Jumat, 07 Juni 2013

DARAH PENDEKAR 42

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S.Kho Ping Hoo
Bab 42
"Kau kau ...... siapa ?" Akhirnya kakek itu bertanya dengan suara gemetar, dan ta-ngannya yang agak menggigil itu kini meraba ping-gang. Cui Hiang mendiamkannya saja ketika ba-junya disibakkan agar kakek itu dapat memeriksa punggungnya. Dan kakek Gu Tek semakin terbe-lalak ketika melihat betapa di kanan kiri pinggang gadis cilik itu benar-benar nampak adanya bekas totokan yang mirip jejak kaki kucing itu.
"Kau ....... engkau benar-benar keturunan keluarga Souw " teriaknya dengan muka berubah agak pucat.
"Hemm " Tiba - tiba A-hai berseru lirih.
"Lopek, di kepalaku juga seperti ada bekas jahitan, akan tetapi hanya pendek saja, tidak sampai ke ubun-ubun dan tengkuk."
"Ah, mana mungkin, kongcu ? Maaf, biarkan aku memeriksanya!" Dengan hati penasaran ka-kek itu lalu memeriksa kepala dan pinggang A-hai. Semakin penasaran hatinya ketika menemukan bahwa memang benar di kepala A-hai ada tanda jahitan itu, akan tetapi tidak begitu panjang seperti tanda pada kepala Cui Hiang, bahkan tanda pada pinggangnya juga tidak sedalam dan sejelas seperti yang terdapat pada pinggang anak perempuan itu.
Biarpun demikian, jelas bahwa tanda - tanda itu ada pada A-hai, maka kakek itu menjadi girang sekali. Dirangkulnya pemuda itu dengan hati terharu. "Engkau benar Souw-kongcu ah, Souw - kongcu betapa girang hatiku "
A-hai bersikap tenang. Bagaimanapun juga, semua ini belum meyakinkan hatinya karena ingat-annya belum pulih. "Lopek, harap maafkan aku. Sekarang aku baru dapat teringat sebagian - seba-gian, dan aku sedang dalam pengobatan. Mudah-mudahan tak lama lagi aku akan dapat teringat semuanya. Aku sendiri juga mulai agak yakin bah-wa aku sebenarnya adalah orang she Souw, mantu-mu. Akan tetapi harap jangan bertanya apa - apa tentang masa laluku. Aku belum ingat semua itu bahkan aku belum ingat tentang keluargaku. Tidak ada sedikitpun yang kuingat tentang isteri atau anakku. Bahkan setelah berhadapan dengan lo-pek sendiri yang agaknya tidak salah lagi tentulah ayah mertuaku, akan tetapi aku sama sekali tidak ingat dan tidak mengenal wajah lopek. Maafkan-lah dan harap lopek bersabar sampai aku memper-oleh kembali ingatanku."
Dengan wajah sedih kakek Gu Tek hanya mengangguk - angguk. Kini A-hai menoleh kepa-da Cui Hiang. Sama sekali tidak pernah disangka-nya ada hal yang begini kebetulan. Dia merasa kasihan kepada Cui Hiang dan mengajaknya hidup bersama, bahkan telah menurunkan ilmu silatnya yang dia tidak tahu betul adalah ilmu simpanan keluarganya dan siapa kira, ternyata gadis ini mem-punyai ciri - ciri keturunan keluarga Souw seperti yang dituturkan oleh kakek itu !
"Cui Hiang, jika dilihat dari adanya tanda-tanda di tubuhmu, ternyata di antara kita masih ada hu-bungan keluarga. Entah hubungan yang bagaima na aku belum dapat memastikannya. Mungkin antara paman dan keponakan atau antara saudari sepupu, atau bahkan antara kakak dan adik."
Cui Hiang mengangguk - angguk, menunduk dan beberapa butir air mata menitik turun ke atas sepasang pipinya yang agak pucat. Tentu saja da-ra kecil ini merasa gembira dan terharu sekali Pendekar yang amat dikaguminya dan disayang-nya ini masih ada hubungan keluarga dengannya!
A-hai kini menjura kepada kakek Gu Tek ke-pala kampung itu. "Lopek, tolong beri tahu kepa-daku, di manakah tempat tinggal keluarga Souw itu ? Aku harus pergi ke sana karena aku yakin bahwa kalau aku pergi ke tempat keluarga itu, aku akan lebih mudah mengingat masa laluku."
Kakek itu mengembangkan kedua lengannya dan menggerakkan pundaknya, menarik napas pan-jang penuh sesal. "Wah, inilah celakanya. Aku sendiri belum tahu tempat tinggal keluarga pen-dekar itu. Keluarga Souw benar - benar merahasia-kan tempat mereka, bahkan aku sendiri sebagai mertuanya tidak boleh tahu. Mereka tidak mau dikenal orang, tidak ingin diganggu dengan urusan kaum persilatan. Itulah sebabnya ketika tiba-tiba mantuku dan puteriku pergi selama sepuluh tahun dan tidak pernah datang berkunjung, aku sama se-kali tidak tahu ke mana harus mencari mereka. Sampai - sampai isteriku, bekas selir kaisar itu, meninggal dunia karena duka. Hanya secara sa-mar - samar aku pernah mendengar dari puteriku, bahwa tempat tinggal mereka itu terdapat di se-buah pulau penuh bunga yang indah. Rumah mereka didirikan di tepi sungai kecil yang airnya jernih, yang mengalir di tengah pulau kecil itu dan di belakang rumah mereka...... terdapat sebuah air terjun yang sangat indah !" A-hai melanjutkan, seperti dalam mimpi rasanya.
"Benar !" seru kakek itu gembira. "Ah, engkau benar - benar mantuku ! Ya Tuhan, di manakah adanya isterimu dan cucuku yang mungil itu ?' Kakek itu tidak dapat menahan runtuhnya bebera-pa butir air matanya.
A-hai tertegun dan seluruh tubuhnya terasa lemas, wajahnya membayangkan kesedihan mendalam. "Entahlah entahlah , aku tidak ingat lagi !" katanya kecewa sekali.
Pada saat itu terdengar teriakan beberapa orang perajurit di halaman samping rumah, "Hai, kepala kampung! Di mana engkau ? Mana masakan ayam itu ? Apakah sudah siap ?"
Tergopoh - gopoh kakek Gu Tek menemui ko-mandan pasukan dan menjura dengan sikap hor-mat. "Maaf, tai - ciangkun, saya harus mencarikan ayam dulu karena kami sendiri tidak mempunyai-nya, harap ciangkun bersabar."
Komandan itu menjadi marah dan membentak, "Hemm, jangan mempermainkan aku. Siapkan se-cepatnya, juga untuk sore nanti karena ada seorang panglima kerajaan yang akan datang berkunjung.''
"Baik, ciangkun." Dan kakek Gu Tek lalu mengatur orang - orangnya untuk mempersiapkan makanan yang dipesan oleh komandan itu.
Malam itu komandan pasukan menjamu seorang panglima yang datang bersama dua orang kakek berjubah coklat. Panglima ini adalah Lai - goan-swe dan dua orang kakek berjubah coklat itu ada-lah dua orang tokoh Liong - i - pang, dikawal pula oleh belasan orang perajurit pengawal. Setelah makan hidangan yang disuguhkan, panglima itu bertanya dengan suara lantang kepada sang ko-mandan.
"Ma - ciangkun, sekarang ceritakan kepadaku tentang keadaan di garis depan dan terangkan mengapa engkau membawa sisa pasukanmu me-ninggalkan Jenderal Beng dari daerah pertempur-an ?"
Komandan pasukan itu menarik napas panjang. "Lai - goanswe, keadaan semua pasukan kerajaan di garis depan sudah amat payah. Pasukan-pasukan pemberontak Chu Siang Yu yang dibantu pasukan-pasukan bangsa liar sungguh terlalu amat kuat. Jumlah mereka bertambah terus sedangkan jum-lah pasukan kita semakin berkurang tanpa adanya bala bantuan dari kota raja. Saya membawa pasu-kan mundur sampai ke sini karena perintah lang-sung Beng - goanswe sendiri. Beliau kini bertahan di sepanjang Sungai Ular, sedangkan kami diutus untuk mempersiapkan jalan mundur pasukan induk. Juga kami diutus untuk mencari tambahan ransum karena persediaannya sudah menipis dan tidak per-nah ada kiriman bantuan ransum dari kota raja Kekuatan musuh hampir tiga kali lipat jumlahnya. Jenderal Beng Tian bermaksud untuk mengumpul-kan sisa pasukan yang ada, bertahan di benteng terakhir sampai titik darah terakhir."
"Apakah Jenderal Beng sudah mendengar bah-wa di daerah selatan dan timur juga muncul baris-an pemberontak Liu Pang yang tidak kalah kuat-nya ?"
"Sudah, Beng - goanswe sudah mendengar be-rita itu. Hal itu pulalah yang membuat Beng-goanswe menjadi patah semangat. Beliau berpen-dapat bahwa kalau sampai pasukan yang paduka pimpin itu sampai kalah, itu berarti bahwa barisan pemberontak Liu Pang itu tentu kuat sekali. Mungkin lebih kuat dari pada pasukan pemberontak Chu Siang Yu. Kalau sudah muncul dua pasukan pem-berontak yang masing - masing memiliki kekuatan melebihi kekuatan pemerintah, apa yang mesti di-perbuat lagi ? Paling - paling kita bertahan sam-pai kita gugur sebagai bunga bangsa !" kata ko-mandan pasukan she Ma itu dengan sikap gagah.
Jenderal Lai menarik napas panjang. "Betapa menyedihkan melihat banyaknya orang yang men-jadi perajurit setia seperti engkau ini telah tewas dengan sia-sia. Ma-ciangkun, maksudmu untuk gugur sebagai bunga bangsa memang menjadi wa-tak seorang perajurit sejati. Akan tetapi ada suatu hal yang lebih penting lagi untuk dipikirkan. Ka-lau tekad itu dilakukan demi membela tanah air dan bangsa, memang tepat dan sudah menjadi ke-wajiban setiap orang wuiga negara. Akan tetapi lebih bijaksanalah kalau kita melihat dulu untuk siapa kita berjuang. Benarkah untuk negara dan bangsa, ataukah hanya untuk segelintir manusia di istana yang merupakan manusia - manusia lalim dan tidak patut kita bela ?"
"Apa apa maksud paduka ?" Ma-ciangkun memandang heran. Dia adalah seorang perajurit tulen yang setia dan dia mengenal benar Jenderal Lai ini yang selama puluhan tahun pernah menjadi atasannya. Seorang jenderal yang setia ! Akan tetapi mengapa kini mengeluarkan kata – kata yang membingungkan hatinya itu ?
"Ma - ciangkun. Aku haru saja dari kota raja. Kaisar baru dan para pembantunya sungguh mem-buat kita prihatin. Mereka itu sama sekali tidak memperdulikan keadaan pasukan yang didesak mu-suh. Mereka bersenang - senang, berpesta - pora dan melakukan segala macam kemaksiatan yang menjijikkan. Pembesar - pembesar penjilat dan ko-rup dinaikkan pangkat, kaum sesat yang amat ke-jam dijadikan pengawal - pengawal dan panglima, sedangkan pejabat - pejabat yang setia dan jujur malah dipecat, dipenjarakan atau dibunuh. Istana seperti menjadi sarang penjahat yang paling keji. Ketika aku menghadap kaisar yang masih muda itu, sama sekali tidak ada penghargaan melihat betapa aku dan pasukanku telah membela kerajaan mati-matian, bahkan hampir saja aku dibunuh oleh be-gundal - begundal kaisar yang terdiri dari datuk -datuk sesat yang lihai itu. Apakah sekarang eng-kau masih mau gugur sebagai bunga bangsa demi sekumpulan manusia lalim dan sesat seperti mere-ka itu ?"
Wajah perwira Ma menjadi pucat. "Be
benarkah itu ?" Dia bertanya gagap.
Jenderal Lai menatap tajam. "Ma - ciangkun, engkau mengenal aku, bukan ? Puluhan tahun aku menjadi atasanmu, pernahkah aku bicara semba-rangan kepada bawahanku ? Atau engkau ingin membuktikan sendiri kata - kataku dan pergi ke ko ta raja ?"
"Maaf, goanswe. Mana saya berani? Akan tetapi, kalau begitu keadaannya lalu ....... lalu
apa yang harus saya kerjakan ?"
"Begini. Engkau tidak perlu membawa pasu-kanmu ke kota raja. Kau tetap saja di dusun ini. Aku akan pergi menghadap Jenderal Beng Tian untuk merundingkan langkah-langkah selanjutnya. Engkau menanti perintah saja di sini."
"Baiklah, goanswe !" kata Ma-ciangkun dengan lega karena tugas itu ternyata ringan saja. Malam itu juga Jenderal Lai pergi bersama para penga-walnya dan pasukan itupun mengaso.
Setelah pertemuan penting itu bubaran, A-hai yang juga mendengar percakapan itu dari lain ru-angan, lalu bertanya kepada kakek Gu Tek, "Lo-pek, aku mendengar tentang adanya sebuah ben-teng tua yang kini dipergunakan sebagai tempat tawanan. Di manakah letak benteng itu dan ba-gaimana keadaannya ? Apakah terjaga kuat dan sukar dimasuki ?"
"Ah, benteng itu ? Sekarang menjadi tempat pembuangan para pejabat istana. Tempatnya ku-rang lebih sepuluh li dari sini, terletak di atas pun-cak sebuah bukit gundul yang terjal. Tempat itu sukar didekati, tak dapat dicapai lewat samping atau belakang. Jalan satu - satunya hanyalah dari depan, jalannya lebar dan baik. Akan tetapi kena-pa kongcu menanyakan tempat itu ?"
"Hemm, aku hendak ke sana, lopek."
"Ah, apakah ada seorang kerabat yang dibuang di sana ?"
A-hai hanya mengangguk dan tahulah Gu Tek bahwa dia tidak boleh banyak bertanya. Maka diapun lalu memberi keterangan tentang jalan yang menuju ke benteng itu. A-hai merasa girang se-kali.
"Lopek, karena tempat itu cukup berbahaya, maka aku ingin menitipkan Cui Hiang agar berdi-am di sini lebih dulu. Aku akan menjemput dua orang wanita yang menjadi sahabatku dan yang kutinggalkan di hutan. Kalau sudah selesai urusan kami, aku akan datang ke sini untuk menjemput Cui Hiang."
Kakek itu girang sekali. Bagaimanapun juga, gadis berlengan buntung sebelah ini adalah ketu-runan keluarga Souw pula, maka termasuk sanak-nya juga melalui puteri angkatnya. "Baik, jangan khawatir, kongcu. Kami akan menjaganya baik-baik."
"Kakek Gu. jangan kaget kalau kelak engkau melihat seorang di antara dua nona itu. Wajahnya mirip sekali dengan gambar puterimu itu," kata Cui Hiang dan kakek itu mengangguk-angguk, dalam hatinya terheran - heran mengapa begini banyak hal-hal yang "kebetulan". A-hai lalu berangkat keluar dari dusun, meninggalkan Cui Hiang di rumah si kepala kampung karena dia merasa kurang leluasa kalau harus rttengajak anak itu, padahal dia dan teman - temannya akan menyerbu benteng menyelamatkan Seng Kun dan yang lain-nya.
*
* *
Ketika A-hai berjalan keluar dari dusun, bebe-rapa orang perajurit peronda menegurnya. "Hei, berhenti! Siapa itu ?"
A-hai berhenti dan dua orang peronda itu menghampiri. "Ah, kiranya engkau !" kata mereka yang sudah mengenal A-hai yang pernah mem-bantu mereka mencari air, pemuda yang berada di rumah kepala kampung dan menjadi keluarga kepala kampung itu. "Hendak ke mana engkau ?"
"Aku disuruh oleh Gu - lopek untuk mencari ayam."
"Bagus! Cari yang banyak, kalau ada telurnya juga, ya ? Sudah lama aku tidak makan telur ayam !"
A-hai melanjutkan perjalanan dengan cepat, menuju ke hutan di mana dia meninggalkan Bwee Hong dan Siok Eng. Ketika dia sudah jauh me-ninggalkan perajurit: perajurit itu, dia berpikir bahwa dia harus mempergunakan ilmu berlari ce-pat agar kedua orang gadis itu tidak menunggu terlalu lama. Akan tetapi ketika dia hendak me-ngerahkan tenaganya tiba - tiba saja dia lupa sama sekali bagaimana harus mengerahkan tenaga sak-tinya. Lupa sama sekali cara atau jalannya. Dia berdiri tegak dan menggerak - gerakkan perut dan dadanya, namun hasilnya sia - sia karena memang belum ditemukan kembali jalannya. Dia menjadi uring - uringan dan menyumpahi diri sendiri. "O-tak udang!" Tanpa disadarinya, sikapnya kembali seperti A-hai yang ketolol - tololan. Hal ini ada-lah karena dia masih sedang dalam proses pengo-batan. Kalau terlambat jalan darahnya diperlancar dengan bantuan jarum yang tepat, maka darahnya tidak lancar lagi dan ingatannyapun semakin bun-tu lagi. Dia belum sembuh, dan masih tergantung kepada bantuan Bwee Hong yang sewaktu - waktu harus mempergunakan jarum - jarumnya agar jalan darahnya lancar kembali. Selagi dia berkutetan dan memarahi dirinya sendiri itu sehingga dia ke-lihatan lucu dan aneh, tiba - tiba terdengar suara orang tertawa, suara ketawa yang ditahan - tahan akan tetapi tetap memberobot keluar sehingga ter-dengar agak cekikikan.
Tentu saja A-hai menjadi terkejut dan juga marah. Dia memaki - maki dan memarahi diri sen-diri, akan tetapi sekarang malah ada orang menter-tawakannya ! Itu penghinaan namanya. Akan te-tapi ketika dia membalikkan tubuh dan meman-dang, dia terbelalak dan bujlu tengkuknya mere-mang. Di depannya berdiri dua orang kakek dan nenek yang pakaiannya serba putih dan wajahnya juga putih seperti mayat! Bau harum semerbak tercium olehnya dan diapun bergidik. Sinar bin-tang-bintang di langit menyinari dua wajah yang. pucat seperti mayat itu. Karena keduanya mena-han tawa dan bergerak, mereka kelihatan seperti sepasang mayat hidup.
Akan tetapi, kakek itu lalu berkata, suaranya halus, "Saudara yang gagah perkasa. Tak dapat kami menahan tawa melihat tingkah lakumu yang aneh dan konyol itu. Agaknya engkau baru saja memperoleh pelajaran lweekang dari gurumu, akan tetapi kini engkau sudah lupa lagi sehingga gagal ketika mencobanya. Benarkah ?"
Mendengar pertanyaan ini, tentu saja seketika wajah A-hai menjadi merah sekali, merah karena malu rahasianya dapat diterka sedemikian tepatnya dan marah karena orang ini sungguh telah mence-moohkannya dengan sikapnya yang dianggapnya sombong sekali. Karena malu dan marah, juga ka-rena merasa tidak berdaya setelah sama sekali ti-dak mampu mengingat ilmunya, dia mendengus dan membalikkan tubuhmu, melangkah lebar me-ninggalkan dua orang aneh itu.
Akan tetapi tiba - tiba kakek aneh itu menahan-nya, "Saudara yang baik, jangan engkau pergi dulu !"
"Huh!" A-hai tidak perduli dan mempercepat langkahnya, bahkan mulai menggerakkan kakinya untuk lari. Akan tetapi mendadak dia merasa ada angin bertiup di dekat tubuhnya dan terpaksa dia berhenti karena tahu-tahu kakek itu sudah bera-da di depannya sambil menyeringai! Dengan men-dongkol A-hai hendak membalikkan tubuhnya, akan tetapi ternyata nenek itupun sudah berada di belakangnya dengan tatapan mata yang dingin menyeramkan. A-hai menjadi marah sekali dan tiba-tiba saja dia teringat akan semua ilmu silat-nya. Agaknya, kemarahannya membuat jalan da-rah ke otak yang mulai menciut itu menjadi lancar kembali. Dia lalu mengerahkan tenaga saktinya dan seketika kedua orang suami isteri aneh itu ter-kejut sekali. Uap merah putih mengepul dari ke-pala pemuda yang mereka anggap lucu tadi.
"Awas, itu adalah Tenaga Sakti Merah Putih!"
teriak kakek itu kepada isterinya. "Eh, orang muda, siapakah engkau ?"
Akan tetapi A-hai tidak memperdulikan kekagetan mereka. Telapak tangannya sudah bergerak menyerang ke arah kakek itu, bukan maksudnya untuk menyerang sebenarnya, melainkan mendo-rong.
Bau dupa harum semakin menusuk hidung. Teringatlah dia kepada Siok Eng yang juga memiliki ilmu seperti itu. Ah, pikirnya, jangan - jangan kedua orang ini masih keluarga nona Siok Eng. Maka diapun lalu melangkah mundur lagi sambil berseru, "Berhenti !"
Kakek itupun sudah dapat menekan hatinya yang terguncang. Dia memandang tajam penuh selidik, dan tidak menyembunyikan keheranannya. "Orang muda, engkau sungguh hebat! Siapakah engkau ?"
A-hai tidak menjawab pertanyaan ini, melain-kan mengamati kedua orang itu bergantian, lalu bertanya, "Apakah ji - wi locianpwe ini dari Tai-bong - pai ?"
"Orang muda, aneh kalau seorang dengan ting-kat kepandaian sepertimu masih belum mengenal kami. Aku adalah ketua Tai - bong - pai dan ia ini adalah isteriku."
"Ah, kiranya ji - wi locianpwe adalah ayah dan ibu nona Kwa Siok Eng ?" seru A-hai dengan gi-rang.
"Hemm, engkau mengenalnya ? Di manakah anak kami itu sekarang ?" Nenek itu bertanya, si-kapnya masih dingin.
"Kami bersahabat baik sekali! Ia kini sedang menantikanku di dalam hutan. Apakah ji-wi hen-dak mencarinya ? Mari, ikut bersamaku."
Karena memang dua orang itu sudah amat mengkhawatirkan anak gadis mereka dan sudah lama mencarinya, tentu saja mereka girang sekali mendengar keterangan A-hai. Akan tetapi kegi-rangan hati mereka itu tidak nampak pada wajah mereka yang pucat dingin, dan kakek Kwa Eng Ki, ketua Tai - bong - pai itu berkata, "Mari antar ka-mi bertemu dengannya !"
Kakek Kwa Eng Ki dengan isterinya, sebagai ketua Tai - bong - pai, tidak pernah mencampuri urusan dunia. Mereka telah mewarisi ilmu - ilmu mujijat dari Tai - bong - pai dan mereka tidak ingin melihat Tai - bong - pai terseret ke dalam suatu kelompok atau golongan. Karena watak mereka yang aneh dan kadang-kadang dalam melakukan hukuman dan balas dendam mereka amatlah keras dan kejam, maka golongan pendekar menganggap mereka sebagai kaum sesat. Sebaliknya, golongan sesatpun tidak bersahabat dengan mereka karena Tai - bong - pai tidak pernah mau bergaul dengan mereka, Jadi Tai - bong - pai merupakan perkum-pulan yang berdiri di tengah - tengah, tidak ber-sahabat dengan kedua golongan, juga tidak bermu-suhan secara terbuka. Pendeknya, Tai - bong - pai ingin berdiri sendiri dan tidak mau tunduk, tidak mau dijajah. Mereka terkenal sebagai orang - orang yang keras hati dan bersikap dingin seperti ma-yat, tidak perdulian. Kalau mereka tidak diganggu, merekapun tidak akan memperdulikan apapun yang terjadi asal bukan urusan mereka. Karena, itu. kini mereka menjadi pusing sekali karena kedua orang anak mereka, yaitu Kwa Sun Tek dan Kwa Siok Eng, lebih sering berkelana dan mencampuri urusan luar sehingga terbuka bahaya terlibatnya Tai - bong - pai. Hal ini memusingkan mereka dan setelah gagal mengutus murid-muridnya untuk memanggil pulang kedua orang anak itu, kini me-reka berdua berangkat sendiri untuk mencari dan memaksa kedua orang anak mereka pulang!
A-hai lari ke dalam hutan, diikuti oleh suami isteri itu. Setelah tiba di tempat dia meninggalkan Bwee Hong dan Siok Eng, A-hai berseru, "Nona Hong dan nona Eng, aku sudah datang ! Keluar-lah dan temuilah dua orang tamu kita ini!"
Tentu saja Siok Eng sudah tahu akan kedatang-an, ayah bundanya. Ia terkejut dan mendongkol kepada A-hai. Mengapa si tolol itu pulang meng-ajak ayah bundanya ? Ia sudah selalu berusaha menghindarkan diri agar jangan bertemu ayah bundanya. Eh, kini tahu - tahu mereka malah dia-jak oleh A-hai ke tempat itu. Akan tetapi, iapun maklum bahwa kalau ia tidak mau menjumpai me-reka, tentu A-hai yang akan dipersalahkan, maka dengan cemberut iapun keluar menyambut bersa-ma Bwee Hong.
Melihat puterinya bersama Bwee Hong, nenek itu lalu menjura ke arah Bwee Hong. "Ah, kiranya nona penolong juga berada di sini bersama Siok Eng. Suamiku, inilah nona Bwee Hong dari kelu-arga Bu yang telah menyelamatkan puteri kita de-ngan berkorban nyawa itu !"
Kwa Eng Ki sudah banyak mendengar penu-turan isterinya tentang keluarga Bu Kek Siang yang telah menyelamatkan puterinya dengan mengor-bankan nyawa kakek Bu dan isterinya, bahkan membuat putera mereka yang bernama Bu Seng Kun terluka parah, maka diapun mengangguk ke arah Bwee Hong. "Nona, aku girang sekali dapat bertemu dengan penyelamat nyawa puteri kami."
Disebut nona penolong dan penyelamat nyawa, Bwee Hong merasa kikuk sekali. Ia cepat mem-balas dengan penghormatan kepada kakek dan ne-nek itu sambil berkata, "Harap ji - wi locianpwe tidak bersikap sungkan. Adik Eng adalah seorang sahabat baikku, di antara kita tidak ada lagi tolong-menolong, melainkan hanya merupakan kewajiban hidup yang lumrah saja."
Kini Kwa Eng Ki memandang kepada puteri-nya dan menghardik, "Eng-ji, kenapa engkau ti-ada hentinya membikin pusing orang tua, selalu pergi tanpa pamit? Apakah engkau tidak betah tinggal di rumah sendiri ? Ke mana lagi engkau hendak pergi ? Hayo ikut kami pulang !"
Kwa Siok Eng menggeleng kepalanya dan mu-lutnya cemberut, alisnya berkerut "Ayah, aku be-lum ingin pulang !"
"Siok Eng, jangan kauhantah ayahmu yang su-dah pusing karena kepergianmu. Sudah lama kami mencarimu, setelah bertemu, tak mungkin engkau menolak ajakan kami untuk pulang."
"Tidak, ibu, aku belum mau pulang. Aku harus membalas budi orang. Aku tidak mau hidup seba-gai orang yang tidak mengenal budi. Aku sudah diselamatkan nyawaku, bahkan dengan pengorban-an dua orang tua yang berbudi mulia seperti men-diang kakek Bu Kek Siang dan isterinya. Apakah sekarang aku harus berdiam diri saja melihat pu-tera angkat mereka, juga cucu keponakan atau mu-rid mereka, terancam bahaya ?"
Ayah dan ibu yang biasanya tidak mau mem-perdulikan urusan orang lain itu, saling pandang dan kemudian menoleh lagi kepada puteri mereka. "Apa yang kaumaksudkan ? Siapa yang terancam dan hendak kautolong itu ?"
"In - kong (tuan penolong) Chu Seng Kun, ka-kak kandung cnci Bwee Hong ini yang harus kuse-lamatkan. Baru aku mau pulang."
Ibunya yang sudah mengenal Seng Kun dengan baik terkejut. "Apa ? Tuan penolong kita terancam bahaya ? Apa yang terjadi dengan dia ?"
Kini Bwee Hong yang memberi penjelasan, menceritakan bahwa kakaknya telah tertawan oleh Raja Kelelawar dan anak buahnya dan sekarang kemungkinan besar kakaknya itu ditawan di dalam benteng kuno yang kini menjadi semacam penjara.
Kami bertiga malam ini juga akan pergi ke benteng itu untuk berusaha menolong saudara Chu Seng Kun keluar dari sana. Aku sudah menyeli-diki dan tahu di mana adanya tempat itu," kata A-hai yang menceritakan kepada dua orang gadis itu bahwa dia menitipkan Cui Hiang kepada kepala kampung di dusun. Akan tetapi dia tidak mence-ritakan tentang keadaan dirinya dan pertemuan-nya dengan kakek Gu Tek yang membuka rahasia hubungannya dengan keluarga Souw.
"Kalau begitu, aku harus ikut dengan kalian dan membantu usaha membebaskan in - kong!" kata ibu Siok Eng penuh semangat. Suaminya mengangguk.
"Memang dia harus diselamatkan," kata ketua Tai - bong - pai. "Akan tetapi, Eng-ji apakah eng-kau tahu di mana adanya kakakmu.? Kami pun mencarinya sampai hampir putus asa tanpa hasil."
Tiba-tiba Siok Eng cemberut dan kelihatan tak senang. "Ayah, perlu apa mencarinya ? Orang macam dia tidak perlu dicari lagi!"
"Eh, Siok Eng, kau bicara apa itu ?" Ibunya membentak marah.
"Ibu, puteramu itu telah melakukan penyele-wengan besar dan hanya membikin malu keluarga kita saja. Dia telah menyeret nama Tai - bong - pai ke dalam lumpur !"
"Hemm, jelaskan ucapanmu itu !" Ayahnya juga membentak.
"Ayah, kakak Sun Tek telah bersekongkol de-ngan pasukan asing dan membantu pemberontak. Dia merendahkan diri menjadi kaki tangan penju-al negara !" Dara itu lalu menceritakan tentang kakaknya seperti yang diketahuinya. Mendengar ini, ayah ibunya menjadi marah sekali.
"Hemrn, anak itu perlu dihajar ! Aku akan mencarinya sendiri. Akan tetapi sekarang mari kita berangkat untuk membebaskan dan menyelamat-kan tuan penolongmu itu."
Berangkatlah mereka berlima menuju ke ben-teng tua dengan A-hai sebagai penunjuk jalan. Dia sudah memperoleh keterangan secara jelas se-kali dari kepala kampung, maka tanpa ragu - ragu diapun memimpin teman - temannya memasuki hutan cemara. Setelah mereka keluar dari hutan itu, nampaklah benteng tua itu. Malam gelap gu-lita, hanya diterangi bintang - bintang di langit. Benteng itu memang besar dan kokoh kuat, juga dijaga dengan ketat. Tidak ada jalan lain mema-suki benteng, kecuali dari pintu gerbang di depan yang terjaga kuat itu. Sisi benteng yang lain me-rupakan dinding - dinding karang, jurang yang amat terjal dan tak mungkin dilalui manusia. Dan satu - satunya jalan menuju ke pintu gerbang me-rupakan sebuah lorong anak tangga yang kadang-kadang terputus dan disambung jembatan - jem-batan gantung besar. Sehingga dengan adanya lo-rong ini, maka setiap orang luar yang naik ke bukit menuju ke benteng yang berada di puncak, baru tiba di kaki bukit saja tentu sudah diketahui oleh para penjaga.
Melihat sulitnya jalan naik dan mereka tentu akan ketahuan dan diserang sebelum sempat me-masuki benteng sehingga usaha mereka akan sia-sia, ketua Tai-bong-pai lalu mengajak mereka berunding di kaki bukit, duduk bersembunyi di balik semak - semak di bawah pohon - pohon cema-ra. Di sini terdapat tanah kuburan tua dan di tem-pat inilah mereka berlima duduk untuk mengada-kan perundingan. Anehnya, kalau Bwee Hong dan A-hai merasa seram dan ngeri berada di tanah, kuburan di waktu malam gelap seperti ;tu, adalah ayah ibu dan anak dari Tai - bong - pai itu merasa betah dan enak! Tidaklah mengherankan karena memang mereka berasal dari perkumpulan Makam Kuburan !
"Tempat itu sungguh terjaga ketat dan sukar dimasuki," kata Kwa Eng Ki. "Andaikata kita nekat mendaki dinding karang yang terjal itu dan berhasil mencapai tembok, tentu setibanya di atas tembok kita akan diketahui oleh para penjaga di sana. Ki-ta belum tahu di mana para tawanan itu berada, maka kalau sampai kita ketahuan sebelum berha-sil membebaskan tawanan, tentu mereka akan bersiap - siap dan penjagaan diperkuat sehingga makin sulit bagi kita untuk membebaskan tawan-an!"
Selagi lima orang itu berunding dan belum me-nemukan jalan baik, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara hiruk - pikuk dan sorak - sorai di antara bunyi terompet. Jelas bahwa itu adalah suara pertempuran ! Dan suara itu makin jelas terdengar, mendekati ke arah hutan cemara itu.
Kwa Eng Ki, ketua Tai - bong - pai itu berkata, "Sebaiknya kita berlindung dan bersembunyi ke atas pohon !" Berkata demikian, kakek ini lalu me-loncat ke atas, diikuti oleh isterinya dan puterinya. Bagaikan burung saja mereka bertiga melayang ke atas dan hinggap di dahan pohon cemara. Bwee Hong juga meloncat dengan ringannya, dan gerak-annya amat indah. Akan tetapi baru saja ia tiba di atas dahan pohon dan melihat ke bawah, dara ini sudah berjungkir balik dan meloncat turun lagi. Dari atas ia melihat A-hai berdiri bengong dan ragu - ragu, maka iapun turun lagi dan meng-hampiri pemuda itu.
"Kau kau kenapakah ?" tanyanya.
A-hai menghela napas panjang. "Ah, sungguh celaka, nona aku aku telah mulai lupa lagi, tidak ingat lagi bagaimana harus mengerah-kan tenaga agar dapat meloncat ke atas."
Bwee Hong teringat bahwa sudah tiba waktu-nya pemuda itu harus menerima bantuan pengo-batan. Maka iapun cepat mengeluarkan jarum-ja-rumnya dan dengan meraba - raba, ia menusukkan jarum - jarum itu pada pelipis, tengkuk dan pundak A-hai. Dan seperti biasa setelah menga-lami pengobatan ini, A-hai tertidur pulas di ba-wah pohon ! Bwee Hong duduk tersimpuh menja-ganya.
"Ssttt, enci Hong, cepat naik " terdengar
suara Siok Eng, Akan tetapi Bwee Hong tidak menjawab. Bagaimana ia dapat meninggalkan A-hai dalam keadaan tidur seperti itu ?
Akhirnya Siok Eng dan ayah bundanya turun kembali. "Ada apakah dia itu ?" tanya ketua Tai-bong - pai dengan terheran - heran melihat pemuda yang pernah dirasakan kehebatannya itu kini enak-enak tidur pulas.
"Locianpwe, saudara A-hai selalu tertidur se-tiap kali habis diobati. Untuk membantu ingatan-nya yang selalu lupa, aku dan kakakku melakukan penusukan jarum, dan baru saja aku melakukan penusukan lagi dan akibatnya dia tertidur."
"Sampai berapa lama dia akan tidur ?" tanya Kwa Eng Ki sambil mengerutkan alisnya. Suara pertempuran itu makin mendekat, agaknya ada pi-hak yang dikejar - kejar dan lari masuk ke dalam hutan sambil melakukan perlawanan.
"Biasanya agak lama, sedikitnya satu jam."
"Wah, kalau begitu biar kita bawa dia bersem-bunyi di atas pohon saja. Pertempuran itu sudah dekat dan tentu akan memasuki hutan ini!" kata ketua Tai - bong - pai dan dia lalu memanggul tu-buh A-hai lalu didudukkan di atas dahan dan cabang, bersandar batang pohon. Bwee Hong me-megang pundak dan menjaganya.
Karena pohon cemara itu bukan pohon yang terlalu kuat untuk ditempati terlalu banyak orang, maka ketua Tai - bong - pai, isterinya dan puteri-nya bersembunyi di pohon lain dan membiarkan Bwee Hong berdiam di pohon itu bersama A-hai yang dijaga agar tidak sampai terguling ke bawah.
Agaknya karena posisi yang tidak menyenang-kan itulah yang membuat A-hai terbangun atau sadar lebih cepat dari pada biasanya. Ketika per-tempuran itu mulai memasuki hutan, diapun ter-jaga. Dari atas pohon dapat dilihat pertempuran yang tidak seimbang dari dua pasukan yang sama-sama berpakaian seragam. Pasukan yang jumlah-nya hanya duaratus lebih itu diserbu dan didesak oleh pasukan lain yang juga berpakaian seragam perajurit pemerintah daerah yang jumlahnya seribu orang lebih ! Dan kini jumlah pasukan yang dike-jar - kejar itu sudah banyak berkurang, agaknya sudah banyak yang roboh dan tewas sejak mereka diserbu kemudian dikejar sampai ke hutan itu. Pa-sukan kecil ini mati - matian mempertahankan diri, akan tetapi karena mereka itu sudah nampak kele-lahan sekali dan satu orang dikeroyok oleh lebih dari lima orang, maka apa yang terjadi di hutan itu bukan lagi pertempuran, melainkan pemban-taian.
Lima Orang yang berada di atas pohon, terma-suk A-hai yang kini sudah sadar kembali, menon-ton pertempuran itu dengan penuh keheranan. Mengapa dua pasukan yang sama - sama pasukan pemerintah itu saling gempur sendiri ?
"Ah, pasukan kecil itu adalah pasukan yang berada di dusun itu !" A-hai berbisik kepada Bwee Hong. "Dan lihat, komandan pasukan itu .... ah, bukankah dia itu kakak nona Eng ? Dan di sana itu, mereka adalah pasukan asing yang pernah kita jumpai "
Bwee Hong mengangguk. Iapun mengenal Kwa Sun Tek yang berpakaian perwira, dan melihat pula adanya pasukan orang - orang asing bukan Bangsa Han yang berada di antara pasukan yang sedang melakukan pembantaian. Tahulah mereka bahwa yang dibantai itu adalah pasukan kecil anak buah pasukan induk dari Jenderal Beng Tian, yaitu pasukan yang setia kepada kerajaan, sedangkan pasukan besar itu adalah pasukan dae-rah yang bersekongkol dengan pasukan asing.
Akhirnya, pasukan kecil yang bertahan itu ha-bis dibasmi dan mungkin hanya beberapa orang saja di antara mereka yang berhasil meloloskan diri di dalam kegelapan hutan. Setelah musuh- tidak ada yang bergerak melawan lagi, pasukan asing itupun berhenti dan melepaskan lelah di hutan. Kebetulan sekali para pimpinan pasukan yang me-nang itu, terdiri dari beberapa orang pembesar kepala daerah dan beberapa perwira, beristirahat dan berkumpul di bawah pohon di mana lima orang itu bersembunyi. Mereka membuat api unggun dan kini lima orang yang bersembunyi di atas po-hon itu dapat melihat wajah mereka. Terheran-heranlah lima orang itu. Jelas bahwa pasukan ini menang perang, akan tetapi kenapa wajah para pemimpinnya nampak tidak bergembira, seperti orang berduka dan gelisah, bahkan dua orang dj antara para pembesar sipil itu nampak mengha-pus air matanya ?
A-hai membuat gerakan, mendekatkan mulut-nya ke arah telinga Bwee Hong. Dia ingin menga-takan atau membisikkan sesuatu, akan tetapi begi-tu dia mendekatkan mulutnya dengan kepala dara itu, hidungnya mencium bau sedap khas wanita yang membuat dia merasa jantungnya berdebar keras dan diapun tidak mampu mengeluarkan kata-kata, dan mukanya menjadi merah sekali.
Melihat betapa A-hai mendekatkan mulutnya dekat telinga akan tetapi tidak jadi mengeluarkan kata - kata itu, Bwee Hong terheran - heran dan berbisik," Engkau kenapakah ? Apa yang akan kaukatakan ?"
A-hai tergagap "Anu eh, aku heran sekali kalau tidak salah ingat, pasukan asing dan komplotannya itu tadinya berjumlah banyak sekali. Kenapa kini tinggal sekian ?"

Bersambung

41                                                                                                                                43