Jumat, 02 September 2016

PENDEKAR PENYEBAR MAUT 29




Jilid 29

KEDUANYA lalu berdiri berhadapan kembali. Masing-masing saling mengagumi kegesitan dan kehebatan ilmu silat lawannya. Chin Yang Kun benar-benar sangat kagum dan tidak menduga lawannya yang masih muda itu mempunyai demikian banyak macam ilmu silat pilihan. Sementara lawannya, si pangeran itu juga tidak menduga bahwa dirinya ternyata mampu melayani ilmu Chin Yang Kun yang mengerikan itu.

Demikianlah, setelah mendapatkan kembali kepercayaan dirinya, pangeran muda itu bertempur semakin mantap dan garang. Dan keadaan ini tentu saja membuat lawannya, Chin Yang Kun, semakin sukar untuk segera menghentikan perlawanannya.
Tiba-tiba terdengar suara siulan nyaring dari atas puncak bukit tersebut. Wajah Siauw Ong-ya berubah menjadi gembira sekali, sementara Chin Yang Kun menjadi berdebar-debar hatinya.

"Kaudengar suara itu? Hahaha, pengawalku itu telah datang.........! Kini kau jangan mengharapkan bisa lolos dari tempat ini !" Siauw Ongya itu tertawa senang.

"Persetan! Aku tidak peduli siapapun juga..... Panggillah dia! Ajaklah ia mengeroyokku! Aku tidak takut! Aku akan membunuh kalian berdua.....!" Chin Yang Kun berteriak marah sekali.

Mendadak Chin Yang Kun melenting tinggi ke atas melampaui kepala lawannya. Mulutnya yang terkatup rapat itu mengeluarkan suara mendesis bagai ular marah. Kemudian sebelum kedua buah kakinya meluncur turun, kesepuluh jari jari tangannya mencengkeram ke bawah ke arah punggung lawan yang tepat berada di bawahnya. Jurus ini adalah jurus ke lima dari Kim coa-lh hoat yang disebut Membelit Udara Membentuk Huruf Goat. Sebuah jurus atau gerakan yang amat indah untuk dilihat, yaitu badan membungkuk di udara dan kedua tangan dengan jari-jari terbuka menerobos di antara paha sendiri untuk mencengkeram punggung lawan yang berada di bawahnya!

Siauw Ong-ya yang tak pernah mengendurkan kesiapsiagaannya ini cepat bereaksi. Sambil berputar tubuhnya membungkuk, lalu kedua telapak tangannya secara berbareng menyabet ke samping untuk memotong cengkeraman lawannya. Tangkisan ini ia lakukan karena ia sudah jera untuk mengelakkan lagi serangan-serangan tangan Chin Yang Kun yang selalu bertambah panjang dan berubah-ubah arah setiap kali dielakkan itu.

Langkah yang diambil oleh Siauw Ong-ya itu sesungguhnya sudah betul. Dengan seIaIu menahan dan memapaki setiap pukulan atau serangan Chin Yang Kun itu sudah berarti mengurangi kedahsyatan Ilmu Kim-coa-ih-hoat yang mengerikan tersebut. Dan cara yang diambil untuk membentur serangan itupun juga sudah benar pula, yaitu tidak langsung beradu dada untuk menentukan kalah menangnya, tapi dengan cara mematahkan kekuatan lawan dari samping! Hal ini dilakukan oleh pangeran itu karena menyadari bahwa Iwee-kangnya masih jauh di bawah Chin Yang Kun.

Tetapi ternyata masih ada beberapa hal yang dilupakan oleh Siauw Ong-ya itu. Meskipun apa yang dia lakukan itu sudah betul, tapi dia lupa bahwa selain bisa memanjang dan memendek Kim-coa-ih-hoat itu masih mempunyai satu keanehan lagi, yaitu sendi-sendi tulang yang bisa bergerak bebas ke mana saja.

Selain itu masih ada satu lagi yang dilupakan atau tidak diperhitungkan oleh pangeran itu, yaitu hawa beracun yang keluar dari tubuh Chin Yang Kun.
Maka benturan selanjutnya benar-benar hebat bukan kepalang!

"Plakk! Plukk! Thaas........!”

"Croooot !"

"Aauuugh........!"

Tampak tubuh Chin Yang Kun yang jangkung itu terpelanting ke kanan. Tapi bersamaan dengan itu tubuh Siauw Ong-ya juga tampak terhempas ke tanah dengan kerasnya. Untuk beberapa saat tubuh pangeran itu berguling guling kesana kemari, kedua tangannya menggaruk-garuk perut seolah-olah perut itu menjadi gatal bukan main. Tapi sekejap kemudian tubuh itu lalu meregang dan .. mati ! Baju di bagian perutnya tampak terbuka dan penuh darah !

Chin Yang Kun berdiri tenang mengawasi mayat lawannya. Kedua belah tangannya masih berlepotan darah. Darah pangeran yang malang itu !

Apa sebenarnya yang terjadi ? Bagaimana Siauw Ong-ya yang sakti itu sampai dapat menemui ajalnya seperti itu ? Semuanya memang berjalan dengan amat cepat, sehingga seluruh gerakan mereka hampir-hampir tidak dapat diikuti oleh mata. Keduanya tadi mengerahkan seluruh tenaga sakti mereka. Oleh karena itu benturan yang tadipun sungguh hebat bukan kepalang.

Ketika dengan kekuatan penuh kedua lengan Chin Yang Kun dibentur oleh Siauw Ong ya, tepat pada siku tangan, tiba-tiba tangan pemuda itu menekuk keluar. Suatu hal yang tak mungkin bisa dilakukan oleh orang lain. Dan lengan yang tertekuk secara mustahil itu mendadak bertambah panjang sejengkal jauhnya sehingga dengan mudah dapat mencapai perut Siauw Ong-ya.

Tentu saja hal itu benar-benar tidak diduga oleh pangeran muda tersebut. Dengan air muka yang tiba-tiba menjadi pucat pangeran itu berusaha menghindar. Tapi karena serangan tersebut sungguh-sungguh amat sangat mendadak serta dalam jarak yang begitu pendek, maka usaha pangeran itu sia-sia saja. Sehingga tanpa ampun lagi jari-jari tangan Chin Yang Kun itu mencengkeram dengan telak ulu hati pangeran yang malang tersebut. Begitu dahsyatnya kekuatan Liong-cu-ikang yang tersalur pada jari-jari itu sehingga jari-jari tersebut mampu menembus kulit dan menghancurkan isi perut !

Demikianlah, Siauw Ong-ya itu terhempas ke tanah, dan kematiannya semakin dipercepat oleh hawa beracun yang keluar menyertai cengkeraman Chin Yang Kun tadi........

Chin Yang Kun itu membersihkan kedua tangannya yang terkena darah lawannya. Setelah itu dengan tergesa-gesa dia menghampiri jago Kim liong Piauw-kiok yang dilihatnya masih hidup tadi.

Dengan hati-hati Chin Yang Kun memeriksa jago Kim-Liong Piauw-kiok itu. Dan dugaan pemuda itu memang benar juga, orang itu memang belum mati. Sambil mengerang orang itu membuka matanya.

"Terima....... terima kasih ! Saudara telah....... telah menolong kami......" orang itu berbisik menyatakan rasa terima kasihnya. "Saudara, boleh....... bolehkah aku mengetahui nama...nama besarmu?"

Sambil memeriksa anak panah yang terhunjam pada perut orang itu, Chin Yang Kun menjawab, "Tampaknya saudara telah lupa kepadaku.... Tapi tak mengapa. Yang perlu sekarang adalah mengobati luka ini. Cobalah saudara bertahan sedikit, aku akan mencabutnya!”

"Saudara....... kau? Kau....... oh, benar....aku ingat sekarang. Saudara benar-benar merupakan malaikat penolong bagi Kim-liong Piauw-kiok kami. Sudah dua kali ini saudara menyelamatkan kami...... Ohh, bagaimana dengan saudara-saudaraku yang lain?" orang itu berdesah dengan gembira begitu mengenali wajah Chin Yang Kun kembali.

"Maaf, kedatanganku tadi telah terlambat sehingga tak bisa menolong yang lain-lainnya. Tapi...... sudahlah, kau jangan memikirkan yang lain dulu! Sekarang bersiaplah ! Aku akan
mencabut anak panah ini........"

"Ahhh.....!”

Dengan mudah Chin Yang Kun mencabut anak panah itu, lalu membalutnya. "Untuk sementara darah yang keluar telah dapat kita hentikan. Tapi untuk selanjutnya saudara harus lekas-lekas pergi ke kota untuk berobat. Apakah saudara sudah kuat untuk berjalan?"

Orang itu mencoba bangkit, tapi rasa sakit membuat dia mengurungkan niatnya tersebut. "Ah, perutku masih terasa sakit. BiarIah aku berbaring saja dahulu di sini. Sebentar juga dua orang temanku akan kembali ke sini. Mereka sekarang sedang pergi ke Poh-yang." orang itu berkata. "Eh, apakah saudara hendak cepat-cepat meninggalkan tempat ini?”

"Ya! Temanku diculik orang dan dibawa ke puncak bukit itu.” Chin Yang Kun mengiyakan.

"Syukurlah kalau saudara masih mempunyai kawan yang dapat membawa saudara ke kota…. tak enak hatiku sebenarnya untuk meninggalkan saudara. Tapi urusanku itu juga tidak bisa ditunda-tunda lagi. Ehm, masih lama benarkah kedatangan teman saudara itu?"

"Tidak ! Sebentar lagi kukira mereka akan datang. Mereka hanya kusuruh mencari berita di kuil dekat pintu kota itu.........”

"Kuil dekat pintu kota ? Maksud saudara kuil yang berada di dekat pintu gerbang kota sebelah timur itu?" Chin Yang Kun terkejut. Orang Kim-liong Piauw-kiok itu mengkerutkan keningnya.

"Benar! Mengapa saudara kelihatan sangat kaget mendengar aku menyebutkan tempat itu ?" tanyanya dengan heran pula.

Chin Yang Kun menjadi tegang. “Maaf, bolehkah aku bertanya..... apakah kepentingan saudara di sana....... eh, maksudku .... kepentingan saudara di kuil itu ?"

Orang itu semakin menjadi bingung atas pertanyaan Chin Yang Kun tersebut. "Kami mendapatkan pekerjaan dari seseorang untuk mengirimkan barang ke kuil itu pada hari ini.
Tapi sebelum barang itu kami serahterimakan kami harus menghubungi seseorang lebih dahulu di kuil tersebut. Itulah sebabnya kedua kawan kami itu kami kirimkan ke Poh-yang." katanya memberi keterangan. Lalu lanjutnya. "Mengapa? Apakah saudara melihat sesuatu yang tidak beres dalam hal ini?"

Chin Yang Kun tidak mempedulikan pertanyaan itu. Dengan air muka tetap tegang pemuda itu mencengkeram tangan orang yang terluka itu. "Apakah orang yang harus kalian hubungi itu, adalah penunggang penunggang kuda yang datang dari jauh ?"

"Penunggang-penunggang kuda? Ah, entahlah…..! Tapi kukira bukan. Sebab yang harus kami hubungi itu Cuma seorang saja.”

“Cuma seorang.......? Eh, apakah orang itu mengenakan pakaian serba putih dan rambutnya yang panjang dibiarkan terjurai di atas punggungnya?" Chin Yang Kun dengan suara keras menyebutkan ciri-ciri Song-bun-kwi Kwa Sun Tek.

“Hei! Ya........ ya....... benar! Apakah saudara mengenalnya?" orang yang terluka itu bertanya dengan hati yang berdebar-debar.

Tapi jawaban yang dia peroleh sungguh di luar dugaan !

“Ya! Orang itu hampir saja membunuhku dengan ilmunya yang mengerikan!”

“Ahhh!” orang Kim-liong Piauw-kiok itu berdesah. “Sejak semula kami memang telah bercuriga. Tapi karena orang orang yang memberikan titipan itu berani membayar banyak maka kami terpaksa menyanggupi juga......”

Keduanya lalu diam. Masing-masing berjalan dengan pikirannya sendiri-sendiri. Beberapa saat kemudian barulah Chin Yang Kun membuka suara kembali.

“Apakah sebenarnya isi kiriman itu?” Tanya Chin Yang Kun sambil menoleh ke arah gerobag-gerobag pengangkut barang itu.

“Itulah……! Selain memperoleh imbalan banyak, kami mendapat pesan…..tidak boleh membuka kotak-kotak kiriman tersebut. Maka sungguh menyesal aku juga tidak mengetahui isinya,” orang yang terluka itu menghela napas sedih.

Chin Yang Kun terdiam kembali. Dahinya tampak berkerut merut. Kemudian perlahan-lahan dia berdiri. "Saudara, bolehkah aku melihatnya?”

Orang itu tampaknya sangat berat untuk menjawab. Kelihatannya dia masih berpegang teguh pada tugas dan tanggung jawabnya. Tapi serentak melihat keadaan dirinya yang payah orang itu menjadi lemas kembali.

"Terserah ! biarpun masih hidup, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang. Dimisalkan ada seorang anak kecil yang ingin membukanya, akupun sudah tidak bisa mencegahnya juga……”

Chin Yang Kun mengangguk, laIu melangkah mendekati gerobag-gerobag tersebut. Dengan tenaga saktinya yang ampuh pemuda itu mencengkeram hancur pinggiran kotak yang terbuat dari kayu pilihan tersebut, lalu membukanya dengan paksa. Dan isinya membuat pemuda itu menjadi tercengang.

“Tumpukan senjata !” gumamnya heran.

Pemuda itu cepat membuka kotak kotak yang lain. Tapi seperti pada kotak yang pertama, isinya juga tumpukan tumpukan senjata tajam pula. Ada yang berisi tumpukan senjata golok, ada pula yang berisi tumpukan senjata pedang. Semuanya berjumlah lebih dari dua ribu batang.

“Gila! Orang itu benar-benar mau mempersenjatai orang untuk memberontak......” Chin Yang Kun menggeram di dalam hati dan tiba-tiba pikirannya melayang ke kotak yang dibawa oleh si Pemuda Tampan itu.

"Apakah kotak itu berisi senjata pula?”

"Saudara........" jago Kim liong Piauw-kiok yang terluka itu tiba-tiba memanggil.

Chin Yang Kun tersentak kaget. “Yaa...?” pemuda itu dengan tergesa-gesa menjawab, "Saudara memanggil sa.....?!” Tapi pemuda itu menghentikan ucapannya dengan cepat.

Mukanya menjadi pucat dan matanya tertegun ketika mendadak ia melihat seorang laki-laki duduk berjongkok di samping mayat Siauw Ong-ya. Mayat itu terletak tidak jauh dari tempat di mana orang Kim-liong Piauw-kiok itu berbaring, dan tempat tersebut hanya sepuluh langkah saja dari tempat ia berdiri. Meskipun demikian ternyata ia tak mendengar sama sekali suara langkah orang itu.

“Siapa kau?” Chin Yang Kun menggeram.

Orang itu menghela napas panjang, lalu perlahan-lahan berdiri. Tubuhnya yang tegap dan tinggi perlahan-lahan berbalik menghadap ke arah Chin Yang Kun. Meskipun demikian kepalanya tetap tertunduk ketika menjawab Chin Yang Kun.

“Aku terlambat datang.....tapi ini bukan salahku. Dia sendiri yang menyuruh aku pergi ke kota Poh-yang.”

“Kau......?”  Tiba-tiba Chin Yang Kun berseru kaget. Otomatis kakinya melangkah mundur setindak ke belakang sehingga punggungnya menempel pada gerobag, ketika orang itu mengangkat wajahnya! Chin Yang Kun tidak akan lupa pada wajah yang amat sangat diingatnya itu ! wajah seorang lelaki yang pada saat-saat pertama telah mendapatkan kecurigaannya sebagai pembunuh keluarganya !

“Hong-gi-hiap Souw Thian Hai !” pemuda itu menggeram lagi. Seluruh otot-ototnya menegang, siap untuk bertempur mati-matian dengan jago pengawal Siauw Ong-ya itu.

Tapi Souw Thian Hai ternyata tidak meladeni sikap Chin Yang Kun tersebut. Dengan tenang pendekar sakti itu mengangkat tubuh Siauw Ong-ya, kemudian membawanya ke pinggir hutan. Dibuatnya sebuah lobang dan dikuburkannya mayat orang yang selama ini harus dilindunginya itu disana.

Sementara itu dari dalam hutan tampak dua orang lelaki berlari keluar dengan tergesa-gesa. Dengan wajah kaget dan pucat mereka bergegas menghampiri mayat-mayat anggauta perkumpulan Kim-liong Piauw-kiok. Melihat semuanya mati mereka menjadi bingung dan tak tahu apa yang harus mereka kerjakan. Tiba-tiba mereka memandang kea rah Chin Yang Kun dengan mata melotot. Mereka mengira bahwa pemuda itulah yang bertanggung jawab atas kematian mereka.

Tapi anggota Kim-liong Piauw-kiok yang terluka itu segera memanggil kedua orang itu. “Kiu Pok….! Kiu Jiang…..! Kemarilah !”

“Ohh?” Kedua orang itu terkejut melihat temannya masih ada yang hidup. Mereka bergegas menghampiri teman mereka yang terluka itu. “Tuan Hua, kau masih hidup? Apa yang telah terjadi dengan kawan-kawan kita di sini? Siapakah yang membunuh mereka?”

Orang yang terluka, yang dipanggil dengan nama Tuan Hua itu bangkit dan kemudian duduk dibantu oleh dua orang yang baru datang itu. “Kita dirampok orang….” Ia menjelaskan.

“Sepeninggal kalian rombongan kita telah didatangi lima orang lelaki yang ingin merampas barang bawaan kita. Kita dapat membunuh empat orang diantara mereka, tapi yang seorang ternyata lihai bukan main. Satu persatu kawan kita dibunuhnya, termasuk pula aku. Untunglah malaikat penolong kita datang…..”

"Malaikat penolong?" kedua orang itu menegaskan.

“Ya! Kalian ingat kepada malaikat penolong kita yang dahulu pernah menolong rombongan kita ketika bentrok dengan para pengemis Tiat-tung Kai-pang itu?” Tuan Hua itu bertanya kepada dua orang temannya tersebut.

“Oh, ya…..ya! tentu saja kami ingat! Jadi pemuda ini……” kedua orang itu menoleh ke arah Chin Yang Kun dengan takut-takut. Mereka sekarang teringat kepada cerita teman teman mereka tentang seorang pemuda sakti yang pernah menolong mereka.

“Ya! Tuan penolong kita itu sekarang telah menolong kita kembali. Perampok yang sangat lihai itu dapat dibunuhnya,” Tuan Hua mengangguk.

“Oh, syukurlah.....” kedua orang itu berdesah lega.

“Tapi kita belum benar-benar terlepas dari kesulitan ini. Kalian jangan terburu-buru bergembira dahulu!”

“Hah? Maksudmu......?”

“Lihatlah di pinggir hutan itu!” Tuan Hua berbisik sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah Hong-gi-hiap Souw Thian Hai. “Kalian tahu siapa dia.....?”

“Orang yang sedang mengubur mayat itu? Siapakah dia?” dua orang anggota Kim-liong Piauw-kiok itu memandang ke arah Souw Thian Hai, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.

Tuan Hua menghela napas panjang. “Orang itu adalah teman para perampok itu pula. Dan kalau tak salah tuan penolong kita tadi menyebut dia sebagai Hong-gi-hiap Souw Thian Hai.....!”

"Hong-gi-hiap Souw Thian Hai?" dua orang Kim-liong Piauw-kiok ini terpekik kaget.

"Benarkah..... benarkah i-itu.....? Tapi…..tapi…. tapi.... bukankah pendekar sakti itu terkenal akan kebaikan budinya? Memengapa…..??”

"Entalah! Aku sendiri juga belum pernah melihat wajah pendekar yang sangat terkenal itu. Tapi yang terang….. tuan penolong kita itu tentu tidak salah omong. Apa yang dia katakan tentulah benar." Tuan Hua itu berbisik lagi sambil melirik ke arah Chin Yang Kun yang masih berdiri tegang di dekat gerobag.

Melihat Souw Thian Hai telah selesai menguburkan mayatnya, Chin Yang Kun perlahan-lahan melangkah maju. Dihampirinya orang-orang Kim-liong Piauw-kiok itu sebelum ia melayani Hong-gi-hiap Souw Thian Hai.

"Pergilah kalian dari tempat ini ! Bawalah teman kalian yang terluka ini ke kota agar lekas-lekas mendapatkan pengobatan. Biarlah aku melayani yang seorang ini.......” pemuda itu berkata kepada mereka.

"Eh, mana bisa begitu? Apa kata orang nanti kepada Kim-liong Piauw-kiok kami? Masakan kami malah meninggalkan orang yang sedang berusaha menolong kami? Di mana kami akan menyembunyikan muka kami nanti? Tidak....! Kami tidak akan meninggalkan saudara!"

Tuan Hua menolak anjuran Chin Yang Kun tersebut dengan bersemangat. "...... Selain itu, apakah gunanya kami selamat kalau barang yang dititipkan kepada kami itu lolos dari tangan kami ? Bagaimana pertanggungan jawab kami terhadap guru kami nanti?"

"Kalian jangan khawatir tentang barang kalian yang berada di dalam gerobag itu. Tak akan ada seorangpun yang mau mencurinya. Kalian sudah tahu...... apa isinya ?”

Dengan cepat ketiga orang Kim-liong Piauw-kiok itu menggeleng. "Belum....." jawab mereka serentak.

“Ketahuilah ! Kotak-kotak kalian itu hanya berisi senjata senjata saja, bukan benda-benda berharga seperti yang kalian bayangkan."

"Benarkah…..?" dua orang anggota Kim-liong Piauw-kiok itu tak percaya. Bergegas mereka berlari ke gerobag untuk membuktikannya.

Tapi yang mereka lihat di dalam setiap kotak itu memang hanya senjata saja. Biarpun mereka membolak-balik isi kotak itu, isinya tetap senjata. Tak ada yang lain! Oleh karena itu dengan wajah penasaran mereka menatap Tuan Hua.

“Apa maksud pengirim itu mengirimkan benda-benda seperti ini? Mengapa dia membungkus barang-barang ini demikian rapinya, seolah-olah benda ini sedemikian berharganya?” mereka berteriak.

“Hah? Entahlah……! Aku juga tidak tahu. Yang terang orang itu telah membayar banyak kepada kita untuk ongkos pengiriman…..” Tuan Hua itu juga terkejut begitu tahu apa isi barang bawaan mereka.

“Sudahlah, kalian cepat-cepatlah pergi ke kota! Setelah kalian berobat, kalian dapat mencari orang untuk mengambil gerobag-gerobag ini. Lekaslah, sebelum kalian terlambat…..! soalnya, terus terang saja……aku masih sangsi! Apakah aku bisa menang melawan orang itu,” Chin Yang Kun mendesak lagi.

“Tapi…..saudara bagaimana?” dengan terbata-bata Tuan Hua mencoba untuk mengelak pula.

“Jangan pikirkan aku! Kalau aku tidak bisa mengatasi dia, aku masih dapat melarikan diri. Lain halnya dengan kalian. Bagaimana kalian akan lari kalau salah seorang dari kalian ada yang terluka? Bukankah keadaan kalian justru akan lebih buruk? Nah, jangan membuang-buang waktu! Pergilah…..!”

"Ba-baiklah kalau begitu ! Terima kasih atas pengorbanan tuan…..!’ dua orang Kim-liong Piauw-kiok yang tidak terluka itu buru-buru menyahut, kemudian menyambar Tuan Hua dan
membawanya pergi meninggalkan tempat itu.

Tapi sebelum mereka pergi jauh, Tuan Hua berteriak ke arah Chin Yang Kun. “Saudara, bolehkah aku mengetahui namamu yang mulia? Katakanlah…..agar kami dapat mencatatnya di dalam hati!”

Chin Yang Kun menoleh. Melihat langkah mereka yang sedikit tertegun dan tidak segera pergi meninggalkan tempat itu, Chin Yang Kun menjadi serba salah juga. “Baiklah! Sebut saja aku Yang Kun! Nah, sekarang pergilah! Eh, nanti dulu……! Aku lupa mengatakan…….ehm, apakah Saudara Thio Lung ada di rumah sekarang?”

Kedua orang Kim-liong Piauw-kiok itu berhenti dengan tiba tiba. Sambil tetap menggendong Tuan Hua mereka menghadap ke arah Chin Yang Kun. “Thio Lung su-heng? Ada, dia ada di rumah sekarang. Dia sedang menunggui guru kami yang baru menderita sakit. Apakah…..apakah saudara Yang sudah mengenal Thio su-heng?”

“Ya! Katakan kalau aku ingin berjumpa dengan dia!”

“Baik! Kami akan memberitahukan hal itu kepadanya…..Nah, kami akan berangkat sekarang.” Kedua orang itu segera meloncat pergi menerobos hutan, meninggalkan Chin Yang Kun dan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai sendirian.

Matahari telah mendaki hampir ke puncaknya, sehingga udara menjadi bukan main panasnya. Meskipun demikian karena angin berhembus sedikit kencang, maka udara di sekitar hutan itu masih terasa segar dan nyaman.Sementara itu Souw Thian Hai tampak berdoa sebentar di depan makam yang baru saja ditimbunya. Setelah itu perlahan-lahan tubuhnya berbalik dan menghadap ke arah Chin Yang Kun.

“Aku sangat berterima kasih sekali kepadamu, karena kau telah melepaskan belenggu yang mengikat kebebasan dan kemerdekaanku….” katanya perlahan.

“Melepaskan belenggu? Huh! Apa maksudmu?” Chin Yang Kun mendengus sambil melangkah maju.

Kini keduanya saling berhadapan dalam jarak dua setengah tombak. Mereka saling bertatap mata bagaikan dua ekor ayam jago yang hendak berlaga. Hanya bedanya, Chin Yang Kun kelihatan seperti jago yang gelisah dan tegang, sementara Souw Thian Hai tampak tenang serta acuh tak acuh saja.

“Karena kelalaianku sendiri aku telah terkena pisau Hek eng-cu yang beracun. Tak ada yang mempunyai obat pemunah racun tersebut selain pangeran itu tadi. Dan secara kebetulan tubuhku yang keracunan itu diketemukan oleh pangeran tersebut bersama ayahnya, yaitu bekas Pangeran Mahkota Wangsa Chin. Kedua orang pangeran ayah dan anak itu bersedia menyembuhkan lukaku asal aku mau berjanji untuk mengabdi kepada mereka selamanya……” pendekar sakti itu menghentikan sejenak keterangannya, kemudian setelah menghela napas panjang berulang-ulang ia meneruskan kata-katanya. “…..sebenarnya berat sekali bagiku untuk meluluskan permintaan atau syarat mereka itu, tapi……akhirnya terpaksa kusetujui juga syarat tersebut. Aku masih mempunyai banyak urusan yang harus kuselesaikan. Aku akan mati dengan penasaran kalau aku belum dapat menyelesaikan semua urusan tersebut. Oleh sebab itulah aku terpaksa menerima juga syarat mereka. Meskipun demikian syarat itu tidak kuterima semuanya begitu saja…. Aku juga mengajukan syarat kepada mereka bahwa aku mau mengabdi seperti yang mereka kehendaki, tetapi…..hanya kepada salah seorang dari mereka! Sungguh tidak adil kalau selembar jiwaku ini harus ditukar dengan melindungi dua lembar jiwa mereka. Aku menghendaki satu jiwa ditukar dengan satu jiwa pula……! Dan ternyata mereka setuju. Aku diharuskan mengabdi kepada pangeran muda yang usianya jauh lebih muda dari umurku. Dengan demikian mereka berharap dapat mengikat aku sepanjang hidupku. Tapi nasib manusia ternyata tidak dapat diduga, pangeran muda itu ternyata justru telah pergi mendahului aku…….”

Pendekar sakti itu mengakhiri keterangannya yang panjang lebar dengan menundukkan mukanya. Meskipun telah terbebas dari belenggu yang mengikat dirinya, pendekar itu tampaknya tidak merasa bergembira pula. Wajahnya yang tampan dan ganteng itu tetap kelihatan pucat dan lesu.

Dahinya yang lebar selalu berkerut-merut, sementara matanya kadang-kadang menatap jauh
ke depan, seolah-olah banyak sekali beban pikiran yang masih ditanggungnya.

Tetapi keadaan Souw Thian Hai tersebut tidak diacuhkan sama sekali oleh Chin Yang Kun, bagaimanapun juga pemuda itu masih menganggap bahwa Souw Thian Hai tentu mempunyai hubungan dengan para pembunuh keluarganya.

Munculnya Souw Thian Hai di gubug kosong di tepi sungai Huang-ho setahun yang lalu takkan pernah dilupakan oleh Chin Yang Kun. Meskipun dalam penyelidikan selanjutnya pemuda itu tidak pernah menemukan atau mencium keterlibatan tokoh sakti tersebut, tapi sampai sekarang kecurigaannya tetap belum hilang juga.

"Huh! Tidak usah bercerita yang bukan-bukan di hadapanku! Engkau tidak mungkin lagi bisa melunakkan sikapku terhadapmu. Aku akan tetap menuntut balas kepadamu…..” pemuda itu menggeram dengan keras.

Souw Thian Hai seperti dihentakkan dari lamunannya. Keningnya semakin tampak berkerut, sementara matanya dengan terbelalak menatap ke arah Chin Yang Kun. Sekejap pendekar sakti itu seperti akan menjadi marah, tapi di lain saat ternyata sikapnya kembali mengendur.

Dengan menghela napas dalam pendekar itu berdesah. "Ahhhh....... ternyata engkau masih mendendam juga kepadaku, padahal aku sungguh-sungguh tak bermaksud melukaimu di desa Hok cung dulu itu. Aku cuma bermaksud menyelamatkan jiwa Siauw Ong-ya yang terancam pukulan mautmu…..”

"Bukan hal itu yang akan kupersoalkan sekarang!" Chin Yang Kun berteriak marah karena merasa tersinggung telah diingatkan luka-lukanya yang parah akibat pukulan pendekar sakti itu. ".......Dan kau jangan terlalu berbangga karena dapat melukaiku! Engkau pun telah menderita luka pula pada saat itu!”

“Ah!” kaget juga Souw Thian Hai mendengar kata-kata Chin Yang Kun tersebut. Lalu persoalan apa sebenarnya yang membuat pemuda itu mendendam kepadanya?

“Lalu persoalan apa lagi? Kukira kita tak pernah berhubungan sebelumnya....” akhirnya Souw Thian Hai bertanya dengan wajah bingung.

“Belum pernah berhubungan sebelumnya katamu? Kurang ajar......! kau sudah tidak ingat lagi pada pertemuan kita yang pertama kali itu? Pertemuan di gubug kosong di tepi sungai Huang-ho itu? Engkau tidak ingat lagi.......?” Chin Yang Kun berteriak semakin keras.

“Ohhh.......itu! Jadi engkau masih menuduh aku yang membunuh keluargamu?”

"Tentu saja ! Siapa lagi kalau tidak kau.......? Kau telah membunuh ibu, adik-adik, dan para pengawal, kemudian menyelipkan secarik kertas di tangan ibuku. Di atas kertas kecil itu engkau menulis agar ayah dan pamanku pergi ke gubug kosong di pinggir Sungai Huang-ho untuk menemuimu. Engkau menginginkan agar ayah menyerahkan Cap Kerajaan yang dibawanya kepadamu di sana....nah, bagaimana? Masih mau mungkir juga?”

Souw Thian Hai mendengarkan semua tuduhan itu dengan air muka bingung. Sebentar-sebentar ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Jadi......, jadi itukah sebabnya kau dahulu lantas menyerang aku dengan membabi-buta di gubug kosong itu?" tanyanya dengan suara gemetar.

“Nah, sudah teringat lagi kau sekarang?” Chin Yang Kun mengejek.

"Wah, kalau begitu engkau benar-benar salah sangka dalam persoalan ini!” Souw Thian Hai cepat-cepat menukas. “…….aku sama sekali tidak membunuh ibu dan adikmu, apalagi meninggalkan surat seperti yang kaukatakan itu. Aku…….”

“Bohong! Pengecut! Engkau mau mengingkari perbuatanmu sendiri……..?”

“Kurang ajar ! Anak muda, kau jangan menuduh orang sembarangan saja ! Dengar dulu keteranganku, setelah itu baru kau boleh marah sesuka hatimu! Jangan main tuduh dan main bunuh tanpa alasan atau bukti yang kuat. Bagaimana kalau engkau sendiri yang dituduh orang seperti itu padahal engkau sendiri merasa tidak melakukannya?" lambat laun pendekar sakti itu marah juga.

Chin Yang Kun merasa pula bahwa perkataan lawannya itu benar juga. “Kalau begitu........ lekaslah kau berbicara !” bentaknya.

Souw Thian Hai berusaha menyabarkan hatinya, lalu dengan hati-hati ia memberi keterangan. "Terus terang.,..,. kedatanganku di gubug kosong itu memang bukan secara kebetulan. Seperti telah kuceriterakan........ aku terpaksa menjadi pengawal pribadi dari Siauw Ong-ya semenjak dia bisa menyembuhkan lukaku. Dan pada waktu itu kedatanganku disana memang dalam rangka mengawal pangeran muda tersebut. Aku tidak tahu apa yang hendak dikerjakan oleh pangeran itu bersama-sama anak buahnya di daerah itu, tapi dari pembicaraan mereka aku dapat mengetahui bahwa mereka sedang memburu buronan yang membawa sebuah pusaka kerajaan. Karena aku tidak mau campur tangan dengan urusan mereka selain menjaga keselamatan pangeran itu, maka orang-orang itu juga tidak pernah mempedulikan aku. Mereka membiarkan saja aku berbuat semauku……”

Pendekar sakti itu berdiam diri sebentar untuk mengambil napas. Matanya yang tajam itu mengerling sekejap untuk mencari kesan di wajah Chin Yang Kun. Begitu melihat pemuda tersebut mendengarkan ceritanya dengan serius hatinya menjadi gembira.

"Karena bosan semalaman hanya melihat orang-orang yang saling mengintai saja, aku lalu pergi ke tepi Sungai Huang-ho. Tapi tak kusangka di tepi sungai itu aku bertemu dengan musuh besarku, Hek-eng-cu ! Dan tampaknya orang itu juga ikut mengincar benda pusaka tersebut. Dan kelihatannya orang itu juga telah lebih dahulu datang di daerah tersebut, serta telah melihat pula rombonganku. Buktinya iblis itu bersama-sama dengan seorang kawannya telah mempersiapkan sebuah perangkap untukku, agar aku tidak bisa menolong rombonganku apabila sewaktu-waktu terjadi benturan di antara mereka."

Pendekar itu menghentikan lagi ceritanya. Wajahnya tampak sangat menyesal karena ternyata dia tak bisa menghindari perangkap yang dipasang oleh Hek-eng-cu.

“Ketika sedang enak-enaknya aku berjalan di tepi sungai Huang-ho itu, tiba-tiba mataku melihat sebuah perahu kecil melintas di atas sungai tersebut. Perahu itu hanya dinaiki oleh seorang nenek yang telah lanjut usianya, dan entah bagaimana asal mulanya mendadak perahu tersebut terbalik sehingga nenek tua itu tercebur ke dalam air yang ganas. Sekejap aku mendengar nenek itu berteriak minta tolong kepadaku. Maka tanpa pikir panjang lagi aku meloncat ke dalam air dan berenang melawan arus sungai yang besar untuk menolongnya. Untunglah aku belum terlambat sehingga nenek itu dapat kuselamatkan. Dengan menggendong tubuhnya yang berat aku kembali bergulat melawan arus untuk mencapai tepian sungai…..”

Pendekar itu kembali menundukkan kepalanya, lalu sambil menghembuskan napas panjang dia meneruskan ceritanya.

"Tapi aku benar-benar tidak menyangka sama sekali... selagi aku lengah karena sedang bergulat dengan arus air itu, tiba-tiba nenek yang berada di atas punggungku menyerang leher
dan ubun-ubunku secara ganas ! Tangan kirinya mencengkeram leherku, sementara tangan kanannya yang secara tiba-tiba telah memegang pisau itu menusuk ke arah ubun-ubunku ! Sekilas aku mendengar suara ketawanya yang seperti iblis, dan aku segera mengenalnya sebagai suara ketawa Hek-eng-cu !"

Pendekar itu mengambil napas lagi, matanya menerawang ke depan seolah-olah ingin mengumpulkan kembali ingatannya tentang peristiwa yang sangat mendebarkan itu.

"Dalam keadaan yang sangat berbahaya itu tubuhku secara otomatis bergerak untuk menyelamatkan diri. Cepat bagai kilat aku menyelam sehingga ayunan tangan yang memegang pisau itu tertahan dengan kuat oleh permukaan air. Dan waktu  yang hanya sekejap itu kupergunakan untuk melepaskan leherku dari cengkeraman tangan kiri Hek-eng-cu. Tapi cengkeraman itu ternyata amat kuat dan sukar sekali kulepaskan. Memang selain mengerahkan seluruh tenaga saktinya, Hek-eng-cu ternyata telah menggunakan Ilmu Sam ci thiam-hwe-touw untuk mencengkeram urat-urat penting di leherku. Tanpa kusadari jari-jarinya yang kuat itu telah menekan urat gagu dan urat kelumpuhan yang menghubungkan tan-tian dengan otak sehingga tak ampun lagi tubuhku menjadi lemas dan tak bisa berbicara. Tapi sebelum kelumpuhan itu benar-benar menyerang seluruh urat urat di dalam tubuhku, aku secara mati-matian mengerahkan Khong-sin-kang untuk menjaga diri........"

"Khong-sin-kang? Apakah itu?" untuk pertama kalinya Chin Yang Kun menukas cerita lawannya.

"Ah, cuma ilmu kosong yang tiada artinya sesuai dengan namanya....... Khong sin-kang berarti Ilmu Sakti Tenaga Kosong !" Souw Thian Hai menjelaskan dengan sedikit jengah takut dikatakan menyombongkan dirinya.

"Hmmh! Lalu bagaimana seterusnya…..?”

"Begitulah….. dalam saat-saat terakhir ilmu yang kukerahkan itu ternyata dapat menyelamatkanku. Badanku yang lumpuh akhirnya hanyut terbawa gelombang sungai dan tersangkut di dekat gubug kecil itu. Beberapa saat lamanya aku tergolek saja di tepian sungai. Baru beberapa waktu kemudian, setelah kelumpuhan itu berangsur-angsur hilang dari tubuhku, aku bangkit dan pergi menghampiri gubug kecil itu. Aku harus segera mencari tempat berlindung untuk memulihkan kembali tenagaku. Sebab meskipun aku sudah tidak lumpuh lagi tapi aku ternyata belum bisa mengerahkan lwee-kang seperti sedia kala. Beberapa buah jalan darahku masih terpengaruh oleh Sam-ci Tiam-hwe-louw Hek-eng-cu.
Malah urat gaguku juga belum lepas pula dari pengaruh cengkeramannya. Nah, pada saat demikian itulah kau datang........!"

Chin Yang Kun mengangguk-anggukkan kepalanya. Tahulah ia sekarang kenapa ilmu silat Souw Thian Hai yang dahsyat itu dahulu seperti tidak punya tenaga sama sekali ketika bertempur dengannya. Itulah juga sebabnya kenapa pendekar sakti itu tidak mengeluarkan suara sama sekali ketika mereka bertempur!

Hati Chin Yang Kun mulai ragu-ragu. Pemuda ini mulai percaya pada kebenaran penuturan lawannya. Agaknya pendekar sakti yang mempunyai nama harum di dunia kang ouw itu memang sungguh-sungguh tidak terlibat sama sekali dalam peristiwa pembunuhan keluarganya itu. Kelihatannya memang tak ada alasan yang kuat bagi pendekar sakti itu untuk memusuhi apa lagi sampai berbuat begitu keji kepada keluarganya.

Lalu, siapa sebenarnya yang menulis surat itu? Mengapa orang itu tidak muncul di gubug kosong itu? Apakah orang itu menjadi ketakutan dan tidak berani mendekati gubug tersebut karena di sana ada Souw Thian Hai ?

"Eh, mengapa peristiwa kecil di gubug kosong itu kelihatannya amat mengganggu pikiran saudara? Apakah aku telah berbuat suatu kesalahan besar di tempat itu sehingga engkau demikian mendendam kepadaku?" tiba-tiba Souw Thian Hai mengajukan pertanyaan, sehingga Chin Yang Kun yang sedang melamun itu menjadi kaget.

“Hmmh!" pemuda itu mendengus. "Kau tahu...... siapa yang kaukatakan sebagai buronan itu? Mereka adalah keluargaku! Seluruh keluargaku! Mereka diburu, dikejar-kejar, disiksa…..kemudian dibunuh!”

“Haah?” Souw Thian Hai tersentak kaget. Lalu, “Sungguh tak kusangka bila demikian halnya. Sekarang aku tahu…..kenapa sikapmu demikian kerasnya! Tapi……percayalah engkau kepadaku, aku sungguh-sungguh tidak tahu menahu tentang keluargamu!”

“Kalau begitu…….siapakah menurut pendapatmu?”

Souw Thian Hai bernapas dengan lega melihat gelagatnya pemuda itu sudah tidak mencurigainya lagi. Tampaknya pemuda itu dapat menerima seluruh keterangannya tadi.

“Kalau memang keluargamu itulah yang dicari dan dikejar kejar oleh orang-orang itu aku hampir berani memastikan bahwa mereka jugalah yang telah membunuhnya! Siapa lagi kalau tidak orang-orang itu? Bukankah masalahnya hanya pada Cap Kerajaan itu?”

“Kaumaksudkan Siauw Ong-ya dan anak buahnya?”

“Ah…….bukan! Bukan! Bukan mereka. Aku tahu dengan pasti bahwa bukan mereka pelaku pembunuhan itu, karena kalau mereka yang melakukan aku pasti mengetahuinya pula.”

“Lalu siapa kalau bukan mereka? Apakah rombongan Hek eng-cu yang kaujumpai di sungai Huang-ho itu?”

“Entahlah……!” Souw Thian Hai menggeleng dengan ragu ragu.

“Kemungkinan juga memang merekalah pelakunya…..tetapi kemungkinan juga bukan. Sebab selain rombongan Siauw Ong-ya dan Hek-eng-cu, aku mencium pula jejak-jejak yang lain, yang kalau tak salah adalah jejak para iblis Ban-kwi-to dan jejak para petugas kerajaan.”

“Hek-eng-cu dan para iblis Ban-kwi-to itu adalah satu rombongan…….” Chin Yang Kun cepat menukas karena ia teringat waktu ditawan oleh rombongan itu di gedung Si Ciang-kun setahun yang lalu.

“Begitukah? Jikalau demikian tinggal dua rombongan saja yang pantas dicurigai, yaitu rombongan Hek-eng-cu dan para petugas kerajaan!” Souw Thian Hai berkata tegas.

“Rombongan petugas kerajaan……?” Chin Yang Kun menegaskan.

“Ya, para petugas kerajaan! Mereka dipimpin sendiri oleh Yap Tai-ciangkun dan kakaknya Hong-lui-kun Yap Kiong Lee.”

“Ahhhh!” Chin Yang Kun berseru kaget. “…….tapi……tapi tak mungkin rasanya kalau mereka itu yang berbuat keji.

Kedua orang kakak beradik itu selain mempunyai kedudukan tinggi di kota raja, mereka juga merupakan pendekar pendekar persilatan yang bernama harum dan berjiwa kesatria. Tak mungkin rasanya mereka berbuat sekeji itu!”

“Engkau benar!” Souw Thian Hai mengiyakan perkataan Chin Yang Kun tersebut. “Akupun telah mengenal dengan baik kedua orang kakak beradik itu. Mereka tak mungkin membunuh orang dengan cara yang begitu pengecut! Kepandaian mereka sangat tinggi dan kekuasaannya sangat besar……”

“Kalau begitu satu-satunya kecurigaan hanya tinggal kepada rombongan Hek-eng-cu,” Chin Yang Kun menggeram.

“Ya! Akupun lebih mencurigai mereka dari pada yang lainnya. Mereka terdiri dari penjahat-penjahat yang sudah terbiasa berbuat kejam, curang dan licik!” Souw Thian Hai mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Meskipun demikian kita juga tidak boleh menuduhnya begitu saja tanpa bukti-bukti yang jelas. Kau harus menyelidikinya terlebih dahulu…….”

“Tapi aku hampir yakin bahwa memang kelompok itulah yang membunuh ibu, adik-adik dan para pengawalku. Hanya para iblis Ban-kwi-to itu saja yang selalu membunuh orang dengan racun…..”

“Agaknya memang benar demikian…….” Sekali lagi Souw Thian Hai mengiyakan perkataan Chin Yang Kun.

Chin Yang Kun menghela napas lega, hatinya terasa lapang, seakan-akan tirai kegelapan yang menutupi peristiwa yang mengerikan itu kini telah terbuka, sehingga ia bisa melihat dengan jelas siapa yang bertanggung jawab atas pembunuhan ibu dan adik-adiknya itu. Dia tinggal mencari saja, siapakah diantara iblis-iblis Ban-kwi-to itu yang sering mempergunakan racun hijau. Racun yang mengakibatkan korbannya mati dengan perasaan nikmat dan tenang, tapi dengan warna kulit yang berubah menjadi kehijau-hijauan.

“Semuanya telah menjadi terang. Pembunuh-pembunuh itu sebentar lagi akan dapat kubekuk. Aku tinggal pergi saja ke Ban-kwi-to untuk mencari pembunuh ibu, sementara pembunuh ayah dan paman juga tinggal menanyakan saja kepada Thio Lung!” pemuda itu berkata di dalam hatinya.

“Maaf, kalau tidak salah ketika berada di desa Hok-cung itu saudara bersama-sama dengan Chu Seng Kun……dimanakah pemuda itu sekarang?” tiba-tiba Souw Thian Hai bertanya kepada Chin Yang Kun.

“Eh, anu……entahlah! Kami telah bersimpang jalan ketika secara mendadak desa itu diserang oleh tentara kerajaan,”

Chin Yang Kun yang sedang melamun itu menjawab dengan suara gagap.

"Ohhh.......!" pendekar sakti itu berdesah dengan kecewa.

"Ada apa? Mengapa engkau bertanya tentang Chu Seng Kun? Apakah engkau sudah mengenalnya ?" Chin Yang Kun yang merasa heran atas sikap Souw Thian Hai itu segera mendesak dengan pertanyaannya.

"Aku dan dia tidak hanya saling mengenal tetapi lebih dari pada itu. Kami saling bersahabat. Malahan aku.........''

Tiba-tiba pendekar sakti itu menutup mulutnya. Hampir saja ia berkata tentang hubungannya dengan Chu Bwee Hong, adik Chu Seng Kun. Sekejap pendekar yang kesaktiannya sangat dikagumi orang itu menjadi kikuk, tapi di lain saat sikapnya segera berubah lesu dan sedih begitu mengingat hubungannya yang kandas di tengah jalan.

"Ahhhh, sudahlah.......!” akhirnya pendekar itu berdesah getir. "Sebaiknya aku sekarang pergi saja. Mumpung aku sudah bebas akan kuselesaikan semua urusan yang terbengkalai itu. Terima kasih atas pengertianmu.......”

Pendekar itu mengangguk ke arah Chin Yang Kun, lalu melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut. Jalannya perlahan dan gontai seolah sedang menyangga beban yang berat sekali di pundaknya.

Chin Yang Kun termangu-mangu di tempatnya. Bagaikan seorang yang tiba-tiba kehilangan sahabat atau kawan seperjalanannya, pemuda itu memandang punggung Souw Thian Hai yang bidang. Entah bagaimana sikap dan kepribadian pendekar sakti tersebut benar-benar amat menarik perhatiannya. Tiba tiba saja hatinya terasa dekat dan menyukainya.

“Kau........ kau mau pergi ke mana?" tak terasa mulut pemuda itu berteriak.

Pendekar sakti itu menoleh dan bibirnya tampak tersenyum pedih. "Entahlah, aku tak tahu....... Tapi yang terang aku hendak mencari dulu puteriku yang hilang,” jawabnya.

"Puterimu yang hilang ?" Chin Yang Kun yang tidak menyangka bahwa pendekar sakti itu telah mempunyai anak, bertanya seolah tak percaya. "Di mana dia hilang ? Bagaimana itu bisa terjadi? Siapa yang telah mencurinya?"

Souw Thian Hai menghentikan langkahnya. Wajahnya yang pucat itu mendadak tersenyum, meskipun senyumnya tampak kaku dan tak bergairah. "Yang mencurinya........? Ahh, kau sangka umur berapa puteriku itu?" tanyanya sedikit geli. "....... Puteriku itu bukan lagi seorang bayi atau anak-anak yang mudah dibawa orang. Usianya mungkin hampir sebanyak umurmu......."

Chin Yang Kun tersentak kaget tak percaya. Tapi sebelum pemuda itu bertanya lebih lanjut, Souw Thian Hai telah melangkah pergi meninggalkannya. Pendekar sakti itu telah lenyap menerobos hutan.

Sambil berdesah Chin Yang Kun juga pergi meninggalkan tempat itu. Sesekali pemuda itu menoleh, mengawasi mayat mayat yang berserakan di tempat tersebut. Tetapi karena telah yakin bahwa orang-orang Kim liong Piauw kiok itu pasti akan datang kembali untuk mengurus mayat mayat tersebut, maka ia tetap meneruskan langkahnya. "Ah, tak kusangka pendekar Souw Thian Hai yang ternama itu telah mempunyai anak sebesar aku, padahal umurnya tidak lebih tua dari pada Chu Seng Kun ataupun Hong-Iui kun Yap Kiong Lee….. Kalau begitu usia puteri Souw Thian Hai tersebut tentu sama dengan Tiau Li Ing atau Souw Lian Cu ..... eh !"

Tiba-tiba pemuda itu berhenti melangkah, wajahnya menjadi pucat seketika. "Souw Thian Hai… Souw Lian Cu ! Souw Lian Cu....Souw Thian Hai ! Hah! Apakah ...... apakah me-mereka.......?”

Bagai kilat cepatnya Chin Yang Kun melesat memburu Hong-gi-hiap Souw Thian Hai. Saking tegangnya pemuda itu mengerahkan seluruh kekuatan gin-kangnya! Oleh karena itu dapat dibayangkan bagaimana cepatnya pemuda itu berlari.

Tapi pemuda itu segera menjadi heran sekali. Sampai ia keluar dari hutan itu kembali pendekar tersebut tidak dapat ia ketemukan! Pendekar sakti itu seperti dapat menghilang saja saking cepatnya.

"Bukan main! Pendekar ternama itu memang tidak bernama kosong! Rasa-rasanya memang cocok bila menjadi ayah dari Souw Lian Cu...." Chin Yang Kun bergumam tiada habisnya.

Pemuda itu melangkah kembali ke tempat semula. Tiba-tiba terdengar lagi suara siulan dari atas bukit, membuat pemuda itu ingat pada maksud kedatangannya semula, yaitu mencari kawannya yang diculik oleh orang-orang berkuda. "Ah, jangan-jangan anak bengal itu mendapatkan kesulitan di sana," geramnya.

Chin Yang Kun mengerahkan gin-kangnya kembali untuk mendaki bukit tersebut. Pemuda itu sengaja mengambil jalan lintas agar tidak terlihat oleh para penjaga, yang mungkin sudah dipasang untuk menjebaknya. Meskipun medannya menjadi lebih sukar, tetapi dengan kepandaiannya yang tinggi semuanya dapat ia lalui dengan mudah dan cepat. Beberapa menit saja puncak itu telah kelihatan di depan mukanya.

Mula-mula Chin Yang Kun menjadi kaget sekali ketika matanya melihat banyak sekali orang-orang yang duduk duduk menggerombol di bawah pohon-pohon rindang.

“Heran! Ada apa sebenarnya di tempat ini? Orang-orang ini berjumlah ribuan, tetapi mengapa mereka tidak menjadi ramai dan hingar-bingar suaranya? Apakah mereka ini merupakan pengikut sebuah aliran kepercayaan yang sedang mengadakan upacara keagamaan?” pemuda itu termangu-mangu di tempatnya.

Sebenarnya bisa saja dia menerobos kumpulan orang-orang yang duduk bergerombol di segala tempat itu. Tapi orang-orang itu tentu akan melihatnya kemudian menahannya. Dan selanjutnya tentu akan terjadi pertempuran yang sangat berat bagi dirinya. Dia harus melawan ribuan orang bersenjata!

“Ahhh……!” Chin Yang Kun berdesah.

Selagi pemuda itu kebingungan untuk mencari jalan yang aman ke atas puncak, mendadak dari kaki bukit terdengar suara roda gerobag yang berdentangan melindas bebatuan.
Suara itu makin lama makin dekat, sehingga akhirnya gerobag itu tampak oleh Chin Yang Kun muncul dari balik pohon-pohon lebat di bawahnya. Gerobag itu didorong dengan susah payah oleh enam tujuh orang ke atas bukit.

Sekejap mata Chin Yang Kun terbelalak mengawasi gerobag itu, tapi kemudian cepat-cepat bersembunyi ketika tiba-tiba di belakang gerobag tersebut muncul beberapa orang lelaki yang tidak lain adalah para penunggang kuda yang dicarinya itu. Orang-orang itu berjalan tanpa mengeluarkan suara seolah-olah mereka itu adalah sekelompok iring-iringan orang yang sedang mengantar jenazah ke liang kubur.

Chin Yang Kun membiarkan iring-iringan itu melintas di depan persembunyiannya. Matanya nyalang mencari-cari kalau-kalau temannya yang bengal itu berada diantara mereka, tapi pemuda tampan itu ternyata tidak ada diantara mereka.

Sambil menghela napas Chin Yang Kun beranjak dari tempat persembunyiannya. Pemuda itu bertekad untuk menerobos tempat itu dengan nekad. Tapi belum juga ia melaksanakan maksudnya tiba-tiba dari bawah terdengar suara gerobag lagi. Kali ini malah lebih keras dan lebih gaduh daripada tadi.

Chin Yang Kun kembali mendekam di tempat persembunyiannya dan beberapa saat kemudian dia melihat iring-iringan gerobag dan pedati kecil muncul dari balik pepohonan. Puluhan orang lelaki tampak mendorong gerobag gerobag itu bersama-sama. Tubuh mereka yang kekar-kekar itu tampak basah oleh keringat.

“Hah? Pedati kecil itu adalah pedati yang pagi tadi kubawa ke kuil……! Dan gerobag tersebut juga gerobag-gerobag orang-orang Kim-liong Piauw-kiok itu!” Chin Yang Kun berseru di dalam hati.

Hampir saja Chin Yang Kun melompat keluar untuk menghentikan iring-iringan itu. Tapi niat tersebut segera diurungkannya ketika di belakang iring-iringan itu tiba-tiba muncul…… Song-bun-kwi Kwa Sun Tek, hantu yang mahir menghidupkan orang-orang yang sudah mati!

“Gila! Orang-orang berkuda itu ternyata adalah teman Song-bun-kwi! Nah, tahulah aku sekarang, kenapa pemuda tampan itu membawaku ke kuil setan itu. Agaknya anak bengal itu telah bermusuhan dengan Song-bun-kwi Kwa Sun Tek. Oleh karena kepandaian iblis itu amat tinggi, maka pemuda itu lalu menjebakku untuk menghadapinya. Hmm, kurang ajar…..!” Chin Yang Kun mengumpat di dalam hati.

Beberapa saat kemudian tempat itu telah menjadi sepi kembali. Chin Yang Kun lalu bangkit berdiri. Rambutnya menyentuh dahan perdu tempat dimana dia bersembunyi, sehingga semak-semak itu bergoyang-goyang.

Tiba-tiba pemuda itu terbelalak! Dilihatnya secarik kertas melayang jatuh dari atas pohon. Pemuda itu cepat-cepat menangkapnya, kemudian merentangkannya di depan matanya. Matanya dengan cepat membaca beberapa huruf yang tertulis di atas kertas itu.

Sebentar lagi seorang penjaga akan lewat disini. Tangkaplah dia! Lucuti pakaiannya, lalu pergunakanlah untuk menyusup ke atas bukit!

“Hah? Siapakah yang menulis surat ini? Mengapa dia tahu aku bersembunyi disini?” Chin Yang Kun berdesah kaget.

Tak heran jikalau pemuda itu merasa terkejut. Dia hampir tak pernah mengendorkan kewaspadaannya, meskipun demikian ternyata ia tak tahu sama sekali kapan kertas itu diletakkan orang di depan hidungnya. Melihat kenyataan itu, terang kalau kedatangannya di tempat tersebut telah diketahui orang lain. Untung baginya orang itu kelihatannya bukan dari pihak lawan.

“Sungguh lihai sekali! Siapakah orang itu….? Aku harus lebih berhati-hati lagi,” Chin Yang Kun berkata di dalam hati.

Benar juga apa yang ditulis orang itu! Dari jauh Chin Yang Kun telah mendengar langkah seseorang. Mungkin karena mengira bahwa tidak mungkin ada orang yang berani datang ke tempat itu, maka orang itu berjalan seenaknya. Sedikitpun tidak mempergunakan ginkangnya! Suara sepatunya sungguh  berisik sekali ketika menginjak daun-daun kering yang berserakan di atas tanah.

Chin Yang Kun bersiap-siaga. Pemuda itu telah melihat seorang lelaki tinggi besar mendekati tempat persembunyiannya. Orang itu berjalan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, sikapnya amat tenang dan penuh kewaspadaan, bagaikan seorang peronda malam yang sedang melakukan tugasnya. Topinya yang lebar itu tampak berkilat-kilat ditimpa sinar matahari.

Chin Yang Kun mengerahkan Liong-cu-I-kangnya! Pemuda itu tidak ingin gagal dalam sekali terkam! Tapi……tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang lain! Suara itu datang dari arah sebelah kirinya! Tentu saja keadaan itu sangat membingungkan Chin Yang Kun! Ternyata secara berbareng ada dua orang penjaga yang datang, dan mereka mendekati tempat itu dari arah yang berlawanan. Kalau dia meringkus salah seorang dari mereka, yang lain tentu akan segera mengetahuinya. Dan hal itu sungguh berbahaya sekali! Sekali mereka berteriak, ribuan orang di atas puncak itu tentu akan segera turun mengeroyoknya.

Dengan urat-urat yang tegang Chin Yang Kun menatap ke arah penjaga yang pertama, tapi wajahnya tiba-tiba menjadi pucat! Penjaga itu sudah tidak ada lagi di tempatnya. Orang itu lenyap tanpa dia ketahui kemana perginya, padahal dia tadi cuma menoleh sekejap saja!

Otomatis Chin Yang Kun menoleh lagi ke sebelah kirinya yaitu ke tempat dimana suara orang yang kedua tadi terdengar. Dan…..pemuda itu terperanjat! Mendadak saja di tempat itu telah muncul seorang penjaga lain yang dengan sinar mata dingin menatap ke arah dirinya.

“Wuuuuuut!”

Orang itu menyerang dengan pedangnya membuat Chin Yang Kun meloncat keluar dari persembunyiannya. Pedang itu bergetar dengan hebat sehingga ujungnya bagaikan terpecah menjadi tiga bagian. Bagian pertama menusuk ke arah kepala, sementara bagian kedua dan ketiga menyambar ke arah leher dan ulu hati! Sungguh sulit untuk ditebak, serangan mana yang akan lebih dahulu tiba pada sasarannya.

Serangan tersebut memang benar-benar hebat sekali! Tapi apa yang dilakukan oleh Chin Yang Kun untuk menghadapi serangan tersebut ternyata lebih dahsyat lagi!
Ternyata pemuda itu tidak mau berpayah-payah atau berpusing-pusing menantikan datangnya serangan tersebut.

Begitu melihat lawannya menyerang dengan pedangnya, diapun segera menyongsong dengan kebutan lengan bajunya.Lengan bajunya yang lebar itu menyabet ke depan dengan suara bergemuruh!

Orang itu terkejut sekali! Dengan susah payah dia menarik pedangnya, tapi terlambat. Lengan baju yang penuh lweekang itu menghantam ujung pedang, kemudian membelitnya dengan kuat. Pletaaak…..! pedang tersebut patah menjadi tiga bagian! Dan sebelum penjaga itu menyadari dengan sepenuhnya apa yang telah terjadi, tiba-tiba lengan Chin Yang Kun bertambah panjang dua jengkal jauhnya, sehingga lengan tersebut menerobos lobang lengan baju dan menyambar ke arah pinggangnya. Serangan ini sungguh-sungguh dahsyat dan diluar dugaan penjaga itu! Maka tiada ampun lagi serangan itu mengenai dengan telak pinggang penjaga tersebut.

“Dhiessss!!!”

Penjaga itu terlempar ke belakang dengan hebatnya, lalu terhempas ke tanah dengan mata mendelik. Mati. Sambaran tangan Chin Yang Kun tadi telah mematahkan tulang pinggang dan meremukkan isi perutnya!

Bergegas Chin Yang Kun melucuti pakaian orang itu dan mengenakannya pada tubuhnya. Sarung pedang beserta pedangnya yang telah patah itu dipungut pula oleh Chin Yang Kun. Lalu dengan tergesa gesa mayat penjaga itu diseretnya ke dalam semak-semak. Demikianlah hanya dalam waktu singkat pemuda itu telah berubah menjadi seorang penjaga, lengkap dengan topi bambunya yang lebar. “Hmmm, tanganmu sungguh cepat dan…..ganas sekali!”
tiba-tiba Chin Yang Kun mendengar desah napas di belakangnya.

Bagai kilat cepatnya pemuda itu membalikkan tubuhnya, dan wajahnya berubah dengan hebat! Di depannya telah berdiri…….penjaga yang tadi menghilang!

Chin Yang Kun mengerahkan seluruh kekuatannya kembali. Tapi sebelum pemuda itu bertindak lebih lanjut, penjaga itu segera melepas topi lebarnya……

“Hei? Kau……!” Chin Yang Kun berseru.

“Ya!” penjaga yang tidak lain adalah Hong-gi-hiap Souw Thian Hai itu mengangguk. “Maaf, aku telah mengagetkanmu…….”

Chin Yang Kun bernapas lega. “Ah, kau sungguh amat mengejutkan aku. Kenapa kau mengenakan seragam penjaga juga? Apakah kau telah menjadi anggauta dari orang-orang yang berada di atas puncak itu?”

Souw Thian Hai menggeleng. “Tidak! Seperti engkau pula, aku menyamar menjadi penjaga agar aku dapat naik ke puncak dengan mudah,” katanya menjelaskan.

Keduanya berdiam diri kembali. Souw Thian Hai memandang ke atas bukit, ke arah orang-orang yang sedang ramai berebutan mengambil senjata dari dalam gerobag.

Sedang Chin Yang Kun dengan perasaan sedih dan gelisah mengawasi Souw Thian Hai. Dugaan pemuda itu tentang hubungan Souw Thian Hai dengan Souw Lian Cu membuat pemuda itu merasa gelisah dan kikuk.

“Ada apa sebenarnya diatas puncak itu? Tadi ketika aku akan pergi dari bukit ini, aku melihat beberapa orang penunggang kuda datang mengiringkan Song-bun-kwi Kwa Sun Tek ke bukit ini. Karena aku merasa curiga maka aku lantas mengikuti saja langkah mereka. Dan di kaki bukit tadi aku menangkap seorang penjaga agar supaya aku dapat lebih leluasa mengikuti mereka,” Souw Thian Hai berkata perlahan, kemudian kepalanya berpaling mengawasi Chin Yang Kun. Chin Yang Kun cepat-cepat memalingkan mukanya pula.

“Entahlah! Aku….aku juga tidak tahu. Kedatanganku kemari hanya untuk mencari dan membebaskan kawan yang diculik oleh gerombolan ini…….” Katanya memberi penjelasan. Dan ketika terpandang oleh pemuda itu kertas surat yang dibacanya tadi, ia segera bertanya,

“Eh, apakah engkau yang meletakkan secarik kertas disini tadi?”

Pendekar sakti itu tiba-tiba mengerutkan keningnya.

“Secarik kertas? Kertas apa itu?” tanyanya tak mengerti.

“Hei, jadi…….bukan kau yang mengirimnya? Lalu……..siapakah kalau begitu?”

“Hmmmm!” Souw Thian Hai tersenyum. “…….lekas kaukatakan kepadaku! Kau jangan membingungkan aku……!”

“Lihatlah!” Chin Yang Kun mengambil kertas itu dan memberikannya kepada Souw Thian Hai. Tak lupa pemuda itu menceritakan juga bagaimana surat itu sampai ke tangannya.

Selesai membaca Souw Thian Hai tidak lekas-lekas memberikan komentarnya. Pendekar itu justru memalingkan mukanya ke atas, menghadap ke arah kelompok orang-orang yang sedang berkumpul di atas puncak tersebut.

“Agaknya tidak hanya kita sendiri yang ingin pergi ke puncak itu. Hmmmm, aku menjadi semakin ingin sekali kesana……” akhirnya pendekar itu berkata seperti kepada dirinya sendiri.

“Jadi kau juga tidak tahu siapa yang menulis pesan itu?” Chin Yang Kun menegaskan.

Souw Thian Hai menggelengkan kepalanya. “Tidak…..! tapi engkau tak usah memusingkannya! Kita berangkat saja sekarang kesana untuk mencari orang itu!”

“Baik! Marilah…..!”

kedua orang yang menyamar sebagai penjaga itu lalu melangkah ke atas. Sambil berjalan mereka meneliti setiap tempat, seolah-olah mereka memang dua orang penjaga yang sedang bertugas. Dengan sangat hati-hati mereka melangkah diantara orang-orang yang sedang bergerombol di segala tempat itu. Untunglah perhatian orang-orang tersebut sedang disibukkan oleh pembagian senjata dari gerobag tadi, sehingga mereka dengan aman bisa melewati orang-orang itu.

Sampai di atas kedua orang itu menghentikan langkah mereka. Gedung itu telah berada di depan mereka, tapi untuk mencapainya mereka masih harus menyebrangi halaman yang luas dan terbuka. Dan di tempat itu tidak ada lagi orang-orang yang berkumpul-kumpul seperti tadi. Di tempat tersebut penjagaan sangat ketat, dan penjaganyapun mempunyai seragam yang lain dari pada seragam yang mereka kenakan.

Souw Thian Hai memandang Chin Yang Kun seraya mengangkat pundaknya. “Wah, bagaimana ini? Apakah kita harus melumpuhkan dua orang penjaga lagi?”

“Tapi…….bagaimana kita dapat meringkus dua orang penjaga tanpa diketahui oleh penjaga yang lain di tempat yang terbuka seperti ini? Eh, awas…….! Ada dua, eh……..empat orang penjaga datang kemari!” Chin Yang Kun memperingatkan temannya.

Mereka bermaksud menghindar, tetapi ke empat orang penjaga itu terlanjur melihat mereka.

 “Hai, berhenti dulu! Penjaga dari mana kalian ini? Mengapa sampai ke tempat ini? Siapakah pemimpin kalian?” salah seorang diantaranya menghardik.

Souw Thian Hai mengerahkan tenaganya dan bersiap-siap untuk turun tangan. Tetapi dalam keadaan terdesak, tiba-tiba Chin Yang Kun memperoleh akal.

“Kami datang dari kota Lok-yang……kami berdua adalah tangan kanan Keng Si Yu. Kami datang kemari untuk mencari pemimpin kami tersebut, sebab ada sesuatu hal penting yang harus kami laporkan,” pemuda itu menjawab lancar, seakan-akan telah dipersiapkan sebelumnya.

“Oh……anak buah Keng Beng-cu (pemimpin Keng) rupanya! Silahkanlah kalau begitu! Kebetulan Keng Beng-cu baru saja datang dari menjemput Songbun-kwi di kota Poh-yang. Ia
berada di halaman belakang sekarang……”

“Ah, terima kasih. Kalau begitu…..kami akan segera kesana untuk menemuinya.” Chin Yang Kun menjura dengan hormat, kemudian menarik lengan Souw Thian Hai pergi.

Souw Thian Hai menurut saja ditarik Chin Yang Kun. Pendekar sakti itu tak habis pikir, dari mana pemuda aneh itu tahu nama-nama tersebut? Siapa sebenarnya anak muda yang amat lihai ini?

Mereka menyeberangi halaman luas itu dengan tergesa gesa. Beberapa orang penjaga diam saja melihat mereka, karena penjaga-penjaga tersebut menyangka bahwa mereka itu telah diijinkan masuk oleh empat orang penjaga di depan tadi. Tapi ketika mereka akan masuk ke dalam gedung, beberapa orang yang berdiri di depan pintu segera menahan mereka.

“Kami…..kami datang dari kota Lok-yang. Kami ingin bertemu dengan Keng Si Yu, pemimpin kami!” sekali lagi Chin Yang Kun berusaha membohongi para penjaga pintu tersebut.

“Keng Beng-cu tidak berada di ruang depan ini. Beliau ada di halaman belakang bersama-sama dengan para pemimpin yang lain. Pergilah lewat pintu samping itu……!” seseorang dari penjaga itu berkata sambil menunjuk ke pintu samping.

“Baik! Terimakasih……”

Chin Yang Kun lalu mengajak Souw Thian Hai ke halaman samping. Mereka berjalan diantara pohon-pohon cemara yang menaungi kolam ikan. Di setiap tempat mereka dipaksa untuk berbohong lagi di depan para penjaga yang lain. Dan untungnya orang-orang itu masih tetap percaya dan belum mencurigai dandanan mereka.

Tapi mana mungkin mereka terus-terusan membohongi orang-orang itu? Suatu saat mereka tentu akan benar-benar bertemu dengan anak buah Keng Si Yu. Dan apabila hal itu benar-benar terjadi maka penyamaran mereka akan berakhirlah sudah. Oleh karena itu sebelum semuanya sungguh-sungguh terjadi, Souw Thian Hai segera mengatakan hal itu kepada Chin Yang Kun.

“Kita tidak mungkin membohongi mereka terus menerus. Kita harus mencari akal lain untuk dapat memasuki gedung ini…….” Pendekar sakti itu berkata.

“Benar! Aku juga telah berpikir demikian. Tapi jalan mana yang harus kita tempuh? Apakah engkau telah menemukan akal yang lain?”

Dengan tersenyum kecut Souw Thian Hai menggeleng.

“Tidak…….! Aku…….eh!”

Pendekar sakti itu tiba-tiba menarik lengan Chin Yang Kun dan membawanya meloncat ke atas dahan pohon cemara di dekat mereka. Kemudian dari atas pohon pendekar sakti itu menudingkan jari telunjuknya ke bawah, kearah dua orang lelaki yang baru saja keluar dari pintu samping.

“Ssst, lihatlah! Itu dia Song-bun-kwi Kwa Sun Tek!” pendekar sakti itu berbisik.

Chin Yang Kun terbelalak, pandangannya tertuju ke arah dua orang lelaki yang ditunjuk oleh Souw Thian Hai itu. Tapi bukan Song-bun-kwi Kwa Sun Tek yang membuatnya terkejut sehingga terbelalak matanya, tapi teman Song-bun-kwi yang bertubuh tinggi besar itulah yang teramat sangat mengejutkan hatinya.

“Paman Hek-mou-sai Wan It…..!” pemuda itu berdesah tak percaya.

Memang benar. Dua orang lelaki yang baru saja keluar dari pintu samping itu memang benar Song-bun-kwi Kwa Sun Tek dan Hek-mou-sai Wan It! Sesaat Chin Yang Kun merasa girang sekali melihat bekas pembantu ayahnya itu. Tapi di lain saat tiba-tiba hatinya menjadi kecut melihat keakraban antara pembantu ayahnya itu dengan Song-bun-kwi Kwa Sun Tek!

“Paman Wan It…..! apakah yang telah terjadi dengan dia? Mengapa sekarang ia malah menjadi akrab dengan orang yang telah pernah menyiksanya? Apakah dia telah melupakan dendamnya?” Chin Yang Kun bertanya-tanya di dalam hatinya.

Sekejap pemuda itu menjadi bimbang dan bingung,sehingga ia diam saja ketika dua orang itu pergi meninggalkan tempat tersebut.

“Ayoh kita ikuti kedua orang itu!” mendadak Souw Thian Hai berbisik, lalu meloncat turun dari atas pohon dan berlari mengejar bayangan kedua orang itu.

“Hei, tunggu……!” Chin Yang Kun tersentak, kemudian meloncat turun pula ke atas tanah.

Tapi Chin Yang Kun telah kehilangan jejak mereka. Souw Thian Hai maupun Song-bun-kwi seakan-akan telah lenyap  ditelan oleh gerumbul-gerumbul perdu yang tumbuh lebat di samping gedung itu. “Huh! Kemana dia? Cepat benar……!” pemuda itu menggerutu.

Sekali lagi Chin Yang Kun mencari kesana kemari, kadang kadang menyibak dan menyeruak diantara semak belukar tersebut, tetapi bayangan Souw Thian Hai dan orang-orang itu tetap tidak diketemukannya. “Bangsat……!” akhirnya pemuda itu merutuk di dalam hati.

Chin Yang Kun membalikkan badannya, lalu melesat kembali keluar dari hutan perdu tersebut. Pemuda itu bertekad untuk masuk ke sarang harimau itu seorang diri. Sejak semula ia memang telah bermaksud membebaskan kawannya
itu seorang diri saja.

Tiba-tiba pemuda itu tertegun. Di luar hutan ia telah dihadang oleh empat orang penjaga yang tadi telah dibohonginya. Wajah empat orang penjaga itu tampak merah padam, suatu tanda bahwa mereka telah mengetahui penyamaran Chin Yang Kun dan kini mereka sangat marah sekali.

“Hmmh! Mau kemana lagi kau…..penyelundup?” salah seorang diantaranya membentak dengan suara menggeledek.

Chin Yang Kun sadar bahwa penyamarannya telah diketahui oleh lawan, maka ia tak mau sungkan-sungkan lagi. Dikerahkannya tenaga sakti Liong-cu-I-kangnya, lalu bersiap-siap untuk menghajar mereka.

Tapi empat orang penjaga itu juga telah bersiap-siaga sejak tadi. Mereka tak mau didahului oleh Chin Yang Kun. Begitu melihat lawannya yang masih muda tersebut mengerahkan tenaganya, mereka segera mendahului menerjang bersama-sama. Dengan senjata masing-masing empat orang itu menyerang Chin Yang Kun dari segala jurusan.

Chin Yang Kun berlaku hati-hati. Dia belum mengenal ilmu lawan-lawannya, apakah mereka mempergunakan senjata yang berbeda-beda. Ada yang memegang golok, ada yang membawa tombak, dan ada pula yang memakai senjata cambuk dan pedang! Tampaknya mereka juga bukan orang orang sembarangan di dunia kang-ouw, terbukti dalam serangan itu permainan senjata mereka benar-benar dahsyat dan berbahaya.

Chin Yang Kun tidak ingin keras lawan keras. Ia tahu bahwa selama ini Liong-cu-I-kangnya jarang yang mampu melawan. Tapi sebuah pertempuran tidak hanya tergantung pada kekuatan lwee-kang saja. Kecerdikan, tipu muslihat dan macam senjatapun dapat mempengaruhi jalannya pertempuran. Seseorang yang kalah dalam tenaga dan ilmu silat, mungkin masih bisa memperoleh kemenangan dengan tipu muslihat!

Maka Chin Yang Kun segera menghindar, dengan gesit kakinya…….meloncat ke dalam hutan perdu kembali. Senjata lawan yang tidak sempat ia elakkan ia tepiskan dengan kebutan ujung lengan bajunya. Kemudian sambil main petak petakan di gerumbul-gerumbul perdu ia melayani empat orang lawannya. Sesekali ia menyerang, kemudian menyelinap ke dalam semak, untuk selanjutnya menerjang lagi lawan yang lainnya! Dengan begitu ia dapat memperoleh kesempatan menilai kemampuan musuh-musuhnya. Baru setelah ia dapat menjajagi ilmu mereka, ia mulai menyusun serangan-serangan yang mematikan.

Mula-mula pemuda itu mencegat salah seorang diantaranya, kemudian dengan gencar mendesak orang itu dengan pukulan-pukulan dahsyat. Dan sebelum yang lain-lain datang menolong, Chin Yang Kun segera membereskan orang itu dengan pukulannya yang mematikan! Lalu siasat tersebut diulang kembali terhadap lawan-lawannya yang lain, sehingga akhirnya tinggal seorang saja yang masih hidup.

Tapi sebelum yang seorang itu dapat diselesaikan pula oleh Chin Yang Kun, tiba-tiba dari luar hutan tampak berlarian beberapa orang penjaga lain ke tempat itu. Begitu tahu apa yang telah terjadi di tempat
tersebut, para penjaga itu segera maju mengepung Chin Yang Kun. Seorang diantaranya malah cepat-cepat meniup tanda bahaya yang dipegangnya, sehingga sebentar kemudian orang-orang yang berkumpul di atas bukit itu berlarian pula ke tempat tersebut.

Chin Yang Kun menjadi tegang. Bagaikan air bah ribuan orang yang berada di atas bukit itu tampak menyerbu ke arah dirinya. Maka tidak ada pilihan lagi bagi pemuda itu selain bertempur dengan sekuat tenaga. Dan hal itu benar benar
dikeluarkan sampai tuntas.

Maka dapat dibayangkan betapa dahsyatnya sepak terjang Chin Yang Kun! Setiap pukulan dan terjangan kakinya tentu membawa korban di antara para pengeroyoknya. Kim-coa-ih hoat dan Liong-cu-I-kangnya yang ampuh itu sungguh amat mengerikan dan menggiriskan lawan-lawannya. Sekali terjang tentu ada tiga-empat orang yang terbanting mampus di hadapannya. Dilihat dari jauh pemuda itu bagaikan malaikat elmaut yang sengaja turun ke bumi untuk menyebar kematian di atas puncak bukit tersebut.

Darah berceceran, memercik membasahi semak-semak belukar yang juga telah porak-poranda diterjang oleh kaki-kaki mereka. Tempat yang semula sepi dan lengang itu tiba-tiba saja berubah menjadi neraka yang mengerikan.


 28                                    30