Rabu, 07 September 2016

PENDEKAR PENYEBAR MAUT 30



Jilid 30

MESKlPUN demikian karena jumlah para pengepungnya selalu saja bertambah seperti tiada habis-habisnya, maka akhirnya Chin Yang Kun menjadi kewalahan juga. Bagaimanapun juga tinggi ilmunya, kalau harus melawan musuh sedemikian banyaknya, lambat laun akan kerepotan pula. Kemampuan dan kekuatan manusia tetap ada batasnya.

Demikianlah, beberapa ratus jurus kemudian, sejalan dengan semakin susutnya tenaga dan kekuatan tubuh Chin Yang Kun, maka tenaga sakti yang melindungi tubuh pemuda itupun semakin menjadi lemah pula, sehingga senjata lawan yang semula tak bisa melukai badannya kini mulai tampak menggores kulit dagingnya ! Darah mulai mengalir membasahi tubuh dan pakaian Chin Yang Kun!

Untunglah medan pertempuran yang terdiri dari semak semak belukar itu masih dapat membantu perlawanan Chin Yang Kun. Dengan modal kegesitan, kelincahan dan kekuatan lwee-kangnya pemuda itu masih dapat bermain petak-petakan di hutan perdu yang lebat tersebut.

Tapi keadaan yang menguntungkan tersebut tampaknya juga tidak dapat berlangsung lama pula. Dengan hancurnya semak-semak perdu yang melindunginya, terpaksa Chin Yang Kun harus bertempur lagi beradu dada. Kini tinggal suasana hiruk-pikuk dan gumpalan debu yang mengepul tinggi saja yang sedikit agak membantu perlawanannya. Sambil berlindung di antara gelapnya debu yang berhamburan Chin Yang Kun menyerang para pengepungnya.

Korban sudah tidak bisa dihitung lagi. Mayat-mayat korban amukan Chin Yang Kun bertumpuk dan berserakan di sanasana. Meskipun demikian keadaan pemuda itu sendiri juga semakin mengkhawatirkan. Beberapa gores luka telah tampakdi tubuhnya, kekuatannya pun sudah jauh berkurang, sehingga kadang-kadang pemuda itu tampak sempoyongan sehabis mengerahkan tenaganya.

Padahal kepungan semakin rapat, lawan yang datang seperti tiada habis-habisnya. Maka tak heran kalau beberapa saat kemudian pemuda itu benar-benar jatuh dalam kesulitan.

Ribuan orang yang sudah kalap itu mendesaknya ke sumur tua yang berada di lereng puncak sebelah barat. Khabarnya sumur itu digali oleh orang yang mendirikangedung tua tersebut berpuluh-puluh tahun yang lalu untuk mendapatkan air. Tetapi oleh karena air yang dicari-cari itu tidak kunjung keluar pula meskipun telah digali sampai puluhan meter dalamnya, maka sumur tersebut lalu tidak jadi digunakan lagi.

Dibiarkannya saja sumur yang bergaris tengah empat atau lima meter itu ditumbuhi semak dan alang-alang, sementara dasarnya yang gelap dan pengap khabarnya menjadi sarang ular-ular berbisa.

Demikianlah, Chin Yang Kun didesak sampai tidak bisa berkutik lagi di sumur tua tersebut. Tumit sepatunya telah menginjak bibir sumur, sementara lawan-lawannya tetap maju terus bagaikan kawanan semut yang mengerumuni mangsanya.

"Hmmmm....... agaknya aku benar-benar akan mati di tempat ini." pemuda itu berdesah dengan perasaan getir.

"Tapi kematianku nanti rasa-rasanya juga tidak sia-sia pula. Aku telah membunuh ratusan….. bahkan mungkin malah lebih dari seribu nyawa mereka!"

Chin Yang Kun menoleh sekejap ke belakang. Dilihatnya sumur itu benar-benar terlalu lebar untuk tenaganya yang telah terkuras habis. Tak mungkin ia dapat meloncatinya lagi. Jangan lagi untuk meloncatinya, sedangkan untuk berdiri saja kakinya telah mulai gemetaran.
Dengan pandang matanya yang telah mulai mengabur Chin Yang Kun melihat para pengepungnya melepaskan anak panah. Terpaksa pemuda itu mengerahkan pula lagi seluruh sisa-sisa tenaganya. Kemudian dengan kaki yang telah goyah pemuda itu berusaha mengelak, menangkis dan meruntuhkan anak-anak panah tersebut.

Meski telah kehabisan tenaga, ternyata perbawa tenaga sakti Liong-cu-I-kang pemuda itu masih tetap menunjukkan keampuhannya. Beberapa batang anak panah tampak berpatahan ketika melanggar lengan Chin Yang Kun, sementara beberapa buah yang lain malah membalik, meluncur kembali menghantam para pelepasnya. Tetapi beberapa buah diantaranya ternyata juga tidak bisa dihindari oleh pemuda itu. Anak-anak panah tersebut lepas dari pertahanan Chin Yang Kun, sehingga menancap dan melukai badannya. Tampak tubuh pemuda itu bergoyang-goyang mau jatuh. Darah semakin tampak membanjir dari luka-lukanya.

Biarpun beberapa orang kawannya kembali menjadi korban dari perlawanan Chin Yang Kun, orang-orang itu berteriakteriak dan bersorak-sorak melihat Chin Yang Kun yang telah parah. Mereka tampak amat bergembira sekali melihat lawan mereka yang berilmu sangat dahsyat itu bergoyang-goyang karena lukanya.

“Hantam lagi dengan luncuran tombak…..!” seseorang terdengar berseru.

Berpuluh-puluh batang tombak meloncat ke arah Chin Yang Kun disertai sorak-sorai para pelemparnya. Kali ini orang orang itu amat yakin bahwa serangan mereka tentu akan berhasil membunuh pemuda itu. Tak mungkin rasanya pemuda yang telah sempoyongan itu mampu menangkis hujan tombak yang meluncur ke arah tubuhnya!

Pemuda itu merasa bahwa ajalnya telah tiba. Tak mungkin dia bisa menghindari hujan tombak tersebut.

“Gila!” pemuda itu mengumpat sambil mengerahkan sisa sisa tenaganya, lalu meloncat ke belakang.

Dalam keadaan terpepet dan terpojok, dimana ia tak mungkin lagi menghindari hujan tombak tersebut, ternyata pemuda itu memilih atau mencoba untuk meloncati lobang sumur itu. Tapi karena tenaga saktinya memang sudah benar-benar habis, maka loncatannya gagal. Belum ada separuh jalan tubuhnya telah meluncur turun bagaikan disedot ke dalam lobang yang gelap penuh alang-alang itu.

Tubuh Chin Yang Kun meluncur turun dengan cepatnya. Hawa panas dan pengap menerpa hidung dan menyesakkan napasnya, sehingga untuk beberapa saat lamanya pemuda itu seperti orang yang kehilangan akal dan tak tahu apa yang mesti dikerjakannya.

Tapi sekejap kemudian pemuda itu segera menyadari keadaan serta bahaya yang sedang dihadapinya. Apalagi ketika ribuan orang pengepungnya yang berada di atas sumur itu beramai-ramai melemparkan batu dan segala macam benda lainnya ke dalam sumur. Bukan main gemuruh suaranya! Laksana bukit runtuh yang hendak menimpa dirinya!

Sekali lagi Chin Yang Kun berusaha mengumpulkan kembali sisa-sisa tenaganya, lalu dengan membelalakkan matanya pemuda itu berusaha mencari “sesuatu” yang sekiranya dapat ia gunakan untuk menahan laju tubuhnya. Dan…….tiba-tiba mata yang semakin mengabur itu tampak berkilat gembira!

Sebatang balok panjang tampak melintang di bawahnya! Chin Yang Kun mengerahkan gin-kangnya lalu mendaratkan kakinya diatas balok kayu tersebut. Tapi karena kekuatannya telah jauh berkurang, maka pekerjaan yang dalam keadaan biasa tentu akan dapat ia kerjakan dengan mudah itu kini hampir saja gagal ia lakukan. Kedua buah lututnya seperti tak kuat menahan berat tubuhnya, sehingga telapak kakinya gagal bertahan di atas balok kayu tersebut dan terpeleset ke bawah.

Otomatis tubuh pemuda itu terpelanting. Untunglah dengan gerak refleksnya pemuda itu cepat-cepat menyambar balok kayu tersebut dengan sepasang lengannya, kemudian bergegas meluncur ke dinding sumur untuk menghindari hujan batu dari atas.

Terdengar balok kayu itu berderak dengan keras ketika beberapa buah batu besar menimpanya. Chin Yang Kun melekatkan punggungnya ke dinding sumur sambil mencari jalan untuk keluar dari lobang maut tersebut. Tetapi ketika balok kayu tempat ia berpijak itu semakin sering digoncang batu, akhirnya Chin Yang Kun menjadi khawatir, jangan-jangan balok kayu tersebut akan patah juga nantinya.

“Aku harus mencari tempat berpijak yang lain…..” pemuda itu berpikir sambil menepiskan reruntuhan dan debu-debu yang bertaburan ke arahnya. Untunglah dinding sumur dimana ia berada itu sedikit terlindung oleh tonjolan batu diatasnya sehingga tak sebuahpun batu yang langsung menimpa kepalanya.

Dalam kegelapan Chin Yang Kun meraba-raba dinding sumur untuk mencari tempat yang sekiranya dapat ia pakai untuk mengamankan dirinya. Sementara itu para pengeroyoknya yang berada di atas sumur semakin gencar menimbuni sumur tua tersebut dengan batu dan tanah. Mereka bermaksud mengubur lawan mereka yang lihai luar biasa itu hidup-hidup.

Tiba-tiba Chin Yang Kun terperanjat. Tangannya yang meraba-raba dinding sumur itu mendadak menyentuh tempat kosong. Dan ketika ia berusaha meyakinkannya sekali lagi, maka wajah pemuda itu segera berubah menjadi gembira sekali, seolah-olah ada setitik sinar terang yang mampu menerangi kegelapan di dalam hatinya yang hampir putus asa.

"Dinding sumur ini berlubang......." desahnya penuh harapan.

Pemuda itu melompat ke dalam lubang tersebut, bersamaan waktunya dengan datangnya sebongkah batu besar yang menghantam balok kayu yang dipijaknya.
Brrraaaak ! Balok kayu itu patah menjadi beberapa bagian dan runtuh pula ke dalam sumur bersama dengan batu-batu tersebut.

"Kurang ajar! Hampir saja....... !” pemuda itu meleletkan lidahnya, sambil masuk ke dalam lubang lebih ke dalam lagi.

"Eh?!….Lubang ini dalam benar.......!"

Chin Yang Kun merogoh sakunya, lalu mengeluarkan batu api untuk membuat obor. Bajunya yang kotor dan compang camping itu dibuatnya sebuah obor besar guna menerangi tempat yang gelap tersebut.

Dan pemuda itu semakin terkejut ketika sudah bisa melihat tempat yang dikiranya hanya sebuah lubang kecil itu. Lubang itu ternyata merupakan sebuah lorong panjang yang dibuat dengan rapih dan teratur. Nyata sekali kalau lubang itu memang sengaja dibuat untuk sesuatu keperluan.

"Lorong ini menuju ke atas. Kelihatannya menuju ke permukaan tanah kembali! Baiklah aku akan mencoba melewatinya......"

Dengan obor di tangan Chin Yang Kun merangkak menyelusuri terowongan sempit tersebut. Beberapa kali pemuda itu harus menghindari tikus-tikus tanah yang berseliweran di dekatnya. Dalam tempat yang becek, pengap dan lembab seperti itu rasanya jijik juga kalau harus bersinggungan dengan binatang yang kotor tersebut. Terowongan sempit itu ternyata amat panjang sekali.

Beberapa saat lamanya Chin Yang Kun merangkak, kadang kadang mendaki, kadang-kadang mendatar dan berbelakbelok, sehingga lambat-laun was-was juga hatinya, jangan jangan dia tak bisa kembali dan terkubur hidup-hidup di tempat itu.

Tetapi bertepatan dengan perasaan ragu-ragu itu tiba-tiba Chin Yang Kun meligat secercah sinar terang di kejauhan. Semangat pemuda itu timbul kembali. "Ah, tampaknya terowongan ini telah mencapai permukaan tanah….” Desah pemuda itu gembira.

Kini terowongan itu semakin membesar, sehingga Chin Yang Kun tak perlu harus merangkak lagi. Sinar terang itu tinggal belasan langkah saja dari tempatnya, dan lantai terowongan itu tidak lagi basah dan becek. Di atas lantai tersebut telah dipasang lempengan-lempengan bata kapur yang telah digosok mengkilat.

Sinar terang itu ternyata keluar dan sela-sela daun pintu yang tertutup rapat. Dengan wajah yang sangat girang Chin Yang Kun berjalan mendekati pintu tersebut.

"Tolonggg......! Tolonggg....... ! Oh, jangan.......! Jangan....... ! Jangan ! Jangan lakukan itu ! Bunuh saja aku........ manusia keji !” tiba-tiba terdengar suara wanita melengking tinggi di balik pintu tersebut.

Chin Yang Kun tergagap kaget. Rasa-rasanya pemuda itu mengenal suara wanita itu, tapi tidak segera bisa menduga, suara siapakah itu!

"Hehe…. gadis malang ! Salahmu sendiri, kenapa tidak pamanmu atau ayahmu sendiri yang datang untuk menebus kakakmu !" terdengar suara lelaki di balik pintu itu pula.

"Ahh!" Chin Yang Kun cepat-cepat membungkam mulutnya sendiri yang hampir saja berteriak. Kemudian dengan hati tegang pemuda itu bergegas mengintip melalui lubang kunci.

"Ah, makanya aku tidak bisa menemukannya, kiranya ia telah berada di sini !" gumamnya begitu mengenali suara Song-bun-kwi Kwa Sun Tek, lelaki yang baru saja berbicara itu.

Chin Yang Kun melihat sebuah kamar besar yang disusun dengan rapi. Di tengah-tengah ruangan terlihat sebuah tempat tidur besar pula, di mana di atasnya tampak tergolek tubuh seorang wanita dalam keadaan telanjang. Chin Yang Kun tidak bisa melihat dengan jelas wajah wanita yang sedang menangis itu.

"Lepaskan aku! Di mana kakakku? Bukankah aku telah memberikan uang tebusan itu? Mengapa engkau mengingkari janjimu?" wanita yang berada di atas tempat tidur itu menjerit-jerit lagi.

Chin Yang Kun yang sedari tadi belum melihat wajah Songbun-kwi tiba-tiba dikejutkan oleh suara iblis itu di balik pintu yang diintipnya.

"Kakakmu ada di ruangan sebelah ! Sebentar kalau engkau sudah selesai melayani aku tentu akan kulepaskan juga dia, heheheh ...." iblis dari Tai bong-pai itu tertawa.

Dan sesaat kemudian Chin Yang Kun melihat iblis itu melintas di depan lobang kunci, menuju ke arah si wanita. Hampir saja Chin Yang Kun mengumpat ketika melihat iblis yang mengerikan itu tanpa mengenakan pakaian selembar-pun di tubuhnya. Wanita yang tergolek di atas pembaringan itu menjerit-jerit semakin keras.

"Jangan ! Oh! Jangan . .....!" Suaranya tinggi melengking menyayat hati.

"Kurang ajar! Iblis itu mau memperkosa orang rupanya........!" Chin Yang Kun menggerutu. Hampir saja pemuda itu menerjang pintu tersebut, tapi serentak ingat akan keadaannya sendiri yang sudah kehabisan tenaga, maksudnya itu segera diurungkannya. "Kalau aku masuk menolong wanita itu....... itu sama saja aku sengaja membunuh diri! Dalam keadaan seperti ini aku tak mungkin bisa melawan iblis itu, apa lagi kalau kawan kawannya nanti datang mengeroyokku...... Eh, di mana gerangan paman Wan It dan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai? Kenapa aku tidak melihat mereka ?"

Chin Yang Kun membalikkan badannya membelakangi pintu. Kepalanya tertunduk. Ada sedikit perasaan sesal dan berdosa karena tak bisa menolong gadis yang hendak tertimpa bencana tersebut. Tanpa terasa kedua belah telapak tangannya berusaha menutupi lobang telinganya, tapi... jeritan wanita itu tetap saja menggedor hati nuraninya.

"Bangsat!" pemuda itu akhirnya mengumpat, lalu dengan tergesa-gesa matanya mengintip kembali ke dalam lobang kunci.

Dilihatnya iblis itu telah naik ke tempat tidur dan mulai menindih tubuh wanita malang tersebut. Terdengar suara tertawanya yang memuakkan. Tapi sebelum Chin Yang Kun mendobrak pintu tersebut, tiba-tiba pintu kamar itu diketuk orang dari luar.

"Huh! Siapa........?" dengan marah Song-bun-kwi membentak.

"Kwa Tai-hiap, maaf kami mengganggu. Kami telah berputar-putar mencari Kwa Tai-hiap dan Wan Tai-hiap ke mana-mana tanpa membawa hasil. Untung ada seorang pengawal yang memberitahukan tempat ini......" terdengar suara dari luar pintu.

"Lekas katakan apa keperluanmu? Awas kalau kau membuat aku marah, kubunuh kau!" Kwa Sun Tek menggeram sambil meloncat dari tempat tidur, urung memperkosa wanita korbannya.

Hening sejenak. Agaknya orang yang berada di luar pintu itu merasa ketakutan juga mendengar suara Song-bun-kwi Kwa Sun Tek yang keras.

"Maaf, Tai-hiap ... pun..... puncak bukit ini telah ke..... kedatangan musuh! Mereka menyusup di antara orang-orang kita sendiri. Kini telah terjadi perang besar di luar sana !" dengan suara gemetar orang itu melaporkan.

"Braaakk!''

Daun pintu itu jebol diterjang Song-bun-kwi Kwa Sun Tek. Sambil menutupi tubuh sekenanya dengan kain yang berhasil disambarnya, iblis Tai-bong-pai itu mencengkeram leher baju orang yang melapor tadi.

"Apa katamu ? Katakan sekali lagi!" bentaknya kuat-kuat.

Orang itu semakin pucat ketakutan. "Bukit i-ini... telah diserang musuh! Mereka.....mereka menyusup di antara orang-orang kita sendiri sehingga kami tidak segera bisa mengetahuinya. Mula-mula kami dapat menyergap seorang penyelundup yang mencoba hendak memasuki gedung ini. Tapi orang itu ternyata lihai bukan main. Kami lalu mengepungnya…..”

"Nah ! Cuma seorang penyelundup, bukan? Mengapa kaukatakan bahwa di luar telah terjadi perang besar?" Song-bun-kwi cepat memotong dengan amat berangnya.

Orang itu, yang tidak lain adalah salah seorang dari empat penjaga yang tadi lolos dari keganasan Chin Yang Kun, menjadi semakin ketakutan.

"Be-benar! Mulanya.... memang…. memang hanya seorang, tapi .... tapi beberapa saat kemudian....... sebagian dari orang-orang kita tiba-tiba berontak dan menyerang teman-temannya sendiri," katanya terengah-engah.

"Gila!" Song-bun-kwi mengumpat kasar, lalu melepaskan penjaga tersebut dan berkelebat pergi keluar. Setelah menenangkan hatinya kembali penjaga itu cepat-cepat mengikutinya, sehingga tempat itu menjadi sepi.

Tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu, Chin Yang Kun segera masuk menolong wanita yang hampir saja menjadi korban kebiadaban Song-bun-kwi tersebut. Bergegas pemuda itu mengambil pakaian yang tertumpah di atas tanah lalu memberikannya kepada wanita itu.

"Nih, pakailah bajumu! Mari......?!??”

Chin Yang Kun tidak bisa meneruskan kata-katanya. Matanya terbelalak lebar mengawasi gadis cantik molek yang terlentang telanjang di atas pembaringan itu.

"Kau.......!" desahnya seraya memalingkan mukanya.

Ternyata bukan hanya Chin Yang Kun yang terkejut atas pertemuan itu! Gadis itu ternyata tidak kalah kagetnya dari pada dia! Bibir indah yang semula hendak menjerit dan memaki karena mengira Chin Yang Kun adalah teman Song-bun-kwi pula itu tiba-tiba ternganga gemetar ! Wajahnya yang pucat ketakutan itu mendadak berubah menjadi kemerah-merahan !

"Toat ....... Toat-beng jin.......!" bisiknya hampir tak kedengaran.

Gadis itu ternyata adalah Tiau Li Ing, puteri Tung-hai-tiau Si Raja Perompak dari Laut Timur. Pada awal pertemuan mereka dahulu secara tidak sengaja Chin Yang Kun memang telah berbohong kepada gadis itu. Chin Yang Kun mengaku sebagai Toat-beng-jin, tokoh lm-yang-kauw yang terkenal itu. Dan kelihatannya sampai sekarang gadis itu tetap menganggapnya sebagai Toat-beng-jin juga.

Mendengar gadis itu membisikkan nama Toat-beng-jin, tiba-tiba pikiran Chin Yang Kun seperti terbuka. "Hei........?! Jadi kaukah yang menyaru sebagai pemuda bengal itu?" teriaknya gemas.

"Makanya kau seperti sudah mengenal aku.Kurang ajar.....! Ayoh, pakailah baju ini! Kita harus lekas-lekas meninggalkan tempat ini selagi mereka sibuk bertempur satu sama lain......."

"A....... aku terto....... tertotok lumpuh."

Tiau Li Ing menjawab dengan suara seret dan serak hampir menangis.


"Ah, bodoh benar aku ini........!"Chin Yang Kun menepuk-nepuk dahinya sendiri, kemudian bergegas membebaskan totokan Tiau Li Ing. Tangannya sedikit gemetar ketika harus meraba dan mengurut pinggang dan paha yang mulus itu.

Begitu terbebaskan gadis itu segera menyambar pakaiannya dan cepat mengenakannya. Setelah itu badannya membalik dan tiba-tiba secara tak terduga tangannya menampar pipi Chin Yang Kun!

"Plak ! Plak ! Plak !”

Tamparan pertama tidak sempat dielakkan oleh Chin Yang Kun, tapi tamparan selanjutnya dengan mudah dapat dihindarinya. "Hai! Hai ! Hentikan........! Apakah kau sudah gila?" pemuda itu berseru kaget.

"Kau yang gila! Pemuda tak tahu aturan! Tak tahu malu! Menggerayangi tubuh orang seenaknya........!" Tiau Li Ing menjerit-jerit dengan muka merah menahan malu.

"Hahh?!” Chin Yang Kun berdiri terlongong-longong seperti orang bodoh.

"Ini......ini........mana aku berani ? A.......aku kan hanya bermaksud menolongmu ?"

“Bohong! Kalau mau menolong...... mengapa yang mengurut dan meraba-raba lama benar?" gadis itu berteriak penasaran, lalu dengan gemas mencoba menampar lagi. Tapi dengan mudah Chin Yang Kun menelikungnya.

"Lepaskan ! Lepaskan ! Oh, kau jangan memperkosaku !" gadis itu meronta-ronta.

“Gila !" Chin Yang Kun cepat melepaskan pegangannya dengan muka merah padam, "Siapa mau memperkosamu?”

Tiau Li Ing cepat membalikkan tubuhnya dan melesat keluar meninggalkan kamar itu.

"Hei! Tunggu…. !" Chin Yang Kun berteriak dan mengejarnya.

Mereka berkejaran melalui lorong-lorong dan kamar-kamar. Ternyata mereka masih berada di dalam bangunan di bawah tanah. Tak seorangpun penjaga yang mereka temui. Agaknya semua orang telah pergi ke luar untuk bertempur melawan musuh.

Heran, semakin lama Chin Yang Kun merasakan tubuhnya semakin segar dan pulih kembali! Luka-luka di kulitnya seperti mengatup dan merapat dengan sendirinya, sehingga rasa-rasanya kekuatan dan tenaganya mulai pulih pula. Rasa lelah dan lemah akibat pengerahan tenaga yang berlebihan tadi sekarang rasa-rasanya sudah hilang dari tubuhnya. Kini badannya mulai terasa ringan seperti sedia kala.

Pemuda itu sama sekali tidak menyadari bahwa semuanya itu disebabkan oleh keampuhan tenaga sakti Liong-cu-ikangnya sendiri. Tanpa disengaja pemuda itu masuk ke dalam sumur gelap di dalam tanah, kemudian merangkak dan berputar-putar di dalam lorong-lorong sempit di dalam gua.


Semuanya itu persis dengan apa yang dilakukannya ketika berlatih Liong-cu-I-kang dan Kim coa-ih-hoat di tempat nenek buyutnya dahulu. Maka tanpa setahu Chin Yang Kun sendiri tenaga saktinya itu bergolak sesuai dengan gerakan-gerakan tubuh pemuda itu ketika merangkak dan menyelusuri terowongan-terowongan sempit tersebut. Secara otomatis tenaga sakti itu bergerak dan berputar ke seluruh tubuh dengan hebatnya apalagi keadaan dan suasana tempatnya benar-benar sangat cocok dan sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan oleh Liong-cu-i-kang! Bagaikan seekor ular naga yang baru saja selesai berganti kulit pemuda ini tampak kuat dan segar kembali. Semakin lama langkah kakinya dalam mengejar Tiau Li Ing semakin tampak gesit dan lincah !

"Nonaaa . . tunggu ! Jangan tergesa-gesa ke luar ! Di luar sudah penuh dengan anak buah Song-bun-kwi ! Kau akan tertangkap kembali di tangan mereka nanti .......!" pemuda itu berteriak di belakang Tiau Li Ing.

Tapi terlambat sudah! Tiau Li Ing sudah terlanjur mendaki tangga dan keluar dari ruang bawah tanah tersebut. Terpaksa Chin Yang Kun meloncat mengejarnya. Bagaimanapun juga pemuda itu tidak tega untuk membiarkannya begitu saja. Pemuda itu seperti sudah terikat kontrak untuk melindunginya sejak ia bersedia membawa pedati kecil itu.

Tempat mereka ke luar ternyata di sebuah pendapa yang amat Iuas. Di sana sudah hiruk-pikuk dengan orang-orang yang bertempur di segala tempat. Mayat tampak bergelimpangan di mana-mana. Darah tampak berceceran membasahi lantai pendapa yang bersih mengkilap itu.

"Ko-ko.......!" tiba-tiba Tiau Li Ing menjerit dan menghambur ke arah pemuda tampan yang sedang melawan tiga orang penjaga. "Kau sudah bebas ...... ?"

"Hei, Ing-moi…. kau datang juga ? Hahaha….. lengkap sudah kita sekarang ! Lihatlah ......ayah dan Phang su-siok ada di luar pendapa memimpin orang-orang kita untuk menumpas gerombolan yang menculikku ini .. !" pemuda yang tidak lain adalah Tiau Kiat Su itu berseru gembira.

"Benarkah ?" Tiau Li Ing bertanya dengan wajah yang gembira pula. Lalu sambil sesekali membantu anak buah ayahnya yang bertempur dengan lawannya gadis itu berlari keluar pendapa untuk menemui ayahnya.

Chin Yang Kun tidak mengejarnya lagi. Kini pemuda itu benar-benar merasa lega karena gadis itu telah berada kembali diantara keluarganya. Apalagi tampaknya keluarga gadis itu datang dengan segala kekuatannya.

Perlahan-lahan Chin Yang Kun menyelinap diantara orang orangyang sedang bertarung menyabung nyawa tersebut. Kakinya melangkah ke luar pendapa dan mencari jalan ke luar dari tempat itu.

Di luar pendapa Chin Yang Kun melihat pertempuran masih berlangsung dengan sengit. Kelihatannya kekuatan kedua belah pihak masih sama kuatnya. Di halaman samping pemuda itu melihat sebuah pertempuran menegangkan antara Song-bun-kwi Kwa Sun Tek dengan seorang lelaki tua berpakaian indah gemerlapan. Di tempat itu terlihat banyak sekali mayat-mayat bergelimpangan, korban keganasan tangan kedua orang itu.

Tidak jauh dari pertempuran itu tampak pula seorang lelaki tua bertubuh kecil kurus mengamuk dengan pacul di tangannya. Tak seorangpun lawannya yang mampu mendekatinya. Beberapa orang tokoh seperti Keng Si Yu dan kawan-kawannya kelihatannya tak mampu pula menahan orang tua kurus itu.

"Hai-ong (Raja Lautan), iblis itu pulalah yang dahulu telah merampas potongan emas yang berisi peta harta karun itu !

Bersama dengan seorang temannya dia mencegat aku di lereng Bukit Delapan Dewa......." orang tua kurus yang tidak lain adalah Tung-hai Nungjin itu berseru ke arah orang tua berpakaian gemerlapan.

"Begitukah…. ?" lawan Song-bun-kwi yang ternyata adalah Tung-hai-tiau sendiri itu menegaskan. Lalu sambil memperkuat desakannya kepada Song-bun-kwi, raja perompak dari Lautan Timur itu membentak, ”Kalau begitu....... lekas serahkan potongan emas itu kepadaku !"

Tapi jago muda dari Tai bong-pai itu segera tertawa, "Hahaha…. kau jangan salahkan aku kalau benda tersebut sampai jatuh ke tanganku! Anak buahmu itulah yang seharusnya kauhukum karena keteledorannya.......!"

"Jangan cerewet! Lekas kembalikan benda itu kepadaku !” Tung-hai-tiau menggeram.

"Hahaha....... kau sendirilah yang banyak omong ! Mengapa kau tidak lekas-lekas merampasnya dari tanganku kalau kau memang menginginkannya ?”

“Kurang ajar! Lihat pukulan……!”

Tung-hai-tiau menghantam dan disambut pula oleh Songbun-kwi sehingga kedua buah kepalan mereka bertemu di udara. Dhiess….! Keduanya sama-sama tergetar mundur! Agaknya tenaga dalam mereka tidak berselisih banyak.

"Ayaahh.....! Bunuhlah iblis menjijikkan itu ! Dia telah menyekap aku di ruang bawah tanah dan hampir saja memperkosaku……!” tiba-tiba Tiau Li Ing yang telah tiba di tempat itu berteriak.

“Li Inggg.......!" raja perompak itu berdesah gembira. Lalu sambil mengerahkan kembali kekuatannya orang tua itu melompat saja.

“Awas, serangan...... !"

Kali ini Song-bun kwi mengelak ke samping, kemudian balas menyerang dengan kedua kakinya. Secara bergantian sepasang kakinya menendang ke arah pinggang dan dada Tung-hai-tiau!



Demikianlah, mereka bertempur kembali dengan serunya. Masing-masing mengeluarkan kesaktiannya yang hebat, sehingga arena pertempuran mereka menjadi dahsyat bukan main. Debu dan pasir berhamburan ke udara, sementara pertemuan antara kaki dan tangan mereka bagaikan suara letupan cambuk yang memekakkan telinga ! Dan orang-orang yang berada di tepi arenapun terpaksa melangkah mundur ketika angin pukulan kedua orang itu menyambar-nyambar menyakiti kulit mereka.

"Plak! Plak ! Plak !”

Kedua orang itu tergetar mundur lagi. Tampaknya pertemuan kedua tangan mereka kali ini agak menggetarkan tubuh mereka, karena masing-masing benar-benar telah mengerahkan seluruh Iwee-kang mereka.

Tung-hai-tiau memeriksa tangannya, dan hatinya segera berdebar-debar serentak melihat beberapa tetes darah tampak merembes keluar dari dalam pori-pori kulit lengannya! Tapi sebaliknya Song-bun-kwi juga tidak kalah kagetnya dari pada dia ! Dalam beberapa kali beradu tangan jago dari Tai-bong-pai itu merasakan tangannya semakin terasa kesemutan, sehingga lengan itu semakin sukar digerakkan !

"Gila ! Lwee-kang Si Raja Lautan ini semakin lama semakin menggencet dada dan jalan
pernapasanku, sehingga sangat mengganggu kelancaran jalan darahku!” jago Tai-bong-pai itu berkata di dalam hati.

Demikianlah, setelah masing-masing menyadari betapa berbahayanya ilmu lawan yang mereka hadapi, mereka segera mempersiapkan ilmu andalan masing-masing. Song-bun-kwi mengerahkan Hio-yan Sin-kang serta Ilmu Silat Mayat Mabuknya, sementara Tung-hai-tiau mengeluarkan golok di tangan kanan dan mempersiapkan Tiau-jiau-kang (Ilmu Cengkeraman Elang) di tangan kiri.

Sesaat kemudian tempat itu segera disesakkan oleh bau dupa hio tanpa seorangpun di antara orang-orang di tempat tersebut yang tahu mana asalnya. Bau dupa itu tiba-tiba muncul begitu saja di antara mereka. Seolah-olah bau tersebut keluar dari dalam tubuh mereka sendiri. Dan bau yang amat tajam dan menyengat hidung itu benar-benar mengejutkan semua orang dan membuat hati mereka menjadi kecut seperti dicengkam oleh kengerian yang tak mereka ketahui sebabnya.

Tung-hai-tiau yang langsung berhadapan dengan Songbun-kwi, merasakan pula hal yang sangat aneh itu. Tapi sebagai seorang datuk persilatan yang telah kenyang dengan pengalaman ia segera tahu apa yang sedang terjadi. Oleh karena itu hatinya semakin mantap untuk cepat-cepat mengeluarkan ilmu simpanannya. Dia tak ingin terlambat, sehingga merasa menyesal nantinya.

Demikianlah, beberapa saat kemudian keduanya terlibat dalam pertempuran sengit lagi. Dan kali ini sungguh-sungguh sebuah pertempuran yang sangat memukau dan mencekam hati. Keduanya merupakan tokoh-tokoh ternama di dunia persilatan. Apalagi mereka sekarang mengeluarkan ilmu simpanan masing-masing!

Kedua-duanya bergerak dalam kecepatan yang sukar diikuti oleh mata, dan jurus-jurus yang mereka keluarkanpun sangat aneh-aneh dan jarang terlihat di dunia kang-ouw. Apalagi Ilmu Silat Mayat Mabuk yang kini sedang dikeluarkan oleh Song-bun-kwi Kwa Sun Tek! Selain gerakan-gerakannya amat aneh, perbawa yang dikeluarkanpun ternyata sangat mengerikan. Orang yang melihat lambat-laun seperti terbius dan ikut terhanyut dalam suasana magis yang menyeramkan.

Tapi permainan golok Tung-hai-tiau juga bukan main hebatnya. Selain cepat dan kuat, jurus-jurusnyapun amat kasar dan ganas luar biasa. Apa lagi permainan golok itu ditunjang pula dengan Ilmu Cengkeraman Elang yang dahsyat. Kedua buah ilmu ini menjadikan Tung-hai-tiau tersohor dan tak terkalahkan selama ini! Maka dari itu tidaklah heran kalau Song-bunkwi kali ini benar-benar menemui kesulitan.

Pertempuran antara dua tokoh berkepandaian tinggi itu berlangsung dengan ketat dan dalam tempo yang amat cepat, sehingga sebentar saja seratus jurus telah berlalu tanpa terasa. Golok dan jari-jari Tung-hai-tiau itu ternyata mampu membendung dan mengimbangi kesaktian Song-bun-kwi yang mengerikan itu. Malahan beberapa waktu kemudian ayunan goloknya mampu membatasi gerak Iangkah iblis Tai-bong-pai tersebut, sehingga lambat laun Ilmu Silat Mayat Mabuk yang terkenal menggiriskan hati itu menjadi mati Iangkah dan tak bisa berbuat apa-apa.

“Bangsat!” Song-bun-kwi mengumpat-umpat.

"Hahahaha...! Jangan menangis ! Ayoh,,. Keluarkanlah seluruh kepandaianmu yang aneh-aneh itu! Aku Tung-hai-tiau takkan mundur sejengkalpun,
hahahaha !” Tung-hai-tiau tertawa puas.

“Keparat! Kau jangan buru-buru bergembira dulu! Sebenarnya ilmu golokmu itu tidak seberapa. Begitu pula dengan cengkeraman jari-jarimu.......... yang seperti cakar ayam itu ! Engkau menang angin hanya karena........ golok pusakamu! Coba kaulepaskan golok itu... hmm, kutanggung nyawamu takkan kuat bertahan dalam sepuluh jurus!” Songbun-kwi yang terdesak itu mencoba memanasi pada lawannya.

Tapi Tung-hai-tiau yang telah terbiasa memimpin orang orang kasar, yang tidak pernah menghiraukan perasaan orang itu hanya tertawa saja.

"Jangan merengek-rengek seperti anak kecil, heheh....... Dan...... kenapa aku harus melepaskan golokku ? Bagi seorang ahli silat, senjata dapat diibaratkan sebagai pakaian. Mengapa mesti harus dilupakan ?"

Sebenarnyalah apa yang dikatakan oleh Song-bun-kwi itu. Yaitu bukan karena Ilmu Silat Mayat Mabuk lebih rendah dari pada ilmu golok dan ilmu cengkeraman Tung-hai-tiau. Golok pusaka yang tajam luar biasa itulah yang menyebabkan Songbun-kwi jatuh di bawah angin. Sebab bagaimanapun hebat dan dahsyatnya ilmu iblis muda dari Tai-bong pai itu, dia tetap belum berani mengambil
resiko melawan tajamnya golok pusaka tersebut. Sehingga setiap ayunan dan tabasan golok tersebut Song-bun-kwi dengan mati-matian terpaksa harus menghindarinya. Sedikitpun iblis itu tak berani menepiskan atau menyentuhnya, meski hanya pada punggung goloknya!

Dan hal ini tentu saja sangat merepotkannya! Akibatnya Song-bun-kwi terdesak dan makin tak bisa mengembangkan ilmunya yang hebat! Ketakutan iblis itu terhadap keampuhan golok lawannya membuat dia tak dapat bergerak dengan leluasa, sehingga otomatis kedahsyatan Ilmu Silat Mayat Mabuknya menjadi berkurang pula karenanya. Selain dari pada itu ilmu golok dan ilmu cengkeraman elang Tung-hai-tiau sendiri memang bukan main hebatnya!

Kedahsyatan ilmu tersebut kiranya juga tidak kalah dengan ilmu yang dimiliki Song-bun-kwi. Tanpa golok pusaka itupun Tung-hai-tiau tak mungkin kalah dengan Song-bun-kwi. Maka dengan adanya golok pusaka yang ampuh itu di tangannya, sudah sewajarnyalah raja perompak tersebut menang di atas angin.

Sementara itu di dalam arena yang lain Tung-hai Nung-jin semakin merajalela dengan paculnya. Korban semakin bertumpuk di dalam arena tersebut sehingga akhirnya mereka terpaksa harus bertempur di atas tumpukan mayat yang berserakan. Keng Si Yu dan beberapa pemimpin kelompok yang lain yang merupakan orang-orang penting setelah Songbun-kwi ternyata juga tak mampu menjinakkan petani dari laut timur tersebut. Sebagian dari mereka malah telah ikut menjadi kurban pula seperti yang lain.

Karena tidak ada yang bisa menahannya, maka Tung-hai Nung-jin dengan mudah dapat mendekati arena pertempuran Tung-hai-tiau dan Song-bun-kwi. Begitu datang orang itu segera mengayunkan paculnya ke punggung Song-bun-kwi yang sedang mengalami kesulitan.

"Hai-ong, marilah kita habisi dia.......!” teriaknya.

"Ayoh !” Tung-hai-tiau menjawab bersemangat.

Bajak laut seperti mereka memang tidak pernah mempedulikan atau menghiraukan tata tertib maupun adat kesopanan umum. Mereka melakukan apa saja yang mereka inginkan tanpa mempedulikan kepentingan atau perasaan orang lain.

Begitu pula yang mereka lakukan kali ini. Enak saja mereka mengeroyok Song-bun-kwi yang
sudah terdesak hebat itu. Padahal mereka tokoh-tokoh besar yang sudah sangat ternama di dunia persilatan.

Tentu saja jago muda dari Tai-bong-pai itu semakin tidak berkutik. Melawan seorang Tung-hai-tiau saja tidak mampu, apalagi harus ditambah dengan Tung-hai Nung-jin yang tidak kalah saktinya pula.

Maka ayunan cangkul itu dengan telak mengenai punggung Song-bun-kwi ! Bressss ! Iblis itu terlempar ke samping dengan kuatnya, kemudian jatuh terguling-guling di atas tanah.

"Mampus kau ! Hahahaha.......!" Tung-hai Nung-jin dan Tung-hai-tiau tertawa terbahak bahak.

Keduanya bertolak pinggang sambil memandang ke arah Song-bun-kwi yang terkapar di depan mereka.

Tapi suara tertawa itu berhenti dengan tiba-tiba. Dengan mata melotot kedua orang tokoh bajak laut itu memandang tubuh Song-bun-kwi. Korban cangkul Tung-hai Nung-jin itu tiba-tiba menggeliat, lalu meloncat bangun kembali dengan tangkas ! Dan di lain saat iblis itu telah berdiri kembali di depan mereka seperti tak pernah terjadi apa-apa !

"Gila ! Setan mana yang telah masuk ke dalam tubuhnya ?"

Tung-hai-tiau dan Tung-hai Nung-jin saling memandang dengan mulut mengumpat-umpat.

Sementara itu Song-bun-kwi melepaskan bajunya yang robek lebar di bahagian punggungnya. Dan sekali lagi Tunghai-tiau terbelalak mengawasinya. Di bawah baju yang robek terkena cangkul itu tampak selapis lagi baju pendek berwarna kuning keemasan. Itulah Kim pouw-san (Baju Mustika Emas), baju yang tidak mempan senjata !

"Kim-pouw-san........?" bibir Tung-hai-tiau berdesah gemetar begitu mengenali benda pusaka miliknya sendiri itu.

Dengan mata beringas Tung-hai-tiau menoleh mencari puterinya, Tiau Li Ing, yang telah membawa baju tersebut.

“Ayah, dia mengambil baju itu ketika aku ditangkapnya..........." Tiau Li Ing yang berada di tepi arena lekas-lekas berteriak dengan suara ketakutan. Bagaimanapun manjanya gadis itu ternyata sangat takut kepada ayahnya.

"Bangsat ! Kau sungguh berani sekali merampas barang milik keluarga Tung-hai-tiau!" raja perompak itu kembali menggeram ke arah lawannya. Lalu, "Nung-jin........! Kita bunuh saja orang ini!” serunya kepada Tung-hai Nung-jin.

"Marilah, Hai-ong !" petani dari lautan timur itu menjawab seraya mengayunkan cangkulnya ke muka Song-bun-kwi.

"Bagus!" Tung-hai-tiau berteriak ke arah pembantunya tersebut. “Hantam saja kepala atau kaki tangannya! Jangan sekali-kali menghantam badannya! Marilah kita lihat, apakah ia mampu melindungi kepala
dan kaki tangannya terus-menerus ?”

Sementara itu yang kaget karena Baju Mustika Emas itu ternyata bukan hanya Tung-hai-tiau dan pembantunya saja ! Song-bun-kwi sendiri ternyata juga merasa terkejut bukan main!

Iblis itu sejak semula sudah lupa dan tak ingat lagi kalau ia mengenakan Kim-pouw-san yang dirampasnya dari Tiau Li Ing. Coba kalau sejak tadi ia mengingatnya, tak mungkin ia ketakutan menghadapi golok pusaka Tung-hai-tiau itu. Dan ayunan cangkul yang nyaris merenggut nyawanya itu kini justru telah menyadarkannya kembali. Maka dari kaget iblis itu menjadi gembira bukan kepalang. Wajahnya tampak berseri-seri dan hatinya besar kembali !

“Baju pusaka begini setiap orang boleh memakainya, hehehe......! Siapa yang kuat dan lihai, dialah yang berhak mengenakannya. Mengapa mesti engkau sendiri yang harus memilikinya ? Memangnya nenek moyangmu yang membuat dia? Huh!” Song-bun-kwi meludah sambil mengelakkan serangan Tung-hai Nung-jin.

"Bangsaatt!" Tung-hai-tiau naik pitam.

Golok pusaka raja perampok itu menyambar kaki, lalu berputar ke atas menuju leher. Semua gerakan itu dilakukan sambil melompat ke depan dalam jurus Melepas Kail Menarik Pelampung! Dan serangan itu dibarengi oleh Tung-hai Nungjin dengan sodokan gagang paculnya ke arah selangkangan.

Song-bun-kwi buru-buru mengangkat kakinya ke atas sambil menggeliatkan tubuh atasnya ke belakang, sehingga serangan Tung-hai-tiau tidak mengenai sasarannya.

Sementara itu sodokan gagang pacul Tung-hai Nung-jin cepat dijepitnya dengan kedua belah pahanya, sehingga tubuh petani lautan itu ikut tertarik ke depan. Dan sebelum bajak laut ini mampu melepaskan ujung gagang paculnya, kaki Song-bun-kwi telah menjejak ke arah dadanya.

Tentu saja Tung-hai Nung-jin itu tak ingin kehilangan cangkulnya. Cepat dia melepaskan salah sebuah tangannya yang memegang cangkul dan memapaki tumit itu dengan tenaga penuh.

"Bressssss!''

Tung-hai Nung-jin terjengkang ke belakang, tapi Song-bunkwi terpaksa melepaskan jepitannya pula. Dengan demikian masing-masing dapat melepaskan diri dari kesukarannya.

Cuma kalau hendak diperbandingkan, terang kalau kekuatan lwee-kang Song-bun-kwi masih sedikit lebih kuat dari pada Tung-hai Nung-jin.

Demikianlah, Song-bun-kwi yang menjadi berbesar hati kembali karena merasa terlindung oleh Baju Mustika Emas, kini dikeroyok oleh Tung-hai-tiau dan Tung-hai Nung-jin.

Sungguh berat memang bagi Song-bun-kwi, tapi dengan mengenakan Kim-pouw-san di badannya iblis itu menjadi lebih sulit lagi untuk dikalahkan. Setidak-tidaknya Tung-hai-tiau dan pembantunya harus membutuhkan waktu untuk dapat membunuhnya.

Sementara itu pertempuran antara sisa-sisa pasukan Songbun- kwi melawan para bajak laut anak buah Tung-hai-tiau sudah sampai pada saat-saat akhir pula. Pasukan Song-bunkwi yang sudah tidak begitu banyak lagi itu memang bukan lawan yang seimbang bagi bajak-bajak laut yang setiap harinya selalu bergelut dengan kekerasan.

Apalagi serangan mendadak dari para bajak laut yang semula mereka kira merupakan teman sendiri itu benar-benar sangat mengagetkan mereka, sehingga mereka yang tidak menyangka dan menduga sebelumnya itu menjadi bingung dan mudah dicerai-beraikan. Matahari telah jauh condong ke barat. Sinar matahari yang semula tajam menyengat itu mulai meredup, dan angin selatanpun mulai bertiup pula dengan sedikit kencang. Daun-daun kering yang semula masih menempel pada gagangnya, kini tampak bertanggalan dan meIayang-layang tertiup angin. Mereka bertebaran ke bawah bagaikan taburan bunga di atas sosok-sosok mayat yang terbaring di bawahnya.

"Ah ! Aku telah banyak kehilangan waktu karena mengurusi pemuda tam....... eh, gadis bengal itu, sehingga urusanku sendiri menjadi terbengkalai karenanya........." tiba-tiba Chin Yang Kun yang menonton di pinggir arena itu berdesah perlahan.

Pemuda itu membalikkan tubuhnya, Ialu melangkah pergi meninggaIkan tempat itu. Sambil menghindar dari tempat tempat pertempuran yang masih berlangsung dia menuruni puncak bukit yang kini berubah menjadi neraka pembantaian tersebut.

"Toat-beng-jin ....!" Tiau Li Ing yang mendadak melihat bayangan Chin Yang Kun itu berteriak memanggil, dan kemudian tubuhnya yang mungil itu cepat berkelebat mengejar.

"Hei ! Li Ing.......! Mau pergi kemana lagi kau ? Ayoh, kembali............!" Tung-haitiau yang sibuk bertempur itu ternyata tak pernah melepaskan perhatiannya kepada puteri kesayangannya.

"Ayah ! Aku ingin menangkap seorang pemuda yang telah berani kurang ajar kepadaku !"

"Apa?? Kurang ajar…..!” Tung-hai-tiau berteriak.

Tiba-tiba tubuh Tung-hai-tiau melesat pergi meninggalkan pertempuran. Badannya yang tegap kekar itu melayang turun cepat sekali melewati Tiau Li Ing, dan di lain saat dia telah berada di hadapan Chin Yang Kun.

"Pemuda inilah yang berani kurang ajar kepada ....... eh, kau rupanya !" Tung-hai-tiau yang siap untuk marah itu tiba-tiba tertegun begitu melihat wajah Chin Yang Kun.

Sebaliknya Chin Yang Kun yang telah bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan itu untuk sesaat juga bingung melihat sikap Tung-hai-tiau yang baru kali ini dilihatnya. Raja bajak laut yang amat ternama itu kelihatannya sudah mengenalnya, padahal dia sendiri merasa belum pernah bertemu dan berkenalan.

"Oh, rupanya kau pemuda yang tadi mengendap-endap di lereng bukit ini ........" raja perampok itu menghela napas.

"Ohhh ..... jadi kau rupanya yang menulis pada secarik kertas itu," Chin Yang Kun tiba tiba juga teringat pada orang misterius yang meninggalkan surat di atas gerumbul perdu itu.

"Ayah, mengapa kau tidak lekas-lekas meringkusnya ? Dia telah berani kurang ajar kepadaku........." Tiau Li Ing yang sudah sampai di tempat itu cepat memegang lengan ayahnya.
"Kurang ujar.......? Apa maksudmu? Apa yang telah dilakukannya terhadapmu?" Tung-hai-tiau menatap puterinya dengan kening berkerut.

"Ahh, ayah .....!" tiba-tiba Tiau Li lng merengek manja sambil bergantung di lengan ayahnya. Wajahnya yang cantik itu berubah menjadi merah sekali.

“Apa yang dia lakukan terhadapmu? Lekas katakan !" Tung-hai-tiau menjadi tegang. Tiau Li Ing tersentak kaget dan ketakutan.

"Anu...... anu, yah........ dia....... dia telah melihat, eh....... meraba-raba badanku. Padahal.... padahal....... padahal aku...... ahh, ayah ini!" Tiau Li Ing meremas dan mengguncang-guncang lengan ayahnya dengan mulut bergetar hampir menangis.

"Apaaa........?? Katakan yang jelas! Jangan berbelit-belit begitu !" Tung-hai-tiau membentak.

Dibentak-bentak begitu Tiau Li lng semakin menjadi gugup dan tak bisa bicara. SeIain takut gadis itu juga malu untuk mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. Dan oleh karena tak tahan selalu didesak terus, akhirnya Tiau Li Ing berlari pergi sambil menutupi mukanya.

“Tidak ! Tidak mau.......! Aku tidak akan mengatakannya ! Ayah........ sih!” jeritnya dengan suara gemas.

"Hei! Berhenti! Mau ke mana kau .......?" Tung-hai-tiau yang merasa bingung melihat tingkah laku anaknya itu membentak lagi. Kakinya melangkah mau mengejar Tiau Li Ing.

Tapi Chin Yang Kun cepat menahannya. "Biarkanlah saja dia, Lo-cianpwe.......... Aku yang akan memberi keterangan."

Tung-hai-tiau cepat membalik, dipandangnya Chin Yang Kun lekat-lekat. "Lekas katakan!" katanya geram. “Ada apa ini sebenarnya?"

Sementara itu sepeninggal Tung-hai-tiau keadaan Tung-hai Nung-jin menjadi kalang kabut. Kalau semula Petani Lautan itu bersama ketuanya mampu mendesak Song-bun-kwi, kini setelah dia sendirian keadaan berubah menjadi sebaliknya.

Cangkulnya yang ia bangga-banggakan itu kini seperti menjadi tidak berguna lagi, karena setiap kali mengenakan sasaran, lawannya seperti tidak pernah merasakannya. Song-bunkwi yang mengenakan Baju Mustika Emas itu bagaikan manusia besi yang tak mempan segala macam senjata.

"Licik! Pencuri ! Maling.....!" Tung-hai Nung-jin bertempur sambil mengumpat tiada habisnya.

"Hehehe........kau jangan meratap tidak keruan begitu! Sendirian kau takkan mampu melawanku. Kau bukan tandinganku," dalam kegembiraannya Song-bun-kwi mengejek.

"Bangsat! Anjing busuk kau!"

"Hihihi..... ayoh ! Merataplah sepuas-puasnya sebelum putus nyawamu !"

Ternyata Tung-hai-tiau mendengar pula umpat dan cacian pembantunya tersebut.

Raja bajak Laut itu segera menyadari bahwa pembantunya dalam bahaya, maka bentaknya dengan tegang kepada Chin Yang Kun, "Ayoh, katakan cepat! Apa yang kau lakukan terhadap puteriku?”

Chin Yang Kun menghela napas. "Lo-cianpwe......! Seperti kauketahui, aku menyelundup ke puncak bukit ini memang untuk menolong puterimu itu. Kami telah berkenalan sebelumnya......." pemuda itu memberi keterangan.

"Sayang aku terlihat oleh para penjaga, sehingga aku dikepung dan dikeroyok beramai-ramai. Ketika aku terdesak aku terjeblos ke dalam sumur tua. Tak tahunya sumur itu mempunyai jalan tembus ke ruang bawah tanah tempat iblis Song-bun-kwi itu menyekap puterimu. Di sana aku melihat Song-bun-kwi akan memperkosa puterimu. Untunglah sebelum itu terjadi seorang penjaga datang memberitahukan tentang pertempuran besar ini kepada Song-bun-kwi, sehingga iblis itu cepat-cepat pergi meninggaIkan tempat itu. Nah, pada saat itulah aku masuk ke ruangan itu untuk menolong nona Li Ing. Tapi tampaknya dia merasa malu mengingat keadaannya pada saat itu. Dan dari malu ia menjadi marah, apalagi ketika aku berani menotok dan menyentuh tubuhnya yang lumpuh. Aku dianggapnya kurang ajar karena berani menyentuh tubuhnya yang....... yang telanjang. Padahal aku hanya bermaksud membebaskan dia dari pengaruh totokan Song-bun-kwi......"

"Hmm, begitu kiranya......" bajak Iaut itu bernapas lega.

Tapi ketika sekali lagi terdengar jerit umpatan Tung-hai Nungjin, raja perompak itu menjadi tegang kembali.

Dipandangnya wajah Chin Yang Kun dengan tegang pula. “Anak muda..... Aku minta tolong sekali lagi kepadamu. Tolong kaubawa kembali puteriku yang nakal itu kemari! Aku tak punya waktu untuk mengejarnya sendiri, karena aku harus menolong anak buahku."

Selesai berkata demikian Tung-hai-tiau segera melesat kembali ke arena pertempuran. Dan kedatangannya di sana sungguh tepat pada waktunya. Hampir saja pembantunya yang sakti itu mati dicekik Song-bun-kwi.

"Gila !” Raja perompak itu memaki sambil mengayunkan goloknya ke arah lengan Song-bun-kwi. Golok pusakanya berkelebat ke depan setengah lingkaran, lalu berubah arah ke samping untuk menebas Ieher. Semuanya menuju ke bagian-bagian yang tidak terlindung oleh Baju Mustika Emas.

Jari-jari Song-bun-kwi yang sudah berhasiI mencengkeram leher Tung-hai Nung-jin itu terpaksa dilepaskan. Iblis itu dengan lincah berjumpalitan ke belakang menghindarkan diri.

Setelah menyelamatkan Tung-hai Nung-jin, Tung-hai-tiau cepat maju menghadapi Song-bun-kwi kembali. Keduanya lantas bertempur dengan dahsyatnya seperti tadi. Hanya bedanya setelah kini Song-bun-kwi menyadari kegunaan bajuKim pouw san, mereka bertempur dengan seimbang. Memang ilmu golok Tung-hai-tiau yang hebat itu mampu mendesak Song-bun-kwi, apalagi permainan golok itu diselingi dengan Tiau jiau kang yang maha ganas pula.


Tapi dengan selalu berlindung pada kesaktian baju Mustika Emas itu Song-bunkwi juga selaIu bisa menyelamatkan dirinya pula. Apa pula Tung-hai-tiau tampaknya tidak sampai hati membenturkan golok pusakanya pada baju Kim-pouw-san. Bajak laut itu kelihatannya masih merasa sangsi, jangan-jangan baju pusaka keluarganya itu akan rusak dibentur golok pusaka yang sangat tajam luar biasa itu. Tung-hai-tiau menjadi penasaran sekali. Dan rasa penasaran itu semakin memuncak ketika goIok pusakanya yang ampuh itu ternyata juga tidak mampu merusakkan Baju Mustika Emas!

“Gila ! Tak kusangka baju itu mampu menahan sabetan golok pusaka yang bisa mematahkan besi baja ini ! Sungguh gila !" bajak laut itu marah-marah.

“Hihihi...... ayoh, kuraslah semua ilmu kepandaianmu !”

Song-bun-kwi tertawa mengejek.

"Keparat! Jangan buru-buru tertawa dulu!" Tung-hai-tiau membentak. Lalu teriaknya ke arah Tung-hai Nung-jin. "Nungjin! Ambil cangkulmu, mari kita cincang orang ini!”

“Baik, Hai-ong........!"

Tanpa menunggu perintah yang kedua kalinya Petani Lautan itu cepat menyerbu ke dalam arena lagi. Paculnya yang mengerikan itu diayun berputar-putar di atas kepala, lalu menukik menuju ke kepala Song-bun-kwi. Suaranya mengaung menyakitkan telinga saking cepatnya.

Bagaimanapun juga kepandaian Tung-hai Nung-Jin itu sebenarnya tidak berselisih banyak dengan lawannya. Hanya karena Kim pouw san itulah yang menyebabkan jago cangkul itu cepat berada di bawah angin.

Demikianlah ketiga orang itu kembali bertempur dengan sengitnya. Meskipun dikeroyok dua, Iblis dari Tai-bong-pai itu ternyata masih dapat bergerak leluasa. Dibiarkannya saja semua serangan lawan yang tertuju ke arah badannya, iblis itu baru bergerak menghindar bila cangkul dan golok itu menyerang ke arah tubuhnya yang lain.

Sementara itu Chin Yang Kun meneruskan langkahnya menuruni puncak bukit tersebut. Pemuda itu sama sekali tidak ambil pusing terhadap permintaan Tung-hai-tiau tadi. "Peduli amat gadis bengal itu! Urusanku sendiri menjadi terlantar karena mengurus dia. Kalau hal ini masih juga kulanjutkan, hmm ....... lama-lama aku akan menjadi pelayan gadis manja itu nanti,” gumam pemuda itu penasaran.

Maka tanpa menoleh lagi pemuda ini lantas berlari turun dengan cepatnya. Dengan lompatan-lompatan panjang dia meluncur turun seperti seekor kijang sedang berpacu. Sebentar saja telah tiba di kaki bukit.

Pemuda itu berhenti sejenak di sini. Sambil menghela napas pemuda itu melayangkan pandangannya kembali ke atas bukit. Kepulan debu yang diakibatkan oleh pertempuran itu kelihatan semakin menipis, suatu tanda bahwa pertempuran besar itu sudah hampir berakhir.

"Sebentar lagi pasukan Song-bun-kwi itu tentu menyerah kalah. Demikian pula dengan iblis itu sendiri. Tak mungkin dia bisa menyelamatkan diri dari keganasan Tung-hai-tiau dan pembantunya .... "

Chin Yang Kun lalu berjalan lagi meninggalkan tempat itu. Dia berjalan menuju ke arah kota Poh-yang kembali. Sambil melangkah pikirannya masih terbayang pada pertempuran besar di puncak bukit tersebut.

"Huh, tampaknya iblis Tai-bong-pai itu memang bermaksud melawan kekuasaan pemerintah
Kaisar Han. Tapi sayang pasukan itu sudah terlanjur musnah sebelum dipergunakan."

Matahari semakin jauh condong ke barat. Sinarnya yang tidak begitu panas lagi itu mulai berwarna kemerah-merahan.

Udarapun terasa semakin sejuk, apalagi langit tampak bersih dan cerah, seolah-oIah gumpalan-gumpalan awan yang siang tadi bergulung berdesakan, kini telah kembali pulang ke tempat masing-masing.

Chin Yang Kun melangkah di jalan besar yang menghubungkan kota Poh-yang dan Ko-tien. Sambil melangkah pemuda itu menimang-nimang pundi-pundi uang pemberian Liu twa-konya. Dengan uang tersebut Chin Yang Kun bermaksud membeli kuda dan pakaian yang bersih. Setelah itu dia akan berpacu ke kota Sin-yang.

Orang-orang yang lewat di jalan itu selalu memandang keadaan Chin Yang Kun dengan kening berkerut. Tampaknya mereka menganggap pemuda yang bercelana compang camping dan tidak berbaju itu sebagai orang gila. Apalagi tangan dan kaki pemuda itu kotor oleh bercak-bercak darah yang mengering.

"Teretet........tet ! Tet ! Teretet-tet......!"

Sore hari yang cerah itu tiba-tiba dikejutkan oleh suara terompet panjang berkali-kali. Dan tak lama kemudian dari dusun sekitar jalan itu tampak berlarian anak-anak disertai kakak dan orang tua mereka. Mereka berlarian melalui pematang-pematang sawah dan tegalan sambil bersorak-sorak dan berteriak-teriak gembira menuju ke jalan raya.

Sambil mengacungkan kedua tangannya yang memegang apa saja, anak-anak itu berloncatan dan bersorak-sorak di jalan raya. Sementara di belakang mereka para kakak dan orang tua mereka melihat dengan bibir tersenyum.

"Hidup pasukan Kaisar......!"

"Hidup pasukan pelindung rakyat !"

"Hidup pasukan kaisar........!”

"Horeee....... !"

Chin Yang Kun berhenti, lalu dengan wajah bingung ditatapnya anak-anak kecil yang bergembira ria itu. Semuanya memandang ke arah timur, seolah-olah mereka menantikan sesuatu dari balik bukit.

"Tet-tet tet-tet! Teretet-tet ........!"

"Ah, tampaknya orang ini mau menyongsong kedatangan para perajurit....." Chin Yang Kun berkata di dalam hati.

"Tapi….. dari manakah prajurit-prajurit itu? Mengapa mereka dielu-elukan rakyat sedemikian rupa?"

Suara terompet itu semakin dekat dan beberapa waktu kemudian dari kelokan jalan muncul pasukan perajurit berkuda berbaris rapi memasuki jalan. LaIu di belakang mereka tampak pula pasukan perajurit berjalan kaki, lengkap dengan segala macam senjata mereka. Barisan mereka luar biasa panjangnya sehingga dari jauh seperti ular yang berkelok kelok di atas jalan raya.

Chin Yang Kun ikut terseret pula diantara para penonton. Dan karena tak ingin menjadi perhatian orang, pemuda itu mengikuti saja ke mana didesak orang.

Beberapa orang perajurit berkuda tampak mendahului barisan untuk menertibkan penduduk yang berdesak-desakan di pinggir jalan itu. Dengan senyum ramah para perajurit itu mempersilakan para penonton agar berdiri tertib di tepi jalan. Mereka melarang anak-anak berlarian di tengah jalan.

"Eh, Lo-pek....... mau ke manakah para perajurit ini?

Kelihatannya mereka baru saja berjalan jauh." Chin Yang Kun bertanya kepada seorang petani tua yang ada di sampingnya.

Sejenak petani tua itu mengawasi Chin Yang Kun, lalu jawabnya perlahan. "Mereka memang datang dari kota raja. Mereka didatangkan kemari oleh Kaisar Han untuk menumpas pasukan pemberontak yang diperkirakan berada di sekitar daerah ini. Khabarnya baginda telah mendengar adanya pemusatan-pemusatan pasukan perusuh di beberapa daerah, sehingga baginda cepat-cepat mengirimkan pasukannya untuk menumpas perusuh-perusuh itu."

"Oh, begitu......" Chin Yang Kun mengangguk-angguk dan pikirannya segera melayang ke puncak bukit yang baru saja ditinggalkannya itu.

Demikianlah, beberapa saat kemudian barisan itu telah lewat di depan mereka. Meskipun tampak lelah para perajurit itu tetap berjalan tetap dan teratur. Wajah merekapun kelihatan gembira dan bersemangat, sedikitpun tidak tersimpul dalam sikap mereka bahwa kedatangan mereka untuk berperang mengadu nyawa.

Beberapa lamanya Chin Yang Kun ikut menonton diantara penduduk itu. Tapi setelah sekian lamanya pemuda itu menonton tidak seorangpun dari para prajurit itu yang dikenalnya, maka perlahan-lahan ia keluar dari kerumunan para penonton dan berjalan kembali ke arah yang berlawanan.Pemuda itu tidak meneruskan langkahnya ke kota Poh-yang seperti maksudnya semula, tetapi langsung pergi ke kota Ko-tien yang masih seratus lie jauhnya dari tempat tersebut.

"Percuma aku pergi ke kota itu. Poh-yang akan menjadi luar biasa ributnya dengan kedatangan pasukan dari kota raja itu. Lebih baik aku langsung pergi ke Ko-tien saja.
Meskipun lebih jauh aku akan lebih mudah mendapatkan apa yang kuperlukan di sana."

Begitulah, dengan langkah pasti pemuda itu berjalan cepat ke arah Ko-tien. Mula-mula pemuda itu terpaksa harus berjalan di atas pematang sawah dan tegalan karena jalan masih dipenuhi oleh jejalan penduduk yang menonton barisan itu. Tapi setelah barisan itu habis jalan menjadi lapang kembali, sehingga ia bisa melangkah kembali dengan leluasa di sana. Hari semakin kelam dan lambat laun menjadi gelap juga.

Chin Yang Kun terpaksa harus mengendurkan langkahnya karena suasana jalan itu tidak bisa dilihatnya dengan jelas lagi. Baru setelah bintang bintang mulai muncul di atas langit keadaan menjadi bertambah terang.Sambil berjalan Chin Yang Kun mencoba untuk mengingat kembali apa yang telah terjadi kepadanya sejak pagi tadi.

Mula-mula pertemuannya dengan Tiau Li Ing yang menyamar sebagai pemuda tampan itu, lalu perjumpaannya kembali dengan Song-bun-kwi yang pernah memenjarakannya di gedung Si Ciang-kun itu. Kemudian pertemuannya yang tak tersangka-sangka dengan pendekar Souw Thian Hai dan .......... bekas pengawal ayahnya, Hek-mou-sai Wan It, Ialu pertempuran dahsyat antara pasukan Song-bun-kwi dan Tung hai tiau.

“Hmmm, heran benar aku. Mengapa tiba-tiba paman Wan It menjadi begitu baik dengan bangsat Song-bun-kwi itu ? Apa sebenarnya yang telah terjadi? Dan....... ke mana paman Wan It sekarang pergi ? Mengapa tiba-tiba saja ia lenyap bersama dengan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai? Apakah mereka tidak bersama-sama dengan Song-bun kwi di ruang bawah tanah itu ? Tapi di mana? Mengapa mereka tidak keluar?" Chin Yang Kun melangkah sambil merenungkan kejadian-kejadian yang baru saja dialaminya.

Sementara itu di atas langit tampak semakin banyak bintang-bintang yang bermunculan. Mereka berkelap-kelip di kejauhan, seakan-akan ribuan lampu minyak yang bergantungan di angkasa raya. Sesekali ada yang melesat dengan cepat untuk berpindah tempat. Begitu cepat gerakannya sehingga bintang itu seperti meninggalkan ekor yang amat panjang. Dan bila sekali waktu ada beberapa buah yang beralih tempat secara bersamaan, maka pemandangan menjadi bukan main indahnya !

Chin Yang Kun menghela napas berulang-ulang. Sambil merenungi pengalamannya, dan sambil menikmati juga keindahan alam yang tergelar di sekitarnya, pemuda itu terus menjejakkan kakinya di atas jalan yang berkelok-kelok panjang itu. Selain melingkar-lingkar jalan itu juga naik-turun di antara tebing dan lereng-lereng gunung yang membatasi kota Poh-yang dan Ko-tien.

Di kanan kiri jalan hanya hutan saja yang tampak. Yaitu hutan yang tidak begitu rapat, tetapi pohonnya tinggi-tinggi dan besar-besar, sehingga tanah di bawahnya selalu tampak kering dan tidak basah. Meskipun begitu tiupan angin malam yang menerobos di tempat itu ternyata amat dingin sehingga Chin Yang Kun yang tak berbaju itu terpaksa harus melipat lengannya di atas dada.

"Wah, dingin-dingin begini seharusnya duduk-duduk di dekat perapian sambil minum minuman penghangat badan........" pemuda itu menyesali dirinya yang tak jadi pergi ke kota Poh-yang. Dan begitu mengingat makanan, pemuda itu lantas ingat juga bahwa perutnya belum terisi sejak pagi tadi.

Tiba-tiba angin bertiup sedikit kencang dan tiba-tiba pula hidung Chin Yang Kun mencium bau daging bakar yang bukan main sedapnya. Kontan saja perutnya yang lapar itu segera berkeruyuk bagai ayam jago memperoleh tantangan lawan.

"Kurang ajar ! Siapa malam-malam begini membakar daging di dalam hutan ?" pemuda itu menggerutu di dalam hati.

Tapi seperti tersedot magnit Chin Yang Kun melangkah memasuki hutan mencari tempat di mana asal mula bau sedap itu berkembang. Dan tempat itu cepat sekali ia temukan karena tempat itu ternyata tidak terlalu jauh dari jalan raya. Seorang laki-laki bertubuh besar tampak duduk santai menghadapi api unggun.

Chin Yang Kun melangkah mendekati orang itu, kemudian berdiri beberapa langkah di belakangnya. Sambil membungkukkan badan Chin Yang Kun bermaksud menyapanya, tapi.....

"Duduklah, saudara........! Aku mempunyai banyak daging di sini. Marilah kita menikmatinya bersama-sama!” tiba-tiba orang yang sedang membakar daging itu menegur terlebih dahulu.

“Ah! Ba…baik ....! Terima kasih!" Chin Yang Kun tergagap kaget karena tidak menyangka orang itu akan menegur terlebih dulu.

Terpaksa dengan agak sedikit curiga Chin Yang Kun mendekat dan duduk di dekat orang itu. Sambil meletakkan pantatnya di atas sebuah batu Chin Yang Kun berusaha melihat wajah orang itu. Tapi yang dilihat justru menoleh dengan tiba-tiba sehingga Chin Yang Kun tersipu karenanya.

"Hmm, ada apa........?” orang itu bertanya dengan mulut tersenyum.

"Oh, kau….!" Chin Yang Kun berdesah lega.

“Ya! Bagaimana khabarnya ? Tampaknya kau ikut terseret juga dalam kancah pertempuran itu," orang yang tidak lain adalah Hong-gi hiap Souw Thian Hai itu tersenyum geli melihat keadaan Chin Yang Kun yang seperti gelandangan itu.

"Benar!” akhirnya pemuda itu ikut tersenyum pula membayangkan keadaannya yang konyoI itu.

“Aku tidak hanya ikut terseret, tapi malah terjun menjadi pemeran utamanya….”

"Hahaha......, dan akibatnya kau terserang penyakit kelaparan sekarang!”

"Be-betul!" Chin Yang Kun menunduk dengan wajah yang semakin memerah.
“Nah....... kalau begitu kau jangan malu-malu lagi! Marilah kita makan bersama-sama ! Aku toh takkan bisa menghabiskan semua daging ini sendirian......." Souw Thian Hai mempersilahkan sekali lagi.

"Baik !" Chin Yang Kun mengiyakan karena tak enak menolak maksud baik orang.

Chin Yang Kun lalu mengambil segumpal daging dan ikut membakarnya di dalam api unggun itu. Sambil membakar

sesekali pemuda itu melirik ke arah Souw Thian Hai. Di dalam hati pemuda itu mulaitidak tentram lagi bila teringat akan persamaan she (marga) pendekar sakti itu dengangadis yang selalu dikenangnya. Sebenarnya ada maksud di hati pemuda itu untuk menanyakannya, tapi setiap saat mulutnya selalu batal mengatakannya.

"Bagaimana dengan kawanmu? Apakah kau sudah menemukannya ?" justru Souw Thian Hailah yang tiba-tiba memecahkan kebisuan tersebut.

"Sudah...... sudah........!" dalam kekagetannya Chin Yang Kun menjawab. Dan mendadak saja keringat dingin bermunculan di keningnya.

Tentu saja perubahan sikap Chin Yang Kun itu sangat mengherankan hati Souw Thian Hai. Tapi melihat pemuda itubersikap seperti seorang gadis yang tak ingin diketahui rahasianya, maka Souw Thian Hai juga diam saja dan tak ingin menanyakannya.

"Lalu ...... di mana dia sekarang?”

"Entahlah ! Setelah dapat kubebaskan kami berdua lalu berpisah kembali. Mungkin dia pergi ke Poh yang......"

"Ooh !” pendekar sakti itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Hening lagi sejenak.

"Dan .. kau? Kemana saja kau mengejar bayangan Songbun- kwi dan Hek-mou-sai Wan It itu? Kenapa aku tak bisa mengejar kalian?" Chin Yang Kun ganti melontarkan pertanyaannya.

"Wah! Akupun telah kehilangan jejak mereka pula. Entahlah ! Mula-mula bayangan Song-bun kwi hilang di dekat sebuah sumur tua. Lalu sebentar kemudian ganti bayangan........ eh, siapa tadi ?"

"Hek-mou-sai Wan lt !”

"Ya...... sebentar kemudian ganti bayangan Hek...... Hek-mou-sai Wan It yang hilang di antara kerumunan orang di lereng bukit itu. Aku telah berusaha mencarinya kemana-mana tapi tak berhasil. Aku lalu kembali ke tempat kita semula bersembunyi, tapi kau tak kuketemukan lagi di sana. Sebaliknya aku malah melihat sebuah pertempuran yang tak kumengerti sebab- sebabnya......... Oleh karena engkau tetap tak kujumpai maka aku lantas meninggalkan puncak tersebut."

"Oooo...?!"

“Dan bagaimana dengan engkau sendiri ? Apa yang telah terjadi padamu?”
Chin Yang Kun tersenyum getir, Ialu diceritakannya semua yang telah terjadi sepeninggal Hong-gi-hiap Souw Thian Hai.

Bagaimana ia dikeroyok ribuan orang, dan bagaimana ia terjeblos ke dalam sumur tua itu. Lalu pertemuannya dengan Song-bun-kwi dan kawan yang dicurinya itu di dalam ruangan di bawah tanah. Dan akhirnya diceritakannya juga tentang pertempuran hebat di luar gedung itu.

"Kalau begitu Song-bun-kwi itu memang kembali lagi ke gedung melalui sumur tua itu...... Makanya kucari kemana-mana tidak ada.” Souw Thian Hai berkata perlahan.

Sambil bercakap-cakap mereka menikmati daging bakar yang amat lezat itu. Chin Yang Kun yang seharian penuh tidak makan itu tampak lahap sekali. Beberapa kali pemuda itu mengambil irisan daging yang telah tersedia dan membakarnya di dalam api. Begitu getolnya sehingga diam diam Souw Thian Hai tersenyum melihatnya.

"Ah....... aku sampai lupa ! Kenapa aku sampai hati benar membiarkanmu telanjang dada begitu," tiba-tiba Souw Thian Hai berhenti mengunyah dan menepuk-nepuk dahinya sendiri dengan wajah menyesal.

Lalu dengan tergesa-gesa pendekar sakti mengambil buntannya dan mengeluarkan sepotong baju bersih yang tampaknya masih baru. "Nih! Kau pakailah untuk sementara, agar kau tidak dikira orang sebagai gelandangan.......!”

“Wah, tidak usahlah......! aku.... aku ..." Chin Yang Kun menolak.

"Sudahlah! Pakailah saja ! Kau tak usah berasa sungkan kepadaku. Baju itu belum pernah kupakai, sebab ukurannya terlalu sempit buatku...” Chin Yang Kun ingin membantah lagi. Tapi keinginan itu batal ia utarakan ketika terpandang oleh pemuda itu wajah Souw Thian Hai yang ikhlas dan berwibawa.

“Ini........ ini....... eh, mengapa kau membawa juga baju yang sudah terlalu sempit buat dirimu?" akhirnya diterima juga baju itu oleh Chin Yang Kun, meski dengan hati berat.

Souw Thian Hai bangkit seraya menghela napas panjang sekali. Sisa daging yang berada di tangannya dibuangnya ke dalam api. Kemudian sambil menyilangkan lengannya di depan dada pendekar sakti itu berjalan menjauhi api unggun. Di tempat yang agak Iapang pendekar itu menengadahkan mukanya ke langit yang biru.

"Baju itu dibuat sendiri oleh puteriku ketika dia berumur limabelas tahun. Katanya dia sudah dewasa, maka ia ingin membuat sendiri baju-baju ayahnya dan pakaian-pakaiannya sendiri. Tapi karena baru mulai belajar maka baju yang pertama kali dibuatnya itu terlalu kecil buatku. Tapi agar supaya puteriku itu tidak kecewa, maka aku tetap menyimpannya juga."

"Ah !” Chin Yang Kun tersentak kaget. "Kalau begitu baju ini mempunyai arti tersendiri buatmu. Mengapa sekarang malah kauberikan kepadaku ?"


Souw Thian Hai membalikkan tubuhnya, lalu berjalan kembali ke tempatnya semula.

"Tidak apa. Biarlah kuberikan saja baju itu kepada kau yang membutuhkan dari pada aku selalu bersedih bila melihatnya. Dan..... sejak semula aku memang sudah bermaksud untuk membuangnya atau memberikannya kepada orang lain. Hampir empat tahun aku berkelana mencari puteriku itu tanpa hasil. Kini aku sudah mulai putus asa......" Chin Yang Kun mendengarkan penuturan pendekar sakti itu dengan kepala tunduk. Hatinya seperti ikut merasakan kesedihan pendekar tersebut.

''Hei??" tiba-tiba mata Chin Yang Kun terbelalak. Ditatapnya dua buah huruf yang terlukis di pojok baju itu. Huruf “Lian" dan "Cu" !

“Ada apa?" Souw Thian Hai mengerutkan keningnya.

"Ini......! ini ....! Hei........ apakah puterimu itu bernama Souw Lian Cu ?" Chin Yang Kun berseru tegang.

"Betul! Ada apa......?"

"Apakah puterimu itu....... lengannya.....lengannya.....”

"Yaaa ! Lengannya memang cacat sebelah ! Ada apa? Apakah kau pernah berjumpa dengan dia?" Souw Thian Hai berseru pula dengan tidak kalah tegangnya. Tanpa terasa tubuhnya yang tinggi besar itu telah melesat ke depan Chin Yang Kun.

Sementara itu Chin Yang Kun sungguh-sungguh menjadi kelabakan sekarang. Setelah kini dia benar-benar yakin bahwa Souw Lian Cu itu memang sungguh-sungguh puteri Souw Thian Hai, tiba-tiba hatinya menjadi tegang dan bingung. Dengan gelisah pemuda itu menundukkan kepalanya, sementara bibirnya yang pucat itu tampak bergetar dan tak bisa berkata-kata malah !

Tentu saja melihat sikap pemuda itu Souw Thian Hai ikut menjadi kelabakan pula. Segala macam pikiran buruk segera menghantui hati pendekar sakti itu. jangan-jangan sesuatu yang jelek telah menimpa diri anaknya. Maka saking tegangnya pendekar sakti itu mencengkeram pundak Chin Yang Kun tanpa terasa. Dan tanpa terasa pula tenaga sakti Ang-pek Sin-kang meluncur ke luar dan....... menerjang tubuh Chin Yang Kun! Sekejap tampak asap tipis mengumpul di atas ubun-ubun pendekar sakti tersebut.

Ternyata dalam ketegangannya segala macam ilmu yang melekat di dalam tubuh Souw Thian Hai telah keluar dengan sendirinya. Dan kini yang menjadi korbannya adalah Chin Yang Kun.

Tanpa disadari oleh Souw Thian Hai sendiri ilmunya telah menyerang Chin Yang Kun ! Ilmu yang amat dahsyat, yang jarang ada tandingannya di muka bumi ini! Tapi satu keajaiban benar-benar telah terjadi !

Chin Yang Kun yang berdiri diam seperti orang yang sedang kehilangan akal itu, yang secara tak sengaja kini dihantam tenaga Ang-pek Sin-kang itu sama sekali tak bergeser dari tempatnya ! Jangankan bergeser, kalau dilihat dari tampangnya yang masih terlongong-longong itu tampaknya merasapun dia tidak ! PadahaI akibat dan pengaruh dari ilmu itu sendiri bukan main hebatnya !

Dalam sekejap pundak yang dicengkeram oleh jari-jari Souw Thian Hai itu tampak bergetar hebat seperti sedang menahan beban yang sangat berat. Dan bersama dengan itu semacam kabut tipis berwarna putih tampak menyelubungi lengan Souw Thian Hai dan pundak Chin Yang Kun yang saling bersentuhan itu. Kabut tipis yang luar biasa dinginnya, yang pengaruhnya dapat dirasakan sampai beberapa tombak jauhnya. Begitu luar biasa hawa dingin itu sehingga dalam sekejap rambut dan pundak Chin Yang Kun seperti dilapisi dengan salju.

Meskipun demikian Chin Yang Kun sendiri kelihatannya tidak terpengaruh sama sekali oleh keadaan itu. Pemuda itu tetap saja berdiri termangu-mangu di tempatnya seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Malahan Souw Thian Hai itulah yang kemudian tersentak kaget dan tersadar dari keadaan mereka yang aneh tersebut.

"Hai ? Apa yang telah kulakukan ?” pendekar sakti itu memekik seraya meloncat mundur dengan wajah pucat. Lalu dengan tergesa-gesa melompat maju lagi untuk memeriksa keadaan Chin Yang Kun, sehingga pemuda itu malah menjadi kaget karenanya.

Tapi pendekar sakti itu segera mengernyitkan alisnya dengan wajah keheranan. Jangankan pemuda itu merasa sakit, merasa diserangpun ternyata tidak! Pemuda itu justru kaget dan bingung ketika tubuhnya diperiksa oleh Souw Thian Hai.

"Eh........ada apa ini?" Chin Yang Kun berseru dengan wajah bingung, apalagi ketika dilihatnya pundak dan rambutnya diselimuti salju tipis berwarna putih.

Souw Thian Hai menatap Chin Yang Kun seolah tak percaya, lalu sambil menghela napas berat ia duduk kembali di tempatnya. "Kau dudukIah…..!" katanya kepada Chin Yang Kun perlahan.

Chin Yang Kun duduk pula kembali. Matanya tetap menatap Souw Thian Hai dengan tajamnya, seolah-olah mau menuntut kepada pendekar itu agar mengatakan apa yang telah terjadi.

"Anak muda, tenaga dalammu sungguh hebat sekali.......! Benar-benar tak kusangka ! Meskipun sejak semula telah kuketahui bahwa lwee-kangmu sangat tinggi, tapi aku benar benar tidak menyangka bahwa engkau akan mampu mengimbangi Ang-pek sin-kangku. Padahal Ang-pek sinkangku selama ini belum pernah ada yang bisa menahannya........” Souw Thian Hai memberi keterangan.

"Ang-pek sin-kang…..? Lwee-kangku .....? Apa maksudmu?"

"Ketahuilah ! Saking tegangnya aku tadi telah mencengkeram pundakmu tanpa terasa. Dan celakanya..... tanpa kusadari pula tenaga saktiku membanjir keluar, menghantam tubuhmu melalui jari-jariku itu. Tapi tak kusangka sin-kangmu secara otomatis juga keluar untuk melindungi pundakmu....”

"Ah........ mana aku berbuat demikian? Ini....... ini ........"

"Sudahlah ! Marilah kita duduk kembali yang baik ! Kita berbicara dengan tenang !"

Keduanya lalu duduk kembali di tempat masing-masing. Souw Thian Hai mengambil kayu-kayu kering agar api unggun itu dapat menyala lebih besar lagi, sementara Chin Yang Kun yang masih juga memegang baju pemberian Souw Thian Hai itu belum juga bisa menenangkan perasaannya yang tergoncang.

Pendekar Penyebar Maut 29                                                              31