Selasa, 12 September 2017

MEMBURU IBLIS 22



Jilid 22

(hal 3 ga ada)

"Benar. Ada apa........?" jawabnya hati-hati. Tiba-tiba wajah pelayan itu menjadi berseri-seri. Tangannya segera merogoh lipatan bajunya dan mengeluarkan secarik kertas.

"Tuan Chin......! Ada seorang tamu yang menitipkan surat ini tadi pagi. Ia meminta kepadaku agar surat ini disampaikan kepada tuan, sebab dia tidak mempunyai banyak waktu untuk menemui tuan sendiri."

"Surat? Untukku......? Siapakah orang itu? Wanita atau........ laki-laki?" Liu Yang Kun bertanya kaget seraya menerima surat itu.

Pelayan itu menggelengkan kepalanya. "Entahlah, tuan.......saya juga belum pernah mengenalnya. Dia seorang lelaki tampan. Sikapnya halus. Bertubuh jangkung dan mengenakan
pakaian seperti sastrawan."

Liu Yang Kun membuka lipatan surat itu. "Seorang sastrawan......? Siapakah dia?" gumamnya perlahan sambil membaca surat itu.

Saudara Chin atau Saudara Liu
Aku menunggu kedatanganmu di bekas reruntuhan Kong-tee-bio malam ini.
Waktunya tepat ketika bulan muncul dari balik Kapur.
Teman lama.

"Teman lama..........?" pemuda itu bergumam lagi. Wajahnya kelihatan bingung. Pelayan itu mengangkat pundaknya, lalu melangkah pergi sambil tersenyum.

Ditinggalkannya tamunya yang tampak bingung dan sibuk memikirkan surat yang dibawanya itu. Ia menuju ke kamar Liu Yang Kun untuk menerima pesanan makanan seperti yang telah diperintahkan oleh pemuda itu tadi.

Demikianlah, karena pikirannya selalu tercekam oleh isi surat yang amat membingungkan itu, maka Liu Yang Kun menjadi lebih banyak melamun dari pada mengguyurkan air ke badannya. Sehingga otomatis pula ia menjadi sangat lama di dalam kamar mandi itu.

"Huh! Jangan-jangan Tuan Chin ini .....

(halaman 6 – 7 nggak ada neh..)

....yan itu.

"Mengapa kau tertawa?” tegurnya tak mengerti.

Pelayan itu menjadi kaget. Namun dengan mulut yang masih tersenyum ia menjawab. "Ah, masakan tuan juga belum pernah melihat ketua Tiam-jong-pai yang sudah banyak ubannya itu? Dalam umurnya yang telah mulai lanjut itu ternyata ia masih ingin kawin juga. Dan wanita pilihannya ternyata juga tidak tanggung-tanggung pula, yaitu seorang bekas pendeta wanita dari Aliran Im-Yang-kauw. Hehe-haha........ apakah tuan juga tidak merasa aneh dan lucu mendengar berita itu?”

Sekali lagi Toan Hoa mengerutkan keningnya, lalu ditatapnya pelayan itu lekat-lekat. "Eh...... apanya yang lucu dan aneh? Bukankah mereka juga manusia? Apalagi usia mereka juga belum lebih dari limapuluh tahun. Nah, apanya yang lucu dan aneh? Apakah karena pengantin wanitanya adalah bekas pendeta itu? Hmm..... kudengar tiada larangan bagi pendeta Aliran Im-Yang-kauw untuk kawin. Apalagi pengantin wanita itu sudah tidak menjadi pendeta Im-Yang-kauw lagi sekarang......"

Pelayan itu tidak berani membantah lagi. Begitu selesai dengan tugasnya ia lalu bergegas keluar. Di depan pintu ia berpapasan dengan Liu Yang Kun yang telah selesai membersihkan badannya.

"Hei....... lengkap benar pesanannya? Ini mau pesta atau.....,. mau makan pagi?" Liu Yang Kun berseru ketika memandang meja yang penuh sesak dengan segala macam masakan enak-enak itu.

“Hahaha.......! Marilah, Tuan Chin .......kita meneruskan pesta kita yang belum selesai tadi ma lam! Aku berjanji untuk tidak mabuk lagi, sehingga pesta kita dapat berlangsung hingga selesai. Hahaha....." Toan Hoa tertawa.

Setelah merapikan pakaiannya, Liu Yang Kun lalu ikut duduk pula menghadapi meja itu. Tapi Toan Hoa segera menepuk lengannya. "Eee .......Tuan Chin tidak mengenakan baju rompi itu dahulu?" tanyanya.

Seraya menunjuk ke arah pembaringan Liu Yang Kun. Ada nada ingin tahu dalam suaranya.

Liu Yang Kun agak kaget juga. Namun dengan cepat ia bisa menguasai dirinya kembali. Dipandangnya temannya itu dengan tenang.

"Saudara Toan telah melihatnya?"

"Ya, maafkanlah...... aku tidak sengaja melihatnya. Semula aku kaget melihatnya. Kukira benda apa, tak tahunya sebuah rompi dari kulit ular. Eh, sebenarnya pakaian apakah itu? Dan dimana Tuan Chin bisa memperoleh kulit ular sedemikian lebarnya itu? Jangan jangan Tuan Chin mendapatkannya dari kulit ular raksasa Ceng-liong-ong itu......" dengan nada bergurau Toan Hoa menjawab.

Diam-diam Liu Yang Kun menyesali keteledorannya. Tapi semuanya memang telah terjadi dan tak bisa disesali lagi. Cuma yang menjadi persoalannya sekarang adalah sampai sejauh mana temannya tersebut tahu tentang baju kulit ularnya itu. Jangan-jangan temannya itu juga telah memeriksa dan mengetahui tentang rahasianya pula.

Oleh karena itu jawabnya kemudian dengan hati-hati, "Entahlah, saudara Toan. Aku tak tahu, apakah itu kulit Ceng-liong-ong atau bukan, namun yang terang benda itu memang kudapatkan dari seekor ular raksasa. Ular itu telah kubunuh, karena aku juga hampir dibunuhnya pula."

"Dan....... ternyata kulit ular itu bisa melindungi kulit tuan dari tajamnya senjata musuh, bukan?" Toan Hoa menyelidik.

Liu Yang Kun terpaksa mengangguk.

"Hah? Kalau begitu..... ular yang kau bunuh itu memang Ceng-liong-ong! A-ha.... itulah sebabnya ular keramat itu tak muncul di Danau Tai-ouw tempo hari! Binatang itu telah mati sebelumnya, hahaha.......!" Toan Hoa yang merasa dapat membongkar suatu misteri atau rahasia di dalam dunia persilatan itu tertawa gembira.

Namun mendadak pula tawanya itu terhenti. Seperti orang yang tiba-tiba teringat akan sesuatu hal ia menatap wajah Liu Yang Kun.

“Tapi.....eh, sebentar.........! Waktu itu para pendekar persilatan yang berkumpul di Danau Tai-ouw telah digegerkan pula oleh munculnya seseorang yang mengenakan baju kulit ular seperti itu. Malahan khabarnya baju itu juga terbuat dari kulit Ceng-liong-ong dan kebal terhadap senjata tajam.” katanya kemudian sambil mengetuk-ngetuk dahinya sendiri. Dheg! Berdegup hati Liu Yang Kun mendengar ucapan itu.

Entah mengapa tiba-tiba hatinya seperti diingatkan kepada isterinya. Tapi hanya sesaat, karena sesaat kemudian ia telah menjadi sadar pula kembali.

“Bagaimana mungkin Tui Lan berada di sana sebulan yang lalu? Dan bagaimana mungkin pula dia berada di danau itu kalau dia masih berada bersama aku di terowongan bawah tanah itu? Ah.....Tui Lan.........Tui Lan!" keluhnya di dalam hati.

Liu Yang Kun lalu memandang Toan Hoa. Dicobanya untuk menghapuskan kesan bahwa ia te lah terpengaruh olah ucapan Toan Hoa tadi.

"Seseorang telah mengenakan baju kulit ular pula? Siapakah dia?" tanyanya hati-hati.

Tetapi jawaban yang dikeluarkan Toan Hoa justru lebih mengejutkan lagi malah!

"Entahlah, Tuan Chin. Tidak seorangpun yang mengenalnya. Semua orang hanya tahu kalau dia adalah seorang wanita muda, berparas cantik dan......”

"....... dan sedang hamil! Begitukah?" tiba-tiba Liu Yang Kun memotong dengan suara tegang. Lagi-lagi pemuda itu tercekam oleh ingatan kepada isterinya.

Toan Hoa meringis kesakitan karena di dalam ketegangannya Liu Yang Kun telah mencengkeram lengannya. "Oh, maaf....... aku tak sengaja.”

Liu Yang Kun cepat menyadari kekasarannya dan melepaskan cengkeramannya.

"Hmm....... lagi-lagi pikiranku telah melayang ke Tui Lan kembali!" pemuda itu membatin.

Sambil mengusap-usap lengannya yang sakit Toan Hoa menyeringai. Dipandangnya wajah Liu Yang Kun yang pucat itu dengan perasaan bingung.

"Be-benar, Tuan Chin. Semua orang memang mengatakan demikian. Wanita cantik itu sedang hamil," katanya agak takut-takut.

"Ooooooh......!" Liu Yang Kun berdesah lemas. Jawaban Toan Hoa itu ternyata semakin menambah keresahan dan kegalauan di hati pemuda itu. Wajah Tui Lan kembali menggoda hatinya.

Sementara itu Toan Hoa semakin menjadi bingung menyaksikan sikap Liu Yang Kun.

"Tuan Chin? Ada apa.....?" bisiknya khawatir.

"Eh-oh..... tidak! Aku tidak apa-apa!" dengan sangat gugup Liu Yang Kun menjawab.


Tentu saja Toan Hoa semakin bertambah curiga melihat kegugupan kawannya itu. Masakan seorang pendekar sakti  seperti Liu Yang Kun masih bersikap sedemikian gugupnya? Tentu ada apa-apanya. Tapi tentu saja Toan Hoa tidak berani menanyakannya.

"Eh..... apakah Tuan Chin telah mengenal wanita itu?" tanyanya dengan sangat hati-hati sekali,

Liu Yang Kun tampak tertegun sebentar. Namun sesaat kemudian kepalanya menggeleng dengan cepat.

"Tidak.......eh, belum. Aku belum mengenalnya," bantahnya, padahal hatinya semakin yakin bahwa wanita yang diceritakan itu tentu Tui Lan, isterinya.

Memang terjadi pertentangan di dalam hati dan pikiran Liu Yang Kun! Di satu pihak pemuda itu merasa yakin bahwa Tui Lan tidak mungkin muncul di Danau Tai ouw sebulan yang lalu, tapi di lain pihak pemuda itu juga merasa bahwa data-data atau ciri-ciri yang diceritakan oleh Toan Hoa tersebut benar-benar semakin mengarah kepada isterinya.

Dan semuanya itu sungguh-sungguh sangat menyiksa dan membuat penasaran hati Liu Yang Kun. Benarkah isterinya masih hidup? Kalau benar, lalu dimanakah ia sekarang? Dan kalau wanita itu memang benar Tui Lan, lantas bagaimana ia bisa keluar dari dalam tanah dan kemudian muncul di Danau Tai ouw? Apakah terowongan itu juga berhubungan dengan danau tersebut?

Demikianlah, Liu Yang Kun semakin tenggelam ke dalam bayangan isterinya. Antara rasa percaya dan tidak percaya, ia mulai berpikir bahwa Tui Lan memang masih hidup.

"Oh...... aku benar-benar sangat penasaran. Jangan-jangan wanita hamil itu memang Tui Lan. Aku harus mencari dan menyelidikinya. Tapi.......dimana aku harus mencarinya? Hmm......... eh, benar..... aku akan ke Teluk Po-hai menemui gurunya. Kalau Tui Lan benar-benar selamat, ia tentu pulang ke rumah gurunya itu," pemuda itu berkata di dalam hatinya.

"Lalu........" Toan Hoa hendak bertanya lagi, tapi tak jadi. Tak enak rasa hatinya mendesak terus menerus.

Begitulah, meskipun cerita tentang wanita berbaju kulit ular itu telah menghilangkan sebagian besar nafsu makannya, tapi Liu Yang Kun tetap berusaha untuk menyenangkan hati Toan Hoa. Apalagi setelah mengetahui bahwa Toan Hoa akan pulang hari itu.

"Saudara Toan, terima kasih atas semuanya ini........"

"Alaa...... Tuan Chin, kau jangan membuat aku menjadi malu. Apa yang kulakukan ini belum apa-apa bila dibandingkan dengan budi baikmu kepadaku dahulu. Akulah yang seharusnya berterima kasih kepadamu. Ah, sudahlah......Aku juga sudah berpesan kepada pengurus penginapan ini, bahwa seluruh biaya penginapan dan makanan Tuan Chin selanjutnya adalah tanggungan Kim-liong Piauw-kiok. Tuan Chin dapat tinggal disini selama Tuan Chin suka........."

"Terima kasih. Saudara Toan. Tapi aku juga akan berangkat pagi ini. Aku…..”

"Hei, mengapa tergesa-gesa! Aku... aku tidak bermaksud mengusir Tuan Chin. Aku dan anak buahku memang harus pulang hari ini, karena tugas yang lain telah menantikan kami."

Liu Yang Kun tersenyum. "Ah.......tidak! Saudara Toan jangan berpikir yang bukan-bukan. Aku memang mempunyai kepentingan juga. Aku harus lekas-lekas berangkat hari ini pula."

"Oh, apakah Tuan Chin hendak menghadiri pesta pernikahan Ketua Tiam-jong-pai di Kota Cin-an?" Liu Yang Kun mengerutkan keningnya.

“Pesta pernikahan? Ah, tidak.....! Aku belum kenal dengan Ketua Tiam-jong-pai. Aku memang hendak menuju ke Cin-an, tapi tidak untuk melihat pernikahan itu."

"Lalu....... apa tujuan Tuan Chin di sana?"

Liu Yang Kun menghela napas. "Ah., aku cuma lewat saja. Aku bermaksud pergi ke Teluk Po-hai."

"Teluk Po-hai.....? Oh........apakah Tuan Chin berasal dari daerah itu? Tuan Chin kenal dengan Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai?" tiba-tiba Toan Hoa berseru.

Liu Yang Kun menatap wajah Toan Hoa dengan hati berdebar, lalu perlahan-lahan kepalanya mengangguk. "Sudah kenal? Hei...... kalau begitu mengapa Tuan Chin tidak diundangnya?"

Liu Yang Kun menjadi tegang. Pemuda itu mulai digoda oleh bayangan Tui Lan lagi. Mengapa Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu harus mengundangnya?

"Me-mengapa......bekas pendeta itu harus mengundangku?" tanyanya agak gemetar.

"Dialah pengantin wanitanya! Dialah yang hendak menikah dengan Hek-pian-hok U i Bun Ting, ketua Tiam-jong-pai itu."

"Hah.........?"

Liu Yang Kun benar-benar kaget setengah mati. Guru Tui Lan itu hendak kawin dengan Ketua Tiam-jong-pai? Berapa umur orang tua itu sebenarnya? Sungguh aneh sekali.

"Hei! Berapa usia mereka sebenarnya?" tanyanya terheran-heran.

Tapi ternyata Toan Hoa pun juga terheran-heran pula melihat Liu Yang Kun. "Usia mereka? Eh.....bukankah Tuan Chin sudah mengenal Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu? Tentu saja umur mereka telah cukup tua, karena rambut mereka pun sudah mulai memutih. Bahkan Hek-pian-hok Ui Bung Ting sudah hampir putih semuanya."

"Oh! Kalau begitu aku akan melihat pesta itu," mendadak Liu Yang Kun berkata pendek.

"Tuan Chin hendak menghadiri pesta pernikahan itu? Lhoh.......... mengapa Tuan Chin tiba-tiba berubah haluan? Bukankah Tuan Chin tadi mengatakan kalau tidak memperoleh undangan? Mengapa sekarang..........?"

Liu Yang Kun bangkit berdiri dari kursinya, lalu cepat mengemasi barang-barangnya. Diambang pintu ia menoleh. "Karena memang Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itulah yang hendak kujumpai di Teluk Po-hai! Nah....... Saudara Toan, aku pergi dahulu! Terima kasih atas keteranganmu." Toan Hoa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang akan dilakukan pemuda itu di pesta pernikahan Ketua Tiam-jong-pai nanti. Baginya, kelakuan dan sikap Liu Yang Kun selama itu betul-betul sulit diduga.

"Ia masih sangat muda, tapi kesaktiannya sangat luar biasa, sehingga namanya ikut tercantum di dalam Buku Rahasia yang menghebohkan itu. Entah apa hubungannya dengan Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu sehingga dia hendak menemuinya."

Demikianlah kedua sahabat itu lalu berpisah jalan. Toan Hoa dan anak buahnya pulang ke kota Sin-yang, sedangkan Liu Yang Kun meneruskan perjalanannya ke kota Cin-an. Toan Hoa dan anak buahnya melaju dengan kuda dan gerobak-gerobak mereka, sementara Liu Yang Kun melangkah ke tepian sungai untuk mencari tumpangan perahu nelayan.

'Aku tidak memiliki uang sepeserpun. Lalu.......bagaimana aku harus membujuk para nelayan itu agar mereka mau membawa aku ke kota Cin-an?" pemuda itu memutar otaknya, "Aoaah, aku akan mengatakan kepada mereka bahwa aku bersedia membantu apa saja asal mereka mau membawa aku ke kota Cin-an."

An-lei memang hanya kota kecil, sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama Liu Yang Kun telah sampai di perkampungan nelayan. Sebuah perkampungan yang padat penghuninya. Jorok dan kotor. Sungguh berlawanan sekali dengan keadaan di dalam kota yang bersih dan rapi.

Liu Yang Kun terpaksa mengernyitkan hidungnya, karena bau amis dan busuk menyengat jalan napasnya, sementara ribuan lalat tampak berterbangan di sekelilingnya. Dan pemuda itu segera menghela napas pula ketika terlihat olehnya beberapa orang anak kecil mengais-ngais sisa makanan di sebuah warung kecil. Wajah mereka tampak sangat menderita, dengan tubuh kurus dan baju yang sudah tak layak lagi untuk dipergunakan sebagai penutup tubuh mereka.

Salah seorang diantaranya mereka tampak berlari mendekat ketika melihat Liu Yang Kun. Tangannya segera teracung untuk minta sedekah.

"Berilah kami sekeping uang, tuan....... sudah dua hari kami tak makan....." rintihnya memelas.

Beberapa saat lamanya Liu Yang Kun tak bisa berkata-kata. Matanya memandang termangu-mangu kepada bocah cilik bernasib ma lang itu. Tapi apa dayanya kalau ia sendiri juga tidak punya uang sepeserpun?

"Ah, maafkan aku, dik..........Aku sendiri......." desahnya berat seraya merogoh kantung bekalnya yang ia tahu tidak
ada apa-apanya itu.

Tapi betapa kagetnya pemuda itu ketika jari-jarinya menyentuh sebuah kocek uang diantara lipatan baju kulit ularnya. Bahkan kocek uang itu tidak cuma sebuah, tapi dua buah malah. Dan setiap koceknya penuh dengan uang logam, sehingga terdengar gemerincing ketika tersentuh tangannya.

"Hah......?" pemuda itu berseru kaget.

Karena merasa penasaran maka Liu Yang Kun segera membuka buntalannya. Dan matanya segera terbelalak. Diantara lipatan baju kulit ularnya tampak dua buah kocek uang dan.........surat yang diterimanya dari pelayan penginapan itu!

"Oh, ini...... ini.....?" gumamnya bingung.

Tentu saja anak kecil itu menjadi terheran-heran pula melihat tingkah laku Liu Yang Kun yang kebingungan itu. "Tu-tuan.....?" ujarnya serak, namun sudah cukup untuk menyadarkan Liu Yang Kun.

"Ah, ya.......ya......nih, terimalah!" pemuda itu cepat menyahut serta mengambil dua keping uang tembaga untuk diberikan kepada anak kecil itu.

Setelah itu Liu Yang Kun cepat-cepat pergi meninggalkan tempat itu. Sambil me langkah ia tak henti-hentinya berpikir tentang uang dan surat tersebut.

"Hmm....... tentu Toan Hoa yang menaruh uang itu di kantung bekalku. Siapa lagi kalau bukan dia? Dialah yang berada di kamarku sewaktu aku mandi pagi tadi," gumamnya.

Lalu sambil menarik napas panjang ia meneruskan kata-katanya, "....... Tapi dengan demikian aku bisa membayar perahu untuk mengantar aku ke Cin-an sekarang. Ah! Cuma........ bagaimana dengan surat yang kuterima melalui pelayan rumah penginapan tadi? Ehmm..... Kong-tee-bio.......ketika bulan mulai muncul."

Liu Yang Kun berhenti melangkah, lalu mendongak ke atas. Ia mencari Bukit Kapur itu.

"Dimanakah bukit itu berada?" gumamnya lagi perlahan-lahan.

Seorang lelaki kurus kering tampak melintas di samping Liu Yang Kun. Di atas punggungnya  ertumpuk onggokan jala dan peralatan untuk mencari ikan yang lain. Begitu beratnya beban itu sehingga langkahnya terhuyung-huyung seperti orang mabuk. Kebetulan ketika  melewati Liu Yang Kun, kaki orang itu terantuk batu.

"Eeiit......!" orang itu menjerit.

Tubuhnya terpelanting, sehingga barang bawaannya juga terlempar dari punggungnya.

Hup! Otomatis Liu Yang Kun melompat menangkap barang-barang itu. Juga sekalian menyambar pula baju orang itu agar tidak terjatuh.

"Hati-hati, paman....... Beban ini sebenarnya terlalu berat bagimu. Hmm......marilah kutolong membawanya. Kemanakah paman hendak membawanya? Ke sungai?" tegurnya bersahabat.

Lelaki itu mengangguk dengan napas terengah-engah. Wajahnya pucat, sementara rasa kagetnya juga kelihatan belum hilang dari hatinya. "Te-terima kasih, t-ttuan!” bisiknya
dengan bibir gemetar.

Sambil berjalan membawakan alat perlengkapan perahu itu, Liu Yang Kun mengajak lelaki kurus itu bercerita. Ternyata orang itu memang seorang nelayan. Seorang nelayan miskin yang menggantungkan kehidupannya hanya pada mata-pencahariannya mencari ikan. Maka sudah biasa bagi nelayan kurus itu untuk meninggalkan keluarganya selama berhari-hari di rumah, sementara dia sendiri menyusuri sungai itu sampai di kota Cin-an. Demikian pula yang hendak dilakukannya sekarang. Semua perlengkapan perahu itu akan dipasangnya di perahu kecilnya, karena malam nanti ia akan berangkat pula ke Cin-an.

"Ke Cin-an.......? Oh...... sungguh kebetulan sekali! Akupun hendak mencari tumpangan perahu pula ke sana. Paman, bolehkah aku menumpang perahumu? Jangan khawatir, aku akan membayar ongkosnya......!" Liu Yang Kun hampir bersorak saking gembiranya.


"Ah...... tentu saja boleh. Tapi tuan tak perlu membayarnya. Aku sudah cukup uang untuk memberi bekal kepada keluargaku nanti," nelayan kurus itu cepat menolak pemberian Liu Yang Kun.

"Tapi.........?" Ketika Liu Yang Kun hendak memaksa agar nelayan itu mau menerima uangnya, tiba-tiba seorang anak lelaki berlari menubruk nelayan tersebut. Kemudian terdengar bocah itu menangis terisak-isak.

"Ayah......huk..... uang itu.....huk.....uang itu..........." Nelayan kurus itu terkejut. Tangannya mencengkeram pundak bocah itu.

"Cepat katakan! Ada apa dengan uang itu? Hilang?" hardiknya dengan suara cemas.

Bocah kecil itu mengangkat wajahnya. Dipandangnya mata ayahnya dengan sinar mata yang terus mengalir di pipinya. Tampak benar kalau bocah itu sangat ketakutan.

"Uang itu... uang itu di-di-di-rampas..... oleh kawanan Si Bongkok !" anak itu melapor dengan terbata-bata.

"Oooh....... habis sudah semuanya! Gagal lagi rencanaku malam ini......." nelayan kurus itu tiba-tiba meratap. Badannya terhuyung-huyung dan tentu akan segera jatuh kalau tidak disambar oleh Liu Yang Kun.

Pemuda itu cepat meletakkan barang bawaannya, kemudian menolong si nelayan kurus yang hendak pingsan itu. Penduduk yang melihat kejadian itu segera berdatangan pula. Mereka ikut menolong nelayan itu. Beberapa orang di antara mereka segera menanyakan sebab-sebabnya.

"Uang tabungan ayahku telah dirampas oleh kawanan Si Bongkok. Padahal ayah telah mengumpulkannya selama sebulan ini.” anak kecil itu bercerita.

"Siapakah Si Bongkok itu?" Liu Yang Kun ikut bertanya pula. Namun tiba-tiba kata-katanya terhenti. Dengan mata terbeliak kaget ia berseru, "Hei......kau? Bukankah kau anak yang kuberi uang tembaga tadi?"

Anak kecil itu menjadi kaget pula. la juga tidak menyangka bahwa orang yang bersama ayahnya itu adalah orang yang telah memberinya uang tadi.

"Si Bongkok adalah pemimpin kawanan perusuh yang sering berkeliaran di kota An-lei ini. Bahkan gerombolannya itu sering mengganggu para penduduk di sekitar kota ini pula. Dan pagi ini tampaknya Si Bongkok benar-benar amat parah. Sejak terang tanah tadi telah kudengar ia menyebar keonaran dimana-mana. Mungkin ia mau membalas dendam." salah seorang dari orang-orang yang berkumpul di tempat itu memberi jawaban.

"Balas dendam .....?" Liu Yang Kun menegaskan.

"Ya! Tadi malam belasan orang kawan mereka telah dibunuh mati oleh seorang kakek tua beserta cucu perempuannya." orang itu menjawab pula.

"Mengapa para petugas keamanan tidak mau memberantas si Bongkok dan gerombolannya itu?”

"Petugas keamanan? Ah...... jumlah mereka tidak cukup banyak untuk melawan gerombolan itu. Para petugas keamanan cenderung untuk membiarkan saja tingkah laku kawan perusuh itu, asalkan para perusuh itu tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat keterlaluan, seperti
membunuh, merampok dan mengganggu anak bini orang."

"Kalau mereka itu ternyata membunuh orang juga? Apa yang akan dilakukan oleh para petugas keamanan itu?"

"Pejabat keamanan di kota ini akan meminta bala bantuan dari kota Cin-an. Tapi hal yang demikian itu jarang sekali terjadi, karena si Bongkok itu sedikit-sedikit juga punya otak pula. Dia tak mau menjadi buronan selama berbulan-bulan hanya karena salah tangan membunuh orang.”

Demikianlah, beberapa waktu kemudian si nelayan kurus itu telah pulih kembali kesehatannya. Dia tidak jadi membawa barang-barangnya ke sungai, sebaliknya dia minta diantar kembali ke rumahnya. Liu Yang Kun yang sudah terlanjur membawakan barang-barangnya itu terpaksa ikut pula mengantarkannya.

Rumah si nelayan kurus itu sungguh mengenaskan sekali.Gubug reyot itu lebih tepat disebut kandang kelinci dari pada rumah tempat tinggal untuk manusia. Sedangkan isteri si nelayan kurus tampak lebih tua dari pada usia sebenarnya. Kurus dan menderita. Sementara anaknya yang berjumlah lima orang itu juga kelihatan pucat dan kekurangan pula. Isteri si nelayan kurus itu sangat terkejut melihat kedatangan suaminya. Tapi para tetangganya segera memberi tahu apa yang telah terjadi pada suaminya.

"Oooooooh.....I" wanita itu berdesah sedih. Otomatis lengannya memeluk anak-anaknya. Tampak benar kalau hatinya sangat terpukul oleh berita itu. Dipandangnya anak-anaknya yang terbesar, yang telah menghilangkan uang tabungan keluarganya itu dengan mata berkaca-kaca.

Setelah memberikan kata-kata hiburan mereka satu persatu orang-orang yang mengantarkan si nelayan kurus itu meninggalkan gubug reyot tersebut. Mereka itu sama miskinnya dengan si nelayan kurus, sehingga mereka juga hanya bisa menghibur saja.

"Paman......? Apakah kau tidak jadi berangkat malam nanti?" setelah semuanya pergi Liu Yang Kun mendekat dan bertanya kepada si nelayan kurus.

Dengan wajah sedih dan putus asa nelayan kurus itu menggelengkan kepalanya. Matanya tampak berlinang-linang ketika memandang isteri dan anak-anaknya.

"Maaf, Tuan......Bagaimana aku bisa pergi kalau uang itu sudah hilang? Apa yang hendak dimakan keluargaku kalau aku pergi selama berhari-hari nanti? Aku harus mengumpulkan uang dulu bila hendak meninggalkan mereka."

Liu Yang Kun menghela napas panjang. Hatinya terharu melihat penderitaan keluarga miskin itu.

"Sungguh tak kusangka masih demikian banyak orang yang menderita di negeri ini. Hmmm...... tampaknya masih banyak pula yang harus dikerjakan oleh Hong-siang untuk memperbaiki nasib rakyat." pemuda itu berkata di dalam hati.

"Lebih baik tuan mencari tumpangan perahu yang lain saja........." terdengar si nelayan kurus itu memberi saran kepadanya.

"Tidak, paman. Kalau cuma uang yang menjadi masalahmu, aku dapat menggantinya. Kita akan tetap berangkat malam ini. Eh, berapa uang yang hilang itu, dik?" Liu Yang Kun tersenyum, lalu berpaling kepada bocah yang telah menghilangkan uang itu dan bertanya ramah.

"S-satu tail, Tuan....." anak kecil itu menjawab agak takut.

"Heh? Cuma setail......?" Liu Yang Kun berseru kaget.

"Be-benar....." Si nelayan kurus dan anaknya menjawab berbareng.

Liu Yang Kun betul-betul tidak habis mengerti. Satu tail untuk menghidupi enam jiwa manusia selama lebih dari sepekan? Bagaimana mungkin itu? Lalu apa yang harus mereka makan dengan uang sekecil itu? Masakan mereka harus makan rumput seperti binatang piaraan mereka? Tetapi dengan demikian Liu Yang Kun semakin merasa kasihan terhadap keluarga itu. Diambilnya sebuah dari kantong uang pemberian Toan Hoa itu. Di dalamnya ada puluhan keping uang perak dan tembaga, yang jumlahnya tentu lebih dari seratus tail.

"Paman, uang ini kuberikan kepadamu. Pergunakanlah dia untuk memperbaiki nasib keluargamu." Liu Yang Kun berkata seraya menyerahkan kantung uang tersebut.

Si nelayan kurus dan isterinya terbelalak. Apalagi ketika mereka menerima kantung uang itu dan membukanya. Mereka justru menjadi gemetar karena kaget. Mereka mengawasi tumpukan uang perak dan tembaga itu seakan-akan tak percaya.

"T-t-t......... tuan? Eh-oh.......eh-oh.....ini....ini.... Uang ini….uang ini tuan berikan kepada kami semua?"

"Ya! Apakah belum cukup?"

Tiba-tiba si nelayan kurus dan isterinya menjatuhkan diri berlutut di depan Liu Yang Kun.

"Ah.... ini..... ini justru terlalu banyak buat kami. Kami belum pernah melihat uang sebanyak ini dalam hidup kami." suami-isteri itu menyahut dengan suara gemetar.

"Nah..... kalau begitu terimalah ! Dan jangan lupa, nanti malam kita jadi berangkat ke Cin-an. Tapi sebelum berangkat aku ingin kau mengantar aku ke suatu tempat......."

"Terima kasih, tuan .... Terima kasih. Tapi kemana tuan hendak pergi?" Si nelayan kurus bertanya dengan wajah cerah. Tampak benar kalau hatinya menjadi sangat bergembira.

Liu Yang Kun menatap wajah isteri nelayan kurus itu untuk beberapa saat lamanya. Kemudian katanya perlahan, namun sangat jelas. "Aku hendak pergi ke bekas reruntuhan kuil Kong-tee-bio. Kau tahu tempat itu?"

Tak terduga wajah si nelayan kurus itu tiba-tiba menjadi pucat kembali.

"Ja-jangan.....tuan! Tuan jangan ke sana! Temannya banyak sekali, tuan akan dikeroyok nanti." katanya ketakutan.

Kini ganti Liu Yang Kun yang terperanjat. "Eh.... apa maksudmu? Siapakah yang temannya banyak sekali itu?" serunya tak mengerti.

Si nelayan kurus melongo. "Si Bongkok.....! Bukankah tuan hendak bertemu dengan Si Bongkok itu?" serunya pula.

"Si Bongkok? Apakah Si Bongkok itu tinggal di Kuil Kong-tee-bio?"

Si nelayan kurus itu cepat mengangguk. "Benar, tuan. Dia dan anak buahnya memang tinggal di sana,” jawabnya semakin heran.

Liu Yang Kun mengerutkan dahinya. Dia yang semula tidak ingin campur tangan di dalam urusan Si Bongkok itu justru menjadi heran mendengar keterangan si nelayan kurus itu. Ada hubungan apa antara Si Bongkok dengan orang yang mengundangnya itu? Apakah orang yang menamakan dirinya 'teman lama' itu Si Bongkok pula? Tapi siapakah Si Bongkok itu? Rasa-rasanya ia tidak mempunyai kenalan atau teman yang bertubuh bongkok atau bernama Si Bongkok selama ini. Tapi dengan demikian urusan tersebut justru semakin menambah perasaan ingin tahunya malah. Hal yang sangat kebetulan itu sungguh amat menggelitik hatinya. Ia ingin segera melihat, siapa sebenarnya Si Bongkok atau orang yang menyebut dirinya 'teman lama' itu?

"Bagaimana, paman? Kau sanggup mengantarkan aku ke sana, bukan? Jangan takut, karena aku takkan mengajakmu memasuki kuil itu! Kau boleh kembali setelah menunjukkan tempat itu kepadaku. Aku sendiri yang akan pergi ke sana." akhirnya ia berkata.

Demikianlah setelah seharian penuh membantu si nelayan kurus mempersiapkan perahunya, maka sore harinya Liu Yang Kun lalu berangkat ke kuil Kong-tee-bio. Di sepanjang jalan si nelayan kurus selalu mencoba membujuk dia agar ia mau mengurungkan niatnya untuk menjumpai Si Bongkok.

"Sudahlah, paman...... engkau tak perlu mencemaskan aku. Aku akan berusaha menjaga diri sebaik-baiknya. Dan boleh kau ketahui pula, bahwa kedatanganku ke sana bukan untuk berurusan dengan Si Bongkok, melainkan dengan seorang teman. Teman lamaku sendiri." Liu Yang Kun menenangkan hati kawannya.

"Teman lama.....? Oooh.......tuan mempunyai teman diantara kawanan perusuh  itu.......?"

Liu Yang Kun tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan itu. Pemuda itu justru me lihat ke arah langit sebelah timur, dimana bulan purnama nanti akan muncul. Terdengar suara napasnya yang panjang ketika pemuda itu menyadari bahwa hari masih terlalu siang. Matahari bahkan belum seluruhnya tenggelam, sinarnya yang kemerahan masih tampak menyala di sebelah barat.

Mereka berdua terus saja melangkah ke arah timur menjauhi kota An-lei. Mereka menerobos perkampungan-perkampungan penduduk yang padat di luar kota itu. Dan beberapa waktu kemudian mereka telah melewati dusun yang terakhir, untuk kemudian mereka mulai melangkah di atas tanah persawahan yang diselang-seling dengan padang rumput dan pegunungan.

Dan haripun telah menjadi gelap ketika mereka memasuki tanah-tanah yang berbukit. Tiba-tiba si nelayan kurus berhenti.

“Kenapa, paman? Kita telah sampai di tempat itu?" Liu Yang Kun bertanya.

Si nelayan kurus mengangguk. "Y -y-a.....! Itu di......di lereng Bukit Kapur! Tuan lihat bangunan kuil yang sudah rusak itu? Itulah bekas Kuil Kong-tee-bio!" bisiknya serak seraya menunjuk ke arah kejauhan, dimana terlihat tanah berbukit-bukit berwarna keputihan.

Liu Yang Kun memandang ke tempat yang ditunjuk si nelayan kurus. Dengan ketajaman matanya pemuda itu bisa melihat sebuah bangunan kuil yang besar dan luas, namun sudah separuhnya yang rusak. Bangunan itu dapat dilihat dengan jelas karena terletak di tempat yang tinggi, sementara di sekitarnya hanya ada batu-batu kapur yang berserakan. Tempatnya sangat lapang dan sama sekali tiada pepohonan, sehingga bangunan itu tampak seperti sebuah puri yang angker dan menakutkan.

Sekali lagi Liu Yang Kun memandang ke langit. Dilihatnya sinar rembulan mulai mengintip di balik bukit. "Waktunya sudah akan tiba. Aku datang tepat pada waktunya," pemuda itu berkata di dalam hatinya.

"Tuan.....? Apa..... apakah  tuan tetap akan pergi ke sana?" si nelayan kurus bertanya pula. Suaranya mulai gemetar, suatu tanda bahwa rasa gentar juga sudah mulai merayap pula di hatinya.

Liu Yang Kun tersenyum, "Tentu saja. Paman boleh pulang sekarang. Nantikanlah aku di atas perahu paman! Setelah urusanku di kuil itu selesai, aku akan cepat-cepat kembali. Kita terus berangkat ke kota Cin-an."

"Baiklah, tuan...... aku akan kembali. Tapi kumohon tuan mau berhati-hati. Saya tidak ingin menunggu tuan dengan sia-sia di atas perahuku."

Liu Yang Kun mengangguk dengan perasaan berterima kasih atas perhatian si nelayan kurus kepadanya. Setelah itu dia me langkah menaiki tanah berbukit kapur itu dengan waspada. Siapa tahu orang yang mengundangnya itu telah berada di sekitar tempat tersebut dan sekarang sedang mengawasi dirinya?

Suasana di tempat itu benar-benar sangat lengang, sunyi dan gelap. Jalan pun juga tidak rata, sehingga Liu Yang Kun harus sering berloncatan dari batu ke batu untuk mendekati bangunan kuil itu.

“Tampaknya dulu juga dibangun jalan menuju ke kuil itu. Tapi jalan itu sudah rusak sekarang. Bahkan di beberapa tempat tadi telah berubah menjadi jurang, tempat air hujan mengalir dari atas bukit."

Kira-kira empatpuluh tombak dari bangunan kuil itu Liu Yang Kun berhenti. Bangunan itu benar-benar besar dan luas. Tetapi temboknya sudah banyak yang roboh, terutama tembok halamannya sehingga bangunan pendapanya yang megah itu tampak jelas dari tempatnya berdiri.

"Kata nelayan tadi Si Bongkok dan anak buahnya tinggal di sana. Tapi mengapa aku tidak melihat bayangan seorang manusiapun di tempat itu? Mengapa mereka juga tidak memasang lampu penerangan barang sebuahpun? Apakah mereka benar-benar telah menunggu kedatanganku di sana? Hmmm...... aku harus berhati-hati. Aku mencium sesuatu yang kurang beres di tempat ini."

Tiba-tiba Liu Y ang Kun teringat pada 'kemampuan anehnya’ yang selama ini jarang sekali ia pergunakan. Yaitu kemampuan yang setarap dengan ilmu Lin-cui-sui-hoat (ilmu tidur di atas permukaan air) milik Toat-beng-jin, seorang tokoh Aliran Im-Yang-kauw. Kemampuan yang ia maksudkan itu adalah kemampuan untuk 'melihat' sesuatu yang belum tampak oleh matanya, yaitu dengan mempergunakan ketajaman hati, perasaan, pendengaran dan penciumannya. Sebuah ilmu tingkat tinggi yang hanya dapat dipelajari oleh seorang pertapa yang telah benar-benar mengesampingkan urusan duniawinya.

Liu Yang Kun lalu menyilangkan kedua tangannya di dadanya. Matanya terpejam. Pikiran dan perasaannya terpusat menjadi satu. Perlahan-lahan ia mengerahkan kemampuan dan kekuatan batinnya untuk 'melihat' sesuatu yang mencurigakan di sekitarnya.

Mula-mula semuanya tampuk gelap gulita. Tapi sejalan dengan terkumpulnya kekuatan yang ia miliki, bayangan yang tercipta di dalam batinnya pun juga semakin terang pula. Sedikit demi sedikit ia memperoleh gambaran tentang bangunan kuil yang telah mulai rusak itu.

"Oooooh.....!" pemuda itu tiba-tiba berdesah.

Tidak tampak sesosok bayangan manusiapun di dalam reruntuhan kuil itu. Semua ruangannya kosong melompong. Hanya ada bekas-bekasnya saja bahwa tempat itu sering dipakai orang. Belasan tempat tidur darurat seperti tikar, tumpukan jerami dan papan kayu tampak berserakan di segala tempat. Sementara beraneka macam bentuk senjata juga tampak bergantungan pula di atas dinding-dindingnya.

"Mengapa tak seorangpun yang bersiap untuk menyambutku di kuil itu? Dimanakah orang yang mengundang aku itu? Dan kemana pula orang-orang Si Bongkok yang katanya bertempat tinggal di reruntuhan kuil itu? Heran.....!" Mendadak Liu Yang Kun terkejut. Ketika ia memusatkan seluruh pikiran dan perasaannya ke bagian belakang kuil itu, ia 'melihat’ belasan orang lelaki tertumpuk di dalam gudang bekas tempat menyimpan kayu bakar. Semuanya dalam keadaan lemas dan tak berdaya. Malah beberapa orang di antaranya tampak terluka.

"Ooooh!"

Liu Yang Kun lalu menghentikan pemusatan ilmunya. Bergegas ia melangkah menuju ke kuil itu. la menjadi penasaran dan ingin segera membuktikan apa yang tampak di dalam pemusatan ilmunya tadi.

Benar juga. Tak seorangpun tampak di dalam kuil itu. Pemuda itu hanya menemukan secarik kertas di atas meja reyot yang berada di tengah-tengah pendapa tersebut. Di atas kertas itu tertulis beberapa huruf, yang berbunyi:

Maaf, saudara Chin, aku terpaksa mengingkari janji. Sesuatu yang sangat gawat telah terjadi di dunia persilatan kita. Aku sedang berusaha untuk menyelidikinya. Kau pergilah ke kota Cin-an. Mungkin kita bisa bersua di sana. Sekali lagi aku minta maaf.

Teman lama.

"Sesuatu yang gawat.......? Apakah itu?" Liu Yang Kun bergumam.

Karena tak bisa menduga apa yang dimaksudkan oleh orang misterius itu, maka Liu Yang Kun lalu melangkah ke halaman belakang. Ia langsung menuju ke bekas gudang penyimpanan kayu itu.

"Ohhhhh.....,.. ! " pemuda itu tertegun.

Benar juga apa yang tersirat di dalam ilmunya tadi. Gudang yang sudah rusak itu penuh dengan tubuh manusia yang saling bertumpang tindih. Semuanya di dalam keadaan lemas tak berdaya. Dan salah seorang diantaranya, yang berada di dekat pintu, adalah seorang lelaki separuh baya. Tubuhnya agak gemuk, kakinya pendek-pendek dan punggungnya bongkok.

"Si Bongkok dan anak buahnya....."

Liu Yang Kun berdesah kaget. Kemudian dengusnya pula, "Siapakah yang telah menghajar kawanan penjahat ini? Apakah orang yang mengaku sebagai teman lamaku itu pula?"

Beberapa saat lamanya Liu Yang Kun tertegun di tempatnya. Ia tak tahu, apa yang harus ia kerjakan terhadap kawanan penjahat tersebut. Apakah ia harus menolong mereka atau membiarkan saja mereka itu di sana?

"Hmm, baiklah......Aku akan membebaskan Si Bongkok itu. Siapa tahu dia bisa memberi keterangan kepadaku, siapa sebenarnya 'teman lamaku' itu?” akhirnya pemuda itu memutuskan.

Liu Yang Kun lalu berjongkok di dekat Si Bongkok. Jari-jarinya yang penuh tenaga itu menotok beberapa titik jalan darah di tubuh pimpinan penjahat tersebut. Setelah itu tangannya dengan cepat mengurut pula di beberapa bagian tubuh yang lain.

"Uh!" Si Bongkok mengeluh, kemudian bergerak. Jalan darahnya telah kembali normal seperti sediakala.

"Bangkitlah!" Liu Yang Kun berdesah.

Pimpinan penjahat yang sering mengganggu penduduk kota An-lei itu lalu menggeliatkan badannya, kemudian berdiri. Wajahnya yang pucat itu menengadah, matanya tampak gelisah ketika memandang Liu Yang Kun. Memang di dalam pantulan cahaya bulan yang terang benderang itu perbawa Liu Yang Kun tampak angker dan berwibawa.

"Terima kasih, Tai-hiap," desisnya gemetar, lalu menundukkan kepalanya seperti orang yang telah mengakui segala kesalahannya.

Liu Yang Kun menarik napas panjang. Matanya meredup.

"Kau Si Bongkok yang sering mengganggu penduduk di sekitar tempat ini, bukan? Dengarlah.....! Sebenarnya aku tak peduli apa yang telah terjadi padamu dan pada kawan-kawanmu ini. Tetapi aku sependapat dengan orang yang telah menghukum kalian seperti ini. Orang itu tidak membunuh kalian, tapi hanya memberi peringatan agar kalian tidak melakukan tindakan-tindakan yang tercela lagi. Dan orang itu cuma akan membunuh bila di kelak kemudian hari ia mendengar engkau dan kawan-kawanmu melakukan kejahatan kembali."

Liu Yang Kun menghentikan kata-katanya sebentar. Kemudian sambil membalikkan badannya pemuda itu mengerahkan tenaga dalamnya. Tiba-tiba dengan telapak tangan terbuka ia mendorong ke arah dinding halaman yang jaraknya ada lima tombak dari tempatnya berdiri itu. Whuuuuuuuus......! Brrooooooool!

Tembok itu terguncang dan berderak runtuh oleh angin pukulan itu. Si Bongkok ternganga. Dan otomatis hatinya semakin menjadi ciut. Apa yang dilakukan oleh Liu Yang Kun itu memang sebuah pameran kekuatan yang tiada tara. Hanya orang-orang yang memiliki tenaga dalam sempurna saja yang bisa berbuat seperti itu.

"Lihatlah! Akupun dapat berbuat seperti itu pula kepadamu apabila pada suatu saat menjumpai engkau berbuat kejahatan lagi," pemuda itu mengancam.

Si Bongkok cepat-cepat menjatuhkan dirinya di depan Liu Yang Kun. Dengan suara ketakutan ia berjanji untuk tidak mengulangi semua perbuatan jahatnya lagi. Ia berjanji akan membubarkan kawan-kawannya dan kembali hidup baik-baik di tempat asalnya.

"Baiklah untuk sementara aku percaya kepadamu. Tapi semuanya itu masih harus dibuktikan dulu. Sekarang aku hendak bertanya tentang hal lain. Ehm...... apakah kau mengenal orang yang telah menangkap kau dan kawan-kawanmu itu?"

Si Bongkok menengadah. Mula-mula matanya memancarkan sinar bingung dan tak mengerti. Namun sesaat kemudian kepalanya lalu menggeleng lemah.

"Maaf, Tai-hiap...... aku be-belum mengenalnya. Aku dan kawan-kawanku juga baru melihatnya siang tadi. Dia..., dia masih muda, bertubuh tinggi dan berpakaian seperti sastrawan........." jawabnya gemetar.

Tampak benar kalau penjahat itu sangat ketakutan ketika bercerita tentang sastrawan yang menghukumnya siang tadi, sehingga Liu Yang Kun memperoleh kesimpulan bahwa 'teman lamanya’ itu tentulah seorang yang sangat hebat dan mengerikan pula kepandaiannya. Apalagi menyaksikan sikap Si Bongkok yang selalu tampak cemas dan gelisah begitu selesai memberikan jawabannya. Beberapa kali orang itu menoleh ke kanan dan ke kiri, melirik ke arah kegelapan malam di sekitarnya, seakan-akan dia merasa takut kalau-kalau lawannya itu akan datang kembali.

Liu Yang Kun tersenyum. "Hmm......apa sebenarnya yang telah ia lakukan kepadamu?” katanya kepada penjahat itu.

"Jangan takut.........!" tambahnya pula ketika dilihatnya orang itu semakin menjadi ketakutan.

"Orang itu.... orang itu......eh, kelihatannya seperti bukan manusia. Dia....... dia bisa menghilang seperti hantu. Tahu-tahu...... kami semua roboh di atas lantai pendapa!” ucap Si Bongkok kemudian dengan suara gugup.

"Hmmmh!" Liu Yang Kun mendengus penasaran karena ia semakin tak bisa menerka, siapa sebenarnya orang yang mengaku sebagai teman lamanya itu.

“Tai-hiap…. ?" Si Bongkok berdesah parau. Matanya memandang Liu Yang Kun, kemudian berpaling ke arah kawan-kawannya.

Sekali lagi Liu Yang Kun mendengus. "Aku takkan menolong kawan-kawanmu itu. Biarlah mereka terbebas dengan sendirinya. Kau tunggulah saja mereka sampai tengah malam nanti. Tapi kau harus ingat janjimu tadi. Kalau kelak aku masih menjumpaimu melakukan kejahatan lagi, hmm..... aku benar-benar tidak akan memberi ampun!" Setelah merasa cukup memberi peringatan kepada Si Bongkok, Liu Yang Kun segera melesat pergi dari tempat itu. Pemuda itu sengaja mengerahkan Bu-eng Hwe-teng sepenuhnya, untuk memberi kesan bahwa ia pun sanggup 'menghilang' pula seperti sastrawan itu.

Memang benar. Si Bongkok itu tiba-tiba melongo ketakutan tatkala melihat Liu Yang Kun lenyap begitu saja dari depannya!

"Oh! Han...... hantu......?" bibirnya berbisik parau.

Demikianlah, setelah batal bertemu dengan orang yang mengundangnya, Liu Yang Kun lalu kembali ke perahu si nelayan miskin lagi. Dari jauh pemuda itu telah melihat si nelayan miskin berdiri menantikannya.

"Tuan......? Tuan telah kembali? Oh, betapa gembiranya hatiku.........! Bagaimana dengan kawanan Si Bongkok itu?" hampir bersorak si nelayan itu menyambut kedatangan Liu Yang Kun.

"Paman.....?" pemuda itu berseru pula.

Tiba-tiba pemuda itu menghentikan kata-kata yang hendak diucapkannya ketika mendadak matanya melihat dua orang asing di atas perahu si nelayan miskin itu. Dua orang lelaki, yang satu sudah tua bermata buta, sedang yang lain masih muda namun buruk rupa. Begitu buruk wajah si anak muda itu sehingga Liu Yang Kun cepat-cepat melengos dan tak tahan untuk menatapnya berlama lama.

Tampaknya si nelayan miskin itu memaklumi kecanggungan hati Liu Yang Kun. Bergegas ia memperkenalkan kedua orang asing itu kepada Liu Yang Kun.

"Tuan, perkenalkan kedua orang tamu kita ini. Mereka juga akan ikut kita ke kota Cin-an. Mereka adalah kakek dan cucu dari Keluarga Lo di kota Cin-an….”

Liu Yang Kun terpaksa mengangguk untuk membalas penghormatan kedua orang itu, namun di dalam hatinya pemuda itu sudah merasa curiga kepada mereka. Perasaannya mengatakan bahwa mereka itu tidak beres dan sedang melakukan sesuatu yang tersembunyi. Tapi tentu saja Liu Yang Kun tidak mau memperlihatkan kecurigaannya tersebut. Pemuda itu cuma diam saja dan pura-pura tidak menaruh perhatian kepada mereka.

Bulan telah berada hampir di atas kepala mereka. Angin bertiup perlahan, mengusap layar perahu yang telah dipasang oleh si nelayan miskin, sehingga perahu itu melaju pula dengan perlahan. Suara kecipak air yang menghantam dinding perahu terasa lembut pula di telinga, membuat Liu Yang Kun tak tahan untuk tidak memejamkan matanya.

Perahu itu tidak begitu besar, sehingga ruangannyapun juga tidak seberapa luas pula. Lebarnya tidak lebih dari dua meter, sementara panjangnya juga tidak lebih dari pada tujuh atau delapan meter. Namun demikian perahu itu tampak ramping dan gesit bila dibandingkan dengan perahu-perahu lain yang rata-rata berbentuk besar dan gemuk.

Si nelayan miskin kelihatan sibuk mempersiapkan jaring-jaringnya di haluan, sementara Liu Yang Kun yang ingin beristirahat itu tampak merebahkan dirinya di atas tumpukan kain layar yang belum terkembang. Pemuda itu sama sekali tak peduli kepada kakek Lo dan cucunya yang duduk di belakang kemudi. Dibiarkannya kedua orang itu mengemudikan jalannya perahu itu.

Hanya kadang-kadang saja pemuda itu melirik ke arah mereka. Namun lirikan itupun hanya  sekejap pula, karena pemuda itu benar-benar tak tahan menyaksikan 'wajah yang rusak’ dari cucu kakek Lo itu. Di dalam keremangan malam yang sunyi seperti saat itu, wajah anak muda tersebut benar-benar lebih menyeramkan dari pada hantu sendiri. Bukan cuma gigi-giginya yang besar dan mencuat lebih panjang dari pada bibirnya itu saja yang sangat menakutkan, tapi juga separuh wajahnya yang menghitam seperti jamur bangkai itu pula yang membuat hati Liu Yang Kun menjadi seram.

Oleh karena itu Liu Yang Kun lebih suka memandang ke sekitar perahu, dimana beberapa buah perahu yang lain tampak melaju pula ke arah utara, seakan-akan perahu-perahu itu saling berlomba untuk lebih dahulu tiba di kota Cin-an. Sedangkan para penumpangnya, yang semuanya juga nelayan pencari ikan, tampak sibuk pula mempersiapkan alat-alat penangkap ikan mereka.

Liu Yang Kun menarik napas panjang, kemudian memejamkan matanya. Pemuda itu merasa mengantuk dan ingin tidur barang sebentar, udara basah yang tertiup disela-sela pakaiannya membuat pemuda itu segera terlena ke dalam mimpi, sehingga si nelayan miskin yang hendak memasang layarnya itu terpaksa mengurungkan niatnya. Orang tua itu tak ingin mengusik tamunya yang baik hati itu.

Ketika angin bertiup agak kencang, maka perahu-perahu yang lainpun segera melaju meninggalkan perahu si nelayan miskin.

"Paman......! Mengapa kau tidak memasang layar seperti mereka?" tiba-tiba cucu kakek Lo yang buruk rupa itu menegur.

"Ah....... nanti saja! Biarlah mereka itu berangkat lebih dulu. Lebih baik kita mengambil jarak dengan mereka. Peralatan mereka lebih baik dari peralatanku. Aku tidak akan memperoleh hasil seekor ikanpun bila menjala ikan di dekat mereka. Lagi pula............ehm.....aku tak tega membangunkan tuan pendekar yang baik hati itu." si nelayan miskin itu menjawab seraya melirik Liu Yang Kun.

Si buruk muka itu mendengus tak senang. "Siapa bilang engkau tak akan mendapatkan hasil yang banyak bila berdekatan dengan mereka? Peralatanmu tidak terlalu kalah dengan mereka. Asalkan kau lebih pandai menebarkan dan menarik jalamu, kutanggung hasilmu justru akan lebih banyak dari pada mereka. Ayoh, jangan takut! Aku akan membantumu. Bangunkan saja tuan pendekar itu! Suruh dia tidur di tempat lain!" geramnya bersemangat sehingga air ludahnya menyembur kesana kemari.

"Wah.....mana aku berani? Tuan itu sangat baik kepadaku. Lagi pula keberangkatanku ke kota Cin-an ini juga atas kehendak dan jasa baik tuan pendekar itu pula. Bagaimana aku berani mengusik dia?" Si nelayan miskin membantah tak senang.

"Huh! Apakah karena dia telah membayarmu? Bukankah sejak semula aku juga bersedia membayarmu berapa saja? Mengapa...?" Si buruk rupa itu menggeram lagi.

“A Hek...... sudahlah! Mengapa kau selalu tidak bisa menyabarkan hatimu?" tiba-tiba kakek Lo menegur cucunya.

Si nelayan miskin itupun lalu mendengus pula. Hatinya semakin tidak suka kepada Si Buruk Rupa yang ingin memaksakan kehendaknya itu. Padahal sejak semula ia tidak mau ditumpangi mereka. Tapi Si Buruk Rupa itu tetap memaksanya juga, sehingga akhirnya ia terpaksa memperbolehkan mereka menumpang perahunya. Dan ia menolak pemberian mereka. Bahkan ia mengajukan syarat kepada mereka, yaitu mereka tidak boleh menganggu pekerjaannya. Tapi sekarang Si Buruk Rupa itu mulai mengganggunya!

"Bukankah tuan telah berjanji untuk tidak menggangguku?" Si Nelayan Miskin mencoba mengingatkan janji mereka.

"Persetan dengan janjimu! Bangunkan orang itu dan pasanglah layarnya ! Apakah engkau ingin melihat aku menyeret dia dari tempatnya itu?" si Buruk rupa itu membentak dengan suaranya yang parau.

"A Hek....! Mengapa kau tidak mau bersabar juga?" Kakek Lo memperingatkan cucunya lagi. Kali ini suaranya agak sedikit keras.

"Kakek......?" Si Buruk Rupa itu mencoba membantah kata-kata kakeknya.

"Hmh!” tiba-tiba Liu Yang Kun terbatuk.

"Tuan.......?" Si Nelayan Miskin berdesah kaget lalu bergegas menghampiri pemuda itu.

Liu Yang Kun menggeliatkan tubuhnya, kemudian bangkit berdiri. "Pasanglah layarmu, paman! Aku sudah cukup beristirahat. Biarlah aku ke haluan untuk membantu kau memasang jaring."

"Tuan.....! Kau....kau.... beristirahatlah! Aku.... aku....tidak......"

"Sudahlah! Tidak baik berbantah di atas perahu ini.Memang benar sekali apa yang dikatakan oleh kakek itu. Kita harus bisa menyabarkan hati kita sendiri." Liu Yang Kun bergumam seperti kepada dirinya sendiri.

"Huh..... lagaknya! Mentang-mentang bernama besar, lalu bersikap acuh dan meremehkan orang lain." Si Buruk Rupa bersungut-sungut mendengar sindiran itu.

Liu Yang Kun tertegun. Kakinya berhenti melangkah. Namun demikian pemuda itu tidak menjawab atau menoleh sama sekali. Pemuda itu cuma menghela napas berat seraya mengangguk-anggukkan kepalanya. Di dalam hatinya pemuda itu memahami situasi yang dihadapinya.
"Benar juga dugaanku tadi. Orang itu sedang melakukan sesuatu yang tersembunyi. Mungkin mereka sedang memata matai aku. Mereka tahu siapa aku. Sebaliknya..... aku tidak tahu siapa mereka. Hmmh! Aku harus meningkatkan kewaspadaanku."

Sementara itu kakek Lo telah menarik lengan cucunya. Orang tua itu tampak menjadi marah sekali karena peringatannya tidak diindahkan oleh Si Buruk Rupa.

"A Hek! Kau masih mau mendengarkan kata-kataku tidak? Kalau tidak........hmmhh, aku akan pergi! Kita berpisah saja sampai disini!" dampratnya gusar.

Di dalam kemarahannya kakek Lo tampak membuka kelopak matanya, sehingga kedua lobang matanya yang kosong melompong itu kelihatan sangat mengerikan.

"Kakek.....!" tiba-tiba Si Buruk Rupa itu menjerit dan menghambur ke dalam pelukan kakeknya.

Untuk sesaat Liu Yang Kun menjadi kaget mendengar jeritan A Hek. Mengapa suara Si Buruk Rupa itu menjadi sangat nyaring? Demikian hebat dan tinggikah Iwee-kangnya? Otomatis pemuda itu membalikkan tubuhnya. Dipandangnya kedua orang cacat itu baik-baik. Terutama Si Buruk Rupa yang bernama A Hek itu.

Tapi pemuda itu tidak menemukan keanehan pada diri mereka. Selain cacat muka pada diri A Hek dan cacat mata pada kakek Lo, semuanya tampak biasa-biasa saja. Oleh karena itu Liu Yang Kun lalu membalikkan badannya lagi dan meneruskan langkahnya ke haluan. Pemuda itu lalu membantu si nelayan miskin memasang jalanya.

"Tuan.....?" nelayan itu mencoba mencegahnya.

"Sudahlah, paman. Kau pasanglah layarnya ! Biarlah aku yang mengerjakan jala-jala ini .........."

Demikianlah, malam semakin larut. Tengah malam pun telah berlalu pula. Angin semakin kencang bertiup, sehingga perahu kecil itu pun juga semakin cepat pula menyibakkan gelombang air sungai tersebut. Akibatnya jaring mereka juga mengembang dengan baik, sehingga ikan pun juga mulai banyak yang terjaring dan terperangkap di dalam jala mereka. Si nelayan miskin menjadi heran, tapi juga sangat bergembira pula. Belum pernah selama ini ia memperoleh hasil sedemikian cepat dan mudahnya seperti sekarang. Kali ini seolah-olah ia ditolong oleh Dewa Keberuntungan dengan menggiring semua ikan-ikan di sungai itu ke dalam jaringnya.

"Bukan main......oh.....bukan main! Tuan, lihatlah! Banyak benar ikan yang kita peroleh malam ini, hehehe !" Si nelayan miskin bersorak gembira seraya menumpahkan isi jalanya ke dalam lantai perahu.

Ikanpun segera berserakan, menggelepar dan berloncatan di lantai perahu. Ada yang kecil, tapi ada juga yang besar.Semuanya tampak segar-segar, sehingga menimbulkan selera untuk memakannya.

"Paman.....! Aku menjadi lapar melihatnya. Bagaimana kalau kita menyiapkan makan dengan lauk ikan itu?” Liu Yang Kun mengajukan usul sambil menelan ludahnya.


 Memburu Iblis 21                                                                               Memburu Iblis 23