Rabu, 22 Februari 2017

PENDEKAR PENYEBAR MAUT 44



Jilid 44

DAN pertempuran itu menjadi semakin kejam dan ganas tatkala orang-orang seperti Siang-hou Nio-nio, Siangkoan Ciangkun dan para pengawal mereka ikut pula terjun dalam kancah perebutan harta karun tersebut. Korbanpun segera berjatuhan. Darah segera mengalir membasahi lantai pendapa yang licin itu.

Keh-sim Siau-hiap sudah tidak bisa mencegah orang-orang itu lagi. Pendekar itu bersama-sama teman dan pengikutnya segera terdesak ke pinggir menjauhi kursi emas itu sementara orang-orang yang telah kalap tersebut sudah mencapai kursi emas dan saling memperebutkannya.

"Kraaak…….!”

Dengan suara keras kursi itu patah dan tercabik-cabik menjadi beberapa bagian kecil-kecil. Dan bagian-bagian yang kecil itupun lalu rebutan pula diantara mereka.

“Saudara Kwee, marilah kita tinggalkan pendapa ini ! Sudah amat sulit untuk mengatasi orang-orang kalap itu ! Mereka tidak akan mau berhenti sebelum mereka berhasil atau mati !"
Souw Thian Hai berbisik di telinga Keh-sim Siau-hiap.

"Tapi......." Keh-sim Siau-hiap masih ragu-ragu.

"Ko-ko…..!" Ho Pek Lian berdesah pula seraya memegang lengan kekasihnya. “Saudara Souw memang benar. Kita tak perlu melibatkan diri dengan mereka. Biarlah mereka saling berebut sisa emas itu. Marilah kita semua keluar.....!"

"Tapi emas itu hendak kugunakan untuk membangun tanggul sungai di hulu Sungai Wei-ho……" Belum juga pendekar itu menyelesaikan perkataannya, tiba tiba Siang In datang tergopoh-gopoh mendekati mereka.

"To-cu ! Pulau ini sudah dikepung oleh pasukan kerajaan di bawah pimpinan Gui Goanswe ! Ratusan buah perahu telah berlabuh di seluruh pantai pulau ini. Katanya mereka hendak menangkap seorang bekas Putera Mahkota Chin yang ikut menyusup diantara tamu-tamu kita." gadis itu melapor.

“Heh.......? Bekas Putera Mahkota Chin ?” Keh-sim Siauhiap berseru kaget, lalu menoleh ke tempat di mana Sianghou Nio-nio dan rombongannya tadi berada.

Tapi sulit sekaIi menemukan mereka. Tempat itu telah menjadi ajang pertempuran dahsyat untuk memperebutkan potongan-potongan kursi emas itu.

"Baiklah! Mari kita semua keluar menemui Gui Goan-swe!" akhirnya Keh-sim Siau-hiap berkata.

Kemudian pemilik Pulau Meng-to itu mendahului keluar, diikuti oleh para pembantunya dan sahabat-sahabatnya. Hong-gi-hiap Souw Thian Hai menempatkan dirinya di barisan paling belakang bersama Chu Bwee Hong dan Souw Lian Cu.

Pendekar sakti itu tampak tenang sekali dan tidak tergesa gesa. Sambil melangkah, beberapa kali pendekar sakti itu menangkis atau meruntuhkan senjata atau am-gi yang meluncur ke arah rombongannya. Atau kadang-kadang pendekar sakti itu sengaja memperlihatkan kesaktiannya dengan membiarkan saja am-gi dan senjata itu mengenai tubuhnya.

Benarlah. Di tepian pantai yang berpasir lembut itu telah berbaris ribuan prajurit kerajaan, lengkap dengan senjata dan panji-panji mereka. Di dalam keremangan sinar bintang di langit, barisan itu bagaikan pagar manusia yang mengelilingi Pulau Meng-to.

Kedatangan Keh-sim Siau-hiap dan rombongannya segera disambut oleh beberapa orang perwira dan prajurit pengawal. Seorang perwira setengah umur bersama dua prajurit pengawalnya, maju ke depan menghentikan langkah mereka.

"Berhenti! Siapakah kalian?" perwira itu membentak.

Keh-sim Siau-hiap menyuruh rombongannya berhenti, lalu ia maju pula ke depan.

"Siau-te Keh-sim Siau-hiap, pemilik pulau ini. Siapakah Ciang-kun ini? Dan mengapa malam-malam begini berkunjung kemari ? Apakah ada sesuatu urusan penting yang tidak bisa ditunda-tunda lagi?"

Perwira setengah umur itu kelihatan terperanjat.

"Oh...... Keh-sim Siau-hiap rupanya. Maaf! Maaf........!" perwira itu tiba-tiba menjura. Lalu sambil menoleh ke arah prajuritnya perwira itu berbisik, "Lekas kalian melapor kepada Gui Goan-swe, bahwa Keh-sim Siau-hiap telah keluar menemui kita !"

"Baik, Ciang-kun !" kedua prajurit tersebut memberi hormat, lalu berlari pergi.

"Ah, sekali lagi kami semua minta maaf kepada Siau-hiap, karena kami telah mengejutkan Siau-hiap dan seluruh isi pulau ini. Biarlah nanti Gui Goan-swe sendiri yang memberi penjelasan kepada Siau-hiap, kenapa secara mendadak kami berkunjung ke pulau ini...” sambil menantikan kedatangan jendralnya, perwira itu berkata lagi.

"Oh...... jadi kedatangan Ciang-kun dan para prajurit ini bersama-sama dengan Gui goanswe?
Bagus! Bagus! Memang sudah lama siau-te tidak pernah berjumpa dengan Gui goanswe.Sungguh kebetulan sekali kalau begitu.......”

Tidak lama kemudian Gui Goan-swe datang dengan kudanya. Meskipun sudah tua jendral itu belum juga kehilangan ketangkasannya. Belum juga kudanya berhenti, jendral itu telah melompat turun dengan lincahnya.

"Hei........ Siau-hiap ! Apa khabar?" begitu tiba jendral tua itu segera memeluk dan menepuk-nepuk punggung Keh-sim Siau-hiap. "Sudah lama kita tak bertemu. Kita bertemu yang terakhir kali....... kalau tak salah.....di kota raja, yaitu ketika Hong-siang berkenan memberi tanda penghargaan kepada Siau-hiap itu, bukan? Ha-ha-ha...... benar! Benar!"

Keh-sim Siau-hiap tersenyum juga melihat kehangatan Gui Goan-swe itu.

“Ah..... Goan-swe! Siau-te justru merasa kikuk dan malu kalau teringat peristiwa itu. Tidak seharusnya siau-te memperoleh penghargaan yang begitu tingginya dari Hong siang, siau-te cuma berdiri saja di belakang tembok, orang lainlah yang melaksanakannya." pendekar itu merendahkan diri.

"Hei, kenapa begitu? Justru itulah yang penting. Tanpa Siau-hiap yang mengatur dan memimpin mereka, apa yang dapat mereka hasilkan? Lihatlah para prajurit kerajaan ini.Tanpa perwira dan pimpinan yang pandai, mereka tak ubahnya seperti penyamun yang tercerai-berai."

"Ah, benar......!" Keh-sim Siau-hiap pura-pura kaget, "Semula Siau-te memang mengira ada perampok yang datang untuk menghancurkan tempat kediamanku ini. Eh, tak tahunya…. Goan-swe yang datang. Maaf, siau-te terlambat menyambutnya."

“Wah.... Siau-hiap menyindir kami." Gui Goan-swe tertawa.

Lalu katanya lagi dan kini dengan suara bersungguh-sungguh.

"Siau-hiap......! Kedatangan kami ini memang sangat mendadak sekali, sehingga kami tidak sempat lagi memberi kabar kepada Siau-hiap. Soalnya di dalam penyelidikan kami, kami memperoleh petunjuk bahwa bekas Putera Mahkota Chin yang lari bersembunyi di Pegunungan Kun-lun itu, malam ini telah berlayar ke Pulau Meng-to bersama-sama para pembantunya. Malahan di antara mereka itu terdapat pula Siangkoan Ciangkun dan para perwiranya, yaitu para perwira kerajaan yang membangkang dan memberontak di kota Sin-yang beberapa hari yang lalu. Hmm...... benarkah berita yang kami dengar itu, Siau-hiap?"

Keh-sim Siau-hiap memang tak bermaksud untuk menutup nutupi peristiwa yang terjadi di tempat kediamannya itu. Oleh karena itu ia lantas bercerita apa adanya dan apa yang kini sedang berlangsung di Pendapa Utamanya.

"Siau-te tak hendak menghalang-halangi niat Goan-swe untuk menangkap bekas Putera Mahkota itu. Tapi sebelumnya Siau-te hendak memohon kemurahan hati Goan-swe, yaitu agar Goan-swe mau melindungi pulau dan isinya ini dari kehancuran. Sebab, hanya pulau sunyi inilah satu-satunya tempat siau-te berlindung selama ini. Dan selain itu, siau-te juga hendak memberi sedikit peringatan kepada Goan-swe, yaitu agar Goan-swe berhati-hati menghadapi bekas Putera Mahkota Chin itu, karena di antara mereka itu terdapat pula Yap Lo-cianpwe, Beng Lo-cianpwe dan Siang-hou Nio-nio." pendekar itu berkata halus.

"Ahh, terima kasih Siau-hiap. Kami memang tak bermaksud untuk merusak tempat kediaman
Siau-hiap ini. Oleh karena itu kami akan bertanggung jawab penuh atas segala kerusakan akibat pertempuran kami nanti. Dan sekali lagi kami ucapkan terima kasih atas peringatan Siau-hiap tadi. Kami memang telah mengetahui pula akan beradanya ketiga tokoh besar itu di samping bekas Putera Mahkota Chin itu. Oleh karenanya kami juga telah mempersiapkan pula beberapa orang anggota Sha-cap-mi wi untuk menghadapi mereka.......”

"Sukurlah kalau Goan-swe telah tahu. Hmm........ kalau begitu kami akan menghindar dari pulau ini untuk sementara waktu. Siau-te serahkan seluruh pulau ini kepada Goan-swe dan........ eh, benar ...... Siau-te belum memperkenalkan para sahabat baikku ini. Mereka adalah........”

"Ah, sudahlah ! Kami sudah mengenal mereka semua. Siau-hiap boleh membawa mereka keluar pulau ini. Bukankah mereka ini Hong-gi hiap Souw Thian Hai dan sahabat sahabatnya
yang terkenal itu? Apa lagi di sini ada Nona Ho Pek Lian pula, mana kami berani mencurigai mereka? Ha ha ha........" Gui goan-swe cepat memotong.

"Terima kasih kalau begitu........"

Demikianlah, rombongan Keh-sim Siau-hiap itu lalu pergi ke pantai dan meninggalkan pulau itu dengan naik perahu. Karena sudah mendapatkan perintah dari Gui Goan-swe, maka tak seorangpun dari ribuan prajurit itu yang menghalangi kepergian mereka. Para prajurit itu justru membantu mempersiapkan perahu mereka dan mendorongnya ke laut.

Beberapa saat lamanya Keh-sim Siau-hiap tetap memandangi Pulau Meng-to yang mereka tinggalkan. Ada sedikit keharuan di hati pendekar itu, seolah-olah pendekar itu telah merasa bahwa ia takkan kembali lagi ke sana. Pendekar itu baru tersenyum kembali tatkala Pek Lian menyentuh lengannya. "Ko-ko, apakah yang sedang kaupikirkan?” gadis itu bertanya perlahan. Keh-sim Siau-hiap menatap wajah kekasihnya itu dengan mesra, lalu menggelengkan kepalanya.

"Tidak ada yang kupikirkan, moi-moi. Aku hanya merasa agak terharu, karena pulau itu pernah menjadi tempatku mengenang dan memikirkan kau selama delapan tahun lebih......”

"Ah, kau ini......!" Ho Pek Lian pura-pura mengomel seraya mencubit lengan Keh-sim Siau-hiap.

“Itukan salahmu sendiri ! Mengapa kau tak mau berusaha mencari aku selama ini ? Bukankah semuanya akan lekas menjadi beres kalau kau bisa bertemu dengan aku ?"

"Hei! Hei! Bagaimana aku berani menemuimu kalau di saat perpisahan kita dulu saja sikapmu demikian dinginnya terhadapku?" Keh-sim Siau-hiap berbisik menggoda.

"Huh! Siapa yang bersikap dingin kepadamu? Kaulah yang salah mengira. Hmm……itulah kalau jejaka kurang pengalaman ! Aku sebenarnya tidak bersikap dingin pada waktu itu, tapi......... aku sedang bingung ! Tahu ?!?" Ho Pek Lian menjawab dengan mulut cemberut.

"Baiklah! Baiklah........! Akulah yang saat itu tidak bisa melihat keadaan. Maafkanlah ........!" Keh-sim Siau-hiap mengalah.

Ho Pek Lian tersenyum sambil menatap wajah Kwee Tiong Li. Diam-diam gadis itu menjadi kasihan melihat bekas-bekas penderitaan di wajah kekasihnya itu.

"Ko-ko, maafkanlah aku.........! Aku tidak bersungguh-sungguh. Aku cuma bergurau denganmu. Akulah yang dulu bersalah kepadamu. Akulah kini yang seharusnya meminta maaf kepadamu. Ko-ko....., maukah kau memaafkan aku ?”

Kwee Tiong Li atau Keh-sim Siau-hiap menundukkan kepalanya dan menatap wajah kekasihnya dengan mesra. Dan kemudian untuk beberapa saat lamanya mereka saling menatap tanpa berkedip. Kedua telapak tangan mereka saling remas satu sama lain. Mereka tampak berbahagia sekali, dan remasan jari-jemari mereka itu seolah-olah merupakan sebuah ikrar, bahwa mereka berdua takkan ingin berpisah lagi selamanya.

Ternyata kebahagiaan tersebut tidak hanya dirasakan oleh Keh-sim Siau-hiap dan Ho Pek Lian saja. Siang In dan gadis-gadis pembantu Keh-sim Siau hiap lainnya, yang selama ini selalu melayani keperluan pendekar itu, ternyata juga kelihatan berbahagia pula menyaksikan kebahagiaan mereka.

Mata para gadis itu saling melirik satu sama lain, untuk kemudian saling menyembunyikan senyum mereka di balik saputangan masing-masing.Begitu pula dengan para sahabat Keh-sim Siau-hiap yang lain. Kelihatannya saja mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri-sendiri, padahal secara diam-diam mata mereka melirik dengan wajah gembira pula.

"Sukurlah, Thian telah mempertemukan mereka kembali........" Kwa Siok Eng berbisik di telinga Chu Seng Kun.

"Kau benar, kekasihku......... Akupun merasa gembira sekali melihat mereka. Dan perasaan gembiraku ini rasa-rasanya juga terdorong oleh perasaan bahagiaku melihat Chu Bwee Hong telah mendapatkan kembali kebahagiaannya........" Chu Seng Kun mengangguk haru seraya menatap punggung adiknya yang berdiri berjajar dengan Souw Thian Hai di anjungan perahu.

Memang. Chu Bwee Hong kelihatan berbahagia sekali malam itu. Wajahnya tampak cerah, bibir selalu tersenyum, sehingga wajahnya yang memang cantik luar biasa itu semakin tampak gilang gemilang ditimpa sinar bintang di langit. Sebentar-sebentar gadis ayu itu melirik ke arah Souw Thian Hai, kekasihnya.

Demikianlah, semuanya tampak bergembira dan berbahagia. Kalaupun ada yang tak bergembira, orang itu tak lain hanyalah Souw Lian Cu sendiri. Gadis remaja itu kelihatan termenung sendirian di pinggir perahu. Sambil bertelekan di pagar perahu gadis itu memandang air laut yang kehitam-hitaman di bawahnya. Sekali-sekali terdengar tarikan napasnya yang berat.

Begitu banyaknya penumpang di dalam perahu besar berukuran sepuluh tombak itu, namun demikian gadis ini masih tetap merasakan kesepian juga. Dan bila sesekali terpandang wajah Keh-sim Siau-hiap, gadis itu lantas teringat pula akan wajah seorang pemuda tampan bertubuh jangkung yang selalu mengusik hatinya.

"Aku telah mengundangnya pula untuk datang ke Pulau Meng-to hari ini. Apakah ia lupa bahwa hari ini adalah tanggal lima yang telah kujanjikan itu ? Apakah ia memang tak ingin datang untuk mewakili pihak Kim-liong Piauw-kiok seperti yang pernah dikatakannya dulu itu ? Aaaaaah.......!" Souw Lian Cu berpikir dan berdesah berulang-ulang.

Lalu gadis itu mencoba untuk menilai dan membaca perasaan hatinya sendiri. Adakah kepulangannya ke Meng-to kali ini benar-benar karena memenuhi panggilan dan karena ingin membantu Keh-sim Siau-hiap ? Apakah kedatangannya kali ini bukan karena ingin bertemu Chin Yang Kun, dan untuk selanjutnya menguji kepandaian pemuda yang secara diam-diam telah menarik hatinya itu? Selanjutnya Souw Lian Cu mencoba pula untuk melihat serta menilai sikapnya terhadap pemuda itu selama ini.

"Selama ini aku selalu acuh tak acuh dan dingin setiap kali bertemu atau berdekatan dengan dia. Kadang-kadang aku malah menunjukkan sikap tak suka dan benci kepadanya. Apakah sebenarnya yang menyebabkan semua itu ? Benarkah aku ini tak suka dan benci kepadanya? Bukankah sebenarnya aku tak mempunyai alasan untuk membencinya? Bukankah dia pemuda yang baik dan tak pernah berbuat jelek terhadapku ? Lalu apa sebabnya aku lantas membencinya? Ohhh....... rasa-rasanya semua itu hanya satu jawabannya, yaitu.......karena aku telah jatuh cinta kepadanya ! Hmm...... benar! Semua itu karena hati kecilku telah tertarik kepada pemuda itu, padahal saat itu pikiranku sedang kalut memikirkan Keh-sim Siau-hiap.
Maka masuknya pemuda itu ke dalam pintu hatiku itu kuanggap sebagai godaan dan beban yang semakin memberatkan jiwaku. Oleh karena itu aku lantas menjadi uring-uringan tanpa sebab dan membencinya tanpa alasan, padahal semuanya itu bersumber pada rasa marah dan rasa benciku terhadap diriku sendiri, karena aku telah tertarik dan jatuh cinta kepadanya. Ouhhhh…..”

Tak terasa butir-butir air mata menetes dari sudut mata Souw Lian Cu. Gadis itu menjadi kaget sendiri, dan dengan tergesa-gesa lalu menghapusnya dengan sapu tangannya. Kemudian sambil berpura-pura mengusap rambutnya yang tergerai ditiup angin laut, gadis itu menatap jauh ke depan.

Sedikit demi sedikit kegelapan yang menyelubungi udara di atas permukaan air laut itu kian sirna, dan kemudian diganti dengan sinar terang dari matahari yang mulai mengintip di balik cakrawala. Angin lautpun mulai tenang sehingga gelombang airpun tidak sebesar tadi.

“Ohh....... betapa hangatnya sinar matahari pagi !" Tiat-tung Lo-kai menarik napas seraya menggeliatkan badannya ke kanan dan ke kiri.

"Ya ! Tapi..... hei ! Lihat ! Ada perahu datang........!" tiba-tiba Tiat-tung Hong-kai menunjukkan jarinya ke depan.

Semua orang yang ada di dalam perahu itu tersentak kaget. Mereka lantas memandang ke arah mana ketua perkumpulan Tiat-tung Kai-pang daerah utara itu menunjukkan jarinya.

"Ah, benar ....... Perahu kecil dengan seorang penumpang. Hmm, siapakah dia ?" Chu Seng Kun cepat menyahut pula.

"Wah! Paling-paling juga seorang nelayan. Bukankah kita telah mendekati daratan Tiongkok?" Tiat-tung Lo-kai menjawab.

Perahu yang datang itu tampak seperti sebuah kotak kayu kecil yang hanyut di tengah-tengah lautan. Dari kapal Keh-sim Siau-hiap yang besar, perahu kecil itu kelihatan dengan jelas terombang-ambing dan timbul-tenggelam dipermainkan ombak.

“Haaaaaiii........!" begitu melihat kapal Keh-sim Siau-hiap, orang yang berada di atas perahu kecil itu berteriak dan mendayung perahunya lebih giat lagi.

"Hei....... siapakah dia? Hebat benar tenaga dalamnya!"

Tiat-tung Hong-kai bergumam seraya berdiri mendekati Tiat tung Lo-kai.

"Entahlah! Kita nantikan saja dia......!"

Sebentar saja perahu kecil itu telah datang, lalu dengan mahirnya orang itu memotong arus air yang diakibatkan oleh kapal Keh-sim Siau-hiap, dan merapatkan perahunya dari arah belakang.

"Heiii....... siapa di atas?" orang itu mendongakkan kepalanya dan berteriak kembali.

Keh-sim Siau-hiap dan sahabat-sahabatnya, berbondong bondong menuju ke pagar kapal, sehingga kapal besar itu sedikit miring karenanya. Mereka segera menjenguk ke bawah untuk melihat siapa yang datang.

"Chin Yang Kun........!" semuanya berdesah kaget.

"Yang Kun...........!" Souw Lian Cu yang masih tetap melekat di pagar perahu itu juga berdesah pula.

"Eeehh.......!" tiba-tiba Chin Yang Kun berseru kaget pula.

Ternyata pemuda itu juga tidak mengira sama sekali kalau hendak berjumpa dengan mereka di tempat itu. Pemuda itu hanya menduga bahwa kapal besar tersebut tentu datang dari Pulau Meng-to. Dan maksudnya menghampiri kapal besar tersebut adalah untuk menanyakan keadaan di Pulau Meng-to malam itu.

"Saudara Yang Kun, kaukah itu? Marilah naik.......!” Kehsim Siau-hiap berseru.

"Eh....... anu, apakah.......... apakah Souw Tai-hiap ada di atas pula?" mendadak Chin Yang Kun menjadi gugup ketika melihat wajah Souw Lian Cu di antara orang-orang di atas kapal besar itu.

"Aku ada di sini, Saudara Yang ! Apakah kau mencari aku?"

Souw Thian Hai menyeruak maju dan menjengukkan kepalanya pula.

“Ya....... ya! Ada sesuatu yang hendak siau-te sampaikan kepada Tai-hiap......" Chin Yang Kun cepat-cepat menjawab.

"Kalau begitu, naiklah.......!" Souw Thian Hai mempersilakan seraya melemparkan tali ke bawah.

"Terima kasih!"

Chin Yang Kun menangkap tali tersebut, kemudian mengikatkan ujungnya di tiang perahunya. Setelah itu dengan ringan dan gesit pemuda itu melompat ke atas kapal Keh-sim Siau-hiap. Dan Keh-sim Siau-hiap sendiri bersama kawan kawannya segera mundur pula untuk memberikan tempat.

Begitu menginjakkan kakinya di atas kapal Chin Yang Kun  lantas menjura ke sekelilingnya.

"Maafkanlah siau-te kalau siau-te mengganggu cu-wi sekalian......" pemuda itu berseru perlahan. Lalu katanya lagi seraya menghadap ke arah Keh-sim Siau-hiap, "Siau-hiap, sebenarnya siau-te hendak berkunjung ke Meng-to untuk menemui Souw Tai-hiap. Tapi sungguh kebetulan sekali siaute sudah bisa menjumpainya di sini. Eh...,, anu, bolehkah siau-te menjumpainya sekarang?"

Keh-sim Siau-hiap mengerutkan keningnya. Sebenarnya pendekar dari Meng-to itu agak curiga terhadap Chin Yang Kun, apalagi bila melihat baju dan celana Chin Yang Kun yang bernoda darah itu. Namun karena pemuda itu berkehendak untuk bertemu dengan Souw Thian Hai, pendekar itu tak bisa menolak atau menghalang halanginya.

Siapa tahu mereka berdua mempunyai urusan pribadi ? Dan siapa tahu pula mereka hendak berbicara tentang Souw Lian Cu ? Oleh karena itu Keh-sim Siau-hiap segera mengajak kawan kawannya yang lain untuk menyingkir.

"Ohhh.... silakan ! Tapi,,..... nanti aku juga ingin berbicara sebentar dengan Saudara Yang, yaitu tentang......... dendam Saudara Yang tempo hari."

"Ah........ benar ! Keh-sim Siau-hiap, maafkanlah siau-te......! Siau-te telah menemukan pelaku pembantaian itu, dan siau-te telah membalasnya ! Hmm........ maafkanlah kekurangajaranku beberapa hari yang lalu, Siau-te benar benar ceroboh telah menduga yang tidak-tidak terhadap Siau-hiap........” Chin Yang Kun buru-buru memotong perkataan Keh-sim Siau-hiap.

"Hei ? Jadi ..... Saudara Yang telah dapat menemukan orang itu ? Oh, siapakah dia......?” Keh-sim Siau-hiap berseru kaget.

Mendadak wajah Chin Yang Kun berubah. Sinar kekecewaan kembali memancar dari sorot matanya.

"Orang itu adalah....... Hek-eng-cu! Dan…. Tanganku……tanganku telah membunuhnya !" pemuda itu menjawab dengan suara hampa dan tak bergairah, seolah olah pemuda itu justru menjadi kecewa dan menyesal telah dapat membalaskan dendam keluarganya.

Tentu saja perubahan sikap dan wajah pemuda itu tak luput dari perhatian Keh-sim Siau-hiap dan kawan-kawannya.

"Hek-eng-cu........? Jadi orang itu adalah Hek-eng-cu yang sangat terkenal itu ? Dan orang itu telah mati di tangan Saudara Yang?" Keh-sim Siau-hiap berseru seakan-akan tak percaya.

Demikian pula dengan orang-orang yang berada di atas kapal besar itu. Kata-kata yang diucapkan oleh Chin Yang Kun itu seperti geledek di telinga mereka, dan tak seorangpun dari mereka yang percaya pada ucapan pemuda itu.

Hek-eng-cu adalah tokoh besar yang berkepandaian amat tinggi, dan mungkin justru lebih tinggi dari pada Keh-sim Siau-hiap sendiri. Oleh karena itu sungguh mustahil kalau pemuda itu bisa membunuhnya.

Tapi Chin Yang Kun tak peduli dengan keragu-raguan orang di sekelilingnya. Dengan acuh tak acuh pemuda itu membuka buntalan yang dibawanya.

"Justru kedatangan siau-te ini juga ada hubungannya dengan orang itu. Karena sebelum menghembuskan napasnya yang penghabisan, Hek-eng-cu telah minta tolong kepada siau-te untuk mengembalikan benda-benda pusaka peninggalan Bit-bo-ong ini kepada Hong-gi-hiap Souw Thian Hai.”

"Oooh !"

“Ooh........!”

Tiba-tiba semuanya melangkah mundur begitu melihat benda-benda mengerikan yang telah memakan banyak korban itu. Hanya Souw Thian Hai saja yang tidak beranjak dari tempatnya. Dengan wajah tegang pendekar sakti mengawasi Chin Yang Kun.

"Kau....... kau telah membinasakan iblis keji itu ? Kau tidak berbohong?”

Chin Yang Kun menggeleng lemah.

"Siau-te tidak berbohong. Siau-te memang benar-benar telah membunuhnya. Tapi...... tapi....ahh, sudahlah ! Biarkanlah siau-te pergi sekarang......." Chin Yang Kun menjawab lemah lalu melangkah kembali ke pinggir kapal.

Dan ketika melewati Souw Lian Cu pemuda itu tampak tersipu-sipu sedih.

"Maafkanlah aku, Nona Souw........" katanya lirih.

Lalu pemuda itu meloncat kembali ke dalam perahunya. Sekali lagi ia menoleh ke atas, kemudian mengayuh perahunya cepat-cepat pergi dari tempat itu. Sungguh berbeda sekali sikapnya sekarang dengan ketika ia datang tadi.

Semua kejadian itu berlangsung dengan cepat dan tidak terduga sama sekali. Semuanya masih tertegun di tempat masing-masing. Dan begitu mereka tersadar kembali, Chin Yang Kun telah berlayar jauh meninggalkan kapal mereka, pemuda itu kembali menuju ke daratan Tiong-kok lagi.

"Yang Kun, tungguuuu ........!" tiba-tiba mereka dikejutkan lagi dengan adanya jeritan Souw Lian Cu.

Dan sebelum semuanya sadar apa yang telah terjadi, Souw Lian Cu telah mengambil sebuah perahu kecil yang terikat di atas buritan, dan melemparkannya ke dalam air. Gadis itu segera meloncat ke bawah, lalu mendayung perahu kecil itu kuat-kuat untuk mengejar perahu Chin Yang Kun.

"Nona Souw.....!” Keh-sim Siau-hiap memanggil.

"Lian Cu.......!" Souw Thian Hai dan Chu Bwee Hong berteriak pula.

"Aaaagh !” yang lain berdesah kaget dan bingung.

Tapi gadis itu telah jauh meninggalkan kapal mereka. Dan demikian pula halnya dengan perahu Chin Yang Kun. Sebentar saja perahu mereka telah hilang di balik gelombang air laut yang tinggi.

"Oh, Hai-ko.......! Bagaimana dengan Lian Cu nanti?" Chu Bwee Hong mengeluh.

Souw Thian Hai menghela napas panjang. "Sudahlah, dia bukan anak kecil lagi! Biarlah ia
menemukan jalannya sendiri........!”

"Tapi......... tapi aku kurang begitu percaya kepada pemuda itu. Sikapnya amat aneh dan mengkhawatirkan. Aku takut jangan-jangan Souw Lian Cu nanti......"

"Ah, sudahlah ! Sudahlah.......! Kau jangan berpikir yang bukan-bukan ! Lebih baik kita berdoa saja untuk keselamatan Lian Cu." Souw Thian Hai berkata sambil memeluk pundak
Chu Bwee Hong.

Lalu pendekar sakti itu mengambil buntalan yang diberikan oleh Chin Yang Kun tadi. Keragu-raguannya tentang Chin Yang Kun seketika lenyap. Benda benda itu memang benar-benar pusaka mendiang Bit-bo-ong yang diambil secara licik oleh Hek-eng-cu beberapa tahun yang lalu.

"Tampaknya pemuda itu memang tidak berbohong. Ini betul-betul pusaka Bit-bo-ong asli. Sungguh hebat sekali kepandaian pemuda itu. Baru sekarang kudengar ilmu warisan Bit-bo-ong dikalahkan orang.......” Souw Thian Hai bergumam seperti kepada dirinya sendiri.

"Tapi ...... bukankah Saudara Souw juga pernah mengalahkan duplikat Bit-bo-ong yang meraja-lela di dunia kang-ouw pada sepuluh tahunan yang lalu ?" Keh-sim Siau-hiap yang mendengar kata-kata Souw Thian Hai itu cepat cepat memotong.

Souw Thian Hai menoleh dan tersenyum kecut. "Tidak. Bukan itu yang kumaksudkan. Bagi aku dan seluruh keluarga Souw, ilmu warisan Bit-bo-ong ini sudah bukan barang yang aneh dan asing lagi, karena diantara Bit-bo-ong dan kami sebenarnya masih sekeluarga. Apalagi Duplikat Bit-bo-ong yang kubunuh itu juga masih terhitung adik seperguruanku sendiri. Berbeda dengan Hek-eng-cu itu. Dia terbunuh oleh seseorang yang tidak mempergunakan ilmu keluargaku ...„,,.Oleh karena itu tadi kukatakan bahwa baru sekarang ini kuketemukan ilmu warisan Bit-bo-ong itu dikalahkan orang."

"Aaah !" semuanya menarik napas panjang.

Demikianlah, selagi semua orang membicarakan dirinya, ternyata Chin Yang Kun sendiri telah pergi jauh meninggalkan mereka. Perahu kecil yang ditumpanginya itu meluncur cepat
dibawa angin. Sesekali terlihat pemuda itu merentangkan lengannya dan menghirup udara pagi sebanyak-banyaknya.

Keretakan dan kehancuran hatinya akibat kekecewaan hidup yang dihadapinya, membuat pemuda itu merasa segan untuk kembali lagi ke dunia ramai. Apalagi pemuda itu merasa sudah menyelesaikan semua tugas-tugas pokok yang diberikan oleh ayahnya. Hanya beberapa hal saja yang belum ia laksanakan. Itupun karena sejak semula ia memang tak berhasrat untuk melakukannya, yaitu mencari Cap Kerajaan, menghimpun kekuatan dan merebut kembali kekuasaan Wangsa Chin.

"Aku tak ingin menjadi Kaisar. Apalagi untuk menjadi kaisar aku harus...... merebutnya dari tangan Liu...,.. Liu........ ah!” pemuda itu tak bisa melanjutkan keluhannya.

Pemuda itu lalu menatap ke sekelilingnya. Dilihatnya ombak yang bergulung-gulung di sekitarnya. Dinikmatinya suara kecipak air yang menghantam badan perahunya. Lalu  dikaguminya pula gumpalan awan yang berarak beraneka warna di atas langit yang membiru. Dan semuanya itu ternyata sangat melegakan serta terasa lapang di dalam dada pemuda itu.

"Ahh....... ternyata hidup bersama alam begini justru lebih nyaman dan membahagiakan dari pada hidup bersama manusia yang tamak dan kotor hatinya. Hmm, baiklah......... aku tinggal mempunyai satu tugas lagi, yaitu menabur abu Nenek Hoa di samping makam Kakek Piao Liang. Setelah itu aku akan mencari pulau kecil di tengah lautan untuk mengasingkan diri, seperti halnya Keh-sim Siau-hiap itu. Dengan demikian penyakitku yang membahayakan orang itu juga tidak akan menimbulkan korban yang lebih banyak lagi....." Chin Yang Kun kembali merenung.

Wajahnya tertunduk lama sekali, seperti orang yang sedang samadhi atau memusatkan pikirannya.

"Eh........!"

Tiba-tiba pemuda itu tersentak kaget dan wajahnya menjadi tegang luar biasa ! Dalam ketermenungannya tadi mendadak berkelebat di angan-angan Chin Yang Kun sejumlah kapal besar berisi prajurit berseragam saling bentrok satu sama lain. Dan tempat di mana pertempuran itu berlangsung rasa-rasanya hanya di depan perahunya saja.

Namun secepat angan-angan itu datang, secepat itu pula ia pergi. Mendadak saja bayangan itu menghilang lagi dan diganti dengan bayangan yang lain, yaitu bayangan seorang kakek tua, berjenggot dan berambut putih panjang sampai di telapak kakinya. Kakek itu seperti sedang berayun-ayun di atas selembar daun teratai, yang mengambang di atas permukaan air laut. Dan tubuh kakek itu tidak tertutup oleh pakaian atau kain selembarpun. Satu-satunya penutup tubuhnya hanyalah uraian rambutnya yang luar biasa panjangnya itu.

Tapi ketika Chin Yang Kun telah tersadar kembali, ia tak melihat siapapun di sekitarnya. Yang ada tetap hanya gelombang air laut yang bergulung-gulung dan percikan air yang membasahi lantai perahunya.

"Ah, lagi-lagi pikiranku telah dibajak oleh ilmu Lin-cui Sui-hoat yang tak sengaja kupelajari itu. Hmmm......" pemuda itu menggerutu.

Namun betapa terperanjatnya pemuda itu tatkala didengarnya suara nyanyian mengalun di telinganya. Tidak begitu keras, tapi kata-katanya sangat jelas didengarnya.

Langit dan Bumi itu abadi.
Sebabnya Langit dan Bumi abadi
adalah karena tidak hidup untuk diri sendiri, maka itu abadi.
Inilah sebabnya orang suci
membelakangkan dirinya
dan oleh karenanya dirinya tampil ke depan
ia menyampingkan dirinya.
dan oleh karenanya dirinya utuh.
Karena ia tak ada kehendak pribadi,
maka ia dapat menyempurnakan pribadinya.

"Ah....... Penyanyi Sinting itu lagi ! Gila! Siapa sebenarnya dia? Kenapa ia tak pernah mau menampakkan dirinya? Dan..... hei ! Apakah dia itu Si Kakek Telanjang yang melintas dalam angan-anganku tadi?" Chin Yang Kun tergagap kaget, lalu ...sibuk memandang kesana kemari untuk mencari orang tua itu.

Tapi yang terlihat dari perahu itu cuma air dan air saja. Tak ada yang lain.

"Lo-cianpwe........! Kalau Lo-cianpwe bermaksud menemui aku, mengapa Lo-cianpwe tidak menampakkan diri saja ?" akhirnya Chin Yang Kun berseru dengan mengerahkan lweekangnya.

Tak ada jawaban. Suara nyanyian itu berhenti dan tak terdengar lagi, namun demikian Penyanyi Sinting itu tak menjawab pertanyaan Chin Yang Kun. Tentu saja Chin Yang Kun menjadi kesal.

“Hmm….. apakah Lo-cianpwe merasa malu menemui aku karena Lo-cianpwe tidak mengenakan pakaian ?”

“Kurang ajar! Bagaimana kau tahu? Apakah kau bisa melihatku?"

Tiba-tiba saja Chin Yang Kun merasa ada angin bertiup di belakang perahunya, dan......entah dari mana datangnya, mendadak di beIakang perahunya itu telah berdiri seorang kakek tua, yang ujudnya persis dengan yang ada di dalam angan-angannya tadi.

"Hayo, jawab ! Bagaimana caranya kau bisa melihatku tadi, he?'' kakek tua itu membentak penasaran.

Chin Yang Kun tidak segera menjawab. Selain masih kaget pemuda itu juga merasa geli pula melihat ulah Si Kakek Aneh yang tiba-tiba datang itu. Kalau tidak menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang sakti, mungkin pemuda itu sudah tertawa terbahak-bahak sejak tadi.

Bagaimana Chin Yang Kun tak hendak tertawa kalau orang tua yang sering menyanyikan ujar-ujar Lao-tse itu, dan yang kini sedang membentak bentak dirinya itu, ternyata hanya seorang kakek yang tingginya tidak lebih dari seorang anak lelaki berusia sepuluh tahunan ? Dan bagaimana pula Chin Yang Kun tidak merasa geli melihat "bocah tua" itu kini berusaha dengan sekuat tenaga untuk "menutupi" bagian-bagian tubuhnya yang telanjang?

"Hei ! Apa yang kau lihat, heh? Mau mengintip punyaku, yaa? Kurang ajar.......! Hayo...kau menghadap ke sana ! Dan cepat jawab pertanyaanku tadi ! Lekas !”

“Eh-oh..... anu..... nama siau-te Chin......"

"Goblok! Siapa tanya namamu? Tanpa kau beritahupun aku sudah tahu kalau namamu Chin
Yang Kun. Tapi bukan itu yang kutanyakan kepadamu. Yang kutanyakan adalah.......bagaimana kau bisa melihatku tadi ?”

“Wah, kalau itu...... kalau itu sih Cuma kebetulan saja. Pada waktu....... pada waktu siau-te termenung sendirian tadi, tiba-tiba melintas di dalam angan-angan siaute....... bayangan wajah dan bentuk tubuh Lo-cianpwe....... persis seperti keadaan Lo-cianpwe sekarang ini. Maka....... maka.....”

"Huh........ jangan membual kau! Kau pikir berapa umurmu sekarang, heh? Kau pikir dengan
usiamu yang baru belasan tahun ini kau hendak mengatakan kepadaku bahwa kau sudah mampu meyakinkan ilmu Lin-cui-sui-hoat, begitu? Kau tahu berapa batasan umur seseorang yang ingin mempelajari ilmu itu? Paling sedikit duapuluh lima tahun, tahu? Itupun kalau semenjak lahir dia langsung belajar lwee-kang. Kalau tidak...... huh, ya.......belajar Iwee-kang dulu selama dua puluh lima tahun, baru kemudian berpikir untuk meyakinkan Lin-cui-sui-hoat itu......."


Chin Yang Kun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Lo-cianpwe, ini.….ini...... wah ! Siapa yang bilang kalau siau-te mempelajari ilmu Lin-cui-sui-hoat? Bukankah siau-te tadi cuma berkata, bahwa bayangan tentang Lo-cianpwe itu hanya melintas sekejap di dalam angan-angan siau-te?"

"Huh! Apa bedanya itu? Kau pikir tanpa ilmu itu kau bisa berkonsentrasi dan bisa  membayangkan hal-hal yang tak dapat kau lihat dengan matamu itu, demikian jelasnya? Bocah sombong !”

"Wah! Sungguh repot benar Lo-cianpwe ini.....! Siapa yang berkonsentrasi? Bukankah siau-te sedang....... sedang termenung?"

"Termenung? Kau hanya termenung dan...., bisa melihat hal-hal yang belum kau saksikan? Omong kosong! Pembual!”

Penyanyi Sinting itu "mencak-mencak" di atas daun teratainya.

Lalu teriaknya lagi. "Kau maksudkan hanya dengan termenung kau sudah bisa melihat diriku
yang bersembunyi di bawah air? Dan dengan termenung itu kau bisa melihat sesuatu yang belum terlihat oleh matamu?"

“Entahlah ..... Siau-te sendiri kadang-kadang merasa bingung dan tidak mengerti pula. Apa yang pernah kupikirkan atau apa yang pernah terlintas di dalam angan-anganku, kadang-kadang cocok dengan kenyataannya. Seperti ini tadi, siau-te memang benar-benar melihat bayangan Lo-cianpwe di dalam angan-angan. Malah tidak cuma itu saja. Selain bayangan Lo-cianpwe, siau-te juga melihat bayangan yang lain, yaitu bayangan tentang beberapa buah perahu berisi prajurit, yang bertempur satu sama lain......”

"Apaaa........? Kau melihat pertempuran di Pantai Karang itu pula?'' Penyanyi Sinting itu semakin kaget.

''Pertempuran di Pantai Karang? Pertempuran apa itu ?"

"Mana kutahu? Mereka sama-sama prajurit kerajaan, tapi tampaknya mereka saling berselisih paham. Nah, lihatlah itu.......!" Penyanyi Sinting itu berkata seraya mengacungkan jarinya ke depan.

Chin Yang Kun cepat membalikkan tubuhnya. Sayup-sayup terdengar suara terompet dibawa angin dan jauh di depan sana lamat-lamat terlihat asap hitam mengepul tinggi ke udara.

"Itukah pertempuran yang Lo-cianpwe katakan itu?" Chin Yang Kun bertanya.

"Ya! Dan tampaknya sudah selesai sekarang, karena pertempuran itu sudah berlangsung sejak fajar tadi."

Keduanya lalu memperhatikan tempat yang sangat jauh itu dengan saksama. Untuk sekejap mereka lupa pada pertengkaran mereka tadi. Tapi suasana yang tenang itu ternyata tidak berlangsung lama. Beberapa saat kemudian mereka dikejutkan oleh suara teriakan Souw Lian Cu yang sudah sampai di tempat itu pula.

"Yang Kunnnnn........!"

"Heh, celaka! Ada suara wanita di sini ! Aku harus cepat-cepat pergi......!" mendadak seperti orang kebakaran jenggot kakek bertubuh pendek itu menjerit, lalu bergegas mengambil daun teratainya dan....... ambles ke dalam air! Dan yang tampak kemudian hanyalah daun itu saja yang hanyut menjauhi perahu Chin Yang Kun.

"Ah, makanya aku tak melihat orang tua itu tadi. Tak tahunya ia bersembunyi di bawah daun teratainya......." pemuda itu berkata di dalam hati. Lalu, "Hei! bukankah suara itu tadi seperti suara Souw Lian Cu? Apa - apakah ia mengejar aku?”

Dengan sedikit gemetar Chin Yang Kun mengedarkan pandangannya, mencari gadis yang selama ini selalu terbayang-bayang di dalam ingatannya. Dan sesaat kemudian jantungnya segera berdenyut semakin keras ketika dari jauh terlihat sebuah perahu kecil mendatangi.

"Yang Kuuun.........!"

"Ah, benar-benar dia! Benar-benar dia ! Ouh....... apa,……apa maksudnya mengejar aku? Apakah......apakah dia ingin mengadakan perhitungan dengan aku sekarang? Ah, tidak! Tidaaaaak! Aku tidak ingin mencelakainya! Aku harus lekas- lekas pergi menghindarinya, sebelum tanganku yang kotor dan bernoda darah ini mencelakainya......” tiba-tiba Chin Yang Kun berdesah ketakutan.

Lalu tanpa berpikir panjang lagi pemuda itu mendayung perahunya kuat-kuat. Perasaan takut apabila dirinya nanti berbuat tak senonoh dan tidak baik terhadap gadis yang dicintainya itu membuat Chin Yang Kun mendayung perahunya seperti dikejar setan. Sebentar saja perahu Souw Lian Cu telah jauh ketinggalan dan tidak kelihatan pula lagi.

Chin Yang Kun bernapas lega, apalagi ketika dilihatnya Pantai Karang telah kelihatan dari perahunya. Namun rasa leganya tersebut segera berganti menjadi perasaan was-was tatkala dilihatnya ada "kesibukan" yang mengkhawatirkan di perairan pantai itu, yaitu kesibukan para perajurit dan perahu-perahunya setelah peperangan selesai.

Sebenarnya Chin Yang Kun tak ingin berurusan dengan mereka, tapi karena sudah terlanjur dilihat oleh mereka, maka ia terpaksa tidak bisa menghindar Iagi. Pemuda itu terpaksa mengayuh perahunya untuk mendarat di pantai tersebut.

Air laut di pantai itu tampak keruh dan amis. Dan beberapa kali pemuda itu harus menyingkirkan mayat-mayat atau pecahan-pecahan perahu yang menghalangi jalannya. Dan
beberapa kali pula pemuda itu harus menahan napas karena terpaksa menerobos gulungan asap tebal, yang mengepul dari perahu atau kapal besar yang terbakar.

"Hei! Berhenti! Siapakah kau......?”

Mendadak dari arah kanan meluncur sebuah perahu menghalangi jalan Chin Yang Kun. Seorang perwira bertubuh pendek kekar tampak berdiri di ujung perahu, sementara di belakangnya, tampak enam orang perajurit bertombak berdiri mengawalnya.Chin Yang Kun terpaksa membelokkan moncong perahunya dan berhenti di samping perahu perwira tersebut. Tapi ketika pemuda itu mau menjawab, tiba-tiba perwira itu berseru kaget.

"Ong ya (Pangeran).......!"

Dan seperti sedang bermimpi saja Chin Yang Kun melihat perwira dan para perajurit itu berlutut ke arahnya. Tentu saja kejadian yang amat mendadak serta tidak dimengerti oleh Chin Yang Kun itu sangat mengejutkan dan membingungkan pemuda itu. Apa lagi ketika perajurit-perajurit itu memanggil "pangeran" terhadap dirinya.

"Ini....., ini.........eh, apa maksud kalian ini sebenarnya ?" dalam gugupnya Chin Yang Kun bertanya kepada perwira itu.

Dengan agak takut-takut perwira itu menjawab. "Ampun Ong-ya.....! Kedatangan kami ke pantai ini memang untuk menjemput Ong-ya. Kemarin Hong-siang telah memerintahkan kepada kami dan seluruh perajurit kerajaan, untuk mencari paduka dan mempersilakan paduka pulang ke kota raja secepatnya. Hong-siang bermaksud untuk mengadakan pembicaraan empat mata dengan paduka."

Chin Yang Kun berdesah panjang dan menundukkan kepalanya. Sejak semula pemuda itu memang telah menduga akan hal ini, yaitu cepat atau lambat Hong-siang tentu akan mengerahkan bala tentaranya untuk mencari dia.

Bagaimanapun juga pemuda itu adaIah satu-satunya putera Kaisar Han, sebab hingga kini baginda itu tetap tidak mau kawin dengan siapapun juga. Dan bila mengenang akan hal ini, secara diam-diam pemuda itu merasa kasihan dan tersentuh pula hatinya. Demikian agung dan besar cinta baginda itu terhadap ibunya, sehingga kaisar itu rela tidak kawin selama hidupnya.

Padahal dengan kekuasaannya yang tidak terbatas itu Kaisar Han bisa memilih setiap wanita yang diingininya. Sementara itu melihat Chin Yang Kun hanya tertunduk diam dan tak berkata-kata, perwira di atas perahu itu menjadi gelisah. Maka untuk menghilangkan kegelisahannya tersebut perwira itu lalu meneruskan keterangannya.

"Tak kami sangka di pantai ini kami justru bisa bertemu dengan pasukan Siangkoan Ciangkun yang telah membelot dan hampir mencelakai Hong-siang di kota Sin-yang beberapa hari yang lalu. Tampaknya pasukan itu sedang bersiap-siap untuk menyerbu Pulau Meng-to. Dan melihat kesiap-siagaan pasukan itu, kami tidak berani membuang-buang waktu lagi. Kami segera menyerang pasukan itu sebelum mereka jauh meninggalkan pantai. Dan ternyata kami memenangkan pertempuran ini."

Chin Yang Kun masih tetap tertunduk diam. Pemuda itu hampir tak mendengarkan cerita perwira itu. Di dalam hati pemuda itu sedang terjadi pula perang batin yang hebat, yaitu antara keinginan untuk menuruti ajakan perwira itu dan keinginan untuk menolak ajakan tersebut. Keduanya sama sama beratnya bagi pemuda itu.

"Ong-ya .....!" akhirnya perwira itu memberanikan dirinya menegur Chin Yang Kun.

Namun Chin Yang Kun masih tetap berdiam diri. Dan sementara itu dari arah pantai tiba-tiba muncul sebuah perahu besar mendekati mereka. Beberapa orang perwira berseragam gemerlapan tampak berdiri di atas perahu itu.

"Ada apa di sini?" seorang perwira tua yang pernah dilihat Chin Yang Kun di istana Kaisar Han, maju ke depan dan bertanya kepada perwira pendek kekar tadi.

"Goan-swe, kami telah menemukan Ong-ya di sini !"

"Apa......? Di manakah dia?” perwira tua itu tersentak kaget.

Perwira bertubuh pendek itu segera mengangguk ke arah Chin Yang Kun. "Inilah Ong-ya..........” lapornya dengan suara bangga.

"Ong-ya ......?? Ohh.......!" perwira tua itu menatap Chin Yang Kun dengan air muka
seolah tak percaya. Tapi sesaat kemudian perwira tua itu segera mengenal Chin Yang Kun.

"Ong-ya.......!" sekali lagi perwira tua itu menyebut, lalu menjura dengan sangat hormatnya. Perwira-perwira yang lainpun segera mengikutinya.Chin Yang Kun semakin menjadi kikuk dan tak enak hatinya.

"Terima kasih, Ciang-kun .....terima kasih ! Sungguh tak enak benar perasaanku menerima penghormatan Ciang-kun yang berlebih-lebihan ini. Ahh........... apa sebenarnya maksud Ciang-kun menyongsong aku ini ?" akhirnya Chin Yang Kun terpaksa menanggapi perkataan mereka.

Perwira tua itu menoleh sekejap ke arah temannya, Si Perwira Pendek Kekar tadi. Lalu katanya sambil membungkukkan tubuhnya.

"Ampun Ong-ya........ saya kira Giam Ciang-kun tadi telah mengatakan pula kepada paduka, apa yang menjadi tugas kami saat ini. Tapi tak apalah kiranya kalau saya mengulanginya kembali. Ong-ya, kami mendapat perintah dari Hong-siang untuk mencari dan menjemput paduka di manapun paduka berada, dan kemudian mengawal paduka pulang ke kota raja secepatnya. Saat ini Hong-siang sedang menderita sakit. Oleh karena itu beliau sangat mengharapkan sekali kedatangan paduka..."

“Apa.......? Liu twa-ko sakit....... eh, Hong-siang sakit ? Sakit apa ?” tiba-tiba Chin Yang Kun berseru kaget.

Dan sambil berseru pemuda itu melompat dari perahunya ke perahu Si Perwira tua itu. Gerakan pemuda itu begitu cepatnya sehingga orang-orang di atas perahu itu baru sadar ketika Chin Yang Kun telah berdiri memegangi tangan perwira tua itu. Para prajurit itu benar-benar tidak bisa percaya bahwa putera Kaisar Han tersebut mampu meloncati jarak yang sangat jauh itu.

“Ooh...... bukan main !" seorang perwira muda berdesah kagum.

"Yaaah…….itulah sebabnya Yap Tai-ciangkun memberi pesan secara sungguh-sungguh kepada kita, agar kita jangan berlaku sembrono bila berhadapan dengan Ong-ya itu," perwira yang berdiri di sampingnya berkata.

"Dan rasa-rasanya kita semua ini juga takkan mampu menangkapnya bila dia menolak untuk dibawa ke kota raja." seorang perwira yang lain memberi komentar.

Sementara itu Chin Yang Kun segera menggoncang goncangkan lengan perwira tua itu saking tegangnya.

"Ciangkun.......! Katakanlah! Apa yang sedang diderita oleh Hong-siang?"

Perwira tua malah menjadi pucat wajahnya.

"Hong-siang..... jatuh sakit karena merasa…… merasa terpukul batinnya akibat penolakan paduka dua hari yang lalu. Hong-siang….. Hong-siang merasa sedih luar biasa!" dengan tergagap-gagap perwira tua itu memberi keterangan.

"Ooough.....!" Chin Yang Kun terhenyak di tempatnya.

Perlahan-lahan pegangan tangannya terlepas. Matanya berkaca-kaca. Pemuda itu lantas teringat akan kebaikan Hong-siang atau Liu twa-konya itu selama ini. Bagaimana nasibnya di kota Tie-kwan setahun yang lalu bila tidak memperoleh pertolongan ayahandanya itu, padahal waktu itu masing-masing belum tahu sama sekali bahwa mereka adalah ayah dan anak.

"Ong-ya........?” perwira tua itu tiba-tiba menyapa dan menyentuh lengan Chin Yang Kun, sehingga pemuda itu menjadi sadar akan dirinya kembali.

"Baiklah, Ciangkun........ marilah kita kembali ke kota raja menemui Hongsiang.......!" seperti tidak mempunyai pilihan lain lagi pemuda itu akhirnya berkata kepada perwira tua itu.

"Aaaah....!" semua perwira itu bernapas lega, seakan-akan mereka terbebas dari sebuah beban yang sangat berat.

"Oh, marilah Ong-ya......... marilah !” perwira tua itu cepat-cepat mengangguk-angguk di depan Chin Yang Kun. Seketika wajahnya menjadi cerah luar biasa.

Demikianlah, seperti orang yang sedang melamun Chin Yang Kun mengikuti saja semua perintah perwira tua tersebut. Pasukan kerajaan yang baru saja bisa menumpas anak buah Siangkoan Ciang-kun itu segera berangkat setelah berbenah diri dan merampungkan urusan mereka di tempat itu. Dan Souw Lian Cu yang tiba di tempat tersebut tinggal menemukan sisa-sisa atau bekas-bekas pertempuran itu saja.

Gadis itu telah kehilangan jejak Chin Yang Kun. Sementara itu pasukan yang membawa Chin Yang Kun ke kota raja tetap meneruskan perjalanan mereka. Sesampai mereka di kota yang terdekat, pasukan itu Ialu dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama, yaitu para prajurit yang tidak mempunyai kuda, mereka tinggalkan di kota tersebut.

Sedang kelompok kedua, yaitu kelompok prajurit berkuda, yang terdiri dari empatpuluhan orang prajurit, tetap meneruskan perjalanan untuk mengawal Chin Yang Kun. Karena semuanya sekarang menunggang kuda maka perjalanan mereka itupun lantas menjadi lebih cepat pula. Dan di setiap tempat atau kota mereka selalu bertambah jumlahnya. Para perajurit kerajaan yang dua hari lalu disebar Yap Tai-ciangkun ke seluruh pelosok timur negeri itu, segera bergabung dengan mereka begitu berjumpa dengan rombongan tersebut.

Rombongan itu menginap dua malam di perjalanan. Dan setiap kali mereka menginap, mereka terpaksa mencari tempat yang lapang di luar kota, karena jumlah mereka sudah mencapai hampir seribu orang lebih sekarang. Seribu orang dengan seribu kuda pula.

Benar-benar sebuah barisan berkuda yang luar biasa panjangnya. Pada hari yang ketiga barisan itu sudah mencapai batas kota raja. Seorang perwira tinggi yang mulai kemarin menggabungkan diri dengan rombongan itu dan sekarang berada di samping Chin Yang Kun bersama-sama perwira tua itu, segera menghentikan barisan tersebut.

"Maaf, Ong-ya.......! Kita telah sampai di tapal batas kota raja dan sebentar lagi kita akan memasuki pintu gerbang kota sebelah Timur. Oleh karena di jalan-jalan nanti tentu akan banyak penduduk yang menyambut dan mengelu-elukan kedatangan Ong-ya, maka kami memohon dengan sangat kepada paduka untuk berganti pakaian yang sesuai dengan kedudukan paduka."

Chin Yang Kun mengerutkan dahinya tanda kurang setuju. Tapi serentak melihat semua orang menundukkan kepala kepadanya, pemuda itu tidak tega untuk menolaknya. Apalagi pemuda itu ingin lekas-lekas berjumpa dengan ayahandanya.

"Baiklah! Manakah pakaianku itu?” sahut pemuda itu singkat.

Seorang perwira muda segera turun dari atas kudanya dan berlari-lari datang mempersembahkan sebuah buntalan kepada perwira tinggi itu. Dan selanjutnya perwira tinggi itu lalu mempersilakan Chin Yang Kun untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang berada di dalam buntaIan tersebut.

Dan beberapa saat kemudian Chin Yang Kun benar-benar telah berubah menjadi seorang pangeran yang tampan berwibawa. Rambutnya yang gemuk tebal itu digelung ke atas dan diberi hiasan emas permata yang gemerlapan. Sedangkan pakaian dalamnya berwarna kuning emas dan ditutup dengan sebuah mantel sutera hitam berhiaskan benang berwarna-warni di bagian pundak dan punggungnya. Sepatunya juga berwarna hitam dengan hiasan permata merah di ujungnya.

Chin Yang Kun menghela napas panjang ketika melihat para perwira itu menatap kagum dan bangga kepadanya. Di dalam hati kecilnya pemuda itu sebenarnya malah merasa kikuk dan kaku berpakaian seperti itu. Tapi apa boleh buat, pokoknya dia dapat lekas menjumpai ayahandanya yang sedang sakit.

"Ong-ya…..! Ong-ya benar-benar cocok dan serasi sekali mengenakan pakaian seperti ini."
perwira tinggi itu memuji.

Dan betul juga kata-kata perwira itu. Di setiap jalan mereka disambut dan dielu-elukan oleh para penduduk. Lelaki perempuan, anak-anak dan dewasa, semuanya berlari-lari ke jalan besar dan berdesakan di sana.

“Hidup Pangeran…..!"

“Hidup Putera Mahkota !"

Para penduduk itu berteriak-teriak, menjerit-jerit gembira, seakan-akan mereka itu sedang menyambut pasukan yang pulang dari medan perang. Dan semakin mendekati pintu gerbang kota, penduduk yang menyambut rombongan itupun juga semakin banyak pula.

Chin Yang Kun semakin kikuk pula di atas punggung kudanya. Belum pernah rasanya pemuda itu dihormat dan disanjung-sanjung orang seperti itu. Apa lagi ketika pemuda itu melihat di antara mereka yang berdesakan di pinggir jalan itu amat banyak gadis-gadis kota raja yang sangat terkenal cantiknya itu, otomatis wajah pemuda itu menjadi merah dan keringat dinginnya keluar. Namun demikian agar jangan mengecewakan mereka, terpaksa pemuda itu menyambut lambaian tangan mereka.

"Ciangkun ......!" Chin Yang Kun berbisik kepada perwira itu yang selalu mendampinginya
itu. "Mengapa mereka mengetahui kedatanganku ? Dan mengapa mereka juga mengetahui kalau aku putera Hong-siang?”

Perwira tua itu tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Namun demikian dia tidak segera menjawab pertanyaan itu. Sebaliknya, matanya yang telah mulai berkeriput itu melirik kepada Perwira Tinggi yang berkuda bersama dengan mereka itu.

"Hong-siang adalah kaisar yang berani dan suka berterus terang, Ong-ya sendiri tentu masih ingat akan pertemuan di desa ln-ki-cung beberapa hari yang lalu. Sebenarnya pertemuan antara keluarga ln Leng Hoan dan Hong-siang itu sifatnya sangat rahasia dan pribadi. Meskipun demikian ternyata Hong-siang tidak berusaha untuk merahasiakannya.Hong-siang justeru mengumpulkan seluruh perwira dan pembantu-pembantunya untuk ikut menyaksikan pertemuan itu. Dan agaknya sekarangpun Hong-siang telah berbuat demikian pula terhadap kita," perwira tinggi itulah yang akhirnya membuka mulut untuk memberi keterangan.

"Maksud Goan-swe?" Chin Yang Kun mendesak dengan wajah tak mengerti.

"Kemarin kami telah mengirimkan kurir untuk berangkat Iebih dulu ke kota raja. Kurir itu kami perintahkan untuk melapor kepada Hong-siang tentang kedatangan Ong-ya kemari. Dan agaknya....... Hong-siang demikian gembiranya sehingga beliau lalu memerintahkan para pembantunya untuk memberitahukan kegembiraan itu kepada seluruh penduduk kota raja. Dan inilah akibatnya ........"

Ternyata pintu gerbang kota itu telah dihias dan dipajang pajang pula dengan meriahnya. Seregu perajurit pengawal utama yang berseragam indah gemerlapan tampak menjemput rombongan itu di pintu gerbang tersebut. Tambur dan terompet segera dibunyikan sebagai ucapan selamat datang. Dan rakyat yang berjejal-jejal di tempat itupun lantas bersorak-sorak gembira sekali, suatu tanda bagaimana cintanya mereka terhadap kaisar junjungan mereka.

Begitu kuda yang dinaiki Chin Yang Kun menginjakkan kakinya ke atas jembatan penyeberangan, semua perajurit penyambut segera berlutut ke arah Chin Yang Kun. Setelah
mereka berdiri kembali, lalu seorang perajurit bergegas maju ke depan seraya menuntun .......Si Cahaya Biru, lengkap dengan pakaiannya yang gemerlapan!

"Hei ! Cahaya Biru……!" Chin Yang Kun berseru kaget, lalu bergegas turun menghampiri kuda kesayangannya itu.

Prajurit yang menuntun kuda itu segera berlutut dan menyerahkan tali kendali kuda itu kepada Chin Yang Kun.

"Ohh....... apa khabar Cahaya Biru ?” Chin Yang Kun menyapa dan mendekati kuda itu, lalu merangkul lehernya dengan penuh kecintaan.

Dan kuda itu tampaknya juga sangat bergembira sekali dapat berjumpa dengan tuannya. Sambil meringkik perlahan kuda itu menggosok-gosokkan kepalanya ke badan Chin Yang Kun.

Demikianlah, dengan naik di atas punggung Si Cahaya Biru, Chin Yang Kun memasuki pintu gerbang kota raja yang sangat megah itu. Regu Prajurit Pengawal Istana yang tadi menyambut kedatangan pemuda itu kini berganti menjadi pengiringnya, karena kota yang amat rapat dan sangat padat penduduknya itu tak mungkin bisa menampung ribuan prajurit berkuda yang tadi mengawalnya dari luar kota. Hanya beberapa orang perwira saja yang tetap ikut mengantar Chin Yang Kun, yaitu Si Perwira Tinggi dan Si Perwira Tua beserta bawahannya Si Perwira Pendek Kekar itu.

Di dalam kota sambutan penduduk semakin meriah lagi. Jalan yang lebar itu rasanya cuma penuh dengan manusia saja. Mereka berbondong-bondong, berjejaI-jejaI dan saling mendesak di pinggir jalan, seolah-olah ingin berebut di depan agar bisa melihat wajah Chin Yang Kun sejelas-jelasnya.

Chin Yang Kun merasa terharu juga menyaksikan sambutan penduduk yang sangat meriah itu. Ini benar-benar di luar dugaannya! Dan semua itu membuat Chin Yang Kun semakin ingin lekas bertemu dengan Kaisar Han atau ayahandanya itu, sebab semua ini tentu karena pengaruhnya juga.

Begitulah, meskipun agak merasa kaku karena menjadi perhatian orang sedemikian banyaknya, Chin Yang Kun tetap bersenyum dan melambai-lambaikan tangannya. Dan sama
sekali pemuda itu tidak mengira dan menduga bahwa diantara penduduk yang dilaluinya itu terdapat beberapa orang yang pernah dikenalnya, yang kini dengan mata terbelalak memperhatikan dirinya.

"Hei....... Tong Cu-si, bukankah pangeran itu Saudara Yang Kun yang kita kenal dulu ? Nah, apa kataku! Isyarat yang kuterima itu mengatakan bahwa Im-yang-kauw akan menjadi sebuah aliran yang kuat dan besar apabila bisa menarik anak muda itu. Nah, apa jadinya kini?" Toat-beng-jin yang ikut berdesakan diantara penduduk itu menepuk pundak temannya.

"Yah, Lo-jin-ong memang benar. Tapi kita tak perlu berputus asa dahulu, siapa tahu dia akan menjadi saudara kita juga ? Bukankah dia pernah berjanji untuk mengunjungi perkumpulan kita?"

Dan tidak jauh dari tempat itu seorang gadis cantik juga tampak lesu setelah dengan kaget melihat siapa sebenarnya pangeran yang lewat itu. Gadis itu diam-diam mengusap air matanya. Meskipun demikian kakek tua yang berada di samping gadis tersebut merasakan juga kesedihan itu.

"Li Ing...... sudahlah, kau tak perlu menyesali nasibmu. Belum tentu semuanya itu akan berakhir sampai di sini saja. Semuanya bisa berubah setiap saat......" Lo-si-ong membesarkan hati gadis cantik itu.

"Tapi..... jarak antara aku dan dia tampaknya semakin jauh juga, kek," Tiau Li Ing menyahut dengan suara sendu.

"Ya, tapi kau tak perlu berputus asa karenanya..........."

Dan di dekat pintu gerbang istana seorang gadis ayu berlengan buntung sebelah juga merasa kecewa di dalam hatinya begitu melihat Chin Yang Kun kini telah menjadi seorang pangeran yang amat dihormati orang.

"Dia ternyata seorang putera mahkota. Setiap saat dia tentu dikelilingi oleh gadis gadis bangsawan yang ayu dan cantik. Aaah..... masakan dia mau memikirkan seorang gadis cacat seperti aku ini lagi?"

Perlahan-lahan gadis buntung itu keluar dari dalam himpitan para penonton di sekitarnya, lalu melangkah pergi dari tempat tersebut dengan kepala tertunduk. Beberapa kali gadis itu hampir bertubrukan dengan penonton lainnya, sehingga banyak orang yang menjadi heran melihatnya.

Sementara itu Chin Yang Kun telah memasuki halaman istana. Dengan masih tetap dikawal oleh Prajurit Pengawal Istana tadi, pemuda itu berjalan kaki melintasi halaman serta lorong-lorong bangunan istana yang amat luas itu. Dan setelah berbelok-belok kesana kemari, akhirnya mereka sampai juga di Gedung Induk di mana Kaisar Han tinggal.

Seorang anggota Sha-cap mi-wi yang berjaga di pintu utama segera menyambut kedatangan mereka, Si Perwira Tinggi yang sejak tadi terus menyertai Chin Yang Kun lalu maju ke depan dan berbicara dengan anggota Sha-cap-mi wi itu. Tapi sebelum pembicaraan tersebut selesai, tiba-tiba Yap Tai-ciangkun tampak melangkah keluar dari dalam gedung itu.

"Oh..... Ong-ya sudah datang rupanya! Wah, sungguh kebetulan sekali kalau begitu, kita bisa bersama-sama menghadap Hong-siang di Kuil Agung sekarang juga." panglima muda itu berkata gembira.

"Di Kuil Agung? Eh, katanya Hong-siang sedang sakit......." Chin Yang Kun berdesah bingung.

Yap Tai-ciangkun menghela napas dengan wajah murung.

"Hong-siang memang sakit. Tapi beliau ingin berdoa terus sampai Ong-ya datang. Dan kami
semua tak kuasa mencegahnya......"

"Ooooh!" Chin Yang Kun terhenyak dan rasa haru tiba-tiba mengembang memenuhi rongga dadanya.

Maka ketika Yap Tai-ciangkun itu melangkahkan kakinya, Chin Yang Kun buru-buru mengikutinya. Dan mereka langsung menuju ke bangunan kuil tersebut. Beberapa orang pendeta segera menyambut mereka, sementara belasan anggota Sha cap-mi-wi yang lihai-lihai itu tampak berkeliaran sambil berjaga-jaga di sekitar tempat itu.

"Hong-siang berada di altar pemujaan, Tai-ciangkun," seorang anggota Sha cap-mi-wi menemui Yap Tai ciangkun dan melaporkan keadaan baginda.

"Dengan siapa beliau di sana ?"

"Sendirian. Tak seorangpun boleh masuk."

"Baiklah! Aku akan menghadap........" Yap Tai ciangkun dan Chin Yang Kun bergegas masuk ke ruangan dalam, di mana altar pemujaan atau altar sembahyang itu berada. Dan kedatangan mereka segera disambut dengan suara baginda yang berat.  "Siapa.......?”

"Hamba Yap Kim datang bersama Pangeran Yang Kun, Hong-siang........." Yap Tai Ciangkun menjawab seraya berlutut.

Tiba-tiba Kaisar Han yang duduk membelakangi mereka di atas altar itu bangkit berdiri dengan tergesa-gesa. Lalu sambil bertele dan di atas meja sembahyang dia memandang Yap Tai ciangkun. Keadaannya sungguh sangat menakutkan.Wajahnya pucat pasi, rambutnya dibiarkan tergerai di pundak, sementara kumis dan jenggotnya yang lebat luar biasa itu hampir menutupi seluruh mukanya.

"Apa katamu, Tai-ciangkun? Puteraku sudah tiba? Di mana dia, hah?" suaranya gemetar.

"Liu twa-ko......!?!" Chin Yang Kun menjerit dan berlari menghampiri Kaisar Han.

Sekejap Kaisar Han itu terbelalak menatap Chin Yang Kun, dia seakan-akan tidak percaya bahwa Chin Yang Kun benar benar telah datang. Namun beberapa saat kemudian mata itu lantas menjadi merah berkaca-kaca. Dan kemudian mereka berdua, ayah dan anak itu lalu saling berpelukan dengan eratnya.

''Yang Kun, anakku........! Sekarang engkau sudah mau mengakui aku sebagai ayahmu, bukan ?" Hong siang berkata sendu.

Chin Yang Kun balas menatap wajah Hong-siang atau ayahnya yang asli itu dengan perasaan haru dan kasihan. Lalu pemuda itu menganggukkan kepalanya. Meskipun demikian Chin Yang Kun tetap diam tak menjawab. Entah mengapa, pemuda itu tiba-tiba teringat kembali pada Keluarga Chin. Dan ingatan itu menyebabkan hati dan perasaannya kembali kosong dan hampa luar biasa. Namun demikian pemuda itu tak hendak melukai atau mengurangi kegembiraan Hong-siang atau ayahandanya itu. Oleh karena itu Chin Yang Kun kembali bersikap biasa, seolah-olah tidak pernah terjadi gejolak apa apa di dalam dirinya. Maka ketika Hong-siang merangkulnya lagi, Chin Yang Kun segera membalasnya dengan mesra.

"Biarlah, suatu saat nanti........kalau waktunya sudah mengijinkan, aku akan berterus terang kepada Hong-siang, bahwa aku tak dapat hidup di dalam lingkungan istana seperti itu. Aku akan minta ijin untuk meneruskan niatku semula, yaitu hidup bertapa seorang diri di tempat sunyi." pemuda itu berkata di dalam hatinya.

Sementara itu Kaisar Han sama sekali tidak tahu apa yang sedang bergejolak di dalam hati puteranya itu. Kaisar Han benar-benar sedang diliputi kegembiraan di dalam hatinya.

"Anakku...! Kita harus merayakan pertemuan kita ini semeriah mungkin. Dan aku akan memanggil semua menteri serta kepala daerah di seluruh negeri untuk menyaksikan pengukuhanmu sebagai Putera Mahkota. Tapi sekarang marilah kita berdoa lebih dulu untuk keberuntungan kita ini !”

"Tapi.... bukankah Hong-siang sedang sakit? Apakah Hong-siang tidak beristirahat saja biar lekas sembuh?" Chin Yang Kun berusaha membujuk Kaisar Han.

“Jangan pikirkan aku ! Rasa sakitku sudah tidak terasa lagi begitu melihat engkau.......Ayolah!”

Begitu berlutut di atas altar, tiba-tiba Chin Yang Kun tergetar hatinya. Bayangan sinar kuning keemasan yang dulu pernah dilihatnya di bawah altar itu kembali menggoda hatinya. Dan hatinya semakin tergelitik ketika angan-angannya seperti melihat benda bersinar itu kembali. Namun pemuda itu menjadi kecewa tatkala ia tak bisa menemukan lobang itu lagi.

"Hong-siang......." akhirnya Chin Yang Kun memberanikan dirinya untuk melaporkan hal itu kepada Hong-siang. "Hamba merasa seperti ada sesuatu di bawah altar ini. Bolehkah hamba membongkar altar ini sebentar saja.....?”

"Apa? Kau hendak membongkar altar ini?" Kaisar Han berseru dan menatap Chin Yang Kun
dengan dahi berkerut.

Tapi melihat kesungguhan hati puteranya itu Kaisar Han lantas mengendorkan lagi sikapnya.

"Baiklah ! Terserah kepadamu. Tapi....... omong-omong, apa sih sebenarnya maksudmu?"

"Entahlah, Hong-siang....... Hamba seperti melihat sesuatu di bawah altar ini, tapi hamba tak tahu macam apa benda itu. Maka dari itu hamba hendak membongkarnya........."

"Hmm....... tapi altar dari batu giok ini beratnya tentu lebih dari seribu kati. Bagaimana kau hendak mengangkatnya? Apakah kau perlu bantuan para pengawal itu ?"

"Nanti saja, Hong-siang. Biarkanlah hamba mencobanya sendiri dahulu. Jikalau nanti hamba memang tak kuat mengangkatnya, barulah hamba akan memanggil mereka."

"Hmmmm, baiklah....... kau boleh mencobanya! Tapi kau harus berhati-hati !" Kaisar Han memberi peringatan.

Chin Yang Kun lalu mempersiapkan dirinya. Dipegangnya pinggiran altar itu dengan kedua belah tangannya. Kemudian dengan kuda-kuda yang sangat rendah pemuda itu mengerahkan seluruh tenaga sakti Liong-cu-i-kangnya. Maka sesaat kemudian seluruh urat-urat di dalam tubuh pemuda ini pun lantas menegang dan mengembang sepenuhnya.

Brrrrt....... sssssss !

Seketika udara dingin terasa menghembus ke seluruh ruangan. Sekejap Kaisar Han menggigil dengan mata terbelalak kaget, namun rasa kaget tersebut segera lenyap manakala dilihatnya altar yang besar itu mulai terangkat naik ! Malahan rasa kaget itu segera berganti dengan rasa takjub luar biasa !

Suara derak altar tersebut ternyata juga menarik perhatian Yap Tai ciangkun dan para pengawal yang sedang menunggu di luar ruangan. Mereka bergegas masuk. Tapi seperti halnya Kaisar Han, merekapun segera ternganga kagum menyaksikan kekuatan Iweekang Chin Yang Kun yang maha dahsyat itu. Semuanya baru sadar kembali tatkala altar tersebut telah bersandar di tiang kuil.

"Bukan main........!" mereka berdesah hampir berbareng.

Namun Chin Yang Kun tidak mempedulikan pujian mereka. Pemuda itu bergegas mencari lobang yang pernah dilihatnya di bawah altar dulu. Dan begitu lobang itu telah ia dapatkan pemuda itu segera memasukkan tangannya.

Tentu saja perbuatan itu menimbulkan berbagai macam pertanyaan di dalam hati orang-orang yang melihatnya. Semuanya bertanya-tanya di dalam hati, apa sebenarnya yang sedang dilakukan oleh Pangeran itu?

Tapi semuanya segera menjadi kaget sekali ketika melihat pangeran itu mengeluarkan sebuah benda kekuning-kuningan dari dalam lobang tersebut. Dan benda sebesar buah persik itu tampak bercahaya dan bergetaran, seakan-akan memancarkan wibawa yang sangat besar.
Dan semuanya saja, tak terkecuali Kaisar Han dan Yap Taiciangkun, merasakan getaran itu, sehingga tiba-tiba saja mereka menundukkan kepala mereka dengan perasaan segan dan hormat.

"Cap Kerajaan.......!" mulut mereka berbisik hampir tak terdengar.

Sebaliknya, Chin Yang Kun sendiri juga menjadi kaget pula menyaksikan sikap orang-orang itu. Sambil mendekati ayahandanya, pemuda itu berulang-ulang membolak-balikkan benda yang berada di tangannya tersebut.

"Cap Kerajaan ? Tapi mendiang ayah mengatakan barang ini berada di dalam Goa Harimau. Hm........ masakan lobang sekecil itu disebut Goa Harimau? Tapi... tapi .... bagaimana dengan perintah untuk bersembahyang di waktu tengah malam, ketika bulan tepat di atas kepala itu ? Aku menemukan lobang itu juga karena aku bersembahyang pada waktu bulan tepat berada di atas kepala. Aaah…. kalau begitu... kalau begitu, apakah perkataan GOA HARIMAU itu cuma merupakan kata-kata sandi atau kiasan saja? Yaa….. ya, agaknya memang demikian. Agaknya yang dimaksudkan dengan Goa Harimau itu adalah sarang lawan yang sangat berbahaya, yaitu istana ini.,... oh !" sambil melangkah pemuda itu berpikir keras.

Oleh Chin Yang Kun Cap Kerajaan itu dia serahkan kepada Kaisar Han, dan saking gembiranya kaisar itu memeluk Chin Yang Kun dengan eratnya.

"Anakku.....! Penemuanmu ini semakin meyakinkan aku bahwa engkau memang berjodoh dengan tahta kita. Oleh karena itu hatiku juga semakin mantap untuk lekas-lekas mengukuhkanmu sebagai calon penggantiku kelak. Nah, Yang Kun.... ayahmu sungguh-sungguh merasa sangat berbahagia sekali hari ini. Oleh karena itu kau boleh mengajukan sebuah permintaan kepadaku. Dan sebagai seorang raja aku akan mengabulkan permintaanmu itu sepanjang yang kau minta tidak bertentangan dengan peraturan hukum dan keadilan......." Kaisar Han berkata dengan suara keras.

Chin Yang Kun yang sedang gugup dan kebingungan itu tiba-tiba tertegun mendengar tawaran tersebut. Sekilas pemuda itu melihat setitik kesempatan untuk melepaskan diri dari cengkeraman istana itu tanpa harus melukai hati ayahnya. Tapi pemuda itu tidak tahu bagaimana ia harus mengatakannya kepada ayahnya.

"Ini....... ini benar-benar sebuah kesempatan yang tak mungkin kudapatkan lagi di kelak kemudian hari, apa lagi kalau aku telah dikukuhkan sebagai Putera Mahkota nanti! Tapi........ tapi.... bagaimana aku harus mengatakannya?" pemuda itu berpikir.

"Pangeran.........! Hong-siang telah berkenan untuk memberikan sebuah hadiah yang tak ternilai kepada Pangeran. Pangeran bebas untuk menyebutkannya. Apakah Pangeran menginginkan sebuah istana yang bagus? Ataukah Pangeran sudah menghendaki seorang puteri sebagai pendamping Pangeran nanti? Silakan Pangeran menyebutkannya, Hong-siang tentu akan meluluskannya........!" Yap Tai-ciangkun yang melihat Chin Yang Kun cuma diam saja itu ikut pula mendesak.

"Ya...,., ya, anakku ! Apa yang dikatakan oleh Yap Tai-ciangkun itu memang betul. Katakan saja, aku tentu akan memberikannya!" Kaisar Han berkata pula sambil tersenyum. Chin Yang Kun menatap wajah ayahandanya, kemudian  perlahan-lahan berlutut di depannya.

"Hong-siang.......! Hamba sama sekali tak menginginkan apa-apa. Yang terpikir di dalam hati hamba selama ini hanyalah.., bagaimana hamba bisa membalas budi kepada orang-orang yang pernah melepas kebajikan kepada hamba."

“Maksudmu..........?"

"Hong-siang, masih banyak yang harus hamba lakukan sebelum hamba menerima anugerah itu. Diantaranya adalah memindahkan abu jenazah Nenek Hoa ke dusun Ho-ma-cun dan menghilangkan pengaruh racun yang selama ini masih mengalir di dalam tubuh hamba ..."

"Hmm........ kalau itu permintaanmu, lalu berapa hari kau akan pergi?"

"Inilah yang memberatkan hati hamba. Hamba tak tahu berapa lama hamba akan dapat menyelesaikan tugas itu.”

Kaisar Han menundukkan kepalanya seraya menarik napas dalam-dalam. Sekilas tampak rasa sesal di wajah baginda karena telah terlanjur memberi janji kepada puteranya itu.

"Baiklah ! Karena aku tadi telah menjanjikan sebuah permintaan kepadamu, maka aku akan memenuhi juga permintaanmu itu. Tapi ingatlah! Akupun akan berjanji kepada diriku sendiri, yaitu selama kau pergi aku akan tinggal di kuil ini ! Selain mengerjakan tugas-tugasku sehari-hari, aku akan tidur, makan dan minum di tempat ini. Aku akan terus berdoa sambil menantikan kedatanganmu di sini ! Nah, anakku, kau boleh pergi sekarang....! Yap Tai ciangkun, antarkan puteraku ini keluar istana!" akhirnya Hong-siang bersabda.


"Hong-siang.......!” Chin Yang Kun, Yap Tai-ciangkun dan para pengawal itu buru-buru berlutut dan menengadahkan wajah mereka yang gemetaran.

Namun Hong-siang sudah tidak berkata apa-apa lagi. Dengan pandang mata sayu seakan-akan tiada mempunyai semangat lagi Hong-siang melangkah meninggalkan mereka, menuju ke ruangan belakang dari kuil itu. Sekejap saja semuanya sudah dapat menduga bahwa Hong-siang sangat kecewa dan merasa sedih sekali. Tapi apa daya, semuanya sudah terjadi, dan tak mungkin seorang kaisar menjilat Iudahnya kembali.

Hampir semua mata di dalam ruangan itu menyalahkan Chin Yang Kun. Mereka seperti menyayangkan sikap Chin Yang Kun yang kurang memiliki perasaan kasih sayang terhadap ayahandanya sendiri itu.

Demikianlah, dengan kepala tertunduk Chin Yang Kun keluar dari pintu gerbang istana. Wajahnya murung. Pakaiannya sudah berganti dengan pakaian yang amat sederhana pula. Dan kakinya melangkah satu-satu, menyusuri tepian jalan raya, menuntun Si Cahaya Biru yang polos pula, tanpa seorangpun tahu bahwa dialah pangeran mahkota Yang dielu-elukan orang tadi.

Seorang penjaja kue dengan mata mendelik mengumpat umpat Chin Yang Kun ketika Si Cahaya Biru hampir saja menyenggol dagangannya. Dan seorang puteri hartawan buru-buru menyingkir ketika hendak berpapasan dengan Chin Yang Kun, seolah-olah pemuda itu seorang pengemis dekil yang memuakkan. Padahal kedua orang itu, baik si Penjaja Kue maupun si Nona Hartawan adalah orang-orang yang sangat getol dan bersemangat ketika menyambut kedatangan Chin Yang Kun tadi.

Chin Yang Kun tidak mempedulikan mereka. Dengan langkah gontai, sambil tetap menuntun kendati kudanya, ia berjalan menerobos keramaian kota dan keluar melalui pintu gerbang selatan.

"Hidup ini rasanya seperti sebuah impian saja..............!" pemuda itu menarik napas panjang.
TAMAT
Yogyakarta, 2 Desember 1982


BERIKUTNYA PETUALANG CHIN YANG KUN DALAM MEMBURU IBLIS

 43                                                                                                          MEMBURU IBLIS 1