Chin Tong Sia pun sebagian besar juga mewarisi 'keceriwisan' Put-pai-siu Hong-jin!
Sambil menyerang atau mengelakkan pukulan Li Wan, Chin Tong Sia t bernyanyi. Suaranya kaku dan sumb sama sekali tak berbakat menjadi penya nyi. Syair-syair lagunya pun hanya nga¬wur dan sekenanya saja.
"Ada ular di dalam lubang...
Ularnya satu lubangnya satu!
Ularnya bingung lobangnya buntu!
Maju mundur sampai mati...!"
"Hohohoo-hahaha...! Sute, ularmu go¬blok benar! Masakan hanya karena lubang buntu saja sudah mati, hohoho-hahahaa! Goblok... goblok!!!" Tak terduga suara Put-pai-siu Hong-jin muncul lagi.
"Suheng, diam kau...! Kalau berani, keluarlah! Jangan bersembunyi!" Chin Tong Sia tersinggung dan marah-marah.
"Oho, Sute... Sute! Celaka benar ular¬mu! Ular goblog saja dipelihara, hohoho! Mengapa engkau tidak mencontoh ularku? Ularku pintar dan cerdik. Dengarlah!"
Ada ular melibat lubang...!
Dilihat dulu lubangnya buntu!
Ular berbalik ekornya maju!
Di Lubang buntu ular berlagu...!
"Suheng keparat! Suheng bangsat! Awas, kuhajar kau nanti...!"
Bukan main dongkolnya Liu Wan, la¬wannya yang kurus kerempeng itu ber¬tempur sambil bergurau dengan suheng¬nya. Celakanya, tampaknya saja bergurau tapi sambil bergurau ternyata Chin Tong Sia menyerang terus dengan jurus-jurus¬nya yang aneh. Demikian anehnya gerak¬an yang dilakukan Chin Tong Sia, sehingga dia menjadi bingung dan serba salah menghadapinya.
Suatu saat ketika Liu Wan mengha¬jar pelipis Chin Tong Sia, pemuda itu mengelak dengan gaya seperti orang ke¬surupan setan. Badannya limbung, kemu¬dian terjerembab ke depan seolah-olah hendak menimpa tubuh Liu Wan. Tentu saja Liu Wan menjadi curiga, sehingga otomatis bergeser ke samping menghin¬darinya.
Tak terduga tubuh Chin Tong Sia itu benar-benar jatuh ke tanah, sehingga Liu Wan untuk sedetik menjadi heran. Namun waktu yang cuma sedetik itu ternyata telah membawa celaka. Ketika tubuh Chin Tong Sia itu hampir menyentuh ta¬nah, tiba-tiba tangan kanannya menyam¬bar. Cuma sedetik, sehingga Liu Wan be¬nar-benar tak mempunyai kesempatan lagi. Tahu-tahu pergelangan kakinya te¬lah dicengkeram Chin Tong Sia!
Bluug! Tubuh Chin Tong Sia memben¬tur tanah!
"Auugh!" Liu Wan menjerit seraya menghajar lengan yang mencengkeram kakinya itu dengan Thian-lui-kong-ciang-nya.
Duuuaaar! Tanah di depan Liu Wan meledak berhamburan terkena hantaman Thian-lui-kong-ciang, karena dengan ge¬sit Chin Tong Sia telah melejit pergi de¬ngan lincahnya.
"Puteri istana menghisap hun-cwe
(pipa panjang),
Hun-cwe terisi butiran candu.
Bibir pucat matanya sayu.
Bagai bidadari sedang bercumbu."
Dengan wajah cerah penuh senyuman Chin Tong Sia telah berdiri siap kemba¬li. Matanya yang kocak itu memandang Liu Wan yang terpincang-pincang karena salah satu urat darahnya tertutup akibat cengkeramannya. Sambil tersenyum ia berpantun.
"Hei, Sute! Puterimu itu gila barang¬kali! Masakan seorang puteri keraton menghisap pipa...!" Put-pai-siu Hong-jin berteriak penasaran dari tempat persem¬bunyiannya.
Chin Tong Sia melirik ke sana ke mari mencari arah suara suhengnya. Se¬nyumnya menghilang.
"Suheng, kenapa engkau hari ini usil banget? Apakah tidak boleh seorang puteri istana menghisap pipa?" pemuda itu berseru kesal.
"Boleh... sih... boleh! Tapi, ya... aneh sekali!"
"Ah, peduli amat! Pokoknya puteri itu suka menghisap pipa! Titik!"
"Uh; ya... terserah kalau begitu mau¬mu. Tapi itu tidak wajar, masakan se¬orang puteri... menghisap pipa panjang, hehehehe. Tidak lucu. Hmmm, apakah kau mau kalau isterimu besok suka meng hisap pipa?"
"Suheng gila, keluar kau!" Chin Tong Sia berteriak dengan wajah merah pa¬dam.
Tak ada jawaban. Tampaknya Put-pai-siu Hong-jin sudah merasa cukup meng¬goda adik seperguruannya. Mungkin orang tua itu kini terkekeh-kekeh gem¬bira di tempat persembunyiannya.
sementara itu Liu Wan memanfaatkan waktu tersebut untuk melancarkan kembali urat darahnya yang tertutup. Tapi usahanya sia-sia. Aliran darahnya masih tetap tersumbat, sehingga kakinya tak bisa bergerak dengan leluasa.
Tio Ciu In menghampiri dengan wajah khawatir. "Bagaimana, Twako? Ada sesu¬atu yang salah?" tanyanya cemas.
"Gila! Anak itu memang lihai sekali, aku tak bisa membuka totokannya."
"Lalu... apa yang harus kita perbuat?" I, Tio Ciu In berbisik tegang.
"Apa boleh buat. Mungkin aku tidak bisa menang, tapi yang jelas aku akan '' mengadu jiwa dengannya!"
"Liu Twako...."
"Sudahlah, Ciu-moi... minggirlah, aku belum kalah."
Di lain pihak Chin Tong Sia masih menoleh ke sana ke mari mencari suheng¬nya. Pemuda itu masih kelihatan pena¬saran terhadap Put-pai-siu Hong-jin, se¬hingga dia tak peduli lagi kepada Liu Wan. Bahkan dia juga tidak ambil pusing pula ketika Tio Ciu In menghampiri Liu Wan.
Tio Ciu In melangkah menjauhi arena lagi. Ia tak dapat menghalangi niat Liu Wan, karena pemuda itu tentu tak ingin kehilangan harga dirinya. Langkahnya terhenti di dekat tumpukan jala si Nela¬yan Tua itu.
Sekonyong-konyong tumpukan jala itu terangkat dan terlempar jauh, sementa¬ra dari bawahnya muncul Put-pai-siu Hong-jin sambil menjerit-jerit!
"Kurang ajar! Kepiting keparat! Kepi¬ting bangsat! Menjepit pantat orang se¬enaknya! Huh, mati kau...!" ,
Ternyata tak seorang pun yang me¬ngira kalau Put-pai-siu Hong-jin bersem¬bunyi di bawah tumpukan jala tersebut. Dan tampaknya Si Nelayan tadi tidak menyadari pula kalau gulungan jalanya menindih Put-pai-siu Hong-jin yang tipis kerempeng itu. Mungkin sewaktu mele¬takkan jalanya tadi Si Nelayan tak mem¬perhatikan bahwa di bawah gubug reyot itu ada seseorang yang lagi tidur meling¬kar keenakan. Dan sebaliknya Put-pai- siu Hong-jin sendiri kelihatannya justru merasa kesenangan mendapatkan selimut tebal.
"Bagus! Ternyata Suheng bersembunyi di situ! Nah, rasakan pukulanku...!" Begitu melihat suhengnya, Chin Tong Sia segera menerjang dengan pukulan tangannya.
"Hei... hei, nanti dulu! Aku belum me¬ngikat tali celanaku! Kepiting celaka itu ... kepiting celaka itu... hei, awas... ce¬lanaku nanti melorot turun! Wah!"
Put-pai-siu Hong-jin yang sedang ri¬but dengan kepiting di dalam celananya itu menjadi kaget dan bingung melihat serangan sutenya. Sambil berusaha meng¬ikatkan kembali tali celananya orang tua itu mengelak ke sana ke mari. Celaka¬nya Chin Tong Sia tak memberinya ke¬sempatan sama sekali. Pemuda itu terus saja mengejar suhengnya, sehingga akhir¬nya tali celana itu bukannya terikat lagi dengan baik, tapi malah menjadi ruwet tidak karuan.
"Wah, ini... ini bagaimana? Tali cela¬naku...?" orang tua itu berteriak keta¬kutan, kemudian lari lintang pukang me¬ninggalkan tempat itu. Kedua tangan¬nya sibuk mencengkeram celananya yang melorot turun memperlihatkan pantatnya yang tepos.
Tio Ciu In menjerit lirih dan cepat cepat memalingkan mukanya.
"Kurang ajar! jangan lari...!" Chin Tong Sia berseru sambil terus mengejar suhengnya.
Liu Wan menarik napas panjang, se¬olah-olah beban yang menghimpit perasa¬annya telah lepas namun demikian ma¬tanya masih tampak lesu memandang ke depan, ke arah mana Chin Tong Sia dan suhengnya tadi pergi.
"Bagaimana Liu-twako? Kita kembali saja ke kota? Siau In mungkin sudah ti¬dak berada di pantai ini, karena pemuda itu juga sudah sejak kemarin mencari¬nya." Tio Ciu In mendekati dan berkata perlahan.
"Baiklah...." Liu Wan mengangguk le¬su. "Ciu-moi, ternyata sungguh banyak sekali orang lihai . di dunia ini. Aku yang selama ini sangat bangga dengan julukan Bun-bu Siu-cai, ternyata harus mengha¬dapi kenyataan dalam sehari ini. Dalam waktu hanya sehari ini saja aku bertemu dengan banyak orang yang kepandai¬annya lebih tinggi daripada aku. Kwe Tek Hun, Ma Goat dan pembantunya, orang tua buta itu, orang-orang dari Pondok Pelangi, dan sekarang Chin Tong Sia bersama suhengnya dari Aliran Beng-kau. Aaaah... aku memang harus banyak bela¬jar lagi."
Sambil berjalan kembali ke kota Hang-ciu Tio Ciu In berusaha menghibur kekecewaan Liu Wan.
"Twako, dunia ini memang luas. Kita tak usah merasa kecewa terhadap diri sendi¬ri, karena kita pun sebenarnya juga su¬dah lebih dari pada yang lain. Contoh¬nya, Twako sendiri masih jauh lebih ba¬ik dan lebih beruntung daripada aku, Adikku, Suhengku, Ku Jing San, Sogudai dan pendeta-pendeta Pek-hok-bio itu. Namun demikian aku sendiri juga masih lebih mendingan daripada anak buah Kuil Pek-hok-bio, dan lain-lainnya. Nah, mau apa lagi?"
Liu Wan memandang tak percaya ke¬pada Tio Ciu In. Ia tak percaya kata-kata yang bermakna amat dalam itu ke¬luar dari bibir tipis itu.
"Bukan main...!" pemuda itu berdesah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Matanya menatap redup dan sama seka¬li tak menyembunyikan rasa kagumnya.
"Apanya yang bukan main...?" Tio Ciu In bertanya sambil menundukkan muka¬nya, takut melihat pandangan mata Liu Wan.
"Pandangan hidupmu itu tadi, Ciu-moi. Apakah semua yang kaukatakan itu sungguh-sungguh keluar dari lubuk hati-
Tio Ciu In mengangkat wajahnya? "Tentu saja, Twako. Kaukira aku cuma asal bicara saja?" katanya kurang se¬nang.
"Eh, bukan begitu maksudku...." Liu Wan cepat-cepat menyela. "Aku cuma mempunyai perkiraan, bahwa kau bisa mengatakan seperti itu karena selama ini kau selalu mendapatkan yang baik dan tak pernah mendapatkan kekecewa¬an di dalam kehidupanmu."
"Maksudmu...?"
"Yaaaah, misalnya saja tentang... ru¬pa. Kau tidak ditakdirkan berwajah je¬lek, tetapi kau dikaruniai wajah ayu. Sangat ayu malah. Nah, tentu saja kau tidak pernah merasa kecewa dengan kea-daanmu. Akan tetapi lain halnya kalau Thian memberimu wajah yang jelek, kau tentu takkan bisa berkata seperti tadi. Kau tentu akan merasa kecewa terhadap dirimu sendiri...."
Tak terduga wajah yang cantik dan halus itu tersenyum.
"Kau salah menduga, Twako. Selama ini aku tak pernah memikirkan, apakah wajahku cantik atau jelek, sehingga aku tak pernah mempersoalkan pula, apakah aku merasa gembira atau kecewa terha¬dap diriku. Bagiku cantik atau tidak can¬tik itu sama saja. Semuanya tak perlu dikecewakan."
"Apakah kau tidak merasa kecewa kalau wajahmu jelek?" Liu Wan penasar¬an.
Tio Ciu In menggelengkan kepala¬nya. "Tidak ada yang perlu dikecewakan. Misalkan aku berwajah jelek pun masih tetap seorang manusia, Masih lebih baik dan lebih cantik daripada seekor monyet betina."
"Hah...? Sungguh gila!" Liu Wan ter¬belalak. "Lalu, misalkan kau benar-benar menjadi... eem, monyet betina? Apakah kau juga tidak pernah kecewa terhadap dirimu?"
Lagi-lagi wajah yang cantik itu ter¬senyum, sehingga Liu Wan semakin men¬jadi gemas melihatnya.
"Aku tetap tidak akan menjadi kece¬wa karenanya. Menjadi monyet masih le¬bih beruntung daripada menjadi patung batu. Thian"mana adil. Kalau puir'affi ditakdirkan menjadi monyet, aku perca¬ya Thian akan mengirimkan kepadaku se¬ekor monyet jantan yang kuat dan tam¬pan."
"Ooooooooooh!" Liu Wan berdesah pan¬jang seraya menundukkan mukanya.
Ucapan-ucapan Tio Ciu In yang amat sederhana itu ternyata telah mampu me¬nerangi hatinya, menyadarkannya, beta¬pa serakahnya dia selama ini.
"Ciu-moi, ' kau benar-benar hebat. Aku sungguh merasa suka dan kagum sekali kepadamu. Rasa-rasanya aku menjadi ingin sekali menjadi monyet jantan itu, tapi...."
"Ah, kau...!" Tio Cu In cemberut dan. mukanya menjadi merah. "Semua itu ha¬nya perumpamaan saja, bukan kenyataan. Siapa bilang aku seekor monyet betina?"
Liu Wan menjadi malu. "Maaf, Ciu-moi... memang tiada seorang pun yang mengatakan kau seekor monyet betina. Kau... seorang dewi, seorang bidadari yang hebat ^iada tandingannya. Akulah yang benar-benar pantas menjadi monyet, dan bukan monyet j£Hrcffli"perti keingin¬anmu itu, tapi monyet kerdil yang tiada artinya sama sekali."
"Nah, Twako... kau mulai merajuk la¬gi. Kau mulai kecewa terhadap dirimu kembali. Semangatmu mudah kembali pa¬tah...."
"Aaaaaaah!" Liu Wan menjadi sadar pula kembali. "Maafkan aku, Ciu-moi."
Demikianlah, sambil berbicara ma¬cam-macam mereka berjalan terus se¬hingga tak terasa. mereka telah tiba di kota Hang-ciu lagi. Mereka berhenti du¬lu untuk mengisi perut, baru kemudian memulai pencarian mereka. Seluruh ko¬ta mereka jelajahi dan mereka aduk-aduk, bahkan mereka juga menemui Jeng-bin Lo-kai pula, namun Siau In tetap tak me reka jumpai. Akhirnya .setelah sore me-reka terpaksa mencari penginapan lagi.
"Bagaimana kalau Adikmu tetap tak diketemukan juga? Apakah kau akan te¬tap mencari di sini?" Liu Wan bertanya.
Tio Ciu In menundukkan wajahnya, menyembunyikan dua tetes air mata yang terlepas dari pelupuk matanya.
"Aku akan menantinya di sini. Aku percaya dia takkan jauh dari kota ini. Ia belum pernah bepergian ke mana-mana."
"Tapi...?"
"Twako, kau jangan terlalu memikir¬kan aku. Aku tahu engkau mempunyai banyak urusan yang lain. Silakan kalau Twako hendak meneruskan perjalanan. Bi¬arlah aku menunggunya di sini, sekalian menanti kedatangan Guruku...."
"Oh, ya...? Jadi Suhumu juga hendak
datang ke sini?" Liu Wan menegaskan, suaranya sedikit berubah.
"Rencananya memang demikian. Em¬pat hari yang lalu kami berangkat bersa¬ma-sama dari Gedung Cabang Aliran Im-yang-kau di kota An-king. Suhu menyu¬ruh Suheng, aku dan Adikku, langsung pergi ke kota ini, sementara Suhu sendi¬ri berangkat menyusuri Sungai Yang-tse, melalui kota Wu-hu, Nan-king, Wuh-si dan Soh-ciu. Karena harus melalui jalan memutar yang sangat jauh, kemungkinan dua atau tiga hari lagi Suhu baru sam¬pai di sini."
"Baiklah, Ciu-moi... aku akan mene¬manimu sehari lagi. Besok lusa baru aku akan berangkat ke barat menemui Guru¬ku. Aku harus melaporkan kegiatan orang orang Hun itu kepada beliau." Liu Wan berdesah panjang seakan-akan amat be¬rat meninggalkan Tio Ciu In sendiri. "Yaaaaah, sekalian memohon maaf kepa¬da guruku, karena aku telah meninggal¬kan beliau selama hampir lima tahun tanpa pamit."
Tio Ciu In memandang Liu Wan degan kening berkerut.
"Kau tinggalkan Gurumu selama lima f tahun tanpa pamit? Mengapa...?" tanya gadis itu heran.
Liu Wan tersenyum kecut. Dipandang¬nya gadis ayu itu sekejap, kemudian menggeleng lemah. "Ah, cuma karena urusan keluarga yang kurang menyenang¬kan saja."
"Yang Twako maksud... keluarga Gu¬rumu atau keluargamu sendiri?"
Sekali lagi Liu Wan menghela napas , panjang. Wajahnya kelihatan buram.
"Keluargaku sendiri... aku... ah, su¬dahlah... aku tak ingin mengingat-ingat nya lagi."
Tio Ciu In menjadi semakin heran. Baru kemarin pemuda itu memperlihatkan gambar-gambar keluarganya dengan hati riang. Mengapa sekarang tiba-tiba saja pemuda itu kelihatan sedih membi¬carakan keluarganya? Siapakah sebenarnya pemuda itu?
"Baiklah, Twako... aku juga tak ingin mencampuri urusan keluargamu. Kau ten¬tu mempunyai alasan yang kuat, mengapa sampai pergi meninggalkan keluarga¬mu sekian lamanya."
Demikianlah mereka terpaksa tinggal di kota itu menantikan munculnya Tio Siau In. Sama sekali mereka tidak mem¬bayangkan bahwa gadis itu telah berada jauh di laut utara.
*
**
Ketika menyaksikan A Liong benar-benar tidak muncul lagi ke permukaan air, Siau In menjadi sedih dan menyesal bukan main. Gadis itu merasa telah mem bunuh orang tak berdosa, sehingga seha-rian ia tak bosan-bosannya berputar-putar di pinggiran pantai itu, sambil berharap-harap kalau-kalau pemuda itu muncul kembali.
Setelah matahari terbenam barulah Tio Siau In mengayuh sampannya ke ping gir. Tubuhnya lemas karena seharian ti¬dak makan dan minum. Dan malam itu terpaksa harus tidur dan berpuasa pula di atas pasir yang dingin.
Demikianlah, karena perasaannya selalu dicengkam rasa gelisah, maka da¬lam tidurnya Siau In juga mendapat mimpi yang menyeramkan pula. Di dalam mimpinya gadis itu seperti melihat A Liong timbul tenggelam dipermainkan ombak di tengah lautan. Pemuda itu se¬perti menjerit-jerit memanggil namanya.
Siau In berusaha menolong pemuda itu. Mati-matian ia mengayuh sampan¬nya, menerjang ombak yang setiap kali selalu melemparkan sampannya kembali ke tepian. Namun suara jeritan A Liong membuat Siau In seperti kesetanan. Ia tetap mengayuh terus, sehingga akhirnya bisa juga sampannya mendekati A Liong.
Siau In mengulurkan tangannya untuk menarik tubuh A Liong. Tetapi belum juga tangan itu sempat menyentuh tubuh A Liong, sekonyong-konyong dari dalam air muncul kepala seekor naga raksasa yang sangat menyeramkan! Ketika naga itu membuka mulutnya yang lebar, ma¬ka air laut yang ada di sekitarnya pun segera membanjir masuk, termasuk pula di antaranya adalah tubuh A Liong serta Siau In bersama sampannya!
ia terbangun dari tidurnya. Keringat di¬ngin membanjir membasahi seluruh ba¬dannya, padahal malam itu bertiup angin laut yang cukup kencang, dinginnya menggigit tulang.
"Ooooooh... aku bermimpi." Tio Siau In berdesah dengan napas terengah-engah.
Siau In mencoba meringkukkan tubuh¬nya, berlindaung di dalam sampannya yang sempit, namun tetap saja ia meng¬gigil kedinginan. Saat itulah Siau In baru ingat bahwa buntalan pakaiannya terting¬gal ketika berselisih dengan pemuda ku¬rang ajar yang mengintipnya itu.
Teringat akan kekurangajaran Chin Tong Sia, Siau In menjadi merah kemba¬li mukanya. Ingin rasanya ia membunuh pemuda tak tahu adat itu, yang enak sa* ja mengintip orang sedang berganti pa¬kaian.
"Aaaah!" Siau In cepat-cepat membu¬ang kenangan yang amat memalukan itu.
Angin laut semakin kencang bertiup membuat Siau In semakin tak bisa me¬micingkan matanya kembali. Akhirnya gadis itu bangkit dari tidurnya. Dipandangnya air laut yang kini tampak te¬nang di dalam cerahnya sinar bulan. Dan otomatis matanya mencari-cari kalau- j kalau terlihat A Liong di antara riak ge¬lombangnya yang berkejaran ke arah I pantai.
Tiba-tiba hidung Siau In mencium bau dupa wangi, tapi ketika gadis itu menco- I ba mencari dari mana arah bau itu da- i tang, mendadak bau itu hilang kembali. Tak terasa berdiri juga bulu roma Siau In. Matanya menatap ke sana ke mari, kalau-kalau ada orang yang sedang mem¬bakar dupa sekitar tempat itu.
"Jangan-jangan A Liong yang memba¬kar dupa tapi..." Siau In berpikir keras.
Timbul kembali harapan Siau In untuk menemukan A Liong. Bergegas ia bang- | kit dari duduknya, kemudian berjalan meninggalkan sampannya, menyusuri pan- i tai itu menyongsong angin ke arah utara. Dan semakin jauh ia berjalan, bau dupa wangi itu semakin sering pula tercium oleh hidungnya.
Ketika kemudian tepian berpasir itu terhalang oleh tebing tinggi yang menjorok ke laut, bau dupa itu semakin ke¬ras menyentuh hidung Siau In. Gadis itu lalu melangkah ke kiri, menyusuri tebing tersebut untuk mencari tempat yang landai agar dia bisa naik ke atasnya.
Tapi semakin jauh ke darat tebing itu justru semakin curam dan tinggi, sehingga akhirnya Siau In memutuskan untuk merayapi tebing tersebut dengan ilmu meringankan tubuhnya.
Untunglah dinding tebing itu tidak licin rata seperti tembok rumah. Selain banyak tumbuh-tumbuhan kecil yang bi¬sa untuk berpegangan, dinding tebing itu sendiri banyak memiliki ceruk-ceruk atau pun tonjolan-tonjolan batu karang yang bisa untuk berpijak. Namun demikian tanpa memiliki ginkang yang tinggi rasa¬nya sulit orang bisa merayap sampai di atas.
Ternyata dataran di atas tebing yang menjorok ke tengah laut itu cukup luas juga. Bahkan di atasnya banyak tumbuh pepohonan rindang sampai hampir di ujungnya. Diam-diam merinding juga hati Siau In. Hembusan angin laut yang kuat itu membuat pohon-pohon itu bergoyang-goyang, sehingga dalam kerem angan si¬nar rembulan pohon-pohon itu bagaikan makhluk-makhluk hitam yang bernyawa.
Sekarang bau dupa itu benar-benar terasa menyentak hidung Siau In. Malah¬an lapat-Iapat gadis itu seperti mende¬ngar suara manusia pula.
"Ada orang di ujung tebing itu. Coba kulihat ke sana...."
Dengan mengendap-endap Siau In ber¬jalan mendekati ujung tebing itu. Bau dupa wangi semakin menyengat hidung¬nya, membuat gadis itu menjadi makin berhati-hati. Ia tak pernah l#luffl^dari bayangan semak maupun pepohonan yang gelap.
Siau In terpaksa berhenti sebentar di bawah semak-semak yang paling akhir. Ujung tebing itu ternyata merupakan tanah bebatuan yang tak ada tumbuh-tumbuhan nya sama sekali. Yang ada cuma batu-batu karang tajam berserakan di sana-sini. Dan persis di ujung tebing itu, di tem¬pat yang kosong dari bebatuan, tampak belasan orang lelaki duduk berjajar, berderet-deret menjadi beberapa lapis, menghadap ke arah laut. Di depan mere¬ka terlihat berbagai macam sesaji yang ditempatkan di atas nampan-nampan i bambu. Masing-masing orang itu tampak memegang dupa yang terbakar, sehingga ' asapnya yang tebal bertebaran ditiup angin.
Dengan mengendap-endap di antara batu-batu karang Siau In mendekati , orang-orang itu. Dalam jarak yang cu-! kup dekat gadis itu berhenti. Dipandang-nya punggung orang-orang itu dengan seksama.
"Kelihatannya mereka bukanlah orang-orang persilatan. Mereka seperti orang-orang dusun biasa yang sedang mengada¬kan upacara sesaji kepada laut. Mung¬kin mereka terdiri dari keluarga-keluar-ga nelayan yang sedang meminta berkah kepada Dewa Laut, agar mereka selalu mendapatkan keselamatan serta memper¬oleh hasil ikan yang banyak setiap kali pergi ke laut:" Siau ln menduga-duga di dalam hatinya.
Siau In beringsut ^lebih dekat lagi agar ia bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
"Oh, Dewi Bulan Yang Agung! To¬longlah kami sekali lagi untuk mengeyah-kan setan dan hantu yang saat ini se¬dang meraja-lela mengganggu dusun ka¬mi, seperti ketika kau menolong kami membasmi para perompak yang mendu¬duki dusun kami beberapa bulan yang la¬lu. Dan seperti juga ketika kau meno¬long kami mendamaikan pertengkaran serta pertempuran antar-dusun di daerah kami dua bulan yang lalu."
Siau In melihat salah seorang di an¬tara orang-orang itu berdiri meneriak¬kan doa-doanya, lalu berjalan ke ujung tebing diikuti oleh yang lain sambil mem¬bawa sesajian yang tadi ditaruh di depan mereka. Mereka melemparkan sesajian tersebut ke laut yang berdebur di bawah tebing itu. Setelah itu mereka mengeli¬lingi tumpukan kayu kering yang telah dipersiapkan pula di tempat tersebut.
"Kelihatannya mereka hendak membu¬at api unggun...." Siau In yang melihat tumpukan kayu itu membatin.
Benar juga apa yang diduga Siau In. Orang yang meneriakkan doa-doanya ta¬di tampak memimpin lagi teman-teman¬nya untuk membakar tumpukan kayu tersebut. Dan sebentar saja tumpukan kayu yang menggunung itu berkobar di¬makan api. Tempat itu serentak menja¬di terang benderang karena lidah api menjilat sampai tinggi di udara.
Untuk beberapa waktu orang-orang itu masih tetap berdiri di sekeliling api unggun, namun setelah api itu benar-be¬nar berkobar dengan baik mereka lalu bersama-sama meninggalkan ujung tebing tersebut. Mereka berjalan satu-persatu seperti orang berbaris, dengan orang yang meneriakkan doa-doa sebagai pe¬mimpinnya.
Siau In segera bersembunyi ketika orang-orang itu lewat di dekat tempat persembunyiannya.
"Mudah-mudahan sesaji kita yang ke tiga kalinya ini dapat dilihat dan diteri¬ma oleh Dewi Bulan, sehingga dia cepat-cepat datang menolong kita, Cung-cu (Kepala Kampung)...." salah seorang diantara mereka berkata penuh harap.
"Mudah-mudahan saja begitu." orang yang memimpin doa tadi menjawab. "Ke¬tika datang yang terakhir kalinya itu Dewi Bulan berpesan, kita disuruh mem¬buat api unggun yang besar di tempat ini apabila menghendaki kedatangannya."
"Tapi kita sudah tiga malam bertu¬rut-turut membuat api unggun di sini, ternyata dia belum juga datang meno¬long kita." yang lain berkata pula dengan nada kecewa.
"Ah, kau jangan berkata begitu, Ji Tek." orang yang pertama membuka suara tadi memperingatkan temannya tersebut. "Bukankah Dewi Bulan itu juga. mengatakan bahwa dia tidak mesti bisa datang oleh panggilan api unggun itu, karena mungkin dia berada di tempat yang jauh dari sini sehingga dia tidak bisa melihat kobaran api unggun kita."
"Kau benar, Kok Siang. Mungkin sa¬at ini Dewi Bulan memang tidak berada di sekitar pantai Laut Timur ini." orang yang disebut Cung-cu tadi membenarkan ucapan orang itu.
Akhirnya rombongan itu menghilang di balik rimbunnya, pepohonan yang tum¬buh di atas tebing tersebut. Tinggallah kini Siau In sendirian di tempat persem¬bunyiannya, sibuk memikirkan kejadian yang baru saja dilihatnya itu.
"Apa sebenarnya yang sedang diha¬dapi oleh orang-orang dusun itu? Menga¬pa mereka sampai mengadakan sesaji un¬tuk memanggil Dewi Bulan? Dan... siapa sebenarnya yang mereka anggap sebagai Dewi Bulan itu? Masakan di atas bulan yang bersinar itu benar-benar ada seo¬rang dewi yang mau turun ke bumi un¬tuk menolong orang-orang itu?"
Kejadian tersebut sungguh menarik perhatian Siau In, sehingga gadis itu un¬tuk sementara menjadi lupa akan urusan A Liong.
"Baiklah... akan kuikuti saja mereka! Akan kulihat, apa sebenarnya yang men¬jadi masalah mereka. Siapa tahu aku bi¬sa melihat Dewi Bulan yang mereka ha¬rap-harapkan itu."
Bergegas Siau In meninggalkan tem¬pat persembunyiannya. Meskipun rombongan itu telah berada jauh. di depan, Siau In tetap melangkah dengan hati-hati, karena siapa tahu ada satu dua orang di antara mereka yang tertinggal. Demikianlah, dengan cara menyusup ke sana ke mari di antara semak dan pepo¬honan, Siau In mengejar rombongan orang dusun itu.
Ternyata di balik tebing yang tinggi itu terhampar lembah yang cukup subur. Malahan tampak pula di sana sebuah su¬ngai kecil yang berkelok-kelok di antara tanah pertaniajt- Beberapa «erombol perkampungan penduduk tampak berke¬lompok di kanan kiri sungai kecil terse¬but.
Sejenak Siau In terpesona menyaksi¬kan pemandangan yang amat indah itu. Di bawah tebaran sinar rembulan yang terang benderang lembah itu benar-benar seperti sebuah taman alam yang menakjubkan.
"Nah... itu mereka!" gadis itu berse¬ru perlahan ketika melihat iring-iringan manusia ke luar dari semak-semak belu¬kar di bawahnya.
Dari atas tebing iring-iringan itu me¬mang sangat jelas sekali. Mereka keluar dari semak belukar dan mulai berjalan berurutan di pinggir sungai. Siau In sege¬ra hendak beranjak dari tempatnya keti¬ka tiba-tiba ia melihat bayangan orang di belakang rombongan orang dusun itu.
Bayangan itu juga mengendap-endap pula seperti dirinya. Kadang-kadang ber¬kelebat di antara bebatuan yang ba¬nyak terdapat di pinggiran sungai terse¬but. Di bawah sinar bulan bayangan itu seperti seorang perempuan bongkok yang mengenakan jubah panjang sampai ke lu¬tut.
"Eh, siapa dia? Mengapa dia' meng¬ikuti rombongan itu secara sembunyi-sembunyi pula? Apakah dia bermaksud buruk?"
Sekarang Siau In benar-benar berge¬gas turun, mengejar orang-orang dusun itu. Hatinya sungguh-sungguh tergelitik untuk mengetahui apa yang akan terjadi pada mereka.
Semakin dekat dengan mereka Siau In semakin meningkatkan kewaspadaannya, apalagi pinggiran sungai itu tidak banyak semak-semak yang bisa dipakai untuk bersembunyi. Ia hanya dapat me¬ngandalkan ginkangnya untuk bergerak menyusup di antara bebatuan besar saja.
Bayangan perempuan bongkok itu ma¬sih berkelebatan di depan Siau In. Pe¬rempuan itu tampaknya tak menduga kalau dirinya yang sedang diikuti orang, buktinya ia sama sekali tak pernah me¬noleh atau mengawasi keadaan sekitar¬nya. Perhatiannya cuma ke depan, ke arah rombongan orang-orang dusun itu saja. Namun demikian setiap bergerak atau berpindah tempat, gerakannya cepat bukan main.

Jilid 11                                                                                                  Jilid 13