Kamis, 29 September 2016

PENDEKAR PENYEBAR MAUT 34



Jilid 34

TERNYATA tidak semua penonton gembira melihat kemenangan Tung-hai Sam-mo itu. Chin Yang Kun yang sejak semula memang tidak menyukai iblis-iblis itu segera penasaran dan bermaksud untuk membantu dayang-dayang itu. Tapi tentu saja pemuda itu tidak bisa turun ke arena begitu saja.

"Aku harus mencari jalan untuk menghentikan pertempuran mereka selama beberapa saat. Setelah itu aku akan membisiki gadis-gadis itu bagaimana caranya menghadapi Barisan Cucut Merah tersebut...” Pemuda itu berpikir di dalam hati.

Demikianlah, Chin Yang Kun lalu mengambil dua buah biji lengkeng yang tersedia di atas meja. Kemudian setelah yakin bahwa tidak seorangpun yang memperhatikan perbuatannya, pemuda itu lalu mengerahkan Liong-cu-I-kangnya. Untunglah suasana di tempat itu sangat riuh dan ramai, sehingga suara gemeretak tulang-tulangnya akibat mengalirnya tenaga sakti dari tan-tian ke seluruh tubuh itu tidak terdengar oleh siapapun.

Kemudian bersamaan dengan suara denting senjata di arena, Chin Yang Kun membidikkan biji lengkeng tersebut ke arah tali yang digunakan untuk menggantungkan lampu besar di tengah-tengah ruangan. Srrrt! Srrrrt! Dua buah biji Iengkeng itu melesat seperti kilat ke arah sasaran dan.…..

"Taaas ! Pyaaar......!”

Tali tersebut putus dan lampunya jatuh berantakan ke bawah! Semua orang terperanjat sekali. Apalagi ketika pecahan lampu tersebut hampir menimpa orang-orang yang sedang bertempur. Sorak-sorai penonton berganti dengan jerit dan teriakan khawatir !

Otomatis orang-orang yang sedang bertempur itu berloncatan mundur menyelamatkan diri. Dan waktu yang sekejap itu dipergunakan oleh Chin Yang Kun untuk melaksanakan niatnya membantu dayang-dayang istana itu.

Dibisikkannya kepada Si Dayang Berbaju Putih dengan Coan im-jib-bit, tentang rahasia Ang-cio-hi-tin dan cara bagaimana menghadapinya.

"Ohhh!” Dayang Berbaju Putih itu terkejut.

Bola matanya melirik ke sana kemari, mencari siapa yang telah berbisik kepadanya. Dan ketika pandangannya sampai kepada Chin Yang Kun, gadis itu segera tahu siapa yang telah memberikan rahasia itu kepadanya.

Tapi sebelum gadis itu menjawab isyarat yang diberikan Chin Yang Kun, Tung-hai Sam-mo telah menyerang mereka berempat kembali.

“Aha....... cuma sebuah lampu tua yang rontok akibat getaran permainan kita tadi, hahaha ! Ayoh........ sekarang kita lanjutkan lagi pertempuran kita !" orang she Mo, yaitu iblis pertama dari Tung-hai Sam-mo berteriak seraya menyabetkan pedang gergajinya.

Si Dayang berbaju Putih cepat mengelak, Ialu bergegas mengajak kawan-kawannya membentuk Barisan Mata Angin kembali. Sebetulnya dayang-dayang yang lain sudah merasa ragu-ragu melihat kehebatan lawan mereka, tapi menyaksikan Si Baju Putih sudah diserang oleh lawan, terpaksa mereka datang membantunya juga.

"Ah, sudahlah ! Kalian tak perlu melanjutkan lagi pertandingan ini! Kita semua sudah dapat meraba siapa yang lebih unggul diantara kalian .......” Siangkoan Ciangkun tiba-tiba melompat ke arena dan mencoba melerai mereka.

Tapi maksud baik Siangkoan Ciangkun itu disambut dengan keluhan kecewa dari kalangan penonton. Mereka menggerutu dan mengeluh panjang-pendek menyatakan ketidakpuasan mereka bila pertandingan yang belum selesai itu dihentikan.

Dengan tangkas Tung-hai Sam-mo melangkah mundur, lalu memberi hormat kepada Siangkoan Ciangkun dengan khidmat. Wajah mereka tampak berseri-seri gembira karena dapat menundukkan dayang-dayang cantik itu.

“Terima kasih atas pujian Siangkoan Ciangkun........" Toa-mo berkata mewakili kawankawannya.

Tapi Si Dayang Berbaju Putih cepat maju ke depan. Mukanya kelihatan kecewa dan penasaran ketika memberi hormat kepada Siangkoan Ciangkun. “Ciangkun, mengapa Ciangkun menghentikan pertandingan yang belum selesai ini? Kami belum merasa kalah, kami justru baru akan mulai malah !"

"Bagus! Bagus.....!” penonton berteriak-teriak gembira.

“Eh.... tapi......" Siangkoan Ciangkun terkejut.

Ternyata tidak hanya Siangkoan Ciangkun saja yang kaget mendengar pernyataan Si Baju Putih tersebut, Tung-hai Sam mo dan..... kawan-kawan Si Baju Putih sendiripun juga terperanjat mendengar perkataan itu. Tapi kekagetan kawan kawan Si Baju Putih itu segera pudar dan hilang ketika secara bergilir mereka mendengar pesan Chin Yang Kun melalui Coan-im-jib-bit. Seperti juga tadi, pemuda itu memanfaatkan waktu luang tersebut untuk memberi tahu cara-cara menghadapi Ang-cio-hi-tin kepada dayang-dayang yang lain.

"Maksud kalian ..... mau meneruskan pertarungan ini?" dengan ragu-ragu Siangkoan Ciangkun menatap ke arah dayang-dayang istana itu.

"Benar, Ciangkun.......!" tiba-tiba gadis-gadis itu menjawab serentak.

"Tapi........ pertarungan tadi cuma sebuah pertunjukan, bukan? Kalian tidak bermusuhan dan...........”

"Kami memang tidak bermusuhan dengan mereka, Ciangkun. Oleh karena itu kami juga tidak akan melukai, apalagi membunuh mereka dalam pertarungan ini. Malam ini adalah malam pertunjukan kami, karena itu kami akan menyuguhkan permainan terbaik kami kepada para penonton"

Si Baju Putih berkata mantap.

"Hore... bagus ! Bagus !" penonton berteriak-teriak lagi. Tung-hai Sam-mo bergegas maju ke arena kembali.

"Siangkoan Ciangkun, biarlah kami menghadapi nona-nona ini lagi agar supaya semuanya merasa puas," Toa-mo menjura.

"Tapi........ kalian jangan melukai mereka ! Mereka adalah dayang-dayang Hongsiang......” dengan terpaksa Siangkoan Ciangkun mengangguk, lalu kembali ke tempat duduknya lagi.

“Wah, repot........ repot !" Siangkoan Ciangkun berdesah sambil mengawasi Chin Yang Kun yang duduk di sebelahnya.

"Siangkoan Ciangkun tak perlu merasa khawatir. Mereka bukan anak-anak kecil lagi. Mereka tentu masih bisa berpikir bahwa mereka itu masih sama-sama menghamba kepada Baginda Kaisar, sehingga mereka itu tidak mungkin berbuat hal-hal yang akan menyulitkan diri mereka sendiri. Kukira mereka hanya akan mempertunjukkan kebolehan mereka saja kepada kita," Chin Yang Kun berusaha menenangkan hati perwira itu.

Sementara itu Tung-hai Sam-mo dan dayang-dayang itu sudah saling berhadapan lagi di dalam arena. Masing-masing juga telah membentuk barisan mereka. Dayang-dayang itu berdiri dalam posisi segi-empat, sedangkan Tung-hai Sam-mo berdiri berjajar dalam jarak satu setengah langkah.

Demikianlah, beberapa saat kemudian merekapun Ialu terlibat ke dalam pertempuran yang seru kembali. Tung-hai Sam-mo yang merasa lebih unggul dari pada lawannya itu sangat meremehkan sekali keampuhan barisan lawan.

Beberapa kali mereka sengaja mencegat gerakan gadis-gadis itu, lalu menerobos masuk dan kemudian.......keluar lagi! Tampaknya para iblis dari Laut Timur itu memang sengaja mau mentertawakan ilmu kepandaian lawan mereka yang masih jauh di bawah kepandaian mereka itu.

"Biarlah mereka semakin lengah dahulu, setelah itu baru salah seorang dari kalian menempel di samping orang yang berada di tengah barisan itu. Berusahalah dan jangan sampai gagal! Sekali kalian gagal mereka akan tahu bahwa kalian telah menemukan rahasia barisan mereka, selanjutnya mereka akan sangat berhati-hati sekali !" sekali lagi Chin Yang Kun berbisik kepada Si Baju Putih.

Benar juga, semakin lama Tung-hai Sam-mo semakin lengah juga. Apalagi ketika mereka semakin menyadari bahwa kepandaian mereka masing masing masih jauh lebih tinggi bila diperbandingkan dengan kepandaian gadis-gadis itu. Tampaknya tanpa mempergunakan sengajapun mereka masih dapat mengalahkan gadis-gadis itu dengan mudah.

Sampai pada suatu saat Sam-mo (iblis ketiga) sambil tertawa berpura-pura ketinggalan langkah dari saudara saudaranya yang lain. Kelihatannya iblis tersebut bermaksud berkelakar sambil menunjukkan bahwa mereka memang lebih hebat. Tapi tidak mereka sangka kesempatan itu dipergunakan dengan cepat oleh Si Baju Putih. Bagai kilat gadis itu melesat ke belakang Ji-mo (iblis kedua), menggantikan kedudukan Sam-mo.

Dan dayang-dayang yang lainpun segera menyesuaikan diri. Dengan cepat mereka bergerak membentuk Barisan Mata Angin kembali dan menempatkan Toa-mo dan Ji-mo di dalam barisan, sementara Sam-mo mereka pisahkan di luar barisan.

Demikianlah, akibat kesombongan dan kepongahan mereka sendiri Tung-hai Sam-mo terjatuh dalam kesulitan. Merekalah kini yang kena tempur habis-habisan dari kanan kiri, muka dan belakang! Gadis-gadis itu tak memberi kesempatan sama sekali kepada mereka untuk bergabung kembali.

Yang paling susah dan menderita adalah Toa-mo dan Jimo! Oleh karena mereka berada di dalam barisan lawan, maka mereka terus menerus mendapat gempuran dari penjuru. Beberapa kali mereka hampir tak dapat lagi mengelakkan ujung-ujung tombak yang berseliweran di sekitar tubuh mereka.

Malahan beberapa waktu kemudian ujung-ujung kait pada tombak itu mulai menunjukkan keganasannya pula. Berkali kali ujung kait baja itu menjepit, menggantol dan memuntir pedang-pedang gergaji mereka, sehingga akhirnya satu persatu pedang itu terlepas dari tangan mereka! Dan selanjutnya tubuh mereka menjadi bulan-bulanan tangkai tombak tersebut.

"Nah ! Apakah kalian menyerah sekarang? Atau........ kita lanjutkan pertarungan ini sampai habis-habisan?" Si Baju Putih mengancam.

"Jangan hiraukan kata-katanya. Toako...! Ji-ko.......! Nantikanlah, aku akan masuk ke dalam barisan reyot ini dan bergabung dengan kaIian untuk mengobrak-abrik mereka!” Sam-mo berteriak-teriak dari luar barisan.

“Tutup mulutmu, Orang Goblog (Bodoh) ! Lekas kerjakan! Jangan omong saja......!" Toa-mo yang sedang kerepotan mempertahankan dirinya itu berseru marah-marah.

Berkata memang mudah, tapi untuk melaksanakannya ternyata sangat sulit. Dengan bekerja sama dalam satu barisan, kekuatan mereka memang menjadi berlipat ganda dan sukar untuk dikalahkan. Tapi dengan keadaan yang sudah tercerai-berai seperti sekarang, kemampuan mereka tak lebih dari kekuatan diri mereka masing-masing. Dan celakanya, yang mereka hadapi sekarang bukanlah lawan perorangan yang masing-masing berdiri sendiri-sendiri, tetapi yang mereka hadapi adalah sebuah kerja sama pula yang terhimpun dalam satu barisan kuat!

Setiap serangan atau pertahanan dari barisan itu merupakan hasil himpunan kekuatan mereka
secara berbareng. Maka bagaimanapun juga Sam-mo itu berusaha dengan segala kemampuannya, ia tetap tidak mampu menerobos barisan tersebut. Sementara itu di dalam barisan Toa-mo dan Ji-mo semakin kewalahan dan sukar bertahan lagi!

Perubahan yang sangat mendadak itu benar-benar sangat mengejutkan semua orang, termasuk pula Siangkoan Ciangkun dan para perwira yang duduk satu meja dengan Chin Yang Kun. Perwira-perwira tersebut hampir tak percaya bahwa perimbangan kekuatan yang amat jauh itu tiba-tiba bisa berbalik sedemikian rupa secara mendadak. Para penonton pun tiba-tiba menjadi diam, mereka hampir tidak mengerti apa yang telah terjadi.

Tapi dengan cepat Siangkoan Ciangkun menyadari suasana yang rawan itu. Tubuhnya segera melesat ke depan untuk memisahkan mereka.

"Perajurit Mo, Lim dan Pang.......! Berhenti ! Kalian mundurlah !" serunya lantang.

Pertempuran itupun lalu berhenti dengan segera. Masing masing saling berhadapan dengan sikap tegang. Apalagi Tung-hai Sam-mo, wajah mereka tampak merah padam menahan marah dan penasaran!

“Ciangkun, kami belum kalah! Hanya karena keteledoran adikku gadis-gadis itu bisa menang. Berilah kami kesempatan sekali lagi, niscaya mereka akan kami kalahkan!" Toa-mo menggeram dengan nada marah.

"Sudahlah! Kalian tak perlu menyesal atau marah-marah lagi! Kalau kalian sampai menderita kekalahan itu karena akibat kelalaian atau kesalahan kalian sendiri. Kalian tak perlu menggerutu atau menyalahkan orang lain," Siangkoan Ciangkun membentak.

Sekilas wajah tiga orang itu tampak membara. Sebagai iblis yang selama ini selalu ditakuti dan disegani orang belum pernah mereka dibentak-bentak sebegitu rupa. Apalagi kepandaian orang yang membentak itu jauh lebih rendah dari kepandaian mereka.

“Gila! Kita bunuh saja perwira yang sombong ini, twako.......!” Ji-mo menggeram sambil berbisik kepada Toa-mo.

''Hah? Kau yang gila !" Toa-mo berbisik pula perlahan-lahan. "Apakah kau ingin dikepung dan dikeroyok oleh ribuan orang perajurit di sini? Jangan gegabah ! Kita turuti saja perkataannya....”

“Hei! Kalian tidak mau mundur juga?" Siangkoan Ciangkun membentak lagi.

"Ah-eh....... ya-ya, Ciangkun ! Kami akan mundur.........." Toa-mo menjawab dengan suara gemetar karena terlalu menahan perasaan.

Demikianlah, tiga iblis dari Laut Timur itu segera mundur dan pergi meninggalkan ruangan tersebut. Para penontonpun lalu bubar pula dengan wajah kecewa karena jago mereka kalah semua. Beberapa orang perajurit berusaha menghibur hati Tung-hai Sam-mo, tapi ketiga iblis itu cepat pergi dan tak mau diganggu.

"Awas! Hatiku benar-benar penasaran malam ini! Suatu saat orang-orang itu akan kuberi pelajaran agar tahu rasa.......!” Toa-mo melangkah sambil menggeretakkan giginya.

“Orang-orang itu........? Siapa yang toa-ko maksudkan?" Ji-mo bertanya.

“Perwira sombong itu! Siapa lagi?" Toa-mo berteriak kesal.

"Ohhhh..,.!" Ji-mo dan Sam-mo berdesah perlahan.

Sementara itu sepeninggal Tung-hai Sam-mo, dayang dayang itu bergegas memberi hormat kepada Siangkoan Ciangkun dan kemudian juga menyatakan perasaan terima kasih mereka kepada Chin Yang Kun.

"Eeeee..... ada apa pula ini? Mengapa kalian mengucapkan terima kasih kepada Tuan Yang
segala?" Siangkoan Ciangkun yang tidak mengetahui adanya "permainan" di dalam pertempuran tadi menjadi salah sangka kepada para dayang itu. "Aha....... tampaknya kalian sudah benar-benar terjerat pada jaring Tuan Yang, hahaha.....! Tapi tak apa! Jangan takut! Aku akan mengaturnya nanti......." katanya lagi seraya tertawa keras-keras.

Gadis-gadis itu tertunduk dengan muka merah sekali. Menghadapi orang seperti Siangkoan Ciangkun yang selalu ceplas-ceplos mengatakan apa adanya, tanpa memperdulikan perasaan orang itu, benar-benar membuat mereka menjadi kikuk sekali. Oleh karena itu untuk menghilangkan rasa malu dan canggung mereka, Si Baju Putih segera melangkah maju ke depan perwira tersebut.

"Ciangkun, lalu......... bagaimana dengan pertunjukan kita selanjutnya?" tanyanya.

Perwira itu tersenyum penuh arti. Sambil menepuk-nepuk pundak gadis itu Siangkoan Ciangkun berbisik, "Ahh........ tak usah diteruskan! Kalian teruskan saja nanti di dalam kamar Tuan Yang Kun, hehehe....!"

"Ciangkun....?" gadis itu mengangkat wajahnya yang merah dadu.

"Ssst! Kalian berempat boleh melayani Tuan Yang malam ini ! Awas, jangan sampai dia kecewa! Kalian harus ingat bahwa dia adalah saudara angkat Hong-siang !"

"Aaah.... Ciangkun!” Si Baju Putih berbisik pula dengan sikap agak genit.

"Nah, sekarang kalian boleh mengundurkan diri.........!" Siangkoan Ciangkun berkata dengan suara keras. Si Baju Putih melirik sekejap ke arah Chin Yang Kun, kemudian berlari masuk diikuti oleh kawan-kawannya. Sedang Siangkoan Ciangkun segera melangkah pula kembali ke kursinya. Wajahnya tampak berseri-seri ketika menatap Chin Yang Kun.

“Pertunjukan telah selesai. Sebenarnya kami ingin sekali mengundang Tuan Yang yang selama ini telah sering kami dengar. Tapi tampaknya Tuan Yang sudah lelah dan capai. Maka kami juga tidak ingin mengganggu lebih lanjut. Para dayang yang tadi sudah kami perintahkan untuk menyiapkan sebuah kamar buat Tuan Yang ..." perwira itu berkata kepada Chin Yang Kun.

“Ah! Tapi saya......." Chin Yang Kun cepat-cepat memotong.

“Liu Ciangkun ?" Siangkoan Ciangkun tertawa. "Jangan khawatir, Tuan Yang ! Kami akan segera memberi tahu Tuan Yang apabila beliau datang nanti."

"Ah, terima kasih....Tapi bukan itu yang saya maksudkan! Saya memang sangat berterima kasih sekali atas penghormatan dan kebaikan Siangkoan Ciangkun yang sangat memperhatikan kebutuhan saya di sini. Tapi......”

"Yaaa..........?" perwira itu mendesak.

Chin Yang Kun menghela napas panjang, ia tidak segera mengatakan jawabannya.

"Siangkoan Ciangkun......! Sebetulnya kedatangan saya kemari ini bukan untuk menemui Liu twa-ko, tapi untuk menyelesaikan sebuah urusan. Urusan pribadi antara saya dengan seseorang yang tinggal di dalam kota ini."

"Urusan ? Urusan apakah itu ? Eh, maaf... tentu saja kalau Tuan Yang tidak berkeberatan untuk mengatakannya kepadaku."
Sekali lagi Chin Yang Kun menghela napas panjang sekali.

"Seseorang telah menuduh saya membunuh muridnya. Padahal ketika pembunuhan tersebut dilakukan, saya sedang berada jauh dari tempat pembunuhan itu. Dan saya benar benar mempunyai bukti yang kuat tentang hal itu."

"Oooh....... begitu !" Siangkoan Ciangkun mengangguk-angguk. "Lalu.....apa yang hendak tuan lakukan sekarang ?”

"Saya akan menemui orang itu. Dan akan saya jelaskan kepadanya bahwa bukan saya pembunuhnya." Chin Yang Kun menjawab dengan suara berat dan mantap.

"Tapi...... kalau orang itu masih tetap juga tidak percaya pada penjelasan tuan dan tetap juga menuduh tuan sebagai pembunuhnya ?” Siangkoan Ciangkun yang sangat berpengalaman dalam soal-soal seperti itu mendesak.

Chin Yang Kun tertawa kecut, "Kalau memang demikian halnya, hmmm....... mereka benar-benar akan menyesal nanti !”

"Ah, kalau begitu biarlah saya dan beberapa orang perajurit menemani Tuan Yang ke sana. Siapa tahu orang itu menjadi sadar melihat kami."

"Jangan, Ciangkun ! Tidak usahlah !"

Chin Yang Kun cepat-cepat menolak. “Saya malah menjadi khawatir urusan ini akan bertambah ruwet kalau Siangkoan Ciangkun turut campur pula. Biarlah saya berangkat sendirian saja ke sana. Ciangkun tetap di sini menunggu kedatangan Hong-siang dan Liu-twako. Siapa tahu beliau berdua itu segera datang........?"

“Oh, benar!" perwira itu mengangguk-angguk. "Tetapi....... kuharap Tuan Yang segera kembali ke sini kalau semuanya sudah beres."

“Tentu saja. Sayapun ingin berjumpa juga dengan Liu twako nanti," Chin Yang Kun tersenyum, lalu tiba-tiba. " .... eh, Siangkoan Ciangkun? Kapan Ciangkun menerima tiga orang yang bertempur dengan dayang-dayang itu sebagai perajurit di sini?”

"Maksud Tuan Yang.... tiga orang perajurit berpedang gergaji itu ?"

“Benar!”

"Ah, belum lama. Tapi karena kepandaian mereka sangat tinggi dan selalu menunjukkan kemampuan mereka di dalam setiap pertempuran, mereka cepat dikenal diantara para perajurit lainnya. Eh, ada apakah.......?" Siangkoan Ciangkun menjawab dengan terheran heran melihat sikap Chin Yang Kun yang mendadak berubah serius itu.


"Ah........ tidak apa-apa ! Tapi saya mohon Siangkoan Ciangkun berhati-hati bila berhadapan dengan mereka."

“Berhati-hati........?" perwira itu semakin bingung dan tidak mengerti apa yang dimaksudkan Chin Yang Kun.

Chin Yang Kun mengangguk dan tersenyum. "Saya tak ingin menjelek-jelekkan orang lain di depan Siangkoan Ciangkun. Siapa tahu orang itu telah menjadi baik dan sadar sekarang ? Dan kini mereka benar-benar ingin menjadi perajurit yang baik ! Maaf....... pada saatnya nanti Ciangkun akan mengerti juga.Sudahlah! Saya mohon diri dahulu !”

Dengan wajah masih dipenuhi oleh berbagai macam pertanyaan perwira itu terpaksa melepaskan Chin Yang Kun pergi. Seorang perajurit diperintahkannya ke belakang untuk mengambil Si Cahaya Biru.

Begitulah, dengan naik di atas punggung Cahaya Biru Chin Yang Kun keluar dari halaman rumah penginapan itu.Perlahan-lahan pemuda itu mengendarai kudanya di jalan raya. Suasana masih tampak riuh dan ramai. Orang-orang yang hilir-mudik berlalu lalang di jalan itu semakin bertambah banyak juga.

"Gwa-mia (Ramal atau Nujum).......! Gwa-mia........!”

Tiba-tiba dari pinggir jalan terdengar Iantang suara seorang Tukang Nujum atau ramal menjajakan kepandaiannya. Chin Yang Kun terpaksa menoleh juga untuk melihatnya. Dan seorang kakek tua dengan topi lebar bergegas mendatangi.

Tongkat besinya yang panjang terdengar gemerincing ketika diseret di atas jalan yang berbatu. Chin Yang Kun menghentikan kudanya. Sungguh sangat kebetulan bagi pemuda itu, ada yang bisa dia mintai keterangan, di mana letaknya gedung Kim-liong Piauw-kiok itu. Dan peramal keliling tersebut tentu tahu belaka setiap pojok dan pelosok kota itu.

"Nasib mujur....... nasib beruntung, nasib sedih atau..... celaka ! Berdagang selalu merugi ....... berdagang selalu bangkrut, semuanya tidak perlu terlalu dimasukkan ke dalam hati ! Setiap orang mempunyai peruntungan atau nasib sendiri-sendiri. Semuanya telah digariskan Thian sejak mereka dilahirkan. Oleh karena itu berbahagialah orang yang pagi-pagi telah bersiap-sedia menghadapi kehidupannya, baik itu sedih, gembira, susah ataupun celaka .......! Nah, siapa yang ingin meminta tolong untuk melihat nasibnya ?" Peramal itu "berkicau" bagai burung yang menyombongkan suara emasnya.

Chin Yang Kun tersenyum mendengarnya.

"Kakek, bolehkah aku bertanya......?"

"Tentu saja, tuan muda........Tentang jodoh ? Pangkat? Jabatan? Atau hari depan perkawinan tuan muda? Aha, tuan muda tidak usah takut biayanya. Tanggung murah, murah sekali......," orang tua itu berkicau lagi dengan suara bersemangat.

"Oh, bukan itu yang kumaksudkan." Chin Yang Kun lekas-lekas memotong perkataan kakek
itu dengan perasaan tak enak. "Aku.....aku cuma mau bertanya kepada kakek, di manakah letak gedung Kim-liong Piauw-kiok itu?”

"Oouuw...... itu ! Baiklah, nanti akan kutunjukkan kepada tuan. Tapi....... omong omong, apakah tuan muda tidak ingin tahu nasib tuan muda nanti? Berilah saya sekeping uang tembaga saja, dan saya akan meramal nasib tuan di kelak kemudian hari," kakek itu tetap mendesak Chin Yang Kun.

Tak sampai juga hati Chin Yang Kun untuk menolaknya. Bukan soal uangnya, tapi tentang....... ramalan itu ! Pemuda itu takut apabila isi ramalan-ramalan tersebut justru akan mempengaruhi sikapnya sehari-hari, yaitu tidak bisa bebas dan wajar seperti biasanya. Padahal ramalan itu belum tentu benar salahnya !

Sambil memberikan tiga keping uang tembaga Chin Yang Kun berkata dari punggung kudanya, "Maaf, kek........ aku sangat tergesa-gesa. Tolong tunjukkan saja tempat yang kutanyakan itu. dan....... lain hari aku akan menemuimu untuk meramalkan nasibku......"

"Wah...... kenapa begitu? Sungguh tak enak rasanya harus menerima pemberian cuma-cuma."

“Tak apalah, kek. Aku benar-benar tergesa kali ini.  Maafkanlah......!"

"Baiklah. Silahkan tuan muda berjalan terus sampai di perempatan jalan itu, lalu berbelok ke kiri. Kira-kira setengah Iie kemudian tuan akan melihat sebuah restoran besar di sebelah kiri jalan. Nah....... di belakang rumah makan itulah gedung Kim-liong Piauw kiok berada. Memang selain mengusahakan piauw kiok, pemilik gedung tersebut juga membuka restoran pula.”

"Oh, terima kasih....... kek!"

"Ya, tuan muda........ silakan ! Dan kuharap kalau Tuan muda nanti masih punya waktu, datanglah ke tempat ini ! Aku akan tetap menunggu, karena tak enak rasanya memperoleh uang secara cuma-cuma."

"Baiklah, kek."

"Dan........ berhati-hatilah, tuan muda! Kulihat ada kabut gelap yang menyelimuti tuan malam ini."

Chin Yang Kun mengangkat alisnya. Beberapa kali mulutnya mau bertanya, tapi tidak jadi. Akhirnya sambil menghela napas panjang pemuda itu menghentakkan kendali kudanya dan pergi meninggalkan kakek itu. Sambil berjalan pemuda itu masih juga memikirkan kata-kata kakek tersebut.

Sampai di perempatan jalan Chin Yang Kun berbelok ke kiri seperti yang dikatakan oleh kakek peramal tadi. Jalan di situ lebih lebar dan lebih ramai. Di sebelah kanan kiri jalan hanya terdapat toko-toko dan warung-warung saja.

Tampaknya memang itulah jalan utama dari kota Sin-yang! Benarlah, setengah lie kemudian Chin Yang Kun melihat sebuah rumah makan besar di pinggir jalan. Hanya saja pintu dan jendela rumah makan itu tampak tertutup dengan rapat.
Dan di atas pintu depannya dipasang kain putih terjulur panjang menyentuh lantai.
Kim liong Piauw-kiok memang sedang dalam suasana berkabung. Oleh karena itu Chin Yang Kun menjadi ragu-ragu, apa yang harus dia lakukan.

Langsung masuk melalui pintu depan, atau........secara diam-diam lewat pintu belakang dan menemui Kim-liong Lo-jin !

"Hmm, apapun yang akan terjadi aku harus menunjukkan dadaku lewat pintu depan," pemuda itu akhirnya berkata di dalam hatinya.

Di depan pintu halaman Chin Yang Kun dihentikan oleh empat orang penjaga, yang semuanya mengenakan kain pembalut berwarna putih di lengannya.

"Tolong katakan kepada Kim-liong Lo-jin bahwa di luar ada seorang pemuda bernama Yang Kun mau bertemu.......!” Chin Yang Kun berkata kepada para penjaga tersebut.

"Ooh?!?"

Tiba-tiba para penjaga itu menjadi tegang. Nama Yang Kun itu tampaknya benar-benar mengejutkan mereka. Dua orang diantaranya bergegas berlari ke dalam, sementara yang dua lagi dengan gelisah dan gemetaran menyambut Chin Yang Kun.

"Oh, tuan.......! Ma-marilah.......! Kami.....kami memang telah me-menantikan tuan sejak.... sejak tadi," penjaga itu mempersilakan Chin Yang Kun masuk.

Yang satu, mengambil kuda Chin Yang Kun, sementara yang seorang lagi mengantar pemuda itu ke dalam. Di bawah tangga pendapa Chin Yang Kun disambut oleh barisan penjaga yang berdiri di kanan kiri tangga masuk. Semuanya mengenakan kain putih pada lengan masing-masing, sehingga tergetar juga rasanya hati Chin Yang Kun melihatnya.

Setelah naik ke pendapa Chin Yang Kun dipersilakan duduk di kursi yang tersedia. Beberapa orang lelaki muda yang tadi sore membawa gerobag gerobag jenazah tampak bergegas keluar menyambutnya.

 "Ah. ternyata saudara Yang telah datang kemari. Hari telah malam, kami mengira saudara akan datang besok......." lelaki yang dikenal oleh Chin Yang Kun sebagai lelaki yang tadi sore membawa kawan-kawannya menjemput rombongan pembawa jenazah, tampil ke depan dan menyapa Chin Yang Kun.

"Maaf, karena harus menghadiri jamuan makan yang diselenggarakan oleh seorang kawan, aku terpaksa terlambat datang kemari." Chin Yang Kun cepat memberi keterangan.

"Silakan duduk, saudara Yang........!"

"Terima kasih!"

Chin Yang Kun mengangguk, tapi tidak segera duduk seperti yang mereka harapkan. Sebaliknya pemuda itu malah menatap pihak tuan rumah dengan tajamnya.

“Terima kasih sekali lagi atas penyambutan saudara saudara semua kepadaku. Tetapi......terus terang aku tidak ingin berlama-lama disini. Setelah hari menjadi malam, akupun masih mempunyai urusan lain yang harus kukerjakan. Maka dari itu, aku ingin segera bertemu dengan Kim-liong Lo jin. Di manakah dia............?"

Terdengar lapat-lapat suara geram dari orang-orang Kim liong Piauw-kiok yang sedang menyambut pemuda itu. Perlahan-lahan wajah mereka menjadi merah dan tangan mereka kelihatan sudah gemetaran mau meraih senjata yang berada di pinggang masing-masing. Tampaknya sikap Chin Yang Kun yang kaku dan seenaknya sendiri itu benar-benar telah menyinggung perasaan dan hati mereka.

Sejak sore mereka telah menunggu kedatangan pemuda itu dengan perasaan tegang dan gelisah. Tetapi orang yang mereka tunggu ternyata malah menghadiri sebuah jamuan makan. Dan kini setelah mereka sudah mengendorkan syaraf karena mengira pemuda itu akan datang besok, tahu-tahu dia muncul di hadapan mereka.

Meskipun demikian mereka berusaha menyambutnya dengan baik. Eeee....... tidak mereka sangka pemuda itu malah bersikap demikian kaku dan meremehkan sekali kepada mereka. Malah datang-datang pemuda itu lalu mendesak agar su-couw mereka yang sakit dan sudah terlanjur kembali beristirahat di dalam kamarnya itu cepat-cepat keluar menemuinya. Siapa yang tidak tersinggung ?

"Saudara Yang ! Sekali lagi....... Silakan duduk ! Ketahuilah, sudah sejak sore tadi Su-couw duduk di sini menantikan saudara. Sekarang beliau berada di belakang untuk menemui sahabat akrabnya yang telah bertahun-tahun tidak berjumpa.

Oleh karena itu kami diperintahkan untuk sementara menemani saudara di sini.....” orang yang mewakili pihak tuan rumah tadi berkata dengan nada kaku pula.

"Hmm...... bukankah pihak kalian yang membutuhkan aku? Cepatlah ! Kalau tidak, aku akan pergi dari sini !" Chin Yang Kun berkata lagi dengan nada tak sabar. Sedikitpun pemuda itu tidak mempedulikan sikap tuan rumah yang gondok dan mendongkol itu.

"Kurang ajar ! Saudara Yang, kau benar-benar tidak menghargai kami sebagai tuan rumah di sini!” wakil tuan rumah itu membentak penasaran.

"Benar. Dikiranya kita takut dan gemetar mendengar namanya," yang lain ikut menggeram dengan marah.

"Hantam saja! Apa gunanya kita bersikap baik kepada pembunuh seperti dia? Mari kita membalaskan dendam Thio suhu !"

Demikianlah, orang-orang Kim-liong Piauw-kiok itu lalu mengeluarkan cambuk mereka ! Kemudian semuanya menyebar mengelilingi Yang Kun. Mereka berjumlah kira-kira empatbelas atau lima belas orang, sehingga ruang pendapa itu menjadi penuh dengan mereka.
Tapi orang yang berada di dalam kepungan mereka itu ternyata tidak takut atau gemetar sama sekali. Pemuda itu malah memandang mereka acuh tak acuh.

"Lekas katakan kepada Su-couw kalian agar datang kemari! Dan jangan coba-coba membuat aku marah!" pemuda itu mulai kehilangan kesabarannya.

"Persetaaaan.......!! Bunuh dia !" wakil pihak tuan rumah tadi menjerit.

Dan....... orang-orang itu segera menyerang Chin Yang Kun dengan cambuknya. Taaar! Taaar ! Taaar ! Terdengar letupan cambuk mereka berkali-kali.

Dan sebentar kemudian mereka telah bertempur seru di dalam ruangan yang sempit tersebut.
Meja dan kursi segera terbalik dan terlempar ke mana-mana.

Chin Yang Kun mengerahkan sebagian dari tenaga saktinya, lalu dengan Hok-te Ciang-hoat ia melayani para pengeroyoknya. Tubuhnya yang ringan dan gesit itu meloncat dan melejit ke sana kemari menghindari cambuk yang berseliweran di sekitar tubuhnya. Beberapa kali tangannya menangkis ujung cambuk yang tak sempat dia hindarkan, lalu ganti menyerang pemegangnya dengan tebasan tangan yang kuat dan tajam bagai golok ! Dan satu atau dua orang dari para pengeroyoknya segera menjadi korban dari telapak tangannya yang ampuh!

Tapi keributan tersebut segera menarik perhatian orang orang Kim-liong Piauw-kiok yang lain. Mereka segera berdatangan ke tempat itu dan ikut mengeroyok Chin Yang Kun. Demikianlah, pertempuran semakin berkobar dan melibatkan seluruh anak murid Kim-liong Piauw-kiok yang ada di dalam gedung itu.

Sampai-sampai orang yang bertugas menjaga mayat Thio Lung di ruang tengahpun ikut-ikutan pula mengeroyok Chin Yang Kun !

Dan karena pendapa tersebut sudah tidak muat lagi, maka pertempuran itu lalu bergeser ke luar, yaitu ke halaman depan.Semula Chin Yang Kun memang tidak ingin memperuncing urusan pembunuhan itu dengan pembunuhan pula. Tapi menghadapi sedemikian banyak orang, mana mampu ia mengontrol gerakannya lagi ? Satu dua orang mulai roboh dengan luka yang cukup parah terkena pukulannya. Mereka cepat digotong keluar arena oleh teman-temannya, takut terkena senjata nyasar atau terinjak-injak.

"Berhentiiiii.......! Mengapa kalian tidak mau berhenti juga? Apakah kalian semua menginginkan pertumpahan darah di halaman ini?" di dalam kesibukannya Chin Yang Kun masih dapat berteriak memperingatkan lawan-lawannya.

"Persetan! Kaulah tadi yang memulainya ! Mengapa sekarang kau pura-pura tidak menginginkan pertumpahan darah ini? Bukankah keributan seperti ini yang kau idam-idamkan di dalam hatimu? Sebab dengan kericuhan seperti ini kau dapat melampiaskan nafsu membunuhmu sepuas-puasnya ! Tidak........! Kami tidak akan berhenti melawanmu ! Kami tidak takut mati !" lelaki yang menyambut kedatangan Chin Yang Kun tadi berteriak pula untuk menjawab tantangan Chin Yang Kun itu.

"Kalianlah yang memulainya! Bukan aku! Mengapa kalian tidak lekas-lekas mengeluarkan Kim-liong Lo-jin tadi?"

"Bangsat ! Sungguh hanya mau menangnya sendiri saja! Bukankah tadi sudah kukatakan sebab-sebabnya ?”

"Aaah....... itu cuma alasan kalian saja!"

"Keparaaaaaat !" lawan Chin Yang Kun mengumpat kasar sekali, suatu tanda bahwa hatinya
benar-benar marah dan mendongkol sekali.

Dan pertempuranpun berlangsung lagi dengan sengitnya. Orang-orang Kim-Liong Piauw-kiok itu menyerang semakin beringas dan dengan kemarahan yang meluap-luap. Begitu ramai dan riuhnya pertempuran mereka sehingga mengagetkan para tetangga dan orang-orang yang lewat di jalan raya. Maka sebentar saja suasana menjadi ribut.

"Tahaaaan !"

Tiba-tiba dari atas pendapa terdengar suara lantang yang memekakkan telinga! Begitu kuatnya pengaruh suara tesebut, sehingga orang-orang yang berada di halaman itu seperti mendengar suara geledek di telinganya. Beberapa orang tampak terhuyung-huyung mau jatuh.

Sekarang Chin Yang Kun benar-benar terkejut ! Ulu hatinya terasa seperti digempur oleh getaran tenaga yang tak kelihatan ujudnya. Dan hal ini berarti bahwa di dalam arena telah muncul lawan baru yang menyerang dia dengan ilmu semacam Sai-cu Ho-kang (Auman Singa) yang maha dahsyat !

Otomatis Chin Yang Kun menoleh ke atas pendapa. Seorang kakek tinggi kurus dengan kumis dan jenggot putih, tampak berdiri tegak memandang ke arahnya. Mata kakek itu luar biasa tajamnya dan menatap dirinya tanpa berkedip. Dan semua orang yang mengeroyoknya tadi tampak memberi hormat kepada kakek tersebut.

"Hmmm, inikah Kim-liong Lo-jin itu ?" Chin Yang Kun berkata di dalam hatinya.

"Tapi....... kenapa tidak kelihatan sedikitpun kalau ia sedang sakit?"

Perlahan-lahan kakek itu menuruni tangga pendapa. Dan orang-orang Kim-liong Piauw-kiok itu segera menyibak begitu kaki kakek jangkung tersebut menginjak halaman. Otomatis Chin Yang Kun dan kakek itu lalu saling berhadapan dalam jarak enam atau tujuh tombak. Keduanya saling menatap seperti ayam jago di dalam kalangan.

"Ada apa di sini ? Mengapa kalian ribut-ribut dalam suasana berkabung begini!" kakek itu tiba-tiba memalingkan mukanya dan bertanya ke arah orang-orang Kim-liong Piauw-kiok itu.

Lelaki yang bertindak sebagai tuan rumah tadi bergegas keluar dari barisan. “Pemuda itu adalah pembunuh Thio-suhu, Lo-enghiong....!” lapornya seraya membungkuk.

"Kurang ajar! Apa katamu.......?”

Chin Yang Kun berteriak marah. Tubuhnya tiba-tiba melesat ke arah laki-laki itu dan dari telapak tangannya menghembus udara yang kuat luar biasa.

Dan sekejap kemudian........

Bhlaaaar!

Gerakan pemuda itu mendadak tertahan di udara, lalu tubuhnya tertolak ke belakang dan..... terbanting ke atas tanah! Semua kejadian itu, yaitu dari serangan Chin Yang Kun yang dilakukan sambil melompat tadi, kemudian adanya sebuah tenaga yang menahan gerakan tersebut, dan akhirnya yang membuat pemuda itu terbanting ke atas tanah, semuanya hanya berlangsung dalam waktu yang sangat pendek!

Chin Yang Kun bangkit kembali dengan cepat, dan dari mulutnya tampak menetes darah segar. Matanya mencorong dingin menakutkan. Setapak demi setapak pemuda itu melangkah mendekati kakek jangkung tersebut. Dan langkahnya baru berhenti ketika jarak di antara mereka tinggal satu setengah tombak saja.

"Kau....? Kau siapakah? Mengapa kau ikut campur dan
membokong aku?" dengan suara bergetar karena menahan kemarahannya Chin Yang Kun menuding muka kakek itu.

Kakek itu menanggapi kemarahan Chin Yang Kun tersebut dengan sikap acuh tak acuh. Dengan tenang kedua lengannya justru dilipat di depan dadanya.

"Siapakah yang membokongmu, anak muda? Jangan menuduh orang sembarangan saja. Aku tadi hanya mencoba memapaki seranganmu dengan pukulan jarak jauh pula. Dan aku melakukannya dari depan, bukan dari arah belakang........”

"Tapi kau melakukannya tanpa memberi tahu aku lebih dahulu. Padahal di antara kita tidak ada perselisihan."

Kakek itu mengelus jenggotnya. “Hmmm, anak muda........ kau jangan hanya mau menang sendiri saja! Bukankah kedatanganmu kemari sehingga terjadi pertempuran itu sudah menunjukkan perselisihan di
antara kita? Dan....... apakah kau tadi juga memperingatkan lebih dulu ketika menyerang lelaki itu ?"

Chin Yang Kun diam tak bisa menjawab. Tapi sejalan dengan itu di dalam tubuhnya telah bergolak kemarahan yang membuat seluruh tenaga sakti Liong cu-i-kangnya bangkit dari tan-tian dan........ tak bisa dibendung lagi!

Kulit tubuhnya berubah menjadi gelap kekuning-kuningan dan udara atau hawa yang sangat dingin terasa menghembus melalui jalan pernapasannya. Begitu tajam dan kuatnya pengaruh hawa dingin tersebut sehingga kakek jangkung itu merasakannya juga.

"Hah?!" kakek itu mengangkat wajahnya dengan kaget.

"Baiklah, orang tua....... Agaknya semua orang di tempat ini telah menuduh aku sebagai pembunuh Thio Lung. Dan kelihatannya semua sanggahan atau kata-kataku sudah tidak akan dipercaya lagi. Kini semua orang hanya mempunyai satu niat, yaitu........ membunuh aku ! Kalau demikian halnya ……. apa boleh buat, aku akan mempertahankan nyawaku sedapat dapatnya ! Marilah.......!!"

Chin Yang Kun merendahkan tubuhnya dan dari mulutnya terdengar suara mendesis yang amat keras. Kemudian kedua tangannya yang terkepal di samping pinggangnya itu tiba-tiba meluncur ke depan dengan
kekuatan penuh, menghantam ke arah dada kakek jangkung tersebut. Whuuuuussss........!

Kakek itu cepat memasang kuda-kuda pula. Sepasang lengannya terulur pula dengan cepat ke depan, menyongsong pukulan Chin Yang Kun ! Melihat tenaga yang dikeluarkan oleh pemuda tersebut terasa hebat luar biasa, maka kakek itupun juga tidak berani bermain-main lagi. Meskipun demikian kakek itu yang merasa kepandaian dan ilmunya lebih tinggi dari pada ilmu dan kepandaian lawannya, hanya mengerahkan tiga perempat bagian saja dari seluruh tenaga saktinya. Tapi biarpun cuma tiga perempat bagian saja, ternyata perbawanya sungguh telah menggiriskan hati para penonton di sekitarnya. Semuanya segera menyingkir ketika tiba-tiba muncul pusaran angin yang bergemuruh dari tubuh kakek itu!

Bhlaaaaar.......!!!

Dua pasang lengan berbenturan di udara, menimbulkan suara nyaring di telinga para pendengarnya ! Tapi benturan antara dua tenaga sakti itu menimbulkan perbawa lain di hati para penonton di halaman tersebut ! Benturan itu seolah-olah menimbulkan getaran keras yang menghantam rongga dada mereka, sehingga mereka merasa seperti ada suara menggelegar di dalam jantung mereka! Belasan orang menjadi sempoyongan karena tergoncang keseimbangannya!

Dan….. akibat dari benturan tersebut ternyata juga mengejutkan para pelakunya sendiri! Keduanya ternyata juga tidak menyangka bahwa lawan
yang mereka hadapi mempunyai kesaktian demikian hebatnya! Terutama bagi kakek jangkung itu !

Kakek jangkung itu yang dengan mengerahkan tiga perempat bagian sinkangnya merasa sudah terlalu cukup untuk menggempur lawannya, ternyata terkejut sekali ketika kuda-kudanya terguncang dan kemudian malah…. Terbanting jatuh ke atas tanah seperti yang dialami oleh lawannya tadi !

Darah menetes pula dari sudut bibirnya, membasahi kumis dan jenggotnya yang putih! Kakek itu bangun kembali dengan cepat. Mukanya pucat karena malu, sementara matanya melotot seolah-olah tak percaya apa yang telah dialaminya.

“Bo-bocah kurang ajar…..!" kakek itu mengumpat dengan suara tertahan di dalam kerongkongannya. Kemudian dengan kemarahan yang meluap ia mengerahkan seluruh kekuatannya. ''Terimalah pukulanku.....!" geramnya.

Dan sekejap kemudian tubuh Chin Yang Kun bagai hendak dihempas oleh pusaran angin ribut yang lebih dahsyat dari pada tadi. Gemuruh suaranya !

Tetapi Chin Yang Kun cepat merendahkan tubuhnya.Badannya yang penuh terisi tenaga sakti Liong-cu-I-kang itu menerjang pusaran angin selangkah demi selangkah ke depan, seperti seekor naga yang merayap dalam derasnya gelombang Sungai Huang-ho. Dan begitu sudah berhadapan langsung dengan lawan, pemuda itu segera menyerang dengan jurus Kai-chuang-kan-seng (Membuka Jendela Melihat Bintang) ke arah lutut kakek itu.

Di dalam kekagetannya, karena Chin Yang Kun ternyata mampu menerjang hembusan angin pukulannya, kakek jangkung itu meloncat ke samping menghindari cengkeraman tangan Chin Yang Kun yang mengarah ke lututnya. Lalu dari arah samping kakek itu membalas pula dengan pukulan lurus dari atas ke bawah ke arah ubun-ubun Chin Yang Kun. Gerakan tersebut disebut jurus Menancap Tiang di Puncak Gunung !

Chin Yang Kun melangkah mundur kembali, sehingga pukulan kakek itu lewat di depan mukanya. Kemudian pemuda itu menerjang ke depan Iagi dengan dua buah kepalannya. Tapi dengan mudah kakek itu juga dapat mengelakkannya.

Selanjutnya kedua orang itu lalu bertarung dengan dahsyatnya. Masing-masing mencoba dengan segala kemampuannya untuk mengalahkan lawannya. Para penonton semakin lama semakin menjauhi arena, sebab perbawa yang dikeluarkan oleh kedua orang itu semakin lama juga semakin membahayakan orang-orang di dekat mereka. Angin pukulan mereka saja ternyata mampu meledakkan dan menghancurkan benda-benda yang berada jauh dari tempat mereka bertempur !

Semakin hebat dan seru mereka bertempur kakek jangkung itu semakin heran dan penasaran menyaksikan kedahsyatan ilmu Chin Yang Kun ! Pemuda belasan tahun yang patut menjadi cucu atau anaknya dapat mengimbangi seluruh kemampuan dan pengalamannya selama berpuluh-puluh tahun ! Dan yang benar-benar sangat mentakjubkan dan mengherankan hati kakek itu adalah kesempurnaan Iweekang pemuda remaja tersebut. Lweekang pemuda itu demikian sempurna dan hebatnya, sehingga Iweekang tersebut seakan akan telah dihimpun dan dipelajari oleh pemuda itu selama berpuluh-puluh atau bahkan lebih dari seratus tahun.

Sebaliknya, Chin Yang Kun sendiri juga tidak kalah takjub dan herannya menyaksikan kehebatan dan kedahsyatan ilmu kepandaian orang tua itu. Rasa-rasanya pemuda itu belum pernah melihat ilmu silat yang bisa menimbulkan badai angin yang bergemuruh seperti itu. Dan pemuda itu semakin takjub lagi apabila kakek tua itu kadang-kadang mengeluarkan pukulan jarak jauhnya yang meledak-ledak bagai petir menyambar! Maka di dalam hatinya pemuda itu lantas bertanya-tanya, siapakah sebenarnya kakek tua itu? Yang jelas baginya adalah kakek tersebut tentu bukan Kim Liong Lojin, karena selain Kim liong Lo-jin sedang menderita sakit, orang-orang Kim-liong Piauw-kiok tadi tidak menyebutnya Sucouw tetapi Lo-enghiong!

"Kalau begitu........ orang tua ini tentulah yang mereka katakan sebagai kawan akrab Kim-liong Lo-jin tadi." pemuda itu berkata di dalam hatinya.

Demikianlah, seratus jurus telah lewat dan pertempuran mereka belum juga bisa menunjukkan siapa yang kalah dan siapa yang menang. Padahal keduanya benar-benar telah berusaha dengan sekuat tenaga mereka, biarpun keduanya memang belum merasa perlu untuk mengeluarkan ilmu simpanan mereka masing-masing.

Tapi sejenak kemudian merekapun lantas menjadi sadar bahwa yang mereka hadapi kali ini memang bukanlah lawan sembarangan. Masing-masing lalu berpikir untuk mempergunakan ilmu simpanan mereka.

Kakek itulah yang mula-mula meloncat mundur menjauhi lawannya. Dengan kedua kaki terpentang lebar kakek itu memasang kuda-kuda rendah sekali. Kedua telapak tangannya bertemu di depan dada seperti orang yang hendak bersemedhi, sementara punggung dan kepalanya tampak tegak ke depan ke arah Chin Yang kun.

Chin Yang Kun diam pula tak bergerak. Pemuda itu juga tidak mengejar ketika lawannya meloncat mundur, karena pemuda itupun sudah memutuskan untuk mengeluarkan Kimcoa-ih-hoatnya. Maka begitu lawannya tadi meloncat mundur, pemuda itu buru-buru mempersiapkan dirinya pula.

Terdengar suara berkerotokan di dalam tubuh Chin Yang Kun, seolah-olah semua tulang-tulangnya saling berbenah diri, agar tidak mengecewakan dalam memainkan ilmu Kim-coa-ih-hoat nanti. Kemudian tenaga sakti Liong-cu-I-kangnya ia kumpulkan sepenuhnya di tan-tian, agar setiap saat bisa ia kerahkan ke seluruh tubuh !

Kakek itu menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya satu sama Iain, lalu sekejap kemudian telapak tangan kanannya tiba-tiba meluncur ke depan dengan disertai suara yang bergemuruh. Dan hawa yang sangat panas mendadak menyengat kulit dada Chin Yang Kun !

Chin Yang Kun cepat menggeser kakinya ke samping, lalu tangan kirinya menepis ke depan dalam jurus Panglima Yi Po Mengatur Barisan, yaitu jurus ke tujuh belas dari ilmu silat keluarganya. Hanya bedanya tepisan tangan itu sekarang dilandasi dengan Liong-cu-i-kang, bukan Iweekang ajaran paman bungsunya!

Thanggg!

Kedua telapak tangan yang masing-masing penuh dengan tenaga dalam itu saling berbenturan di udara! Suaranya mengiang nyaring seperti suara dua batang tongkat besi yang diadu satu sama lain! Chin Yang Kun kaget bukan main! Biarpun lengan lawan yang keras bagai besi baja itu dapat ia tepiskan, tapi sengatan hawa panas itu ternyata masih tetap menerjangnya juga.

Tiba-tiba tubuh bagian kirinya terasa pedih sekali ! Dan….. bukan main terkejutnya pemuda itu ketika menyaksikan lengan bajunya sebelah kiri hancur berserpihan ditiup angin !

Dan matanya semakin melotot tatkala melihat kulit di bawah baju itu tampak terbakar kemerah-merahan seperti bekas kulit yang tersiram air panas ! Dari kaget pemuda itu menjadi marah bukan kepalang ! Dan kemarahan itu tidak cuma karena kulitnya yang terbakar, tapi sebagian besar disebabkan karena rusaknya baju buatan Souw Lian Cu yang kini dipakainya itu !

Dengan suara desisnya yang khas pemuda itu menggeliat ke depan bagai ular naga yang sedang marah. Lalu tangan kanannya secara mendadak menyambar ke arah pinggang kakek jangkung itu dalam jurus Merentang Tali Meniti Jembatan, yaitu salah sebuah jurus dari Kim-coa-ih-hoat ! Kaki kanan dan kiri berdiri sejajar dalam satu garis, dengan tubuh atas mendoyong ke depan, sementara kedua lengannya juga terpentang lurus ke muka dan ke belakang!

Hembusan angin yang luar biasa dinginnya mendahului sambaran tangan Chin Yang Kun, sehingga kakek itu cepat menyadari bahaya yang hendak menerkamnya. Otomatis kakek itu bergeser menjauh seraya menghantamkan sikunya ke bawah untuk mematahkan pergelangan tangan Chin Yang Kun. Dan sesudah itu kakek jangkung tersebut bermaksud menghajar kepala lawannya dengan pukulannya yang bersifat panas itu lagi.

Tapi maksudnya itu ternyata tidak dapat ia laksanakan ! Malahan sebaliknya kakek itu sendirilah yang jatuh bangun dikocok serangan Chin Yang Kun sebelum dapat melaksanakan niatnya tersebut.

Ternyata sambaran tangan Chin Yang Kun tadi tidak berhenti begitu saja ketika berhasil dielakkan oleh kakek jangkung itu. Lengan pemuda itu segera memanjang lagi ketika korbannya bergeser dan berusaha menjauhkan diri, sehingga pinggang kakek itu tetap terancam juga oleh cengkeraman jari-jari Chin Yang Kun !

Dengan secara otomatis pula lagi kakek itu semakin menjauhkan dirinya. Tapi bagaikan seutas tali saja, lengan itu juga terentang semakin panjang pula. Kakek itu mulai panik !

Siku tangannya yang sedianya akan menghantam pergelangan tangan Chin Yang Kun menjadi gagal pula. Bagaimana mungkin ia meneruskan hantaman sikunya itu kalau jari-jari tangan Chin Yang Kun akan datang lebih dulu di pinggangnya? Tubuhnya akan menjadi lumpuh dan hantaman tersebut sudah tidak ada gunanya lagi !

Kakek itu secara mati-matian menjejakkan kakinya ke samping seraya memutar tubuh sebisa-bisanya dan ternyata gerakannya itu untuk sesaat bisa membebaskan dirinya dari kejaran lengan Chin Yang Kun! Kemudian dengan terburu buru kakek itu mengirimkan pukulan tangan kirinya yang sejak tadi tergantung bebas di sisi tubuhnya!

Kembali terdengar suara gemuruh melanda Chin Yang Kun ! Dan hawa panaspun lalu tersebar ke segala penjuru ! Tapi dengan tangkas Chin Yang Kun menjatuhkan dirinya ke tanah. Tiba-tiba tubuhnya mengkerut dengan cepat, sehingga pukulan kakek itu tidak mengenai sasarannya. Akibatnya tanah di samping Chin Yang Kun meledak dengan dahsyatnya ! Tanah dan debu berhamburan kemana-mana!

Demikianlah Chin Yang Kun dan kakek jangkung itu lalu bertempur kembali. Dan pertempuran mereka kali ini benar benar lebih dahsyat dari pada pertempuran mereka tadi. Kesaktian mereka yang tidak lumrah manusia itu sungguh membuat takjub para penonton yang berada di halaman tersebut.

Kakek jangkung itu meskipun sudah tua ternyata kemampuan dan kekuatannya justru semakin menjadi-jadi malah! Seluruh gerakan kaki dan tangannya selalu menimbulkan badai atau pusaran angin yang maha hebat, sementara pukulan tangannya selalu meledak-ledak laksana petir menyambar.

Sebaliknya, meskipun masih muda belia, ternyata ilmu kesaktian Chin Yang Kun juga tidak kalah dahsyatnya.

Tubuhnya yang juga tinggi jangkung itu bagaikan sebuah boneka karet, yang bisa memanjang-memendek, dan bisa ditekuk kesana kemari sesuka hatinya! Sepintas lalu tubuhnya yang panjang jangkung itu seperti tubuh ular yang berlenggak-lenggok lemas dalam setiap gerakannya. Tetapi meskipun gerakannya lemas dan halus, ternyata tenaga yang ia keluarkan benar-benar hebat luar biasa. Pukulan petir si kakek yang berhawa panas itu ternyata menjadi hilang pengaruhnya bila membentur pertahanannya. Malah beberapa saat kemudian kakek itulah yang menjadi bingung dan repot karena terkecoh dan tertipu oleh ilmu silatnya yang aneh !

Sehingga akhirnya kakek itu tidak berani bertempur terlalu dekat dengannya. Limapuluh jurus telah berlalu pula. Meskipun demikian pertempuran itu belum juga menunjukan tanda-tanda akan selesai. Sepintas lalu kakek itu memang tampak lebih repot dibandingkan Chin Yang Kun, tapi hal itu juga belum dapat dijadikan ukuran bahwa Chin Yang Kun akan bisa menundukkan lawannya nanti. Kenyataannya, biarpun repot ternyata kakek itu selalu bisa melayani ilmu silat Chin Yang Kun yang aneh dan menggiriskan itu. Padahal sejak keluar dari gua di dalam tanah itu Chin Yang Kun belum pernah menjumpai lawan yang bisa bertahan menghadapi Kim-coa-ih hoat ! Malahan kalau dilihat dengan teliti, bukan Kim-coa ih hoat itu yang membuat repot si kakek jangkung, melainkan tenaga sakti Liong-cu-i-kang itulah !

Dan para penontonpun semakin takjub melihat pertempuran tingkat tinggi itu. Rasa-rasanya pertempuran yang mereka saksikan itu bukan lagi dilakukan oleh dua orang manusia biasa, tetapi dilakukan oleh dua malaikat atau dewa yang sedang turun di dunia. Begitu hebatnya, sehingga para penonton itu terpaku diam di tempat masing-masing !

Sementara itu selagi semua orang sedang dicekam oleh rasa takjub melihat pertempuran tersebut, dari ruang dalam gedung itu muncul seorang kakek tua lagi, berjalan keluar pendapa dipapah oleh dua anak murid Kim-liong piauw-kiok.

"Ohhh..... hentikan! Oooh.......! Yap beng-yu (Sahabat Yap), kau........ kau berhentilah bertempur!” begitu menginjak halaman kakek tua itu berteriak dengan suaranya yang serak.

Dan suara kakek itu ternyata sangat mengejutkan kakek jangkung yang sedang bertempur dengan Chin Yang Kun itu.

"Hei........ Lo-jin ! Mengapa kau keluar juga? Bagaimana dengan sakitmu?" kakek jangkung yang tidak lain adalah Yap Cu Kiat itu cepat melompat keluar dari arena pertempuran.

Bergegas orang tua itu mendekati Kim-liong Lo-jin, sahabatnya, "Yap Lo-heng, kau berkelahi dengan siapa.......? Mengapa ramai dan ribut benar?" Kim-liong Lo-jin bertanya.

Yap Cu Kiat menghela napas panjang. "Lo-jin, kau tak perlu turun tangan sendiri! Biarlah Lo-hu (aku) membantu menangkap orang yang telah membunuh muridmu itu."

"Siapa? Pembunuh Thio Lung? Mana dia....?" Kim-liong Lojin berteriak, lalu dengan tergesa-gesa kakinya melangkah sehingga dua orang yang memapahnya terpaksa menyangganya kuat-kuat agar tidak terjatuh.

"Mana dia.....?" Kim-liong Lo-jin berteriak lagi sambil mencengkeram lengan Yap Cu Kiat.

“Itu dia........!" Yap Cu Kiat menunjuk ke arah Chin Yang Kun yang menatap buas kepadanya.

"Dia.....?" Kim-liong Lo-jin berdesah perlahan.

Matanya menatap wajah Chin Yang Kun tajam-tajam. Beberapa kali keningnya berkerut, seolah-olah ia tak percaya atau ragu ragu. Sementara itu melihat kedatangan Kim-liong Lo-jin yang dicarinya Chin Yang Kun segera melangkah maju.

“Hmm, Kim-liong Lo-jin…..akhirnya kau keluar juga. Nah, sekarang lihatlah baik-baik rupa dan wajahku! Benarkah orang yang membunuh Thio Lung itu wajahnya seperti aku?”

Kim-liong Lo-jin tampak kaget sekali. Dilepaskannya lengan Yap Cu Kiat seraya melangkah
mundur. Matanya menatap wajah Chin Yang Kun seperti orang yang sangat kecewa.

“Bukan…..! bukan dia! Yap Lo-heng……kalian telah salah menuduh orang!” gumamnya perlahan.

“Apa? Bukan dia…..? lalu…….eh, bagaimana ini?” Yap Cu Kiat berseru seraya berpaling ke arah penonton, mencari anak murid Kim-liong Piauw-kiok yang melapor kepadanya tadi.

Dan lelaki yang melapor tadi cepat keluar pula dari kerumunan para penonton. Dengan air muka ketakutan laki laki itu segera berlutut di depan Kim-liong Lo-jin dan Yap Cu Kiat.

“Su-sucouw, maafkanlah siauw-te……tadi……..tapi memang dia……dialah yang bernama Yang Kun, pemuda yang dahulu pernah menolong orang-orang kita di tempat pengungsian ! Siauw-te tidak....... tidak berbohong...” lelaki itu berkata dengan suara gagap karena takut.
“Benarkah.......?" Kim-liong Lo-jin menegaskan dengan muka tak percaya. Lalu dengan rasa ingin tahu ketua Kim-liong Piauw-kiok itu berpaling kepada Chin Yang Kun.

“Saudara, benarkah namamu Yang Kun?”

“Benar! Aku memang Yang Kun, orang yang dahulu pernah menolong murid-muridmu ketika bentrok dengan para pengemis dari Tiat-tung Kai-pang! Ada apa? Apakah kau masih menuduh aku yang membunuh muridmu?” Chin Yang Kun menjawab keras, sedikitpun tidak merasa takut dikepung dan dikelilingi sedemikian banyak orang. Ketua Kim-liong Piauw-kiok itu tampak kebingungan.

“Anu……eh, begini saudara……kau……kau memang bukan si pembunuh itu! Tapi…..tapi pembunuh itu juga mengaku bernama Yang Kun,” katanya terputus-putus. Chin Yang Kun dan Yap Cu Kiat mengerutkan dahi.

“Pembunuh itu mengaku bernama Yang Kun?” Chin Yang Kun berseru tak percaya.

“Eh, Lo-jin……bagaimanakah bentuk wajah dan potongan si pembunuh itu?” Yap Cu Kiat ikut bertanya pula kepada sahabatnya.

"Ah..... kalau tak salah orang itu berusia kira-kira empatpuluh atau lebih sedikit. Memakai kumis tipis dan bersenjata pedang. Dan kedatangannya kemari membawa dua orang teman, lelaki dan perempuan..........."

"Hei ! Apakah pedang yang dibawanya itu dihiasi dengan batu-batu permata yang gemerlapan? Dan...... apakah teman lelaki yang dibawanya itu berwajah tampan serta necis dandanannya?" tiba-tiba Chin Yang Kun memotong perkataan Kim-liong Lo-jin.

"Ya-ya, benar ! Pedang itu memang tampak gemerlapan kena sorot lampu ! Dan teman laki-lakinya itu memang tampan dan kelihatannya juga necis dan suka berdandan,..." dengan bersemangat Kim liong Lo-jin menjawab seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Bangsat kurang ajar ! Jadi...... bangsat-bangsat pengecut itu telah mendahului datang kemari untuk melenyapkan saksi yang masih hidup," Chin Yang Kun menggeram dan mengumpat-umpat.

Yap Cu Kiat, Kim-liong Lo-jin dan semua orang yang berada di halaman itu memandang Chin Yang Kun dengan wajah bingung dan tak mengerti.

"Hmmm, tampaknya saudara mencurigai seseorang........”

Yap Cu Kiat bertanya kepada Chin Yang Kun. Kakek ini sudah tidak menunjukkan rasa permusuhannya lagi kepada Chin Yang Kun. Malah dari nada suaranya, kakek jangkung itu kelihatan menyesal telah ikut-ikutan menuduh Chin Yang Kun tadi. Chin Yang Kun menatap bekas lawannya yang lihai luar biasa itu beberapa saat lamanya. Lalu dengan tenang namun tegas pemuda itu mengangguk.

"Ya ! Aku memang mencurigai Pendekar Li dan kawan kawannya, yaitu Jai-hwa Toat-beng-kwi dan Pek-pi Siau-kwi ! Orang-orang itu mempunyai sebuah urusan pribadi dengan aku. Dan tidak seorangpun di dunia ini yang mengetahui urusan pribadi itu selain kami dan...... Thio Lung!"

"Ahh ! Jadi........?" Yap Cu Kiat mendesak sambil mengerutkan keningnya.

"Yaah...... tampaknya orang-orang itu memang membunuh Thio Lung untuk melenyapkan saksi dari urusan pribadi kami itu !" Chin Yang Kun menggeram dengan wajah mendongkol.

"Sungguh keji…..!" Kim-liong Lo-jin menggeram pula dengan suara serak.

Sekejap orang-orang di halaman itu menjadi ribut. Mereka berteriak-teriak serta mengumpat-umpat Pendekar Li dan kawan-kawannya.

Sementara itu, selagi orang-orang Kim-liong Piauw-kiok pada ribut dan berteriak-teriak, sebuah kereta barang tampak memasuki halaman tersebut.
Kereta itu lalu berhenti di dekat kerumunan mereka membuat orang-orang itu menjadi Kaget melihatnya. Kemudian tampak dua orang lelaki turun dari kereta, memapah seseorang yang kelihatannya sedang menderita sakit.

"Eh........ Tuan Hua!" orang-orang Kim-Iiong Piauw-kiok itu berdesah hampir berbareng, dan keributan itu pun lalu berhenti dengan tiba-tiba. Semuanya memandang Tuan Hua, satu-satunya kawan mereka yang hidup ketika rombongannya dihadang perampok di dekat kota Poh-yang itu.

Tuan Hua mengangguk ke arah kawan-kawannya, kemudian dengan dibantu dua orang kawannya tadi ia melangkah ke tempat Kim-liong Lo-jin berdiri. Lelaki itu bermaksud memberi penjelasan dan laporan mengenai bencana yang ia terima di luar kota Poh-yang kemarin siang.

Tapi baru tiga langkah ia berjalan, tiba-tiba matanya melihat Chin Yang Kun yang berdiri tegak di tengah-tengah halaman. Sekejap Tuan Hua tak percaya. Tapi serentak yakin bahwa pemuda itu memang benar-benar Chin Yang Kun, penolongnya, Tuan Hua bergegas menghampirinya.

"Saudara Yang Kun,...... ! Kau sudah sampai di sini ? Kapan kau datang ?" Tuan Hua menyapa Chin Yang Kun dengan hangat. Meskipun lukanya belum sembuh tapi wajahnya tampak gembira berseri-seri melihat pemuda itu.

"Suhu........! Inilah saudara Yang Kun, pemuda yang pernah kuceritakan itu!" sambil berpaling ke arah Kim-liong Lo-jin laki-laki itu  menjelaskan.

Orang-orang yang berada di halaman itu semakin yakin bahwa Chin Yang Kun memang bukan pembunuh Thio Lung. Oleh karena itu mereka lantas meminta maaf kepada pemuda itu, termasuk pula kakek jangkung Yap Cu Kiat. Malah selain meminta maaf kakek tersebut juga memuji dan mengagumi ilmu silat Chin Yang Kun yang hebat luar biasa itu.

“Sudahlah! Marilah kita sekarang masuk dan berbicara di dalam! Nanti kita usut dan kita bicarakan urusan ini sambil duduk ! Dan.......ayoh, kalian semua kembali ke tempat tugas masing-masing!" akhirnya Kim-liong Lo-jin mengajak teman-temannya ke pendapa, serta sekalian memerintahkan pada anak muridnya agar kembali ke tugasnya masing-masing.
Tapi dengan cepat Chin Yang Kun menolaknya.

"Maaf, Lo-jin...... Sebetulnya aku bergembira sekali dapat berkenalan dengan semua tokoh di sini. Sejak bertemu dan berkenalan dengan murid-murid Lo-jin di tempat penampungan para pengungsi itu, aku sudah berniat untuk berkunjung kemari. Tetapi sayang sekali aku tak dapat mewujudkan niatku itu sekarang, karena malam ini aku masih harus menyelesaikan beberapa urusan lagi. Aku sungguh menyesal sekali........" pemuda itu menjura sambil meminta diri.

"Ohhh ......"

Kim-liong Lo-jin dan murid-muridnya tampak kecewa sekali.

Tapi mereka tak bisa mencegah maksud pemuda itu. "Baiklah! Bagaimanapun juga kami memang tak bisa menahanmu kalau kau ingin pergi. Hanya sekali lagi kami mengucapkan terima kasih atas keteranganmu tentang para pembunuh Thio Lung itu," Kim-liong Lo-jin berkata seraya membalas penghormatan Chin Yang Kun.

"Memang sayang sekali. Sebenarnya lo-hu juga ingin sekali mengenal lebih banyak tentang Saudara Yang Kun ini." Yap Cu Kiat ikut menyatakan kekecewaannya pula.

"Eh, sebenarnya…. siapakah Saudara Yang ini? Maksudku...... maksudku, Saudara Yang ini dari perguruan mana dan siapakah gurunya?"

Chin Yang Kun yang sudah terlanjur membalikkan tubuhnya itu menoleh. Otomatis langkahnya terhenti. "Ah....... Locianpwe, apa perlunya kita mengetahui asal-usul kita masing-masing? Akupun juga tak tahu asal-usul dan nama Locianpwe. Yang penting bagi kita sekarang adalah bahwa kita sudah saling mengenal dan bersahabat. Kukira hal itu sudah cukup banyak bagi kita,......!” pemuda itu berkata sambil meneruskan langkahnya.

"Eh! Tapi......., nama juga perlu buat orang yang bersahabat. Bagaimana kau akan menyebut nama sahabatmu kalau kau tak tahu namanya? Hmm, tapi........baiklah kalau memang itu yang kau inginkan." Yap Cu Kiat saling memandang dengan Kim-Iiong Lo-jin.

Sambil menghela napas kakek jangkung itu berkata, "Sungguh aneh sekali wataknya! Tampaknya ia mempunyai sejarah yang suram tentang hidupnya. Tapi lepas dari semua itu ........ kepandaiannya benar-benar hebat luar biasa ! Setua ini umurku, belum pernah rasanya aku bertemu dengan anak muda sehebat dia........!"

"Lo-heng benar.......! Akupun tadi juga merasa heran melihat anak itu mampu bertempur denganmu," Kim-Iiong Lojin mengangguk-angguk.

"Tidak hanya mampu malah! Justru akulah yang menjadi repot!" Yap Cu Kiat mengakui tanpa malu-malu.

"Tapi zaman memang sudah berubah, dan kita orang tua ini benar-benar sudah ketinggalan dengan yang muda-muda."

"Katamu memang betul, Lo-heng. Anak sekarang memang hebat-hebat. Lihat! Tak usah jauh-jauh! Puteramu si Kiong Lee itu juga hebat bukan main ! Mungkin kau sendiri juga tidak bisa mengalahkannya lagi sekarang....."

Diingatkan kepada puteranya kakek jangkung itu justru menjadi muram malah. Wajahnya tertunduk. "Anak itu memang anak yang baik…..” desahnya pelan.

"Ah, maafkan aku.... Yap Lo-heng ! Aku tak bermaksud membuatmu sedih.......” Kim-liong Lo-jin menyesali kata katanya.

“Sudahlah! Marilah kita ke dalam!"

Kedua kakek yang bersahabat erat itu lalu masuk ke dalam, diikuti oleh Tuan Hua dan dua pengawalnya. Mereka tidak jadi duduk di ruang depan yang sedang dibersihkan dan dirapihkan kembali oleh para anggota Kim-liong Piauw-kiok, tapi mereka terus langsung saja ke belakang, yaitu ke kamar Kim-liong Lojin.

Sambil minum teh panas, karena kesehatan Kim-liong Lojin tidak memungkinkan untuk meminum minuman keras, mereka saling berbicara tentang keadaan mereka masing masing. Mula-mula Tuan Hua dulu yang bercerita tentang tugasnya yang kandas di tengah jalan akibat dirampok orang.

Bagaimana dia dan rombongannya melawan si perampok muda yang lihai luar biasa yang hanya dengan bersenjatakan busur dan anak panah, bisa membunuh seluruh anggota rombongannya, termasuk murid-murid langsung Kim-liong Lojin sendiri, yang pada waktu itu juga ikut mengawal barang hantaran tersebut, kecuali dia ! Lalu Tuan Hua juga bercerita tentang bagaimana Yang Kun memberi pertolongan kepada dirinya, sehingga pemuda itu dapat membunuh perampok lihai tersebut. Kemudian Tuan Hua juga menyinggung tentang keterlibatan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai dalam peristiwa itu, yaitu sebagai pengawal si perampok muda sehingga hampir saja pendekar yang terkenal itu berhadapan dengan Yang Kun. Cerita Tuan Hua itu ternyata sangat mengejutkan Yap Cu Kiat!

"Jadi........ jadi Pangeran Muda itu sudah mati di tangan Yang Kun? Oooooh........!” kakek sakti itu berdesah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Tentu saja Tuan Hua dan Kim-liong Lo-jin yang tidak mengerti persoalannya menjadi heran mendengar kata-kata Yap Cu Kiat tersebut. Apalagi orang tua itu menyebut Pangeran Muda segala.

"Tenanglah, Lo-heng...! Kau kenapa ? Mengapa kau kelihatan begitu kaget ?" Kim-liong Lo-jin cepat memegang lengan sahabatnya itu.

Muka Yap Cu Kiat semakin tampak tua. Beberapa kali tangannya mengelus-elus jenggotnya yang putih.

"Sungguh nelangsa sekali hidupnya. Seorang pangeran pewaris mahkota........ mati sebagai perampok?"

Kemudian agar sahabatnya itu tidak menjadi bingung menyaksikan sikapnya tadi, Yap Cu Kiat lalu bercerita pula serba sedikit tentang Putera Mahkota Chin yang berusaha untuk merampas kembali singgasana yang direbut oleh Liu Pang, tapi gagal. Dan bagaimana dia dan isterinya sampai berselisih paham dengan kedua orang puteranya, karena mereka berempat saling berselisih paham. Kedua orang puteranya itu memihak Liu Pang, sementara dia dan isterinya tetap membantu keturunan mendiang Kaisar Chin Si.

"Dan kalau benar apa yang diceritakan oleh Tuan Hua tadi, maka tak salah lagi perampok tersebut adalah Pangeran Muda, putera dari Putera Mahkota. Oooh....... bila demikian halnya akupun juga ikut bersalah kepada kalian semua, karena........ aku juga pernah ikut pula memberi pelajaran silat kepadanya barang sedikit." kakek Yap itu menutup perkataannya.

"Yap Lo-heng......” Kim-liong Lo-jin yang telah kehilangan semua muridnya itu berdesah pula dengan sedihnya.

Meskipun demikian kakek itu tetap juga menghibur sahabatnya.

“Sudahlah, Lo-heng...... kita berdua orang tua ini tampaknya memang bernasib sama, sama-sama menderita di hari tua. Kau berselisih jalan dengan anakmu, sedangkan aku kehilangan semua murid dan perusahaanku."

"Aku tidak cuma berselisih jalan dengan kedua anakku saja, ibunyapun sekarang telah berselisih jalan denganku......."

"Kau......... berselisih jalan dengan isterimu ? Eh, bagaimana ini ? Bukankah kau tadi mengatakan bahwa kalian berdua ikut membantu perjuangan Putera Mahkota ?" Kim-liong Lo-jin bertanya dengan wajah bingung.

Yap Cu Kiat bangkit berdiri sambil menghela napas panjang. Matanya memandang redup ke depan.

"Lo-jin....! Semula aku memang membantu Putera Mahkota. Tidak hanya aku malah. Beng Tian Goan-swe yang terkenal itupun ikut membantu pula. Tapi setelah semuanya kupikirkan benarbenar, aku menjadi sadar bahwa tindakanku itu salah. Kedua anakku itulah yang benar.

Seperti juga kita semua ini, zamanpun juga telah berubah. Yang dulu benar dan betul, belum tentu sekarang juga benar dan betul pula. Tiada sesuatupun yang abadi di dunia ini. Dahulu Dinasti Chin memang memerintah dengan baik dan dicintai rakyatnya. Tapi sejak Kaisar Chin Si bertakhta di Singgasana suasana menjadi berubah. Biarpun negeri tampak lebih besar dan
ternama, tapi rakyat sudah tak senang lagi kepada kaisarnya. Apalagi dengan tindakan Kaisar Chin Si yang sewenang-wenang dalam mendirikan Tembok Besar serta perlakuannya yang lain, yaitu memusuhi kaum beragama !

Maka aku kira rakyat yang dipimpin oleh Liu Pang itu juga tidak salah! Agaknya memang sudah saatnya negeri ini berubah. Dan kita tidak boleh tetap bermimpi tentang masa lampau, apalagi sampai menghalang-halangi jalannya perubahan itu.......”

Semuanya berdiam mendengarkan perkataan Yap Cu Kiat yang panjang lebar itu. Mereka mengangguk-angguk seakan akan membenarkan semua ucapan Yap Cu Kiat itu.

"Maka........ akupun lalu pergi meninggalkan Putera Mahkota. Ternyata Beng Tian goan-swe juga sependapat dengan aku, sehingga diapun ikut pula meninggalkan Putera Mahkota. Tinggal isteriku saja yang kini masih tetap bertahan untuk membantu Putera Mahkota. Tapi itupun bisa kumaklumi, karena isteriku itu memang masih kerabat dari Keluarga Chin….." Yap Cu Kiat mengakhiri kata-katanya seraya duduk kembali.

Mereka lalu berdiam diri kembali. Masing-masing sibuk dengan pikiran mereka sendiri-sendiri. Baru beberapa saat kemudian Kim-liong Lo-jin sebagai tuan rumah membuka percakapan itu kembali, yaitu dengan cerita tentang kematian Thio Lung kemarin malam.

"Semula aku tak menyangka bahwa ketiga orang yang masuk ke kamar Thio Lung itu hendak berbual jahat. Dari kamarku kudengar mereka bercakap-cakap seperti halnya kawan lama yang baru saja berjumpa. Maka akupun tak bercuriga terhadap mereka. Baru setelah kudengar teriakan Thio Lung aku menjadi sadar bahwa tentu telah terjadi apa apa dengan murid sulungku itu. Dalam keadaan lemah dan sakit aku terpaksa keluar kamar. Tapi hanya dengan sekali sabet saja pedang orang itu telah melukaiku. Mereka Iantas berlari keluar, dan sebelum hilang di balik tembok mereka menyebutkan nama....... Yang Kun !"

"Hei! Jadi......Thio suheng juga dibunuh orang?" tiba-tiba Tuan Hua menjerit, lalu bergegas keluar kamar dibantu oleh dua orang pengawalnya.

Memang sejak tadi lelaki itu tak mengetahui bahwa di antara mayat-mayat yang tergeletak di ruang dalam tersebut terdapat pula mayat Thio Lung, tokoh nomer dua dari Kim-liong Piauw-kiok. Kamar itu lalu menjadi sunyi kembali. Dua orang kakek itu tampak merenung diam di atas kursi masing-masing.

"Lo-jin.......aku sudah memutuskan untuk kembali saja ke tempat pertapaanku di tengah tengah telaga itu. Aku bermaksud mengasingkan diri selama hidupku di sana. Aku masih meninggalkan seorang murid yang menjaga tempat itu. Biarlah dia yang merawatku nanti......." tiba-tiba Yap Cu Kiat memecahkan kesunyian mereka dengan mengatakan rencananya untuk masa depan.

Kim-liong Lo-jin menundukkan kepalanya. "Kau lebih beruntung dari pada aku, Lo-heng. Meskipun telah berselisih jalan, tapi kau masih tetap mempunyai sebuah keluarga dan murid yang akan merawatmu apabila kau membutuhkan nanti. Lain halnya dengan aku ini. Perusahaan jatuh, kini kedelapan orang muridkupun telah mati semua. Padahal aku sakit-sakitan begini. Lalu apa yang hendak kuharapkan lagi ? Memang masih ada Tuan Hua di sini. Tapi dia hanya pembantuku dalam urusan piauw-kiok, bukan muridku, biarpun selama ini kami membiarkan dia ikut berlatih bila aku mengajar silat kepada murid-muridku......”


  33                                                                                                                              35