Kamis, 06 Juni 2013

DARAH PENDEKAR 38

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S.Kho Ping Hoo
Bab 38
"Aku akan kembali ke Bawa Pasir. Tidak ada gunanya lagi mengabdi di istana setelah kaisar ter-bunuh. Yang berada di istana sekarang adalah kaum pencoleng dan penjahat, begundal – begundal Perdana Menteri Li Su yang lalim dan Chao thai-kam yang korup." Si cebol menarik napas pan-jang.
"Mereka, dipimpin oleh Raja Kelelawar, telah berhasil merampas jenazah sri baginda. Kakakmu dibantu oleh dua orang temannya melakukan pe-ngejaran karena mereka mengira bahwa para pen-jahat itu membawamu, nona. Akan tetapi sungguh perbuatan mereka itu amat berbahaya. Raja Kele-lawar sungguh amat lihai sekali dan dia masih di-bantu oleh pentolan - pentolan kaum sesat yang berilmu tinggi."
"Kalau begitu, aku harus menyusul Kun - koko," kata Bwee Hong.
"Akupun akan pergi sekarang juga, harap eng-kau suka berhati - hati, nona. Kaum sesat itu se-lain kejam dan jahat, juga amat lihai. Aku sendiri sudah terluka, dan perlu beristirahat untuk memu-lihkan tenaga dan kesehatan."
Mereka lalu berpisah dan Bwee Hong, Siok Eng dan A-hai malam itu juga meninggalkan tempat itu. Mereka lebih suka melewatkan malam di tem-pat lain dari pada di bekas pesanggrahan yang ter-bakar itu. Mereka bermalam di tepi hutan dan pada keesokan harinya barulah mereka melanjut-kan perjalanan ke kota raja, untuk menyusul Seng Kun.
Tiga orang itu melakukan perjalanan cepat, akan tetapi kadang-kadang mereka terpaksa me-ngurangi kecepatan karena kalau dua orang gadis itu mengerahkan ilmu lari cepat mereka, tentu A-hai akan tertinggal. Selain itu, juga sering kali secara tiba - tiba A-hai berhenti dan termenung, memeras otaknya untuk mengingat - ingat ilmu si-lat yang pernah dipelajarinya.
"Perlu apa melelahkan pikiran dengan mengi-ngat - ingat ilmu silat yang pernah kaupelajari dalam keadaan seperti sekarang ini, A-hai ?" Per-tanyaan Bwee Hong ini dimaksudkan bahwa me-reka bertiga sedang tergesa - gesa mencari dan me-ngejar Seng Kun, maka bukanlah waktunya yang tepat untuk sering kali berhenti dan mengingat-ingat ilmu silat.
Akari tetapi A-hai salah mengerti dan menja-wab dengan sungguh - sungguh, "Justeru dalam keadaan seperti sekarang ini maka perlu aku meng-ingat semua ilmu yang pernah kupelajari, nona Hong. Di mana - mana terjadi kekalutan dan aku melihat betapa ilmu silat amat diperlukan pada waktu sekarang ini. Orang - orang jahat berkeliar-an, kalau tidak memiliki kepandaian silat, tentu ce-laka karena tidak mampu melindungi diri sendiri. Maka perlu sekali aku mengingat - ingatnya, dan agaknya samar-samar aku mulai teringat akan ge-rakan ilmu silat yang pernah kupelajari." Sambil berkata demikian, kaki tangannya bergerak - gerak secara aneh dan mulutnya bicara kepada diri sendiri, " setelah kaki digeser ke kiri, tangan harus mencengkeram ke arah ubun-ubun lawan.
Begini! Ah, benar " Dia melakukan gerakan kaki menggeser ke kiri itu dan tagannya mencuat dengan cengkeraman aneh ke atas.
Sebagai ahli - ahli silat kelas tinggi Bwee Hong dan Siok Eng dapat mengenal ilmu silat yang amat aneh dan hebat. Sayang hanya sepotong - sepotong, akan tetapi gerakan yang kelihatan sederhana itu memiliki dasar kecepatan yang mengerikan, bahkan setiap kali tangan digerakkan, terdengar suara me-ngaung atau berdesing seperti sebatang pedang yang baik disentil atau diayunkan. Tenaga sinkang yang hebat tersembunyi di dalam gerakan itu tan-pa disadari oleh A-hai sendiri!
Siok Eng yang bahkan memiliki tingkat kepan-daian lebih tinggi dari Bwee Hong, juga meman-dang kagum lalu mengajukan usulnya, "Alangkah baiknya kalau engkau merangkai gerakan - gerakan itu, dari awal mula. Tentu saja yang engkau ingat, saudara A-hai. Tanpa dirangkai, gerakan - gerak-an itu menjadi kacau tidak karuan ujung pangkal-nya."
A-hai yang mendengar usul ini termenung, mengangguk - angguk, lalu kedua alisnya yang te-bal itu berkerut, tanda bahwa dia mulai menge-rahkan ingatannya. "Baiklah, akan kucoba. Akan tetapi harap nona berdua tidak mentertawakan."
Siok Eng dan Bwee Hong lalu duduk di bawah pohon dengan hati gembira. Mereka ingin sekali melihat A-hai, dalam keadaan sadar, dapat mengingat dan menguasai ilmu - ilmunya yang mujijat. Setelah memandang kepada dua orang gadis itu dengan malu - malu, A-hai lalu agak menjauh dan mulailah dia memasang kuda-kuda.
Mula - mula A-hai berdiri tegak, menghadap ke arah dua orang nona yang menjadi penonton itu, lalu mengangkat kedua tangan ke depan dada sebagai tanda penghormatan. Kemudian dia me-nurunkan kedua tangannya, terus kedua lengan di-buka dan dipentang ke kanan kiri dengan jari - jari terbuka membuat gerakan seperti burung terbang dan kedua lengan itu seperti menjadi sepasang sa-yapnya, perlahan - lahan kaki kanan diangkat dan diturunkan lagi ke depan dalam keadaan berjung-kit. Tiba - tiba saja terdengar suara berkerotokan dari tulang - tulang di tubuh pemuda itu dan sepasang matanya mencorong menakutkan, sedangkan dari ubun - ubun kepalanya nampak uap tipis me-ngepul. Bwee Hong terbelalak dan tak terasa lagi ia memegang lengan kawannya erat - erat saking tegang hatinya dan khawatir kalau - kalau A-hai kumat lagi! Tenaga dahsyat yang seolah - olah bangkit dalam diri A-hai itu, makin lama nampak semakin hebat sehingga mempengaruhi keadaan sekeliling. Bahkan dua orang nona itu merasakan getaran yang aneh walaupun A-hai belum menggerakkan kaki tangannya dan baru mulai dengan pemasangan kuda - kuda saja.
Sepasang mata yang sudah mencorong hebat itu kini perlahan - lahan menjadi redup kembali, uap di atas kepalanyapun lenyap dan sikap A-hai nampak kebingungan dan ketolol - tololan lagi. Diapun menurunkan kedua tangannya dan nampak lesu.
"Wah, sudahlah, aku lupa lagi bagaimana un-tuk melanjutkan !" katanya dengan nada suara kesal.
Tentu saja Siok Eng dan Bwee Hong yang tadi-nya sudah merasa tegang sekali dan juga gembira, menjadi kecewa dan ikut lemas seperti balon kem-bung kini dikempiskan.
"A-hai, jangan putus harapan. Cobalah lagi. Engkau sudah hampir berhasil tadi!" Bwee Hong membujuk.
"Benar, saudara A-hai, engkau sudah berhasil dengan pasangan kuda - kuda itu," Siok Eng juga memuji.
"Cobalah lagi, A-hai dan karena kuda - kuda-mu sudah benar, jangan terlalu kerahkan pikiran mu untuk itu, melainkan untuk mengingat gerak lanjutannya," sambung Bwee Hong.
Didorong semangat oleh dua orang gadis itu, akhirnya A-hai meniadi gembira juga dan dico-banya lagi berkali - kali, kalau lupa dia mulai lagi dari permulaan. Akhirnya berhasil juga!
Ketika dia melakukan gerakan pertama mema-sang kuda - kuda, agaknya kini gerakannya itu benar - benar sempurna. Uap yang mengepul di atas kepalanya semakin tebal dan tiba - tiba ter-jadilah keanehan yang membuat kedua orang dara itu terbelalak dan wajah mereka berobah. Mata mereka memandang kepada A-hai seperti orang yang tidak percaya akan apa yang mereka saksikan. Uap yang mengepul di atas kepala A-hai itu kini terbagi menjadi dua warna. Yang sebelah kiri ber-warna putih seperti uap tebal biasa, akan tetapi yang sebelah kanan berwarna kemerahan! Uap itu mengepul ke atas setinggi satu meter. Tentu saja dua orang dara yang selama hidupnya belum pernah melihat hal seperti itu, bahkan mendengar pun belum, menjadi melongo dan dapat menduga bahwa tenaga sinkang yang dimiliki oleh A-hai sungguh luar biasa anehnya dan amat hebat. Akan tetapi, mereka sengaja menahan mulut dan tidak mengeluarkan kata - kata agar A-hai tidak men-jadi bingung atau kikuk. Mereka diam saja dan memperhatikan dengan kedua mata terbelalak, mengikuti setiap gerakan kaki dan tangan A-hai.
Kini gerakan A-hai mulai lancar, walaupun masih dilakukan dengan perlahan dan lambat. Bi-arpun begitu, dua orang dara itu memandang de-ngan melongo dan semakin takjub melihat keadaan yang benar - benar amat luar biasa dari pemuda itu. Kini perlahan - lahan anggauta tubuh A-hal juga mengalami perobahan warna. Agaknya warna pada uap yang mengepul di atas kepala pemuda itu kini mempengaruhi tubuhnya sehingga separuh tubuhnya yang sebelah kiri menjadi keputih - pu-tihan, sedangkan separuh tubuh sebelah kanan menjadi kemerah - merahan. Tentu saja wajah yang tampan itu nampak aneh dan mengerikan ka-rena menjadi dua warna, merah dan putih seperti dicat saja dengan warna muda.
Dari perasaan takjub dan kagum, kini dua orang dara itu merasa khawatir juga. Bahkan Bwee Hong menjadi gelisah karena biarpun ia mengikuti ka-kaknya mengusahakan pengobatan terhadap A-hai, namun ia sama sekali tidak dapat mengetahui de-ngan pasti, apa yang sedang terjadi dan berobah di dalam tubuh pemuda itu dan iapun merasa ti-dak berdaya untuk menghentikannya. Kalau saja di situ terdapat kakaknya. Kakaknya adalah seo-rang ahli pengobatan yang sudah mewarisi kepan-daian mendiang kakek mereka, sedangkan ia sen-diri hanya mengetahui cara pengobatan umum sa-ja, tidak terlalu mendalam seperti kakaknya. Kalau kakaknya berada di sini dan menyaksikan keadaan A-hai, tentu akan tertarik sekali dan mungkin da-pat menerangkannya.
Kini A-hai mengeluarkan suara mendengus beberapa kali dan gerakan tubuhnya sangat aneh. Dia hanya menggerakkan kaki dan tangan kirinya saja, bahkan yang bergerak hanya tubuh bagian kiri. Mata kirinya melirik-lirik akan tetapi mata kanannya bengong dan diam saja! Bagian tubuh kiri yang putih itulah yang bergerak, sedangkan bagian tubuh kanan yang merah hanya terseret, tidak ikut-ikut bergerak. Tentu saja dua orang dara itu terbelalak dan bulu tengkuk mereka me-remang menyaksikan keanehan yang menggiriskan dan menakutkan ini. Bwee Hong makin gelisah. Gerakan itu kini terasa mendatangkan hawa dingin yang luar biasa sekali, yang seperti terasa menyu-sup tulang oleh dua orang dara. Uap berwarna putih di atas kepala A-hai itupim menghilang, tinggal yang berwarna merah saja yang mengepul. Akan tetapi, biarpun yang bergerak itu hanya ang-gauta tubuh kiri, hebatnya bukan kepalang. Seti-ap jari tangan kiri yang bergerak melakukan totok-an - totokan dan mengeluarkan bunyi mendesis-desis seperti bara api tersiram air hujan.
Agaknya, kelancaran gerakannya membual A-hai menjadi semakin bersemangat. Kadang - kadang pemuda itu menghentikan gerakannya, meng-ingat - ingat sebentar lalu melanjutkan lagi. Akan tetapi, pada suatu gerakan yang nampak aneh dan indah, ketika dia menggeser kakinya ke kiri, dia termangu - mangu dan tidak mampu melanjutkan lagi, tubuhnya masih condong ke depan dan karena dia mengingat-ingat dan menghentikan gerakan nya, dia menjadi seperti patung yang lucu. Akhirnya dia menyerah karena tidak mampu mengingat kelanjutan gerakan ini.
"Wah, sudahlah cuma sampai di sini saja ingatanku." Dan diapun menghentikan permainan silatnya dan duduk di atas rumput dengan hati kesal.
Pagi telah menjelang. Kabut pagi yang dingin membuat dua orang dara yang seperti baru sadar dari mimpi itu kedinginan. Mereka menarik napas panjang, seperti baru kembali dari alam khayal yang mentakjubkan. Mereka disuguhi tontonan il-mu silat yang langka dan yang hebat luar biasa.
"Ehh ? Putih - putih di rambutmu itu apakah hujan salju ?" tiba - tiba Siok Eng menunjuk ke arah rambut Bwee Hong. Dara ini mengangkat muka memandang dan iapun melihat betapa di rambut Siok Eng terdapat benda - benda putih seperti kapas, bahkan di puncak - puncak daun dan rumput di sekitar mereka terdapat salju.
"A-hai, apakah hujan salju ? Pantas begini dingin !" kata Bwee Hong sambil menoleh kepada A-hai.
"Hujan salju ? Entahlah, aku tidak tahu, nona," kata A-hai yang masih tenggelam ke dalam lamunan, mengingat-ingat ilmu silatnya.
"Hei, kenapa tidak ada salju di rambut A-hai?" Bwee Hong berseru sambil bangkit dan mendekati pemuda itu. Siok Eng juga memeriksa sekitar situ, yang kini tidak begitu gelap lagi karena fajar mu-lai menyingsing.
"Eh, di sinipun tidak ada salju, yang ada hanya kabut dan embun di puncak - puncak daun." Siok Eng juga berseru. Mereka memeriksa keadaan yang aneh itu dan akhirnya mereka sadar dengan penuh takjub bahwa salju itu tercipta sebagai aki-bat dari pada pengaruh ilmu silat aneh dari A-hai! Kiranya, pukulan - pukulan yang dilakukan A-hai mengandung tenaga sinkang mujijat yang dingin, yang agaknya dapat membuat embun - embun tipis di sekitar tempat itu berobah menjadi salju. Luar biasa sekali!
Sambil menanti datangnya pagi, mereka duduk dan dua orang gadis itu memuji - muji ilmu silat yang baru saja diperlihatkan oleh A-hai. Akan tetapi A-hai menggeleng kepalanya. "Masih kacau balau, belum tersusun baik," katanya, bukan untuk merendah melainkan karena dia memang belum merasa puas dan tahu bahwa ilmu yang diingatnya itu tidak lengkap.
"Sungguh mati, selama hidupku belum pernah aku mendengar, apa lagi melihat, ilmu silat seperti yang kaumainkan tadi, saudara A-hai. Hanya sa-yang sekali, mengapa engkau bersilat hanya dengan sebelah kaki dan sebelah tangan ? Kalau saja eng-kau menggunakan semua kaki tanganmu, tentu il-mu itu akan menjadi semakin hebat dan ampuh."
A-hai menunduk dari mukanya berobah me-rah, lalu dia mengangkat mukanya lagi, meman-dang kepada Siok Eng sambil tersenyum sedih. "Akan tetapi yang kuingat memang hanya digerak-kan oleh satu tangan saja."
"A-hai, tadi engkau mengatakan sebelum eng-kau mulai bersilat, bahwa ketika kakimu bergeser ke kiri, seharusnya engkau mencengkeram ke arah ubun - ubun lawan. Apa yang kaumaksudkan de-ngan itu ?" Bwee Hong mengingatkan.
A-hai meloncat bangun, menepuk kepalanya. "Aih, benar! Seharusnya jurus terakhir tadi dilan-jutkan, ketika kaki bergeser ke kiri, tangan kanan-ku harus mencengkeram ke arah ubun - ubun la-wan dengan jurus Pai - in - jut - sui (Mendorong Awan Keluar Puncak). Ya, begitulah!" katanya dengan girang seperti seorang anak kecil yang me-nemukan kembali mainannya yang hilang.
Dengan semangat baru yang meluap - luap A-hai kembali memainkan ilmu silatnya, melanjutkan dengan gerakan yang terlupa tadi setelah keadaan-nya kembali seperti tadi, yaitu tubuhnya berobah menjadi dua warna. Dengan suara menggeram dahsyat, ketika kakinya bergeser ke kiri, tiba - tiba tangannya mencuat ke depan dan mencengkeram ke atas. Terdengar suara mendesis dan pohon di depan A-hai tergetar keras, air embun yang tadi-nya menempel di ujung daun - daun berhamburan ke bawah dalam keadaan berobah menjadi salju yang melayang turun seperti kapas. Sampai di sini, A-hai berhenti dan mengerutkan alisnya, mengingat-ingat. Tiba-tiba, kaki kanannya yang sejak tadi seperti mati atau hanya mengikuti ge-rakan kaki kiri dalam keadaan terseret, kini dite-kuk dan melangkah ke depan. Tangan kanannya dengan terbuka kini mencengkeram ke depan.
"Wuuuuttt !" Hawa panas menyambar keluar dari telapak tangan itu dan uap merah yang mengepul di atas kepalanya lenyap. Cengkeraman  tangan kanan itu menyambar ke atas dan butiran-butiran salju yang teriadi oleh tenaga pu-kulan tangan kirinya tadi kini lenyap dan menguap menjadi seperti kabut. Lebih hebat lagi, daun-daun yang tergantung paling rendah di pohon itu menjadi layu seperti terlanda hawa panas yang hebat.
"Bukan main !" Siok Eng berbisik kagum.
Ia adalah puteri ketua Tai - bong - pai dan sudah banyak melihat ilmu - ilmu aneh dan hebat dari orang - orang pandai. Akan tetapi apa yang disaksikannya ini sungguh membuat ia takjub. Bagaimana seorang bisa bersilat seperti itu ? Kedua kaki dan kedua tangan itu membuat gerakan sendi-ri - sendiri, seperti dikemudikan oleh dua otak. Bahkan kedua mata pemuda itupun bekerja sendiri - sendiri, melirak - lirik mengikuti gerakan bagian masing-masing.
"Hebat sekali permainanmu, A-hai !" Bwee Hong juga memuji. Pujian ini membuat ingatan A-hai menjadi buntu lagi dan betapapun dia mengingat - ingat, tetap saja dia tidak mampu melanjutkan. Akan tetapi dia tidak kecewa lagi kare-na hasil ingatannya sekali ini sudah baik sekali. Me-reka lalu beristirahat sambil makan pagi yang dike-luarkan oleh Siok Eng dan A-hai, yaitu roti kering dan dendeng asin. A-hai masih mempunyai arak untuk menghangatkan perut melawan hawa dingin.
Setelah makan pagi, mereka bertiga melanjut-kan perjalanan. Kini pandangan Siok Eng terha-dap A-hai lain. Ia bersikap hormat dan di dalam hatinya ia memandang pemuda itu sebagai seorang yang lebih pandai dari padanya, sama sekali tidak memandang rendah sebagai seorang pemuda yang kehilangan ingatannya.
Ketika mereka tiba di dataran rendah, dari jauh nampak iring-iringan tandu dikawal oleh belasan orang perajurit yang gagah perkasa. Mereka cepat menyelinap bersembunyi dan memperhatikan ke-tika iring-iringan itu lewat di depan tempat per-sembunyian mereka. Diam - diam Bwee Hong ter-kejut. Tidak salah lagi. Tandu-tandu yang terisi wanita-wanita tua muda dan anak-anak itu tentu datang dari kota raia, agaknya meranakan keluarga bangsawan. Timbul pertanyaan di hatinya. Meng-apa mereka meninggalkan kota raja dan siapakah mereka ? Akan tetapi ia tidak mau mencari perkara dengan banyak bertanya, khawatir kalau - kalau dicurigai dan malah bentrok dengan para penga-wal itu. Mereka sedang meninggalkan kota raja dan nampak tergesa - gesa, tentu banyak kecuriga-an mereka kalau ada orang bertanya - tanya di jalan.
Mereka bertiga melanjutkan perjalanan dan di sepanjang perjalanan Bwee Hong selalu mencari keterangan tentang Raja Kelelawar yang membawa jenazah, juga tentang kakaknya yang ditemani dua orang yang belum diketahuinya siapa. Menurut keterangan yang diperolehnya dari penghuni du-sun nelayan, yang menemani kakaknya adalah se-orang pemuda tampan dan seorang kakek tua me-megang tongkat. Biarpun Bwjee Hong selalu berta-nya kepada orang - orang di dalam perjalanan ten-tang mereka itu, tidak ada seorangpun yang dapat memberi keterangan, tidak ada yang melihat orang-orang yang ditanyakannya itu.
Pada suatu pagi perjalanan mereka terhalang oleh sebuah sungai. Mereka berhenti di dusun penyeberangan. Untuk menyeberang, orang harus naik perahu penyeberangan yang disediakan di dusun itu. Akan tetapi pada saat itu, tidak terda-pat perahu di tepi sini karena semua perahu dike-rahkan untuk menjemput orang - orang yang ber-jubel di seberang sana dan hendak menyeberang ke sini. Melihat keadaan ini, A-hai mendekati se-orang anak laki-laki belasan tahun yang berada di situ. Anak inipun membantu para tukang pe-rahu dan nampaknya cerdik.
"Adik kecil, kenapa banyak sekali orang - orang menyeberang dari sana, sedangkan aku tidak me-lihat seorangpun yang hendak menyeberang dari sini ke sana ?"
"Mereka adalah para pengungsi," jawab anak itu.
"Pengungsi dari mana dan kenapa mengungsi ?" tanya pula A-hai. Anak itu memandang wajah A-hai seperti merasa heran mengapa ada orang yang tidak tahu akan keadaan geger pada waktu itu.
"Kabarnya pasukan pemerintah telah mundur, dan pasukan pemberontak sudah mendekati kota raja. Pasukan yang mundur sudah sampai di sebe-rang sana. Para pengungsi itu datang dari utara hendak ke selatan."
Mendengar jawaban ini, Bwee Hong dan Siok Eng saling pandang dengan A-hai. Kalau begitu, iring - iringan tandu yang mereka jumpai itu tentu-lah para pengungsi dari bangsawan atau pejabat kota raja yang hendak menyelamatkan diri karena kota raja sudah terancam oleh para pemberontak.
Sebuah perahu dari seberang yang padat peng-ungsi tiba di tepi. Rombongan ini tentu keluar-ga hartawan, pikir Bwee Hong.
"Kami sudah lama meninggalkan utara dan ki-ni hendak pulang ke keluarga kami," demikian A-hai bicara dan Bwee Hong melihat kenyataan bahwa setelah ingatannya agak dapat bekerja kembali, sikap A-hai sungguh amat berbeda dan kini nampaklah bahwa dia adalah seorang pemuda cer-dik, sama sekali tidak tolol. "Kami sama sekali ti-dak tahu bagaimanakah keadaan di sana. Apakah yang telah terjadi, lopek ?"
Tukang perahu menarik napas panjang. "Mem-banjirnya para pengungsi sungguh membikin pa-nik. Kalau kami tidak ingat akan tugas, juga kare-na kami orang-orang miskin yang tidak mungkin pergi membawa bekal, tentu kamipun akan ikut-ikut lari. Kabarnya pasukan pemerintah yang di-pimpin oleh Jenderal Beng Tian telah dipukul mun-dur oleh pemberontak. Dan kini setelah kaisar le-nyap dan kabarnya ditemukan tapi sudah tidak ada, juga kabarnya kaisar baru diangkat, keadaan di kota raja menjadi kalut. Kabarnya kaum pen-jahat merajalela di kota raja, para petugas keaman-an tidak berdaya, rakyat tidak terlindung sama sekali dan peraturan-peraturan dilanggar secara berani. Kabarnya kini para pejabat malah bertin-dak sewenang-wenang dan bersekongkol dengan para penjahat, bahkan banyak keluarga istana dan pejabat dihukum gantung dan dibunuh. Aku ha-nya mengumpulkan percakapan para pengungsi, aku sendiri tidak tahu apa - apa." Tukang perahu menutup ceritanya dan mengelak dari pertang-gungan jawab."Lopek, aku mencari tiga orang. Yang seorang adalah pemuda yang usianya duapuluh tahun lebih, bertubuh jangkung, wajahnya tampan dan gagah "
"Di dagunya sebelah kanan ada tahi lalatnya" Siok Eng menyambung, kemudian mukanya menjadi agak merah ketika Bwee Hong menoleh kepadanya sambil tersenyum.
"Ya, dan orangnya pendiam. Dia ditemani oleh  seorang kakek yang bertongkat, juga seorang pemuda yang usianya agak lebih tua dari pada pemuda pertama, tubuhnya tegap sedang dan mukanya agak kemerahan "
"Ah, jangan - jangan mereka yang nona mak-sudkan !" Tukang perahu berseru kaget. "Baru kemarin ada tiga orang seperti yang nona gambarkan tadi. Akan tetapi mereka itu menjadi tawanan.
Tangan mereka dibelenggu kuat-kuat dan dijaga oleh beberapa orang yang bertampang bengis dan menakutkan, seperti tampang penjahat. Orang- orang bengis ini dipimpin oleh seorang kakek yang tinggi kurus dan pakaiannya serba hitam, juga mantelnya hitam dan mukanya hihhh, menyeramkan sekali, seperti topeng mayat. Mereka menumpang perahu ini dan aku tidak berani berkutik atau bicara sedikitpun, bahkan memandangpun tidak berani "
Tukang perahu itu tidak tahu betapa berita yang diceritakannya ini membuat tiga orang pe-numpangnya terkejut setengah mati. Mereka tahu bahwa orang yang dicari - cari itu ternyata telah terjatuh ke tangan Si Raja Kelelawar dan anak bu-ahnya. Mereka itu tidak dibunuh, melainkan dita-wan dan diajak menyeberang, maka mudahlah di-duga bahwa Seng Kun dan dua orang kawannya itu tentu dibawa ke kota raja. Bwee Hong sudah mengambil keputusan untuk melanjutkan perjalan-an ke kota raja, dan ia harus dapat menolong kakak-nya. Keputusan hati ini terjadi juga di dalam ba-tin Siok Eng. Gadis puteri Tai - bong - pai ini telah jatuh cinta kepada Seng Kun, pemuda yang pernah menyelamatkan nyawanya. Kini, mendengar bah-wa pemuda yang dicintanya itu terjatuh ke tangan Raja Kelelawar dan dibawa ke kota raja, iapun mengambil keputusan untuk mencari sampai ke kota raja dan berusaha menolongnya. Hanya A-hai yang tidak berpikir apa - apa. Dia akan pergi ke mana saja Bwee Hong mengajaknya. Dia mera-sa seolah-olah dia menjadi bagian tak terpisahkan dari gadis itu, atau gadis itu merupakan bagian tak terpisahkan darinya.
Kini perahu mereka sudah tiba di tengah - te-ngah sungai dan dari depan nampak beberapa bu-ah perahu yang penuh dengan para pengungsi dari seberang. Tiba-tiba A-hai menunjuk ke arah hi-lir sungai.
"Lihat, di sana ada beberapa buah perahu besar juga sedang menyeberang!"
Dua orang gadis itu memandang dan benar sa-ja, di sana nampak beberapa buah perahu besar sedang menyeberang. "Lopek, apakah di sana ter-dapat tempat penyeberangan lain ?" tanya Bwee Hong.
"Tidak ada. Di bagian sana kedua tepinya ha-nya hutan belukar, tidak ada perkampungan. En-tah perahu siapa itu," jawab si tukang perahu.
"Lopek, seberangkan kita di bagian sana juga." Tiba - tiba Siok Eng berkata. Tukang perahu ke-lihatan tidak setuju.
"Akan tetapi aku harus sampai ke seberang sana untuk mengangkuti orang - orang yang masihberjubel "
"Nih sebagai pengganti kerugianmu," kata pu-la Siok Eng sambil mengeluarkan beberapa keping uang perak. Melihat ini, si tukang perahu tidak banyak cakap lagi dan mengerahkan perahunya ke hilir. Biarpun dia mengangkuti para penumpang hilir - mudik seharian, dia tidak akan bisa memper-oleh hasil sebesar seperti yang diberikan nona ini kepadanya. Maka dia lalu menerima uang perak itu dan perahunya meluncur cepat. Bagaimanapun juga, tidak lebih cepat dari pada perahu - perahu besar yang sudah lebih dulu mendarat di seberang sana.
Ketika melihat bahwa para penumpang perahu besar itu berpakaian seragam, Bwee Hong berbisik kepada Siok Eng, "Adik Eng, mau apa kita ke sana ?"
"Mereka mencurigakah, sebaiknya kita selidiki."
"Kalau begitu, kita menyeberang agak jauh dari perahu - perahu itu," kata Bwee Hong dan Siok Eng setuju. Perahu itu lalu mereka suruh daratkan di seberang yang agak jauh. Mereka berloncatan ke darat yang ternyata merupakan bagian hulan belukar.
Setelah mendaratkan tiga orang itu, si tukang perahu menggerakkan perahunya kembali dan dia hanya menggeleng kepala keheranan melihat kela-kuan tiga orang muda itu yang memilih pendarat-an di tengah hutan ! Akan tetapi hal itu bukan urusannya dan yang terpenting dia sudah meneri-ma upah yang besar.
Tiga orang muda itu menyusup - nyusup di an-tara pohon-pohon menuju ke tempat di mana pe-rahu - perahu 'besar itu mendarat. Akhirnya mere-ka melihat banyak orang di sebuah lapangan ter-buka di tengah hutan. Mereka itu berpakaian se-ragam perajurit dan bersenjata lengkap. Jumlah mereka tidak kurang dari limapuluh orang dan yang membuat tiga orang muda itu terkejut sekali adalah ketika mereka mengenal seorang kakek ting-gi besar yang memakai pakaian perwira dan agak-nya menjadi pemimpin pasukan itu karena perwira ini bukan lain adalah San - hek - houw Si Harimau Gunung ! Tentu saja tiga orang muda itu terkejut bercampur heran. Mereka tahu bahwa San - hek-houw adalah seorang datuk sesat, seorang di antara Sam - ok. Bagaimana kini tiba-tiba saja berpa-kaian perwira dan memimpin pasukan pemerintah?
"Kalau dia berada di sini, besar kemungkinan kakakku juga ditahan di tempat ini," bisik Bwee Hong kepada dua orang temannya. Akan tetapi karena mereka maklum akan kelihaian San - hek-houw yang ditemani anak buah puluhan orang ba-nyaknya, apa lagi kalau diingat kemungkinan adanya pula Si Raja Kelelawar di hutan itu, tiga orang muda itupun tidak berani terlalu mendekat.
"Mari kita mencoba untuk mencari sendiri di mana adanya sarang mereka di hutan ini dan me-nyelidiki kalau-kalau kakakku berada di hutan ini pula."
Dua orang kawannya mengangguk dan mereka lalu menyusup - nyusup ke dalam hutan, di antara pohon - pohon dan semak - semak. Mereka naik turun bukit kecil dan tiba di daerah yang banyak rawanya. Ketika mereka berdiri di puncak bukit kecil sambil meneliti ke sekitar tempat itu, mereka melihat seorang gadis kecil asyik menjala ikan di rawa yang tidak begitu dalam itu.
Menimbulkan perasaan aneh dan curiga melihat seorang gadis kecil menjala ikan seorang diri saja di tempat yang sunyi seperti itu. Gadis itu masih kecil, paling banyak duabelas tahun usianya. Wa-jahnya cantik manis dan rambutnya dikepang dua, di pinggangnya tergantung kempis yang terisi ikan-ikan yang didapatkannya dalam menjala. Dengan heran dan menduga - duga, mereka bertiga lalu menghampiri tepi rawa. Pada saat itu, mereka me-lihat seekor ular yang meluncur di atas air rawa itu menghampiri dan menyerang gadis nelayan tadi yang berdiri di dalam air setinggi pinggang! Ten-tu saja tiga orang itu terkejut sekali. Untuk meno-long agak sukar karena jarak antara mereka dan gadis cilik yang berada di dalam air itu cukup jauh.
Akan tetapi, ternyata gadis itupun sudah tahu akan bahaya yang mengancam dirinya. Ular itu menyerang dari kanan dan dengan sigapnya, gadis itu memutar tubuhnya dan tangan kanannya yang membawa jala itu bergerak menyabet ke arah ular.
"Plakkk!" Ular itu terpukul keras, terlempar jauh dan jatuh ke air, mengambang dan tidak ber-gerak lagi karena mati. Jatuhnya ular itu agak di tepi rawa, tidak jauh dari kaki A hai. Pemuda ini segera menghampiri, membungkuk dan ketika me-nyentuh bangkai ular, dia mendapat kenyataan bahwa ular itu mati dengan tulang - tulang remuk !
"Wah, adik kecil, engkau sungguh hebat! Bo-lehkah kami berkenalan denganmu ? Namaku A-hai. Siapakah engkau, adik kecil ?"
Gadis cilik itu menoleh dan memandang kepa-da mereka bertiga dengan alis berkerut tanda cu-riga. Ia tidak menjawab pertanyaan A-hai, akan tetapi ia menyudahi pekerjaannya menjala ikan dan berjalan menuju ke tepi. Celananya basah ku-yup dan tentu saja paha dan kakinya nampak membayang ketat di balik celana yang basah. A-kan tetapi gadis cilik itu bersikap biasa saja, tidak kikuk.
Bwee Hong maklum bahwa gadis itu belum percaya kepada mereka dan merasa curiga, maka iapun melangkah maju menghampiri dan merang-kul anak perempuan itu. "Siauw - moi, jangan cu-riga dan khawatir. Kami bertiga bukanlah orang-orang jahat dan kami hanya kebetulan saja lewat di sini dan melihatmu tadi. Kalau engkau tidak suka berkenalan dengan kami, kamipun tidak akan memaksa."
Agaknya wajah cantik dan sikap halus dari Bwee Hong menimbulkan kepercayaan pada anak perempuan itu. "Namaku Cui Hiang, tinggal ber-sama ayah ibuku dan adikku yang masih kecil. Kami hidup terpencil dan setiap hari mencari ikan di rawa. Kami hidup dengan tenteram. Akan teta-pi beberapa hari ini kami didatangi orang - orang yang sikapnya kasar dan jahat. Mereka agaknya mencari seseorang yang mereka kira bersembunyi di daerah ini. Bahkan mereka mengira ayah me-nyembunyikan orang itu dan menanyai ayah. A-yahku melawan, akan tetapi para penjahat itu ber-kepandaian tinggi. Ayah dihajar babak belur dan menderita luka parah. Ibuku yang menolong ayah juga dihajar dan terluka parah. Ayah dan ibu ham-pir dibunuh, akan tetapi baiknya muncul seorang kakek berjubah hitam yang sakti dan menghajar semua penjahat itu. Kakek itu mengatakan bahwa orang yang dicari - cari berada dalam lindungan-nya dan dia malah menantang agar mereka menyu-ruh pemimpin mereka sendiri datang menghadapi-nya. Para penjahat itu lalu pergi membawa teman-teman mereka yang terluka."
Anak itu melanjutkan ceritanya. Setelah para penjahat pergi membawa teman - teman yang ter-luka, kakek itu lalu mengobati ayah ibunya. Dan karena ayah ibunya terluka parah, sedang diobati dan perlu beristirahat, maka mereka tidak dapat mencari ikan seperti biasa.
"Akulah yang menggantikan mereka mencari ikan." Ia menutup ceritanya.
Bwee Hong, Siok Eng dan A-hai merasa ter-haru dan kasihan sekali kepada gadis cilik ini. Bwee Hong berpikir keras dan menduga - duga. Siapakah orangnya yang dicari - cari oleh para pen-jahat itu? Siapa pula kakek jubah hitam yang li-hai itu, yang selain mampu memukul mundur pa-ra penjahat, juga berani sekali menantang pemim-pin kaum sesat ?
A-hai lalu bertanya, "Adik kecil, apakah eng-kau melihat rombongan pasukan belum lama ini ?"
Yang ditanya menggeleng dan kelihatan kha-watir sekali, "jangan-jangan ada lagi orang jahat yang mengganggu ayah dan ibu yang belum sem-buh," katanya dan tanpa banyak cakap lagi ia lalu menggerakkan kedua kakinya yang kecil untuk berlari pulang. Bwee Hong, Siok Eng dan A-hai mengikuti dari belakang.
Ternyata bahwa larinya gadis cilik secara tiba-tiba untuk pulang itu digerakkan oleh suatu pera-saan yang tidak enak. Ketika ia tiba di rumahnya, ternyata rumah itu telah menjadi abu ! Masih ada arang - arang membara mengepulkan asap. Se-dangkan ayahnya, ibunya dan adiknya yang masih kecil tidak nampak. Tentu saja Cui Hiang mena-ngis tersedu - sedu dan memanggil - manggil ayah bundanya, dengan bingung lari ke kanan kiri se-perti seekor anak ayam mencari-cari induknya sambil berkotek - kotek.
Melihat ini, tak terasa lagi kedua mata A-hai menjadi basah dan diapun menghampiri anak pe rempuan itu, lalu berlutut dan dirangkulnya anak itu. "Diamlah, nak, tenanglah besarkan hatimu. Karena tidak nampak jenazah mereka, maka aku yakin ayah ibumu dan adikmu masih hidup. Sudahlah, jangan terlalu berduka "
Anak perempuan itu merangkul A-hai dan menangis terisak - isak di dada pemuda itu yang juga merangkul dan mengusap rambutnya.
"Mari kita ikuti jejak iblis - iblis itu," kata Siok Eng melihat jejak banyak kaki orang yang masih baru. Tentu ini jejak kaki para penjahat yang membakar rumah keluarga itu. A-hai menggan deng tangan Cui Hiang dan mereka berempat, di-pimpin oleh Siok Eng, lalu mengikuti jejak para penjahat. Jejak itu nampak jelas dan mudah diikuti.
Dari jauh sudah dapat mereka dengar suara pertempuran itu. Siok Eng mempercepat langkah-nya sehingga Bwee Hong juga berlari. A-hai me-mondong tubuh Cui Hiang dan dibawanya lari pula mengikuti. Mereka tiba di daerah yang la-pang di mana terdapat batu - batu besar berserak-an. Dan di atas batu - batu itu, sambil berloncatan, duabelas orang sedang dikeroyok oleh puluhan orang yang dipimpin oleh San-hek - houw. Pasukan seragam itu mengeroyok sambil berteriak-teriak dan pertempuran itu sungguh tidak seim-bang sama sekali. Apa lagi karena di antara dua-belas orang itu, hanya dua orang saja yang lihai ilmu silatnya sedangkan yang sepuluh orang me-miliki ilmu kepandaian yang biasa saja. Maka seo-rang demi seorang, sepuluh orang itu pun roboh dan tewas. Kini tinggal dua orang itu saja, seo-rang pemuda gagah dan seorang kakek berjubah hitam, yang masih bertahan dan mengamuk.

Bersambung

37                                                                                                                         39