Selasa, 01 Mei 2018

PENDEKAR PEDANG PELANGI 10

Jilid 10

TIO SIAU IN tertegun. "Kau benar-benar ingin dicoba juga?"


"Hei, tentu saja!" pemuda itu meniru¬kan kata-kata Tio Siau In.

"Mengapa harus batal? A Liong tak pernah menjilat ludahnya sendiri! Ayoh, Cici... cobalah! Pukullah aku dengan dayung itu!"

Tentu saja kesungguhan hati A Liong benar-benar membuat Tio Siau In jadi kelabakan malah. Sejak semula gadis itu kurang begitu menanggapi bualan A Liong, sehingga dia pun hanya main-main pula ketika ingin mencoba kekebalan A Liong. Akan tetapi tak diduganya pe¬muda itu benar-benar melayani sikapnya dan ingin membuktikan sesumbarnya. Tentu saja Tio Siau In menjadi kebingungan. Bagaimana kalau dayung itu melukainya?

Tampaknya keragu-raguan Tio Siau In itu semakin membuat penasaran hati A Liong. Tiba-tiba pemuda itu merebut dayung yang ada di tangan Tio Siau In, kemudian dengan sekuat tenaga kayu keras itu dipukulkan sendiri ke arah kepalanya. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Terdengar suara berdentangan yang keras seperti layaknya suara orang membelah batu cadas.

Tak ada luka di kepala itu. Tak ada darah yang mengalir. Semuanya tampak wajar seperti tak pernah terjadi apa-apa. Bahkan pemuda itu tampak tersenyum bangga ketika menyerahkan kembali dayung tersebut.Tio Siau In melongo. Matanya terbeliak tak percaya. Hatinya menjadi penasaran. Karena penasaran maka dicobanya juga memukulkan dayung itu ke pundak A Liong. Mula-mula pelan, tapi akhirnya disabetkannya pula dengan keras ketika melihat pemuda itu tetap tersenyum memandangnya. Bahkan hantaman dayung itu tidak cuma diarahkan ke pundak lagi, tapi juga ke dada, punggung dan kepala. Namun demikian Tio Siau In masih mengekang diri untuk tidak mengerahkan tenaga dalamnya.

"Ayoh, Cici... yang lebih keras lagi! Jangan pelan-pelan begini! Kerahkan seluruh tenagamu!" dengan suara lantang pemuda itu menantang.

Tio Siau In menjadi penasaran juga akhirnya. Dicobanya untuk menyalurkan sebagian kecil tenaga saktinya ke arah dayung yang dipegangnya. Blug! Hantaman ujung dayung itu berubah menjadi kuat dan keras seperti hantaman sebongkah batu hitam!

A Liong terhuyung dua langkah ke belakang. Tapi pemuda itu bukannya menjadi kaget atau kesakitan, bahkan dengan suara gembira dia berseru menantang.


"Ayoh, Cici... sekali lagi yang keras! Aku belum merasakan apa-apa!"

Kini Tio Siau In benar-benar menjadi penasaran. Sekali lagi ia menyabetkan dayung itu ke dada A Liong. Kali ini dengan pengerahan separuh bagian dari kekuatan lwekangnya.

Siiiiing! Dhuuug! Kraaaak! Dayung itu patah menjadi tiga bagian!

"Aaaaaaaaah...!"

Dayung itu menghantam dada A Liong keras sekali! Demikian kuatnya sehingga pemuda itu memekik kaget dan terpelanting ke luar perahu! Byuuuur! Pemuda itu tercebur ke dalam laut.

"A Lioooooong...!!!" Tio Siau In berteriak cemas.
Lalu dengan mata nanar dan hampir menangis Tio Siau In mencari-cari tubuh A Liong di antara riak gelombang yang mengelilingi sampan kecil itu. Namun pemuda itu tidak kunjung kelihatan juga, seakan-akan tubuhnya sudah lenyap ditelan air. Tio Siau In semakin ketakutan, jangan-jangan dayungnya tadi telah melukai dada A Liong sehingga pemuda itu tak bisa berbuat apa-apa melawan arus ombak yang menggulungnya.Mata Tio Siau In mulai merah ketika tiba-tiba terdengar suara A Liong di belakangnya.

"Wah... pukulan Cici kuat benar! Rasanya seperti diterjang pohon tumbang saja...!"

Tio Siau In membalikkan tubuhnya dengan cepat. Gadis itu melihat A Liong bergayut pada pinggiran sampan. lak ada tanda-tanda pemuda itu mengalami luka atau kesakitan. Wajahnya tetap segar berseri-seri, dengan rambut yang basah kuyup menutupi sebagian besar mukanya.

"A Liong, kau tak apa-apa...?" gadis itu bertanya cemas.

A Liong lalu naik kembali ke dalam sampan. Dengan bangga pemuda itu memperlihatkan dadanya yang masih tetap utuh tak kurang suatu apa.

"Nih, lihat! Tak apa-apa, bukan?"

Tio Siau ln benar-benar takjub sekarang. Pemuda di hadapannya itu sungguh-sungguh memiliki kekebalan yang hebat. Walaupun dia juga tahu, apakah pemuda itu masih tetap bisa mempertahankan kekebalannya apabila ia benar-benar me¬ngerahkan seluruh kekuatan lwekangnya.

"A Liong...! Aku percaya sekarang, bahwa kulitmu memang liat dun kuat seperti kulit naga. Tetapi sebaliknya aku menjadi kurang percaya kalau kau mengatakan tidak pernah belajar ilmu silat. Kekebalan tubuhmu itu hanya dapat diperoleh dengan mempelajari lwe-kang yang tinggi. Kau tentu pernah belajar silat, atau setidak-tidaknya kau pernah belajar bersamadi untuk mengumpulkan sin-kang...."

"Bersamadi...? Eh, Cici! Apakah yang kau maksudkan begini ini?" tiba-tiba pemuda itu berseru, kemudian duduk bersila di atas papan sambil mengatur napasnya.

Tio Siau In mengerutkan dahinya. Pemuda itu memang melakukan cara bersamadi, tapi apa yang dilakukan itu adalah cara bersamadi yang umum, yang sama sekali tidak ada keistimewaannya. Jadi rasanya tidak mungkin kalau hal itu yang membuat pemuda tersebut kebal terhadap pukulan.

Tapi sekonyong-konyong mata Tio Siau In terbeliak ketika sesaat kemudian mendengar suara tulang berkerotokan di dalam tubuh A Liong. Bahkan gadis itu semakin kaget tatkala hidungnya juga mencium bau amis yang amat menyengat.

"A Liong, cukup...!" akhirnya Tio Siau In berseru.

A Liong membuka matanya, lalu tersenyum gembira. "Seperti itukah yang Cici maksudkan?" tanyanya riang.

"Benar. Tapi coba katakan kepadaku. Sejak kapan kau melakukan cara bersamadi seperti itu? Dan siapa pula yang mengajarkannya kepadamu?"

Pertanyaan itu membuat A Liong terdiam untuk beberapa saat lamanya.

"Bagaimana? Sejak kapan...?" Tio Siau In mendesak.

"Wah... sudah lama sekali, Cici. Sejak aku masih kecil, ketika aku masih suka ngompol (terkencing di waktu tidur). Dan cara bernapas aneh itu... kudapatkan dari seorang kakek tua renta, yang merasa kasihan kepadaku, ketika aku hampir mati kedinginan di bawah jembatan di kota Tai-yuan. Kakek itu mengatakan bahwa cara bernapas seperti itu bisa menghangatkan tubuhku. Ternyata perkataan kakek itu memang benar. Aku dapat bertahan dan tidak merasa kedinginan meskipun setiap hari hujan salju mengguyur badanku."

Tio Siau In menatap A Liong dengan heran.


"Kau... sekecil itu, sudah berkeliaran sampai di kota Tui-yuan di Propin¬si Syunsi?"

"Mengapa mesti diherankan, Cici? Namanya saja anak gelandangan, meskipun baru berumur lima tahun atau enam tahun, aku sudah biasa menjelajah ke mana-mana. Jangankan cuma kota Tai-yuan yang masih berada di dalam Tembok Besar itu, sedangkan ke kota Wan-suan dan Ceng-teh di luar Tembok Besar pun aku sudah pernah." A Liong menjawab dengan mulut meringis.

Wau-suan dan Ceng-teh adalah ibu kota Propinsi Tsa-har dan Je-hol di perbatasan Monggol dan Mancu. Kota-kota rersebut masih ratusan lie jauhnya dari Tembok Besar. Udaranya kering dan dingin. Bahkan di musim dingin, salju turun menutupi kota.

"Dan... kau cuma tidur di sembarang tempat? Tanpa alas dan selimut?" Tio Siau In bertanya pula dengan suara heran.

"Tentu saja, Cici. Kau ini ada-ada saja. Masukan seorang gelandangan memiliki kasur dan selimut? Jangankan punya peralatan seperti itu. Sedangkan untuk makan dan minum saja harus menunggu belas kasihan orang."

"Wah... wah!" Tio Siau In berdesah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Masa kecilmu sungguh sangat sengsara dan menderita. . Lalu... kau tahu nama kakek tua renta yang memberimu pelajaran bersamadi itu? Dan kau juga pernah bertemu lagi sesudah itu?"

A Liong menggoyangkan kepalanya. "Tidak. Aku tidak tahu namanya. Dan aku juga cuma berjumpa sekali itu saja. Hanya saja ketika dia hendak meneruskan perjalanannya, dia memberikan tasbehnya kepadaku. Dia berpesan agar setiap hari aku melakukan cara bernapas yang aneh itu sebanyak-banyaknya. Paling tidak seribu kali jumlah untaian tasbeh tersebut setiap harinya."
"Dan... kau mematuhinya?"

A Liong mengangguk. "Ya. Soalnya... manfaatnya banyak sekali, Cici. Selain dapat mengusir hawa dingin, ternyata badanku pun menjadi sehat pula. Aku tidak pernah sakit. Bahkan banyak sekali keanehan-keanehan yang terjadi akibat aku melakukan cara bernapas yang aneh itu. Misalnya... badanku lalu mengeluarkan bau amis setiap kali aku melakukan cara bernapas itu, sehingga binatang-binatang berbisa menjadi takut kepadaku. Bukankah aku tadi mengeluarkan bau amis, Cici?"

Dengan wajah yang masih mengungkapkan ketakjubannya Tio Siau In mengangguk-anggukkan kepalanya. Tidak boleh tidak sekarang Tio Siau In harus percaya pada omongan A Liong. Ia harus percaya bahwa A Liong pernah tertimpa pohon tumbang tanpa cidera. Dan ia juga harus percaya pula bahwa A Liong pernah tergencet batu penggilingan tahu yang beratnya ribuan kati itu tanpa cidera yang berarti. Bahkan ia juga harus percaya bahwa A Liong tidak tewas meskipun teruruk belasan karung garam. Dan sekarang, ia terpaksa harus percaya juga kalau A Liong ditakuti oleh binatang-binatang berbisa.

"Tapi... tahukah kau, mengapa badanmu mengeluarkan bau amis?"

A Liong menggeleng. Tapi sesaat kemudian tiba-tiba saja pemuda itu tersenyum geli. Matanya memandang Tio Siau In seolah-olah hendak menggoda.

"Kenapa kau terseyum-senyum, heh? Ada yang kau sembunyikan?" Tio Siau In menegur dengan nada kesal. "Ayoh, katakan! Mengapa badanmu berbau amis?"

Hampir saja A Liong tertawa. "Mungkin... mungkin karena aku mempunyai telur naga! Hahahaha...!" akhirnya pemuda itu tak bisa menahan ketawanya.

"Hus! Telur naga...? Apa yang kau maksudkan?"

A Liong semakin tak dapat mengekang ketawanya. Suaranya lepas menyaingi suara ombak yang berdebur keras di sekeliling sampan mereka.

"Cici, teman-temanku mengatakan bahwa aku mempunyai sebutir telur naga di bawah pusarku, hahahaha...!"

Seketika air muka Tio Siau In menjadi merah padam.

"Kurang ajar! Kau berani berkata sembarangan di depanku?" bentaknya marah.

A Liong cepat membungkam mulutnya. "Maaf Cici... aku tidak main-main. Aku benar-benar mempunyai telur naga itu. Kau... kau mau lihat?" katanya agak takut-takut sambil mengendurkan tali celananya.

Tentu saja Tio Siau In menjadi kelabakan. Sambil menjerit keras gadis itu membalikkan badannya.

"A Liong, jangaaaan...! Awas, berani kau berani membukanya... kubunuh kau!"

A Liong tak jadi membuka celananya, namun demikian tangannya masih tetap berada di bawah pusarnya. Wajahnya tampak penasaran.

"Cici, aku... aku tidak kurang ajar! Aku bersungguh-sungguh! Bau amis itu memang berasal dari telur nagaku ini! Tapi kalau Cici malu melihatnya... raba sajalah!"

"Apaaa...?" Tio Siau In menjerit tinggi seperti mau menangis.

Kemudian sambil memejamkan matanya sekonyong-konyong gadis itu memutar badannya. Tangan kanannya menyambar cepat ke mulut A Liong. Dan A Liong yang terkejut setengah mati itu mencoba menghindarinya. Tapi mana mungkin pemuda itu dapat mengelakkan serangan Tio Siau In yang lagi marah?

Plaaak!

Byuuuur!


Tak ampun lagi tubuh A Liong yang masih basah itu terlempar kembali ke da lam air. Sekejap Tio Siau In menjadi puas, sebab pemuda kurang ajar itu te¬lah ia hajar dan ia ceburkan ke dalam air. Tapi beberapa saat kemudian, keti¬ka pemuda itu tidak muncul-muncul juga dari dalam air, Tio Siau In berbalik men¬jadi ketakutan pula seperti tadi. Dengan gugup Tio Siau In mencari ke sana ke mari.

"A Liong...?!?" gadis itu bergumam lirih.

Namun sekali ini tubuh A Liong tampaknya memang benar-benar hilang ditelan air laut. Gulungan ombak yang ber¬putar-putar di bawah sampan itu tam¬paknya telah menyeret tubuh A Liong ke tengah laut.

"A Liongggg...!!!" akhirnya Tio Siau In berseru memanggil nama pemuda gelandangan itu.

Suaranya terdengar cemas dan penuh penyesalan.Demikianlah kalau di pagi hari yang telah mulai menyengat itu Tio Siau In menjadi cemas akan keselamatan A Liong, maka di kota Hang-ciu ternyata Tio Ciu In juga sedang mencemaskan keselamatan Liu Wan dan Kwe Tek Hun.

Pertempuran di rumah penginapan itu memang telah sampai di puncaknya. Baik Liu Wan maupun Kwe Tek Hun benar-benar telah melepaskan seluruh kesaktian nya. Liu Wan dengan Thian-lui-khong-ciangnya itu sungguh-sungguh seperti Dewa Petir dan angin yang sedang murka. Pukulan jarak jauhnya meledak-ledak bagaikan sambaran halilintar yang mengejar mangsanya, sementara arena pertempuran itu seperti digoncang oleh badai besar. Semakin cepat pemuda itu bergerak, semakin dahsyat pula badai yang bergolak.

Meja, kursi dan peralatan yang ada di dalam ruangan itu porak-poranda bagai diterjang angin puting beliung. Begitu dahsyatnya ilmu yang dikeluarkan oleh Liu Wan itu sehingga Tio Ciu In terpaksa mengamankan Ku Jing San dan Song Li Cu ke ruangan lain..


Sementara itu di luar rumah, baik di halaman penginapan maupun di jalan raya, orang-orang mulai berkerumun ingin menyaksikan apa yang terjadi. Namun mereka tidak berani mendekat, karena suara pertempuran yang amat gaduh itu membuat hati mereka menjadi ngeri.


Pada saat itu pula dari arah jalan raya masuk lima orang lelaki berbadan besar-besar dan tinggi-tinggi seperti layaknya orang dari daerah utara. Wajah mereka pun tampak kaku dan keras-keras pula. Mereka masuk ke halaman rumah penginapan itu dengan menyibakkan para penonton yang berjubel di pintu halaman.


Pada saat yang hampir bersamaan, dari arah lain masuk pula seorang lelaki buta ke halaman rumah penginapan tersebut. Meskipun buta lelaki itu berjalan dengan langkah biasa seperti manusia normal lainnya, sehingga sepintas lalu orang tidak akan menyangka kalau dia buta. Tubuhnya yang kurus jangkung itu tertutup jubah panjang sampai ke betis¬nya. Sedangkan usianya tak dapat ditaksir karena hampir seluruh wajahnya ter¬tutup kumis, jenggot dan rambutnya yang terurai panjang. Namun bila dilihat dari warna rambutnya yang telah terdiri dari dua macam itu dapat dikira-kira umur¬nya telah lebih dari empat puluh tahun. Tangannya memegang tongkat panjang.

Lelaki buta itu tidak dapat melihat apa yang sedang terjadi, namun demikian ia tidak berusaha bertanya kepada orang-orang yang sedang menonton tersebut. Ia melangkah dengan tenang di belakang lima orang lelaki tadi seperti tidak ada kejadian apa-apa. Tongkatnya diseret di samping tubuhnya, dan sama sekali tidak dipergunakan untuk mencari jalan seperti halnya orang buta lainnya.
"Tampaknya Sang Puteri mendapat kesulitan di tempat ini." salah seorang dari lima orang lelaki itu, yang tampaknya adalah pimpinan mereka, berkata dengan suaranya yang berat dan berwibawa.

"Tampaknya memang demikian, Panglima."

Demikian memasuki pintu pendapa, mereka berlima sudah merasakan hem¬busan angin yang amat kuat menerpa tubuh mereka. Bahkan ledakan-ledakan yang diakibatkan oleh Thian-lui-khong-ciang juga sudah mulai menggetarkan isi dada mereka.

"Wah tampaknya kali ini Sang Puteri benar-benar menerjang badai." orang yang disebut panglima itu berkata agak cemas.

Memang benar, walau tidak di bawah angin, namun Mo Goat memang mendapatkan kesulitan untuk menundukkan perlawanan Kwe Tek Hun dan Liu Wan. Ilmu silat Liu Wan yang dahsyat itu benar-benar membatasi ruang gerak Mo Goat kembar. Padahal meski dalam bentuk dan sifat yang berbeda, namun ilmu silat Kwe Tek Hun juga tidak kalah he¬batnya pula.

Berlainan dengan Thian-lui-khong-ciang yang sifatnya keras, kuat dan meledak-ledak, Kim-hong-sin-kun milik Kwe Tek Hun lebih bersifat halus, lembut dan indah dipandang. Namun demikian ternyata akibatnya justru lebih berbahaya daripada Thian-lui-khong-ciang. Apabila Thian-lui-khong-ciang tersebut lebih berdaya-guna untuk menghancurkan seluruh sasarannya, sebaliknya Kim-hong-sin-kun hanya bersifat melumpuhkan dan meru¬sakkan bagian-bagian titik terpenting dari sasaran keseluruhannya.

Oleh karena itu tidak mengherankan bila Mo Goat mendapatkan kesulitan untuk menundukkan mereka. Meskipun ilmu silat gadis muda belia itu sangat tinggi dan menggiriskan hati, tapi menghadapi dua macam ilmu silat yang saling bertolak belakang sifatnya tersebut benar-benar berat dan sulit.

Untung bagi Mo Goat karena selain ginkangnya lebih tinggi dan lebih sempurna, lawan-lawannya yang masih muda itu juga belum berpengalaman menghadapi ilmu sihirnya, sehingga gadis muda belia itu dengan mudah masih bisa mengecoh dan mengelabuhi lawan-lawannya.

Akan tetapi dengan demikian pertempuran itu akan terus berlarut-larut dan takkan kunjung selesai. Masing-masing pihak memiliki kemampuan yang hampir setara. Mo Goat yang bisa memecah diri menjadi dua bentuk manusia kembar itu mempunyai tenaga dalam dan ilmu me¬ringankan tubuh setingkat lebih tinggi daripada lawan-lawannya. Namun seba¬liknya di pihak lain, Liu Wan dan Kwe Tek Hun juga bisa saling mengisi serta memadukan ilmu silat mereka yang sangat bertolak belakang itu demi pertahanan mereka.


Justru yang paling cemas pada waktu itu adalah Tio Ciu In. Dengan kepandaiannya yang masih terbatas gadis ayu itu tidak dapat melihat perbandingan mu mereka. Ia cuma bisa melihat keadaan luarnya saja, yaitu repotnya Liu Wan dan Kwe Tek Hun dalam menghadapi ilmu sihir Mo Gat.


Dan kecemasan gadis ayu itu semakin bertambah pula ketika di tengah-tengah pintu masuk ruangan tersebut tiba-tiba muncul lima orang lelaki bertampang keras. Apalagi ketika lima orang lelaki itu memberi salam kepada Mo Goat.

"Hmmh, di mana meja dan kursinya? Kenapa ruang makan ini sama sekali tak ada tempat duduknya?" sekonyong-konyong Tio Ciu In mendengar suara di belakangnya.

Hampir saja Tio Ciu In melompat karena kaget. Gadis itu sama sekali tak melihat atau mendengar langkah kaki orang itu. Ketika ia membalikkan badannya, di depannya telah berdiri seorang lelaki tua memegang tongkat. Tio Ciu In tak bisa. melihat wajah orang itu karena rambut dan kumisnya menutupi hampir seluruh mukanya.

"Kau... kau siapa?" Tio Ciu In menyapa dengan hati semakin cemas dan gelisah.

"Oooh!" Lelaki tua itu kelihatan kaget mendengar suara Tio Ciu In.

“Apakah ... apakah Nona pemilik penginapan ini?"

Tio Ciu ln baru menyadari bahwa lelaki di depannya itu buta. Perasaannya sedikit tenang, walaupun ia tetap waspada dan hati-hati. Ia selalu ingat pesan gurunya, agar ia selalu berhati-hati bila berhadapan dengan orang" asing.

"Bukan. Aku seorang tamu di penginapan ini. Kau... siapa?"

Orang buta itu tidak lekas menjawab pertanyaan Tio Ciu In, seolah-olah ia memang tidak mendengarnya. Sebaliknya orang itu malah memalingkan kepalanya ke arah pertempuran sambil memasang telinganya untuk mengetahui apa yang telah terjadi di dalam ruangan tersebut.

"Seperti ada yang berkelahi di tempat ini. Hmm, siapakah mereka itu, Nona?" lelaki buta itu bertanya halus.

Sebenarnya Tio Ciu In merasa enggan untuk menjawabnya. Namun lelaki buta itu seperti memiliki perbawa yang menakut¬kan, sehingga Tio Ciu In tak kuasa untuk tetap berdiam diri.

"Dua orang kawanku berselisih paham dengan seorang gadis muda, sehingga mereka saling berbaku hantam."

Lelaki buta itu mengarahkan telinganya lagi ke arena pertempuran. Mulutnya yang tertutup kumis dan jenggot le¬bat itu seperti menggumamkan sesuatu. Tio Ciu In seperti tersihir. Gadis ayu itu hanya mengawasi saja tanpa berani bersuara. Lelaki buta itu terasa menakutkan, berwibawa, tapi juga tampak sangat berbahaya.

"Apakah orang yang memiliki pukulan seperti petir itu temanmu?" lelaki buta itu bertanya pula.

Sekali lagi Tio Ciu In tak kuasa menentangnya. Gadis ayu itu menganggukkan kepalanya, namun segera sadar bah¬wa ia sedang berhadapan dengan orang buta.

"Be-benar. Apakah Tuan mengenal temanku itu?"

Lelaki buta itu cepat menggelengkan kepalanya, sehingga rambutnya yang pan¬jang sampai ke pinggang itu terjurai ke depan menutupi wajahnya. Dan orang itu ternyata membiarkan saja rambutnya demikian.

"Dia itu temanmu atau saudara seperguruanmu?" sekonyong-konyong lelaki buta itu bertanya aneh, seperti sedang menyelidiki.

Tio Ciu In tersentak kaget. Wajahnya menjadi merah. Matanya yang bulat indah itu bergetar, seakan-akan berusa¬ha melihat rupa di balik tirai rambut tersebut. Tapi ketika orang itu kemudian . menyibakkan rambutnya ke belakang se hingga tampak sebagian mukanya yang tidak tertutup kumis dan jenggot, lagi-lagi Tio Ciu In tertunduk. Wajah itu kelihatan kaku dan dingin. Bahkan' matanya yang jernih seperti mata orang sehat itu seperti menyimpan sebuah kekuatan yang mengerikan.

Sekejap Tio Ciu In menjadi ragu, jangan-jangan lelaki yang mempunyai perbawa menyeramkan itu cuma pura-pura buta.

"Nona belum menjawab pertanyaanku!" Sekali lagi Tio Ciu In dikejutkan oleh suara orang itu.

"Kami... kami baru saja berkenalan. Dia... dia bukan saudara seperguruanku." Tio Ciu In menjawab dengan gugup.

"Hmmmmmm....!"

Sekali ini Tio Ciu In benar-benar heran terhadap dirinya sendiri. Selama ini ia tak pernah merasa takut terhadap siapapun juga. Bahkan di dalam sarang perampok-perampok liar pun ia tak pernah merasa ketakutan. Namun sekarang di depan lelaki tua bermata buta ini, entah mengapa tiba-tiba hatinya menjadi ngeri.

"Kudengar ada tiga orang yang sedang berkelahi. Apakah temanmu dikeroyok dua?" lelaki buta itu bertanya kembali.

"Ah, tidak...." Tio Ciu In menjadi malu. Malu karena telah berprasangka buruk terhadap orang yang ternyata benar-benar buta itu, serta malu karena justru teman-temannyalah yang telah mengeroyok lawannya.

Meskipun Tio Ciu In tidak menerus¬kan jawabannya, tapi orang itu tampaknya sudah dapat menangkap maksudnya.

"Ah, kalau begitu gadis muda yang kau maksudkan itu benar-benar lihai sekali karena mampu melayani keroyokan teman-temanmu. Hmm... siapakah temanmu yang satu lagi itu? Apakah dia sau¬dara seperguruanmu? Kudengar gerakan ilmunya tidak sama dengan temanmu tadi."

Tio Ciu In tidak segera menjawab. Kali ini gadis itu menjadi bingung juga untuk menjawabnya. Ia memang tidak begitu paham tentang Kwe Tek Hun dan saudara-saudara seperguruannya.


"Maaf, aku... aku juga baru mengenal mereka di tempat ini. Katanya pemuda itu bernama Kwe Tek Hun." akhirnya Tio , Ciu In dapat juga menjawab pertanyaan lelaki buta itu.


"Oooh...." Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tetapi meskipun maju berdua... kawan-kawanmu itu se¬perti merasa sulit menghadapi lawannya. Mengapa kau tak ikut membantu mereka?"


"Ah, kepandaianku belum cukup untuk ikut dalam kancah pertempuran tingkat atas seperti itu. Selain itu aku juga sedang menjaga teman-temanku yang terluka."


"Hah? Teman-temanmu sudah ada yang terluka? Apanya yang terluka?" Lelaki buta itu terperanjat.


Tio Ciu In menghela napas panjang. Entah apa sebabnya, tapi yang jelas ga¬dis ayu itu seperti menurut saja untuk menceritakan apa yang telah terjadi. Dan lelaki buta itu terdengar menggeram perlahan mendengar kekejaman Mo Goat. "Dan sekarang... kawan-kawan Mo Goat telah datang pula. Mereka kelihatan lebih kasar dan garang daripada Mo Goat. Aku benar-benar sangat cemas. Kepan¬daianku amat rendah, sedangkan teman-temanku yang lain sudah terluka...." Tio Ciu ln mengakhiri ceritanya dengan na¬da gelisah.


"Hmmh!" Tiba-tiba lelaki itu menggeram. "Nona, bawa kemari teman-teman¬mu yang terluka itu!"


Tio Ciu In tercengang mendengar pe¬rintah itu. Ada perasaan untuk menen¬tangnya, tapi keinginan itu segera sirna begitu laki-laki itu kembali menyerukan perintahnya. Tio Ciu In cepat membawa Song Li Cu dan Ku Jing San ke hadap¬an lelaki buta itu. Song Li Cu dipapahnya, sementara Ku Jing San beringsut di belakangnya dengan berpegangan pada dinding. Anehnya kedua saudara sepergu¬ruan itu juga menurut saja.


"Inilah mereka, Tuan."


Lelaki buta itu mengulurkan tangan¬nya kepada Song Li Cu. "Di bagian mana gadis ini mendapatkan totokan?" tanya¬nya kepada Tio Ciu In.


"Kalau tak salah di bagian kakinya, Seperti orang yang masih sehat kedua matanya, lelaki itu cepat mengurut dan menotok di beberapa bagian kaki Song Li Cu. Dan yang terakhir jari telunjuk lela¬ki itu menotok pada jalan darah tan-bi-hiat di bawah puser Song Li Cu.


"Maaf...!" ucap lelaki itu pendek, kemudian mengebut-ngebutkan lengan baju¬nya tanda ia telah selesai mengobati ga¬dis itu.


Sungguh mengherankan! Song Li Cu yang semula tak bisa menggerakkan tubuhnya itu tiba-tiba bisa bergerak lagi!
"Nona tidak boleh terlalu banyak bergerak dulu! Totokan yang melumpuhkan Nona tadi merupakan ilmu totok (tiam hoat) yang tiada duanya di dunia ini. Totokan itu hanya bisa dipunahkan kem¬bali oleh seseorang yang memiliki lwe-kang setidak-tidaknya dua kali lipat Iwe-kang penotoknya." lelaki buta itu mem beri peringatan kepada Song Li Cu yang sudah bersiap-siap untuk melabrak Mo Goat kembali.


Song Li Cu tertunduk kecewa. "Teri¬ma kasih, Lo-cianpwe..." gadis manis itu mengucapkan rasa terima kasihnya.


"Lo-cianpwe...? Ah!" orang itu berdesah panjang. "Tampaknya aku memang sudah tua. Belasan tahun telah lewat tanpa terasa dan tentunya umurku juga sudah mendekati setengah abad. Hmmm ... cepat sekali...."


Sementara itu di arena pertempuran tampaknya Mo Goat sudah tidak sabar lagi. Gadis cantik itu sudah mulai meng¬genggam senjata rahasianya pula. Senja¬ta rahasia yang ampuh, yang dalam se¬kali lempar telah melukai Song Li Cu dan Ku Jing San!


"Puteri...! Kau jangan menghambur-hamburkan senjata rahasiamu! Sungguh sayang rasanya kalau dibuang hanya un¬tuk membunuh kelinci-kelinci seperti me¬reka!" orang yang dipanggil dengan se¬butan Panglima tadi berseru kepada Mo Goat.


"Tapi sulit sekali menundukkan mere¬ka! Padahal aku sudah menggunakan Pat-sian-i-hoat (Delapan Baju Dewa)! Sayang ilmuku belum sebaik ilmumu. Kalau aku sudah dapat memecah diri menjadi empat seperti kau, kelinci-kelinci ini sudah kuhabisi sejak tadi." Mo Goat menyahut dengan suara jengkel.


Tentu saja ucapan-ucapan yang amat memandang rendah itu sangat menying¬gung perasaan Liu Wan dan Kwe Tek Hun. Apalagi bagi Kwe Tek Hun yang dalam perjalanan petualangannya selama ini hampir tak pernah menjumpai lawan tangguh. Ejekan sebagai kelinci itu be¬nar-benar menyinggung harga dirinya. Tanpa memikirkan akibatnya, pendekar muda dari Pulau Meng-to itu jmalesat keluar dari arena pertempuran. Hanya dengan dua gerakan saja dari Ban-seng-po Lian-hoan, maka tubuhnya telah ber¬ada di depan panglima itu.


"Kalau kau memang ingin mencoba menangkap kelinci-kelinci kecil seperti kami, mengapa cuma berteriak-teriak saja dari luar arena? Mengapa tidak langsung saja mempergunakan kepalan dan kakimu? Takut?" Kwe Tek Hun ba¬las mengejek dengan nada pedas.


"Bangsat! Kau memang bosan hidup!"


Benar saja, orang yang disebut panglima itu menjadi marah bukan main. Sambil mengumpat kasar ia menerjang Kwe Tek Hun. Kesepuluh jari tangannya mengejang seperti cakar garuda, menyambar ke arah dada dan perut pendekar dari Pulau Meng-to itu.


Kwe Tek Hun tidak berani adu tena¬ga. Mendengar percakapan lawannya tadi Kwe Tek Hun tahu bahwa lawannya itu jauh lebih berbahaya dan lebih lihai dari¬pada Mo Goat. Padahal melawan Mo Goat saja dia dan Liu Wan tidak menang. Oleh karena itu satu-satunya jalan untuk menandinginya hanyalah dengan kecerdikan dan tipu muslihat. Untunglah ilmunya Ban-seng-po Lian-hoan benar-benar mentakjubkan, sehingga setiap kali dalam bahaya ia selalu dapat menyelamatkan diri.


Demikianlah Kwe Tek Hun tidak mau menangkis serangan itu. Pemuda itu jus¬tru memanfaatkan kelebihannya dalam ma in petak. Dengan langkah ajaibnya itu ia menghindar dan mengitari tubuh lawannya. Sekali-sekali ia balas menyerang, meski¬pun ia tahu lawannya jauh lebih gesit dan lebih tinggi tenaga dalamnya.


Tentu saja ulah Kwe Tek Hun tersebut amat menjengkelkan lawannya. Di dalam segala hal panglima itu jauh lebih ung¬gul, baik ginkang, lwekang, maupun ilmu silatnya. Namun pemuda itu ternyata memiliki ilmu langkah ajaib yang amat mentakjubkan, sehingga keunggulan gin¬kang panglima itu hampir tak ada guna¬nya lagi. Bagaikan seekor belut pemuda itu selalu bisa melepaskan diri dari cegatan-cegatan lawannya.


Akhirnya panglima itu tak dapat me¬ngekang kegusarannya lagi. Seperti hal¬nya Mo Goat tadi, tiba-tiba panglima itu melompat ke belakang sambil menyi¬langkan tangannya di depan dada. Kwe Tek Hun terkejut, tapi sudah terlambat Matanya sudah terlanjur menantang ma¬ta panglima yang mencorong seperti ma¬ta burung elang itu, hingga untuk selan¬jutnya mata dan pikirannya telah jatuh dalam perangkap ilmu sihir lawannya.


"Oooooh!" Tio Ciu In menjerit kecil. Demikian pula dengan Song Li Cu.


"Hah? Ada apa...?" Lelaki buta itu tersentak kaget pula.


"Orang itu bisa merubah dirinya men¬jadi empat! Dan semuanya bisa bergerak sendiri-sendiri mengeroyok Kwe Suheng!" Song Li Cu berdesah bingung.


"Berubah menjadi empat? Wah, ilmu sihir!" Lelaki buta itu berkata kaget, se¬perti sudah pernah mengenalnya.


"Locianpwe, kautolonglah kami!" Tiba-tiba Song Li Cu berlutut sambil menghiba di depan lelaki buta itu. "Tolonglah Suhengku sekalian, seperti halnya Locian¬pwe telah menolongku tadi. Aku perca¬ya Locianpwe bisa mengatasi mereka...."


Ternyata perasaan cinta gadis manis itu sedemikian besarnya kepada Kwe Tek Hun, sehingga gadis itu rela menanggal¬kan kekerasan hatinya selama ini untuk meminta tolong kepada orang yang baru saja dikenalnya.


Semula Tio Ciu In menjadi kaget ju¬ga menyaksikan ulah Song Li Cu. Demi¬kian pula halnya dengan Ku Jing San sendiri. Tapi keduanya segera memaklu¬minya, apalagi ketika mereka menyaksi¬kan jalannya pertempuran setelah pem¬bantu Mo Goat yang lihai itu maju. Baik Kwe Tek Hun maupun Liu Wan memang dalam keadaan yang memprihatinkan. Se¬telah terpisah sendiri-sendiri, kedua pe¬muda sakti itu memang tidak bisa berbu¬at apa-apa terhadap lawannya. Rasanya memang tinggal menunggu waktu saja, kapan keduanya dibabat habis oleh lawan lawan mereka.


Lelaki buta itu mengerutkan dahinya yang tertutup rambut. Sikapnya tetap dingin dan kaku, seolah-olah tidak peduli pada keadaan sekelilingnya. Demikian pula terhadap ratapan Song Li Cu. Sama sekali ia tak bereaksi mendengar suara yang menghiba itu.


"Locianpwe...? Kakiku sudah buntung. Aku tak bisa lagi membantu Suhengku. Maukah Locianpwe menolongnya?" Ku Jing San yang sejak tadi diam saja, tiba-tiba ikut memohon. Ternyata di dalam keadaan kritis seperti itu ia memaklumi perasaan sumoinya.


Tapi lelaki buta itu tetap tak berge¬ming. Bahkan orang tua itu perlahan-lahan menyeret kakinya untuk keluar dari ruangan tersebut. Wajahnya tertunduk lesu seakan-akan hatinya amat me¬nyesal sekali berada di tempat itu. Be¬berapa kali terdengar suara tarikan na¬pasnya yang berat dan panjang.


"Locianpwe! Locianpwe...! Jangan tinggalkan kami! Tolonglah Suhengku!" Song Li Cu memohon dengan suaranya yang semakin memelas.


"Benar, Locianpwe.... Tolonglah Kwe Suheng sekali ini saja!" Ku Jing San ikut pula meminta dengan suaranya yang serak.


"Maaf. Maafkanlah aku.... aku tak bi¬sa menolong kalian." terdengar lelaki bu¬ta itu menjawab perlahan. Kakinya tetap melangkah tersaruk-saruk ke arah pintu.


Song Li Cu memandang sekali lagi ke arena pertempuran. Hatinya semakin merasa cemas akan keselamatan Kwe Tek Hun.


"Locianpwe...!?!" ratapnya sedih.


Namun dengan suara tak kalah lesunya, lelaki buta itu menyahut lirih. "Maaf, Nona... aku tetap tak bisa menolongmu. Sudah lama aku tidak melibatkan diri di dalam urusan rimba persilatan seperti ini. Aku sudah bosan. Aku sudah cukup banyak menderita karena urusan perkela¬hian, permusuhan dan dendam kesumat di dunia yang keras itu...."


Buuuuk!


"Auuuugh....!"


Sekonyong-konyong terdengar suara pukulan dan keluhan tertahan dari arena pertempuran. Liu Wan, pemuda sakti itu ternyata telah terkena tendangan kaki Mo Goat.


Tio Ciu In terkejut. Ia menyaksikan Liu Wan terhuyung-huyung sambil tetap berusaha menghindari serangan Mo Goat kembar yang terus saja memburunya. Pemuda itu kelihatan seperti lampu yang kehabisan minyak. Tenaganya yang besar tadi tampak sudah habis, sehingga pukul¬annya yang meledak-ledak seperti petir itu sudah tidak kelihatan lagi.


"Tuan...?" Tio Ciu In yang mencemas¬kan keselamatan Liu Wan itu tiba-tiba menjerit kecil tanpa terasa.


Sungguh mengherankan! Jeritan lemah dan amat singkat dari Tio Ciu In itu ternyata mampu mengejutkan lelaki buta tersebut! Entah bagaimana caranya ber gerak. Namun orang tua yang telah-berada di depan pintu keluar itu menda¬dak saja telah berada di dekat Tio Ciu In kembali! Sama sekali tak kelihatan ba¬yangan tubuhnya yang berkelebat! Di mata Ku Jing San, Song Li Cu, dan Tio Ciu In sendiri, tubuh lelaki buta itu se¬perti menghilang dan berpindah tempat begitu saja!


"Nona memanggil aku? Ada apa...?" orang tua itu bertanya tegang.


Tio Ciu In yang baru saja menjerit kecil itu justru menjadi gugup menyaksi¬kan kesaktian lelaki buta tersebut. Bebe¬rapa saat lamanya ia tak bisa menjawab atatr membuka mulutnya.


"Nona! Kau kenapa...? Apakah kau di¬serang dan dilukai musuhmu?" lelaki bu¬ta itu mendesak semakin tegang.


"Ti-tidak...! Kawanku... kawanku ter¬desak! Dia... dia dalam bahaya!" akhirnya Tio Ciu In dapat bersuara dengan patah-patah.


"Ooooh!" orang tua itu berdesah lega, kemudian perlahan-lahan membalikkan badannya kembali.


"Tuan, tunggu...!" Tio Ciu In mengejar dan berseru.


Lelaki buta itu berhenti. "Ada apa lagi...?"


Tio Ciu In berdiri tegak di depan orang tua itu. Matanya yang bulat indah itu mencoba mengawasi wajah yang dingin tertutup rambut tersebut.


"Tuan...? Mengapa Tuan tidak mau menolong teman-temanku itu?"


Mendadak tubuh lelaki buta itu se¬perti bergetar menahan perasaan sedih. Tulang pipinya yang menonjol itu tampak pucat, sementara matanya yang bening seperti mata orang sehat itu kelihatan berair. Kemudian sambil menghela napas berat orang tua itu menundukkan wajahnya.


"Namamu siapa, Nona? Apakah kau tinggal di sekitar Laut Kuning? Apakah kau bermarga Han?" mendadak lelaki buta itu bertanya tanpa mempedulikan perta¬nyaan Tio Ciu In.


"Bukan... bukan! Aku tidak bermarga Han! Namaku Tio Ciu In dan aku juga tidak tinggal di sekitar Laut Kuning!


Aku tinggal di kota Yun-kia...."


"Oooh....!" orang tua itu berdesah panjang seperti mengandung rasa kece¬wa yang amat dalam.


Sebaliknya Tio Ciu In menjadi sangat heran melihat peri laku orang tua itu.


"Mengapa... mengapa Tuan tidak sege¬ra menolong teman-temanku? Mengapa Tuan secara tiba-tiba malah menanya¬kan nama dan tempat tinggalku?"


Sekali lagi orang tua itu menarik na¬pas panjang sekali. "Sudahlah, Nona Tio. Jangan kau hiraukan pertanyaanku tadi. Hmmmm, sekarang jawab saja pertanya¬anku. Mengapa kau jneminia pertolongan kepadaku?"


"Karena... karena aku percaya Tuan akan meluluskan permintaanku!"


Orang tua itu tampak tercengang sebentar, kemudian mengangguk-angguk.


"Kau benar, Nona Tio. Khusus untuk dirimu, aku bersedia mengubah pendirian¬ku. Aku akan menolong teman-temanmu, tapi... dengan syarat!"


"Syarat? Syarat apa...? Lekas kata¬kan!" Tio Ciu In yang melihat keadaan Liu Wan dan Tek Hun semakin mengkha¬watirkan itu menjadi tidak sabar.


"Tolong nyanyikan sebuah lagu untukku! Terserah lagu apa saja boleh...!"


"Menyanyikan lagu...?" Tio Ciu In tercengang mendengar syarat yang amat aneh itu. "Aku... aku tak dapat bernyanyi! Aku...?!"


"Terserah kepadamu, Nona Tio Hanya itu syaratku. Kalau kau tak mau, juga tidak apa-apa..." orang tua itu berkata perlahan sambil membalikkan badannya kembali.


Tio Ciu In menjadi tegang bukan ma¬in. Apalagi ketika sekali lagi ia menyak¬sikan Liu Wan terpelanting menabrak dinding. Darah segar tampak mengalir dari mulut dan hidung pemuda itu.


"Tunggu...!" gadis ayu itu berteriak.


Namun sekali ini orang tua buta itu tak menghiraukan panggilan Tio Ciu In. Kakinya tetap melangkah perlahan ke arah pintu. Dalam keadaan panik akhirnya Tio Ciu In juga tidak menghiraukan lagi kejanggalan-kejanggalan yang dihadapinya. Gadis ayu itu lalu menyanyikan 
sebuah lagu lama. Lagu yang sering di¬nyanyikan oleh gurunya. Entah" lagu apa, ia tidak tahu. Yang penting ia menyanyi, meskipun suaranya yang merdu itu men¬jadi sumbang karena kecemasan dan ketegangan hatinya.

Apabila di malam yang gelap gulita,
Tiba-tiba muncul bulan purnama,
Alam pun tersentak dari tidurnya,
Untuk menyambut kehangatan Sang Pe¬lita Malam.
Kekasihku...!
Harapkan kehadiranmu!


Dalam keadaan yang sangat menegangkan seperti itu, suara nyanyian Tio Ciu In memang benar-benar aneh dan terasa janggal kedengarannya. Bahkan Mo Goat dan pembantunya yang disebut panglima itu sampai merasa kaget dan agak mengendor desakannya. Sabetan kipas yang mematikan dari Mo Goat terhadap leher Liu Wan seolah-olah tertahan sejenak mendengar alunan suara Tio Ciu In tersebut. Demikian pula dengan hantaman siku Si Panglima yang tertu¬ju ke arah tengkuk Kwe Tek Hun seakan-akan juga terhenti beberapa saat pula ketika mendengar suara nyanyian Tio Ciu In.
Namun pada waktu yang cuma sesaat itu tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan, yang hampir-hampir tak bisa ditangkap oleh pandangan mata siapapun juga. Be¬gitu cepatnya, sehingga Kwe Tek Hun yang memiliki Pek-in Gin-kang yang amat tersohor di dunia persilatan itu tak kuasa apa-apa ketika mendadak leher bajunya secara mendadak telah dicengke¬ram bayangan tersebut dan dilemparkannya keluar arena. Demikian pula dengan Liu Wan. Bahkan Mo Goat dan pemban¬tunya yang memiliki ilmu meringankan tubuh jauh lebih tinggi lagi daripada Kwe Tek Hun itu juga tak berkutik pula ke¬tika bayangan tersebut menyambar ke arah mereka serta mendorong mereka keluar arena.


Bukan alang kepalang kagetnya Mo Goat dan pembantunya menyaksikan kesaktian yang luar biasa itu. Sejenak me¬reka berdua memandang dengan sinar mata jeri ke arah lelaki buta yang kini telah berdiri tegak di tengah-tengah ru¬angan.


"Kau... kau siapa?" Mo Goat yang ke¬jam dan tak pernah mengenal rasa ta¬kut itu mendadak menjadi gemetaran su¬aranya.


Bagaimana Mo Goat maupun pemban¬tunya itu tidak jeri? Orang asing berpe¬nampilan buruk dan mengerikan itu sa¬ma sekali tidak terpengaruh oleh ilmu sihir mereka Pat-sian-i-hoat. Bahkan il¬mu meringankan tubuh orang asing itu juga jauh lebih hebat daripada gin-kang perguruan mereka, yang menurut guru mereka tiada bandingannya di dunia ini. j Begitu pula dengan tenaga dalam yang dikeluarkan oleh orang asing tersebut untuk mendorong mereka, rasa-rasanya berlipat jauh dengan tenaga dalam yang mereka miliki.


Demikianlah, kalau Mo Goat dan pa¬ra pembantunya merasa heran dan keta¬kutan, sebaliknya Tio Ciu In dan Song Li Cu menjadi gembira bukan main meli¬hat Liu Wan serta Kwe Tek Hun sela¬mat dari keganasan lawan. Tio Ciu In segera membantu Liu Wan mengobati luka-lukanya, sementara Song Li Cu de¬ngan telaten dan penuh perhatian mengu¬sap peluh yang mengalir di wajah dan leher Kwe Tek Hun.


"Siapa orang itu, Ciu-moi?" dengan napas yang masih memburu Liu Wan bertanya tentang orang buta itu kepada Tio Ciu In.


"Siapa... dja, Su-moi?" Kwe Tek Hun juga bertanya keheranan kepada Song Li Cu dan Ku Jing San yang merubungnya.


Tapi baik Tio Ciu In maupun Song Li Cu tidak bisa memberi jawaban. Keduanya memang tidak mengenal orang buta yang maha sakti itu. Mereka cuma bisa bercerita bahwa orang tua itu menolong Liu Wan dan Kwe Tek Hun karena suara nyanyian Tio Ciu In.


"Nyanyian...?" Baik Liu Wan maupun Kwe Tek Hun tercengang keheranan.


Kalau semua orang menatap heran atau jeri kepada orang tua buta itu, sebaliknya orang yang bersangkutan justru sedang berdiri terlongong-longong menge¬nangkan isi syair nyanyian Tio Ciu In tadi. Beberapa kali terlihat dadanya tu¬run naik seakan-akan sedang menyangga beban yang teramat berat.


"Nona Tio...! Dari mana kau belajar lagu lama itu? Siapakah yang mengajarimu lagu 'Merindukan Kekasih' itu?" tiba-tiba orang tua itu menoleh dan bertanya kepada Tio Ciu In.


Gadis ayu yang sedang sibuk meno¬long Liu Wan itu tersentak kaget.


"Aku... aku tidak belajar dari siapa-siapa. Aku hanya sering mendengarnya dari Suhuku...." Tio Ciu In menyahut de¬ngan suara gugup.


"Oh, ya? Apakah Gurumu itu seorang tokoh Aliran Im-yang-kau?"
Tio Ciu In tercengang, lalu mengangguk. "Benar. Beliau adalah Giam Pit Seng, Ketua Cabang Im-yang-kau di kota An-king."


Sekarang ganti orang tua buta itu yang mengangguk-angguk.


"Sudah kuduga...." orang tua itu kemudian bergumam. "Ketahuilah, Nona Tio ... lagu itu adalah ciptaan seorang tokoh tua aliran Im-yang-kau dua puluhan tahun yang lalu. Lagu itu sangat populer dan disukai orang, terutama oleh para anggota aliran itu sendiri. Maka tak mengherankan bila Gurumu juga suka menyanyikannya. Aaah, memang sungguh indah lagu itu...."


"Tuan sangat, menyukai lagu itu?" Tio Ciu In bertanya hati-hati, takut me¬nyinggung perasaan orang tua aneh itu.


"Ya, aku dulu sering menyanyikannya. Aku hafal seluruh syair-syairnya..." Ternyata orang tua buta itu justru bersemangat menjawab pertanyaan Tio Ciu In.


"Kalau begitu... kalau begitu, emmm .. apakah Tuan ini juga anggauta Aliran Im-yang-kau pula?" dengan sangat hati-lati Tio Ciu In mencoba untuk mengorek asal-usul orang tua tersebut.


"Oh, bukan...! Isteriku yang...?!"
Tiba-tiba orang tua itu menghentikan kata-katanya. Dia seperti menyesal telah mengeluarkan ucapannya tadi. Dan untuk menutupi kecanggungannya, tiba-tiba pula ia melangkah meninggalkan tempat tersebut.
"Aku... pergi dulu!" katanya singkat, lalu tubuhnya yang jangkung tinggi itu berkelebat meninggalkan ruangan terse¬but.
"Tuan, tunggu...! Bolehkah aku me¬ngenal nama besarmu?" Tio Ciu In berseru. Kakinya melompat, mencoba mengejar sampai ke pintu.


Tak ada jawaban. Orang tua itu telah melesat jauh meninggalkan rumah pengi¬napan tersebut. Tapi sekonyong-konyong erdengar suara lapat-lapat dari kejauh-n yang dikirim dengan ilmu Coan-im-ib-it (Ilmu Mengirim Suara Dengan Gelombang Angin).


"Nona Tio, panggil saja aku Si Buta! Kalau kau ingin bertemu dan ingin me¬minta pertolonganku lagi, nyanyikan sa¬ja lagu "'Merindukan Kekasih' itu! Aku tentu datang...!"


"Ihhh...!" Tio Ciu In yang menjadi sa¬lah terima dengan ucapan orang tua bu¬ta itu mencibirkan bibirnya. Wajahnya berubah sedikit memerah. "Masakan aku harus menyanyikan lagu 'Merindukan Ke¬kasih' untuk bertemu dengan dia?"


Mendadak gadis ayu itu tersentak kaget karena teringat kepada Mo Goat kembali. Bergegas gadis itu membalik¬kan badannya. Matanya nanar mencari gadis muda yang kejam itu di antara para pelayan penginapan yang telah mu¬lai berdatangan. Tapi gadis itu sudah ti¬dak kelihatan lagi batang hidungnya. Mungkin secara diam-diam gadis cantik itu telah pergi bersama para pembantu¬nya, pada saat dia sedang terlibat pem¬bicaraan dengan orang tua buta tadi.


Tapi bagaimanapun juga kepergian Mo Goat itu justru sangat melegakan hati Tio Ciu In. Apa jadinya kalau Mo Goat dan para pembantunya itu belum pergi, sedangkan orang tua buta itu sudah tiada lagi?
"Bagaimana, Ciu-moi? Siapakah orang tua itu?" Liu Wan menyambut kedatang¬an Tio Ciu In dengan sebuah pertanyaan.


"Entahlah! Dia hanya memperkenal¬kan diri dengan nama Si Buta!"


"Si Buta? Jadi.... orang itu buta? 
Ah! Bukan main!" Kwe Tek Ilun berseru sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Apanya yang bukan main, Suheng?" Song Li Cu menukas keheranan.

Kwe Tek Hun tersenyum kecut. "Yah, kau lihat sendiri! Caranya bergerak yang gesit dan lincah itu sama sekali tak men cerminkan bahwa dia buta! Kita semua yang waras ini benar-benar harus malu terhadapnya."


Sementara itu orang-orang yang da¬tang menonton mulai berani memasuki ruangan tersebut. Pemilik rumah pengi¬napan itu beserta para pelayannya da¬tang menghampiri mereka. Dengan wajah sedih pemilik rumah penginapan itu me¬ratapi barang-barangnya yang rusak dan berantakan.


"Sudahlah, kau tak perlu meratapi harta bendamu yang sudah rusak!" Liu Wan yang sudah mengenal pemilik rumah penginapan itu menghiburnya. 


"Meskipun bukan aku yang membuat gara-gara di dalam peristiwa ini, tapi aku akan meng¬gantikannya. Tolong kau hitung jumlah seluruh kerugianmu ini, lalu masukkan ke dalam rekening kamarku!"

"Tapi... tapi...?" Pemilik rumah pe¬nginapan itu pura-pura menolak, pada¬hal hatinya menjadi senang bukan main.


"Jangan membantah! Lakukan saja pe¬rintahku!" Liu Wan berkata dengan tegas.


"Saudara Liu...!?" Kwe Tek Hun ter¬kejut mendengar kesanggupan Liu Wan.


Liu Wan tersenyum. "Tidak apa-apa, Saudara Kwe! Biarlah, aku masih mem¬punyai bekal yang cukup."


Demikianlah, setelah membayar sewa kamar beserta kerugian yang diderita oleh pemilik rumah penginapan itu, me¬reka pergi meninggalkan tempat terse¬but. Seperti rencana mereka semula, me-reka langsung menuju ke markas Tiat-tung Kai-pang di kota itu. Ku Jing San yang sekarang buntung sebelah kakinya itu terpaksa mempergunaan tongkat se-adanya untuk menopang tubuhnya. Mes-kipun sangat sedih, tetapi pemuda itu tetap tegar menghadapi penderitaannya.


Markas Tiat-tung Kai-pang di kota itu menempati bekas bangunan kuil tua yang sudah rusak dan tak terpakai lagi.


Halamannya yang amat luas itu penuh di¬tumbuhi rumput dan alang-alang tinggi, sementara bangunan gedung dan tembok pagarnya sudah banyak yang pecah dan runtuh. Hanya bagian pendapa dan ruang dalam yang masih agak utuh, meskipun gentengnya juga sudah banyak yang bo¬cor di sana-sini.


Bangunan kuil itu berada jauh di ping giran kota, dan. terpisah dengan perkam¬pungan penduduk, sehingga kedatangan Kwe Tek Hun beserta kawan-kawannya itu sama sekali tidak menarik perhatian orang. Justru orang-orang Tiat-tung Kai-pang sendiri yang merasa kaget akan kedatangan mereka. Beberapa pengemis yang berkumpul di pintu gerbang kuil itu segera memberi tanda dengan suitan mulut kepada teman-temannya di dalam gedung.


Kwe Tek Hun terpaksa berkali-kali mengangguk setiap melewati gerombolan pengemis yang sedang duduk-duduk atau beristirahat di halaman kuil yang luas itu. Banyak di antara mereka sedang mengobati lukanya akibat pertempuran di kuil Pek-hok-bio semalam.


"Ah, Kwe Siau-hiap rupanya...." bebe¬rapa orang di antaranya menyapa begitu mengenal Kwe Tek Hun dan Ku Jing San. Namun banyak juga di antara mere¬ka yang kaget melihat kaki Ku Jing San yang buntung itu.


Kwe Tek Hun membawa rombongan¬nya ke atas pendapa, dan seorang penge¬mis tua yang tampaknya paling berpe¬ngaruh di antara para pengemis yang bertebaran di dalam ruangan yang luas itu segera menyambut kedatangannya.


"Oh, Kwe Siau-hiap sudah kembali. Apakah Kwe Siau-hiap akan langsung menemui Hu-pang-cu?" pengemis tua itu bertanya.


Kwe Tek Hun memberi hormat kepa¬da pengemis tua itu. "Terima kasih, Pek-bi-kai (Pengemis Beralis Putih). Aku me¬mang bermaksud menemui kau dan Jeng-bin Lo-kai sekalian kalau boleh...." kata¬nya merendah.


"Ah, jangan sungkan-sungkan! Marilah ke dalam! Hu-pangcu berada di belakang. Hei...? Apa yang terjadi dengan Ku Siau- hiap?" Pengemis tua yang disebut Pek-bi-kai itu mendadak kaget menyaksikan kaki Ku Jing San.


"Biarlah nanti kami ceritakan di de¬pan Jeng-bin Lo-kai sekalian." Kwe Tek Hun menjawab cepat.
Jeng-bin Lo-kai berusia di atas enam puluh tahun, namun badannya masih se¬gar dan sehat. Rambutnya yang putih seperti perak itu digelung ke atas dan diikat dengan tali kain berwarna putih pula. Pakaiannya terbuat dari kain te¬nun kasar dengan dua buah tambalan di kedua pikirnya.


Orang tua itu sedang menikmati mi¬numan teh hangat dari potongan bambu yang dibentuk seperti cangkir, ketika Pek-bi-kai datang melapor sambil mem¬bawa rombongan Kwe Tek Hun.


"Hu-pangcu, Kwe Siau-hiap. ingin ber¬jumpa dengan engkau!" Pek-bi-kai mela¬por tanpa  
basa-basi, kemudian juga ikut menenggak teh dari potongan bambu ta¬di tanpa permisi.

Tio Ciu In mengernyitkan dahinya me¬nyaksikan tata cara atau kelakuan yang amat bebas di antara kaum pengemis itu. Diam-diam gadis ayu itu menjadi khawatir juga, jangan-jangan mereka di¬suruh minum pula dari potongan bambu itu.

"Oh, Kwe Siau-hiap rupanya. Mari silakan duduk...!" Jeng-bin Lo-kai me¬nyambut kedatangan mereka.


Demikianlah setelah memperkenalkan Liu Wan dan Tio Ciu In, Kwe Tek Hun lalu bercerita tentang musibah yang ba¬ru saja terjadi di rumah penginapan ta¬di. Selain itu Kwe Tek Hun juga berce¬rita pula tentang keinginan Tio Ciu In untuk menemukan adiknya yang hilang.


Ternyata Jeng-bin Lo-kai amat kaget mendengar kedatangan Mo Goat di kota itu, bahkan berkelahi dengan rombongan Kwe Tek Hun.


"Baru saja aku menerima laporan tentang sepak terjang mereka di Ciu-siang, Wu-an dan An-king, sekarang jus¬tru sudah berada di sini. Hmmh, di ma¬nakah mereka itu sekarang?"


"Entahlah, Hu-pangcu. Mungkin mere¬ka juga belum meninggalkan kota ini.


Siapakah mereka itu sebenarnya? Apa yang telah mereka lakukan di kota Ciu-siang, Wu-an dan An-king?"


Jeng-bin Lo-kai berdiri dari tempat duduknya. "Pek-bi-kai! Tolong kau kirim beberapa orang anak buahmu ke kota un¬tuk mencari khabar tentang orang-orang Hun itu!" perintahnya kepada Pek-bi-kai.


Sekali lagi Pek-bi-kai meraih potong¬an bambu tempat air teh itu dan me¬nenggaknya habis, kemudian tanpa berbi¬cara apa-apa ia beranjak pergi mening¬galkan ruangan itu.


"Orang-orang Hun? Siapakah yang kau maksudkan suku Hun “. Kwe Tek Hun berseru kaget.


"Ketahuilah, Kwe Siau-hiap, gadis kejam itu adalah puteri Mo Tan, raja dari suku Hun di luar Tembok Besar. Gadis itu datang ke Tiong-goan bersama, beberapa orang pasukan pilihan Ayahnya, dengan tujuan yang belum diketahui. Tapi yang terang mereka telah membu¬nuhi para pemenang perlombaan 'Meng¬angkat Arca' di kota-kota yang kusebut-kan tadi. Langsung di atas panggung- panggung perlombaan tersebut diadakan!"


"Benar-benar keji! Apa sebenarnya yang mereka kehendaki dengan membu¬nuhi orang-orang yang tak berdosa se¬perti itu? Apakah karena mereka sangat membenci orang-orang Han, dan ingin membasmi pemuda-pemudanya yang ter¬baik?" Liu Wan berseru penasaran.


"Entahlah, Liu Siau-hiap. Tapi kha¬barnya para pembesar kota itu telah me¬ngirimkan utusan untuk melapor ke kota raja. Kita nantikan saja perkembangan¬nya."


Mereka lalu berbicara tentang suku bangsa Hun dan rajanya yang bernama Mo Tan, yang sejak Kaisar Liu Pang du¬lu selalu membuat rusuh dan kekacauan di daerah Tionggoan. Mo Tan yang se¬karang sudah semakin tua itu tampak¬nya sudah enggan untuk melompati -tem¬bok Besar sendiri, sehingga kini mengi¬rim putrjnya untuk mewakilinya. Sejak dulu suku bangsa Hun memang bermu¬suhan dengan orang-orang Han.


Beberapa saat kemudian Pek-bi-kai telah datang kembali ke ruangan itu.


Wajahnya tampak kesal dan cemas.


"Hmmh, bagaimana Pek-bi-kai? Apa¬kah ada laporan yang masuk lagi?" Jeng-bin Lo-kai cepat menanyainya.


"Wah, gawat... Hu-pangcu! Pemuda-pemuda Hang-ciu yang memenangkan perlombaan "Mengangkat arca" kemarin ditemukan tewas semua di pantai dekat perkampungan Ui-thian-cung!" Pek-bi-kai melapor. Lalu katanya lagi sambil meli¬rik kepada Liu Wan dan Tio Ciu In; "Dan... salah seorang anggota kita ada yang melihat seorang gadis cantik berba¬ju merah berkelahi dengan orang-orang Hek-to-pai di perkampungan mereka ke¬marin sore."


"Berkelahi dengan orang-orang Hek-to-pai?" Liu Wan bergumam seraya mengawasi Tio Ciu In.
"Oh!" gadis ayu itu berdesah pucat. "Di manakah perkampungan Hek-to-pai itu? Jangan-jangan...?"
Bagaimanapun juga Tio Ciu In menya¬dari bahwa kepandaian adiknya tidak ter¬paut banyak dengan dirinya. Dan sekarang setelah mengetahui betapa banyaknya orang-orang berilmu tinggi di dunia ini, otomatis hatinya menjadi khawatir terha¬dap keselamatan adiknya yang suka ber¬tindak sembrono itu.


"Perkumpulan Hek-to-pai tidak terla¬lu jauh dari kota ini, Nona Tio. Di tepi jalan yang menuju ke perkampungan Ui-thian-cung, kira-kira dua lie sebelum pantai." Kwe Tek Hun memberi kete¬rangan.
Tiba-tiba Tio Ciu In berdiri. Air mu¬kanya tampak semakin gelisah dan cemas.


"Terima kasih atas keterangan Lo-cianpwe. Aku akan pergi ke sana." Gadis ayu itu menjura kepada Jeng-bin Lo-kai dan Pek-bin-kai, kemudian berlari ke lu¬ar meninggalkan tempat itu.


Tentu saja Liu Wan menjadi kaget dan khawatir. Khawatir akan keselamat¬an gadis ayu itu. Apalagi tempat yang hendak ditujunya itu dekat sekali atau satu jalan dengan tempat pembantaian para pemenang perlombaan itu. Siapa ta¬hu pelaku pembantaian tersebut memang benar rombongan Mo Goat, dan sekarang masih berkeliaran di daerah itu?


"Maaf, Lo-kai...!" Pemuda itu dengan tergesa-gesa meminta diri kepada Jeng-bin Lo-kai dan Pek-bi-kai lalu berlari mengejar Tio Ciu In.


"Saudara Liu, tunggu...!" Kwe Tek Hun berseru memanggil.


Pemuda sakti dari Pulau Meng-to itu juga memohon diri kepada Jeng-bin Lo-kai.


"Suheng, aku ikut!" Song Li Cu tak mau ketinggalan.


"Jangan...! Kau tunggu saja di sini bersama Ku Jing San! Aku tidak akan lama!" Kwe Tek Hun melarang.


"Tapi...?" Song Li Cu cemberut.


"Sudahlah! Kalian tetap di sini saja!" Kwe Tek Hun menggeram, kemudian de¬ngan Pek-in Ginkangnya yang tinggi ba¬dannya melesat bagaikan peluru melin¬tasi pendapa tersebut.
Jeng-bin Lo-kai dan Pek-bi-kai ter¬senyum sambil menggeleng-gelengkan ke¬pala.


"Bukan main...! Benar-benar tidak berbeda dengan ayahnya!"


Matahari telah berada tepat di atas kepala, namun karena awan tebal menutupi hampir seluruh udara di atas kota itu, maka panasnya tidak sampai membakar bumi. Akan tetapi dengan demikian jus¬tru hawanya menjadi gerah bukan main.


Tio Ciu In sengaja berputar menyu¬sup di pinggiran kota, agar langkahnya yang cepat dan kadang kala juga berlari itu tidak menarik perhatian orang.


"Ciu-moi tunggu...!"


Gadis ayu itu menoleh dan hatinya menjadi lega begitu melihat kedatangan Liu Wan. Namun gadis itu terpaksa me¬ngerutkan alisnya ketika menyaksikan Kwe Tek Hun juga ikut berlari di bela¬kang pemuda itu.


"Ciu-moi...! Tenangkanlah dulu pera¬saanmu! Kau jangan bertindak gegabah dan sembrono memasuki perkampungan Hek-to-pai itu! Tempat itu sangat berba¬haya! Ketuanya memiliki ilmu golok be¬racun yang 'cukup disegani di daerah pantai timut ini!"


"Apa yang dikatakan oleh Saudara Liu itu memang benar, Nona Tio. Tapi kalau kau memang berkeras untuk memasuki perkampungan itu, biarlah aku dan Sau¬dara Liu menemanimu. Kita Lihat saja, apakah adikmu di sana."


Tio Ciu In berhenti melangkah dan memandangi dua pemuda yang sama-sama gagah dan tampan itu. Sejenak hatinya seperti memperbandingkannya. Liu Wan berperangai halus, pandai bicara dan serba bisa. Sedangkan Kwe Tek Hun tam paknya berwatak lebih keras, jujur dan tidak suka banyak bicara. Namun yang jelas keduanya sama-sama menariknya. Jauh lebih menarik daripada Tan Sin Lun, suhengnya.


"Aaah...." Tio Ciu In berdesah lirih begitu teringat akan suhengnya.


"Eh, kenapa kau kelihatannya seperti ragu-ragu?" Liu Wan bertanya heran.


Tio Ciu In tersentak sadar. "Anu... emm, aku khawatir hanya akan merepotkan kalian saja." jawab gadis ayu itu berbohong.


"Wah, mengapa masih sungkan-sung kan pula? Bukankah kita sudah saling bersahabat? Ayohlah, kita berangkat!" Kwe Tek Hun menyela.


Tio Ciu In tak bisa mengelak lagi. Mereka bertiga lalu berlari menerobos sawah ladang ke arah timur. Kedua pe¬muda berilmu tinggi itu, terutama Kwe Tek Hun terpaksa harus memperlambat langkah kakinya untuk mengimbangi gin-kang Tio Ciu In. Sampai di jalan besar yang dilalui Tio Siau In kemarin terpak¬sa mereka mengendorkan langkah. Jalan tersebut adalah jalan utama menuju ke pantai, sehingga banyak sekali orang lalu lalang di jalan itu. Ketiganya tak ingin menarik perhatian orang.

Jilid 9                                                                                                             Jilid 11