Kamis, 14 September 2017

MEMBURU IBLIS 31




Jilid 31

"Hei! Mengapa harus kau yang lebih dahulu? Bukankah engkau datang belakangan?" Giok-bin Tok-ong menyela penasaran.

"Benar! Mengapa kau yang lebih dahulu?" Bu-tek Sin-tong mengancam pula. Hok Siang Ki tertawa dingin.

"Karena akulah yang paling tinggi tingkatannya diantara kita bertiga. Aku nomor dua di dalam urut-urutan Buku Rahasia itu, sedang kalian nomer tiga dan empat. Bukankah hal ini sudah adil?"

'"Adil? Huh! Jangan coba-coba mengelabuhi aku! Paling-paling kau ingin lebih dahulu merampas bukuku yang ada di tangan anak muda itu, bukan?" Giok-bin Tok-ong yang merasa bahwa buku bagiannya masih berada di tangan Liu Yang Kun itu membantah berang.

"Hei? Apakah anak itu telah merampas Buku Rahasia yang menjadi bagianmu?" Bu-tek Sin-tong menyela. Matanya yang kecil itu menatap dengan curiga kepada Giok-bin Tok-ong.

"Tutup mulutmu! Kau jangan turut campur dalam urusan ini!" hardik kakek tampan itu kesal.

"Bangsat kurang ajar! Kuhancurkan kepalamu!” Bu-tek Sin-tong menjadi marah juga.

Tapi dengan tangkas Bok Siang Ki melerai mereka lagi. “Tahan! Sudah kukatakan jangan berkelahi dulu! Kita masih cukup waktu untuk melakukannya nanti!"

Penguasa dari Ui-soa-pai itu memperingatkan. Kemudian katanya lagi yang dia tujukan kepada Giok-bin Tok-ong. "Tok-ong! Kau tak perlu takut aku akan merampas buku yang menjadi bagianmu itu sekarang. Sebab hal itu akan aku lakukan secara terhormat di pertemuan kita tengah malam nanti. Di dalam pertemuan itu aku akan merampas bagian-bagian dari Buku Rahasia yang ada di tangan kalian semua, sehingga buku itu akan menjadi lengkap kumiliki. Setelah itu.......hahaha.. baru aku akan menantang Bun-hiat Sian-seng! Akan kubuktikan siapa yang paling jago di dunia ini, haha….!”

Sementara itu Liu Yang Kun yang sejak tadi hanya diam saja, karena bingung dan tak paham apa yang mereka percakapkan, tiba-tiba menggeram marah. Dari sela-sela bibirnya tiba-tiba juga terdengar desis mengerikan seperti suara desis ular marah.

“Hmmh! Kalau memang semuanya ingin berurusan dengan aku, kenapa kalian hanya berdebat saja tiada hentinya? Ayoh majulah, kalian bersama-sama! Kita selesaikan secepatnya segala macam urusan itu!"

Ketiga orang sakti itu terperanjat bukan main. Mereka menatap anak muda yang mereka anggap terlalu sombong dan berani itu dengan wajah tegang serta kaku. Beberapa saat lamanya mereka malah tidak bisa berkata apa-apa. Mereka seperti tak percaya pada kata-kata yang keluar dari mulut anak muda itu.

"Anak muda..... ! Aku tahu namamu tercantum pula di dalam daftar Tokoh-tokoh Persilatan terkemuka di Dunia itu. Dan dilihat dari sudut usia, memang kaulah yang termuda di antara tokoh-tokoh itu. Tapi hal itu tampaknya justru membuatmu sombong dan takabur. Sama sekali kau tak memandang sebelah mata kepada kami bertiga, tokoh-tokoh yang kedudukannya jauh berada di atasmu. Kau cuma tertulis di urutan yang ke tujuh, sementara kami bertiga berada di urutan yang kedua, ketiga dan keempat,” akhirnya Bok Siang Ki sambil menekan kegeraman hatinya berkata kaku.

"Persetan dengan tokoh-tokoh atau urutan segala macam itu ! Aku tak perduli! Yang penting kenyataannya! Habis perkara! Ayoh, majulah .............?"

"Kurang ajar! Tampaknya kau memang sudah bosan hidup atau......... pikiranmu memang sudah tidak waras lagi ! Baiklah, akan kuturuti kemauanmu? Tapi., sebelum kau tewas di tanganku, lebih baik kau berterus terang dahulu kepadaku. Siapa sebenarnya kau ini? Dari mana kau memperoleh ilmu-ilmu yang mirip dengan ilmu-silat perguruan Ui-soa pai itu? Apakah kau memiliki hubungan tertentu dengan mendiang Bit-bo-ong atau Keluarga Souw?"

"Aku tidak tahu-menahu tentang segala macam hantu seperti Bit-bo-ong itu. Dan aku juga tidak mempunyai sangkut-paut dengan......... keluarga Souw!"

Tiba-tiba suara Liu Yang Kun menurun ketika menyebut nama keluarga Souw, karena tiba tiba pula melintas di dalam pikirannya wajah Souw Lian Cu, yang juga keturunan keluarga Souw.

"Hmm.......mengapa kau sebut-sebut pula nama keluarga Souw dalam urusan ini? Apakah hubungan keluarga Souw dengan ilmu silatku?" kemudian pemuda itu menambahkan.

Bok Siang Ki mendengus dingin. "Karena Bit-bo-ong itu sebenarnya juga berasal dari keluarga Souw. Dengan tipu muslihat dan kelicikannya dia berhasil menyelundup ke dalam perguruan Ui-soa pai. Meskipun akhirnya dia juga dibunuh oleh keluarga Souw sendiri, tapi perguruan Ui-soa-pai sudah terlanjur rusak pula oleh ulahnya, ia telah berani membunuh tokoh-tokoh tua yang telah dengan susah payah membimbingnya dalam ilmu silat. Bahkan ia telah berani pula merusak dinding gua semadi perguruan Ui-soa-pai, yang penuh dengan tulisan dan petunjuk-petunjuk rahasia tentang ilmu silat kami, sehingga kami para angkatan yang lebih muda menjadi kehilangan pegangan dalam ilmu-silat kami sendiri. Nah, anak muda...... itulah sebabnya hal itu kutanyakan kepadamu. Sebab aku percaya dan yakin bahwa kau tentu memiliki hubungan dengan salah seorang dari nama yang kusebutkan itu, Bit-bo-ong atau keluarga Souw!"

Liu Yang Kun menggeretakkan giginya. "Tapi aku benar-benar tak merasa memiliki hubungan dengan keduanya!" jawabnya keras. Ia yang telah kehilangan 'ingatannya’ itu memang tak bisa mengingat apa-apa lagi.

"Lalu dari mana kau mempelajari ilmu silatmu itu?"

"Aku tidak tahu! Ilmu itu sudah melekat dan mendarah daging di dalam jiwaku. Mungkin sejak lahir aku sudah menguasainya." Liu Yang Kun yang telah kehilangan 'masa lalunya' itu menjawab gusar.

"Omong kosong! Mana ada bayi lahir bisa ilmu silat? Kau jangan seenaknya saja berbicara!"

"Persetan! Kaulah yang sedari tadi berbicara seenaknya! Main tuduh dan curiga tanpa alasan!”

"Keparat.....! Kau memang sudah bosan hidup!" Bok Siang Ki berteriak nyaring, kemudian melompat menyerang Liu Yang Kun.

Kedua belah telapak tangannya terpentang lebar, sehingga jari-jarinya membentuk dua buah cakar yang siap untuk meremas kepala lawannya.Dan gerakan kedua cakar itu bukan main cepatnya. Mungkin lebih cepat dari pada sambaran burung elang di udara, karena perguruan Ui-soa-pai yang pernah menelurkan Bit-bo-ong itu memang jagonya gin-kang di dunia.Tapi Bu-eng Hwe-teng juga bersumber pada ilmu meringankan tubuh Ui-soa pai pula. Bahkan gin-kang itu diciptakan Bit-bo-ong dengan gaya yang lebih tangkas karena Bit-bo-ong telah menambah dan memperbaikinya berdasarkan ilmu-ilmu dari perguruan lain yang pernah digelutinya pula.

Maka tidaklah mengherankan bila Liu Yang Kun juga bisa bergerak segesit dan selincah lawannya. Bahkan dengan gaya yang lebih indah dipandang. Bit-bo-ong memang seorang seniman silat pada zamannya.

Demikianlah di jurang yang sunyi dan sepi itupun lalu berlangsung  sebuah pertandingan gin-kang dengan dahsyatnya. Keduanya mengeluarkan segala macam ilmu yang ada pada dirinya. Ilmu ilmu yang dahsyat yang jarang terlihat di dunia persilatan. Liu Yang Kun mengeluarkan ilmu-ilmu warisan Bit-bo-ong, seperti Kim-liong Sin-kun dan Pat hong Sin-ciang. Sementara Bok Siang Ki sebagai penguasa tertinggi di perguruan Ui-soa-pai juga melepaskan ilmu-ilmu warisan leluhurnya.

Mereka bertarung dengan cepat sekali, karena masing-masing memang mengerahkan seluruh gin-kangnya. Mereka bergumul, berbelit dan saling berpencar kembali dengan cepatnya, sehingga gerakan mereka menimbulkan pusaran angin yang menghantam semak-semak dan pohon-pohon di sekitar mereka.

Daun-daun pun lantas berguguran. Ranting-ranting serta dahan-dahan yang tidak seberapa kuatpun juga terlepas pula dari tangkainya. Bahkan semak-semak kering yang tumbuh terlalu dekat pun juga terlepas pula bersama akar-akarnya. Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong terpaksa melangkah mundur menjauhi arena. Diam-diam hati mereka merasa kaget dan kagum juga menyaksikan kedahsyatan ilmu kedua orang yang sedang berlaga tersebut. Dan diam-diam hati mereka juga merasa bergetar pula melihat 'kesaktian' yang benar-benar diluar dugaan mereka itu. Terasa hati mereka menjadi kecut. Dan otomatis keberanian dan kegarangan mereka menyusut dengan cepatnya.

Limapuluh juruspun telah berlalu dengan cepatnya. Liu Yang Kun tetap mempergunakan ilmu warisan Bit-bo-ong. Dan pemuda itu sudah mulai menyalurkan 'tenaga batin’ untuk mempengaruhi jiwa dan pikiran lawannya. Inilah tingkat yang tertinggi dalam buku warisan Bit-bo-ong, yang oleh Hoa-san Lo-Jin telah disobek karena sangat berbahaya untuk dipelajari. Namun dengan ketajaman indera dan perasaannya, akibat ilmu Lin-cui-sui-hoat yang ada pada dirinya, ternyata Liu Yang Kun mampu mengurai dan mengarang sendiri inti ilmu yang hilang tersebut.

Selanjutnya dengan mulai tersebarnya ‘tenaga batin' yang dilontarkan oleh Liu Yang Kun, maka suasana alam di sekitar tempat itupun lalu berubah pula dengan perlahan-lahan. Setiap orang tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh menerkam perasaan mereka, terutama Bok Siang Ki yang langsung berhadapan dengan lontaran ilmu itu. Perlahan-lahan Giok-bin Tok-ong dan Bu-tek Sin-tong merasa seperti ada perubahan hawa di sekitar mereka. Udara malam yang amat dingin itu lambat-laun terasa semakin dingin, sehingga tubuh mereka seolah-olah bergetar kedinginan.

Bahkan langit yang terang berbintang itu sedikit demi sedikit juga berubah pula menjadi gelap, sehingga rasa-rasanya mata mereka semakin terhalang untuk menyaksikan sesuatu di sekitar mereka. Dan lambat laun pula wajah dan sepak terjang Liu Yang Kun semakin tampak amat garang dan menakutkan hati mereka. Dan perasaan yang serupa juga mencekam pula pada hati dan perasaan Bok Siang Ki. Bahkan dalam kadar yang jauh lebih kuat.

"Gila! inilah ilmu perguruan Ui-Soa-pai yang hilang dirusak oleh Bit-bo-ong itu. Aku harus cepat-cepat melawannya dengan ilmu itu pula. Selama ini aku telah berusaha sekuat tenaga untuk menggapai dan menemukan kembali ilmu yang hilang itu. Semoga apa yang kucapai selama ini sudah cukup untuk melawannya,” katanya di dalam hati.

Sekejap kemudian Bok Siang Ki pun lalu melontarkan pula ilmu puncaknya, yaitu ilmu silat Ui-soa-pai yang telah diisi dengan kekuatan batinnya. Sebuah kekuatan yang hampir sama dengan kekuatan yang dilontarkan oleh Liu Yang Kun, yaitu semacam ilmu sihir yang dapat mempengaruhi rasa dan pikiran lawannya. Sehingga apa yang terjadi kemudian benar-benar suatu pertarungan yang dahsyat, ngeri serta menegangkan.

Dan oleh karena pertempuran tersebut adalah pertempuran yang menitik-beratkan pada kekuatan tenaga sakti dan kemampuan tenaga dalam serta tenaga batin mereka maka gerakan-gerakan yang mereka lakukan pun lantas menjadi lambat dan tampak sangat berat sekali. Namun demikian ternyata pengaruhnya justru lebih berbahaya dari pada tadi. Selain masing-masing harus menerima dan melayani secara wajar semua serangan-serangan lawannya, merekapun harus menghadapi pula tekanan dan desakan tenaga batin lawan yang hendak merampas serta mempengaruhi perasaan dan pikiran mereka masing-masing.

Begitu hebatnya pengaruh ilmu yang terlontar dari dalam tubuh mereka, sehingga Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong yang berada di luar arena pun kadang-kadang ikut terpengaruh pula. Beberapa kali mereka berdua secara tak sadar ikut mengelak atau menghindar apabila tokoh yang mereka lihat itu kebetulan juga berkelit atau meloncat. Keduanya baru sadar kembali setelah tangan atau kaki mereka itu terlanjur bergerak.

Bahkan lebih dari pada itu, pengaruh tenaga batin yang terlontar dari mata Liu Yang Kun dan Bok Siang Ki seringkali membuat Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong terpesona atau terpaku diam di tempat mereka tak tahu apa yang harus mereka perbuat. Dan yang paling parah, mereka berdua kadang-kadang menjadi kehilangan kesadaran mereka untuk beberapa saat lamanya, sehingga mereka menjadi bingung ketika tiba-tiba kesadaran mereka pulih kembali.

"Gila! Sin-tong........! Ilmu apa ini, heh? Kenapa keduanya sama-sama memiliki ilmu seaneh ini?" dengan rasa penasaran Giok-bin Tok-ong bertanya kepada Bu-tek Sln-tong.

"Itulah ilmu yang paling rahasia di perguruan Ui-soa-pai. Huh, semakin yakin aku sekarang. Anak itu tentu memiliki hubungan yang erat dengan perguruan itu."

Demikianlah, duapuluh juruspun telah berlalu pula. Mereka benar-benar telah bertempur dengan sekuat tenaga mereka. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Liu Yang Kun tampak lebih tinggi dan lebih kuat tenaga dalamnya, sementara Bok Siang Ki yang memiliki dasar ilmu silat asli U i-soa-pai itu tampak lebih lincah, lebih gesit dan lebih cepat ilmu meringankan tubuhnya. Namun karena ilmu silat yang mereka pergunakan ternyata memiliki banyak persamaan, maka pertempuran itu seolah-olah tidak pernah mendapatkan lobang atau kunci untuk mencapai kemenangan.

Masing-masing seperti sudah mengenal dan mengerti arah tujuan lawan, sehingga akhirnya mereka seperti sedang berlatih ilmu silat saja. Meskipun demikian karena semuanya itu dilontarkan dengan pengerahan ilmu puncak, maka pengaruh dan akibat yang ditimbulkannyapun menjadi hebat dan menggiriskan hati.

Keadaan itu tentu saja sangat menggelisahkan hati Bok Siang Ki. Dia yang sejak melangkah keluar dari pintu perguruannya belum pernah menemukan lawan yang berarti, kini dipaksa untuk bertarung seimbang dengan hanya seorang pemuda yang masih amat muda usianya. Tentu saja hatinya menjadi penasaran. Masakan ia harus kalah melawan tokoh yang duduk di nomer ketujuh?

Sebaliknya keadaan itu juga membikin dongkol pula di hati Liu Yang Kun. Sebagai anak muda yang masih berdarah panas, keadaan tersebut benar-benar membuatnya kehilangan kesabaran. Namun karena ia memang telah mengerahkan segala kemampuannya, maka ia tetap tak bisa berbuat apa-apa lagi.

Memang, beberapa kali terlintas di dalam pikiran Liu Yang Kun untuk mempergunakan ilmu silatnya yang lain, misalnya Kim-coa-ih hoat! Tapi setiap kali pula pemuda itu selalu membatalkan niatnya tersebut. Kim-coa-ih-hoat merupakan sebuah ilmu silat yang gerakan-gerakannya boleh dikatakan amat berlawanan dengan gerakan ilmu silat kebanyakan. Dan cara penyaluran tenaganya pun juga berbeda pula, yaitu patah-patah dan tidak selalu searah pula. Pemuda itu menjadi kurang yakin akan bisa menghadapi lawan dengan ilmu itu. Apalagi untuk itu ia juga harus melepaskan lontaran 'tenaga-batinnya' pula, sebab dengan cara penyaluran tenaga sakti yang patah patah dan tidak selalu searah itu tak mungkin ia memusatkan pikiran untuk membangun tenaga batinnya.

Alhasil pertempuran itu terus berlanjut dengan ramai dan seimbang. Liu Yang Kun yang merasa memiliki lwee kang lebih kuat, berusaha dengan segala cara untuk menekan lawannya. Sebaliknya Bok Siang Ki yang agak lebih tinggi gin-kangnya berusaha melepaskan diri dan menghindari benturan tenaga secara langsung. Sehingga dengan demikian pertempuran itu berlangsung semakin seru dan ramai. Namun juga sangat mengerikan. Karena dengan kekuatan tenaga batin mereka, banyak hal-hal yang tak masuk akal terjadi di dalam pertempuran itu.

Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong lah yang kemudian menjadi tidak sabar hatinya. Suasana sudah mendekati tengah malam, tapi pertempuran itu ternyata tidak kunjung selesai juga.

“Hei, Bok Siang Ki......! Lihat! Tengah malam sudah hampir tiba! Apakah pertempuran itu tidak jadi kita laksanakan?” kakek kerdil itu berseru keras.

“Benar! Jangan-jangan kau malah tak bisa datang karena pertempuranmu ini!” Giok-bin Tok-ong ikut membakar pula.

“Huh! Percuma saja ditulis di urutan nomer dua kalau begitu! Masakan menghadapi si Nomer Tujuh saja kewalahan.....” Bu-tek Sin-tong mengejek lagi.

Giok-bin Tok-ong tertawa pula. “Memang urut-urutan itu perlu ditinjau kembali kebenarannya. Siapa tahu Bok Siang Ki sekarang tidak......hei?”

Tiba-tiba baik Giok-bin Tok-ong maupun Bu-tek Sin-tong terbelalak memandang kepada Bok Siang Ki. Di mata mereka, Bok Siang Ki yang marah itu mendadak berubah menjadi dua kali lipat besarnya. Kedua buah lengannya yang kini juga menjadi sangat panjang itu tampak menyambar-nyambar dengan ganasnya. Sementara kedua kakinya yang juga membengkak seperti kaki gajah itu juga tampak menghentak kesana-kemari seakan-akan hendak menginjak dan meremukkan tubuh lawannya yang kecil.

Giok-bin Tok-ong dan Bu-tek Sin-tong bersandar di tebing jurang. Dengan wajah pucat pasi mereka menatap sepak-terjang Bok Siang Ki yang menggiriskan hati itu.

“Sin-tong.....? Apa katamu tentang Bok Siang Ki itu? Ilmu apa lagi itu?”

"Tenanglah, Tok-ong! Ini tentu cuma tipuan saja! Tak mungkin manusia bisa berubah menjadi raksasa seperti itu. Mungkin ini........ Ini merupakan tambahan ilmu yang didapatkan Bok Siang Ki dari sobekan Buku Rahasia itu."

"Ooooooh. lalu......apa yang mesti kita perbuat?"

"Goblog! Tentu saja kerahkan seluruh tenaga dalammu! Kuasai dengan baik hati dan pikiranmu sendiri. Jangan biarkan perasaan dan pikiranmu itu terbuai oleh mimpi yang diciptakan Bok Siang Ki! Ingatlah! Dia tetap seorang manusia biasa. Tak mungkin dia memiliki tubuh sebesar itu! Itu cuma permainan.......”

Bu-tek Sin-tong menggeram sambil memusatkan pikirannya sendiri. Giok-bin Tok-ong tersadar. Buru-buru ia memusatkan pikirannya. Lalu dikerahkannya pula tenaga dalamnya, sehingga beberapa waktu kemudian hatinya menjadi tenang kembali. Dan ketika ia membuka pelupuk matanya, Bok Siang Ki telah kembali ke ujudnya yang semula. Bahkan jago nomer dua di dunia persilatan itu tampak memperoleh kesulitan sekarang.Bagaimanakah sebenarnya yang terjadi? Betulkah Bok Siang Ki mempergunakan ilmu yang diperolehnya dari sobekan Buku Rahasia itu? Dan bagaimana pula pengaruhnya terhadap Liu Yang Kun?

Seperti telah diketahui bahwa setahun yang lalu Bok Siang Ki, Bu-tek Sin tong dan Giok-bin Tok-ong saling berebut Buku Rahasia, sehingga buku itu terbagi menjadi tiga bagian. Masing-masing memperoleh satu bagian. Dan sebelum berpisah mereka berjanji untuk bertemu lagi setahun kemudian, yaitu persis pada malam ini, di luar kota Lai-yin, di sebuah bangunan kuno yang telah rusak dan tak terpakai lagi. Namun ternyata semuanya menjadi kecewa. Buku yang sangat tersohor dan diperebutkan orang itu ternyata Cuma berisi catatan-catatan, syair-syair, sejarah, ramalan dan segala macam petunjuk tentang kehidupan manusia di dunia.

Tak secoret pun ulasan atau tulisan tentang ilmu silat, apalagi tentang pelajaran atau jurus-jurus ilmu silat. Kalaupun dibilang ada, itupun hanya petunjuk-petunjuk tentang kesehatan tubuh dan cara-cara perawatannya. Meskipun mereka bertiga dapat juga menyadap dan mengambil manfaat dari petunjuk petunjuk tentang kesehatan itu bagi kemajuan ilmu silat mereka masing masing. Dengan petunjuk-petunjuk itu Giok-bin Tok-ong bisa mengobati salah ilmu yang biasa diderita oleh orang yang bergelut dengan racun seperti dia sehingga dengan demikian ia dapat meningkatkan kemampuan ilmunya lebih tinggi lagi.

Dan berdasarkan pada petunjuk petunjuk tentang kesehatan itu pula Butek Sin-tong mampu meningkatkan ginkangnya sehingga ilmu meringankan tubuhnya sekarang benar-benar amat sempurna. Lebih sempurna dari pada Bu-eng Hwe-teng maupun gin-kang Ui-soa-pai yang tersohor itu. Demikian pula halnya dengan Bok Siang Ki. Berpedoman pada petunjuk-petunjuk itu ia mampu pula meningkatkan kemampuan ilmu sihirnya, sehingga ia mampu menciptakan bentuk-bentuk semu yang dapat mengelabui pandangan lawannya. Jadi selain dapat mempengaruhi perasaan dan pikiran lawannya, Bok Siang Ki juga bisa mengelabuhi pandangan mata orang pula.

Dan kemampuan itu pula yang kini dia keluarkan untuk menghadapi Liu Yang Kun.Sambil tetap berusaha mempengaruhi pikiran dan perasaan Liu Yang Kun, Bok Siang Ki juga berusaha mengelabuhi penglihatan lawannya tersebut.

Bok Siang Ki membentuk dirinya menjadi raksasa yang tingginya dua kali lipat tinggi manusia biasa, sehingga Liu Yang Kun menjadi kaget dan bingung menghadapinya.Sekejap Liu Yang Kun dapat dipengaruhi oleh bentuk semu itu, sehingga kekuatannya tiba-tiba seperti menyusut dan tak mampu berbuat banyak terhadap kekuatan lawan yang berubah menjadi raksasa. Namun beberapa waktu kemudian pemuda itu menjadi sadar kembali bahwa dirinya sedang


berkelahi dengan seorang lawan yang memiliki kekuatan sihir pula seperti dirinya, walau dalam bentuk lain.

Tanpa berpikir panjang lagi Liu Yang Kun lalu memejamkan matanya. Entah bagaimana nantinya, tapi pemuda itu berpendapat bahwa tanpa melihat lawan ia tentu terbebas dari bentuk semu itu. Dengan ketajaman panca inderanya pemuda itu lalu melawan musuhnya dengan mata tertutup.

Dan ternyata itulah awal dari kesulitan Bok Siang Ki! Seperti telah diceritakan di bagian depan bahwa selain memiliki ilmu silat yang tinggi Liu Yang Kun diam-diam juga memiliki ‘ketajaman batin’ yang amat kuat pula. Bila dikehendaki pemuda itu dapat memusatkan pikiran dan batinnya, sehingga dia bisa ‘melihat’ atau ‘membayangkan’ di dalam otaknya, apa saja yang tergelar dan terjadi disekitarnya tanpa ia harus melihat dengan kedua buah matanya.

Dan kemampuan itu pulalah yang kini dipergunakan oleh Liu Yang Kun untuk menghadapi 'bentuk-bentuk semu' Bok Siang Ki. Dengan memejamkan matanya dan kemudian membangkitkan 'kemampuannya' tersebut, Liu Yang Kun melayani serangan Bok Siang Ki dengan tangkasnya. Bahkan beberapa waktu kemudian ketika 'kemampuannya' tersebut sudah berkembang semakin kuat dan mantap, maka pemuda itu dapat pula 'mencium’ atau 'menduga' apa yang hendak dilakukan oleh lawannya.

Tentu saja cara-cara yang dilakukan oleh Liu Yang Kun itu benar-benar sangat mustajab. Otomatis kedahsyatan ilmu sihir Bok Siang Ki menjadi hilang dan tidak bermanfaat lagi menghadapi Liu Yang Kun yang telah memejamkan matanya. Bahkan ketika pemuda itu kemudian mengeluarkan Kim-coa-ih-hoatnya, karena pemuda itu sudah tidak takut lagi kepada ‘kekuatan sihir' lawannya, maka Bok Siang Ki benar-benar jatuh ke dalam kesulitan. Apalagi ketika kemudian pemuda itu dapat 'menebak’ pula apa yang hendak dilakukan oleh Bok Siang Ki sebelum tokoh Ui-soa-pai itu sendiri bergerak melakukannya!

"Anak iblis! Si-siapa .....kau sebenarnya?" dalam kekalutan dan kerepotannya Bok Siang Ki berseru dengan suara gemetar.

Penguasa tertinggi dari perguruan Ui-soa-pai itu mulai goyah hatinya. Kemampuan-kemampuan Liu Yang Kun yang amat mentakjubkan itu mulai menurunkan kegarangannya.Bahkan kemudian mulai timbul pula perasaan sangsi dan takut di dalam hatinya. Apapula ketika menyaksikan Kim-coa-ih-hoat yang aneh dan mengerikan itu.

Dhuuuugh! Plaaaaak! Plak! Di dalam kerepotannya Bok Siang Ki terpaksa menangkis dan menyongsong beberapa pukulan dan tebasan tangan Liu Yang Kun! Dan akibatnya sungguh berat bagi Bok Siang Ki! T okoh sakti itu terpental dan terhuyung-huyung hampir jatuh. Tenaga dalamnya benar-benar tak mampu menandingi tenaga dalam Liu Yang Kun! Maka ketika sekali lagi Liu Yang Kun menerjang dengan kaki tangannya yang bertambah panjang satu setengah kali
lipat panjang as linya, maka Bok Siang Ki benar-benar tak bisa bertahan lagi. Tokoh tertinggi dari perguruan Ui-soa-pai itu kembali terlempar dengan kuatnya, meskipun ia sudah menangkis dengan siku tangannya.

Breeeeees!


Tubuh Bok Siang Ki menabrak pohon siong tua itu dengan kerasnya, sehingga daun-daunnyapun segera berguguran ke bawah. Namun dengan cepat pula orang itu berdiri tegak kembali menghadapi Liu Yang Kun, walaupun sekejap kemudian tampak darah segar mengalir dari sudut bibirnya.

"Anak Iblis!" jago Ui-soa-pai itu mengumpat marah.

Ternyata penguasa tertinggi dari perguruan Ui-soa-pai itu mendapat 'luka dalam' yang cukup parah. Gempuran tangan Liu Yang Kun yang penuh tenaga sakti Liong-cu-i-kang itu benar-benar sangat dahsyat dan tak kuasa ditahannya. Sementara itu di luar arena, Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong pun juga amat kaget pula menyaksikannya. Selain terkejut mereka juga takjub pula melihat kehebatan ilmu silat Liu Yang Kun. Keduanya baru sadar sekarang bahwa anak muda itu memang benar-benar hebat luar biasa. Terutama bagi Giok-bin Tok-ong yang telah beberapa kali bertemu serta menyaksikan sepak terjang Liu Yang Kun!

Kini semuanya menatap Liu Yang Kun dengan tatapan mata yang berbeda. Ada rasa jeri atau takut di dalam mata itu.

“Nah, Bok Siang Ki……! Apakah kau masih menghendaki pertarungan ini dilanjutkan lagi?” tiba-tiba terdengar suara Liu Yang Kun menantang.

Dan mendadak pula Bok Siang Ki mengendorkan otot-ototnya. Sambil menghela napas panjang ia menggeram.

“Baiklah, aku mengaku kalah hari ini. Hari telah larut malam dan aku mempunyai urusan yang tidak bisa ditunda lagi. Lain waktu kita berjumpa pula……..”

Liu Yang Kun tersenyum dingin. Pemuda itu lalu melirik Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong.

“Bagaimana dengan kalian berdua…..? apakah kalian masih menginginkan bayi dan pendeta wanita itu?”

“Bangsat keparat! Mentang-mentang bisa mengungguli kita semua, sikapmu lantas menjadi sombong dan sangat menghina sekali! Kurang ajar……….” Giok-bin Tok-ong menjerit marah, namun tak bisa berbuat apa-apa.

“Huh, bocah sombong! Kau kira aku takut kepadamu? Huh? Kalau aku tak mengingat bahwa malam ini ada urusan penting yang harus kulakukan, aku akan mengadu nyawa denganmu ! Biarlah untuk sementara urusan tentang bayi itu kusampingkan dahulu! Tapi.......awas! Setelah
Semua urusanku itu selesai, aku akan mencarimu untuk membuat perhitungan!” Bu-tek Sin-tong berseru pula dengan berangnya.

"Benar! Kalau urusanku juga telah rampung, aku akan mencari kau pula! Akan kulihat sekali lagi, apakah kau masih mampu menghindarkan diri dari peluru mautku!” Giok-bin Tok-ong ikut mengancam pula.

Sekali lagi Liu Yang Kun tersenyum dingin. Namun sebelum pemuda itu menjawab tiba-tiba terdengar suara tertawa lembut di dalam jurang itu. Dan ketika semuanya menengadahkan kepalanya, maka mereka melihat seorang sastrawan tua renta di atas cabang pohon siong itu.

Dan bersamaan dengan saat itu pula, tiba-tiba dari arah barat muncul dua sosok bayangan mendatangi. Bayangan seorang lelaki dan seorang wanita yang kemudian berdiri di dekat Liu Yang Kun.

Liu Yang Kun sangat kaget, karena kedua orang itu tak lain adalah Yap Kiong Lee dan Souw Lian Cu! Namun seperti halnya yang lain, rasa kaget itu tidaklah sebesar rasa kagetnya melihat sastrawan tua renta di atas pohon siong tua itu.

Karena sastrawan tua itu tidak lain adalah pemain catur yang tinggal di warung makan itu.

"Lo-cianpwe............?" Liu Yang Kun menyapa perlahan.

“Bun hoat Sian seng.......!!” Bok Siang Ki, Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin T ok-ong berseru tertahan.

"He-he-he-he .................!”

Kakek tua renta yang tidak lain memang Bun hoat Sian-seng itu tertawa panjang. Suaranya terdengar bening, sebening wajah dan pandang matanya. Lalu dengan amat ringan, seperti daun kering yang tanggal dari tangkainya, orang tua itu melayang turun ke atas tanah.

Bagaikan sudah berjanji sebelumnya Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong segera melangkah mendekati Bok Siang Ki. Mereka bertiga tampak siap sedia menghadapi Bun-hoat Sian-seng.

"Hmm, selamat bertemu kembali, Bok Siang Ki, Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong......,! Bagaimanakah khabar kalian selama setahun ini? Apakah bukuku itu sudah selesai kalian baca? Eh, kalau sudah......tolong kau kembalikan lagi dia kepadaku! Aku memerlukannya.” Orang tua itu menyapa lebih dulu.

Sementara itu Souw Lian Cu cepat melangkah pula menyongsong kedatangan Bun-hoat Sian-seng. “Su-hu…………!” sapanya gembira.

“Pangeran………?” Yap Kiong Lee berbisik pula kepada Liu Yang Kun. “Pangeran berlari cepat sekali. Saya tak bisa mengikuti. Hmm…..bagaimana Pangeran tadi bisa menemukan orang-orang itu?”

Liu Yang Kun tersenyum. “Hanya kebetulan saja.Dan…..aku telah berkelahi dengan mereka. Eh, bagaimanakah dengan Han Sui Nio? Apakah ciangkun bertemu dengan dia tadi?”

“Ya! Dialah yang menunjukkan tempat ini kepadaku. Sementara itu di jalan aku bertemu dengan nona Souw. Dia juga sedang mengikuti jejak Giok-bin T ok-ong.”

Liu Yang Kun melirik ke dalam arena kembali. Dia melihat Bok Siang Ki, Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong saling berbisik. Tampaknya mereka bertiga sedang berunding tentang Buku Rahasia yang ada di tangan mereka.

“Bagaimana......? Apakah kalian mau mengembalikan buku itu kepadaku?” Bun-hoat Sian-seng mengulangi permintaannya.

Bok Siang Ki melangkah maju mewakili teman-temannya. "Baiklah! Buku itu akan kami kembalikan kepadamu. Tapi sebelum itu ... tolong kau terangkan kepada kami tentang isi buku itu. Mengapa buku yang pernah menggegerkan dunia persilatan itu cuma berisi tentang silsilah, ramalan, pantun-pantun dan beberapa buah petunjuk tentang kehidupan dan kesehatan manusia? Mengapa tidak tertulis tentang ilmu silat sedikitpun? Apakah kau telah menipu kami?"

Bun-hoat Sian-seng kembali tertawa panjang. "Sudah kukatakan sejak semula bahwa buku itu bukan buku pelajaran ilmu silat tapi kalian tak pernah mempercayainya. Namun begitu..... kulihat ilmu silat kalian juga bertambah baik tadi. Lebih baik dari pada ilmu silat kalian setahun yang lalu. Bukankah itu sudah lumayan pula?"

Baik Bok Siang Ki, Bu-tek Sin-tong maupun Giok-bin Tok-ong menjadi merah mukanya. Namun demikian mereka tetap diam dan pura-pura tak mendengar sindiran orang tua itu. Bahkan Bok Siang Ki melanjutkan lagi kata-katanya tadi.

"Tapi.....buku itu pernah tersohor dan menjadi buah bibir kaum persilatan pada beberapa ratus tahun yang silam yaitu jauh sebelum zaman keemasan Bit-bo-ong dan Empat Datuk Persilatan itu. Kasarannya buku itu pernah menelorkan seorang Pendekar Tak Terkalahkan dari Keluarga Souw, sehingga sampai sekarangpun keluarga itu selalu dihormati orang ..............”

Sekali lagi Bun-hoat Sian-seng tertawa. "Ya! Tapi buku itu tak pernah membuat heboh dan membuat kacau dunia persilatan seperti sekarang ini. Karena ulah kalian yang memalsu buku itu dan mempertontonkannya di dunia kang ouw, maka dunia kang ouw menjadi gempar dan panas. Orang-orang persilatan menjadi ribut dan saling membunuh hanya karena ‘soal nama'. Bahkan sebagian besar dari mereka makin berduyun-duyun ke tempat tinggalku di puncak Gunung Hoa-san untuk melihat atau menantang aku. Semua itu terjadi karena di dalam buku palsu kalian itu kalian cantumkan urut-urutan Daftar Tokoh-tokoh Persilatan Terkemuka dewasa ini. Padahal di dalam buku aslinya, daftar itu sama sekali tidak ada........." Katanya kemudian dengan nada kesal.

"Hmmh, tapi kalau tidak kubuat dengan cara yang demikian itu, kau tentu takkan keluar dengan buku aslimu!” Bok Siang Ki menjawab tegas.

"Hei? Jadi kau sendiri yang membuat Buku Rahasia palsu itu?" tiba-tiba Bu Tek Sin-tong dan Giok-bin Tok ong berseru kaget.

Bok Siang Ki menoleh. "Benar. Semua itu kubuat agar dia mau keluar dari tempat persembunyiannya. Kalau tempat pertapaannya yang tenang dan indah itu tiba tiba dibanjiri orang untuk melihat dan membuktikan kesaktian Si Jago Nomer Satu di dunia persilatan, dia pasti keluar karena penasaran. Dan apabila setiap orang yang datang itu menanyakan tentang urut-urutan Daftar Tokoh-Tokoh Persilatan Terkemuka di Dunia Persilatan itu, dia tentu dengan geram akan menunjukkan buku aslinya! Hehehe.....! dan semua rencanaku itu ternyata memang berhasil. Dan kalian berdua ini memang juga kupersiapkan untuk bersama-sama mengeroyok dia. Karena aku sendiri merasa belum dapat menandinginya.......”

“Bangsat iblis!” Giok-bin T ok-ong mengumpat.

"Heh-heh, Tok-ong...... kau tak usah mengumpat dia! Bagaimanapun juga kita dapat untung pula. Ternyata Bok Siang Ki juga salah perhitungan. Dia terlalu memandang ringan kepada kita sehingga ia terpaksa melepaskan dua pertiga bagian dari Buku Rahasia asli itu kepada kita berdua, heh-heh-heh !” Bu tek Sin-tong tertawa terkekeh-kekeh. Sekali lagi wajah Bok Siang Ki menjadi merah.

"Benar. Aku memang telah salah memperhitungkan kemampuan kalian. Aku tak menyangka kalau kalian berdua juga tidak kalah liciknya dengan aku,” ia mengakui.

Giok-bin Tok-ong mendengus melalui lubang hidungnya. "Tapi....... dengan cara bagaimana kau menyusun urut-urutan daftar jago persilatan itu? Bukankah selama ini kau tak pernah mendatangi mereka itu satu persatu dan mencobai semua kepandaian mereka itu?"

Bok Siang Ki tertawa dingin. "Hoho.......apa sulitnya mengerjakan urutan itu? Siapakah yang bisa menandingi gin-kang Ui-soa-pai di dunia ini?"

Giok-Bin  Tok-ong mengerutkan keningnya. "Maksudmu.........?" desaknya kurang paham.

“Huh, maksudku tentu saja, , ,,. ,aku tidak perlu mencobai semua kepandaian mereka itu! Cukup kukarang dan kukira-kira saja tingkat kemampuan mereka itu berdasarkan pengamatan yang amat teliti. Memang sekali waktu aku juga mengerahkan orang-orangku untuk mencobanya apabila aku kurang yakin terhadap pengamatanku itu. Tapi biasanya aku juga hanya memutuskannya sendiri. Aku tak peduli putusan itu benar atau tidak. Bukankah yang perlu dunia persilatan menjadi kacau-balau karena daftar urut-urutan itu? Hohoho......!”

“Gila!” Liu Yang Kun mengumpat.

“Hehehe......aku memang gila! Gila akan kedudukan dan kehormatan! Aku ingin menjadi jago nomer satu di dunia persilatan demi arwah para leluhur perguruan Ui-soa-pai! Aku ingin menjadi murid yang berbakti terhadap para leluhurku itu! Aku ingin namaku nanti dicatat dan dikenang oleh anak murid perguruan Ui-soa-pai sampai ke anak-cucu mereka!” Bok Siang Ki menjawab bersemangat.

“Tapi ternyata cita-citamu itu tak terlaksana, Bok Siang Ki.” Bun Hoat Sian-seng berkata perlahan. “Walaupun kau bisa mengalahkanku pun kau takkan dapat disebut sebagai jago nomer satu di dunia persilatan, karena......ternyata kau telah dikalahkan oleh pemuda di depanmu itu!”

Bok Siang Ki melirik ke arah Liu Yang Kun. Wajahnya menjadi tegang dan merah padam, namun apa daya ia memang telah dikalahkan oleh pemuda itu.

“Sudahlah. Siang Ki......" akhirnya Bun-hoat Sian-seng menarik napas panjang. “...... Lupakan saja niatmu untuk menjagoi dunia persilatan itu. Lebih baik kau pulang kembali ke Gurun Go-bi untuk membangun Ui-soa-pai. didiklah anak muridmu sebaik-baiknya agar kelak mereka menjadi pendekar-pendekar yang gagah perkasa. Dengan demikian perguruan Ui-soa-pai akan terkenal dan tersohor kembali seperti dahulu kala ketika dipegang oleh nenek moyangmu. Dan dengan demikian namamu juga akan terpateri pula di dalam hati anak muridmu, sehingga otomatis namamu juga akan dicatat pula di dalam sejarah perkembangan perguruanmu.” Ucapan Bun-hoat Sianseng yang panjang lebar itu tampaknya masuk ke dalam hati sanubari Bok Siang Ki. Beberapa saat lamanya tokoh perguruan Ui-soa-pai itu berdiam diri untuk memikirkannya.

Akhirnya penguasa tertinggi Ui-soa pai itu berdesah perlahan. "Baiklah, Sian-seng. Aku akan pulang kembali ke Ui-soa-pai. Tapi...... benarkah Buku Rahasia itu tak mengandung pelajaran ilmu silat sama sekali? Jawablah yang jujur agar hatiku menjadi lapang, karena buku itu akan kukembalikan lagi kepadamu........!"

“Benar, Sian-seng. Aku pun akan mengembalikan pula bagian Buku Rahasia yang ada padaku bila kau mau menjawab....." Bu-tek sin-tong bersuara pula.

Tiba-tiba Bun-hoat Sian-seng tersentak diam. Beberapa saat lamanya ia termangu-mangu dan tak segera menjawab pertanyaan itu. Tampaknya ada sesuatu yang sedang dipikirkannya dan sulit untuk memutuskannya.

"Bagaimana, Sian-seng?” Bok Siang K i mendesak.

Akhirnya orang tua dari Gunung Hoa san itu menghela napas panjang.

"Baiklah, Siang Ki….. aku akan berterus terang kepadamu. SebenarnyaIah bahwa bukuku itu tidak memuat sejurus pelajaran ilmu silatpun. Namun demikian apabila orang yang membacanya mau meneliti, menekuni dan mengupas seluruh isinya, tak pelak orang itu akan memperoleh kemajuan di dalam ilmu silatnya. Seperti halnya kalian semua yang telah membawanya selama setahun ini, bukan?”

"Jadi......?" Bok Siang Ki belum puas juga. “Aaah, sudahlah. Bukankah aku sudah mengatakannya kepadamu? Sekarang kembalikanlah buku itu kepadaku!" Bun-hoat Sian-seng memperingatkan.

Bok Siang Ki me langkah mundur dua tindak, yang kemudian juga diikuti pula oleh Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong.

"Kalau begitu...... perbolehkanlah kami meminjamnya .....barang setahun atau dua tahun lagi. Kami akan mempelajarinya dengan lebih tekun, agar kami dapat memperoleh hasil yang lebih baik lagi." Bok Siang Ki menolak.

Tiba-tiba wajah Bun-hoat Sian-seng menjadi keruh. “Tidak bisa! Buku itu tidak untuk dipinjamkan. Kalau sekarang aku hanya memintanya kembali, tanpa menghukum atau bertindak terhadap kalian bertiga, hal itu karena aku merasa tak perlu berlaku kasar terhadap kalian. Dan juga.....aku memang tidak ingin memperpanjang urusan ini dengan pertikaian atau permusuhan di antara kita."

"Jadi.......?" Bok Siang Ki berseru tegang.

"Kembalikanlah sekarang juga, atau .........?"

"Bagus! Aku memang ingin mencoba kepandaianmu! Bukumu akan aku kembalikan bila engkau bisa mengalahkanku!” Bok Siang K i menantang.

"Setuju.....!" Bu-tek Sin-tong ikut berteriak pula dengan gembira. “Akupun akan menyerahkannya bila Bun-hoat Sian-seng dapat menundukkan aku, he heh!"

Bun-hoat Sian-seng mengawasi Souw Lian Cu yang ada di sampingnya,kemudian mengangkat bahunya.

"Baiklah......kalau itu yang kalian inginkan. Tapi.......bagaimana dengan lembaran buku yang ada padamu, Tok-ong?"

Giok-bin Tok-ong menjadi gugup.

“A-aku.... aku..... eh, maaf.......bukuku berada di tangan pemuda itu!” ujarnya kemudian dengan terbata-bata. Jarinya menuding ke arah Liu Yang Kun.

Tentu saja Liu Yang Kun tersentak kaget. "Huh..... apa katamu? Jangan main tuduh sembarangan! Kapan aku mengambilnya dari tanganmu, heh?" pemuda itu berteriak gusar.

"Bangsat......!” Giok Bin Tok-ong menjerit pula tidak kalah berangnya. "Kau jangan berpura-pura lagi ! Bukankah kau telah menemukan bukuku di reruntuhan rumah Coa In Lok? Huh! Kau jangan mungkir! Ketiga orang muridku pun telah melihatmu pula! Kau membaca buku itu di dalam hutan !"

"Muridmu ... ?" Liu Yang Kun berseru semakin tak mengerti.
Namun demikian pemuda itu tak berani mendesak lagi.Tiba-tiba saja pemuda itu teringat kembali akan 'penyakitnya’. Ia menjadi ragu-ragu. Jangan-jangan apa yang diucapkan oleh Giok-bin Tok-ong tersebut memang benar adanya.

Bun-hoat Sian-seng cepat menengahi mereka. "Sudahlah, Tok-ong. Aku tahu kau telah kehilangan buku yang kau bawa karena muridku ini juga sudah melaporkannya kepadaku," katanya perlahan seraya menoleh ke arah Souw Lian Cu.

“Maka dari itu aku memberi kelonggaran kepadamu. Kau boleh mcngembalikan bukumu yang hilang itu setengah tahun lagi. Ingat! Setengah tahun lagi! Lebih dari batas waktu yang kuberikan itu, kau akan memperoleh hukuman,.....”

"Persetan dengan waktumu! Bangsat ..,.. !” Giok-bin Tok-ong mengumpat.

Tapi Bun-hoat Sian-seng tak mempedulikan kegusaran lawannya. Dengan tenang orang tua itu menghadapi Bok Siang Ki kembali.

"Bagaimana, Siang Ki? Kita jadi bergebrak sekarang?”

"Tentu saja! Apa kau kira aku takut kepadamu?”

"Bagus! Mari kita mulai! Anggap saja aku sekalian menjadi juri bagi kalian bertiga. Aku akan menilai, siapa yang lebih banyak memperoleh kemajuan dari Buku Rahasia itu, sehingga kalian tak perlu mengadakan pertemuan di bangunan kuno itu lagi."

"Kurang ajar! Kau jangan terlalu menyombongkan dirimu......!" Bok Siang Ki menggeram gusar.

Telapak tangannya segera meluncur ke depan, menampar ke arah mulut Bun-hoat Sian-seng.Liu Yang Kun terbeliak kagum menyaksikan kecepatan tangan Bok Siang Ki. Tangan itu menyambar dengan cepat laksana kilat, sehingga lapat-lapat terdengar suaranya yang mencicit seperti suara desing senjata tajam. Tadi ketika menghadapi sendiri pemuda itu tak merasakannya. Kini setelah melihat lagi dari luar arena, barulah hatinya menjadi kagum bukan main. Memang tidak keliru kalau penguasa tertinggi Ui-soa-pai itu menyombongkan gin-kangnya.

Tapi ternyata Bun-hoat Sian-seng juga tidak kalah gesitnya. Meskipun tidak selincah Bok Siang Ki namun sebagai jago nomer satu ternyata gin-kangnya juga tidak dapat dipandang enteng. Sambil mendorong tubuh Souw Lian Cu ke luar arena, ia menggeliatkan badannya ke belakang, hingga tamparan itu tak mengenainya. Kemudian dengan kecepatan yang hampir sama ia balas menyerang dengan cengkeraman jari-jari tangannya.

Tentu saja Bok Siang Ki tak ingin tangannya patah atau hancur diremas jari tangan lawannya. Oleh karena itu lengannya segera ditarik, dan sebagai gantinya ia menerjang perut Bun-hoat Sianseng dengan ujung sepatunya.

Plaaak! Plaaaak!

Bun-hoat Sianseng menekuk lengannya yang terulur itu untuk menghantam ujung sepatu Bok Siang Ki! Dan benturan tersebut ternyata menimbulkan suara yang amat keras dan nyaring!


Masing-masing segera tergetar mundur empat langkah ke belakang. Dan setiap langkah mereka selalu meninggalkan bekas tapak sepatu yang dalam di tanah, suatu tanda bahwa mereka berdua benar-benar telah mengeluarkan tenaga dalam yang amat dahsyat!

Namun demikian tampaknya Bok Siang Ki sudah menyadari bahwa tenaga dalamnya masih lebih rendah dari pada lawannya. Hal itu dapat dilihat dari bekas tapak sepatu itu. Tapak sepatunya tampak tinggi rendah tak beraturan, sementara tapak sepatu lawannya kelihatan urut dan rapi, baik jarak maupun kedalamannya!

Oleh karena itu Bok Siang Ki segera mengerahkan ilmu puncaknya! Penguasa tertinggi Ui-soa-pai itu berpendapat bahwa tak ada gunanya bertempur terlalu lama dengan lawannya! Dengan sebat kedua lengannya segera bersilang di depan dadanya. Dan sekejap saja tubuhnya seperti memancarkan hawa dingin ke arah lawannya! Hawa dingin yang persis seperti hawa dingin dipancarkan Liu Yang Kun apabila pemuda itu mengerahkan tenaga sakti Liong-cu-i-kangnya!

Bedanya udara dingin yang terpancar dari dalam tubuh Liu Yang Kun menyebar ke segala penjuru dan benar-benar terasa menggigilkan kulit dan tubuh orang-orang yang ada di sekelilingnya, sedangkan hawa dingin yang keluar dari dalam tubuh Bok Siang Ki cuma tertuju kepada Bun-hoat Sian-seng saja ! Itupun juga hanya terbatas pada perasaan dan pikiran Bun-hoat Sian-seng pula, karena 'hawa dingin’ yang ditimbulkan Bok Siang Ki tersebut adalah ilmu sihir belaka.

"Bagus, Siang Ki! Ternyata kau langsung mempergunakan ilmu puncakmu! Oleh karena itu akupun juga takkan segan segan pula mengeluarkan segala kemampuanku ! Nah, marilah kita lihat siapa yang lebih unggul di antara kita ...... !" Bun-hoat Sian-seng berkata tegas.

Kemudian orang tua itu berdiri tegak sambil merangkapkan kedua telapak-tangannya di depan dada. Dan sesaat kemudian di atas ubun-ubunnya tampak mengepul asap tipis berwarna putih dan merah. Asap itu kemudian turun dengan cepat membungkus tubuhnya, bagaikan kabut tipis yang menyelimuti bumi. Hanya yang sangat aneh kedua macam kabut itu tidak mau saling bercampur. Kabut yang berwarna putih hanya menyelimuti bagian tubuh sebelah kiri, sementara kabut yang berwarna merah juga hanya membungkus tubuh bagian kanan pula.

"Ang-pek Sin-kang dari keluarga Souw .......!" Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong berdesis perlahan.

Setelah tubuhnya terbungkus kabut tipis itu, Bun-hoat Sian-seng lalu melangkah maju mendekati Bok Siang Ki. Dengan berani kakek itu menentang mata Bok Siang Ki, seakan-akan kakek itu tak terpengaruh oleh ilmu sihir lawannya yang menggiriskan itu.

Tentu saja Bok Siang Ki sangat terkejut. Apalagi ketika pandangannya menjadi silau, seolah-olah kabut yang membungkus tubuh lawannya itu dapat memantulkan cahaya.

“Gila.....!" Bok Siang Ki mengumpat, lalu melesat ke depan menyerang lawannya.

Gerakan Bok Siang Ki benar-benar cepat bukan main! Demikian cepatnya sehingga tubuhnya seakan-akan menghilang menjadi bayang-bayang yang melesat dibawa angin!

Tampaknya Bok Siang Ki menyadari kalau ilmu sihirnya sudah tidak bisa diandalkan lagi. Maka seperti halnya ketika melawan Liu Yang Kun tadi, Bok Siang Ki lalu menghentakkan seluruh kemampuan gin-kangnya. Dengan harapan satu-satunya keunggulannya itu bisa untuk mengatasi kesaktian lawannya. Meskipun ilmu sihirnya juga masih tetap dipakainya pula.

"Oooooooh.......???" semua orang yang menyaksikan pertempuran tersebut berdesah.

Namun orang orang itu berdesah bukan karena menyaksikan keajaiban kabut merah putih yang diciptakan Bun-hoat Sian-seng ataupun kegesitan yang diperlihatkan oleh Bok Siang Ki tapi mereka berdesah karena merasa kaget dan ngeri melihat keanehan yang terjadi pada diri Bok Siang Ki itu sendiri!

Di mata mereka, tubuh Bok Siang Ki yang sedang melompat menyerang Bun-hoat Sian-seng itu tiba-tiba 'pecah' menjadi beberapa bagian! Dan anehnya setiap bagian itu tiba-tiba juga menjadi Bok Siang Ki pula, sehingga dalam waktu yang hanya sekejap itu tiba-tiba ada belasan orang Bok Siang Ki yang menerjang ke arah Bun-hoat Sian-seng!

Tapi mereka tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berbicara tentang keanehan itu, sebab di lain saat pertempuran tersebut telah berlanjut pula dengan sengitnya. Bun-hoat Sian-seng telah mengelak dengan memutar tubuhnya kemudian dengan cepat tangannya membalas pula serangan tersebut. Terdengar suara mencicit ketika dari ujung-ujung jari tangan orang tua itu meluncur angin tajam yang mampu melobangi benda-benda yang dilanggarnya!

"Tai-lek Pek-khong-ciang (Pukulan Udara Kosong Bertenaga Seribu Kati)......!" Giok-bin Tok-ong bergumam perlahan.

"Benar, Tai-lek Pek-khong-ciang dari keluarga Souw yang tersohor…….” Bu-tek Sin-tong menambahkan.

Demikianlah, meskipun kalah gesit dan kalah cepat, namun Bun-hoat Sian-seng memiliki serangan jarak jauh yang ampuh serta menakutkan. Sehingga kemanapun tubuh Bok Siang Ki bergerak, pukulan jarak jauh orang tua itu selalu bisa mengejar dan memburunya. Maka akibatnya bisa diduga.

Sedikit demi sedikit orang tua itu bisa mendesak Bok Siang Ki. Apalagi penguasa tertinggi Ui-soa-pai itu sama sekali tak berdaya dengan ilmu sihirnya.

Padahal dimata Bu-tek Sin-tong maupun Giok-bin Tok-ong ilmu sihir yang dipergunakan oleh Bok Siang Ki itu benar-benar mengerikan dan membingungkan sekali. Belasan tubuh Bok Siang Ki yang bertebaran di sekeliling Bun-hoat Sian-seng itu benar-benar memusingkan mereka.

"Setan! Demit! Heh, Sin-tong.,..,. bingung aku melihatnya! Kau tahu mana Bok Siang Ki yang asli?" Giok bin Tok-ong berteriak-teriak bingung.

“Huh! Aku juga tak tahu! Coba kau tanyakan pada anak itu! Dia tentu mengetahuinya, karena dia tadi bisa menghadapi Bok Siang Ki dengan baik.....” Bu-tek Sin-tong menyahut sambil menunjuk ke arah Liu Yang Kun.

Liu Yang Kun tersentak kaget, karena dia sendiri juga tak bisa membedakannya. Kalau dia tadi bisa mengalahkan Bok Siang Ki, hal itu bukan karena ia tidak terpengaruh oleh ilmu sihir penguasa Ui-soa-pai itu. Ia bisa melayani Bok Siang Ki karena ia memejamkan matanya, sehingga ia tak melihat keanehan-keanehan yang diciptakan oleh lawannya.

Namun demikian kalau Cuma membedakan mana Bok Siang Ki yang asli saja pemuda itu tidak mendapatkan kesukaran. Dengan kecerdikannya ataupun dengan ilmunya yang menyerupai Lin-cui-sui-hoat itu Liu Yang Kun mampu menebak dan mengira-ngira Bok Siang Ki yang asli.

“Mengapa mesti sulit membedakan mereka? Asal lo-cianpwe mau memperhatikan cara-cara Bun-hoat Sian-seng melawan mereka, lo-cianpwe tentu dapat menebak pula mana Bok Siang Ki yang asli......” dengan suara dingin pemuda itu berkata.

"Setan Demit! Anak iblis yang tak tahu diri, kubunuh kau......!" Giok-bin Tok-ong  menjerit gusar. Tangannya terangkat, siap untuk menerjang.

Tapi dengan cepat Bu-tek Sin-tong melompat ke tengah-tengah mereka. Kedua lengannya terpentang lebar untuk mencegah kawannya bertindak lebih jauh.

“Goblog! Kita memang goblog, Tok ong! Anak itu benar,” teriaknya keras.

“Apanya yang benar?” Giok-bin Tok-ong berteriak pula. Namun demikian tangannya yang terangkat tadi telah diturunkannya lagi.

“Coba kau perhatikan Bun-hoat Sian-seng itu! Aku berani bertaruh dia tentu tidak terpengaruh oleh ilmu sihir Bok Siang Ki ini! Kalaupun dia juga terpengaruh oleh ilmu sihir ini, setidaknya dia tentu bisa mengatasinya. Buktinya ia bisa melawan Bok Siang Ki dengan baik. Bahkan ia seperti tidak terpengaruh sama sekali oleh ilmu sihir itu. Nah, sekarang perhatikan cara-cara Bun-hoat Sian-seng dalam melayani Bok Siang Ki itu! Kau akan mengerti pula nanti!”

Tiba-tiba Giok-bin Tok-ong seperti tersadar dari kebodohannya. “Benar. Wah, aku memang goblog! Bun-hoat Sian-seng selalu memburu salah seorang dari belasan Bok Siang Ki itu! Hoho.., tentu dialah yang asli ! Benar, bukan,” serunya kemudian seolah bersorak.

Sementara itu Liu Yang Kun sendiri sudah tidak peduli lagi kepada orang tua itu. Dengan langkah seenaknya ia menghampiri Souw Lian Cu dan Yap Kiong Lee.

"Selamat malam, nona Souw. Apakah nona tadi telah kembali ke penginapan?” tegurnya ramah.

Gadis itu memandang Liu Yang Kun lalu menggeleng. Mulutnya tetap terdiam. Sikapnya masih kelihatan kaku terhadap Liu Yang Kun.

Tapi Liu Yang Kun tidak menjadi tersinggung karenanya. Dengan sabar pemuda itu tetap juga mengajaknya berbicara.

“Emm...... lalu bagaimanakah dengan urusan yang pernah nona ceritakan itu? Apakah urusan itu sudah beres?" Sekali lagi mata yang bening indah itu menatap kepada Liu Yang Kun.

Namun hanya beberapa saat saja, karena beberapa saat kemudian gadis ayu itu telah mengalihkan pandangannya kembali.

“Sudah....." Bibir itu bergetar pendek, kemudian terdiam pula kembali.

Sungguh mengherankan sekali! Liu Yang Kun yang biasanya mudah tersinggung itu ternyata tidak menjadi marah atau merasa sakit hati mendapat perlakuan dingin seperti itu. Pemuda itu justru bertambah banyak bicaranya. Nada suaranya juga sangat riang, seolah-olah ia memang sangat gembira dapat berdekatan kembali dengan Souw Lian Cu. Padahal gadis itu sendiri hampir tak pernah menyahut atau menjawab perkataannya. Paling-paling hanya mengangguk, menggeleng atau bergumam saja.

Tentu saja Yap Kiong Lee lah yang menjadi tak enak hatinya. Bagaimanapun juga Liu Yang Kun adalah seorang pangeran. Putera Hong-siang pula. Maka sungguh tidak selayaknya kalau dia memperoleh perlakuan seperti itu.

“Pangeran......” ia menyela dengan hati-hati sekedar untuk ikut berbicara agar Liu Yang Kun tidak hanya berbicara sendirian. "Ternyata nona Souw ini memang sedang mengemban tugas dari Bun-hoat Sian-seng untuk melacak Buku Rahasia yang dibawa oleh ketiga orang itu. Itulah sebabnya nona Souw selalu mengikuti jejak mereka selama ini.....”

Liu Yang Kun terbelalak sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang telah mendengar perdebatan mereka tentang Buku Rahasia itu tadi. Tapi tak mengira kalau ternyata Souw Lian Cu juga terlibat pula di dalam urusan itu. Sementara itu pertempuran antara Bok Siang Ki melawan Bun-hoat Sianseng juga telah menampakkan tanda-tanda akan berakhir pula. Meskipun masing-masing memiliki keistimewaan dan kehebatan sendiri-sendiri, tapi ternyata ilmu kepandaian Bun-hoat Sian-seng masih lebih unggul dari pada Bok Siang Ki.

Pakaian Bok Siang Ki yang longgar itu tampak berlubang di beberapa tempat terkena sambaran Tai-lek Pek-khong-ciang yang memancar dari ujung jari Bun-hoat Sian-seng, walaupun sebenarnya dengan gin-kangnya yang maha tinggi itu Bok Siang Ki juga telah berusaha pula untuk mengelakkannya. Untunglah tokoh Ui-soa-pai itu memiliki juga ilmu kebal atau Tiat-poh-san yang cukup sempurna, sehingga kulitnya tidak menjadi terluka karenanya.

Namun demikian gempuran-gempuran ujung jari yang mengandung tenaga dahsyat itu membuatnya sakit pula. Bahkan semakin lama gempuran-gempuran itu semakin menggoyangkan benteng ilmu kebalnya, sehingga beberapa saat kemudian kulitnya mulai bisa tergores oleh hentakan-hentakan ujung jari tersebut. Dan selanjutnya darahpun mulai menetes membasahi bajunya.

“Bok Siang Ki….! Apakah kau tidak juga mengakui kekalahanmu? Apakah kau ingin salah seorang di antara kita menggeletak tak bernyawa di tempat ini........?" tiba-tiba terdengar suara Bun-hoat Sian-seng dari dalam arena itu.

Tapi tak ada jawaban dari Bok Siang Ki. Tokoh Ui-soa-pai itu masih juga bertempur dengan gigihnya. Tampaknya ia masih juga belum mau menyadari keadaannya. Namun, hal itu bisa dimengerti pula, karena bagaimanapun juga tokoh Ui-soa-pai itu merasa telah dapat mengenai tubuh lawannya pula. Biar pun semua yang telah dilakukannya tersebut hampir tak berarti bagi Bun-hoat Sian-seng yang memiliki tenaga dalam lebih tinggi.

Demikianlah, semuanya itu ternyata tak luput pula dari penglihatan Bu-tek Sin-tong dan yang lainnya. Bahkan Liu Yang Kun yang sejak semula selalu dapat mengikuti jalannya pertempuran tersebut menjadi berdebar-debar pula hatinya. Setiap kali tubuh Bok Siang Ki yang asli itu terluka dan mengeluarkan darah, maka pemuda itu juga melihat yang serupa pula pada bentuk-bentuk kembaran Bok Siang Ki yang lain. Dan sejalan dengan semakin banyaknya luka yang diderita oleh Bok Siang Ki asli itu, maka semakin susut pulalah jumlah bentuk-bentuk semu dari Bok Siang Ki tersebut.

Sehingga beberapa waktu kemudian semua bentuk-bentuk semu itu lenyap dari pandangan.

"Hei, lihat......! Sekarang Bok Siang Ki tinggal seorang saja lagi ! Dan...... dia telah menderita luka di beberapa tempat!" Bu-tek Sin-tong tiba-tiba berseru sambil menunjukkan jari telunjuknya ke dalam arena pertempuran.

"Ya! Tampaknya dia telah banyak kehilangan kekuatannya, sehingga kemampuannya untuk membangkitkan ilmu sihirnya juga telah berkurang pula." Giok-bin Tok-ong menyahut.

Bu-tek Sin-tong tiba-tiba menoleh ke arah Giok-bin Tok-ong. "Tok-ong.. .. ...! Apa yang harus kita kerjakan sekarang? Membiarkan Bok Siang Ki kalah atau membantunya.......?” Giok-bin Tok-ong melangkah dengan cepat ke depan.

"Kita bantu saja dia.....! Sebab setelah Bok Siang Ki kalah, tentu kita pula yang akan menjadi giIirannya. Nah, dari pada menunggu nanti-nanti .. ehm, bukankah lebih baik kita maju sekarang? Kita bisa bertiga malah!"

"Bagus! Kalau begitu tunggu apa lagi? Marilah ......" Bu-tek Sin-tong berkata dengan gembira pula, kemudian bersama-sama dengan Giok-bin Tok ong dia menerjang ke dalam arena pertempuran.

Cuuus ! Cuus ! Plaak ! Plaaak......!

Dengan tangkas Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong menangkis sambaran angin tajam yang meluncur dari ujung jari Bun-hoat Sian-seng. Angin tajam yang mampu menembus atau menggores kulit seperti layaknya sebilah pedang itu hampir saja mengenai dada Bok Siang Ki. Untunglah pada saat yang tepat Bu tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong datang menolongnya, walaupun akibatnya kedua kakek sakti itu harus menderita kesakitan pula.

"Bangsat!" Giok-bin Tok-ong mengumpat seraya memandangi kulit lengannya yang lecet ketika membentur ‘angin tajam’ itu.

"Bukan main! Tak kusangka Tai-lek Pek-khong-ciang demikian hebatnya...!" Bu-tek Sin-tong menggeram pula sambil me lihat-lihat telapak tangannya yang kemerah-merahan.

"Hmmh, Sin- tong..... Tok-ong! Apa maumu? Mengapa kau ikut-ikutan menangkis seranganku? Apakah kau tak sabar lagi untuk menunggu giliranmu?" Bun-hoat Sian-seng menegur perlahan.

"Benar. Ini tidak adil.....!" Souw Lian Cu tiba-tiba melompat ke dalam arena dan berdiri di samping gurunya. “Kalian telah diberi kesempatan oleh suhu untuk mempertahankan buku yang kalian curi. Mengapa kalian masih juga kurang terima? Apakah kalian tidak merasa malu?"

Wajah Bok Siang Ki menjadi merah. Begitu pula dengan Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong. Mereka menjadi malu juga mendengar perkataan gadis itu.

"Baiklah.....! Aku memang sudah kalah. Biarlah aku kembali saja ke Gurun Go-bi. Nih, kukembalikan buku itu,” tiba-tiba Bok Siang Ki mendengus, Lalu merogoh sakunya dan melemparkan bagian Buku Rahasia yang disimpannya kepada Souw Lian Cu. Selesai berkata Bok Siang Ki lalu melesat pergi meninggalkan jurang tersebut.

"Hei? Siang Ki.....? Kenapa kau…Tunggu…..!” Bu-tek Sin-tong berteriak memanggil.



  Memburu Iblis 30                                                    Memburu Iblis 32