Jumat, 07 Juni 2013

DARAH PENDEKAR 45

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S.Kho Ping Hoo
Bab 45
"Ha - ha, mana ada kelelawar muncul di siang hari ? Kalau kalian ingin melihatnya, datang saja kembali ke sini malam nanti. Ha - ha, lihat betapa pasukan kerajaan mulai terdesak. Paling lama so-re nanti mereka tentu akan dapat didesak mundur sampai ke dalam benteng kota raja. Kalau sudah begitu, tentu Iblis Kelelawar itu akan muncul, tunggu saja malam nanti!"
Tiga orang muda itu terkejut dan memandang ke sana - sini mencari siapa orangnya yang tiba-tiba bicara kepada mereka itu. Suara itu seperti terdengar dari atas, akan tetapi mereka tidak da-pat menemukan pembicara itu. Akhirnya mereka tidak perduli lagi karena keadaan jauh di bawah sana itu amat menarik hati mereka. Mereka ber-tugas melakukan penyelidikan dan kini mereka memperoleh tempat yang amat baik untuk dapat melihat jalannya pertempuran antara para pemberontak anak buah Chu Siang Yu melawan pasukan pemerintah. Kini, setelah melihat jalannya pertem-puran, mulailah mereka dapat membedakan mana pasukan pemerintah dan mana pasukan pembe-rontak. Dan memang tepat seperti yang dikatakan orang yang tak dapat mereka temukan tadi, kini pihak pemerintah terdesak hebat. Pada saat ma-tahari terbenam, pihak pasukan pemerintah sudah terdesak semakin hebat dan akhirnya mereka itu meninggalkan teman - teman yang tewas, lari me-masuki pintu gerbang yang segera mereka tutup dan pasukan anak panah menghujankan anak pa-nah dari atas tembok benteng. Tentu saja pertem-puran otomatis berhenti dan pihak pemberontak juga menarik pasukannya agar mengepung tembok benteng akan tetapi tidak terlalu dekat agar jangan menjadi korban anak panah yang turun bagaikan hujan. Pasukan pemberontak yang berhasil men-desak pasukan pemerintah itu kini memperkuat kedudukan dan membuat perkemahan di kaki bu-kit, mengepung tembok benteng kota raja.
Karena pertempuran berhenti, Seng Kun bertiga lalu turun dari puncak untuk beristirahat pula dan mengisi perut. Mereka mengambil keputusan un-tuk kembali lagi malam nanti, sesuai dengan an-juran suara tanpa rupa tadi.
Malam itu sunyi, akan tetapi bulan muncul di langit yang bersih. A-hai mencari sepotong kayu cabang pohon untuk membantunya mendaki bukit sampai ke puncak. Walaupun pendakian ke pun-cak itu merupakan jalan liar yang harus dicari sendiri, namun mereka bertiga dapat mendakinya dengan mudah, apa lagi ada sinar bulan menerangi permukaan puncak. Seng Kun dan Bwee Hong berjalan di depan, sedangkan A-hai yang meme-gang tongkat kasar dengan tangan kirinya, mengi-kuti dari belakang. Agaknya pasukan kedua pihak malam itu tidak melanjutkan pertempuran. Agak-nya masing-masing pihak hendak menyimpan te-naga sambil mengatur siasat malam itu.
Ketika tiga orang muda itu tiba di puncak, me-reka berhenti dan memandang ke bawah pohon di mana berdiri seorang laiki - laki yang amat gagah ! Pria itu berdiri dengan tegak, kedua tangan berse-dekap dan tidak bergerak seperti sebuah arca. Ju-bahnya panjang berwarna putih terbuat dari sutera halus. Di pinggangnya tergantung sebatang pe-dang. Sepatunya mengkilap dan kuat, rambutnya digelung ke atas, dihias dengan semacam hiasan berbentuk mahkota kecil. Wajahnya tampan dan sikapnya agung, menunjukkan bahwa pria ini ada-lah seorang bangsawan yang memiliki wibawa kuat. Dari tempat itu, Seng Kun bertiga dapat melihat perkemahan para pemberontak, dan lebih jauh lagi nampak benteng kota raja.
"Selamat malam!" Orang berjubah putih itu menyambut mereka dengan sikap angkuh, tanpa menoleh dan melanjutkan pandang matanya yang sejak tadi memeriksa keadaan di bawah sana pe-nuh perhatian.
Seng Kun bertiga terkejut mendengar suara ini, suara yang segera mereka kenal baik sebagai suara orang yang tidak mau memperlihatkan dirinya si-ang tadi. Karena keadaan orang itu menimbulkan rasa hormat, merekapun membalas salam orang itu dan menghampirinya, lalu berdiri di dekatnya sambil ikut pula memandang penuh perhatian ke bawah puncak. Setelah dekat, nampaklah bahwa laki - laki ini berusia hampir empatpuluh tahun dan wajahnya gagah dan tampan.
"Kalian lihatlah!" Orang itu berkata seolah-olah mereka adalah kenalan lama. "Perkemahan itu demikian luas, tidak kurang dari seribu buah banyaknya, dan setiap kemah kecil itu menam-pung duapuluh lima orang perajurit, belum ke-mah yang besar. Kekuatan pemberontak Chu ini sungguh tidak kecil, bukan ?"
Seng Kun mengangguk - angguk membenarkan. "Kami juga menduga bahwa kekuatan pasukan pe-merintah tidak akan dapat bertahan terlalu lama."
"Bertahan terlalu lama? Ha-ha, kau lihat sa-ja, besok, sebelum matahari terbenam, benteng itu akan jatuh dan dapat dikuasai, kota raja akan dapat diduduki oleh pasukan - pasukan Chu yang hebat!"
Tiga orang muda itu tertegun dan saling pan-dang. Diam - diam mereka menduga - duga. Siapakah gerangan orang ini? Dari golongan mana dan bagaimana orang ini dapat meramal dengan suara demikian penuh keyakinan ?
"Eh locianpwe siapakah ?" A – hai yang sejak tadi sudah ingin tahu sekali tidak da-pat menahan pertanyaannya.
Pertanyaan itu membuat si jubah putih mem-balik dan menatap mereka dengan langsung. Ti-ga orang muda itu kembali terkejut. Kini nampak jelas wajah yang gagah penuh wibawa itu, dan se-pasang matanya tajam bersinar tanda bahwa dia memiliki kepandaian yang tinggi.
"Kelak kalian akan tahu sendiri siapa aku. Ti-dak layak aku memperkenalkan diri kepada orang-orang yang aku sendiri tidak mengenalnya dengari betul. Siapa tahu aku berhadapan dengan pihak musuh ? Suasana begini kacau dan kita harus ber-sikap curiga dan hati - hati."
A-hai mengerutkan alisnya. Orang ini bicara begini terus terang tanpa menjaga perasaan orang lain sehingga kata - katanya terdengar kasar dan tidak enak, walaupun suaranya tetap halus dan sopan. Diapun sudah siap untuk membalas ucapan tidak enak itu, akan tetapi sebelum dia sempat membuka mulut, orang itu sudah mengangkat ta-ngan mencegah mereka membuat berisik.
"Sstt, harap perhatikan. Inilah saatnya Raja Kelelawar keluar dari sarangnya !"
Tentu saja ucapan itu membuat mereka bertiga terkejut dan juga merasa serem sehingga tanpa da-pat mereka cegah, mereka merasa betapa tengkuk mereka menjadi dingin. Mereka semua kini me-mandang penuh perhatian ke bawah, ke segenap penjuru, terutama ke arah benteng kota raja yang nampak sunyi itu.
Tiba-tiba A-hai menyentuh lengan Seng Kun, "Lihat di atas tembok sebelah barat itu, di dekat menara penjaga. Ada orang berlompatan di sana hemm , ada lima orang banyaknya "
Seng Kun dan Bwee Hong mengerahkan keku-atan pandang mata mereka ke arah yang ditunjuk A-hai itu. Tentu saja keduanya menjadi terkejut dan heran. Dari puncak bukit itu, benteng kota raja hanya kelihatan kecil, seperti tembok rumah biasa saja, dan bangunan - bangunan di bagian da-lamnya hanya sebesar kotak - kotak kertas. Bagai-manakah A-hai dapat melihat orang - orang yang tentu saja amat kecil, di waktu malam lagi, hanya dengan penerangan bulan saja ? Kalau waktu si-ang dan mereka mengerahkan sinkang, mungkin mereka masih akan mampu melihat orang - orang yang dimaksudkan oleh A-hai. Seng Kun dan Bwee Hong menoleh dan memandang kepada A-hai dan mereka berdua terkejut bukan main. Se-pasang mata A-hai mencorong seperti mata ha-rimau di dalam kegelapan. Bukan hanya kakak beradik itu yang menjadi kagum, juga orang ber-jubah putih itu diam - diam terkejut bukan main.
Pemuda mi memiliki ketajaman mata yang luar bi-asa, pikirnya sehingga dia sendiripun kalah kuat!
"Pemuda ini bukan orang sembarangan dan memiliki tenaga sinkang yang sukar diukur kehe-batannya," demikian dia berkata di dalam hatinya dan sikapnya menjadi semakin waspada.
Di dalam keheranan dan kekaguman mereka, kakak beradik itu diam-diam merasa girang bu-kan main. Mereka tahu bahwa keadaan A-hai semakin membaik dan ternyatalah bahwa A-hai benar-benar seorang pemuda yang amat lihai. Si-kap A-hai saja menunjukkan bahwa pemuda itu sudah mulai pulih kembali ingatannya, tidak lagi kelihatan ketololan. Hanya ada hal-hal yang be-lum diingatnya dan mungkin hal - hal yang ter-amat pentinglah yang dilupakannya itu, dan siapa tahu, hal-hal penting ini yang menjadi penyebab dia kehilangan ingatan. Kalau peristiwa penting ini teringat, bukan tidak boleh jadi kalau dia akan menjadi waras kembali.
Seng Kun meraba tangan adiknya dan diajak-nya minggir agak menjauhkan diri. "Hong-moi, aku tiba-tiba mendapat pikiran bahwa jalan satu-satunya untuk membuat dia sembuh sama sekali adalah memberinya guncangan batin hebat dengan jalan mempertemukannya dengan tempat dan orang yang membuat dia kehilangan ingatannya. Ingat, totokan tiga jari di pelipisnya itu. Kalau saja dia dapat berhadapan dengan orang yang menotoknya, aku berani bertaruh bahwa guncangan batin akan mampu menembus semua penghalang dan dia akan pulih kembali sama sekali."
"Akan tetapi," Bwee Hong juga berbisik, "ba-gaimana hal itu dapat dilaksanakan ? Kita tidak tahu siapa yang melakukan perbuatan keji terha-dapnya, bahkan diapun tidak ingat di mana tem-pat tinggalnya dahulu.*"
Seng Kun menarik napas panjang. "Engkau be-nar. Kita hanya boleh mengharapkan terjadinya suatu keajaiban, yaitu musuhnya itulah yang da-tang mencarinya !"
"Harapan itu bukan kosong belaka, koko. Ka-lau musuhnya melihat bahwa dia masih hidup, tentu musuhnya itu akan datang untuk mencoba membunuhnya."
"Betapa mengerikan! A-hai yang demikian saktinya saja sampai kalah dan dibuat tidak ber-daya. Kalau musuh yang sedemikian saktinya muncul dan menyerangnya, bagaimana kita akan mampu menolongnya ?"
Pada saat itu, terdengar suara orang berjubah putih, "Nah, tepat dugaanku ! Si Raja iblis Kelelawar itu keluar dari sarangnya. Dia menyeberangi parit yang mengelilingi tembok benteng!"
Setelah berkata demikian, dia bertepuk tangan dan terkejutlah tiga orang muda itu ketika melihat munculnya beberapa orang dari tempat gelap dan melihat kecepatan gerakan mereka, mudah diketahui bahwa mereka terdiri dari orang-orang yang berilmu tinggi! Yang membuat Seng Kun dan Bwee Hong memandang dengan kaget adalah ketika mereka mengenal dua orang di antara me-reka itu. Dua orang itu bukan lain adalah Kim I Ciangkun dan Gin I Ciangkun, dua orang pangli-ma yang menjadi komandan pasukan pengawal istana dan mereka adalah tangan kanan dari Pek-lui - kong Tong Ciak, jagoan di istana kepercayaan kaisar lama!
Beberapa orang itu menghadap si jubah putih dan memberi hormat. "Si iblis sudah muncul, te-pat seperti yang kita perhitungkan. Dia membawa empat orang teman yang berkepandaian tinggi. Beri tahu teman-teman dan jalankan siasat yang telah kita rencanakan !"
"Akan hamba laksanakan perintah Ong - ya !" jawab seorang di antara mereka.
"Ji - wi Tai - ciangkun, bagaimanakah ji - wi dapat berada di sini selagi kota raja terancam oleh pasukan musuh ? Mengapa dua orang ini malah berada di sini dan agaknya menjadi pembantu orang asing ini ?"
Mendengar teguran si gadis, orang yang berju-bah putih itu nampak terkejut. Tadinya dia me-mang sudah curiga dan menduga-duga siapa ada-nya tiga orang muda yang amat lihai itu dan ter-nyata gadis itu malah sudah mengenal dua orang pembantunya yang dipercaya ! "Kalian mengenal mereka ini?" tanyanya kepada Kim I Ciangkun dan Gin I Ciangkun.
"Maaf, Ong - ya. Mereka berdua itu adalah ke-luarga kaisar lama, masih keponakan kaisar lama. Mereka adalah putera Bu Hong Seng-jin, ketua kuil istana Thian - to - tang yang kini telah dipen-jara oleh kaisar baru itu."
"Ayah dipenjara ?" Kakak beradik itu bertanya, hampir berbareng. Memang, hubungan antara me-reka dan ayah kandung mereka tidaklah demikian erat karena sejak kecil mereka telah berpisah dari ayah kandung mereka, namun tentu saja mereka menjadi terkejut dan penasaran sekali mendengar betapa ayah kandung mereka yang tidak berdosa itu, yang hanya menjadi ketua kuil di istana, kini ditangkap dan dijebloskan pula ke dalam penjara. "Tai - ciangkun, di mana ayah ditahan dan meng-apa ?" Seng Kun mendesak.
Akan tetapi orang yang berjubah putih dan disebut Ong-ya itu menggerakkan tangan mena-han. "Hendaknya kalian berdua bersabar dan menunda pertanyaan kalian itu. Keadaan amat men-desak, Raja Kelelawar telah keluar dari sarangnya. Mari ikut kami, menyongsong Raja Kelelawar yang menjadi panglima dan mungkin pula penyebab ditangkapnya ayah kalian."
Seng Kun dan Bwee Hong tidak dapat mem-bantah lagi dan mereka, tentu saja diikuti pula oleh A-hai, mengikuti orang itu pergi dari puncak bukit. Mereka semua pergi dengan jalan me-nyebar, dan tiga orang muda itu mengikuti si ju-bah putih.
Kiranya si jubah putih itu membawa mereka turun puncak menuju ke perkemahan barisan pem-berontak yang mengepung benteng kota raja! Mereka tiba di tempat penyimpanan kuda dan ti-ba - tiba dari tempat gelap muncul seorang berku-lit hitam berkepala gundul. Kemunculannya amat mengejutkan. Kulitnya yang hitam membuat dia sukar darat dilihat di dalam kegelapan malam. Akan tetapi orang ini menghadap si jubah putih sambil memberi hormat. "Ong - ya, semua kuda dalam keadaan baik dan terjaga kuat. Tidak akan ada musuh dapat lewat di sini tanpa sepengetahu-an kami," orang itu melapor..
Si jubah putih mengangguk - angguk. "Bagus, akan tetapi hati - hatilah. Musuh yang akan me-nyusup ke sini adalah Raja Iblis Kelelawar dan te-man - temannya. Mereka itu memiliki kepandaian tinggi seperti iblis - iblis saja. Pergilah dan bersi-aplah baik - baik !"
Orang itu menjura dan sekali berkelebat diapun lenyap. A-hai yang kini sudah agak pulih ingat-annya dan sudah menguasai sebagian besar kepan-daiannya, memuji, "Wah, ginkang si hitam itu hebat juga."
Mereka tiba di gudang persediaan makanan dan tiga orang muda itu merasa kagum akan ke-rapian penjagaan di bagian ini. Juga seorang ko-mandan maju memberi hormat dan melaporkan bahwa keadaan di situ aman dan bahwa mereka melakukan penjagaan dengan ketat. Setelah mele-wati bagian - bagian yang dijaga ketat, si jubah putih membawa tiga orang muda itu masuk ke kompleks perkemahan. yang besar, terjaga kuat dan dihias dengan panji - panji dan bendera - bendera. Di situ nampak para komandan, di antaranya Kim I Ciangkun dan Gin I Ciangkun, dan mereka semua menghormati si jubah putih seperti orang-orang menghormati raja. mereka. Dan setelah tiga orang muda itu disuruh ikut masuk, barulah mereka sa-dar bahwa si jubah putih itu bukan lain adalah pemimpin besar barisan ini, dan dialah pemimpin barisan pemberontak, yaitu Chu Siung Yu yang terkenal sekali itu !
Setelah tiba di bagian dalam, beberapa orang dayang mengiringkan seorang wanita cantik ber-usia tigapuluh tahun lebih yang menyambut ke-datangan Chu Siang Yu dengan meriah. Kiranya wanita cantik itu adalah isteri pemimpin pembe-rontak Chu Siang Yu itu, seorang isteri yang amat setia dan mencinta suaminya, mengalami segala macam suka duka selama suaminya memimpin pemberontakan dan sering kali hidup dalam kea-daan amat sukar dan penuh dengan kekerasan dan bahaya.
Setelah sadar bahwa si jubah putih itu adalah Chu Siang Yu si pemimpin pemberontak yang amat terkenal dan lihai, yang menjadi saingan be-sar dari Liu Pang, tentu saja tiga orang muda itu menjadi terkejut sekali dan mereka saling pandang dengan hati berdebar. Celaka, pikir Seng Kun. Mereka telah masuk di tengah - tengah kekuatan musuh! Mereka menduga-duga apakah pemim-pin pemberontak ini sudah tahu bahwa mereka, biarpun tanpa ikatan, kini menjadi mata - mata pihak Liu Pang, berarti musuh pemberontak ini!
Akan tetapi, agaknya Chu Siang Yu tidak me-musuhi mereka dan agaknya belum tahu akan hu-bungan mereka dengan Liu Pang. "Isteriku, mari kuperkenalkan dengan tiga orang muda yang ten-tu akan sangat menarik hatimu. Mereka berdua ini adalah masih sanakku sendiri, karena mereka adalah putera - puteri dari paman Chu Sin, engkau tentu ingat, paman Pangeran Chu Sin yang kini menjadi Bu Hong Seng - jin, ketua kuil istana Thian - to - tang. Dan pemuda yang seorang ini, jangan main-main, dia ini memiliki ilmu kepan-daian yang mungkin tidak ada tandingannya di antara kita semua!"
Mendengar ucapan ini, tiga orang muda itu terkejut bukan main. Tahulah kini mengapa Chu Siang Yu bersikap begitu baik. Kiranya masih ada pertalian keluarga antara pemimpin pemberontak ini dengan ayah mereka. Pantas nama keturunan mereka sama, yaitu she Chu ! Juga A-hai ter-kejut sekali karena pemimpin pemberontak ini ter-nyata sudah dapat mengetahui akan ilmu kepan-daiannya. Benar - benar seorang gagah perkasa yang cerdik dan tidak boleh dipandang ringan !
Karena diperkenalkan, terpaksa mereka mem-perkenalkan nama mereka. Ketika mendengar bahwa pemuda yang memiliki mata amat tajam itu hanya bernama A-hai tanpa she, Chu Siang Yu mengerutkan alisnya akan tetapi tidak memberi komentar. Sebagai seorang gagah diapun tahu bahwa orang - orang kang - ouw memang banyak yang memiiliki watak aneh dan dia mengira bah-wa pemuda inipun tidak ingin memperkenalkan nama yang sebenarnya dan hanya memakai nama samaran saja.
Isteri Chu Siang Yu segera tertarik dan suka sekali kepada Bwee Hong yang memang amat can-tik jelita. Ia menggandeng tangan gadis ayu itu dan diajak duduk di dekatnya. Sementara itu, pa-ra dayang lalu mengeluarkan hidangan dan pe-mimpin pemberontak itu, bersama isteri dan para komandan yang menjadi pembantu dekatnya, lalu mengadakan perjamuan makan minum dengan gembira. Kiranya mereka itu secara sederhana merayakan kemenangan pertempuran di hari tadi. Tentu saja tiga orang muda itu menjadi semakin kagum. Bukankah Chu Siang Yu sudah mengeta-hui bahwa Raja Kelelawar- bersama empat orang pembantunya yang lihai keluar dari dalam benteng dan agaknya hendak menyusup ke dalam perke-mahan barisannya ? Bahkan para komandan pem-bantunya juga sudah tahu ? Akan tetapi mengapa mereka itu malah makan minum dan berpesta se-perti tidak mengambil pusing sama sekali ? Ini ha-nya menunjukkan bahwa Chu Siang Yu amat per-caya kepada kekuatannya sendiri.
Diam-diam tiga orang muda itu memperhati-kan para komandan pembantu Chu Siang Yu dan bagaimanapun juga, di dalam hati Seng Kun merasa tidak senang melihat kenyataan bahwa pemimpin pemberontak yang masih sanaknya ini ternyata te-lah mempergunakan tenaga-tenaga asing dalam pasukannya. Di situ duduk beberapa orang yang dari bentuk tubuh, muka dan pakaiannya, juga lo-gat bicaranya, jelas menunjukkan bahwa mereka itu adalah orang - orang asing. Di antaranya terda-pat seorang laki - laki raksasa Mongol yang keli-hatan amat kuat.
Tubuhnya tinggi besar, kokoh seperti bukit karang, dan dengan pakaian seorang panglima yang bersisik emas, sungguh dia nam-pak menakutkan. Kedua pergelangan tangannya dilindungi kulit berlapiskan perak, dan rambutnya yang pendek dibiarkan teriap ke belakang, diikat dengan pita, sedangkan mukanya penuh brewok yang sudah bercampur uban.. Sepasang matanya besar dan tajam, dan sikapnya agak kasar seperti sikap orang- orang yang tidak memperdulikan sopan - santun, juga dari gerak - geriknya masih terbayang keliarannya dan agaknya dia mengang-gap rendah orang - orang lain. Seorang lawan yang amat tangguh, pikir Seng Kun.
Setelah makan minum selesai, Chu Siang Yu lalu berkata sambil tersenyum lebar, "Kita malam ini menyambut tiga orang muda yang memiliki il-mu kepandaian tinggi, oleh karena itu, sudah se-patutnya kalau kita memberi pertunjukan ilmu silat. Nah, siapa mau memulai untuk menyambut para tamu kita yang gagah ?"
Mereka semua sudah minum arak cukup banyak yang membuat kepala dan hati terasa ringan. Gin I Ciaugkun sudah bangkit berdiri dan menjura ke arah pemimipinnya. "Biarlah saya yang bodoh menghormati putera dan puteri Bu Hong Seng-jin !" katanya dan setelah Chu Siang Yu mengang-guk setuju, kakek berusia empatpuluh tahun lebih ini menuju ke tengah ruangan itu dan mulailah dia bersilat.
Kakek ini bertubuh tinggi tegap dan bermuka brewok. Gerakan kaki tangannya mantap dan ke-tika dia bermain silat beberapa lamanya, orang-orang di situ mulai merasakan sambaran hawa dingin. Kiranya panglima baju perak ini memiliki ilmu sinkang yang disebut Swat-ciang (Tangan Salju) dan pukulan yang mengandung hawa dingin itu amat berbahaya bagi lawan. Setelah dia sele-sai bersilat dan memberi hormat kepada pemimpinnya, Chu Siang Yu bertepuk tangan memuji, diikuti oleh orang - orang yang hadir di situ. Me-lihat rekannya sudah maju, Kim I Ciangkun tidak mau ketinggalan. Diapun memperlihatkan ketang-kasannya. Tubuhnya yang tinggi kurus bergerak cepat dan tak lama kemudian, gerakan kedua ta-ngannya itu mengeluarkan hawa panas menyam-bar-nyambar. Itulah ilmu Hui-ciang (Tangan Api) yang tidak kalah ampuhnya dibandingkan dengan Swat - ciang milik rekannya tadi. Juga Kim I Ciangkun menerima sambutan pujian dan tepuk tangan.
Sejak tadi, raksasa Mongol yang duduknya ber-hadapan dengan isteri Chu Siang Yu sehingga dia dapat menatap wajah Bwee Hong dengan jelas, memperlihatkan sikap amat tertarik kepada dara ini. Dia bersikap kasar dan biarpun dia tidak berani secara terus terang mengeluarkan kata - kata yang menyinggung, namun kerling matanya yang lebar itu selalu menyambar ke arah Bwee Hong, mem-buat dara ini kadang - kadang mengerutkan alisnya dan membuang muka. Kini, melihat betapa dua orang rekannya itu memperlihatkan ilmu kepan-daian, si raksasa Mongol inipun bangkit berdiri dan mengajukan diri untuk menghibur para tamu. Tentu saja permintaannya dikabulkan dengan gem-bira oleh Chu Siang Yu. Dengan langkah gagah raksasa ini menuju ke tengah mangan. Raksasa ini adalah adik dari Malisang, kepala suku Mongol yang menjadi sekutu Chu Siang Yu dan bekerja sama dengan pasukan yang dipimpin oleh Kwa Sun Tek putera ketua Tai - bong - pai.
Usianya sudah hampir limapuluh tahun dan dalam hal il-mu silat, ilmu gulat dan tenaga, dia tidak kalah oleh kakaknya. Sejak tadi dia terpesona oleh ke-cantikan Bwee Hong, maka kini dia maju untuk menjual tampang, untuk menarik perhatian dara yang membuatnya tergila - gila itu.
Mulailah raksasa Mongol ini bersilat dan begitu dia menggerakkan kedua kakinya, lantai bergo-yang - goyang dan seluruh kemah itu tergetar. Ju-ga kedua tangannya yang menyambar - nyambar mendatangkan hawa pukulan yang amat kuat. Akan tetapi, baru belasan jurus raksasa ini bersilat, dia menghentikan gerakannya. Sejak tadi dia ber-silat sambil tersenyum dan mengerling ke arah Bwee Hong, akan tetapi nona ini malah memaling-kan muka dan tidak mau nonton kelihaiannya. Hal ini membuatnya merasa penasaran. Dia bersilat hanya untuk pamer kepada nona itu, akan tetapi yang dipameri malah membuang muka! Semua orang merasa heran melihat raksasa itu berhenti bersilat, bahkan Chu Siang Yu sendiri bertanya mengapa ilmu silat yang belum selesai dimainkan itu dihentikan tiba - tiba ?
“Bermain silat sendirian kurang menggembira-kan," kata si raksasa Mongol dengan logat asing. "Para tamu kita adalah orang - orang yang memiliki kepandaian tinggi. Kata orang persilatan, per-kenalan tidaklah akrab tanpa melalui adu silat. Oleh karena itu, aku meropersilahkan seorang di antara tiga tamu kita yang gagah untuk maju dan bermain - main denganku beberapa jurus. Akan tetapi, orang bilang bahwa kepalan tidak mem-punyai mata, maka aku takut kalau - kalau aku akan salah tangan dan lupa, melukai tamu terhormat. Oleh karena jitu, agar aman, kuharap nona tamu sudi memperlihatkan kepandaian. Kalau mengha-dapi lawan wanita, tentu aku tidak akan lupa dan tidak akan salah tangan, ha - ha - ha !"
Mendengar ucapan ini, para perwira yang wa-taknya kasar tertawa. Akan tetapi tiga orang mu-da itu tentu saja merasa mendongkol sekali. Dan Seng Kim merasa makin tidak suka kepada pemim-pin pemberontak yang menjadi sanaknya. Di situ-ah letak kelemahan Chu Siang Yu, pikirnya. Ber-beda dengan Liu Pang yang pandai memilih se-kutu dan anak buah, yang sebagian besar terdiri dari para pendekar dan rakyat jelata, sebaliknya Chu Siang Yu memilih orang - orang asal pandai ilmu silatnya saja, biarpun orang itu datang dari go-longan yang sesat, bahkan tidak segan bersekutu dengan pihak asing! Seng Kun berpikir bahwa tidaklah pantas membiarkan Bwee Hong menjadi buah tertawaan melawan raksasa yang tangguh ini. Dan kalau A-hai yang maju, dia khawatir kalau-kalau A-hai yang kadang - kadang masih kumat itu akan menurunkan ilmunya yang amat hebat dan raksasa ini akan terpukul tewas. Jalan terbaik adalah dia sendiri yang maju, mencoba mengalah-kan raksasa ini tanpa membuat Chu Siang Yu ma-rah. Maka diapun cepat mendahului adiknya dan A-hai yang sudah memandang marah kepada rak-sasa itu. Dengan tenang dan sabar dia memberi hormat kepada raksasa itu.
"Ciangkun, harap maafkan adikku kalau tidak dapat memenuhi undangaranu karena tentu saja adikku bukanlah tandinganmu. Biarlah aku me-wakilinya menerima petunjuk - petunjuk dari ciangkun."
Raksasa itu memandang kepada Seng Kun dan tertawa, sikapnya memandang rendah sekali.
"Ah, jadi engkau adalah kakak nona itu ? Ba-gus, dengan mengingat bahwa engkau kakaknya, tentu akupun berlaku hati - hati agar tidak sampai melukaimu, orang muda. Dan jangan khawatir, andaikata engkau terluka olehku, akupun mempu-nyai obatnya untuk menyembuhkanmu."
Sungguh tekebur sekali sikap dan ucapan raksa-sa Mongol ini. Akan tetapi Seng Kim tetap tenang saja. "Ciangkun, lebih baik kita segera mulai dari pada membuang-buang waktu dengan obrolan kosong."
Melihat ada nada marah dalam ucapan Seng Kun, raksasa itu mendengus, akan tetapi mulutnya masih tersenyum - senyum. "Baik, kau jagalah pu-kulanku!"
"Wuuuuttt !" Pukulan itu memang kencang sekali datangnya, dan amat kuatnya karena sebelum kepalan tiba, angin pukulannya sudah terasa oleh Seng Kun dan membuat bajunya berkibar. Akan tetapi pemuda ini tentu saja dapat mengelak dengan sigapnya. Dia membiarkan si raksasa memukul sampai empat kali berturut-turut, selalu menghindarkan diri dengan jalan mengelak.
Pada pukulan ke lima, yang dilakukan dengan keras sekali karena raksasa itu mulai merasa penasaran melihat semua pukulannya luput, Seng Kun menangkis sambil mengerahkan tenaganya.
"Dukkk !!" Akibat dari adu tenaega ini membuat Seng Kun terlempar dan hampir terjeng-kang kalau saja dia tidak memiliki ginkang yang baik sekali sehingga dia mampu meloncat ber-jungkir balik dan tidak sampai terbanting. Dia ter-kejut, karena tidak disangkanya raksasa itu memi-liki tenaga sehebat itu.
"Ha - ha - ha, aku membuatmu kaget ? Maaf, dan hati - hatilah !" Raksasa itu tertawa girang dan nada suaranya mengejek sekali. Bagaimanapun juga, Seng Kun hanya seorang manusia biasa dan kesabaran ada batasnya. Dia mulai merasa pena-saran dan mukanya menjadi merah. Ketika rak-sasa itu menyerang lagi, dia mengelak dan balas menyerang dengan tamparan ke arah dada lawan
Akan tetapi, betapa kagetnya ketika melihat lawan tidak mengelak atau menangkis sama sekali, seba-liknya membiarkan dadanya dipukul akan tetapi membarengi dengan pukulan ke arah perut Seng Kun. Pukulan yang keras sekali!
"Bukkk!" Tamparan tangan Seng Kuaa tepat mengenai dada, akan tetapi pemuda itu menahan seruannya karena telapak tangannya terasa nyeri dan pedas. Kiranya baju perang itu terbuat dari pada logam tipis yang amat kuat dan di antara si-siknya itu terdapat bagian runcing sehingga akan dapat melukai pukulan tangan lawan! Hampir saja perut Seng Kun kena terpukul kalau saja dia tidak meloncat ke belakang dan pada saat itu Bwee Hong meloncat ke depan hendak membantu ka-kaknya.
"Hong - moi, mundur !" Seng Kun berseru kepada adiknya setelah dia terbebas dari pada pukulan ke arah perutnya tadi. Untung kepalan tangan lawan itu hanya menyerempet kulit perut dan bajunya, kalau mengenai perut dengan tepat, mungkin dia akan celaka mengingat besarnya te-naga lawan.
"Ha - ha - ha, kalau engkau hendak maju seka-lian, silahkan, nona. Dikeroyok dua akan menjadi semakin meriah !"
"Lihat serangan !" Seng Kun membentak ma-rah melihat kecongkakan raksasa itu dan kini dia-pun mulai menyerang. Dan si raksasa terkejut karena gerakan Seng Kun itu cepat bukan main, tu-buhnya seperti terbang saja dan kedua tangannya seperti berobah menjadi banyak! Raksasa itu menggunakan kedua tangan untuk menangkis, bahkan berusaha menangkap dengan ilmu gulat, namun Seng Kun terlalu cepat baginya dan tahu-tahu pemuda itu sudah berada di belakangnya dan sekali renggut, terlepaslah ikatan rambutnya ! Pa-da saat tali rambutnya putus direnggut tangan Seng Kun, pemuda ini memberi sentilan dengan jari tangannya pada tengkuk lawan. Hal ini dila-kukannya untuk memberi isyarat kepada lawan bahwa kalau dia berniat buruk, betapa mudah ba-ginya untuk mengganti sentilan itu dengan totok-kan atau pukulan maut !
Akan tetapi, raksasa Mongol itu adalah seorang kasar yang tidak mengenal segala macam isarat dan sindiran halus seperti itu. Baginya, dalam perke-lahian atau adu kepandaian hanya ada dua hal, kalah atau menang. Dan dia belum merasa kalah kalau hanya direnggutkan tali rambutnya sampai terlepas saja ! Maka dengan gerengan keras, dia menyerang lagi. Seng Kun cepat menghindarkan diri dengan loncatan ke samping dan pada saat itu terdengar seruan Chu Siang Yu.
"Tahan pukulan ! Cukup sudah, kita di antara kawan sendiri !" Dan tahu - tahu tubuh Chu Siang Yu yang tadinya masih duduk di atas kursi sudah melayang dan berdiri di antara dua orang itu.
Melihat gerakan ini, A-hai mengangguk - angguk dan kagum akan kelihaian pemimpin pemberontak itu. Sementara, itu, raksasa Mongol yang merasa belum kalah, menjadi penasaran dan sikapnya ma-sih marah. Keadaan menjadi tegang, akan tetapi pada saat itu terdengar suara anak panah menga-ung di udara, disusul suara ribut - ribut di kejauh-an. Peristiwa ini menyadarkan si raksasa dan dia-pun cepat menjura kepada sekutu dan pemimpin-nya, lalu kembali ke tempat duduknya. Seng Kun juga duduk kembali dan anehnya, peristiwa itu agaknya tidak mempengaruhi sikap Chu Siang Yu yang masih saja melanjutkan makan minum.
Tiba-tiba muncul dua orang berpakaian pen-jaga yang datang berlari - lari dan menjatuhkan diri berlutut, memberi laporan bahwa musuh ge-lap mulai menyerang.
"Bodoh ! Tidak tahukah kalian bahwa Ong - ya sedang menyambut tamu ? Hayo pergi, jangan diganggu!" Dua orang itu memberi hormat dan pergi. Tentu saja hal ini amat mengherankan hati Seng Kun dan teman - temannya.
Tak lama kemudian, kembali datang dua orang perwira yang nampak gugup. Dua orang ini segera membuat laporan, "Ada beberapa orang penga-cau memasuki perkemahan kita. Mereka berkepan-daian tinggi sekali dan beberapa orang perajurit terbunuh secara aneh dan mengerikan."
Kini Chu Siang Yu sendiri yang menjawab de-ngan sikap tak acuh. "Sudah, kalian kembalilah ke tempat penjagaanmu. Tak perlu gelisah. Iblis-iblis itu tidak dapat berbuat seenaknya sendiri. Mereka sudah dikepung dan semua akan dapat kita binasakan !"
Diam - diam Seng Kun bertiga menjadi semakin kagum. Orang ini benar - benar amat tabah, pan-dai dan berwibawa. Dan memang bukan bual ko-song saja ketika Chu Siang Yu menghibur dua orang penjaga tadi. Ketika mereka berdua kem-bali ke tempat penjagaan, para penyelundup itu telah dikepung ketat oleh jagoan - jagoan yang su-dah dipersiapkan oleh Chu Siang Yu dan para pembantunya. Seorang di antara para penyelun-dup itu, yang berusia kurang lebih empatpuluh tahun, berwajah ganteng pesolek dan bersenjata sebatang huncwe berlapis emas, dikeroyok oleh lima orang jagoan pilihan. Tak jauh dari situ ter-dapat pula seorang wanita cantik berusia sekitar tigapuluh tahun yang mengamuk dengan senjata pedang pendek di tangan kiri dan sehelai sabuk di tangan kanan. Juga wanita ini dikepung oleh lima orang jagoan. Dua orang penyelundup ini adalah pembantu - pembantu Raja Kelalawar yang lihai, yaitu Jai-hwa Toat - beng - kwi si penjahat cabul dan Pek - pi Siauw - kwi, Si Maling Cantik.
Di depan gedung ransum terjadi pulas pengero-yokan atas diri San - hek - houw yang mengamuk dengan senjatanya yang istimewa itu, ialah seba-tang rantai baja dengan ujung tombak jangkar. Sedangkan di dekat kandang kuda terdapat pula perkelahian seru antara Sin - go Mo Kai Ci Si Bua-ya Sakti yang juga dikeroyok oleh banyak orang. Ternyata empat orang pembantu utama Raja Ke-lelawar itu masuk perangkap. Maka dibiarkan memasuki perkemahan, lalu dikepung ketat dan dikeroyok oleh jagoan jagoan yang memang sudah dipersiapkan terlebih dahulu oleh Chu Siang Yu dan para pembantunya.
Empat orang penjahat itu marah sekali. Mere-ka tidak mengira akan terperangkap oleh pihak musuh, maka mereka mengamuk dengaa hebatnya. Sepak terjang mereka, terutama sekali Si Buaya Sakti dan Si Harimau Gunung, benar-benar amat menggiriskan. Perajurit - perajurit yang berani mencoba untuk ikut mengeroyok, banyak yang roboh dan tewas. Debu dan batu kerikil berham-buran, kemah - kemah di sekitar tempat mereka mengamuk itu roboh. Dua orang iblis ini meng-amuk sambil mengeluarkan caci - maki dan ge-raman - geraman seperti binatang buas. Betapapun juga, yang mengepung dan mengeroyok mereka adalah jagoan - jagoan dan juga banyak jumlahnya sehingga mereka berempat itu tidak melihat jalan, keluar untuk meloloskan diri, maka mereka meng-amuk mati - matian.
Sementara itu, di atas puncak tiang kemah tak
jauh dari situ, terdapat sesosok tubuh berdiri tegak seperti seekor burung hinggap di ujung tiang. Pa-kaian dan jubahnya berwarna hitam sehingga su-kar dapat dilihat. Si jubah hitam ini memandang ke bawah, ke arah perkelahian itu dan dia menge-pal tinju, bibirnya bergerak memaki - maki marah.
"Keparat! Gila! Tak kusangka bangsat Chu Siang Yu begini cerdik. Kiranya dia tidak boleh dipandang ringan, para pembantunya juga banyak yang lihai. Jahanam benar !"
Tubuh yang tinggi besar itu tiba - tiba bergerak melayang ke atas puncak tenda lain, kemudian meloncat lagi dari tenda ke tenda seperti seekor kelelawar saja gesit dan ringannya. Kemudian dia hinggap di puncak perkemahan pusat di mana Chu Siang Yu sedang makan minum dengan para ta-munya.
Begitu berjumpa dengan tiga orang muda itu, Chu Siang Yu sudah tertarik sekali dan dia dapat menduga bahwa tiga orang muda ini adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan akan dapat menjadi tenaga - tenaga yang amat penting baginya. Oleh karena itu, sambil menja-lankan siasatnya untuk menjebak pihak musuh yang berani menyelundup ke perkemahan, dia juga berusaha untuk menyenangkan hati tiga orang mu-da itu dan kalau mungkin dia akan menarik mere-ka menjadi pembantu - pembantunya.

Bersambung

Darah Pendekar 44                                                                   Darah Pendekar 46