Kamis, 06 Juni 2013

DARAH PENDEKAR 37

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S.Kho Ping Hoo
Bab 37
EMPAT orang yang berada di perahu sebe-lah kiri, kini serentak meloncat dan menyerang dengan tombaknya ke arah A-hai. A-hai membuat gerakan otomatis dengan tubuhnya dan ketika tangannya bergerak ke kiri, ada hawa atau angin pukulan yang dahsyat menyambar keluar.
"Wuuuttt prakkkk !!" Empat batang tombak itu patah - patah dan empat orang pemegangnya terjengkang kembali ke dalam perahu mereka !
Si Penjahat Cabul dan Si Maling Cantik saling pandang dengan mata terbelalak. Mereka tidak tahu siapa pemuda ini yang tak dapat mereka lihat jelas mukanya karena bulan tertutup awan. Akan tetapi harus mereka akui bahwa pemuda ini memiliki ilmu yang amat dahsyat. Angin pukulan ketika pemuda itu menangkis tadi, sampai terasa oleh mereka berdua, membuat mereka berdua bergidik ngeri.
Akan tetapi kini mereka melihat hal yang aneh. Tadi, gerakan tangan pemuda itu selain dahsyat, juga gerakannya indah dan gagah. Akan tetapi, begitu menangkis, pemuda itu agaknya menjadi bingung, menggerakkan tangan ke kanan, agaknya untuk menghantam ke arah perahu di kanan.
"Wutt!" Tidak ada apa - apanya dalam pukulan ini dan si pemuda sendiri agaknya menjadi bi-ngung dan kaget, bahkan lalu terpelanting jatuh ke dalam perahunya sendiri! Memang A-hai merasa bingung bukan main. Tadi, secara otomatis tangannya bergerak menyambut empat batang tombak dan dia ingat benar akan gerakan ini dan merasakan betapa tangannya yang menangkis dipenuhi tenaga yang amat kuat dan hangat.
Akan tetapi setelah tangkisannya berhasil membuat o-rang - orang yang menyerangnya terjengkang dan tombak - tombak mereka patah - patah, dia menjadi bingung, tidak tahu harus melanjutkan bagaimana. Dia tidak ingat lagi, maka diapun membuat gerak-an ngawur saja dengan menghantamkan tangannya ke arah perahu ke dua di sebelah kanan. Akan tetapi dia semakin bingung karena kini tangannya itu kosong melompong tidak ada hawa saktinya, dan pukulannya ini bahkan membuat tubuhnya terpelanting ke dalam perahunya sendiri. Cepat dia merangkak bangun. Tepat pada waktunya ka-rena pada saat dia terpelanting tadi, Si Maling Cantik dan Si Penjahat Cabul sudah melayang ke atas perahunya dan menyerangnya.
Kini, dalam keadaan terjepit, kembali A-hai ingat akan gerakannya. "Plak ! Plak !" Dua orang lawannya berteriak kaget dan meloncat mundur karena tangkisan A-hai itu membuat mereka me-rasa betapa kedua lengan mereka tergetar hebat dan nyeri. A-hai membalas dengan serangannya. Dua orang lawan yang lihai itu tidak berani me-nyambut dan melangkah mundur, sedangkan dua orang anak buahnya yang lancang menyambut de-ngan golok, berteriak kaget dan terlempar ke da-lam air karena dorongan tenaga dahsyat yang ke-luar dari tangan A-hai.
Kini A-hai dikeroyok dan terjadilah perkelahi-an yang seru, lucu dan aneh. Kadang - kadang ge-rakan A-hai demikian indah dan dahsyat sehingga dua orang lihai macam Si Penjahat Cabul dan Si Maling Cantik sekalipun tidak kuat menahan. A-kan tetapi, kadang - kadang gerakan A-hai demi-kian kacaunya dan dari kedua tangannya sama sekali tidak keluar tenaga sakti sehingga bukan ha-nya lawan yang menjadi bingung, bahkan A-hai sendiripun bingung.
Kini tiga perahu itu sudah menempel semua dan perahu A-hai dikurung. Para pengeroyok kini tinggal tigabelas orang, akan tetapi yang be-rani menyerang dekat hanyalah dua orang tokoh sesat itu sedangkan anak buah mereka hanya me-nyerang dari jauh dengan tombak panjang.
Memang hebat sekali kalau pemuda itu sedang "ingat" akan ilmunya. Bukan hanya gerakannya yang hebat dan tenaganya yang dahsyat, bahkan tubuhnya juga dialiri tenaga sinkang amat kuat yang membuat tubuhnya kebal dan mata - mata tombak yang berhasil menusuknya, membalik, bahkan ada pula yang patah !
Kini Jai - hwa Toat - beng - kwi yang mulai me-ngerti bahwa pemuda yang lihai itu ternyata ma-sih "mentah" ilmunya, mendesak maju. Mula-mula dia melakukan tendangan kilat, dibarengi oleh hantaman tangan Pek - pi Siauw - kwi dari samping, ke arah tengkuk A-hai. A-hai bergerak otomatis, merendahkan tubuhnya dan membiarkan pukulan dan tendangan lewat, lalu tangannya me-nyambar dan dia berhasil menangkap pergelangan kaki Jai - hwa Toat - beng - kwi yang menendang tadi. Tentu saja penjahat cabul itu terkejut dan ketakutan.
Tubuhnya sudah diangkat, akan tetapi, tiba - tiba saja A-hai kehilangan ingatannya lagi, menjadi bingung harus bergerak bagaimana dan otomatis tenaga saktinya lenyap, seperti sebuah balon yang tadinya ditiup mengembung, mendadak menjadi gembos kehilangan anginnya. Dan sekali menggerakkan kaki yang ke dua, menendang ke arah dada A-hai, jai-hwa-cat itu berhasil mele-paskan kakinya dari cengkeraman.
Beberapa kali A-hai berhasil mendesak lawan, akan tetapi karena tidak ingat lagi akan kelanjutan gerakan silatnya, dan tidak dapat menahan tenaga saktinya agar tetap di dalam kedua lengannya, semua gerakannya mandeg di tengah jalan dan dari keadaan mendesak, berbalik dia malah menerima beberapa kali hantaman, tendangan dan gebukan yang membuatnya jatuh bangun di perahunya. Biarpun tubuhnya secara otomatis dilindungi sin-kang yang kuat sehingga tidak terluka, akan tetapi hantaman bertubi - tubi itu membuatnya babak bundas dan benjut - benjut juga ! Masih untung baginya bahwa yang menghajarnya hanyalah dua orang itu, kalau saja yang muncul orang-orang macam San - hek - houw atau Si Buaya Sakti, tentu dia akan celaka, tewas atau setidaknya terluka parah.
Karena kini mengetahui rahasia A-hai, kedua orang sesat itu bersikap cerdik. Mereka tidak ter-lalu mendesak dan kalau melihat pemuda itu ber-gerak hebat, mereka malah menjauh dan mundur. Akan tetapi begitu melihat gerakan pemuda itu terhenti tiba - tiba dan pemuda itu nampak bi-ngung, mereka menyerbu dan menghajarnya. Akhirnya, A-hai tidak dapat tahan juga dan sebuah tendangan membuatnya terjungkal keluar dari pe-rahunya.
"Byurrr !"
A-hai yang merasakan seluruh tubuhnya me-mar dan perih - perih, membiarkan dirinya hanyut terbawa arus air. Untung bahwa permukaan air itu cukup gelap, tidak memungkinkan musuh-mu-suhnya untuk menemukannya dan sebentar saja A-hai sudah hanyut jauh. Sial baginya, air sema-kin dalam dan semakin kuat arusnya sehingga ke-tika dia berusaha berenang ke tepinya, dia terse-ret terus semakin jauh dan kadang - kadang tubuh-nya dihantamkan pada batu-batu besar. Tadi dia dihajar oleh pukulan-pukulan dan tendangan-ten-dangan, kini dihajar oleh batu-batu yang meng-hadang, sungguh sial dan dia merasa tubuhnya se-makin lemas, bahkan beberapa kali dia terpaksa menenggak air!
Tiba - tiba A-hai yang sudah merasa betapa tubuhnya lemas itu, terkejut dan girang. Tadinya dia mengira bahwa yang menyambar dan meng-angkat tubuhnya ke atas perahu itu musuh dan dia sudah siap untuk melawan lagi mati - matian. A-kan tetapi ketika dia melihat bahwa yang berada di perahu itu adalah Bwee Hong dan seorang gadis lain, dia merasa gembira bukan main sehingga ingin rasanya dia bersorak dan menari - nari!
"Ha - ha - ha, sungguh beruntung aku !" A-hai bangkit duduk dan tersenyum lebar, wajahnya yang basah kuyup itu berseri - seri. Melihat kegi-rangan meluap - luap pada diri pemuda itu, Bwee Hong dan Kwa Siok Eng, gadis yang menemani Bwee Hong di perahu itu, memandang dengan alis berkerut. Terutama sekali Bwee Hong. Jangan-ja-ngan pengobatan yang diberikan kakaknya dan ia sendiri kepada A-hai mendatangkan akibat sam-pingan dan membuat pemuda ini benar-benar menjadi miring otaknya, pikirnya dengan gelisah. Pemuda ini baru saja terbebas dari maut, tubuh-nya memar-memar dan babak bundas, hampir saja tenggelam dan kelihatan begitu kehabisan te-naga, akan tetapi dapat tertawa - tawa gembira seperti itu.
"A-hai, apa saja yang kaulakukan di sini ? Ba-gaimana engkau tahu - tahu hanyut di sungai ini ?" Bwee Hong bertanya. Akan tetapi pada saat itu A-hai memandang kepada Siok Eng dan hidung-nya kembang kempis.
"Aih, nona yang berbau dupa harum! Kita berjumpa lagi di sini, sungguh senang hatiku. Bukankah nona bernama eh, nona Kwa Siok Eng ?"
"Benar sekali. Aih, ingatanmu sudah mulai baik, A-hai," kata Bwee Hong girang karena ternyata kini A-hai memperlihatkan kekuatan ingat-annya, tanda bahwa pengobatan itu memperlihatkan hasilnya.
Juga Kwa Siok Eng yang sudah banyak tahu tentang keadaan A-hai yang aneh itu, tersenyum mengangguk. "Saudara A-hai, bagaimana engkau dapat berada dalam keadaan seperti ini ?"
A-hai lalu bercerita sambil memeras ujung ba-ju dan celananya, juga rambutnya yang basah kuyup. "Ketika engkau hilang dan kemudian kakak-mu juga pergi, agaknya mencarimu, aku bingung sekali, nona Hong. Aku tidak tahu harus mencari atau mengejar ke mana. Maka aku lalu mengumpulkan ingatanku tentang boneka itu. Dan aku mulai dapat membayangkan adanya sebuah rumah indah di tepi sungai, dekat air terjun. Di tempat itu aku pernah bermain-main dengan seorang anak perempuan bernama Lian Cu.
"Ah, nama yang terukir pada boneka itu ." kata Bwee Hong.
"Benar. Aku belum ingat betul apa hubunganku dengan Lian Cu, akan tetapi aku ingat bermain - main dengannya. Lalu aku mengambil keputusan untuk mencari tempat itu, mencari rumah indah mungil dekat air terjun di tepi sungai. Aku hendak menyusuri seluruh sungai sampai dapat kutemukan tempat itu. Dan aku dihadang orang-orang jahat aku dikeroyok, untung aku masih teringat akan beberapa jurus ilmu silat, sayang hanya sepotong - sepotong; dan akhirnya aku terlempar keluar perahu dan hanyut sampai ke sini."
"Aih, untung kami menemukanmu," kata Bwee Hong menarik napas panjang, merasa kagum dan heran akan keadaan dan nasib pemuda itu yang aneh.
"Dan engkau sendiri, kenapa pergi meninggal-kan aku setengah jalan dalam pengobatan itu, nona ?" A-hai bertanya, alisnya berkerut sedikit tanda bahwa kenyataan itu tidak menyenangkan hatinya.
"Aku diculik orang, A-hai."
Tiba-tiba A-hai meloncat berdiri, lupa bahwa dia berada di perahu sehingga perahu itu menjadi miring dan Siok Eng berteriak mengingatkan.
"Heiii, hati-hati ...... kita bisa terguling dan engkau hanyut lagi!"
"Wah, maaf " A -hai duduk kembali dan memandang Bwee Hong. "Siapa yang berani menculikmu, nona Hong?"
"Tenanglah." Bwee Hong tersenyum dan pipi-nya berobah merah. Pemuda ini begitu marah mendengar ia diculik orang dan sikap ini membuat jantungnya berdebar karena pemuda aneh ini memperlihatkan saja perasaan hatinya yang demi-kian jelas menaruh perhatian besar terhadap diri-nya. "Baik kuceritakan saja apa yang telah kua-lami sejak kita terpaksa saling berpisah dari dalam pondok mendiang Gu - lojin itu."
Bwee Hong lalu bercerita, didengarkan oleh A-hai penuh perhatian. Juga Siok Eng mendengarkan sambil mendayung perahunya dengan hati - hati agar jangan sampai menabrak batu - batu yang menonjok di sungai itu.
Mari kita ikuti pengalaman Bwee Hong sebelum ia lenyap dari rumah mendiang Gu - lojin. Seperti kita ketahui, setelah melakukan pengobatan atas diri A-hai yang kemudian tidur nyenyak, Seng Kun keluar dari dalam rumah, meninggalkan Bwee Hong yang masih berjaga - jaga di dalam membenahi perabot-perabot pengobatan.
Tiba-tiba nampak bayangan orang berkelebat memasuki ruangan itu. Bwee Hong oepat meloncat dan membalikkan tubuhnya. Wajahnya ber-ubah pucat ketika dia melihat seorang kakek bertubuh tinggi besar dan sikapnya kasar dan kokoh kuat, mengenakan jubah kulit harimau dan pada pinggangnya nampak sehelai rantai baja yang ujungnya dipasangi tombak jangkar. Kakek itu bukan lain adalah San - hek - houw, Si Harimau Gunung! Bwee Hong maklum bahwa dia berha-dapan dengan datuk sesat yang kejam, maka tanpa banyak cakap lagi iapun menyerang dengan tangan kosong. Pedangnya tidak ada pada tubuhnya, maka ia tidak sempat mengambil pedang yang disimpan di sudut ruangan. Karena maklum bah-wa lawannya ini tangguh, Bwee Hong mengerah-kan tenaga sinkang ketika melakukan pukulan ke arah leher lawan. Akan tetapi, kakek tinggi besar itu tertawa dan sama sekali tidak mengelak, me-lainkan menggerakkan tangan menyambar ke de-pan untuk menangkap pergelangan tangan gadis itu. Bwee Hong terkejut, menarik kembali tangan-nya dan menyusulkan tendangan kilat dari samping mengarah lambung.
"Bukkk ! !" Tendangan itu tepat mengenai lam-bung, akan tetapi Bwee Hong menjerit karena tahu - tahu pundaknya sudah dirangkul dan di lain saat ia sudah dipondong dan ditekan pundaknya sehingga tidak mampu bergerak lagi. Kiranya, ia tadi gugup sehingga tergesa - gesa. Kegugupannya dimanfaatkan lawan yang lebih tangguh itu. Tendangannya diterima begitu saja sambil melindungi tubuh dengan pengerahan sinkang dan se-baliknya, sambil menerima tendangan, Si Harimau Gunung sudah menangkap dan mencengkeram pundak Bwee Hong seperti seekor harimau mencengkeram anak domba saja. Sebetulnya, biarpun ia kalah lihai, akan tetapi kalau Bwee Hong tidak gugup atau terlalu bernapsu menyerang, melain-kan lebih mencurahkan kepandaian untuk berjaga diri, mengandalkan ginkangnya yang membuat tubuhnya jauh lebih cepat dan ringan dari pada lawan, belum tentu Si Harimau Gunung akan mampu menangkapnya dengan cepat.
"Ha-ha-ha-ha !" Harimau Gunung tertawa bergelak dengan girang sekali. Dia sudah meno-tok jalan darah di tubuh Bwee Hong, membuat gadis itu tidak mampu melawan lagi, dan sambil tertawa - tawa dia lalu melucuti pakaian Bwee Hong, dengan gerakan kasar sekali! Bwee Hong hendak melawan, hendak meronta, namun ia tidak mampu membebaskan diri dari totokan dan melihat betapa dirinya terancam malapetaka, agaknya akan diperkosa oleh iblis itu di depan A-hai yang masih tidur atau pingsan itu, ia mengeluarkan keluhan dari rongga dadanya kemudian lemas terku-lai dan jatuh pingsan !
Melihat gadis itu terkulai lemas dan pingsan, San - hek - houw mendengus tak senang. Watak manusia ini memang sudah mendekati harimau, mendekati binatang buas. Seperti juga harimau yang menerkam domba, dia tidak akan merasa pu-as kalau tidak melihat korbannya menggelepar-gelepar di dalam gigitannya. Dia ingin korbannya meronta melawan, ingin melihat darah segar yang panas. Maka begitu gadis itu terkulai pingsan, dia lalu menggeram, dan tubuh Bwee Hong lalu di-panggulnya dan sekali meloncat dia sudah keluar dari dalam rumah dan membawa lari gadis itu de-ngan maksud akan diperkosa kalau gadis itu sudah siuman dari pingsannya, di tempat lain.
Akan tetapi, tiba - tiba Bwee Hong menjerit. Si Harimau Gunung terkejut. Tak disangkanya gadis itu akan siuman sedemikian cepatnya. Dia lalu menekan leher Bwee Hong untuk membuat gadis itu tidak mampu berteriak lagi, dan melem-parkan gadis itu ke atas rumput. Dia sudah lari agak jauh dari rumah dan kini melihat Bwee Hong sudah siuman, hatinya girang dan diapun hendak memperkosa gadis itu di tepi jalan, di lereng gu-nung itu!
Jeritan melengking yang hanya satu kali keluar dari mulut Bwee Hong itu telah didengar oleh Seng Kun, akan tetapi karena pada saat itu Seng Kun sendiri sedang berkelahi melawan Sin - go Mo Kai Ci Si Buaya Sakti, maka kakak ini tidak dapat menolong adiknya. Akan tetapi, bukan hanya Seng Kun yang mendengarnya. Seorang gadis lain juga mendengar jeritan ini dan cepat gadis itu berlari mendekat. Gadis itu adalah Kwa Siok Eng! Da-pat dibayangkan betapa kaget hati gadis ini ketika melihat Bwee Hong yang sudah tidak mengenakan pakaian luar itu rebah terlentang pingsan di atas rumput dan kakek raksasa Harimau Gunung agak-nya sedang bermaksud untuk memperkosanya. Kwa Siok Eng, gadis itu, maklum akan kelihaian Harimau Gunung dan mungkin saja datuk sesat itu masih mempunyai kawan - kawan lain seperti biasanya. Untuk melawbn kakek itu ia tidak takut, akan tetapi bagaimana mungkin melawan kakek yang amat tangguh berbareng harus menyelamat-kan Bwee Hong ? Ia lalu mempergunakan akal.
Siok Eng bersembunyi di tempat gelap, kemu-dian mengerahkan tenaga sakti Asap Hio sehingga terciumlah bau dupa harum yang amat menyolok keluar dari tubuhnya, lalu ia menirukan suara ayahnya menggumam, "Hemrn, siapa berani meng-hina orang Tai - bong - pai dengan melakukan ke-cabulan di depan mataku ?"
Ketika hidungnya mencium bau dupa harum yang menyengat hidung itu, dan mendengar suara ini, terkejutlah Si Harimau Gunung. Dia sendiri belum pernah bertemu dengan Kwa Eng
Ki, ketua Tai - bong - pai akan tetapi dia sudah banyak mendengar tentang tokoh aneh itu. Tai-bong-pai adalah perkumpulan aneh, tidak con-dong kepada para pendekar akan tetapi juga tidak pernah mau merendahkan diri memasuki golongan kaum. penjahat. Dan kabarnya Tai - bong - pai memiliki kekejaman yang tiada taranya di sam-ping kelihaiannya yang mengerikan. Tak disang-kanya bahwa di tempat ini dia akan bertemu de-ngan ketua Tai - bong - pai, dan dia mengerti bah-wa perbuatannya hendak memperkosa gadis can-tik itu tentu dianggap penghinaan karena tanpa disengajanya hal itu hendak dilakukan di depan si ketua Tai-bong-pai yang dia tidak tahu entah berada di mana.
Lebih baik mencari rekannya, Si Buaya Sakti, baru dia akan menghadapi orang Tai-bong-pai itu dan melanjutkan pemuasan nafsunya terhadap si gadis cantik, pikirnya. Maka tanpa banyak ca-kap Harimau Gunung membatalkan maksudnya dan meninggalkan Bwee Hong, pergi dari situ un-tuk mencari Buaya Sakti yang dia yakin tidak ber-ada jauh dari tempat itu. Tak lama kemudian ter-dengarlah aumannya memanggil rekannya.
Begitu melihat kakek raksasa itu pergi, Siok Eng cepat meloncat keluar dan memondong Bwee Hong, dibawa lari ke belakang semak - semak. Di sini ia membebaskan totokannya. Bwee Hong sa-dar dan terkejut, juga girang melihat Siok Eng.
Akan tetapi, gadis Tai-bong-pai ini menutupi mulutnya, berbisik.
"Enci Hong, lekas kaupakai pakaianku ini, dan kita harus cepat pergi dari sini," katanya.
Bwee Hong yang melihat bahwa tubuhnya hampir telanjang bulat, menjadi merah mukanya dan iapun cepat mengenakan pakaian cadangan dari Siok Eng yang diberikan kepadanya. Ia bersyukur sekali bahwa dirinya belum ternoda oleh Si Harimau Gunung dan kalau membayangkan apa yang akan terjadi andaikata tidak muncul Siok Eng yang menyelamatkannya, ia bergidik ngeri.
"Mari kita pergi "
"Akan tetapi, A-hai dan kakakku mereka di rumah mendiang Gu - lojin "
'"Kita pergi dulu, baru nanti mencari jalan " kata Siok Eng yang sudah menarik tangannya diajak lari. Pada saat itu terdengar bentakan keras dari Harimau Gunung yang agaknya kembali ke tempat tadi dan tidak lagi menemukan tubuh ga-dis yang hendak diperkosanya.
"Ketua dari Tai - bong - pai, harap keluar untuk bicara!" terdengar bentakan suara Harimau Gunung. Mendengar ini, Siok Eng lalu menarik ta-ngan Bwee Hong dan merekapun melarikan diri. Agaknya berkelebatnya bayangan mereka nampak oleh San - hek - houw yang cepat melakukan pengejaran sambil berteriak - teriak. Dua orang gadis itu bergegas lari menyusup - nyusup di antara pohon - pohon dan semak - semak sehingga sukar-lah bagi San - hek - houw untuk dapat mencari me-reka. Raksasa ini marah sekali. Dia tahu bahwa dia tadi telah dipermainkan orang. Tidak mungkin ketua Tai - bong - pai lari terbirit - birit seperti itu. Tadi, ketika dia meninggalkan korbannya, dia me-rasa menyesal dan sambil menanti datangnya re-kannya yang sudah dipanggilnya melalui auman-nya, dia hendak menemui dulu ketua Tai - bong-pai untuk diajak berdamai. Akan tetapi, ternyata gadis itu telah lenyap dan dia melihat berkelebat-nya dua bayangan gadis yang bertubuh ramping maka segera dikejarnya.
Dengan hati mengkal San - hek - houw berpu-tar - putar di dalam hutan itu, mencari - cari kor-bannya. Akhirnya, dengan kesal dia lalu mening-galkan hutan, hendak kembali ke dusun mencari Buaya Sakti yang belum juga datang membantu-nya. Ketika dia berlari sampai di luar dusun, tiba-tiba dia melihat bayangan dua orang dari jauh. Timbul lagi harapannya, dan dia mempercepat larinya mengejar. Akan tetapi setelah dekat, hati-nya menjadi semakin kesal karena dua orang itu bukanlah dua orang gadis yang tadi dikejarnya, melainkan seorang laki - laki dan seorang perempu-an setengah tua, keduanya mengenakan pakaian putih sederhana.
"Heh, petani - petani busuk !" bentaknya dengan sikap kasar sekali. "Hayo katakan apakah kalian melihat dua orang gadis cantik lewat di sini. Kalau tidak bicara dengan baik kalian akan kuha-jar dan kupatah - patahkan tulang punggungmu!" Memang sengaja Harimau Gunung yang sudah marah ini mencari gara - gara agar ada tempat untuk melampiaskan kemarahannya. Dia mengha-rapkan dua orang itu marah - marah agar dia da-pat membunuh mereka seperti ancamannya tadi! Siapapun orangnya tentu akan marah kalau men-dengar ucapan seperti itu. Dan dua orang setengah tua itupun marah, walaupun kakek pakaian putih itu tidak berkata apa - apa. Si neneklah yang ma-rah dan melangkah maju.
"Harimau iblis, agaknya engkau sudah ingin disembahyangi!" katanya dan tiba - tiba saja ne-nek itu menerjang ke depan dan mendorongkan telapak tangannya ke arah Si Harimau Gunung. Hawa pukulan yang kuat menyambar dan tercium bau dupa harum yang amat keras. San - hek - houw terkejut dan cepat dia menangkis.
"Desss !" Dia terhuyung ke dekat kakek itu dan tubuhnya terasa panas seperti dibakar.
"Huhh !" Kakek itupun mendengus dan tangan-nya menampar. Tercium bau hio yang lebih keras lagi. Melihat tangan yang menyambar ke arah ke-palanya, Si Harimau Gunung cepat menangkis sambil mengerahkan tenaganya walaupun kepala-nya masih pening dan tubuhnya terasa panas.
"Blarrrr !" Harimau Gunung mengeluh dan tubuhnya terpelanting. Seluruh tubuhnya kini terasa dingin sekali. Dia bergidik dan cepat meng-gulingkan tubuhnya, meloncat bangun dengan mata terbelalak memandang kepada kakek dan nenek itu. "Kiranya kau kau" dan diapun meloncat ke belakang sambil bergidik, me-nyusut sedikit darah dari ujung mulutnya dan lari secepatnya. Sialan, pikirnya, kiranya dia benar-be-nar bertemu dengan ketua Tai - bong - pai! Siapa lagi kalau bukan ketua Tai - bong - pai, mungkin dengan isterinya, yang memiliki kepandaian sehe-bat itu ? Kembali dia bergidik. Masih untung bahwa mereka tidak berniat membunuhnya! Kini dia maklum bahwa biar dibantu Si Buaya Sakti sekalipun, dia tidak akan kuat menandingi kakek dan nenek pakaian putih itu. Kecuali kalau Raja Kelelawar sendiri yang datang membantunya.
Kakek dan nenek berpakaian putih itu memang suami isteri Kwa Eng Ki, ketua Tai-bong-pai. Mereka berdua sedang mencari puteri dan putera mereka. Hati mereka kesal, maka mereka meng-hajar Si Harimau Gunung, walaupun mereka tidak bermaksud bermusuh dengan kaum sesat. Oleh karena itulah mereka tidak mengejar datuk itu dan melanjutkan perjalanan mereka menyelidiki dan mencari anak-anak mereka.
Sementara itu, Siok Eng dan Bwee Hong sudah keluar pula dari dalam hutan. Dari jauh saja, Siok
Eng telah dapat mencium bau hio keras itu ketika suami isteri Kwa Eng Ki menghajar Si Harimau Gunung. Gadis ini nampak terkejut dan cepat ia menarik tangan Bwee Hong, diajaknya gadis itu masuk ke dalam hutan.
"Wah, enci Hong, itu ayah dan ibu telah datang pula ke sini! Aku pergi dari rumah tanpa perse-tujuan mereka dan sudah beberapa bulan aku ti-dak pulang. Mereka tentu sedang mencariku dan aku belum mau pulang sekarang. Kita bersembu-nyi dulu di sini sampai mereka pergi."
Bwee Hong mengangguk. Ia dapat mengerti keadaan Siok Eng. Sahabatnya ini adalah puteri dari ketua Tai - bong - pai dan iapun mendengar bahwa keluarga Tai - bong - pai adalah orang-orang yang dianggap iblis oleh dunia kang - ouw. Tidak heran kalau cara hidup merekapun aneh sekali sehingga seorang anak perempuan pergi tanpa pamit dan takut ditemukan ayah bundanya, takut dipaksa dan diajak pulang. Sungguh aneh ! Akan tetapi ia tidak mau menyinggung hati sahabatnya dengan menyatakan keheranannya, dan iapun ikut bersembunyi. Pengalamannya ketika terculik oleh Harimau Gunung tadi saja sudah amat mengerikan, dan ia takut kalau - kalau bertemu lagi dengan iblis itu. Tentang keadaan A-hai, ia tidak khawatir karena bukankah di sana terdapat kakaknya ? Ma-lam itu mereka berdua bersembunyi di dalam hu-tan, tidak berani banyak bersuara, bahkan tidak berani membuat api unggun. Mereka hanya meng-andalkan tenaga sinkang untuk melawan dinginnya sang malam.
Pada keesokan harinya, barulah kedua orang gadis itu berani keluar dari dalam hutan. Dengan hati - hati mereka menuju ke rumah mendiang Gu-lojin. Akan tetapi, ternyata rumah itu kosong. A-hai maupun Seng Kun tidak nampak berada di da-lam rumah. Bwee Hong lalu mengajak Siok Eng pergi ke dusun nelayan untuk mencari mereka. Namun di dusun ini juga mereka tidak menemukan dua orang pemuda itu. Dan dari para nelayan ini-lah mereka mendengar akan apa yang terjadi ma-lam tadi. Mereka mendengar akan munculnya dua orang kakek iblis yang mereka dapat menduganya tentulah Si Harimau Gunung dan Si Buaya Sakti. Kemudian datangnya seorang kakek dan seorang pemuda bersama Seng Kun yang mencari dua orang kakek iblis itu, kemudian betapa tiga orang ini melakukan pengejaran menggunakan perahu ketika mendengar betapa dua orang kakek iblis itu merampas perahu seorang nelayan. Kemudian mereka mendengar akan munculnya A-hai yang juga membeli sebuah perahu dan mendayung pe-rahu itu seorang diri.
"Demikianlah, kami berdua lalu menggunakan perahu melakukan pengejaran karena menurut para penghuni dusun, engkau pergi belum lama," kata Bwee Hong menutup ceritanya kepada A-hai.
”Dan akhirnya kami dapat menemukanmu dalam keadaan hanyut dan hampir tenggelam."
"Wah, wah, engkau selalu menjadi bintang pe-nolongku, nona Hong." A-hai berkata dengan ter-haru. Dia teringat betapa baiknya gadis ini dan kakaknya, yang bahkan berjasa pula dalam mengobati dirinya dan berusaha memulihkan ingatannya.
"Aih, jangan berkata demikian, A-hai. Bukan-kah engkau sebaliknya yang sudah berkali - kali menyelamatkan diriku dari bencana ?"
Melihat betapa dua orang ini saling merendah dan saling memuji, Siok Eng terbatuk - batuk. Karena batuknya ini batuk buatan, Bwee Hong me-noleh dan menegur dengan pipi merah, "Ih, apa artinya engkau batuk - batuk itu, adik Eng ?"
Siok Eng menutupi mulut dan tersenyum. "Kalian saling berebutan merendahkan diri dan salingmemuji. Sudahlah, anggap saja kalian saling hutang budi dan saling berkewajiban untuk membalas budi hi - hik "
Bwee Hong mengerutkan alisnya. "Maksudmu ?"
"Maksudku adalah seperti yang kaumaksudkan di dalam lubuk hatimu, enci "
Kedua pipi itu menjadi semakin merah. "Adik Eng, jangan main-main kau. Dan jangan bicara seperti main teka - teki. Apa yang kaumaksudkan?"
Siok Eng hanya tertawa dan sikap inilah yang membuat Bwee Hong tiba - tiba mengerti apa yang dimaksudkan sahabatnya itu, maka di dalam, gelap ia mencubit lengan Siok Eng dengan keras, akan tetapi tidak berkata apa - apa karena takut kalau A-hai akan tahu apa yang dimaksudkan oleh Siok Eng dengan godaannya itu. Siok Eng telah me-nyindir dan menggoda mereka, menjodohkan mereka !
Memang sesungguhnya A-hai tidak mengerti akan kelakar dua orang gadis itu dan diapun ber-tanya, "Kita ke mana sekarang?" Pertanyaannya diajukan kepada Siok Eng yang mengemudikan perahu.
"Sebaiknya kita pergi ke tempat A-hai dikero-yok orang. Tentu ada sesuatu di tempat itu dan siapa tahu kalau - kalau kakakku juga berada di sana."
"Baik, kita ke sana sekarang juga!" Tiba - tiba Siok Eng berkata dengan tegas sambil mendayung perahunya. Melihat ini, Bwee Hong tersenyum dan mendekati Siok Eng, berkata lirih di dekat te-linga gadis itu.
"Engkau tentu sudah ingin sekali segera ber-jumpa dengan kakakku, bukan ?"
Akan tetapi, sejak kecil Siok Eng mempunyai lingkungan hidup yang berbeda dengan Bwee Hong. Sebagai puteri ketua Tai - bong - pai, ia su-dah biasa bergaul dengan orang - orang aneh yang hidupnya tidak begitu terbelenggu oleh segala macam sopan santun dan kepura - puraan yang mu-nafik. Apa yang berada dalam hatinya tidak ditutup - tutupinya dengan malu - malu lagi, maka iapun mengangguk dan menjawab dengan suara serius,
"Benar, enci Hong. Aku harus cepat bertemu dengan dia dan melihat dia dalam keadaan selamat, barulah hatiku akan merasa tenteram."
Jawaban ini sudah jelas sekali bagi Bwee Hong, akan tetapi A-hai hanya termangu - mangu di ujung perahu, masih berusaha mengeringkan baju-nya yang basah. Dia mendengar ucapan itu da-lam arti kata - kata biasa saja, sama sekali tidak me-lihat bahwa ucapan itu mengandung perasaan hati gadis Tai - bong - pai itu terhadap Seng Kun.
Perahu didayung oleh A-hai menurut petunjuk Siok Eng dan menjelang sore hari tibalah mereka di tempat pengeroyokan itu. Akan tetapi tempat itu sunyi saja dan nampak perahu A-hai di tepi sungai.
"Itu perahuku !" kata A-hai yang mendayung ke pinggir. Dengan girang dia mengambil buntal-an pakaiannya. "Aku mau berganti pakaian ke-ring !'* katanya sambil lari ke belakang semak-se mak. Tak lama kemudian diapun keluar dan su-dah memakai pakaian kering dan sikapnya gembira sekali. Memang hatinya gembira setelah dia dapat berkumpul kembali dengan Bwee Hong.
"Di sini sunyi tidak ada seorangpun manusia," kata Siok Eng.

"Tapi ini banyak bekas kaki orang," kata Bwee Hong.
Mereka lalu melalui jalan setapak, mengikuti jejak kaki banyak orang yang menuju ke bukit-bukit di depan. Ketika melihat sebuah pondok bambu yang kosong, mereka masuk. Banyak terdapat bekas kaki di situ, juga di atas meja kasar terlihat corat - coret gambar semacam peta dan ada tulisan Pesanggrahan Hutan Cemara.
"Wah, aku mengenal tempat itu !" Tiba - tiba A-hai berkata. "Telah beberapa kali aku ke sana mengantarkan arak!"
Hari telah malam, akan tetapi karena menge-nal jalan, A-hai dapat membawa kedua orang te-mannya menuju ke pesanggrahan yang dimaksud-kan itu. Mereka melewati kedai arak yang pernah menjadi langganan A-hai. Kedai itu tertutup ra-pat, dan nampak bekas keributan dan perkelahian yang membuat beberapa bagian dari kedai itu je-bol dan rusak. Agaknya keributan besar terjadi di situ. Sama sekali tidak mereka ketahui betapa di dalam kedai itu telah terjadi keributan dan perke-lahian antara rombongan para penjahat melawan para anggauta Liong - i - pang dan di kedai itupun hadir pula Liu Pang dan Ho Pek Lian seperti yang telah diceritakan di bagian depan. Tiga orang itu melanjutkan perjalanan, dengan A-hai sebagai pe-nunjuk jalan, menuju ke Pesanggrahan Hutan Cemara, yaitu pesanggrahan, kaisar yang hanya diper-gunakan di waktu kaisar mengadakan perburuan.
Malam sudah larut,- sudah lewat tengah malam ketika mereka bertiga tiba di pesanggrahan itu. Dan di sinipun mereka melihat bekas - bekas per-tempuran hebat yang membuat bangunan pesang-grahan yang mungil itu porak - poranda. Melihat akibat yang demikian parah, dapat diduga bahwa pertempuran yang terjadi di tempat itu amatlah hebatnya. Sebagian bangunan nampak bekas ter-bakar dan darah masih nampak berceceran di sa-na - sini, berwarna kehitaman dan sudah mengering.
"Ssttt , ada orang !" kata Siok Eng berbisik dan mereka bertiga lalu menyelinap ke belakang semak - semak. Muncullah seorang laki-laki bertubuh pendek dari dalam bangunan yang bekas terbakar dan sinar bulan membuat wajah laki - laki pendek itu nampak pucat sekali. Meli-hat wajah itu, Bwee Hong segera mengenalnya. Orang itu bukan lain adalah Pek - lui - kong Tong Ciak, jagoan istana yang setia itu. Tentu orang itu tahu akan semua hal yang terjadi, mungkin tahu pula di mana adanya kakaknya. Maka Bwee Hong lalu keluar dari tempat sembunyinya, diikuti oleh Siok Eng dan A-hai. Dua orang inipun telah mengenal muka cebol yang lihai itu dan mereka merasa agak khawatir. Tadinya Tong Ciak nampak terkejut, akan tetapi ketika dia mengenal Bwee Hong, diapun merasa lega dan menghampiri me-reka.
"Ah, kiranya nona Chu yang datang," katanya.
"Tong - ciangkun, kenapa ciangkun berada di sini dan apakah yang telah terjadi di tempat ini ? Kulihat ada bekas - bekas pertempuran."
Si pendek itu menarik napas panjang dan nam-pak berduka. Dia mengepal tinju yang diamang-kan ke arah bulan, menahan diri yang agaknya ingin menyumpah - nyumpah, lalu berkata, "Su-dahlah, apa artinya dipertahankan lagi ? Nona Chu, kalau nona bertemu dengan ayahmu, tolong sam-paikan bahwa aku Tong Ciak mengirim hormat dari jauh dan bahwa aku tidak akan kembali lagi ke istana."
Bwee Hong mengerutkan alisnya. Ia tahu bah-wa panglima ini menghormati ayahnya, yaitu Bu Hong Tojin dan ia tidak perduli apa yang akan dikerjakan oleh orang ini. Akan tetapi ia ingin ta-hu apa yang sebenarnya telah terjadi maka pangli-ma cebol yang lihai ini kelihatan murung, berduka dan putus harapan, maka iapun menjawab, "Baik, ciangkun, akan kusampaikan. Akan tetapi apakah yang terjadi dan ciangkun hendak pergi ke manakah ?"


Bersambung

36                                                                                                                        38