Kamis, 06 Juni 2013

DARAH PENDEKAR 39

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S.Kho Ping Hoo
Bab 39
Tiba - tiba Cui Hiang melepaskan diri dari gan-dengan A-hai dan berlari menghampiri ke arah mayat - mayat yang bergelimpangan itu, kemudian ia menjatuhkan diri, menjerit dari satu ke lain ma-yat karena ia mengenal mayat keluarganya! Seje-nak ia menangis mengguguk, kemudian matanya menjadi beringas ketika ia bangkit berdiri dan me-mandang ke arah pertempuran, di mana dua orang itu masih dikeroyok oleh Harimau Gunung dan anak buahnya.
"Mereka membunuh keluargaku!" teriaknya dan tiba - tiba anak perempuan itu dengan wajah beringas lari ke medan perkelahian. Pada saat itu, San - hek - houw terhuyung mundur oleh desakan kakek berjubah hitam yang lihai. Anak perempuan itu sudah mengenal San - hek - houw sebagai pe-mimpin gerombolan penjahat yang pernah melukai ayah bundanya dan mengenal pula kakek jubah hitam yang pernah menolong orang tuanya, maka dengan kemarahan meluap karena kedukaan gadis cilik itu menyerang San-hek-houw dengan pu-kulannya. Melihat ini, Bwee Hong, Siok Eng dan A-hai terkejut, akan tetapi untuk mencegahnya sudah tidak keburu lagi.
Apa artinya serangan seorang gadis cilik seper-ti Cui Hiang ? Tanpa menoleh ke belakang dia su-dah tahu akan datangnya serangan lemah itu. Ti-ba-tiba rantai baja di tangannya berkelebat ke belakang dan tombak jangkar di ujung rantai itu membabat ke arah lengan Cui Hiang yang menye-rangnya. Cui Hiang hendak mengelak dengan mi-ringkan tubuhnya, akan tetapi tentu saja gerakan-nya kalah cepat.
"Crakkkk ! Aduuuhhhh !" Tombak jangkar itu membabat lengan kiri Cui Hiang seba-tas pundaknya dan lengan itu putus seketika! Tu-buh Cui Hiang terguling pingsan.
Potongan lengan kecil itu terlempar dan melayang, tepat mengenai muka A-hai ! Darah berceceran mengenai sebagian pakaian, leher dan dagunya. "Uhh uhhh !" A-hai terbelalak dan tiba-tiba dia merasa betapa darahnya bergolak.
Matanya terbelalak memandang ke arah Cui Hiang yang menggeletak pingsan dan darah me-nyembur - nyembur dari luka menganga di pundak-nya. Rasa haru, kasihan dan kemarahan membuat darah di tubuhnya mendidih, makin lama makin hebat sehingga dia merasa matanya menjadi kabur, kepalanya berdenyut - denyut dan pening, akan tetapi dia tetap menyadari dirinya. Tubuhnya menggigil menahan aliran darahnya yang seperti membanjir, seperti air bah melanda turun karena bendungannya jebol. A-hai masih tetap sadar, bahkan kini dia sadar bahwfei dia akan kumat seperti yang sering diceritakan oleh kawan - kawannya kepadanya. Teringat akan ini, yaitu bahwa dia
akan kumat, dia merasa ngeri dan bingung juga,  maka dia menoleh kepada Bwee Hong sambil berkata, "Nona Hong ahhh aku badanku ini seperti akan terbang melayang rasanya "
Sejak tadi Bwee Hong memang telah mengeta-hui akan keadaan A-hai. Dilihatnya tubuh pemu-da itu menggetar hebat dan sepasang matanya mencorong seperti mata naga. Bwee Hong maklum bahwa A-hai mengalami guncangan hebat yang membuat saluran darahnya membobolkan semua perintang, yang akan membuatnya kumat. Akan tetapi berkat pertolongan Seng Kun, pemuda itu akan tetap sadar walaupun dalam keadaan kumat. Dan dara inipun ingat akan penjelasan kakaknya bahwa pada saat kumat seperti itulah terbuka ke-sempatan untuk menggali dan mengorek masa lalu A-hai, karena saat itu A-hai seperti berpijak kembali kepada alam aselinya. Dan biasanya, wak-tu dalam keadaan seperti itu tidaklah lama. Apa bila gejolak darahnya sudah normal kembali, dia akan kembali dalam keadaan semula, yaitu sebagi-an besar masa lalunya terlupa sama sekali. Kesem-patan yang baik sekali. Akan tetapi, gadis cilik itupun harus ditolong sekarang juga. Inilah yang paling perlu, dan juga pihak musuh harus dibasmi lebih dulu.
"A-hai, cepat bereskan pasukan jahat itu!" te-riaknya dan iapun cepat meloncat ke depan, me-nyambar tubuh Cui Hiang yang pingsan dan mem-bawanya ke tempat aman, lalu tanpa memperduli-kan apa-apa lagi, dijaga oleh Siok Eng, Bwee Hong mulai mengobati Cui Hiang, menghentikan darah yang keluar lalu membubuh obat pencegah rasa nyeri dan membalut luka itu dengan kain ber-sih yang dirobeknya dari bajunya sendiri.
Sejenak A-hai ternanar dan membiarkan ke-palanya yang pening itu menjadi ringan, barulah dia meloncat ke depan dan menghadapi San-hek-houw yang sudah berkelahi lagi melawan kakek jubah hitam. "Iblis keji!" dia memaki dengan su-ara menggeledek,"Siuuuuttt !" Tangannya bergerak me- nampar ke arah San - hek - houw yang sudah kewalahan menghadapi kakek jubah hitam, walaupun dia dibantu oleh para pembantunya yang juga lihai dan yang jumlah semua anak buahnya lebih dari limapuluh orang itu. Melihat serangan ini, San-hek-houw cepat menangkis dengan rantai bajanya yang menyambar ganas ke arah lengan A- hai. Akan tetapi, A-hai tidak perduli, agaknya yakin akan kekuatan tangannya sendiri.
"Plakk !" Tangan A-hai bertemu dengan tom-bak jangkar di ujung rantai baja dan akibatnya, rantai itu terpental dan tombak jangkar hampir menghantam kepala pemiliknya !
"Uhh !" San - hek - houw berseru kaget dan meloncat mundur. Lima orang temannya me-nubruk ke depan untuk menolong pemimpin me-reka ketika melihat A-hai hendak menyerang lagi. Mereka menggunakan tombak panjang menyerang A-hai sedangkan San - hek - houw memperbaiki posisinya yang tadi terhuyung karena terkejut. Terdengar suara lantang ketika A-hai menyambut pengeroyokan. Tombak dan pedang beterbangan dan dua orang pengeroyok kena ditangkapnya, la-lu dibanting sehingga tewas seketika. Sementara itu, Siok Eng juga sudah meloncat ke dalam ge-langgang perkelahian dan sepak - terjangnya sung-guh menggiriskan. Gadis ini berkelebatan, kedua tangannya menyebar maut dengan gerakan aneh dan juga luar biasa ganasnya. Dari tubuhnya ke-luar bau dupa harum yang menyeramkan.
Menjatuhkan kakek jubah hitam yang amat li-hai dan yang memiliki tingkat kepandaian lebih tinggi darinya itu saja sudah sukar sekali, kini mun-cul orang - orang muda yang lihai. Tentu saja San-hek - houw menjadi gentar. Apa lagi melihat beta-pa di antara limapuluh orang lebih anak buahnya, kini tinggal setengahnya lagi, dari mereka inipun sudah kelihatan gentar dan semangat mereka me-nurun. Kalau dilanjutkan semua anak buahnya akan terbasmi dan dia sendiripuri tidak mungkin dapat meloloskan diri dari tangan orang - orang lihai ini. Maka, seperti biasa menjadi watak orang-orang yang licik, kejam dan pengecut, San - hek-houw lalu meloncat dan melarikan diri. Setelah dia memberi perintah agar anak buahnya mundur. Pa-sukan yang sudah kocar - kacir itu kini melarikan diri dengan kacau - balau.
Kakek berjubah hitam itu tidak mengejar. Dan pemuda yang tadi bertempur di sampingnya, yang sebenarnya tidak begitu tinggi kepandaiannya dan selalu dilindungi oleh kakek jubah hitam, kini juga berdiri mengamati tiga orang yang baru muncul. A-hai makin lama semakin lemas, kehilangan te-naga karena dia kembali ke dalam keadaan semula sebelum kumat. Mukanya yang tadinya merah se-kali itu perlahan - lahan menjadi pucat, peluhnya berleleran di lehernya. Setelah darah di tubuhnya berjalan normal, ingatannyapun kembali seperti semula dan dia berdiri agak termangu - mangu, me-rasa seperti orang baru sadar dari mimpi akan te-tapi lupa lagi apa yang diimpikan itu.
Kakek jubah hitam itu mengamati mereka de-ngan sinar mata penuh takjub. Sungguh tak di-sangkanya dia bertemu dengan tiga orang muda yang begini aneh dan hebat. Gadis baju putih yang mukanya pucat itu tadi menyerang para pengero-yok dengan jurus pukulan ampuh dari Tai - bong-pai. Dia mengenal pukulan itu, dan mengenai pula bau dupa harum yang keluar dari tubuh Siok Eng. jelaslah bahwa dara yang masih muda ini telah menguasai ilmu dari Tai - bong - pai dengan amat baiknya. Dan gadis ke dua yang cantik jelita itupun dapat melakukan perawatan dan pengobat-au yang amat baik terhadap anak perempuan yang buntung lengannya. Caranya menghentikan darah, caranya menotok, mengobati dan membalut, semua membuktikan bahwa gadis ini adalah seorang ahli ilmu pengobatan yang mengagumkan. Kemudian pemuda tinggi tegap ini! Bukan main ! Dia sen-diri adalah seorang "golongan atas" akan tetapi harus diakui bahwa dia sama sekali tidak mengenal ilmu pukulan yang diperlihatkan oleh pemuda itu ketika mengamuk tadi.
Akan tetapi, kakek berjubah hitam ini menjadi semakin heran dan terkejut ketika dia melihat gadis cantik jelita yang menyelesaikan pengobatannya terhadap anak perempuan itu kini bangkit berdiri, dan ketika memandang kepadanya, gadis itu terbelalak dan pandang matanya terhadap dirinya penuh kemarahan dan kebencian ! Apa lagi ketika Bwee Hong melangkah maju dan menudingkan telunjuknya kepadanya sambil berkata marah, "Kau kau pembunuh keluarga kakekku !"
"Eh eh nanti dulu !" Kakek berjubah hitam itu berseru kaget ketika tiba-tiba Bwee Hong menyerangnya kalang - kabut. Bwee Hong tidak perduli dan terus menyerang, menggunakan jurus - jurus simpanan dan setiap pukulan tangannya merupakan pukulan maut. Dan si kakek jubah hitam semakin tercengang mengenal jurus-jurus pukulan ini sebagai jurus - jurus pukulan per-guruannya sendiri!
"Tahan ! Tahan!" teriaknya sambil mengelak ke sana - sini. Bwee Hong yang hatinya dipenuhi dendam dan kebencian itu, tentu saja tidak mau berhenti dan terus menyerang kakek berjubah hitam yang diketahuinya tentu seorang tokoh besar Liong - i - pang itu, melihat dari gambar naga yang samar-samar nampak di jubah hitamnya. Karena Bwee Hong mendesak terus, kakek itu yang ter-nyata adalah Ouwyang Kwan Ek ketua Liong - i-pang, terpaksa turun tangan, membalas serangan gadis yang masih terhitung cucu murid keponakan itu. Menghadapi serangan susiok - couwnya, tentu saja Bwee Hong tidak dapat bertahan dan ia segera terkena totokan dan terkulai lemas di atas tanah.
Tiba - tiba terdengar suara menggeram dahsyat. A-hai yang tadinya sudah "loyo" itu setelah melihat Bwee Hong dirobohkan orang, secara men-dadak menjadi kumat kembali! Badannya tergetar hebat dan matanya mencorong mengawasi dara yang disayangi dan dihormati, yang kini terkulai lemas ke- atas tanah dalam keadaan tertotok. Ke-mudian dia berteriak dengan lengking nyaring dan diapun menerjang kakek itu dengan pukulan dah-syat. Siok Eng juga menerjang maju, menyerang kakek jubah hitam.
"Eh , nanti dulu !" Kakek jubah hitam yang sudah mengenal kehebatan dua orang muda ini, cepat meloncat ke belakang dan menghindar-kan serangan mereka yang amat berbahaya. Tubuhnya berkelebatan cepat bagaikan terbang dan Siok Eng sampai menjadi bingung karena tubuh kakek yang diserangnya itu tiba-tiba saja meng-hilang, tahu - tahu muncul di belakang dan setiap kali diserang dapat menghilang saking cepatnya kakek itu bergerak dan mengelak.
Akan tetapi, kakek jubah hitam yang seperti para ahli silat lain kalau sudah menghadapi per-tandingan lalu kumat keinginan tahunya untuk mengukur dan menguji kepandaian lawan, menjadi terkejut. Dua orang lawannya itu, biarpun masih muda, ternyata memang telah memiliki kepandai-an yang tinggi dan aneh. Dia bergembira mem-peroleh kesempatan menguji ilmu dari Tai - bong-pai dan berkesempatan pula untuk menyelidiki dan mengenal ilmu aneh dari pemuda itu.
"Hyeeeehhhh !" Suara yang dikeluarkan oleh A-hai itu demikian hebat getarannya sehingga mengguncangkan perasaan kakek Ouwyang Kwan Ek, dan gerakan pemuda itu membuat dia lebih kaget lagi. Dia menggunakah Pek - in Gin-kang atau Ginkang Awan. Putih yang membuat tubuhnya ringan dan dapat bergerak cepat, dan de-ngan langkah ajaib Ilmu Silat Kim - hong - kun dari perguruan Tabib Sakti, dia menghindarkan diri dari pukulan - pukulan kedua orang muda itu. Akan tetapi, sambil berteriak tadi, tahu - tahu tu-buh A-hai melengkung dan dengan gerakan aneh sekali, tubuhnya sudah melingkar ke samping dan meluncur cepat memotong jalan ! Seolah - olah dengan gerakan ini A-hai telah tahu ke mana arah dari langkah ajaibnya sehingga memotong jalan kakek itu sehingga tubuh mereka kini saling berten-tangan dan hampir bertubrukan. Kakek itu terke-jut sekali, apa lagi ketika melihat betapa pemuda itu mendorongkan kedua telapak tangannya dengan hantaman dahsyat.
TIDAK ada jalan lagi untuk menghindarkan tabrakan atau benturan itu dan satu - satunya jalan hanya menyambut hantaman pemuda itu karena kalau dia melempar tubuh ke samping, dia akan terancam oleh gadis Tai - bong - pai itu dan hal ini akan lebih berbahaya lagi. Terpaksa dia lalu mengerahkan tenaga sakti Pai - hud - ciang (Tangan Menyembah Buddha) dan kedua tangan-nya didorongkan ke depan dengan gerakan seperti menyembah, menyambut dua telapak tangan A-hai. Akan tetapi, kembali kakek itu terkejut ketika da-lam sekejap mata melihat dua warna kabut merah dan putih membungkus badan pemuda itu, yang kanan merah dan yang kiri putih. Benturan dua pasang tangan itu tak terelakkan lagi.
"Blarrrrr ! !"
Ouwyang Kwan Ek, kakek tua renta berusia tujuhpuluh tahun itu adalah murid ke dua dari da-tuk sakti Bu-eng Sin - yok - ong (Raja Tabib Sakti Tanpa Bayangan), dan dia adalah ketua dari Liong-i-pang yang terkenal. Akan tetapi, pertemuan tenaga melalui telapak tangan melawan pemuda itu mebuat dia terhuyung ke samping sampai be-berapa langkah dan apa bila tangannya tidak cepat memegang ujung sebuah batu besar yang ber-diri di situ, agaknya dia tentu akan terjatuh! Se-baliknya, tubuh pemuda itu terpental ke atas, akan tetapi tubuh itu dapat berpoksai (bersalto) sampai tiga kali dengan indahnya di udara, kemudian tu-buh itu meluncur ke bawah, hinggap di atas se-buah batu dengan ringannya. Kabut yang menye-limuti tubuhnya tidak nampak lagi, matanya men-corong dan tidak ada tanda - tanda bahwa dia terguncang oleh pertemuan tenaga tadi.
Tentu saja hal ini membuat Ouwyang Kwan Ek terkejut setengah mati. Dia tadi sudah amat khawatir akan akibat pertemuan tenaga itu. Dia sendiri merasakan akibatnya, membuat dia hampir terbanting jatuh dan dia khawatir kalau - kalau pemuda itu tidak akan mampu bertahan dan akan tewas atau setidaknya menderita luka dalam yang parah. Akan tetapi ternyata pemuda itu sama sekali tidak terpengaruh. "Gila " pikirnya penuh takjub. "Anak ini benar - benar mempunyai keku-atan seperti iblis. Siapakah orang ini dan dari per-guruan mana ?"
A-hai sudah siap untuk mengadu kekuatan me-lawan kakek jubah hitam, sedangkan Siok Eng yang menyaksikan adu tenaga yang amat hebat tadipun berdiri termangu - mangu, semakin takjub melihat keadaan A-hai. Dara ini maklum bahwa kakek jubah hitam itu lihai bukan maui, jauh lebih tinggi ilmu kepandaiannya dibandingkan dengan ia sendiri. Akan tetapi, bentrokan tenaga sinkang an-tara kakek itu dan A-hai nampaknya membukti-kan bahwa pemuda aneh itu ternyata lebih unggul!
Pada saat suasana sudah menegangkan karena semua menduga bahwa tentu akan terjadi perkela-hian yang lebih hebat lagi antara kakek berjubah hitam itu dengan A-hai, tiba - tiba laki - laki muda yang menjadi teman kakek jubah hitam yang tadi selalu dilindunginya, kini melangkah maju dan berseru nyaring, "Tahan ! Siapakah kalian ? Kena pa setelah tadi menolong kami, sekarang berbalik kalian menyerang kami ? Apakah maksud kalian ? Inilah aku, putera mahkota ! Apa bila kalian men-cari putera mahkota, inilah aku. Apakah kalian orang - orang yang ingin mencari hadiah bagi ke-palaku ?"
Semua orang terdiam dan terkejut. Kakek jubah hitam cepat memperingatkan, "Pangeran, harap paduka berhati-hati !" Dianggapnya pangeran yang membuka rahasianya itu amat sembrono karena pihak istana sudah menyebar orang - orangnya untuk mencarinya, tentu bukan dengan maksud baik karena pangeran mahkota ini tentu saja akan menjadi penghalang bagi mereka yang sudah mengangkat kaisar baru setelah mereka berusaha menyingkirkan pangeran mahkota ini ke garis de-pan.
Bwee Hong yang masih rebah dalam keadaan tertotok, tak mampu bergerak atau bicara, hanya memandang dengan hati tegang dan cemas, me-mandang ke arah A-hai yang ia tahu berada dalam keadaan kumat kembali. Kini A-hai yang biarpun dalam keadaan kumat itu masih sadar, ketika mendengar bahwa dia berhadapan dengan pangeran mahkota, agaknya mampu bersikap wa-ras dan tidak menuruti dorongan ilmu yang seperti akan membuatnya meledak - ledak itu.
Dengan sikap tenang dan penuh wibawa, A-hai melangkah maju menghadapi kakek jubah hitam yang kini sudah berdiri berdampingan dengan sang pangeran mahkota. Sikapnya hormat dan lemah lembut, suaranya dalam dan serius, sungguh ber-beda dengan sikap dan suaranya yang biasa setiap hari.
"Kami adalah perantau - perantau yang kesa-sar sampai di tempat ini. Namaku adalah Thian Hai. Dua orang nona ini adalah sahabat-sahabat baikku. Kenapa locianpwe menyerang dan menja-tuhkan sahabatku itu ?"
Ouwyang Kwan Ek adalah seorang datuk besar, ketua Liong- i - pang pula. Tentu saja diapun ber-sikap agak tinggi, tidak mau mengaku salah, apa lagi karena dia memang tidak merasa bersalah. "Hemm, orang muda yang lihai. Nona itulah yang menyerangku, dan aku hanya mempertahankan diri saja."
A-hai mengerutkan alisnya, agaknya tidak pu-as dengan jawaban itu. Akan tetapi sang pangeran yang melihat betapa suasana dapat menjadi gawat lagi, lalu melerai. "Sudahlah, tidak perlu diribut-kan siapa yang bersalah dalam hal ini. Agaknya telah terjadi kesalahfahaman di antara kita. Lo-cianpwe, harap suka membebaskan nona itu lebih dulu."
Ouwyang Kwan Ek menghampiri Bwee Hong dan sekali menotok ke arah pundak nona itu, Bwee Hong sudah pulih kembali. Siok Eng memandang kagum. Tadi ia sudah berusaha membebaskan totokan itu, akan tetapi tanpa hasil. Tahulah ia bahwa totokan kakek itu merupakan ilmu istimewa yang hanya dimiliki oleh perguruan kakek itu, demikian pula cara membebaskannya.
Setelah membebaskan totokannya, Ouwyang Kwan Ek lalu memandang kepada Bwee Hong dan berkata, "Jadi engkaukah seorang di antara dua anak angkat, juga murid mendiang Bu Kek Siang ?
Ketahuilah bahwa mendiang Bu Kek Siang adalah murid keponakanku sendiri. Dia murid suhengku "
"Aku sudah tahu !" jawab Bwee Hong dengan suara keras dan sedikitpun ia tidak menaruh hormat walaupun ia tahu bahwa ia berhadapan dengan susiok - couwnya. Kakek di depannya ini adalah adik seperguruan dari kakek gurunya ! "Dan aku tahu pula bahwa kakekku, juga guruku atau ayah angkatku, tewas di tangan murid - muridmu, tewas bersama isterinya. Padahal dia adalah murid keponakanmu sendiri !"
"Dan ketika itu aku sedang diobati oleh keluarga Bu, dan aku menjadi saksinya bahwa kedua locianpwe yang menjadi penolongku itu tewas oleh tangan - tangan jahat orang - orang Liong-i-pang!" kata Siok Eng.
Ouwyang Kwan Ek menarik napas panjang. "Aaah, dunia menjadi kacau - balau, kesemuanya oleh ulah manusia yang didorong oleh keserakahan, oleh keinginan untuk senang sendiri yang menim-bulkan permusuhan, dendam - mendendam, balas-membalas, bunuh - membunuh ! Ahhh, anak yang baik, agaknya engkau hanya tahu ujungnya akan tetapi tidak tahu pangkalnya. Tahu akibatnya tidak tahu sebab - sebabnya. Pertikaian di antara sesama perguruan kita agaknya sudah demikian berlarut - larut dan sudah terjadi sejak lama sekali sebelum kau lahir. Engkau begitu membenci aku dan murid - muridku, karena engkau belum mengetahui persoalan yang sebenarnya. Aku juga merasa heran mengapa kakekmu yang juga menjadi ayah angkat dan gurumu itu tidak menjelaskan persoalan yang sebenarnya kepadamu dan kepada kakakmu. Kalau tidak salah, engkau berdua dengan seorang kakakmu, bukan ?"
Bwee Hong diam saja, tidak menjawab, hanya mendengarkan sambil menatap wajah kakek jubah hitam itu dengan sinar mata tajam penuh selidik, seolah-olah hendak meneliti kebenaran omongan kakek itu. Iapun tadi sudah melirik ke arah A-hai dan melihat betapa pemuda yang bernama Thian Hai ini sekarang telah kembali ke dunia keduanya, membuat dia agak ketololan dan pemuda itupun ikut mendengarkan. Demikian pula Siok Eng yang maklum bahwa urusan ini adalah urusan antara keluarga seperguruan, tidak berani banyak men-campuri dan hanya mendengarkan. Juga sang pa-ngeran yang menghendaki agar mereka itu tidak lagi saling serang, ikut pula mendengarkan.
Dengan sabar Ouwyang Kwan Ek lalu bercerita, suaranya tegas dan disingkat, terbuka dan je-las. Bwee Hong diam mendengarkan, akan tetapi hatinya masih panas oleh dendam.
"Dahulu, limapuluh tahun lebih yang lalu, mendiang suhu Bu - eng Sin - yok - ong memberi pelajaran kepada kami bertiga sebagai murid - muridnya. Suhu memberikan ilmu - ilmunya kepada kami, sesuai dengan bakat kami yang berbeda - beda pula. Mendiang suhengku suka bertapa dan mengasingkan diri, dan sesuai dengan bakatnya, suheng menerima pelajaran khusus tentang lweekang yang kemudian diturunkan kepada puteranya, yaitu Bu Kek Siang. Sayang suheng Bu Cian telah meninggal " Sejenak kakek itu terhenti dan nampak berduka sekali. Akan tetapi dia menghela napas panjang menenteramkan batinya lalu melanjutkan, "Aku sebagai murid ke dua suka belajar ilmu silat, maka akupun diberi pelajaran khusus dalam ilmu silat. Sedangkan suteku yang bernama Kam Song Ki yang bertubuh kecil dan gesit menerima warisan ilmu ginkang yang khas. Dengan demikian, kami bertiga menerima ilmu-ilmu keistimewaan masing-masing, suheng mahir dalam sinkang, aku sendiri mahir dalam ilmu silat, dan sute mahir dalam ginkang,"
"Akupun sudah mendengar akan hal itu," kata Bwee Hong penasaran. "Akan tetapi kenapa engkau masih juga tidak mau menerima dengan hati rela ? Mendiang sucouw sudah membagi - bagi semua ilmunya dengan adil, akan tetapi kenapa engkau masih hendak merebut hak orang lain ?"
Kakek itu mengangguk-angguk. "Aku mengerti mengapa engkau penasaran. Dan itulah yang membuat aku terheran - heran. Kenapa kakekmu, Bu Kek Siang itu, tidak mau menceritakan hal yang sebenarnya sehingga terjadi kesalahfahaman ini ? Apakah dia ingin agar kita saling bermusuhan dan berbunuh - bunuhan terus ?"
"Berbunuh-bunuhan ? Apa maksudmu?" Bwee Hong bertanya sambil mengerutkan alisnya dan memandang tajam.
"Apakah kakekmu atau ayah angkatmu itu tidak pernah bercerita bagaimana dia memperoleh kitab wasiat ilmu pengobatan itu ?"
"Tentu saja kitab itu diwarisinya dari sucouw !" jawab Bwee Hong cepat karena ia tak mungkin dapat berpikir lain.
"Memang, akan tetapi kitab itu bukan hanya diwariskan kepada seorang murid saja ! Mendiang suhu dahulu merupakan datuk nomor satu di dunia. Keahliannya dalam ilmu sinkang telah diwariskan kepada suheng, keahliannya dalam ilmu silat diwariskan kepadaku dan keahliannya dalam ginkang kepada sute. Di samping semua ilmu itu, suhu yang berjuluk Tabib Sakti Tanpa Bayangan itu juga memiliki keahlian dalam ilmu pengobatan. Suhu adalah seorang yang bijaksana dan adil. Maka kelebihan satu ilmu ini, yang dianggap amat berguna bagi semua muridnya, akan diberikan kepada tiga muridnya. Semua muridnya diberi kesempatan untuk belajar. Sebelum meninggal dunia, suhu meninggalkan sebuah kitab ilmu pengobatan dan beliau memesan agar semua muridnya mempelajari kitab itu secara bergilir. Dengan keras beliau melarang murid yang hendak mempertahankan ilmu itu untuk diri sendiri. Maka, kitab itu diserahkan kepada suheng dengan pesan sesudah sepuluh tahun dipelajari, harus diserahkan kepadaku untuk kupelajari selama sepuluh tahun, baru kemudian kuserahkan kepada sute. Akan tetapi ternyata suheng yang pendiam itu menjadi serakah ! Setelah sepuluh tahun, buku itu tidak diserahkan kepadaku. Aku memperingatkannya dan mencelanya,
namun dia tetap tidak mau memberikan. Kami bercekcok dan akhirnya berkelahi. Akan tetapi aku tidak mampu menandingi tenaga saktinya yang hebat itu. Demikianlah, aku selalu belajar dengan tekun dan sekali - kali aku datang untuk minta kitab itu yang berakhir dengan perkelahian dan aku selalu berada di pihak yang kalah. Melihat kami berdua selalu cekcok dan berkelahi, sute menjadi tidak senang dan diapun pergi menjauhkan diri sampai sekarang tidak pernah kembali. Sudah em- patpuluh tahun dia pergi "
Kerut di antara alis Bwee Hong makin mendalam. Benarkah cerita kakek ini ? Benarkah kakek gurunya yang bernama Bu Cian, ayah Bu Kek Siang, demikian serakah ? Akan tetapi ia tidak menyela lagi, melainkan memandang kakek itu dan sinar matanya menuntut dilanjutkannya cerita itu.
"Karena bertahun - tahun usahaku minta kitab itu gagal dan aku selalu dikalahkan oleh suheng, aku patah semangat, mengasingkan diri dan memperdalam ilmu silat, juga menerima murid - murid dan mendidik putera tunggalku, mendirikan perkumpulan Liong - i - pang dan tidak mau lagi mengganggu suheng dengan urusan kitab itu. Akan tetapi setelah puteraku dewasa, pada suatu hari dia pergi tanpa pamit. Agaknya dia yang tahu akan peristiwa kekeluargaan perguruan itu telah pergi seorang diri mendatangi suheng dan mohon keadilan, meminta kitab itu. Agaknya, menghadapi keponakannya, suheng yang biasanya keras hati itu menjadi lunak, hatinya terharu dan kitab ilmu pengobatan itu diserahkan oleh suheng kepada puteraku. Puteraku girang bukan main dan pergi membawa kitab itu. Akan tetapi " Kakek itu berhenti lagi dan kini wajahnya diliputi kedukaan hebat, mukanya diangkat menengadah memandang langit dan matanya menjadi basah! Tentu saja Bwee Hong terkejut sekali melihat ini dan iapun mulai percaya akan cerita kakek yang sebenarnya masih susiok - couwnya sendiri ini.
"Lalu lalu bagaimana ?" tanyanya, suaranya juga lunak.
"Suheng juga mempunyai putera, yaitu Bu Kek Siang. Di waktu mudanya, Bu Kek Siang berwatak keras berangasan. Agaknya dia tidak rela bahwa kitab pusaka ilmu pengobatan itu, yang sudah puluhan tahun dianggap sebagai pusaka perguruan ayahnya, jatuh ke tangan orang lain. Dia meng- hadang perjalanan anakku, dan kitab itu dimintanya. Tentu saja puteraku tidak mau memberikannya dan terjadilah perebutan dan perkelahian. Keduanya terluka, akan tetapi karena Bu Kek Siang mewarisi ilmu sinkang, tenaga dalamnya lebih kuat dan luka dalam yang diderita anakku amat parah. Ketika bertemu denganku, keadaannya tak tertolong lagi "
Bwee Hong menahan napas. Tak pernah disangkanya bahwa riwayat perguruannya demikian hebat, terdapat perebutan dan permusuhan yang memalukan di antara saudara - saudara seperguruan sendiri.
"Dia dia mati ?" tanyanya, suaranya berbisik.
Kakek itu memandang kepadanya, tersenyum pahit dan mengangguk. "Dia mati dan tentu saja aku marah sekali. Urusan kitab, sudah kupendam dan aku tidak berniat merampasnya dari tangan su-heng lagi. Akan tetapi sekali ini adalah urusan matinya putera tunggalku ! Aku datang kepadanya dan minta pertanggungan jawabnya atas perbuatan puteranya, yaitu Bu Kek Siang. Suheng amat sedih. Dia merasa menyesal sekali dengan terjadinya peristiwa itu dan sadar bahwa semua itu timbul karena keserakahannya sendiri. Akan tetapi dia amat menyayangi putera tunggalnya itu dan tidak tega untuk menghukumnya. Kemudian, melihat puteraku yang sudah hampir mati itu kubawa di depannya dan kini puteraku menghembuskan napas terakhir di depan hidungnya, suheng lalu membunuh diri untuk menebus kesalahan puteranya ! Dan dia berpesan sebelum menghembuskan napas terakhir, minta kepadaku agar permusuhan dan dendam-mendendam itu dihabiskan sampai di situ saja. Pada saat itu aku amat berduka atas kematian pute-raku, juga tersentuh oleh pengorbanan suhengku, maka akupun mengangguk dan menuruti pesannya. Aku tidak memperdulikan lagi urusan kitab, dan membawa pergi jenazah puteraku."
Bwee Hong merasa betapa bulu tengkuknya meremang mendengar cerita ini. Kalau saja kakak-nya ikut mendengarkan! Pandangannya terhadap kakek jubah hitam yang sudah banyak menderita tekanan batin itu kini berobah. Ia percaya akan kebenaran cerita ini, karena apa perlunya kakek ini membohong dan bercerita begitu panjang lebar kepadanya ?
Kakek itu menarik napas panjang. "Sayang sungguh sayang agaknya Thian tidak menghendaki urusan itu berhenti sampai di situ saja ....!
Kalau aku sudah dapat menerima keadaan, tidak demikian dengan murid - muridku. Mereka itu mendendam atas kematian suheng mereka dan diam-diam mereka berusaha menuntut balas, atau setidaknya berusaha untuk merampas kitab ilmu pengobatan itu. Beberapa kali usaha mereka gagal dan aku memberi hukuman kepada mereka. Akan tetapi mereka itu nekat terus sampai akhirnya Bu Kek Siang menjauhi pembalasan mereka dan menyembunyikan diri. Hingga belasan tahun kemu- dian murid - muridku itu menemukan tempat persembunyiannya dan terjadilah peristiwa yang kau alami itu." Kakek itu menghentikan ceri-tanya dan memandang kepada Bwee Hong dengan mata sedih sekali.
"Demikianlah ceritaku selengkapnya, nona. Dendam dendam balas - membalas! Apakah sekarang engkau dan kakakmu hendak melanjutkan lingkaran dendam itu ? Engkau dan kakakmu membunuh aku atau muridku, kemudian kelak anak mereka akan mencarimu untuk membalas dendam lagi, disambung oleh keturunanmu yang kembali membalas dendam kepada keturunan mereka. Begitukah yang kaukehendaki ? Ah, betapa menyedihkan !" Kakek itu menundukkan mukanya.
Bwee Hong tak dapat bicara. Hatinya tersentuh. Tak mungkin dunia ini terdapat kedamaian dan ketenteraman selama hati selalu diracuni dendam dan kebencian. Mula - mula sekali kakek guru Bu Cian yang memulainya, dengan keserakahannya tidak mau membagi - bagi ilmu pengobatan seperti pesan mendiang Bu - eng Sin - yok - ong. Kemudian, ayah angkatnya, Bu Kek Siang yang membunuh putera kesayangan kakek ini. Akibatnya, murid - murid kakek ini datang membalas dendam. Kalau menurut cerita ini, pihak kakeknyalah yang menjadi biang keladi permusuhan. Akan tetapi benarkah cerita yang baru didengarnya dari kakek jubah hitam itu ?
Agaknya Ouwyang Kwan Ek dapat menduga keraguan hati Bwee H ong.
"Kalau engkau tidak percaya akan kebenaran ceritaku, engkau boleh bertanya kepada tokoh - tokoh tua dunia persilatan yang kini masih hidup dan yang mengetahui peristiwa keributan dalam perguruan kita itu. Di antara mereka adalah Yap-lojin ketua Thian - kiam - pang dan Siang Houw Nio-nio pengawal kaisar."
"Kata - katanya itu benar belaka " tiba-tiba terdengar suara seorang wanita dari balik batu besar. Semua orang menengok dan nampak seorang kakek dan seorang nenek keluar dari balik batu. Mereka adalah Yap - lojin ketua Thian - kiam - pang bersama isterinya, yaitu Siang Houw Nio - nio! Melihat Siang Houw Nio - nio, Bwee Hong cepat memberi hormat.
"Dia tidak membohong dan memang semua itu telah terjadi pada keturunan Bu-eng Sin-yok-ong, sungguh patut disesalkan sekali," kata pula nenek Siang Houw Nio - nio kepada Bwee Hong.
"Akupun menjadi saksi akan kebenaran cerita susiok - couwmu itu, nona Chu. Karena itu, semua permusuhan antara keluarga perguruan sendiri yang tiada gunanya itu seyogianya dihadapi de-ngan kesadaran dan kebesaran hati sehingga dapat berakhir." Yap - lojin juga berkata.
"Kalau memang demikian riwayatnya, sayapun tidak akan melanjutkan dendam yang tiada guna-nya ini, locianpwe," kata Bwee Hong menunduk.
Yap-lojin dan isterinya lalu memberi hormat sambil bermuka sedih kepada pangeran mahkota. Siang Houw Nio - nio menjatuhkan dirinya berlutut dan berkata, "Pangeran, hal - hal yang hebat terjadi tanpa saya mampu menolong, dosa saya besar sekali "
Pangeran mahkota cepat-cepat mengangkat bangun wanita itu yang masih terhitung nenek sendiri karena mendiang ayahnya adalah keponak-an nenek ini. "Harap jangan bersikap demikian, Nio-nio. Bukan salahmu, bukan salahku, bukan salah kita semua. Segala hal yang terjadi adalah kehendak Thian."
Ketika Ouwyang Kwan Ek yang merasa amat takjub kepada A-hai mencari pemuda itu untuk diajak bicara dan berkenalan lebih dekat, ternyata pemuda itu kini telah bersikap biasa, bahkan nampak bodoh. A-hai telah duduk mendekati Cui Hiang yang buntung lengan kirinya itu. Cui Hiang menangis, bukan menangis karena nyeri melainkan karena kematian keluarganya. Memang luka di pundaknya yang kehilangan lengan kiri itu terasa nyeri, akan tetapi berkat pengobatan Bwee Hong, tidaklah begitu hebat dibandingkan dengan rasa nyeri di hatinya. A-hai merangkulnya dan menghiburnya dengan terharu.
"Adik kecil, kita sama - sama yatim piatu, seorang diri saja di dunia ini, tiada sanak saudara lagi. Maukah engkau bersama - sama dengan aku ?"
Dengan terharu Cui Hiang mengangguk. Air matanya bercucuran, sebentar menoleh ke arah jenazah keluarganya, kemudian menoleh ke arah lengan yang menggeletak di atas tanah, Ia merasa seolah - olah lengannya yang buntung itu, yang kini merupakan sepotong lengan yang menggeletak tak bergerak dan pucat di atas tanah, seperti sebuah mayat pula. Kemudian, tanpa berkata apa-apa, ia menghampiri potongan lengannya sendiri itu, diambilnya dengan tangan kanan, lalu dibungkusnya ke dalam baju luarnya, semua ini dilakukan dengan agak sukar karena hanya menggunakan satu tangan saja, lalu bungkusan lengan kiri itu dipeluknya dengan lengan kanan. Semua orang memandang dengan terharu dan merasa bergidik, akan tetapi tidak ada yang bertanya karena merasa kasihan dan tidak mau menyinggung hati anak perempuan itu.

Bersambung

38                                                                                                                                  40