Selasa, 04 Juni 2013

DARAH PENDEKAR 35

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Bab 35
"Mari kita susul ke sana!" kata Seng Kun tak sabar lagi. Dibantu oleh dua orang penolongnya, tak lama kemudian Seng Kun menyewa sebuah pe-rahu dan melakukan pengejaran ke arah dusun Kim - le. Seng Kun sendiri bersama Tiong Li membantu si nelayan mendayung dan biarpun pe-rahu sudah meluncur cepat, tetap saja Seng Kun menganggapnya terlalu lambat dan dia kelihatan gelisah bukan main. Melihat itu, kakek itu meng-hibur.
"Orang muda, sabarlah. Serahkan saja kesemua-nya kepada Thian. Di samping usaha menyelamat-kan adikmu, berdoalah saja agar adikmu itu sela-mat. Dengan membiarkan hati gelisah, hal itu akan mengeruhkan pikiran dan hanya akan mem-buat tindakanmu menjadi kacau tanpa perhitungan lagi. Jangan membiarkan pikiranmu membayang-kan hal - hal buruk menimpa diri adikmu, hal itu hanya akan mengundang datangnya kegelisahan yang tiada gunanya."
Seng Kun tersadar dan dia menjadi lebih te-nang. Baru sekarang dia teringat betapa tidak pantasnya sikapnya selama ini. Dua orang ini te-lah menyelamatkannya dari tangan Si Buaya Sakti, juga kini bahkan membantunya mencari adiknya. Akan tetapi dia sama sekali belum tahu siapa ada-nya mereka dan tidak pernah menanyakannya!
"Harap ji - wi sudi memaafkan saya yang bersikap tak mengenal budi. Karena gelisah memikirkan adik saya, maka saya belum sempat memperkenalkan diri. Harap ji - wi ketahui bahwa saya bernama Seng Kun, she Bu, dan adik saya itu adalah Bu Bwee Hong. Mohon tanya, siapa-kah nama locianpwe yang mulia dan juga saudara yang gagah perkasa ini ?"
Kakek itu terbelalak memandang wajah Seng Kun, "Engkau she Bu ? Dan ginkangmu tadi ketika berlari hemm, orang muda, nama keturunanmu itu mengingatkan aku akan seorang yang bernama Bu Cian "
Kini Seng Kun yang menjadi terkejut mende-ngar disebutnya nama itu karena nama itu adalah nama ayah dari ayah angkatnya atau juga paman kakeknya. Bu Kek Siang! "Apakah yang locian-pwe maksudkan itu adalah mendiang kakek Bu Cian, si datuk utara ?"
"Ha - ha - ha, benar, dia menjadi datuk ahli sinkang dan ahli obat di utara "
"Locianpwe, beliau itu adalah kakek buyut saya, juga kakek guru "
"Ehh ? Engkau anak siapakah ?" Kakek Kam Song Ki terbelalak lagi. "Apakah engkau mengenal Bu Kek Siang ?"
"Mendiang Bu Kek Siang adalah ayah angkat saya juga guru saya, juga paman kakek saya "
"Ayah angkat, juga guru, juga paman kakek ? Bagaimana ini ? Dan sudah mendiang ?" kakek itu bertanya secara bertubi-tubi.
"Benar, locianpwe. Ayah angkat saya Bu Kek Siang dan isterinya, telah meninggal dunia. Sejak kecil kami berdua, saya dan adik Bwee Hong, dira-wat dan dididik oleh beliau, diaku anak sendiri. Di waktu beliau hendak meninggal dunia, barulah beliau memberi tahu bahwa kami berdua sebenarnya she Chu dan terhitung cucu keponakan beliau karena mendiang ibu kami adalah keponakan be-liau."
"She Chu ?" Tiba - tiba Kwee Tiong Li bertanya. "Saudara Seng Kun, kalau boleh aku bertanya, siapakah nama ayah kandungmu yang she Chu itu ?" Tentu saja Tiong Li bertanya de-mikian karena pada waktu itu, she Chu hanya di-miliki oleh keluarga dekat dari kaisar saja, seperti juga gurunya yang pertama, yaitu pemberontak Chu Siang Yu yang masih keturunan Jenderal Chu yang terkenal berdarah keluarga kaisar pula.
Sebenarnya Seng Kun tidak suka memperke-nalkan ayah kandungnya karena dia tidak ingin diketahui bahwa dia masih berdarah bangsawan istana. Akan tetapi mengingat bahwa dua orang itu adalah penolongnya, maka terpaksa dia meng-aku juga, "Ayah kandungku bernama Chu Sin, akan tetapi sekarang telah berganti nama menjadi Bu Hong Tojin."
"Aihhh ! Sungguh luar biasa! Pangeran Chu Sin yang kini menjadi kepala kuil di istana ? Kiranya engkau masih sanak keluarga atau sedarah dengan bengcu (pemimpin) Chu Siang Yu !"
teriak Tiong Li gembira.
"Siancai ! Dan akupun sudah mendengar akan kehebatan Pangeran Chu Sin yang menentang istana. Ah, anak baik, tidak tahukah engkau de-ngan siapa engkau berhadapan ? Bu Kek Siang itu adalah muridku, murid keponakan. Ayahnya, mendiang Bu Cian adalah twa-suhengku ."
Seng Kun memandang terbelalak, kemudian menjatuhkan diri berlutut. "Teecu sudah merasa heran ketika susiok-couw tadi menyadarkan nelayan dengan cubitan "ning" dari perguruan teecu.
Kiranya susiok-couw adalah kalau teecu tidak salah, kakek Kam Song Ki yang mulia!"
"Ha-ha-ha, kiranya orang sendiri malah. Dan engkau tahu, dia ini, Kwee Tiong Li, adalah muridku dan tadinya menjadi murid dan pembantu utama dari pemberontak Chu Siang Yu yang masih sanakmu juga. Ha-ha, dunia ini sungguh tidak berapa luas!"
Tentu saja Seng Kun merasa girang dan kakek itupun kini makin bersemangat untuk mencari dan menolong Bwee Hong yang ternyata adalah cucu muridnya sendiri. Perahu didayung lebih cepat lagi untuk menuju ke dusun Kini - le, di mana me-reka harapkan akan dapat menyusul dua orang iblis yang melarikan Bwee Hong itu.
*
* *
Setelah menguburkan mayat wanita yang te-lah menyelamatkan mereka, Liu Pang dan Pek Lian lalu melanjutkan perjalanan mereka dengan hati - hati. Mereka tidak ingin bertemu dengan musuh yang kini dibantu oleh para datuk sesat. Agar dapat melakukan perjalanan yang aman dan tersembunyi, mereka menyeberangi padang rumput. yang luas dan setelah fajar menyingsing tiba-lah mereka di sebuah lembah bukit. Tiba-tiba, di pagi hari itu, mereka mendengar suara terom-pet bersahut - sahutan. Tentu ada perkemahan tentara, pikir Liu Pang yang tidak asing dengan suara terompet seperti itu. Mereka berdua lalu mendaki puncak bukit dan meneliti ke bawah. Si nar matahari pagi memandikan bagian bawah bu-kit menjadi keemasan dan indah sekali. Akan te-tapi sinar mata kedua orang itu sama sekali tidak dapat merasakan keindahannya karena pandang mata mereka sibuk mencari - cari dan akhirnya mereka menemukan apa yang dicari oleh pandang mata mereka. Ratusan buah, bahkan ribuan ke-mah bertebaran di balik bukit. Liu Pang memin-cingkan mata dan berseru gembira, "Ah, itu ada-lah pasukan kita !"
Tentu saja Pek Lian juga merasa gembira se-kali. Dari bendera yang berkibar di puncak tenda iapun dapat mengenal tanda - tanda dari pasukan mereka sendiri. Mereka lalu cepat menuruni bu-kit dan berlari-lari menuju ke perkemahan itu.
Ketika mereka tiba di luar hutan kecil yang se-olah-olah menjadi pintu gerbang perkemahan itu, tiba - tiba puluhan batang anak panah menyambar seperti hujan ke arah mereka. Guru dan murid ini cepat mengelak dan mencabut pedang untuk me-lindungi tubuh dari sambaran anak panah. Lalu bermunculan belasan orang bersenjata yang segera mengeroyok guru dan murid itu. Liu Pang dari Pek Lian tidak sempat menerangkan siapa keadaan mereka, dan mereka berduapun tahu bahwa para pengeroyok yang terdiri dari pasukan peronda ini adalah perajurit - perajurit baru yang menggabung selagi mereka berdua pergi sehingga tidak menge-nal mereka.
"Berhenti!" Tiba - tiba terdengar bentakan menggeledek dan muncullah seorang perwira muda yang berwajah tampan dan gagah. Para pengero-yok terkejut, membuka jalan dan memberi hormat kepada pemuda itu. Di belakang pemuda tampan ini berjalan seorang pemuda lain yang berpakaian serba putih sederhana.
"Liu - bengcu ! Nona Ho !" Pemuda tampan itu berseru. Dia Yap Kim, putera Yap-lojin, pe-muda yang bengal itu. Kemudian dia tertawa ber-gelak. "Ha-ha-ha, harap bengcu maafkan, me-reka ini adalah bekas pasukan pemerintah yang dibawa oleh Gui - ciangkun yang bergabung de-ngan kita."
Liu Pang mengangguk - angguk dan tersenyum. "Pantas, mereka sangat tangkas !"
Para perajurit terkejut setengah mati ketika mendengar bahwa dua orang yang mereka keroyok tadi bukan lain adalah Liu - bengcu, pemimpin be-sar mereka, dan nona Ho yang namanya sudah a-mat terkenal di antara para anggauta pejuang pen-dekar itu ! Mereka segera minta maaf, dan dengan besar hati Liu Pang berkata, "Mengapa minta ma-af ? Tindakan kalian tadi sungguh mengagumkan dan memang demikianlah seharusnya sikap pasu-kan peronda. Kalau kalian tidak menyerang kami, mungkin aku malah akan menegur kalian !" Pasu-kan itu tentu saja merasa girang karena setelah menyerang pemimpin besar itu, mereka tidak men-dapat marah, malah menerima pujian!
Kedatangan Liu Pang dan Pek Lian disambut dengan amat gembira oleh para pimpinan pasukan. Mereka sudah merasa khawatir sekali akan lenyap-nya pemimpin besar itu. Dan kini tahu - tahu mun-cul bersama Pek Lian yang dalam keadaan selamat pula. Mereka semua berkumpul dan memberi laporan kepada pemimpin besar mereka. Ternyata gerakan mereka seperti yang sudah mereka rencanakan ketika menghadapi pasukan besar Lai-goanswe itu berhasil dengan baik sesuai dengan siasat mereka. Kota kecil berhasil diduduki dan pasukan besar Jenderal Lai dihadang oleh pasukan inti dari Liu Pang yang dipimpin oleh para pendekar Thian - kiam - pang. Pasukan Lai - goanswe dapat dipukul kocar - kacir, sebagian melarikan diri, dan sebagian malah menakluk dan kini menggabung dengan para pemberontak.
"Bagus !" Liu Pang merasa girang sekali. Bi-arpun dia sendiri nyaris menjadi korban akan teta-pi ternyata gerakan pasukannya berhasil dan hal inilah yang terpenting baginya.
Sekarang di manakah adanya Lai - goanswe ?" tanyanya dengan girang.
Yap Kim menghela napas panjang. "Itulah, twako!" keluhnya. Semua pimpinan pasukan para pendekar itu kadang - kadang menyebut twako kepada Liu Pang. "Itulah sebabnya mengapa para peronda tadi langsung menyerang twako dan nona Ho tanpa bertanya lagi. Malam tadi muncul dua orang sakti yang memliebaskan Lai - goanswe. Aku dan kakakku Kiong Lee melakukan pengejaran, akan tetapi terpaksa kami melepaskan mereka. Aku sendiri tidak dapat melawan mereka dan kakak ku sungkan untuk melawan mereka "
"Maafkan saya, Liu - bengcu. Mereka adalah sahabat - sahabat kami sendiri. Antara perguruan kami dan perguruan mereka terjalin persahabatan yang erat. Guru saya dan ketua mereka adalah sa-habat lama." Kiong Lee menyambung penuturan adiknya dan sikapnya menjadi sungkan sekali. "Heran, siapakah mereka ?" Liu Pang bertanya. "Mereka adalah dua orang berjubah coklat dari Liong - i - pang."
Mendengar bahwa dua orang penculik tawanan itu adalah orang-orang Perkumpulan Jubah Naga, Liu Pang dan Pek Lian saling pandang. "Ah, mereka !" Liu Pang dan muridnya telah melihat kedua orang itu ketika mereka mengintai perte-muan para tokoh kaum sesat dan mendengar bah-wa kedua orang itu hendak pergi ke benteng. Kiranya mereka itu pergi ke perkemahan ini dan menculik tawanan yang cukup penting! Lai- goan-swe adalah tangan kanan Jenderal Beng Tian. Jadi, membebaskan Panglima Lai itukah tugas yang mereka dapat dari guru mereka seperti yang telah didengarnya bersama Pek Lian ketika dua orang berjubah naga itu saling bercakap - cakap ? Atau-kah suatu tugas yang lain lagi ?
Akan tetapi urusan itu segera dikesampingkan dan Liu Pang lalu mengajak para pembantunya berunding. Para pimpinan itu berniat untuk meng-gempur kota di sebelah depan, akan tetapi Liu Pang menentang keinginan mereka. "Jangan ke-rahkan semua tenaga ke sana. Biarlah sepasukan kecil saja mengacau di situ. Kita perlu mengge-rakkan seluruh kekuatan kita menuju ke kota raja. jangan sampai kita kedahuluan oleh pasukan pem-berontak Chu Siang Yu." Liu Pang lalu mencerita-kan pengalamannya ketika dia melihat para tokoh sesat yang kini dipergunakan pula oleh para pem-berontak.
Maka diaturlah siasat mereka dan pembagian kerja. Hek - coa Ouw Kui Lam, satu - satunya di antara Huang - ho Su - hiap yang masih hidup, ju-ga pernah menjadi guru Pek Lian, menerima tugas memimpin seribu orang pasukan untuk menggem-pur dan mengacau kota di sebelah depan. Hal ini juga amat penting untuk menutupi gerakan mereka yang sebenarnya, yaitu gerakan ke utara, menuju kota raja. Pasukan mereka amat besar kini, setelah banyak petani dan pasukan - pasukan pemerintah yang kalah datang menggabungkan diri. Sampai laksaan orang. Pasukan besar ini terpaksa harus dibagi-bagi menjadi beberapa kelompok. Kelom-pok terkuat berada di depan dan dipimpin oleh Liu Pang sendiri, dibantu oleh para pendekar Thian-kiam - pang. Ho Pek Lian memimpin pasukan per-bekalan, dibantu oleh para pendekar yang lain dan di belakang sekali terdapat sebuah pasukan lain yang menjadi penjaga bagian belakang agar ja-ngan sampai terjadi pembokongan dari pihak mu-suh. Yap Kiong Lee, pendekar yang dianggap pa-ling lihai di antara mereka semua, bertugas seba-gai penghubung antar pasukan - pasukan itu.
Pagi-pagi sekali, pasukan-pasukan inipun bergerak setelah pasukan yang dipimpin Hek - coa Ouw Kui Lam mulai melakukan penyerangan ke-pada kota di depan. Sehari penuh pasukan - pasu-kan itu bergerak dan di waktu matahari terbenam tibalah mereka di suatu lembah yang dikelilingi bukit-bukit. Mereka lalu berkemah dan Liu Pang sendiri menempati sebuah bekas pesanggrahan yang terdapat di tempat itu. Kota besar Pao-keng yang menjadi kota benteng penting untuk kota raja, terletak hanya belasan li di sebelah depan, di balik bukit. Setelah mereka berhasil menguasai kota Pao - keng, maka mereka akan berhadapan dengan benteng kota raja sendiri! Maka, Liu Pang lalu memilih tempat ini sebagai pusat atau benteng in-duk.
Malam itu amatlah sunyi. Pasukan yang sudah sehari penuh melakukan perialanan yang cukup melelahkan memanfaatkan waktu itu untuk beristi-rahat. Akan tetapi mereka tidak lepas dari kewas-padaan. Setiap kemah diiaga dengan ketat dan bergilir. Liu Pang sendiri bersama Yap Kiong Lee nampak meronda mengelilingi perkemahah. Hal ini membesarkan semangat para perajurit dan seti-ap peronda yang bertemu dengan pemimpin besar ini tentu memberi hormat dengan tegapnya.
Di perkemahan para pemimpin terjadi kete-gangan sedikit ketika nampak seorang pejuang atau pendekar ditegur oleh peronda karena me-masuki daerah penjagaan mereka. Orang itu ber-tubuh gendut agak pendek, kepalanya yang botak gundul ditutupi sebuah kopyah warna hitam. Su-kar ditaksir usianya karena malam itu gelap, akan tetapi dari sinar api unggun di luar kemah dapat diketahui bahwa dia bukanlah muda lagi.
"Siapa engkau berani memasuki tempat ini tanpa ijin !" bentak peronda dan enam orang pen-jaga sudah menghampirinya.
"Hemm, apakah kalian tidak melihat bendera pengenalku ini ?" Orang itu mengacungkan sebu-ah bendera kecil, tanda bahwa dia adalah seorang utusan dari pasukan perbekalan yang dipimpin oleh nona Ho Pek Lian. "Aku diutus untuk meng-hadap Panglima Yap Kim."
"Engkau juga anggauta barisan kita, tentu eng-
kau sudah tahu akan peraturannya! Untuk meng-
hadap Panglima Yap Kim, harus menanti dan kami
akan membuat laporan dulu. Bukannya berindap-
indap seperti maling begitu!" kepala jaga mem-
bentak marah. Mendengar ini, sepasang mata itu
melotot dan mukanya berobah gelap mengerikan.
Kemudian orang pendek gendut itu tersenyum me-
nyeringai, lalu menggerakkan kedua tangan ke de-
pan seperti orang menghormat. "Aku salah
aku salah maafkanlah!" Setelah berkata de-
mikian, diapun membalikkan tubuhnya dan pergi.
Akan tetapi, pada saat itu, terjadilah kegem-paran di antara para penjaga. Seorang demi seo-rang menjerit dan roboh, tubuh mereka kejang-kejang dan mata mereka mendelik, mulut berbuih dan kulit tubuh mereka, terutama di bagian muka nampak kehijauan. Tentu saja jeritan-jeritan me-reka menarik perhatian. Semua orang keluar dan dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ke-tika melihat enam orang penjaga itu tewas tak la-ma kemudian, tewas dalam keadaan mengerikan karena muka mereka berobah hijau. Tentu saja suasana menjadi gempar dan orang-orang mulai mencari - cari orang pendek gendut tadi.
Sementara itu, si pendek gendut memperguna-kan kesempatan selagi keadaan kacau untuk menyelinap mendekati perkemahan terbesar. Dengan gerakan yang amat gesit dia berhasil menyelinap masuk. Akan tetapi ketika dia tiba di sebuah ru-angan, mendadak muncul Pek Lian yang juga su-dah mendengar akan adanya keributan itu. Si gendut tidak sempat bersembunyi lagi dan perjum-paan itu tidak dapat dihindarkan.
"Kau ! Si Kelabang Hijau! Awas !
Siapppp , ada pengacau di sini!" Pek Lian
berteriak-teriak setelah mengenal si pendek gen-dut itu yang bukan lain adalah Thian - te Tok - ong atau Ceng-ya-kang, Si Kelabang Hijau yang me-rupakan tokoh ke lima dari Tujuh Iblis Ban - kwi-to! Pek Lian tahu bahwa dalam hal ilmu silat, memang tokoh ini tidak sangat lihai, akan tetapi Raja Racun ini sungguh amat berbahaya dengan racun - racunnya.
Ketika banyak penjaga menyerbu ke situ, Pek Lian cepat berseru, "Awias, dia membawa racun-racun berbahaya. Jangan dekati dia!"
Akan tetapi banyak di antara para penjaga yang marah - marah karena mendengar bahwa orang ini sudah membunuh enam orang penjaga, tidak perduli dan mereka sudah menerjang dengan senjata mereka. Akan tetapi, iblis gendut itu me-niupkan sesuatu ke arah mereka dan orang-orang itupun berjatuhan dan kejang - kejang keracunan !
"Iblis busuk !" Pek Lian membentak dan me-nyerang dengan pedangnya. Ia berhati-hati maka ketika si gendut meniupkan racun ke arahnya, Pek Lian dapat meloncat ke samping, mengelak sambil menggerakkan pedangnya menyerang dari samping. Karena ilmu pedang nona Ho Pek Lian cukup berbahaya, tokoh ke tujuh Pulau Ban - kwi-to itupun tidak berani lengah dan cepat dia meng-elak mundur. Pek Lian merasa sukar untuk da-pat menangkap atau merobohkan tokoh ini. Per-tama, bagaimanapun juga, tingkat kepandaiannya sudah kalah, apa lagi ditambah dengan kehebatan kakek itu dalam menggunakan racun, membuat ia tidak berani terlalu mendekatinya. Tiba - tiba ter-dengar bentakan nyaring dan muncullah Yap Kim.
"Engkau !" bentak Yap Kim melihat be-
kas sahabatnya itu. "Keparat, apakah engkau mau
membiusku lagi ?"
Melihat pemuda tampan ini, wajah yang me-nyeramkan itu berseri, akan tetapi agaknya ben-takan Yap Kim membuat alisnya berkerut dan ha-tinya tertusuk. "Aih, adikku yang baik, janganlah berkata kasar begitu. Telah lama aku mencarimu, mari engkau ikut pergi bersamaku." Suaranya ha-lus dan penuh bujukan. Pada saat itu, Liu Pang dan para pendekar lain sudah pula berada di situ dan Yap Kim yang sudah marah sekali, kini me-nubruk maju dan menyerang dengan pedangnya. Sepasang pedangnya berkelebatan menjadi dua gulung sinar dan pemuda itu telah mainkan sepasang pedangnya dengan Ilmu Pedang Langit yang amat ampuh dari perguruannya.
Menghadapi serangan Yap Kim, Si Kelabang Hijau terdesak. Dia merasa sayang kepada Yap Kim, maka masih merasa ragu - ragu untuk men-celakai pemuda itu. Melihat lawan terdesak, de-ngan kemunculan Yap Kim, hati Pek Lian menjadi besar dan dengan penuh semangat, gadis inipun maju membantu Yap Kim. Pemuda ini terkejut se-kali dan cepat mencegah.
"Nona, jangan dekat "
Akan tetapi terlambat sudah. Nampak asap mengepul dan Pek Lian mengeluh. Tahu - tahu tubuhnya sudah disambar oleh Si Kelabang Hijau. Dalam keadaan pingsan, nona itu berada dalam kekuasaan si gendut pendek yang mengangkatnya tinggi - tinggi di atas kepala.
"Ha - ha, majulah kalian dan nona ini akan ku-bunuh lebih dulu !"
Melihat ini, Yap Kim menjadi pucat dan tidak berani bergerak. Suasana menjadi tegang. "Tahan, jangan menyerangnya !" Tiba - tiba Liu Pang mem-bentak keras melarang para penjaga yang marah dan hendak menyerang orang itu.
"Ha - ha, itu baru baik. Nah, Kim - te, ayo eng-kau ikut bersamaku, kalau tidak, nona ini akan ku-bunuh di depanmu !"
Yap Kim ragu - ragu. Liu Pang juga menjadi tak berdaya dan serba salah. Tiba - tiba Yap Kim mendengar bisikan suara kakaknya, mengiang di dekat telinganya, "Kim - sute, turuti kemauannya dan bawalah dia lewat mayat - mayat di luar itu. Aku akan menolong."
Singkat saja pesan itu akan tetapi Yap Kim mengerti sudah. Sambil tersenyum pahit seperti orang yang tidak berdaya lagi diapun menyimpan sepasang pedangnya. "Tidak ada pilihan lain ba-giku kecuali menuruti kehendakmu, Tok - ong. A-kan tetapi, awas, kalau engkau mengganggu nona itu aku bersumpah untuk membunuhmu!" Dia sengaja bersikap keras agar lawan tidak curiga akan adanya siasat kakaknya, dan juga untuk mem-beri kesempatan kepada kakaknya melakukan sia-sat yang belum dia ketahui bagaimana itu.
"Heh-heh, baiklah, adikku yang ganteng. Ma-ri, engkau membuka jalan, aku tidak mau kalau ada kecurangan."
Yap Kim lalu melangkah keluar, memperlihat-kan sikap ragu - ragu dan bingung. Seperti taripa disengaja, dia berjalan melalui mayat-mayat para penjaga yang tadi roboh dan tewas menjadi korban keganasan racun Si Kelabang Hijau. Ratusan pe-rajurit berbaris di kanan kiri, siap dengan senjata mereka. Akan tetapi Liu Pang selalu menahan me-reka agar jangan turun tangan. Semua orang ber-gerak memberi jalan ketika Yap Kim dan Si Kela-bang Hijau yang masih memondong tubuh Pek Lian yang pingsan itu lewat. Diam - diam tokoh ke lima Ban - kwi - to itu bergidik juga ketika me-lewati barisan perajurit yang semua memandang kepadanya penuh kebencian itu.
Yap Kim kini melalui depan pos penjagaan di mana terdapat mayat-mayat malang melintang, yaitu mayat para penjaga yang tadi dibunuh oleh Si Kelabang Hijau. Tokoh sesat ini, sambil me-mondong tubuh Pek Lian, mengikuti langkah-langkah Yap Kim, melangkahi mayat-mayat itu sambil menyeringai dan memandang ke arah para perajurit -ang berdiri di kanan kiri.
"Heh - heh, kaliaa lihat mereka ini! Jangan
memaksa aku membunuh lagi. Begitu ada yang
bergerak melawanku, aku akan membuang racun-
racun yang akan membunuh seluruh pasukan yang
berada di sini. Yang tidak langsung mati akan ter-
siksa, tubuhnya akan ditumbuhi jamur-jamur me-
nular yang tidak dapat diobati dan nyerinya bu-
kan main, heh - heh - heh. Dan dia akan mati per-
lahan - lahan aduhhh !!"
Ketika sambil mengejek tadi Si Kelabang Hi-jau melangkahi sesosok mayat lainnya, tiba-tiba "mayat" itu menggerakkan tangan dan iblis itu-pun terjungkal dan tubuhnya lemas karena terto-tok, sedangkan tubuh Pek Lian sudah pindah ke tangan "mayat" itu yang bukan lain adalah Yap Kiong Lee! Kiranya pendekar ini merebahkan diri di antara mayat-mayat itu dan ketika Yap Kim mengenal suhengnya yang rebah miring, segera dia tahu siasat apa yang dijalankan kakaknya itu, ma-ka diapun lalu melangkahi tubuh kakaknya.
Melihat iblis itu terjungkal dan Pek Lian sudah
diselamatkan, para perajurit bersorak dan mereka
itu langsung saja menggerakkan senjata untuk me-
lumatkan tubuh iblis itu. Tiba - tiba, membuat se-
mua orang terkejut sekali, terdengar suara me-
lengking tinggi disusul bentakan, "Tahan !
Jangan serang dia !!!"
Tentu saja semua orang, termasuk Yap Kim dan Liu Pang yang sudah mengejar ke situ, terkejut dan heran mendengar bahwa Yap Kiong Lee yang membentak melarang semua orang membunuh Si Kelabang Hijau.
"Suheng, iblis ini layak mampus !" Yap
Kim sendiri sampai menegur suhengnya atau ka-kak angkatnya itu.
Akan tetapi Kiong Lee tidak menjawab, mela-inkan melangkah mendekati Si Kelabang Hijau sehingga timbul dugaan di hati semua orang bahwa pemuda ini hendak membunuh iblis itu dengan ta-ngannya sendiri maka mencegah orang lain mem-bunuhnya. Akan tetapi Kiong Lee hanya memben-tak, "Iblis keji, hayo serahkan obat penawar ra-cunmu untuk nona Ho !"
Barulah semua orang tahu dan Liu Pang cepat memandang ke arah wajah Pek Lian yang berada di pondongan pemuda murid pertama dari Thian kiam - pang itu. Kiranya wajah itu pucat kehijauan seperti wajah mayat! Terkejutlah dia dan seperti juga Yap Kim, kini dia mengerti mengapa tadi Kiong Lee melarang iblis itu dibunuh. Tentu ka-rena satu - satunya orang yang dapat menolong nyawa Pek Lian hanya ibhs itu sendiri!
Dugaan Liu Pang dan Yap Kim memang tepat. Begitu merampas tubuh Pek Lian dari tangan Si Kelabang Hijau, Kiong Lee merasa sesuatu yang tidak wajar pada diri gadis itu. Cepat dia meme-riksa dan tahulah dia bahwa iblis itu telah mera-cuni Pek Lian ! Sungguh licik dan keji sekali iblis itu, lebih dahulu menciptakan perisai atau sema-cam sandera agar dia tidak sampai dicelakai lawan. Maka Kiong Lee lalu melarang iblis itu diserang.
Si Kelabang Hijau tak mampu bergerak. Hebat sekali totokan jago muda Thian - kiam - pang itu. Akan tetapi dia masih mampu menggerakkan ma-ta dan mulutnya untuk bicara.
"Heh - heh - heh, satu nyawa ditukar satu nya-wa, itu sudah adil namanya. Bunuhlah aku, dan aku akan pergi berdua bersama nona manis itu ke alam baka. Betapa menggembirakan! Mungkin dia akan menjadi pelayanku di sana, tidak ada yang melindunginya seperti di sini, heh-heh-heh !"
Tentu saja Kiong Lee dan semua orang marah sekali. Kalau mungkin, mereka tentu takkan se-gan untuk mencincang hancur tubuh ibhs itu. A-kan tetapi Kiong Lee menahan kemarahannya.
"Keluarkanlah obat penawarnya dan kami akan membebaskanmu."
"Heh - heh, bagaimana aku dapat memperca-yaimu ?"
"Iblis busuk! Aku adalah seorang pendekar, bukan seorang penjahat macam engkau!" Kiong Lee membentak. Pemuda yang pendiam ini marah juga mendengar kata - kata yang menghina itu.
"Uhhh, siapa percaya ucapan pendekar ?"
Kiong Lee sadar bahwa iblis ini sengaja mem-bakar hatinya, maka diapun menjadi tenang kem-bali. Menghadapi iblis Ban - kwi - to harus tenang dan tidak boleh menuruti perasaan marah.
"Lalu apa kehendakmu ? Nona Ho terancam maut, akan tetapi engkaupun tak mungkin dapat terlepas dari ancaman maut."
"Hanya ada satu orang yang kupercaya janji-nya, dia adalah Liu - bengcu. Biarkan dia yang berjanji bertukar nyawa, dan aku akan percaya."
Liu Pang melangkah maju. Menghadapi orang jahat seperti itu, yang amat keji, haruslah tegas. "Baiklah, aku berjanji akan membebaskanmu ka-lau engkau memberikan obat penawar racun untuk nona Ho Pek Lian."
"Bagus ! Nah, bebaskan aku."
Terpaksa Kiong Lee membebaskan totokannya dan siap untuk menghantam kalau - kalau iblis itu melakukan kecurangan. Akan tetapi, setelah kini tidak ada sandera di tangannya, Si Kelabang Hijau juga tidak terlalu bodoh untuk menggunakan keke-rasan. Sambil menyeringai dia mengeluarkan se-bungkus obat seperti gajih, lalu mengoleskan obat itu pada leher Pek Lian di mana terdapat luka ke-cil berwarna hijau gelap bekas tusukan jarumnya. "Minumkan pel ini padanya," katanya menyerah-kan tiga butir obat pel berwarna merah kepada Kiong Lee.
Dengan bantuan Yap Kim, Kiong Lee lalu me-maksakan tiga butir pel itu memasuki perut Pek Lian. Tak lama kemudian, gadis itu mengeluh dan membuka matanya, warna hijau pada kulit muka-nyapun meluntur dan akhirnya hilang. Begitu sa-dar dan melihat Si Kelabang Hijau, Pek Lian men-cabut pedangnya yang tadi terlepas dan sudah di-sarungkan kembali oleh Yap Kim. Akan tetapi Liu Pang meipegang lengannya, kemudian pemim-pin ini memberi perintah kepada para pembantu-nya.
"Biarkan dia pergi!"
Semua orang mengepal tinju dan menggigit gigi saking gemasnya melihat betapa iblis itu dibi-arkan pergi. Iblis itu telah membunuh banyak pe-rajurit dan sekarang terpaksa dibiarkan pergi be-gitu saja! Sebaliknya, sambil menyeringai dan ter-tawa ha - ha - hi - hi Si Kelabang Hijau yang mera-sa kecewa sekali karena tidak berhasil membawa pergi Yap Kim, bahkan mengalami kekalahan, me-mandang kepada mereka semua dan berkata meng-ancam, "Awas kalian semua! Beberapa hari lagi akan kuhancurkan kalian dengan pasukan kami yang tidak kalah banyaknya dengan pasukan ka-lian !" Diapun pergi tanpa diganggu karena tidak ada yang berani melanggar janji sang pemimpin.
Setelah iblis itu pergi, Liu Pang memerintahkan agar mayat para perajurit diurus baik - baik dan agar penjagaan dilakukan lebih ketat lagi. Kemu-dian dia mengajak semua pembantunya masuk ke-mah dan berunding.
Liu Pang mengerutkan alisnya, nampak khawa-tir. "Ancaman iblis tadi bukanlah gertak sambal belaka. Aku sudah melihat sendiri betapa para iblis Ban - kwi - to telah bersekutu dengan pem be-rontak dan pasukan asing. Hanya belum kita keta-hui berapa besarnya kekuatan mereka dan di mana mereka bersarang. Untuk mengetahui keadaan me-reka ini amatlah penting, maka biarlah besok aku akan pergi lagi bersama nona Ho untuk melakukan penyelidikan."
Para pembantunya menyatakan tidak setuju dan kekhawatiran mereka kalau kembali pemimpin me-reka akan pergi sendiri melakukan penyelidikan. Akan tetapi pemimpin besar itu membantah. "Pe-nyelidikan ini merupakan suatu tindakan perju-angan yang amat penting, maka harus aku sendiri yang pergi. Sementara itu, sebagai wakil yang menggantikan aku memimpin barisan kita, kuse-rahkan kepada saudara muda Yap Kim."
Semua pemimpin menyambut gemibira karena mereka sudah mengenal kegagahan pemuda ini. Akan tetapi Yap Kim sendiri menjadi gugup dan wajahnya berobah, tangannya digoyang - goyang menolak. "Aih, Liu - twako, mana saya berani me-nerima tugas yang demikian amat pentingnya ?
Saya saya masih terlalu muda, saya tidak berani menerimanya "
"Saya kira, kedudukan wakil bengcu itu dapat diserahkan kepada saudara Yap Kiong Lee yang memiliki kepandaian paling tinggi di antara kita,  dan dibantu oleh saudara Yap Kim " kata Pek Lian.
Akhirnya Yap Kim menerima pula kedudukan wakil bengcu itu dan pada keesokan harinya pagi - pagi buta, Liu Pang dan Pek Lian berangkat melakukan perjalanan mereka untuk menyelidiki keadaan musuh.
Liu Pang menyamar sebagai seorang dusun pencari kayu sedangkan Pek Lian juga mengena-kan pakaian sederhana seorang gadis dusun de-ngan bertopi lebar dan kulit mukanya yang pu-tih mulus itu dilumuri warna kecoklatan sehingga kecantikannya tidak lagi menyolok. Sambil me-mikul kayu kering, berangkatlah Liu Pang bersa-ma muridnya yang dalam penyamaran itu diaku sebagai anaknya.
"Suhu, kita menuju ke manakah ?" tanya Pek Lilan setelah mereka keluar dari dalam hutan yang menjadi pintu masuk benteng mereka itu.
"Pasukan musuh itu hanya berselisih setengah malam saja dengan barisan kita, dan mereka juga menuju ke arah barat laut. Tentu mereka menuju ke kota raja. Kita harus berjalan menuju ke barat, tentu akan bertemu dengan barisan mereka."
Mereka melakukan perjalanan cepat menuju ke barat. Akan tetapi setelah lewat setengah hari dan matahari sudah naik tinggi di atas kepala mereka, belum juga mereka bertemu dengan barisan mu-suh. Mereka melihat suasana panik dan kacau su-dah melanda kota - kota dan dusun - dusun yang mereka lalui. Berita tentang kemungkinan pecah-nya perang sudah sampai di daerah dekat kota ra-ja dan banyak penduduk yang merasa resah dan siap - siap mengemasi barang agar memudahkan mereka kalau sewaktu - waktu harus lari mengung-si.
Karena merasa lapar dan perlu beristirahat, Liu Pang dan Pek Lian lalu memasuki sebuah kedai makan di sebuah kota kecil. Baru saja mereka ma-kan, datang empat orang laki - laki berpakaian pemburu dan wajah serta tubuh mereka nampak lesu dan lelah. Pemilik kedai makanan menyam-but mereka yang agaknya sudah menjadi langga-nan lama.
"MANA hasil buruan kalian ? Apakah sudah habis terjual semua ? Aih, agaknya kalian lupa untuk menyisihkan daging kijang untukku !" katanya ramah.
Seorang di antara mereka yang pipinya codet bekas terluka kuku harimau, mengeluh dan men-jawab, "Ah, A - kiu, engkau tidak tahu betapa si-alnya kami! Sebetulnya kami telah memperoleh hasil buruan yang lumayan juga. Akan tetapi ke-marin sore kami bertemu dengan pasukan tentara yang banyak sekali dan mereka itu dikawlal orang-orang yang memiliki ilmu seperti iblis. Hasil buru-an kami dirampas semua, bahkan nyaris kami dibu-nuh kalau kami tidak cepat - cepat melarikan diri."
"Tapi tapi kalian adalah orang - orang gagah " Pemilik warung itu merasa penasaran.
"Hemm, apa daya kami melawan pasukan be-sar? Apa lagi mereka dikawal oleh orang-orang kang - ouw yang menyeramkan. Bayangkan saja, seorang di antara mereka yang seperti raksasa ma-kan seekor anak harimau hidup - hidup !"
"Hidup - hidup ?" Mata pemilik warung terbe-lalak.
"Ya, induk harimau kami robohkan dan tewas,  anaknya masih hidup kami tangkap. Ketika dirampas oleh mereka raksasa itu langsung menerkam anak harimau dan tanpa membunuhnya lebih dulu, tanpa memanggang dagingnya, begitu saja leher anak harimau itu digigit dan darahnya dihisap."
"Hiiihhh !" Pemilik kedai itu bergidik dan nampak ketakutan, lalu mengundurkan diri untuk mempersiapkan hidangan bagi empat orang lang-ganannya. Tentu saja Liu Pang dan Pek Lian yang mendengarkan semua itu merasa tertarik dan juga girang. Besar kemungkinan yang diceritakan me-reka itu adalah pasukan musuh yang mereka sedang kejar dan cari.
"Ah, keamanan terancam oleh perang "
Liu Pang mendekati mereka dan berkata. "Kami orang - orang dusun sungguh merasa bingung harus mengungsi ke mana. Kalau boleh saya bertanya, di manakah saudara sekalian bertemu dengan pa-sukan itu ?" Dengan gaya bahasa dusun, Liu Pang dapat mengelabuhi empat orang pemburu itu yang agaknya masih merasa tegang sehingga mereka suka sekali menceritakan pengalaman hebat yang baru saja mereka temui itu. Dengan pancingan-pancingan yang tidak kentara, akhirnya Liu Pang dapat mengumpulkan keterangan bahwa pasukan itu adalah pasukan besar yang mengawal iring-iringan kereta para pembesar beserta keluarganya, dan bahwa di antara para pemimpinnya terdapat orang-orang kang-ouw yang menyeramkan. Dari keterangan mereka, Liu Pang dapat mengetahui bahwa semua tokoh Ban - kwi - to telah lengkap bersama pasukan musuh itu.
Dengan aksi seolah - olah ketakutan dan hen-dak cepat pulang untuk mempersiapkan keluarga-nya mengungsi, Liu Pang mengajak Pek Lian me-ninggalkan kedai dan kota kecil itu.
"Wah, sungguh berbahaya ! Semua tokoh Ban-kwi - to agaknya sudah lengkap berkumpul dan membantu pasukan musuh. Belum lagi tokoh-to-koh sesat yang lain dan belum kita ketahui. Mari kita cepat menyusul dan menyelidiki keadaan me-reka."
Akan tetapi, ketika mereka tiba di tepi kota, mereka melihat dua orang laki - laki tua berjubah coklat sedang berjalan dengan cepat. Melihat me-reka, Liu Pang berbisik kepada muridnya, "Lihat, orang - orang Liong - i - pang itu lagi! Mau apa mereka ? Dan di mana Lai - goanswe yang mereka culik ?"
Guru dan murid ini cepat membayangi mereka yang berjalan cepat keluar kota. Baiknya mereka mengjambil jalan di sepanjang jalan umum yang cukup ramai sehingga perbuatan guru dan murid itu tidak menarik perhatian. Pek Lian yang pernah bentrok dengan kedua orang kakek Liong - i - parig itu, membenamkan topinya lebih dalam untuk me-nyembunyikan mukanya.
Dua orang berjubah naga itu menuju ke sebuah kedai arak yang berdiri terpencil sendirian di se-buah tikungan jalan. Di sinilah para pedagang, pe-rantau, dan mereka yang kebetulan lewat di jalan raya ini, melepaskan lelah dan makan minum. Me-lihat warung arak ini, Pek Lian terkejut. "Suhu, teecu pernah melihat tempat ini." Ia lalu mence-ritakan betapa ia pernah bersama Seng Kun dan Bwee Hong dalam perjalanan mencari ayahnya dahulu itu, sampai di warung ini. Di sinilah ia berjumpa dengan A-hai yang menjadi tukang pengantar arak dan kusir gerobak arak. Di tempat ini pula muncul tokoh - tokoh sesat anak buah Raja Kelelawar, yaitu San - hek - houw dan Si Buaya Sakti yang kemudian menawan Seng Kun dan A-hai.
Liu Pang berbisik kepada muridnya agar ber-hati - hati. Setelah dia meneliti penyamaran murid-nya dan merasa yakin bahwa penyamaran itu cu-kup sempurna, mereka berdua lalu memasuki wa-rung itu pula, memilih tempat di sudut sebelah dalam. Matahari mulai condong ke barat dan wa-jah mereka tertutup bayangan dinding, akan tetapi dari tempat itu mereka dapat melihat dua orang Liong -i-pang itu dengan jelas
Dua orang Liong-i-pang itu duduk di kursi agak luar dan tak lama kemudian, selagi mereka berdua minum, datanglah seorang pemuda yang memakai jubah hijau. Pemuda itu disambut oleh kedua orang Liong - i - pang, duduk semeja dan mengeluarkan sehelai surat untuk diserahkan ke-pada dua orang itu.
Tiba - tiba nampak, bayangan orang berkelebat cepat dan tahu-tahu seorang wanita cantik telah menerjang ke arah kakek jubah coklat yang tinggi besar dan yang sedang membaca surat. Penye-rangan itu dibarengi bantuan dua orang lain yang juga menyerang si pemegang surat sedangkan wa-nita cantik itu memukul tangan yang memegang surat untuk merampas surat itu. Hebat dan cepat sekali gerakan wanita cantik itu bersama dua orang kawannya, akan tetapi kakek jubah naga itu lebih hebat lagi. Dia memang terkejut diserang tiba-tiba, akan tetapi sambil membentak keras, kedua tangannya bergerak dan tubuhnya bangkit berdiri. Sekaligus dia menangkis dan akibatnya, wanita cantik itu bersama dua orang kawannya terdorong sampai terjengkang dan terhuyung! Akan tetapi, surat yang dipegang oleh kakek jubah naga itu ter-lepas dan terdorong oleh angin pukulan mereka yang berkelahi, surat itu terbang ke dekat meja di mana Liu Pang dan Pek Lian duduk.
Dua orang kakek Liong - i - pang itu memang lihai bukan main. Padahal, dengan kaget sekali Pek Lian mengenal bahwa wanita cantik itu adalah Pek-pi Siauw-kwi Si Maling Cantik, tokoh sesat yang amat lihai itu! Dan empat orang temannya juga kesemuanya memiliki gerakan yang lihai tan-da bahwa mereka bukan orang - orang sembarang-an. Namun, mereka berlima itu kewalahan meng-hadapi dua orang kakek Liong - i - pang. Bahkan, kakek Liong - i - pang yang tinggi besar, yang di-kenal oleh Pek Lian sebagai Bhong Kim Cu yang pernah menyerbu ke rumah keluarga Bu Kek Siang, dengan tendangannya membuat Maling Cantik kembali terhuyung. Ketika itu, Maling Can-tik hendak menubruk surat yang terlepas tadi, akan tetapi ia terhuyung oleh tendangan dan kakek Bhong Kim Cu kini telah menyambar kembali su-rat yang tadi terlepas dan memasukkannya ke da-lam saku jubahnya.
Melihat betapa ia dan kawan-kawannya ke-walahan, Si Maling Cantik lalu mengeluarkan sua-ra tinggi melengking, lalu bersama empat orang kawannya iapun meloncat keluar warung melari-kan diri. Dua orang kakek jubah coklat tidak me-ngejar, melainkan cepat membayar harga minum-an dan meninggalkan tempat itu pula.
Tinggal Liu Pang dan Pek Lian yang masih duduk di situ. Warung itu sudah sepi karena per-kelahian tadi membuat semiua tamu lari cerai-be-rai ketakutan. "Tadi aku sempat membaca bebera-pa huruf di surat itu. Sayang aku tidak dapat merampasnya. Aku membaca beberapa huruf yang penting, yaitu kata - kata "kaisar", "pemberontak-an", dan "Pesanggrahan Hutan Cemara". Huruf-huruf itu dapat memberi petunjuk. Tentu ada hu-bungannya dengan kaisar, juga dengan pemberon-takan."
"Dan apa artinya Pesanggrahan Hutan Cemara itu, suhu ?" Pek Lian bertanya.
"Aku sedang memikirkan itu ah, sekarang  aku ingat., Tak jauh dari sini, di puncak bukit ter-dapat sebuah hutan cemara dan memang di situ terdapat sebuah pesanggrahan milik kaisar yang di-pergunakan untuk beristirahat di waktu berburu di hutan - hutan liar di balik bukit. Tentu ada apa-apa di sana. Mari kita ke sana !"
Mereka lalu membayar harga minuman dan me-ninggalkan pemilik kedai yang mengomel panjang pendek karena perkelahian itu amat merugikannya. Banyak tamu yang lari tanpa lebih dulu memba-yar harga makanan dan minuman, juga ada bebe-rapa buah bangku dan meja yang rusak, belum la-gi perabot - perabot makan yang pecah - pecah.
Hutan cemara itu memang merupakan tempat indah dan tidak mengherankan apa bila kaisar me-merintahkan pembangunan sebuah pesanggrahan di tempat ini. Hutan itu cukup luas dan di tengah-tengah hutan, dikurung pohon - pohon cemara, ter-dapat sebuah danau. Pesanggrahan yang merupa-kan bangunan indah itu berdiri di tepi danau, agak ke tengah sehingga sebagian besar bangunan itu dikelilingi danau. Air danau yang jernih meman-tulkan bayangan pesanggrahan, mendatangkan pe-mandangan yang amat indah.
Liu Pang dan Pek Lian tiba di hutan itu men-jelang tengah malam. Dengan hati-hati sekali mereka memasuki hutan. Ketika mereka menye-linap di antara pohon-pohon cemara memasuki hutan hendak menuju ke bangunan pesanggrahan di tepi danau, tiba-tiba mereka mendengar suara orang berkelahi dan dengan berindap - indap me-rekapun menuju ke arah suara itu.
Setelah mereka dapat mendekati tempat per-kelahian itu, di bawah sinar bulan mereka dapat mengenal tiga orang yang sedang berkelahi itu. Kiranya pemuda Tai - bong - pai, yaitu Song - bun-kwi Kwa Sun Tek, putera ketua Tai—bong-pai yang lihai dan yang bersekongkol dengan orang-orang asing dan para pembesar yang mengkhianati pemerintah, kini sedang bertanding dikeroyok dua oleh orang - orang berjubah biru dan rambutnya riap - riapan. Di situ berdiri pula empat orang ber-jubah hijau menonton perkelahian.
Kini nampak betapa Kwa Sun Tek Si Setan Berkabung itu mengeluarkan ilmu silatnya yang aneh, yaitu Ilmu Silat Pukulan Mayat Hidup dan seorang di antara kedua pengeroyoknya yang me-nangkis pukulan itu, terjengkang! Seperti lengan mayat yang kaku, Kwa Sun Tek mencengkeram ke depan, ke arah orang ke dua yang mengeroyoknya sambil membalikkan tubuh. Orang inipun me-nangkis dengan tangan kirinya.
"Plakk!" Dan tubuh orang inipun terpelanting. Akan tetapi, kedua orang jubah biru itupun lihai sekali. Mereka sudah mampu berloncatan bangun kembali dan dibantu oleh empat orang kawan me-reka yang berjubah hijau, mereka maju lagi. Kwa Sun Tek dikeroyok enam orang yang lihai. Namun, pemuda tampan berwajah dingin menyeramkan se-perti wajah mayat ini tidak gentar dan gerakan-gerakannya yang aneh membuat enam orang pe-ngeroyoknya bahkan kewalahan. Akan tetapi, se-orang di antara dua kakek berjubah biru kini me-ngeluarkan suitan - suitan nyaring, agaknya untuk memanggil teman - temannya.
Melihat ini, Kwa Sun Tek terkejut sekali. Ta-dinya dia sedang melakukan penyelidikan ke dae-rah yang akan dilewati barisannya. Tak disangka-nya di situ bertemu dengan orang - orang Liong - i-pang yang lihai dan agaknya banyak anggauta Liong - i - pang berada di situ. Untung dia hanya bertemu yang berjubah hijau dan biru saja, yang tingkatnya masih belum tinggi. Kalau berjumpa dengan yang tingkatnya lebih tinggi, tentu dia ce-laka. Berpikir demikian, Kwu Sun Tek berkelebat pergi melarikan diri dari tempat itu.
Liu Pang yang mengintai merasa bimbang. Ingin dia membayangi pemuda Tai - bong - pai itu, akan tetapi diapun ingin sekali menyelidiki apa yang dilakukan oleh perkumpulan Liong - i - pang maka mereka berkumpul di tempat ini. Dia meng-ambil keputusan untuk menyelidiki tempat itu. A-pa lagi, pemuda Tai-bong-pai itu lihai sekali. Kalau dia bersama muridnya melakukan pengejar-an dan membayanginya, hal itu amatlah berbaha-ya. Dia harus menyelidiki barisan itu dengan cara yang lebih aman dan bersembunyi.
Setelah Kwa Sun Tek pergi, seorang di antara dua kakek berjubah biru itu berkata kepada te-man - temannya, "Orang itu lihai sekali. Seorang yang berkepandaian tinggi telah menemukan tem-pat ini. Mungkin dia tadi seorang di antara kaki tangan Perdana Menteri Li Su dan sekutunya. Si-apa tahu kalau orang tadi diutus untuk mencari Tong - taihiap. Kita harus cepat memberi laporan ke dalam. Hayo !"
Enam orang itu lalu memasuki hutan. Liu Pang memberi tanda kepada muridnya dan merekapun cepat membayangi. Bulan kadang - kadang tertu-tup awan sehingga memudahkan guru dan murid ini melakukan pengintaian tanpa diketahui enam orang itu. Akan tetapi, ketika enam orang itu me masuki bangunan pesanggrahan, Liu Pang tidak berani mengambil jalan dari pintu depan. Dia mengajak muridnya untuk mengambil jalan dari belakang, melalui air danau dan mereka berenang di antara pohon - pohon teratai yang rimbun. Karena permukaan air itu cukup gelap, dengan agak menjauh dari gurunya, Pek Lian berani berenang dengan telanjang bulat, membawa pakaiannya di atas kepala. Juga Liu Pang yang berenang lebih dahulu, melepaskan pakaiannya. Setelah tiba di bagian belakang bangunan, barulah mereka menge-nakan pakaian mereka. Mereka bergantung pada tiang-tiang bangunan dan menanti dengan hati-hati sekali. Dalam keadaan seperti ini, Pek Lian termenung.
Banyak sudah yang aneh - aneh dialaminya se-menjak ayahnya ditawan, semenjak di istana terjadi kekacauan. Kini hidupnya sebatangkara dan sete-lah kini berdekatan dengan gurunya, baru terasa olehnya bahwa di dalam diri gurunya ini dia me-nemukan pengganti segala - galanya. Pengganti orang tua, juga pengganti guru - gurunya yang ke-banyakan telah gugur dalam perjuangan, penggan-ti sahabat - sahabatnya yang kini berpisah darinya. Kalau dia teringat kepada A-hai, jantungnya ma-sih berdebar keras. Entah bagaimana, di. dalam hatinya terdapat suatu perasaan yang aneh terha-dap pemuda yang aneh itu. Akan tetapi, iapun ha-rus mengakui bahwa gurunya ini juga mendapat-kan tempat yang istimewa dalam hatinya! Liu Pang yang usianya belum ada empatpuluh tahun mi juga hidup sendirian. Isterinya gugur dalam perjuangan pula dan belum mempunyai anak. Dan iapun dapat merasakan sesuatu yang aneh dalam pandangan Liu Pang terhadap dirinya, walaupun ia tidak berani memastikan apakah gurunya itu ja-tuh cinta kepadanya, seperti juga ia sendiri tidak tahu apakah ia mencinta A-hai, ataukah mencinta Liu Pang, bahkan ia tidak tahu pasti apakah ada orang yang dicintanya !
Tiba-tiba gurunya memberi isyarat. Mereka ta-di duduk di tiang melintang di permukaan air. Ada suara di sebelah kiri dan suhunya kini sudah me-manjat tiang bangunan yang terendam air. Iapun mengikuti jejak gurunya, memanjat tiang ke dua. Setelah tiba di atas, kini mereka dapat mengintai ke dalam, juga suara mereka yang sedang berca-kap - cakap di dalam itu terdengar cukup jelas. Mereka berdua mengenal suara Tong Ciak yang berjuluk Pek - lui - kong itu. Si pendek cebol yang amat lihai dan menjadi jagoan istana itu. Liu Pang dan Pek lian mengintai dan Pek Lian merasa jantungnya seperti hendak copot saking kagetnya. Pek - lui - kong Tong Ciak yang lihai itu ternyata sedang bercakap - cakap dengan seorang kakek be-rambut putih yang amat dikenalnya dan kakek ini bahkan lebih sakti dibandingkan dengan Tong Ciak. Kakek itu berpakaian serba putih sederhana dan dia bukan lain adalah Yap Cu Kiat atau Yap-lojin, ketua Thian - kiam - pang, ayah kandung Yap Kim dan ayah angkat Yap Kiong Lee ! Untunglah bahwa air danau itu mengeluarkan bunyi. Riak air itulah yang menyelamatkan guru dan murid itu sehingga kemunculan mereka tidak didengar oleh dua orang sakti yang berada di dalam pesanggrah-an. Si Malaikat Halilintar Tong Ciak tidak mema-kai pakaian seragam, melainkan memakai pakaian biasa dan sebuah topi caping lebar. Kiranya dia sedang menyamar. Sikapnya amat menghormat terhadap Yap - lojin dan suaranya seperti orang melapor kepada atasannya ketika dia berkata,
"Locianpwe, ternyata bahwa kaisar telah benar-benar dibunuh oleh mereka. Persekutuan pengkhi-anat itu telah menyewa orang-orang dari golong-an hitam untuk menjatuhkan sri baginda kaisar. Kaisar telah dibunuh oleh mereka di pantai timur. Rencana ini sebenarnya telah diketahui Sang Pu-teri Siang Houw Nio - nio, dan beliau telah meng-utus saya ke tempat itu. Namun, kedatangan saya terlambat. Kaisar telah mereka bunuh dan saya hanya mampu merebut dan melarikan jenazah sri baginda saja."
Yap - lojin mengangguk - angguk dan menarik napas panjang. "Kelemahan sri baginda sendirilah yang menciptakan munculnya pengkhianat - peng-khianat." Sementara itu, Liu Pang merasakan tu-buhnya menggigil. Kaisar telah dibunuh oleh pa-ra pengkhianat itu! Betapapun juga, dia masih mempunyai perasaan setia kepada kaisar dan men-dengar nasib kaisar itu, tanpa disadarinya, kedua matanya menjadi basah. Kaisar dibunuh orang dan jenazahnya sampai dibuat rebutan !

Bersambung

34                                                                                                                            36