Senin, 23 April 2018

PENDEKAR PEDANG PELANGI 6

Jilid 6

Sementara itu pertempuran yang paling dahsyat dan paling brutal adalah pertempuran Lo-jin-ong melawan Empat Iblis itu. Karena merasa penasaran atas sanjungan pemimpin rombongan mereka terhadap tokoh Im-yang-kau itu, serta keinginan untuk membuktikan bahwa mereka bisa mengalahkannya, maka begitu bergebrak Empat Hantu tersebut ingin segera bisa menyelesaikan pertempuran mereka.

Seperti halnya Kongcu mereka, Enam Hantu itu juga murid dari Pendeta Agung suku bangsa Hun, Ulan Kili. Meskipun kepandaian mereka tidak setinggi Kongcu mereka itu, tapi mereka justru men jadi murid-murid utama, karena mereka telah mengikuti guru mereka sejak di Perguruan Ui-soa-pai. Terutama Hek-kui, Ui-kui, dan Pek-kui. Sebelum menjadi pengawal ketiga hantu itu lebih dikenal dengan sebutan Sam Eng (Tiga Garuda) di kalangan persilatan.

Demikianlah, begitu menyerang mereka berempat telah mengerahkan seluruh kemampuan mereka. Jago-jago ginkang itu bergerak cepat, berkelebatan bagaikan kawanan lebah madu yang beterbangan mengelilingi bunga. Sebentar-sebentar mereka menyerang Lo-jin-ong dengan pukulan, tendangan, sabetan, maupun sapuan kaki yang mematikan. Gerakan mereka benar-benar seperti kawanan lebah yang mematuk, menggigit dan menyengat korbannya!

Namun yang amat mengherankan adalah lawan mereka. Lo-jin-ong yang sudah tua renta, bahkan bisa dikatakan sudah jompo dan pikun itu, ternyata mampu melayani serbuan mereka dengan gesit dan lincah. Walaupun kadang-kadang harus mundur untuk mengambil napas, tapi gerakannya masih amat cepat. Tenaga sakti yang terlontar dari telapak tangannya juga sangat menggiriskan hati lawan-lawannya. Alhasil pertempuran mereka berjalan dengan sangat cepat dan mendebarkan. Beberapa kali lengan dan tangan mereka berlaga di udara, dan menimbulkan suara nyaring yang memekakkan telinga.

"Gila! Orang tua ini memang masih alot sekali kulitnya”  Hek-kui mengumpat tiada hentinya.

"Yah, tapi bagaimanapun juga dia sudah tua. Tenaga dan pernapasannya tentu terbatas. Lama-lama dia akan ambruk sendiri karena kelelahan, hehehe...!" Pek-eng mengejek pula.

"Kalian benar, orang-orang muda! Sebentar lagi aku tentu akan kehabisan napas! Tapi... lihat saja, sebelum napasku benar-benar habis... beberapa orang di an tara kalian tentu akan lebih dulu putus napasnya!"

"Kurang ajar! Orang tua tak tahu diri! Marilah kita lihat, siapa yang lebih ' dulu terkapar di atas pasir ini!" Hek-kui menjerit marah.

Wusssss...!

Hek-kui menghantam punggung Lo-jin-ong dengan tenaga sepenuhnya. Tapi dengan tangkas orang tua itu meliuk ke kanan, kemudian membalikkan badan sambil balas memukul dengan tebasan tangan kiri. Terdengar suara mencicit, suatu tanda bahwa serangan tersebut didukung oleh tenaga sakti yang luar biasa kuat.

Sementara itu Ui-kui, Cing-kui dan Pek-kui, tidak tinggal diam. Bersama-sama mereka menerjang dari sisi yang lain. Mereka juga menggunakan seluruh tenaga kekuatan mereka, sehingga dalam gebrakan tersebut mereka ingin meng-hancur-lumatkan Lo-jin-ong.

Apa boleh buat, Lo-jin-ong tak ingin menjadi bulan-bulanan pukulan lawannya. Ia mengurungkan tebasan tangannya yang mengarah kepada Hek-kui. Sebagai gantinya ia menjejakkan kakinya dalam jurus Burung Walet Meninggalkan Sarang. Tetapi Ui-kui dan Cing-kui, yang berada di sebelah kanan dan kiri, tidak mau memberi kesempatan keduanya juga melenting ke atas, berjumpalitan di udara, dan memotong gerakan Lo-jin-ong dengan jurus Membajak Sawah Menabur Benih. Serang an mereka menimbulkan suara gemuruhbagaikan benturan ombak di atas batu karang!

Lo-jin-ong tak ingin membentur serangan mereka. Selain tulang-tulangnya sudah terlalu rapuh, dia tak ingin terjebak dalam kesulitan pada saat menyongsong pukulan tersebut. Hek-kui dan Pek-kui tentu telah menunggu pula di atas tanah. Jalan satu-satunya hanya menghindar lagi. Tapi hal itu benar-benar sulit dilakukan dalam keadaan seperti itu!

"Tingkat kepandaian dari masing-masing orang ini hanya setingkat atau dua tingkat di bawahku. Dua orang atau tiga orang saja rasanya sudah sulit bagiku untuk menghadapinya, apalagi empat orang sekaligus.. Tampaknya Giam Pit Seng juga akan mendapat kesulitan pula kali ini. Aku harus segera menolongnya keluar dari tempat ini." dalam keadaan terdesak Lo-jin-ong masih memikirkan anak buah nya.

Apa yang dikhawatirkan orang tua itu memang benar. Giam Pit Seng tak dapat berbuat banyak melawan Ang-kui. Iblis Merah itu memang berada jauh di atas kemampuan Giam Pit Seng. Walaupun sudah, berusaha sekuat tenaga mengerahkan Ilmu Hok-hong Siang-pitnya, tapi Giam Pit Seng masih juga di bawah angin. Bahkan satu demi satu pit-nya ter lepas dari tangan akibat gempuran Ang-kui. Demikianlah, dalam waktu yang hampir bersamaan Lo-jin-ong dan Giam Pit Seng berada dalam keadaan terancam jiwanya!

Sementara itu di dalam lubang perlindungannya Siau In tak bisa berbuat apa-apa. Dia tahu, apabila ia keluar dari tem pat itu, dia justru akan menambahi beban dan mempersulit keadaan gurunya. Dia hanya bisa menonton pertempuran be rat sebelah itu dengan perasaan tegang dan khawatir. Apalagi ketika ia melihat Ci-kui (Si Iblis Ungu) bebar-benar membantai Lim Kok Liang, Tong Tai-su dan pengawal Gui Ciangkun. Bahkan Iblis kejam itu juga membunuh Gui Ciangkun yang terluka, serta pemuda-pemuda pemenang sayembara yang pingsan tadi. Sekarang rombongan pemenang sayembara dan para perwira kerajaan itu benar-benar tertumpas tanpa sisa.

"Hong-jin... tinggalkan tempat ini!" tiba-tiba terdengar Lo-jin-ong berteriak ke arah Put-pai-siu Hong-jin.

Sekejap kemudian terdengar suara berdentang keras sekali, diikuti oleh berkelebatnya tubuh Lo-jin-ong ke arah Giam Pit Seng!

Dhieeeees! Tubuh orang tua itu seolah-olah membentur Ang-kui, yang sudah siap melepaskan pukulan terakhirnya kepada Giam Pit Seng!

Ang-kui terpental, sementara Lo-jin-ong juga terjatuh di samping Giam Pit Seng. "Pit Seng! Ayoh, kita pergi dulu mencari bantuan! Kita tak bisa menyelamatkan mereka!" Lo-jin-ong berteriak.

Giam Pit Seng menyambar lengan Lo-jin-ong, lalu bergegas bersama-sama melesat pergi dari tempat itu. "Bagaimana dengan Put-pai-siu Hong-jin?"

"Jangan takut! Orang gila itu banyak akalnya!" Lo-jin-ong menjawab sambil berkelebat menerobos semak belukar yang gelap.

Hek-kui, Pek-kui, Cing-kui dan Ui-kui, yang tadi mengeroyok Lo-jin-ong datang menolong Ang-kui. Ci-kui yang juga sudah menyelesaikan tugasnya, ber¬gegas menghampiri pula. Mereka melihat keadaan Ang-kui.

"Aku tidak apa-apa. Aku terpental karena kalah tenaga. Orang tua itu benar-benar kuat sekali!"

"Dia memang kuat dan cerdik luar biasa! Dalam keadaan terjepit dia bisa mengecoh kami berempat dan meloloskan diri! Lihat potongan tongkatnya ini! Dia mengorbankan tongkatnya untuk menahan serangan kami...!" Hek-kui menggeram marah.

"Ayoh kita kejar mereka!" Ui-kui berseru.

"Tidak perlu!" tiba-tiba pemimpin mereka yang sedang bertempur dengan Put-pai-siu Hong-jin itu berteriak. "Siapkan saja perahu kita! Kita segera berangkat setelah monyet tua ini mati"

"Mati...? Oh, enaknya! Sudah sepuluh tahun ini aku ingin mati, tapi tak seorang pun bisa membunuh aku, he-he-he! Apalagi hanya bocah ingusan seperti kau! II Oh-ho-ho-ho!"

Enam Hantu itu memandang ke arah pertempuran, dan mereka segera terbelak kaget. Dua orang yang sedang berlaga itu mengadu kesaktian sambil berbicara, seakan-akan mereka tidak bersungguh-sungguh. Padahal Enam Hantu itu melihat bagaimana seru dan hebatnya pertempuran mereka. Kongcu mereka yang berilmu sangat tinggi itu sudah menggunakan ilmu silat Ui-soa-pai tingkat tertinggi, campuran ilmu silat dan ilmu sihir! Ginkang yang digunakan juga ginkang tingkat terakhir dari Ui-soa-pai, yang disebut Hui-eng-cu-in (Bayangan Terbang di Atas Awan)! Mereka berenam tidak bisa mengikuti gerakan Kongcu mereka lagi, padahal mereka berenam juga mempelajari ilmu tersebut! '

Meskipun demikian ketika Enam Hantu itu memperhatikan Put-pai-siu Hong-jin, wajah mereka semua menjadi pucat pasi! Si Gila dari aliran Bengkau itu bersilat dengan gerakan-gerakan yang aneh dan mengerikan. Selain sikap dan bentuk gerakannya kelihatan kacau dan tidak beraturan, tenaga sakti yang mendukung gerakan tersebut juga tampak aneh dan tidak terkendali. Sepintas lalu seperti ada kekuatan lain yang menggerakkan kaki dan tangan itu selain Put-pai-siu Hong-jin. Kadang-kadang kuat luar biasa, sehingga Kongcu mereka seperti tak tahan menghadapinya. Tapi juga sering tampak lemah atau biasa-biasa saja, sehingga dengan mudah Kongcu mereka mengatasinya.

Jika tokoh seperti Enam Hantu itu saja merasa takjub, apalagi Tio Siau In! Pertempuran itu berlangsung tidak jauh dari tempat persembunyiannya. Meskipun demikian gadis itu tak mampu membedakan, yang mana Put-pai-siu Hong-jin dan yang mana pula pemimpin rombongan suku Hun itu. Mereka bertempur dengan cepat sekali, seperti bayangan yang saling membelit, melesat, dan berkelebatan ke sana ke mari. Bahkan menurut penglihatan Siau In, bayangan itu semakin lama menjadi semakin banyak. Rasa-rasanya tidak hanya dua orang yang bertempur, tapi lebih dari lima orang!

Memang benar apa yang disaksikan oleh Tio Siau In. Saat itu pemimpin rombongan dari suku Hun tersebut telah mengeluarkan Pat-sian-ih-hoat (Delapan Baju Dewa), sebuah ilmu silat andalan Ui-soa-pai yang telah dicampur dengan ilmu sihir! Pemimpin rombongan suku Hun itu seolah-olah telah memecah diri menjadi enam orang, yang masing-masing. dapat bergerak sendiri untuk menyerang Put-pai-siu Hong-jin! Akibatnya Si Gila dari Aliran Beng-kau itu seperti dikero¬yok enam orang sekaligus!

Tapi hanya beberapa saat Put-pai-siu Hong-jin terpengaruh dan terkecoh oleh ilmu sihir yang mengerikan itu. Justru menghadapi manusia sinting, yang jarang berpikir dengan otaknya seperti Put-pai-siu Hong-jin itu, segala ilmu sihir men¬jadi mentah dan mati kutu! Melihat la¬wannya berubah menjadi banyak dan- sa¬ngat membingungkan matanya, Put-pai-siu lantas berkelahi dengan mata terpejam. Karena Si Gila ini memang tak pernah peduli akan kematian, maka enak saja ia berbuat seperti itu. Ia hanya mengan¬dalkan perasaan, pendengaran, dan pen¬ciumannya saja untuk bertempur. Maka akibatnya bisa diduga, segala macam bentuk yang aneh-aneh dari lawannya, sa ma sekali tak mempengaruhi pikiran Put-pai-siu Hong-jin! Apalagi Si Gila dari A-liran Beng-kau itu kini mengeluarkan ilmu baru, hasil ciptaannya sendiri, yang ia beri nama Tiga Langkah Bulu Angsa! Ilmu silat inilah yang dilihat oleh Enam Hantu itu. Sebuah ilmu silat yang seolah-olah tidak dilakukan atau digerakkan sendiri oleh pelakunya.

"Monyet Tua! Ayoh, kita berkelahi! Jangan hanya menghindar ke sana ke mari!" pemimpin rombongan suku Hun itu menjerit marah.

Tangannya menghantam ke depan, ke arah pinggang Put-pai-siu Hong-jin yang sedang melayang turun ke tanah.

Tapi sebelum pukulan itu menyentuh sasaran, tubuh Put-pai-siu Hong-jin telah lebih dulu melayang pergi, bagaikan se¬lembar bulu angsa yang tertiup angin!

"Hohoho-haha... ada hitam ada putih Ada perempuan... ada lelaki! Ada lobang..... ada semut! Hohahohaaaa! Anak muda, kau tahu arti perkataanku?" mulut Put-pai-siu Hong-Jin mengoceh.

"Artinya... segala sesuatu yang tercipta di dunia ini tentu ada imbangannya. Contohnya...? Ilmu si-latmu tadi sangat aneh dan menakutkan. Aku percaya, kau tentu bisa menciptakan bentuk yang aneh-aneh dengan ilmu¬mu itu. Hehehe... tapi kalau lawanmu itu buta atau... memejamkan matanya, oh-ho-ho... apakah dia masih juga bisa me¬lihat? Huuuaaah-hahahaha! Konyol! Kon¬yol! Sungguh sebuah ilmu yang konyol!"

"Kurang ajar! Kubunuh kau, Monyet tua!" pemimpin rombongan dari suku Hun itu berteriak.

"Hei! Hei! Nanti dulu...!" Mendadak Put-pai-siu Hong-jin mengangkat tangan¬nya.

"Tampaknya kau benar-benar ingin mengadu nyawa! Ho-ho-ho, kalau begitu... sebutkan dulu namamu Jadi, hehehe... aku bisa menyebutkan namamu kalau suteku nanti bertanya kepadaku."

"Maksudmu...?"

"Sebutkan dulu namamu! Apakah kau anak kura-kura yang takut namamu diketahui orang?"

"Bangsat! Putera Raja Mo Tan tidak mengenal takut! Namaku Mo Hou! Sudah kaudengar, hei?"

"Kongcu...????" Enam Hantu itu ber¬desah kaget. .

"Hohoho... jadi kau ini putera Raja suku bangsa biadab Hun itu? Hahaha, ketahui¬lah...! Ayahmu itu sudah beberapa kali bertemu denganku, dan dia... takut seka¬li kepadaku! Hohohahaaaaaa! Pada perte¬muan yang terakhir... ho-hoha-ha... Ayah mu telah kukencingi punggungnya! Hoha-haaaha !!!". Put-pai-siu Hong-jin menutup ucapannya dengan tertawa terbahak-ba¬hak.

Saking marahnya Mo Hou justru tak bisa mengucap apa-apa. Kabut kebiruan kembali menyelimuti tubuhnya. Hanya ini lebih pekat, sehingga tubuh itu cuma kelihatan samar-samar dalam kegelapan malam.
Wuuuuuus! Mo Hou menerjang Put-pai-siu Hong-jin, Gerakannya cepat bukan main! Dari dalam lobang persembunyian¬nya Tio Siau In hanya melihat segumpal asap pekat, berwarna kebiruan, melesat ke arah Put-pai-siu Hong-jin! Dan dari gumpalan asap itu berkelebat pula caha¬ya berwarna kekuningan!
Tampaknya kali ini Put-pai-siu Hong-jin ingin menjajal kekuatan lawannya. Dia juga mengerahkan segala kekuatan¬nya dan menyongsong gempuran Mo Hou.

Plak! Plaaak! Siiiiiing...! Dhieeeeeees!

Dua bayangan tampak berlaga di uda¬ra, lalu masing-masing terpental ke be¬lakang! Bluuk! Mou Hou jatuh terlentang di atas pasir! Tangannya yang memegang kipas berwarna kuning keemasan itu menggeletar menahan sakit! Dah dari mulutnya mengalir darah segar! Sebalik¬nya, PUt-pai-siu Hong-jin yang membela¬kangi laut, terlempar ke udara, dan jatuh ke dalam gelombang air yang kebetulan menerjang pantai! Sebentar saja tubuh¬nya hilang dibawa ombak!

"Kongcu...!" Enam Hantu itu berge¬gas menghampiri Mo Hou.

"Cepat bawa aku pergi dari tempat ini! Aku terluka dalam!"

Keenam Hantu itu tak banyak bicara pula. Cepat-cepat mereka menggotong tubuh Mo Hou ke dalam perahu dan ber¬gegas meninggalkan pantai itu.

Sementara itu Tio Siau In masih te¬tap berada di lobang persembunyiannya. Meskipun perahu orang Hun itu sudah pergi, ia tetap belum keluar. Ia masih merasa khawatir kalau-kalau orang Hun itu kembali lagi. Baru setelah beberapa waktu kemudian suasana tetap lengang dan sepi, Siau In merangkak keluar dari lubang batu karang itu.

Kemudian gadis itu menarik keluar pemuda yang ditolongnya tadi dan mem¬bawanya ke tempat kering. Sekilas tam¬pak tatto gambar di dada pemuda itu.

"Oh, ya... akan kulihat! Apakah para pemenang sayembara yang lain itu juga memiliki tatto naga?" Siau In berkata di dalam hatinya.

Siau In lalu menghampiri mayat-ma¬yat yang bergelimpangan di pasir. Setiap menjumpai mayat para pemenang sayem¬bara, gadis itu memeriksanya dengan teliti.

"Hah... benar! Pemuda ini juga memiliki gambar naga di punggungnya!11 gadis itu berdesah lirih ketika membalikkan sebuah mayat yang mati terlentang.

"Ini juga...! . Ah, itu juga!" desisnya kemudian berkali-kali ketika meneliti mayat-mayat yang lainnya.

Ternyata persis dengan yang telah diduga Tio Siau In, semua pemuda yang memenangkan perlombaan Mengangkat Arca itu mempunyai gambar tatto naga di tubuh mereka. Hanya bentuk gambar dan tempatnya saja yang berbeda-beda. Ada yang di lengan, dada, perut, ping¬gang atau punggung. Sementara bentuk gambarnya ada yang lengkap, ada yang tidak. Ada yang hanya kepala naga saja, tapi ada juga yang dilukis penuh dari ke¬pala sampai ekor. Bahkan ada yang tidak cuma satu ekor saja, tapi dua ekor na¬ga sekaligus.

"Tidak mungkin kalau hal ini hanya satu kebetulan saja. Tampaknya pihak is¬tana secara rahasia memang bermaksud mengumpulkan para pemuda bertatto na¬ga di seluruh negeri dengan dalih Per¬lombaan Mengangkat arca. SebaliknyaRaja suku bangsa Hun tampaknya juga ikut ambil bagian pula di dalam urusan ini. Namun dengan tujuan yang berbeda, yaitu membasmi pemuda-pemuda bertat¬to naga itu. Sementara itu di pihak yang. lain lagi, Aliran Im-yang-kau juga meme-rintahkan seluruh cabang-cabangnya untuk mencari pemuda bertatto naga itu pula. Aaah, kalau memang demikian hal¬nya, pemuda itu tentu merupakan seo¬rang yang hebat sekali. Siapakah dia se¬benarnya...?" sambil mengawasi mayat-mayat yang berserakan itu Siau In men¬coba menduga-duga dan merangkai semua yang telah diketahuinya.

"Ooouugh...." .

Tiba-tiba gadis itu dikejutkan oleh suara erang kesakitan. Sesosok mayat yang ada di dekatnya sekonyong-konyong menggerakkan kaki dan tangannya. Ma¬lahan beberapa saat kemudian mayat itu bangkit dengan perlahan-lahan.

Dengan agak takut-takut Tio Siau In mendekati. Dengan seksama ditatapnya mayat yang kini telah duduk bersimpuh itu lekat-lekat. Dan akhirnya Siau In mengenali orangitu sebagai pembantu dari Lim Kok Liang, pemimpin pengawal rombongan pemenang, perlombaan tersebut.

Lelaki itu tidak lain adalah Su Hiat Hong, tahu bahwa dia terluka dalam. , Maka pertama-tama yang dia lakukan adalah duduk bersila dan mengerahkan tenaga sakti untuk mengobati luka-luka¬nya itu. Dan usaha itu dilakukannya berulang-ulang.

Setelah rasa sakit itu hilang dan alir¬an darahnya menjadi normal kembali, Su Hiat Hong membuka matanya. Dan ia benar-benar kaget sekali melihat Siau In di depannya.

"Nona... Nona siapa?" ujarnya dengan suara cemas.

Siau In mencoba tersenyum. "Tuan tidak usah khawatir. Saya kebetulan le¬wat di tempat ini dan melihat keributan yang baru saja berlalu. Tapi maaf, saya sama sekali tak berani keluar untuk membantu. Saya sadar bahwa saya tak mungkin bisa melawan mereka. Ah, apa¬kah Tuan sudah merasa baik kembali?"

"Oooli...! Su Hiat Hong bernapas lega. "Terima kasih. Kulitku memang tidak terluka, tapi bagian dalam dari tubuhku rasanya hancur, semua. Aku harus lekas-lekas mencari tabib yang pandai untuk menyembuhkannya. Nona, maukah kau menolong aku?"

Salah seorang dari rombongan Tuan juga masih hidup walaupun terluka parah pula. Tapi... mana ada tabib pandai di sekitar tempat ini?"

"Ohh, benarkah ada temanku yang la¬in yang masih selamat?" Su Hiat Hong berdesah gembira.

"Ya! Pemuda itu saya tinggalkan di dekat batu karang itu."

"Ooo...!" Su Hiat Hong berdesah kem¬bali, tapi sekarang dengan suara sedikit kecewa. Sebenarnya ia berharap yang se¬lamat itu adalah Lim Kok Liang, saha¬batnya, tapi ternyata bukan.

Namun demikian petugas dari istana kerajaan itu cepat berkata lagi. "Bagai¬mana, Nona? Apakah kau mau menolong kami? Dua lie dari tempat ini tinggal seorang tabib yang sedang mengasingkan diri."

Siau In tidak segera menjawab. Sebe¬narnya ia ingin cepat-cepat kembali ke kota untuk menemui kakak dan suhengnya. Tapi orang-orang ini amat butuh bantu¬annya pula.

"Baiklah...!" akhirnya ia menyanggupi. "Tapi bagaimana cara kita pergi ke ta¬bib itu? Bukankah Tuan belum dapat berjalan? Lalu... bagaimana pula dengan mayat-mayat ini?"

Wajah yang pucat itu tampak lega. "Nona tidak usah khawatir. Aku mempu¬nyai sampan kecil, yang kusembunyikan di celah-celah batu karabg besar itu!" katanya sambil menunjuk ke arah yang ia maksudkan.

"Dan... tentang mayat-mayat ini, Nona juga tidak perlu khawa- | tir. Pagi nanti, sepasukan prajurit keraja- I an akan meronda ke mari."

"Ooh...!" Siau In mengangguk lega pula. Tapi tiba-tiba keningnya berkerut. "Tapi kalau kita bersampan... bisa berte¬mu dengan orang-orang Hun itu!"

"Jangan khawatir, Nona. Lapat-lapat ; kudengar mereka tadi menuju ke utara, sedang tujuan kita adalah ke selatan." dengan cepat Su Hiat Hong memberi ke¬terangan.

"Baiklah, kalau begitu aku akan mengambil sampannya...."

"Terima kasih, Nona. Terima kasih..." akan tetapi sebelum berangkat mengambil sampan Tio Siau In menengok pemuda yang ditolongnya tadi lebih dahulu. Dili¬hatnya pemuda itu telah sadar pula, mes kipun keadaannya tampak lebih parah dari pada Su Hiat Hong. Namun kelihatannya pemuda itu memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa. Pemuda itu tidak terke¬jut melihat dirinya. Pemuda itu justru tersenyum, walaupun senyumnya lebih menyerupai seringai kesakitan daripada senyum kegembiraan.

"Siapa namamu...?" Tio Siau-In perlahan.

"A Liong...." pemuda itu menjawab singkat.

"Kau mau kubawa ke tabib?"

Lagi-lagi pemuda itu tersenyum, ke¬mudian menganggukkan kepalanya. Wajah¬nya yang pucat pasi itu tampak pasrah.

"Kalau begitu tunggulah di sini seben¬tar. Aku akan mengambil sampan untuk membawamu pergi. Nah... kuatkanlah ha¬timu!" Tio Siau In menepuk lengan A Liong, kemudian berlalu.

Dengan mengikuti arah yang telah ditunjukkan oleh Su Hiat Hong,. Siau ln mencoba mencari sampan tersebut.. Ter¬nyata tidak sulit untuk mendapatkannya. Sampan itu hanya tersuruk di antara celah-celah batu karang yang banyak ber¬tonjolan di tepi pantai. Lengkap dengan dua batang kayu pendayungnya.

Su Hiat Hong semakin kelihatan ber¬semangat melihat kedatangan Tio Siau In bersama sampannya. Dengan agak ter¬tatih-tatih ia melangkah ke dalam sam¬pan, sementara Tio Siau ln membantu A Liong yang tidak bisa berjalan sendiri. Pemuda tanggung itu terpaksa berpegang an pada lengan Siau In. Dan gadis can¬tik itu sama sekali tidak merasa risih.

Malam semakin larut, bahkan embun pagi sudah mulai turun pula ke bumi. Semakin lama embun itu semakin tebal sehingga dari jauh seperti awan tipis yang turun perlahan-lahan menyelimuti bumi. Dengan susah payah Tio Siau In mendayung sampan itu menyusuri pantai. Dan dua lie kemudian ia sampai ke se¬buah ceruk atau teluk kecil yang dikeli¬lingi tebing pantai yang menjulang ting¬gi ke atas, sehingga ceruk yang mem-punyai dataran sempit itu seolah-olah merupakan dasar jurang yang terbuka ke arah laut.

Tio Siau In melihat- sinar lampu mi¬nyak berkedip-kedip di tengah-tengah da¬taran sempit tersebut. Dan ketika sam¬pan itu datang semakin dekat, Tio Siau In melihat sebuah rumah kecil di antara rimbunnya pepohonan. Ternyata cahaya lampu yang dilihatnya itu keluar dari sa¬lah sebuah jendelanya yang terbuka.
"Kita telah sampai ke rumahnya, No¬na. Marilah kita ke pinggir." Su Hiat. Hong berkata lega.

Tio Siau ln mendayung . sampan itu ke pinggir. Diam-diam perasaannya me¬rinding juga. Rumah di tempat yang sa¬ngat terasing itu kelihatan menyeram¬kan di malam hari.

"Siapakah tabib itu sebenarnya...? Mengapa ia memilih tempat yang sepi seperti ini?" tanyanya lirih kepada Su Hiat Hong.

Petugas kerajaan itu menghela napas, panjang. Raut mukanya yang pucat itu tampak suram, sementara matanya ber¬kaca-kaca mengawasi rumah kecil di tempat terasing itu.

"Dia sebenarnya seorang bekas praju¬rit kerajaan pula. Bahkan antara dia dan aku bersahabat erat sekali, meskipun tu¬gas kami berbeda. Pertama kali kami bertemu, dia bertugas di bagian kesehat¬an dan perawatan prajurit yang terluka, sedangkan aku bertugas di bawah bende¬ra pasukan berkuda. Karena luka-lukaku yang parah aku pernah dirawat oleh dia. Tapi aku juga pernah menyelamatkan dia ketika markas kami diserang musuh."

Mata Su Hiat Hong menerawang jauh, teringat akan pengalamannya di masa lalu. Tapi mata itu segera berkaca-kaca ketika bayangan seorang sahabatnya yang lain, yaitu Lim Kok Liang, ikut berkele¬bat di depan matanya.

"Alangkah malangnya dia. Seorang perwira yang telah banyak berjasa kepada negara, tapi pada saat kematian-nya tak seorang pun yang merawat jena¬zahnya." keluhnya dalam hati, menyesali kematian Lim Kok Liang.

"Lalu... kenapa dia sekarang tinggal di tempat seperti ini, Paman?" Siau In yang merasa kasihan kepada Su Hiat Hong itu kini menyebutnya Paman.

Su Hiat Hong seperti disentakkan dari lamunannya yang hanya sesaat itu.

"Aaaah... ya, dia... dia akhirnya di¬pindahkan ke istana. Sementara aku ju¬ga dipindahkan ke Pasukan Rahasia. Ka¬rena kepandaiannya mengobati orang, sa¬habatku itu lalu diambil oleh mendiang Pangeran Liu Yang Kun ke istana priba¬dinya. Dia diangkat sebagai perwira dan ditunjuk sebagai tabib pribadi dalam ke¬luarga Pangeran Mahkota itu. Tapi...."

"Tapi... bagaimana, Paman?" kejar Tio Siau In.

"Yah... ternyata keberuntungannya itu tak berlangsung lama. Seperti yang mung kin telah kaudengar pula, Pangeran Liu Yang Kun itu mendadak hilang setelah upacara pemakaman Kaisar Liu selesai.

Bahkan tidak cuma itu. Ternyata keluar¬ga Pangeran Liu Yang Kun dan istana pribadi beliau, beberapa hari kemudian juga ikut musnah pula dimakan api. Sa¬habatku yang sudah terlanjur meng.isihi keluarga itu menjadi sedih dan keliM.ing-an gairah hidup. Dia yang memang injak mempunyai keluarga lagi lalu pergi me¬nyepikan diri ke tempat sunyi ini. Hsnva aku yang diberi tahu kepergiannya. Dan secara diam-diam akii pernah mengun¬junginya di tempat ini. Tapi itu telah bertahun-tahun yang lalu. Entahlah, seka¬rang aku tak tahu bagaimana keadaan¬nya...." Su Hiat Hong dengan nada sedih mengakhiri ceritanya.

Tio Siau In tidak bertanya lagi. Sam¬bil mengayuh dayungnya gadis itu juga sedang terbuai oleh lamunannya. Entah mengapa cerita Su Hiat Hong itu tiba-tiba juga mengingatkan keadaannya sen-diri. Gadis itu teringat kepada kakaknya, Tio Ciu In. Kakaknya itu tentu sedang kebingungan mencari dirinya.

"Aku tidak memiliki sanak saudara lagi selain CicLCui ln. Saat ini dia tentu sangat sedih dan menangisi kepergianku. Aaaah... aku harus cepat-cepat kembali selesai mengantar orang-orang ini." kata¬nya di dalam hati.

Seperti ada seutas benang yang meng¬hubungkan dua pikiran mereka, ternyata pada saat yang sama di kota Hang-ciu Tio Ciu In juga sedang memikirkan Siau ln pula. Semaian Ciu In bersama-sama dengan Liu Wan telah berhasil mempo-rak-por ndakan upacara yang diadakan oleh para pendeta Pek-hok-bio. Namun Ciu In menjadi kecewa dan cemas kare¬na gadis yang mereka bebaskan dari upa¬cara korban itu ternyata bukan Siau In. Untunglah Liu Wan pandai menghiburnya. Pemuda itu mengajaknya ke kota untuk beristirahat dulu.

Mereka menyewa kamar sendiri-sen¬diri di sebuah penginapan. Dan Liu Wan yang kelelahan sehabis bertempur dengan musuh-musuhnya itu segera tertidur di kamarnya, sementara Ciu In sendiri tidak bisa memicingkan matanya. Gadis itu melamun di atas pembaringannya.

Tengah malam tadi,~ ketika di. Tepi pantai Siau In menyaksikan pertempuran antara rombongan petugas kerajaan dan orang-orang Hun, maka di Kuil Pek-hok-bio Ciu In justru sedang bertempur me¬lawan para pendeta Pek-hok-bio pula de¬ngan sengitnya.

Seperti yang telah direncanakan, Liu Wan mengajak Tio Ciu ln ke Pek-hok-bio menjelang tengah malam. Karena so¬re harinya mereka telah didatangi anak buah Pek-hok-bio, maka Liu Wan tidak berani sembarangan memasuki sarang macan itu. Pemuda itu yakin bahwa ku¬il Pek-hok-bio tentu telah dijaga dengan ketatnya. Pagar, halaman, atap-atap ba¬ngunan, pepohonan, tentu tidak luput da¬ri pengawasan mereka.

"Kita harus mencari jalan yang baik supaya mereka tidak tahu kalau kita te¬lah menyusup ke dalam sarang mereka. Tapi... bagaimana caranya?" sebelum sampai di tempat tujuan Liu Wan men¬jadi bingung.
"Kita lewat melalui pagar belakang?" Ciu Itl mengusulkan.

"Wah... tidak mungkin. Segala tempat tentu telah dijaga. Kita tidak mungkin menerobosnya tanpa ketahuan."

"Mengapa tidak kita dobrak saja se¬kalian pintu halamannya?" Ciu In yang sangat mengkhawatirkan keselamatan adiknya itu menjadi tidak sabar.

"Wah, itu lebih konyol lagi. Upacara korban yang akan mereka laksanakan tentu menjadi batal, dan mereka tentu akan menyembunyikan gadis korbannya. Kita akan sulit mencarinya nanti."

"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tio Ciu In menjadi gelisah dan hampir menangis.

Liu' Wan tersenyum. Dengan sabar dan penuh perhatian pemuda itu membesar¬kan hati Ciu In.
""Jangan cemas. Aku telah' mendapat¬kan akal yang bagus." katanya halus.

Tio Ciu In mengerling dengan bibir cemberut. "Twako memang suka menggo¬da aku. Kalau memang sudah tahu jalan¬nya, mengapa tidak dikatakan sejak ta¬di?" sergahnya dengan kesal.

"Eeee, jangan keburu marah dulu No¬na Cantik! Aku tidak bermaksud menggoda. Aku hanya ingin mengetahui penda¬pat mu. Yah, siapa tahu...!" Tiba-tiba " pandangan mata Liu Wan meredup sam¬bil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sebagai gadis yang telah menginjak dewasa, Ciu In tahu arti pandangan pe¬muda itu. Pandangan kagum seorang lelaki terhadap wanita.

"Jangan memandangku seperti itu, Twako. Ngeri aku melihatnya." Gadis itu berdesah lirih sambil menundukkan mukanya.

"Amboi...! Sungguh beruntung sekali Suhengmu itu, bisa mendapatkan bidadari sedemikian cantiknya. Aku benar-benar iri kepadanya. Bertahun-tahun aku berke¬liling ke seluruh pelosok negeri, naik gunung turun gunung, keluar masuk dusun dan kota, namun belum pernah juga ber-temu bidadari. Tak tahunya bidadari itu sudah ada yang punya. Maaf, Ciu-moi... maafkan aku."

"Ngaco! Siapa bilang aku sudah ada yang punya? Aku dengan Suheng..." tiba-tiba Ciu In menutup mulutnya. Kulit mu¬kanya yang: putih mulus itu mendadak berubah menjadi merah padam.

"Kau... kau memang suka menggoda aku!" akhir¬nya ia bersungut-sungut kesal sambil membuang mukanya. "Ciu-moi...."

"Sudah! Aku tak mau bicara lagi de¬nganmu! Twako jahat!"

Selesai bicara Tio Ciu In berlari me¬ninggalkan Liu Wan.

"Eeee... Ciu-moi! Ciu-moi! Tunggu ...!" Liu Wan berseru memanggil.

Tapi Ciu In tak ambil peduli lagi. Gadis cantik itu tetap berlari terus, se¬hingga Liu Wan menjadi khawatir juga akhirnya. Pemuda itu cepat mengejar.

"Tunggu Ciu-moi! Apakah kau tidak jadi menolong Adikmu?" pemuda itu ber¬seru.

"Biar. Aku akan menolongnya sendiri." Ciu In menjawab ketus, tanpa mengen-dorkan langkahnya.
"Bagaimana engkau akan menolong Adikmu? Akan menerobos penjagaan me¬reka? Atau kau akan nekad mendobrak¬nya dari pintu depan? Ingat, Ciu-moi! Jangan gegabah! Sekali kau gagal, kau takkan dapat menemukan Adikmu lagi!" Liu Wan memperingatkan.

Sejenak Ciu In masih tetap berlari. Namun sesaat kemudian gadis itu seko¬nyong-konyong berhenti. Sambil menutupi mukanya gadis itu tersedu-sedu. Tampak¬nya ucapan Liu Wan tadi amat mengena di hatinya.

Dengan hati-hati Liu Wan mendekati. Disentuhnya pundak Ciu In dengan halus, tapi gadis itu cepat menghindarinya. Tapi Liu Wan tidak berputus asa. Sekali lagi diraihnya pundak Ciu In sambil tak lupa mulutnya menghibur. Dan kali ini gadis itu tidak mengelak lagi.

"Maafkanlah aku kalau aku kesalahan omong, Ciu-moi. Aku tak bermaksud menggoda atau mengganggumu. Aku ha¬nya mengatakan apa yang ada, yang tadi kebetulan terlintas di dalam hatiku. Aku bukan seorang munafik. Bukankah aku sudah pernah mengatakan bahwa aku se¬orang yang sangat menyenangi keindahan? Dan aku memang tidak bohong atau berpura-pura ketika mengatakan kau sa¬ngat cantik bagai bidadari. Engkau memang benar-benar seperti bunga pek-lian (teratai putih) yang mekar segar di pa¬gi hari. Indah, anggun, dan mengandung perbawa yang memukau. Nah, Ciu-moi... tidak sadarkah kau akan karunia Thian yang diberikan kepadamu itu? Bukankah setiap hari kau juga melihatnya sendiri di dalam kaca?" dengan panjang lebar pemuda yang mahir menyusun sajak itu menghibur Ciu In.

Gadis mana yang tak suka disanjung dan dipuja di dunia ini? Akhirnya luluh juga hati Tio Ciu In. Bahkan diam-diam gadis itu merasa bangga juga hatinya.

"Aku tahu, Twako. Tapi kau tak per¬lu mengatakan semuanya itu kepadaku. Aku malu. Apalagi kau lalu menghubung-hubungkannya dengan Suhengku. Aku sa¬ma sekali tak mempunyai hubungan apa-apa dengan Sin Lun Suheng selain hubung an sebagai saudara seperguruan."

"Baiklah... baiklah, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya kepadamu. Aku berjanji takkan mengulanginya lagi. Nah, kau puas Nona Cantik?"

"Itu... kau sudah mulai lagi!" Geram

Ciu In dengan suara tinggi.

Liu Wan terbelalak kaget seperti o-rang yang terlanjur makan sayur kepanasan.

"Ah, benar... benar. Mulutku ini me¬mang keterlaluan!" serunya kemudian sambil menampari sendiri mulutnya yang usil itu. Suaranya plak-plok menggelikan.

"Sudah... sudah kauhentikan tangan¬mu itu! Kau memang lelaki konyol dan menggemaskan!" akhirnya tak tahan juga Ciu In melihatnya. "Sekarang lebih baik kaujelaskan saja rencanamu untuk me¬masuki Kuil Pek-hok-bio itu!"

Liu Wan mematuhi perintah Tio Ciu In. Telapak tangannya yang semula me¬nampari pipi dan mulutnya sendiri itu kini ganti mengelus-elusnya. Ternyata pipi itu telah berubah menjadi merah juga. Sambil tersenyum malu pemuda itu memandang Ciu In.

Mereka berada di jalan setapak di mana keduanya mulai berjumpa kemarin. Bahkan tempat di mana mereka sekarang berdiri adalah di bawah pohon di mana Ciu In kemarin menangis.

"Hei, jangan bengong saja! Lekas ka¬takan, bagaimana rencanamu?" Ciu In menghardik, sehingga Liu Wan tersentak kaget untuk yang kedua kalinya. Pemu¬da itu benar-benar sedang kesengsem melihat kecantikan Ciu In.

"Gila...!" pemuda itu mengumpat di dalam hati. "Mengapa aku begini pusing melihat kecantikannya? Bukankah aku baru kenal kemarin siang? Bukan main! Gadis ini sungguh memiliki daya tarik yang luar biasa. Aku toh sebenarnya bu¬kan anak dusun' yang masih ingusan, yang terkagum-kagum melihat kecantikan gadis kota. Aku sudah terbiasa dikeli¬lingi gadis-gadis cantik. Bahkan kalau mau ' aku bisa mengambil sebanyak aku suka. Tapi sekali ini benar-benar lain. sungguh luar biasa.

"Hei...? Kau ini bagaimana, sih?" Se¬kali lagi Ciu In membentak dengan suara yang sangat mendongkol.
"Eh, anu... ya-ya, aku akan menyamar seperti... seperti bidadari! Lhoh!" Liu Wan yang masih kehilangan semangat itu menjadi gugup sehingga ucapannya jungkir-balik tidak keruan. Dan pemuda itu menjadi kaget sendiri setelah menyadari nya.

Tio Ciu In tak bisa menahan senyum¬nya. Bahkan gadis molek itu akhirnya tak kuasa menahan ketawanya. Liu Wan me¬mang benar-benar seperti pemuda dusun yang baru pertama kalinya melihat ke¬cantikan gadis kota.

Akhirnya sadar juga pemuda itu dari belenggu keindahan yang memukaunya.

"Maaf, Ciu-jnoi. Aku mempunyai ren¬cana untuk menyusup ke dalam upacara keagamaan mereka dengan menyamar. Kita berdua berdandan sebagai salah se¬orang dari penganut aliran mereka.",

"Apakah mereka tidak akan mengenal kita? Dalam upacara penting seperti ini tentu hanya anggota-anggota yang telah dikenal saja yang boleh hadir." Ciu In menanggapi.

Liu Wan tersenyum, dan pemuda itu memang ganteng sekali kalau, tersenyum.

"Tentu saja, Ciu-moi. Kita pun harus memilih pula dalam menyamar/1 katanya dengan nada yakin.

"Bagaimana caranya?"

Sekali lagi Liu Wan tersenyum. "Ma¬af, Ciu-moi. Sebenarnya aku sudah mem¬persiapkan rencana itu jauh sebelumnya. Aku sudah menyelidiki siapa-siapa saja penduduk kota ini yang menjadi pengikut aliran- Pek-hok-bio. Nah, untuk melaksa¬nakan rencana kita ini aku telah menyu¬ruh Lo Kang dan Lo Hai ke kota sore tadi. Sekarang kita tinggal menantikan khabar dari mereka. Marilah kita ke ja¬lan raya menunggu kedatangan mereka!"

Tio Ciu In merengut karena merasa dibohongi

"Huh, kau tadi mengatakan bahwa belum mempunyai rencana apa-apa. Ternyata . kau sudah mempersiapkannya jauh-jauh sebelumnya. Huh, mengapa tak kau¬katakan sejak tadi?" sungut gadis itu jengkel.

"Eeee... jangan marah dulu! Aku tidak bermaksud mempermainkanmu." Liu Wan buru-buru memberi keterangan, "Aku ha¬nya ingin mengetahui pendapatmu. Siapa tahu kau memiliki rencana yang lebih bagus daripada rencanaku? Kalau aku buru-buru mengatakan rencanaku, kau tentu tak mau mengatakan pendapatmu. Kau tentu akan mengikut saja apa per¬kataanku. Benar tidak?"

Tio Ciu In .mengerlingkan matanya dengan gemas. Pemuda di hadapannya itu memang pintar berbicara dan meng¬ambil hati wanita.

"Baiklah... baiklah, Tuan Muda. Kau memang baik. Baik sekali. Nah, kalau begitu mau tunggu apalagi? Ayoh, kita pergi...!" katanya gemas.

Mereka lalu berjalan berendeng di ja¬lan setapak yang cukup gelap itu. Sinar rembulan terhalang oleh rimbunnya deda¬unan yang memayungi jalan tersebut, membuat bayangan-bayangan hitam di permukaan tanah. Namun demikian kedua jago silat itu tidak menjadi takut atau merasa kesulitan karenanya.

Dari jauh terdengar lonceng dua be¬las kali. Mereka telah sampai di jalan raya yang menuju ke kuil Pek-hok-bio. Di tempat yang cukup terlindung mere¬ka berhenti.

"Kita tunggu saja di -tempat ini. Mudah-mudahan Lo Kang dan Lo Hai berha¬sil." Liu Wan berbisik di telinga Ciu In, tapi buru-buru menjauhkah diri lagi" ke¬tika hidungnya tiba-tiba membaui bau harum rambut gadis itu.

"Kau suruh apa sebenarnya kedua pembantumu itu, Twako?" Ciu In yang tidak menyadari kalau dirinya baru saja membuat Liu Wan kembali kesengsem kepadanya itu berbisik perlahan pula di dekat telinga Liu Wan.

"Aku... aku suruh mereka mencegat kereta Cia Wan-gwe yang tentu diundang pula dalam upacara korban ini. Cia Wan-gwe adalah salah - seorang penganut Pek-hok-bio yang dihormati. Kalau Lo Kang dan Lo Hai nanti berhasil, kita berdua akan menyamar sebagai Cia Wan-gwe suami isteri. Wajahmu akan kuperjelek sedikit agar seperti wajah bini muda Cia Wangwe." Liu Wan menerangkan dengan suara sedikit gemetar.

"Eh, mengapa justru diperjelek? Ma¬sakan seorang hartawan kaya-raya seper¬ti Cia Wan-gwe mencari isteri muda yang wajahnya jelek?" Ciu In bertanya bingung.

Liu Wan tersenyum kecut. "Yaaah, kata orang istri muda Cia Wan-gwe itu memang cantik, karena dia adalah pena¬ri termashur di kota Hang-ciu ini. Ta¬pi... kalau dibandingkan dengan wajah¬mu, yaaa... ketinggalan, jauh!" katanya kemudian dengan suara-agak takut-takut.

Hampir saja Tip Citiphi merasa hen¬dak dipermainkan lagi. Tapi. kemudian, terpandang olehnya wajah Liu Wan yang bersungguh-sungguh, pipinya justru men¬jadi merah.

"Hei... itu suara kereta!" tiba-tiba Liu Wan berseru perlahan.

Dari jauh tampak sebuah kereta ku¬da merayap pelan-pelan menuju ke arah mereka. Sebuah kereta yang cukup bagus dan terawat baik, ditarik oleh dua ekor kuda besar-besar. Dua orang pengendara atau sais tampak duduk di bagian depan mengendalikan kuda-kuda itu. Dan mes¬kipun dalam penyamaran, Liu Wan sege¬ra mengenal dua sais kereta itu sebagai Lo Kang dan Lo Hai.

"Ah... mereka berhasil menculik Cia Wan-gwe. Nah, Ciu-moi... marilah kita songsong mereka. Kita berdandan di da¬lam kereta saja nanti."

Selesai bicara Liu Wan Gwe segera bersiul untuk memberi tanda kepada ke¬dua pembantunya bahwa - dia berada di tempat itu. Dan ternyata kedua orang bisu itu benar-benar amat setia dan ter¬latih sekali. Tanpa menimbulkan kecuri¬gaan kereta itu mereka hentikan di ba¬wah pohon siong yang rindang. Sambil turun dari kereta dan seolah-olah meme¬riksa kendali kudanya, kedua orang bisu itu memberi kesempatan kepada Liu Wan dan Tio Ciu In untuk naik ke dalam ke¬reta secara diam-diam.

Setelah yakin majikan mereka telah berada di dalam kereta, Lo Kang dan Lo Hai lalu berpura-pura pula memerik¬sa roda-roda keretanya.

"Lo Kang... Lo Hai, berilah aku wak¬tu barang sekejap! Aku dan Nona Tio akan berdandan dulu... sebagai Cia * Wan-gwe." Liu Wan berpesan kepada pemban¬tunya.

"Ah... bagaimana... bagaimana akuharus berdandan? Aku belum pernah me¬lihat wajah bini muda Cia Wan-gwe." Ciu In bertanya dengan air muka kemerah-merahan.

Ternyata Liu Wan menjadi kikuk ju¬ga. Pemuda yang sebenarnya sudah amat terbiasa berhubungan dengan wanita itu kini ternyata bisa menjadi salah tingkah pula menghadapi gadis ayu seperti Ciu In.

"Ciu-moi, aku... eh... kalau boleh... anu... biarlah aku merias dan memoles sedikit wajahmu, agar mirip dengan bini muda Cia Wan-gwe. Tentang bentuk ba¬dan dan pakaiannya, kau nanti tinggal memberi ganjal sedikit pada dada dan perut, kemudian menutupnya dengan pa¬kaian mewah yang telah kusediakan. Kau akan kelihatan agak gemuk dan pendek." dengan nada gemetar pemuda itu mem¬berikan keterangan. '

Seketika kulit yang putih halus itu menjadi merah seperti udang direbus. Kalau mukanya dirias, hal itu berarti membiarkan jari-jari tangan pemuda itu memegang dan mengusap-usap wajahnya.

Untuk sesaat lamanya Tio Ciu In tak bisa menjawab atau bersuara. Hatinya menjadi bimbang dan bingung luar biasa. Namun ketika kemudian terbayang wajah adiknya yang ia kasihi, hatinya pun lalu menjadi bulat. Biarlah dirinya berkorban sedikit demi keselamatan adiknya.

"Ba-baiklah...." katanya kemudian de¬ngan suara seret hampir-hampir tak ter¬dengar.

Tampaknya Liu Wan tahu juga bahwa sebenarnya Tio Ciu In agak merasa ke¬beratan dirias wajahnya. Oleh.karena itu dengan cepat, bahkan dengan kesan ter¬gesa-gesa tangannya yang trampil itu merias wajah Cui In. Meskipun demikian ketika' jari-jarinya menyentuh dagu Cui In yang mungil itu, keringat dingin tiba-tiba seperti membanjiri tubuhnya. Apala¬gi ketika mata yang bulat berpendar-pendar indah itu untuk sesaat menatap dirinya, kontan jari-jarinya menjadi ge¬metar sehingga alat riasnya nyaris jatuh dari tangannya.

Ternyata kegugupan Liu Wan itu sedikit banyak menular juga kepada Ciu In.

Ternyata kegugupan Liu Wan itu se¬dikit banyak menular juga kepada Ciu In. Ketika ujung-ujung jari Liu Wan yang penuh bedak itu menyentuh dan meng¬usap pipinya, tiba-tiba Ciu. In merasa jantungnya berhenti berdetak. Kaki dan tangannya terasa dingin sekali. Apalagi ketika hembusan napas pemuda itu me¬nerpa wajahnya, mendadak tubuhnya se¬perti gemetaran dan seakan mau mela¬yang ke udara.

"Se-selesai... Ciu-moi. Kau... kau se¬karang boleh mengenakan baju luar yang mewah ini. Kau... kau tak perlu berganti pakaian." Akhirnya Liu Wan dapat ju¬ga menyelesaikan tugasnya.

Kemudian sementara Tio Ciu In me¬nyelesaikan sendiri dandanannya, Liu Wan juga memolesi wajahnya agar sesu¬ai dengan wajah Cia Wan-gwe. Begitu mahirnya pemuda itu menyamar sehing-ga sebentar saja wajahnya telah berubah menjadi gemuk dan tua seperti halnya Cia Wan-gwe.

"Nah, kita sekarang telah menjadi Cia Wan-gwe suami isteri." pemuda itu berkelakar. Lalu serunya kepada Lo Kang dan Lo Hai di luar, "Lo Kang... Lo Hai, sekarang kita pergi ke Kuil Pek-hok-bio."

Tio Ciu In berdebar-debar juga hati¬nya. Baru sekarang ini dia memperoleh pengalaman yang mendebarkan, namun juga mengasyikkan pula. Otomatis pera¬saannya menjadi tegang, takut kalau pe¬nyamarannya tidak berhasil dan diketahui oleh lawannya.

"Jangan takut! Tenang-tenang saja. Paling-paling kita berkelahi, bukan? Apa¬kah kau takut berkelahi?" Liu Wan yang merasakan ketegangan Ciu In mencoba mengendorkannya.

Dan ucapan Liu Wan itu memang me¬ngenai sasarannya. Semangat dan kebera¬nian Ciu In seperti terungkat kembali.

"Huh, mengapa mesti takut? Tadi pun aku sudah mengajak Twako untuk meng¬gebrak sarang mereka dari pintu depan!" kata gadis ayu itu panas.

Liu Wan tertawa perlahan. Tapi sua¬ranya segera terhenti ketika pintu jende¬la kereta itu diketuk dari luar.

"Ada apa Lo Kang... Lo Hai?" pemuda itu membuka jendela kereta seraya bertanya kepada pembantu-pembantunya.

Kedua orang bisu itu tak memberi jawaban, hanya tangan Lo Kang yang menyodorkan sesobek kain putih bertulis-kan huhuf-huruf yang panjang. Liu Wan cepat menyambar sobekan kain tersebut dan membaca huruf-hurufnya Kalau Penjaga menanyakan undangan, sebutkan saja sebuah angka ganjil.

“Ada apa, Twako? Apa yang ditulis di situ?" Tio Ciu In mendesak. Liu Wan menghela napas panjang sambil terse¬nyum gembira. Sobekan kain itu dia per¬lihatkan kepada Tio Ciu In.

"Kode rahasia mereka. Nanti kalau penjaga pintu menanyakan undangan, kita harus menjawab dengan angka ganjil." pemuda itu menerangkan.

"Ah, sungguh teliti juga mereka...." Tio Ciu In berdesah.

Akhirnya kereta itu membelok ke ki¬ri dan memasuki halaman depan Kuil Pek hok-bio. Sepuluh orang anggota Pek-rhok-bio segera berjajar menghalangi kereta. Mereka tidak'kalah garang dengan orang-orang yang datang di rumah Liu Wan sore tadi. Semua memegang golok.

"Berhenti! Apakah Tuan membawa un¬dangan?" salah .seorang di antara mere¬ka berseru.

Liu Wan yang sudah menyamar seba¬gai Cia Wan-gwe itu melongokkan kepa¬lanya keluar jendela.

"Kami mendapat... lima buah undang¬an!" jawabnya mantap.

"Oooh, Cia Wangwe rupanya! Silakan! Silakan...!" orang itu berseru lagi, namun dengan suara yang lebih ramah.

Dengan tenang Lo Kang dan Lo Hai membawa kereta tersebut ke depan pen¬dapa. Diam-diam mata mereka melirik ke sana ke mari ketika Liu Wan dan Tio Ciu In turun dari kereta dan melangkah menaiki tangga pendapa itu. Belasan orang penjaga tampak, berdiri berderet-deret di kanan kiri pintu masuk. Dan se¬orang pendeta berjubah kuning berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan para undangan.

"Nah... ini dia Cia Wan-gwe! Silakan masuk! Kami kira Cia Wan-gwe berha¬langan datang...." pendeta itu menyam¬but kedatangan Liu Wan.

Liu Wan tidak menjawab. Pemuda itu hanya tersenyum sambil membungkukkan badannya untuk membalas penghormatan Tuan rumah, sementara -Tio Ciu In de¬ngan hati berdebar-debar mengikuti saja langkah Liu Wan. Mereka segara dian¬tar ke tempat pertemuan, di mana para undangan yang lain telah duduk berkum¬pul- mengelilingi sebuah panggung kecil yang dihiasi dengan kertas dan bunga-bungaan yang indah dan meriah.

Sekejap wajah Tio Siau In menjadi tegang. Matanya yang lebar indah itu . menatap tajam ke arah panggung. Ia I ingin mencari di mana adiknya itu di¬tempatkan. Demikian tegangnya sehing¬ga ia tak sempat membalas anggukan kepala atau sapaan ramah dari tamu-tamu yang lain.

Gadis itu baru sadar ketika Liu Wan meremas pergelangan tangannya. Gadis itu baru sadar ketika Liu Wan meremas pergelangan tangannya.

"Sabar sedikit, Ciu-moi. Ia baru dike¬luarkan pada, upacara puncak nanti." pe¬muda itu berbisik halus seperti tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Ciu In.

Untunglah Liu Wan dan Tio Ciu In datang terlambat, sehingga perhatian se¬mua orang tertuju ke arah panggung, di mana upacara keagamaan memang telah dimulai sejak tadi. Delapan orang pende¬ta dengan jubah beraneka-warna tampak memimpin upacara di atas panggung, se¬mentara dua orang di antara mereka tampak berdiri diam di tengah-tengah panggung. Yang seorang bertubuh tinggi kurus, berusia sekitar lima puluhan ta¬hun, sedangkan yang seorang lagi berba¬dan besar tinggi seperti raksasa.
"Pendeta bertubuh tinggi besar itulah ( yang bernama So Gu Tai atau Sogudai." Liu Wan membisiki: Tio Ciu In. "Dan... pendeta tinggi kurus, itu pemimpin Pek-hok-bio ini. Kepandaiannya sangat tinggi dan ginkangnya sangat bagus. Ilmu andal¬annya adalah. Tiat-poh-san (Baju Besi), yang membuat ia kebal terhadap segala macam senjata; tajam. Tanpa sinkang yang tinggi jangan harap bisa melukai tubuhnya yang kurus kering itu."

Tio Ciu in melirik ke arah Liu Wan. Diam-diam hatinya merasa kagum terha¬dap pemuda itu. Selain memiliki kepan¬daian yang bermacam-macam, pemuda itu juga mempunyai pengetahuan yang luas pula di dalam dunia persilatan.

"Gurunya yang tak mau dikenal orang itu tentu seorang tokoh persilatan yang amat tersohor di masa lalu." Gadis "itu. berkata di dalam hatinya.

Tiba-tiba terdengar suara pujaan yang menggelegar memenuhi ruang pertemuan itu, sehingga suara doa yang diucapkan secara berbareng oleh pendeta-pendeta tersebut seperti hilang atau tertindih oleh getaran suara itu. Para undangan yang berada di tempat itu segera berdiri sambil mengangkat kedua tangannya ke atas kepala. Semuanya lalu mengikuti kata-kata yang diucapkan oleh suara yang menggelegar itu. Liu Wan dan Tio In terpaksa mengikuti pula apa yangmereka lakukan.

Suara yang menggelegar itu seperti meletup dari mana-mana, sehingga Ciu In tidak bisa mencari siapa yang telah mengeluarkan. suara tersebut. Gadis itu baru mengerti ketika Liu Wan. memberi-tahukannya..

"Suara itu dikeluarkan oleh So Gu Tai dengan ilmu Sai-cu Ho-kangnya (Auman Singa). Lwe-kangnya memang sa¬ngat tinggi. Hmmh, mari kita tunggu! Sebentar lagi upacara puncak, yaitu Upa¬cara Korban untuk Dewa Matahari dan Bulan, akan dimulai."

Diam-diam Tio Ciu Ih bergetar juga hatinya. Orang yang bernama So. Gu Tai itu ternyata memiliki tenaga dalam yang begitu hebat.- Terus terang kalau diper¬bandingkan dengan orang itu, dirinya ma¬sih kalah jauh. Oleh karena itu hatinya semakin kagum kepada Liu Wan yang bi¬sa mengalahkan .orang itu.

Ketika Tio Ciu In memandang ke arah panggung kembali, tiba-tiba secara tak sengaja matanya melihat sesuatu yang mencurigakan pada seorang tamuundangan. Orang itu berdiri tak jauh di depannya, seorang laki-laki bongkok de¬ngan rambut dan jenggot yang penuh uban. Tadi secara tak sengaja Tio Ciu In melihat orang tua itu membetulkan letak punggungnya yang menonjol itu.

Sekejap Tio Ciu In tak habis menger¬ti, mengapa punggung yang bongkok itu bisa melenceng ke kanan dan ke kiri se¬hingga perlu dibetulkan kembali. Namun di lain saat gadis itu menjadi berdebar-debar hatinya. Jangan-jangan orang itu juga sedang menyamar seperti dirinya. Tapi sebelum ia mengatakan kecurigaan¬nya itu kepada Liu Wan, sekonyong-ko¬nyong lampu di ruangan tersebut padam. Dan gantinya lilin-lilin besar yang telah disiapkan di atas panggung itu kemudian dinyalakan oleh para pendeta tadi.

Sementara itu penjagaan di sekitar I ruangan dan gedung tempat pertemuan itu semakin diperkuat lagi. Puluhan o-rang penjaga tampak berpagar betis me¬ngelilingi setiap tempat yang dirasa ber-bahaya. Bahkan pintu halaman juga telah ditutup, sedangkan para anggota Pek-hok-bio yang garang-garang itu kejihat-an meronda di seluruh halaman.

Malam semakin terasa dingin. Bulan penuh yang sejak sore' tadi selalu terbung¬kus, awan, mendadak muncul pula di atas langit. Dan seperti mendapat aba-aba, tiba-tiba angin pun lalu bertiup pula de¬ngan derasnya.

"Ah, tampaknya Dewi Bulan benar-benar menerima persembahan kita kali ini...!" salah, seorang anggota Pek-bok-bio yang bertugas di halaman depan itu berkata kepada kawannya.

"Yah, sungguh mengherankan. Bersa¬maan dengan . akan dimulainya Upacara Korban ini,' tiba-tiba - rembulan muncul. dari peraduannya. Dewa angin seakan-" akan menjadi ikut bergembira pula." te-mannya menyahut dengan suara bersungguh-sungguh.

"Hemmm, tetapi omong kosong... ma¬lam ini rasanya hatiku seperti tidak ten¬teram. Sedari . tadi perasaanku . selalu berdebar-debar saja. Jangan-jangan...." " yang seorang lagi tiba-tiba menyela.

"Ah, kau ini...!" Tampaknya kekalahanmu dalam memainkan Barongsai di pendapa kabupaten tadi masih membe¬kas di hatimu, sehingga kau masih dilan¬da kekhawatiran saja sampai sekarang!" orang yang pertama tadi berkata kesal karena kegembiraannya seperti diganggu oleh temannya tersebut.

"Benar! Kau tampaknya memang masih terpengaruh, oleh kekalahanmu tadi. Sudahlah, jelek-jelek, kau dan Pang Un masih mendapatkan nomer dua. Kau ma¬sih lebih unggul daripada pemain Hek-to-pai itu." orang yang ke dua tadi juga ikut menghibur pula.

"Ah, bukan hal itu yang membuat hatiku tidak tenteram, Kekalahanku tadi memang wajar. Pemain barongsai dari Ui-thian-cung itu memang cerdik, dan li¬hai, sehingga aku dan Pang Un selalu dibuat mati langkah." anggota Pek-hok-bio yang selalu berdebaran hatinya itu membela diri.

"Lalu... apa yang kaukhawatirkan? Apakah kau mempunyai pikiran bahwa ma lam ini akan ada orang yang berani da¬tang ke mari untuk mengacaukan jalannyaupacara kita? Hehehehe, kau jangan ter¬lalu bodoh. Siapa yang akan berani me¬masuki sarang macan seperti ini?"

"Bukan! Bukan itu! Upacara ini...?" sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pemain barongsai Pek-hok-bio itu meno¬lak tuduhan teman-temannya, tapi untuk menerangkan kekhawatirannya itu ternya¬ta mulutnya mengalami kesulitan.

"Sudahlah...! Tampaknya kau hanya merasa tegang karena upacara korban seperti ini memang baru sekali ini kita selenggarakan. Mungkin kau juga terpe¬ngaruh atau terlalu memikirkan gadis manis yang hendak kita korbankan itu, hehehe...!" orang ke dua tadi segera me¬nengahi perselisihan kecil itu.

"Ayoh, kita meronda lagi...!" para anggota Pek-hok-bio yang lain segera berseru pula.

Demikianlah para anggota Pek-hok-bio yang bertugas mengawasi halaman itu lalu menyebar kembali. Dengan ke¬waspadaan tinggi mereka mengawasi se¬luruh halaman kuil mereka. Upacara yang sedang mereka selenggarakan sekarangini adalah Upacara khusus yang tidak bo¬leh diketahui oleh orang luar, karena itu tak seorang pun diperbolehkan masuk se¬lain anggota-anggota kehormatan.

Ternyata tidak cuma para penjaga kuil saja yang menjadi tegang, tapi ta¬mu-tamu undangan yang berada di da¬lam ruang pertemuan pun menjadi tegang pula hatinya ketika gadis yang akan di-korbankan itu telah dikeluarkan dari tempat penyimpanannya. Tak terkecuali Tio Ciu In dan Liu Wan! Bahkan pemu¬da itu sampai harus memegang lengan Ciu In agar tidak bertindak sembrono.

Hampir-hampir semua mata tak ber¬kedip memandang ke arah altar yang ada di tengah-tengah panggung di mana ga¬dis itu dibaringkan. Seperti terkena pe¬ngaruh sihir, gadis itu sama sekali tak^ bergerak atau bersuara. Meskipun pelu¬puk matanya itu terbuka lebar, namun sama sekali matanya tak bereaksi meli¬hat kerumunan orang di sekitarnya.

Liu Wan menggamit lengan Tio Ciu In. "Bagaimana...? Apakah gadis itu behar Adikmu?" bisiknya perlahan.
Tio Ciu In mengusap keringat yang * mengalir di lehernya. "Aku... aku agak sangsi, Twako. Potongan tubuhnya me- * mang seperti Siau In, adikku, tapi... tapi wajahnya rasanya seperti bukan. Aku be¬lum bisa melihatnya dengan jelas. Twako, mari... marilah kita mendekat saja!" jawabnya kemudian dengan suara seperti tercekik karena ketegangan hatinya.

Liu Wan ingin mencegah, tapi Tio Ciu In sudah terlanjur melangkah ke depan. Dan - pada saat yang sama orang tua bongkok di depan Tio Ciu In tadi juga bergeser , ke arah panggung pula, sehingga Tio Ciu ln seperti sedang membuntutinya.

Tentu saja Liu Wan juga takkan membiarkan Tio Ciu In menempuh bahaya sendirian. Dialah yang tadi mengajak gadis itu ke mari. Apalagi di tempat tersebut dia sebagai Cia Wan-gwe memang seharusnya selalu mendampingi isterinya ke mana ia pergi. Oleh karena itu dengan agak tergesa namun juga jangan sampai menimbulkan kecurigaan Liu Wan.

Sementara itu di atas panggung, upa¬cara benar-benar telah mencapai puncak¬nya. Dengan diikuti suara-suara pujian yang ditujukan kepada Dewi Bulan dan Matahari, Ketua Kuil Pek-hok-bio yang tinggi kurus itu mulai mencopoti pakaian yang dikenakan oleh gadis korban me¬reka. Dan bersamaan itu pula sebagi¬an dari atap genteng yang menaungi ruangan tersebut dibuka oleh petugas Pek-hok-bio,. sehingga sinar bulan yang putih pucat itu segera menerobos ke dalam, persis diatas altar dimana korban itu tergeletak..

Suasana semakin mencekam. Di dalam keremangan sinar lilin yang bergoyang-goyang, cahaya bulan yang menerobos genting itu bagaikan tebaran jala yang mengurung altar tempat gadis korban itu berbaring. Semuanya diam terpa¬ku ' di tempat masing-masing. Hanya para pendeta itu saja yang masih tetap melantunkan doa-doa pujaannya. -

Ketua Kuil Pek-hok-bio telah selesai mencopoti pakaian gadis korbannya. Tubuh mulus itu tampak gilang gemilang ditimpa sinar bulan. Dan gadis itu sendi¬ri tetap seperti semula Diam, pasrah, dengan tatapan mata yang dingin kaku se¬olah tak bernyawa.

Ketika ketua Kuil Pek-hok-bio itu kemudian mencabut pisau belati dari pinggangnya, dan siap untuk dihujamkan ke jantung gadis itu, sekonyong-konyong berkelebat sebuah bayangan dari bawah panggung, yang kemudian ternyata diikuti pula oleh sebuah bayangan lainnya.


Jilid 5                                                                                                               Jilid 7