Jumat, 07 Juni 2013

DARAH PENDEKAR 46

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S.Kho Ping Hoo
Bab 46
"Sam-wi adalah orang-orang muda yang luar biasa," akhirnya sambil menyuguhkan arak dia berkata. "Sam - wi merupakan orang - orang muda yang memiliki harapan baik sekali untuk mencapai kedudukan tinggi dan mulia, dan pertemuan anta-ra kita ini membuka kesempatan yang amat baik bagi kalian. Kota raja sudah berada di telapak ta-ngan kita, tak lama kemudian kita akan dapat menguasainya. Dan aku akan merasa gembira se-kali kalau dapat memperoleh bantuan sam - wi dalam membangun kerajaan baru."
Seng Kun terkejut mendengar ini. Baru dia ta-hu sekarang mengapa pemimpin pemberontak ini bersikap demikian baiknya terhadap dia bertiga. Kiranya mempunyai maksud untuk memperguna-kan mereka sebagai pembantu. Diapun cepat me-wakili teman dan adiknya itu, memberi hormat kepada pemimpin pemberontak itu.
"Kami kakak beradik menghaturkan terima ka-sih atas maksud baik taijin. Akan tetapi, pada sa-at ini kami sama sekali belum memikirkan tentang kedudukan atau pekerjaan . . . . . . "
"Wah, saya sendiripun masih mempunyai ba-nyak sekali urusan keluarga dan pribadi sehingga tidak sempat memikirkan tentang urusan keduduk-an !" A-hai juga berkata.
"Kami masih amat mengkhawatirkan keadaan ayah kandung kami!" Bwee Hong juga membantu kakaknya. "Saya ingin sekali mengetahui bagaimana sebenarnya dengan keadaan ayah kandung kami itu ?"
Chu Siang Yu menarik napas panjang menyem-bunyikan rasa kecewa hatinya. Dia maklum bahwa menghadapi orang - orang muda yang lihai ini ti-dak boleh tergesa - gesa, apa lagi mempergunakan tekanan.
"Menurut keterangan Kim I Ciangkun memang benar ayah kalian ditangkap dan dimasukkan pen-jara. Tentu saja hal itu terlihat oleh Kim I Ciang-kun dan Gin I Ciangkun sebelum mereka berdua lari dari istana setelah melihat keadaan yang kacau di istana, di mana kaisar muda itu mempergunakan para datuk kaum sesat untuk menjadi pengawal-pengawal dan pembantu-pembantu. Banyak pe-jabat yang setia seperti kedua ciangkun itu tidak tahan melihat betapa pembesar - pembesar yang jujur dijebloskan penjara atau dibunuh, sedangkan penjahat - penjahat rendah diberi kedudukan ting-gi.
Kim I Ciangkun menambahkan keterangan pe-mimpinnya. "Bu Hong Seng - jin sebagai seorang penasihat istana, mencoba untuk mengingatkan sri baginda kaisar yang masih muda itu. Akan tetapi beliau malah kena marah dan ditangkap, dijeblos-kan ke dalam penjara."
"Akan tetapi kalian jangan khawatir. Kota raja sudah kita kepung dan sebentar lagi, kalau kita sudah dapat menguasai kota raja, kalian akan dapat menyelamatkan ayah kandung kalian. Oleh karena itu, marilah kalian bantu kami untuk menyerbu kota raja besok."
Seng Kun dan adiknya saling pandang, tidak dapat segera menjawab. Tentu saja mereka ber-dua yang bertugas menyelidiki keadaan musuh Liu Pang dan menyelidiki keadaan ayah mereka, tidak mungkin kalau kini malah bergabung dengan pemberontak Chu Siang Yu dan membantunya menyerbu kota raja. Dan A-hai sendiri kini keli-hatannya tidak tertarik lagi, bahkan seperti tidak mengacuhkan percakapan itu dan perhatiannya seperti tertarik oleh hal lain.
Tiba - tiba api lilin - lilin yang berada di dalam ruangan itu bergoyang seperti tertiup angin dan mereka yang berada di situ tidak sadar bahwa di dalam ruangan itu telah bertambah seorang lagi kalau saja A-hai t;dak menyapanya. "Silahkan masuk !"
Mendengar ucapan A-hai, Chu Siang Yu dan semua orang menoleh dan mereka semua terkejut bukan main melihat betapa di ambang pintu ke-mah itu telah berdiri seorang laki - laki tinggi yang mengenakan pakaian dan jubah hitam ! Penjaga penjaga yang berdiri di luar pintu kemah itu agak-nya tidak melihat masuknya orang ini dan hanya A-hai seorang yang melihatnya. Akan tetapi, kini terjadi keanehan. Orang yang mereka semua du-ga tentu Si Raja Kelelawar itu yang tadinya melangkah dengan gerakan kaki seperti tidak meng-injak tanah, tiba - tiba berhenti dan matanya ter-belalak menatap wajah A-hai, kemudian tiba - tiba kakinya melangkah ke samping dan memasang kuda - kuda sambil menjaga jarak antara dia dan A-hai, agaknya siap untuk berkelahi! A-hai juga memandang dengan tajam penuh selidik, akan te-tapi dia tidak mengenal orang ini dan hanya me-mandang dengan wajah heran.
"Kiranya engkau belum mampus juga !"
Tiba - tiba orang itu berkata dengan mata mende-lik.
Dan terjadilah perobahan pada wajah A-hai. Wajahnya yang tadinya nampak keheranan meli-hat tingkah laku orang berpakaian hitam itu, kini berkerut - kerut seolah - olah terjadi sesuatu di da-lam ingatannya. Matanya terbuka lebar dan men-corong, seperti hendak menembus ke dalam dada orang berjubah hitam itu, memandang penuh seli-dik, mukanya menjadi merah sekali dan dahinya berdenyut - denyut.
"Siapa siapakah engkau ? Aku ...... aku seperti mengenal suaramu " Dia tergagap menudingkan telunjuknya kepada orang itu.
Orang berjubah hitam itu agaknya menemukan kembali ketenangannya. Mulutnya tersenyum mengejek dan dia tidak lagi mengacuhkan A-hai, melainkan memutar tubuhnya memandang ke seke-liling. Semua orang tadinya seperti terpesona oleh ketegangan yang terjadi ketika A-hai menegur orang itu, dan barulah kini mereka sadar akan si-apa orangnya yang telah begitu berani memasuki kemah pusat ini. Kim I Ciangkun segera menge-nalnya dan tanpa banyak cakap lagi, bekas penga-wal jagoan di kota raja ini sudah menerjang sambil mengerahkan Hui - ciang (Tangan Api), memukul ke arah orang berpakaian hitam itu. Angin keras menyambar berikut hawa yang amat panas.
"BERHENTI !" Tiba-tiba orang berpakaian hitam itu membentak sambil memandang ke muka Kim I Ciangkun dan sungguh aneh, tiba - tiba saja Kim I Ciangkun berhenti di tengah - tengah serangannya, seolah - olah dia te-lah berobah menjadi patung, mukanya memba-yangkan kebingungan dan matanya terbelalak.
"Keluar kamu !" Kembali si jubah hitam mem-bentak dan semua orang terkejut dan heran sekali melihat betapa seperti orang yang amat patuh, Kim I Ciangkun membalikkan tubuhnya dan tertatih-tatih melangkah keluar kemah itu. Takutkah pang-lima pengawal yang lihai ini ?
Akan tetapi Chu Siang Yu dan mereka yang memiliki kepandaian tinggi di dalam kemah itu dapat menduga apa yang telah terjadi. Si Raja Ke-lelawar, orang yang berpakaian dan berjubah hitam itu, tentu telah mempergunakan ilmu sihirnya un-tuk menguasai dan menaklukkan Kim I Ciangkun, maka Chu Siang Yu lalu mengeluarkan suara me-lengking nyaring yang mengandung getaran khi-kang kuat sekali. Lengkingan ini ternyata mampu memecahkan daya pengaruh sihir yang dikerahkan oleh Si Raja Kelelawar kepada Kim I Ciangkun karena panglima pengawal itu tiba - tiba berhenti di ambang pintu tenda lalu membalik memandang kepada orang berjubah hitam itu.
Akan tetapi, orang aneh itu mengulur tangan kiri dan telapak tangan kirinya dihadapkan ke arah Kim I Ciangkun dan tiba - tiba saja panglima pe-ngawal ini merasa betapa ada kekuatan dahsyat menghimpitnya dari semua penjuru, membuat dia tidak dapat berkutik, seolah - olah tenaganya habis tersedot.
Perlahan - lahan, sambil menyeringai sadis, Raja Kelelawar mengangkat tangan kanannya ke atas, siap melakukan pukulan maut ke arah lawan. Ba-rulah semua orang sadar akan bahaya yang meng-ancam keselamatan Kim I Ciangkun. Belasan orang perajurit pengawal yang berada di luar pintu lalu menyerbu masuk dan dengan tombak di tangan mereka itu menyerang. Bagaikan hujan senjata-senjata itu menyambar dan mengenai tubuh Raja Kelelawar! Akan tetapi, terdengar suara keras dan semua senjata itu terpental seperti mengenai tubuh yang terbuat dari baja yang amat kuat saja! Ten-tu saja para perajurit itu merasa ngeri dan otomatis mereka melangkah mundur dengan mata terbela-lak dan wajah pucat.
Tangan kanan Raja Kelelawar yang tadinya sudah siap menghantam Kim I Ciangkun, kini di-gerakkan, bukan memukul Kim I Ciangkun melain-kan dialihkan, menyapu ke samping, ke arah para perajurit yang menyerang tadi. Hembusan angin dingin melanda mereka ini dan seperti daun-daun kering tertiup angin, belasan orang perajurit itu berpelantingan dan terdengar mereka mengeluh dan merintih. Beberapa orang di antara mereka bahkan tidak sempat mengeluh lagi karena lang-sung tewas seketika!
"Tahan !!" Chu Siang Yu melompat ke
depan menghadapi orang berjubah hitam itu yang memandang kepadanya dengan senyum mengejek. "Kalau tidak keliru, engkau adalah panglima kera-jaan yang baru diangkat oleh kaisar muda. Eng-kau adalah Si Raja Kelelawar itu, bukan ?"
"Pemberontak she Chu! Dosamu bertumpuk dan aku sendiri yang akan menghukummu!" Raja Kelelawar berseru dan begitu tangannya bergerak, angin dahsyat menyambar ke arah pemimpin itu. Akan tetapi, ternyata Chu Siang Yu juga bukan orang sembarangan. Dia memiliki ilmu silat yang cukup tinggi dan serangan Raja Kelelawar yang dahsyat itu dapat dielakkannya dengan baik, bah-kan diapun membalas dengan serangan pedang-nya. Demikian cepatnya Chu Siang Yu telah men-cabut pedang dari pinggangnya dan menyerang sehingga Raja Kelelawar juga terkejut dan cepat mengelak sambil bersikap hati-hati, tidak berani memandang rendah pemimpin pemberontak ini yang ternyata adalah seorang ahli pedang yang berbahaya juga. Terjadilah perkelahian hebat dan para pembantu Chu Siang Yu tentu saja tidak mau membiarkan pemimpin mereka terancam bahaya di tangan raja iblis itu. Mereka serentak maju me-ngepung dan mengeroyok. Akan tetapi, kepandai-an raja iblis itu memang hebat sekali sehingga da-lam waktu singkat saja, tiga orang pengeroyok telah dapat dirobohkannya dan Chu Siang Yu sen-diri terdesak hebat. Pemimpin pemberontak itu lalu bersuit nyaring dan muncullah tujuh orang berseragam putih-putih mengkilap yang meme-gang sebatang pedang di tangan kanan dan sebuah perisai di tangan kiri. Sambil bergulingan, tujuh orang itu maju dan membuat gerakan mengepung Raja Kelelawar. Chu Siang Yu dan para pemban-tunya mundur karena mereka bahkan akan menga-caukan gerakan Jit-seng-tin (Barisan Tujuh Bin-tang) ini kalau mereka membantu.
Raja Kelelawar berdiri tegak memandang tujuh orang lawan yang kini mengepungnya dan tujuh orang itu semua bertindak mengitarinya. Sungguh merupakan pemandangan yang amat menegangkan dan juga mempsonakan. Karena pakaian para pe-ngepung ini putih - putih mengkilap, maka pakaian Raja Kelelawar yang serba hitam itu menjadi me-nyolok sekali.
Tiba-tiba seorang di antara tujuh anggauta Jit - seng - tin itu mengeluarkan bentakan sebagai aba - aba dan mulailah bergerak menyerang secara teratur sekali. Raja Kelelawar menghadapi mere-ka dengan tenang dan biarpun tujuh orang itu da-pat bergerak saling bantu dan tentu saja gerakan mereka amat cepat karena susul - menyusul, namun Raja Kelelawar dengan gin - kang yang luar biasa dapat mengimbangi mereka, bahkan dapat mema-tahkan semua serangan mereka yang membentuk bintang-bintang. Belum lewat tiga jurus Raja Ke-lelawar sudah mengenal inti gerakan mereka dan kini dialah yang memimpin dan menyerang sehing-ga bentuk barisan itu membayar dan menjadi ka-cau. Ketika memperoleh kesempatan baik, Raja Kelelawar itu membentak keras dan tangannya yang bergerak itu dapat bertemu dengan dada dan punggung dua orang pengeroyok.
"Takk! Takkk!"
Raja iblis itu berseru kaget dan meloncat ke belakang ketika merasa betapa tangannya bertemu benda keras yang amat kuat. Tahulah dia bahwa di balik baju putih mengkilap itu tersembunyi pe-risai baja yang kuat. Maka, pukulannya tadi ha-nya membuat mereka terdorong mundur akan te-tapi tidak terluka parah. Kini Raja Kelelawar ter-desak oleh tujuh orang lawannya. Marahlah dia. Sekali tangannya bergerak, kedua tangannya itu telah memegang sepasang belati yang mengeluarkan sinar kebiruan. Dan diapun bergerak cepat Mantelnya yang lebar itu membungkus tubuhnya, menjadi perisai yang amat kuat karena mantel itu tahan serangan senjata. Tubuhnya berputar - pu-tar dan terbungkus jubah. Setiap senjata yang sempat menyentuh tubuhnya, mental dan membalik ke arah penyerangnya sendiri.
"Awas! Jangan terlalu dekat dengan dia!" Chu Siang Yu berseru dan diapun bertepuk tangan be-berapa kali. Kini muncul pula lima pasang orang yang berpakaian hitam - hitam. Mereka membawa senjata aneh, yaitu jaring seperti jaring untuk men-jala ikan. Setiap pasang, yaitu dua orang, memba-wa sehelai jaring. Lima pasang orang ini segera mengepung dan berada di sebelah luar tujuh orang Jit - seng - tin. Melihat ini, diam - diam Raja Kele-lawar merasa terkejut sekali. Kiranya Chu Siang
Yu telah benar - benar bersiap siaga untuk me-nyambutnya, pikir raja iblis ini. Betapapun lihai-nya dan betapapun ampuh sepasang belatinya kalau sampai dia tertangkap jaring, dia akan cela-ka. Kalau dipikirkan secara mendalam, memang tidak mungkin dia dan empat orang kawannya saja menyerbu perkemahan yang dihuni oleh pu-luhan ribu orang perajurit!
Tiba - tiba Raja Kelelawar mengeluarkan pekik melengking dan selagi semua orang terkejut dan seperti pecah rasa anak telinga mereka, raja iblis itu sudah melenting tinggi di udara, menerobos atap kemah yang tinggi itu dan lenyap. Suara leng-kingannya amat hebat, bergema dan seperti ber-gulung - gulung bagaikan kilat bergemuruh, men-deru - deru dari segala penjuru. Semua orang ter-pukau dan seperti kesima, tak dapat bergerak dari tempatnya. Ketika semua orang sadar kembali dan hendak melakukan pengejaran, iblis itu telah le-nyap.
Semenjak Raja Kelelawar mengeluarkan pekik melengking tadi, tiba-tiba A-hai yang sejak tadi menonton perkelahian dengan wajah tetap bi ngung mengingat - ingat siapa adanya orang berpa-kaian hitam itu, kini bangkit berdiri dan terjadi pe-rubahan hebat pada wajahnya. Matanya menco-rong ganas, klu mendelik menakutkan. Urat-urat darah di pelipis dan dahinya menggembung seper-ti mau pecah. Uap tipis membungkus kepalanya dan matanya yang melotot itu seperti hendak me-loncat keluar. Peluhnya menetes - netes dan ta-buhnya gemetar hebat seperti erang kedinginan.
Melihat keadaan A-hai ini, Bwee Hong tak dapat lagi menguasai rasa gelisah dan ngerinya , "Koko ! Kun - ko , dia dia kenapa ?"
Seng Kun cepat menghampiri adiknya dan me-narik tangan adiknya menyingkir menjauhi A-hai, kemudian berteriak kepada semua orang yang ber-ada di situ, "Awas, kawanku ini sedang kumat sa-kitnya. Harap semua orang menjauhkan diri, kare-na dalam keadaan begini dia berbahaya sekali. Kepandaiannya amat luar biasa !"
Kata-kata ini tentu saja disambut dengan se-nyum oleh mereka yang berada di situ. Betapapun lihainya pemuda ini, siapa yang akan takut? Di si-tu penuh dengan orang-orang lihai sehingga Ra-ja Kelelawar sendiripun sampai melarikan diri Sementara itu, Chu Siang Yu sibuk memberi perintah kepada anak buahnya untuk melakukan pengejaran dan juga penjagaan agar diperketat.
"Kun-ko tolonglah dia. jangan biarkan dia mati , jangan biarkan dia mati...! Lihat urat-urat di kepalanya ah, seperti mau pecah...!"
Bwee Hong berteriak sambil meremas-remas tangan kakaknya.
Seng Kun mengelus pundak adiknya. "Jangan khawatir, Hong-moi. Kita sekarang tidak bisa mendekatinya. Lihat matanya, siapa mendekat mung-kin dibunuhnya. Kita hanya mengharap mudah-mudahan pengobatan yang kita berikan selama ini mampu menghilangkan hambatan-hambatan yang mengganggu jalan darahnya. Lihat, tonjolan di pelipisnya sudah tidak nampak lagi."
"Tidak , tidak , biar dia akan membunuhku, aku akan menolongnya, aku akan menusukkan jarumku di jalan darah tengkuknya. Aihh ... koko, lepaskanlah aku, lepaskan aku biar aku menolongnya !" Bwee Hong meronta – ronta dari pelukan kakaknya.
"Jangan...!!" Seng Kun terpaksa membentak adiknya karena dia maklum betul betapa besar ba-hayanya mendekati A-hai di saat seperti itu.
Sementara itu, wajah A-hai nampak semakin mengerikan dan tiba - tiba dia mengepal tinju tangannya, dan sekali menggerakkan tangan itu ke kanan, ada angin bersiutan menyambar dan beberapa orang yang berada dua meter jauhnya dari tempat itu terpelanting! "Aku... aku mengenal ... suara melengking itu...! Jahanam...! Engkaulah kiranya orang itu! Engkau...! ENGKAU !!" A-hai menjerit dan tiba - tiba tubuhnya meluncur ke-atas, menerobos lubang atap kemah dari mana Raja Kelelawar tadi melarikan diri. Cepat sekali gerakannya, seperti terbang, seperti anak panah terlepas dari busurnya dan sebentar saja lenyap, hanya terdengar suara lengkingan aneh yang tidak kalah dahsyatnya dibandingkan dengan lengking-an yang dikeluarkan oleh Raja Kelelawar tadi. Se-mua orang kembali kesima dan terpesona, seperti dalam mimpi saja. Baru beberapa saat kemudian, setelah gema suara melengking itu lenyap, ber-bondong - bondong orang yang berada di dalam kemah itu keluar.
Sementara itu, empat orang kawan Raja Kele-lawar, ketika mendengar pekik lengkingan pemim-pin mereka, berusaha meloloskan diri. Mereka di-kepung ketat dan sukar untuk lolos. Akan tetapi, dasar penjahat - penjahat yang sudah berpengalam-an, mereka menemukan akal dan mereka memba-kari kemah-kemah sehingga keadaan menjadi ka-lut. Di dalam kekalutan itulah, biarpun mereka menderita luka - luka, empat orang iblis itu dapat melarikan diri.
Setelah semua penjahat lari dan Chu Siang Yu bersama para pembantunya sibuk memadamkan kebakaran dan mengatur penjagaan menenteram-kan para perajurit yang tadi dilanda kekalutan, diam-diam Seng Kun dan Bwee Hong yang di-tinggal pergi A-hai itu meninggalkan perkemahan, mengambil jalan yang tadi dilalui Chu Siang Yu. Para penjaga yang mengenal mereka sebagai saha-bat dan tamu pemimpin mereka, tidak menghalangi. Mereka berdua pergi dengan cepat, dengan maksud hendak kembali ke perkemahan pasukan Liu Pang yang tidak begitu jauh dari tempat itu.
Di sepanjang perjalanan ini, wajah Bwee Hong nampak berduka sekali. Ia teringat kepada A-hai yang pergi meninggalkan mereka dalam keadaan kumat dan berbahaya, apa lagi kalau diingat bah-wa agaknya A-hai lari melakukan pengejaran ter-hadap Raja Kelelawar yang demikian sakti dan ga-nasnya.
"Koko, bagaimana kalau A-hai nanti dibunuh oleh Raja Kelelawar ? Biarpun dia juga lihai kalau sedang kumat, akan tetapi mana mungkin dia akan mampu menandingi Raja Kelelawar yang sakti itu ?"
Seng Kun diam saja. Matanya menatap wajah adiknya. "Hong - moi, serahkan saja kepada Thian. Pada hakekatnya, A-hai adalah seorang yang amat baik budinya dan aku yakin bahwa orang yang ba-ik budinya pada akhirnya akan selamat lahir batin-nya dan akan bahagia hidupnya. Pada saat ini kita tidak mampu berbuat sesuatu, karena kita tidak a-kan mampu mencari kedua orang yang memiliki kepandaian amat tinggi itu."
"Ah, koko, aku khawatir aku gelisah "
Bwee Hong menahan isaknya. Seng Kun merangkulnya dengan hati terharu.
"Adikku engkau mencintanya ?"
Bwee Hong tidak mampu menjawab, akan te-tapi pertanyaan kakaknya itu membuat ia menangis tersedu - sedu di atas dada kakaknya yang merang-kul dan mengelus rambutnya.
Cinta kasih adalah sesuatu yang hanya dapat dirasakan. Bukan sesuatu yang dapat dipikirkan. Cinta kasih tidak terpengaruh oleh pikiran, karena-nya tidak pernah membuat perhitungan untung rugi. Segala perbuatan kita manusia sekarang ini penuh dengan perhitungan untung rugi, oleh kare-na itu, pamrih memperoleh keuntungan menjauhi kerugian ini membuat setiap perbuatan kita palsu dan pura - pura, menyembunyikan pamrih. Hanya cinta kasih sajalah satu - satunya yang masih mem-beri harapan. Perbuatan yang didasari cinta kasih adalah perbuatan yang bebas dari pada pamrih mencari keuntungan atau kesenangan. Hidup tanpa adanya cinta kasih sama dengan mati, karena hidup menjadi hampa, membuat manusia tiada bedanya dengan sebuah robot. Dan cinta kasih ini baru nam-pak, baru muncul, sinarnya baru terang memenuhi hati yang tidak lagi dipenuhi keinginan-keinginan.
*
* *
Malam itu terang bulan, sunyi akan tetapi me-nyejukkan hati, sama dengan sejuknya suasana dan udara yang penuh dengan sinar bulan kuning ke-hijauan. Di tepi sebuah hutan, tak jauh dari perke-mahan barisan pendekar yang dipimpin oleh Liu Pang, nampak dua orang duduk di atas rumput. Seorang pemuda dan seorang gadis. Tidak ada pe-mandangan yang lebih mesra, lebih menyenangkan dilihat dari pada sepasang muda-mudi ber-cengkerama di bawah sinar bulan, di tempat yang sunyi dan sejuk aman, pada saat yang amat roman-tis penuh damai.
Akan tetapi, asmara tidak selamanya menda-tangkan kebahagiaan! Asmara antara pria dan wa-nita membutuhkan sambutan dari kedua pihak ! Kalau hanya sepihak yang mencinta sedangkan pihak lain tidak, maka asmara mendatangkan seng-sara, kekecewaan, patah hati! Bahkan sambutan kedua pihak sajapun belum cukup. Banyak terjadi dua orang muda yang saling mencinta, yang ber-sumpah disaksikan Langit dan Bumi bahwa mereka akan saling mencinta sampai selamanya, kemudian bercerai kasih, bahkan cinta mereka berobah men-jadi benci! Cinta asmara seperti itu mengenal pula cemburu, mengenal kebosanan, karena cinta as-mara seperti itu mengandung nafsu dan nafsu sela-lu didampingi oleh kebosanan.
Demikian pula, kalau kita mengikuti percakap-an antara pemuda dan gadis di tepi hutan itu di bawah sinar bulan, akan ternyata bahwa mereka tidaklah semesra seperti nampaknya.
"Nona Ho, betapa sempit dunia ini kalau kita bayangkan betapa sudah bertahun - tahun kita pernah bertemu secara kebetulan saja. Kemudian kita saling berpisah, bertahun-tahun lamanya, menempuh jalan hidup masing-masing, akan tetapi akhirnya kita saling berjumpa pula di sini, Aneh, bukan ?"
Ho Pek Lian, dara itu, tersenyum mengangguk, "Kwee - taihiap...."
"Aih, jangan menyebutku taihiap (pendekar besar), nona."
"Hemm, aku tidak pernah dapat melupakan bahwa engkau dahulu adalah ketua lembah yang memimpin banyak orang gagah "
"Lupakan saja hal itu, nona. Engkau sendiripun seorang pemimpin para pendekar yang berjuang, dan aku, selama menjadi murid suhu, tidak lagi mau mencampuri urusan perang. Aku adalah Kwee Tiong Li biasa, bukan pendekar besar bukan pula pejuang "
"Baiklah, Kwee - toako. Akan tetapi apa sih a-nehnya pertemuan antara kita ? Bagaimanapun juga, masih terdapat kesamaan antara kita, yang je-las, kita sama - sama menentang segala macam bentuk kejahatan. Tentu saja besar kemungkinan kita saling jumpa."
"Nona eb, sebaiknya kusebut adik padamu karena engkau menyebutku toako. Lian - moi, ma-sih ingatkan engkau akan pertemuan kita yang per-tama kali ?"
Pek Lian tertawa. 'Tentu saja. Di sebuah rumah yang gelap, engkau membunuh beberapa orang perwira dan wah, engkau pernah membuat aku ketakutan."
"Akan tetapi, ada suatu hal yang takkan pernah kauketahui atau kauduga." "Apa itu, toako ?"
"Bahwa pertemuan itu takkan pernah kulupakan selama hidupku, karena pada saat pertemuan itulah aku aku jatuh cinta padamu, Lian-moi."
Ucapan yang membelok ke arah pernyataan cinta ini sungguh tak pernah disangka oleh Pek Lian. Ia terkejut sekali dan mengangkat muka memandang wajah pemuda yang duduk di sampingnya itu dengan mata terbelalak. Seorang pemuda yang tampan, bertubuh tegap, bermuka merah, berwibawa, pendiam dan pakaiannya sederhana.
Seorang pendekar tulen ! Jatuh cinta padanya sejak pertemuan pertama itu ? Seperti dalam dongeng saja, atau dalam mimpi. Akan tetapi, di dalam hatinya, Pek Lian menggeleng kepala dengan sedih.
Sesungguhnya, seorang gadis seperti ia seharusnya berbahagia dicinta oleh seorang pendekar muda seperti Kwee Tiong Li dan betapa mudahnya membalas cinta seorang pemuda seperti ini. Akan tetapi baginya tidak mungkin. Tidak mungkin ia membalas cinta pemuda ini karena karena memang tidak merasakan adanya cinta di dalam hatinya terhadap pemuda ini, melainkan hanya perasaan suka dan kagum sebagai sahabat belaka. Cinta hatinya sudah direnggut oleh oleh siapa ? Ia sendiri masih bingung dan hal ini sering kali membuat ia gelisah dan tak dapat tidur.
Melihat gadis itu memandang kepadanya de-ngan pandang mata kaget lalu nampak termenung diam, Tiong Li menatap wajah itu penuh harapan. Betapa rindunya kepada Pek Lian. Rasa cinta dan rindunya dipendam selama bertahun - tahun dan dia merasa bahwa kini tiba saatnya untuk berterus terang. Hatinya diliputi kekhawatiran dan harapan.
"Lian - moi, maafkan aku. Sudah terlalu lama aku menyimpan rahasia hatiku ini, dan biarlah ki-ni kubukakan kepadamu. Aku cinta padamu, Lian-moi, dan suhu juga menyetujui perasaanku terhadap dirimu. Kalau saja engkau sudi menerima cintaku "
"Cukup, toako, harap jangan dilanjutkan. Maafkan aku toako, akan tetapi aku tidak mungkin dapat menerima cintamu bukan aku tidak menghargainya aku amat berterima kasih bahwa engkau suka memperhatikan diriku, akan tetapi ...... " Ia tidak dapat melanjutkan dan menundukkan mukanya, jantungnya berdebar gelisah menanti reaksi penolakannya itu dari Tiong Li.
Hening sejenak. Bukan keheningan yang me-nyejukkan hati lagi bagi keduanya. Bagi Pek Lian, keheningan itu menggelisahkan hati dan bagi Tiong Li keheningan itu merupakan suatu kesepian yang membuatnya terpencil menyedihkan hati.
Ketika Pek Lian merasa hampir tidak dapat lebih lama lagi menahan himpitan kegelisahan dalam keheningan itu, terdengar suara Tiong Li, lirih dan agak gemetar, "Lian - moi, apakah ...... apakah sudah ada orang lain ?"
Pertanyaan yang sama inipun sering kali menghantui hati Pek Lian dan ia sendiripun belum dapat menjawab dengan tepat. Akan tetapi ia pikir lebih baik mengiyakan saja agar Tiong Li tidak perlu memperpanjang harapan hatinya. Maka iapun mengangguk, kemudian menyusulkan ucapan lirih, " ...... maafkan aku, toako."
Tiong Li tersenyum dan Pek Lian hanya bera-ni memandang sekilas saja karena melihat betapa getirnya senyum itu. "Tidak apa, Lian - moi. Sudah dapat kuduga dan tidak mengherankan. Seorang dara seperti engkau ini tentu banyak pemuda yang jatuh cinta. Akan tetapi, seorang laki - laki harus memiliki keberanian untuk mencoba dan membuka isi hatinya, seperti halnya menghadapi seorang la-wan tangguh, soalnya hanya kalah atau menang, dan aku ...... aku telah kalah ...... engkaulah yang harus memaafkan kelancanganku dan selamat tinggal, Lian - moi, mudah - mudahan kelak kita akan dapat bertemu lagi dalam keadaan yang lebih menggembirakan " Pemuda itu bangkit berdiri dan ketika Pek Lian juga berdiri, dia men-jura dengan hormat, lalu pergi.
"Toako, engkau hendak ke mana ?"
Tiong Li menoleh dan tersenyum lagi. "Pergi bersama suhu. Sampai jumpa..." Dan diapun pe-gi meninggalkan Pek Lian yang termangu – mangu.
Pek Lian tentu akan lebih lama tenggelam da-lam lamunannya dengan hati sedih kalau tidak muncul seorang perajurit yang melaporkan kepa-danya bahwa Seng Kun dan Bwee Hong telah pu-lang dan kini gurunya, Liu Pang, memanggilnya Mendengar ini, hati Pek Lian girang sekali dan ia cepat - cepat pergi ke perkemahan besar di mana ia melihat Seng Kun, Bwee Hong, dan Liu Pang bersama semua pembantunya telah berkumpul mendengarkan pelaporan kakak beradik itu. Pek Lian segera merangkul Bwee Hong dan duduk di sebelah gadis itu, mendengarkan pula penuturan kakak beradik yang berhasil baik dengan tugas me-reka itu. Akan tetapi, ia mengerutkan alisnya ka-rena tidak melihat adanya A-hai bersama mereka !
"Di mana di mana A-hai ?" tanyanya kepada Bwee Hong sambil berbisik.
"Kau dengarkan saja, nanti koko tentu akan menceritakan tentang dia," bisik Bwee Hong kembali.
Seng Kun menceritakan semua pengalamannya, tentang keadaan kota raja yang dikepung oleh pa-sukan Chu Siang Yu, tentang pertemuan mereka dengan Chu Siang Yu yang kemudian mengajak mereka bertiga berkunjung, kemudian tentang ke-munculan Raja Kelelawar dan anak buahnya un-tuk mengacau perkemahan Chu Siang Yu akan te-tapi akibatnya hampir saja raja iblis dan anak bu-ahnya itu celaka. Akhirnya dia menceritakan tentang A-hai yang begitu bertemu dengan Raja Ke-lelawar lalu kumat dan melakukan pengejaran se-orang diri.
Mendengar penuturan yang hebat menegangkan itu, semua orang termangu - mangu. Terutama se-kali Liu Pang dan juga Pek Lian, walaupun antara guru dan murid ini terdapat perbedaan sebab yang membuat mereka termangu. Liu Pang termangu membayangkan kekuatan musuh, sedangkan Pek Lian termenung karena mengkhawatirkan kepergi-an A-hai yang melakukan pengejaran terhadap Raja Kelelawar seorang diri saja!
Sementara itu, Yap Kiong Lee yang tentu saja paling tertarik mendengar kemunculan Raja Kelelawar, ketika mendengar tentang A-hai, menggeleng kepala. "Hebat , hebat! Saudara A-hai itu memang memiliki ilmu kepandaian simpanan yang amat dahsyat. Akan tetapi Raja Kelelawar-pun merupakan seorang iblis yang sakti. Aku per-nah menghadapi keduanya dan tingkat kepandaian mereka memang jauh di atas tingkatku. Sungguh, aku ingin sekali dapat menyaksikan pertarungan di antara keduanya, tentu akan hebat bukan main !"
Semua orang yang mendengar ucapan Yap Kiong Lee ini menarik napas panjang penuh kagum. Pemuda she Yap yang mereka banggakan dan me-reka anggap paling lihai itupun masih mengaku kalah terhadap Raja Kelelawar!
"Hemm, baiknya raja iblis itu mengacau perkemahan Chu Siang Yu, bukan perkemahan kita ! ” kata seorang di antara mereka dengan ngeri.
Liu Pang yang sejak tadi menundukkan muka dengan alis dikerutkan, lalu berkata, "Kita harus berhati - hati. Kalau dibandingkan, di antara ke-kuatan pemerintah, kekuatan pemberontak Chu Siang Yu dan kekuatan kita, maka kekuatan kita a-dalah yang paling lemah. Kita harus mengatur sia-sat sebaik - baiknya agar sekali pukul merupakan pukulan terakhir yang berhasil baik."
Mereka bermusyawarah dan akhirnya diambil keputusan bahwa mereka akan membiarkan dua kekuatan itu saling hantam sampai seorang di an-taranya kalah dan yang lain, biarpun menang, te-tap saja berkurang kekuatannya. Saat itulah mere-ka akan menggempur pihak yang menang. Siasat ini mereka namakan MEMBIARKAN DUA EKOR ANJING MEMPEREBUTKAN TULANG, yang dimaksudkan bahwa dua ekor anjing itu adalah pihak kerajaan dan pihak Chu Siang Yu. Kalau dua ekor anjing itu sudah kelelahan dan yang seekor mati, mudah untuk membunuh yang ke dua.
Setelah pertemuan dibubarkan untuk memberi waktu istirahat kepada semua orang, Seng Kun dan Bwee Hong bercakap - cakap dengan Yap Kiong Lee yang masih merasa tertarik sekali me-ngenai diri A-hai dan Raja Kelelawar. Dalam ke-sempatan ini, Seng Kun menceritakan bahwa dia pernah bertemu dengan ayah angkat atau guru pendekar itu, ialah Yap Cu Kiat atau Yap-lojin ketika orang tua itu melindungi putera mahkota yang hendak dibunuh oleh kaisar muda.
"Yap-locianpwe itu pergi mencari sisa pasukan Jenderal Beng," demikian Seng Kun menutup ceritanya. "Akan tetapi eh, kenapa dalam pertemuan tadi aku tidak melihat Kwa – locianpwe ketua Tai - bong - pai ?"
"Benar! Akupun tadi sudah heran kenapa tidak melihat adik Siok Eng!" Bwee Hong bertanya, Adik ini tahu bahwa sang kakak sesungguhnya mencari dan kehilangan gadis manis puteri ketua Tai - bong - pai itu !
Yap Kiong Lee tersenyum. "Aih, hampir aku lu-pa. Beliau sekeluarga lelah pergi dan menitipkan surat untukmu." Dia lalu mengeluarkan sesampul surat dari saku bajunya dan diserahkan kepada Seng Kun. Pemuda ini tidak segera membacanya. Entah bagaimana, biarpun surat itu datangnya dari ketua Tai - bong - pai, karena ketua itu ayah Siok Eng, dia merasa malu membukanya di depan orang lain ! Dan untuk menutup rasa malunya, dia membelokkan percakapan dan bertanya.
"Dan akupun tidak melihat Karn lo - cianpwe dan Kwee Tiong Li!"
"Merekapun sudah berangkat pergi, baru saja se-belum kalian berdua datang," jawab yang ditanya.
Mereka berpisah dan pergi ke kemah masing-masing yang sudah disediakan untuk mereka. Sete-lah berduaan dengan adiknya, baru surat itu dibuka oleh Seng Kun dan isinya ternyata merupakan surat undangan ! Dengan resmi, ketua Tai - bong - pai sekeluarga mengundang tuan penolong mereka, Seng Karo dan Bwee Hong, untuk berkunjung ke tempat mereka sesudah kakak beradik itu menyelesaikan semua urusan mereka.
Membaca surat undangan itu, Bwee Hong ber-kata, "Kun - ko, kita harus menemui ayah dahulu se-belum pergi mengunjungi mereka."
Mendengar nada suara adiknya, Seng Kun memandang. "Maksudmu ?"
"Kita harus pergi bersama ayah ke sana untuk meminang adik Siok Eng !"
Seng Kun menarik napas panjang. "Matamu tajam sekali, adikku. Memang, aku tertarik kepadanya. Hanya sayang ayahnya ketua Tai-bong-pai "
"Hemm, apa hubungannya hal itu dengan kalian berdua kalau kalian saling mencinta ?"
"Engkau melupakan ayah kita ? Ayah adalah seorang bangsawan, seorang pendeta pula. Aku sangsi apakah beliau suka berbesan dengan ke-tua Tai - bong - pai."
Bwee Hong terdiam dan melihat wajah kakak-nya yang muram, ia merangkul, "Koko, jangan khawatir, aku akan membantumu membujuk ayah kalau tiba saatnya."
"Engkau adikku yang baik. Mudah - mudahan engkaupun akan berbahagia kelak dengan... dia!"
Malam itu, Bwee Hong tidur bersama Pek Lian. Keduanya mempunyai rahasia hati, akan tetapi ti-dak mau saling menceritakan. Bahkan Pek Lian ti-dak berani bercerita tentang peristiwa yang di-alaminya bersama Tiong Li malam tadi.

                                                                             ***

Semua perhitungan yang dilakukan oleh Chu Siang Yu yang ahli dalam ilrnu perang itu ternyata berjalan seperti yang digambarkannya. Benteng kota raja diserbu. Pasukannya dibantu pasukan a-sing dari utara dan barat yang besar jumlahnya. Biarpun kota raja dilindungi oleh datuk - datuk kaum sesat, akan tetapi tidak mampu menahan gelombang pasukan yang amat besar itu dan akhir-nya benteng itupun jatuh. Dan sesuai dengan wa-tak para penjahat, begitu mereka tidak ada ha-rapan lagi, para datuk itupun melarikan diri entah ke mana!

Bersambung

Darah Pendekar 45                                                                 Darah Pendekar 47