Senin, 06 November 2017

PENDEKAR PEDANG PELANGI 3



JILID III

NAMUN meski marah si pemimpin itu sudah sadar siapa lawannya. Ia tidak mau bernasib seperti kawan-kawannya itu, sehingga pada saat menyerang tadi ia juga tidak lupa akan pertahanannya. Maka ketika serangan balik Siau In itu hampir mengenai sasarannya, ia terlebih dulu menggeliat ke kiri cepat sekali, hingga serangan itu lewat hanya sejengkal saja dari tubuhnya. Kemudian sebelum Siau In menarik kaki dan tangannya, ia lebih dulu memanfaatkan kesempatan itu dengan menyabetkan golok hitamnya yang berselubung racun ke arah lawan.

Serangan si pemimpin itu benar-benar bagus dan ganas luar biasa. Sepintas lalu serangan itu tidak mungkin tidak pasti akan mengenai sasarannya. Dalam keadaan serta kedudukan tubuh seperti itu tak mungkin Siau In dapat menghindar lagi. Tubuh yang molek itu tentu akan terbelah menjadi dua bagian.Atau paling tidak, kaki dan tangan yang mungil itu tentu akan terlepas dari tubuhnya.

Namun apa yang kemudian terjadi ternyata juga di luar dugaan si pemimpin itu. Dalam keadaan terjepit ternyata Siau In melakukan langkah yang boleh dikatakan amat berbahaya sekali buat dirinya sendiri, lapi tampaknya gadis itu memang telah yakin benar akan kekuatannya, sehingga golok hitam yang lebarnya setelapak tangan orang dewasa itu tiba-tiba hanya ditangkis dengan pisau kecilnya yang tak lebih besar daripada jari tangannya sendiri!

Traaaaaang!!! ,

Terdengar suara nyaring disertai percikan api yang amat hebat. Siau In mengeluh pendek karena jari-jari tangannya yang kecil halus itu tergetar dengan dahsyatnya sehingga tak kuasa memegangi pisaunya.Pisau itu terlepas jatuh. Namun sebelum menyentuh, tanah, tiba-tiba ujung sepatu kiri gadis itu menyambar gagangnya.

Thaaak!

Dan pisau itu meluncur ke atas dengan cepatnya! Si pemimpin itu telah bersorak di dalam hati. Tapi kegembiraannya itu mendadak hilang dan diganti dengan jeritannya yang menyayat hati. Pisau kecil itu ternyata menyambar urat nadinya, sehingga golok hitamnya itu terlempar ke udara!

Darah mengucur dengan derasnya dari pergelangan tangan si pemimpin itu. Pisau Siau In telah menembus tulang dan memutuskan urat nadinya. Sakitnya tiada terkira.Sebaliknya Siau In sendiri ternyata juga tidak terbebas begitu saja. Walaupun ayunan golok lawan dapat ia tahan sepenuhnya, tapi guncangannya masih mampu mengoyakkan kulit telapak tangannya.Bahkan ujung golok itu juga masih dapat: merobek lengan bajunya pula.

Kini Siau In benar benar tidak bisa menahan marahnya lagi. Dengan cepat tangannya mencabut pedang pendek yang terselip di balik bajunya, lapi sebelum dia mempergunakan pedang itu, dan dalam perkampungan petani tambak tersebut tiba-tiba muncul berpuluh-puluh anggota Hek-to-pai yang lain.
Mereka berbondong bondong mengiringkan seorang lelaki tegap berkumis dan berjenggot lebat. Begitu melihat kawan-kawan mereka yang bergelimpangan, mereka bergegas menghampiri.

“Siapa yang berani mengacau perkampungan ini?” lelaki bercambang lebat itu membentak. Suaranya keras dan berwibawa.

“Suhu, dialah gadis yang kukatakan tadi.” anggota Hek-to-pai yang melapor tadi memberi tahu.

Siau In berdiri tegak di hadapan lelaki itu. Pedang pendeknya ia sembunyikan di balik lengan bajunya. Ia sama sekali tidak takut menghadapi lawan yang banyak sekali itu. Bahkan ia balas menentang pandang mata lelaki bercambang lebat tersebut.

“It Hou…! Bukankah kau tadi kusuruh membawa adik-adikmu pergi ke kota untuk mencari susiok-susiokmu (paman paman gurumu) yang bermain barongsai di halaman rumah Bupati? Mengapa kalian telah berada di sini lagi dalam keadaan seperti ini?”

Lelaki bercambang lebat itu tiba-tiba membentak si pemimpin tadi. It Hou yang terluka pergelangan tangannya itu terdiam tak bisa menjawab. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya sambil terus memijit-mijit lukanya yang parah.

“Baiklah, kau boleh menjawabya nanti. Sekarang uruslah Adik-adikmu yang terluka ini. Bawalah mereka ke Balai Latihan Silat!”

“Ba-baik, Suhu….” It Hou menjawab, lalu mengajak beberapa orang adik seperguruannya yang lain untuk membantu membawa orang-orang yang pingsan itu ke Balai Latihan Silat.

Laki-laki bercambang lebat itu lalu menghadapi Siau In kembali. Beberapa saat lamanya ia hanya mengawasi saja tubuh Siau In dari kaki sampai ke kepala. Baru setelah itu ia menggeleng-gelengkan kepala seraya berdecak kagum.

“Bukan main. Masih begini muda, tapi sudah mampu mengalahkan murid kepalaku It Hou, Hmm, Nona… perkenalkanlah, namaku It Kwan. Aku adalah Ketua Hek-to pai yang bermarkas di perkampungan petani tambak ini. Bolehkah aku tahu namamu, nama gurumu, dan nama perguruanmu?”

Halus sekali nada suara ketua Hek-to-pai tersebut. Tapi bagi Siau In suara itu tetap terasa sombong dan menekan dirinya. Bahkan suara itu masih terasa mengandung nada penasaran dan kemarahan. Maka Siau In tetap tidak mau mengendurkan kewaspadaannya. Pedang pendeknya sewaktu-waktu masih siap untuk dipergunakan.

“Namaku Siau In, Tio Siau In. Aku adalah murid Giam Pit Seng, pimpinan Cabang Im-yang-kau bagian timur. Aku tidak bermaksud melukai….”

“Aaaaaa… jangan sungkan-sungkan.” It Kwan cepat memotong perkataan Siau In. “Jadi… Nona ini murid Giam Taihiap yang terkenal itu? Wah, pantas…pantas. Nama gurumu memang menjulang tinggi sejak lima tahun yang lalu, sebelum ia dipilih sebagai pimpinan Cabang Im-yang-kau daerah timur. Namanya boleh disejajarkan dengan Keh-sim Siau-hiap (Pendekar Patah Hati). Tung-hai-tiauw (Rajawali Laut Timur), Tung-hai Nung-jin (Petani Laut Timur), dan Lam-hai-kiam (Pedang Laut Selatan), vang hidup pada dua puluh tahun lalu….”

Keempat tokoh yang disebutkan oleh It Kwan itu adalah tokoh-tokoh persilatan ternama di daerah pantai timur Tiongkok pada dua puluh atau dua puluh lima tahun yang lalu. Keh-sim Siau-hiap adalah pemilik Pulau Meng-to (Pulau Mimpi), sedangkan tiga tokoh yang lain itu adalah bajak laut terkenal yang menguasai Lautan Timur dan Selatan. Nama mereka sangat ditakuti di pantai timur Tiongkok, sampai pada suatu saat mereka dikalahkan oleh seorang tokoh jahat bernama Hek eng-cu (Bayangan Hitam). Sejak itu nama nama mereka hilang tak terdengar lagi. Siau In tidak suka nama gurunya diperbandingkan dengan tokoh yang sudah tiada atau tidak pernah muncul lagi itu.

“Maaf, Pangcu. Kalau Pangcu memang benar-benar tidak ingin memperpanjang urusan ini lagi, aku akan mohon diri. Aku…?”

“Eit, nanti dulu. Aku memang tidak akan memperpanjang masalah ini, karena aku menghormati gurumu. Apalagi aku tidak ingin berselisih dengan aliran Im-yang-kau. Tapi… kuminta kau singgah dulu di Hek-to-pai!”

Mata yang sudah mulai meredup itu tampak menyala lagi. Malahan bibirnya yang kecil tipis itu kini digigit karena menahan geram.
“Hmm! Sedari tadi kau selalu berbicara manis, padahal maksudmu sebenarnya juga tidak berbeda dengan murid-muridmu itu! Huh, marilah! Kau tak perlu sungkan menghadapi gadis muda seperti aku!

Tapi ketahuilah, kaki tanganku ini juga takkan sungkan-sungkan pula untuk membunuh orang agar aku bisa keluar dari perkampungan bobrok ini!” gadis itu menggeram marah.

“Eeee… Nona salah sangka! Aku….” It Kwan masih mencoba membujuk dengan kata-kata halus.

Tapi Siau In tak bisa diajak bicara lagi. Gadis itu cepat melompat ke samping kanan It Kwan dan berusaha menerobos ke depan. Pedangnya tetap dia simpan di balik lengan bajunya.

Gadis itu telah bergerak cepat, tapi ternyata It Kwan lebih cepat lagi. Lelaki bercambang lebat itu memutar badannya ke kanan sambil melepaskan tinju kirinya lurus ke depan. Hal ini berarti bila Siau In meneruskan maksudnya, ia tentu akan dihajar oleh kepalan itu.

Bagaimanapun juga It Kwan memang masih merasa sungkan melayani Siau In. Sebagai ketua perguruan yang cukup punya nama di daerah itu, sebenarnya ia tak ingin berhadapan langsung dengan gadis ingusan seperti Siau In. Namun apa daya, murid pertama dan juga puteranya sendiri itu ternyata tak mampu melawan Siau In. Sayang dua orang adik seperguruannya kini berada di kota ikut berlomba barongsai.

Oleh karena itu dalam melepaskan pukulannya It Kwan sengaja tidak mengerahkan seluruh tenaganya, la hanya melepaskan setengah bagian saja dari seluruh kemampuannya. Apalagi ia memang tidak ingin melukai gadis itu. Bagaimanapun juga ia tidak ingin bermusuhan dengan aliran Im-yang-kau yang sangat besar. Dia hanya ingin memberi sekedar pelajaran saja kepada gadis itu, agar gadis itu juga mengetahui bahwa Hek-to-pai tidak boleh dipandang enteng.

Tapi inilah kesalahan It Kwan. Kalau ia bertempur dengan sungguh-sungguh, mungkin ia masih bisa menghadapi Siau in tanpa menderita malu. Namun karena dia hanya setengah-setengah, padahal Siau In berkelahi dengan seluruh kemampuannya, maka akibat yang kemudian terjadi benar-benar memerahkan telinga ketua Hek-to-pai itu.

Begitu melihat lawannya tergeser ke kiri sambil melontarkan pukulan untuk menghadang dirinya, Siau In segera menyiapkan pedang pendeknya, Pada saat yang tepat pergelangau tangannya berputar sehingga pedang itu keluar dan menabas kepalan tangan It Kwan.Ketua Hek-to-pai itu terkejut setengah mati.Padahal tadi ketika ia merasa lawannya tak bisa mengelak lagi, ia lalu mengurangi pula tenaganya.

Tak disangka-sangka gadis itu ternyata telah memasang jebakan yang berbahaya, sehingga ia benar-benar sulit menyelamatkan diri sekarang.Namun sebagai ketua partai persilatan yang cukup berpengalaman, It Kwan tidak segera berputus asa. Dengan sekuat tenaga ia menghentikan laju kepalannya, kemudian secepat kilat menekuk pergelangan tangannya sehingga kepalan itu paling tidak tertarik dua inchi ke belakang. Dan bersamaan dengan itu pula dia juga menyemburkan sesuatu dan mulutnya, untuk menahan laju pedang Siau In.

Tinggg! Sssrrt!

“Ough!” U Kwan mengaduh pendek seraya melihat ke punggung tangannya.

Ternyata meski telah berupaya dengan segala macam cara, pedang pendek itu masih juga menyerempet punggung tangan It Kwan, sehingga kulitnya terkelupas dan mengeluarkan darah. Betapa marah dan terhinanya ketua Hek-to-pai itu tak bisa dilukiskan lagi. Giginya gemeratak. Matanya melotot. Dan kumisnya yang lebat itu kelihatan bergetar menahan geram.

“Kuntilanak busuk tak tahu diuntung …!” umpatnya kasar, sehingga kelihatan benar watak aselinya.

It Kwan memang bekas anak murid dari seorang pendeta di puncak Gunung Kun Lun. Tapi karena tabiatnya yang kurang baik, ia diusir dari perguruannya. Ia lalu mengembara jauh sekali ke bagian ti mur negeri Tiongkok dengan bekal ilmu goloknya. Karena wataknya memang kurang baik, maka di dalam perjalanannya itu ia juga selalu berbuat yang merugikan orang lain, seperti memeras, merampok, membegal, dan sebagainya. Namun sejalan dengan berbagai pengalamannya itu, maka ilmu goloknyapun juga semakin bertambah matang pula. Bahkan ia telah menambah, mengubah, serta menyesuaikan jurus-jurusnya, sehingga akhirnya ilmu goloknya menjadi lain, tapi amat cocok dengan wataknya sendiri. Malahan untuk lebih memperdahsyat ilmu goloknya, It Kwan lalu memoles goloknya dengan racun, sehingga golok itu menjadi hitam dan mengerikan. Akhirnya ia sampai di kota Hang-ciu. Di tempat ini ia mendapatkan jodohnya dan mendirikan sebuah perguruan yang dinamakan Hek-to-pai, sesuai dengan senjata yang menjadi andalannya.

It Kwan mengerahkan seluruh tenaga saktinya.Tulang-tulangnya sampai bergemeratak menahan kekuatannya. Wajahnya yang hitam legam itu tampak menjadi ganas dan mengerikan. Matanya liar mengungkapkan hawa pembunuhan. Namun demikian ketua Hek-to-pai itu belum merasa perlu mengeluarkan golok hitamnya.

“Kubunuh kau betina memuakkan! Aku tidak peduli lagi kalau Si Tua Bangka Giam Pit Seng itu akan memusuhi aku! Dan  aku juga tidak peduli lagi misalkan seluruh tokoh Im-yang-kau menuntut balas ke mari! Lihat pukulan…!”

Ngeri juga hati Siau In menyaksikan wajah lawannya yang berubah menjadi sangat menyeramkan itu. tapi perasaan itu segera dibuangnya jauh-jauh.Sebagai seorang gadis yang telah digembleng ilmu silat tinggi oleh gurunya, ia telah mampu menguasai perasaan takutnya. Ia segera menundukkan tubuhnya untuk mengelakkan pukulan lawannya, lalu balas menusukkan pedang pendeknya ke arah perut. Tapi dengan cepat It Kwan mengibaskan tangannya yang lain, sehingga ujung pedang Siau In seperti terdorong oleh sebuah tenaga raksasa dan melenceng ke samping. Terpaksa untuk menjaga keseimbangannya Siau In ikut bergulir ke samping pula. Bahkan untuk menjaga segala kemungkinan gadis itu lalu menambah lagi dengan melangkah ke kiri dua tindak.

It Kwan membalikkan tubuhnya. Sekali lagi ia mempersiapkan seluruh tenaga saktinya. Kakinya lalu menjejak tanah dan kedua lengannya terulur ke depan, membentuk cakar untuk merobek robek badan Siau In. Jurus ini ia beri nama Harimau Tutul Menyergap Anjing!

Walau belum banyak pengalaman, namun Siau In sadar bahwa tenaga dalam orang tua itu lebih tinggi daripada tenaga dalamnya. Berdasarkan hasil dari beberapa gebrakan tadi, Siau In bisa menyimpulkan bahwa berhadapan langsung dengan lawannya adalah tidak menguntungkan. Ia harus lebih banyak mengandalkan kelincahan dan kehebatan ilmu pedangnya.

Ilmu pedang Siau In memang aneh dan lain daripada yang lain, karena ilmu pedang ciptaan suhunya itu sebenarnya hanya gubahan saja dari ilmu Hok-hong Pit-hoat (Ilmu Menulis Menaklukkan Angin) andalan gurunya. Suhunya sebelum menjadi pemimpin cabang Im-yang-kau memang seorang pendekar silat bersenjatakan sepasang pena (pit). Ilmu Hok-hong Pit-hoat sangat dikagumi dan disegani lawan di daerah pantai timur Tiongkok sejak beberapa tahun yang lalu. Ketika kemudian gurunya itu menerima murid, ia menjadi bingung karena dua di antara tiga muridnya ternyata adalah wanita. Padahal senjata pena tersebut hanya cocok untuk laki-laki.

Oleh karena itu terpaksa gurunya mengubah dan menyesuaikan jurus-jurus Hek-hong Pit-hoat itu ke dalam permainan pedang pendek, agar cocok dan sesuai dengan kedua orang murid perempuannya. Hanya Sin Lun saja sebagai lelaki yang mempelajari Hok-hong Pit-hoat yang aseli.

Melihat lawannya menerkam seperti harimau, Siau In menggeser kakinya ke samping, lalu meloncat ke atas pula seperti lawannya. Pedang pendeknya menyabet ke depan untuk menabas putus kedua lengan It K wan. Jurus ini sebenarnya adalah gubahan dari jurus ke sebelas dari Hok-hong Pit-hoat, yaitu Melukis Dua Mata di Lamping Gunung. Gerakan aslinya ialah menusukkan dua mata pena (pit) ke arah pelipis dan siku lawan. Tapi oleh gurunya gerakan itu diubah dengan menyabetkan dua buah pedang ke leher dan lengan musuh. Namun karena yang dipegang oleh Siau In sekarang hanya sebatang saja maka tabasan tersebut hanya tertuju pada lengan lawan saja.

It Kwan meraung marah. Meskipun masih amat muda ternyata Siau In sangat lincah dan cerdik.
Dengan indah It Kwan menggeliatkan tubuhnya di udara untuk menghindari tabasan pedang Siau In. Begitu kakinya menginjak tanah lagi, ketua Hek to pai itu segera menerjang kembali dengan sabetan sisi telapak tangannya terarah ke pinggang Siau In.

Anak murid It Kwan yang mengepung arena itu kelihatan tegang dan cemas. Meskipun mereka sangat percaya pada kesaktian guru mereka, lapi mereka juga melihat bahwa gadis muda itu memiliki ilmu pedang yang luar biasa pula. Malahan pada gebrakan pertama tadi gurunya sempat mendapat luka di punggung tangannya. Mereka menjadi tidak sabar, kenapa gurunya tidak lekas-lekas saja mempergunakan goloknya.

Dua puluh jurus telah berlalu, lapi It Kwan yang berjanji hendak membunuh Siau In itu tetap belum bisa melaksanakan niatnya. Gadis muda itu ternyata sangat alot dan licin bukan main. Bahkan beberapa kali malah ia sendiri yang hampir termakan oleh pedang pendek itu. Tiga puluh jurus telah berlalu pula. Malahan beberapa waktu kemudian empat puluh jurus pun telah terlampaui juga. Meskipun demikian ketua Hek-to-pai itu tetap tak mampu melumpuhkan perlawanan Siau In. Sebaliknya gadis itu malah lebih sering mendesaknya ke dalam kesulitan.

Akhirnya It Kwan sadar bahwa lawannya memang memiliki kepandaian tinggi. Kalau dia tetap bertahan dengan kesombongannya, bukan mustahil ia sendiri malah yang akan terkapar di atas tanah. Oleh karena itu ia segera mengesampingkan perasaan malunya dan memberi tanda kepada salah seorang muridnya untuk memberinya sebilah golok. Murid itu segera melemparkan golok hitamnya.

Kini It Kwan berdiri dengan golok di tangan. Matanya tajam mengawasi lawannya yang masih amat muda itu. Hawa pembunuhan benar-benar telah terpancar dari sorot matanya. Dan golok hitam di tangannya itu tiba-tiba seperti berkilau mengerikan.Sekejap bergetar juga hati Siau In. Gadis itu menyadari bahwa dengan golok di tangan, It Kwan benar-benar akan seperti harimau tumbuh sayap.

Maka untuk melindungi keselamatannya, Siau In cepat mengeluarkan pula pedang pendeknya yang lain. Kini kedua belah tangannya benar-benar telah memegang senjata andalannya, sepasang pedang pendek!

Sementara itu matahari telah condong ke barat, dan pertunjukan di halaman rumah Bupati itu pun sudah hampir selesai pula. Semua penonton sudah mengumpul dan tertumpah semua di sekeliling panggung lui-tai. Pertandingan barongsai dan tari-tarian telah rampung, sehingga seluruh penontonnya berpindah ke panggung lui-tai. Juara pertama di panggung barongsai adalah pemain barongsai dari Ui-thian-cung. Walaupun betisnya telah dilukai Siang-hai-coa dari Ang-lian-pang, namun dua saudara Ui itu tetap bisa memenangkan pertandingan melawan ba-rongsi dari Pek-hok-bio dan Hek-to-pai.

Sekarang di atas panggung lui-tai sedang berlaga dua orang lelaki bersenjatakan pedang dan tongkat besi.Keduanya telah bertarung lebih dari tiga puluh jurus, namun belum ada juga yang kalah atau menang.

Sedangkan di bawah panggung, di dekat tempat duduk wasit atau panitia, telah berdiri dua orang pemenang yang telah lolos dari ujian pertama, yaitu memenangkan peserta lain tiga kali berturut-turut.Siu Lun dan Ciu In masih sibuk mencari Siau In.Sepasang merpati itu terduduk lesu di pintu gerbang halaman. Wajah mereka tampak sedih dan khawatir.

“Suheng…? Ke manakah sebenarnya Siau In? Jangan-jangan telah terjadi sesuatu pada dirinya. Oh, Suheng….” Ciu In mulai berkaca-kaca matanya.

Sin Lun berdiri dari duduknya. “Marilah kita cari di jalan. Mungkin ia marah karena kita tinggalkan tadi, lalu pergi meninggalkan kita ke jalan raya.”

Mereka lalu berjalan perlahan-lahan sambil memasang mata dan telinga, kalau-kalau mereka melihat atau mendengar orang berbicara tentang Siau In. Di depan pasar di mana Siau In tadi juga berdiri, mereka berhenti sebentar. Di pondok perempatan jalan di muka mereka, tampak beberapa orang berdiri bergerombol sambil berbicara dengan riuhnya.

“Ayo kita mendekati mereka! Siapa tahu mereka pernah melihat Siau In lewat.” Sin Lun menarik lengan Ciu In dan mengajak gadis itu berjalan lagi.

Orang orang itu segera menoleh dan melihat kepada mereka, terutama kepa da Ciu In yang cantik dan lembut.

“Cuwi, maaf… bolehkan kami bertanya? Tampaknya baru ada sesuatu yang terjadi di tempat ini?” dengan sopan Sin Lun menegur orang-orang itu.

“Benar. Di sini baru saja ada seorang gadis yang pingsan dengan mendadak.” salah seorang dari orang-orang itu memberi jawaban.

Hati Sin Lun dan Cui In berdesir. Tiba-tiba mereka menjadi khawatir, jangan jangan gadis itu adalah Siau In.

“Seorang gadis…?” Sin Lun menegaskan. “Apakah gadis itu masih sangat muda dan cantik?”

“Ya-ya, Sicu (Tuan) benar.” orang-orang itu menjawab serentak. “Apakah Sicu kenal gadis itu?”

Dengan gugup dan suara serak Cui In maju ke depan. “Apakah… apakah gadis itu mengenakan baju warna merah muda?” tanyanya harap-harap cemas.

“Ya, betul! Gadis itu memang mengenakan baju warna merah.” orang-orang itu menjawab tidak bersamaan.

“Oh, Suheng… dia… dia memang Siau In.” Ciu In mulai menangis perlahan.

Tentu saja orang-orang itu menjadi kaget. Mereka saling pandang dan tak tahu harus berbuat apa. Untunglah Sin Lun dengan sigap lalu meminta agar salah seorang menceritakan apa yang telah terjadi. Sin Lun berkata kepada orang-orang itu bahwa ia adalah kakak dari gadis yang pingsan tersebut. Ternyata beberapa saat yang lalu ada seorang gadis muda dan cantik berjalan sendirian di tempat itu.

Beberapa orang di antara orang-orang itu malah sempat pula menggodanya. Namun gadis itu tidak meladeni godaan mereka. Mungkin karena risi gadis itu lalu menyeberang jalan. Dan pada saat itu ada sebuah gerobag kuda yang kebetulan lewat pula. Entah mengapa, tiba-tiba gadis itu lalu terkulai jatuh ke jalan.

Mereka dan beberapa orang yang kebetulan lewat segera memberi pertolongan, termasuk juga penumpang gerobag kuda tadi. Tapi sampai beberapa saat lamanya gadis itu tidak juga siuman. Kemudian diambil keputusan untuk membawa gadis itu ke rumah tabib yang tinggal di bagian barat kota. Pemilik gerobag itu lalu menawarkan diri untuk membawa gadis itu ke sana, dan semua orang menyetujuinya.

“Jadi gadis itu dibawa ke rumah tabib? Oh, di manakah rumah tabib itu?” dengan gugup Sin Lun bertanya kepada orang yang bercerita itu.

“Sicu ambil saja jalan yang menuju ke barat ini. Jangan berbelok sebelum sampai di sebuah kuil besar di pinggir jalan. Kalau Sicu sudah sampai di kuil Pek-hok-bio itu, silakan berbelok ke kanan. Kira-kira seratus tombak dari kuil itulah rumah Tabib Ciok. Setiap orang tahu rumahnya.”

“Terima kasih…!” Sin Lun menjura, lalu menarik lengan Ciu In untuk diajak berlari ke rumah tabib itu.

Keduanya tak mempedulikan orang-orang lain yang keheranan melihat mereka berlari-lari.

“Kenapa Siau In bisa pingsan? Apakah ia sakit?

Bukankah tadi ia sehat-sehat saja? Jangan-jangan ada sesuatu yang tidak beres….” sambil berlari Ciu In menduga-duga.

“Aku juga bingung. Masakan gadis kuat seperti Siau-sumoi bisa pingsan tanpa sebab? Jangan-jangan dia bukan Siau-sumoi, tapi orang lain….” Sin Lun mengemukakan kebimbangannya pula.

“Benar. Mudah-mudahan demikian…. Tapi kita harus membuktikannya dahulu.”

Dua lie kemudian mereka sampai di jalan yang sepi. Di kanan kiri jalan hanya kebun kebun kosong milik penduduk. Namun demikian jalan itu amat teduh dan nyaman karena di pinggir jalan ditanam orang pohon-pohon siong besar yang rimbun daunnya.

“Suheng, lihat! Itu kuilnya…! Ciu In berseru seraya menunjuk ke sebuah halaman yang amat luas dengan banyak sekali pohon-pohon besar sebagai pelindung.

“Benar. Aku hampir tak melihatnya karena pohon-pohon besar itu hampir menutupi genting-gentingnya.

Padahal bangunan itu demikian besar dan tinggi ….Kalau begitu kita harus berbelok ke kanan. Kata orang tadi di depan kuil ada jalan yang menuju ke rumah tabib itu. Marilah….”

Sin Lun menyambar telapak tangan Ciu In dan mencengkeramnya, lalu ditariknya lengan itu ke depan. Entah mengapa, tanpa kehadiran Siau In di dekatnya, Sin Lun merasa bebas dan senang sekali memegangi jari-jari tangan yang lentik serta berkulit halus itu. Padahal sejak kecil mereka selalu bersama sama dan Sin Lun acap kali juga memegangi tangan itu.

“Nanti dulu, Suheng…. aku seperti mendengar suara ringkik kuda di dalam kuil itu.”

“Ah… apa anehnya suara ringkik kuda?” Sin Lun berkata gemas. “Oh, maksudmu… kau menduga pemilik gerobag kuda yang membawa Siau In itu berada di dalam kuil itu? Wah, kau ini ada-ada saja. Orang yang memiliki gerobag kuda bukan hanya seorang saja. Ayoh, kita nanti terlambat sampai di rumah tabib itu!”

“Baiklah… baiklah!” Ciu In merengut dan bersungut-sungut.

Selama ini Sin Lun tak pernah melihat Ciu In bersikap manja atau “ngam-bek” seperti itu. Di hadapan siapa saja gadis itu selalu bersikap dingin, serius, tegas, namun juga tampak lembut dan anggun.

Apalagi di depan guru dan saudara-saudara seperguruannya. Tapi sekarang, ketika mereka hanya berduaan, entah mengapa tiba-tiba Ciu In dapat bersikap lain. Gadis ini merengut dan bersungut-sungut dengan sikap yang dibuat-buat. Bahkan beberapa kali mata yang redup itu melirik ke arahnya.

Sin Lun tak tahan lagi. Hatinya tergetar dengan hebat. Wajah lembut itu seperti menantangnya. Maka tanpa pikir panjang lagi kedua tangannya menyambar pundak Ciu In, lalu diciumnya pipi gadis itu dengan bersemangat. Tapi ketika bibirnya hendak bergeser ke mulut, dengan cepat Ciu In mendorongnya.

“Ssssu-su-heng…? Kkkk-kau…?” Cui ln menjerit lirih. Pipinya menjadi merah seperti buah tomat tua.

Matanya berkaca-kaca mau menangis. Sin Lun sendiri menjadi salah tingkah dan gugup sekali. Berulang kali pemuda itu menoleh ke sana ke mari, seakan-akan ia takut perbuatannya tadi diketahui orang.

“Sumoi, ma-ma-maafkan aku….” akhirnya pemuda itu berkata dengan ketakutan. “A-aku tak tahan lagi. Habis kau… kau cantik sekali!”

Terdengar suara sesenggukan ketika Cui In kemudian berlari meninggalkan Sin Lun. Gadis itu berlari-lari kecil menuju ke rumah Tabib Ciok. Sin Lun yang merasa bersalah itu menjadi gelagapan.

Otomatis kakinya melangkah mengejar sumoinya. Di sepanjang jalan menuju ke rumah tabib itu Sin Lun meratap-ratap minta ampun, tapi Cui In tak menggubrisnya. Gadis itu telah berjalan biasa lagi. Air matanya yang mengalir juga sudah dihapusnya.

Namun gadis itu tetap saja berdiam diri. Wajahnya yang cantik itu hanya memandang ke arah jalan yang hendak diinjak atau dilangkahinya. Sama sekali ia tak melayani rengekan Sin Lun yang mengemis-ngemis minta dikasihani.

“Baiklah, kalau Sumoi memang tidak mau memaafkan aku… aku nanti akan pergi. Biarlah aku mencari Siau-sumoi sendirian. Setelah Siau-sumoi ketemu, aku akan pergi jauh sekali. Biar Suhu tidak marah kepadaku….” akhirnya Sin Lun berkata dengan suara sedih.

“Mengapa Suhu harus marah kepadamu?” tiba-tiba Ciu In menyahut dengan suara ketus.

Sin Lun terbelalak girang. Namun kegembiraannya itu segera lenyap kembali. Ternyata sumoinya itu masih tetap marah kepadanya.

“Habis, kau tentu mengadu kepada Beliau, sehingga aku tentu akan diusirnya.” jawabnya memelas.

Mendadak Cui In menghentikan langkahnya. Gadis itu menatap wajah Su-hengnya dengan wajah keruh.

“Siapa yang akan mengadu kepada Suhu? Ngaco!” serunya gemas, kemudian melangkah lagi dengan cepat.

“Jadi… jadi Sumoi tidak akan mengadukan peristiwa tadi kepada suhu? Oh, terima kasih Sumoi…

terima kasih!” Sin Lun bersorak gembira, lalu seperti anak kecil ia berjungkir balik di belakang Ciu In.

Ciu In membuang muka seolah-olah tak melihat tingkah laku suhengnya yang konyol itu. Tapi kegembiraan suhengnya itu tampaknya tidak lama, karena di lain saat dia telah berjalan lesu kembali di belakangnya.

“Sumoi memang tidak akan mengadu kan hal itu kepada Suhu, tapi… tapi Sumoi sendiri masih tetap marah kepadaku. Sumoi belum mau memaafkan aku. Sumoi, aku menyesal sekali…. Maukah kau memaafkan aku?” Sin Lun kembali merengek-rengek.

Sebenarnya Siu In sudah tidak marah lagi kepada suhengnya. Namun untuk berbicara panjang lebar atau bertatap muka dengan suhengnya ia masih sungkan.

Sebagai seorang gadis yang belum pernah dicium oleh seorang lelaki, meskipun yang dicium itu hanya pipinya, ia belum dapat dengan segera membenahi perasaannya kembali.

Sebaliknya Sin Lun yang juga belum berpengalaman menghadapi wanita, menganggap bahwa diamnya Ciu In itu disebabkan karena marah dan bencinya gadis itu terhadapnya, sehingga gadis itu sama sekali tak mau mengampuninya lagi.

“Baiklah, Sumoi. Aku memang biadab dan tak pantas untuk dimaafkan lagi. Laki-laki seperti aku memang hanya memuakkan saja. Baiklah, aku minta diri saja. Biarlah kita berpisah untuk mencari Siau In sendiri-sendiri. Selamat, tinggal, Sumoi. Jagalah dirimu baik-baik!” akhirnya Sin Lun berkata dengan suara putus asa.

Sekejap Ciu In tak tahu apa yang harus ia perbuat. Ia ingin menahan suhengnya, tapi mulutnya sulit untuk diajak berbicara. Bahkan perasaan sungkan dan malunya pun belum bisa hilang dari dadanya, sehingga untuk menoleh pun ia juga masih belum berani pula. Beberapa waktu kemudian baru gadis itu menoleh karena langkah kaki suheng-nya tidak terdengar lagi.

Namun ia terlambat. Sin Lun telah pergi. Pemuda itu sudah menghilang di balik lebatnya pepohonan yang tumbuh di kanan kiri jalan sepi itu. Pemuda itu benar-benar telah pergi membawa kekecewaannya yang mendalam.

“Suheng…?” Cui In tiba-tiba menangis sedih.

Berbagai macam perasaan menggumpal di dadanya, namun sulit untuk dikeluarkan.Lama sekali Cui In menangis di tempat itu. Untunglah jalan itu memang jalan kecil yang jarang sekali dilalui orang. Mungkin memang hanya tabib itu saja yang sering melewatinya. Ia baru berhenti menangis ketika telinganya mendengar desir langkah kaki orang mendekatinya.

Untuk sesaat Cui In menyangka yang datang itu adalah suhengnya, sehingga ia cepat-cepat menghapus air matanya, dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Namun harapan itu menjadi kendor kembali. Orang yang berada di depannya ternyata bukan suhengnya.

Orang yang baru saja datang itu menatapnya dengan rasa heran dan ingin tahu. Wajahnya sangat tampan, lebih tampan daripada suhengnya. Tapi usianya agak lebih tua, yaitu antara dua puluh lima atau dua puluh enam tahun. Pakaiannya sangat longgar seperti pakaian seorang pelajar atau sasterawan.

“Nona kehilangan jalan…? Atau… Nona baru saja diganggu orang?” pemuda tampan itu bertanya halus.

Ciu In menghela napas panjang sambil menata kembali perasaannya. Ia dapat bersikap tenang dan wajar di depan orang yang masih sangat asing baginya itu,

“Maaf, aku baru saja bertengkar dengan Kakakku. Aku tidak apa-apa. Sekarang biarlah aku pergi….” kata Cui In kemudian dengan suara masih kaku.

“Eee, nanti dulu. Mengapa Nona sangat tergesa gesa? Apakah Nona takut atau mencurigai aku sebagai orang jahat?” pemuda itu cepat menahan dengan ucapan yang masih tetap sopan.

“Tidak. Aku tidak mencurigai, Tuan. Aku ingin cepat-cepat pulang.” Cui In berdusta.

“Ooo… di manakah rumah Nona?” pemuda itu tetap mengejar.

Ciu In mulai jengkel. Pemuda di hadapannya itu criwis sekali serta selalu ingin tahu urusan orang lain.

Karena kesal Ciu lu lalu menjawab sekenanya. Ia menunjuk ke depan, ke tempat di mana rumah tabib Ciok tinggal.

“Eh, di sana hanya ada sebuah rumah saja dan tidak ada rumah yang lain. Rumah itu adalah rumah seorang tabib.”

Pemuda tampan itu keheranan.

“Aku memang tinggal di sana!” Ciu In menjawab kesal.

“Nona..! Nona tinggal di sana? Eh… bagaimana ini?” Pemuda itu kelihatan bingung.

“Memangnya aku tinggal di sana. Mengapa Tuan menjadi kebingungan begitu? Tuan tidak percaya?”

Karena sudah terlanjur berdusta, maka Ciu In tidak bisa mundur lagi. la harus bisa menyakinkan kepada pemuda itu bahwa ia memang tinggal di sana, sehingga ia bisa segera lepas dari gangguannya.

“Lalu… Nona ini apanya Tabib Ciok?” Pemuda itu bertanya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Tentu saja aku ini… anaknya!” karena , benar-benar sudah jengkel Ciu In membentak.

“Hah…?” tiba-tiba pemuda itu berseru kaget dan melangkah mundur. Air mukanya semakin tampak kebingungan.

Ciu In puas sekali. Ia mengira pemuda itu menjadi ketakutan mendengar kenyataan bahwa ia adalah puteri Tabib Ciok. “Tahu rasa kau. Makanya jadi orang jangan usil dan suka mencampuri urusan orang.

Hi-hi-hi… tampaknya Tabib Ciok itu orang yang disegani juga….” ucapnya di dalam hati.

“Nona…? Apakah Nona tidak salah?” pemuda itu masih berani bertanya pula.

“Eh, Tuan ini mau bertanya atau mau menyelidiki asal-usul orang? Enak saja bertanya terus menerus. Huh, Tuan sendiri siapa?”

“Akulah… Tabib Ciok itu!” pemuda itu menjawab pendek.

“Ooooh…!!!”

Saking kagetnya Ciu In menjadi lemas. Untunglah pemuda itu cepat-cepat menahan tubuhnya.

“Sudahlah, Nona. Nona tak perlu berpikir macam-macam. Aku tahu Nona sedang sedih dan bingung. Marilah kita berteduh di bawah pohon itu….” pemuda itu berkata dengan lembut.

Suaranya seperti mengandung wibawa yang sangat kuat. Tidaklah mengherankan bila Ciu In menjadilemah seperti itu. Dalam waktu yang hampir berurutan gadis itu menerima hantaman perasaan yang bertubi-tubi. Pertama kali ia kehilangan adik yang disayanginya. Kedua kali, suheng yang dihormati dan juga dicintainya itu tiba-tiba pergi meninggalkannya.

Ciu In menurut saja ketika pemuda yang baru dikenalnya itu menuntunnya ke bawah pohon yang rindang. Bahkan ia juga menerima saja ketika pemuda itu memberinya selembar saputangan, padahal ia sendiri juga membawa.

“Usaplah keringat yang menempel di dahi Nona, agar Nona menjadi tenang!” pemuda itu memberi perintah.

Makin lama Ciu In memang menjadi semakin tenang. Air mukanya yang berubah-ubah tadi, kini telah menjadi semakin dingin dan anggun seperti biasanya. Tatapan matanya yang tajam dan liar telah berubah menjadi redup pula kembali. Kini mata itu memandang ke arah Tabib Ciok yang masih muda itu,

“Benarkah Tuan adalah Tabib Ciok?” akhirnya gadis itu bertanya dengan nada sedikit sungkan,

“Benar, aku memang orang yang disebut Tabib Ciok di sini. Aku baru sebulan tinggal di rumah itu, tapi orang di sekitar tempat ini tahu saja kalau aku seorang tabib, sehingga setiap hari ada saja yang datang berobat ke rumahku. Ehmmm, siapakah nama Nona? Apakah Nona juga akan berobat ke rumahku?” dengan ramah pemuda itu memberi keterangan.

“Namaku Ciu In, Tio Ciu In! Aku ke mari memang hendak ke rumah Tuan. Kata orang adikku telah pingsan di jalan, kemudian dibawa berobat ke mari.Oh, Tuan…, benarkah adikku berada di rumahmu?”

“Ah, beberapa saat yang lalu juga ada seorang pemuda yang datang untuk bertanya adik perempuannya yang hilang. Kini Nona bertanya pula tentang adikmu kepadaku. Apakah kalian masih bersaudara?”

“Oh, jadi Suhengku sudah lebih dulu bertemu dengan Tuan?” tiba-tiba Ciu In berseru dengan penuh pengharapan.

“Betulkah pemuda itu suherigmu? Dia seorang pemuda jangkung, agak kurus, matanya sedikit cekung, berpakaian kelabu,... Dan aku melihat sepasang senjata berbentuk pit (pena) di balik bajunya.”

“Benar. Orang itu memang benar Suhengku. Lalu…

ke mana dia sekarang?” Ciu In mengangguk-angguk dengan amat bersemangat.

“Dia telah pergi lagi, setelah aku katakan bahwa tak seorang gadis pun yang dibawa orang untuk berobat ke rumahku. Memang mulanya ia tak percaya, sehingga ia bersikeras menggeledah rumahku. Tapi setelah ia yakin bahwa aku memang tidak membohonginya, ia lalu pergi dengan lesu. Ia tampak sangat sedih sekali. Bahkan kelihatan seperti orang yang sudah berputus asa.”

“Oooh, Suheng…!” Ciu In kembali merintih.

Semangatnya yang melonjak tadi telah patah pula kembali. Suhengnya telah pergi, adiknya pun hilang.Tabib muda yang selalu memperhatikan gerak-gerik Ciu In itu menarik napas panjang sekali. Walaupun masih muda, namun wajahnya yang tampak angker dan berwibawa itu seperti dapat  memaklumi apa yang terkandung di dalam hati Ciu In. Dibiarkannya, gadis itu tenggelam di dalam lamunan sedihnya, ia hanya duduk saja mengawasinya. Baru setelah itu sadar akan keadaannya, ia beringsut mendekatinya.

“Maaf, Tuan …. Ternyata aku telah lupa bahwa aku tidak sendirian di tempat ini. Aku… aku terlalu larut dalam perasaanku sendiri.” dengan air muka bersemu merah Ciu In meminta maaf.

“Nona tak perlu meminta maaf kepadaku. Menurut perasaanku, apa yang Nona lakukan tadi adalah wajar.Aku bisa menyelami perasaan Nona. Sudah kehilangan saudara, masih harus berselisih dengan orang yang amat disayangi pula. Bukankan begitu, Nona? Oh, maaf… aku tidak bermaksud mencampuri masalah pribadi Nona. Aku hanya ingin membantu memecahkannya, kalau boleh.”

Ciu In menatap wajah pemuda di depannya itu dengan tajamnya. Tiba-tiba kulit mukanya terasa panas. Setelah memperhatikan betul, tampak benar bahwa pemuda itu memang ganteng bukan main.

Dahinya lebar, hidungnya mancung, alisnya tebal, dagunya kokoh kuat. Perawakannya sedang, tidak tinggi tapi juga tidak pendek, namun dadanya yang bidang itu benar-benar mencerminkan kejantanan yang luar biasa.

“Tuan… Tuan ini siapa sebenarnya? Mengapa seakan-akan mengetahui keadaanku?” Ciu In bertanya dengan suara yang agak sedikit gemetar. Kini Ciu In benar-benar merasa kikuk dan agak gemetar menghadapi pemuda yang memiliki wibawa yang amat mengagumkan itu.

Pemuda itu tertawa perlahan. Giginya yang putih itu kelihatan berderet rapih dan kokoh. “Nona jangan memandangku seperti itu. Aku ini hanya seorang perantau biasa, yang suka bertualang mencari pengalaman di mana saja. Kebetulan aku melihat suatu kejahatan di suatu daerah, dan aku turun tangan mencampurinya. Orang jahat itu dan perkumpulannya aku porak-porandakan. Namun ternyata ada seorang penjahat yang bisa meloloskan diri. Orang itu lari ke kota ini. Karena orang itu sangat berbahaya bagi masyarakat, terutama terhadap wanita dan gadisnya, maka aku mengejarnya pula ke kota ini. Sayang aku kehilangan jejak. Tapi aku telah mencurigai sebuah tempat yang mungkin menjadi tempat persembunyiannya. Maka aku lalu menyamar menjadi seorang tabib dan bertempat tinggal di tempat ini. Namaku yang sebenarnya adalah Liu Wan. Nama margaku sama dengan nama marga keluarga istana, mungkin nenek moyang kami dulu memang ada pertalian saudara.” pemuda itu menutup keterangannya dengan gurauan.

“Oh, kalau begitu ilmu silat Tuan tentu tinggi sekali.” Ciu In memandang dengan kagum.

“Ah, tidak. Ilmu silatku biasa-biasa saja. Tidak lebih tinggi daripada ilmu silat pedang Nona.”

Ciu In terperanjat. “Tuan tahu aku bisa memainkan pedang?” tanyanya kaget.

“Ketika memegangi lengan Nona tadi aku merasa menyentuh sepasang pedang di balik baju Nona.”

“Oh…!” Wajah Ciu In menjadi kemerah-merahan.

Tiba-tiba Liu Wan menjadi bersungguh-sungguh.

“Nona Tio, kalau engkau mau, nanti malam kita bersama sama mencari adikmu. Kita datangi tempat yang telah kucurigai itu. Aku percaya adikmu ada di sana. Penjahat itu memang selalu menculik seorang wanita setiap pergantian tahun baru. Tahun ini tampaknya adikmulah yang hendak dijadikan korbannya.”

“Ohhh, apa…? Adikku hendak dijadikan korban? Korban apa?” Ciu In menjerit ketakutan.

“Tenang Nona. Ini baru dugaanku saja. Marilah ke rumahku dulu. Nanti kuterangkan marilah…!”

“Mengapa tidak sekarang saja kita berangkat ke tempat itu? Mengapa harus menunggu nanti malam?”

Cui In mencengkeram lengan Liu Wan.

“Tenang, Nona. Sekali lagi… tenanglah! Percayalah kepadaku. Sampai tengah malam nanti adikmu, tidak akan diapa-apakan oleh mereka. Mereka masih menyembunyikannya dengan rapi. Kita tidak akan bisa menemukannya sekarang. Salah salah mereka malah akan membawanya pergi kalau kita bergerak sekarang. Lebih baik kita menunggunya sampai mereka sendiri yang mengeluarkannya tengah malam nanti. Pada saat itulah kita bergerak untuk menyelamatkannya. Sekalian .mengobrak-abrik tempat tinggal mereka itu. Nah, marilah…!” dengan suara yang tenang, namun terasa tegas dan berwibawa, Liu Wan membujuk Ciu In.

Ciu In menundukkan kepalanya. “Baiklah, aku menurut….” desah gadis itu kemudian dengan nada pasrah.

Liu Wan lalu mengajak Ciu In melangkah menuju ke pondoknya. Sebuah pondok keril di tengah-tengah empang yang cukup luas, di mana bermacam-macam ikan kecil berenang di dalamnya.

“Oh, bukan main indahnya tempat ini. Tuan sungguh pandai sekali memilih tempat tinggal.” Cui In berseru memuji sambil melangkah perlahan-lahan di jembatan kayu yang membentang ke tengah-tengah empang.

“Tempat ini memang bekas peristirahatan. Rumah di tengah empang itu semula sudah tidak dipergunakan lagi. Atapnya sudah bocor, dinding sudah retak dan hancur. Aku dan pembanluku kemudian berusaha membangunnya kembali, walaupun cuma sederhana.”

“Pembantu…? Siapakah pembantu tuan? Di manakah mereka?”

Belum juga hilang gaung suara Ciu In di telinga, dua orang lelaki tua tiba-tiba keluar dari pondok di tengah empang itu. Bergegas mereka menyambut kedatangan Liu Wan. Ciu In tercengang melihat wajah mereka yang presis satu sama lain.

“Itulah kedua orang pembantuku. Maaf, mereka berdua tidak bisa berbicara. Mereka bisu, karena lidah mereka cacad sejak kecil. Tapi mereka sangat setia kepadaku. Merekalah yang membantu aku melayani para pendatang yang ingin minta obat kepadaku.”

“Mereka… kembar?” Ciu In menegaskan Liu Wan mengangguk. “Mereka bernama Lo. Kang dan Lo Hai. Tapi jangan kau tanyakan yang mana Lo Kang dan yang. mana Lo Hai, karena aku sendiri juga tak dapat membedakannya. Kalau butuh mereka, aku ngawur saja memang gilnya….”

Demikianlah, mereka lalu masuk ke dalam pondok di tengah empang itu. Lo Kang dan Lo Hai berjaga-jaga di luar. Seperti dua ekor anjing penjaga mereka duduk melenggut di depan pintu.

Begitu berada di dalam pondok Ciu In semakin merasa kagum kepada Liu Wan. Selain menguasai ilmu pengobatan pemuda itu ternyata juga menguasai bidang kesusastraan pula. Beberapa buah tulisan sanjak dan lukisan tergantung dengan indahnya di setiap dinding-dinding-nya. Semuanya tertulis atas namanya.

“Seluruhnya Tuan yang membuatnya. Indah sekali…!” Ciu In tak tahan pula untuk tidak memuji.

“Aku memang menyukai keindahan. Semua keindahan. Baik keindahan yang tersembunyi dalam gerakan ilmu silat. keindahan terselubung yang ada di dalam ilmu pengobatan, keindahan nyata yang terpancar di dalam lukisan, dan keindahan rasa di dalam ilmu kesusasteraan. Semuanya itu aku senang sekali menghayatinya.” Liu Wan menerangkan seperti orang yang sedang membacakan sajak.

Ciu In mendekati sebuah sajak yang tergantung di atas meja tulis. Sajak itu diberi bingkai kayu berukir yang bagus sekali. Cui In lalu membacanya.

BURUNG HONG DALAM SANGKAR EMAS

Elok dipandang mata, tapi sedih dipendam hati.
Meski seribu warna ada di sayapnya.
Meski segala hiasan ada di sangkarnya.
Tapi kebebasan tiada diberi.
Apa indahnya jadi burung Hong?
Apa nikmatnya di dalam sangkar emas?
Elok dipandang mata, tapi sedih dipendam hati!

Liu Wan.

Ciu In membalikkan tubuhnya dan ia sangat kaget ketika Liu Wan tepat berada di depannya. Ia sama sekali tidak mendengarkan langkah kaki pemuda itu di belakangnya.

“Oh, Tuan mengagetkan aku…! Aku sama sekali tidak mendengar langkah kaki Tuan.” gadis itu menjerit kecil seraya melihat papan kayu yang menjadi alas lantai pondok itu.

Liu Wan tersenyum. “Lantai papan ini memang berderit bila terinjak kaki. Tapi Nona tampaknya
terlalu asyik membaca sajak itu sehingga tak mendengar suaranya.”

“Ah, Tuan ini pandai benar merendahkan diri. Lantai ini memang berderit bila yang menginjaknya adalah seorang jago silat, pasaran. Tapi akan lain halnya bila yang berjalan di atasnya adalah seorang jago silat berkepandaian tinggi.”

Liu Wan tak menanggapi bantahan Cui In. Ia melangkah ke depan dan mengambil bingkai sajak itu.. Perlahan-lahan ia membacanya.

“Tampaknya sanjak Tuan ini mengandung perasaan sedih. Mengapa?” Ciu In tiba-tiba bertanya kepada Liu.Wan.

Liu Wan menjadi gugup, satu hal yang belum pernah dilihul oleh Ciu In.

“Ah, aku hanya membuatnya secara serampangan saja di kala hatiku sedang sunyi dan sepi. Aku seperti tidak mempunyai siapa-siapa di dunia ini. Dan kesepianku itu aku tuangkan dalam sajak ini. Aku mengibaratkan diri sebagai Burung Hong yang kesepian di dalam sangkar emasnya.” dalam kegugupannya Liu Wan mencoba menjelaskan.

Ciu In merasakan kejanggalan jawaban pemuda itu, tapi ia tak ingin mendesaknya lagi. Hanya di dalam hatinya Ciu In mulai merasakan keanehan-keanehan yang ada pada diri pemuda itu.

“Uh uh… uh uh!”

Tiba tiba salah seorang dari pembantu Liu Wan masuk ke dalam pondok. Dengan suara tak jelas orang itu mencoba melapor, bahwa di luar ada orang yang ingin bertemu.

Liu Wan cepat membuka sebuah laci, lalu mengambil kumis tiruan dan jenggot tiruan. Kedua buah alat yang biasa dipakai oleh para pemain sandiwara itu lalu dipasangnya di mukanya. Sekejap saja pemuda yang tampan itu menjadi seorang kakek berkumis dan berjenggot lebat.

“Maaf, Nona Tio…. Ini wajah Tabib Ciok sehari-hari….” pemuda itu berkelekar.

Ciu In tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Gadis itu semakin bertambah lagi kagumnya kepada Liu Wan. Ternyata pemuda tampan itu masih memiliki satu kepandaian lagi, yaitu kepandaian menyamar. Tak terasa Ciu In mengambil bingkai sanjak burung hong itu. Sekali lagi dibacanya sanjak itu di dalam hatinya. Rasanya isi sanjak seperti tertuju pula pada dirinya. Ia merasa seperti burung hong pula, karena burung itu seperti telah lekat pada dirinya. Perlahan-lahan ia memeluk bingkai sanjak itu di dada kirinya, tempat burung hong-nya selama ini bersemayam.

Sementara Liu Wan menemui tamunya di atas jembatan penyeberangan. Mereka terdiri dari empat orang lelaki bersenjatakan tongkat besi.

“Apakah kau yang bernama Tabib Ciok?” salah seorang dari lelaki itu bertanya dengan suara kasar.

“Benar, Tuan. Tuan siapa…?” Liu Wan menjawab tenang. Sama sekali tidak terpengaruh oleh kekasaran lawannya.

“Kami dari Kuil Pek-hok-bio! Pendeta kami sedang sakit dan kini membutuhkan kau! Maka dari itu kau harus ikut kami!”

Liu Wan memandang tamunya dengan curiga.Jangan-jangan penyamarannya telah diketahui oleh lawannya.

“Maaf, Tuan. Aku juga sedang melayani tamuku.Lebih baik Tuan membawa pendeta itu ke sini saja. Nanti aku akan mencoba mengobatinya.” Liu Wan membuat alasan.

“Tidak bisa! Kau harus ikut dengan kami! Kalau tidak mau, kami berempat akan memaksamu!” orang itu mengancam.

Kedua pembantu Liu Wan mulai beranjak dan tempat mereka, tapi dengan cepat Liu Wan memberi isarat agar mereka tetap berdiam diri. Sementara itu Ciu In segera melangkah keluar pula begitu mendengar suara ribut-ribut mereka. Dengan cepat gadis itu berlari mendekati Liu Wan.

“Ada apa, Tuan?” gadis itu bertanya kepada Liu Wan.

“Mereka memaksa aku untuk ikut ke tempat mereka, tapi aku tidak mau. Dan sekarang mereka akan memaksa aku dengan kekerasan. Bagaimana ini, Nona? Nona tahu, aku tak begitu pandai bersilat….”

Liu Wan pura-pura bingung. Ciu In hendak tertawa, namun tiba-tiba saja telinganya mendengar suara pemuda itu.

“Nona! Mereka ini anak buah orang yang saya cari. Tampaknya mereka ditugaskan untuk menyelidiki aku. Sekarang tolonglah aku bersandiwara. Biarlah aku berlagak sebagai orang yang benar-benar tak begitu mengerti silat. Setelah itu aku nanti minta tolong kepadamu untuk mengusir mereka. Apakah kau berani melawan mereka?”

Ciu In memandang Liu Wan yang telah mengirimkan suaranya dengan ilmu coan-im-ji-bit.
Pemuda itu sekilas memberi tanda dengan kedipan matanya. Ciu In menarik napas panjang, pemuda itu benar-benar lihai bukan main.

“Jangan banyak alasan! Ayoh… ikut kami!”

Sambil membentak empat orang anak buah Pek-hok-bio itu menubruk Liu Wan. Seorang memegang lengan kanan dan seorang lagi memegang lengan kiri Liu Wan. Sedangkan dua orang lainnya mencegat Ciu In dan dua orang pembantu Liu Wan. Semuanya sudah menyiapkan tongkat besi mereka.

Liu Wan pura-pura melawan. Dengan sebagian kecil saja dari tenaganya, pemuda itu pura-pura mengibaskan kedua lengannya yang diringkus. Tentu saja usahanya itu sia-sia saja, karena orang yang ditugaskan Pek-hok-bio itu memang memiliki kepandaian yang cukup tinggi. Namun demikian Liu Wan masih tetap berpura pura mencoba untuk membebaskan diri dengan sekuat tenaganya. Bahkan pemuda itu juga mempergunakan kedua kakinya pula untuk menyepak ke sana kemari.

Kedua orang yang memegangi lengan Liu Wan menjadi jengkel dan marah. Keduanya segera mempergunakan lengan mereka yang masih bebas untuk menampar pipi Liu Wan. Wuuut! Liu Wan pura-pura ingin mengelak sambil mengerahkan tenaga sakti ke pipinya. Namun pemuda itu sengaja memperlambat gerakannya sehingga kedua tamparan lawannya masih menyerempat pipinya.

Plaak! Plaak!

Liu Wan sengaja menjerit keras sekali, kemudian mulutnya menyemprotkan rontokan gigi dan darah segar yang cukup banyak. Setelah itu, seperti orang yang tidak takut mati saja, Liu Wan menendang ke kanan kiri ke arah kaki orang yang meringkus tangannya. Beberapa kali kaki pemuda itu hampir mengenai kaki lawannya sehingga orang-orang Pek-hok-bio menjadi dongkol sekali. Mereka segera membalas tendangan Liu Wan itu dengan tendangan kaki mereka pula. Blug! Blug…! Tendangan mereka tepat mengenai paha Liu Wan!

Lagi-lagi Liu Wan meraung keras sekali! Bahkan kali ini sampai mengeluarkan air mata pula.

Tentu saja Ciu In dan kedua pembantu Liu Wan menjadi kaget bukan main. Tapi sebelum mereka bergerak maju, telinga mereka lagi-lagi mendengar suara Liu Wan yang dikirim dengan ilmu Coan-im-ji-bit!

“Lo Kang dan Lo Hai jangan ikut campur. Kalian justru harus berpura-pura ketakutan malah. Dan Nona Tio, kau cepatlah menghajar mereka! Jangan biarkan mereka berlaku semaunya terhadapku! Aku bisa benar-benar kehilangan kesabaranku nanti!”

“Baik…!” Ciu In berseru keras tak terasa.

“Uuuh…!” Lo Kang dan Lo Hai mengeluh kecewa, kemudian seperti orang yang menjadi ketakutan mereka mundur kembali ke pintu pondok.

Ciu In mencabut pedang pendeknya, lalu menerjang orang yang tadi menghadangnya. Pedangnya yang sebelah kiri tetap bertahan di depan dadanya, sementara pedang kanannya menabas ke depan, ke arah dua orang Pek-hok-bio yang menghalangi jalannya.

Jembatan itu memang tidak begitu lebar, dan hanya cukup dua orang yang berjalan berbareng. Oleh karena itu ke dua orang lawan yang ada di depannya memang harus disingkirkan dulu oleh Ciu In untuk membantu Liu Wan.

Kedua orang Pek-hok-bio itu ternyata cukup berhati-hati. Melihat Ciu In memegang sepasang pedang pendek dengan gerakan yang tangkas dan cekatan, mereka segera bisa menduga kalau gadis itu seorang pendekar wanita yang pandai mempergunakan pedang. Oleh karena itu mereka tak segera melayani serangan pertama Ciu In itu. Mereka justru bersiap siaga terhadap perkembangan dari serangan berikutnya. Keduanya tidak menangkis atau balas menyerang, tapi malah melompat ke samping, dengan bertengger di atas pagar jembatan. Kecurigaan mereka itu ternyata memang benar. Serangan pertama Ciu In tadi memang hanya sebuah pancingan.

Demikian lawannya menangkis dengan tongkat besi mereka, Ciu In bermaksud menyusulinya dengan serangan pedang kirinya yang telah siap di depan dadanya. Serangan itu tentu akan sulit sekali dihindarkan oleh lawan, karena senjata mereka sedang mereka gunakan untuk menangkis pedang kanannya.

Tapi karena orang-orang Pek-hok-bio itu tidak terjebak ke dalam pancingannya, bahkan kedua orang itu sekarang justru berada di kanan kirinya, Ciu In terpaksa mengambil jalan paling aman, yaitu berjumpalitan terus ke depan. Dan langkahnya ini memang telah menyelamatkan tubuhnya dari gebugan tongkat besi lawannya.

Namun pada saat itu juga tiba-tiba terdengar suara lengking kesakitan dari mulut Liu Wan! Dan ketika Ciu In menoleh, dilihatnya tubuh pemuda itu terlempar ke dalam empang!

“Biarkan tabib yang tak berguna itu terbenam di dalam air. Kita ringkus saja gadis cantik itu untuk hiburan nanti malam!” Salah seorang dari kedua orang yang memegangi tangan Liu Wan itu berseru.

Ciu In berdiri tegak kembali. Sekarang ia benar-benar dikepung oleh empat orang lawan. Dua orang di depan dan dua orang di belakangnya. Tapi ia sama sekali tidak merasa gentar, la sangat percaya pada ilmu pedangnya yang telah ia tekuni lebih dari
sepuluh tahun lamanya.

Matahari telah jauh bergulir ke arah barat. Pada saat yang bersamaan, Siau In sedang berlaga dengan maut.Gadis centil itu juga sedang memegang sepasang pedang pendeknya untuk menghadapi golok hitam ketua Hek-to-pai! Keduanya sedang berputar-putar di arena untuk mencari kelengahan lawan.

Ketika kemudian It Kwan menggerung keras sambil menyabetkan goloknya ke pinggang Siau In, gadis itu cepat-cepat menjejakkan kakinya ke tanah, sehingga tubuhnya yang mungil itu melesat ke atas seperti burung walet meninggalkan sarangnya. Sambil melayang gadis itu berusaha menghunjamkan kedua bilah pedangnya ke dahi dan leher It Kwan. Jurus itu dinamakan Burung Rajawali Menyambar Mutiara dan merupakan jurus ke empat dari ilmu pedang ajaran pendekar Giam Pit Seng.

It Kwan tergetar hatinya. Walaupun masih amat muda ternyata lawannya memang benar-benar lihai bukan main. Ilmu silatnya ternyata tidak lebih rendah dari pada ilmunya sendiri. Bahkan ginkang gadis itu terasa lebih gesit daripada ilmu meringankan tubuhnya.

“Gila! Giam Pit Seng memang bukan orang sembarangan!” umpat It Kwan di dalam hatinya.

Tubuhnya cepat merendah untuk menghindari patukan pedang lawannya. Begitu tubuh Siau In lewat dari atas kepalanya, It Kwan segera membalikkan badannya seraya mengayunkan goloknya ke depan. Lagi-lagi ia menyerang pinggang Siau In yang baru saja mendarat ke atas tanah. Dan kali ini tampaknya mata golok itu benar-benar akan bisa membelah pinggang Siau In.

Meskipun pengalamannya masih kurang, namun Siau In telah dibekali dengan ilmu silat tinggi oleh gurunya. Sambaran golok It Kwan yang meluncur dari arah belakang itu segera dicium oleh nalurinya.

Sambaran udara dingin yang disertai bau amis itu cepat dielakkannya dengan cara meliukkan tubuhnya ke depan, disertai dengan jejakan ujung sepatunya ke atas tanah yang baru saja dipijaknya. Otomatis badan Siau In bergeser ke depan, sehingga tabasan golok It Kwan yang meluncur ke arah pinggangnya itu membabat udara kosong.

Demikianlah keduanya tak pernah mengendorkan senjata mereka. Dengan pedang pendeknya Siau In tampak lebih lincah dan lebih gesit gerakannya daripada It Kwan yang sudah berumur dan bersenjata golok hitam yang amat berat. Tetapi sebaliknya, dengan jenis senjatanya yang lebih berat, pengalamannya yang lebih luas, dan kematangannya yang lebih mendalam daripada Siau In maka It Kwan bisa melayani kelincahan gerak dan kehebatan ilmu pedang gadis itu. Yang jelas Siau In tidak berani beradu tenaga dengan ketua Hek-to-pai tersebut.

Belasan jurus segera berlalu dengan cepatnya. Kelincahan dan kegesitan Siau In mulai kendor pula akhirnya. Namun sebaliknya tenaga dan kemampuan It Kwan pun juga telah menyusut pula. Tentu saja keadaan ini benar-benar di luar dugaan ketua Hek-to-pai itu. Sebagai seorang ketua perguruan yang cukup ternama di daerah itu, ia benar-benar merasa malu dan terpukul harga dirinya. Masakan seorang lelaki tua yang sudah kenyang makan garam di dunia persilatan, sehingga ia mampu memimpin sebuah partai persilatan yang memiliki banyak murid, seperti dirinya, ternyata hanya dipermalukan oleh seorang bocah perempuan yang belum hilang bau pupuknya.

“Betina busuk! Akan kurejam tubuhmu! Akan kucincang dagingmu!” berulang kali ia mengumpat dan memaki saking geramnya.

— o0d-w0o —

Jilid 2                                                                                                                     Jilid 4