Senin, 29 September 2014

PENDEKAR PENDEKAR MAUT 10

Jilid 10
“SAUDARA Souw ingatlah ! Jangan kauindahkan perintah gila itu! Mari kita bersama-sama  meninggalkan tempat ini!"

Chu Seng Kun berteriak memperingatkan sahabat lamanya itu.  Dan ketika Hong gi hiap tidak juga bergerak dari tempatnya.

Chu Seng Kun berganti siasat. “… Atau kita lawan saja orang itu dan kita bubarkan para perampok yang mengganggu rakyat ini! Saudara Souw….?”

"Kurang ajar! Tutup mulutmu!” siauw ongya itu membentak.

Kakinya menjejak tanah dan tubuhnya meluncur ke arah Chu Seng Kun. Kedua buah tangannya dengan telapak tangan terbuka menghantam lurus ke muka, mengarah ke wajah pemuda ahli pengobatan itu. Serangkum hawa panas melesat dari kedua belah telapak tangannya, membelah udara malam yang dingin mencekam itu.

Pada saat yang sama, Chin Yang Kun yang juga sudah tidak tahan lagi menahan luapan dendamnya, telah maju menerjang Hong gi-hiap Souw Thian Hai !

Maka di lain saat dengan disaksikan oleh ratusan pasang mata, berlangsunglah suatu pertempuran sengit antara tokoh-tokoh persilatan berkepandaian tinggi. Begitu dahsyatnya pertempuran mereka, sehingga para perampok yang memagari arena itu terpaksa berlarian mundur menjauhkan diri. 

Masing masing mencari perlindungan diantara pohon pohon dan reruntuhan rumah yang berserakan di sekitar tempat itu. Mereka menjadi ketakutan ketika melihat beberapa orang kawan mereka jatuh terkapar di atas tanah akibat terkena angin pukulan mereka yang nyasar.

Bukan hanya itu saja!
Tanah, pasir dan batu kerikil yang tersepak oleh kaki kaki orang sakti itu ternyata juga mampu menembus kulit mereka dan merusak benda benda di sekitar arena tersebut. Oleh karena itu dapat dibayangkan, betapa dahsyatnya pertempuran mereka itu.

Chu Seng Kun yang melayani pangeran muda itu benar benar dibuat terkejut oleh kesaktian lawannya. ilmu silat lawan yang bersifat keras dan cepat itu benar-benar hebat luar biasa. Apalagi setiap gerakannya selalu ditunjang oleh hawa panas yang keluar dari tubuh pangeran itu ketika mengerahkan Iwee kangnya! Dan hawa panas ini benar-benar sangat mengganggu konsentrasi Chu Seng Kun, karena hawa panas itu keluar dari badan lawan seperti tak habis habisnya, sehingga lambat laun hawa panas tersebut seperti mau membakar udara di sekitar mereka.

"Gila! Ilmu apa pula ini?” geram Chu Seng Kun sambil meringis kesakitan ketika lengannya menangkis pukulan lawan. Lengan lawannya seperti berubah menjadi bara api yang menyengat kulitnya ketika saling berbenturan.

Sedangkan di arena yang lain tampak Chin Yang Kun sedang berusaha keras untuk menguasai lawannya. Masih terbayang bayang di dalam benak pemuda itu ketika mereka bertemu dan bertempur di dalam gubug kosong di tepi sungai setahun yang lalu. Lawannya, yagg ternyata adalah seorang pendekar besar itu mempunyai bermacam-macam ilmu silat aneh. Salah satu di antaranya adalah ilmu silat yang dilakukan dengan separuh badan.

Untunglah dengan Hok te Ciang hoatnya yang belum disempurnakan itu ia mampu menundukkan orang itu.

Sekarang ilmu silatnya telah dibenahi dan disempurnakan oleh neneknya. Selain dari pada itu ia juga telah menerima warisan Liong cu i-kang dan Kim coa ih-hoat! Maka betapapun selama ini orang itu juga telah menyempurnakan ilmunya,

Yang Kun masih beranggapan bahwa ilmunya masih lebih tinggi dari pada ilmu lawannya.
Yang Kun tampak semakin bernafsu. Ia tidak ingin lawannya terlepas seperti dulu lagi. Dengan Hok-te Cianghoatnya yang hebat ia mengurung Hong gi hiap Souw Thian Hai. Beberapa kali dapat mendesak dan menggempur ilmu silat lawan tapi sejauh itu ia belum dapat menjatuhkannya.

Sedangkan Hong gi hiap sendiri, biarpun selalu terdesak dan terkurung oleh pukulan Yang Kun tapi pada saat yang sulit ternyata masih selalu bisa menyelamatkan diri. Dan hal itu tentu saja sangat menjengkelkan Chin Yang Kun! Rasanya dalam keadaan terjepit pendekar besar itu masih punya jurus-jurus cadangan yang aneh-aneh untuk meloloskan diri.

Dan yang lebih menjengkelkan lagi, meski sedang repot mempertahankan diri, pendekar itu masih selalu mencari kesempatan untuk menoleh ke arah pertempuran yang lain. Sehingga dalam pandangan semua orang, meski pendekar itu kelihatan terdesak dan mengalami kesulitan, tapi sebenarnya justru berada di atas angin. Perbuatannya yang seolah-olah sedang mengalami kerepotan itu hanyalah suatu siasat untuk menjajagi kekuatan lawannya.

Tentu saja keadaan itu membuat Chin Yang Kun tersinggung dan marah sekali! Apalagi ketika berkali-kali lawannya memang selalu dapat lolos dari lubang jarum, pemuda itu menjadi semakin marah dan merasa terhina. la merasa seakan-akan lawannya itu memang sedang bermain main untuk menggoda dirinya.

"Yang-hiante, tahaaaan.. .! Jangan kau lawan orang itu! Kau……kau…….dia….!" Chu Seng Kun berteriak di antara kesibukannya sendiri melawan siauw-ongya itu.

Tapi teriakan Seng Kun itu justru semakin menambah kemarahan Chin Yang Kun. la merasa dipandang rendah kepandaiannya. la merasa bahwa kawannyapun menyangsikan kemampuannya untuk menghadapi Hong-gi-hiap Souw Thian Hai!

“Kurang ajar!” pemuda itu menggeretakkan giginya dan di lain saat ia telah menyambar sebuah golok yang tergeletak di atas tanah. Dan sekejap kemudian pemuda itu telah mengubah cara bersilatnya.

Sementara itu Chu Seng Kun yang sedang terkurung oleh hawa panas lawannya tampak berusaha memperbaiki keadaannya. Dengan Kim-hong-kun hoat warisan nenek moyangnya, pemuda menghadapi ilmu silat lawan yang keras dan cepat. Sementara secara perlahan-lahan ia mengerahkan
Pai-hud-sin kang untuk melindungi badannya dari pengaruh sinkang lawannya yang aneh. Beberapa waktu kemudian keadaannya berangsur-angsur menjadi baik. Ternyata baik Kim hong-kun hoat maupun Pai hud sin kangnya mampu mengimbangi ilmu yang aneh tersebut. Udara disekelilingnya tidak terasa begitu panas lagi, sehingga tubuhnya menjadi lega dan dapat berkonsentrasi kembali.

Chu Seng Kun lalu berusaha mengamati ilmu silat lawan yang hebat tersebut. Biarpun gerakan-gerakannya terasa asing, tapi pemuda itu merasa pernah melihatnya. Cuma di mana ia pernah menyaksikannya, ia telah lupa sama sekali.

Begitu pula dengan sinkang lawan yang berhawa panas itu, rasa rasanya ia pernah mendengarnya pula. Ketika siauw-ongya itu berputar ke samping untuk memukul pelipisnya. Chu Seng Kun tidak berusaha untuk mengelakkannya. Pemuda itu justru memapakinya dengan jurus Merentang Sayap di Atas Kepala, salah sebuah jurus Kim hong kun hoat yang hebat.

Kedua buah lengannya secara serentak merentang ke samping dengan kuatnya, hingga ketika lengan itu membentur pukulan lawan terdengar suara berdentang bagai besi menghantam baja.

"Duuuuukkk !!”

Mereka sama-sama tergetar, mundur beberapa langkah ke belakang. Dan untuk beberapa saat mereka hanya berdiri saling pandang, masing-masing masih mencoba mengamati diri untuk mengukur kekuatan lawan. Ternyata tenaga mereka berimbang, begitu pula ilmu silat mereka !

Chu Seng Kun menoleh ke samping. Dilihatnya Yang Kun masih bertempur dengan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai dan sepintas lalu sahabat mudanya itu seperti di atas angin. Tapi meskipun demikian Chu Seng Kun tetap juga khawatir terhadap keselamatan Yang Kun.

Yang Kun masih sangat muda, pengalamannyapun belum banyak. Meski dilihatnya anak muda itu mempunyai ilmu silat tinggi, tapi yang dihadapinya sekarang adalah Hong-gi-hiap Souw Thian Hai, seorang pendekar sakti yang selama itu belum pernah menemukan tandingan. Jadi kalau pendekar sakti itu kini sampai terdesak oleh serangan Yang Kun, hal itu benar-benar sangat mengherankan. Tentu ada apa apanya dalam hal ini.

"Hah, ternyata kepandaianmu sangat tinggi. Tak heran engkau berani melawan kami…" tiba-tiba siauw-ongya itu menggeram keras, sehingga Chu Seng Kun tersentak dari lamunannya. "......Tapi bagaimanapun juga kalian takkan lepas dari tangan kami!"

"Siauw-ongya, biarkanlah kami yang membekuknya...." empat orang pengawal yang tadi mengelilingi pangeran muda itu maju ke depan. 

Pangeran itu menoleh dengan dahi berkerut. Sejenak kelihatan ragu-ragu. tapi akhirnya mengangguk. 

“Baik! Lakukanlah! Tapi kuharap kalian berhati hati! Orang ini mempunyai kepandaian yang lumayan ..."

Empat orang pengawal itu meloncat ke arena. Masing masing menggenggam golok besar di tangan kanan dan membawa perisai besi di tangan kiri. Mereka berempat meloncat berbareng, dengan gaya yang sama dan mendarat di depan Chu Seng Kun secara berbareng pula. Gerakannya tangkas dan sigap serta indah dipandang mata. Suatu tandabahwa merekapun bukanlah orang-orang lemah dalam dunia persilatan.

Tapi sebelum mereka mulai bergebrak, tiba tiba Hong gi hiap Souw Thian Hai tampak melejit datang. Ternyata kali inipun pendekar itu mampu meloloskan diri dari kurungan Chin Yang Kun. Padahal pemuda itu sudah mempergunakan sebuah golok untuk mengurung pendekar tersebut.

"Berhenti !” pendekar sakti itu berteriak. Tubuhnya yang besar itu berdiri bertolak pinggang di antara kedua pihak yang akan berlaga. Matanya yang mencorong dingin itu menatap ke arah siauw-ongya.

“Pangeran, sekali lagi kumohon kepadamu untuk membebaskan saja mereka. Aku berani menanggung bahwa mereka bukanlah mata-mata seperti yang dituduhkan oleh Tung-hai Sam-mo. Aku yakin benar akan hal ini. Orang ini adalah sahabat lamaku….”

“Souw Tai-hiap…..” pangeran itu menjawab tidak kalah garangnya. “Sejak kapan Souw Tai-hiap mulai menyanggah perintahku? Apakah mulai saat ini Souw Tai-hiap akan mengingkari janjinya! Sekali lagi kukatakan, orang ini harus ditangkap. Nah, silahkan Souw Tai-hiap mengerjakannya….!”

Wajah pendekar besar itu tampak merah padam.

“Pangeran! Agaknya pangeran juga telah melupakan sesuatu. Dalam perjanjian yang kita buat itu hanya menyebutkan bahwa aku hanya bertanggung jawab atas keselamatan pangeran! Itu saja, lain tidak.”

"Tapi...... bukankah mereka juga bermaksud mencelakai diriku ? Mereka datang sebagai mata-mata musuh, padahal musuh itu akan membasmi kita semua. Lalu apa bedanya semua itu?” pangeran itu berkata marah.

"Tentu ada bedanya, pangeran. Karena pangeran bermaksud merebut takhta, maka musuh pangeran tentu banyak sekali. Selain Kaisar Han dan pembantu pembantunya, tentu masih ada juga yang lain, yaitu orang orang yang menginginkan juga singgasana itu. Dan semua orang itu tentu akan selalu berusaha keras membunuh pangeran. Nah, apakah saya harus membunuh mereka itu semua? Padahal
semua yang dikhawatirkan itu belum terjadi…?”

“Tetapi…?”

"Sudahlah, pangeran ! Aku hanya akan bertindak kalau pangeran benar-benar di dalam bahaya. Selainnya hal itu aku akan berdiam diri saja." Hong-gi-hiap Souw Thian Hai berkata tegas.

"Huh! Baiklah ! Jika demikian biarlah kami menangkapnya sendiri! Pengawal, kerahkanlah semua teman temanmu untuk meringkus mata-mata ini !” Pangeran itu berseru.

"Baik !" jawab para pengawal, diikuti suara gemuruh para perampok.

"Tahaaaan.....!” Hong-gi hiap berteriak keras untuk menghentikan orang orang itu. "Biarkan mereka pergi!”

Bukan main berangnya siauw-ongya itu !

“Hong-gi-hiap Souw Thian Hai! Kau benar-benar menjengkelkan! Kau bilang kalau tidak akan turut campur, tapi sekarang menghentikan pasukanku. Apa maksudmu sebenarnya?”

"Orang ini bukan mata-mata! Dan orang ini juga tidak bermaksud membunuh pangeran! Mengapa pangeran tetap saja akan meringkusnya?"

"Jangan turut campur! Tentang mata-mata atau bukan, biarkanlah aku nanti yang menyelidiki. Pokoknya ini saya curigai, maka aku akan menangkap dia untuk diurus benar tidaknya !"

"Hahahahahaaa ,.!" tiba tiba terdengar suara tertawa Chin Yang Kun yang sangat keras.

"Kalian ini benar-benar kerbau sombong yang tidak tahu aturan. Memperbincangkan nasib orang lain seperti anaknya sendiri, tanpa menanyakan pendapatnya lebih dahulu.”

"Yang-hiante ? Apa maksudmu?'' Chu Seng Kun tergagap kaget.

"Chu-toako, maafkanlah aku. Biarkanlah aku berkata kepada mereka."

“Yang hiante….. ! Tapi kuharap .... kau jangan……”

Yang Kun meloncat setombak ke depan. Tanpa merasa gentar sedikitpun ia bertolak pinggang diantara musuh-musuh yang mengepungnya.

“Hai, dengarlah kau!” serunya lantang sambil menunjuk ke arah siauw-ongya. “aku tidak peduli, apakah kau benar-benar pangeran atau bukan. Yang terang kedatanganku kemari hanya mempunyai satu maksud, yaitu menumpas....ya, menumpas para perampok gila yang mengganggu wanita dan penduduk di sini! Maka aku sungguh-sungguh tidak peduli apa yang kalian perdebatkan tadi. Apapun yang akan kalian putuskan, aku tetap akan menghajar kalian semua,....!" pemuda itu berhenti sebentar, kemudian menoleh dengan cepat ke arah Hong-gi-hiap Souw Thian Hai. ".......Dan kau, Hong-gi-hiap Souw Thian Hai! Aku baru tahu sekarang bahwa nama dan gelarmu demikian muluk serta megah. Kau pun tidak usah berlagak baik hati kepadaku. Bagaimanapun juga aku akan tetap menuntut kematian ibu dan adikku! Nah, siapa yang ingin kubereskan lebih dulu, majulah... ..!!"

"Bocah sombong ! Aku ingat sekarang, kiranya engkaulah pemuda gila yang menyerang aku tanpa alasan di gubug kosong itu. Lalu menyeret tubuhku melalui hutan di tepi Sungai Huang-ho...."

Secara mendadak Chu Seng Kun mengerahkan Pek in Gin kangnya. Tubuhnya melesat tinggi, lolos dari penjagaan empat pengawal yang tadi mau menyerangnya. Lalu dengan ringan mendarat di samping Hong-gi-hiap Souw Thian Hai.

“Saudara Souw..... saudara tidak usah melayani kemarahan temanku itu. Ia telah dibutakan oleh dendamnya dan hal itu memang bisa dimaklumi. Segala sanggahan ataupun keterangan saudara Souw tentu tidak akan diterima olehnya. Oleh karena itu demi kebaikan semua pihak, kuharap saudara Souw mengalah kali ini. Biarkanlah hatinya menjadi dingin lebih dahulu, baru nanti kita beri keterangan yang sebenarnya.....” bisik pemuda ahli pengobatan itu kepada Hong-gi-hiap Souw Tian Hai.

“Baiklah, Chu-toako. Aku memang tidak bermaksud melawannya. Sejak tadi aku memang selalu mengalah.”

“Terima kasih, saudara Souw. Marilah kita berdiri di pinggir sekarang! Kita lihat sepak terjang temanku itu.”

Perlahan-lahan kedua sahabat lama itu bergerak ke tepi, menyisih dari para perampok yang berduyun-duyun mengepung tempat tersebut. Oleh karena ada Hong-gi-hiap Souw Thian Hai disisinya, tak seorangpun anggota perampok yang mengganggu Chu Seng Kun.

“......tapi kita jangan terlalu jauh dari pertempuran. Bagaimanapun juga aku terikat untuk melindungi keselamatan pangeran itu.” Hong-gi-hiap berkata pelan.

“Tidak! Akupun ingin sekali melihat pertempuran ini. Sebuah pertempuran yang tentu sangat mengerikan sekali keadaannya….”

"Mengerikan? Apa maksud saudara Chu?" Chu Seng Kun menghela napas berulang ulang.

Dipandangnya Chin Yang Kun yang kini berada sendirian di tengah-tengah arena.
Pemuda sakti itu tampak memegang sebuah golok besar, matanya yang tajam tampak memandang berkeliling, ke arah lautan senjata yang mengepungnya.

“Saudara Souw, ketika bertempur melawanmu tadi, mungkin dia belum mengeluarkan ilmunya yang mengerikan.....Lihat sajalah nanti kalau dia sudah marah atau sudah kewalahan menghadapi pengepungnya! Golok itu justru akan dibuangnya dan dia akan mengeluarkan ilmunya yang sangat mengerikan.”

“Mengerikan….?” Hong-gi-hiap berdesah perlahan, dahinya berkerut.

Sementara itu suasana panas benar-benar telah membakar hati setiap orang di tempat itu. Mereka seperti tidak punya pilihan lain selain bertempur dan membunuh untuk menghilangkan rasa sesak dan panas di dada mereka.

Mereka seperti lupa pada keadaan mereka. Lupa bahwa mereka hampir tidak istirahat sepanjang hari. Lupa bahwa malampun telah menjelang pagi dan semalam suntuk mereka tidak tidur sama sekali.

Dan begitu salah seorang telah memulai menggerakkan senjatanya, maka seperti kawanan lebah yang marah, yang lain pun ikut mengayunkan senjata mereka. Dan disertai suara hiruk pikuk yang memekakkan telinga pertempuran itupun meledak dengan dahsyatnya !

Chin Yang Kun yang marah itupun tidak mau sungkan sungkan lagi, Hok te To hoat (ilmu Golok Menaklukkan Bumi) yang telah disempurnakan oleh neneknya ia keluarkan sepenuh hati. Dengan disokong oleh liong-cu i-kangnya yang tinggi, golok itu bergerak bagai malaikat yang haus darah.

Kemanapun golok itu pergi korban pasti berjatuhan ! Tak seorangpun dari para perampok itu yang mampu menahan kekuatan Liong-cu i kang yang tersalur lewat golok tersebut.

"Mundur….! jangan terlalu dekat dengan pemuda iblis itu! Kepunglah dia dari kejauhan! Persiapkan anak panah !" siauw-ongya yang belum mau turun tangan itu berteriak mengatur anak buahnya.

Orang-orang itu berloncatan mundur menjauhi Chin Yang Kun. Mereka berdiri berjajar mengepung dari kejauhan. Sebagian dari mereka mengeluarkan busur dan anak panah yang telah diolesi racun pada ujungnya.

Yang Kun tegak berdiri di antara korban-korban yang berserakan di tanah. Dipandang sepintas lalu keadaannya sungguh sangat mengerikan. Kulit lengan serta pakaian yang dipakainya penuh dengan percikan darah korbannya. Golok yang dijinjingnyapun sudah tak berupa golok pula.Dari pangkal sampai ujung telah dibasahi oleh darah segar yang masih menetes-netes.

Pemandangan dalam arena pertempuran itu memang sangat menggiriskan hati. Puluhan mayat yang tumpang tindih tampak bergelimpangan memenuhi halaman rumah, sementara bau amis dari darah yang berceceran semakin terasa menusuk hidung. Pemuda itu benar-benar telah menjadi malaikat pencabut nyawa yang menyebar maut!

"Huh, pengecut ! Mengapa kalian mundur ketakutan? Bukankah aku hanya sendirian, sedang kalian ratusan jumlahnya?" Chin Yang Kun menantang sambil mengacun gacungkan senjatanya.

"Lepaskan panah!" siauw-ongya itu berseru.

Sebentar kemudian terdengar suara jepretan panah hampir bersamaan dan... untuk sekejap udara malam yang gelap itu tampak semakin kelam dengan ratusan anak panah yang terlepas dari busurnya. Dan sesaat kemudian Yang Kun telah disibukkan oleh anak panah yang datang dan segala penjuru.

Pemuda itu memutar goloknya dengan kencang sehingga hujan panah tersebut tak sampai mengenai tubuhnya. Tapi anak panah itu seperti tak habis-habisnya! Benda itu meluncur datang tak putus putusnya, dan ini sangat menyukarkan pemuda itu.

"Bidik juga kakinya !” siauw-ongya itu memerintahkan kembali.

Yang Kun semakin menjadi repot. Dia harus memutar goloknya lebih kencang dan lebih merata. Dan ini sungguh sangat memeras tenaga ! Satu dua batang anak panah mulai lolos dari putaran goloknya, menghantam tubuh serta melukai kulitnya. Untunglah, bagaimanapun juga Liong-cu i-kang masih tetap melindungi dia, meski tidak sepenuhnya.

Tiba tiba pancaindera Yang Kun yang peka itu mendengar desing suara panah yang lain dari pada desing anak panah lainnya. Gaung suara anak panah tersebut serasa lebih nyaring dari yang lain. Tapi karena panah yang datang demikian banyaknya mana mampu dia membedakannya.

Tahu-tahu mata goloknya seperti membentur benda keras, sehingga untuk sekejap daya putarnya seperti tertahan. Dan akibatnya sungguh sangat hebat! Beberapa batang anak panah kembali lolos dari putaran golok, sehingga kini betul betul melukai badannya !

Darah mulai mengalir dari tubuh Chin Yang Kun. Darah beracun yang sangat berbahaya bagi orang lain! Darah yang keluar dari luka itu benar-benar makin menggelapkan pikiran Chin Yang Kun. Dengan tenaga Liongcu i-kang sepenuhnya pemuda itu membuang golok ke arah lawan, diikuti oleh teriakannya yang merontokkan jantung !

Apa yang dilakukan oleh Yang Kun ini sungguh di luar dugaan semua orang !
Kehebatan Liong-cu-i-kang yang tersalur lewat teriak kemarahan itu benar benar menggoyahkan keseimbangan badan pendengarnya. Belasan orang yang berdiri di baris depan tampak terjerembab ke atas tanah dengan muka kesakitan. Mereka merasa seperti ada ledakan petir yang mengguncang isi dada mereka. Begitu sakit rasanya sehingga mereka tidak dapat segera bangun. Malah beberapa orang
diantaranya tampak bergulingan kesana kemari sambil mendekap dadanya.

Sementara itu belasan orang pemegang panah yang telah siap untuk melepas panah juga tidak luput dari pengaruh teriakan itu. Tiba tiba mereka juga terhuyung sehingga busur yang mereka tarik terlepas tak tentu arahnya. Akibatnya beberapa batang diantaranya justru mengenai teman mereka sendiri. Dan yang paling mengerikan adalah golok yang dilepas oleh Chin Yang Kun! Golok itu melesat bagai kilat menyambar, suaranya mengaung tinggi menggetarkan udara malam. Dan ketika benda itu menerjang ke arah para pengepung, tak seorang pun sempat bergerak untuk mengelakkannya.

Golok itu menghajar dada seorang perampok hingga tembus, lalu membabat putus dua buah lengan perampok lain, kemudian menembus lagi tubuh dua orang di belakangnya dan akhirnya baru berhenti ketika menghantam sebatang pohon hingga tumbang.

Semua akibat dari perbuatan Chin Yang Kun tersebut berlangsung seketika dan tidak lebih dari pada sekejap mata saja. tetapi pengaruhnya sungguh membuat semua orang tergetar hatinya. Termasuk Hong gi-hiap, Chu Seng Kun serta orang yang disebut siauwongya oleh anak buahnya itu.

"Saudara Chu, kata orang tenaga sakti Im-yang kang dari tokoh tokoh Im yang kauw itu tiada duanya di dunia ini." Hong-gi hiap Souw Thian Hai berkata kepada Chu Seng Kun.

"Tapi melihat tenaga dalam pemuda ini, kata kata itu kukira sudah tidak cocok lagi."

"Ahh …..saudara Souw terlalu merendahkan diri. Ang-pek-sin kang (Tenaga Sakti Merah dan Putih) dari saudara Souw sendiri juga tiada lawannya di dunia ini.....”

“Benar.....orang juga mengatakan demikian pula. Tapi setelah aku menyaksikan sin-kang pemuda ini aku sungguh mulai ragu-ragu pula terhadap keampuhan Ang-pek-sin-kang yang kumiliki.... Saudara Chu, siapakah sebenarnya pemuda ini ?"

Chu Seng Kun menggeleng dengan cepat. "Entahlah! Aku mengenal dia karena Kaisar Han….”

''Kaisar Han?"

“Benar! Baiklah nanti saya ceritakan setelah keadaan sudah tenang....dan tentu saja saya juga ingin mendengar cerita tentang .....keadaan saudara Souw.” pemuda ahli pengobatan itu menjawab sambil tersenyum.Air muka pendekar sakti itu mendadak menjadi gelap.

"Saudara Chu, riwayatku kali ini sungguh sangat menyedihkan. Lebih berat rasanya daripada penderitaan yang kualami ketika aku hilang ingatan dahulu....” katanya lemah.

Sementara itu pertempuran sadis dalam arena telah dimulai lagi. Siauw-ongya yang kini telah turun tangan dengan membawa busur dan anak panah, yang anak panahnya tadi sempat membuat jebol pertahanan Chin Yang Kun, tampak sudah memerintahkan lagi untuk melepas anak panah.

“Jangan takut! Dia sudah terluka oleh panah beracun kalian. Sebentar lagi tentu jatuh ke atas tanah. Ayoh, bidikkan panah kalian ke segala bagian dari tubuhnya!”

Kemarahan Chin Yang Kun benar-benar telah sampai puncaknya. Dan seperti apa yang tadi telah diramal oleh Chu Seng Kun, Yang Kun benar benar telah mulai mempersiapkan ilmunya yang mengerikan, Kim-coa ih hoat atau Baju ular Emas. Pertama-tama pemuda itu melepas baju atas yang kotor oleh darah, sehingga beberapa anak panah yang tadi menancap di tubuhnya ikut tercabut pula keluar. Tak sepatah katapun keluhan yang keluar dari mulutnya. Kalau toh bibir yang terkatup itu mengeluarkan bunyi mendesis, hal itu bukan karena menahan sakit, tapi karena pemuda itu sedang mengerahkan Liong-cu-i-kangnya yang ampuh!

Dalam keremangan sinar obor tampak kulit badan pemuda itu berubah menjadi mengkilap kekuning-kuningan persis seperti kulit ular yang terbalut minyak. Kemudian matanya yang tajam itu juga berubah mencorong seperti mata harimau marah!

Dan ketika hujan panah itu kembali menyerang dengan derasnya, pemuda itu segera memutar lengannya untuk menangkis. Terdengar gemeretak suara anak panah berpatahan ketika lengan yang penuh berisi lwee-kang itu menyongsong derasnya anak-anak panah yang datang. Tak sebatang panahpun yang mampu melukai kulit lengan tersebut, seolah-olah kulit itu kini telah berubah menjadi baja yang tahan segala senjata!

Semuanya ternganga! Begitu pula dengan orang yang disebut siauw-ongya itu! Baru terbuka pikiran mereka sekarang kalau pemuda yang mereka hadapi itu ternyata bukan pemuda sembarangan. Tapi kesadaran mereka itu ternyata benar-benar telah terlambat!

Ketika pemuda yang mereka kepung itu tampak menyedot udara segar sebanyak-banyaknya dan kemudian menghantam dengan telapak tangan terbuka ke arah mereka, mereka semua masih juga ternganga di tempat mereka. Sedikitpun mereka belum menyadari bahaya yang tertuju ke arah mereka.

Baru setelah terasa ada serangkum hawa dingin menerjang ke badan mereka, mereka baru tergagap sadar dari lamunan masing-masing. Tapi kesadaran itu sudah tidak ada gunanya !Pukulan jarak jauh dari pemuda itu keburu datang menghajar mereka.

"Duuaaaaaaar!” Disertai teriak kesakitan mereka, beberapa orang pengepung itu terlempar menimpa kawan kawannya.

Beberapa saat lamanya orang itu berkelojotan sambil menggaruk-garuk tubuhnya, kemudian mati. Kulit tubuhnya berubah menjadi kehitam-hitaman.

"Pukulan beracun !" Siauw ongya itu tersentak kaget.

"Hei?” Hong-gi-hiap tersentak pula. Lalu katanya sambil menoleh ke arah Chu Seng Kun yang berada di dekatnya. "Saudara Chu, inikah ilmu yang kaumaksudkan tadi?”

Chu Seng Kun mengangguk. "......Tapi itu bukan pukulan beracun,” pemuda itu menerangkan. “Darahnyalah yang mengandung racun, sehingga tenaga sakti yang dikeluarkannyapun menjadi beracun pula….”

"Bisa begitu ?" Hong-gi-hiap heran. “Ah….. sungguh berbahaya !"

Sementara itu siauw-ongya tampak meloncat ke tengah tengah arena diikuti keempat orang pengawalnya. Agaknya dia tidak ingin lagi melihat anak buahnya menjadi korban terus terusan.

"Saudara Chu. ... celaka. Pangeran itu maju ke gelanggang sekarang. Wah, bagaimana ini? Apakah aku harus bertempur juga dengan pemuda itu?" tiba-tiba Hong-gi-hiap berseru tertahan. Hatinya cemas bukan main. Bukan karena takut tapi karena tak ingin ia berkelahi dengan pemuda yang menarik perhatiannya tersebut.
“Sudahlah, biarkanlah dulu mereka berkelahi. Pangeran itupun bukan orang sembarangan, apalagi di sana ada empat orang pengawal yang siap membelanya mati matian." Chu Seng Kun menenangkan hati Hong gi hiap Souw Thian Hai.

Dalam arena, Yang Kun telah bersiap siap menghadapi siauw-ongya dan pengawalnya. Tubuhnya yang berminyak itu semakin berkilat-kilat di bawah sinar obor, sementara mulutnya yang terkatup itu masih berdesis perlahan-lahan.

“Heittt!”

Pangeran itu menyerang dengan busurnya. Tangkainya yang panjang diayun mendatar seperti pedang, yang dituju adalah leher. Suaranya gemuruh, menandakan kalau benda tersebut digerakkan dengan tenaga dalam yang tinggi.

Bersamaan dengan itu, keempat orang pengawal yang bersenjata golok dan perisai tampak menyerang juga. Secara berbareng mereka menusukkan ujung golok mereka yang lancip ke arah betis Yang Kun. Sedang perisai yang berada di tangan kiri mereka taruh di atas kepala sebagai tembok pertahanan.

Mendapat serangan atas dan bawah seperti itu Yang Kun tetap bersikap tenang. Dengan jurus Panglima Yi Po Mengatur Barisan ia mengulur tangan kirinya ke arah busur lawan yang datang, lalu sambil melangkah tiga tindak ke kanan ia berusaha menyambar busur tersebut, sedang lengan kanannya yang bebas segera menghantam ke lengan siauw ongya agar melepaskan pegangannya.

Tentu saja pangeran itu tidak mau kehilangan busurnya.

Begitu melihat tangan lawan terulur ke arah senjatanya, ia segera mengubah arah serangannya. Busur besar itu ditariknya ke belakang, lalu dengan ujungnya yang tumpul busur itu ia sodokkan kembali ke arah dada lawan.

Sedang keempat pengawal yang telah kehilangan sasaran karena lawan melangkah pergi, segera mengubah pula serangannya. Golok yang tidak jadi mendapatkan sasaran itu bergegas pula mengejar mangsanya. Dan yang mereka tuju tetap kaki lawan!

Karena selalu diserang pada bagian atas dan bawah, Yang Kun menjadi kewalahan, sedikitpun tidak punya peluang untuk membalas. Untuk mengadu tenaga juga tidak mungkin. Selain mereka semua memakai senjata, sasaran merekapun selalu terpencar, sehingga kalau mau mengadu tenaga Yang Kun harus membagi bagi pula tenaga dalamnya. Dan hal itu sangat berbahaya sekali! Ya.. kalau tenaga itu dapat mengatasi tenaga lawan, kalau tidak, sama saja dengan menggali lubang untuk mengubur diri sendiri!

Agaknya antara pangeran dan keempat pengawal itu sudah terlatih dalam menghadapi musuh secara bersama sama. Buktinya serangan maupun pertahanan bersama mereka selalu terjalin dengan cepat dan rapi. Sehingga sangat sukar bagi Yang Kun untuk mendapatkan tempat lowong untuk menyerang. Beberapa jurus telah berlalu dan Yang Kun masih saja berada di pihak yang terdesak.

"Ilmu silat dan tenaga dalam pemuda itu memang sangat tinggi, tapi kulihat ia belum berpengalaman sama sekali."

Hong gi hiap berdesah perlahan. "Dengan kepandaiannya itu sebenarnya ia akan mampu menindih lawannya. Tapi kulihat ia belum bisa menggunakan kelebihannya tersebut... Eh.. ?" pendekar sakti itu tiba-tiba mendongak dan menajamkan pendengarannya.

Tentu saja Chu Seng Kun menjadi terheran heran dibuatnya.

"Ada apa saudara Souw.....?”

"Eh, saudara Chu, apakah engkau mendengar sesuatu? Aku seperti mendengar suara terompet di kejauhan. .  "
"Terompet?" Chu Seng Kun ikut ikutan memasang telinga,

"Kenapa aku tidak mendengarnya....?"

Pemuda itu mendongakkan kepalanya, berusaha menembus rimbunnya daun dan menatap ke arah langit yang mulai dijalari warna kemerah-merahan. Tapi tetap saja ia tak mendengar suara itu.

"Ahh...... sudahlah! Mungkin aku cuma salah dengar tadi!"

Hong gi-hiap berkata lagi. Lalu pendekar itu mengawasi jalannya pertempuran antara pangeran dan Yang Kun lagi.

"Ah, pemuda itu masih saja belum dapat memanfaatkan ilmunya !"

Memang. Apa yang dikatakan oleh pendekar sakti itu memang benar. Dalam dunia persilatan orang yang
mempunyai tingkat kepandaian seperti Chin Yang Kun memang sulit dicari. Tapi pengalaman bertempurpun sangat diperlukan dalam ilmu silat. Sebab dengan pengalaman orang akan bisa mengenal dan mengetrapkan ilmunya baik-baik.

Meskipun demikian karena ilmu yang dipelajari itu memang bukan ilmu sembarangan, apalagi dipelajari oleh seorang pemuda yang bertulang baik seperti Chin Yang Kun, maka perbawanya juga tetap menggiriskan lawan. Hal itu dapat dibuktikan di dalam pertempuran yang berat sebelah itu.

Biarpun lawan mampu mendesaknya sedemikian rupa, tapi mereka toh tetap tidak dapat menyentuh dia barang sekalipun. Akhirnya hati sang pangeran itu menjadi penasaran sekali.

Tanpa mempedulikan lagi akibatnya, pangeran itu mengerahkan Iwee-kangnya yang ampuh. Sehingga tidak lama kemudian, diantara ayunan busur dan gerakan tangannya, tersebar hawa panas yang makin lama terasa membakar tubuh mereka semua. Termasuk Yang Kun dan keempat orang pengawal itu !

Pada mulanya Yang Kun merasakan pula pengaruh hawa panas itu, tapi serentak dia meningkatkan tenaga sakti Liong cu i-kangnya, maka pengaruh hawa panas itu segera lenyap !

Tapi tidak demikian halnya dengan keempat pengawal yang berada di sekitarnya. Karena tenaga dalam mereka terbatas maka justru merekalah yang menderita tekanan hawa aneh tersebut. Sehingga saking tak tahan mereka saling berloncatan mundur menyelamatkan diri.

Akibatnya tinggal pangeran itu sendiri yang bertempur melawan Chin Yang Kun.

“Hmm, pangeran itu agaknya telah mengeluarkan lagi Iwee kangnya yang berhawa panas. Tadi aku-pun hampir terjebak dengan keanehannya itu....” Chu Seng Kun berbisik kepada Hong-gi-hiap.

"Tidak aneh.. ." Hong gi hiap menukas. "Ilmu hanya berpengaruh terhadap lawan yang mempunyai Iwee-kang lebih rendah. Jika berhadapan dengan lawan yang mempunyai sin-kang lebih tinggi, keanehan tersebut sudah tidak ada gunanya lagi. Yang lebih berbahaya dari pangeran itu justru ilmu silatnya, yaitu ilmu Silat Angin Puyuh ..„.."

"Hah?!? Ilmu Silat Angin Puyuh?" Chu Seng-Kun terbelalak.

"Bukankah ilmu itu kepunyaan Yap Lo cianpwe sebagai keturunan dari Sin-kun Bu tek ? Ohh..... makanya aku seperti mengenalnya tadi……”

"Benar! Pangeran itu adalah murid dari Yap Lo-cianpwe."

"Murid Yap Lo-cianpwe??” tabib muda itu semakin kaget.

Dipandangnya lelaki gagah di sampingnya. Hatinya merasa ragu ragu, tapi tak mungkin rasanya sahabat itu berbohong kepadanya. Tapi untuk percaya begitu saja, rasa-rasanya juga berat pula. Bukannya ia tak percaya kepada sahabat itu, tapi baginya kata-kata tersebut benar-benar sukar dipercaya.

Khabarnya, Yap Cu Kiat atau lebih terkenal dengan sebutan Yap Lo-cianpwe itu adalah keturunan langsung dari salah seorang Datuk Besar Persilatan yang hidup pada zaman seratus tahun yang lalu. Datuk yang bergelar Sin kun bu-tek (Kepalan Sakti Tanpa Tanding) itulah yang menciptakan Ilmu Silat Angin Puyuh tersebut.

Ilmu itu hanya diberikan kepada keluarga terdekat saja, tak mungkin diberikan kepada orang lain. Maka tak mungkin rasanya kalau ilmu tersebut sampai diberikan oleh Yap Cu Kiat kepada pangeran itu.

Apalagi pangeran itu ternyata adalah seorang pemberontak yang ingin menumbangkan kekuasaan Kaisar Han !
Biarpun Yap Cu Kiat adalah seorang tokoh besar persilatan, tapi selama ini ia tidak pernah turut campur dalam soal pemerintahan. Baik pada zaman kaisar lama maupun pada zaman kaisar sekarang !

Jadi tak mungkin rasanya kalau pendekar tua sampai mendidik seseorang untuk memberontak kepada Kaisar Han.

Apalagi kedua orang putera pendekar itu sendiri, yaitu Hong lui-kun Yap Kiong Lee dan adiknya Yap Kim (Yap Tai-ciangkun), adalah pembantu-pembantu utama dari kaisar tersebut.
Agaknya Hong-gi-hiap Souw Thian Hai merasakan keragu raguan sahabatnya itu. "Sebenarnyalah apa yang kukatakan itu, saudara Chu. Sudah beberapa saat lamanya aku hidup bersama rombongan mereka. Malah bukan hanya Yap Locianpwe saja guru dari pangeran itu. Masih ada yang lain, di antaranya adalah Beng Tian locianpwe dan Siang houw Nio nio ....."

"Hah? Gila? Benarkah……?" Chu Seng Kun melonjak saking kagetnya.

Hong-gi hiap tersenyum. "Nanti aku ceriterakan……..” katanya.

Chu Seng Kun termangu-mangu. Beng Tian Lo cianpwe ! Tak seorangpun yang akan melupakan nama besar itu. Nama seorang jenderal besar pada zaman Kaisar Chin Si beberapa tahun yang lalu. Jenderal besar yang selalu setia kepada tugasnya! Jujur dan berwibawa! Kepandaiannyapun sangat tinggi. Tak salah lagi, sinkang berhawa panas itu tentu Hwi-hiat Yang kang dari jenderal besar tersebut…” Seng Kun berpikir di dalam hati.

Dan Siang-houw Nio nio juga bukan tokoh sembarangan. Setahun yang lalu khabarnya dapat menyusup ke istana dan hampir saja bisa membunuh Kaisar Han. Pendekar wanita ini meskipun isteri dari Yap Cu Kiat, tapi karena masih ada hubungan keluarga dengan kaisar lama, maka sangat membenci Kaisar Han. Begitu bencinya wanita itu kepada Kaisar Han, yang dia anggap menjadi sebab runtuhnya Dinasti Chin, sehingga ia rela bermusuhan dengan putera kandungnya sendiri.

Chu Seng Kun menoleh ke arah Hong-gi-hiap Souw Thian Hai, tapi melihat sahabat itu sedang memusatkan
perhatiannya ke arah gelanggang, ia tak jadi bertanya lebih lanjut. Dengan menghela napas iapun memandang ke arena.

Tampak kedua jago itu telah berlaga kembali. Masing masing bertempur tanpa menggunakan senjata. Agaknya busur yang dibawa oleh pangeran tadi juga telah dibuangnya, sehingga sekarang mereka berkelahi dengan tangan kosong.

Meski dengan tangan kosong ternyata pertempuran itu justru kelihatan lebih dahsyat dari pada perkelahian mereka tadi. Kalau tadi semua orang hanya menyaksikan ketangkasan, kecepatan dan kekuatan ilmu silat masing-masing, sekarang semua orang dibuat kagum oleh kedahsyatan dan keanehan ilmu mereka yang tinggi. Begitu hebat dan tinggi ilmu kedua orang itu sehingga pengaruhnya terasa pula oleh para penonton yang berada jauh di sekitar mereka.

Hawa panas dan dingin silih berganti mempengaruhi udara di sekitar tempat berlangsungnya pertandingan. Kalau pangeran itu sedang berada di atas angin, udara terasa berubah menjadi pengap dan panas, sehingga mereka semua seperti berada di dalam tungku perapian yang menyala.

Sebaliknya kalau Yang Kun yang berada di atas angin udara segera berubah menjadi dingin menggigilkan, sehingga semua yang berada di tempat itu merasa seperti diselimuti oleh kabut es yang membekukan.

Tapi suasana aneh seperti di atas tidak berlangsung lama. Bagaimanapun hebatnya ilmu silat Angin Puyuh dari pangeran  tersebut ternyata tidak dapat juga mengatasi Hok te Ciang hoat Chin Yang Kun ! Apalagi selama mereka bertempur sang pangeran tidak berani beradu tangan maupun kepalan barang sekalipun.

Mungkin pangeran itu telah merasa bahwa dirinya belum cukup kuat untuk menahan pukulan beracun dari lawannya.

Akhirnya pangeran itu menjadi sadar pula bahwa bagaimanapun juga ia takkan mampu memenangkan pertempuran tersebut. Maka sambil berteriak nyaring ia mencabut pedang yang berada di pinggangnya.

Mendengar aba-aba itu empat pengawal yang sedari tadi menonton di pinggir segera meloncat kembali ke tengah arena. Dengan cepat mereka memotong gerakan Chin Yang Kun, sehingga desakan yang dilancarkan kepada pangeran itu menjadi terputus di tengah jalan.

Tentu saja Yang Kun menjadi marah sekali. Dengan berdiri tegak pemuda itu mengerahkan Liong-cu i-kang sepenuh penuhnya!

Sementara itu Hong-gi-hiap tampak menghela napas lega. Otot badannya yang sudah menegang itu mengendor pula kembali.

“Nah, begitulah seharusnya. Pemuda itu terang masih terlalu kuat baginya. Tanpa bantuan pengawal tak mungkin ia bisa menahan serangan yang hebat itu."

Tapi Chu Seng Kun segera menyentuh lengan Hong-gi-hiap.

"Jangan keburu lega dulu. Lihatlah gerakan kawanku itu! Kalau saudara Souw tidak lekas-lekas menyelamatkan pangeran itu, sebentar lagi saudara Souw akan menyesal seumur hidup. Sungguh !!”

"Hah? Apa? Ohh....!”

Tiba tiba pendekar sakti itu meleset bagai kilat ke tengah arena. Orang yang harus ia lindungi keselamatannya sedang dalam bahaya!

Dan bersamaan dengan saat itu pula di luar dusun terdengar suara terompet dan sorak sorai yang gegap-gempita seakan mau merobohkan desa tersebut !

"Siauw-ongya! Siauw-ongya! Pasukan pemerintah telah datang !" para penjaga yang berjaga-jaga di mulut jalan tampak berlarian datang. Suasana menjadi gempar.

Tapi yang sedang berada di tengah tengah gelanggang hampir tidak mendengar keributan itu. Keadaan pertempuran mereka sendiri juga telah mencapai titik gawat.

Yang Kun pada saat terakhir telah melontarkan pukulan udara kosongnya ke arah siauw ongya ! Sebuah pukulan yang penuh berisi tenaga sakti liong cu-i-kang! Perbawanya sungguh sangat menggiriskan hati, hingga sulit rasanya pangeran itu untuk meloloskan diri.

Dengan semangat yang hampir putus asa pangeran itu berusaha menghindar. Kedua kakinya menjejak tanah sekeras kerasnya sehingga tubuhnya terlontar tinggi ke udara, meskipun demikian usaha itu ternyata tidak seratus persen berhasil.

Mula-mula empat orang pengawal yang berusaha menolong tuannya tampak terpental ke kanan dan ke kiri. Perisai yang mereka gunakan untuk menahan pukulan Yang Kun terhantam pecah berantakan. Sementara tubuh mereka yang kekar-kekar itu terhempas keras ke tanah dengan kulit berubah kehitam hitaman.

Beberapa saat lamanya mereka menggelepar seperti ikan di dalam jaring dan selanjutnya mati dengan wajah mengerikan. Sedikit hambatan dari empat orang pengawal ternyata tidak mempengaruhi maksud Yang Kun dalam menghajar Iawan pokoknya. Bersama dengan hancurnya perisai pengawal tadi Yang Kun menghentikan aliran Iwee kangnya sesaat. Dan dalam waktu yang sesaat itu terjadilah suatu pemandangan yang mendirikan bulu roma !

Tampak tangan Yang Kun yang terulur itu memanjang dengan cepat, mengejar tubuh Siauw-ongya yang berada di udara. Begitu panjangnya lengan itu sehingga hampir mencapai dua kali lipat lengan biasa.

Oleh karena itu dengan mudahnya lengan tersebut menjangkau tubuh siauw-ongya. Tapi pada saat yang sangat gawat bagi pangeran itu, tiba tiba datang segulung asap tipis berwarna putih dan merah, menerjang ke arah lengan Yang Kun yang memanjang tersebut. Lalu terdengar suara ledakan kecil, seperti suara cambuk yang meletup!

"Taasss!"

Dan lengan yang panjang itu mengkerut kembali dengan cepat!

Tampak oleh Chu Seng Kun, Yang Kun terhuyung huyung mundur dengan wajah pucat. Dari sudut bibirnya menetes darah yang kehitam-hitaman, darah yang khas dari pemuda tersebut.

Sedangkan di hadapannya berdiri tegak Hong-gi-hiap Souw Thian Hai, memanggul siauw-ongya yang pingsan. Pendekar itu tampak kesakitan pula. Telunjuk kirinya sibuk menotok di beberapa bagian lengan kanannya yang kehitam-hitaman.

Kemudian dengan tergesa gesa pendekar sakti itu meloncat menghindar dari tempat yang hingar-bingar tersebut.

"Saudara Chu, bawa kawanmu yang terluka itu keluar dari tempat ini ! Sebentar lagi akan terjadi perang besar di dusun ini!" teriaknya sebelum hilang dari pandang mata.

"Pengecut! Jangan lari…!” Yang Kun yang terluka itu berteriak marah. Dengan agak sempoyongan pemuda itu berlari mengejar Hong-gi-hiap.

Chu Seng Kun terkejut, apalagi ketika dijalan sudah terdengar sorak-sorak perajurit yang bertempur. Pendudukpun sudah terlihat berlarian kesana kemari mencari tempat perlindungan. Wanita dan anak-anak tampak menjerit-jerit ketakutan mencari suami dan ayah mereka.

"Yang-hiante, tunggu !" Chu Seng Kun berlari pula dari tempat itu.

(Oo-dwkz-hend-oO)


Perang!

Bagaimanapun macam dan bentuknya perang adalah tragedi yang paling buruk dalam hidup kebudayaan manusia. Dari dulu hingga sekarang perang adalah sama saja, semuanya tak ada keuntungannya, yang ada hanya kerugian, kerusakan dan kehancuran ! Kehancuran dalam bidang apa saja, baik bidang kejiwaan maupun bidang kebendaan! Maka tak seorangpun di dunia ini yang suka akan perang. Perang
hanya akan merampas kebebasan hidup mereka! Perang hanya akan memunahkan hasil kerja yang telah mereka timba dengan darah dan keringat mereka. Perang hanya akan menjauhkan ketenteraman hidup mereka. Pendeknya, perang hanya berarti penderitaan dan kesengsaraan!

Meski begitu, perang ternyata selalu berulang, dari zaman ke zaman. Seakan-akan perang itu memang sebagian dari kegiatan hidup manusia. Seakan akan semua masalah dalam kehidupan ini akan dapat diselesaikan dengan perang.

Sehingga bagaimanapun juga perang akan selalu ada. Mungkin semuanya itu akan berhenti kalau kehidupan juga telah tiada !

Pasukan Yap Tai-ciangkun yang diperkirakan tengah hari baru akan tiba itu ternyata sudah muncul bersamaan dengan terbitnya matahari di ufuk timur. Biarpun pasukan itu jumlahnya lebih sedikit, tetapi karena datang secara mendadak, apalagi pihak lawan belum bersiap sama sekali, maka dengan mudah dapat menguasai medan pertempuran.

Sementara itu, Yang Kun yang berusaha mengejar Hong gi hiap Souw Thian Hai ternyata mengalami banyak hambatan di jalan. Pemuda itu tidak menyangka bahwa Hong-gi-hiap bisa melontarkan pukulan sedemikian dahsyatnya, sehingga bisa melukai bagian dalam tubuhnya.

Semakin kuat ia mengerahkan tenaganya semakin terasa pula sakit di dalam dadanya. Beberapa kali pemuda itu harus berhenti berlari untuk mengambil napas! Dan rasa sesak itu semakin mengganggu ketika beberapa kali pula ia harus meloloskan diri dari kepungan Yap Tai-ciangkun yang datang.

Apalagi kalau ia harus menghadapi perwira-perwira yang punya kepandaian lumayan. Rasanya luka itu semakin menganga saja di dalam rongga dadanya. Lambat laun Yang Kun makin sukar mengerahkan tenaga saktinya. Oleh karena itu ketika berhadapan dengan beberapa orang perwira Kepercayaan Yap Tai-ciangkun, Yang Kun mulai mendapatkan luka luka pada tubuhnya. Dan biarpun beberapa orang diantara lawannya menjadi korban pula dari pukulan dan darahnya yang beracun, tetapi kalau diteruskan pemuda itupun takkan bisa bertahan lebih lama lagi. Celakanya, karena suasana di tempat itu memang kelewat ribut, maka sudah sekian lamanya pula Chu Seng Kun belum juga muncul.

Untunglah pada saat yang gawat itu datang juga sebuah pertolongan yang tak disangka sangka !
"Lo-jin-ong......oh...... Lo-jin-ong!”

Dari dalam gelap tiba tiba muncul kakek tua anggota Imyang-kauw itu. Dengan berlari lari kecil orang tua itu menghambur ke arah pertempuran. "Lojin-ong! Jangan takut, hambamu datang membantu," serunya lantang.

Kedatangan kakek itu justru membuat Yang Kun menjadi kelabakan. Dia sendiri dalam keadaan repot, kalau harus melindungi pula orang tua tersebut keadaan mereka tentu akan semakin runyam.
Benarlah, begitu bergerak kakek itu nyelonong begitu saja di antara berkelebatnya senjata. Yang Kun terbelalak, ingin ia menolong tapi dadanya seperti terbakar secara mendadak dan badannya justru terbanting ke atas tanah.

"Lo-jin ong......"

Yang Kun tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Matanya menjadi gelap, lalu ia tak ingat apa-apa lagi.

Pemuda itu tak tahu pula berapa lama ia pingsan. Hanya ia menjadi heran ketika siuman kembali tubuhnya justru telah berada di atas gendongan kakek sinting itu. Sepatunya terasa basah dan telinganya
seperti mendengar gemericiknya air mengalir. Dan dikejauhan masih terdengar pula suara pertempuran yang riuh.

Agaknya kakek itu tahu juga kalau Yang Kun sudah sadar.

"Lo-jin-ong, parit yang dalam inilah satu-satunya jalan paling aman untuk menghindar dari mereka," katanya gembira biarpun napasnya kelihatan tersengal.

"Kek, lepaskan tanganku ! Biarkan aku turun dan berjalan sendiri.....!" Yang Kun berkata dengan perasaan tak enak.

"Ah, tak apalah ! Lo Jin-Ong tak perlu sungkan kepadaku. Lo jin ong masih sakit,” kakek itu menolak.

Yang Kun akan memaksa turun juga, tetapi tiba tiba lukanya terasa menyengat lagi sehingga niat itu cepat ia urungkan.

"Kek, ke mana kita akan pergi......?” pemuda itu bertanya sekedar untuk menutupi rasa rikuhnya.

"Hmm, ke mana lagi? Tentu saja ke kuil kita sendiri yang ada di belakang bukit itu. Di sanalah hambamu selama ini bertapa.......!”

Mereka menyusuri parit itu sampai ke pinggang bukit. Dan di tempat yang landai tersebut mereka naik ke daratan. Kakek yang sudah tua itu tampak semakin tersengal-sengal. Meski begitu wajahnya selalu ramai dengan senyuman. Kelihatan sekali kalau hatinya gembira bukan main dapat menolong Chin Yang Kun.

"Lojin-ong, tempat ini sangat aman sekali... Bolehkah hambamu ini beristirahat sebentar untuk melepaskan lelah di sini? Nanti kalau sudah terang tanah kita dapat melanjutkan perjalanan melalui punggung bukit itu.....heh-heh !"

"Silahkan, kek ..... silahkan!" Yang Kun menjawab cepat.

"Engkau tentu lelah sekali.”

"Wah, memang benar.....„ habis badan sudah tua.....kepandaian silatpun tiada punya." orang tua itu mengeluh sambil menurunkan tubuh Yang Kun ke atas tanah."Coba hamba mempunyai kepandaian seperti Lojin-ong atau Tai si-ong, sepuluh orangpun akan mampu hamba panggul naik ke puncak bukit itu tanpa berhenti."

Kakek itu menyandarkan tubuhnya ke sebuah batu, lalu mengipas-ngipaskan tangan ke arah leher untuk mengusir keringat yang meleleh. Tampak benar kalau dia baru saja mengerahkan tenaganya secara berlebihan. "Heh..heh...... tak usah setinggi Lojin-ong atau Tai-si-ong, bisa sejajar dengan Pang Cu si (Pengurus Perkumpulan) atau Kauw Cu-si (Pengurus Keagamaan) saja sudah senang sekali rasanya....."

“Pang Cu-si..... Kauw Cu-si? Maaf kek, siapakah mereka itu?" Kakek tua itu terbelalak sebentar, lalu tersenyum tersipu - sipu.

“Ah, Lo-jin-ong benar-benar suka menggoda orang... Masakan dengan anak buah sendiri tidak tahu. Bukankah sampai sekarang Song Kang Cu-si dan Tong Ciak Cu-si masih memangku jabatan mereka itu?”

Yang Kun menghela napas berkali-kali.

"Itulah repotnya kalau kakek masih tetap juga tidak percaya kepadaku.,.." katanya kesal. “Sudah kukatakan sejak semula bahwa aku ini bukan Toat-bengjin! Tapi kakek tidak percaya juga....”

Yang Kun menatap orang tua itu lekat lekat, maksudnya agar orang itu tahu kalau dia bersungguh-sungguh dalam ucapannya. Tapi benar-benar celaka ! Wajah yang semula ramai dengan senyuman itu tiba-tiba saja berubah keruh dan sedih, mata yang berkeriput itu menjadi merah berkaca kaca....

"Maaf kek. Mungkin pengakuanku ini sangat melukai hatimu...... Tapi ... sebenarnyalah......" Yang Kun segera menghentikan kata-katanya.

Tampak olehnya kakek tua itu mulai menyeka air mata yang bercucuran di atas pipinya. Tapi Yang Kun telah bertekad untuk menghentikan kesalahsangkaan ini. la tak ingin semuanya ini menjadi berlarut-larut, sehingga akhirnya ia sendiri pulalah yang nanti akan mendapatkan kesukaran.

“Kakek, coba bayangkan….! Bagaimana akan repotnya nanti dan betapa akan malu ku….. apabila......"
Tapi belum juga kata-kata itu habis, kakek sinting yang sedari tadi sudah siap menangis itu keburu membanting tubuhnya ke atas tanah dan berguling-guling kesana kemari sambil melolong-lolong.
"Lo-jin-onggg….. ohhh …... Lo-jin-ong, kukira Lojin-ong benar benar telah memaafkanku. Kukira Lo-jin-ong telah menerima aku sebagai hambamu..... oh, ternyata …. ternyata tidak ! Lojin-ong masih tetap mau membunuhku ! Oohh... !" suaranya sangat keras sehingga mengagetkan burung-burung yang mulai keluar dari sarangnya.

Tentu saja Yang Kun menjadi kelabakan lagi. Matanya nyalang menoleh kesana kemari, takut kalau ada orang lewat yang mendengarnya. Siapa tahu pula di dekat mereka ada musuh atau orang jahat? Kan repot nanti!

"Kek, lekaslah kau diam ! Didengar orang bisa celaka kita !” pemuda itu berseru gugup.

"Biarlah ! Ada orang atau tidak, aku toh tetap akan dihukum mati, hoa - hoa... ! Dan aku tidak mau mati sambil tertawa seperti semua kurban Toat-beng-jin selama ini ! Hoa-hoaha...... hoa....!” kakek itu menangis bertambah keras. Dan lagaknya pun semakin bertambah gila. Kalau semula hanya bergulingan, kini ditambah pula dengan menyobeki pakaiannya !

“Kurang ajar ! Kambing tua berotak udang...!" Yang Kun berteriak saking jengkelnya, sehingga luka di dalam dadanya terasa perih kembali. "Ohh, bangsat tua... kau benar benar menjengkelkan hatiku!" kemudian keluhnya lirih sambil mendekap dada.

Sebaliknya, mendengar Yang Kun mengumpat-umpat, kakek itu justru menghentikan ulahnya yang konyol. Masih dengan terlentang di atas tanah orang tua itu menatap Yang Kun dengan ragu-ragu. Lalu perlahan-lahan wajahnya menjadi cerah kembali. Apalagi ketika dilihatnya wajah Yang Kun semakin masam dan keruh, kontan ia bangkit dan berlari menubruk kaki si pemuda.

"'Oh, Lojin-ong. . terima kasih! Hambamu tahu bahwa engkau akan mengampuni juga.....! Hei ?" tiba tiba kakek sinting itu berseru kaget.

Kakek itu menaruh jarinya di depan mulut lalu bergegas menyeret tubuh Yang Kun ke dalam semak.

"Awas! Ada orang datang!” bisiknya ke telinga Yang Kun.  Yang Kun diam saja. Hatinya masih merasa jengkel bukan main !

Celakanya, kakek sinting itu seperti tak tahu kalau Yang Kun sedang jengkel. Enak saja dia melenggut ketiduran di dalam semak persembunyian mereka, membuat jumlah kerut merut di dahi Yang Kun semakin bertambah banyak. Apalagi ketika sekian lamanya dinanti, orang yang dimaksudkan itu belum lewat juga.

“Hei, kambing tua ...! Mana orang itu? Mengapa sudah sekian lama tidak juga terdengar langkahnya?" Yang Kun bertanya mendongkol. Benar-benar sinting!

Kakek itu justru amat gembira sekali dimaki sebagai kambing tua. Dengan tersenyum simpul ia menjawab seenaknya, "Entahlah, mungkin masih jauh! Akupun belum mendengar langkahnya....”
Ingin rasanya pemuda itu menggantung kakek konyol itu, kemudian mencabuti kumis dan jenggotnya selembar, biar sedikit tahu rasa!

Tapi bila melihat kembali ke arah tubuhnya yang kurus, lemah dan kelihatan memelas itu tak tega pula hati Yang Kun untuk berbuat kasar. Apalagi mengingat bagaimana kakek tua itu telah bersusah payah menggendong dirinya sampai ke tempat tersebut, hatinya terasa menjadi dingin kembali.

"Lalu ..... apa maksudmu mengatakan ada orang datang dan kemudian menyeretku ke semak-semak begini ?"

"Tidak ada maksud dari kambing tua.. eh, maksud hamba...... hamba tidak bermaksud apa-apa. Anu…..hamba memang tidak atau mendengar suara langkahnya, tetapi..... hamba merasa pasti akan ada orang yang datang sebentar lagi. Soalnya perasaan hamba telah mengatakan hal itu ...." orang tua itu agak takut juga melihat sinar mata Yang Kun yang seram.

“Perasaan.,,,? Merasa.,..? Sungguh gila !" Yang Kun menggeram.

“Eh? memangnya kenapa? Apakah hamba salah omong, Lo jin-ong....?" orang tua itu heran.
"Bukankah manusia dibekali dengan akal, budi dan perasaan oleh Thian? Nah, kalau kita mempergunakan ketiga hal itu secara bersungguh sungguh, kita tak usah terlalu mengandalkan kelima panca indera kita seperti telinga, mata dan hidung ini…." sambung kakek itu sedikit penasaran,

"Jadi maksud kakek..... oh…." Yang Kun segera menutup mulutnya. Kini telinganya benar benar mendengar langkah kaki orang yang datang ke tempat itu. Gila, benar juga kata kakek sinting ini, pemuda itu membatin. Atau hanya kebetulan saja ?


Yang Kun sungguh sungguh menahan napas ketika dari jauh terlihat dua orang berjalan menyusuri parit. Salah seorang diantaranya tampak memanggul sesuatu di pundak kanannya. Mereka tampak mengayun langkahnya dengan pelan, tapi sekejap kemudian ternyata mereka telah melayang tiba, sehingga tanpa berjanji Yang Kun dan kakek sinting itu saling pandang dengan sinar mata kagum. Tapi kekaguman kakek itu segera berubah menjadi kekagetan begitu tahu dengan jelas siapa yang datang!
"Put-gi-ho (Burung Bangau Tak berbudi), kita menanti sebentar di sini! Biarlah matahari naik agak lebih tinggi. Tak enak rasanya berkunjung   ke tempat orang terlalu pagi......" salah seorang diantara kedua orang itu, yaitu yang bertubuh gemuk, berkata sambil meletakkan pantatnya di atas batu  yang tadi dipakai bersandar si kakek sinting.

Temannya, yang bertubuh tinggi kurus dan dipanggil dengan nama Put-gi-ho mengangguk. Tubuh wanita yang tadi dipanggul di atas pundaknya, ia letakkan di atas rumput. “Put-chih to (Jalan Tidak Lurus), kau benar! Kita memang harus berhati-hati! Apalagi kita membawa kawan mereka yang terluka sedang kita sendiri dengan mereka selalu berselisih.Salah-salah bisa terjadi salah paham nanti.”

Kalau semula kakek sinting tersebut yang kaget, kini ganti Yang Kun yang terkejut melihat tubuh wanita yang terletak di atas rumput itu.

“Gadis buntung!” pemuda itu berseru dalam hati. "Hmm, mengapa dia sampai terluka? Bukankah kemarin pergi bersama sama dengan kedua gadis anak buah Keh sim Siauw hiap itu? lalu kemana kedua kawannya tersebut ?"

Yang Kun dan kakek sinting tak terasa saling memandang lagi. Ternyata masing-masing telah mengenal salah seorang dari ketiga orang yang ada di depan mereka itu.

"Lo Jin-ong mengenal gadis buntung yang terluka itu?"
kakek tersebut berbisik di telinga Yang Kun.
"Tidak!" Yang Kun berbisik pula. "Aku hanya pernah bertemu dengan dia di perkampungan pengungsi. Lalu...
siapakah kedua orang yang membawanya itu? Mengapa namanya demikian aneh-aneh?"

Kakek itu tersenyum lagi. “Ah, Lojin-ong bergurau pula ..” bisiknya malu-malu. "Bukankah mereka sering berselisih dengan kaum kita? Kini .... lihatlah dandanan mereka !”
Yang Kun mengawasi dandanan kedua orang tersebut.
Mereka tampak berdandan secara biasa cuma mereka tidak bersepatu dan rambutnya yang panjang tidak digelung seperti kebanyakan orang, tapi
hanya diikat dengan tali di atas
kepala. Sehingga sepintas lalu rambut tersebut menyerupai
ekor kuda.
Yang Kun kembali menoleh ke arah kakek sinting. la
merasa tidak ada keanehan pada dandanan mereka.
"Ah, masa Lo-jin-ong sudah lupa pada dandanan seperti itu? Namanya saja sudah pakai put
semua, bukankah mereka
orang orang Bing-kauw (Aliran Bing)?" bisik kakek itu penasaran.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pemuda itu menatap si kakek dengan dahi berkerut.
Hampir saja dia marah. Untung hati kecilnya segera sadar kembali.
Memang benar. Mendiang paman bungsunya memang
pernah mengatakan tentang hal itu. Di masyarakat memang
banyak aliran agama atau kepercayaan yang berkembang, di
antaranya adalah Bing-kauw tersebut. Tetapi karena baru kali ini ia menjumpai atau
melihat mereka, maka ia tidak segera mengetahuinya.

Sementara kedua orang Bing kauw itu tampak berbicara satu sama lain.
"Put gi-ho, mengapa tidak kita bawa saja gadis ini ke gedung pusat Im-yang-kauw
sekalian? Mengapa hanya kita
bawa ke kuil di belakang bukit itu? Apakah engkau takut?"
Put-chih-to bertanya.

“Hmh !” Put gi-ho mendengus. "Apakah engkau pernah mendengar kalau aku takut kepada mereka ? Aku tidak pernah takut kepada siapapun, biar terhadap Tai si ong atau Toat beng jin mereka! Aku hanya ingin melaksanakan anjuran isteri Kauw cu (Ketua Aliran
Agama) kita yang baik budi itu....
Siapapun dilarang membuat kerusuhan atau memancing mancing kerusuhan dengan aliran lain. KUIL ITU BUKAN
KANDANG KUDA. SEBAB KANDANG KUDA ADA DI MULUT
LETAKNYA !”
"Benar ! Maafkan aku, aku hanya ingin mengetahui
pendapatmu saja,” Put chih to berkata pula. "Aku juga sangat menghargai anjuran isteri Kauwcu tersebut. Apalagi kalau diingat bahwa pendapat orang tidak ada yang sama KUDA PUTIH ADALAH HITAM !"

Yang Kun menatap kakek sinting dengan bingung. Selain nama mereka sangat aneh, ucapan ucapan yang mereka keluarkanpun aneh-aneh pula. Kuil itu bukan kandang kuda, kuda putih adalah hitam! Apakah artinya semua itu?  Agaknya kakek itu melihat juga kebingungan Yang Kun.
                                          
Dengan menahan ketawa ia berbisik. "Mereka menyebut nama Lo jin ong…. Lo-jin-ong tidak perlu bingung! Kita tak perlu mendengarkan ucapan-ucapan mereka yang aneh, karena hal itu sudah menjadi ciri khas mereka. Ini saja belum ! Kalau Lojin-ong nanti berjumpa dengan Put ceng li Lojin, wah kutanggung bisa sakit kepala nanti."

"Put-ceng-li lo-jin (Si Orang Tua Yang Tak Punya Aturan)? Siapakah dia?"

Kakek sinting itu merengut dengan mendadak. "Lojin ong mau menggoda aku lagi ..” desahnya pelan. “Setiap orang kan tahu, kalau Put-ceng-Ii Lo-jin adalah ketua Bingkauw….”

Yang Kun diam, tak ingin dia berbantah lebih lanjut dengan kakek sinting itu. la mengalihkan pandangannya ke tubuh gadis buntung yang tergeletak di atas rumput. Biarpun dalam keadaan tak sadar gadis itu   tampak cantik bukan main. Di bawah sinar matahari pagi yang cerah pipi yang putih halus itu kelihatan membara kemerah-merahan seperti buah tomat yang siap untuk dipetik. Sayang mengapa lengan kiri itu mesti buntung?

Ya, mengapa lengan itu mesti tidak ada ? Apa yang menyebabkannya? Adakah cacat itu memang terjadi sejak kecil? Ataukah lengan itu dipatahkan orang ? Yang Kun memandang tubuh indah itu sepuas-puasnya.

Alangkah kasihan dia ! lngin rasanya pemuda itu memberikan lengannya, agar kecantikan itu menjadi sempurna sekali…..

"Put gi ho, untung benar kita mendapatkan pimpinan seperti isteri Kauw cu itu. Sejak dia berada di Rumah Suci mendampingi Kauw-cu, perkumpulan kita semakin besar dan
teratur....."

"Dan beliau demikian cantiknya. Alangkah bahagianya Kauw cu!"

“Ssst ! Matahari sudah demikian panasnya, ayoh kita berangkat!"

Kedua orang Bing kauw itu mengangkat tubuh gadis itu kembali lalu berangkat meneruskan perjalanan mereka. Sedang Yang Kun dan kakek sinting mengawasi saja langkah mereka hingga mereka tak bisa melihat lagi.

"Kek, agaknya tujuan mereka sama dengan kita….."

“Benar! Lo-jin-ong, marilah kita juga lekas-lekas pergi ke sana! Agaknya ada sesuatu yang penting..... " kakek itu berkata sambil mendekati Yang Kun untuk menggendongnya kembali.

"Biarlah aku berjalan sendiri, kek ! Asal tidak terlalu cepat kukira aku bisa juga berjalan."

"Lo-jin-ong.......”

"Sudahlah, kek! Marilah kita berangkat !” pemuda itu berkata sambil mengangkat tubuhnya untuk berdiri. Lalu dengan perlahan ia mulai melangkahkan kakinya. Mula mula perlahan, akhirnya dapat juga melangkah sedikit cepat.

Kakek sinting itu membuntuti terus dengan perasaan khawatir, tapi ketika dilihatnya pemuda itu bisa juga berjalan sendiri, iapun lalu berjalan di sampingnya dengan perasaan lega.

“Heran! Ada juga perwira kerajaan yang berkepandaian tinggi sehingga mampu melukai lo-jin-ong," kakek itu berkata sambil mengawasi Chin Yang Kun.

"Hmm!" Yang Kun menggeleng dengan cepat. "Bukan perwira perwira itu yang melukai aku…”

"Bukan mereka? Lalu siapa….?"

"Hong gi hiap Souw Thian Hai!"

"Hah??" kakek itu tersentak sehingga terbatuk batuk.

Keduanya berhenti melangkah.

"Ada apa kek? Kenapa engkau begitu kaget mendengar nama itu?”

Kakek itu membersihkan mulut dan jenggotnya dengan telapak tangannya sebelum menjawab pertanyaan itu.

"Jadi Lo-jin-ong telah bertempur dengan pendekar muda itu? Ah..."kakek itu menghela napas berkali-kali.

Tentu saja pemuda itu semakin terheran-heran.

"Apa sih yang aneh?" tanyanya tak mengerti.

Kakek Sinting itu mengangguk angguk dengan pandang mata jauh.

"Ah, kalau begitu khabar yang tersebar selama ini benar juga adanya. Dia memang benar benar hebat !"

"Kek, apa yang kaukatakan?"

"Lo-jin-ong, mungkin karena Lo jin-ong selalu berdiam di Kuil Agung yang berada di Gedung Pusat, maka tidak pernah mendengar atau mengetahui segala sesuatu yang terjadi di luaran. Maksud hamba ...yang terjadi di dunia persilatan!”

"Hmmm.......lalu?"

Sambil melangkah perlahan lahan kakek itu bercerita.  Sejak Empat Datuk Besar Persilatan telah tiada, puluhan tahun lamanya dunia kang-ouw hanya dipenuhi dengan cerita tentang keganasan dan sepak terjang para tokoh dunia hitam yang bermunculan bagai jamur di musim hujan. Mereka menteror dan mengganggu penduduk tanpa rintangan.

Mereka seperti mendapat kesempatan karena pemerintah sibuk dengan perang saudara dan perang perbatasan, sementara tidak seorang pendekarpun yang muncul untuk menghadapi mereka.

Biarpun Empat Datuk Besar itu yang mempunyai keturunan dan anak murid, tapi tidak ada di antara mereka yang menonjol atau sesakti nenek moyang mereka tersebut. Malah banyak di antara mereka yang menjadi korban keganasan  tokoh-tokoh hitam itu. Oleh karena itu semakin lama semakin tampak kalau dunia semakin dikuasai oleh para penjabat.

Mereka malang-melintang dan meraja lela di antara penduduk dengan kejamnya.
Begitu hebat kekuatan dan kekuasaan mereka sehingga dengan enaknya mereka membagi-bagi daerah Tiongkok yang luas itu menjadi beberapa daerah kekuasaan. Dan setiap daerah dikuasai oleh seorang raja tak bermahkota, seorang yang terlihai dalam daerah itu. Dan raja tak bermahkota ini selalu berganti ganti setiap waktu, sebab dalam kamus mereka siapa yang terlihai adalah yang menjadi raja.

Akhirnya pada belasan tahun yang lalu, secara hampir berbareng, di setiap daerah itu muncul seorang tokoh hitam yang untuk waktu lama tiada punya lawan lagi. Sehingga dalam waktu bertahun-tahun mereka menjadi raja yang tak tergoyahkan di daerah masing-masing. Mereka adalah Su-go (Buaya Sakti) Mo Kai Ci, yang berkuasa di daerah perairan sungai, rawa, telaga dan tempat tempat perairan lainnya.

Tokoh ini menguasai segala penjahat yang beroperasi di daerahnya, sehingga dapat dibayangkan betapa besar dan hebat kekuasaannya. Dan dapat dibayangkan pula betapa hebat ilmu kepandaiannya sehingga ia mampu menaklukkan ratusan bahkan ribuan penjahat yang malang-melintang di daerahnya yang luas.

Tokoh yang kedua adalah San hek houw (Si Harimau Gunung). Tokoh ini tidak kalah lihainya dengan Sin go Mo Kai Ci, kalau tidak lebih lihai malah. Tokoh yang berwajah dan berwatak kasar ini menguasai dusun dusun, hutan dan gunung serta kota kota yang tidak dijaga oleh pasukan kerajaan.
 Tokoh ini ke mana mana selalu memakai baju kulit binatang dan membawa sepasang harimau kumbang!

Tokoh yang ketiga, yaitu tokoh yang jarang sekali muncul di tempat ramai, tapi ternyata adalah tokoh yang paling lihai di antara mereka, adalah Tung-hai tiauw (Rajawali Laut Timur).

Tokoh yang berkepandaian sangat tinggi ini hampir tidak pernah terlihat di daratan Tiongkok, karena daerah kekuasaannya memang berada di Lautan Timur yang luas.

Mereka bertiga sering di sebut Sam Ok (Si Tiga Jahat) oleh para penduduk. Dan memang mereka itulah yang menjadi dewanya tokoh hitam selama bertahun-tahun!

Tetapi keadaan seperti itu ternyata tidak kekal pula. Kira - kira enam atau tujuh tahun yang lalu dari dunia hitam muncul pula seorang iblis lagi, yang kesaktiannya ternyata jauh lebih dahsyat dari pada ketiga Sam Ok tersebut.

Iblis itu mengaku masih keturunan Bit-bo ong yang hidup sezaman dengan Empat Datuk Besar itu. Dan sebagai buktinya iblis tersebut mengenakan segala perlengkapan dan ciri ciri kebesaran dari Si Raja Kelelawar juga.

Dengan cepat dan mudah iblis itu menaklukkan Sin-go Mo Kai Ci dau San hek-houw, kemudian mengobrak-abrik sarang Tung-hai-tiauw di Lautan Timur.

Setelah ketiga Sam Ok itu dapat ditaklukkan, Bit-bo-ong tiruan itu mengangkat dirinya menjadi raja diraja dari semua tokoh golongan hitam. Tapi hal itupun ternyata belum memuaskan iblis yang serakah tersebut. Dengan mengerahkan seluruh kaumnya, iblis itu memberontak terhadap Kaisar Chin Si Hong te. Tentu saja hal itu membuat Kaisar Chin repot bukan main, sebab pada saat itu juga pemerintahannya sedang menghadapi rongrongan pemberontakan Chu Siang Yu dan Liu Pang. Sedangkan untuk menghadapi pemberontakan Chu Siang Yu yang dibantu oleh pasukan asing dan pemberontakan Liu Pang yang disokong oleh seluruh rakyat saja Kaisar Chin mengalami kesukaran, apa lagi harus ditambah dengan pemberontakan Kaum Hitam. Maka tak heran kalau akhirnya Kaisar Chin terpaksa harus melepaskan Singgasananya.

Bit bo-ong tiruan sempat duduk di singgasana emas itu selama empatpuluh hari. Tapi pada hari yang ke empatpuluh satunya, kekuatan pemberontak Chu Siang Yu telah menjebol benteng kota raja dan mengenyahkannya. Bagaimanapun saktinya iblis itu, tapi menghadapi ribuan bahkan laksaan manusia, mana dia mampu?

Iblis itu meloloskan diri dari kota raja diikuti oleh para pembantu utamanya yang  terdiri dari tokoh tokoh golongan  hitam. Dan istana kerajaan ganti dikuasai oleh Chu Siang Yu.
Tapi keadaan itupun tak berlangsung lama, karena  beberapa hari kemudian Barisan Para Pendekar yang dipimpin oleh Liu Pang telah memasuki kota raja pula. Perang besarpun terjadi. Keduanya sama-sama mempunyai kekuatan yang maha besar. Tapi karena pasukan Chu Siang Yu baru saja mabuk kemenangan, maka mereka menjadi lengah. Apalagi mereka juga baru saja berselisih dengan pasukan asing yang membantu mereka, maka akhirnya pasukan Chu Siang Yu tidak dapat menahan amukan pasukan Liu Pang. Dan kota rajapun berpindah tangan lagi! Sekarang Liu Pang yang berkuasa dengan gelar Kaisar Han.

Nah ! Pada saat negara ribut seperti itulah di dunia persilatan muncul seorang pendekar muda yang mempunyai kesaktian seperti dewa. Sayang pendekar muda itu menderita sakit lupa ingatan, sehingga
segala gerak geriknya amat membingungkan orang. Kadang kadang membantu pihak ke satu, kadang kadang membantu pihak yang lain, atau kadangkala justru memusuhi semua pihak !

Dengan kepandaian kata-katanya, akhirnya Liu Pang bisa menarik pendekar itu menjadi pembantunya. Dan untuk selanjutnya, dalam setiap pertempuran, tak seorangpun mampu bertahan terhadap pendekar muda itu. Semua digilasnya, termasuk Bit bo ong tiruan dan kawan kawannya yang melarikan diri itu !

Kakek sinting itu mengakhiri ceriteranya dengan menghela napas berulang ulang.

"Demikianlah lo-jin ong.... Pendekar muda yang hebat itu khabarnya bernama Hong-gi hiap Souw Thian Hai! Oleh karena itu betapa kaget hati hamba tadi mendengar Lojin-ong telah dilukai oleh pendekar itu!”

Yang Kun hampir tidak mendengar kata kata terakhir dari kakek sinting tersebut, sebab dia sendiri sedang sibuk berpikir tentang ceritera yang menyinggung persoalan keluarganya itu.
Hanya sekarang pemuda itu mendengar ceritera yang sudah sering ia dengar dari mulut pamannya itu dalam versi yang berbeda!

Paman pamannya tidak pernah mengatakan bahwa sang pek hu yang bergelar Bit bo-ong itu adalah seorang raja penjahat yang sangat dibenci orang. Paman pamannya selalu mengatakan bahwa pek hunya adalah seorang pahlawan penyelamat Dinasti Chin mereka.

Pada waktu berita kematian Kaisar Chin Si Hong-te terdengar oleh keluarga dan seluruh punggawa kerajaan, semuanya menjadi bingung dan khawatir, karena pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Chu Siang Yu dan Liu pang telah berada tak jauh dari kota raja. Pada saat yang genting seperti itulah menurut penuturan pamannya sang pek hu tampil ke depan untuk mengambil alih tugas berat tersebut.

Tapi karena musuh yang datang memang terlalu kuat, apalagi pada saat itu tentara kerajaan sudah terpecah belah, maka laju pasukan pemberontak sudah tak bisa dibendung lagi, Kota raja jatuh ! Pek hu serta pembantu pembantunya mati di tangan salah seorang pimpinan pasukan musuh yang bernama Hong gi-hiap Souw Thian Hai!

Souw Thian Hai! Lagi-lagi Souw Thian Hai, pemuda itu menggeretakkan giginya. Dahulu telah membunuh pek hunya, sekarang membunuh ibu dan adik adiknya pula ! Sungguh menyesal ketika ia dapat meringkus orang itu di tepi Sungai Huang-ho, tidak segera membunuhnya.

Suatu saat aku akan membunuhnya pula, pemuda itu berkata di dalam hati. Bukan karena kematian pek-hunya, tetapi karena kematian ibu dan adik-adiknya ! Soal kematian pek-hunya itu sudah lumrah dalam peperangan besar. Orang tidak bisa menyalahkan setiap pribadi yang melakukan pembunuhan dalam pertempuran. Kalau toh dia ingin mencari orang yang menjadi penyebab semua itu dan ingin membalas dendam, ia harus menimpakan semua itu kepada penanggung jawabnya, yaitu Kaisar Han.

Sementara itu si kakek sinting tampak ketakutan melihat air muka Yang Kun yang menyeramkan itu. Dalam pandangannya air muka itu seperti berubah menjadi muka raksasa yang seram dan mau menelan dirinya.

“Lo-jin ong, hamba takut. ..! Jangan memandang hamba seperti itu!" ratapnya gelisah.

Yang Kun tersentak dari lamunannya. Dengan membuang napas pemuda itu melemparkan pandangannya ke depan, ke arah kuil yang telah sayup-sayup terlihat di kejauhan sana.

"Kek, lihat ! Kedua orang itu telah kembali!" tiba-tiba pemuda itu berseru kaget.

"Hah? Mana? Oh,., benar! Marilah kita bersembunyi lagi. Lo-jin ong!" kakek itu menggandeng tangan Yang Kun dengan tergesa, dan di Iain saat mereka telah bersembunyi di balik pohon-pohon yang rimbun.

“Telah kukatakan sejak tadi, kita harus menahan diri agar tidak terjadi salah paham. Bagaimanapun juga gadis itu telah menolong kita dari cengkeraman kematian, sehingga kita harus melaksanakan kata-kata yang diucapkannya sebelum pingsan. Gadis itu menghendaki agar dia dibawa ke kuil Im yang kauw. Tapi dalam kuil itu engkau ternyata tidak bisa menahan dirimu.....!" Put gi ho yang tinggi kurus itu mengomeli kawannya.

"Habis mereka juga keterlaluan, sih . !"

"Yaa..... tapi kejadian ini tentu mengakibatkan suasana menjadi buruk, dan kemungkinan besar akan timbul penumpahan darah yang tak terelakkan !''

Bayangan kedua orang Bing kauw itu hilang di kelokan jalan.

"Hmh, agaknya telah terjadi peristiwa besar di dalam kuil itu," Yang Kun membuka mulutnya.

"Demikianlah agaknya….” kakek itu menjawab dengan gelisah. Mukanya yang penuh keriput tampak pucat sekali.

Lalu, "Lo jin-ong, hamba sungguh khawatir sekali. Jangan jangan telah terjadi sesuatu yang tak diinginkan di dalam kuil kita itu. Lo jin ong… mari... marilah kita cepat cepat ke sana!"

Yang Kun segera menggelengkan kepalanya. "Kakek, kau berjalanlah lebih dahulu! Aku akan segera menyusul….." pemuda itu berkata sambil mendekap dadanya yang sakit.

"Ba baik., ba baik, Lo-sin-ong! Hamba menurut....,!" orang tua itu mengangguk angguk, lalu berlari sempoyongan menuju ke arah kuilnya.

Yang Kun kemudian melangkah perlahan-lahan. Luka dalam itu terasa sangat melemahkan badannya, maka sambil berjalan seenaknya pemuda itu memandang jauh ke sekelilingnya. Siapa tahu secara tak sengaja ia dapat melihat atau memergoki kawannya yang ahli dalam pengobatan itu ?

Tadi malam ia merasa bahwa temannya itu berlari mengejar di belakangnya, tapi entah apa sebabnya sampai mereka berpisah jalan.

"Untuk selanjutnya aku harus lebih berhati-hati bila berhadapan dengan Hong gi-hiap Souw Thian Hai. Orang itu benar-benar lihat sekali !” gumamnya lemah.

Lapat lapat pemuda itu masih dapat membayangkan peristiwa itu. Saat pukulannya yang mengandung tenaga sakti Liong cu I-kang sepenuhnya, hampir mengenai tubuh pangeran yang telah putus asa itu. Saat itu tiba tiba ia merasa seperti ada hawa tajam yang memotong ke arah lengannya.

Ketika matanya melirik tampak segulung asap tipis yang terdiri dari dua warna, berhembus ke arah dirinya, sementara di belakang asap itu meluncur sesosok tubuh yang segera dikenalnya sebagai Hong-gi hiap Souw Thian Hai !

Tak ada kesempatan sama sekali baginya untuk menarik serangannya itu dan kemudian ia pergunakan untuk menyongsong serangan Hong-gi-hiap. Meskipun begitu ia percaya akan kekuatan pertahanan Liong-cu i kang yang ampuh.
Ia benar-benar mengerahkan segala kemampuannya ketika pukulan Hong-gi-hiap tersebut membentur kedua lengannya!

Tapi ternyata kali ini ia sungguh-sungguh salah perhitungan. Kekuatan Iwee-kang lawannya ternyata bukan main hebatnya! Liong cu-i kang yang demikian ampuh serta sudah ia kerahkan sepenuhnya, ternyata masih dapat ditembus oleh kekuatan lawan dan melukai dadanya.

"Tapi aku berdiri di pihak yang bertahan." ia menghibur dirinya sendiri. "Coba kalau kita saling berhadapan muka, mungkin akibatnya akan lain. Aku tidak percaya kalau Iweekangnya lebih kuat dari pada Liong-cu-i-kang !"

Yang Kun melihat kesibukan yang luar biasa ketika ia mulai menginjakkan kakinya di halaman kuil tersebut. Beberapa orang tampak berlarian melintasi halaman samping dan tengah yang luas. Mereka seperti sedang menyiapkan sesuatu yang genting dan besar.