Rabu, 20 September 2017

PENDEKAR PEDANG PELANGI 1




PENDEKAR PEDANG PELANGI

KARYA SRWIDJONO

JILID I

AAT-tat-tat-taaaaar! Taaar! Taaar!

Taaaaaar…...!

“Aha… Selamat Tahun Baru! Selamat T Tahun Baru! Selamat…...!”

“Kiong-hi! Kiong-hi…! Selamat Tahun Baru! Kiong-hi..!”

Taaaar! Taaaaaar! Rat-tat-tat-tat-taaaaaa!

Taaaaaaaar…...!

Hari itu adalah permulaan bulan ke satu, tahun 180 Sebelum Masehi, yaitu lima belas tahun setelah Kaisar Liu Pang wafat. Lima belas tahun memang bukanlah waktu yang pendek, hingga tidak mengherankan bila semua orang seakan telah melupakan kaisar mereka yang bijaksana itu. Bahkan rasanya semua orang juga sudah tidak peduli pula, bahwa selama itu kursi singgasana masih tetap kosong dan belum ada yang mendudukinya. Putera Mahkota,Pangeran Liu Yang Kun, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Kaisar Liu Pang, ternyata justru menghilang dari tempat tinggalnya begitu upacara pemakaman ayahnya selesai. Bahkan Putera Mahkota yang dicintai rakyat itu tetap tidak muncul takkala beberapa hari kemudian istana pribadinya musnah dimakan api beserta seluruh isi keluarganya.

Untunglah Permaisuri Li, isteri Kaisar Liu Pang merupakan ibu tiri dari Pangeran Liu Yang Kun, segera maju ke depan untuk mengambil alih roda  pemerintahan untuk sementara. Permaisuri yang masih berusia muda itu berjanji untuk mewakili sebelum Pangeran Liu Yang Kun diketemukan. Akan tetapi setelah bertahun-tahun kemudian ternyata pangeran itu belum juga diketemukan, terpaksa Permaisuri Li mencalonkan puteranya sendiri, Pangeran Liu Wan Ti yang masih kecil, sebagai calon pengganti kaisar yang baru.

Demikianlah, selama lima belas tahun itu ternyata Permaisuri Li benar-benar telah membuktikan kecakapannya sebagai pemangku kekuasaan. Dia pandai sekali mengatur roda pemerintahan, dan dia juga cerdik pula memilih para pembantunya. Suara rakyat dan kepentingan umum selalu dia perhatikan dengan seksama, sehingga lambat-laun orang pun menjadi suka dan simpati kepadanya. Apalagi ia bersama para pembantunya benar-benar berusaha sekuat tenaga untuk memajukan dan memakmurkan negerinya.

Keamanan negara serta kesejahteraan rakyat pun diupayakan pula dengan sebaik-baiknya. Bala tentara ditambah dan diperkuat, sementara sepanjang Tembok Besar yang menjadi penangkal serangan dari suku bangsa liar itu selalu dijaga dan diawasi. Maka sudah selayaknyalah bila sejalan dengan berkembangnya rasa aman serta meningkatnya kesejahteraan rakyat tersebut, orang pun lantas mulai melupakan Kaisar Liu Pang dan Pangeran Liu Yang Kun.

Orang mulai berlumba untuk menikmati kegembiraan dalam suasana aman dan damai itu. Mereka seolah-olah ingin mengambil kembali kebebasan mereka, yang selama pemerintahan Kaisar Liu Pang terkurung akibat peperangan yang berkepanjangan dengan suku-suku bangsa liar di luar Tembok Besar.

Demikian pula dengan Perayaan Menyongsong Tahun Baru kali ini. Warga kota Hang-ciu, sebuah kota besar di pantai timur Propinsi Cse-kiang, menyambut kedatangan Tahun Baru ini dengan sangat meriah pula. Hampir semua toko dan rumah yang berada di pinggir jalan menghias diri sebaik-baiknya.

Segala macam hiasan kertas dan umbul-umbul. Serta lampu ting yang bercorak warna-warni, mereka pasang di depan bangunan masing-raasing. Sementara di perempatan jalan besar, di pasar-pasar, maupun di tempat-tempat ramai didirikan panggung-panggung pertunjukan guna menghibur penduduk di sekitarnya.

Dan panggung-panggung itu juga dibuat dan dihias pula semeriah-meriahnya, seakan-akan ingin bersaing dan tak mau kalah dengan panggung yang dibuat di halaman kabupaten.


“Selamat Tahun Baru! Kiong-hi! Semoga panjang umur dan murah rejeki!”

“Selamat…! Kiong-hi! Terima kasih! Terima kasih…!”

Setiap orang, tua – muda, anak-anak, laki –perempuan, dengan wajah berseri serta gelak dan tawa, saling memberi salam dan puja-puji setiap kali berjumpa. Mereka berbondong-bondong keluar rumah. Masing-masing seolah-olah telah menentukan acaranya sendiri-sendiri. Ada yang saling mengunjungi sanak kerabatnya. Ada yang pergi ke tempat-tempat pertunjukan untuk melihat hiburan gratis.

Akan tetapi sekali ini semua orang seperti ditumpahkan ke halaman kabupaten yang luas itu.

Selain ada tiga buah panggung di sana, kali ini juga akan di adakan sebuah acara baru. Sebuah acara perlombaan yang diselenggarakan oleh pihak kerajaan di seluruh negeri, yaitu Perlombaan Mengangkat Arca. Perlombaan yang dilaksanakan di setiap halaman kabupaten di seluruh Tiong-kok itu dimaksudkan untuk mencari pemuda-pemuda yang cocok sebagai calon prajurit pengawal istana.

Suara musik dan tambur yang kemudian menggema di halaman Kabupaten Hang-ciu itu semakin menyemarakkan suasana. Apalagi para pejabat tinggi di kota itu telah lengkap pula di tempat duduk yang disediakan. Para penonton pun segera mencari tempat-tempat duduk yang strategis untuk menyaksikan acara-acara yang akan dipergelarkan.

Sementara itu di luar halaman, dua orang petani yang juga ingin menonton Perlombaan Mengangkat Arca, masih asyik duduk di sebuah warung kecil di pinggir jalan. Mereka mengobrol sambil ninum arak.

Sesekali mereka melayangkan pandangannya ke arah penonton yang berduyun-duyun memasuki halaman kabupaten.

“Perayaan Tahun Baru kali ini kelihatan lebih meriah dibandingkan tahun, kemarin, A Tung.” Salah seorang di antara mereka yang bertubuh pendek berkulit kuning berkata kepada temannya yang lebih jangkung dan berkulit gelap.

“Benar. Dulu memang tidak semeriah ini. Mungkin karena sekarang ada Perlombaan Mengangkat Arca, sehingga orang-orang dari kampung pun datang ke sini untuk menyaksikannya. Eh, apakah engkau juga berniat untuk mengikuti perlombaan itu, Lok Ma?”

Petani berkulit gelap itu memandang kawannya dengan senyum menggoda.

“Ah, kau! Bukankah perlombaan itu hanya diperuntukkan bagi remaja berusia enam belas sampai tujuh belas tahun saja? Huh! Kau memang selalu menggoda dan mengolok-olok aku!” Petani bertubuh pendek itu bersungut-sungut.

“Hehehe-hehehe…. Siapa tahu engkau masih merasa muda belia seperti mereka?” A Tung cepat-cepat menambahkan.

“Huh, kau ini… memang menyebalkan!” sungut Lok Ma dengan wajah masam.

“Eit, sabar dulu! Jangan mudah tersinggung! Aku cuma bergurau! Masakan kau yang sudah memiliki uban di sana-sini benar-benar mau ikut perlombaan?”

“Habis… sedari tadi kau selalu mengolok-olok aku terus, sih! Kau selalu mengatakan aku seperti keledai,

seperti katak raksasa dan lain-lain! Kau juga selalu mengejekku sebagai babi yang rakus kalau makan!

Dan kau juga selalu mengolok-olok aku sebagai suami yang takut bini! Huh, bagaimana aku tidak menjadi sebal kepadamu?”

A Tung tiba-tiba tertawa, namun ditahannya. “Lok Ma… Lok Ma! Bagaimana aku tidak menyebutmu sebagai keledai kalau setiap saat penampilanmu seperti orang tolol dan malas begini? Sudah kelihatan bodoh dan malas, perutmu buncit lagi akibat banyak makan! Persis seperti katak atau babi yang rakus, he-he-he! Dan lebih celaka lagi… ternyata kau sangat takut kepada binimu!”

“Nah, kau mulai mengejek lagi! Baik! Aku akan pergi saja kalau begitu! Kita menonton sendiri-sendiri!”

Lok Ma benar-benar menjadi marah. Cepat dia bangkit dari kursinya. Akan tetapi dengan tangkas A Tung menyambar lengannya.

“Eeeeee… tunggu sebentar! Maafkanlah aku! Aku benar-benar hanya berkelekar kepadamu. Marilah duduk dahulu! Kita makan minum sepuasnya di sini sebelum menonton pertunjukan. Aku akan memesan ikan mas goreng serta arak wangi kesukaanmu. Aku yang membayarnya. Mau, bukan?”

Tanpa menanti jawaban lagi A Tung menyeret sahabatnya kembali ke kursinya. Dan Lok Ma pun juga tidak menolak pula. Apalagi mendengar A Tung hendak mentraktir ikan mas goreng kegemarannya.



Sambil masih berpura-pura marah petani bertubuh pendek dan gemuk itu memelototkan matanya.

“Baik! Tapi aku akan segera angkat kaki kalau kau mengolok-olokku lagi!”

“Ya-ya-ya… percayalah, aku tidak akan menyebutmu keledai, katak, ataupun babi lagi! Kalau nanti aku kesalahan omong dan menyebutmu keledai, katak atau babi, kau boleh memukulku. Tapi sebaliknya kalau aku benar-benar dapat memenuhi janjiku ini, dan tak sepatah kata pun keluar kata-kata keledai, katak, atau…”

“Cukup!” Lok Ma tiba-tiba berseru, lalu bangkit meninggalkan kursinya.

“Eeeeeeee, Lok Ma… tunggu!” A Tung cepat mengejarnya.

Namun Lok Ma tidak peduli. Ia melangkah dengan cepat menghampiri pelayan yang sedang,memberesi dan membersihkan sisa makanan di atas meja.

“Hei, pelayan…!” panggilnya keras-keras.

Pelayan yang ternyata masih bocah itu cepat berpaling, lalu meletakkan kembali piring-piring kotor yang dibawanya.

“Jiwi memanggil saya?” jawabnya sopan seraya memandang Lok Ma dan A Tung yang telah berdiri di belakangnya.

Tiba-tiba mata Lok Ma terbelalak. Begitu pula A Tung.

“Kau…?” keduanya berseru lirih, seolah-olah tak percaya.

Sebaliknya pelayan muda itu menjadi bingung melihat kedua tamunya seperti sudah kenal akan dirinya, padahal ia sendiri sama sekali tak mengenal mereka.

“A Tung…! Bukankah anak muda ini yang menolong anakku dari cengkeraman serigala liar itu?”

Lok Ma berseru kepada A Tung, lupa akan kemarahannya.

“Tak salah lagi! Memang dialah yang menolong anakmu dari terkaman serigala hutan tiga hari yang lalu. Aku tak akan melupakan wajahnya!” A Tung menyahut dengan gembira pula melihat sahabatnya tidak jadi marah.

Tiga hari yang lalu memang terjadi keributan di kampung Lok Ma. Kampung sepi di pinggir hutan itu tiba-tiba diterjang kawanan serigala liar. Untunglah semua lelaki di kampung itu masih berada di rumah masing-masing, sehingga beramai-ramai mereka bisa mengusir kawanan serigala buas itu. Namun demikian seekor serigala masih juga sempat menerkam anak Lok Ma yang masih kecil. Untung datang seorang anak muda asing yang kebetulan lewat di tepi hutan itu. Dengan berani anak muda asing itu merebut anak Lok Ma dari cengkeraman serigala buas tersebut.

“‘Selamat bertemu lagi, Saudara Kecil. Wah, sungguh gembira sekali bisa bertemu denganmu. Aku benar-benar berterima kasih sekali kau telah menyelamatkan anakku dari kematian. Oh… apakah warung ini warung ayahmu?” Lok Ma dengan riang menyalami pelayan muda itu.

“Oh-eh….” pelayan itu menjadi gugup dan tersipu-sipu. “Saya… saya bukan pemilik warung ini. Saya…cuma pelayan.”

A Tung melangkah dengan cepat ke muka.Tangannya mencengkeram lengan pelayan muda itu.

“Nah, engkau hendak berbohong lagi! Kemarin kau mengaku sebagai anak gelandangan yang tak punya sanak saudara dan tempat tinggal. Kini kau mengaku sebagai pelayan warung ini. Eh, Saudara Kecil! Siapa sebenarnya kau ini?” serunya penasaran.

“Benar.” Lok Ma cepat menyambung perkataan sahabatnya. “Siapa sesungguhnya Saudara ini? Kami tak percaya pada ceritamu tentang anak gelandangan itu.”

Pelayan muda itu semakin menjadi gugup dan bingung. Ia tak kuasa menjawab pertanyaan tamu-tamunya itu. Untunglah suara panggilan majikannya menolong dia dari kesulitannya.

“A Liong, kemari…!”

“Maaf, Tuan… majikanku memanggil.” ucapnya terburu-buru, lalu bergegas meninggalkan tamunya.

“Wah!” Lok Ma dan A Tung menggerutu kecewa.

“Sebenarnya aku ingin tahu, siapa dia itu sesungguhnya! Aku yakin dia telah menyembunyikan keadaannya.” Lok Ma terus saja bersungut-sungut.

“Ya, aku juga. Melihat penampilannya, tak mungkin dia seorang gelandangan. Dia lebih pantas menjadi anak bangsawan atau anak orang kaya. Badannya kokoh kekar. Wajahnya tampan. Pakaiannya bersih dan rapi….”

“Benar.Bahkan kami berani bertaruh,dia akan menjadi rebutan gadis-gadis di kemudian hari.” Lok Ma semakin bersemangat.

A Tung mendadak tertawa. Timbul kembali sifatnya yang riang dan suka menggoda. “Gadis-gadis gelandangan, maksudmu…?” oloknya jenaka.

“Nah, kau sudah mulai lagi…!” geram Lok Ma bagai diingatkan kembali akan kemarahannya tadi.

Namun tiba-tiba mereka terdiam. Dua orang penunggang kuda berhenti di depan warung itu. Dan
A Liong yang baru saja dipanggil majikannya tadi tampak berlari keluar menyongsong mereka.

“Silahkan masuk, Tuan! Masih banyak tempat kosong di dalam…” anak muda itu mempersilakan tamunya sambil menerima tali kekang kuda dari mereka.

Tamu-tamu baru itu lalu melangkah ke dalam warung. Mereka adalah pria-pria yang gagah, apalagi dengan pedang panjang di pinggang mereka. Usia mereka pun belum begitu tua. Kira-kira sekitar empat puluhan tahun. Cuma yang satu agak kelihatan lebih matang daripada yang lain dengan gumpalan uban di atas telinganya. Dan secara kebetulan mereka duduk di dekat meja Lok Ma dan A Tung tadi.

“Jiwi ingin memesan apa?” A Liong yang sudah selesai menambatkan kuda-kudanya itu cepat menanyakan keinginan tamu-tamunya.

“Arak putih dan makanan kecil! Tolong pilihkan arak yang paling wangi!”

Salah seorang dari kedua penunggang kuda itu berkata.A Liong yang cekatan itu segera berlari ke belakang.

“Ssstt, A Tung…! Aku seperti pernah melihat wajah orang yang lebih tua itu di Lok Yang. Tapi aku lupa lagi….” Lok Ma berbisik kepada kawannya.

“Huh, lagakmu! Kapan kau pergi ke kota raja yang jauh itu? Kau bermimpi barangkali?”

“Wah, kau ini selalu mengolok-olok aku saja.

Bukankah aku pernah menjadi tukang gerobag di Kim-liong Piau-kiok (Perusahaan Ekspedisi Naga Emas)?” Lok Ma merengut kesal.

“Oooh, benar! Benar! He-he-he, maaf … aku ingat sekarang. Kau mendapat upah yang besar sekali kala itu, sehingga kau bisa mengawini binimu yang sekarang ini, he-he-he-he!”

Lok Ma tak menanggapi olokan sahabatnya. Dengan serius ia melanjutnya bisikannya tadi, “Tapi…tapi rasanya orang itu dahulu mengenakan pakaian seragam perwira. Aku ingat benar hal itu, karena barang-barang yang dimuat di dalam gerobagku itu dikirim ke rumah seorang jenderal. Nah, yang menerima barang hantaran tersebut… wajahnya persis orang ini.”

“Sudahlah, lebih baik kita duduk kembali menikmati minuman. Kita tak usah mengurusi mereka. Mungkin orang itu memang perwira yang pernah kaulihat itu. Tapi mungkin juga dia adalah orang lain yang wajahnya mirip perwira itu.

Lok Ma seperti tersadar dari kesalahannya. “Kau benar…” katanya perlahan seraya kembali ke mejanya.

“Kita memang tak perlu…”

Tiba-tiba keduanya terdiam kembali. Tiga orang lelaki menyandang golok melintas di depan warung itu. Melihat dua ekor kuda yang tertambat di samping warung, salah seorang di antara mereka mendadak terbatuk-batuk. Dan seperti terbawa oleh ulah mereka itu, tiba-tiba penunggang kuda yang ada di dalam warung juga ikut terbatuk-batuk pula.

“Sssst! Aku juga pernah melihat tiga orang itu.Mereka juga teman dari perwira itu…” Lok Ma berbisik lagi.

“Ah, kau ini! Bukankah kau sudah setuju untuk berdiam diri saja?” A Tung berdesah kesal, kemudian bangkit untuk memesan makanan dan minuman lagi.

Lok Ma menarik napas panjang. Matanya tetap tertuju ke luar warung meskipun tiga orang bergolok itu sudah hilang dari pandangannya. Mereka telah berbaur dengan penonton-penonton yang lain. Dari luar justru dilihatnya A Liong pelayan muda itu, berlari masuk sambil membawa sesuatu di tangannya.

Anak itu langsung menghampiri meja tamu-tamu baru tadi.

“Maaf, jiwi… seseorang telah menitipkan selembar saputangan ketika aku membeli minyak tadi. Aku diminta untuk menyampaikannya kepada Ji-wi berdua.” katanya terengah-engah sambil menyerahkan saputangan putih kepada tamunya.

Lelaki yang memiliki uban kedua pelipisnya itu cepat menerima saputangan tersebut.

“Terima kasih, Nak. Siapa namamu?”

“A Liong, Tuan…”

“A Liong saja? Apa nama keluargamu?”

Anak muda itu tertunduk. “Saya tak tahu nama keluargaku, Tuan. Saya… anak gelandangan yang tak tahu siapa orang tua saya.” jawabnya kemudian seraya menengadahkan kepalanya kembali. Suaranya nyaring, dan sama sekali tidak bernada sedih atau malu.

Dua orang penunggang kuda itu tertegun, terutama yang memiliki uban di atas telinga. “Hei! Berapa umurmu sekarang…?” tanyanya lagi dengan wajah heran.


“Maaf, Tuan. Saya… saya juga tidak tahu umur saya. Banyak orang menduga, umur saya sekitar
sampai 17 tahunan. Entahlah, mungkin memang sekian itu.”

“Eh…?!?”

Dua penunggang kuda itu saling memandang dengan heran, namun juga semakin tertarik kepada pelayan warung itu. Begitu tertariknya mereka pada penuturan A Liong sehingga untuk sesaat mereka telah melupakan saputangan mereka tadi.

“Maaf, saya hendak melayani tamu-tamu yang lain…” tiba-tiba A Liong minta diri.

Lelaki beruban itu menghela napas, sementara kawannya dengan cepat menyisipkan sekeping uang tembaga ke tangan A Liong. Anak muda itu segera berlalu setelah mengucapkan terima kasih.

Beberapa saat lamanya kedua tamu itu memandang kepergian A Liong.

“Lim Su-heng, sudahlah. Mari kita lihat, apa pesan di dalam saputangan itu. Jangan-jangan ada sesuatu yang penting yang hendak disampaikan kepada kita.” teman lelaki beruban itu mengingatkan kawan seperjalanannya.

Lelaki beruban yang dipanggil dengan nama Lim Su-heng itu tersentak dari lamunannya. Bergegas ia menyambar arak yang telah tersedia di depannya dan menenggaknya habis. Beberapa tetes arak mengalir membasahi kumis dan jenggotnya, sehingga ia terpaksa mengusapnya dengan saputangan pemberian A Liong tadi.

Semua itu dilakukan oleh lelaki beruban itu dengan wajar, padahal ketika saputangan itu kemudian digelar di atas meja, keadaannya telah basah kuyup seperti baru saja dicelup ke dalam air. Namun demikian tiba-tiba saja saputangan yang semula kosong bersih itu kini telah penuh dengan tulisan huruf.

“Apa yang ditulis di situ, Suheng?” Lelaki beruban itu menggulung saputangannya kembali.

“Tong Tai-su mengingatkan kita agar lebih berhati-hati lagi. Ada pihak luar yang hendak mengacaukan tugas kita. Mereka terdiri dari orang-orang yang berilmu tinggi.”

“Siapa mereka…?”

“Tong Tai-su belum mengetahuinya. Dia juga sedang mengadakan penyelidikan. Tapi dikatakannya bahwa para pengacau itu telah muncul di dua kota sekaligus, yaitu kota Cin-kiang dan Wuh-si di Propinsi Kiang-su.”

“Hei… kota itu saling berjauhan satu sama lain.Kalau begitu mereka memiliki kekuatan yang besar.”

Lelaki beruban itu tidak menjawab. Matanya memandang ke luar warung, di mana banyak orang berduyun-duyun memasuki halaman kabupaten.

“Perlombaan Mengangkat Arca itu belum juga dimulai…” katanya tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.

Kawan seperjalanannya ikut melemparkan pandangannya ke luar, ke jalanan. Dan pada saat yang bersamaan A Liong datang mendekati mereka.Pelayan muda itu bertanya kalau-kalau tamunya ingin menambah pesanan lagi.

“Ya, tambahlah araknya sebotol lagi! Eh… A Liong! Mengapa kau tidak ikut “Perlombaan Mengangkat Arca” itu? Bukankah usiamu memenuhi syarat?” lelaki beruban itu berkata.

A Liong tertawa perlahan. “Percuma, Tuan. Tak mungkin bisa menang. Rata-rata semuanya mempunyai kepandaian silat yang baik. Aku sama sekali tak bisa apa-apa. Memegang senjata pun tak pernah.”

“Hei! Itu perlombaan, bukan perkelahian! Kau tidak akan disuruh berkelahi dengan siapa-siapa. Kau hanya diminta untuk mengangkat sebuah arca.”

A Liong sedikit tersipu-sipu. “Ya, tapi… orang yang pandai silat tentu lebih kuat, Tuan.” katanya membela diri.

“Nah, di sinilah kekeliruannya. Semua orang rata-rata berpikir seperti itu, padahal hakekat dan tujuan daripada perlombaan ini sesungguhnya tidak demikian. Perlombaan ini dimaksudkan untuk mencari bibit-bibit unggul dari kalangan remaja, untuk nantinya akan dididik sebagai anggota pasukan pengawal istana. Jadi penilaiannya bukan dititik-beratkan pada kekuatan pesertanya, tapi pada bakat dan cocok tidaknya peserta itu untuk dijadikan sebagai pengawal istana. Itulah sebabnya Sang Ratu mengirimkan petugas-petugasnya ke tempat-tempat perlombaan di seluruh negeri.” lelaki beruban itu memberi keterangan dengan suara berapi-api.

Tentu saja keterangan itu sangat menarik perhatian A Liong. Pada zaman itu siapa yang tak “ngiler” menjadi perajurit pengawal istana? Seragamnya yang megah dan indah itu selalu dikagumi oleh setiap orang.

“Nah! Apakah kau tidak berminat untuk mengikutinya, A Liong?” kawan dari lelaki beruban itu tiba-tiba bertanya.

“Kalau begitu… saya juga berminat, Tuan. Tapi…” A Liong berguman ragu sambil menatap ke arah majikannya berada.

Lelaki beruban itu dapat menangkap kesulitan yang dihadapi anak muda itu. Oleh karena itu dengan tenang ia berkata, “Jangan takut! Pergilah mendaftarkan diri ke panggung itu! Biarlah aku yang memintakan ijin kepada majikanmu.”

“Ba-baiklah, Tuan. Terima kasih. Saya akan ke sana.”

“A Liong…!” majikan A Liong tiba-tiba memanggil.

Anak muda itu mengangkat wajahnya, tapi dengan cepat lelaki beruban itu mendorongnya keluar, sehingga ia tak kuasa lagi membantahnya. A Liong berlari keluar. Di depan pintu hampir saja ia bertabrakan dengan tiga orang tamu yang baru saja datang.

“Maaf….” katanya meminta maaf sambil terus berlari meninggalkan warung itu.

“Hei, mau ke mana anak itu?” Lok Ma berseru kaget.

“Hmm… mana aku tahu? Ya… paling-paling menggelandang lagi. Bukankah ia sudah mengatakan bahwa ia Anak Gelandangan?” A Tung menjawab seenaknya.

“Ah, kau…!” Lok Ma bersungut-sungut.

Sementara itu majikan A Liong bergegas ke luar dari belakang mejanya. Tetapi lelaki beruban itu dengan cepat menghadangnya. Sambil menyisipkan sekeping uang perak, lelaki beruban itu berkata perlahan,

“Biarkan anak itu pergi! Aku telah menyuruhnya pergi mengikuti acara “Perlombaan Mengangkat Arca”. Untuk sementara kau bisa mencari tenaga pembantu lain….”

Pemilik warung itu tertegun mengawasi tamunya.Namun perlahan-lahan wajahnya tertunduk kembali. Sorot mata lelaki beruban itu seolah-olah menikam jantungnya dan melemaskan seluruh sendi-sendi tulangnya.

“Eh-oh, tapi… tapi aku belum memberikan uang gajinya.” akhirnya dia berkata lirih tanpa berani memandang tamunya.

“Oh… itu mudah. Uang itu dapat kau berikan nanti setelah perlombaan selesai. Anak itu tentu akan kembali lagi ke sini.”

“Ba-baik, Tuan. Kalau begitu… kalau begitu… akan saya berikan nanti. Sekarang… maafkanlah saya, saya hendak menyambut tamuku itu dahulu.”

Pemilik Warung itu membungkukkan tubuhnya, kemudian bergegas menyongsong tiga orang tamu yang hampir bertabrakan dengan A Liong tadi. Lelaki beruban itu duduk kembali di kursinya.Matanya melirik ke arah tamu-tamu yang baru datang.

Seorang pemuda dan dua orang gadis. Wajah-wajah mereka sungguh menarik, terutama kedua gadis itu.Mereka benar-benar amat cantik. Si Pemuda berusia sekitar dua puluh tahun, bertubuh jangkung, mengenakan baju dan celana berwarna kelabu. Gadis yang pertama berusia kira-kira sembilan belas tahun, berperawakan tinggi langsing, mengenakan baju berwarna kuning-kuning. Gadis yang ke dua kelihatan lebih muda lagi. Kemungkinan baru berumur enam belas atau tujuh belas tahun. Dan sesuai dengan sikapnya yang lincah dan ceria, ia mengenakan baju berwarna merah muda. Ketiga-tiganya tidak kelihatan membawa senjata. Namun demikian ditilik dari sikap dan cara mereka berpakaian dapat diduga bahwa mereka bertiga juga terdiri dari orang-orang rimba persilatan pula.

Dugaan tersebut memang tidak salah. Begitu mendapatkan tempat duduk pemuda itu segera mengambil sikap waspada. Berkali-kali matanya yang sedikit cekung itu melirik ke sekelilingnya. Bahkan pada waktu menyantap makanan dan minumanpun ia selalu mengamati keadaan di sekitarnya. Dan entah mengapa, setiap kali pula pandangannya selalu berhenti pada lelaki beruban itu.

“Su-moi berhati-hatilah…! Tampaknya di tempat ini banyak orang yang pantas dicurigai.” akhirnya pemuda itu berbisik perlahan kepada dua orang teman gadisnya.

“Ya, kami tahu….” kedua gadis itu menjawab perlahan pula.

“Sungguh mengherankan. Rasa-rasanya kota ini seperti dengan tiba-tiba dipenuhi oleh orang-orang dari rimba persilatan. Di mana-mana kita hampir selalu bertemu dengan mereka.” pemuda itu berdesah lagi.

Kedua gadis itu menatap wajah su-hengnya, namun mereka tidak berkata apa-apa. Mereka lalu kembali menyantap makanannya. Baru beberapa saat kemudian gadis yang berbaju merah muda itu menggamit lengan su-hengnya.

“Toa-suheng…? Aku… aku ingin bertanya kepadamu, tapi…?”

Pemuda yang dipanggil toa-suheng itu memandang adik seperguruannya. “Tapi apa…?” serunya perlahan.

“Tapi Toa-suheng jangan marah kepadaku! Mau?”

Gadis itu cemberut sambil melirik manja. Pemuda itu tersenyum melihat tingkah adik seperguruannya yang masih kekanak-kanakan itu.Kepalanya mengangguk.

“Cici…? Kau juga jangan marah, ya?” gadis itu merasa lega, tapi masih juga bertanya kepada gadis yang mengenakan baju kuning.

Tapi gadis berbaju kuning yang ternyata juga kakak kandungnya sendiri itu cepat mencibirkan bibirnya.

“Huh… tak ada gunanya marah kepadamu. Salah-salah justru hati sendiri yang menjadi kesal. Kapan kau pernah mendengarkan kemarahan orang? Sedangkan suhu sendiri saja kewalahan menghadapimu, apalagi cuma kami berdua. Ayoh, lekas kaukatakan apa yang hendak kautanyakan!”

Gadis centil itu tertawa kecil sambil meremas lengan kakaknya.

“Ah, aku cuma ingin bertanya kepada kalian, apakah kalian berdua… percaya pada ramalan Lo-jin-ong?”

Seketika wajah dua saudara seperguruan itu menjadi pucat. Dengan bibir sedikit gemetar gadis berbaju kuning itu membentak lirih, “Siau In! Bicara apa kau ini? Tutup mulutmu!”

Namun Si Pemuda cepat meraih pundak gadis berbaju kuning. “Ciu In Sumoi, jangan kaubentak dia!  Bukankah kita telah berjanji untuk tidak memarahinya?”

“Tapi pertanyaan itu sangat lancang, Sin Lun Suheng! Lo-jin-ong adalah sesepuh (tetua) yang sangat dihormati di dalam aliran agama kita.” gadis yang berbaju kuning, yang ternyata Ciu In itu, bersungut-sungut marah.

“Bukankah aku tadi sudah bilang, bahwa… bahwa kalian tidak boleh marah?” Gadis berbaju merah yang bernama Siau In itu merajuk.

“Ya… ya, Cicimu memang tidak marah. Dia hanya kaget saja mendengar pertanyaan tadi.” Sin Lun menengahi.

Mereka bertiga lalu berdiam diri. Masing-masing kembali menyantap makanannya. Namun demikian Siau In masih tampak penasaran karena pertanyaannya tadi belum dijawab. Berkali-kali ia melirik ke arah cicinya dan suhengnya, sehingga dua orang itu menjadi risih melihatnya.

“Baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu tadi.” akhirnya Sin Lun berkata.

“Nah… begitu!” Siau In hampir bersorak. Dan tak lupa jari-jarinya yang lentik itu mencubit pinggang kakaknya, sehingga Ciu In menjerit kecil seraya menampar tangannya. “Gila, kau…!”

Sin Lun memandang kedua adik seperguruannya itu dengan senyum lebar. Tak terasa hatinya memperbandingkan keduanya. Mereka sama-sama cantik dan pintar. Kepandaian silat mereka pun juga tidak berselisih banyak pula. Hanya sifat dan pembawaan diri mereka sajalah yang berbeda. Ciu In berperasaan halus dan pendiam. Tutur katanya selalu lembut dan berhati-hati. Tapi sebaliknya, Siau In berwatak polos dan terbuka. Kalau berbicara ceplas-ceplos seenaknya sendiri. Suka bergurau dan menggoda orang, terutama terhadap orang-orang yang telah dekat dengan dirinya. Namun demikian mereka berdua sangat rukun dan saling mengasihi satu sama lain.

“Lho! Kenapa terus diam lagi? Bagaimana pendapat Toa-suheng? Apakah Toa-suheng percaya seratus persen ramalan beliau itu?”

“Sssst, jangan keras-keras! Nanti didengar orang!” Sin Lun pura-pura marah untuk menutupi rasa kagetnya.

“Habis Toa-suheng melamun saja. Masakan sudah duduk berendeng sambil berpegangan tangan dengan Cici begitu masih juga melamun terus? Apakah Toa-suheng ingin lekas-lekas kawin dengan Cici barangkali?” Siau In malah menggoda sambil meleletkan lidahnya. Wajah Ciu In seketika menjadi merah padam.

“Siapa yang saling berpegangan tangan, heh? Ngaco!” desahnya serak. Kebetulan lengannya memang berjejer dan saling bersentuhan dengan lengan Sin Lun, sehingga otomatis lengan itu ditariknya dengan cepat.

“Wah-wah, kalian berdua ini kalau berkumpul selalu bertengkar saja…!” Sin Lun yang menjadi merah pula mukanya itu bersungut-sungut.

“Hi-hi-hi, baiklah… baiklah, aku mengaku salah. Aku memang suka berkelekar maafkan aku, ya…Cici? Mau… ya? Jangan marah, dong…!”

Melihat wajah kakaknya menjadi merah padam seperti itu Siau In menjadi takut juga. Dengan cepat tangannya merangkul pinggang Ciu In dan menggelendot manja.Gadis berwajah lembut itu tak jadi marah. Sambil melepaskan rangkulan tangan adiknya ia melengos.

“Huh!” dengusnya pendek.

Tapi Siau In sudah bisa membaca watak kakaknya. Ciu In tidak jadi marah kepadanya. Oleh karena itu secepat kilat ia mencium pipi kakaknya.

“Terima kasih, Ciciku yang baik.” katanya renyah.

Mereka memang saling bergurau dan bercanda. Namun karena hal itu mereka lakukan dengan wajar dan tidak menyolok mata, maka para tamu lainpun juga tidak ada yang memperhatikan mereka. Kalaupun orang banyak yang melirik ke arah mereka, hal itu disebabkan karena kecantikan Ciu In dan Siau In.

“Siau-sumoi, aku… aku sebenarnya juga sangsi akan kebenaran ramalan Lo-jin-ong kali ini. Aku tak yakin kalau orang dari luar Im-yang-kau, yang belum keruan darmabaktinya, kesetiaan, dan pengabdiannya, justru diramalkan akan menjadi tokoh pemersatu dari agama kita. Apalagi beliau meramalkan orang itu akan membawa Aliran Im-yang-kau pada kejayaannya.” setelah berdiam diri beberapa saat lamanya Sin Lun lalu mengutarakan pendapatnya.

“Nah! Cocok! Sama dengan pendapatku!” Siau In berseru lirih. Wajahnya tampak puas dan lega. Aku juga tidak percaya pada ramalan itu. Bagaimana mungkin orang yang belum pernah dikenal dan bukan orang dari kalangan kita sendiri, malah akan membawa kejayaan pada aliran Im-yang-kau? Bukankah itu hanya mengada-ada? Siapa tahu Lo-jin-ong hanya menguji… eh, menguji kesetiaan kita? Huh, mungkin orang yang disebutkan dalam ramalannya itu sebenarnya tidak ada.”

“Siau In…!” Ciu In membentak lirih.

“Ah, Cici…!” Siau In bersungut-sungut, “Masakan Cici tidak bisa merasakan keganjilannya? Ganjil dan mustahil! Bagaimana mungkin kita dapat mencari orang yang belum pernah kita kenal dan kita lihat di daratan Tiongkok yang maha luas ini?

Mungkinkah…?”

“Hush! Bukankah Lo-jin-ong telah memberi petunjuk bahwa orang yang beliau maksudkan itu mempunyai “tatto” gambar naga di tubuhnya?”

Siau In memonyongkan mulutnya. “Ah, Cici! Alangkah banyaknya laki-laki yang suka menggoresi tubuhnya dengan gambar naga di dunia ini. Kalau mau, Toa-suheng pun bisa melakukannya sekarang juga!” ucapnya sengit.

“Ah, kau! Tentu saja bukan begitu yang dimaksudkan Lo-jin-ong.” Ciu In mencubit gemas pinggang adiknya. “Kau ini seperti bukan anggota aliran Im-yang-kau saja, yang belum pernah mengenal siapa Lo-jin-ong itu? Sedangkan orang lain saja mengagumi kesaktian dan kemampuannya dalam ilmu meramal, mengapa justru engkau sendiri tidak?”

“Tapi…?”

“Siau In! Lo-jin-ong memberikan ciri-ciri orang yang ia ramalkan itu hanya untuk memudahkan kita semua mencarinya. Jadi tidak berarti orang yang mempunyai tatto naga itu mesti orang yang kita maksudkan. Waktulah yang nanti akan menunjukkan, siapa di antara orang orang bertatto naga itu yang benar-benar orang yang dimaksudkan oleh ramalan Lo-jin-ong itu. Apalagi Lo-jin-ong juga sudah memberi batasan daerah mana yang kira-kira akan menjadi tempat munculnya “manusia pilihan” itu, yaitu di sepanjang muara Sungai Yang-tse ini. Nah, bukankah kita tidak perlu mencarinya ke seluruh Tiong-kok?”

Siau In menghela napas panjang. Hatinya yang kesal agak lebih surut mendengar ucapan kakaknya.

“Tapi bagaimana caranya mencari orang itu? Apakah setiap berjumpa dengan orang yang kita curigai, kita lalu harus membelejeti pakaiannya agar bisa kita periksa gambar naganya?”

Ciu In cepat mendorong pundak Siau In dengan gemas. “Ih, pikiranmu selalu yang kotor-kotor saja! Sudahlah! Ayoh, Suheng! Kita menonton pertunjukan di daam. Tak ada gunanya berbicara dengan Siau In. Lama-lama bisa dongkol kita dibuatnya. Mendingan menonton Perlombaan Mengangkat Arca, siapa tahu kita bisa… kita bisa….”

“Siapa tahu Cici bisa membelejeti pakaian orang di sana nanti!”

“Kurang ajar! Mulutmu memang….”

Cui In mengangkat tangannya hendak memukul adiknya yang bermulut tajam itu, namun dengan cepat Sin Lun mencegahnya. Pemuda itu segera memanggil pelayan dan membayar makanan mereka, kemudian menarik lengan adik-adiknya ke luar. Sian In cepat berlari mendahului mereka, takut akan cubitan kakaknya.

Sementara itu lelaki beruban tadi juga beranjak dari tempat duduknya. Sambil meletakkan uang perak di atas meja, ia memberi tanda kepada pemilik warung, lalu keluar bersama temannya.

“Kutitipkan kudaku di sini. Nanti aku akan kembali…” pesannya kepada pemilik warung.

Tampaknya pertunjukkan yang diadakan di halaman kabupaten itu memang telah mulai memanas.

Terutama di bagian tengah dan barat halaman, di mana panggung untuk permainan barong-sai dan dan panggung lui-tai didirikan. Tepuk tangan, sorak-sorai dan jeritan penonton, seakan-akan saling bersaing untuk memanaskan panggung masing-masing.
Di atas panggung pertunjukan barongsai ternyata sudah mulai menginjak acara pertandingan. Dari delapan grup barong-sai yang ikut, dua di antaranya di nyatakan kurang memenuhi syarat dalam pertandingan babak pertama, sehingga kini tinggal enam grup lagi yang tersisa. Dan keenam grup tersebut akan segera akan diadu pada babak kedua.

Di lain pihak di atas panggung lui-tai telah diselesaikan pula pertandingan “memainkan jurus indah”. Bahkan para pemenangnya telah diminta untuk tampil di atas panggung untuk menerima hadiah dan piala. Mereka masih muda-muda. Dengan piala dan hadiah di tangan mereka menyambut sorak-sorai penonton.

Pemegang pertama, seorang pemuda yang bertubuh pendek gempal, bahkan menyambut satupersatu uluran tangan para penonton di bawah panggung.Banyak yang merasa kagum kepadanya. Badannya yang pendek dengan otot yang bergumpal-gumpal seperti sapi aduan itu ternyata tidak menghalangi keluwesannya dalam memainkan jurus-jurusnya yang indah.

Tapi ketika tangannya menyambut uluran tangan seorang penonton yang berdiri lengket di pojok panggung, tiba-tiba tubuhnya terseret ke depan, kemudian terlempar tinggi ke udara! Demikian kuat dan kerasnya tenaga penonton yang melemparkannya itu sehingga hadiah dan pialanya terlepas dari kepitan lengannya!

Semua orang seperti terpaku diam di tempat masing-masing. Apalagi ketika orang yang melemparkan Si Juara tadi tiba-tiba melesat ke atas pula dengan tangkasnya. Bagaikan burung elang tangannya menyambar pinggang Si Juara, sekalian dengan piala dan hadiahnya. Selanjutnya dengan gerakan yang indah dan ringan kakinya mendarat di atas panggung. Sama sekali tak menimbulkan suara atau goncangan pada lantai panggung yang terbuat dari kayu itu.

Meledaklah suara tepuk tangan, membahana bagaikan mau meruntuhkan bangunan gedung kabupaten yang besar dan megah.Dan Selanjutnya dengan senyum di kulum orang itu membungkuk ke arah Si Juara yang telah dia letakkan kembali di atas panggung.

Dengan senyum menggoda orang itu menyerahkan kembali piala dan hadiahnya. Wajahnya yang tampan dan masih muda itu sama sekali tidak mencerminkan perasaan bersalah terhadap lawannya.

“Bangsat kurang ajar…!” dengan wajah merah padam Si Juara itu mengumpat.

Tanpa mempedulikan lagi piala dan hadiah yang dipegang lawannya Si Pemuda gempal itu menyerang. Kaki kirinya terayun ke depan dalam jurus Mengayun Tangkai Pancing di Atas Ombak dan yang dituju adalah kepala. Tenaganya amat kuat hingga menimbulkan suara angin menderu-deru.

“Whuuuuuuuush! Whuuuuuuuuush!”

Akan tetapi dengan gesit lawannya yang memiliki bentuk tubuh tangan bertolak belakang dengan dirinya itu menghindarkan diri. Tubuh yang panjang kurus itu ditekuk ke belakang, dalam jurus Tiat pan-kio atau Jembatan Besi, sehingga tendangan ujung sepatu itu menemui tempat kosong. Selanjutnya dengan gerakan yang semakin mempesonakan pemuda sakti itu berjumpalitan ke belakang dua kali dalam jurus Trenggiling Turun Gunung. Pada gerakan yang terakhir kedua kakinya mendarat persis di bibir panggung, namun demikian tubuhnya yang jangkung itu sama sekali tak bergoyang, apalagi terpeleset jatuh.

Padahal hanya ujung sepatunya saja yang melekat di atas panggung. Sekali lagi penonton bertepuk tangan dan bersorak-sorai! Bahkan kali ini disertai seruan-seruan kagum!

“Bagus! Lincah benar anak itu!”

“Ya, hebat sekali gerakannya! Tapi sayang sekali, mengapa ia tak ikut dalam perlombaan ini?”

“Gila…! Kakinya bertengger di ujung kayu seperti burung saja!”

Dan penonton di panggung lui-tai itu pun menjadi semakin bergairah pula. Mereka menduga kedua jago di atas panggung itu tentu akan segera berlaga. Beberapa orang penonton berteriak-teriak memanasi Si Juara yang berbadan gempal, agar segera menghajar Si Pemuda kurus.

Tapi penonton segera menjadi kecewa ketika belasan prajurit pengawal berloncatan ke atas panggung dan mengepung pemuda kurus itu. Dengan garang salah seorang prajurit maju ke depan. Tombaknya merunduk, siap untuk menembus dada Si Pemuda kurus.

“Kembalikan piala dan hadiah itu!” hardiknya keras.

“Biarkan dia menghadapi aku! Akan kucincang tubuhnya dengan kepalanku ini!” tiba-tiba pemuda gempal itu menyibakkan kepungan dan berteriak marah.

“Tahan…!” prajurit yang garang tadi membentak.

“Kalian tidak boleh berkelahi! Belum tiba saatnya

“Pertandingan Bebas” diadakan! Tunggulah sebentar lagi! Sekarang kalian berdua kembali ke tempat masing-masing! Dan… kau, Anak muda! Kembalikan piala itu kepada yang berhak, atau… kau akan kami tangkap sebagai pengacau!”

Pemuda kurus itu menggeram. Matanya berubah menjadi liar. Tampaknya ia tersinggung diperlakukan demikian. Namun ketika kakinya hendak melangkah ke depan, tiba-tiba ia berpaling ke belakang, ke arah penonton yang ada di bawah panggung, seperti ada orang yang memanggilnya. Aneh. Mata yang liar itu tiba-tiba meredup kembali.

Bahkan sekejap kemudian dengan langkah gontai pemuda itu mengangsurkan hadiah dan piala yang dipegangnya ke depan, ke arah prajurit yang membentaknya tadi. Setelah itu dengan tenang dan tak berkata sepatah kata pun ia melompat turun, kemudian menyelinap pergi di antara penonton.

“Tahan dia! Jangan boleh pergi dahulu!” seorang penonton yang berdiri tidak jauh dari panggung itu berbisik kepada temannya.

“Baik, Su-heng!”

“Berhati-hatilah…!” Pemuda itu tampaknya menyimpan ilmu yang sulit diduga.” orang itu yang tidak lain adalah lelaki beruban di warung tadi memperingatkan pula.

Sementara itu dari tempat yang agak jauh Sin Lun dan kedua sumoinya juga menyaksikan keributan tersebut.

“Bukan main! Berani benar pemuda itu memamerkan kepandaiannya di tempat seperti ini.

Apakah ia tidak memikirkan jago-jago silat yang tentu bertebaran di sekeliling panggung?” Sin Lun berdesah dengan nada sedikit geram.

“Tapi ginkangnya memang hebat, Su-heng. Kita bertiga mungkin belum bisa menandinginya….” Ciu In menyahut perlahan.

“Huh, siapa bilang…? Aku berani diadu melawan dia! Belum tentu ia mampu menghadapi ginkang aliran….” Siau In menyela dengan suara penasaran.

“Siau In!” Ciu In buru-buru memotong perkataan adiknya. “Jangan takabur! Ingat pesan Suhu….”

Wajah yang cantik dan bersemangat itu tiba-tiba berubah menjadi cemberut. “Ya-ya, deh… aku salah!” sungutnya kesal.

Demikianlah, keributan kecil itu akhirnya mereda juga. Di atas panggung telah dipersiapkan acara selanjutnya, yaitu “Perlombaan Mengangkat Arca”. Sebuah acara baru yang diadakan oleh kerajaan, dan diselenggarakan serentak di seluruh negeri.

Acara itu telah dipersiapkan berbulan-bulan sebelumnya, dengan melibatkan banyak petugas dan utusan dari kota raja. Mereka adalah petugas-petugas khusus yang disebar ke setiap kabupaten dengan tanggung jawab yang amat rahasia, yang tak seorang pun boleh mengetahuinya. Bahkan para pejabat daerah yang mereka datangi seperti para Bupati pun tidak diperbolehkan mengorek rahasia dari mereka.

Dan para utusan khusus itu rata-rata adalah anggota dari Pasukan Pengawal Istana, Pasukan Sandi, atau Pasukan Khusus yang amat terkenal di kota raja. Meskipun persiapan untuk melaksanakan “Perlombaan Mengangkat Arca” itu terasa aneh dan menimbulkan banyak pertanyaan di hati para pejabat daerah, namun persiapan tersebut berjalan terus.

Pendaftaran peserta telah dimulai jauh-jauh sebelumnya. Dengan alasan mencari bibit unggul untuk Pasukan Pengawal Istana, maka peserta yang mendaftarpun menjadi meluap. Dan semuanya hampir ditangani sendiri oleh utusan-utusan khusus itu.

Mereka yang menyeleksi dan memutuskan, apakah peserta itu memenuhi syarat atau tidak. Karena tempat pendaftaran itu dipusatkan di rumah-rumah kediaman Bupati, maka dapat di mengerti kalau dalam beberapa bulan itu halaman rumah para Bupati menjadi sibuk setiap harinya.

Akhirnya setelah melalui beberapa kali pendadaran dan ujian, maka jumlah peserta yang mendaftar di Kabupaten Hang-ciu tinggal dua puluh orang saja yang memenuhi syarat. Dan sekarang pemuda-pemuda itu telah bersiap-siap di atas panggung untuk mengikuti “Perlombaan Mengangkat Arca”-

“Hei, namanya saja “Perlombaan Meng angkat Arca”, tapi mengapa banyak pesertanya yang kerempeng-kerempeng begitu?” beberapa orang penonton memberi komentar.

“He-he, benar juga, ya? Bisa patah tulang-tulangnya nanti!”

Seorang remaja berotot kekar yang ikut berdesakan di antara penonton juga menggeram menumpahkan rasa kesalnya.

“Aku juga heran. Mereka banyak yang lebih kurus dari aku, tapi mereka bisa lolos dari pendadaran, sedangkan aku tidak. Apa sebenarnya yang mereka pilih?”

“Ah, mungkin tidak cuma otot saja yang mereka pilih, tapi juga bakat dan otak encer. Kekuatan bisa dipupuk dengan latihan, tapi bakat dan otak itu merupakan pembawaan sejak lahir yang tak dapat dipelajari.”

Lok Ma yang ternyata sudah ada di tempat itu dan kebetulan berdiri berdekatan dengan remaja tersebut memberi komentar, tanpa berpikir bahwa ucapannya bisa menyinggung perasaan orang. Benar juga. Pemuda berotot kekar itu melotot matanya. Hampir saja terjadi keributan. Untunglah A Tung yang selalu berada di samping Lok Ma cepat menyeret sahabatnya itu ke tempat lain.

“Gila! Apakah kau sudah ingin cerai dengan binimu? Jaga mulutmu kalau berbicara! Jangan sembarangan omong di antara orang-orang kasar begini!”

“Ya-ya, maafkan aku. Aku tidak sengaja dan tidak bermaksud menyinggung perasaannya.”

Mereka lalu beringsut semakin menjauhi tempat mereka tadi. A Tung khawatir bertemu dengan pemuda kekar itu. Dan sementara itu “Perlombaan Mengangkat Arca” telah dimulai. Di atas panggung, di depan para peserta yang berbaris menunggu giliran, diletakkan sebuah patung besar dari Kaisar Han Kou Cou atau Kaisar Liu Pang. Patung itu dibuat dalam ukuran sebenarnya, dari batu pualam putih setinggi hampir dua meter.

Seluruh penonton di panggung lui-tai itu terdiam. Tegang. Semuanya ingin tahu, bagaimana perlombaan yang. belum pernah mereka lihat ini dilaksanakan.

Demikianlah, kalau penonton di panggung lui-tai itu menjadi tegang, sebaliknya penonton di panggung pertunjukan barongsai justru semakin menjadi riuh oleh sorak-sorai mereka. Keenam grup barong-sai yang lolos di babak pertama tadi telah mulai dipertandingkan satu sama lain. Dan yang kini sedang berlaga di atas panggung adalah pemain barong-sai berseragam kuning emas dari Ui-thian cung (Kampung Langit Kuning) melawan barong-sai berseragam merah darah dari Ang-lian-pang (Perkumpulan Teratai Merah).

“Hayo cepat! Terjang saja! Jangan takut…!”

“Benar! Hayo, lemparkan si Kuning itu ke bawah! Jangan dibiarkan beraksi di atas panggung!”

“Ah, mana mungkin si Merah itu mampu! Gerakannya saja lamban begitu!”

“Ya-ya, si Merah tampaknya lemah kuda-kudanya! Oho, kalau begitu hantam saja kakinya! Gasak saja lututnya! He-he-he-he…!”

“Ayo! Ayo! Ayoooooo…!” penonton pun berteriak dan menjerit-jerit semakin keras.

Jeritan dan gosokan para penonton itu semakin membakar semangat pemain pemainnya. Mereka semakin menjadi beringas dalam memainkan barong-sainya. Dengan menggerakkan segala kemampuan dan kecerdikan mereka, masing-masing berusaha mendesak atau melemparkan lawannya ke bawah panggung.

Pemain barong-sai selain dituntut untuk memiliki tubuh yang kuat, juga harus mempunyai ilmu silat yang tinggi. Sebab untuk menggerakkan peralatan barong-sai yang berat itu para pemainnya harus memiliki kekuatan dan tenaga dalam yang besar.

Apalagi untuk bisa bermain dengan lincah dan indah dipandang mata, otomatis para pemainnya harus pandai mengatur langkah serta punya ilmu meringankan tubuh pula. Oleh karena itu bisa dipastikan juga bahwa seorang pemain barong-sai tersohor tentulah seorang jago silat ternama pula.

Kampung Ui-thian-cung terletak di tepian pantai, dan merupakan sebuah perkampungan nelayan yang lain daripada perkampungan nelayan lainnya. Seluruh warganya bermarga Ui dan hampir seluruh perumahannya berada di atas air. Hanya Kepala Kampung dan keluarga-keluarga dekatnya saja yang mendirikan rumah di atas tanah. Dan mereka itu memang merupakan tulang punggung dari seluruh keluarga Ui tersebut.

Mereka sangat disegani di daerah itu, karena mereka rata-rata memiliki ilmu silat yang tinggi. Terutama Kepala Kampung dan keluarganya. Mereka mempunyai ilmu silat turunan yang sangat disegani lawan, yaitu Hok-mo Tung-hoat atau Ilmu Tongkat Pembunuh Iblis.

Kepala Kampung Ui-thian-cung sudah berusia tujuh puluh tahun lewat, bernama Ui Tiam Lok. Puteranya dua belas orang, lelaki semua. Dan yang memainkan barong-sai berwarna kuning emas itu adalah anaknya yang ke sebelas dan dua belas. Mereka adalah Ui Kong Tee dan Ui Kiong Lam.

Demikianlah, kedua Saudara Ui itu bertarung dengan lawan mereka dari balik barong-sainya.Mereka mengerahkan segala kepandaian mereka, karena secara kebetulan yang menjadi musuh mereka adalah orang-orang dari Ang-lian-pang, yang tidak asing lagi bagi mereka.

Perkumpulan Ang-lian-pang adalah perkumpulan para pedagang, pemilik toko, dan para tengkulak yang bermukim di daerah pesisir itu. Mereka itu mempunyai banyak pengawal dan tukang pukul. Dan mereka itu memang sering berselisih dengan para nelayan, yang dalam segala hal selalu dilindungi oleh keluarga Ui. Oleh karena itu pertarungan kali ini lebih berarti sebagai pertarungan untuk membela kehormatan dan harga diri daripada sebagai pertarungan untuk memperebutkan piala kejuaraan.

Maka tidaklah mengherankan apabila penonton pun terbagi menjadi dua bagian, yaitu pendukung keluarga Ui dan pendukung keluarga Ang-lian-pang. Para nelayan otomatis menjagoi barong-sai kuning, sedangkan para pedagang menjagoi barong-sai merah.Belasan jurus telah berlalu, akan tetapi mereka berimbang. Keduanya saling desak mendesak.

Kadang-kadang Ui bersaudara itu melancarkan serangan beruntun, susul menyusul, sehingga pemain barongsai dari Ang-lian-pang itu terdesak sampai ke pinggir panggung. Namun dengan kecerdikan dan keuletan mereka, pemain dari Ang-lian-pang itu bisa meloloskan diri. Bahkan mereka kemudian ganti mencecar Ui bersaudara itu dengan jurus-jurus mereka yang ganas.

“Koko…!? Tampaknya yang berada di dalam barong-sai merah itu Siang-hai-coa (Si Sepasang Ular Laut) sendiri!” Ui Kiong Lam yang memegangi bagian belakang barong-sainya tiba-tiba berseru kepada kakaknya yang berada di depan.

“Benar. Kelihatannya Hu Sing Kak kali ini benar-benar ingin menjuarai perlombaan ini dengan mengeluarkan tangan kanannya. Kau harus hati-hati! Awaaas! Kita harus cepat-cepat menyudahi pertarungan ini. Sesuai dengan gelarnya kedua ular laut itu semakin lama akan menjadi semakin berbahaya. Mari kita gunakan Barisan Ui-thian-tin…!”

Ui Kiong Tee menjawab dengan napas memburu.

“Baik, koko!”

Ui Kiong Tee memancing dengan sapuan kaki ke perut lawan, sehingga pemain barongsai lawan terpaksa meloncat mundur. Dan kesempatan yang sesaat itu dipergunakan oleh Ui bersaudara untuk berdiri tegak menyatukan langkah mereka. Lalu sebelum lawan mereka menyadari apa yang terjadi, keduanya sudah menyerang lagi dengan terjangan empat langkah ke depan dalam bentuk barisan Baling-baling Berganda! Empat kali mereka berdua saling bergantian menerjang lawan, sehingga barong-sai mereka berputar-putar ke depan seperti baling-baling!

Karena setiap serangan yang tertuju ke arah lawan itu selalu datang dari atas, maka Siang-hai-coa yang berada di dalam barong-sai merah tersebut menjadi kewalahan mengelakkannya. Sekali dua kali dengan kematangan perasaan mereka, mereka bisa menghindarkan diri. Tetapi pada serangan yang ke tiga mereka terpaksa harus menangkisnya. Dan keadaan ini sangat merugikan mereka, karena dalam keadaan terdesak seperti itu mereka akan mengalami kesulitan apabila lawan menyusuli dengan serangan yang lain.

Dhieeees!!!

Benar juga! Ternyata serangan Ui bersaudara itu memang masih satu langkah lagi. Maka untuk ke dua kalinya Siang-hai-coa terpaksa menangkis lagi. Namun karena kali ini tiada waktu untuk bersiap dan mengumpulkan tenaga, maka kekuatan dan gerakannya pun tidaklah sempurna. Akibatnya Siang-hai-coa yang berada di depan, yang langsung menerima gempuran kaki Ui Kiong Lam! jatuh berlutut dengan kepala barong-sai terlepas dari pegangannya!

Tapi pada saat yang bersamaan sebuah 1 pisau kecil melesat dari tangan Siang hai-coa itu, dan tepat menancap di betis Ui Kong Lam!

“Aduuuh…!”

Tujuh bayangan tiba-tiba melayang ke atas panggung! Mereka adalah lima orang saudara Ui Kiong Lam, lalu kepala prajurit pengawal, dan Hu Sing Kak sendiri. Demikian berada di atas panggung kedua belah pihak segera hendak bertempur. Namun dengan sebat kepala pengawal itu menengahi mereka.

“Tahan…! Saudara-saudara tidak boleh berkelahi di tempat ini! Biarlah panitia penyelenggara perlombaan ini yang mengambil keputusan atas peristiwa ini…!”

“Mereka curang! Sudah diputuskan bahwa di dalam perlombaan ini tidak diperbolehkan membawa senjata. Kenapa Siang-hai-coa keparat itu melanggar aturan? Kalau memang mereka menghendaki demikian, baiklah… kami pun akan melayaninya!” teriak putera sulung keluarga Ui sambil menghunus tongkat bajanya.

“Minggir…! Minggir! Aku akan mengadili dan memutuskan pemenangnya!” ketua pengawas perlombaan dengan tergesa-gesa meloncat ke panggung sambil berseru lantang.

“Nah, saudara-saudara harap menahan diri! Di sini bukan tempat untuk berkelahi! Kalau saudara-saudara ingin bertempur, kami persilakan nanti di panggung lui-tai!” kepala pengawal itu menegaskan lagi.

Sementara itu suara sorak-sorai penonton sudah tidak bisa dibendung lagi. Rata-rata mereka tidak puas terhadap kecurangan Siang-hai-coa. Beberapa orang penonton berteriak-teriak mengejek anggota Ang-lian-pang itu. Bahkan ada satu dua orang yang mulai melemparkan batu dan sepatunya ke panggung.

Yang paling tenang tampaknya adalah penonton di panggung pertunjukan tari-tarian. Mereka seakan-akan tidak peduli dengan keributan-keributan yang terjadi di panggung lui-tai dan barongsai. Dengan tenang dan santai mereka menikmati halus gemulainya gerakan para penari yang berputar-putar di atas panggung. Mereka semua seperti terpaku dan terpesona oleh kecantikan dan kehalusan kulit para penari yang terbungkus oleh aneka ragam warna pakaian sutera itu.

Kota Hang-ciu memang gudangnya gadis-gadis cantik di daerah pantai timur Tiongkok. Gadisnya rata-rata berhidung mancung, mata lebih lebar, dan tulang pipi yang tidak terlalu menonjol. Kulit mereka pun tidak begitu pucat pula, sehingga tampak lebih segar dan merangsang dipandang mata.

“Wah-wah… cantik-cantiknya! Masa… gadis sekian banyaknya tiada satu pun yang jelek! Hmh! Hemh!”

Lok Ma yang tiba-tiba telah berada di antara penonton panggung tersebut berdesah kagum.

“Lalu… kau mau apa?” temannya menyambung.

“Hmmm… tahu begini… tahu begini, aku dulu tidak buru-buru kawin dengan biniku.”

“Hah…? Lalu kau mau mencari pasangan di sini?

Begitu?”

“Iya! Siapa tahu rejeki nomplok?”

“Wah-wah! Kau ini memang tidak pernah berkaca diri. Gadis mana yang mau bersanding dengan monyet melarat seperti kau ini? Ho-ho-ho-ho-ho, Lok Ma…Lok Ma! Binimu sendiri, kalau tidak karena sudah terlanjur beranak, he-he-he-he… berani bertaruh tentu sudah minta cerai!”

“Kurang ajar! Enak saja kau mengolok-olok aku!”

Lok Ma menggeram dan menyumpah-nyumpah.

Plok-plok-plok! Plok-plok-plok!

Terdengar riuh suara tepuk tangan penonton di panggung lui-tai. Peserta nomer sepuluh telah berhasil mengangkat arca Kaisar Han Ko Cou. Kini peserta yang ke sebelas maju ke depan dan berdiri di depan arca.

Mula-mula pemuda itu membungkukkan tubuhnya, lalu bergeser selangkah ke samping kiri arca. Kemudian dengan lengan kanannya pemuda itu merangkul kaki arca, untuk seterusnya mengangkat arca tersebut perlahan-lahan. Rasanya enteng saja dan tidak banyak membutuhkan tenaga.

Penonton bertepuk tangan menyambut keberhasilan peserta ke sebelas itu. Pemuda itu lalu turun, dan panitia perlombaan segera memanggil peserta berikutnya. Pemuda tinggi besar berkulit hitam melompat ke atas panggung. Setelah memberi hormat ke arah pendapa pemuda itu lalu berlutut di depan arca, seperti layaknya seorang hamba sahaya menghaturkan sembah kepada rajanya. Setelah itu dia berjalan melingkar ke belakang arca, menekuk lututnya, merangkul kaki arca dan mengangkat tinggi-tinggi ke atas kepalanya.

Tepuk tangan dan sorak-sorai pujian diberikan oleh penonton kepada pemuda tinggi besar berkulit hitam itu. Dan pemuda itu menyambut pula pujian penonton tersebut dengan membungkuk serta merangkapkan tangan ke segala penjuru.

Peserta ke tiga belas naik ke atas panggung. Bertubuh jangkung kurus dengan kulit agak pucat.

Seperti para peserta sebelumnya, pemuda itu menekuk lututnya di depan arca dan menyembah dengan cara membenturkan dahinya ke lantai panggung. Setelah itu melangkah ke depan arca dengan lututnya.

Menyembah lagi. Lalu membalikkan badannya dan meraih kaki arca di belakangnya dengan kedua lengannya. Sambil mengerahkan sedikit tenaga ia lalu mengangkat arca tersebut di pungungnya.Kembali penonton bersorak-sorai memuji tingkah laku pemuda jangkung tersebut. Lebih meriah daripada sambutan yang diberikan kepada peserta sebelumnya. Pemuda berotot yang tadi hampir ribut dengan Lok Ma, kelihatan menyesal dan penasaran.

“Oh! Jadi… begitukah caranya mengangkat arca?Sebelumnya harus menyembah… berlutut… dan sebagainya?” ia bersungut-sungut.

Seorang laki-laki beruban yang berdiri di dekatnya menoleh dan tersenyum. “Tentu saja, anak muda.Bukankah perlombaan ini diselenggarakan untuk mencari bibit calon pasukan pengawal istana? Bagaimanapun juga para peserta tentu akan diuji sikap dan hormatnya pada raja.”

“Tapi… tapi itu hanya sebuah patung.”

— o0d-w0o —

                                                                                              Pendekar Pedang Pelangi 2