Jumat, 27 April 2018

PENDEKAR PEDANG PELANGI 9


Jilid 9

SU HIAT HONG tidak menjawab. Ia memang pernah mengutarakan kecurigaannya kepada Lim Kok Liang, bahwa pihak kerajaan menangani masalah Perlombaan Mengangkat Arca benar-benar terasa aneh baginya. Tapi karena waktu itu Lim Kok Liang juga tidak bisa menebak apa yang terselip di balik kea¬nehan tersebut, maka mereka terpaksa melakukan saja apa yang ditugaskan ke¬pada mereka. Dan kini secara kebetulan ia mulai bisa melihat rahasia keanehan itu. Namun tampaknya dia pun tak bisa melihatnya sampai tuntas. Au-yang Goan-swe, yang kelihatannya merupakan tokoh utama di balik tabir keanehan tersebut, tentu tidak akan melepaskan dirinya. Au-yang Goanswe tentu tidak ingin raha¬sianya diketahui orang luar.

"Nah, Su Hiat Hong! Ternyata kau tidak berani menjawab pertanyaanku! Itu berarti kau memang telah mengetahui rahasia sepak terjangku selama ini! Dan kau tampaknya hampir berhasil mengungkapkannya! Hmm, tapi jangan berharap kau bisa menggagalkan rencanaku! Aku akan membunuhmu! Aku tidak peduli, apakah sudah memberi laporan kepada Kong sun Goanswe atau belum, karena aku yakin kau belum bisa memperoleh bukti yang kuat untuk menjatuhkan aku,..!"

Su Hiat Hong menarik napas panjang. Hatinya semakin tergelitik untuk mengetahui rahasia keterlibatan Au-yang Goanswe di dalam masalah Perlombaan Mengangkat Arca yang aneh itu. Begitu inginnya perwira itu menguak tabir rahasia tersebut, sehingga ia tidak peduli pula akan tuduhan Au-yang Goanswe tentang dirinya.

"Sebentar lagi tentu aku akan dibu¬nuhnya untuk menutupi rahasianya. Namun demikian aku sungguh akan merasa puas apabila telah mengetahui rahasia Perlombaan Mengangkat Arca itu." perwira itu berkata di dalam hatinya.

Oleh karena itu dengan perasaan yang semakin tabah dan pasrah, Su Hiat Hong menentang pandangan mata Au-yang Goanswe.

"Baiklah, Goanswe. Aku memang sudah bercuriga dengan tugas-tugas yang kau berikan selama ini. Banyak keanehan dan kejanggalan yang kulihat di dalam melaksanakan tugas itu. Akan tetapi se-cara jujur juga kukatakan bahwa aku belum dapat menebak apa yang terselip di balik kejanggalan-kejanggalan itu. Aku baru mulai memahami setelah mendengar ucapan-ucapan Goanswe kepada Tong Kiat Teng tadi. Walaupun demikian aku tetap belum bisa menguak maksud dan tujuan Goanswe yang sebenarnya di dalam masalah ini. Nah, Goanswe... sebentar lagi kau akan membunuhku, dan aku ... sama sekali tidak akan melawan. Na¬mun sebelum aku mati, bolehkah aku mengetahui serba sedikit semua rahasia itu? Biarlah aku mati dengan tenang dan tidak membawa rasa penasaran ke alam baka...."

"Hahahaha...! Boleh! Boleh! Kau boleh mendengarnya agar arwahmu tidak penasaran nanti."


Au-yang Goanswe tertawa gembira sambil mengawasi para pembantunya yang berdiri mengelilinginya. Semuanya juga ikut tertawa puas. Termasuk Beng Ciangkun yang menangkap Su Hiat Hong tadi.

Sementara itu di dalam lubang persembunyiannya A Liong dan Tio Siau In meraba-raba di dalam gelap. Lubang sempit seperti liang tikus itu ternyata terus memanjang dan berbelok ke sana ke mari, sehingga akhirnya mencapai sebuah tangga yang menuju ke atas.

"Nah, kita sudah hampir sampai di tempat itu." A Liong berbisik. "Tangga ini akan membawa kita ke ruangan belakang dari rumah itu tadi."

"Hei, mengapa bisa demikian? Bukankah lubang terowongan ini berada di dalam tanah? Bagaimana bisa berhubungan dengan ruangan yang ada di dalam rumah itu?" Tio Siau In berbisik pula dengan heran.

"Mudah saja, Cici. Bukankah bagian belakang rumah itu menempel pada dinding tebing? Nah, tentu saja lubang rahasia ini dibuat seperti liang tikus yang melubangi tanah, kemudian terus naik ke atas tebing, sampai di dinding bagian belakang rumah yang menempel tebing tersebut."


A Liong yang tadi tampak lemah tak bertenaga itu kini sudah kelihatan lebih kuat dan sehat. Memang sungguh mengagumkan sekali ketahanan tubuh pemuda itu. Benar-benar sesuai dengan perawakannya yang kekar.

Tio Siau In mengangguk-angguk sambil tersenyum. Sayang liang itu. gelap sekali keadaannya. Kalau tidak, tentu akan tampak betapa cantiknya gadis itu bila tersenyum.


Mereka lalu menaiki tangga kecil dan sempit itu. Dan benar juga ucapan A Liong tadi, mereka tiba di sebuah ruangan yang lebih lega. Tapi tempat yang disebut ruangan oleh A Liong itu sebenarnya tak lebih dari sebuah gua kecil dan sempit.

"A Liong...!" Tio Siau In berbisik.

"Bagaimana kau bisa mengatakan gua sempit ini sebagai ruangan belakang rumah itu?"

Pemuda itu tidak menjawab, tapi segera bergeser ke dinding gua yang berada di depan mereka. Tangannya meraba-raba kesana-kemari, seakan-akan pemuda itu sudah paham keadaan gua ter-sebut dan kini sedang mencari sesuatu di tempat itu.

Tiba-tiba sebuah lubang sebesar perut kerbau terbuka di depan mereka. A Liong masuk ke dalam, diikuti oleh Tio Siau In. Pemuda itu memberi isyarat agar Tio Siau In berhati-hati.

"Cici, lihatlah...! Bukankah ruang sempit ini berada di bagian belakang rumah itu? Coba kau intip melalui celah-celah kayu ini!" A Liong berbisik perlahan.
Tio Siau In mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Ruang sebesar kandang ayam itu memang berdindingkan kayu seperti halnya dinding rumah tabib itu. Lantainyapun juga terbuat dari balok-balok kayu besar. Berkas-berkas sinar lampu masuk dari sela-sela dindingnya, sehingga ruang sempit itu tidak gelap lagi.

Lapat-lapat terdengar suara orang bercakap-cakap di luar ruang sempit tersebut. A Liong mengintip melalui sela-sela kayu, sehingga Tio Siau In pun menjadi ikut-ikutan pula untuk mengintip.

Betapa kagetnya Tio Siau In. Di sebelah luar dari ruang sempit tersebut ternyata adalah ruang tengah milik Tong Kiat Teng. Di dalam ruangan itu tampak beberapa orang prajurit berjaga-jaga. Mereka mengelilingi seorang lelaki tua berseragam perwira tinggi, yang saat itu sedang membentak-bentak Su Hiat Hong!

"Hiat Hong...! Kau tahu siapa sebenarnya Beng Ciangkun di sebelahku ini? Ketahuilah, dia adalah keponakan Beng Tian almarhum. Hmm, kau ingat tidak nama Jendral Beng Tian, Panglima Besar tangan kanan Chin Si Hong-te itu?"

Su Hiat Hong tampak merenung sebentar, kemudian mengangguk. "Ya, aku ingat. Dia adalah Panglima Besar Kerajaan pada zaman Dinasti Chin, pada saat Kaisar Chin Si Hong-te berkuasa. Dia gugur ketika menghadapi pasukan pemberontak yang dipimpin oleh mendiang Kaisar Liu Pang.”

"Bagus ternyata otakmu masih encer. Nah, apakah kau juga tahu siapa yang telah membunuh jenderal besar itu?" Au-yang Goanswe mendesak lagi.

Su Hiat Hong menghela napas pen¬dek. Ia tak tahu ke mana arah tujuan pertanyaan itu.

"Aku tidak mengetahuinya, Goanswe. Bagaimana orang bisa memastikan siapa yang membunuh di dalam peperangan besar seperti itu? Aku memang pernah mendengar beberapa cerita tentang jenderal besar itu, tapi belum yakin tentang kebenarannya."

"Kau tidak usah ragu-ragu. Cerita yang tersebar di antara kita itu memang benar. Jenderal Beng Tian terbunuh oleh tangan Liu Pang dan para pembantunya!" dengan suara geram Au-yang Goanswe menggertak.

Su Hiat Hong terdiam. "Lalu... apa hubungannya antara Jenderal Beng Tian itu dengan peristiwa yang terjadi sekarang ini?" sesaat kemudian Su Hiat Hong mengajukan pertanyaan.


Au-yang Goanswe tertawa dingin lagi. "Banyak sekali hubungannya! Kau tahu siapa aku sebenarnya...? Aku sebenarnya bukan bermarga Au-yang seperti kalian kenal selama ini. Namaku yang sesungguhnya adalah Beng Han. Aku adalah putera bungsu Jenderal Beng Tian itu. Nah, Hiat Hong... sekarang kau tentu sudah mulai dapat meraba, apa yang se¬dang kukerjakan saat ini!"

Su Hiat Hong benar-benar terperanjat mendengar pengakuan Au-yang Goanswe tersebut. Dan otomatis ia menjadi sadar bahwa selama ini ia dan Lim Kok Liang, bahkan juga para perwira yang lain, telah terperangkap dalam jebakan Au-yang Goanswe. Putera bungsu Jenderal Beng Tian itu tampaknya telah menyimpan dendam di dalam hatinya, dan sekarang bangkit untuk melampiaskan dendam kesumatnya itu. Dan tentu saja yang dituju adalah anak keturunan Kaisar Liu Pang.

Bergidik hati Su Hiat Hong memikirkan hal itu. "Jangan-jangan lenyapnya Pangeran Liu Yang Kun dan terbakar musnahnya istana Putera Mahkota itu juga hasil perbuatan Au-yang Goanswe pula." perwira pasukan rahasia itu bergu¬mam di dalam hatinya.

"Tampaknya Au-yang Goanswe ingin menuntut balas atas kematian Jendral Beng Tian itu...." 
Su Hiat Hong akhirnya mengatakan juga dugaannya itu.

Au-yang Goanswe tersenyum puas. Ke¬palanya yang besar dan berambut tebal itu juga mengangguk-angguk.

"Otakmu memang encer sekali. Aku memang hendak menuntut balas atas kematian orang tuaku. Dan untuk melaksanakan niatku itu aku sudah merencanakannya sejak dulu. Sejak aku masih ber-usia dua puluh tahun...."

"Aaah....!" Su Hiat Hong berdesah panjang.

"Jangan kaget! Aku memang tidak ingin gagal. Oleh karena itu aku selalu menyabarkan diri, dan merencanakan niatku itu dengan rapi." Au-yang Goanswe berhenti sejenak untuk memperbaiki duduknya. Kemudian lanjutnya lagi.


"Mula-mula aku mengubah nama margaku, agar orang tak menghubungkan aku lagi dengan almarhum ayahku. Lalu aku memasuki bidang keprajuritan seperti Ayahku, dengan harapan suatu hari kelak aku akan memperoleh kedudukan seperti halnya Ayahku pula. Sebab hanya dengan kekuasaan dan kekuatan aku akan mampu menuntut balas kepada Liu Pang."

Su Hiat Hong menatap wajah Au-yang Goanswe sebentar, lalu menunduk kembali dengan perasaan sedih dan kecewa. Sedih karena sebenarnya, setelah Au-yang Goanswe itu membeberkan rahasianya, ia tentu akan dibunuh mati agar tidak bisa bercerita kepada siapa-siapa lagi. Dan kecewa, karena dengan kematiannya itu ia tak akan mempunyai kesempatan lagi untuk memberitahukan rencana Au-yang Goanswe tersebut kepada Kong-sun Goanswe atasannya.

"Akhirnya dengan kepandaianku dan kecerdikanku aku bisa juga memperoleh kedudukan yang tinggi. Setelah itu dengan berbagai cara aku mendekati keluarga istana. Dan jerih payahku itu akhir-nya berhasil pula. Aku mendapatkan kedudukan sebagai Komandan Pasukan Pengawal Istana. Saat itu aku benar-benar sudah merasa bahwa cita-citaku tinggal melangkah satu tindak lagi. Sebagai Komandan Pasukan Pengawal Istana rasa-rasanya sangat mudah untuk melenyapkan jiwa setiap keluarga Liu Pang."

'Tapi Goanswe juga tidak berani melakukannya, karena di antara keluarga kaisar itu ada seorang yang kesaktiannya sangat ditakuti di seluruh pelosok negeri ini. Maka sebelum melaksanakan rencana itu, Goanswe lebih dulu berusaha dengan segala macam cara untuk menyingkirkan Pangeran Liu Yang Kun terlebih dahulu. Bukankah demikian, Goanswe?"


Entahlah darimana datangnya keberanian itu, mendadak Su Hiat Hong menyela cerita Au-yang Goanswe tersebut.

Ternyata jenderal itu juga tidak menjadi marah karenanya. Bahkan Au-yang Goanswe kelihatan senang dan puas menyaksikan Su Hiat Hong bisa mengikuti ceriteranya.

"Hahaha, Hiat Hong... kau memang benar-benar cerdik. Sayang kau berada di pihak lawan, sehingga kau harus mati karenanya. Dugaanmu memang benar. Untuk berhadapan muka melawan Pangeran Liu Yang Kun, rasanya tak seorang pun yang mampu melakukannya di dunia ini. Tetapi jangan lupa, bahwa kesaktian itu masih bisa dikalahkan dengan kecerdikan. Aku lalu menyusup ke dalam puri istana. Aku berusaha mengadu domba dan memecah-belah keutuhan keluarga Liu Pang itu dari dalam. Heheh, akhirnya Pangeran Liu Yang Kun yang maha sakti itu pergi juga dari istana dengan sendirinya. Bahkan aku telah membuatnya menderita seumur hidupnya. Hohoho... aku sungguh-sungguh puas melihatnya."

Su Hiat Hong mengerutkan dahinya. Matanya tajam memandang kepada Au-yang Goanswe yang sedang tertawa puas menikmati keberhasilan rencananya. Su Hiat Hong tidak tahu apa yang telah diperbuat oleh jenderal itu terhadap Pangeran Liu Yang Kun, sehingga Pangeran Mahkota tersebut bisa pergi dari istananya.

"Dan selanjutnya Goanswe lalu membakar istana pribadi Pangeran Liu Yang Kun, bukan?" dengan berani pula Su Hiat Hong lalu melontarkan dugaannya.

Tiba-tiba Au-yang Goanswe menghentikan ketawanya. Dengan nada geram ia berkata lantang.


 "Tidak. Aku memang ingin menumpas keluarga Liu. Tapi tak sekalipun terlintas di dalam benakku untuk membakar istananya. Namun demikian kejadian itu membuat hatiku terhibur juga, karena menganggap mereka telah musnah dimakan api."

"Tapi dugaan Goanswe ternyata keliru. Anak-anak Pangeran Liu Yang Kun ternyata masih hidup." Su Hiat Hong yang tadi mendengar pembicaraan Tong Kiat Teng dengan Au-yang Goanswe segera menyela.

Jendral itu menggeram kembali. "Ya! Semua itu karena perbuatan monyet tua ini!" katanya gemas sambil menunjuk ke arah Tong Kiat Teng.

"Monyet ini ternyata membawa anak-anak Liu Yang Kun itu keluar istana, sehingga mereka terhindar dari kobaran api. Aku baru mengetahui hal itu setelah beberapa tahun kemudian."

"Goanswe lalu berusaha mencari anak anak itu?"

"Tentu saja. Aku tak ingin melepaskan seorang pun di antara mereka. Aku tidak ingin menanam kesulitan di kemudian hari. Semuanya harus dimusnahkan."

"Tapi sampai sekarang Goanswe belum juga menemukan mereka."

"Siapa bilang? Hahahaha...!" tiba-tiba Au-yang Goanswe tertawa keras.
"Sebentar juga Tong Kiat Teng akan mengatakannya...!"

Diam   sejenak.

"Goanswe memang hebat...." akhirnya Su Hiat Hong memuji.


"Tetapi setelah dapat menyingkirkan keluarga Pangeran Liu Yang Kun, mengapa kelihatannya Goanswe berhenti dan tidak melanjutkan rencana itu? Bukankah di istana masih ada keluarga Liu yang lain? Adik-adik Pangeran Liu Yang Kun misalnya."

"Pangeran Liu Wan Ti maksudmu?"

"Ya, bukankah dia yang ditunjuk oleh Ibu Suri untuk menggantikan Kakaknya?"

Lagi-lagi Au-yang Goanswe menggeram. "Benar! Aku memang telah gagal melenyapkan Pangeran kecil itu. Dia keburu menghilang dari istana sebelum aku bertindak terhadapnya. Aku curiga kepada Panglima Yap Khim. Tentu dia yang menyembunyikannya...."


Dan... sampai sekarang Goanswe masih tetap penasaran karena belum menemukan anak keturunan Pangeran Liu Yang Kun maupun Pangeran Liu Wan

"Ya! Aku memang sangat penasaran. Aku harus bisa menemukan mereka dan memusnahkannya."

"Lalu bagaimana dengan dua orang adik Pangeran Liu Wan Ti yang kini masih berada di istana? Mengapa Goanswe tidak menyingkirkannya sekalian?"

"Anak-anak cacad itu? Hehehehe...! Mengapa aku harus mengkhawatirkan anak-anak tidak berguna itu? Tak seorang pun di dunia ini yang mau diperintah oleh manusia tidak waras."

"Kalau begitu mengapa Goanswe tidak lekas-lekas mengambil alih kekuasaan? Belum waktunya? Apakah Goanswe masih takut kepada Panglima Yap Khim?"

"Kurang ajar...! Tutup mulutmu!" har¬dik Au-yang Goanswe berang.

"Maaf, Goanswe."

"Hmmh...! Waktunya memang belum tiba! Panglima keparat itu memang masih memiliki kekuatan yang besar di antara anak buahnya! Dia harus dicarikan lawan yang setimpal lebih dahulu!"

"Dan Goanswe telah mendapatkannya, meskipun cara yang Goanswe tempuh sangat hina. Goanswe telah mengkhianati negeri sendiri. Goanswe mengundang kekuatan asing, bersekongkol dengan Mo Tan, raja suku bangsa Hun itu untuk mengacau negeri kita. Bukankah begitu, Goanswe?"


Su Hiat Hong semakin bera¬ni mengungkapkan kecurigaannya di depan Au-yang Goanswe, dan sama sekali tak mempedulikan lagi keselamatannya sendiri.

Benar juga. Ucapan Su Hiat Hong itu benar-benar menyinggung perasaan Au-yang Goanswe. Wajah jendral bertubuh tinggi besar itu menjadi merah padam. Kemarahannya tak bisa dikekang lagi. Tiba-tiba tangannya mencabut golok yang terselip di pinggangnya, lalu mengayunkannya ke leher Su Hiat Hong!

Su Hiat Hong berusaha sekuat tenaga untuk mengelak, namun karena luka dalamnya kembali menyengat, maka gerakannya menjadi lamban dan kaku. Golok itu tak jadi mengenai leher Su Hiat Hong, tapi menerjang bahu kanannya. Segumpal daging dan sepotong tulang bahu perwira baru menjerit kaget ketika sahabat-baiknya itu menggelepar di atas lantai.

"Su Hiante (Saudara Su)...?" Tabib istana itu merintih sedih.

"Ah!" Tak terasa Tio Siau In juga menjerit lirih di tempat persembunyian¬nya.
Walau cuma lirih, akan tetapi telinga Au-yang Goanswe yang tajam itu dapat juga menangkapnya. Hanya saja jendral yang telah haus dendam tersebut tidak bisa memastikan, dari mana jerit kecil Tio Siau In itu berasal.

Bangsat busuk! Ternyata kau membawa kawan ke tempat ini, Hiat Hong...! Beng Ciang-kun, cari orang yang mengeluarkan suara tadi!" jendral itu berseru cemas sambil mengayunkan kembali go-loknya. Kali ini tak mungkin lagi dielak¬kan oleh Su Hiat Hong.

""Goanswe, jangan...!" Tong Kiat Teng melompat ke depan, berusaha menolong sahabatnya.

Namun usaha Tong Kiat Teng itu justru membahayakan dirinya sendiri. Au-yang Goanswe yang sudah terlanjur mengayunkan goloknya itu tak mungkin menariknya kembali. Maka di lain saat bukan Su Hiat Hong yang terkena tabasan golok tajam itu, tapi justru tubuh Tong Kiat Teng yang menjadi korbannya. Craaaaaak!

"Aaauggh!" Tabib tua itu mengeluh pendek.
Tubuhnya terjerembab menimpa badan Su Hiat Hong. Punggungnya terbelah lebar, sehingga darah segar seperti membanjir ke luar.

"Tong-heng (Saudara Tong)...?" Su Hiat Hong yang masih sadar itu terpekik kaget. Otomatis lengannya memeluk sahabatnya itu.

Kejadian tersebut berlangsung cepat sekali, sehingga semua orang yang berada di dalam ruangan itu baru sadar ketika semuanya telah terjadi. Tong Kiat Teng yang keadaannya juga sudah payah itu.

Akan tetapi iblis tampaknya memang sudah merasuk ke dalam jiwa Au-yang Goanswe. Bukannya terharu menyaksikan kedua orang sahabat itu saling berangkulan, tapi sebaliknya justru keganasanlah yang timbul di dalam hati Au-yang Goanswe. Sekali lagi golok yang haus darah itu berkelebat, dan kali ini benar-benar mengenai leher Su Hiat Hong! Dan kepala Su Hiat Hong, perwira pasukan rahasia kerajaan yang telah banyak jasa¬nya kepada negara itu menggelinding di atas lantai, terpisah dari tubuhnya!

Kekejaman itu sungguh amat menggoncangkan pikiran Tio Siau In yang ma¬sih polos. Hampir saja gadis itu menerjang dinding pemisah tersebut dan bertarung melawan Au-yang Goanswe. Untunglah A Liong cepat memeluknya dari belakang, kemudian dengan paksa menariknya masuk ke dalam lubang gua kembali. Dan untuk mengamankan tempat itu A Liong lalu menutup kembali pintu rahasia lubang tersebut.

"Sabar, Cici.... Kita takkan menang melawan mereka. Mereka berjumlah banyak serta lihai-lihai. Kita harus mem¬pergunakan akal bila ingin menghadapi mereka...." A Liong membujuk dengan suara pelan.

Sementara itu Beng Ciangkun beserta prajurit-prajuritnya mengobrak-abrik selu¬ruh dataran sempit itu, namun usaha mereka sia-sia saja. Tak seorang manu¬sia pun yang mereka dapatkan di tempat itu. Mereka hanya menemukan sampan yang ditinggalkan oleh Tio Siau In tadi.

"Heran...! Aku tadi juga mendengar suara itu. Tapi... di mana dia? Masakan ada hantu sepagi ini?" Beng Ciangkun menggerutu kesal.

Fajar memang mulai tampak menyorot di ufuk timur. Sinarnya yang merah kekuning-kuningan itu seakan-akan menem bus dari bawah permukaan air laut, se¬hingga air laut pun lalu ikut-ikutan beru-bah pula warnanya menjadi merah seperti darah.

"Bagaimana, Beng Ciangkun? Kaute¬mukan orang itu?" Au-yang Goanswe yang kemudian ikut menyusul keluar, bertanya kepada Beng Ciangkun.

"Sungguh mengherankan sekali, Goan-swe. Sudah kami periksa setiap jengkal tanah di tempat ini, tapi kami tak me¬nemukan seorang manusia pun di sini. Kami memang menemukan sampan kecil di tepian sana, tapi jejak-jejaknya sudah terhapus oleh air pasang."

"Gila! Seharusnya tidak kubunuh dulu Su Hiat Hong itu! Disiksa dulu agar mau mengatakan, berapa teman yang dibawa nya ke tempat ini. Hhhh...! Jika dia me¬mang benar-benar membawa teman, dan orang itu juga ikut mendengarkan pula ceritaku tadi, kedudukanku menjadi sangat berbahaya. Sewaktu-waktu orang itu bisa menghadap Yap Tai Ciangkun (Panglima Besar Yap) di kota raja untuk melapor¬kan kegiatan kita."

Beng Ciangkun melangkah maju ke depan Au-yang Goanswe. "Kita tak perlu berkecil hati, Goanswe. Mungkin kita tadi salah dengar, sehingga menyangka ada orane jUìD d^jampat ini. Nyatanya tidak ada. Kalau pun memang benar tadi ada orang yang mengintip dengar pembi¬caraan kita, dan orang itu keburu bisa menyelamatkan diri, kita juga tidak per¬lu takut kepadanya. Dimisalkan ia mela¬por kepada Yap Tai Ciangkun pun kita juga tak perlu mengkhawatirkannya. Bukankah Au-yang Goanswe mempunyai hubungan yang lebih baik dengan Ibu Suri daripada hubungan Yap Tai-ciang-kun? Aku percaya bahwa Ibu Suri akan lebih mendengarkan perkataan Goanswe daripada ucapan Yap Tai Ciangkun."

Tiba-tiba wajah Auyang Goanswe yang cemas itu menjadi cerah kembali.
“Benar, kau memang benar, Beng Ciangkun! Ha haha, kau memang seorang perwiraku yang baik, sungguh beruntung aku memiliki pembantu seperti kau.” Jendral itu berseru dengan gembira, kemudian katanya pula kepada para prajurit yang berkumpul di sekelilingnya.
“Dan … kalaian semua adalah prajurit-prajurit pilihan, yang sengaja kupilih serta kukumpulkan karena kalian semua sebenarnya adalah anak keturunan marga Beng yang besar, meskipun di kehidupan sehari-hari kalian telah menyembunyikan marga kalian seperti halnya aku, tapi jiwa kita tetap mendambakan kejayaan marga kita seperti dahulu, oleh karena itu kita semua harus berusaha sekuat tenaga agar cita-cita kita itu bisa terwujud, kalian harus tetap mentaati sumpah kita bersama, untuk tetap merahasiakan gerakan-gerakan yang telah kita lakukan sehingga rencana dan cita-cita kita itu berhasil, mengerti?”

”Kami mengerti, Goanswe…!” prajurit-prajurit itu menjawab serentak.

“Nah, hari sudah siang, mari kita pergi….!”

“Bagaimana dengan mayat Su Hiat Hong dan Tong Kiat Teng, Goangswe?” Beng Ciangkun bertanya.

“Ah, biarkan saja mereka disana, tempat ini tak mungkin didatangi orang, biarlah mayat mereka membusuk dengan sendirinya.”

Demikianlah, sebentar kemudian prajurit-prajurit kerajaan itu telah pergi meninggalkan teluk kecil tersebut, mereka berlayar dengan perahu mereka ke selatanm menuju ke kota Hang-ciu, ternyata di tengah lautan mereka sudah dinantikan tiga buah perahu besar yang sarat dengan prajurit berserta perlengkapannya.

Au-yang Goangswe yang sangat dipercaya serta mempunyai hubungan erat dengan Ibu Suri itu memang banyak mendapatkan kekuasaan istimewa di kalangan prajurit.
Setelah yakin bahwa Au-yang Goangswe dan anak buahnya telah pergi, A Liong dan Tio Siau In lalu keluar dari lubang persembunyian mereka. Bergegas mereka naik ke rumah Tong Kiat Teng untuk -menjenguk mayat Su Hiat Hong yang mengenaskan.
"Ah, Paman... kematianmu sungguh menyedihkan. Dibunuh oleh atasanmu sendiri yung tamak dan tak berperi-ke¬manusiaan. Alangkah malangnya nasibmu ...." Tio Siau In menyesali kematian per-wira yang baru dikenalnya itu.

"Sudahlah, Cici. Marilah kita kubur¬kan jenazah mereka...!" A Liong berka¬ta perlahan.
Tio Siau ln menoleh. Matanya mena¬tap pemuda tanggung yang bertubuh ting¬gi dan kekar itu. Hampir saja gadis itu menjerit. Setelah berada di tempat te¬rang, barulah terlihat betapa pakaian yang dikenakan A Liong itu telah com¬pang-camping. Bahkan bajunya nyaris hancur sama sekali.

"Iiih! A Liong, carilah pakaian seadanya di rumah ini! Jangan telanjang begi¬tu...!" gadis itu memekik lirih. Mukanya agak merah.

A Liong tertawa. Bagi pemuda itu tanpa baju sudah biasa baginya. Sebagai gelandangan yang kadang-kadang cuma hidup dari belas kasihan orang, A Liong sudah terbiasa mengenakan pakaian yang tidak utuh. Tapi karena sekarang sedang berdekatan dengan gadis terhormat seperti Tio Siau In, maka A Liong menurut saja ketika disuruh mencari pakaian yang pantas.


Sebentar saja pemuda itu sudah kem¬bali lagi dengan pakaian yang utuh dan bersih. Namun karena pakaian yang dikenakan itu milik Tong Kiat Teng yang kurus, maka baju dan celana tersebut menjadi kelihatan kekecilan untuk Aliong.

"Nah, aku sudah berpakaian sekarang. , Tampan juga, ya... Cici?" Dengan senyumI riang A Liong melucu di depan Tio Siau ln.

Tio Siau In tersenyum pula melihat kepolosan sikap pemuda tanggung itu.


"Ya, kau memang cukup tampan. Sayang terlalu lemah." Tio Siau In menggoda.


Tio Siau In tertawa" kecil "Nah... apa kataku tadi? Kau belum sembuh benar dari luka dalammu. Keadaanmu memang cepat menjadi baik karena tubuhmu sangat kuat dan sehat. Tapi kau belum bo¬leh mempergunakan tenaga terlalu berat. Sekarang beristirahat sajalah, biar aku yang menguburkan mayat-mayat ini!"

"Wah, tidak bisa! Mana boleh aku membiarkan Cici bekerja sendirian! Aku harus membantumu! Ayoh...!"
A Liong tetap memaksa juga.

Terpaksa Tio Siau In tak tega untuk melarang lagi. "Baiklah! Tapi setelah selesai menguburkan mayat-mayat ini, kau harus minum obat! Nanti kita mencarinya  di almari obat Tong Kiat Teng. Dia tentu banyak menyimpan obat-obatan...."

"Tapi bagaimana kita bisa memilih obat yang cocok untuk penyakitku? Jangan-jangan kita malah salah obat nanti?" A Liong kurang setuju.

Tio Siau In mencibirkan bibirnya yang| tipis kemerah-merahan. "Nah, ketahuan satu lagi! Ternyata selain lemah kau juga bodoh pula! Huh!"

Tiba-tiba wajah A Liong menjadi cemberut. "Wah, jangan menghina...Cici! Mengapa aku kaukatakan bodoh pula?" katanya penasaran.

Tio Siau In membalikkan tubuhnya. Sambil bertolak pinggang gadis lincah itu mengawasi A Liong. "Habis, soal begitu saja kau sudah bingung. Bagaimana aku tidak mengatakan kau bodoh? Ketahuilah, di manapun juga setiap tabib atau tukang obat tentu memberi tanda atau keterangan pada setiap jenis obat yang disimpannya. Mereka itu juga tak ingin salah ambil obat. Tahu...?" sergahnya dengan nada menggurui.

Raut muka A Liong yang kokoh keras itu perlahan-lahan menunduk.

"Ya, kau benar... Cici. Dalam hal tulis menulis aku memang tak mengerti." pemuda itu berdesah sedih.

Sekonyong-konyong Tio Siau In tertawa. "Hei, A Liong! Ke mana semangatmu tadi? Mengapa mendadak kau menjadi loyo begitu? Mengapa kau tidak mengeluarkan pantunmu lagi? Ayo, bersemangat! Ilmu membaca dan menulis juga bisa dipelajari…! Gadis itu meledek untuk menggubah semangat A Liong.Benar juga, air muka pemuda kekar itu menjadi cerah kembali.

“Wah, kau sungguh hebar sekali, cici! Aku senang kepadamu! Kau pintar, ceria, dan selalu percaya diri, Eh, siapakah namamu Cici? Kau tadi sudah mengatakannya belum? Aku sampai lupa lagi…”

Tio Siau In memonyongkan mulutnya yang lancip. “Uh, enak aja tanya-tanya nama orang, memang hendak kau bawa kemana namaku?”

A Liong menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Ya… tidak di bawa kemana-mana sih, Cici, kau ini bagaimana sih…? Ditanya namanya saja, marah.”

“Habis, caramu bertanya juga ngawur!”

“Ngawur? Ngawur gimana ….? A Liong semakin bingung.

“Sudahlah! Tak usah tanya-tanya nama segala!” Tio Siau In cemberut, lalu membalikkan tubuhnya membelakangi A Liong.

”Baiklah…! Bialah aku tak usah tahu nama Cici.” Akhirnya A Liong mengalah, tapi kemudian disambungnya pula dengan senyum di kulum. “Biarlah kalau nanti bertemu di jalanan aku akan berteriak memanggilnya, hei… Cici Pelit! Cici Pemarah!”

Tubuh mungil itu kontan berbalik menghadapi A Liong, tapi sekarang mata itu tidak berpendar-pendar indah lagi, mata itu berubah seperti mata harimau betina yang sedang kehilangan anaknya.


“Apa katamu…? Kau sebut aku …. Pelit?... Pemarah? begitu …?”

A Liong meringis, pura-pura ketakutan. “Habis, aku harus memanggil apa? Bukankah Cici memang pelit dan pemarah? Buktinya, ditanya namanya saja tidak boleh. Bahkan mara-marah pula. Yaaa, sudah…! Aku akan berteriak memanggilny, hei…. Cici Ayu! Cici Ayu! Begitu! Nah, boleh tidak…?”

“panggil aku…. Siau In! Bodoh!” akhirnya Tio Siau In menjadi kesal sendiri menghadapi pemuda konyol seperti A Liong itu.

Selesai berkata gadis itu berbalik dan tidak memperdulikan A Liong lagi. Tanpa rasa takut atau pun jijik gadis itu membenahi mayat Su Hiat Hong dan Tong Ki at Teng. Kepala yang terpisah itu diambilnya, kemudian dijadikan satu dengan badannya. Lalu kedua mayat itu masing-masing dibungkus dengan kain seadanya yang ada di dalam rumah itu, agar darah atau anggota tubuh lainnya tidak berceceran ke mana-mana.

"Sungguh kejam! Orang itu benar-benar berhati Iblis!" gadis itu bergumam di dalam hati.


Sementara itu seperti orang gendeng (linglung), A Liong masih termangu-mangu di tempatnya. Matanya tak lepas dari wajah Tio Siau In yang sedang sibuk membenahi mayat-mayat itu, tapi pikirannya tampak melayang-layang entah ke mana.

"Siau In, hem m... Cici Siau In?" gumamnya tak jelas. "Akan kuukir nama ini di dalam otakku, agar tidak sampai lupa...."

Selesai membungkus mayat-mayat itu, Tio Siau In bermaksud membawa keluar. Tapi serentak mendengar igauan A Liong, hatinya menjadi tergelitik lagi.

"Dasar bodoh, ya tetap bodoh! Masa mengukir nama di dalam otak? Mengukir nama itu di dalam hati! Tahu?" semprotnya lantang.

A Liong tersentak kaget. Tapi selanjutnya dengan tenang pemuda itu menjawab seenaknya. Bahkan nada omongannya masih tampak kekanak-kanakan.

"Wah, Cici ini bagaimana... sih? Kalau sepasang kekasih yang sedang bercintaan, nama itu memang diukir di dalam hati. Tapi kalau hanya teman biasa seperti kita ini, nama itu cuma diukir di dalam otak."

"Hush, omonganmu semakin melantur ...!" Tio Siau In membentak.

"Hei aku tidak melantur. Aku memang benar-benar mengukir nama Cici di dalam otakku. Besuk kalau aku sudah dewasa dan menjadi pendekar gagah perkasa, aku akan benar-benar mencari Cici Siau In."


"Ih, enaknya...!" Tio Siau In mencibir.

Mereka bercakap-cakap sambil bekerja. Untunglah tanah di tempat itu sangat empuk sehingga sebentar saja mereka telah selesai menguburkan mayat Su Hiat Hong dan Tong Kiat Teng.

Setelah membersihkan tangan dan kaki, mereka lalu mencari obat yang cocok untuk A Liong.
Benar saja, semua obat yang tersimpan di dalam almari obat Tong Kiat Teng dibubuhi tulisan dan ke-terangan, sehingga dengan mudah Tio Siau In memilihnya. Semula A Liong masih tetap ragu-ragu, tapi karena didesak! terus oleh Tio Siau In, terpaksa pemuda itu meminumnya. Ternyata habis memi¬num obat A Liong merasa mengantuk sekali.

"Uuuuuuuhh...?!"

Tiba-tiba Tio Siau In tersentak dari lamunannya. Bergegas gadis cantik itu menjenguk ke dalam kamar A Liong. Hampir saja mereka bertabrakan di de¬pan pintu, karena pemuda itu dengan tergesa-gesa juga berlari keluar.

"Cici Siau In, aah...! Kukira kau te¬lah pergi meninggalkan aku. Hmm, aku ketiduran, dan bermimpi... indah sekali."

"Bermimpi? Nah, begitu bangun kau sudah akan mulai mengoceh lagi. Sudahlah, aku tak mau mendengarkannya lagi. Ayoh sekarang kita kembali ke kota!"

A Liong kelihatan kecewa karena Tio Siau In tak mau mendengarkan ceritanya.

"Ke kota? Kota mana...?" tanyanya kurang bersemangat.

"Ya... ke kota Hang-ciu! Mau ke mana lagi? Aku akan menemui kakakku di sana. Dia tentu telah menanti-nanti keda¬tanganku. Ayoh!"

"Menemui Kakakmu?" A Liong sema¬kin tak bergairah.

Hatinya terasa menjadi sepi kembali seperti hari-hari yang lalu. Kalau Tio Siau In sudah berkumpul dengan saudaranya, otomatis tentu akan melupakan dirinya.

"Ah, aku tak ingin kembali ke kota Hang-ciu lagi. Kota itu terlalu rusuh. Aku ingin pergi ke tempat lain saja, yang sepi dan jauh dari keramaian kota."

"Hei? Kau mau ke mana? Apakah kau benar-benar ingin mendaki puncak Gunung Hoa-san?" Tio Siau In tersentak.

Tiba-tiba gadis itu teringat akan tugas yang diberikan suhunya. Siapa tahu. pemuda ini yang dimaksudkan dalam ramalan itu?

A Liong memandang Tio Siau In sebentar, lalu mengangguk lemah.


Tentu saja Tio Siau In menjadi bingung, bagaimana harus membujuk A Liong supaya ikut dengannya.


"Wah, repot benar. Masakan aku harus menotoknya lemas, kemudian menggendongnya Hang Ciu, keenakan dia nanti..." gadis itu berpikir keras.

"Nah, kalau begitu aku akan berangkat lebih dahulu, Cici." Tiba-tiba A Liong pergi sambil meminta diri. Wajahnya tampak kuyu dan tak bersemangat.

"Eh, nanti dulu...!" Tio Siau In berse¬ru kelabakan. Gadis itu mengejar langkah A Liong.

Ternyata A Liong benar-benar sangat sedih, sehingga ia tak mau berlama-lama tinggal di situ. Suara panggilan Siau In sama sekali tak dihiraukannya.

"Hei! Hei! A Liong...! Mau ke mana kau? Bukankah sampan kita cuma satu? Bagaimana aku dapat meninggalkan tempat ini nanti?"

Tanpa mengendurkan langkahnya A Liong berdesah pendek. "Aku akan berjalan melewati pinggiran pantai. Silakan Cici menggunakan sampan itu...."

Karena A Liong tetap tidak mau menghentikan langkahnya, terpaksa Tio Siau In menarik lengannya.

"Eh, berheti dulu....! Sebenarnya kenapa kau ini? Mari kita berbicara dulu secara baik. Masakan kita berpisah begitu saja tanpa kesan apa-apa?" gadis itu mencoba membujuk dengan suara manis.

Benar saja. A Liong berhenti melangkah. Sambil menghela napas panjang pemuda itu menundukkan mukanya di depan Tio Siau In. Sama sekali hilang kesan kegarangan tubuhnya yang kokoh kekar itu.
"Apa yang hendak kita bicarakan lagi, Cici?" ucapnya lemah.

Mereka saling berhadapan dekat sekali. bahkan tangan Tio Siau In masih memegang lengan A Liong yang kokoh itu. Namun gadis itu tetap saja belum tahu apa yang sebenarnya berkecamuk di dalam dada A Liong. Sebagai gadis yang juga baru mulai menginjak remaja, Tio Siau In juga belum bisa meraba pula apa yang menyebabkan pemuda itu secara mendadak bersikap aneh seperti itu.

Tio Siau In cuma bisa melihat, tiba-tiba A Liong kelihatan sedih dan tak bersemangat begitu diajak kembali ke Hang-ciu. Malah akhirnya pemuda itu memutuskan untuk tidak kembali ke kota tersebut. Pemuda itu ingitr pergi ke puncak Gunung Hoa-san.

Tio Siau In mengangkat wajahnya. Di¬pandangnya pemuda tanggung bertubuh tinggi kekar di depannya sambil mengge- | leng-gelengkan kepalanya.


"A Liong, mengapa kau kelihatan bersedih? Apakah kau mempunyai persoalan di kota Hang-ciu?" bujuknya kemudian dengan suara lemah lembut.

A Liong melirik sekejap kemudian menggeleng.


"Lalu... mengapa kau tak mau kembali ke sana?"

"Cici sudah kukatakan aku ini anak gelandangan yang tak mempunyai tempat tinggal tetap. Aku juga tak punya sanak-saudara. Bahkan aku ini juga tak tahu pula dari mana asalku, dan siapa orang tuaku. Sejak kecil aku hidup di antara bocah-bocah gelandangan, yang mengembara dari kota ke kota untuk meminta belas kasihan orang. Maka sekarang pun aku berniat untuk meneruskan perjalananku pula. Aku sudah terlalu lama tinggal di Hang-ciu."

Tio Siau In mengerutkan keningnya. Sudah dua kali A Liong bercerita tentang keadaan dirinya yang papa dan yatim piatu. Semula Tio Siau In memang tidak begitu ambil pusing mendengar cerita itu, tapi setelah kini A Liong menceritakannya kembali, entah mengapa hatinya tersentuh.

"Benarkah kau tak tahu siapa orang tuamu?" Tio Siau In yang mendadak juga ingat pula keadaan dirinya yang yatim piatu bertanya tak percaya. A Liong mengangguk lesu.

"Sama sekali tak tahu siapa orang tuamu? Lalu siapa yang merawatmu ketika masil kecil?"

"Entahlah. Mungkin para gelandangan atau pengemis lain yang lebih besar dari pada aku. Sebab yang kutahu sejak aku bisa berpikir, aku telah berada di antara gerombolan anak-anak gelandangan. Kami tidur di mana saja dan pergi ke mana saja sambil meminta-minta belas kasihan orang. Di dalam kelompok itu kami biasa saling berbagi rejeki dan makanan. Jadi kemungkinan besar aku dulu ditinggal mati orang tuaku yang juga seorang gelandangan, kemudian aku dirawat dan diberi makan oleh para gelandangan lainnya yang satu kelompok dengan orang tuaku itu...."

"Oooooh...."

Tio Siau In berdesah panjang. Ia benar-benar tidak menyangka kalau sejarah hidup A Liong itu sedemikian menyedih¬kan. Lebih memilukan daripada sejarah hidupnya sendiri yang ia anggap sudah sangat menyedihkan. Ia dan kakaknya, Tio Ciu In, juga yatim piatu pula, namun mereka masih bisa mengenal serba sedikit ayah mereka. Tidak seperti A Liong yang sama sekali tak tahu siapa orang tuanya. Sejak kematian ayahnya pun dia dan kakaknya langsung dirawat dan dibe¬sarkan oleh gurunya, tidak seperti A Liong yang harus bertarung dengan keke¬rasan hidup bersama anak-anak gelan¬dangan lainnya.

"Hem m, kasihan benar kau A Liong." Tio Siau In bergumam perlahan sambil melepaskan pegangan tangannya.

"Hanya yang mengherankan, hidupnya serba susah dan kekurangan, tapi mengapa, tubuhmu bisa sedemikian subur dan kuat seperti ini?"

"Aku memang hidup serba susah dan kekurangan, tapi aku punya tekad dan semangat hidup yang besar, Cici. Sejak aku bisa mempergunakan tenagaku, aku tidak mau mengemis lagi. Aku bekerja apa saja untuk mencari makan. Bahkan pekerjaan-pekerjaan berat yang biasanya hanya dilakukan oleh orang dewasa aku kerjakan juga. Aku pernah bekerja di pabrik penggilingan tahu, perusahaan pemotongan kayu, . pengangkutan garam, pandai besi, dan pekerjaan-pekerjaan berat lainnya. Makanku banyak, sesuai dengan bidang pekerjaanku, sehingga tulang dan ototku pun tumbuh dengan keras pula." A Liong menerangkan.

"Bukan main...!" Tio Siau In berdecak kagum. "Kulihat usiamu tidak lebih banyak dari usiaku. Tapi badanmu membengkak hampir dua kali lipat dari tubuhku. Penuh otot lagi!"

A Liong tersenyum kecut. "Aku memang seperti kerbau liar yang hidup di alam belantara yang keras tentu saja berbeda dengan Cici yang selalu hidup teratur di antara keluarga yang penuh kedamaian."

Tiba-tiba Tio Siau In tersenyum. Gadis itu seperti mendapatkan jalan untuk membujuk A Liong.

"Nah, kalau begitu... apakah kau tidak ingin hidup yang serba teratur dan penuh kedamaian seperti itu?"

A Liong menghembuskan napasnya keras-keras."Ah, tentu saja aku juga ingin hidup seperti itu pula, Cici. Aku juga sudah bosan menjadi gelandangan terus-terusan. Tapi untuk hidup wajar seperti itu perlu modal pula agar bisa hidup tenang dan dihormati orang."

"Modal? Modal apa?" Tio Siau In berseru heran.

A Liong tertawa kecut. "Ah, Cici... kau ini seperti tidak tahu saja. Modal hidup agar dihormati orang hanyalah harta, kekuasaan, dan kepandaian. Dapat memiliki salah satu saja dari ketiga mo¬dal utama itu, kita akan dihormati dan dijunjung tinggi oleh masyarakat di sekitar kita. Padahal aku sama sekali tak memiliki modal itu. Oleh karena itu aku harus bisa mendapatkannya lebih dahulu agar bisa hidup tenang dan damai seperti Cici."

"Wah, lalu... modal mana yang akan kau cari itu?" Tio Siau In pura-pura bertanya.

Sekali lagi A Liong menghembuskan napasnya kuat-kuat.

"Orang seperti aku jelas tidak mungkin untuk mencari harta maupun kekuasaan. Tapi kalau hanya untuk mencari kepandaian, rasanya aku bisa. Oleh karena itu aku akan tetap melaksanakan niatku, yaitu belajar silat di puncak Gunung Hoa-san. Kalau aku nanti benar-benar pandai ilmu silat, berarti aku sudah memiliki sebuah modal. Modal untuk bisa hidup tenang dan dihormati orang."

Tio Siau In terdiam untuk beberapa saat lamanya. Gadis itu merasa bahwa ia tak mungkin bisa mempengaruhi keinginan A Liong lagi. Satu-satunya jalan hanyalah memaks pemuda itu dengan kekerasan untuk dibawa ke hadapan nya. Tapi untuk melakukan hal itu Tio Siau ln tidak sampai hati.

"Tampaknya memang akulah yang harus mengalah. Biarlah kuikuti saja kemauannya itu. Nanti sedikit demi sedikit akan kubelokkan perhatiannya." gadis itu berkata di dalam hatinya.

"Nah, Cici... kau tak usah menghalangi niatku. Tekadku sudah bulat. Aku akan mendaki Gunung Hoa-san." A Liong mengulangi keinginannya yang teguh.

"Baiklah. Terserah kalau tekadmu memang demikian. Tapi... apakah kau. sudah mengetahui jalan ke Gunung Hoa-san?"

A Liong menggeleng lemah.

"Hmmm, kalau begitu untuk sementara kita bisa berjalan bersama. Aku tidak jadi pergi ke Hang-ciu. Aku akan langsung ke Sin-yang. Maukah kau berjalan bersamaku?"

Tiba-tiba A Liong berteriak gembira. Lengannya yang penuh otot itu secara reflek menyambar pinggang Tio Siau In, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara. Tentu saja gadis itu menjerit kaget. Otomatis tubuh gadis itu menggeliat melepaskan diri, sedang kakinya menjejak dada A Liong.

Buuuk!

"Aduuuuh...!" A Liong memekik kesakitan.

Bagaikan pohon tumbang, badan A Liong yang tinggi kekar itu terbanting ke tanah. Karena tidak bisa ilmu silat, maka jatuhnya pun juga sangat keras pula. Untunglah mereka telah berada di atas pasir, sehingga pemuda itu tidak begitu menderita karenanya. Namun demikian tetap saja A Liong meringis kesakitan.

Tio Siau In sendiri menjadi kaget begitu sadar apa yang dilakukannya. Sebagai jago silat semuanya tadi memang ia lakukan secara reflek. Dan celakanya, dalam keadaan seperti itu ia tak bisa mengontrol tenaganya. Maka tidak mengherankan bila badan A Liong yang kokoh kekar itu terbanting keras terkena tendangannya.

Akan tetapi yang tak kalah mengherankan adalah kesudahan dari kejadian tersebut. Tio Siau In yang kemudian merasa menyesal sekali, bahkan agak ketakutan, karena tendangan kakinya itu bisa memecahkan batu gunung, tiba-tiba ternganga mulutnya. Dengan heran gadis itu melihat A Liong bangkit kembali tanpa kurang suatu apa. Malahan bibir pemuda itu mencoba tersenyum, walaupun akhirnya cuma bisa meringis.

"Maaf, Cici. Aku memang benar-benar seperti kerbau liar yang tak mengenal aturan dan sopan santun. Begitu melonjak kegembiraanku mendengar Cici hendak berjalan bersama aku, sehingga aku meluapkannya dengan mengangkat tingi-tinggi badan Cici seperti kebiasaan yang kami lakukan di antara kawan gelandangan." pemuda itu meminta maaf dengan halus.

"Eh-oh, anu... kau tidak apa-apa, A Liong?" Tio Siau In menjadi gugup malah.

"Ah, tidak apa-apa, Cici. Badanku ini sudah terbiasa mendapat kecelakaan. Pernah tertimpa pohon kayu yang tumbang ketika bekerja di perusahaan pemotongan. Juga pernah tergencet batu besar penggilingan tahu ketika berada di penggilingan tahu. Bahkan aku pernah tertimbun belasan karung garam ketika berada di perusahaan pengangkutan garam. Tapi seperti yang Cici lihat sekarang, badanku tetap sehat tidak kurang suatu apa."

Sekali lagi Tio Siau In menggeleng-gelengkan kepalanya. Gadis itu benar-benar heran melihat ketahanan tubuh A Liong yang tidak sewajarnya itu. Padahal pemuda itu sama sekali tak mengerti ilmu silat.

"Pukulan Lok-kui-tin itu mampu menewaskan jago-jago silat kelas satu seperti Lim Kok Liang, Tong Tai-su dan yang lain-lainnya. Tapi pukulan itu ternyata tak banyak berarti terhadap tubuh A Liong. Badan yang kokoh kekar itu seperti terbuat dari besi saja." Tio Siau ln bergumam di dalam hatinya.

"Jadi.... Cici benar-benar hendak berjalan bersama aku?" A Liong menegaskan lagi.

Tio Siau In tergagap kaget, lalu mengangguk. "Aku hendak menemui  Kau cu Im-yang-kau di kuil Agung Sin-yang. Karena jurusan yang akan kita tempuh sama, maka kita dapat berjalan bersama-sama. Tapi... maukah kau nanti singgah sebentar di Kuil Agung Im-yang-kau itu?" dengan cerdik gadis itu membujuk.

A Liong tertawa gembira. "Tentu saja, Cici. Jangankan cuma singgah, menginap beberapa hari pun aku bersedia..."

"Bagus.Kalau begitu mari kita berangkat sekarang!" ajak Tio Siau In riang.

"Ayoh, Cici!"

Demikianlah kedua remnja tanggung itu lalu pergi meninggalkan rumah Tong Kiat Teng. Mereka mengayuh sampan mereka ke utara, mencari pantai yang landai, yang sekiranya bisa mereka da-rati, untuk selanjutnya berjalan ke arah barat, melalui kota-kota rli sepanjang Sungai Yang-tse.

Langit sangat cerah, hanya beberapa gumpal awan saja yangkelihatan bergerak dari timur ke barat. Angin juga sudah reda, tidak sederas dan. sekencang tadi. Sementara kabut pun telah terusir pergi pula bersama sinar matahari yang semakin menyengat. Udara pagi itu sungguh-sungguh nyaman.

A Liong mendayung sampan seenaknya. Tidak tergesa-gesa atau pun terburu-buru. Ia bersama Tio Siau In memang sengaja menikmati keindahan pantai yang dilaluinya. Burung camar yang beterbangan di atas kepala mereka, kadang-kadang menukik mengelilingi sampan kecil itu,kemudian terbang pergi. Burung-burung itu seakan-akan merasa heran melihat kedatangan mereka. Berbondong-bondong burung itu mendekati, mengitari sampan, lalu bergegas pergi bila A Liong dan Tio Siau In berusaha menangkapnya.

"Aaah, kehidupan burung-burung itu tidak jauh berbeda dengan kehidupanku. Setiap hari terbang melayang ke mana saja, tanpa tujuan, tanpa kepastian." A Liong berkata perlahan sambil menengadahkan kepalanya. gagah perkasa, sedangkan Tio Siau In dengan rencananya membawa pemuda itu ke hadapan Kau-cu Aliran Im-yang-kau. Siapa tahu pemuda itu benar-benar pemuda bertatto naga yang dikehendaki Kau-cu Im-yang-kau?

Mereka mengemudikan sampan itu tidak terlalu jauh dari garis pantai. Sambil mendayung A Liong bernyanyi-nyanyi gembira. Sekali-sekali dayungnya dipakai untuk memukul burung camar yang terlalu bandel mendekati dirinya.


Tio Siau In melirik. “Tapi burung-burung itu kelihatan amat riang bermandikan sinar matahari pagi.” Tukasnya sambil tersenyum.

“Ya, Cici…. Mereka memang kelihatan riang, karena mereka cuma binatang yang tak memiliki akal budi seperti kita kaum manusia.”

“Hmmmmm” Tio Siau In bergumam tak jelas.

Mereka lalu berdiam diri kembali, masing-masing mengembara dengan jalan pikirannya sendiri-sendiri. A Liong dengan lamunannya untuk menjadi pendekar gagah perkasa, sedangkan Tio Siau In dengan rencananya membawa pemuda itu ke hadapan Kau-cu Aliran Im yang kau, siapa tahu pemuda itu benar-benar pemuda bertatto Naga yang dikehendaki Kau-cu Im yang kau?


Mereka mengemudikan sampan itu tidak terlalu jauh dari garis pantai, sambil mendayung A Liong bernyanyi-nyanyi dengan gembira, sekali-sekali dayungnya dipakai untuk memukul burung camar yang terlalu bandel mendekati dirinya.

Tio Siau In akhirnya terseret juga oleh arus kegembiraaan A Liong, gadis itu ikut-ikutan mengganggu burung-burung camar itu, bedanya kalau A Lion tak pernah bisa memukul burung itu sebaliknya Tio Siau In selalu berhasil menyambarnya dengan tangan kosong, tapi karena memang hanya ingin bercanda burung tersebut segera dilepaskan lagi.

A Liong menjadi heran. “ Wah, Cici… ajari aku! Mudah benar kau menangkapnya.”

A Liong mencoba ikut menangkap pula dengan kedua tangannya, tapi tak pernah berhasil. Bahkan tubuhnya yang besar itu membuat sampan mereka men¬jadi oleng ke sana ke mari.


"Hei-hei! Jangan banyak bergerak! Sampan ini bisa terguling nanti!"

A Liong menghentikan gerakannya. Mulutnya cemberut. Hatinya kesal karena tak bisa menangkap burung yang amat lincah itu.


Tio Siau In tersenyum melihat kekesalan A Liong.

"Memang tak mudah menangkap bu¬rung camar itu. Kau baru bisa menang¬kapnya apabila gerakanmu dapat lebih cepat dari gerakan mereka."

"Lebih cepat? Wah... mana bisa? Burung itu terbang secepat angin, mana mungkin manusia bisa melebihi kecepatannya?"

"Mengapa tidak bisa? Nih, lihat...!"

Sekonyong-konyong Tio Siau In menje¬jakkan kakinya ke lantai sampan, sehing¬ga tubuhnya melenting ke atas dengan ringannya. Di udara tubuh Tio Siau In yang ramping kecil itu berjumpalitan be¬berapa kali, lalu mendarat kembali di bibir sampan, tanpa membuat" banyak goncangan pada sampan yang kecil itu. Dan ketika tangannya terbuka, ada em-pat ekor burung camar yang menggelepar lepas dari sela-sela jarinya.

A Liong melongo melihatnya.

"Ah, Cici... bukan main! Ternyata kau pandai ilmu silat! Ilmu meringankan tubuh Cici benar-benar hebat!" pemuda itu memuji setinggi langit.

"Kau ingin mempelajarinya?"

"Ya... ya... ya, aku ingin sekali belajar seperti itu!" dengan gembira sekali A Liong menjawab sambil mengangguk-angguk.

Namun Tio Siau In cepat menyambungnya. "Tapi aku tak bisa mengajarimu. Ilmuku sendiri belum seberapa tinggi. Kau harus belajar kepada Guruku, atau kepada tokoh Im-yang-kau yang lebih tinggi. Syukur kalau Kau-cu sendiri yang membimbingmu..."

A Liong terdiam.
Sekejap pemuda itu tampak kecewa karena ia menyangka Tio Siau In sendiri yang akan mengajarinya, tapi ternyata tidak.

"Ah, kalau begitu... biarlah aku belajar saja sekalian ke puncak Gunung Hoa-san!" akhirnya pemuda itu berkata tegas.

Kini ganti Tio Siau In yang menjadi kecewa. Semula dengan muslihatnya tadi Tio Siau In berharap A Liong mau menjadi anggota aliran Im-yang-kau seperti dirinya. Tapi ternyata pemuda itu mem-punyai tekad yang kukuh untuk mendaki puncak Gunung Hoasan.

"Eh, Cici... mengapa kau lalu diam saja? Apa yang sedang kau pikirkan?" mendadak pemuda itu mengagetkan Tio Siau In.

"Ah-eh, anu... aku tidak memikirkan apa-apa. Aku cuma merasa heran padamu. Kau mengatakan tidak bisa ilmu silat, tapi kenapa tubuhmu tahan terhadap pukulan seorang jago silat berkepandaian tinggi?" untuk menutupi perasaan kagetnya Tio Siau In menjawab sekenanya.

"Pukulan jago silat berkepandaian tinggi? Ah, kapan aku berkelahi dengan seseorang? Ooooh, itu....! Kejadian malam tadi, ketika rombonganku dicegat penjahat-penjahat kejam itu? Ah, ki-rasanya pukulan mereka juga biasa-biasa saja. Tidak lebih sakit daripada ketika aku tertimpa batang pohon di perusahaan pemotongan kayu itu. Apalagi bila dibandingkan dengan ketika aku tergen¬cet batu penggilingan tahu atau tertim¬bun belasan karung garam itu...."

Sekali lagi Tio Siau In ternganga keheranan. Bagaimana mungkin semuanya itu bisa terjadi? Lim Kok Liang, Tong Tai-su dan tiga orang bergolok itu bukan jago-jago silat biasa, meskipun demikian mereka itu tetap tidak kuat menahan pukulan Lok-kui-tin. Lantas bagaimana mungkin A Liong yang tak mengerti silat itu bisa menahan pukulan sakti mereka? Apakah pemuda itu memiliki kulit besi bertulang baja?

Diam-diam Tio Siau In semakin tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang diri A Liong. Keadaan pemuda itu benar-benar amat aneh, demikian pula sejarah hidupnya. Tio Siau In semakin curiga, jangan-jangan pemuda itu me¬mang benar-benar "manusia pilihan" yang  dimaksudkan oleh sesepuh Aliran Im-yang-kau itu.


Sekali lagi Tio Siau In menghela napas panjang. Penilaiannya tentang ramalan Lo-jin-ong, sesepuh Aliran Im-yang-kau, mulai berubah. Tampaknya ramalan tentang pemuda bertatto naga itu me-mang dapat dipercaya.


"Eh, A Liong...? Bolehkah aku bertanya sedikit kepadamu?"

"Ah, tentu saja, Cici! Banyak juga boleh."

Tio Siau In tersenyum. "Anu, eemm... kau tadi mengatakan bahwa kau tidak mengenal orang tuamu. Lalu siapa yang memberi nama A Liong itu kepadamu? Apakah teman-temanmu pula?"

Tak terduga A Liong mengangguk. "Benar, Cici. Aku semula memang tidak mempunyai nama, apalagi nama keluarga. Nama A Liong ini memang kuperoleh dari kawan-kawan sekelompokku, karena aku memiliki gambar tatto naga di dadaku. Nih, lihat...!" pemuda itu menjawab sambil membuka bajunya.

"Ooooh...!" Tio Siau In pura-pura terkejut. "Siapa yang membuat gambar itu? Kau sendiri?"

A Liong tertawa. "Ah... yang benar saja, Cici. Masakan aku bisa melukis sebagus ini?"

"Lalu... siapa? Kawanmu lagi?"

Tiba-tiba A Liong menghentikan tawanya. "Entahlah, Cici. Aku juga tidak tahu. Mungkin mendiang orang tuaku, atau mungkin teman ayahku. Kata kawan-kawan sekelompokku, sejak aku bergabung dengan mereka gambar ini telah ada. Itulah sebabnya mereka memanggilku A Liong. Apalagi kulit tubuhku juga liat dan kuat seperti kulit naga." pemuda itu menjawab serius.

"Kulit naga...?" Sekarang ganti Tio Siau In yang tertawa. "Bukankah kulit naga itu ada sisiknya? Sisiknya yang keras yang membuat dia kuat dan liat. Kau tidak memiliki sisik-sisik itu, lalu bagai mana mungkin kulitmu bisa kuat seperti naga?"

"Cici tidak percaya? Boleh kau coba! Pukullah aku! Atau... hantamlah aku dengan dayung ini! Tanggung tidak apa- apa!" pemuda itu berkata penasaran.

Tio Siau In tertawa semakin keras. Namun untuk menyenangkan hati A Liong, gadis itu benar-benar mengambil dayung dari tangan A Liong.

A Liong tersenyum gembira seperti layaknya seorang anak yang ingin mem¬perlihatkan atau membanggakan keboleh¬annya. Dengan cekatan ia membuka ba¬junya dan membusungkan dadanya yang bidang dan penuh otot itu.

"Silakan...!" ucapnya mantap.

Jilid 8                                                                                                                      Jilid 10