Jumat, 07 Juni 2013

DARAH PENDEKAR 43

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S.Kho Ping Hoo

Bab 43

Bwee Hong mengangguk - angguk dan memandang penuh perhatian. Tiba-tiba seorang di antara dua kepala daerah yang nampak menghapus air mata itu bangkit berdiri dan wajahnya merah padam, tangan kanannya dikepal dan dipukulkan ke telapak tangan kirinya sendiri penuh geram dan penyesalan.

"Sungguh kurang ajar! Tak kusangka Liu Pang dan pasukannya itu sedemikian cerdik dan kuatnya. Sebenarnya, pasukan gabungan kita itu lebih kuat dari pada mereka. Akan tetapi karena kelalaian kita, kita menjadi buruan seperti ini! Untung yang kita temui tadi hanya sebagian kecil saja pasukan pemerintah. Andaikata kita bertemu dengan pasukan besar Jenderal Beng Tian, kita akan hancur lebur. Aihhh kita telah gagal, hancurlah semua rencana dan cita – cita kita "

Seorang perwira menarik napas panjang. "Kita memang bernasib malang. Bukan hanya kehilangan pasukan, bahkan semua anak isteri dan keluarga dan harta benda kitapun musnah "

Apakah yang telah terjadi dengan pasukan ga-bungan yang tadinya amat kuat itu ? Seperti telah kita ketahui, Liu - bengcu atau Liu Pang, berdua dengan muridnya, Ho Pek Lian, melakukan penye-lidikan terhadap pasukan gabungan antara pasu-kan pemerintah daerah dan pasukan asing yang menjadi sekutunya. Pasukan itu amat kuat, bukan hanya terdiri dari pasukan para kepala daerah dan pasukan asing, akan tetapi mereka dibantu dan di-perkuat pula oleh para iblis Ban - kwi - to dan anak buah mereka. Akan tetapi, setelah Liu-bengcu mengetahui tempat mereka berkumpul, tempat itu dikepung dan dengan cara perang gerilya, sergap dan lari, kekuatan mereka itu dapat diceraibe-raikan dan akhirnya mereka mengalami kekalahan besar terhadap penyerbuan pasukan pendekar. Me-reka dapat dibuat cerai - berai dan akhirnya mere-ka dikejar - kejar sampai ke tempat itu.

Selagi para pimpinan pejabat daerah yang ber-khianat itu bercakap-cakap, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan muncullah seorang perajurit yang segera memberi laporan dengan napas tere-ngah-engah,

"Pasukan Liu Pang makin dekat, tinggal dua dusun lagi dari sini. Mereka beristira-hat di sana dan menjelang fajar nanti akan berang-kat melanjutkan pengejaran mereka."

"Keparat! Tiba-tiba Kwa Sun Tek bangkit berdiri dan mengepal tinju. "Biarkan mereka da-tang, kita akan hadapi mereka di sini !"

Seorang perwira yang berada di antara para pimpinan itu melangkah maju dan suaranya lan-tang terdengar oleh semua rekannya, "Cu - wi (tuan sekalian), bagaimanapun juga, agaknya kita tidak mempunyai jalan keluar, dan terpaksa kita harus menghadapi mereka. Kekuatan mereka jauh lebih besar dan melakukan pertempuran secara terbuka berarti menghancurkan diri sendiri bagi kita. Di depan terdapat sebuah benteng tua, di puncak bukit itu. Tempat itu sekarang dijadikan tempat tahanan dan tempat itu amatlah baik untuk dipergunakan sebagai benteng pertahanan. Mari kita kuasai tempat itu dan kita jadikan sebagai tem-pat pertahanan menghadapi pasukan - pasukan Liu Pang. Mereka tidak akan mampu mengalahkan kita dengan mudah kalau kita bertahan di sana."

"Akan tetapi kalau tempat itu sukar diserbu, bagaimana mungkin kita dapat merampasnya ?" kata Kwa Sun Tek.

"Aku mengenal baik para komandan di sana karena aku pernah bertugas di sana selama bebe-rapa tahun. Biarlah aku membawa pasukan dan mengatakan bahwa kita adalah pasukan pembantu dari ibu kota untuk memperkuat penjagaan di tem-pat tawanan ini. Mereka tentu akan percaya dan setelah berada di sana, kita kuasai benteng itu," kata si perwira. Semua orang menyetujui.

"Mari kita laksanakan rencana itu sebelum ba-risan Liu Pang tiba di sini," kata seorang pembesar sipil yang sudah merasa ketakutan.

Sementara itu, tiba-tiba A-hai dan Bwee Hong mendengar bisikan suara ketua Tai - bong - pai yang agaknya dikirim dengan kekuatan khikang sehingga biarpun kakek itu berada di pohon lain, suaranya dapat terdengar oleh mereka dengan je-las tanpa terdengar oleh mereka yang berada di bawah pohon.

"Kebetulan sekali bagi kita rencana mereka itu. Mari kita mencari pakaian perajurit dan menya-mar sebagai anggauta pasukan mereka. Kita me-nyusup di bagian pedati - pedati perbekalan agar tidak mudah mereka ketahui. Jangan bertindak apa - apa, dan kita ikut menyelundup ke dalam benteng itu."

Bwee Hong lalu memberi isyarat kepada A-hai dan keduanya lalu meloncat ke pohon lain. Mem-pergunakan kegelapan malam, mereka berloncatan dan setelah berada di tempat sepi, mereka dapat mencari pakaian dari perajurit - perajurit yang te-was dalam pertempuran tadi. Mereka melucuti pakaian mayat perajurit yang cocok besarnya untuk mereka, lalu menyamar sebagai perajurit. Karena malam itu gelap dan semua perajurit sedang sibuk dan tegang mendengar betapa para penyerbu su-dah semakin dekat, dengan mudah Bwee Hong dan A-hai menyusup di antara kereta-kereta perbe-kalan dan bersikap sebagai pengawal - pengawal. Mereka juga dapat melihat kakek dan nenek Tai-bong-pai bersama puteri mereka. Bahkan kakek itu kini memegang kendali kuda yang menarik ke-reta perbekalan. Entah apa yang telah mereka la-kukan dengan kusirnya.

Berkat akal si perwira, dengan mudah pasukan yang berjumlah seribu orang lebih itu dapat me-masuki pintu gerbang benteng dan begitu mereka berada di dalam, segera mereka menyergap dan melucuti para penjaga. Tentu saja para penjaga yang jumlahnya hanya seratus orang dan yang mengandalkan kekuatan benteng itu, tak berani melawan dan akhirnya menyerahkan benteng untuk dikuasai para pendatang baru ini. Segera pasukan itu diatur untuk melakukan penjagaan sekuatnya di benteng yang amat kokoh itu. Hati mereka agak lega karena kini mereka memperoleh tempat per-lindungan yang boleh diandalkan.

Sementara itu, lima orang perajurit palsu yang ikut menyelundup masuk, kini berpencar untuk menyelidiki keadaan benteng penjara itu. Bwee Hong pergi bersama A-hai, Siok Eng bersama ibunyanya sedangkan ketua Tai - bong - pai yang lihai itu pergi menyendiri. Mereka tentukan tem-pat untuk pertemuan mereka setelah penyelidikan masing - masing, yaitu di bagian belakang benteng, tak jauh dari sumber air yang berada di sebelah belakang di balik tembok belakang.

Bwee Hong dan A-hai menuju ke belakang bangunan benteng, ke bagian dapur. Karena yang bertugas di dapur adalah perajurit - perajurit lama dan mereka tidak dapat membedakan mana kawan dan lawan, apa lagi melihat betapa di antara pasu-kan baru yang mengambil alih benteng itu terda-pat banyak pula orang - orang liar atau orang asing, maka kemunculan Bwee Hong dan A-hai yang menyamar sebagai perajurit - perajurit itu tidak menimbulkan kecurigaan.

"Sobat baik, tolonglah beri makanan kepada kami yang kelaparan ini," kata A-hai dan diam-diam Bwee Hong melihat betapa kawannya itu telah mendapatkan kembali kecerdikannya, bukan seperti A-hai yang biasanya ketololan itu.

Dua orang petugas dapur itu memandang ke-pada A-hai dan agak lama memandang wajah "perajurit" yang bertubuh kecil ramping itu. Seo-rang di antara mereka tersenyum dan tangannya diulur untuk menyentuh lengan Bwee Hong sam-bil berkata, "Anak masih begini kecil dan tampan sudah menjadi perajurit."

A-hai memegang tangan orang itu dan pura-pura marah. "Jangan goda adikku ! Dia tidak bisa pisah dariku, maka terpaksa ikut menjadi perajurit. Dan jangan tertawakan dia, karena dia dia gagu."

"Gagu ? Wah, sayang begini tampan gagu "

"Sudahlah, kami lapar, tolong beri makanan."

"Sebentar lagi, belum matang roti yang kami masak," kata seorang di antara mereka.

"Duduk-lah dulu dan ceritakan jalannya pertempuran me-lawan pemberontak."

A-hai lalu bercerita bahwa dia ikut pula ber-tempur melawan para pemberontak di daerah se-latan. Akan tetapi karena selalu kalah, pasukannya ditarik kembali ke kota raja dan pagi tadi menda-dak pasukannya menerima perintah untuk menduduki benteng itu dan mempertahankannya dari pemberontak Liu Pang yang menuju ke situ.

Tiba - tiba terdengar suara derap kaki dan Bwee Hong bersama A-hai sudah siap-siap menghadapi segala kemungkinan. Yang muncul adalah dua orang perajurit lagi yang berjalan sempoyongan, tanda bahwa mereka sedang mabok.

"Ha-ha-ha kepala jaga penjara itu selalu mempunyai arak dan kami diberi seguci arak yang amat baik. Tapi eh, mereka minta tukar dengan roti. A - khun, tolonglah beri roti kepada-ku untuk kepala jaga."

"Tunggu sebentar, rotinya sedang dipanaskan," kata si tukang masak. Dua orang perajurit itu du-duk dan menghabiskan arak mereka. Ketika roti yang diminta akhirnya sudah siap, seorang di an-tara mereka sudah rebah tidur mengorok, yang se-orang mencoba untuk membangunkannya namun sia - sia karena orang itu sudah tidur seperti bang-kai. Melihat ini, A-hai menghampiri. "Sobat, te-manmu itu sudah tidur pulas, mana mungkin bisa disuruh bangun ? Kalau ada tugas, biarlah aku dan adikku ini membantumu, menggantikan temanmu yang tidur." Melihat wajah yang mabok itu me-mandang ragu, A-hai cepat menyambung, "Dan engkau sendiripun perlu mengaso, kalau kami ber-dua dapat menggantikan, engkau kan dapat tidur pula di sana."

Mendengar bahwa ada orang mau mengganti-kannya berjaga sehingga dia dapat mengaso dan tidur, perajurit itu nampak girang. Dia mengang-guk - angguk. "Baik, sungguh membosankan me-mang berjaga di penjara itu. Apanya sih yang di-jaga ?"

A-hai dan Bwee Hong lalu mengikuti penjaga itu sambil membawakan roti. Mereka berdua me-rasa betapa jantung mereka berdebar tegang keti-ka perajurit yang jalannya sempoyongan itu mem-bawa mereka memasuki sebuah bangunan besar yang terjaga oleh pasukan yang nampak tak acuh. Mereka bertiga terus masuk ke lorong dalam pen-jara itu, melewati kamar-kamar tahanan. Di da-lam sebuah ruangan tahanan yang besar dan agak gelap nampak tiga orang tahanan yang diborgol kaki tangannya. Tiba - tiba Bwee Hong mencubit lengan A-hai. Pemuda ini memandang dan diapun mengenal Seng Kun bersama seorang kakek dan seorang pemuda lain. Melihat betapa keadaan tiga orang tawanan itu diborgol dengan ketat dan pen-jagaan di situ amat kuat, A-hai memberi isyarat kepada Bwee Hong agar tidak melakukan tindakan sesuatu.

Yang berada di dalam ruangan itu memang Seng Kun dan dua orang penolongnya, yaitu kakek Kam Song Ki dan muridnya, yaitu Kwee Tiong Li bekas pemberontak yang kini telah meninggalkan pasukannya dan menjadi murid kakek sakti itu.

Mereka bertiga melihat adanya dua orang peraju-rit penjaga yang datang bersama perajurit mabok, akan tetapi karena penyamaran kedua orang itu amat baik dan mereka hanya melihat dari jauh, mereka tidak mengenal dua orang itu. Apa lagi karena memang mereka bertiga tidak menaruh perhatian terhadap para perajurit penjaga.

Bwee Hong juga cerdik dan ia tidak memperli-hatkan sikap yang mencurigakan, pura - pura tidak perduli dan tidak mengenal tiga orang tawanan itu walaupun ingin ia cepat turun tangan menolong kakaknya. Ia harus menahan kesabarannya. Biar-pun saat itu amat berbahaya kalau ia dan A-hai mencoba untuk menolong tawanan, melihat pen-jagaan yang cukup kuat. namun setidaknya ia su-dah tahu benar di mana tempat kakaknya ditahan.

Setelah perajurit mabok itu menyerahkan roti yang dimintanya dari dapur kepada kepala jaga dan dia sendiri lalu tertidur di tempat penjagaan dengan membiarkan A-hai dan Bwee Hong meng-gantikannya, A-hai lalu mengajak Bwee Hong diam - diam meninggalkan tempat itu dan menye-linap pergi untuk menemui teman - temannya. Di tempat yang sudah ditentukan, tak lama kemudian merekapun sudah berkumpul kembali dengan Kwa Eng Ki ketua Tai - bong - pai, Siok Eng dan ibu-nya. Mereka bertiga tidak berhasil mencari di mana adanya tiga orang yang ditahan itu dan tentu saja mereka girang mendengar akan hasil pe-nyelidikan A-hai.

"Mereka ditahan di dalam ruangan tahanan yang menembus ke dapur," kata A-hai. "Kami sudah tahu tempatnya dan kami sudah melihat me-reka di ruangan itu, diborgol kaki tangan mereka."

"Akan tetapi penjagaan di situ amat kuat, agak-nya amat sukar kalau kita menyerbu dengan keke-rasan. Sebelum kita berhasil melepaskan mereka, terdapat bahaya kalau - kalau para perajurit penja-ga menyerang mereka yang diborgol," sambung Bwee Hong.

"Tadipun kita beruntung karena dapat pergi bersama seorang perajurit penjaga mabok. Kalau bukan perajurit penjaga penjara itu, agaknya sukar untuk dapat masuk, dan kita tidak tahu pula siapa pemegang kunci - kunci pintu besi dan kunci-kunci borgol besi itu. Padahal, memasuki ruangan itu sa-ja harus melalui lima pintu besi yang hanya dapat dibuka dengan kunci," A-hai menerangkan lebih lanjut.
Ketua Tai - bong - pai mengangguk - angguk. "Kita harus pergi ke sana dan membebaskan mere-ka sekarang juga."

'Tapi tapi itu membahayakan kakakku " Bwee Hong membantah.

"Nona, harap jangan khawatir. Percayalah ke pada suamiku. Dia tidak akan bertindak sembrono dan dia pasti akan berusaha sampai berhasil." Is-teri ketua Tai - bong - pai menghibur Bwee Hong ketika melihat suaminya mengerutkan alisnya, tan-da tidak senang hatinya karena dibantah. Memang sudah menjadi watak ketua Tai - bong - pai ini yang akan merasa terhina kalau sampai tidak di percaya orang, apa lagi kalau sampai dibantah ke-hendaknya dia akan marah sekali. Andaikata bu-kan Bwee Hong yang membantahnya, yaitu nona keluarga penolong puterinya, tentu dia akan mem-beri hajaran!
Mendengar kata-kata nyonya itu, hati Bwee Hong menjadi lega. Bagaimanapun juga, ia sudah mengenal Siok Eng dan tahu betapa lihainya te-mannya itu, dan kini, ayah temannya itu yang akan turun tangan membantunya membebaskan kakak-nya, tentu saja ia percaya akan kesaktian kakek ketua Tai - bong - pai itu.

Dipimpin oleh kakek Kwa Eng Ki, mereka de-ngan hati - hati lalu bergerak menuju ke bangunan depan, bersikap sebagai serombongan perajurit yang sedang meronda. Tiba - tiba mereka melihat adanya kesibukan. Beberapa orang perwira nam-pak bergegas memasaki sebuah ruangan. Kwa Eng Ki memberi isyarat dan mereka cepat menyelinap dan melakukan pengintaian ke dalam ruangan itu karena mereka dapat menduga bahwa tentu telah terjadi sesuatu yang penting. Dan ternyata di da-lam mangan itu berkumpul para pimpinan pasukan yang menguasai benteng itu. Para gubernur pelarian beserta para perwiranya sudah berkum-pul. Mereka mendengarkan pelaporan seorang perwira yang bertugas menyelidiki keadaan di luar dan wajah mereka berobah tegang ketika mende-ngar bahwa barisan pemberontak yang dipimpin oleh Liu Pang telah menuju ke benteng itu.

"Ah, barisan orang she Liu itu benar - benar datang !" kata seorang gubernur. "Mereka agaknya tidak berhenti malam ini dan terus melakukan pe-ngejaran, langsung menuju ke sini. Kalau begitu, malam ini juga tentu mereka akan sampai di sini. Kita harus cepat mengatur penjagaan yang kuat. Untung bahwa benteng ini merupakan tempat ber-tahan yang amat baik."

Kwa Eng Ki memberi isyarat kepada teman-temannya dan mereka menyelinap pergi menjauhi ruangan itu. Di tempat sunyi mereka berkumpul dan membuat rencana.

"Wah, kita akan terlibat dalam pertempuran lagi malam ini. Dan mereka ini pasti akan mem-pertahankan diri mati - matian di benteng ini se-dangkan pasukan - pasukan Liu - bengcu juga tentu akan mengerahkan kekuatan untuk menghancurkan musuh."

"Locianpwe, apa yang akan kita lakukan seka-rang ?" tanya Bwee Hong, hatinya tidak sabar dan penuh ketegangan. Ia mengkhawatirkan terjadinya perobahan kalau sampai pasukan Liu - bengcu menyerbu. Kalau terjadi pertempuran yang kacau-balau, tentu keselamatan kakaknya terancam. Ka-kaknya harus dapat dibebaskannya sebelum terjadi pertempuran, pikirnya.

"Kalian berempat tetaplah menanti di sini. Aku akan menyiapkan rencanaku. Nanti tepat tengah malam kalian harus menyerbu dan membersihkan sudut pojok tembok belakang bagian barat itu dari para penjaga. Aku telah menyelidiki bagian itu. Hanya ada belasan orang penjaga saja, tempatnya sunyi dan di belakang tembok itu tebingnya biar-pun curam akan tetapi terdapat banyak tonjolan-nya sehingga kita akan dapat menuruninya. Di bawah tebing terdapat sebuah sungai yang dang-kal sehingga mudah bagi kita untuk menyeberang-inya dan menghilangkan jejak."

"Akan tetapi apa yang akan locianpwe lakukan ? Agar kami dapat mengetahuinya sehing-ga hati kami menjadi tenang," kata A-hai.

Ketua Tai - bong - pai itu tersenyum dan wajah-nya yang pucat seperti mayat itu nampak semakin menyeramkan. "Tentang cara - caraku untuk me-nyelamatkan kawan - kawan kita, kalian tidak perlu turut campur. Aku yakin pasti usahaku akan ber-hasil. Mungkin bagi orang - orang golongan bersih seperti kalian, cara - caraku itu akan kelihatan agak mengerikan. Bagaimanapun juga, aku merasa yakin akan dapat membebaskan tiga orang tawanan itu."

Beberapa orang perajurit muncul di tempat itu dan mereka berlima menghentikan percakapan mereka. Seorang di antara perajurit - perajurit itu, yang agaknya memiliki pangkat, melihat lima orang "perajurit" bergerombol itu, menegur, "Hei, apa yang kalian lakukan di sini ? Kita semua sedang sibuk melakukan persiapan untuk menghadapi pe-nyerbuan musuh, kalian malah enak-enakan di sini. Hayo, kembali ke induk pasukan kalian dan mem-persiapkan diri!"

A-hai mendahului kawan - kawannya, meng-ambil sikap tegak dan menjawab, "Siapp !!" Lalu mereka berlima pergi meninggalkan tempat itu. Setelah memberi isyarat dengan tangannya, ketua Tai - bong - pai lalu menggerakkan tubuhnya dan lenyap di tempat gelap.

"Di mana kita harus menanti ayah ? Kalau kita ikut berkumpul dan berbaris, ada bahayanya pe-nyamaran kita akan ketahuan," kata Siok Eng.

"Kita ke dapur saja ! Aku telah mereka kenal dan kita dapat membohong, mengatakan bahwa kita diberi tugas memperkuat penjagaan di dapur," kata A-hai dan mereka semua tidak mempunyai pilihan lain yang lebih baik, maka pergilah mereka ke dapur.

                                                         * * *

Menjelang tengah malam yang menyeramkan dan menegangkan. Para perajurit yang berjaga di benteng itu merasa betapa waktu merayap amat lambatnya, semakin lama semakin menegangkan hati. Sedikit suara saja sudah membuat mereka terperanjat dan jantung mereka berdebar-debar penuh rasa gelisah. Mereka secara bergilir mela-kukan penjagaan di atas tembok benteng, di seki-tar pintu gerbang dan bagian-bagian yang seki-ranya akan menjadi sasaran penyerbuan musuh.

Tiba-tiba, seorang perajurit yang berjaga di menara membunyikan terompet. Itulah tanda ba-haya, tanda bahwa pihak musuh sudah nampak! Seperti berebutan, para komandan pasukan berla-ri-larian ke atas tembok benteng untuk menyak-sikan sendiri dan mereka semua menahan napas ketika melihat cahaya terang dari kejauhan yang semakin lama semakin terang, seolah - olah mata-hari terbit di fajar menyingsing. Padahal, saat itu masih menjelang tengah malam ! Dan tak lama ke-mudian, terdengarlah derap kaki yang membuat benteng itu seperti tergetar dan nampaklah barisan obor yang memenuhi lembah dan kaki bukit yang luas itu. Tentu saja semua perajurit yang berjaga di benteng merasa ngeri. Kekuatan pihak musuh itu tentu puluhan kali lebih besar dari pada keku-atan mereka sendiri.

Kini ribuan obor yang berada di lereng itu per-lahan - lahan terpencar dan tersebar mengepung benteng Itu. Bukan main banyaknya, kemudian terdengar bunyi terompet yang memecah kehe-ningan angkasa malam. Begitu terompet terdengar, semua obor yang bergerak naik ke atas bukit itu padam ! Keadaan menjadi gelap pekat dan tidak terdengar suara sedikitpun. Derap kaki musuhpun lenyap seolah - olah mereka itu barisan setan yang pandai menghilang.

Tentu saja keadaan ini membuat semua peraju-rit yang berjaga di atas tembok benteng menjadi tegang hatinya dan ketakutan. Mereka menjadi kebingungan, tidak tahu apa yang harus dilakukan karena pimpinan merekapun tidak memberi isya-rat apa - apa, agaknya sama bingungnya dengan mereka menghadapi siasat musuh yang luar biasa ini. Bagaimana kalau musuh itu tahu-tahu mun-cul di depan hidung mereka ? Malam demikian gelapnya! Untuk memasang penerangan di atas tembok benteng, sama saja dengan membuat mere-ka menjadi sasaran anak panah pihak musuh. Sung-guh celaka, belum apa - apa, sebelum bertempur, nyali para perajurit di benteng itu sudah hilang se-paruh.

Segerombolan perajurit yang berjaga di be-lakang pintu gerbang, berkelompok dan biarpun hawa malam itu tidak begitu dingin, mereka itu sering kali menggigil seperti orang kedinginan.

"Kawan-kawan," kata seorang di antara mereka setelah mereka turun lagi dari atas benteng untuk melihat keadaan di luar tembok benteng, mereka itu seperti setan saja! Mereka menggunakan akal busuk, membikin kita tegang dan ketakutan terlebih dahulu dengan cara memadamkan obor – obor itu. Kita menjadi seperti menanti musuh yang seperti iblis bangkit dari kuburan, menanti munculnya mereka yang siap untuk mencekik leher kita, entah dari arah mana , huh, sungguh gila....!"

"Ahhh jangan bicara tentang iblis dan setan , aku juga takut. Siapa tahu tiba-tiba mereka muncul di sini dan hiiiihhh...... sssettt ...... sseeetann !" Dan orang itupun jatuh terduduk dengan celana basah, mukanya pu-cat dan matanya terbelalak, telunjuknya menuding ke arah depan, yaitu di arah belakang teman-te-mannya. Semua orang membalikkan tubuh dan merekapun terbelalak, ada yang menahan jerit, bahkan ada yang langsung roboh pingsan.

Apakah yang mereka lihat? Sungguh penglihatan yang mendirikan bulu roma dan amat me-nakutkan, apa lagi terjadi di malam sunyi yang menegangkan itu, di mana mereka semua berada dalam keadaan dicekam ketakutan. Siapa yang ti-dak akan merasa takut kalau di malam gelap itu mereka melihat seorang perajurit berdiri, hanya tiga meter jauhnya, dengan dadanya masih ditem-busi tombak ? Jelaslah bahwa orang itu tidak mungkin dapat berdiri, bahkan bergerakpun tak mungkin, karena orang yang dadanya tertembus tombak seperti itu tentu sudah mati. Pakaiannya berlepotan darah kering, dan mukanya putih pucat, mulutnya ternganga dan matanya mendelik, juga bau bangkai busuk menyerang hidung mereka. Yang membuat mereka semua amat ketakutan adalah ketika mereka mengenal perajurit ini seba-gai seorang teman mereka yang tewas dalam per-tempuran di lereng bukit melawan sisa pasukan Jenderal Lai itu. Dan kini mayat hidup itu melang-kahkan kaki, menghampiri mereka dengan gerak-an meloncat - loncat kaku !

Ternyata bukan di tempat itu saja muncul ma-yat hidup. Juga di atas tembok benteng, bermun-culan mayat - mayat hidup, mayat para perajurit yang tewas di dalam pertempuran, baik perajurit dari pasukan Jenderal Lai maupun perajurit te-man - teman mereka yang berjaga di benteng itu. Mayat - mayat hidup berkeliaran, gentayangan de-ngan bau busuk dan tubuh masih berlepotan da-rah kering, Gegerlah tempat penjagaan. Siapa ti-dak akan merasa ngeri melihat mayat - mayat itu berjalan, ada yang lengannya buntung, bahkan ada yang tanpa kepala.

Para perajurit penjaga yang panik ketakutan itu ada yang berlaku nekat, menyerang mayat-ma-yat hidup itu dengan golok dan pedang, juga me-nusuk dengan tombak. Akan tetapi, mayat-mayat itu tidak mengenal sakit. Biarpun tubuh mereka ditembusi senjata tajam dan leher mereka putus ditebas golok, tetap saja mereka itu tertatih - tatih berjalan, ada yang meloncat - loncat dan bau busuk amat memuakkan perut.

Banyak sekali mayat-mayat itu, seperti tiada habisnya bermunculan dari luar tembok benteng. Tadinya para komandan jaga mengira bahwa ini tentu siasat musuh yang melakukan penyamaran, akan tetapi betapa ngeri rasa hati mereka ketika mereka merobohkan dan menangkap sebuah mayat hidup dan memeriksa, ternyata yang diperiksanya itu benar - benar mayat yang sudah hampir busuk ! Benar - benar mayat hidup yang gentayangan dan berkeliaran menyerbu benteng itu! Bukan hanya puluhan, bahkan ratusan banyaknya. Mayat-mayat itu terus bergerak dengan kaku menuju ke penjara !

Dapat dibayangkan betapa panik dan takutnya para perajurit yang berjaga di penjara. Keadaan menjadi kacau - balau. Memang sebelumnya me-reka sudah ketakutan mendengar bahwa benteng diserbu oleh ratusan mayat hidup dan kini tahu-tahu mayat - mayat itu bermunculan di tempat ja-ga mereka. Tanpa banyak cakap lagi merekapun melarikan diri ketakutan, ada yang terkencing-ken-cing. Sebentar saja, penjara itupun kosong diting-galkan para penjaga. Betapapun gagahnya, para penjaga yang hanya manusia - manusia biasa itu tentu saja tidak mempunyai nyali yang cukup be-sar untuk melawan pasukan mayat hidup !

Mayat - mayat itu menyusup ke mana - mana. Bahkan dapurpun mereka masuki A-hai, Bwee Hong, Siok Eng dan ibunya yang ikut berjaga di dapur, melihat kawan - kawan mereka lari ketakut-an dan merekapun bangkit dan keluar dari dalam dapur untuk menyaksikan apakah benar ada ma-yat - mayat mengamuk seperti yang diteriakkan orang-orang itu. Dan baru saja mereka keluat pintu dapur, mereka berhadapan dengan beberapa sosok mayat hidup yang berjalan dengan gerakan kaku dan ada yang berloncatan.

"Heiii itu be benar mayat-mayat hidup ......!" A-hai berseru, matanya terbelalak karena selama hidupnya belum pernah dia me-nyaksikan keanehan seperti itu.

"Hiiihhhh , mengerikan !" Bwee Hong memandang pucat dan ketakutan.

Akan tetapi, Sok Eng dan ibunya nampak tenang- tenang saja, bahkan mereka berdua lalu meloncat ke depan menghadapi lima sosok mayat hidup itu dan mereka lalu merangkapkan kedua tangan di depan dada seperti orang - orang mem-beri hormat, mulut mereka berkemak- kemik dan mayat - mayat itupun lalu membalikkan tubuh dengan kaku, kemudian melangkah pergi mening-galkan tempat itu ! Tentu saja A-hai dan Bwee Hong memandang dengan mata terbelalak heran.

"Jangan takut," kata isteri ketua Tai-bong-pai.

"Semua itu adalah perbuatan suamiku. Dia menggunakan ilmunya untuk membangkitkan mayat-mayat perajurit yang tewas dalam pertempuran, mengerahkan mayat - mayat itu untuk mengacau musuh dan kesempatan ini harus kita pergunakan untuk membebaskan tawanan, sebelum pengaruh Ilmu 'Memanggil Roh' itu habis."

Mendengar ini, Bwee Hong dan A-hai merasa girang sekali dan mereka berempat lalu cepat-ce-pat memasuki penjara. Akan tetapi, baru saia me-reka tiba di pintu penjara, mereka bertemu dengan Seng Kun, kakek Kam Song Ki dan Kwee Tiong Li. Belenggu mereka telah lepas dan di kanan kiri mereka berjalan belasan sosok mayat hidup yang membebaskan mereka. Tiga orang itu adalah orang - orang yang berilmu tinggi, akan tetapi me-rekapun kagum dan juga merasa ngeri menyaksikan sepak terjang para mayat hidup itu. Akan tetapi, melihat munculnya Bwee Hong, Seng Kun terbe-lalak dan wajahnya memperlihatkan rasa girang dan haru, hampir tidak peroaya dia bahwa dia akan dapat bertemu dengan adiknya di tempat berbahaya dan mengerikan itu.

"Hong - moi !"

"Koko !"

Keduanya berangkulan dan Bwee Hong yang masih memakai pakaian perajurit kedodoran itu menangis di dada kakaknya. A-hai memandang dengan hati terharu. Sementara itu, kakek Kam Song Ki yang sakti itu bengong memandang ke arah mayat - mayat yang berkeliaran di situ.

"Ya Tuhan ! Hanya orang - orang dari Tai-bong-pai sajalah yang akan mampu bermain - ma-in dengan mayat - mayat seperti ini! Demikian banyaknya mayat yang berkeliaran. Aku berani bertaruh bahwa yang bermain - main ini tentulah tokoh Tai-bong-pai yang berkedudukan tinggi!"

Mendengar ucapan itu, ibu Siok Eng menjura kepada kakek itu dan berkata, "Maafkan, locian-pwe. Suamikulah yang membuat onar di sini karena kami ingin membebaskan locianpwe bertiga dari penjara ini."

Kam Song Ki cepat membalas penghormatan nyonya itu dan hidungnya kembang kempis. Dia dapat mencium bau harum dupa dari tubuh nyo-nya yang berwajah pucat ini, maka diapun terta-wa gembira.

"Ha-ha-ha, di tempat seperti ini dapat bertemu dengan isteri ketua Tai - bong - pai, sungguh menggembirakan sekali ! Bukankah toa-nio ini nyonya Kwa Eng Ki ketua Tai-bong-pai dan dia yang mempunyai ulah begini ?"

"Benar, locianpwe," jawab nenek itu. "Dan menurut penuturan puteri kami, locianpwe adalah Kam Song Ki, murid bungsu dari mendiang locianpwe Bu-eng Sin-yok-ong."

Kembali kakek itu tertawa. "Ha-ha-ha, hanya nama kosong belaka, mana mampu menandingi ilmu mujijat dari perguruanmu ini ?"

"Sementara itu Siok Eng berkata, "Sebaiknya kita menyelamatkan diri dulu melalui tebing sebelah barat seperti telah dipesan oleh ayah."

Semua orang lalu berangkat menuju ke tembok benteng sebelah barat dan dengan kepandaian tinggi yang mereka miliki, tidak sukar bagi mereka untuk menuruni tebing curam itu hanya dengan bantuan obor yang mereka pegang. Akhirnya de-ngan selamat mereka tiba di dasar tebing di mana terdapat sebuah sungai dangkal dan merekapun menyeberangi sungai dan tiba di tepi sebelah se-berang dengan selamat.

"Mari kita mencari suamiku. Dia tentu berada di bekas pertempuran itu, di mana dia mengerah-kan mayat - mayat untuik menyerbu benteng," ka-ta nyonya Kwa dan dengan petunjuknya, mereka semua lalu menuju ke tempat dari mana mayat-mayat hidup itu berasal. Dan benar saja, di tem-pat itu, di sebuah lereng yang amat sunyi, seorang kakek sedang duduk bersila menghadapi sebong-kok besar dupa wangi yang mengepulkan asap te-bal ke udara. Kakek ini agaknya sedang menge-rahkan tenaga batinnya, duduk bersila dalam samadhi.

Seorang pria tinggi tegap nampak berdiri di belakangnya, seperti sedang menjaganya. Dan memang orang itu sedang menjaga keselamatan ka-kek yang raganya seperti sedang kosong ini, dan orang itu bukan lain adalah Liu Pang atau Liu-bengcu, pemimpin besar barisan yang sedang bergerak menuju ke kota raja itu dan yang kini sedang mengepung dan hendak menyerbu benteng!

"Suamiku, bangunlah, usahamu telah berhasil," kata nenek itu dengan girang.

Kwa Eng Ki menarik napas panjang beberapa kali, dari mulut-nya keluar suara bisikan membaca manteram dan membuka matanya, lalu bangkit berdiri. Kiranya ketika ketua Tai - bong - pai ini pergi ke tempat mayat-mayat bergelimpangan untuk memulai usa-hanya membangkitkan mayat - mayat itu untuk mengatur siasatnya mengacau benteng, dia bertemu dengan Liu Pang dan anak buahnya. Mendengar rencana kakek itu, Liu Pang lalu memerintahkan anak buahnya untuk membiarkan mayat - mayat itu memasuki benteng, sedangkan dia sendiri men-jaga tubuh kakek Kwa kalau - kalau ada yang akan mengganggunya selagi dia menjalankan ilmunya memanggil roh dan menghidupkan orang - orang mati.

Bwee Hong, A-hai dan Siok Eng memberi hormat kepada pemimpin pemberontak itu, dan Seng Kun bersama dua orang kawannya yang baru saja dibebaskan dari penjara itupun memberi hor-mat, lalu menghaturkan terima kasih kepada Kwa Eng Ki.

"Ha - ha - ha, tepat dugaanku bahwa tentu to-koh besar Tai - bong - pai yang bermain - main dengan mayat - mayat itu. Kiranya malah ketuanya yang maju sendiri menolong kami. Ha - ha, terima kasih, pai - cu !"

Beberapa lamanya Kwa Eng Ki menatap wajah kakek sederhana itu lalu menarik napas panjang. "Kalau ada orang - orang mampu menawan seorang murid mendiang Bu - eng Sin - yok - ong, dapat dibayangkan betapa lihainya orang-orang itu!"

Kakek Kam menarik napas panjang. "Tidak aneh kalau yang menjadi lawan itu iblis macam Raja Kelelawar dan anak buahnya yang terdiri da-ri datuk - datuk kaum sesat yang amat lihai."

"Ayah, inilah dia tuan penolongku yang berna-ma Chu Seng Kun atau Bu Seng Kun, berdua de-ngan enci Bwee Hong dan mendiang suami isteri Bu Kek Siang telah menyelamatkan selembar nya-waku yang tidak berharga, bahkan dengan pengor-banan nyawa suami isteri Bu Kek Siang."

Kakek yang berwajah mayat itu memandang kepada Seng Kun dengan sepasang mata tajam penuh selidik, kemudian diapun tidak segan-segan untuk menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat kepada Seng Kun! Tentu saia Seng Kun menjadi kaget dan cepat -cepat diapun membalas dengan menjatuhkan diri berlutut pula.

Tiba - tiba terdengar bunyi terompet yang diti-up oleh Liu Pang. Kiranya pemimpin besar ini sudah berdiri di tempat tinggi sambil meniup te-rompetnya yang menjadi tanda bagi barisannya untuk memulai dengan penyerbuan mereka! Dan terjadilah geger di benteng musuh. Sebelumnya memang pasukan yang berada di dalam benteng sudah kacau-balau ketakutan oleh sepak terjang para mayat hidup. Baru saja mereka dikejutkan dan dibikin ngeri lagi ketika mayat-mayat hidup itu secara tiba-tiba saja, seperti kemunculan me-reka tadi, berjatuhan dan mati kembali, seolah-olah tenaga penggerak mereka dicabut serentak dan mereka itu terpelanting semua tanpa nyawa lagi.

Bukan hanya para perajurit yang menjadi panik. Bahkan para pimpinannya termasuk Kwa Sun Tek yang amat diandalkan oleh para pembesar itu menjadi ketakutan. Tentu saja pemuda ini menge-nal ilmu yang menggerakkan mayat - mayat itu dan tahulah dia bahwa ayah dan ibunya juga da-tang ke benteng itu dan menjadi musuh! Tahulah dia bahwa dia tidak mempunyai harapan lagi un-tuk melaksanakan cita - citanya memperoleh kedu-dukan tinggi karena pihak yang dibelanya itu agaknya telah mendekati jurang kehancuran dan kegagalan. Maka diapun diam - diam berusaha meloloskan diri bersama anak buahnya.

Pada saat mereka diliputi kekhawatiran, tiba-tiba saja, dalam keadaan gelap gulita itu, pintu gerbang benteng didobrak dari depan. Terjadilah pertempuran hiruk-pikuk dan kacau-balau. Pa-sukan Liu Pang yang menyerbu mengenakan tanda ikat pinggang putih di pinggang mereka sehingga mereka dapat bergerak dengan leluasa, dapat membedakan mana kawan mana lawan. Sebalik-nya, pasukan yang mempertahankan benteng yang sudah dicekam ketakutan dan dalam keadaan gu-gup tidak dapat membedakan lawan dan kawan, dihantam dan didesak, sebentar saja banyak ang-gauta pasukan mereka yang roboh dan benteng itupun jatuh. Semua perajurit pasukan asing di-hancurkan dan terbunuh, karena semua perajurit Liu Pang menerima pesan khusus bahwa mereka harus membunuh semua perajurit asing dan boleh mengampuni dan menerima kalau ada perajurit para gubernur yang menakluk dan menyerahkan diri. Belum sampai pagi, pertempuran berhenti dan benteng itupun jatuh ke tangan pasukan pemberontak.

Bersambung

Darah Pendekar 42                                                                                                    44