Kamis, 23 Februari 2017

MEMBURU IBLIS 4



Jilid 4

Yap Kiong Lee mengerutkan keningnya. Jagoan nomor satu dari kota raja itu sudah mengenal pula gadis ayu yang lengan kirinya buntung itu. Malah menurut cerita burung yang dibawa angin, Pangeran Mahkota Yang Kun telah jatuh cinta pula kepada gadis cantik itu. Tetapi entah apa sebabnya, keduanya tak pernah bisa bersatu. (Baca Pendekar Penyebar Maut). “Jadi..... nona Souw juga tidak ada di rumah? Wah .....! Jangan-jangan..... jangan-jangan........" Yap Kiong Lee tidak berani meneruskan dugaannya.

Souw Thian Hai tersenyum kecut. Ayah yang masih muda ini juga mengetahui pula hubungan pangeran mahkota itu dengan puterinya. Tapi menurut pengetahuannya, hubungan tersebut selalu tampak tersendat-sendat, karena keduanya mempunyai watak yang amat keras. Terlalu tinggi hati, suka menutup diri, tidak mau saling terbuka dalam mengemukakan cinta mereka. Terutama puteri sendiri, Souw Lian Cu!

Begitu ingat pada puterinya Souw Thian Hai menghela napas panjang. Pendekar itu memang tidak bisa menyalahkan puterinya. Gadis itu memang terlalu banyak menderita sejak kecilnya, sehingga ia tak menjadi heran kalau watak dan sifatnya menjadi sedemikian keras dan kakunya.

Usia enam tahun Souw Lian Cu telah ditinggal mati ibunya. Gadis kecil itu lalu dibawa pergi oleh pengasuhnya karena ayahnya, satu-satunya keluarga yang harus merawatnya telah menjadi gila karena kematian ibunya itu. Dan gadis itu baru diketemukan oleh Souw Thian Hai, ayahnya yang telah sembuh kembali, ketika sudah berumur duabelas tahun. Hampir saja gadis kecil itu tidak mengenal Souw Thian Hai kembali. Gadis itu lalu hidup bersama ayahnya lagi.

Tapi empat tahun kemudian, Souw Lian Cu yang telah menjadi gadis remaja itu kembali melarikan diri meninggalkan ayahnya, karena ia tidak ingin ayahnya itu kawin lagi dengan wanita lain. Dan gadis itu terlunta-lunta sendirian di dunia yang ganas, sehingga akhirnya diketemukan oleh Keh-sim Siauw hiap (Pendekar Patah Hati) yang sebenarnya juga masih sahabat ayahnya sendiri. Oleh sahabat ayahnya itu, Souw Lian Cu dibawa ke Pulau Meng-to. Dan diatas pulau itu Souw Lian Cu dinasehati, dihibur dan diberi pelajaran bermacam-macam. Namun hal itu telah diterima lain oleh gadis yang baru menjelang dewasa tersebut. Souw Lian Cu jatuh cinta kepada pendekar yang sudah patut menjadi pamannya itu. T entu saja Keh-sim Siauw-hiap tak mau melayani maksud gadis tersebut. Akibatnya gadis muda itu menjadi malu dan minggat dari pulau Meng-to.

Dalam pengembaraannya yang kedua inilah Souw Lian Cu bertemu dengan pangeran  Yang Kun. Dan pangeran yang amat terkesan kepada gadis ayu berlengan sebelah itu akhirnya jatuh cinta dan mengejar-ngejarnya. Tapi jiwa Souw Lian Cu sudah terlanjur dingin dan kaku. Meskipun gadis itu juga amat menyukai Pangeran Yang Kun, tapi ia sudah takut berdekatan dengan laki-laki kembali. Begitulah akhirnya sang pangeran itu juga menjadi putus asa pula. Keduanya lalu berpisah tanpa bisa menemukan titik perpaduan yang dapat  mempersatukan kedua hati mereka. Namun keduanya sama-sama menderita karenanya.

Demikianlah, sampai menjelang lohor kedua pendekar itu dengan dibantu lima orang anggota Sha-cap-mi-wi yang mengiringkan Hong-lui-kun dari kota-raja, telah selesai menguburkan ratusan mayat yang berserakan di dasar palung jurang itu. Palung jurang yang dikenal orang dengan nama Lembah Dalam.

Semula Si Pendeta Palsu Dari teluk Po-hai tidak mau meninggalkan tempat itu. Perempuan tua itu ingin mencari T ui Lan lagi sampai dapat. Tapi Souw T hian Hai dan Hong-lui-kun Yap Kiang Lee segera menasehati agar gadis itu dicari saja di tempat lain. Sebab kalau gadis itu memang benar-benar masih berada di tempat itu, tentu sudah kembali kepada mereka. Ui Bun Ting juga membujuk bekas kekasihnya itu, sehingga akhirnya perempuan tua itu mau pula menuruti perkataan mereka.

Lalu, kemanakah sebenarnya Tui Lan itu? Begitu memasuki lobang kecil itu, Tui Lan yang berpakaian laki-laki itu segera berada di dalam lorong yang gelap dan pekat. Hampir saja gadis itu mengurungkan niatnya untuk mencari Giok-bin Tok-ong. Tapi keinginannya untuk bertemu dengan tokoh yang mampu membunuh para ketua partai persilatan, namun ternyata sangat takut kepada gurunya itu, membuat gadis itu menjadi bersemangat kembali. Gadis itu benar-benar ingin mengetahui mengapa manusia sakti itu sedemikian takutnya kepada gurunya. Mungkinkah orang tua itu sungguh-sungguh telah membunuh ayah-ibunya? Benarkah orang tua itu si Iblis Penyebar Maut yang ditakuti orang itu? Gadis itu lalu mengeluarkan lilin dan menyalakannya.

Lobang sempit yang dari luar kelihatan buntu itu ternyata melebar di dalamnya. Tui Lan tidak usah merangkak lagi. Dia berjalan hati-hati me lalui celah-celah batu padas yang merekah membentuk lorong-lorong sempit di dalamnya. Tapi lorong-lorong itu kemudian terpecah-pecah menjadi beberapa jurusan sehingga gadis itu menjadi bingung untuk melangkah maju lagi.

Angin meniup perlahan di dalam lorong itu, sehingga menggoyangkan nyala api lilin yang dipegang oleh Tui Lan. Untuk sesaat udara segar terasa menghembus ke dalam paru-paru Tui Lan.

"Tentu ada lobang yang besar di dekat tempat ini. Dan aku juga seperti membaui air pula....” gadis itu berkata di dalam hati.

Tui Lan lalu menerobos ke dalam salah satu lorong yang mengeluarkan udara segar dan uap air itu. Benarlah beberapa saat kemudian sayup-sayup terdengar suara gemericiknya air mengalir di dalam lorong yang dipilihnya itu dan sete lah membelok kesana-kemari me lalui lorong yang semakin menurun itu, maka Tui Lan lalu tiba di sebuah sungai di bawah tanah.

Sungai itu ada lima atau enam tombak lebarnya. Tidak begitu dalam, namun airnya mengalir dengan sangat derasnya, sehingga suaranya terdengar gemuruh memenuhi lorong-lorong yang sempit itu.

Krincing……….! Krincing…………….!

Hampir saja Tui Lan membentur batu padas diatasnya! Suara gemerincing besi yang beradu satu sama lain, yang datang dari arah kiri gadis itu menggema memenuhi lorong tersebut, mengatasi gemuruhnya suara air sungai, hingga mengagetkan hati Tui Lan! Kemudian dengan wajah dan perasaan yang amat tegang gadis itu mencari sumber suara tersebut.

Tui Lan merayap hati-hati di pinggir sungai bawah tanah. Tiba-tiba ia mencium bau asap obor di balik sebongkah batu besar. Gadis itu menjadi curiga! Lilin itu ditaruhnya di atas batu kemudian dikerahkannya lwee-kangnya untuk menggeser batu besar tersebut. Hup! Batu itu bergeser, dan secercah sinar obor tampak menyeruak keluar. Ternyata sebuah lobang kecil, sebesar tubuh manusia, menganga di belakang batu besar tersebut.

Tui Lan menjadi berdebar-debar hatinya! Terang ada yang menyalakan api obor di dalam lobang itu! Tapi, siapa dia? Mungkinkah orang itu Giok-bin Tok-ong? Ataukah ada orang yang lain lagi?

Tui Lan memaksa dirinya untuk melongok ke dalam. Ia memang melihat obor-obor itu dipasang di dalam lobang itu, lobang yang semakin ke dalam semakin besar, yang membentuk sebuah ruangan atau rongga lebar di dalamnya. Tapi gadis itu tak melihat seorangpun di sana. Di dalam gua itu hanya tampak bongkah-bongkah batu karang besar yang berdiri tegar menyentuh langit-langit gua. Tui Lan memberanikan dirinya masuk lebih ke dalam lagi, sehingga akhirnya dia berada di tengah-tengah ruangan gua tersebut. Sebenarnya ada juga perasaan ngeri di dalam hati gadis itu melihat bongkah-bongkah batu karang yang berdiri tegar di sekelilingnya itu. Gadis itu takut, Jangan-jangan orang yang menyalakan obor tersebut bersembunyi di balik batu-batu karang itu.

Krinciiliing.........!

Suara besi itu kembali terdengar lagi dengan nyaringnya!

Dan tiba-tiba saja sebuah lengan yang diborgol dengan jalinan rantai besi sebesar lengan itu sendiri, menyelonong keluar dari balik sebongkah batu karang besar di depan gadis itu!Lengan
itu kemudian jatuh berdencing di atas tanah dan diam tak bergerak. Selanjutnya Tui Lan mendengar suara napas yang berat diselingi suara dengkur kecil orang tertidur.

Tui Lan yang semula hampir menjerit itu kemudian menghela napas lega. Ternyata di balik batu karang besar itu ada seorang lelaki yang diborgol lengannya, dan sedang tertidur pulas. Dan ketika gadis itu memperhatikan dengan lebih teliti lagi, maka ia melihat jalinan rantai besi yang melingkar-lingkar pada batu karang tersebut.

“Ah! Rantai yang dipergunakan untuk memborgol orang itu ternyata dililitkan pada batu karang, agar ia tidak bisa pergi meninggalkan tempat ini. Hmm, tampaknya orang ini sangatlah berbahaya sehingga ia diikat di gua ini. Tapi, siapakah orangnya yang mampu mengikatnya itu? Apakah Giok-bin Tok-ong juga? Baiklah aku akan melihatnya. Dengan rantai yang mengikat lengannya itu kukira ia sudah tidak berbahaya lagi ......" gadis itu berkata di dalam hati. Krinciiing!

Sekali lagi orang itu bergerak dan kini yang muncul keluar adalah kaki kirinya! Tui Lan menghentikan langkahnya. Dilihatnya kaki orang itu juga diborgol pula!

“Oh, tampaknya orang ini telah diborgol semua tangan dan kakinya.....” gadis itu membatin dengan perasaan yang semakin lega, lalu kakinya melangkah lagi untuk mendekati. Sesosok tubuh tinggi kurus sedikit demi sedikit dapat dilihat oleh Tui Lan. Dan benar juga dugaan gadis itu, orang tersebut diborgol semua kaki-tangannya. Malah tidak cuma itu saja!

Leher orang itupun ternyata juga dililiti borgol pula! Ma lahan borgol itu tampaknya lebih tebal dan lebih kuat pula! Dan borgol tersebut tampak sangat kokoh mencengkeram batang leher itu sehingga rasa-rasanya orang itu sulit untuk menggerakkan kepalanya.

Tapi ketika Tui Lan mencoba untuk menjenguk wajah orang itu, tiba-tiba mulutnya ternganga. Tui Lan merasa kaget tapi juga heran! Karena wajah itu adalah wajah si pemuda kurus yang ia temui di restoran kemarin!

Pemuda itu tidur terlentang dengan pulasnya. Air mukanya tampak polos dan damai, tidak pucat dan kaku seperti kemarin, sehingga wajahnya yang amat tampan itu kelihatan makin menarik dan bercahaya, diam-diam Tui Lan kagum juga. Baginya, pemuda itu kelihatan sangat lembut dan tidak terlalu kasar.

Hanya yang sangat mengherankan adalah mengapa pemuda itu diborgol kaki-tangannya? Apakah pemuda itu berada dalam tawanan musuhnya? Apakah Giok-bin Tok-ong yang menyanderanya?

Tui Lan lalu melangkah semakin dekat lagi. Dengan sangat hati-hati dilihatnya rantai borgol yang dipakai untuk mengikat pemuda itu.

”Borgol-borgol ini dikunci dengan kuat sekali,” katanya di dalam hati.

Krinciiiing!

Tiba-tiba pemuda itu membalikkan badannya, sehingga rantai pengikat ikut bergerak dan berbunyi dengan ramainya. Dalam kagetnya Tui Lan cepat-cepat bertiarap di lantai gua dan tidak berani bergerak atau bersuara sedikitpun. Sambil menempelkan kepalanya di atas lantai, gadis itu menunggu beberapa saat lamanya.

Dalam suasana yang hening dan menegangkan tersebut, mendadak gadis itu mendengar suara orang bercakap-cakap! Dan suara itu terasa dekat sekali!

Tui Lan bangkit dengan cepat. Matanya nyalang mencari sumber suara itu. Tapi suara itu mendadak juga lenyap begitu ia bangun, dan di dalam gua tersebut tiada orang lain selain dia dan pemuda itu.

Gadis itu menjadi penasaran sekali. Sekali lagi ia bertiarap dan memasang telinganya baik-baik. Benar juga. Suara itu kembali menggema di dalam telinganya. Namun suara tersebut segera hilang bila ia bangkit berdiri.

Tui Lan menjadi curiga terhadap lantai gua itu. Dan ketika ia memeriksanya, ia melihat lantai itu retak atau merekah panjang, sehingga menimbulkan celah sempit selebar tiga jari dan dari dalam celah sempit itulah suara tersebut terdengar.


“Kelihatannya dibawah lantai gua ini ada ruangannya pula…” gadis itu menduga-duga di dalam hatinya. Lalu timbul keinginan Tui Lan untuk mendengarkan percakapan orang yang berada di ruangan bawah itu. Dipasangnya telinganya di tempat yang retak itu.

“Giok-bin Tok-ong….! Jadi lelaki muda yang dapat menahan ilmuku tadi bernama Hong-gi-hiap Souw Thian Hai? Pantas aku agak mengalami kesulitan untuk menundukkannya! Bocah itu memang sangat lihai, sehingga dia ikut tercatat pula di dalam ‘Buku Rahasia’ itu….” Terdengar suara serak namun sangat nyaring dari dalam celah itu.

"Buku Rahasia! Buku Rahasia...! Kau selalu saja menyebut-nyebutkannya. Bosan aku mendengarnya! Ayo, tunjukkan kepadaku! Mana buku itu? Kenapa tidak lekas-lekas kau tunjukkan kepadaku, kalau buku itu memang ada? Mengapa sedari tadi kau cuma membuka mulut saja tanpa menunjukkan buktinya? Apakah kau ingin mempermainkan aku, hah?" terdengar suara Giok-bin Tok-ong menyahut perkataan orang yang pertama itu.

“Kau memang bebal dan berotak udang! Sudah berkali-kali kukatakan bahwa aku tak membawanya, kau masih saja tak percaya! Aku hanya pernah membacanya. Itupun cuma sepintas lalu, yaitu ketika orang yang mengaku bernama Bok Siang Ki itu memperlihatkannya kepadaku! Coba sekarang kau pikirkan lagi dengan baik! Bagaimana aku dapat mengenalmu dan mencarimu di tempat ini, padahal kita belum pernah saling berkenalan sebelumnya, kalau bukan karena buku itu? Bagaimana aku tahu tokoh-tokoh kang-ouw itu, padahal aku tak pernah keluar dari lobang pertapaanku selama seratus tahun, kalau bukan karena buku itu?" lawan bicara Giok-bin T ok-ong itu menjawab gusar.

Hening sejenak. Kakek berwajah tampan itu tidak terdengar lagi suaranya, sehingga Tui Lan menjadi tegang dan berdebar-debar. Sekilas gadis itu memandang ke arah si pemuda kurus yang telah tertidur pulas itu.

''Baiklah!" akhirnya terdengar suara Giok-bin Tok-ong kembali. "Tetapi aku tetap belum mempercayai kata-kata itu sepenuhnya, sebelum aku melihat sendiri buku itu. Namun demikian, aku ingin mendengar juga terlebih dahulu darimu. Siapakah Bok Siang Ki itu? Bagaimana dia sampai mendapatkan buku itu? Lalu apa saja isi buku celaka itu?”

"Bangsat! Bolak-balik kau tetap tak percaya juga kepadaku.. !"

"Sudahlah! Jawab saja pertanyaanku itu!" Giok-bin Tok-ong terdengar mendesak kembali.

“Bagaimana aku tahu orang yang bernama Bok Siang ki itu, kalau aku juga belum pernah melihat sebelumnya. Dia mendatangi gua pertapaanku yang sudah tertutup oleh semak belukar di T elaga ouw (Telaga Besar) itu, dan membangunkan aku, agar aku keluar menghentikan tapaku. Semula aku tak mengacuhkan. Tapi ketika dia hendak meledakkan guaku, aku menjadi marah. Aku menjebol dinding gua dan menghadapinya. Kami lalu berkeIahi........”

“Dan .....kau kalah, bukan?" terdengar suara Giok-bin Tok-ong mengejek.

"Kurang ajar! Siapa bilang aku kalah? Orang itu sangat licik, sehingga aku ketinggalan satu jurus!'' lawan bicara Giok-bin Tok-ong itu berteriak semakin gusar.

“Hei, Sin-tong! Jangan marah-marah begitu! Kalau memang kalah akui saja kekalahan itu. Di dalam perkelahian, setiap orang bebas untuk berbuat apa saja demi mendapatkan kemenangan. Jadi, salahmu sendiri bila kau sampai terkecoh oleh muslihat lawan itu.”

"Jangan panggil aku Sin-tong (Anak Ajaib)! Bisa kuremukkan kepalamu nanti!" suara lawan berbicara Giok-bin Tok-ong itu semakin keras dan berang.

"Habis tubuhmu demikian kecil, namun kesaktianmu begitu dahsyat, sih…..!” Giok-bin Tok-ong terdengar menyahut perkataan lawannya itu dengan tertawa.

“Lalu........ kalau aku tak boleh menyebutmu demikian, bagaimana aku harus memanggilmu? Coba katakan kepadaku siapakah namamu sebenarnya?”

"Ini……ini……Wah, aku sendiri sudah lupa pula pada namaku sendiri.”

"Nah! Itulah sebabnya kau kupanggil Bu-tek sin-tong. yang berarti... Seorang Anak Kecil Ajaib Yang Sukar dicari Tandingannya, hehehe……!”

“Kurang ajar.........!"

"Sudahlah! Kau jangan mengumpat-umpat saja! Lebih baik kau ceritakan saja kepadaku, bagaimana kau bisa membaca 'Buku Rahasia' itu?" akhirnya terdengar suara Giok-bin Tok-ong membujuk dan tidak mengolok-ngolok lagi.

"Huh! Setelah dia berbuat liehai sehingga dapat memenangkan perkelahian itu, dia mengeluarkan sebuah buku kumal dari dalam saku bajunya. Dia bilang bahwa kedatangannya ke guaku itu atas petunjuk ‘Buku Rahasia’ tersebut. Di dalam buku itu, katanya tercantum ’DAFTAR TOKOH-TOKOH PERSILATAN TERKEMUKA’ pada waktu ini, beserta tempat tinggalnya juga. Itulah sebabnya aku juga mengetahui pula tempat tinggalmu, karena kau juga tercantum dalam buku tersebut.” Bu-tek Sin-tong terdengar memberi keterangan.

“Dan kau katakan bahwa namamu tertulis pada urutan ketiga dalam ‘DAFTAR TOKOH-TOKOH PERSILATAN TERKEMUKA’ itu, sementara aku hanya pada urutan keempat.

Begitukah? Jadi kau berada satu tingkat diatasku, begitu? Huh, enaknya!”

“Hei! Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Di dalam buku yang diperlihatkan kepadaku itu, aku memang ditulis pada nomer tiga, sedangkan kau nomer empat. Sementara nomer yang kelima adalah Hong-gi-hiap Souw T hian Hai .....”

“Hehehe.....! lalu siapakah yang berada di nomer satu dan dua?”

“Nomer dua adalah Bok Siang Ki sendiri. Sedangkan yang nomer satu adalah seorang sasterawan yang juga tidak terkenal namanya, bertempat tinggal di puncak gunung Hoa-san. Dan menurut Bok Siang Ki, buku itu diambilnya dari rumah sasterawan itu.....”

"Hmm..... lalu apa saja isi buku itu selain 'DAFTAR TOKOH TOKOH PERSILATAN TERKEMUKA' itu?"

"Entahlah! Aku bukan seorang terpelajar, sehingga aku tak bisa memahami segala macam pantun dan syair yang tertulis di dalam buku itu. Aku bisa meraba-raba sedikit saja.

Tampaknya buku itu berisikan ramalan-ramalan tentang segala macam hal di dunia persilatan dan keadaan negeri Tiongkok di masa yang akan datang."

"Ramalan…. ?" terdengar suara Giok-bin Tok-ong mencemooh sambil tertawa seolah tak mempercayai kebenaran ramalan yang baginya cuma omong-kosong itu.

“Ooh, kau tak percaya?"

“Ah, omong kosong dengan semua macam ramalan itu!" “Tapi beberapa buah diantara ramalan itu telah terbukti kebenarannya. Misalnya tentang jatuhnya Kaisar Chin Si Hong-te oleh Liu Peng itu. Dan bagaimana keadaan anak keturunan bekas kaisar Chin itu sepeninggal Kaisar Chin Si Hong-te. Semua itu telah dikisahkan dalam buku itu. Bunyinya kalau tak salah begini :

Si Naga Emas menjadi lengah
Sehingga dapat dibunuh oleh anak seorang petani lemah
Naga-naga kecil saling berebut diri
Namun mereka mati oleh api yang mereka buat sendiri.
Seekor Naga Kecil bersayap hitam
Mencoba terbang mencapai awan
Tapi gagal karena seekor ular.

Naga Emas itu diibaratkan sebagai Kaisar Chin Si Hong-te, yang mati karena dibunuh oleh Liu Pang, anak seorang petani yang kini menjadi Ka isar Han, sementara Naga-naga Kecil atau anak-anak keturunan Kaisar Chin Si Hong-te justeru malah saling berbunuhan sendiri karena saling berebut kekuasaan. Kemudian ada seorang anak keturunan Kaisar Chin Si Hong-te pula, yang diibaratkan sebagai 'Seekor Naga Kecil Bersayap Hitam', yang ingin mengembalikan kekuasaan keluarganya, tapi ternyata mengalami kegagalan karena ulah seekor ular atau anak-buahnya sendiri….”

Hening lagi sejenak. Tampaknya Giok-bin Tok-ong terpengaruh pula oleh keterangan Bu-tek Sin-tong yang panjang lebar itu. Dan begitu pula halnya dengan Tui Lan yang ikut mendengarkan percakapan tersebut melalui celah sempit itu. Gadis itu semakin lama semakin tertarik pula mendengar pembicaraan mereka itu.

''Lalu, siapakah yang dimaksudkan dengan ‘Naga Kecil Bersayap Hitam’ itu?” tiba-tiba terdengar lagi suara Giok-bin Tok-ong melalui celah itu.

“Hmm, apakah kau tidak pernah mendengar nama Hek-eng-cu, yang sangat terkenal di dunia persilatan pada tiga tahun yang lalu? Tokoh sakti itu adalah keturunan Ka isar Chin Si Hong-te pula. Dia bermaksud menegakkan kembali dinasti keluarganya, tapi gagal. Dia terbunuh oleh keponakannya atau muridnya sendiri yang bernama Chin Yang Kun yang memiliki Ilmu Kim-coa-ih-hoat (Baju Ular Emas).”

“Ohh! Lalu, kemanakah Chin Yang Kun itu sekarang?"

"Hei.... mana aku tahu? Kepandaiannya sangat tinggi, dan usianya masih amat muda pula, apalagi ia juga tercantum pada urutan ke tujuh dalam ‘DAFTAR TOKOH-TOKOH PERSILATAN TERKEMUKA' itu.........."

"Eh, Sin-tong! Aku menjadi tertarik juga jadinya mendengar ceritamu itu. Aku juga ingin melihat dan membaca ‘Buku Rahasia' itu pula. Lalu, dimanakah orang yang bernama Bok Siang Ki itu sekarang?"

"Sulit untuk mencarinya, karena dia bertempat tinggal di tengah-tengah Gurun Go-bi yang maha luas itu. Dan meskipun dapat ketemu juga, kau takkan bisa mengenalnya pula. Dia sangat licik dan pandai sekali pian-hoa (beralih rupa).”

"Kau maksudkan bahwa dia itu pandai menyamar?"

“Benar!"

“Hmm, kalau begitu aku akan menemui sasterawan yang tinggal di puncak gunung Hoa-san itu saja. Selain lebih dekat, kukira ia juga lebih mudah dicari pula.”

"Hei, aku juga ikut! Aku juga ingin bertemu dengan Jago Silat Paling Terkemuka itu!" Bu-tek Sin-tong terdengar berteriak.

Terdengar langkah kaki mereka meninggalkan ruangan bawah itu.

Tui Lan menarik napas panjang, namun demikian hatinya masih terasa tegang juga. Giok-bin Tok-ong yang sebenarnya ingin ia jumpai itu kini telah pergi. Sebuah kesempatan yang baik untuk menolong pemuda kurus itu dari borgolnya.

“Tapi kuncinya? Mana kuncinya? Tanpa kunci itu tak mungkin borgol yang kokoh kuat itu dapat dibuka .. " gadis itu berkata di dalam hatinya.

Gadis Itu lalu mencari kunci borgol itu. Namun sampai lelah ia melongok dan mencari kesana-kemari, kunci tersebut tak diketemukannya juga. Akhirnya gadis itu mengambil keputusan untuk keluar dari tempat itu, dan melapor kepada gurunya. Siapa tahu gurunya dapat membebaskan pemuda itu? Mumpung Giok-bin Tok-ong pergi ke puncak gunung Hoa-san!

Tui Lan lalu keluar melalui lorong-lorong gua itu kembali. Sampai di luar ternyata hari sudah siang, malah matahari sudah lewat di atas kepala. Dan di luar lobang itu telah menjadi sepi. Gurunya sudah tiada lagi di tempat itu. Yang tampak di Lembah Dalam itu sekarang hanyalah gundukan tanah yang luar biasa banyaknya, yang hampir memenuhi seluruh lembah itu sendiri.

Diam-diam bergidik juga hati T ui Lan menyaksikan kuburan baru sekian banyaknya itu. Oleh karena itu Tui Lan cepat-cepat merayap menaiki tebing lembah yang sangat mengerikan itu. Dan sampai di dasar jurang tersebut, Tui Lan segera merayap pula lagi mendaki tebing jurang. Untunglah siang itu kabut telah menghilang disapu panas mentari,
sehingga Tui Lan tidak mengalami kesulitan untuk mencapai bibir jurang yang berada di puncak bukit itu.

Kedatangan Tui Lan di kota Soh-ciu disambut dengan suasana duka cita para warga kota dan penduduk Kang Lam berkenaan dengan terbunuhnya ratusan pendekar persilatan yang bermaksud membela mereka dari keganasan Si Iblis Penyebar Maut itu. Hampir tak seorangpun yang keluar di jalan raya. Toko-toko dan warung-warung yang berada di pinggir jalan juga menutup pintunya, sementara rumah-rumah penduduk juga tampak lengang pula, sehingga kota itu rasa-rasanya seperti sebuah kota mati saja layaknya.

Tui Lan langsung menuju ke penginapannya. Tapi dilihatnya gurunya juga belum kembali. Kamarnya kosong dan ketika ia memasuki kamarnya sendiri, pelayan penginapan itu menghampirinya dengan tergopoh-gopoh.

"Siauw-ya......! Nyonya tua yang tinggal di kamar sebelah tadi datang mencari siauw-ya. Tapi setelah mengetahui siauw-ya belum datang, beliau lalu pergi lagi." Lapornya kepada Tui Lan yang masih mengenakan pakaian pria itu.

“Kau tahu kemanakah beliau pergi?" tanya Tui Lan seraya memberi persen uang logam kepada pelayan itu.

"Saya tidak tahu, siauw-ya. Nyonya itu tidak meninggalkan pesan apa-apa kepada saya....” jawab pelayan itu sambil menerima uang pemberian gadis itu.

Wajahnya menjadi berseri-seri. "Baiklah! Biarlah aku menunggunya saja di sini."

"Apakah saudara mencari nyonya tua itu? Aku tahu kemana dia pergi," tiba-tiba Tui Lan mendengar sebuah suara di belakangnya.

Gadis itu terkejut dan membalikkan tubuhnya. Ternyata di belakangnya telah berdiri s i A Cang, kacung dari T iauw K iat Su itu.

Tui Lan menjadi curiga dan meningkatkan kewaspadaannya, karena ia merasakan sesuatu yang tidak wajar melihat kedatangan bocah tanggung itu di tempat penginapannya.

''Kau siapa?" Tui Lan pura-pura bertanya.

Tak terduga kacung itu tersenyum. "Siauw-ya belum tahu namaku? Hehe. baiklah! Namaku...... si A Cang! Sederhana sekali, bukan? Aku adalah pelayan dari Kim-mou-eng Tiauw Kiat Su yang tersohor itu," katanya menyombongkan dirinya sambil tertawa pringas-pringis.

Tapi Tui Lan tak melayani kekurang ajaran bocah tanggung itu. Sambil menengadahkan dadanya ia berkata kaku, "Kalau tak salah saudara tadi berkata bahwa saudara mengetahui kemana nyonya tua itu pergi. Hmm, bolehkah aku tahu juga ke mana beliau itu pergi?"

"Ah, mengapa terburu-buru? Tidak enak berbicara dengan berdiri begini.. Eh, bolehkah aku masuk dan bercakap-cakap di dalam kamar siauw-ya?" kacung itu semakin berani kurang ajar.

Sekejap Tui Lan menjadi merah padam. "Apakah bocah ini mengenali penyamaranku?" pikirnya keras. "Tetapi ..mustahil! Aku telah berdandan dengan rapi sekali. Dan rasanya bocah ini juga terlalu muda untuk dapat berbuat kurang ajar terhadap wanita."

Namun demikian, tentu saja Tui Lan takkan mengijinkan pemuda tanggung itu untuk memasuki kamarnya. Maka dengan sabar ia berkata, 'Saudara dapat mengatakannya di sini, atau..... biarlah aku menantinya saja kalau saudara memang tak mau mengatakannya."

"Begitukah? Baiklah, karena siauw-ya ternyata berlaku kurang ramah dan tampaknya juga tidak terlalu peduli pada berita yang hendak kusampaikan itu, maka sebaiknya aku juga tidak usah mengatakannya saja. Nah. permisi ....” kacung itu berkata seraya pergi meninggalkan tempat itu. Secara sambil lalu tangannya menepuk-nepuk pedang panjang yang tergantung di pinggangnya.

Tiba-tiba Tui Lan membelalakkan matanya! Pedang yeng tergantung di pinggang A Cang itu adalah pedang gurunya! Kecurigaan Tui Lan semakin menjadi-jadi! Tampaknya telah terjadi sesuatu terhadap gurunya! Dan bocah ini tampaknya mengetahui segalanya.

Tui Lan mengerahkan gin-kangnya. Tubuhnya melesat ke depan dan dengan sigapnya berdiri di muka pemuda tanggung itu.

“Berhenti! Kulihat kau mengenakan pedang guruku! Nah, sekarang berkatalah yang sebenarnya! Dimanakah guruku itu sekarang? Jangan berbelit-belit!" bentaknya keras.

Ternyata kacung itu masih juga menggoda. Dengan berpura-pura kaget ia bertanya,"Guru siauw-ya? Siapakah guru siauw-ya itu? Kulihat nyonya tua itu hanya mempunyai seorang murid perempuan.”
Yakinlah Tui Lan sekarang bahwa pemuda itu telah mengetahui penyamarannya.

“Sudahlah, jangan berbelit-belit! Kalau kau memang sudah mengetahui semuanya, kenapa kau masih berpura-pura juga?" Tui Lan membentak marah.

Kacung itu tertawa panjang. “Baiklah! Baiklah! Kalau begitu, marilah nona mengikuti aku ke tempat guru nona itu sekarang!" katanya penuh kemenangan.

Sesungguhnya Tui Lan amat kesal melihat kecongkakan kacung itu. Namun apa daya, kekhawatirannya terhadap nasib gurunya membuatnya harus menahan sabar untuk sementara waktu. Oleh karena itu dibiarkannya saja kacung itu berbuat sesuka hatinya, asal tidak berbuat kurang ajar saja terhadapnya.

Kacung itu membawa T ui Lan ke restoran, tempat tuannya membuat keributan kemarin. Di sepanjang jalan kacung itu tak henti-hentinya membual dan menyombongkan kekayaan dan kesaktian keluarga Tiauw di Lautan Timur. Meskipun Tui Lan tidak menanggapi omongannya, kacung itu tetap saja mengobral ceritanya.

Tiauw Kiat Su ternyata telah duduk di depan meja menantikan kedatangan mereka. Dan di atas meja itu telah tersedia segala macam masakan yang enak-enak dan mahal-mahal. Sementara di pinggir meja juga telah tersedia pula dua guci anggur merah beserta cangkirnya.

Semula kaget juga pemuda itu melihat kedatangan A Cang, yang tidak membawa gadis yang ia maksudkan, tapi sebaliknya malah datang bersama seorang pemuda tampan berpakaian sasterawan. Tetapi setelah A Cang menerangkan siapa sebenarnya pemuda berpakaian sasterawan itu, Tiauw Kiat Su lantas tertawa terbahak-bahak.

"Wah! Pandai juga nona menyamar menjadi seorang pemuda, sehingga kami kehilangan jejak dan repot mencarimu kemana-mana. Nah, sekarang silakan duduk, nona.......!" pemuda itu menyambut kedatangan Tui Lan dengan ramahnya.

Sesungguhnya Tui Lan ingin lekas lekas menanyakan perihal gurunya. Namun melihat persiapan pemuda itu dalam menyambut kedatangannya, maka gadis itu segera mengurungkan niatnya. Tampaknya pemuda itu benar-benar tertarik dan ingin sekali berkenalan dengan dirinya, sehingga bagaimanapun juga ia mendesaknya, pemuda itu tentu tidak akan segera memberitahukan keadaan gurunya. Pemuda itu tentu akan mengulur-ulur waktu selama mungkin.

Menghadapi orang demikian, ia harus sabar dan pandai melihat keadaan. Namun demikian, begitu duduk diatas kursinya Tui Lan terpaksa berkata juga,"Maaf, saudara Tiauw, saya tidak mempunyai banyak waktu. Oleh karena itu saya mohon sudilah kiranya saudara Tiauw lekas-lekas memberitahukan keadaan guruku itu kepadaku......."

"Eee, nanti dulu! Jangan tergesa-gesa! Guru nona tidak apa-apa. Jangan khawatir! Marilah kita menikmati pertemuan kita ini dahulu dengan makan dan minum sekedarnya! Pelayan restoran ini sudah menyajikan sebuah masakan istimewa buat kita berdua, hahaha........oh,ya....... kita belum berkenalan.
Namaku T iauw Kiat Su. Ehm, bolehkah aku mengetahui nama nona?” dengan lagak dan suara yang dibuat-buat Tiauw Kiat Su mencoba menarik perhatian Tui Lan.


Tiraikasih Website http ://ka ngzusi.com/ Sesungguhnya sebal juga rasanya hati Tui Lan melihat lagak-lagu pemuda itu. Namun karena masih membutuhkan

keterangan tentang gurunya, maka sekali lagi ia menyabarkan hatinya. Apalagi gadis itu telah menyadari pula betapa lihainya pemuda di depannya itu. Pemuda itu harus dihadapi dengan

akal, bukan dengan kekerasan.

"Namaku .. ,. Han Tui Lan,” gadis itu menjawab pendek. "Han Tui Lan? Wah, betapa bagusnya nama itu. Sungguh sesuai sekali untuk nona." pemuda itu memuji. Lalu sambungnya cepat, ”Mari....! Marilah nona Han! Silahkan minum anggur merah dari Soh-ciu yang terkenal!"

Tanpa menunggu lagi reaksi tamunya, pemuda itu langsung saja menyiapkan cangkir di depan Tui Lan dan mengisinya dengan anggur merah yang telah tersedia di dalam guci. Setelah itu ia berdiri mengisi pula cangkirnya sampai penuh. Tapi ketika dilihatnya T ui Lan belum juga mau mengangkat cangkirnya, pemuda itu lantas tertawa maklum.

"Hahaha......! Marilah! Nona Han tak perlu curiga. Anggur ini tidak beracun. Lihatlah, saya hendak meminumnya lebih dulu!" katanya sambil memuntahkan isi cangkirnya itu ke dalam mulutnya. Setelah itu dia mendahului pula mengambil makanan yang tersedia di atas meja.

“Ayo, silakan!" sambungnya pula seraya mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.

Tak enak juga rasanya hati Tui Lan kalau harus menolak terus hidangan yang disajikan oleh lawannya. Apalagi pemuda itu telah lebih dahulu mencicipi makanan dan minuman yang disajikannya. Oleh karena itu dengan sedikit enggan gadis itu terpaksa mengangkat juga cangkir yang berada di hadapannya, Namun ketika gadis itu hendak meraih makanan yang tersedia di atas meja, tiba-tiba matanya terbelalak menatap pintu restoran.

Otomatis Tiauw Kiat Su menoleh pula ke arah pintu. Dan pemuda itu segera mengerutkan dahinya dengan wajah masam. Seorang pemuda tampan bertubuh tinggi kurus tampak memasuki restoran itu dengan kepala tertunduk. Dan Tiauw Kiat Su segera mengenalinya sebagai pemuda yang kemarin telah menghinanya dengan cara menyaingi dia dalam memberi hadiah uang kepada pelayan.

"Anak miskin yang berlagak banyak uang itu ternyata telah berani datang lagi ke tempat ini." Tiauw Kiat Su menggeram dengan suara dongkol.

Sebaliknya, kedatangan pemuda kurus itu benar-benar amat mengejutkan hati Tui Lan! Sebab baru beberapa saat yang lalu pemuda itu masih terborgol semua kaki-tangannya di dalam lorong gua di Lembah Dalam itu. Kini pemuda itu sudah bebas. Malahan sekarang berada di dalam kota pula kembali. Lalu siapakah yang telah membebaskan pemuda itu dari borgolnya?

Seorang pelayan segera menyongsong kedatangan pemuda kurus itu. Dengan suara takut dan menyesal, pelayan itu yang kebetulan juga pelayan yang kemarin diberi hadiah oleh pemuda kurus itu, memberitahukan kepada pemuda itu bahwa seluruh meja di restoran tersebut telah diborong oleh Tiauw Kiat Su semua.

“Kulihat siang ini amat sepi. Dan tuan itu tampaknya juga hanya menggunakan satu meja saja. Kenapa aku tak bisa memakai sebuah meja saja yang pinggir itu?"' pemuda kurus itu menggerutu.

"Tapi...... tapi tuan muda itu memang telah memborong semuanya, tuan. Katanya…... katanya tuan muda itu hendak menjamu seorang kenalan baiknya."

"Hmmh! Coba katakan kepada tuan muda itu, kalau boleh aku akan meminjam sebuah saja diantara meja-mejanya. Kalau perlu akupun bisa menggantinya dengan uang ... "

"Tapi.............." pelayan itu melirik ke arah Tiauw K iat Su.

"Sudahlah! T ak usah takut! Katakan saja permintaanku tadi kepada tuan muda itu......!" pemuda kurus itu mendesak.

Dengan agak takut-takut pelayan itu terpaksa menuruti permintaan tamunya. Tapi baru beberapa langkah ia berjalan, ternyata A Cang sudah menghadangnya.

“Goblog! Mau kemana kau, huh? Ayo pergi! Jangan ganggu tuan mudaku! Suruh pergi saja orang itu dari sini! Sekali sudah diborong, ya diborong! Tak ada kecualinya lagi!" hardik kacung sombong itu dengan suara menggeledek.

Namun baru saja mulut kacung itu terkatup kembali, tiba-tiba tubuhnya terangkat ke atas. Kemudian terbanting ke lantai tanpa menyadari apa yang telah terjadi! Tahu-tahu kacung itu melihat si pemuda kurus tadi telah berdiri bertolak-pinggang di depannya!

Semua orang ternganga kaget dan heran! Tidak terkecuali pula Tui Lan dan Tiauw Kiat Su! Sama sekali mereka tidak melihat cara bagaimana pemuda kurus tersebut bergerak.

Padahal jarak antara A Cang dan pemuda itu tadi lebih dari
dua tombak jauhnya. Lagipula si A Cang juga bukan anak bodoh yang tidak bisa apa-apa. Kemarin pemuda tanggung itu justru dapat membunuh seorang pendekar dari Tai-khek-pai pula.

Tapi semua itu memang telah terjadi. Pemuda kurus itu telah mengangkat dan membanting A Cang dengan cara yang tidak dapat diketahui oleh siapapun juga. Dan kini kacung itu tergeletak kesakitan di atas lantai.

Tiauw Kiat Su tak dapat menahan kemarahannya. Tapi sebelum pemuda itu bangkit dari kursinya, Tui Lan cepat mencegahnya. Selain gadis itu amat tertarik dengan penampilan si pemuda kurus tersebut, gadis itu juga tak ingin urusan tentang gurunya itu menjadi tertunda pula.

"Saudara Tiauw! Bukankah saudara ini menjamu aku? Mengapa kini saudara justru hendak meninggalkan meja ini? Biarkan saudara itu mengambil sebuah meja untuk makan-minumnya. Dia toh takkan mengganggu pembicaraan kita." Tui Lan berkata dengan tegas.

Tiauw Kiat Su menjadi bimbang. Beberapa kali pemuda itu menoleh ke arah kacungnya. Tampak benar bahwa pemuda itu berusaha mengendalikan kemarahannya.

"Hmm! Baiklah! A Cang, mundurlah! Biarlah orang itu memakai meja kita.......!" akhirnya pemuda itu berteriak ke arah kacungnya yang masih kesakitan itu.

"Terima kasih, saudara ....!” pemuda kurus itu tersenyum dan mengangguk ke arah Tui Lan, kemudian menarik sebuah kursi dan duduk menghadapi sebuah meja.

Tui Lan tersenyum pula. Dan diam-diam gadis cantik itu kembali mengagumi ketampanan pemuda tersebut. "Ah, ternyata dia dapat juga tersenyum.........." desahnya di dalam hati.

Sementara itu pemuda kurus itu telah memesan makanan dan minuman kepada pelayan, dan kemudian sibuk dengan urusannya sendiri. Sedikitpun tidak mengacuhkan lagi kepada Tui Lan maupun Tiauw Kiat Su. Cuma ketika pelayan restoran itu mengantarkan pesanannya, pemuda itu berkata," Kulihat kota ini tidak ramai dan sibuk seperti kemarin. Apa yang telah terjadi?"

“Ah! Mengapa tuan tidak tahu juga? Kemana saja tuan tadi malam? Wah, tuan benar-benar ketinggalan  jaman. Masakan peristiwa besar yang sangat menggemparkan seperti itu tuan tidak mendengarnya juga?" pelayan itu balik bertanya kepada tamunya seolah-olah tak percaya.

Pemuda kurus itu mengerutkan alis matanya. "Peristiwa besar? Peristiwa apa itu? Apakah tentang Si Iblis Penyebar Maut lagi?" tanyanya dengan suara kaget dan tegang.

"Seluruh pendekar persilatan yang berkumpul di kota ini, yang jumlahnya lebih dari limaratus orang itu, habis ludes, dibasmi oleh Iblis itu tadi malam. Di antara empat orang ketua partai persilatan yang ikut datang, hanya dua orang yang selamat. Itupun karena salah seorang diantaranya, Kong Tong Cin-jin, tidak ikut bersama-sama para pendekar itu karena masih sakit. Hek-pian-hok Ui Bun Ting, ketua Tiam-jong-pai yang terkenal itu digotong pulang dalam keadaan terluka parah......." pelayan itu memberi keterangan dengan wajah tegang pula.

“Ohh….! Jadi jadi begitukah?" pemuda itu mengeluh dengan suara tersendat-sendat, seolah amat terpukul atau sangat menyesal hatinya mendengar khabar itu.

“Makanya tadi kulihat banyak sekali kuburan di Lembah Dalam itu. Apakah….Apakah….?ohh!" sambungnya lagi seraya memegang kepala dan menundukkannya dalam-dalam.

Pelayan itu juga menghela napas, menyangka kalau tamunya tersebut sangat menyesal karena tak bisa ikut berjuang bersama-sama temannya melawan Si Iblis Penyebar Maut yang amat sakti itu.

"Bukankah kemarin tuan juga ada di tempat ini? Kemanakah tuan tadi malam, sehingga tuan tertinggal oleh para pendekar itu?" pelayan itu bertanya sambil menyelesaikan hidangan yang ia sajikan.

Tui Lan yang ikut mendengarkan pula percakapan itu, diam-diam menjadi tegang juga hatinya menantikan jawaban pemuda itu.

"Aku........tertidur malam tadi." akhirnya pemuda kurus itu menjawab pendek, sehingga Tui Lan menjadi kecewa mendengar jawaban itu.

"Kelihatannya pemuda itu menyimpan rahasia. Terang dia diborgol kaki-tangannya oleh kakek tampan itu, kenapa dia bilang kalau tertidur tadi malam? Kenapa ia tak berterus terang saja kalau dirinya sedang ditawan oleh iblis itu? Apakah pemuda itu ingin melindungi iblis itu karena iblis itu tidak membunuhnya? Ataukah mungkin pemuda itu mempunyai hubungan khusus dengan iblis itu malah?" Bermacam-macam pertanyaan mengganggu pikiran Tui Lan sehingga gadis itu menjadi tersendat-sendat makannya.

"Ah, mengapa nona makan sedikit sekali? Ayolah, minum lagi .......!"

Tiauw Kiat Su yang sedari tadi selalu memperhatikan gadis itu tiba-tiba berkata.

"Terima kasih. Saya tidak begitu berselera hari ini. Pikiranku selalu terbayang pada guruku.” Tui Lan berkilah, sambil mencoba untuk membuka percakapan tentang gurunya.

Tiauw Kiat Su tertawa perlahan. "Ah, kenapa nona tetap kurang sabar juga.....? Selesai acara makan dan minum ini kita akan segera pergi menemui orang tua itu. Marilah kita m inum secangkir lagi!" pemuda itu berkata seraya mengisi cangkir T ui Lan dengan anggur merah itu sampai penuh.

Dengan kesal Tui Lan menatap mata lawannya. Hampir saja gadis itu tak kuasa mengekang perasaannya lagi. Namun bayangan wajah gurunya sekali lagi menyadarkan hatinya, sehingga dengan amat berat gadis itu terpaksa menuruti permintaan pemuda tersebut. Sekali tuang gadis itu menghabiskan anggur itu.

“Nah, saudara Tiauw.....cangkirku telah kosong. Mau tunggu apa lagi?"

Tampaknya Tiauw Kiat Su maklum juga kalau Tui Lan sudah kehilangan kesabarannya. Maka, dengan sedikit enggan pemuda itu terpaksa bangkit pula dari kursinya.

"Baiklah, nona........ marilah!" ucapnya perlahan, lalu mengajak tamunya itu keluar restoran. A Cang yang sedari tadi menjadi tidak banyak omong, cepat mengikuti tuannya. Ketika melewati tempat duduk si pemuda kurus tadi, bocah itu masih dapat mengancam juga.

"Huhl Awas pembalasanku!"

Pemuda kurus itu menoleh sambil tersenyum. Katanya kepada pelayan yang sedang berada di dekat mejanya,"Siapakah tamu Tiauw Kiat Su tadi? Apakah dia penduduk kota ini juga?”

“Ah yang tuan maksudkan anak muda yang sangat tampan itu? Wah, entahlah, saya tidak tahu. Kami semua juga baru melihatnya hari ini." pelayan itu menjawab polos.

“Dan saya kira dia bukanlah sahabat atau teman dari pemuda congkak itu, sebab tampaknya hatinya sangat baik.”

"Ya! Namun kebaikannya itu kelihatannya hendak dibalas dengan air tuba oleh Tiauw  Kiat Su tadi."

"Dibalas dengan air tuba? Apakah maksud tuan?” pelayan itu bertanya tak mengerti.

Pemuda kurus itu tersenyum. "Sudahlah! Cepat bereskan semua rekeningku! Aku akan melihat kemana mereka tadi."

“Sudah, tuan. Uang tuan kemarin masih lebih dari cukup untuk membayar makanan tuan hari ini.” pelayan itu menolak dengan halus.

Pemuda kurus itu bangkit dari kursinya. Sambil meletakkan uang logam diatas mejanya, ia berkata.

“Jangan sebut-sebut hal yang kemarin. Aku sudah memberikannya dengan ikhlas kepadamu. Nih, berikan uang ini kepada majikanmu, kelebihannya boleh kau ambil.”


“Terima kasih, tuan! Terima kasih…!” Pelayan itu mengangguk-angguk.

Lalu sambungnya lagi dengan bersemangat,"Tuan....? Bolehkah saya mengetahui nama tuan?''

Di luar halaman pemuda kurus itu menoleh. “Sebut saja aku......Yang Kun! Liu Yang Kun!" katanya perlahan namun sudah cukup terdengar juga oleh pelayan itu.

Sementara itu di rumah Kang Lam Koai-hiap yang kini kosong itu, tampak beberapa orang sedang berunding. Mereka adalah Kong-tong Cin-jin yang masih sakit, Ui Bun Ting yang terluka parah, dan kedua orang tamu mereka, yaitu Hong-gi-hiap Souw Thian Hai dan Hong-lui-kun Yap Kiong Lee. Selain membicarakan duka cita yang menimpa diri para pendekar persilatan, mereka juga berbicara tentang tokoh-tokoh sakti yang secara tiba-tiba bermunculan di kota Soh-ciu.

“Bagaimana mula terjadinya sehingga musibah besar itu dapat menimpa para pendekar persilatan yang berkumpul di kota ini?" Hong-gi-hiap Souw Thian Hai bertanya kepada Kong-tong Cin-jin, yang juga belum bisa bangkit dari kursinya.

Ketua Kong-tong-pai itu menarik napas panjang. Lalu dengan suara berat dia menjawab,"Mula-mula salah seorang dari para pendekar itu melaporkan bahwa dia melihat seorang yang sangat mencurigakan di dasar jurang itu. Kang Lam Koai-hiap lalu memberi perintah kepadaku untuk
menyelidikinya. Karena aku sendiri juga belum yakin terhadap laporan tersebut, maka aku mewakilkan tugas itu kepada anak-anakku, Kong-tong Ngo-hiap. Ternyata laporan itu memang benar. Anak-anakku juga bisa melihatnya. Tapi anak-anakku tidak berani menghadapi orang yang sangat mencurigakan yang mereka pastikan sebagai Si Iblis Penyebar Maut itu, sebab orang tersebut memiliki gin-kang yang luar biasa tingginya.”

Kong-tong Cin-jin mendongakkan kepalanya, seakan-akan sedang berusaha mengumpulkan kembali ingatannya tentang peristiwa yang terjadi kemarin.

"Maka, aku dan saudara Ui Bun Ting lalu menyusul ke jurang itu. Benarlah, di tempat tersebut kami menjumpai orang yang kami curigai itu, yaitu seorang kakek tampan yang usianya jauh lebih tua dari umurku. Karena ciri-cirinya sesuai dengan apa yang telah diceritakan oleh Kang Lam Koai-hiap, maka kami berdua lantas mengeroyoknya. Sungguh tak terduga kakek itu benar-benar lihai tak terkira. Hanya dengan dua jurus, kami yang telah berani menjadi ketua sebuah partai persilatan ini, ternyata sudah kalah dan terluka. Untunglah, ketika iblis itu hendak membunuh kami, tiba-tiba datang seorang tua bertubuh kerdil mencegahnya...”

"Ooo, orang kerdil yang bertempur melawan aku itu?" Hong-gi-hiap Souw T hian Hai menyela.

"Benar, tai-hiap. Selagi mereka itu ribut dan bertengkar sendiri tentang sebuah buku, yang mereka sebut sebagai Buku Rahasia aku dan Saudara Ui lalu meloloskan diri dengan dibantu oleh anak-anakku.”

“Buku Rahasia.....?" Souw Thian Hai dan Yap Kiong Lee berdesah hampir berbareng.

"Sampai di rumah, kami lalu melaporkan kejadian tersebut kepada Kang Lam Koai-hiap, yang menjabat sebagai pimpinan dalam perburuan ini. Dan setelah berunding beberapa waktu lamanya, Kang Lam Koai-hiap lalu memerintahkan kami semua untuk mengepung Lembah Dalam itu. Demikianlah, ratusan pendekar yang tergabung dalam lima kelompok itu lalu berduyun-duyun menuju Lembah Dalam itu. Dan kemudian .. terjadilah peristiwa atau bencana yang mengerikan itu! Semuanya habis tumpas, tiada yang tersisa lagi, selain saudara Ui Bun Ting! Oh, sungguh menyesal sekali aku! Mengapa aku tak bisa ikut menjadi mayat bersama mereka, bersama-sama dengan anak-anakku..........! Ooooh...!" Ketua Kong-tong-pai itu mengakhiri ceritanya dengan suara serak.

"Memang sungguh mengherankan sekali. Belum pernah selama hidupku menyaksikan orang sesakti mereka. Sudah kukerahkan seluruh kemampuanku, namun tetap saja aku kewalahan menghadapi orang tua kerdil itu.” Souw Thian Hai berkata pula sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Akupun demikian juga, saudara Souw. Meskipun lima orang anggota Sha-cap-mi-wi itu telah membantuku, ternyata aku tetap hampir mati juga melawan kakek tampan itu.” Yap Kiong Lee ikut mengiakan perkataan Souw T hian Hai.

“Meskipun demikian, kedua orang sakti itu ternyata masih bertengkar juga tentang sebuah 'Buku Rahasia'! Lalu buku macam apa pula lagi itu?” Ui Bun Ting yang sejak tadi hanya diam saja, tiba-tiba ikut berbicara.

Namun semua orang yang berada di dalam ruangan itu hanya saling-pandang saja satu sama lain, suatu tanda bahwa tak seorangpun di antara mereka itu yang tahu tentang hal itu.

Selagi mereka itu sibuk dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba seorang pembantu Hong-lui-kun Yap Kiong Lee tampak memasuki ruangan dengan tergesa gesa.

"Yap tai-hiap.......! saya telah melihat seorang pemuda yang wajahnya mirip sekali dengan Pangeran Yang Kun! Dan kebetulan pula saya mendengar pemuda itu menyebutkan namanya, yaitu Liu Yang Kun!" anggota Sha-cap-mi-wi yang diperbantukan kepada Yan Kiong Lee itu melapor.

"Liu Yang Kun.......? Hei, dimana kau melihat pemuda itu? Hong-siang memang she Liu, maka sudah sewajarnya kalau pangeran itu bernama Liu Yang Kun!” Y ap Kiong Lee berteriak kegirangan.

Meskipun belum terbukti kebenarannya, namun berita itu benar-benar meledakkan kegembiraan di hati Hong-lui-kun Yap Kiong Lee. Sudah terbayang oleh pendekar itu, wajah kaisar junjungannya yang selama ini selalu murung dan tak pernah tersenyum berubah menjadi berseri-seri melihat kedatangan puteranya.

“Hei! Dimana kau melihat pangeran itu?" Yap Kiong Lee membentak pembantunya yang malahan menjadi gugup pula melihat kegembiraan atasannya itu.

"Beliau.....beliau tadi berada di restoran dekat pasar itu! Tapi sekarang pergi ke palung jurang di Lembah Dalam itu lagi ....!”

“Bagus! Panggil kawan-kawanmu! Marilah kita mengejarnya ke sana!” Hong-lui-kun Yap Kiong Lee memberi perintah.

Lalu katanya pula kepada Hong-gi-hiap Souw Thian Hai. “Saudara Souw, aku permisi dulu….!"

Souw Thian Hai cepat melangkah pula ke depan,"saudara Yap, bolehkah aku ikut ?” serunya perlahan. "Kalau orang itu benar-benar Pangeran Yang Kun aku juga ingin berbicara sebentar dengannya."

"Hei, tentu saja! Marilah!" Yap Kiong Lee menjawab gembira.

Kedua pendekar sakti itu lalu meminta diri kepada Kong-tong Cin-jin dan Ui Bun Ting. Sekejap saja bayangan mereka telah lenyap dari depan ketua partai persilatan itu.

“Hmm, hanya kepada pendekar-pendekar seperti mereka itulah nasib kita ini bergantung. Hanya merekalah yang bisa membebaskan kita dari cengkeraman kuku Si Iblis Penyebar Maut itu." Kong tong Cin-jin bergumam kepada Hek-bin-hok Ui Bun Ting.

"Benar, Cin-jin. Orang-orang tua seperti kita ini yang di kalangan kang-ouw sudah berada di tingkat atas, karena kita telah menjabat sebagai ketua dari sebuah partai persilatan, ternyata sama sekali tidak dapat disejajarkan dengan pendekar-pendekar muda seperti mereka itu.”

Selagi kedua orang tua itu menyesali kelemahan mereka, Hong-lui-kun Yap Kiong Lee dan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai telah memacu kuda mereka menuju ke pintu gerbang kota sebelah timur. Tapi sebelum mereka mencapai pintu kota itu, serombongan perajurit yang dipimpin oleh seorang perwira berpangkat Cianbu, mencegat perjalanan mereka.

Setelah saling menghentikan kuda tunggangan mereka, perwira itu turun dari kudanya. Dengan amat hormat perwira itu bertanya kepada Hong-lui-kun Yap Kiong Lee.

"Apakah saya sekarang sedang berhadapan dengan Hong-lui-kun Yap Kiong Lee?"

Yap Kiong Lee mengangguk. "Benar. Apakah Cian-bu diutus oleh Gui Cong-tok (Kepala Daerah Gui) untuk menyambutku?" pendekar dari kota raja itu bertanya.

"Ya, Maaf kami telah terlambat menyambut tai-hiap…” "Hmm…. akupun juga meminta maaf pula karena tidak langsung mengunjungi tempat kediaman Gui Cong-tok. Tapi aku memang belum mempunyai kesempatan itu.

Kedatanganku ke sini tepat pada saat peristiwa berdarah di Lembah Dalam itu terjadi." Yap Kiong Lee juga memberi keterangan. Lalu sambungnya lagi,"Dan sekarangpun....ternyata aku juga belum bisa memenuhi undangan Gui Cong-tok pula. Kalian lihat, aku dan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai ini hendak pergi dulu ke luar kota untuk menyelidiki sesuatu yang maha penting. Dan urusan ini tidak bisa kami tinggalkan, karena menyangkut kepentingan Hong siang sendiri.”

"Oh! Kalau begitu, apa yang harus kita kerjakan?” perwira itu tiba-tiba bertanya dengan kaget.

“Silahkan Cian-bu kembali dulu untuk memberi laporan kepada Gui Cong-tok. Katakan bahwa aku sedang menyelidiki atau mengurus hal yang sangat penting dan tak bisa ditunda lagi. Baru setelah selesai dengan urusan ini, aku akan datang mengunjungi Gui Cong-tok di rumah."

"Baik! Baik, tai-hiap....!” Kedua rombongan itu lantas berpisah. Pasukan yang dipimpin oleh perwira itu kembali ke gedung Kepala Daerah, sedangkan rombongan Hong-lui-kun Yap Kiong Lee meneruskan perjalanan ke luar kota.

Sementara itu jauh di depan mereka, sepasang muda-mudi, Tiauw Kiat Su dan Tui Lan bersama A Cang yang selalu mengikuti di belakang mereka, berjalan tergesa-gesa ke jurang yang dalam itu. Semakin dekat dengan tempat yang dituju, Tui Lan juga semakin berdebar-debar pula hatinya. Meskipun Tiauw Kiat Su telah menjanjikan bahwa gurunya tidak kurang suatu apa, namun hatinya tetap merasa khawatir juga. Sebab pedang yang tergantung di pinggang A Cang itu tak pernah terpisah dari s isi gurunya.

“Kata pelayan penginapan itu, guruku sudah kembali pulang ke penginapan. Tapi kenapa sekarang beliau pergi ke tempat itu lagi?” sambil berjalan Tui Lan bertanya kepada Tiauw Kiat Su.

“Wah, entahlah. Aku sendiri juga tidak mengetahuinya, Nona Han. Kudengar di Lembah Dalam tadi malam terjadi bencana maha dahsyat yang membinasakan hampir seluruh pendekar yang berkumpul di kota Soh-ciu ini. Mungkin guru nona hendak melihat tempat yang mengerikan itu."

"Tapi aku dan guruku juga berada di tempat itu pula malam tadi.” Tui Lan cepat menyanggahnya. Kemudian sambil menoleh ke belakang, yaitu ke arah A Cang yang berjalan mengikuti mereka, Tui Lan berkata,"Hmmh, saudara Tiauw. Mengapa saudara tidak segera berterus terang saja kepadaku? Kalian apakan sebenarnya, guruku itu? Coba lihat pedang yang dikenakan oleh kacungmu itu! Pedang itu adalah pedang guruku!”

Tiauw Kiat Su kelihatan terkejut sekali. Matanya menatap tajam ke arah kacungnya. Sebaliknya kacung kecil itu menjadi ketakutan melihat tuannya.

Tapi sesaat kemudian air muka Tiauw Kiat Su itu cepat menjadi biasa kembali.

Dengan pintar pemuda itu menerangkan,"Ah, jadi..... itukah yang membuat nona mencurigai kami? Hahahaha....! Justru guru nonalah yang memberikan pedang itu kepadaku, agar nona benar-benar percaya kepada kami, bahwa diantara kita telah terjalin suatu persahabatan yang sangat mendalam.”

"Benar! Benar! Dan sayalah yang membawakan pedang itu, karena Tiauw siauw-ya tidak mau membawanya sendiri....” A Cang dengan cepat menambahkan dengan wajah berseri-seri, seakan-akan terbebas dari belenggu ketakutan.

Tapi semua sandiwara itu tak lepas dari pandang Tui Lan. Namun sekali lagi gadis itu menyabarkan hatinya. Pokoknya dia ingin tahu lebih dulu keadaan gurunya. Setelah itu baru ia akan memikirkan cara untuk menghadapi pemuda itu. Dan misalnya pemuda itu membohonginya, sehingga kedatangannya ke jurang itu hanya merupakan jebakan saja, dia juga tidak takut. Pada saatnya yang tepat nanti ia akan melawan pemuda itu sampai titik darah yang penghabisan. Mereka mendaki bukit itu sehingga bibir jurang yang menjadi jalan turun ke Lembah Dalam itu berada di depan mereka. Dan sementara itu matahari telah mulai meredup dan siap untuk memasuki peraduannya, sehingga suasana di atas bukit itu juga sudah mulai remang-remang pula. Senja telah tiba.

Entah mengapa, meremang juga bulu kuduk Tui Lan ketika mengikuti Tiauw Kiat Su dan A Cang menuruni tebing itu. Bayangan Giok-bin Tok-ong dan Bu-tek Sin-tong yang telah membunuh ratusan pendekar persilatan di Lembah Dalam itu, kembali terbayang di depan matanya.

“Ah! Mengapa kita berhenti di sini. Mana guruku?” Tui Lan tiba-tiba berseru ketika Tiauw Kiat Su berhenti di dekat makam Ang-leng Kok-jin yang dibongkar oleh Giok-bin Tok-ong itu.

Tiauw Kiat Su tidak menjawab. Sebaliknya pemuda itu segera memandang berkeliling malah. Tampaknya ada sesuatu yang dicarinya.

"Lo-cianpwe.....! Adakah engkau sudah datang?” serunya sedikit keras.

Tui Lan terperanjat. “Saudara Tiauw....! Kau mencari siapa?" tanyanya.

Terdengar desir angin di dekat mereka dan tiba-tiba saja di depan Tiauw Kiat Su telah berdiri seorang kakek tua yang rambutnya masih hitam legam meskipun kumis dan jenggotnya telah memutih. Dan Tui Lan benar-benar menjadi terkejut melihatnya, karena kakek tersebut tidak lain adalah Giok-bin Tok-ong, pembunuh berdarah dingin itu!

"Eh! Mengapa dia.....dia masih berada di sini? Bukankah dia telah mengatakan bahwa dia hendak pergi ke puncak Hoa-san?" Tui Lan bertanya-tanya di dalam hatinya.

“Huh! Kenapa kau sudah kembali kemari? Mana gadis itu, hah?" Giok-bin Tok-ong menghardik Tiauw Kiat Su. 

"Itu.... itulah dia!” Tiauw Kiat Su menjawab dengan suara gugup. Matanya melirik ke arah Tui Lan. Kelihatannya benar kalau pemuda itu sangat takut menghadapi kakek tampan tersebut.

"Hei... ? Apakah matamu sudah buta? Bocah yang kumaksudkan itu seorang gadis, bukannya seorang pemuda, tahu?” Giok-bin Tok-ong berteriak gusar.

"Lo-cianpwe, dia,.. dia seorang gadis, bukan pemuda! Dia .. dia memang menyamar sebagai ........sebagai seorang pemuda.” dengan cepat Tiauw Kiat Su memotong perkataan iblis tua itu.

 Memburu Iblis 3                                                                                   Memburu Iblis 5