Selasa, 04 Juni 2013

DARAH PENDEKAR 34

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Bab 34
Mereka menduga - duga akan tetapi tidak me-nemukan jawaban yang masuk akal sehingga akhir-nya Seng Kun terpaksa membuang sangkaannya dan membenarkan pendapat Bwee Hong dan A-hai bahwa orang tadi hanyalah seorang pedagang ikan asin yang kebetulan memiliki bentuk tubuh yang serupa dengan Pek - lui - kong Tong Ciak. Mem-bayangkan kemungkinan ini, Seng Kun menterta-wakan kekhawatirannya sendiri.
Pada saat itu, pemilik warung kecil itu mende-kati mereka dengan wajah berseri karena sepagi itu sudah ada tamu datang ke warungnya. Wa-rungnya hanyalah sebuah kedai makan yang se-derhana dan pagi itu hanya menyediakan bubur, nasi, sedikit sayur kemarin dan ikan asin. Ketika dia menanyakan pesanan mereka, tiba - tiba saja dengan cepat A-hai berkata, "Aku minta ayam panggang satu!"
Mendengar pesanan yang tak masuk akal meli-hat warung itu hanya sederhana sekali, Bwee Hong dan Seng Kun memandang kepada A-hai dan hen-dak menegurnya. Akan tetapi pada saat itu, pemi-lik warung memandang kepada A-hai dan kelihat-an terkejut sekali.
"Kongcu !" Dia berseru. "Aih, saya be nar - benar linglung, tidak mengenali kongcu. Habis, kongcu berpakaian seperti ini sih! Di mana nona kecil ? Tentu sekarang sudah besar, ya ? Sudah empat tahun lebih kongcu tidak singgah di si ni. Ya, sejak Gu - lojin meninggal dunia."
Bwee Hong dan Seng Kun terkejut dan meman-dang heran, akan tetapi yang lebih heran dan bi-ngung lagi adalah A-hai sendiri. Dia memandang dengan alis berkerut, akan tetapi sedikitpun dia ti-dak mengenal orang itu. Jantungnya berdebar ke-ras dan dengan hati tegang dia bangkit berdiri, ta-ngannya menyambar baju pemilik warung itu dan dengan gemetar dia berseru, "Engkau engkau mengenal siapa aku ? Ah, cepat katakan! Siapa-kah aku ini ? Siapa pula nona kecil yang kauta-nyakan itu ?"
Si pemilik warung menjadi pucat dan ketakut-an. Apa lagi karena cengkeraman tangan A-hai pada bajunya demikian keras dan pemuda yang tegap itu kelihatan melotot dari memandang kepa-danya dengan mata berapi-api. "Ahhh, kongcu  eh, aku aku mungkin yang salah lihat! Mungkin "
Beberapa orang yang duduk di dalam warung dan sedang makan bubur, menjadi terkejut melihat adegan itu dan wajah mereka membayangkan rasa hati yang tidak senang. Melihat ini, Seng Kun cepat melerai.
Sabarlah, saudara A-hai, jangan membuat onar di sini. Kita adalah orang asing di tempat ini. Tenangkah dan mari bicara baik-baik." A-hai terpaksa melepaskan cengkeramannya dan dengan wajah agak pucat diapun duduk kembali. Bwee Hong lalu memesan makanan nasi, sayur dan ikan asin.
"Tenanglah, saudara A-hai," Seng Kun berbi-sik. "Sabar saja, nanti setelah makanan dihidang-kan, dengan halus kita menanyakan hal itu kepa-danya."
Tiga orang tamu pertama telah meninggalkan warung dan kesempatan ini dipergunakan oleh Seng Kun. Ketika pemilik warung datang meng-hidangkan pesanan mereka, dengan suara halus Seng Kun bertanya, "Paman, tolong ceritakan ba-gaimana engkau sampai mengenal teman kami ini?"
Kakek pemilik warung itu nampak gugup. Dia  menggeleng kepala, memandang kepada A-hai sejenak, lalu menggeleng kepala lagi. "Tidak, saya tidak mengenalnya. Maaf, saya tadi telah salah lihat, maaf "
"Sungguh, paman, kami tidak apa - apa. Kami hanya ingin tahu siapa yang paman sebut kongcu tadi. Kami tidak bermaksud buruk, paman." Bwee Hong ikut membujuk dengan suara yang halus. Melihat sikap gadis ini, hati si pemilik warung agak berani dan kalau tadi dia tidak berani bicara adalah karena sikap A-hai yang kasar. Maka dia-pun berceritalah.
"Saya memang mengenal seorang kongcu yang  wajahnya mirip sekali dengan tuan ini. Saya tidak  tahu nama lengkapnya, kami hanya menyebut dia Souw-kongcu saja. Juga kami tidak mengenal nama lengkap dari Gu - lojin yang sering dikunjungi  oleh Souw - kongcu. Dia selalu singgah di warung kami ini apa bila mengunjungi Gu - lojin yang ber diam di tengah hutan itu. Dan Souw - kongcu itu kalau singgah ke sini tentu selalu memesan ayam panggang! Sebenarnya kami tidak menjualnya,  akan tetapi khusus untuk dia, saya tentu menyembelihkan ayam kami sendiri. Dan dia ini eh, maksud saya beliau itu sering pula mengajak puterinya yang mungil ehh !"
TUKANG warung itu menghentikan cerita-nya karena terkejut melihat betapa tiga orang pendengarnya itu tersentak. A-hai terkejut sekali karena merasa ada sesuatu menyentuh pe-rasaan hatinya ketika pemilik warung itu menye-but tentang seorang gadis kecil. Mungkinkah aku sudah mempunyai anak, pikirnya dengan keras. Sementara itu, Bwee Hong merasa kaget dan se-perti ada sesuatu yang hilang ketika mendengar bahwa yang disebut kongcu itu telah mempunyai seorang puteri. Dengan wajah agak berobah pu-cat ia memandang kepada A-hai yang nampak termangu - mangu dan seperti orang yang berusa-ha mengingat-ingat sesuatu dengan sia-sia. Seng Kun sendiri termangu - mangu dan penuh dugaan, akan tetapi jelas bahwa dia merasa sangat tertarik.
Tiba - tiba A-hai menggebrak meja dan menangis tersedu - sedu, menelungkupkan mukanya di atas meja. "A-hai A-hai ...... engkau manusia gila! Siapakah sebenarnya diriku ini ?"
Kakak beradik itu merasa terharu sekali dan dari kanan kiri mereka merangkul pundak A-hai.
"Saudara A-hai, harap jangan khawatir. Kami akan membantumu menyelidiki segala sesuatu ten-tang dirimu. Tenanglah, siapa tahu kita akan da-pat membuka tabir rahasiamu di tempat ini."
Setelah dibujuk oleh kakak beradik itu, A-hai  berhenti menangis, mengusap air matanya dengan kedua kepalan tangannya dan diapun tersenyum masam, "Terima kasih, kalian sungguh amat baik kepadaku "
Seng Kun lalu berkata kepada pemilik warung itu, suaranya membujuk, "Paman, kami bertiga sungguh tidak ingin menyusahkan paman dan kami tidak mempunyai niat buruk. Akan tetapi, terus terang saja kami merasa amat tertarik akan cerita paman tentang kongcu itu, dan juga tentang Gu-lojin. Kami tentu akan mtemberi imbalan jasa ke-padamu kalau engkau suka menceritakan sejujur-nya kepada kami tentang kongcu itu, dan tentang Gu-lojin. Ceritakanlah, paman, apakah kongcu itu sering membawa teman kalau dia sedang mem-beli makanan di sini?"
Pemilik warung itu menggeleng kepala. "Souw-kongcu tidak pernah membawa teman maupun pengawal. Dia sakti bukan main. Lihat , saya  mempunyai pedang eh, golok besar peninggalan Souw - kongcu." Pemilik warung itu berlari ke dalam dan tak lama kemudian dia sudah kem-bali lagi sambil membawa sebuah golok yang tebal dan besar, kelihatan berat sekali dan golok itu di-bawanya dengan kedua tangannya. Seng Kun ber-tiga segera melihat dan memeriksa golok itu. Go-lok itu tebalnya hampir dua senti, dan di bagian tengah somplak seperti terkena pukulan benda ke-ras. Ketika Bwee Hong memeriksa lebih teliti, ia terkejut sekali. Gadis itu melihat betapa di tem-pat yang somplak dari golok itu terdapat tiga buah lubang dan susunan lubang itu persis seperti tiga buah tonjolan yang terdapat di pelipis kiri A-hai, yaitu berbentuk segi tiga !
"Tolong kauceritakan tentang golok ini, pa-man." Seng Kun membujuk pemilik warung itu.
"Golok besar ini milik seorang bajak sungai yang mampir di dusun ini, dan kebetulan dia me-masuki warung saya. Pada saat itu, kebetulan pu-la Souw - kongcu sedang berada di sini menikmati eh, ayam panggangnya." Dia melirik ke arah A-hai dengan takut - takut, dan pada saat itu A-hai juga sedang menghadapi pesanannya tadi, yaitu panggang ayam ! "Bajak sungai membuat onar di sini. Souw - kongcu menjadi marah dan mereka berkelahi. Akan tetapi baru segebrakan saja, bajak itu tewas ! Golok besarnya yang dipakai menang-kis jari - jari tangan Souw - kongcu somplak dan jari - jari itu tetap mengenai pelipis bajak sungai sehingga roboh dan tewas seketika."
Tiga orang itu mendengarkan dengan penuh takjub. Bwee Hong saling berpandangan dengan kakaknya. "Jari tangan ? Jadi ini bekas jari ta-ngan ?" Ia menunjuk ke arah lubang - lubang pada golok itu dan melirik ke arah pelipis A-hai. Ke-duanya mulai mengerti sekarang. Mereka berdua melihat betapa susunan bekas jari tangan pada go-lok itu sama benar dengan susunan tiga tonjolan pada pelipis A-hai. Dan bekas - bekas jari itu tentu merupakan semacam ilmu menotok yang amat ampuh dan kuat. Entah ilmu totok apa dan dari perguruan mana mereka tidak mengenalnya dan tidak dapat menduganya. Akan tetapi mereka merasa yakin bahwa antara A-hai dan perguruan itu tentu ada hubungannya yang dekat, entah se-bagai kawan ataukah sebagai lawan.
Seng Kun mengerutkan alisnya. Dia sejak tadi mengingat-ingat, perguruan mana yang memiliki ilmu menotok tiga jari yang bekasnya merupakan bentuk segi tiga seperti itu, akan tetapi dia tidak ingat, atau juga mungkin belum pernah mende-ngarnya. Tiba-tiba dia bangkit berdiri. Mereka sudah selesai makan karena tadi mereka bicara sambil makan. "Paman, tolong kautunjukkan di mana rumah Gu - lojin itu."
"Benar, paman. Bantulah kami. Kalau tidak ada yang menjaga, tutup sebentar warungmu ini dan kami akan memberi kerugian kepadamu," sam-bung Bwee Hong dengan sikap manis.
Kakek pemilik warung itu mempunyai seorang pembantu, maka setelah memesan kepada pemban-tunya, diapun lalu mengantar tiga orang tamunya pergi ke hutan tak jauh dari dusun itu. "Biarlah saya mengantar sam - wi, bukan karena upahnya melainkan mengingat bahwa mendiang Gu - lojin adalah seorang yang amat baik, sedangkan Souw - kongcu amat ramah dan dermawan. Rumah mendiang Gu - lojin itu tidak jauh dari sini, beliau tinggal seorang diri dan kesukaannya adalah me-lukis. Marilah!"
Memang benar keterangan kakek itu. Hutan itu tidak jauh letaknya dari dusun dan di tengah hutan itu terdapat sebuah rumah yang sudah rusak kare-na tidak terawat. Gentengnya banyak yang pecah dan bocor. Pintunya sudah miring hampir roboh dan dinding rumah itupun banyak yang pecah ka-rena diterjang akar - akar pohon yang menutupi rumah itu.
Seng Kun dan adiknya yang sejak tadi diam-diam memperhatikan A-hai, melihat sesuatu yang aneh pada diri orang muda ini. Begitu memasuki hutan, A-hai berjalan seperti dengan sendirinya menuju ke rumah itu dan setiba di situ, seperti orang gila A-hai lari ke sana - sini mengitari ru-mah, seperti orang yang sedang mencari - cari se-suatu. Seng Kun menyentuh lengan adiknya dan memberi isyarat agar membiarkan saja apapun yang akan dilakukan oleh A-hai.
A-hai memasuki rumah itu dan tak lama ke-mudian diapun keluar dari kamar belakang dan tangannya membawa sebuah boneka dari batu giok yang amat indah. Ukiran pada boneka itu amat halus dan ternyata boneka itu adalah patung se-orang puteri bangsawan istana dengan rambut di-sanggul tinggi. Cantik bukan main boneka itu dan kakak beradik itu diam - diam amat mengaguminya karena boneka itu terbuat dari pada batu giok hijau yang jernih warnanya.
Tanpa berkata - kata, A-hai memberikan boneka itu kepada Bwee Hong yang menerimanya dan memeriksanya bersama Seng Kun. "Koko, boneka giok ini merupakan benda yang tak ternilai harganya. Eh ada tulisan di bawah alas kakinya.
Coba lihat, ukiran tulisannya kecil-kecil namun jelas."
"Bagaimana bunyinya ?" tanya Seng Kun.
"Hadiah ulang tahun untuk puteriku Lian Cu." Bwee Hong membaca.
Tiba - tiba A-hai kembali lari ke sana - sini mencari sesuatu. Dia berhenti di depan sebuah batu nisan yang hampir terpendam di bawah ta-nah. Melihat pemuda itu mengamati batu nisan seperti orang linglung, si pemilik warung mendekatinya.
"Saudara Seng Kun, nona Hong, cepatlah kalian beri tahu padaku akan asal - usulku. Siapakah se-benarnya aku ini ? Siapakah bocah perempuan ke-cil itu ? Jangan - jangan ia benar - benar anakku. Lihat boneka itu, aku seperti telah mengenalnya baik - baik. Benarkah aku adalah Souw - kongcu itu, seperti yang dikatakan oleh pemilik warung ini ? Aihh, kenapa Gu - lojin ini juga sudah mati sehingga kita tidak dapat bertanya kepadanya "
A-hai kelihatan amat berduka memandang ke arah batu nisan.
Melihat keadaan A-hai dan mendengar ratap-annya, hati Bwee Hong tergerak dan tanpa disa-darinya lagi iapun menghampiri orang muda itu, duduk di dekatnya dan membujuknya. Bwee Hong merasa iba hati melihat A-hai, biarpun ia merasa betapa di dalam hatinya terdapat suatu kegetiran. Hatinya tergores setelah ia menduga bahwa besar kemungkinan A-hai adalah Souw - kongcu yang telah mempunyai seorang puteri. Di luar kesadar-annya sendiri, dara yang cantik jelita ini telah ja-tuh hati kepada A-hai!
"Saudara A-hai, janganlah terlalu berduka.
Percayalah, aku akan membantumu untuk menyelidiki rahasia tentang dirimu, percayalah " kata gadis itu dengan suara halus dan menggetar penuh perasaan. A-hai yang sedang hanyut da-lam kedukaan, begitu ada uluran tangan, tanpa sa-dar diapun menangkap tangan yang kecil mungil itu dan menggenggamnya dengan erat. Gerakan ini membuat Bwee Hong hampir tak dapat mena-han air matanya dan sejenak ia membiarkan ta-ngannya digenggam pemuda itu sebelum dengan halus ia menariknya dan iapun duduk berdekatan dengan A-hai.
Melihat keadaan mereka ini, diam - diam Seng Kun menjadi prihatin dan serba salah. "Apakah ini tanda bahwa adikku jatuh cinta kepadanya ? Aih, kalau begitu, sungguh kasihan sekali Hong- moi "
Ketika kakak beradik itu mengajak A-hai kem-bali ke dusun karena matahari telah condong ke barat, A-hai menolak keras. "Tidak, aku akan tinggal di sini dan bermalam di sini. Biarpun aku sendiri tidak ingat dan tidak tahu, akan tetapi aku merasa bahwa aku dekat sekali dengan tempat ini. Kalian berdua pulanglah ke dusun dan biarkan aku sendiri malam ini tidur di sini," katanya ber-keras.
Akan tetapi kakak beradik itu, terutama sekali Bwee Hong, tidak tega membiarkan A-hai tinggal di situ seorang diri. Mereka khawatir kalau - kalau terjadi sesuatu menimpa diri pemuda yang masih kehilangan ingatannya itu. Maka mereka lalu me-nyuruh si pemilik warung pulang ke dusun terle-bih dahulu dan mereka hendak menemani A-hai bermalam di rumah tua itu.
Seng Kun dan Bwee Hong membiarkan A-hai yang masih duduk termenung di depan batu nisan kuburan. Mereka lalu memasuki rumah, member-sihkan ruangan yang tidak bocor untuk dipakai beristirahat malam nanti.
"Bagaimana pendapatmu tentang A-hai, Hong-moi ?" tanya Seng Kun ketika mereka sedang sibuk bekeria membersihkan ruangan itu.
"Koko, agaknya kita telah sampai pada ujung dari tabir rahas;a kehidupan masa lalunya. Aku yakin bahwa tidak lama lagi kita akan dapat mem-beri tahu kepadanya siapa sebenarnya dia. Penye-lidikan itu dapat kita mulai dari tempat ini, yang kita temukan secara kebetulan sekali."
"Maksudmu ?" Seng Kun menegas.
"Engkau tentu ingat betapa secara tidak senga-ja dia menemukan terowongan di bawah sungai itu, kemudian ketika dia memesan ayam panggang dan ketika dia menemukan boneka giok tadi ? Pada saat - saat itu dia hanya dibimbing oleh nalurinya saja. Dia tidak mempergunakan akal dan pikiran, tidak mempergunakan otak. Mungkin kalau pada saat dia hendak menyeberangi sungai dia tidak membayangkan ayam panggang, dia akan kebi-ngungan dan tidak tahu bagaimana harus menye-berang. Karena dia melamunkan ayam panggang, maka nalurinya yang menuntunnya pergi ke tem-pat terowongan itu. Seperti halnya kalau kita pu-lang ke rumah sendiri, kita tidak usah harus ber-pikir lagi ke mana kita akan berbelok. Gerakan ka-ki kita seperti terjadi dengan sendirinya."
"Engkau benar," Seng Kun mengangguk. "Dan itu berarti bahwa tempat - tempat ini sudah sa-ngat dikenalnya dahulu. Tempat dan suasana itu-lah yang menlbuat dia tiba - tiba menginginkan ayam panggang pada saat perutnya terasa lapar, secara otomatis dia menginginkan ayam panggang yang dipesannya di warung itu, dan otomatis pu-la merabawa kakinya menuju ke terowongan. Dan karena dia mengenal baik tempat ini pula maka nalurinya menuntunnya menemukan boneka dan batu nisan."
"Koko, itu berarti bahwa A-hai adalah Souw - kongcu itu, bukan ? Souw - kongcu yang sudah punya isteri dan anak ?" Dalam pertanyaan ini terkandung suara yang getir.
Seng Kun dapat merasakan rial ini, akan tetapi diapun terpaksa mengangguk membenarkan. "Ku-rasa demikian. Kini kita tinggal melanjutkan pe-nyelidikan kita. Siapakah Souw - kongcu itu ? To-koh dari mana ?"
"Hemm, menurut penuturan pemilik warung, tentu dia itu seorang pendekar yang lihai sekali dan bekas tangannya masih nampak pada golok itu."
"Akan tetapi kalau benar dia itu Souw - kongcu yang lihai itu, kenapa justeru pelipisnya sendiri terluka oleh totokan tiga jari yang hebat itu ? A-dikku, kita harus menyelidiki lebih teliti sebelum mengambil kesimpulan. Belum tentu dia itu Souw - kongcu yang pandai menotok tiga jari da-lam bentuk segi tiga. Mungkin A-hai ini kakak atau adiknya, atau sanak keluarganya yang mem-punyai wajah mirip sehingga penjaga warung itu mengenalnya."
Mendengar ucapan ini, tentu saja timbul lagi harapan di dalam hati Bwee Hong dan wajahnya nampak berseri. Hal ini tidak terlepas dari penga-matan Seng Kun dan kakak ini menarik napas panjang. Benar - benar ia sudah jatuh cinta, pikir-nya.
Pada saat itu A-hai melangkah masuk dan membantu mereka membersihkan ruangan itu. Setelah selesai, mereka duduk di atas lantai yang sudah bersih. "Saudara A-hai, tempat ini sepi dan tenang. Bagaimana kalau kami mulai memeriksa penyakirmu ?" kata Seng Kun.
A-hai mengangguk. "Silahkan."
Seng Kun, dibantu oleh adiknya, lalu mulai melakukan pemeriksaan. Mula - mula dia meme-riksa mata, lalu lidah dan tenggorokan, dan de-ngan amat teliti dia memeriksa denyut nadi kedua pergelangan tangan A-hai. Di dalam pengobatan tradisionil Tiongkok, pemeriksaan lewat denyut nadi merupakan bagian yang terpenting. Seorang yang sudah ahli benar, dapat merasakan gejala-gejala macam penyakit lewat denyut urat nadi itu. Setelah melakukan pemeriksaan dengan teliti, ma-kin yakinlah hati kakak dan adik itu bahwa sum-ber penyakit yang menghilangkan ingatan A-hai terletak pada kekacauan jalan darah di kepala ! Maka Seng Kun lalu langsung memeriksa pelipis kiri.
Seng Kun meraba - raba pelipis itu, kemudian menggunakan jarum perak menoreh kulit di sekitar benjolan - benjolan itu. Darah menetes dan dia memperhatikan tetesan darah yang keluar, kemu-dian menyuruh Bwee Hong memeriksa darah itu dengan seksama. Akhirnya, setelah memeriksa dengan teliti, Seng Kun menarik napas panjang.
"Saudara A-hai, benjolan - benjolan di pelipis-mu ini adalah akibat terkena ilmu totok urat yang amat hebat. Melihat bekas dan akibat totokan ini, aku mempunyai dugaan bahwa ilmu itu adalah se-macam Sam - ci Tiam - hwe - louw (Ilmu Totok Tiga Jari) yang luar biasa ampuhnya dan yang me-mang khusus untuk menotok urat - urat kematian. Akan tetapi entah karena ilmu kepandaian si pe-notok itu yang belum sempurna ataukah karena il-mu kepandaianmu yang lebih unggul dari padanya, akibat dari totokan itu tidak sampai menewaskan-mu, melainkan hanya mengakibatkan memar di urat jalan darah yang tertotok. Memar itu menye-babkan darah matang menyumbat hiat - to (jalan darah) yang menuju ke otak tidak mendapatkan aliran darah yang wajar seperti biasanya. Tentu saja hal ini membuat otak tidak dapat bekerja de-ngan baik. Masih untung bahwa totokan itu hanya mengakibatkan tersumbatnya jalan darah menuju ke bagian otak yang depan saja sehingga engkau masih mampu berpikir walaupun sebagian lagi te-lah tidak bekerja sehingga engkau tidak ingat akan masa lalumu. Kalau totokan itu mengakibatkan tersumbatnya jalan darah ke semua bagian dari otak, engkau akan hidup seperti seorang bayi yang tidak pernah mengetahui apa - apa !"
Mendengar keterangan terperinci ini, Bwee Hong merasa bulu tengkuknya meremang.
"Akan tetapi, koko. Kenapa pada waktu ku-mat, dia memperoleh kembali ingatan - ingatannya walaupun hanya sebagian saja ?"
Kakaknya mengangguk - angguk. "Mudah di-perkirakan, Hong - moi. Engkau pernah mengata-kan bahwa manusia mempunyai naluri. Nah, aku yakin bahwa ada suatu peristiwa yang sangat ber-pengaruh atas naluri saudara A-hai pernah terjadi di masa lalunya. Kita tidak tahu persis apa adanya peristiwa itu, akan tetapi mudah diperkirakan bah-wa peristiwa itu ada hubungannya dengan darah manusia. Maka apa bila dia melihat genangan da-rah, otomatis terjadilah guncangan hebat pada ba-tinnya. Nah, akibat guncangan batin yang hebat inilah maka jantungnya bekerja beberapa kali le-bih keras dari biasanya. Dan karena jantung be-kerja keras, tentu saja tekanan aliran darah menja-di sedemikian kuatnya sehingga darah dapat juga sedikit menembus sumbatan itu dan dapat menga-lir ke otak yang kering itu, biarpun hanya dengan sukar sekali. Dengan demikian, untuk saat - saat itu otak yang membeku dapat bekerja kembali wa-laupun belum sempurna benar. Dan setelah pe-ngaruh guncangan itu habis, maka berhenti pula aliran darah itu. Engkau tadi melihat, ketika aku menusukkan jarum di bagian atas dan bawah ben-jolkan, aliran darahnya berbeda - beda, ada yang tetesannya cukup deras ada pula yang sama sekali tidak keluar ?"
Bwee Hong mengangguk - angguk kagum se-dangkan A-hai hanya mendengarkan dengan be-ngong saja.
"Kun - ko, engkau sungguh hebat. Keterangan-
mu dapat menjelaskan persoalannya. Lalu menga-pa apa bila saudara A-hai sedang kumat dia me-lupakan semua orang ? Termasuk juga kita ?"
Seng Kun tersenyum. "Aku sudah memperhati-kan hal itu. Lihatlah satu tonjolan ini tidak berada di dalam urat, akan tetapi mengenai bagian di luar urat. Inilah yang menyelamatkan saudara A-hai, selamat dari kelumpuhan total dari otaknya. Akan tetapi tonjolan ini justeru terletak dalam kumpulan otot - otot pelipis dan rahang. Dengan demikian, apa bila otot - otot itu mengejang karena saudara A-hai sedang marah, tonjolan itu malah mende-sak dan menghimpit urat di dekatnya dengan oto-matis. Dengan demikian, maka bagian yang nor-mal dari otak itulah yang justeru tidak kebagian darah karena himpitan itu. Mengertikah engkau?"
Bwee Hong mengangguk. "Akan tetapi, lalu bagaimanakah agar supaya aliran darah ke otak itu dapat terbuka kembali semuanya sehingga otak dapat bekerja kembali dengan wajar ?"
"Inilah yang harus kita kerjakan, yaitu berusaha menghilangkan sumbatan - sumbatan itu. Akan tetapi hal ini tidaklah mudah. Darah yang me-ngental itu sudah sedemikian kerasnya sehingga aku khawatir kekuatan obat saia tidak akan mam-pu mencairkannya kembali. Padahal kalau kita menghilangkannya dengan pembedahan, berarti kita akan merusak pembuluh darah dan ini berbahaya sekali. Satu - satunya cara ialah membuat lubang darurat di bagian darah yang mengental itu.
Akan tetapi cara seperti itu bukan merupakan pengobatan yang sekaligus dapat menyembuhkan.
Setiap setahun sekali, harus dibuat lagi lubang baru karena lubang yang lama itu lambat - laun akan
tertutup lagi oleh darah. Dan itu berarti saudara A-hai ini akan selalu tergantung kepada kita yang harus membuatkan lubang darurat baru setiap tahun. Nah, sekarang terserah kepada saudara A-hai sendiri."
"Saudara Seng Kun dan nona Hong ! Lakukan-lah sesuka hati kalian terhadap diriku. Aku me-nyerah sepenuhnya kepada kalian. Pokoknya aku bisa tahu siapa sebenarnya aku ini !"
Seng Kun mengangguk girang. Sebagai seorang ahli pengpbatan, tentu saja menghadapi seorang dengan gangguan penyakit seperti A-hai ini dia merasa ditantang dan dia akan merasa berbahagia sekali kalau dapat menanggulangi dan mengalah-kan penyakit itu. Dan kalau A-hai bersikap pa-srah, maka hal itu sudah merupakan bantuan yang amat besar artinya bagi pengobatannya.
"Baiklah kalau begitu. Akan tetapi sebelum membuat lubang pada bagian darah kental yang menyumbat jalan darah itu, lebih dahulu aku akan membedah dan mengambil gumpalan darah yang berada di luar jalan darah, yang menghalang di kumpulan otot pelipis itu. Hal ini untuk mencegah agar otak yang normal tidak tertutup lagi ja-lan darahnya sewaktu engkau marah atau dalam keadaan kumat. Nah, Hong - moi, siapkan alat-nya dan mari kita bekerja !"
A-hai disuruh rebah miring ke kanan sehingga pelipis kirinya berada di atas. Dengan dibantu adiknya, Seng Kun duduk bersila di dekatnya, de-ngan teliti mengamati ketika Bwee Hong memper-gunakan jarum - jarumnya untuk menusuk bebera-pa jalan darah di tengkuk dan pundak. Tusuk-an - tusukan ini untuk menghilangkan rasa perih dan nyeri ketika pembedahan dilakukan. Kemudian mulailah Seng Kun mengerjakan pisaunya yang tajam. Karena pembedahan itu hanya kecil dan sederhana saja, hanya harus dilakukan dengan amat teliti dan hati - hati agar jangan sampai merusak jaringan darah, tak lama kemudian gumpal-an darah kental itu dapat dikeluarkan. A-hai tidak merasa sakit, dan baru setelah luka itu dijahit dan diobati, kemudian jarum - jarum yang menusuk beberapa bagian badan itu diambil, dia merasa betapa pelipisnya agak perih.
"Nah, saudara A-hai, mulai saat ini, biarpun engkau sedang kumat, engkau akan tetap mengenal siapa saja yang pernah kaukenal, termasuk kami," kata Seng Kun.
"Terima kasih, sungguh kalian selain pandai, juga amat berbudi," A-hai berkata dengan terha-ru.
Sementara itu, malampun tiba. Ruangan itu mulai gelap. Bwee Hong menyalakan lilin mem-buat penerangan. Kemudian mereka bertiga ma-kan roti kering yang dibawa sebagai bekal oleh gadis itu. Ketika Bwee Hong melihat betapa A-hai mengunyah roti itu dengan kaku, iapun tertawa.
"Saudara A-hai, untuk beberapa hari jahitan di pelipismu itu akan sedikit mengganggu apa bila engkau sedang makan."
"Ah, tidak apa. Yang penting kini sebagian pe-nyakit lupaku sudah hilang. Saudara Seng Kun, kapankah lubang di pembuluh darah itu akan di-buat ? Aku sudah tidak sabar lagi menanti."
"Hemm, saudara A-hai, jangan tergesa - gesa. Pembuatan lubang itu tidak boleh sembarangan. Harus dilakukan sedikit demi sedikit, setiap kali mau tidur malam. Kalau dibuat secara mendadak, besar bahayanya darah yang mengalir ke dalam otak terlalu banyak dan tiba - tiba itu akan mendatangkan guncangan. Jalan darah yang tersumbat itu seakan - akan air dibendung. Kalau bendungan itu dibuka secara tiba - tiba dan sekaligus, tentu akan terjadi banjir yang akan merusak saluran. Demikian pula dengan jalan darah itu, yang semula tersumbat sampai sekian lama, kalau dibuka sekaligus, ada bahayanya darah yang membanjir itu selain merusak jalan darah, juga dapat menimbulkan guncangan pada otak. Kesembuhan itu harus terjadi setahap demi setahap dan memerlukan kesabaran."
"Wah, kalau begitu, berapa kalikah aku harus mengalami tusukan jarummu untuk membuat lu-bang itu ?"
"Tidak terlalu banyak, kukira tidak lebih dari sepuluh kali tusukan atau sepuluh hari saja. Tidak terlalu lama, bukan ?"
"Kalau begitu, kuharap engkau suka mulai se-karang juga, lebih cepat lebih baik bagiku.
"Akan tetapi baru saja engkau mengalami pembedahan " Bwee Hong mencela.
"Tidak mengapa ! Aku sudah tidak merasakan nyeri lagi, nona."
"Baiklah kalau begitu, saudara A-hai. Nah, engkau rebahlah lagi seperti tadi. Akan tetapi se-kali ini, sehabis penusukan pertama, engkau harus tidur dan banyak istirahat, tidak boleh banyak ber-gerak."
A-hai mengangguk dan dengmi penuh semangat diapun merebahkan diri. Seng Kun menotok jalan darah di kedua pundak dan punggung sedangkan Bwee Hong lalu menusukkan jarum - ja-rumnya di sekitar pelipis. A-hai segera tertidur pulas oleh totokan - totokan dan tusukan jarum-jarum itu. Dengan hati-hati Seng Kun lalu mem-persiapkan jarumnya. Lebih dulu dia duduk melakukan siulian dan mengheningkan pikiran, kemudian mengumpulkan hawa murni disalurkan di kedua lengannya. Barulah dia berani melakukan pe-nusukan itu. Kedua tangannya bergerak mantap, jari - jari tangannya tidak gemetar dan sepasang matanya memandang tajam, setiap gerakan dilakukan dengan tepat. Dia tahu betapa berbahayanya pekerjaan yang dilakukannya itu. Sedikit saja meleset atau salah, ada bahaya nyawa A-hai akan melayang! Dia harus dapat menancapkan jarumnya mengenai sasaran, yaitu gumpalan darah itu, jangan sampai merusak pembuluh darah dan ja-ngan sampai mengenai jalan darah lain walaupun yang kecil sekali. Beberapa kali tusukannya masih belum menghasilkan apa - apa. Darah masih be lum menetes keluar. Dia mulai berkeringat, bah-kan Bwee Hong yang melayaninya juga mengelu-arkan peluh dingin karena dara inipun tahu akan besarnya bahaya yang mengancam nyawa A-hai.
Akhirnya, pada tusukan yang kesekian kalinya ketika jarum dicabut, nampak darah hitam sedikit mengalir keluar. Kakak beradik itu merasa sangat puas. Seng Kun menyudahi pekerjaannya.
"Untuk yang pertama kali cukuplah, biar dia tidur nyenyak. Mari kita keluar mencari hawa se-gar," kata Seng Kun sambil menyeka keringat yang memenuhi dahi dan lehernya.
"Baiklah, koko. Engkau keluarlah lebih dulu. Aku akan membersihkan alat - alat pengobatan kita dan menyimpannya. Nanti aku akan menyusul-mu keluar."
Seng Kun mengangguk dan melangkah keluar. Dia tahu bahwa adiknya itu masih belum tega me-ninggalkan A-hai seorang diri setelah menjalani pengobatan sangat berbahaya itu. Di luar hawa-nya sangat sejuk. Bulan sepotong yang melayang di antara awan - awan nampak indah sekali. Tanpa disadarinya, Seng Kun melangkah perlahan - lahan menuju ke makam Gu - lojin yang berada tidak jauh dari rumah tua itu.
Akan tetapi ketika dia sudah tiba di dekat ma-kam, mendadak dia menahan langkah kakinya dan matanya terbelalak. Di batu nisan itu nampak se-orang laki - laki duduk bersandar, matanya melo-tot dan lidahnya terjulur keluar. Jelaslah bahwa orang itu sudah mati ! Cepat Seng Kun mendekati dan memeriksanya. Kiranya orang itu adalah kakek penjaga warung, dan baru saja mati. Badannya masih hangat dan ketika Seng Kun memeriksa lehernya, dia mengumpat, "Sungguh kejam pembunuh itu ! Seperti iblis ! Orang ini mati karena diinjak lehernya. Bekas sepatu kaki penginjak itu masih nampak nyata."
Tiba - tiba Seng Kun meloncat bangkit berdiri dan siap siaga ketika dia mendengar suara ketawa parau dan lantang di dekatnya. Dia cepat meno-leh, akan tetapi tidak nampak bayangan orang. Dia mengerutkan alisnya. Tidak mungkin ada iblis ter-tawa. Tentu suara orang dan dia hampir yakin bahwa suara ketawa itu adalah suara si pembunuh kejam yang mentertawakannya. Dia merasa pena-saran dan marah. Orang sekejam itu pasti bukan orang baik - baik dan harus dilawannya. Maka dia-pun mencari ke arah suara ketawa yang kini terde-ngar lagi dari arah sungai. Akhirnya, di tepi sungai itu, nampak seorang laki - laki pendek gemuk duduk di atas batu, kakinya direndam di air dan mu-kanya menengadah memandang bulan. Laki-laki ini usianya hampir limapuluh tahun, tubuhnya pendek gemuk dengan perut yang gendut, tangan kirinya memegang sebatang tongkat besar berben-tuk alu, yaitu alat penumbuk padi, berwarna pu-tih. Itulah senjata yang berat dan keras, terbuat dari pada baja putih.
Melihat orang ini, hati Seng Kun terkejut. Dia mengenal senjata itu dan dia tahu bahwa dia ber-hadapan dengan orang ke dua dari Sam - ok, kawan dari San - hek - houw. Inilah Sin - go Mo Kai Ci, Si Buaya Sakti yang menjadi raja di antara bajak-bajak sungai, seorang di antara pembantu - pem-bantu Raja Kelelawar.
Selagi Seng Kun merasa ragu karena dia belum tahu benar apakah datuk sesat ini yang membunuh kakek pemilik warung, tiba - tiba si gendut pendek itu menoleh kepadanya dan bertanya, "Engkau mencari pembunuh tukang wjarung ?"
Tentu saja Seng Kun kaget dan mengangguk karena pertanyaan itu langsung mengenai perasaan hatinya yang sedang bertanya - tanya. Si gendut pendek itu tertawa. Di bawah sinar bulan, perut gendutnya bergerak - gerak naik turun dan karena kini dia sudah bangkit berdiri, dia kelihatan sekali pendeknya.
"Ha - ha - ha - ha, dan engkau akan menemaninya di sana!" Tiba - tiba saja tubuh yang gendut pendek itu meloncat. Demikian cepat gerakannya, sama sekali tidak pantas melihat tubuhnya yang gendut itu dan didahului oleh gulungan sinar pu-tih dari senjatanya, datuk sesat ini telah menyerang Seng Kun. Hebat sekali serangannya itu, mengan-dung tenaga yang kuat sehingga terdengar suara angin bersiutan menyambar - nyambar. Seng Kun maklum akan kelihaian lawan, maka diapun me-lawan sambil mengerahkan tenaganya dan karena dia bertangan kosong, maka dia mengandalkan ginkangnya yang hebat untuk menghindarkan diri dari ancaman senjata alu baja yang berat itu. Bi-arpun gerakannya amat cepat, namun ternyata Si Buaya Sakti itu lihai bukan main, bahkan diban-dingkan dengan San - hek - houw, dia tidak kalah lihai. Serangannya juga bersifat liar dan bahkan dia lebih ulet. Karena bertangan kosong, terpaksa Seng Kun beberapa kali menerima hantaman alu dengan tangkisan lengannya yang membuat dia beberapa kali terpelanting. Lewat tigapuluh jurus lebih, Seng Kun terdesak.
Tiba - tiba terdengar jeritan suara wanita dari dalam rumah tua. Tentu saja hati Seng Kun terkejut dan penuh kekhawatiran. Adiknya berada di dalam rumah tua itu dan yang mengeluarkan jeritan itu tentulah adiknya. Saking kaget dan khawatirnya, dia menoleh dan kesempatan ini dipergunakan oleh Sin - go Mo Kai Ci untuk men-cengkeram pundak Seng Kun dan pemuda itu seke-tika merasa tubuhnya lumpuh tidak mampu berge-rak lagi.
"Ha - ha - ha, engkau mendengar jeritan gadis itu ? Heh - heh, San - hek - houw tentu sedang memperkosanya. Heh - heh - heh !"
Seng Kun terbelalak dan roboh pingsan men-dengar kata - kata keji itu. Si Buaya Sakti tidak perduli, bahkan kelihatan gembira sekali. Dia me-nyeret tubuh Seng Kun ke arah rumah tua sambil berteriak - teriak.
"Heii, bangsat tua ! Sudah selesaikah engkau ? Nih, bocah itu telah kuhajar setengah mampus. Kurang ajar engkau! Katamu, ilmu kepandaian-nya bukan main hebatnya. Tidak tahunya cuma sebegitu saja!"
Akan tetapi, tidak ada jawaban dari dalam rumah. Si Buaya Sakti melemparkan tubuh Seng Kun ke dekat mayat pemilik warung, lalu dia du-duk di atas batu nisan, mulutnya memaki - maki dan menyumpah - nyumpah dengan suaranya yang tinggi melengking seperti suara wanita.
"Hayo, cepatlah! Bandot tua yang tidak tahu diri! Sudah mau masuk lobang kubur masih gemar main perempuan!" Akan tetapi tidak ada suara sedikitpun dari dalam rumah itu, tidak ada sedikitpun jawaban terhadap kata-kata dan ma-kiannya. Hal ini membuat Si Buaya Sakti menjadi semakin uring-uringan dan akhirnya dia merasa penasaran. Bagaimanapun juga, rekannya itu tidak akan berani menghinanya dengan membiarkan dia berteriak-teriak sendirian saja sejak tadi, seperti orang gila.
Dia lalu bangkit berdiri, meludah ke tanah, kemudian menyeringai dan berjalanlah dia menuju ke rumah tua itu. Sambil tersenyum - senyum nakal dia menghampirri jendela dan dengan lagak seorang bocah nakal diapun lalu mengintai ke dalam sambil cengar-cengir. Akan tetapi, matanya terbelalak dan liar mencari - cari. Kamar itu ko-song ! Tidak nampak ada gerakan orang di situ.
Tubuh yang gendut itu dengan ringannya me-layang masuk ruangan itu melalui jendela. Di atas lantai nampak seorang pemuda terlentang dalam keadaan tidur pulas. Di sudut ruangan itu terdapat pakaian si gadis berserakan. Akan tetapi gadis itu sendiri tidak berada di situ. Juga San - hek-houw tidak nampak bayangannya. Ke manakah mereka pergi ? Si Buaya Sakti mengepal tinju, mengamang - amangkan tinjunya ke atas lalu mem-banting-banting kakinya yang besar dan pendek itu ke atas lantai sampai rumah itu tergetar.
"Bedebah ! Keparat ! Bangsat hina ! Benar-benar kurang ajar! Teman disuruh berkelahi, sedangkan dia sendiri enak - enak pergi dengan pe-rempuan, bersenang - senang tanpa memperdulikan teman. Tanpa pamit lagi. Keparat, kuhajar eng-kau nanti!" Si Buaya Sakti menjadi marah bukan main, tubuhnya meloncat keluar lagi dan dengan beberapa kali loncatan saja dia sudah tiba di depan nisan. Karena dia sedang marah, dia lalu meng-hampiri tubuh Seng Kun yang terkapar di atas ta-nah ketika dia melemparkannya tadi dan dengan buas dia lalu menginjak sambil mengerahkan tena-ganya ke arah dadanya.
"Krekk! Krekkk! !"
Si Buaya Sakti terkejut bukan main. Korban yang diinjaknya itu lalu disepaknya dan diapun meludahinya. Daun - daun dan ranting - ranting berhamburan dari "tubuh" yang diinjaknya tadi.
"Gila! Anjing babi keparat jahanam laknat! Siapa berani mempermainkan Si Buaya Sakti ? Siapa yang bosan hidup di dunia ini dan berani main - main dengan aku ? Akan kulumatkan ke-palamu, kuhancurkan dadamu !" Alu baja itu di-amang - amangkannya dan matanya melotot, men-cari-cari ke segenap penjuru. Kiranya yang diin-jak dadanya tadi hanyalah pakaian yang diisi de-ngan daun-daun dan ranting-ranting kecil.
"Aku berada di sini !" Suara itu halus dan ter-dengar perlahan dari atas sebatang pohon tua yang
tinggi.
Si Buaya Sakti terkejut dan memandang ke atas. Kiranya di atas sebuah dahan panjang yang ting-gi, duduklah seorang kakek bersama dua orang pe-muda, seorang di antara dua pemuda itu adalah Seng Kun, pemuda yang tadi dirobohkannya. Kini tiga orang itu melayang turun dengan gerakan yang amat ringan seperti daun - daun kering yang rontok dari dahannya.
Setelah dapat memandang jelas wajah kakek itu, Si Buaya Sakti semakin kaget. Dia mengenal wajah kakek sederhana yang memegang tongkat ini. Beberapa tahun yang lalu, kakek tua renta yang sederhana dan kelihatan lemah ini pernah bertanding ginkang dengan Raja Kelelawar dan bahkan mengalahkan rajanya itu! Tentu saja dia terkejut dan gentar. Dia tahu bahwa kakek ini lihai bukan main. Apa lagi di situ masih ada pula dua orang pemuda yang juga bukan merupakan lawan yang lunak. Akan tetapi, dia adalah Si Bu-aya Sakti, pembantu utama dari Raja Kelelawar, dia seorang datuk kaum sesat yang terkenal seba-gai rajanya kaum bajak sungai. Orang seperti dia tentu saja pantang untuk memperlihatkan takut. Sambil mengeluarkan suara gerengan keras diapun memutar alu bajanya dan menyerang ke depan.
"Tranggg !" Bunga api berpijar ketika sebatang pedang menangkis alu baja itu. Kiranya yang menangkis dengan pedang adalah pemuda ke dua yang datang bersama kakek itu. Dia adalah Kwee Tiong Li, pemuda yang pernah menjadi murid pemberontak Chu Siang Yu, dan pernah menjadi ketua Lembah Yangj - ce. Seperti telah diceritakan di bagian depan, pemuda ini bertemu dengan kakek Kam Song Ki yang menjadi murid ke tiga dari mendiang Bu - eng Sin-yok-ong. Setelah diselamatkan oleh kakek itu. Kwee Tiong Li yang berjodoh untuk menjadi murid kakek itu lalu ikut bersama kakek itu mempelajari ilmu silat, sehingga dia yang memang tadinya sudah lihai memperoleh kemajuan yang pesat sekali. Pemuda yang mukanya agak kemerahan ini mempergunakan pedangnya. Dan setelah mereka berdua saling serang selama limapuluh jurus, harus diakui oleh Si Buaya Sakti bahwa ilmu pedang pemuda ini hebat bukan main, dan kalau dilanjutkan, tentu dia akan celaka.
Apa lagi kalau Seng Kun dan kakek lihai itu maju. Maka, tanpa malu - malu lagi, dia lalu meloncat ke belakang untuk melarikan diri. Kwee Tiong Li tidak mengejarnya, akan tetapi ujung pedangnya sempat menyerempet bahu kiri Si Buaya Sakti sehingga bajunya robek dan berdarah.
Sementara itu, ketika Kwee Tiong Li sedang bertanding melawan Si Buaya Sakti, Seng Kun menengok ke arah rumah tua. Dia maklum bahwa dengan adanya si kakek sakti, tidak perlu dikhawa-tirkan pemuda itu akan kalah melawan Si Buaya Sakti. Maka diapun meninggalkan tempat itu dan mencari adiknya ke rumah tua. Dengan hati ber-debar tegang, Seng Kun memasuki rumah itu, lang-sung menuju ke dalam ruangan di mana tadi dia meninggalkan A-hai dalam keadaan tidur pulas dan dijaga oleh Bwee Hong. Akan tetapi, dia hanya melihat A-hai yang masih rebah dan tertidur pulas, sedangkan adiknya sudah tidak nampak lagi. Yang ada hanyalah pakaian adiknya yang berserakan di sudut ruangan. Tentu saja hatinya menjadi pilu dan gelisah. Ke manakah perginya Bwee Hong ? Apa yang telah terjadi dengan adiknya ?
Ketika dia keluar lagi dari rumah itu, perkela-hian antara Kwee Tiong Li dan Si Buaya Sakti sudah berakhir dan penjahat itu sudah kabur entah ke mana. Seng Kun lalu menghampiri kedua orang yang tadi telah menolongnya. Tadi ketika dia di-lempar dalam keadaan pingsan oleh Si Buaya Sakti di dekat mayat pemilik warung, dia telah ditolong dan dibawa naik ke atas pohon oleh seorang kakek. Kemudian seorang pemuda yang datang ber-sama kakek itu mempergunakan daun dan ranting yang dibungkus pakaian untuk menggantikan tubuhnya. Dengan beberapa kali totokan, diapun sadar dan bebas dari totokan Si Buaya Sakti, dan dengan isyarat, kakek dan pemuda itu menyuruh dia berdiam diri dan mereka menanti sampai Si Buaya Sakti muncul dengan marah - marah dari dalam rumah tua.
"Ji - wi telah menyelamatkan nyawa saya, untuk itu saya menghaturkan banyak terima kasih. Akan tetapi saya telah kehilangan adik perempuan saya yang saya tinggalkan di dalam rumah tua itu. Saya khawatir kalau adik saya menjadi korban kejahatan kaum sesat itu. Mohon bantuan ji - wi untuk me-nyelamatkan adik saya."
Kakek Kam Song Ki merangkapkan kedua ta-ngan di depan dada lalu menancapkan tongkatnya ke atas tanah.
"Siancai , negara sedang dalam kekacauan dan semua penjahat merajalela, seolah-olah semua iblis telah keluar dari neraka untuk mendatangkan onar di permukaan bumi. Kami baru datang dan kebetulan saja danat menyelamatkanmu, orang muda. Kami tidak tahu ke mana perginya adikmu itu."
'Tadi adik perempuan saya berada di dalam rumah tua. Di tempat ini hanya terdapat sebuah dusun. Kalau ada yang menculiknya, tentu ke du-sun itulah dibawanya. Saya akan mencari ke sa-na !" kata Seng Kun.
"Biarlah kami ikut bersamamu dan sedapat mungkin membantumu," kata pemuda itu. Mereka tidak sempat berkenalan karena Seng Kun sedang berada dalam keadaan gelisah sekali memikirkan keselamatan adiknya. Kalau benar adiknya dise-rang oleh San - hek - houw, tentu adiknya kalah dan kalau sampai adiknya diculik oleh datuk itu, celakalah!
Merekapun mulai mencari - cari jejak. Karena malam itu hanya diterangi bulan sepotong, maka sukarlah mencari jejak orang dan akhirnya mereka menuju ke dusun dengan mengambil jalan setapak. Dengan teliti Seng Kun berjalan di depan dan di tengah perjalanan ini dia membungkuk dan meng-ambil sepotong sepatu wanita yang dikenalnya sebagai sepatu Bwee Hong. Tentu saja hatinya men-jadi semakin gelisah dan dia mempercepat langkah. Hatinya tegang karena jejak itu telah ditemukan berupa sepatu adiknya. Tentu adiknya telah dilari-kan penjahat menuju ke dusun itu.
Dusun itu sepi sekali. Semua rumah telah me-nutup pintunya rapat - rapat dan di depan rumah-rumah itu tidak dipasangi lampu. Seng Kun men-jadi tidak sabar dan mulailah dia memanggil-manggil nama adiknya. Suaranya bergema di du-sun itu, namun tidak terdengar jawaban. Kemudi-an dia mulai memanggil nama San - hek - houw dengan nada suara marah.
"San - hek - houw, iblis busuk ! Keluarlah kalau jantan dan mari kita bertanding sampai seorang di antara kita tewas! Jangan menjadi pengecut hina yang melarikan seorang wanita!" Namun teriakan-teriakannya inipun tidak ada jawaban. Seng Kun mulai gelisah sekali dan keringat dingin membasahi bajunya. Dia tidak dapat menduga di rumah yang mana iblis itu bersembunyi. Memeriksa ru-mah itu satu demi satu akan memakan waktu dan dia harus cepat - cepat menyelamatkan adiknya. Saking jengkelnya dia mengancam.
"Kubakar semua rumah di sini apa bila engkau tetap sembunyi! !"
Kakek Kam Song Ki menyentuh pundaknya. "Tenanglah, tidak perlu membakar rumah pendu-duk yang tidak bersalah. Kemarahan hanya akan menyeret kita kepada tindakan yang sesat." Setelah berkata demikian, kakek itu lalu mengerahkan khikangnya ke arah rumah para penduduk dan berteriak, suaranya gemuruh menggetarkan daun-daun pintu dan jendela rumah - rumah itu.
"Saudara - saudara penghuni dusun ini semua ! Kami tahu jumlah kalian tidak banyak. Keluarlah kalian semua. Semuanya, tidak boleh ada yang tinggal di dalam ! Yang tidak mau keluar, rumahnya akan kami bakar. Cepat ! !"
Mendengar seruan yang menggelegar ini, para penghuni ramah dusun itu terkejut dan ketakutan. Satu demi satu merekapun keluarlah dari ramah mereka, menggendong anak - anak yang masih kecil dan menuntun kakek - kakek dan nenek - nenek yang sudah hampir tidak kuat berjalan. Kepala du-sun itu sendiri, setelah hilang kagetnya dan meli-hat bahwa tiga orang yang minta mereka semua keluar itu hanyalah seorang kakek dan dua orang pemuda yang nampaknya bukan orang jahat, lalu menghampiri mereka.
"Ada urusan apakah maka sam - wi minta kami semua keluar ?" tanya kepala dusun.
"Kami mencari seorang kakek iblis yang melarikan seorang wanita. Mungkin dia bersembunyi di sebuah di antara rumah - rumah dusun ini," ka-ta Seng Kun tak sabar.
Kepala dusun lalu menanyai semua orang akan tetapi mereka semua menjawab bahwa tidak ada kakek iblis bersembunyi di rumah mereka.
"Sam - wi mendengar sendiri. Warga dusun kami tidak tahu tentang kakek itu, harap sam - wi mencari saja ke lain tempat," kata kepala dusun dengan bangga karena semua anak buahnya ternyata tidak ada yang melakukan kesalahan.
"Akan tetapi kenapa kalian semua tidak mau membuka pintu seperti ketakutan ketika melihat kedatangan kami ?" Seng Kun bertanya penasaran.
"Soalnya sore tadi terjadi kerusuhan di warung makan itu. Dua orang penjahat memaksa pemilik warung untuk menunjukkan di mana rumah Gu-lojin."
Pada saat itu terdengar rintihan orang. Kakek Kam dan dua orang pendekar muda itu cepat me-loncat dan mendekat. Ternyata seorang nelayan muda tergolek berlumuran darah di tepi sungai. Tubuh bawahnya masih terbenam ke air, nampaknya dengan susah payah dia baru saja berenang ke tempat itu.
Kepala dusun yang sudah mengejar ke situ se-gera mengenai nelayan muda ini dan menegur, me-nanyainya. Akan tetapi nelayan itu hanya menge-luh dan tidak mampu bicara, napasnya memburu. Melihat ini, kakek Kam Song Ki lalu menghampiri dan menggunakan dua buah jari tangannya untuk mengobati nelayan muda itu. Melihat betapa ka-kek itu menekuk telunjuk dan jari tengah, lalu menggunakan dua jari yang ditekuk itu untuk menjepit urat di bagian tengkuk dan pundak, Seng Kun memandang heran. Itulah ilmu pengobatan dari perguruannya, yaitu cubitan pada otot yang disebut "ning"!
Sebentar saja nelayan itu sadar dan dapat bicara. "Jahat jahat perahuku dirampas aku dipukul ahhh " Dan nelayan itu meringis seperti orang menangis. Setelah dibujuk, akhirnya nelayan muda itu menceritakan betapa tadi, ketika dia mendayung perahunya hen-dak pulang, dengan membawa muatan ikan hasil tangkapan yang cukup banyak, dengan hati gem-bira, dia dipanggil oleh dua orang yang berdiri di tepi sungai. Karena mengira bahwa dua orang itu hendak menumpang perahunya dan hatinya sedang bergembira, diapun minggir. Sungguh ti-dak disangkanya bahwa dua orang itu jahat sekali. Keranjang ikannya yang penuh itu mereka tendang keluar sehingga tumpah ke dalam air, kemudian nelayan itu yang hendak melawan, dipukul sampai tercebur ke dalam sungai dan perahunya dirampas!
Sungguh mereka jahat " dia menangis.
"Ikan - ikanku dibuang, perahuku dirampas dan aku dipukuli "
"Bagaimana macamnya kedua orang itu ?" Seng Kun bertanya.
"Yang seorang pendek gendut membawa tongkat besar putih, seorang lagi tinggi besar "
"Tak salah lagi. Merekalah itu!" Seng Kun berseru marah. "Tahukah engkau ke mana mereka pergi ?"
Nelayan muda itu menggeleng kepala, akan tetapi karena agaknya dia mengharapkan orang akan mencari dan menghajar kedua penjahat itu dan mendapatkan perahunya, dia berkata, "Ketika aku minggir, mula - mula mereka bertanya kepadaku di mana letaknya dusun Kim - le mungkin mereka ke sana"

Bersambung

33                                                                                                                                  35