Jumat, 07 Juni 2013

DARAH PENDEKAR 44

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S.Kho Ping Hoo
Bab 44
BEBERAPA orang gubernur yang ketakutan membunuh diri, ada pula yang ikut melawan dan tewas. Akan tetapi ada pula yang menakluk dan mereka ini bersama keluarga mereka diterima oleh para pimpinan pemberontak. Juga para pe-rajurit yang menakluk diterima untuk dibentuk menjadi pasukan khusus yang masih berada di bawah pengawasan. Semua perajurit kini bertugas membersihkan benteng itu, menyingkirkan mayat-mayat dan merawat mereka yang terluka. Para tawanan yang tadinya ditahan di penjara itu dibe-baskan. Pada keesokan harinya, semua mayat di-kuburkan dengan rapi dan sederhana, dan pada malam harinya, Liu Pang mengadakan pesta seder-hana, sekedar untuk menghibur hati para anggauta pasukan, merayakan kemenangan itu.
Pada waktu itu, Liu Pang dan barisannya telah menguasai hampir seluruh bagian negara. Bengcu atau pemimpin pemberontak itu kini tidak diang-gap sebagai bengcu lagi, melainkan sebagai seorang raja baru ! Hal ini tidak mengherankan. Perjuangannya berhasil dengan baiknya. Banyak kota jatuh ke tangannya dan pasukannya menjadi semakin besar dan kedudukannya menjadi semakin kuat. Kini, kota raja sudah berada di depan mata. Liu Pang ingin membiarkan pasukannya memperoleh istirahat secukupnya untuk menyusun kekuatan se-baik - baiknya agar pasukan dalam keadaan segar ketika ia menggerakkannya untuk tujuan terakhir, yaitu menghantam kota raja, mendudukinya dan merampas singgasana kaisar.
Sambil makan minum berpesta sekedarnya untuk merayakan kemenangan, Liu Pang duduk di atas kursi kepemimpinan, dikelilingi para perwira dan pembantunya yang kini telah mulai mengena-kan pakaian seragam sesuai dengan pangkat yang diberikan oleh pemimpin itu kepada mereka. Di antara para perwira ini terdapat pula Yap Kim yang tampan dan gagah. Sambil bercakap-cakap membicarakan semua pengalaman pertempuran mereka, semua orang nampak bergembira.
A-hai dan teman-temannya juga ikut berpesta, berkumpul dengan perwira - perwira muda. Kare-na A-hai, Seng Kun, Bwee Hong, Tiong Li, kakek Kam Song Ki dan suami isteri Kwa merupakan ta-mu-tamu kehormatan, mereka mendapatkan sebu-ah meja kehormatan yang ditempatkan tak jauh dari tempat duduk Liu Pang dan para perwiranya. Sejak tadi, A-hai celingukan memandang ke kanan kiri dan akhirnya dia berbisik kepada Bwee Hong yang duduk di sebelah kirinya.
"Sejak pagi tadi aku mencari - cari nona Ho Pek Lian, akan tetapi ia tidak kelihatan. Mengapa ia tidak menemui kita dan ke manakah perginya ? Bukankah ia merupakan seorang tokoh penting dalam barisan ini, bahkan menjadi murid paling dipercaya dari Liu - bengcu ?"
"Ah, engkau benar! Aku sampai lupa saking gembiraku melihat Kun - koko dalam keadaan se-lamat."
"Biar kutanyakan kepada Liu - bengcu "
kata A-hai, akan tetapi seorang perwira muda yang duduk tidak berjauhan dengan mereka dan mende-ngar percakapan itu segera menoleh. Perwira muda ini dahulunya adalah seorang pendekar ternama di daerah pantai timur. Ketika dia menoleh dan melihat wajah Bwee Hong, dia seperti silau oleh kecantikan nona itu. Dengan sikap hormat diapun lalu berkata, ditujukan kepada A-hai karena dia kurang patut kalau bicara kepada seorang gadis yang belum dikenalnya.
"Agaknya ji - wa (anda berdua) adalah sahabat baik dari Ho - siocia. Memang saat ini ia tidak berada di dalam-barisan ini. Ia mendapat tugas dari Liu - bengcu untuk melakukan penyelidikan ke kota raja, ditemani oleh Yap-taihiap. Kita ha-rus mengetahui dengan baik keadaan di kota raja sebelum melakukan penyerbuan, dan karena itulah benteng ini kita kuasai secepatnya agar kita dapat beristirahat dan mengumpulkan kekuatan. Kalau tidak ada halangan, menurut perhitungan, hari ini juga Ho - siocia akan kembali dari kota raja."
"Terima kasih, ciangkun," kata A-hai girang. "Memang kami bersahabat baik dengan nona Ho. Kota raja sudah dekat, hanya tiga empat jam per-jalanan dari sini. Tentu ia akan kembali nanti. Kami akan menanti sampai ia pulang."
Bwee Hong menarik napas panjang, hatinya terasa sedih. Bagaimanapun juga, sedikit banyak ada hubungan darah antara ia dan keluarga kaisar. "Aahh, agaknya kota raja sudah benar - benar akan runtuh !"
Perwira muda itu menggeleng kepala. Dia tidak perlu merahasiakan kepada tamu - tamu pemimpin-nya ini, karena diapun sudah mendengar bahwa mereka adalah orang - orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan kakek dan nenek yang bermuka seperti mayat itu sudah berjasa besar da-lam penyerbuan ke benteng malam tadi. "Saya kira tidaklah begitu mudah, nona. Selain di kota raja masih ada Beng - tai - ciangkun yang pandai, juga kami masih mempunyai musuh besar, yaitu barisan yang dipimpin oleh pemberontak Chu Siang Yu yang kabarnya juga sudah menguasai hampir selu-ruh daerah utara dan barat."
A-hai dan teman - temannya tidak melanjutkan percakapan mengenai perang karena sesungguhnya mereka tidak ingin terlibat. Kalau sampai selama ini mereka kadang - kadang terlibat adalah karena kebetulan saja dan bukan karena mereka memang ingin membantu suatu pihak tertentu. Seng Kun dan Bwee Hong memang pernah dekat dengan kaisar yang telah meninggal dunia, akan tetapi pen-dekatan itupun hanya karena mereka bertemu de-ngan ayah kandung mereka yang menjadi orang penting di istana saja, dan Seng Kun juga tidak ter-jun ke dalam pertempuran, melainkan hanya bertu-gas menyelidiki hilangnya mendiang Menteri Ho Ki Liong, ayah Pek Lian. Di dalam hatinya, pendekar inipun tidak suka akan peperangan, apa lagi perang antara bangsa sendiri yang merupakan perang sau-dara yang amat kejam.
Tak lama kemudian terdengar orang - orang bersorak di luar benteng. Seorang pengawal me-laporkan kepada Liu Pang dengan suara nyaring dan gembira bahwa rombongan Ho - siocia telah tiba kembali. Nampaklah Ho Pek Lian menung-gang kuda, diiringkan oleh seorang pemuda yang berpakaian putih - putih dan nampak gagah perka-sa penuh wibawa. Pemuda ini bukan lain adalah Yap Kiong Lee yang amat dihormati oleh para pe-rajurit karena pemuda ini memiliki ilmu kepandai-an yang amat hebat dan walaupun Kiong Lee juga tidak mau terlibat secara resmi dalam barisan itu, namun dia terpaksa membantu karena sutenya menjadi orang penting di situ. Di belakang kedua orang ini nampak perajurit - perajurit yang me-nyambut dan mengelu - elukan mereka dengan gembira. Kedua orang muda itu memang amat po-puler di kalangan mereka dan mereka amat me-nyayangi mereka berdua yang sudah banyak ber-jasa namun selalu bersikap ramah dan rendah hati.
Dapat dibayangkan betapa gembiranya hati Pek Lian bertemu dengan kawan - kawannya di tempat itu. Pertemuan yang tak disangka - sangka-nya. Apa lagi mendengar bahwa Seng Kun telah dapat ditemukan dalam keadaan selamat. Ia me-rangkul dan mencium pipi Bwee Hong dan Siok Eng, memberi hormat kepada suami isteri Tai-bong - pai, bergembira menyambut penghormatan Seng Kun dan Tiong Li yang sudah dikenalnya sejak dahulu, dan disambutnya uluran tangan A-hai dengan hangat. Bagaimanapun juga, pemuda ini masih meninggalkan guratan istimewa di dalam hati pendekar wanita muda ini. Kemudian, sete-lah meluapkan kegembiraannya di depan teman-teman lamanya, Pek Lian lalu melapor kepada pe-mimpin dan gurunya, dengan suara nyaring men-ceritakan hasil penyelidikannya sehingga dapat didengar oleh semua anggauta pimpinan pasukan yang berkumpul di situ.
"Saya dan Yap - taihiap sudah berhasil menye-lundup ke kota raja. Wah, kami menemui keadaan yang kacau - balau di dalam kota raja. Penduduk kota sudah banyak yang lari mengungsi ke luar kota, akan tetapi mereka itu tidak dapat memba-wa secuilpim harta kekayaan mereka karena diha-langi oleh para penjaga. Bagaimana kota raja tidak akan menjadi kacau-balau? Penjahat-penjahat besar, pencoleng, perampok dan maling - maling berkumpul di sana. Datuk - datuk seperti San-hek-houw, Sin - go Mo Kai Ci, Pek - pi Siauw - kwi Si Maling Cantik, Jai - hwa Toat - beng - kwi Si Pen-jahat Cabul, dan orang - orang sebangsa itu yang jahat dan kejam, yang menjadi anak buah Raja Kelelawar, semua berkumpul di sana dan mereka malah diberi kedudukan ! Orang - orang macam itu diberi kedudukan dan kekuasaan ! Bagaimana ti-dak akan kacau ? Seolah - olah harimau ganas di-beri tambahan sayap saja. Dan yang paling gila lagi, kini kaisar baru mengangkat Raja Kelelawar menjadi Panglima Besar Kerajaan, menggantikan kedudukan Beng - goanswe !"
Semua orang terkejut, dan Liu Pang mengerutkan alisnya. "Ah , dia malah diangkat menjadi panglima besar ? Lalu di mana adanya Jenderal Beng Tian ?"
"Sisa pasukan kerajaan di bawah pimpinan Jen-deral Beng Tian telah dipukul mundur dan porak peranda oleh pasukan Chu Siang Yu kemarin dulu. Jenderal Beng pulang ke kota untuk melapor ke istana. Akan tetapi dia malah ditangkap dan di-anggap bersalah karena kekalahan itu, dan ka-barnya besok dia akan dihukum mati!"
"Kaisar gila !!" Liu Pang bangkit berdiri
dan mengepal tinju. Pemimpin ini mengenal betul orang macam apa adanya Jenderal Beng Tian. Se-orang panglima besar, seorang perajurit sejati yang amat setia dan pandai. Kekalahan yang diderita-nya itu bukan kesalahannya, melainkan karena ke-lemahannya kerajaan. Jenderal itu sudah berusaha mati - matian untuk menghalau semua musuh ne-gara. Akan tetapi dia bekerja sendiri, sama sekali tidak memperoleh dukungan dari pusat, bahkan tidak didukung rakyat yang sudah marah terhadap kelaliman kaisar dan para pengikutnya. Akhirnya Liu Pang teringat akan keadaannya dan dia duduk kembali, memandang muridnya dan berkata, "La-lu bagaimana ?"
Pek Lian menarik napas panjang. "Pagi tadi pasukan Chu Siang Yu sudah mengepung kota ra-ja. Kami melihat pasukannya yang amat besar dan kuat, bercampur dengan pasukan asing di luar tem-bok besar. Kami bergegas kembali ke sini sesuai dengan rencana sehingga kami tidak tahu apa yang terjadi sekarang di kota raia."
Liu Pang mengerutkan alisnya. "Benarkah se-mua keterangan itu, Yap - taihiap ?" tanyanya ke-pada Kiong Lee.
Kiong Lee mengangguk. "Benar semua, dan sa-ya kira saat ini tentu sedang terjadi pertempuran di benteng kota raja."
Liu Pang menundukkan kepalanya. "Ahh, kita telah didahului oleh Chu Siang Yu. Tak kusangka dia akan lebih dulu sampai di kota raja dari pada kita. Hemm, kita harus bergerak, tidak boleh membiarkan dia mendahului kita."
Selagi Liu Pang dan para pembantunya ber-bincang - bincang dengan sikap dan suara serius, diam - diam A-hai meninggalkan ruangan itu. Munculnya Pek Lian mendatangkan perasaan ti-dak karuan di dalam hatinya. Teringat dia akan masa lalunya ketika dia masih berada dalam kea-daan hilang ingatan. Mula - mula nona Ho Pek Lian itulah yang menggugah perasaannya. Harus diakuinya bahwa dalam keadaan hilang ingatan, dia pernah bergantung secara batiniah kepada Ho Pek Lian dan dalam pertemuan tadi, dia masih da-pat menangkap sinar mata nona Ho itu kepadanya. Sinar mata yang mengandung rasa kasih sayang!
Tak salah lagi, Pek Lian pernah jatuh cinta kepada-nya. Setelah Pek Lian, lalu muncul Bwee Hong dalam hidupnya. Diapun dalam keadaan hilang ingatan pernah bergantung secara batiniah kepada Bwee Hong, apa lagi karena wajah Bwee Hong se-rupa benar dengan wajah isterinya! Kini, setelah dia mulai memperoleh kembali ingatannya, tentu saja dia harus menjauhkan perasaannya terhadap dua orang dara itu. Dia sudah mempunyai isteri, bahkan sudah mempunyai seorang anak.
Kenyata-an ini membuat A-hai merasa berdosa, walaupun tidak sengaja dia menggoda hati dua orang dara perkasa yang cantik jelita dan berbudi mulia itu. Betapa baiknya kedua orang dara itu terhadap di-rinya ! Dan dia hanya dapat membalas mereka de-ngan melukai hati mereka, pikirnya. Hal inilah yang membuat A-hai tidak betah tinggal lebih lama di dalam ruangan itu dan diapun keluar ber-jalan - jalan.
Malam itu amat cerah. Bulan sepotong naik tinggi dan A-hai sengaja mencari tempat yang se-pi di sudut benteng itu. Yang menjaga benteng hanyalah para petugas jaga di atas benteng dan semua perajurit lainnya menikmati istirahat setelah merayakan kemenangan mereka.
Selagi A-hai berdiri termenung di bawah po-hon yang membentuk bayangan gelap, tiba - tiba dia melihat berkelebatnya dua bayangan orang. Dua orang itu berhenti tidak jauh dari pohon itu dan heranlah dia ketika melihat bahwa mereka itu berpakaian tosu. Teringat dia bahwa memang ada dua orang tosu yang membantu perjuangan barisan Liu Pang dan kabarnya dua orang tosu itu lihai ilmu kepandaiannya.
Agaknya dua orang tosu ini-lah orangnya, pikir A-hai. Akan tetapi, dari da-lam gelap bermunculan beberapa orang berpakaian perajurit dan mereka bercakap - cakap dengan dua orang tosu itu dengan bahasa daerah utara! A-hai mendengarkan dan ternyata dia mampu menang-kap dan mengerti bahasa itu ! Dia sendiri merasa heran dan tidak ingat bahwa dia mengerti bahasa daerah utara, maka dengan gembira dia lalu meng-intai dan mendengarkan.
"Sudah tiba saatnya bagi kita untuk bergerak," terdengar seorang di antara dua tosu itu berkata. Tosu ini membawa sebatang tongkat, rambutnya digelung ke atas dan memakai jubah kotak - kotak, sikapnya berwibawa, "Nanti tengah malam, kalian kumpulkan semua teman di tempat ini dan kami berdua akan keluar dari benteng dan langsung melapor akan keadaan barisan Liu Pang kepada Chu - taijin."
Ucapan ini saja cukup bagi A-hai. Kiranya mereka adalah mata - mata musuh, anak buah pem-berontak Chu Siang Yu, karena yang disebut Chu-taijin tadi tentulah Chu Siang Yu. Dan pemberon-tak Chu Siang Yu merupakan musuh dan saingan Liu Pang. Kiranya mereka itu memang sengaja menyelundup ke dalam barisan ini untuk menga-mati gerak - geriknya dan kemudian memberi pe-laporan kepada Chu Siang Yu sehingga tentu akan memudahkan fibak musuh untuk mengatur perang-kap ! Dengan hati - hati, menggunakan ilmu ke-pandaiannya yang tinggi, A-hai menyelinap pergi dan langsung dia memasuki ruangan di mana Liu Pang masih berbincang-bincang dengan para pem-bantunya. Seperti tidak disengaja, A-hai yang merupakan seorang di antara para tamu terhormat, mengambil tempat duduk agak dekat di belakang
Liu Pang. Kemudian, setelah dia mengingat kem-bali ilmunya, bibirnya bergerak - gerak perlahan dan terkejutlah Liu Pang ketika dengan jelas sekali dia mendengar suara A-hai di samping telinganya!
"Dua orang tosu pembantu ternyata adalah dua orang mata-mata anak buah Chu Siang Yu yang menyelundup. Tengah malam ini mereka akan mengadakan gerakan, harap Liu - bengcu waspada dan siap siaga."
Tentu saja Liu Pang terkejut bukan main men-dengar suara A-hai ini. Dia maklum bahwa A-hai yang aneh itu memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat, dan tidak mengherankan kalau A-hai pandai mengirim suara dari jauh seperti itu. Yang mengejutkan hatinya adalah berita itu sendiri. Ma-ka dia lalu mengusap mukanya yang sama sekali tidak memperlihatkan kekejutan hatinya dan me-ngatakan kepada semua pembantunya bahwa dia merasa lelah dan ingin beristirahat dulu.
"Kita harus beristirahat dan besok pagi - pagi aku akan mengadakan rapat lagi," katanya.
Rapat itu bubaran dan Liu Pang berkata kepa-da A-hai, "Saudara A-hai, aku ingin sekali men-dengar ceritamu”
Ketika mendengar penuturan A-hai tentang dua orang tosu yang ternyata mata - mata musuh yang menyelundup itu.
"Biarlah saya menangkap dan menghajar mere-ka !" katanya.
Liu Pang tersenyum. "Aku sendiri ingin meng-hadapi mereka. Engkau siapkan saja pasukanmu untuk menangkap anak buah mereka." Pemimpin besar ini lalu mengatur siasat bersama Yap Kim dan A-hai untuk menghadapi dua orang mata-ma-ta dan anak buah mereka yang akan beraksi men-jelang tengah malam nanti.
Menjelang tengah malam itu keadaan semakin sunyi di dalam benteng. Para perajurit yang tidak sedang tugas jaga sudah tidur mendengkur mele-paskan lelah setelah pertempuran. Juga para per-wira yang memperoleh kesempatan tidur itu me-muaskan badan yang sudah kelelahan. Suasana amat sunyi. Tidak ada seorangpun yang tahu be-tapa dalam keadaan yang amat sunyi itu, pemimpin besar mereka sendiri sedang sibuk mengatur para pembantunya mengepung tempat yang akan dija-dikan pertempuran para mata - mata itu !
Untuk memudahkan gerakannya, Liu Pang menanggalkan pakaian kebesarannya dan hanya memakai pakaian biasa, pakaian petani seperti ke-tika dia masih memimpin barisannya melintasi gu-nung - gunung selama ini. Hanya sebatang pedang tergantung di pinggang sehingga dia lebih mirip seorang pendekar dari pada seorang pemimpin dan calon kaisar!
Tiba-tiba terdengar suara suitan - suitan lirih dan mulailah bermunculan beberapa orang. Ada dua orang berpakaian perwira, belasan orang ber-pakaian perajurit dan dua orang tosu itu. Hanya kini para perajurit itu mengenakan topi khas, topi ciri bahwa mereka itu adalah perajurit - perajurit asing dari utara ! Kiranya mereka adalah pasukan istimewa dari barisan asing yang bersekutu dengan Chu Siang Yu dan yang dikirim untuk menyelun-dup ke dalam barisan Liu Pang dan selain mema-ta - matai juga mengatur siasat.
Liu Pang sendiri, diikuti Yap Kim, menggu-nakan kepandaiannya untuk menyusup dekat se-hingga mereka berdua selain mampu melihat ge-rak - gerik mereka, juga dapat mendengarkan per-cakapan mereka dengan jelas. Sedangkan anak buah Yap Kim tetap berjaga di tempat pengepung-an, siap menanti komando.
"Petugas pembakaran !" tiba - tiba seorang di antara dua tosu itu berkata lirih namun tegas.
"Siap!" Tujuh orang perajurit maju.
"Kalian sudah tahu benar akan tugas kalian ?" tanya si tosu yang menjadi pimpinan.
"Kami akan berpencar, mempergunakan minyak yang sudah tersedia membakar gudang-gudang makanan dan perlengkapan," jawab seorang di an-tara mereka.
"Bagus! Petugas racun !"
"Siap !" Dua orang perajurit maju.
"Bagaimana tugas kalian ?"
"Kami sudah mempersiapkan empat guci air beracun untuk dituang ke dalam sumber dan sim-panan air minum, juga ke dalam guci - guci arak, akan dilakukan pada saat pembakaran terjadi."
"Baik sekali. Kini regu panah!"
"Siap!" Lima orang perajurit yang membawa busur maju. "Selagi terjadi kebakaran dan keribut-an, kami akan berbaris pendam menanti orang she Liu keluar untuk kami serang dengan anak panah dari tempat gelap. Mudah-mudahan usaha kami berhasil!"
"Ya, mudah - mudahan semua kita berhasil. Ingat, kalau semua rencana ini berhasil baik, ka-lian akan menerima hadiah yang amat besar dan pangkat yang tinggi. Sesudah melaksanakan tugas masing-masing, kalian sudah tahu harus berkum-pul di mana di luar benteng, kami akan mendahu-lui kalian untuk memberi pelaporan tentang kedu-dukan musuh kepada induk barisan yang berada dekat kota raja."
"Baik!"
Akan tetapi, sebelum mereka sempat bergerak, Liu Pang sudah melompat ke depan dengan pe-dang terhunus, lalu menudingkan telunjuknya ke-pada tosu pemimpin mata-mata itu.
"'Bagus, kalian berdua telah membuat dua ma-cam dosa tak berampun. Pertama, kalian memal-sukan pendeta-pendeta dan ke dua, kalian men-jadi pengkhianat-pengkhianat dan mata-mata busuk !"
"Serbu !" Tosu itu yang menjadi terkejut sekali berteriak. Anak buahnya bergerak, akan tetapi pada saat itu, Yap Kim dan kawan - kawan-nya bermunculan! Liu Pang sendiri segera mener-jang tosu pemimpin dengan pedangnya setelah merobohkan seorang perajurit mata-mata yang membawa sebuah bendera asing, agaknya untuk memberi semangat kawan - kawannya.
"Tranggg !" Tosu itu menangkis dengan tongkat di tangan kirinya, dan dengan dahsyat ta-ngan kanannya menghantam dengan jari - jari ter-buka dan dimiringkan.
"Dukkk!" Liu Pang menangkis dengan tangan kiri, dan pedangnya membabat lagi dengan gerak-an yang amat cepat. Segera terjadi perkelahian yang amat seru di antara mereka berdua.
Sementara itu, anak buah mata-mata yang hendak mengamuk, ternyata menghadapi kepungan pasukan yang jauh lebih besar jumlahnya. Apa lagi di situ terdapat Yap Kim yang dibantu oleh perwira-perwira yang lihai ilmu silatnya sehingga sebentar saja, semua mata-mata roboh dan tewas kecuali dua orang tosu yang dihadapi oleh Liu Pang dan Yap Kim sendiri! Dua orang tosu itu terdesak hebat dan sudah luka-luka. Akan tetapi agaknya mereka tidak mau menyerah karena mak-lum bahwa bagaimanapun juga, mereka tidak mungkin dapat diampuni. Dari pada tertawan da-lam keadaan hidup dan disiksa untuk mengaku, lebih baik melawan sampai mati, demikian pikir mereka. Dan memang Liu Pang dan Yap Kim tidak ingin membunuh mereka, hendak menangkap hi-dup-hidup agar dapat mengorek keterangan dari mulut mereka. Maka, Liu Pang dan Yap Kim ber-usaha sedapat mungkin untuk merobohkan lawan tanpa membunuh mereka. Akhirnya, pedang Liu Pang berhasil membacok kaki kanan lawannya se-hingga orang itu terpelanting roboh dan pada saat yang hampir berbareng, Yap Kim juga sudah me-robohkan lawannya dengan tendangan. Akan teta-pi, begitu roboh, dua orang tosu itu menggerak-kan tongkat mereka sendiri. Liu Pang dan pem-bantunya hendak mencegah namun terlambat ka-rena dua orang tosu itu telah tewas dengan kepala pecah oleh hantaman tongkat sendiri. Mereka membunuh diri agar jangan tertawan musuh !
Liu Pang memandang mayat-mayat yang ber-gelimpangan itu dan menarik napas panjang. "Pan-tas Chu Siang Yu mampu mendahului kita ke kota raja. Kiranya dia dibantu oleh orang-orang pandai dan gagah seperti mereka ini!!"
Karena penundaan rapat tadipun hanya dilaku-kan untuk menghadapi mata - mata ini, maka Liu Pang lalu memerintahkan agar semua pembantu-nya dipanggil, yang tidur digugah, untuk melan-jutkan rapat mereka ! Rapat dilanjutkan lewat te-ngah malam dengan penuh kesungguhan hati, ka-rena semangat mereka bangkit oleh adanya peris-tiwa tadi.
"Bagaimana kalau kita terus saja menyerbu ko-ta raja pada besok pagi - pagi ?" Yap Kim meng-ajukan usulnya. Setelah membantu perjuangan Liu Pang, kini Yap Kim mencurahkan seluruh per-hatiannya terhadap perjuangan itu dan dia meru-pakan orang terpenting di dalam barisan Liu Pang.
"Saya kira tidak tepat waktunya," kata seorang perwira yang berpengalaman karena dia merupa-kan bekas perwira kerajaan yang sudah menakluk. "Pada saat ini, terdapat dua kekuatan besar, yaitu barisan kerajaan yang sedang bertempur melawan barisan Chu Siang Yu. Kalau saat ini kita menyer-bu, bukan tidak mungkin mereka berdua itu ber-henti perang dan keduanya malah menggencet kita. Kalau sudah demikian, alangkah berbahaya-nya."
"Akan tetapi, kalau kita diamkan saja, barisan Chu itu akan mendahului kita merebut kota raja .... dan kita ketinggalan " Yap Kim membantah.
Ucapan Yap Kim itu membuat semua orang mengerutkan alis dan hati mereka menjadi gelisah. Kalau kedahuluan musuh, berarti akan sia - sia gerakan mereka selama ini yang sudah mengorban-kan banyak tenaga dan nyawa.
"Pasukan kita selama tiga hari tidak pernah beristirahat. Kalau sekarang diharuskan bertempur lagi, hal itu sungguh berbahaya dan terlalu memeras tenaga, apa lagi kalau diingat betapa kuatnya fihak musuh " kata seorang pembantu lain.
Banyaklah di antara mereka yang mengemuka-kan pendapatnya dan selama itu Liu Pang hanya mendengarkan tanpa membantah. Dia mendengar-kan dan mempertimbangkan semua usul dan pen-dapat. Setelah semua orang mengajukan usulnya dan agaknya menemui jalan buntu, akhirnya Liu Pang bangkit berdiri.
"Saudara sekalian. Sesungguhnya, memang saat inilah yang paling tepat untuk menyerbu kota raja, selagi dua kekuatan itu saling bertempur. Akan tetapi mengingat keadaan kita yang sudah lelah, besar bahayanya kalau kita menyerbu sekarang. Oleh karena itu, sebaiknya kita. membiarkan mere-ka saling gempur sehingga kedudukan mereka ke-dua pihak itu menjadi semakin lemah. Sementara itu, kita menyusun kekuatan dan beristirahat. Nah, setelah satu di antara mereka kalah, kita menyerbu dengan keadaan segar bugar !"
"Akan tetapi, bagaimana kalau barisan Chu Siang Yu sudah lebih dahulu merebut kota raja sehingga keadaan mereka lebih baik, memiliki per-lengkapan yang lebih kuat, dan posisi mereka men-jadi semakin baik ? Kita akan ketinggalan dan le-bih sukar menyerang mereka yang sudah bertahan di benteng kota raja."
"Saya kira hal itu tidak perlu dikhawatirkan," tiba - tiba Yap Kiong Lee ikut bicara. "Bagaima-napun juga, kalau mereka sudah berhasil mema-suki kota raja, tentu korban di antara mereka amat besar dan jumlah mereka menjadi kecil dan lemah. Selain itu, rnerekapun tentu dalam keadaan lemah, semangat tempur mereka menurun, apa lagi mere-ka tentu masih mabok kemenangan."
"Bagus sekali! Pendapat Yap - taihiap tepat!" kata Liu Pang.
Lalu diambil keputusan untuk membiarkan pa-sukan mereka beristirahat, akan tetapi mereka ha-rus dapat mengikuti perkembangan dan terutama sekali dapat mengetahui besarnya kekuatan musuh. Untuk itu, mereka lalu mencari orang - orang yang dapat ditunjuk sebagai penyelidik. Memang ba-nyak terdapat orang - orang lihai di antara mereka, akan tetapi tidak mudah untuk menunjuk siapa orangnya yang patut melakukan tugas berbahaya itu. Liu Pang sendiri dalam waktu itu tidak mung-kin meninggalkan pasukannya. Kehadirannya amat diperlukan karena segala macam keputusan yang diambil pada saat itu dapat menjadi kunci sukses atau gagalnya gerakan mereka. Yap Kim harus membantunya, dan Ho Pek Lian bersama Yap Kiong Lee baru saja pulang. Ketua Tai-bong-pai dan anak isterinya tak mungkin mau menjadi pe-nyelidik karena mereka adalah orang - orang "be-bas" yang tidak mau melibatkan diri dengan pe-rang. Demikian pula kakek Kam Song Ki dan mu-ridnya, Kwee Tiong Li, walaupun pemuda ini se-belum menjadi murid kakek Kam juga seorang ke-tua lembah pemimpin para pemberontak yang menjadi anak buah Chu Siang Yu akan tetapi se-menjak menjadi murid kakek sakti itu juga men-jadi orang "bebas". Masih ada orang - orang lihai lainnya seperti Seng Kun, Bwee Hong dan juga A-hai yang kadang - kadang masih meragukan kese-hatan ingatannya.
Akhirnya, tidak ada orang lain lagi yang lebih tepat, kakak beradik Seng Kun dan Bwee Hong dipilih ! Usulnya datang dari Pek Lian yang lang-sung disetujui oleh Liu Pang dan semua orang yang sudah mengenal baik kakak beradik ini, mengenai kelihaian mereka dan juga mengenal watak mereka sebagai orang-orang gagah perkasa. Hanya satu hal yang meragukan, yaitu bahwa Seng Kun dan Bwee Hong juga tidak mau telibat dalam perang. Apa lagi mereka itu masih merupakan keluarga kaisar, walaupun agak jauh, dan Seng Kun bahkan pernah menjadi utusan kaisar tua yang sudah me-ninggal.
Melihat semua orang memilih dia dan adiknya, Seng Kun menarik napas panjang. "Seperti sau-dara sekalian telah mengetahui, aku dan adikku tidak suka terlibat dalam perang, oleh karena itu sesungguhnya tidak tepatlah kalau anda sekalian memilih kami. Akan tetapi, kami telah lama me-ngenal barisan para pendekar ini dan tahu bahwa cita - cita kalian mulia. Selain itu, kami berduapun mempunyai kepentingan di kota raja. Kami ingin mencari ayah kandung kami, maka biarlah dengan senang hati kami menerima tugas untuk melakukan penyelidikan itu."
Semua orang bersorak mendengar ucapan Seng Kun itu dan setelah sorakan itu mereda, terdengar A-hai berkata, "Akupun akan menemani kalian berdua !"
Seng Kun dan Bwee Hong saling pandang, dan khawatir kalau - kalau kakak beradik itu menolak, A-hai berkata cepat, "Tanpa kalian berdua, ba-gaimana aku akan dapat sembuh ?"
Sesungguhnyalah, pemuda sinting ini memang masih amat memerlukan pengobatan mereka dan kesembuhannya belum sempurna. Maka, kedua-nyapun tidak dapat menolak. Selain itu, dengan ilmu kepandaiannya yang amat luar biasa, A-hai dapat menjadi seorang pelindung yang amat baik dan boleh diandalkan.
Persiapan diadakan dan malam itu A-hai men-dapat perawatan tusukan jarum dari Seng Kun dan Bwee Hong. Pada keesokan harinya, sebelum fajar menyingsing, tiga orang muda itupun berangkatlah meninggalkan perkemahan mereka. Mereka me-motong jalan, melalui sawah ladang dan ke-bun - kebun para penduduk dusun. Di mana-mana mereka bertemu dengan orang-orang yang pergi mengungsi menjauhi tempat pertempuran. Semua orang yang sedang bergegas mengungsikan keluarga dan harta milik mereka itu memandang dengan terheran - heran kepada tiga orang muda ini. Semua orang berbondong - bondong dan ter-gesa - gesa pergi menjauhi kota raja, akan tetapi ti-ga orang muda ini malah menuju ke sana!
Karena para pengungsi itu rata - rata tergesa-gesa ketakutan, tidak mudah bagi Seng Kun berti-ga untuk mencari keterangan tentang keadaan di kota raja. Baru setelah mereka bertemu dengan serombongan pedagang yang juga melarikan diri dan mereka mengaso di luar hutan saking lelahnya, Seng Kun memperoleh kesempatan ber-cakap-cakap dengan seorang di antara mereka, seorang laki - laki setengah tua yang nampak ge-lisah.
"Kalian bertiga hendak mencari keluarga di kota raja? Aih, orang-orang muda, kalau boleh kunasihati kalian, jangan mendekati kota raja.
Tempat itu telah menjadi seperti neraka!" kata se-orang di antara mereka.
"Seperti neraka ? Apa maksudmu ?" Seng Kun bertanya. "Memang ada perang, akan tetapi yang perang adalah pasukan dan kita tidak ikut - ikut dengan mereka !
"Ahhh, enak saja engkau bicara karena belum melihat sendiri. Di sekitar kota raja terjadi pertempuran yang amat hebat dan mengerikan. Ribuan, bahkan laksaan tentara bertempur di sana dan pasukan pemberontak amat banyak dan pasukan kerajaan hiiihh, amat mengerikan."
"Kenapa ?"
"Mereka itu kejam sekali, seperti bukan manusia lagi, seperti iblis! Mereka itu lebih patut menjadi penjahat - penjahat keji, mereka suka makan daging dan minum darah! Apa lagi para komandan mereka, seperti bukan manusia lagi, seperti binatang tidak, bahkan lebih pantas seperti iblis mereka itu. Mereka membunuh tidak memandang bulu, bukan hanya pihak perajurit musuh saja yang mereka bunuh, akan tetapi juga rakyat jelata yang mengungsi, kalau bertemu mereka tentu dibunuh dan dirampas barang-barangnya. Huh, sungguh menakutkan sekali sepak terjang mereka itu."
Tiga orang muda itu sesungguhnya tidak ter-lalu heran mendengar berita ini. Mereka sudah mendengar bahwa istana kini dibantu oleh para tokoh kaum sesat, bahkan dipimpin oleh datuk se-sat Raja Kelelawar yang sakti itu. Akan tetapi Bwee Hong pura - pura bertanya kepada pedagang itu.
"Sungguh aneh dan sukar dipercaya! Kenapa orang-orang jahat seperti iblis diangkat menjadi perajurit pemerintah, bahkan menjadi komandan ?"
Mendengar pertanyaan ini, rombongan peda-gang itu makin percaya bahwa tiga orang muda ini tidak tahu apa - apa maka berani hendak pergi menuju ke kota raja. "Ah, mana kami mengerti ? Sejak kaisar baru naik tahta, bermunculan banyak perwira dan perajurit kejam, seperti itu, berkeliaran di kota raja. Maka, sebaiknya kalau kalian bertiga cepat - cepat pergi dari sini dan jangan mendekati kota raja."
"Apakah pertempuran masih berlangsung di sa-na ?" A-hai bertanya sambil menunjuk ke depan.
"Tentu saja masih! Makin hebat tentunya. Pertempuran dimulai malam tadi dan tentu kini masih berlangsung dengan hebatnya. Untung ka-mi dapat segera melarikan diri, akan tetapi banyak teman kami yang terkurung di kota raja dan tidak sempat lagi melarikan diri. Entah bagaimana nasib mereka itu. Kalau mereka tidak kehilangan nyawa saja masih untung akan tetapi tidak mung-kin dapat diharapkan mereka akan dapat memper-tahankan barang dagangannya dan semua harta milik mereka."
Setelah secara omong - omong sambil lalu, tiga orang muda itu berhasil memperoleh gambaran sekedarnya tentang keadaan di kota raja, mereka lalu meninggalkan tempat itu dan melanjutkan perjalanan menuju ke kota raja dengan cepat. Ma-kin dekat dengan kota raja, mulailah terdengar sa-yup sampai terbawa angin suara gemuruh dan ri-uh - rendah, tanda bahwa jauh di depan terjadi pertempuran hebat. Dan makin tinggi lagi, mulai nampaklah debu mengepul tinggi.
Mereka bertiga cepat mendaki bukit yang ber-ada di luar benteng kota raja. Kini nampak debu tebal dan asap api bertebaran, menghalangi pan-dangan mereka sehingga pertempuran itu tidak kelihatan jelas. Dari tempat sejauh itu, orang-orang yang bertempur hanya kelihatan kecil seperti se-mut yang bergerak dan berlarian ke sana - sini. Nampak panji - panji, bendera - bendera bercampur baur dengan kereta perang, kuda dan manusia. Suara bising memenuhi udara. Teriakan manusia diseling bunyi terompet komando dan tambur. Da-ri atas bukit itu, sukar dikenal mana pasukan pe-merintah dan mana pemberontak. Juga belum nampak tanda-tanda siapa yang berada di pihak unggul.
Tiba - tiba A-hai berseru, "Lihat di luar pintu gerbang sebelah barat itu ! Pertempuran di sana sungguh luar biasa !" Pemuda ini menunjuk ke de-pan. Dua orang temannya cepat menengok dan memandang ke arah yang ditunjuk. Dan nampak-lah apa yang dimaksudkan oleh A-hai. Ada seo-rang penunggang kuda yang dari situ, hanya keli-hatan sebesar lengan, membawa panji besar dan penunggang kuda ini dikepung oleh banyak sekali pasukan lawan, mungkin ada ratusan orang ba-nyaknya. Para pengeroyok itu mengepungnya dan bahkan ada pasukan anak panah menghujaninya dengan serangan anak panah. Akan tetapi, jelas nampak oleh tiga orang muda di atas bukit itu betapa dengan benderanya yang besar, penunggang kuda itu mengebut runtuh semua anak panah yang menyambar ke arah dirinya. Dan anehnya, penge-pung yang jumlahnya demikian banyak itu tidak ada yang berani mendekatinya karena siapa berani agak terlalu dekat pasti roboh. Orang lihai ini ten-tu merupakan seorang tokoh besar yang amat lihai dari kota raja, mungkin seorang panglima.
"Heii! Itu di sana juga ada dua orang dikepung ratusan orang perajurit!" tiba - tiba Bwee Hong berseru sambil menuding ke arah kiri. Yang di-maksudkan itu adalah dua orang yang berdiri membelakangi, dikepung dan dikeroyok oleh ra-tusan orang perajurit seperti keadaan penung-gang kuda itu.
"Dan itu di sana ! Dia sendirian ah, ada dua ekor harimau, wah siapa lagi kalau bukan San - hek - houw ? Hemm, kiranya datuk-datuk sesat mereka itu dan kini mereka sedang menghadapi pengeroyokan pasukan anak buah Chu Siang Yu !" kata Seng Kun.
"Ah, benar !" kata Bwee Hong. "Para datuk sesat telah turun tangan menghadapi pasukan yang mengepung kota raja. Akan tetapi di mana pemim-pin mereka yang kabarnya diangkat menjadi pang-lima kerajaan itu ? Di mana dia Raja Kelelawar ?"
Kini tiga orang muda itu mencari - cari dengan pandang mata mereka, mencari iblis itu di antara orang - orang yang sedang bertempur. Akan tetapi mereka tidak dapat menemukan raja iblis itu.

Bersambung

43                                                                                                                                   45