Jumat, 15 September 2017

MEMBURU IBLIS 33




Jilid 33

Tiauw Li Ing memang memiliki cara atau ilmu melepas am-gi yang hebat dan sulit diduga. Setiap macam senjata rahasianya mempunyai keanehan keanehan khusus yang setiap saat bisa menjebak atau membingungkan lawannya. Selain dari pada itu cara melepaskannyapun juga berbeda dengan kebiasaan umum. Maka tidaklah mengherankan bila ilmu melepas am-gi warisan Lo-sin-ong tersebut sangat ditakuti di dunia persilatan.

Tapi yang dihadapi Tiauw Li Ing sekarang adalah pewaris Bu-eng hwee-teng yang tubuhnya dapat bergerak secepat angin. Walaupun ilmu melepas am-gi Tiauw Li Ing itu hebat sekali, namun tetap saja tak bisa menyentuh pakaian Tui Lan. Memang, kadang-kadang Tui Lan dibuat bingung pula oleh tebaran senjata rahasia Tiauw Li Ing. Tapi dengan gin-kangnya yang sangat tinggi Tui Lan bisa juga menyelamatkan dirinya. Bahkan setelah itu Tui Lan lalu semakin memperberat tekanannya terhadap Tiauw Li Ing.

Demikianlah, akhirnya Souw Lian Cu yang menjadi terheran-heran menyaksikan kekalahan Tiauw Li Ing itu.

Praaaaaaak....!!!

"Aaaaah!

Tiba-tiba terdengar suara derak yang nyaring ketika ujung lengan baju Tui Lan menghajar badan kipas Tiauw Li Ing! Selanjutnya kipas baja itu tampak pecah berhamburan ke mana-mana! Bahkan dua diantara belasan daun kipas yang terbuat dari baja pipih itu melesat melukai pundak Tiauw Li Ing sendiri. Gadis itu menjerit kesakitan!

Lo-sin-ong terkejut bukan buatan. Tubuhnya yang kurus itu tiba-tiba melesat ke arena.

"Li Ing.............?" desahnya ketakutan seraya menangkap tubuh muridnya yang terhuyung-huyung mau jatuh.

Liu Yang Kun terkejut juga. Namun untuk sesaat pemuda itu hanya terbelalak serta termangu saja di tempatnya. Baru beberapa saat kemudian pemuda itu tersadar bahwa Tiauw Li Ing itu adalah isterinya.

“Ah!” pemuda itu tersentak dan di lain saat tubuhnya telan melenting bagaikan belalang ke tempat isterinya.

Lo-sin-ong yang sedang berusaha menolong Tiauw Li Ing itu memiringkan kepalanya. Begitu mengenali yang datang di dekatnya adalah Liu Yang Kun hatinya menjadi lega.

"Pangeran........! Tiauw Li Ing terluka. Dia terkena pecahan kipasnya sendiri. Hmh…. sungguh mengherankan! Siapakah wanita muda itu?"

Orang tua itu berkata perlahan. Matanya yang kosong itu tampak bergerak-gerak seakan-akan berusaha untuk bisa melihat wajah Tui Lan yang telah mengalahkan muridnya.

Lalu bagaimana dengan Tui Lan maupun Souw Lian Cu sendiri? Apa yang kemudian terjadi begitu Liu Yang Kun menampakkan dirinya? Bagaimana sikap Tui Lan ketika mendadak melihat Liu Yang Kun yang telah disangkanya mati itu berada di depannya? Dan bagaimana pula sikap Liu Yang Kun yang telah kehilangan ingatannya itu? Apakah ia bisa mengenali kembali wajah Tui Lan, isterinya sendiri yang asli? Semuanya memang serba mengejutkan!

Begitu pula yang terjadi pada Yap Kiong Lee pada saat itu! Beberapa saat yang lalu pendekar dari istana itu menjadi curiga tatkala Liu Yang Kun tidak juga kembali ke kamarnya, ketika dia memeriksa kamar sebelah, ternyata Souw Lian Cu juga tidak ada di tempat.

Sebenarnya pendekar istana itu tak berani menuduh yang bukan-bukan terhadap mereka. Terutama terhadap Liu Yang Kun. Tapi mengingat akan tugasnya sendiri untuk membawa pangeran itu ke istana maka tidak boleh tidak hatinya menjadi khawatir juga. Apalagi bila mengingat akan sikap Pangeran Liu Yang Kun terhadap istana selama ini.

"Ah! Apabila kali ini aku gagal lagi untuk membawa Pangeran Liu Yang Kun kehadapan Hong-siang, hanyalah hukuman mati yang menantiku di istana............!” Yap Kiong Lee lalu kembali ke kamarnya. Diambilnya sepasang pedang pendeknya yang ia taruh di bawah bantal.

Kedua bilah pedang itu lalu ia ikat di lengannya, persis di bawah sikunya. Di lengan kiri maupun lengan kanan. Begitu pendeknya pedang itu sehingga lengan bajunya yang lebar segera menutupinya begitu dibawa melangkah.

Di luar penginapan benar-benar gelap-gulita. Satu satunya lampu minyak yang sore tadi dipasang di pintu halaman sudah padam pula kehabisan bahan bakar. Suasana betul-betul sunyi. Sunyi dan sepi. Yap Kiong Lee benar-benar bingung, kemana ia harus mencari Pangeran Liu Yang Kun.

"Kemanakah dia pergi? Kalau cuma sekedar jalan jalan, mengapa tidak segera kembali? Apakah..................?”

Tiba-tiba Yap Kiong Lee teringat pada rumah Ui Bun Ting. "Jangan-jangan dia pergi ke sana untuk melihat, apakah Han Sui Nio telah kembali atau belum? Hmm, benar.................mungkin dia memang pergi ke rumah itu, B iarlah aku ke sana saja,” gumamnya perlahan seraya bergegas pergi ke rumah keluarga Ui Bun Ting itu.

Semakin dekat dengan rumah keluarga Ui Bun Ting, Yap Kiong Lee semakin yakin bahwa dugaannya benar. Perasaannya yang sudah sangat terlatih mengatakannya demikian. Tapi ketika ia menginjakkan kakinya di jalan besar yang menuju ke rumah keluarga Ui Bun Ting itu tiba-tiba dadanya berdebar-debar. Nalurinya seperti mengatakan bahwa ia sedang diikuti orang.

Betul juga. Ketika dengan tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya, ia melihat seseorang sedang berusaha menyelinap di balik pohon di pinggir jalan.

"Siapa...,.....?" Yap Kiong Lee berseru kaget. “Ayoh, keluar.....,.....?”

"Ah, Saudara Yap memang awas sekali ! Aku benar-benar kagum kepadamu! Nah, saudara Yap... selamat bertemu !" terdengar suara berdecak kagum dan tiba-tiba dari balik tembok halaman rumah di sebelah kiri Yap Kiong Lee muncul sesosok bayangan menghampiri. Sesosok bayangan manusia bertubuh tinggi besar mengenakan mantel lebar berwarna hitam mengkilat.

Tentu saja Yap Kiong Lee terkejut bukan buatan. Sementara itu dari balik pohon yang dilihat Yap Kiong Lee tadi muncul pula dua sosok bayangan dengan langkah ragu-ragu. Keduanya menghampiri Yap Kiong Lee dengan sikap waspada.

"Saudara Souw......,..??” Yap Kiong Lee menegur bayangan pertama, yang mengenakan mantel hitam itu.

“Benar.... akulah yang datang saudara Yap."

Hong-gi-hiap Souw Thian Hai menyahut ramah. Matanya yang tajam itu melirik ke arah dua orang yang datang.Yap Kiong Lee tersenyum kecut, karena sebenarnya ia tak tahu kalau Hong-gi-hiap Souw Thian Hai ada di tempat itu. Yang ia maksudkan sebenarnya bukan pendekar sakti itu, tapi kedua orang yang baru datang tersebut.

Namun untuk menghilangkan rasa kikuknya pendekar dari istana itu cepat berbisik, "Saudara Souw......! Apakah mereka itu kawanmu?"

Souw Thian Hai mengerutkan dahinya. Sambil memperhatikan kedua orang yang datang itu ia menjawab, "Mereka.......? Ah, bukan! Aku datang sendirian saja." Yap Kiong Lee menghela napas.

Ditatapnya kedua orang yang baru datang itu lekat-lekat. Semuanya berusia lebih dari empat puluh lima tahun.

"Maaf.,. Ji-wi siapa? Mengapa mengikuti langkahku?” dengan suara kaku Yap Kiong Lee bertanya.

Kedua orang itu saling pandang sebentar. Yang seorang segera mengangguk kepada yang lain.

"Maaf, Yap Tai-hiap. Kami berdua tak bermaksud apa-apa terhadap tai-hiap. Kami dari partai Tiam-jong-pai bermaksud menjumpai ketua kami di rumah keluarganya di ujung jalan ini. Secara kebetulan kami berjalan di belakang Yap tai-hiap. Karena takut mengganggu kepentingan Tai-hiap maka kami terpaksa berjalan dengan sembunyi-sembunyi. Tak tahunya tai-hiap tetap mendengar juga langkah kami......." orang yang pertama segera memberi keterangan.

Ternyata kedua orang itu datang dari Cin-an. Mereka datang dari Partai Tiam-jong-pai. Bahkan mereka telah mengenal nama besar Yap Kiong Lee pula.

"Aaah!" Yap Kiong Lee berdesah lega. "Mengapa malam-malam begini Ji-wi mau menemui Ui Ciang bun?"

Kedua orang itu saling pandang lagi satu sama lain. Namun yang seorang segera menjawab pertanyaan itu pula.

"Maaf, besok malam pesta perkawinan Ciang bun jin sudah harus berlangsung. Tapi hingga sekarang Ciang-bun-jin belum juga pulang ke Cin-an. Tentu saja kami menjadi khawatir sekali. Para pengurus segera mengadakan musyawarah dan memutuskan untuk mengirim kami menjemput beliau."

Yap Kiong Lee mengangguk angguk, “Hmm……memang. Ui Ciang-bun memang baru saja memperoleh halangan, tapi sekarang semuanya sudah beres. Ji-wi dapat menemuinya sekarang..........”

“Halangan........? Ada apa dengan ketua kami?” kedua orang Tiam-jong-pai itu berseru kaget.

Souw Thian Hai tampak kaget juga. “Eh, saudara Yap….. ada apa dengan Ui Ciang bun? Apakah ada orang jahat yang telah mencelakainya? Dimanakah Ui Ciang bun sekarang?” tanyanya khawatir, karena ketua Tiam-jong-pai itu adalah kawan baiknya pula.
Yap Kiong Lee tersenyum tenang. “Cu-wi jangan gelisah! Ui Ciang bun tidak apa-apa. Dia memang baru saja dilukai oleh Giok-bin Tok-ong. Bahkan calon isterinya juga diculik oleh Giok-bin Tok-ong pula. Namun mereka sekarang telah kembali dengan selamat. Silahkan kalau mau menemui mereka…..!”

“Baik! Kami berdua memang ditugaskan untuk menjemput Ui Ciang bun……” salah seorang dari kedua utusan Tiam-jong-pai itu cepat-cepat menjawab, lalu bergegas mengajak temannya untuk berangkat.

"Terima kasih, Yap Tai-hiap........” sebelum melangkah mereka mengucapkan terima kasih kepada Yap Kiong Lee. Setelah kedua orang itu pergi Souw Thian Hai mendekati Yap Kiong Lee.

"Saudara Yap, mau kemanakah kau malam-malam begini? Apakah ada tugas rahasia dari Hong-siang?"

Yap Kiong Lee tidak segera menjawab. Wajahnya kelihatan agak ragu-ragu. Tapi setelah berpikir sebentar ia lalu berkata. "Benar, saudara Souw. Aku memang sedang memikul sebuah tugas penting dari Hong-siang. Tapi…….eh, saudara Souw sendiri mau kemana pula? Tampaknya kau juga sedang mempunyai kepentingan……?”

Tiba-tiba Yap Kiong Lee teringat kepada Souw Lian Cu, puteri pendekar sakti itu. Oleh karena itu sebelum Souw T hian Hai menjawab pertanyaan, ia segera meneruskan lagi pertanyaannya.

“Eh…….apakah saudara Souw masih mencari puterimu itu?” Tak terduga wajah pendekar sakti itu tersentak penuh harap. Matanya menatap tegang.

"Benar, saudara Yap. Aku memang tak pernah berhenti mencarinya. Kudengar sebuah berita bahwa seorang pendekar wanita bertangan buntung berkeliaran di daerah pantai timur. Aku curiga jangan-jangan wanita itu..........puteriku! Oh, apakah saudara Yap pernah berjumpa dengan dia?”

Yap Kiong Lee tersenyum. Diam-diam hatinya tersentuh. Ternyata selama ini pendekar sakti itu tak pernah melupakan puterinya.

"Saudara Souw......... Aku memang telah bertemu dengan puterimu. Bahkan puterimu itu telah melakukan perjalanan bersama aku. Dia memang ingin menemuimu di kota Cin-an. Tapi sekarang……….”

"Saudara Yap!” Souw Thian Hai tiba-tiba mencengkeram lengan Yap Kiong Lee. "Katakan cepat! Dimanakah dia sekarang?” seru pendekar sakti itu dengan suara serak dan gemetar.

Bertahun-tahun bahkan mungkin sudah belasan tahun Yap Kiong Lee bersahabat dengan Souw Thian Hai, namun baru sekarang pendekar dari istana itu melihat pendekar besar yang disohorkan orang itu tampak gugup dan tidak bisa mengendalikan perasaannya.

"Saudara Souw, tenanglah..,.! Nanti akan kuceritakan semuanya, asalkan............."

“Eh-oh.......maaf, maafkanlah aku. Aku...sampai tak bisa menguasai diri.” Souw Thian hai tersipu-sipu. Wajahnya kelihatan sedikit merah.

"Ah, tidak apa-apa. Saya bisa memakluminya, saudara Souw. Marilah......akan kuceritakan semuanya. Tapi........kuminta untuk sementara Saudara Souw merahasiakan sebagian dari ceritaku ini nanti, karena ada sebagian yang menyangkut tugasku sebagai utusan Hong-siang.”

Souw Thian Hai memandang sahabatnya sebentar. Pandangannya tajam menyelidik. Tampaknya pendekar itu agak tergetar juga hatinya mendengar syarat sahabatnya itu, sehingga dalam sekejap timbul berbagai macam pikiran di dalam otaknya. Namun rasa ingin tahu terhadap nasib puterinya membuat pendekar itu mengesampingkan semua pikiran tersebut. Perlahan-lahan ia mengangguk.

"Baik. saudara Yap. Silahkan kau menceritakannya ............!” katanya kemudian sambil menghela napas.

Yap Kiong Lee mengusap rambutnya yang sedikit basah oleh embun. Setelah itu dengan jelas dan urut ia bercerita tentang Souw Lian Cu dan Pangeran Liu Y ang Kun. Sedikitpun tidak ada yang disembunyikannya. Bahkan keadaan Pangeran Liu Yang Kun yang anehpun dia utarakan pula. Juga tentang maksudpangeran itu untuk berobat kepada Chu Bwe Hong atau nyonya Souw di Cin-an nanti.

“Kata puterimu di dunia ini sudah tidak ada lagi yang mewarisi ilmu pengobatan Bu-eng Sin-yok-ong selain Nyonya Souw, karena Chu Seng Kun, kakak Nyonya Souw telah tewas di tangan putera-puteri Tung-hai Tiauw.”

“Apa…..? Saudara Chu tewas di tangan anak Tung-hai tiauw? Kurang ajar!” Souw Thian Hai tiba-tiba berseru geram.

Berita itu benar-benar sangat mengejutkan hati Souw T hian Hai. Selain terikat sebagai saudara ipar, Chu Seng Kun juga merupakan sahabat eratnya di masa muda. Bahkan telah banyak budi yang dilepas oleh sahabatnya itu kepadanya.

“Ya! Bahkan menurut penuturan puterimu, Keluarga Chu Seng Kun dibantai di depan hidungnya!"

“Oh, sungguh keji sekali! Lalu,.apa masalahnya sehingga kawanan bajak laut itu bermusuhan dengan Chu twa-ko?" Yap kiong Lee menghembuskan napasnya kuat-kuat.

"Kata puterimu........ semuanya itu berpangkal pada seorang wanita muda yang hendak melahirkan! Wanita muda itu ditemukan oleh seorang pembantu Chu Seng Kun di dekat rumah
mereka. Karena melihat wanita muda itu hendak melahirkan, maka dia dibawa pulang oleh pembantu keluarga Chu tersebut. Eee…..tak tahunya wanita muda itu ternyata adalah buronan dari keluarga Tiauw. Oleh karena itu perselisihan pun tak bisa dielakkan lagi. Apalagi Chu Seng Kun berkeras tidak mau menyerahkan wanita muda itu.”

“Kurang ajar,.,.....!” sekali lagi Hong-gi-hiap Souw Thian Hai menggeram. Kedua tangannya terkepal erat-erat.

“Apapun alasannya.......... kawanan bajak laut itu memang patut dikutuk! Akupun akan membuat perhitungan pula apabila pada suatu saat berjumpa dengan mereka!” Yap Kiong Lee berkata penasaran pula.

“Hmm, saudara Yap.........! Bagaimana pendapatmu sekarang? Kemana kira-kira Pangeran Liu Yang Kun dan puteriku itu pergi?"
“Entahlah! Tapi aku tadi bermaksud ke rumah keluarga Ui Bun Ting di ujung jalan ini. Aku ingin menengok ke sana. Siapa tahu mereka pergi ke rumah itu?"

“Ah, kalau begitu marilah kita lekas-lekas ke sana pula! Kalau di rumah itu tidak ada, kita mencarinya lagi di tempat lain………” ajak Souw Thian Hai bersemangat.

Demikianlah kedua pendekar itu lalu berlari menuju ke rumah Ui Bun Ting. Mereka tidak menyangka bahwa pada saat yang sama di dalam rumah itu telah terjadi keributan yang hampir saja merenggut nyawa ketua partai Tiam-jong-pai dan calon isterinya.

Memang. Pada saat itu, ketika di tepi jalan Han Tui Lan sedang tertegun kaget menyaksikan Pangeran Liu Yang Kun tiba-tiba berdiri di depannya, maka di dalam rumahpun Ui Bun Ting beserta seluruh keluarganya juga tertegun pula tatkala tiba-tiba Giok-bin Tok-ong berdiri di depan mereka! Sambil meringis kegirangan iblis tua itu menghampiri Han Sui Nio yang baru saja selesai menidurkan bayi Tui Lan. Tak seorangpun mengetahui bagaimana iblis tua itu masuk ke dalam rumah.

“Su-moi, awas……..! dia datang kembali!” Ui Bun Ting berteriak. Suaranya terdengar gemetar kaget dan ketakutan. Han Sui Nio yang baru saja menutup pintu terkejut pula. Dengan wajah pucat wanita itu bersandar pada daun pintu yang ditutupnya.

“K-k-kau……kau…..kembali lagi…..?” pekiknya tertahan di kerongkongan.

Kakek iblis itu berhenti tiga langkah di depan Han Sui Nio. "Benar, anak manis. Aku datang lagi untuk menjemputmu. Marilah kita pulang kembali ke Lembah tak Berwarna, kita lupakan semua ganjalan yang pernah ada diantara kita. Dan kita buka nanti lembaran yang baru..,,"

“Tidak......! Aku tidak mau! Kau pergilah! Kau pulanglah sendiri ke Lembah Tak berwarna! Jangan ganggu aku!" Han Sui nio berteriak.

Tapi Giok-bin Tok-ong tak mempedulikan teriakan itu. Dia maju selangkah lagi, sehingga iblis tua itu dapat meraih pundak Han Sui Nio.

"Lepaskan dia!” tiba-tiba terdengar Ui Bun Ting memekik.

Ternyata di puncak ketakutan dan kekhawatirannya, timbullah keberanian ketua partai Tiam-jong-pai itu. la berteriak seraya menyerang dengan kedua tangannya. Tapi dengan tenang Giok-bin Tok-ong mengibaskan lengan bajunya.

Serangkum angin berbau busuk tiba-tiba menyongsong kedatangan Ui Bun Ting. Dan selanjutnya ketua Partai Tiam-jong pai itu tergetar mundur dengan sempoyongan.

"huk.....huk...,,huk!" ketua Tiam-jong-pai yang masih belum pulih benar sakitnya itu terbatuk-batuk sambil mendekap dadanya. Ternyata ia telah terluka dalam lagi. Sebaliknya dengan wajah puas Giok-bin Tok-ong memandang ke arah lawannya itu. "Heheh..... ternyata kau belum mati juga, heh? Siapa yang telah mengobati lukamu siang tadi? Apakah kau telah mendatangkan seorang malaikat yang bisa menghidupkan kembali nyawamu, heh?"

Sambil berkata Giok-bin Tok-ong mengangkat lagi tangannya. Siap untuk melancarkan lagi serangannya.

"Jangan ! Jangan bunuh dia.........! Bunuh saja aku!” tiba-tiba Han Sui Nio menjerit sambil menubruk kaki Giok-bin Tok ong.

Iblis tua dari Lembah Tak Berwarna itu tak mengelak. Namun dia telah mengerahkan lwee-kangnya, sehingga Han Sui Nio pun takkan bisa berbuat apa apa bila bermaksud jahat. Dan sementara itu para penghuni rumah itu juga tak bisa berbuat apa-apa pula. Mereka telah ketakutan sejak tadi. Bahkan beberapa orang diantara mereka telah pingsan sejak Giok-bin Tok-ong muncul.

"Hehehe....... Sui Nio!" Giok-bin Tok-ong menoleh dan menunda pukulannya. "Aku dapat mengampuninya, asal........kau mau menuruti perintahku! Nah, cepatlah kau mengambil keputusan ! Kau ikut aku atau tidak?"

Suasana di dalam ruangan itu menjadi tegang luar-biasa. Han Sui Nio dengan wajah pucat memandang Ui Bun Ting, sementara Ui Bun Ting sendiri dengan bibir yang semakin membiru juga menatap kekasihnya itu.

"Su-moi.........?" ketua Partai Tiam-jong-pai itu berbisik lemah. Ternyata luka dalamnya semakin parah juga. “Aku............ aku sungguh bahagia bisa mati di depanmu. Oleh karena itu……. jangan kau terima ajakannya ! Hindarilah dia! Larilah sejauh-jauhnya!"

Giok-bin Tok-ong menggeram marah. Tangannya sudah bergetar lagi. Iblis tua itu benar-benar tidak bisa menahan diri lagi.

"Kau memang sudah bosan hidup! Setan busuk.....!” umpatnya keras-keras. Kemudian tangannya menyambar ke depan dengan dahsyatnya.

"Tok-ong, jangannnnn...........!!! Aku ikut kau!” tak terduga Han Sui Nio memekik dan memeluk kaki Giok Bin Tok-ong erat-erat.

Tangan yang sudah terayun itu mendadak berhenti. Dan desau angin yang bertiuppun lenyap pula dengan tiba-tiba. Ternyata pada kesempatan yang terakhir iblis tua itu telah membatalkan pukulannya. Sebagai gantinya iblis dari lembah Tak Berwarna itu lalu tertawa terkekeh-kekeh,

"Hehheh-heheh........ternyata kau masih dapat berpikir pula dengan baik. Bagus sekali, Sui Nio. Keputusanmu itu telah menyelamatkan jiwa kekasihmu. Nah, kalau begitu mau tunggu apa lagi? Ayolah...........!" ajak kakek iblis itu kemudian.

Lalu dengan kasar kakek iblis itu menarik lengan Han Sui Nio dan diseretnya kepintu.

"Su-moi.....! Kau jangan pergi! Kau akan sangat menderita nanti ! Biarlah aku saja yang menjadi korban...,.......!” dari belakang Ui Bun Ting berteriak dan berusaha mengejar ke pintu.

Tapi pintu itu dengan kasar telah ditutup pula oleh Giok-bin Tok-ong dari luar. Dan selanjutnya iblis tua itu telah lenyap membawa Han Sui Nio.

"Sui Nio..…..!” Ui Bun Ting menjerit lirih.

Ketua Tiam-jong-pai itu lalu meratapi keadaannya. Hatinya benar-benar pedih. Pedih bercampur penasaran. Di depan Giok-bin Tok-ong ternyata dirinya tak lebih dari seoranq lemah yang tak mampu berbuat apa-apa. Sama sekali hilang kegarangannya sebagai seorang ketua partai persilatan terkemuka di dunia.

Ui Bun Ting lalu membanting pandangannya ke tanah. Ia benar-benar merasa sedih dan malu. Malu kepada Han Sui Nio, karena ia sama sekali tak mampu melindungi calon isterinya itu.
Namun wajah itu tiba-tiba terangkat kembali. Di luar tembok halaman itu terdengar  suara perkelahian. Bahkan beberapa saat kemudian terdengar pula suara umpatan dan cacian. Suara Giok-bin T ok-ong!

"Oh? Dengan siapa iblis itu berkelahi? Ah, jangan-jangan iblis tua itu telah bertemu dengan Tui Lan ........."

Bergegas Ui Bun Ting turun ke halaman. Dia tak memikirkan lagi keadaan tubuhnya yang semakin lemah. Bahkan di dalam dadanya tumbuh kembali harapannya untuk bisa menyelamatkan Han Sui Nio. Siapa tahu ada pertolongan yang tak terduga?

Benar juga. Begitu ia membuka pintu halaman depan, matanya segera menyaksikan pemandangan yang benar-benar diluar dugaannya. Ia melihat Giok-bin Tok-ong bertempur melawan Hong-lui-kun Yap Kiong Lee. Han Sui Nio tidak berada di tempat itu. Calon isterinya itu berada di jalan raya. Wanita itu sedang memeluk Tui Lan.

Dan beberapa langkah di belakang Han Sui Nio tampak pendekar besar Souw Thian Hai sedang berangkulan dengan seorang gadis berlengan satu. Pendekar itu kelihatan sangat terharu hatinya. Wajahnya tengadah memandang ke langit, sambil sesekali menghela napas panjang.

Sementara itu agak jauh di seberang jalan tampak pula wajah seorang pemuda yang tak mungkin dapat dilupakannya. Liu Yang Kun! Pemuda itu tampak berdiri termangu-mangu di dekat seorang kakek buta yang sedang sibuk merawat gadis muda.

“Oh-oh……ada apa sebenarnya di tempat ini tadi? Aneh benar suasananya…….” Ui Bun Ting berdesah bingung.

Jalan itu tetap gelap dan sepi. Walaupun orang-orang yang tinggal di sekitar tempat tersebut juga mendengar keributan itu, namun mereka tetap tidak berani keluar untuk melihatnya. Mereka justru menutup rapat-rapat pintu dan jendela mereka, kemudian bersembunyi bersama seluruh keluarga mereka di tempat yang aman.

“Lian Cu, anakku….! Kemana saja kau selama ini? Hampir putus asa ayah mencarimu…..” Souw Thian Hai berbisik di telinga puterinya. Keduanya masih berpelukan.

Perlahan-lahan Souw Lian Cu melepaskan diri dari dekapan ayahnya. Wajahnya yang basah dengan air mata itu mendongak ke atas. terbata-bata ia menjawab. “Maafkanlah aku, ayah….aku memang anak yang tak berbakti. Aku selalu……selalu membuat ayah menderita.”

“Tidak, nak…..kau tidak bersalah. Ayahlah yang telah menyia-nyiakanmu. Ayah terlalu mementingkan dirinya sendiri, sehingga kau menjadi kecewa karenanya. Seharusnya ayah lebih memperhatikanmu, karena sejak kecil kau tak pernah merasakan kasih sayang orang tua……”

“Ayah……..!”

Kedua ayah dan anak itu lalu berpelukan lagi. Pertemuan itu benar-benar sangat mengharukan, tapi juga sekaligus membahagiakan hati mereka.

Sementara itu Han Sui Nio yang sedang berpelukan dengan Tui Lan tiba-tiba menjerit. Tui Lan yang ada di dalam pelukannya itu mendadak pingsan.

“Tui Lan.....!!!”

Jeritan Sui Nio itu tentu saja amat mengagetkan yang lain. Hong-gi-hiap Souw Thian Hai dan Souw Lian Cu tersentak kaget dari keharuan mereka. Liu Yang Kun yanq sedang termangu-mangu bingung itupun juga menoleh pula dengan cepat. Bahkan Giok-bin Tok-ong yang sedang bertempur dengan Yap Kiong Lee itu juga menjadi kaget sekali. Tanpa mempedulikan lawannya lagi iblis tua itu melesat menghampiri Han Sui Nio.

"Sui Nio, ada apa.........?” tanyanya khawatir.

Han Sui Nio menoleh sekejap, kemudian mendekap tubuh Tui-Lan kembali.

"Anakmu! Anakmu pingsan !" Sui Nio menjerit pula sekali lagi.

"Apaaa.........? Anakku..,,......?” tiba-tiba Giok bin Tok-ong memekik. Wajahnya menjadi tegang. Han Sui Nio menoleh lagi dengan cepat. Tiba-tiba wajahnya menjadi garang ketika menatap Giok bin Tok-ong.

"Benar! Anak ini memang anakmu. Ayah bodoh. Cepat! Obati dia..... !" bentaknya kemudian dengan keras.

Air muka kakek iblis itu berubah dengan hebat. Bibirnya menjadi pucat tak berdarah, sementara matanya yang biasa liar dan ganas itu tiba-tiba terpukau diam tak bergerak.

"Anakku...............?" desahnya seperti tak percaya.

Lalu kakek itu tiba-tiba menyambar ke depan. Sekejap saja tubuh Tui Lan telah berpindah dalam pelukannya.

"Tui Laaaan.......!” Han Sui Nio memekik.

"Ci-ci.............!" Souw Lian Cu menjerit pula, kemudian menghambur dari pelukan Souw Thian Hai untuk menolong Tui Lan.

Namun dengan cepat Giok-bin Tok-ong mengebutkan lengan bajunya yang lebar. Dan serangkum angin berbau amispun segera menahan langkah Souw Lian Cu dengan kuatnya.

"Ooouuugh ,...........!” Souw Lian Cu mengeluh pendek.

"Lian Cu...............!" Hong-gi-hiap Souw Thian Hai berteriak kaget dan bergegas menyambar tubuh puterinya itu. Kemudian sambil membawa puterinya ke pinggir, Souw Thian Hai cepat-cepat mengurut dan menotok di beberapa bagian punggungnya. Semuanya itu dia lakukan dengan tangkas dan cekatan. Sehingga napas Souw Lian Cu yang sesak segera pulih kembali seperti semula.

Sementara itu Ui Bun Ting masih tetap juga berdiri bingung di luar pintu halaman rumahnya. Ketua partai Tiam-jong-pai itu benar-benar tak bisa menerka, apa sebenarnya yang telah terjadi di tempat itu sebelum dia keluar tadi.

“A-a-apa…….yang telah terjadi………” desahnya serak.

Benar. Apa sebenarnya yang telah terjadi? Mengapa tiba-tiba Giok-bin Tok-ong berkelahi dengan Hong-lui-kun Yap Kiong Lee? Dan bagaimana pula tiba-tiba Tui Lan telah berpelukan dengan Han Sui Nio, serta pingsan di dalam pelukannya tersebut?

Seperti telah diceritakan di bagian depan, pertempuran antara Tui Lan melawan Tiauw Li Ing telah berakhir dengan kemenangan Tui Lan. Kipas yang dipegang gadis bajak-laut itu telah pecah, dan pecahannya justru melukai pemiliknya sendiri. Akibatnya Lo-sin-ong dan Liu Yang Kun terpaksa datang menolongnya.

Namun kemunculan Liu Yang Kun itu ternyata sangat mengejutkan hati Tui Lan. Beberapa saat lamanya gadis itu mengejap-ngejapkan kelopak matanya. Gadis itu seperti tak percaya pada penglihatannya. Baru beberapa waktu kemudian gadis itu mengeluh pendek dan tubuhnya terhuyung ke depan. Tubuh gadis itu tentu akan terbanting ke tanah kalau pada saat yang sama tidak datang Han Sui Nio, yang dengan tangkas menyambar tubuhnya. Ternyata kedatangan Han Sui Nio bersama Giok-bin Tok-ong dari dalam rumah Ui Bun Ting tadi benar-benar tepat pada waktunya. Dan kedatangan mereka tersebut ternyata juga bersamaan pula dengan kedatangan Hong-lui-kun Yap Kiong Lee.

Bahkan pendekar istana itu segera menyerang Giok-bin Tok-ong begitu menyaksikan iblis tersebut keluar dari rumah Ui Bun Ting. Dan pertempuran yang baru saja mulai itu segera bubar kembali ketika terdengar jeritan Han Sui Nio. Dan seperti yang telah diceritakan pula, tubuh Tui Lan telah berpindah dengan cepat ke tangan Giok-bin Tok-ong. Bahkan Souw Lian Cu yang bermaksud menolong sahabatnya itu telah terluka dalam pula oleh pukulan iblis dari Lembah Tak Berwarna tersebut. Semuanya itu berlangsung dengan cepat sekali, sehingga Hong-gi-hiap Souw Thian Hai itu tak sempat pula menolong puterinya. Untunglah luka yang diderita gadis ayu itu tidak begitu parah sehingga Souw Thian Hai segera dapat menolongnya pula. Namun demikian semua itu telah membangkitkan amarah Souw T hian Hai.

“Bangsat keji..............!” pendekar besar itu menggertakkan giginya. "Kau telah melukai puteriku! Hmm...... kubunuh kau!” Tapi Giok-bin Tok-ong sendiri ternyata tidak mengacuhkan ancaman tersebut. Iblis tua itu sedang sibuk dengan urusannya sendiri. Urusan Tui Lan yang tiba-tiba dikatakan sebagai anaknya oleh Han Sui Nio.

“Heh? Apa katamu, Sui Nio? Dia……dia……anakku? Betulkah itu…….? Kau…….kau bohong!” sanggah iblis tua itu hampir berteriak.

Matanya liar menunjukkan nafsu membunuh. Tiba-tiba Han Sui Nio tersadar bahwa ia telah mengatakan sesuatu yang amat membahayakan nyawa anaknya. Iblis itu telah bersumpah untuk membunuh semua keturunannya. Tui Lan tentu akan dihabisinya pula. Oleh karena itu dengan sangat ketakutan Han Sui Nio menjerit dan berusaha merampas tubuh Tui Lan dari tangan Giok-bin Tok-ong.

“Tidaaaakk……..! eh, aku keliru! Dia bukan anakmu! Dia…….dia…….anak Ang-leng Kok-jin!”

Tapi perubahan sikap dan keadaan Han Sui Nio itu justru menumbuhkan keyakinan di dalam hati Giok-bin Tok-ong, bahwa Tui Lan memang anaknya. Dengan menyeringai kejam iblis tua itu segera mengangkat tubuh Tui Lan yang tak berdaya.

Namun pada saat itu pulalah Souw Thian Hai telah berada di depannya. Dengan pengerahan tenaga sepenuhnya pendekar besar itu menyerang. Tangan kiri menyergap ke arah wajah, sedangkan tangan kanan berusaha menyambar tubuh Tui Lan!

Dan serangan itu memang sangat mengejutkan Giok-bin Tok-ong. Apalagi ketika terasa olehnya udara yang terpancar dari kedua tangan Souw Thian Hai itu mempunyai pengaruh yang berlawanan. Panas dan dingin. Yang tertuju ke arah wajahnya bagaikan jilatan api yang hendak membakar kepalanya. Sementara yang terarah ke tubuh Tui Lan bagaikan siraman air es yang hendak membekukan tangannya.

"Gila.....,.....!!!"

Ketua Lembah Tak Berwarna itu mengumpat kasar.

Dan kemarahannya menjadi semakin hebat pula begitu menyaksikan siapa yang telah menganggunya. Meskipun gelap ternyata ia mampu mengenali wajah Souw Thian Hai.

"Kau.......? Huh!” lanjutnya kemudian seraya melompat ke belakang. Otomatis maksudnya untuk mencekik atau membanting tubuh Tui Lan menjadi tertunda.

Tetapi Souw Thian Hai tak ingin memberi kesempatan lagi kepada lawannya untuk melaksanakan niatnya itu. Menyadari sergapannya tak berhasil pendekar besar itu segera menyusulinya lagi dengan serangan berikutnya. Kali ini dengan lompatan panjang ke arah pinggang lawan. Tumit kanannya berputar dari kanan ke kiri dalam jurus Menebas Rumput Meratakan Tanah, salah sebuah jurus yang pernah mengangkat nama keluarganya di dunia persilatan.

Lagi lagi Giok-bin Tok-ong terperanjat. Kali ini serangan kaki lawannya diikuti oleh hawa panas yang tak terhingga kuatnya. Belum juga serangan itu menghantam pinggangnya, kilatan udara panas lebih dulu menerjang bagaikan petir yang hendak menghanguskan tubuhnya.

Dengan tergesa-gesa Giok bin Tok-ong meloncat lagi ke belakang. Kali ini benar-benar dengan kemarahan yang telah memuncak sampai di ubun-ubunnya. Sehingga ketika sekali lagi Souw Thian Hai memburunya, ia tak mau mengelak pula. Dengan geram tangannya yang bebas menyongsong serangan lawannya.

Tapi ternyata Souw Thian Hai tak mau beradu tenaga dengannya. Pendekar besar itu menggeliat ke samping dengan gesitnya, kemudian dari samping menyerang lagi dengan kedua jari tangannya. Seleret sinar seperti kilatan petir melesat dari ujung jari-jari tersebut. Menerjang ke arah lengan Giok-bin Tok-ong, bagaikan kilatan anak panah yang terlepas dari busurnya!

Cuuuuss!

“Kurang ajar……..!!!” iblis dari Lembah Tak Berwarna itu mengumpat kasar. Otomatis tangannya yang memegang tubuh Tui Lan menangkis kilatan sinar tersebut, sehingga tubuh gadis itu terlepas dari cengkeramannya.

Dan kesempatan itu benar-benar tak disia-siakan oleh Hong-gi-hiap Souw Thian Hai ! Dengan cepat tangannya yang lain segera mendorong tubuh Tui Lan ke pinggir!

Sementara itu Liu Yang Kun yang sejak tadi hanya berdiri termangu-mangu di dekat Lo-sin-ong dan Tiauw Li Ing, tiba-tiba seperti disentakkan dari lamunannya. Pemuda itu bergegas menangkap tubuh Tui Lan yang kebetulan melayang ke arah dirinya. Sekejap ia menjadi bingung dan salah tingkah, tak tahu apa yang harus ia perbuat terhadap gadis itu.

“Pangeran! Apa yang kau lakukan? Apa yang telah terjadi? Siapakah yang berkelahi itu?” Lo-sin-ong yang sudah selesai mengobati Tiauw Li Ing itu tiba-tiba bertanya dengan kaget dan waspada.

“anu…..eh…..anu, Giok-bin Tok-ong berkelahi dengan seorang lelaki tinggi besar bermantel hitam……..!” Liu Yang Kun menjawab dengan gugup. Ternyata ia tak ingat lagi kepada Hong-gi-hiap Souw Thian Hai.

“Giok-bin Tok-ong……?” Lo-sin-ong tersentak kaget.

“Benar."

“Eh, mengapa iblis tua itu sampai bisa datang kemari? Oh.......sungguh gawat sekali! Kita tak boleh berlama-lama di sini! Kita harus cepat-cepat pergi................!"

Kakek tua itu segera mengangkat tubuh muridnya. Namun pada saat yang sama gadis itu juga membuka matanya. Melihat Liu Yang Kun memeluk tubuh Tui Lan, gadis itu cepat melepaskan diri dari pegangan gurunya. Dengan marah gadis itu berdiri menghadapi Liu Yang Kun. Namun karena kesehatannya memang belum pulih kembali, maka tubuhnya segera terhuyung mau jatuh.
Bagaikan orang yang awas matanya Lo-sin ong menyambar tubuh Tiauw Li Ing!

"Kau........? kauuu,.....?" gadis itu menjerit sambil menuding 'suaminya', lalu pingsan di dalam gendongan su-hunya.

Tentu saja Lo-sin-ong yang buta itu menjadi bingung dan tak tahu apa yang menyebabkan muridnya bertingkah demikian.

"Oh........dia pingsan! Apa........apa sebenarnya yang terjadi, Pangeran?"

“A-a-aku tak tahu, Lo-cianpwe...........dia......... seperti marah sekali," Liu Yang Kun tak berani berterus terang.

“Aneh sekali! Kalau begitu kita memang harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini ! Hemmh, sungguh mengherankan! Malam-malam begini, di tempat seperti ini pula, tiba-tiba muncul sedemikian banyak tokoh-tokoh persilatan yang saling berbenturan.............."

Kakek tua itu lalu mengangkat tubuh Tiauw Li ing dan melangkah pergi. Namun langkahnya segera terhenti kembali ketika tak didengarnya langkah Liu Yang Kun di belakangnya.

"Pangeran. Kenapa kau masih tetap berdiri di situ? Ayolah...... !" ajaknya kemudian dengan suara agak keras.

Liu Yang Kun tersentak kaget, lalu menghela napas panjang. Kakinya terasa berat sekali untuk melangkah. Apalagi ketika ia menyadari bahwa beberapa orang telah datang mendekatinya. Bahkan mengepungnya. seolah-olah orang-orang itu tidak memperbolehkan dia pergi dari tempat
tersebut.

"Yap Tai-hiap! Nona Souw.........? Ini.........???" bibir Liu Yang Kun bergetar hampir tak bersuara. Matanya juga ikut bergetar pula ketika memandang ke arah kawan-kawannya itu.

"Saudara Liu! Letakkan wanita itu baik-baik. Jangan ganggu dia! Aku bersumpah untuk membalas dendam kepadamu apabila kau sampai berani mengusiknya!” Souw Lian Cu yang biasa bersikap tenang itu mengancam.

“Pangeran....hendak kau apakan wanita itu? Berikan......berikan dia kepada Ui Ciang bun! Gadis itu adalah anak-tiri Ui Ciang bun....” di dalam ketegangannya Yap Kiong Lee lupa menyebut ‘pangeran’ kepada Liu Yang Kun.
Untunglah semua orang yang datang mengepung Liu Yang Kun itu juga dalam keadaan tegang pula hatinya, sehingga mereka tidak begitu memikirkan keganjilan itu.

“Betul, Tai-hiap. Dia anak tiriku. Ampunilah dia......” Ui Bun Ting yang juga datang bersama Han Sui Nio ikut memohon kepada Liu Yang Kun.

Seketika Liu Yang Kun menjadi sadar, bahwa teman-temannya itu mengkhawatirkan keselamatan wanita yang kini berada di dalam pelukannya. Agaknya mereka menyangka bahwa dirinya hendak mencelakakan wanita itu.

“Oh, maaf........maaf! Inilah dia! Silahkan kalian merawatnya! Sama sekali aku tak berniat untuk
mencelakakannya......! sungguh!” terbata-bata Liu Yang Kun berkata sambil menyerahkan tubuh Tui Lan kepada Yap Kiong Lee.

Di lain pihak keributan kecil itu tampaknya didengar pula oleh Lo-sin-ong. Kakek tua yang belum jauh melangkah dari tempat itu tampak mengerutkan alisnya.

“Pangeran….? Apakah kau mendapatkan kesulitan?” tanyanya dingin.

“Oh, tidak! Tidak……! Lo-cianpwe harap berjalan dahulu! Mereka adalah teman-temanku. Aku hendak berbicara dengan mereka sebentar,” Liu Yang Kun cepat menyahut.

Namun tentu saja kakek tua itu tak mau dibohongi oleh Liu Yang Kun. Begitu sulitnya dia dan Tiauw Li Ing mencari Liu Yang Kun. Kini sete lah pemuda itu dapat mereka ketemukan, bagaimana mungkin kini ia lepaskan begitu saja? Bagaimana kalau pemuda itu nanti melarikan diri lagi?

“Hmmh! Kukira masih banyak waktu untuk berbicara dengan mereka nanti. Yang lebih penting bagi pangeran sekarang adalah merawat isterimu. Marilah! Tinggalkan saja dahulu kawan-kawanmu itu.......!”

“Tapi.......?” Liu Yang Kun berdesah bimbang.

Matanya mengawasi Souw Lian Cu, seolah-olah meminta pertimbangan. Tapi Souw Lian Cu sendiri seperti tak mengacuhkan tatapan mata itu. Gadis ayu itu bahkan menyibukkan diri di samping Tui Lan yang telah dirawat oleh Ui Bun Ting dan Han Sui Nio. Yap Kiong Lee lah yang kemudian maju mendekati Liu Yang Kun.

“Pangeran……! Jangan kau ikuti ajakan orang tua itu! Bukankah Pangeran hendak berobat kepada isteri Hong-gi-hiap Souw Thian Hai. Nah, lihatlah….! Pendekar besar itu telah datang kemari. Sebentar lagi isterinya tentu akan tiba pula,” pendekar dari istana itu mencoba membujuk Liu Yang Kun.

Benar saja. Pemuda itu kelihatan terkejut mendengar keterangan tersebut.

"Hong-gi-hiap Souw Thian Hai? Betulkah orang yang bertempur dengan Giok-bin Tok-ong itu ayah nona Souw?” desah pemuda itu kaget.

“Benar. Tanyakan saja kepada nona Souw kalau Pangeran tak percaya."

Liu Yang Kun mengerutkan dahinya. Tapi sebeIum dia menjawab, tiba-tiba Lo-sin-ong telah berkelebat di depannya.

“Pangeran! Dia berbohong! Jangan hiraukan dia! Mari kita segera pergi dari tempat ini! Isterimu itu harus cepat-cepat mendapatkan perawatan......” kakek itu memotong dengan perkataan keras.

Tapi Liu Yang Kun sudah tidak bisa dibujuk lagi. Apalagi pemuda itu merasa bahwa luka-luka isterinya tidak begitu parah.

“Lo-cianpwe, jangan paksa aku.....! lebih baik Lo-cianpwe berjalan lebih dahulu. Aku akan tetap berbicara dahulu dengan kawan-kawanku........”

“Pangeran! Apakah kau.....?” Lo-sin-ong menggeram.

Tangan sudah terangkat. Siap untuk menyerang. Namun dengan tangkas Yap Kiong Lee melompat di depannya. Melihat orang tua di depannya itu sudah mengetahui siapa Liu Yang Kun, pendekar dari istana itu juga tidak mau main sembunyi lagi.

“Lo-cianpwe, saya benar-benar heran menyaksikan sepak-terjang Lo-cianpwe saat ini. Rasanya menjadi hilang bayanganku selama ini. Bayangan tentang seorang bekas ketua aliran kepercayaan terkemuka, yang selama hidupnya terkenal sebagai tokoh persilatan yang berbudi luhur dan menjunjung tinggi kebajikan serta keadilan. Yang kulihat sekarang justru kebalikannya. Tokoh itu kini ternyata telah bergaul dengan penjahat. Bahkan menjadi guru dari puteri bajak laut Tung-hai-tiauw yang terkenal itu. Malahan demi muridnya yang jahat itu tokoh tersebut hendak membinasakan putera kaisar yang tidak bersalah…….”

Wajah Lo-sin-ong yang buta itu menjadi pucat. Matanya yang kosong itu terbuka mengerikan, seolah-olah ingin melihat orang yang berani berkata kasar kepadanya.

“Cukup......! Siapakah kau?” bibir yang pucat gemetaran itu akhirnya menjerit.

“Maaf, Lo-cianpwe. Aku yang rendah ini adalah Yap Kiong Lee, seorang hamba kerajaan yang khusus diutus oleh Hong-siang untuk menjemput Pangeran Yang Kun.”

“Yap Kiong Lee……? Aah!” tiba-tiba suara Lo-sin-ong merendah. “.......jadi saudara ini salah seorang dari dua bersaudara Yap yang mengabdi kepada kerajaan itu?”

“Benar. Oleh karena itu kami minta Lo-cianpwe jangan mengganggu Pangeran Liu Yang Kun. Mengganggu dia sama saja berarti melawan kekuasaan Hong-siang.”

Lo-sin-ong tertegun dengan wajah merah-padam. Ia menjadi serba salah memikirkan nasib Tiauw Li Ing. Membantu salah, tidak membantu juga salah. Seperti telah dikatakan oleh Yap Kiong Lee tadi, namanya akan jatuh bila ia tetap membantu Tiauw Li Ing. Tapi bagaimana ia harus berdiam diri melihat nasib muridnya itu?

Tiba-tiba kakek tua itu menghela napas sedih. Hatinya merasa menyesal sekali. Ia terlalu memanjakan Tiauw Li Ing, sehingga selama ini ia cenderung untuk selalu menuruti keinginan muridnya tersebut. Sampai-sampai ia mencarikan jalan yang kurang terpuji untuk menuruti keinginannya.

"Baiklah. Ciang-kun. Me lihat ayahmu, Yap Cu Kiat, yang telah kukenal dengan baik, aku tidak akan mengganggu lagi kepada Pangeran Liu Yang Kun. Nah, aku memohon diri......." akhirnya kakek itu berkata dengan suara rendah.

Selesai berkata kakek sakti itu lalu berkelebat pergi. Dari jauh masih terdengar suara tarikan napasnya yang berat.

"Yap Tai-hiap.....? Betulkah pemuda sakti ini Pangeran Li Yang Kun yang terkenal itu?" tiba-tiba Ui Bun Ting berseru seakan-akan tak percaya.

"Benar, Ui Ciang-bun. Tapi kumohon kau jangan membocorkannya dahulu kepada orang lain. Aku dan Pangeran Liu Yang kun sedang mengemban sebuah tugas rahasia dari Hong-siang," Yap Kiong Lee cepat-cepat menukas dengan sedikit berbohong.

Di lain pihak Liu Yang Kun hanya menggeleng gelengkan kepalanya saja. Pemuda yang selama ini tidak pernah merasa sebagai putera Kaisar Han itu beberapa kali tersenyum kecut ketika memandang kepada Yap Kiong Lee.

“Bun Ting.........! Tui Lan belum juga siuman dari pingsannya. Bagaimana ini?" tiba-tiba Sui Nio menyela pembicaraan mereka.

“Oh ! Kalau begitu kita bawa saja dia ke dalam rumah. Marilah............!”

“Benar, Li-hiap. Bawalah puterimu ke dalam bersama Ui Ciang-bun! Biarlah aku di sini bersama Pangeran Liu Yang Kun mengawasi pertempuran Souw Tai-hiap." Yap Kiong Lee memberi saran pula.

“Aku juga di sini untuk melihat pertempuran ayah," Souw Lian Cu yang masih belum pulih kembali kesehatannya itu menyela juga.

“Tapi nona baru saja keracunan.....” Yap Kiong Lee memperingatkan.

"Tidak apa-apa. Keadaanku sudah lebih baik. Ayah telah mengobati aku."

Karena Souw Lian Cu berkeras untuk tinggal maka Ui Bun Ting lalu mengajak Sui Nio saja untuk membawa Tui Lan ke dalam rumahnya. Ketua Tiam-jong-pai itu berjalan melingkari arena pertempuran yang semakin dahsyat tersebut. Demikian asyiknya dia mengawasi jalannya pertempuran sehingga ia menjadi kaget ketika tiba-tiba ada dua orang lelaki yang datang menyongsongnya.

“Ciang-bun-jin, apakah yang telah terjadi di sini ?” kedua orang yang baru datang itu menyapa dengan suara khawatir.

"Oooh.........!” Ui Bun Ting berdesah lega begitu melihat siapa yang datang. Mereka adalah orang-orang Tiam-jong-pai yang tadi dijumpai Yap Kiong Lee di jalan.

"Hmm..... syukurlah kalian datang. Mari, tolonglah aku membawa gadis ini ke rumah. Nanti akan kuceritakan semuanya."

"baik, Ciang-bun............"

Sepeninggal mereka tinggallah kini Yap Kiong Lee dan Liu Yang Kun bersama Souw Lian Cu di pinggir arena itu. Mereka bertiga menonton pertempuran antara Hong-gi-hiap Souw Thian hai melawan Giok-bin Tok-ong yang semakin seru dan menegangkan itu. Tampaknya kedua-duanya sudah mulai mengeluarkan ilmu-ilmu andalan mereka. Terbukti sambaran angin pukulan mereka telah mulai merusakkan benda-benda di sekeliling arena pertempuran itu.

Asap maupun cairan-cairan beracun mulai tersebar memenuhi arena sehingga bermacam-macam bau yang menyengat hidung pun mulai mengganggu tempat itu pula. Bahkan pengaruh dari berbagai macam racun yang tersebar dari tangan Giok-bin Tok-ong itu mulai menyentuh para penonton juga.

Meskipun demikian pengaruh racun itu tampaknya tidak terlalu menyulitkan Hong-gi-hiap Souw T hian Hai. Pendekar itu masih tampak lincah menyerang lawannya. Bahkan dengan daya perlindungan mantel pusaka warisan Bit-bo-ong itu ia mampu mendesak dan mematahkan serangan Giok-bin Tok-Ong. Malahan sedikit demi sedikit ia mulai kelihatan mengungguli lawannya.

"Bangsat keparat! Setan ! Iblis ! Kau hanya mengandalkan mantel pusakamu? Kau tidak berani menyongsong serangan dengan dadamu! Kau hanya mampu berlindung di balik keampuhan mantelmu? Kurang-ajar................!" Giok-bin Tok-ong mengumpat berkali-kali, karena setiap serangannya selalu tertahan oleh mantel pusaka yang dikenakan oleh Souw Thian hai.

“Hahaha.........Kau tak perlu gusar, Tok-ong! Mantel ini memang merupakan senjataku, seperti halnya racun-racun yang kau sebar itu! Mengapa kau mesti marah terhadapku? Marilah kita tentukan di sini, siapakah sebenarnya yang berhak menyandang sebutan Jago Silat Nomer Empat atau Nomer lima itu?"

"Setan busuk..... lihat seranganku!!" Giok-bin Tok-ong menjerit marah.

Ketua Lembah Tak Berwarna itu semakin menggila dengan racun-racunnya, sehingga pertempuran di pinggir jalan itupun semakin menjadi berbahaya dan mengerikan. Yap Kiong Lee bergegas menarik lengan Liu Yang Kun dan Souw Lian Cu untuk menjauhi arena. Apalagi ketika untuk mengimbangi serangan-serangan racun kakek iblis tersebut Souw Thian Hai juga semakin meningkatkan pula Tai-lek Pek-khong-ciangnya. Kilatan-kilatan sinar tajam berwarna merah dan putih, yang melesat keluar dari ujung jari-jari pendekar itu, juga tampak menggapai semakin jauh keluar arena. Dan ujung sinar-sinar itu segera menghancurkan pula semua benda-benda yang dilewatinya.

Dan sebentar kemudian Giok-bin Tok-ong pun semakin kelihatan kewalahan menghadapi kilatan-kilatan sinar yang mematikan itu. Semua gerakannya seolah-olah selalu dicegat dan dipotong oleh sinar yang keluar dari ujung jari lawannya sehingga beberapa kali pula ia terpaksa harus mengerahkan tenaga untuk menangkisnya.

Kllatan-kilatan sinar yang sangat tajam itu memang tidak dapat melukai lengan Giok-bin Tok-ong yang penuh terisi tenaga. Tapi goresan-goresannya ternyata mampu mencabik-cabik lengan baju yang dikenakan oleh kakek lblis tersebut. Namun lambat laun iblis tua itu tak sepenuhnya bisa menghindar atau menangkis semua serangan Souw T hian Hai. Ada satu dua yang terlepas dari pengamatan iblis itu dan menerobos pertahanannya, sehingga melukai kulit dagingnya.

"Setan keparat! Kubunuh kau ! Kucerai-beraikan tubuhmu...................!" Giok-bin Tok-ong sudah tidak bisa mengekang kemarahannya lagi. Tiba tiba dikeluarkannya dua buah senjata pek-lek-tannya!

Tapi hal itu tampaknya sudah diduga pula oleh Souw Thian Hai. Dengan gesit pendekar itu justru melompat mendekati Giok-bin Tok-ong. Sambil meloncat pendekar itu berteriak keluar arena.

"Lian Cu! Jauhi arena ini! Cepaaaat.... !!!”

"Heh-heh-heh…. tampaknya kau sudah ketakutan melihat peluru mautku ini !"

Giok-bin Tok ong tertawa terkekeh-kekeh. Yap Kiong Lee terkejut. Bergegas tangannya menarik Liu Yang Kun dan Souw Lian Cu ke belakang. Mereka bertiga segera berloncatan menjauhi tempat berbahaya itu. Wajah Liu Yang Kun juga menampilkan perasaan ngerinya. Sama sekali pemuda itu sudah melupakan bahwa dirinya pernah beberapa kali menghadapi peluru maut tersebut.

Melihat kawan-kawannya sudah menjauhkan diri, Souw Thian Hai merasa lega. Dengan sikap yang masih tetap tenang pendekar itu menertawakan ancaman lawannya.

“Kau jangan salah terka, Tok-ong. Aku sama sekali tidak takut menghadapi pelurumu itu. Aku tahu cara menjinakkannya. Hahaha...............!"

Souw Thian Hai berdiri bertolak pinggang di depan Giok-bin Tok-ong. otomatis pertempuran mereka berhenti.Giok-bin Tok-ong melangkah mundur. Tapi dengan cepat Souw Thian Hai mendesak maju pula, seakan-akan pendekar itu memang tidak takut kepada peluru maut itu.

"Kau bisa menjinakkan peluru ini? Bagaimana caranya......?" Giok-bin Tok-ong menjadi heran malah.

Sekali lagi Souw Thian Hai tertawa, "Mudah saja. Asalkan aku selalu berusaha di dekatmu, kau tentu takkan berani meledakkannya, haha…! Betul tidak?"

Giok-bin Tok-ong tertegun. Namun sesaat kemudian wajahnya kembali cerah.

"Kau memang cerdik. Tapi kaupun tak selamanya bisa mengejar aku. Selain gin-kangmu tidak lebih unggul dari pada aku, akupun juga mampu mencegah kau mendekati aku. Asalkan kubanjiri kau dengan racun-racunku, gerakanmu tentu terhalang.......”

"Dan dengan demikian kau akan bisa menjauhi aku. Begitukah?” Souw Thian Hai meneruskan perkataan lawannya. Pendekar besar itu masih tetap bersikap tenang.

"Tentu saja, Setan Busuk! Dan itu berarti aku dapat dengan leluasa mempergunakan pek-lek-tan kembali, hen-heh-heh........!" Giok-bin Tok ong tertawa mengejek.

Tak terduga Souw Thian Hai pun ikut tertawa pula. "Ah.......jangan buru-buru bergembira dulu! Kalau memang demikian halnya nanti, akupun takkan membiarkan peluru itu meledak di dekatku! Akan kuledakkan peluru itu begitu terlepas dari tanganmu! Apakah kau lupa pada Tai-lek Pek-khong ciangku tadi? Nah....... dengan demikian kaupun takkan bisa terlepas dari pengaruh ledakan itu! Paling tidak kita akan sama-sama terluka......."

Wajah Giok-bin Tok-ong menjadi keruh dengan tiba-tiba. Matanya bergetar menunjukkan nafsu membunuh.

“Tidak bisa!" teriaknya. "Kesempatan itu cuma sekilas saja! Dan bidikanmu belum tentu mengenainya!"

Souw Thian Hai masih tetap tertawa juga. “Terserah kalau pendapatmu  begitu? Kita dapat membuktikannya sekarang! Semuanya memang dapat terjadi.......!"

"Betul! Marilah kita buktikan?!” Giok-bin Tok-ong yang sudah menjadi marah itu memekik, kemudian menyerang dengan tangan kirinya.
Tiba-tiba dari telapak tangan iblis tua itu meniup angin berputar yang berbau wangi. Demikian wanginya sehingga kepala Souw Thian Hai terasa pening dengan tiba-tiba. Bahkan sekejap kemudian pandangan Souw Thian Hai terasa berputar pula.

“Gila...!" pendekar itu berdesah seraya melompat mundur. Kemudian tiba-tiba kakinya ikut bergetar seakan tidak kuat untuk menopang tubuhnya.

Seketika Souw Thian Hai menjadi sadar bahwa ia telah terkena racun berbahaya.

"Kurang ajar! Kapan iblis tua itu menebarkan racunnya? Rasanya bukan racun berbau wangi ini yang membuatku lemas. Aku baru menghirupnya sedikit saja. Itupun segera kuhembuskan keluar kembali......” sambil bertahan Souw Thian Hai berpikir keras.

“Heh-heh-heh......... Sekarang tahu rasa kau! Tanpa pek-lek-tan pun aku sekarang dapat membunuhmu! Kau telah terjebak oleh tipu muslihatku! Karena pikiranmu terlalu terpaku pada pek lek-tan ini, kau lalu menjadi lengah! Kau tidak menyadari kalau aku tadi meniupkan sian-hwa-tok (racun bunga dewa] kepadamu! Heh-heh-heh, racun sian-hwa-tok memang tidak berwarna dan berbau. Racun itu mengalir seperti hembusan angin ke hidungmu. Kalau kemudian aku tadi menyerangmu dengan angin pukulan berbau wangi, aku hanya ingin menguji apakan racun sian-hwa-tok itu telah merasuk ke dalam paru-parumu. Heheh, kini aku sudah yakin bahwa kau sudah dalam cengkeraman racun sian-hwa-tok. Tanpa kubunuhpun sebentar lagi kau akan mati dengan sendirinya. Paling-paling kau hanya bisa bertahan sampai matahari terbit nanti. Heh-heh-heh......!” Giok-bin Tok-ong mengakhiri ejekannya dengan tertawa menyakitkan.

 "Ayahhhh...........!" Souw Lian Cu menjerit dengan suara parau, kemudian berlari ke dalam arena dan menubruk kaki ayahnya.

Yap Kiong Lee dan Liu Yang Kun pun ikut melesat ke dalam arena pula. Yap Kiong Lee segera memegang lengan sahabatnya, sementara Liu Yang Kun segera menghadapi Giok-bin Tok-ong.

“Kau..,.,? Kenapa kau berada di sini?" Giok-bin Tok-ong berseru kaget begitu melihat Liu Yang Kun. Otomatis kakinya melangkah mundur, kegarangannya seketika lenyap.

"Selamat bertemu lagi, Orang tua! Tampaknya pertempuran kita di dalam jurang tadi memang belum selesai ! Sekarang kau datang ke sini untuk menyelesaikannya! Begitukah.......?" dengan tenang Liu Yang kun menantang.

Sudah beberapa kali Giok-bin Tok-ong terlibat perkelahian melawan Liu Yang Kun. Namun selama itu pula ia tak pernah dapat memenangkannya. Pemuda itu seperti kebal terhadap racun-racunnya, bahkan ledakan pek lek-tannya juga tak bisa membunuh pemuda itu. Rasa-rasanya pemuda itu seperti iblis saja kepandaiannya.

Namun demikian rasanya malu bagi Giok-bin Tok-ong untuk mengaku kalah begitu saja. Ia sudah terbiasa menjadi pemenang dan ditakuti oleh setiap orang, dimanapun dia berada. Apalagi kini lawannya sudah menantangnya.

“Hmm! kau jangan buru-buru berbesar hati dulu dengan kemenanganmu di dalam jurang tadi. Waktu itu aku belum benar-benar mengeluarkan kemampuanku.” Giok-bin Tok ong menjawab tantangan Liu Yang Kun.

“Kalau begitu mau tunggu apa lagi? Apakah kau ingin memberikan dulu obat pemunah racun kepada Hong-gi-hiap Souw Thian Hai? Silahkan.....! Aku justru akan mengampuni jiwamu kalau kau memang benar-benar memberikan obat pemunah itu."

"Bangsat! Kau kira aku memiliki obat pemunahnya? Huh! Racun itu tidak ada obat pemunahnya. Sekali telah terkena, orang itu akan mati! Habis perkara!"

"Kurang ajar! Kalau begitu kau akan mati lebih dahulu!" Liu Yang Kun menggeram, kemudian menerjang Giok-bin T ok-ong dengan kedua buah kepalannya.

Iblis tua dari Lembah Tak Berwarna itu cepat menghindar, lalu balas menyerang pula dengan tidak kalah dahsyatnya. Mereka lalu bertempur dengan sengit. Karena masing-masing telah saling mengenal tingkat kepandaian lawannya, maka mereka tidak menjadi sungkan lagi. Masing-masing segera mengeluarkan ilmu andalannya, dan sekali lagi tempat itu menjadi ajang pertempuran yang hebat dan mengerikan. Sementara itu Souw Thian Hai telah dibawa Yap Kiong Lee dan Souw Lian Cu ke depan pintu halaman rumah Ui Bun Ting. Di tempat itu Souw Thian Hai dengan dibantu Yap Kiong Lee berusaha menahan pengaruh racun sian-hwa-tok.

Rasa pening di kepala pendekar itu memang telah susut. Namun hal itu bukan berarti bahwa pengaruh racun tersebut telah hilang. Souw Lian Cu tidak bisa berbuat apa-apa. Gadis itu hanya berdiri sedih di belakang ayahnya. Ia tahu bahwa racun yang menyerang ayahnya sangat keji dan ganas. Lebih ganas dari pada racun yang hampir merenggut nyawanya di dalam jurang itu.

Souw Lian Cu mengusap air mata yang tiba-tiba meleleh di pipinya. Kemudian matanya memandang Liu Yang Kun yang sedang bertempur melawan Giok-bin Tok-ong. Tanpa pertolongan pemuda itu nyawanya juga tidak mungkin tertolong lagi.

“Aaah.,!" tiba-tiba gadis itu berdesah. Timbul kembali harapannya. Siapa tahu Liu Yang Kun juga mampu mengobati ayahnya?

Bergegas Souw Lian Cu menggamit lengan Yap Kiong Lee. "Yap Ciang-kun......! Mengapa kita tidak meminta pertolongan....... Pangeran Liu Yang Kun? Bukankah tadi Pangeran Liu Yang Kun juga mampu mengobati aku? Siapa tahu Pangeran Liu Yang Kun juga bisa mengobati ayah?" bisik gadis itu.

"Hah? Betul! Nona...... betul! Mengapa aku sampai melupakannya? Tapi........., dia sekarang baru bertempur dengan Giok-bin Tok-ong!” Yap Kiong Lee bersorak gembira.

"Yah, kalau begitu mari kita bantu dia agar dia dapat lekas-lekas mengalahkan Giok-bin Tok-ong !” Souw Lian Cu berkata penuh semangat.

"Jangan..........!" tiba-tiba Souw Thian hai berdesah, ''Pemuda itu takkan kalah! Lihat......! Sungguh mengherankan sekali! Dia seolah-olah tidak terpengaruh sama sekali oleh racun yang disebar Giok-bin Tok-ong! Hmm...... benar-benar yang hebat! Rasanya akupun takkan menang melawannya!"

"Bok Siang Ki pun telah dikalahkannya pula, ayah!" Souw Lian Cu melapor dengan suara bangga pula.

“Bok Siang Ki.........? Tokoh dari Gurun Gobi itu juga dikalahkannya?” Souw Thian Hai berseru heran.

"Benar, Saudara Souw. Aku juga melihatnya pula, Pangeran Liu Yang Kun memang telah mengalahkan tokoh dari Gurun Go-bi itu. Bahkan bukan cuma dia. Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong itupun juga pernah dikalahkannya pula,” Yap Kiong Lee ikut mengiyakan.
"Oh, bukan main.........!" Souw Thian Hai berdesah kagum.

Tiba-tiba terdengar suara berdebuk yang sangat keras dari arena pertempuran. Ternyata Giok bin Tok-ong yang telah berada di bawah angin itu jatuh berdebam di atas tanah terkena pukulan Liu Yang Kun. Darah segar tampak menetes dari sudut bibir Giok-bin Tok ong. Iblis tua itu telah mendapat luka dalam yang cukup parah.

"Bangsat busuk! Kau mempergunakan ilmu sihir untuk mengalahkan aku!" iblis tua itu menggeram penuh dendam. Liu Yang Kun menarik napas panjang seraya menyeka keringat yang mengalir di lehernya.

"Terserah apa yang kaukatakan. Tapi yang terang ilmu silat yang kupergunakan tadi bukanlah ilmu sihir. Nah ! Bagaimana maumu sekarang? Kita selesaikan terus pertempuran kita ini hingga salah seorang diantara kita mengaku kalah?"

"Tentu saja! Aku masih memiliki senjata pamungkas yang belum kupergunakan. Aku akan menyerah dan bertekuk-lutut kepadamu apabila kau mampu menahan pek-lek-tanku!" tantang Giok-bin T ok-ong sengit.

"Baik! Marilah......”

"Pangeran......?” tiba-tiba Souw Lian Cu dan Yap Kiong Lee berseru khawatir. Khawatir terhadap keselamatan Liu Yang Kun.

Liu Yang Kun menoleh. Bibirnya tersenyum kepada Souw Lian Cu dan Yap Kiong Lee, seolah-olah pemuda itu ingin mengatakan bahwa mereka tak perlu cemas terhadap keselamatannya. Pada saat Liu Yang Kun lengah itulah Giok-bin Tok-ong mengulangi tipu muslihatnya lagi. Tipu muslihat yang tadi ia pergunakan untuk membokong Souw Thian Hai. Tangan kirinya bergerak ke depan, seolah-olah sedang mengusap lengan kanannya, padahal tangan itu sebenarnya melepaskan racun sian-hwa-tok.Bubuk beracun itu tertiup ke wajah Liu Yang Kun. Tapi karena racun tersebut tidak berwarna mau pun berbau, maka Liu Yang Kun sama sekali tak merasakannya. 

Memburu Iblis  32                                                                          Memburu Iblis 34