Kamis, 06 Juni 2013

DARAH PENDEKAR 40

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S.Kho Ping Hoo
Bab 40
Bagaimanakah pangeran mahkota muncul di tempat itu dan bersama dengan Ouwyang Kwan Ek, ketua Liong - i - pang ? Seperti pernah dice-ritakan di bagian depan, pangeran mahkota telah disingkirkan oleh komplotan Perdana Menteri Li Sn dan kepala thaikam Chao Kao, dikirim ke garis depan untuk membantu Jenderal Beng Tian me-mimpin pasukan menghadapi para pemberontak. Pada mulanya, pasukan pemerintah ini bertugas di sepanjang Tembok Besar melawan bangsa nomad Hun (Siung Nu), akan tetapi kemudian pindah ke barat untuk menghadapi pemberontakan yang di-pimpin oleh Chu Siang Yu. Karena pasukan itu tidak mendapat bantuan lagi dari pusat, seolah-olah dibiarkan saja, maka pasukan pemerintah ini terus terdesak mundur oleh kaum pemberontak.
Pangeran mahkota yang bukan seorang ahli perang dan hanya maju memimpin pasukan atas desak-an istana, menjadi putus asa dan dia menyerahkan sisa pasukannya kepada Jenderal Beng Tian. Dia sendiri lalu melakukan perjalanan pulang ke sela-tan. Akan tetapi, di tengah perjalanan dia mende-ngar tentang kematian kaisar dan tentang peng-gantian yang dilakukan pada waktu dia tidak ada dan yang diangkat menjadi kaisar adalah adiknya, putera kaisar yang ke dua. Tahulah pangeran mahkota bahwa terjadi pengkhianatan dan kecu-rangan, akan tetapi setelah lama berada di luar is-tana, ikut bertempur bersama Jenderal Beng Tian, pangeran ini telah terbuka matanya. Dia melihat kebobrokan pemerintahan ayahnya, melihat betapa rusaknya pemerintah akibat kelaliman para pejabat tinggi yang mempengaruhi ayahnya. Setelah mata-nya terbuka, dia merasa malu dan jijik, bahkan tidak mempunyai minat untuk menjadi kaisar, se-perti orang yang jijik melihat sesuatu yang penuh kekotoran diserahkan kepadanya untuk diurus. Ngeri dia kalau harus bekerja dibantu oleh orang-orang yang demikian jahat, licin dan curangnya. Maka, mendengar bahwa adiknya yang naik tahta, diapun tidak menjadi penasaran.
Akan tetapi, para pendekar yang tahu bahwa sang pangeran hendak kembali ke kota raja, memperingatkannya bahwa kaisar baru, dikuasai oleh pejabat-pejabat lalim, telah mengirim jago-an - jagoan untuk mencari putera mahkota ini, sete-lah kaisar baru mengirim utusan ke garis depan untuk menangkapnya mendengar bahwa pangeran itu telah pergi meninggalkan pasukan. Kini pange-ran dicari oleh jagoan-jagoan istana, maka sang pangeran lalu menyembunyikan diri. Untung dia bertemu dengan kakek Ouwyang Kwan Ek yang kemudian melindunginya.
Sementara itu, Siang Houw Nio - nio meru-pakan tokoh yang paling tidak setuju akan adanya penggantian kaisar oleh pangeran ke dua itu. Ia-pun dapat menduga bahwa surat wasiat kaisar lama telah dipalsukan. Akan tetapi apa dayanya seorang wanita yang pangkatnya hanya pengawal pribadi kaisar yang sudah mati, walaupun ia masih terhitung bibi dari kaisar itu sendiri ? Karena me-rasa tidak suka akan tetapi juga tidak berdaya, ia hanya memprotes yang akhirnya hanya membuat ia ditahan dan dijebloskan ke dalam penjara. Se-perti diceritakan di bagian depan, Pek In dan Ang In, dua orang murid Siang Houw Nio-nio, berhasil lolos dan melaporkan hal itu kepada Yap - lojin. Kakek ini segera terbang ke kota raja dan hanya dengan susah payah dan mengandalkan kepandai-annya dan bantuan para pendekar di kota raja sa-jalah akhirnya Yap - lojin berhasil membebaskan isterinya. Akan tetapi mereka menjadi buruan pemerintah, dan mereka harus cepat-cepat pergi karena kini istana memiliki jagoan - jagoan dari kaum sesat yang dipimpin oleh Panglima Kelela-war Hitam !
Setelah mendengar para pendekar itu saling menceritakan pengalamannya, putera mahkota menarik napas panjang. "Aih, betapa bobroknya keadaan di istana, baru sekarang aku menyadari. Kiranya sejak lahir aku sudah berada di dalam du-nia yang mewah dan mulia namun penuh dengan kebobrokan!" Dia makin tidak bernafsu lagi untuk kembali ke istana, apa lagi untuk memperebutkan kedudukan kaisar. Dia akan membantu gerakan para pejuang dan semua itu dilakukan bukan un-tuk memperebutkan kedudukan, melainkan untuk membantu melenyapkan kekuasaan sewenang-we-nang dan jahat yang menguasai negara dan rakyat.
Tiba giliran Bwee Hong untuk menceritakan pengalamannya di depan Ouwyang Kwan Ek. Yap-tajin, Siang Houw Nio - nio, dan sang pangeran itu. Ia menceritakan tentang tugas dari kaisar yang dipikul kakaknya, tugas mencari Menteri Ho yang ternyata gagal karena Menteri Ho yang setia itu keburu dibunuh oleh para penjahat kaki tangan menteri lalim. Kemudian, kakaknya hendak ke kota raja untuk melaporkan hasil tugasnya itu. A-kan tetapi dia malah ditawan oleh kaki tangan kaisar baru yang dipimpin oleh Kelelawar Hitam atau Raja Kelelawar.
"Padahal, Kun koko yang sudah melihat sen-diri keadaan pasukan para pendekar yang dipim-pin oleh Liu - bengcu, ingin pula melaporkan ke kota raja tentang kesalahpahaman antara, pemerin-tah dan pasukan itu. Liu - bengcu bermaksud membersihkan negara dari para pengkhianat dan penjual bangsa, akan tetapi oleh pemerintah malah dimusuhi dan dicap sebagai pemberontak," kata-nya.
"Tentu saja !" kata Siang Houw Nio - nio. "Pe-merintah sudah dikuasai oleh para pengkhianat itu sendiri, tentu saja Liu - bengcu dimusuhi!"
Yap-lojin menarik napas panjang. "Kaisar bo-neka diangkat, kekuasaan berada di tangan pem-besar - pembesar lalim dan korup, malah kaum se-sat yang dipimpin raja iblis seperti Raja Kelelawar diangkat sebagai panglima dan perwira - perwira. Aih, adakah yang lebih gila dari pada ini ?"
"Menteri - menteri dan pejabat - pejabat yang jujur dipenjarakan atau dibunuh," Siang Houw Nio - nio berkata lagi. "Setan - setan dan iblis - iblis berkeliaran di istana, menguasai negara, jenderal Beng Tian seorang diri dibiarkan mati - matian me-nahan majunya para pemberontak yang melanda negara seperti air bah, sedangkan mereka yang di istana hanya bersenang-senang belaka. Padahal, pasukan Liu-bengcu sudah mendesak dari selatan dan timur, sedangkan pasukan Chu Siang Yu men-desak dari barat."
"Kami berdua tidak berdaya. Kami sendiri men-jadi buronan, terpaksa meninggalkan kota raja," sambung Yap - lojin. "Di tengah jalan kami sudah berpapasan dengan sebagian pasukan Jenderal Beng Tian yang kalah berperang. Mereka mundur untuk mempertahankan benteng terakhir, yaitu ko-ta raja sendiri. Kota raja sudah terhimpit dari em-pat jurusan, tak tertolong lagi !"
"Ah, apa akan jadinya dengan negara kita ? Apakah akan terjatuh ke tangan pemberontak dan terobek - robek dipakai berebutan ?" Sang pange-ran ikut bicara, suaranya sedih. Semua orang terdi-am, tenggelam dalam pikiran masing - masing. Tak seorangpun nampak gembira, walaupun kesedihan yang membayang di wajah A-hai dan Cui Hiang berbeda dengan kesedihan orang - orang lain itu. Bagaimanapun juga, orang - orang yang masih setia kepada negara ini masih mempunyai sisa ke-inginan untuk dapat menyelamatkan negara dari pada bencana, kalau mungkin.
Akan tetapi sampai lama mereka tidak dapat melihat jalan yang baik. Kekuatan pasukan yang dapat diharapkan hanyalah tinggal satu - satunya pasukan Jenderal Beng Tian yang sudah menga-lami pukulan berkali - kali dan semakin menipis, baik jumlah maupun semangatnya itu. Pasukan-pasukan para kepala daerah sudah jatuh ke tangan para pemberontak dan banyak pula pasukan - pa-sukan kecil yang bertugas di luar kota raja, kalau tidak dihancurkan oleh para pemberontak, juga me-nyeberang dan bergabung dengan para pemberon-tak. Menteri - menteri dan para pejabat yang jujur sudah dihalau dari kedudukan mereka. Apa lagi yang dapat dilakukan ?
Ouwyang Kwan Ek menarik napas panjang. "Pangeran, agaknya tidak terdapat jalan yang baik untuk menolong negara pada waktu seperti seka-rang ini. Andaikata kita mampu menghalau para pemberontak, tetap saja kita harus menghadapi para pengkhianat yang sudah bercokol dan men-cengkeram istana. Dan melawan kekuasaan mere-ka, selain membutuhkan kekuatan besar, juga ber-arti menentang kekuasaan yang ada, sama dengan memberontak pula. Sebaiknya kita bergabung saja dengan sisa pasukan Jenderal Beng Tian. Kita ba-wa sisa pasukan menghindar dan menyusun keku-atan baru. Biarlah para pengkhianat itu mengha-dapi pasukan pemberontak dan biarlah para pem-berontak yang menggulingkan mereka. Kelak apa bila kekuatan kita sudah cukup, kita gempur kem-bali pasukan pemberontak itu. Kiranya hanya ini-lah satu - satunya jalan."
Sang pangeran dan semua orang mengangguk membenarkan. Kemudian mereka bubaran. Tiga orang locianpwe itu akan mengawal sang pangeran bergabung kepada pasukan Jenderal Beng Tian yang sudah mundur ke benteng kota raja. Sedang-kan Bwee Hong, Siok Eng, dan A-hai yang mengajak Cui Hiang yang masih perlu perawatan Bwee Hong dan yang sejak saat itu tidak mau berpisah dari A-hai, hendak melanjutkan perjalanan mere-ka ke kota raja untuk mencari Seng Kur. Sebelum berpisah, mereka beramai - ramai mengubur semua jenazah dan Cui Hiang diberi kesempatan untuk menyembahyangi makam keluarganya. Anak kecil ini meratap dan menangis, membuat terharu semua orang karena selain kehilangan ayah bunda dan adiknya, juga anak perempuan ini kehilangan le-ngan kirinya.
Sebelum meninggalkan orang orang muda itu, nenek Siang Houw Nio - nio berkata kepada Bwee Hong, "Nona Chu, kalau engkau mencari kakak-mu, janganlah mencari di kota raja, akan tetapi carilah di benteng kuno di luar pintu gerbang kota raja sebelah selatan. Semua tawanan pemerintah dikumpulkan di sana."
Bwee Hong mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Keterangan ini amat penting karena mencari seorang tawanan di kota raja memang ti-dak mudah, apa lagi kota raja kini dikuasai oleh kekuatan kaum sesat yang lihai.
* *
Malam itu mereka bermalam di bekas rerun-tuhan rumah keluarga Cui Hiang yang telah diba-kar para penjahat. Cui Hiang duduk termenung mengawasi bekas rumah dan tempat di mana ia biasa bermain - main dengan adiknya. Wajahnya pucat akan tetapi ia tidak menangis lagi. Anak ini maklum bahwa ia telah ditolong oleh orang - orang gagah dan ia merasa malu kalau selalu memperli-hatkan tangisnya. Keluarganya sendiri hanyalah keluarga sederhana yang hanya memiliki ilmu si-lat biasa saja, akan tetapi dari ayahnya ia sudah banyak mendengar tentang kegagahan para pen-dekar di dunia kang - ouw. Ia tidak ingin menge-cewakan hati orang - orang gagah, para pendekar yang telah menolongnya itu.
Melihat anak perempuan itu tidak tidur melain-kan duduk termenung dengan sedih. A-hai yang merasa kasihan dan suka sekali kepada Cui Hiang, mendekati dan mereka duduk di atas batu di luar bekas rumah itu.
"Cui Hiang, kenapa engkau tidak mengaso dan tidur? Kita besok akan melanjutkan perjalanan yang amat jauh dan melelahkan," kata A-hai de-ngan suara lembut.
Anak itu menggeleng kepala. Aku belum me-ngantuk dan biarlah malam ini kulewatkan untuk melihat - lihat tempat di mana aku dipelihara sam-pai besar dan yang akan kutinggalkan untuk sela-manya."
"Anak yang baik, mari kutemani kau. Kita bi-cara. Siapakah nama marga keluargamu ? Aku hanya tahu namamu Cui Hiang, akan tetapi tidak tahu siapa she - mu."
"Keluarga yang terbasmi penjahat itu she Gan, akan tetapi aku sendiri she Pouw."
"Eh ? Kenapa begitu ? Bukankah engkau anak mereka ?"
Gadis cilik itu menggeleng kepalanya dan wa-jahnya menjadi muram. "Aku hanya anak angkat mereka, akan tetapi mereka begitu baik kepadaku sehingga kuanggap mereka sebagai ayah dan ibu kandung sendiri. Aku mereka pelihara sejak bayi."
A-hai mengangkat alisnya dan merasa tertarik sekali. "Ah, sungguh tak kusangka. Maukah eng-kau menceritakan riwayatmu kepadaku, Cui Hiang?"
Anak itu menoleh dan memandang wajah A-hai
yang hanya nampak remang-remang di bawah
sinar bintang - bintang di langit dan iapun meme-
gang tangan orang muda itu. "Tentu saja, in-kong
(tuan penolong), aku suka menceritakan riwayat-
ku kepadamu. Sekarang aku hanya mempunyai
engkau seorang yang mau menolongku di dunia
ini " Suaranya terhenti karena haru.
A-hai memecahkan keharuan itu dengan se-nyum dan merangkul pundaknya. "Ihh. kenapa menyebut in - kong ? Tidak enak sekali sebutan itu."'
"Habis aku harus menyebut apa ? Kongcu ? A-tau taihiap ?"
"Wah, wah bisa ditertawakan semut ka-
lau engkau menyebutku kongcu. Masa ada kongcu
(tuan muda) macam aku ini. Dan taihiap (pende-kar besar) ? Wah, kepalaku bisa mengembung dan
hidungku bisa mekar nanti. Sebut saja eh,
bagaimana kalau aku menjadi kakakmu ?"
"Baik, aku menyebutmu twako. Aku mendengar namamu disebut A-hai, biarlah kusebut kau Hai-twako !"
Melihat gadis cilik itu sudah pulih lagi kegem-biraannya dan percakapan itu mengusir kedukaan-nya, A-hai lalu berkata, "Nah, sekarang ceritakan-lah riwayatmu, adikku yang manis."
"Ketika itu aku masih kecil, baru berusia tiga atau empat tahun," Cui Hiang mulai mencerita-kan riwayatnya. "Kalau ayah angkatku tidak men-ceritakan riwayat itu kepadaku, tentu aku akan lupa dan tidak mengetahui keadaanku yang sebe-narnya. Menurut cerita ayah angkatku, aku datang dibawa oleh ayahku yang terluka parah kepada mereka, keluarga Gan suami isteri yang belum mempunyai anak. Mereka sudah saling mengenal sejak lama. Oleh ayahku, aku diserahkan kepada suami isteri Gan yang sudah belasan tahun meni-kah tapi belum mempunyai anak. Karena lukanya yang parah akhirnya ayahku itu meninggal dunia, dan sebelum mati dia menyerahkan aku kepada suami isteri itu dengan pesan agar suami isteri itu membawaku bersembunyi karena ayahku dan juga aku sebagai anaknya sedang dicari - cari musuh besar yang telah melukainya."
A-hai mendengarkan dengan tertarik. Tak di-sangkanya bahwa anak ini membawa rahasia yang demikian menarik. "Lalu bagaimana ?" tanyanya ketika anak itu kelihatan mengingat-ingat.
"Ayah dan ibu Gan amat suka kepadaku, maka  aku lalu diambil anak. Dua tahun kemudian me- rekapun dikurniai seorang anak yang menjadi adikku. Dan mentaati pesan ayahku, keluarga kami.
hidup di dekat rawa sebagai penangkap ikan, karena memang keluarga Gan adalah keluarga seder-
hana yang miskin. Kehidupan kami sederhana namun cukup berbahagia dan ayah angkatku melatih
ilmu silat sedikit - sedikit kepadaku. Akan tetapi, siapa kira akan datang malapetaka yang menewas-
kan mereka sekeluarga, kecuali aku " Gadis cilik itu menahan kesedihannya dan memandang ke arah pundak kirinya yang tak berlengan lagi itu.
A-hai merangkulnya. "Sudahlah, sebagai gan-tinya kan ada aku yang menjadi kakakmu ! Biarlah aku menggantikan mereka, menggantikan ayahmu, ibumu, saudaramu !"
Cui Hiang memandang wajah yang tampan itu, "Hai - twako, mungkin engkau bisa menggantikan ayah angkatku, akan tetapi mana mungkin engkau menggantikan tempat ibu angkatku dan adikku laki - laki yang masih kecil ?" katanya sambil ter-senyum.
"Siapa bilang tidak bisa ?" A-hai lalu bangkit berdiri dan bergaya sebagai seorang wanita, berlenggak - lenggok dan mukanya dimanis - maniskan lalu bicara dengan suara dikecilkan, "Cui Hiang, anakku yang baik, apakah engkau sudah makan ?"
Melihat gaya itu, Cui Hiang tertawa geli dan lupa akan kedukaannya.A-hai menghentikan gayanya dan tertawa pu-la. "Nah, apakah tidak pantas aku menjadi ibu-mu ? Sekarang menjadi adikmu." Dan diapun ber-gaya lagi, dengan sikap kekanak - kanakan sehing-ga nampak lucu seperti monyet menari. Suaranya dibikin pelo seperti suara anak kecil, "Enci Hiang sekalang aku minta endong , minta endong hu - huh " Dan dia pura - pura mau menangis seperti anak kecil yang manja.
Melihat ini, tawa Cui Hiang makin geli. Gi-anglah hati A-hai dan diapun bernyanyi, seperti nyanyian anak - anak akan tetapi kata - katanya sungguh bukan kata - kata yang pantas dinyanyi-kan anak kecil.
"Apa yang terjadipun terjadilah dewa dan iblis tak dapat mencegahnya tawa dan tangis tak dapat merobohnya!
Akan tetapi sama - sama menggerakkan mulut mengapa menangis dan tidak tertawa saja ?
Tangis mengeruhkan hati dan pikiran tawa menjernihkannya!
Tangis mengundang kesedihan tawa mendatangkan kegembiraan! Tangis memperburuk muka tawa mempercantiknya! Hentikan tangis, hayo tertawa!!"
Dan keduanya lalu tertawa-tawa dengan be-bas, merasa betapa rongga dada menjadi longgar dan langit penuh bintang nampak indah berseri. Akan tetapi, tawa juga mendatangkan lelah.
"Aku lapar ! Cui Hiang berkata.
"Sama !" kata pula A-hai dan merekapun tertawa lagi.
"Di kebun belakang ada tanaman ubi, biar ku-ambilkan dan kita bakar," kata pula Cui Hiang dan anak inipun berlari menuju ke ladang di bela-kang reruntuhan rumah. Ia melupakan kesedihan-nya, bahkan melupakan hilangnya lengan kiri ke-tika dengan tangan kanannya ia mencari dan men-dapatkan beberapa batang ubi yang segera diba-wanya kepada A-hai sambil berlari-lari. Mereka lalu membuat api unggun dan membakar ubi itu lalu sama - sama makan ubi. Lezat rasanya makan ubi bakar sewaktu perut lapar dan hati masih di-liputi kegembiraan yang timbul karena percakapan tadi. Kalau pada saat itu Bwee Hong melihat kea-daan A-hai, tentu ia akan merasa terheran - heran. Belum pernah A-hai memperlihatkan sikap seper-ti itu, pandai bermain - main dengan anak kecil, pandai menghibur dan pandai pula melucu !
"Eh, Cui Hiang, siapakah ayah kandungmu itu ? Engkau belum memberitahukan namanya kepada-ku," tiba - tiba A-hai teringat dan bertanya. Me-reka duduk menghadapi api unggun, merasa ha-ngat dan nyaman sehabis makan ubi dan minum air.
"Menurut ayah angkatku, namanya adalah Pouw Hong!"
"Pouw Pouw Hong ? Pouw Hong , hemm, aku seperti pernah mengenal nama itu." A-hai mengerutkan alisnya dan mengerahkan ingatannya.
Wajah Cui Hiang berseri. "Twako, engkau mengenal mendiang ayah kandungku itu ?"
"Entahlah, akan tetapi aku benar - benar merasa seperti pernah mendengar nama itu, tidak asing bagiku "
Pada saat itu, Bwee Hong keluar dari dalam rumah yang sebagian besar sudah terbakar. Meli-hat A-hai dan Cui Hiang duduk bercakap - cakap dekat api unggun, Bwee Hong menghampiri.
Mereka memasuki bekas rumah keluarga Gan yang sudah porak-poranda itu. A-hai rebah di atas lantai yang sudah dibersihkan. Di bawah penerangan api yang dijaga oleh Siok Eng dan Cui Hiang. Bwee Hong mulai dengan pengobatan itu, dengan penusukan jarum-jarum di beberapa tempat, di pelipis, tengkuk dan pundak. Mendapatkan pengobatan itu, A-hai merasa tubuhnya enak dan nyaman, maka diapun segera tertidur dengan nyenyaknya.
Pada keesokan harinya, pagi - pagi sekali begitu bangun tidur, A-hai sudah cepat - cepat mencari Cui Hiang. Bwee Hong dan Siok Eng sedang mandi di pancuran, dan Cui Hiang sedang duduk melamun seorang diri di tepi rawa, memandang ke tengah rawa yang menjadi sumber nafkah keluar-ga Gan selama ini.
"Hei, baru apa engkau ? Melamun di sini!" tegurnya dan begitu melihat A-hai, wajah gadis cilik itupun berseri dan wajah yang tadinya mu-ram menjadi terang seperti segumpal awan tipis tertiup angin.
A-hai lalu duduk di atas rumput di sebelah Cui Hiang. "Malam tadi aku bermimpi dan aku bertemu dengan ayah kandungmu 1"
Cui Hiang tersenyum dan menyangka bah-wa A-hai menggodanya. "Ah, mana mungkin bertemu dengan orang yang belum kaukenal dalam mimpi, Hai - twako ?"
"Benar! Aku teringat sekarang. Dia selalu bersama denganku. Tidak salah lagi, agaknya kami pernah bersahabat karib, bahkan . dia juga tinggal di rumahku. Rumah pesanggrahan kecil mungil di dekat sungai, di mana terdapat air terjun yang indah itu "
Cui Hiang tetap kurang percaya dan tersenyum seperti mentertawakan orang yang menggoda dan membohonginya ini. Melihat ini, A-hai berkata, "Engkau masih tidak percaya kepadaku ? Nah, bukankah ayahmu itu tubuhnya pendek bulat dan kepalanya kecil ? Dan kakinya agak timpang dan bengkok ? Maaf "
Cui Hiang terbelalak memandang wajah A-hai.
"Eh be benar " katanya. "Aku masih ingat bahwa ayahku itu memang bertubuh pendek bulat ....... akan tetapi aku tidak ingat lagi  wajahnya. Ketika itu aku baru berusia tiga empat tahun . . . . . ."
"Ha - ha, itulah !" kata A-hai dengan gembira, "Jelas bahwa aku bersahabat karib dengan ayah kandungmu itu. Nah, kalau begitu engkau sebut saja paman kepadaku, anggap saja aku adik ayah kandungmu !"
Cui Hiang juga menjadi gembira dan me-angguk taat. "Baiklah, paman."
"Nah, mari kita mandi."
"Di pancuran belakang rumah "
"Aku sudah tahu. Dua orang nona itupun tadi mandi di sana."
Mereka lalu berlari-lari kecil menuju ke pan-curan. Bwee Hong dan Siok Eng sudah selesai mandi. Seperti biasa, sebelum mandi pagi, Cui Hiang berlatih silat. "Ayah angkatku selalu mengharuskan aku berlatih silat sebelum mandi pagi," katanya. "Dan aku ingin mencoba apakah dengan satu tangan saja aku masih bisa berlatih silat."
Akan tetapi saat itu di dalam suara Cui Hiang tidak terkandung kesedihan dan iapun segera bersilat dengan sebelah tangan. Tentu saja kaku ge-rakannya, karena di bagian gerakan tangan kiri, ia harus berhenti sebentar dan hanya membayangkan saja tangannya itu bergerak, memukul, menangkis atau mencengkeram. A-hai diam - diam mengamati gerakan anak itu dan hatinya terharu. Tanpa disadarinya, kini dia dapat meneliti ilmu silat dengan baiknya seolah - olah dia seorang ahli silat yang pandai! Di luar kesadarannya bahwa telah terjadi perobahan lagi pada ingatannya, A-hai ber diri dan mendekati Cui Hiang yang sedang ber-latih itu.
"Cui Hiang, langkahmu itu lemah dan gerakan tangan kananmu itupun salah. Wah, ilmu silatmu itu hanya baik untuk pamer saja, hanya kelihatannya saja bagus akan tetapi tidak ada gunanya untuk menghadapi lawan. Mari sini, kuajari engkau ilmu silat yang lebih berguna bagimu."
Karena menduga bahwa penolongnya ini seorang ahli, seorang pendekar yang berilmu tinggi seperti juga dua orang gadis pendekar tu, Cui Hiang menjadi girang sekali. Memang tadi ia berlatih silat dengan suatu niat di hatinya, yaitu untuk memancing perhatian A-hai karena ia sudah berniat minta diajari ilmu silat. Ia harus pandai ilmu silat agar kelak ia dapat membalas kepada orang yang membuntungi lengan kirinya. Ia sudah tahu dari Siok Eng siapa orang itu. San - hek - houw Si Harimau Gunung !
"Terima kasih, paman. Aku suka sekali belajar ilmu silat darimu !"
"Nah, ikuti gerakanku. Mula - mula kedua kaki dibentangkan selebar ini, tenaga tubuh berada di tengah - tengah, seimbang, perhatian ke depan dan sikapmu kokoh seperti benteng, seimbang seperti orang menunggang kuda. Nah, begitu, lalu kaki digeser ke depan, mula - mula yang kanan, jatuhkan perlahan saja, disusul yang kiri dan tanganmu itu begini !"
Dengan patuh Cui Hiang mengikuti gerakan A-hai. Hebatnya, A-hai dapat saja mengajarkan ilmu silat yang cocok untuk seorang yang hanya berlengan tunggal! juga dia memberi petunjuk tentang gerak napas sewaktu bersilat.
Akan tetapi, baru beberapa gerakan saja, gadis cilik itu sudah menjadi pening sekali dan terhuyung, hampir pingsan. A-hai cepat menangkap dan merangkulnya, melihat wajah yang pucat itu. Biasanya, menghadapi peristiwa begini, A-hai yang ketolol - tololan itu tentu akan menjadi bingung. Akan tetapi sekali ini ternyata tidak. Dia bersikap tenang saja.
"Ah, aku lupa. Tenaga dalammu belum kuat untuk mempelajari ilmu silat ini. Mari duduklah, akan kuajarkan ilmu menghimpun tenaga dalam dan akan kubantu engkau dengan penyaluran tenaga dalam tubuhku."
A-hai lalu tanpa ragu - ragu lagi seolah - olah memang sudah pekerjaannya sehari - hari melatih silat, duduk bersila dan diapun menyuruh Cui Hiang duduk bersila di atas pangkuannya! De-ngan meletakkan kedua telapak tangannya, yang kiri di punggung anak itu, yang kanan di tengkuk-nya, dia lalu berbisik - bisik memberi petunjuk agar anak itu dapat menerima penyaluran sinkang dari tubuhnya lewat kedua telapak tangannya, dan menyalurkan seperti yang dibisikkannya.
Cui Hiang yang menaruh kepercayaan sepenuh-nya itu mentaati semua petunjuk orang yang men-jadi gurunya. Hawa yang panas memancar dan memasuki tubuhnya. Tiba-tiba darah mengucur keluar dari luka di pundaknya yang dibalut oleh Bwee Hong, Melihat ini, A-hai sama sekali tidak rnenjadi gugup. Tangannya yang tadi menempel di tengkuk kini bergerak, sebuah jari telunjuknya menekan pundak dan darah itupun berhenti me-ngucur! Secara tiba-tiba saja A-hai menjadi se orang ahli yang bukan main lihainya.
Mereka berdua tenggelam dalam latihan itu sehingga mereka tidak tahu bahwa Bwee Hong dan Siok Eng muncul dan memandang ke arah mereka dengan mata terbelalak penuh rasa heran dan ka gum.
"Apakah kesadarannya telah pulih kembali ?" tanya Siok Eng, berbisik penuh harap.
"Entahlah, aku belum yakin benar. Agaknya eh, lihatlah !" '
Kedua orang dara pendekar yang lihai itu ter-kejut ketika nampak uap mengepul dari kepala A-hai dan Cui Hiang. Uap itu makin tebal dan ber-warna putih dan merah. Kemudian muka dan tu-buh A-hai dan Cui Hiang juga perlahan - lahan berobah, separuh merah dan separuh putih, per-sis keadaan A-hai ketika kumat tempo hari.
"Hebat !" Bwee Hong berbisik. "Cui Hiang telah diberi pelajaran ilmu sinkang yang amat hebat!"
"Lebih hebat lagi, kenapa sekecil itu Cui Hiang sudah mampu menerimanya ?" bisik Siok Eng yang juga merasa kagum. Mereka tetap menonton tanpa mengeluarkan suara berisik. Lambat - laun uap di atas kepala mereka itu makin menipis, lalu lenyap. Dan A-hai menyudahi latihannya, menyuruh Cui Hiang turun dari atas pangkuan. Keduanya lalu bangkit berdiri. A-hai menoleh kepada dua orang dara itu dan mereka berdua segera melihat pero-bahan itu. Sikap ketololan seperti biasa lenyap da-ri wajah tampan itu. Sikap A-hai kini tenang dan pandang matanya penuh wibawa dan kekuatan dahsyat. Seketika timbul rasa hormat dan segan di hati kedua orang dara itu !
"Nona berdua sudah selesai berkemas ? Aku sedang berlatih dengan Cui Hiang," katanya so-pan dan lembut.
"Saudara A-hai keh'hatannya sudah ingat kem-bali akan masa lalumu ?" tanya Siok Eng sedang-kan Bwee Hong hanya memandang seperti orang kesima.
Mendengar pertanyaan itu, A-hai mengang-guk - angguk. "Agaknya begitulah. Akan tetapi masih belum semua dapat kuingat. Berkat pengo-batan nona Bwee Hong yang bijaksana, aku dapat mengingat lebih banyak tentang masa laluku. Sa-yang, aku masih belum dapat teringat siapa kelu-argaku dan dari mana aku berasal. Aku hanya bi-sa mengingat lebih banyak tentang ilmu silat. Ya, sekarang aku ingat bahwa memang dahulu aku dapat bermain silat."
"Saudara Thian Hai , apakah engkau sudah teringat akan nama margamu ?" Bwee Hong bertanya dan tiba - tiba saja dara ini menyebut saudara Thian Hai, bukan lagi A-hai seperti bia-sanya. Dan agaknya pemuda itupun tidak menjadi kikuk dengan sebutan itu. Dia memandang Wajah Bwee Hong dengan pandang yang masih sama, penuh dengan rasa kagum, hormat dan sayang, akan tetapi sikapnya sungguh jauh berbeda dengan A-hai yang biasa. A-hai yang biasa itu agak ke-tololan, bahkan kemanjaan. Yang sekarang ini be-nar - benar seorang laki - laki jantan yang dewasa dan matang!
"Sayang, nona. Aku masih belum mampu mengingat nama margaku. Aku hanya lebih banyak teringat akan ilmu silat yang pernah kupel ajari. Aku memang bisa silat "
"Bisa silat ?" Bwee Hong tersenyum. "Bukan hanya bisa, engkau malah seorang datuk ilmu silat, seorang ahli yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali dalam ilmu silat."
"Ah, nona berolok - olok."
"Tidak, aku bersungguh - sungguh. Lihat saja adik kecil ini. Kalau kelak engkau melatihnya se-tahun saja, kami berdua ini sudah bukan tanding-annya lagi!" kata pula Bwee Hong dengan suara serius.
"Engkau sudah begini hebat, entah bagaimana pula kelihaian orang yang menjadi gurumu, saudara Thian Hai," kata Siok Eng yang juga ikut-ikut mengganti nama A-hai menjadi Thian Hai.
Mendengar kedua orang dara itu menyebutnya Thian Hai, pemuda itu tersenyum. "Hendaknya nona berdua jangan bersikap sungkan. Aku masih tetap A-hai bagi kalian yang menjadi sahabat - sa-habat baikku. Aku tidak mempunyai guru, yang mengajarkan silat kepadaku adalah ayahku sen-diri."
"Ayahmu ? Siapakah ayahmu dan di manakah beliau sekarang?" Bwee Hong yang tertarik itu cepat bertanya.
"Ayahku , ayah ibuku ah, entahlah,
aku sudah lupa lagi," A-hai menutupi muka de-ngan kedua telapak tangannya. Melihat ini, Bwee Hong merasa kasihan dan ia memberi isyarat ke-pada temannya agar jangan bertanya lagi. Semen-tara itu, melihat A-hai menutupi mukanya, Cui Hiang menghampiri dan menyentuh lengannya.
"Paman Hai, engkau kenapakah ? Jangan berduka, paman "
Mendengar ini, A-hai menurunkan kedua ta-ngannya. Dia lalu memandang Cui Hiang dan ter-senyum.
"Mengapa menangis dan tidak tertawa saja ?" tiba - tiba Cui Hiang berkata, mengutip sebaris sajak yang pernah dinyanyikan A-hai. A-hai tertawa dan memondong tubuh anak perempuan itu ke atas dan dia melempar - lemparkan tubuh itu seperti sebuah bal ke atas, lalu menerimanya lagi dan melemparkannya lagi. Melihat ini, Bwee Hong dan Siok Eng ikut gembira dan setelah menerima kembali tubuh Cui Hiang, A-hai berkata, "Lihat, aku sudah tertawta, bukan ?"
Mereka berempat lalu melanjutkan perjalanan menuju ke arah kota raja atau ibu kota Sian - yang di Propinsi Shen - si. Di sepanjang perjalanan, A-hai selalu mengajak Cui Hiang bergurau dan menghiburnya, juga setiap kali ada kesempatan, ia melanjutkan melatih sinkang kepada gadis cilik itu.
Beberapa hari kemudian, tibalah mereka di se-buah dusun kecil di lereng bukit. Kota raja tidak begitu jauh lagi. Mereka berempat melepaskan le-lah di tepi hutan kecil. Bwee Hong dan Siok Eng mengeluarkan buntalan yang terisi perbekalan yang mereka beli di perjalanan, yaitu roti dan da-ging kering, sedikit bumbu dan juga arak ringan. Akan tetapi, Cui Hiang tidak mau makan. Ia ma-lah bangkit berdiri dan berjalan perlahan menuju ke puncak bukit. Bwee Hong hendak memanggil dan menegurnya, akan tetapi A-hai memberi isya-rat kepada dara itu, kemudian diapun bangkit dan mengikuti Cui Hiang yang berjalan seperti orang kehilangan akal menuju ke puncak bukit. Akhir-nya Cui Hiang berhenti di tepi jurang dan berdiri termenung, memandang jauh ke bawah.
"Cui Hiang, kenapa engkau tidak mau makan roti? Apakah engkau tidak suka roti? Kalau eng-kau tidak suka, biar kucarikan binatang buruan."
Mendengar kata - kata yang begitu halus penuh kasih sayang, Cui Hiang menoleh dan memandang wajah A-hai dengan air mata berlinang - linang, kemudian ia menunduk. Begitu ia melihat lengan kirinya yang buntung, tangisnya meledak. Ia menubruk A-hai dan menangis mengguguk, "Paman !"
A-hai membiarkan anak itu menangis. Dia tahu bahwa selama ini Cui Hiang menahan - nahan tangisnya, mencoba menghibur kedukaannya. Dan kini, agaknya bendungan itu bobol dan sebaiknya kalau gadis cilik ini menangis sepuasnya agar se-mua ganjalan di hati itu dapat ikut terseret oleh arus air mata. Dia sendiri tersentuh oleh tangis Cui Hiang, Hatinya seperti diremas - remas dan matanya sendiripun menjadi basah. Tiba - tiba saja kepalanya berdenyut - denyut. Mata yang ta-dinya berkaca - kaca itu kini tiba - tiba bersinar dan mencorong mengerikan. Darahnya yang mengalir keras itu seperti berkumpul di kepalanya sehingga wajahnya berobah menjadi kemerahan. Dia me-ngepal tinju kanan sampai terdengar suara berke-rotokan.
"Jahanam yang membuntungi lenganmu itu ten-tu akan kubunuh apa bila bertemu denganku!" katanya penuh geram, suaranya juga berobah men-jadi menggetar penuh kemarahan.
Tentu saja Cui Hiang menjadi terkejut bukan main dan ketakutan melihat perobahan pada wa-jah dan sikap A-hai.
"Paman Hai ...... engkau kenapakah, paman? Jangan memandangku seperti itu aku takut "
A-hai terharu dan merangkulnya. Setelah di-rangkul, Cui Hiang kembali merasa tenang. "Paman, aku ingin membunuh orang itu dengan ta-nganku sendiri. Akan tetapi bagaimana aku dapat melawan dia dengan tanganku yang hanya sebelah ini ?"
"Jangan takut! Masih ada aku di sini !" kata A-hai geram. "Aku mempunyai ilmu silat yang amat hebat dan yang akan kuajarkan kepadamu. Ilmu itu disebut Thai - kek Sin - ciang. Aku perca-ya engkau akan mampu melawan dan mengalah-kannya. Akan tetapi engkau harus lebih dahulu mematangkan tenaga sinkang yang kita latih itu. Hayo kita latihan lagi!"
Didorong semangat untuk segera dapat menga-lahkan musuh yang telah membuntungi lengannya, kini dengan penuh semangat dan ketekunan, Cui Hiang mulai berlatih lagi. Mereka latihan sedemi-kian tekunnya sehingga ketika Bwee Hong dan Siok Eng tiba di situ, keduanya tidak tahu dan te-tap tenggelam dalam latihan.
Melihat betapa A-hai melatih Cui Hiang de-ngan tekunnya, dua orang gadis itu menjadi terha-ru dan juga bersyukur bahwa anak kecil yang ber-nasib malang itu, yang kehilangan keluarganya dan juga lengannya, telah memperoleh seorang guru yang luar biasa.

Bersambung

39                                                                                                                              41