Jumat, 07 Juni 2013

DARAH PENDEKAR 47

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S.Kho Ping Hoo
Bab 47
Ketika Chu Siang Yu dan para pembantu pi-lihannya menyerbu istana, mereka menemui per-lawanan gigih. Kaisar yang jangkung itu dilindungi oleh datuk - datuk sesat seperti Pek - pi Siauw-kwi, Jai-hwa Toat-beng-kwi, Sin-go Mo Kai Ci, San-hek - houw dan masih banyak lagi tokoh - tokoh dunia sesat yang jumlahnya duapuluh orang lebih. Mereka ini mengadakan perlawanan gigih dan ke-tika keadaan mendesak, kaisar sendiri yang maju membela diri dan Chu Siang Yu bersama para pem-bantunya menghadapi suatu kejutan yang hebat. Kiranya kaisar itu amat lihai, bahkan jauh lebih lihai dari pada para pengawalnya, lebih lihai dari pada penjahat besar seperti San-hek-houw sendiri! Banyak sekali perajurit yang roboh dan tewas di tangan kaisar dan para pengawalnya ini. Aneh-nya, Raja Kelelawar sendiri tidak pernah keluar dan agaknya raja iblis yang licik itu siang-siang sudah melarikan diri dari istana !

Akan tetapi ketika Chu Siang Yu dan beberapa orang bekas komandan pengawal termasuk Kim I Ciangkun dan Gin I Ciangkun ikut mengeroyok dan berhasil mendekati kaisar, barulah mereka tahu bahwa kaisar yang amat lihai ini ternyata bulanlah kaisar muda yang diangkat oleh para menteri dunia sebagai pengganti kaisar tua yang telah meninggal! Karena memakai pakaian kaisar, maka hampir sama. Akan tetapi orangnya sama se-kali bukan ! Ini adalah kaisar palsu ! Keadaan men-jadi geger ketika Kim I Ciangkun berteriak - teriak mengatakan bahwa kaisar adalah kaisar palsu !

"Bedebah engkau!" bentak kaisar itu dan ta-ngannya menyambar ke depan. Kim I Ciangkun dibantu oleh Gin I Ciangkun menyambut, mengerahkan sinkang mereka dan keduanya memper-gunakan Hui - ciang dan Swat - ciang yang men-jadi andalan mereka.

"Dessss !"

Hantaman kedua tangan kaisar itu disambut oleh dua orang komandan ini dan akibatnya, dua orang komandan itu terlempar dan terbanting roboh dengan mata mendelik dan napas putus ! Hal ini tentu saja menggegerkan pihak pe-nyerbu. Dua orang komandan itu amat lihai dan kuat, akan tetapi sekali pukul tewas oleh kaisar asing ini!

Chu Siang Yu memberi aba-aba dan masuklah ratusan orang perajurit pilihan menyerbu istana. Melihat ini, kaisar memberi isyarat dan bersama para pengawalnya, dia berhasil membuka jalan berdarah dan meloloskan diri melalui pintu bela-kang. Di antara puluhan orang pengawal dan a-nak buahnya hampir setengahnya roboh dan tewas, akan tetapi kaisar itu sendiri berhasil lolos menye-lamatkan diri.

Perlawanan para pengikut kaisar akhirnya da-pat dilumpuhkan dan Chu Siang Yu berhasil me-nguasai istana. Dua orang pembesar durna yang menjadi biang keladi semua kekeruhan pemerintah, yaitu kepala thaikam yang bernama Chao Kao bersama sekutunya, Perdana Menteri Li Su yang korup, ditangkap dan tidak sempat diadili karena mereka berdua dikeroyok, dipukuli, ditendangi dan diinjak - injak sehingga mereka tewas dalam keadaan yang mengerikan sekali. Mayat mereka menjadi dua onggok daging dan tulang-tulang remuk.

Karena merasa heran melihat betapa kaisar muda yang amat lihai dan berhasil melarikan diri itu ternyata bukan kaisar aseli, Chu Siang Yu mengadakan penyelidikan. Dari pengakuan para tawanan dia mendengar bahwa kaisar muda yang menggantikan kaisar lama diam-diam telah dibu-nuh dengan racun oleh Chao Kao dan kaki tangan-nya, kemudian bersama Li Su dan para pembesar pengkhianat lainnya, diam-diam mereka mengang-kat seorang kaisar baru, yaitu kaisar yang amat lihai ilmu silatnya tadi.

Chu Siang Yu menggeleng - geleng kepala. Tak disangkanya sampai sejauh itu pengkhianatan yang dilakukan oleh para menteri korup. Yang amat mengherankan hatinya adalah tidak munculnya Ra]a Kelelawar dalam penyerbuan di istana itu. keadaan yang mengerikan sekali. Apa gerangan yang telah terjadi dengan raja iblis itu ? Dia teringat betapa pemuda aneh yang ku-mat itu melakukan pengejaran terhadap Raja Kele-lawar, apakah pemuda itu berhasil membunuhnya ?

Banjir darah terjadi di kota raja, sejak dari pintu benteng sampai ke dalam istana. Tak terhitung banyaknya manusia yang tewas, menjadi korban perang yang amat ganas itu. Dan mereka yang menang perang berpesta - pora di atas tanah yang masih berlumur darah, baik darah musuh maupun darah rekan - rekan mereka sendiri. Selagi hawa kematian masih mengotori kota raja, Chu Siang Yu dan pasukan - pasukannya, bersama para sekutu-nya, yaitu pasukan - pasukan asing, merayakan pesta kemenangan dengan meriah sekali. Akan tetapi, seperti biasa terjadi dalam perang, pesta kemenangan ini bukan tidak terjadi bersama pe-ristiwa - peristiwa mengerikan dan menyedihkan bagi para penduduk. Para perajurit yang merasa menang perang mulai bertindak sewenang-wenang Manusia, di bagian dunia yang manapun, selalu condong untuk menciptakan kekuasaan dalam ke-menangan, dan mempergunakan kekuasaan itu un-tuk bertindak sewenang - wenang. Para perajurit yang mabok - mabokan itu berkeliaran di antara rumah para penduduk, dan tidak ada harta benda dan wanita-wanita yang lolos dari gangguan me-reka. Terjadilah perampokan, perkosaan dan pem-bunuhan terhadap mereka yang melawan. Teru-tama sekali para perajurit pasukan asing dari uta-ra yang memang ganas dan liar itu segera mem-perebutkan para wanita penduduk kota raja, tidak perduli wanita itu cantik atau buruk, muda ataupun tua.

Bukan hanya wanita - wanita penduduk kota raja yang menjadi sasaran. Juga keluarga para pembesar, para dayang istana, para puteri yang cantik - cantik dijadikan rebutan. Banyak peristiwa perkosaan dan pembunuhan keji terjadi di de-pan mata perajurit pribumi sendiri, dan bagaima-napun juga, perasaan setia kawan sebangsa mem-buat para perajurit pribumi menjadi marah. Mu-lailah terjadi bentrokan - bentrokan antara para pe-rajurit pribumi melawan perajurit asing itu. Mu-la - mula memang bentrokan kecil saja antara pe-rajurit, memperebutkan wanita atau harta benda, akan tetapi bentrokan pribadi disusul bentrokan kelompok dan golongan, kemudian bentrokan an-tara pasukan!

Para pimpinan pasukan tidak berhasil melerai, bahkan mereka terseret dan terjadilah pertempuran secara terbuka ! Pesta kemenangan yang dirayakan selama dua tiga hari itupun kini berobah menjadi pesta pertempuran yang makin lama semakin he-bat, seolah - olah berobah menjadi, perang terbuka ! Kembali kota raja dilanda pertempuran hebat yang mengorbankan lebih banyak lagi jiwa manusia Melihat ini, Chu Siang Yu mengerahkan pasukar-pasukannya dan dia tidak bertindak kepalang tang-gung. Dia melihat betapa pasukan asing yang tadi nya menjadi sekutunya itu amat tamak dan kalau dibiarkan kelak hanya akan menjadi pengganggu jalan pemerintahannya saja. Ternyata orang-orang asing itu amat tamak dan menuntut terlalu banyak dari jasa bantuan mereka. Siapa tahu kelak malah akan merampas kedudukannya, maka sebelum hal-hal yang lebih buruk terjadi, lebih baik basmi saja mereka. Kesempatan baik terbuka dan alasannyapun cukup kuat, yaitu dengan adanya permusuhan- permusuhan antara pasukan mereka.

Terjadilah pertempuran hebat dan dalam wak-tu dua hari dua malam, pasukan asing itu dapat dibasmi habis karena memang tentu saja jumlah mereka jauh kalah banyak dibandingkan dengan pasukan Chu Siang Yu. Walaupun demikian, da-lam gerakan pembasmian ini, Chu Siang Yu kehi-langan banyak sekali perajurit sehingga tentu saja kekuatan barisannya menjadi jauh berkurang. Apa lagi sisa pasukannya juga menjadi lelah kehabisan tenaga karena baru saja mengerahkan tenaga me-nyerbu kota raja, harus disusul pula dengan per-tempuran hebat dan melelahkan melawan pasukan asing bekas sekutu mereka itu.

Semua peristiwa yang terjadi di kota raja itu tentu saja tidak pernah lepas dari pengintaian Liu Pang. Tentu saja hati Liu Pang gembira bukan main melihat perkembangan yang sama sekali ti-dak diduganya dan amat menguntungkan pihak-nya itu. Maka diapun menahan diri dan membiar-kan Chu Siang Yu berhantam sendiri dengan se-kutunya sampai pasukan-pasukan asing itu terbasmi habis.

Selagi pasukan - pasukan Chu Siang Yu kelelah-an, tiba - tiba saja Liu Pang menggerakkan baris-annya yang sudah beristirahat selama lima hari dan berada dalam keadaan segar bugar, menyerbu pintu gerbang kota raja yang terjaga oleh pasukan-pasukan yang kelelahan. Kembali terjadi perang yang paling hebat di antara perang yang lalu. Kota raja yang porak - poranda itu menjadi semakin hancur. Chu Siang Yu yang sedang mabok kemenangan itu tentu saja kaget setengah mati. Cepat dia mengumpulkan para pembantunya untuk mengatur pertahanan. Akan tetapi, mana mungkin pasukannya yang sudah banyak berkurang jumlah-nya itu, yang sedang berada dalam kelelahan dan kehabisan tenaga, mampu menandingi kekuatan pasukan para pendekar yang jumlahnya besar dan keadaan jasmaninya segar bugar itu ? Apa lagi karena penduduk segera menyambut pasukan Liu Pang ini sebagai pasukan pembebas, dan para penduduk mendukung dan membantunya.

Liu Pang melakukan penyerbuan di pagi buta. Tidak sukar bagi pasukannya untuk meruntuhkan pintu gerbang dan terjadilah pertempuran terbuka di seluruh kota raja. Pertempuran besar yang amat mengerikan dan terjadi selama sehari penuh. Ketika matahari sudah condong ke barat, pasukan Chu Siang Yu hampir seluruhnya tersapu bersih. Mayat - mayat berserakan dan bergelimpangan di lorong-lorong, di jalan-jalan, di halaman-hala-man rumah penduduk, bercampur baur dengan mayat - mayat pasukan asing yang kemarin mereka bantai dan belum sempat disingkirkan. Keadaan ini sungguh mendirikan bulu roma.

Laporan demi laporan tentang kekalahan yang diderita pasukannya membuat Chu Siang Yu me-rasa benar-benar terpukul hancur batinnya. Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa perjuang-annya yang bertahun-tahun lamanya, yang me-ngorbankan puluhan ribu nyawa pasukannya, yang diperjuangkannya dengan susah payah melalui air mata, peluh dan darah, kini setelah tiba di ambang keberhasilan yang gemilang, ternyata menghadapi kehancuran! Penguasaan kota raja dan istana ha-nya dapat dinikmatinya dalam waktu beberapa hari saja!

Seluruh pengawal dan pasukan di istana telah dikerahkan membantu keluar. Kini tinggallah Chu Siang Yu berdua dengan isterinya di istana, ditemani tujuh orang pengawalnya yang berpakaian putih mengkilap. Sore hari itu, setelah mendengar laporan terakhir bahwa pasukannya sudah hampir terbasmi habis, Chu Siang Yu mengenakan pakaian perang dan duduk menghadapi meja makan ditemani isterinya yang cantik. Mereka makan minum dan kelihatannya gembira, walaupun wajah isterinya yang cantik itu pucat sekali dan matanya basah.

"Isteriku, kenapa engkau menangis ? Segala sesuatu di dunia ini hanya ada dua macam, baik atau buruk, terang atau gelap, menang atau kalah. Yang dua itu selalu datang bergantian, bergilir. Ada waktunya terang ada waktunya gelap, ada waktunya menang ada waktunya kalah, seperti juga ada waktunya hidup ada waktunya mati. Kita harus berani menghadapi kenyataan, baik maupun buruk. Mari kita makan minum sepuasnya, isteriku, siapa tahu untuk yang terakhir kali."

Mendengar ucapan terakhir itu, isterinya bangkit dan menubruknya sambil menangis. Chu Siang Yu merangkul dan menciumi isterinya yang tercin-ta, diam - diam merasa bersyukur bahwa mereka tidak mempunyai anak. Sungguh akan membi-ngungkan sekali kalau mereka harus menghadapi kegagalan seperti ini bersama anak - anak mereka.

"Sudahlah, tenangkan hatimu. Ingat bahwa aku adalah keturunan keluarga panglima, bahwa aku seorang pemimpin yang harus berani mengha-dapi segala kegagalan. Aku akan keluar memimpin sendiri sisa pasukanku menghadapi musuh."

Wanita itu bangkit dan menyusut air matanya, lalu berkata dengan sikap gagah, "Aku ikut dan akan membantumu !"

"Ah, jangan, isteriku. Engkau tinggallah di sini. Liu Pang adalah seorang gagah, dia pasti akan melindungimu dan tidak akan membolehkan orang mengganggumu."

"Tidak ! Mati hidup aku harus berada di sampingmu !"

"Jangan, isteriku. Apakah engkau akan membuat suamimu ini menjadi buah tertawaan orang ? Apa akan kata mereka ? Lihat, Chu Siang Yu tidak berani maju perang tanpa diantar isterinya! Maukah engkau melihat aku menjadi bahan ejekan ?"

Isterinya menangis dan merangkul suaminya, tidak mau melepaskah lagi. Beberapa orang dayang juga menangis sambil berlutut, sedangkan tujuh orang pengawalnya, yaitu barisan Jit - seng-tin yang lihai itu, memandang dengan termangu-mangu. Mereka merasa terharu, akan tetapi mere-ka adalah perajurit - perajurit yang keras hati dan tidak mau membiarkan diri diseret kelemahan pe-rasaan.

Akhirnya, setelah beberapa kali mencium iste-rinya dengan penuh kemesraan dan kecintaan ha-tinya, Chu Siang Yu dengan halus merenggutkan dirinya terlepas dari rangkulan isterinya, memberi isyarat kepada Jit - seng - tin lalu meninggalkan ruangan istana itu tanpa menoleh lagi karena dia mendengar isterinya menangis sesenggukan bersa-ma para dayang. Pemimpin pemberontak ini me-langkah lebar diikuti tujuh orang pengawalnya, kemudian menunggang kuda dan menyerbu keluar, mengamuk ! Hebat bukan main sepak terjang Chu Siang Yu dan Jit-seng-tin dan akhirnya mereka bertemu dengan rombongan Liu Pang sendiri!

Terjadilah pertempuran yang amat seru, akan tetapi karena Liu Pang dibantu orang - orang pandai seperti dua saudara Yap, Pek Lian dan lain-lain, akhirnya seorang demi seorang dari Jit-seng-tin roboh dan tewas. Melihat, betapa para pengawalnya tewas dan pertempuran di sekitar tempat itu berhenti karena sisa anak buah pasukannya banyak yang menyerah, Chu Siang Yu menjadi semakin sedih.

"Jangan bunuh dia! Tangkap hidup - hidup karena aku mengagumi kegagahannya'!" Liu Pang berseru kepada para pembantunya dan kini Chu Siang Yu dikepung.

Pemimpin ini maklum bahwa melawan terus tidak mungkin. Dia tentu akan ke-walahan dan akhirnya dapat ditangkap sebagai tawanan.

"Seorang perajurit sejati lebih baik mati dari pada hidup menjadi tawanan !" teriaknya dan pedangnya berkelebat.

Liu Pang dan para pembantunya terkejut akan tetapi mereka tidak sempat mencegah lagi. Tubuh Chu Siang Yu terguling dari atas kudanya dalam keadaan tak bernyawa karena pedangnya telah menggorok lehernya sendiri ! Liu Pang berdiri memandang jenazah yang berlumuran darah itu dengan hati trenyuh lalu dia memesan pengawalnya untuk mengurus baik-baik jenazah pemimpin itu.

"Serahkan jenazah dalam peti yang baik kepada keluarganya yang mungkin masih berada di istana, agar dapat disembahyangi," katanya.

Akan tetapi, ketika dia dan para pembantunya menyerbu istana, tidak terdapat perlawanan sama sekali. Di sebuah ruangan depan, mereka menemukan isteri Chu Siang Yu dan duabelas orang dayang menggeletak tak hernyawa. Melihat pisau belati menancap di dada masing-masing tahulah Liu Pang bahwa mereka itu semua membunuh diri, mungkin setelah mendengar akan tewasnya Chu Siang Yu. Liu Pang makin terharu melihat peris-tiwa ini dan diapun memesan agar jenazah isteri pemimpin pemberontak itu dirawat sebagaimana mestinya. Mereka semua terus memasuki istana. Kosong ! Istana yang masih porak poranda bekas tangan - tangan panjang yang merampoki benda-benda berharga itu nampak sunyi dan kosong, wa-laupun semua lampu dipasang. Agaknya para pengawal dan petugas yang tadinya berjaga di ista-na, semua telah dikerahkan keluar untuk membantu pasukan menahan serangan musuh. Liu Pang memimpin para pembantunya terus masuk sampai ke balairung, ruangan luas di mana terdapat singga-sana kaisar dan di mana kaisar biasa bersidang bersama semua pembesar atasan. Ruangan yang luas itupun sunyi, akan tetapi tiba-tiba Bwee Hong menuding ke depan sambil menahan jeritnya. Semua orang memandang dan terbelalak keheranan. Di atas singgasana, kursi kebesaran kaisar itu, duduk seorang pria yang agaknya sedang termenung seorang diri. Dan pria itu bukan lain adalah A-hai!

Tentu saja semua orang merasa heran bukan main. Pek Lian sudah meloncat ke depan, memandang terbelalak kepada pemuda itu.

"Engkau...... engkau di sini ? Bagaimana bisa berada di sini ?"

Juga Seng Kun dan Bwee Hong meloncat maju, girang melihat pemuda itu yang amat mereka kha-watirkan ternyata, dalam keadaan selamat di dalam istana, malah enak - enak duduk di atas singgasana kaisar!

"Saudara A-hai, bagaimana engkau tahu - tahu berada di sini ?"

A-hai tersenyum dan bangkit berdiri dan ka-ak beradik yang bermata tajam itu dapat melihat dengan jelas betapa terjadi perobahan besar pada diri pemuda itu. Sikapnya yang seperti orang tolol atau bingung itu lenyap sama sekali dan kini si-kapnya tenang, bahkan agung dan berwibawa. Matanya bersinar tajam dan wajahnya berseri gembira melihat rombongan Liu Pang, apa lagi melihat Pek Lian, Bwee Hong dan Seng Kun.

"Nona Lian, panjang ceritanya bagaimana aku dapat berada di sini," jawabnya kepada Pek Lian, kemudian dia menjura kepada Seng Kun dan Bwee Hong sambil berkata, "Sahabat Kun dan nona Hong, berkat pengobatan kalian berdua yang amat berharga, kini aku dapat mengingat semua hal dan ingatanku pulih kembali. Banyak terima kasih atas segala budi kebaikan kalian berdua."

Sebelum tiga orang muda itu sempat menjawab, dia sudah menjura kepada Liu Pang, "Liu - bengcu, saya menghaturkan selamat atas kemenangan bengcu dan para pendekar."

Liu Pang balas menjura dan biarpun wajahnya berseri, namun dia menarik napas panjang dan mengerutkan alisnya.

"Ah, kemenangan yang berlumuran darah. Entah berapa laksa orang gagah yang harus mengorbankan nyawanya, negara ini baru dapat dibebaskan dari cengkeraman orang-orang jahat setelah dicuci oleh darah para pendekar."

Diam - diam Seng Kun, Bwee Hong, dan Pek Lian ingin sekali mendengar apa yang telah terjadi antara A-hai dan Raja Kelelawar, akan tetapi karena suasana yang demikian sibuknya, mereka be-lum sempat bertanya. Kemenangan gemilang itu tentu saja disambut dengan pesta lagi oleh Liu Pang dan pasukannya. Akan tetapi, Liu Pang ada-lah seorang pemimpin yang baik. Dia tidak mau mengulang kesalahan yang diperbuat Chu Siang Yu.

Dia mengeluarkan peraturan keras dan mela-rang perajurit - perajuritnya untuk berbuat sewe-nang - wenang. Para pendekar yang membantunya bertugas melakukan pengawasan. Juga dia tidak mabok kemenangan. Dibentuknya pasukan - pa-sukan baru yang bertugas mengadakan pembersih-an terhadap musuh - musuh yang masih berkeliar-an, juga ada pasukan yang bertugas memperbaiki semua kerusakan dan penjagaan terhadap keaman-an di kota raja juga diperkuat. Rakyat merasa aman terlindung sehingga mereka menyambut keme-nangan Liu Pang dengan gembira, dianggap seba-gai kemenangan mereka sendiri pula, kemenangan yang baik terhadap yang jahat.

Karena itu, yang bergembira dan berada dalam keadaan berpesta ria bukan hanya Liu Pang dan pasukannya, melainkan seluruh penghuni kota ra-ja. Orang - orang bersuka ria, di jalan - jalan, di warung - warung, di rumah - rumah, dengan pema-sangan kembang api dan petasan. Pada keesokan harinya, dengan meriah Liu Pang dinobatkan se-bagai kaisar baru secara resmi. Yang mengepalai upacara resmi penobatan Liu Pang sebagai kaisar ini bukan lain adalah Bu Hong Seng-jin, kepala kuil istana Thian - to - tang yang sudah dibebaskan dari dalam penjara bersama banyak sekali pejabat tinggi lainnya. Para pejabat tinggi yang rata-rata pandai dan jujur ini oleh Liu Pang dibebaskan dan diberi kedudukan tinggi sesuai dengan kepandaian masing - masing. Tentu saja Seng Kun dan Bwee Hong hadir pula dalam penobatan kaisar yang di-pimpin upacaranya oleh ayah kandung mereka itu. Juga A-hai, Pek Lian, Yap Kiong Lee, Yap Kim dan para pembantu lain hadir semua dengan wajah berseri gembira.

Dengan dinobatkannya Liu Pang menjadi Ka-isar Han Kao Cu, maka berdirilah wangsa baru yang disebut Wangsa Han (tahun 202 Sebelum Masehi). Kaisar Han Kao Cu segera membagi bagi hadiah kepada para pembantunya. Mereka diberi kedudukan dan tanah dengan pangkat yang tinggi sesuai dengan kepandaian dan jasa mereka. Penobatan kaisar dan pangkat para pembantunya itu tentu saja disusul dengan pesta yang meriah.

Yap Kim yang menjadi tangan kanan Liu Pang di waktu akhir - akhir ini, oleh kaisar Han Kao Cu diangkat menjadi panglima kerajaan, sedangkan Yap Kiong Lee yang tidak mau menerima pang-kat itu diangkat sebagai penasihat tanpa keduduk-an tetap, akan tetapi mempunyai tanda kekuasaan berupa pedang pusaka hadiah kaisar dan cap ke-besaran sebagai penasihat!

Bu Hong Seng - jin masih tetap menjadi kepala kuil istana dan pena-sihat kaisar. Akan tetapi Seng Kun dan Bwee Hong dengan halus menolak pemberian pangkat, hanya menerima hadiah - hadiah dari kaisar berupa ba-rang-barang berharga dan indah sebagai hasil sitaan dalam istana. Banyak sekali harta kekayaan yang disita dari istana, terutama sekali harta pusa-ka yang telah ditimbun oleh mendiang Perdana Menteri Li Su, sungguh luar biasa banyaknya sampai tak terhitung. Demikian pula harta keka-yaan dari mendiang Thaikam Chao Kao amatlah besar.

Semua orang bergembira ria, agaknya sudah lupa bahwa kota raja yang sudah nampak bersih itu masih berbau darah, dan ribuan orang masih menderita karena luka - luka mereka di dalam pertempuran.


                                                ***

Sewaktu semua orang bersuka ria di pagi hari esoknya, A-hai meninggalkan istana yang sedang dalam keadaan pesta itu secara diam - diam dan dia berjalan seorang diri menyusuri jalan - jalan yang juga amat ramai dengan penduduk yang ikut pula merayakan penobatan kaisar baru. Dia me-langkah perlahan - lahan seperti orang termenung, tidak menengok ke kanan kiri, bahkan tidak me-lihat semua keramaian itu. Karena itu, diapun ti-dak memperhatikan dan tidak tahu bahwa ada se-orang wanita diam - diam membayanginya dari jauh. Wanita ini bukan lain adalah Chu Bwee Hong ! Dara ini belum juga memperoleh kesem-patan untuk bercakap - cakap dengan A-hai se-menjak mereka bertemu di dalam istana. Keadaan terlalu sibuk dan Bwee Hong sendiripun bersama kakaknya sibuk menangani pembebasan ayah kan-dungnya dan kemudian menghabiskan waktu me-reka untuk bercakap - cakap dengan ayahnya.

Ke-mudian disusul kesibukan ayahnya yang memim-pin upacara pengangkatan kaisar baru, maka biar-pun hatinya ingin sekali dapat bicara dan berduaan dengan A-hai, namun kesempatan belum terbuka. Oleh karena itu, ketika Bwee Hong melihat A – hai keluar dari ruangan pesta dan berjalan sendirian, iapun diam - diam membayangi dari jauh, ingin sekali tahu ke mana pemuda itu hendak pergi dan mengapa pula agaknya hendak menyingkir dari orang banyak. Sejak pertemuan mereka di istana itu, Bwee Hong selalu memperhatikan A-hai ke-tika bertemu dan ia melihat bahwa biarpun A-hai kini sudah berobah, bukan seorang yang nampak tolol lagi, akan tetapi pria perkasa itu seperti ke-hilangan kegembiraannya dan selalu wajahnya di-liputi mendung, seolah - olah perasaannya sedang menderita suatu kesedihan yang tidak diketahuinya.

A-hai berjalan terus menuju ke pinggir kota yang sepi, di antara sawah ladang yang pada hari itu ditinggalkan semua orang yang sibuk bersuka ria. Akhirnya dia berhenti di sebuah ladang dan duduk di atas batu dekat selokan air sawah yang kecil, duduk termenung seperti patung. Angin bersilir menggerakkan rambut dan ujung pakaian-nya. Hanya itu yang bergerak, sedangkan tubuh pria itu sendirian sama sekali tidak bergerak.

Sampai beberapa lamanya Bwee Hong meng-intai dan berdiri agak jauh di belakang batang po-hon, memandang kepada A-hai. Akhirnya ia tidak tahan melihat pemuda itu diam seperti patung dan dengan hati - hati agar jangan mengejutkan pemuda itu, ia menghampiri.

Tiba - tiba A-hai menggerakkan tangannya dan Bwee Hong menahan langkah, lalu menyelinap lagi. bersembunyi di antara batang - batang pohon yang malang melintang karena ada batang pohon yang tumbang. Ia mengintai, ingin tahu apa yang akan dilakukan pemuda itu.

Ternyata A-hai hanya menggerakkan tangan ka-nan mengambil sebuah boneka batu kemala dari saku jubahnya. Bwee Hong mengenal betul bone-ka itu dan iapun memandang penuh perhatian. Ki-ni A-hai menarik napas panjang, memandangi bo-neka itu, lalu menciumnya satu kali dan menekan-kan boneka itu ke dadanya, kemudian dia meme-gang boneka itu dan menundukkan mukanya yang nampak sedih sekali.

Bwee Hong melihat semua ini dan iapun dapat menduga apa artinya semua itu. Ia dapat menduga bahwa boneka itu tentulah patung kecil dari seo-rang wanita yang amat dicinta oleh A-hai dan ki-ni agaknya A-hai telah mengenal kembali siapa adanya wanita itu. Bwee Hong merasa betapa jantungnya seperti tertusuk, hatinya sedih tak te-rasa lagi beberapa tetes air mata membasahi pipi-nya dan tanpa disengaja kakinya membuat gerakan sehingga terdengar suara daun kering terinjak. Ia terkejut sendiri dan cepat menggunakan tangan menyusut air matanya.

Memang sedikit suara itu cukup bagi A-hai. Dia tahu bahwa ada orang di sebelah kirinya. Ketika dia mengerling dan melihat bahwa orang itu adalah Bwee Hong, dia terkejut sekali.

"Nona Hong !" katanya dan diapun bangkit berdiri, cepat menghampiri dara itu dengan boneka masih dipegangnya.

Sejenak mereka berdiri saling berhadapan dan saling berpandangan. Pandang mata A-hai yang awas itu agaknya dapat melihat bekas air mata di bawah mata Bwee Hong, maka diapun bertanya dengan khawatir.

"Engkau engkau menangis, nona ?"

Mendengar pertanyaan ini, otomatis tangan Bwee Hong mengusap kedua matanya dan ia menggeleng tanpa menjawab.

"Akan tetapi aku melihat engkau seperti orang berduka, ada apakah, nona ?"

"Aku tadi melihat engkau berjalan sendirian ke tempat ini dan aku diam - diam membayangimu. Kemudian aku melihat engkau duduk termenung, demikian sedih sehingga akupun ikut merasa sedih. Aku khawatir kalau-kalau penyakitmu kambuh kembali, saudara A eh, aku tidak berani lagi menyebutmu dengan nama sederhana itu."

Pria itu tersenyum pahit. "A-hai adalah nama kecilku, nona. Namaku adalah Souw Thian Hai "

"Ah, jadi engkau benar Souw-kongcu itu ? Dan boneka itu "

"Ini patung isteriku. Ia sudah meninggalkan aku, sudah tewas dan anakku anakku buntung pula lengannya." Pria itu mengerutkan alisnya dan wajahnya menjadi muram sekali.

Tentu saja Bwee Hong menjadi terkejut bukan main. Kiranya A-hai ini benar adalah Souw-kongcu yang sudah mempunyai anak isteri! Hampir saja air matanya runtuh kembali, akan tetapi kini ia menekan perasaannya dan memandang wajah pria itu dengan penuh rasa kasihan. Betapa banyak ia mengalami hal-hal yang hebat dengan pria ini dan biarpun di lubuk hatinya ia merasa girang me-lihat A-hai telah sembuh dan kembali menjadi Souw Thian Hai, seorang pendekar yang gagah perkasa, namun pulihnya ingatan itu malah mem-benamkan pria ini ke dalam kedukaan. Dan pula, ia kehilangan sesuatu pada pandang mata pria ini. Dahulu, sebagai A-hai, pria ini memandangnya dengan sinar mata yang kadang - kadang amat me-sra, penuh cinta !

"Engkau sungguh kasihan sekali, Souw-taihiap " katanya dan tak terasa pula ia menjamah tangan kiri pria itu dengan hati terharu.

Jari - jari tangan kiri A-hai atau Souw Thian Hai menyambut dan sejenak digenggamnya tangan yang kecil itu dengan jari tangan mengandung getaran penuh perasaan, akan tetapi lalu dilepas-nya kembali.

"Nona Hong, engkau sungguh seorang yang berhati mulia, bahkan engkau dan kakakmu telah menyembuhkan aku. Budimu terlampau besar, dan jangan sebut aku taihiap. Engkau penolongku, sahabatku yang kuhormati, dan "

"Dan bagaimana ? Mengapa tidak kaulanjutkan ? Engkau tentu sudah tahu akan isi hatiku, perlukah kita menyembunyikan semuanya itu ?"

Ucapan Bwee Hong keluar dengan bibir gemetar dan kembali kedua matanya menjadi basah ketika ia memandang wajah pria yang dicintanya itu. Ya. ia telah jatuh cinta kepada A hai, dan biarpun kini ia tahu bahwa A-hai adalah pendekar Soiiw Thian Hai yang sudah duda dan mempunyai seo-rang anak perempuan, ia tidak mampu menyangkal perasaan hatinya sendiri.

Thian Hai menatap wajah dara itu, penuh kerinduan dan penuh kasih sayang kini, akan tetapi dia memalingkan muka, memandang patung di tangannya, lalu menggeleng kepalanya keras - keras.

"Tidak! Tidak boleh ! Engkau seorang dara mulia dan bangsawan tinggi, sedangkan aku aku ...... seorang yang kesepian, kehilangan kebahagiaan, seorang duda yang sudah mempunyai seorang anak perempuan besar maafkan aku, nona Hong ! "

Sebelum Bwee Hong mampu membantah, Thian Hai berkelebat lenyap dari tempat itu. Bwee Hong merasa seluruh tubuhnya menjadi lemas dan iapun menjatuhkan diri berlutut di atas tanah sambil menutupi muka dengan kedua ta-ngannya. Isaknya terdengar lirih tertahan. Hati-nya terasa pilu dan perih seperti disayat - sayat. Ia merasa yakin akan perasaan cintanya kepada Thian Hai, dan iapun tahu bahwa pria itu mencintanya! Tadi, dalam pandangan yang sekejap saja, iapun sudah tahu akan isi hati Thian Hai. Akan tetapi, pria yang halus budi itu merasa dirinya terlalu rendah dan rela menjauhkan diri karena merasa tidak sederajat, kalah kedudukan dan sudah duda mempunyai anak lagi!

"A-hai ohh, A-hai !" Ia mengeluh lirih.

Tiba-tiba tangan yang gemetar menyentuh pundaknya. Ia cepat mengangkat muka dan ter-nyata Thian Hai sudah berdiri di belakangnya. Pria itu kembali! Bwee Hong cepat bangkit ber-diri dan mereka saling berpegang tangan tanpa kata-kata. Tidak perlu kata-kata kalau sudah begini. Getaran yang keluar dari jari-jari tangan sudah mewakili seribu satu kata. Akan tetapi, de-ngan halus Thian Hai melepaskan pegangannya.

"Nona Hong, maafkanlah kekasaranku tadi. Tentu saja aku tahu akan isi hatimu, dan engkaupun tentu sudah tahu akan isi hatiku. Tidak dapat disangkal, terutama oleh kita sendiri bahwa kita saling mencinta. Akan tetapi, aku sungguh merasa tidak patut menjadi sisihanmu "

"Hai-ko, ucapan itu tidak pantas keluar dari mulut seorang gagah sepertimu!" Bwee Hong menegur. "Apakah engkau mulai menilai seseorang dari keturunan dan kedudukannya ?"

Thian Hai memandang kagum dan menggeleng kepala. "Bukan itu saja. Akan tetapi aku baru saja memperoleh kembali ingatanku dan kenyataan ke-adaan diriku amat mengejutkan, dan engkau .... .. engkau dalam pandanganku begitu mulia. Maukah engkau maafkan aku dan berjanji tidak akan membicarakan urusan cinta kita sebelum tiba saatnya ?"

Bwee Hong mengerutkan alisnya. "Hemm, tiba saatnya ? Dan kapankah saatnya itu, Hai-ko ?"

"Aku masih mempunyai banyak urusan yang merupakan ganjalan hati. Pertama, aku harus dapat menemukan musuh besarku "

"Si Raja Kelelawar ? Jadi engkau belum membunuhnya ?"

"Benar, dia! Bukan raja iblis atau raja kelelawar, melainkan dia pembunuh isteriku! Dan aku-pun harus mencari San - hek - houw untuk membalaskan buntungnya lengan anakku."

Bwee Hong mengangguk lemah. Pria ini minta waktu karena masih merasa terikat untuk membe-reskan urusan dendam keluarganya dan ia sama sekali tidak boleh dan tidak berhak untuk men-campuri, apa lagi melarang. Ia harus menanti de-ngan sabar, dan walaupun kenyataan ini amat pahit baginya, amat berat, namun demi cintanya, ia harus berani mengorbankan perasaannya.

"Baiklah, Hai - ko, aku akan menanti uluran tanganmu " katanya lemah.

Tiba - tiba Thian Hai membalikkan tubuhnya dan ternyata sesosok bayangan berkelebat dari jauh. Setelah dekat, bayangan tadi adalah Seng Kun.

"Ah, kucari kalian dengan hati khawatir, tidak tahunya berada di sini!" kata pemuda itu dengan gembira melihat keberduaan adiknya dan Thian Hai, akan tetapi juga agak cemas melihat betapa wajah keduanya tidak membayangkan kegembiraan.

"Aku mencarimu ke mana-mana, saudara A-hai."

"Koko, namanya Souw Thian Hai, sebaiknya kita tidak memanggil A-hai lagi karena itu hanya panggilan nama kecilnya," kata Bwee Hong.

"Ah, ah jadi benar - benar engkau ini pendekar Souw Thian Hai yang oleh orang-orang yang mengenalmu disebut Souw - kongcu itu ? Saudara Souw, apakah sekarang engkau sudah dapat mengingat seluruh riwayatmu ?"

Thian Hai mengangguk. "Sudah, berkat bantu-an dan pertolongan kalian berdua. Dan untuk itu, biarlah kalian berdua menjadi orang - orang pertama yang mendengarkan riwayatku. Mari kita duduk di bawah pohon yang teduh."

Ketiganya duduk di bawah pohon dan kakak beradik itu mendengarkan penuturan Thian Hai dengan penuh perhatian dan hati tertarik sekali. Agar jelas, mari kita ikuti keadaan pria yang luar biasa ini sebelum menjadi seorang A-hai yang ketolol - tololan.

                                                                     ***

Seperti pernah kita ketahui dari penuturan Yap-lojin dan Ouwyang Kwan Ek, di jamannya para datuk mereka, puluhan bahkan seabad yang lalu, di dunia persilatan ada empat datuk yang paling terkenal dan dianggap mewakili dunia persilatan. Yang pertama adalah Bu - eng Sin - yok - ong yang dianggap datuk dunia selatan, ke dua Sin - kun Bu - tek datuk dunia utara, ke tiga Cui - beng Kui-ong pendiri Tai - bong - pai, kemudian ke empat Kim-mo Sai-ong pendiri Soa-hu-ipai. Empat orang datuk ini dianggap sebagai datuk - datuk besar yang tidak dapat dicari tandingannya. Ada pula Bit-bo-ong atau Si Raja Kelelawar akan tetapi dia dianggap sebagai orang luar dan juga masih belum dapat dibandingkan dengan keempat orang datuk itu. Akan tetapi, pada suatu hari, empat orang datuk itu berturut - turut dikalahkan se-cara mudah oleh seorang kakek sasterawan pelukis yang sama sekali tidak dikenal namanya! Dan biarpun kemudian empat orang datuk itu mencari-carinya sampai bertahun - tahun, sampai mereka itu satu demi satu meninggal dunia, mereka tidak berhasil menemukan kakek sasterawan itu!

Siapakah kakek sasterawan pelukis itu ? Dia adalah seorang sakti yang menyembunyikan diri, seorang yang pada waktu itu oleh orang-orang dusun dikenal sebagai kakek Souw saja. Kakek ini menurunkan ilmu - ilmunya yang mujijat kepada puteranya, yang kemudian mewariskannya pula kepada puteranya yang bernama Souw Koan Bu. Akan tetapi, keluarga Souw ini oleh nenek moyangnya dilarang keras untuk memperkenalkan ilmu keluarga mereka, dan bahkan diharuskan untuk menyembunyikan diri saja karena mereka mempunyai keyakinan bahwa seorang ahli silat yang dikenal tentu akan mempunyai banyak musuh.

Demikianlah, Souw Koan Bu inipun membawa isteri dan seorang puteranya tinggal di sebuah tempat yang amat indah dan terpencil, di tepi sungai dengan lembah yang amat subur di mana terdapat air terjun yang besar. Souw Koan Bu hanya mempunyai seorang putera yang diberi mama Souw Thian Hai. Tentu saja sejak kecil, Souw Thian Hai diajar ilmu - ilmu keluarga yang amat lihai itu.

Bersambung

Darah Pendekar 46                                                            Darah Pendekar Tamat