Kamis, 30 Mei 2013

DARAH PENDEKAR 33

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Bab 33
Tiga orang muda itu sedang enak - enaknya makan masakan yang mereka pesan ketika terde-ngar suara ribut - ribut di luar pintu. Karena me-reka itu kebetulan memperoleh tempat duduk di dekat pintu, maka mereka dapat melihat bahwa yang ribut - ribut itu adalah percekcokan antara seorang pengemis tua dengan para tukang pukul penjaga atau pelindung keamanan restoran itu. Percekcokan mulut' yang kemudian diteruskan menjadi perkelahian. Dan ternyata pengemis tua itu lihai bukan main. Pengemis jembel yang mengempit tongkat hitam itu hanya menggunakan sebelah tangan kirinya saja, akan tetapi belasan orang tukang pukul yang mengeroyoknya terpe-lanting ke kanan kiri, jatuh bangun dan dihajar kalang - kabut. Akhirnya, semua tukang pukul su-dah roboh terguling dan tidak berani melawan lagi. Pengemis tua yang bertubuh pendek kecil akan tetapi perutnya buncit itu lalu mengeluarkan sebuah kantong butut, dilemparkannya kantong itu. ke arah meja kasir yang berada di dekat pintu.
"Penuhi kantongku itu !" bentaknya dan mata-nya yang kemerahan itu melotot. Melihat ini Bwee Hong memandang kepada kakaknya, sinar matanya minta pertimbangan. Seng Kun berbisik.
"Jangan ikut campur. Lihat di sudut itu. Di sana ada empat orang petugas keamanan kota, pa-kaiannya seperti perwira, akan tetapi mereka itu pura - pura tidak melihat keributan ini. Mengapa kita harus campur tangan ?"
Majikan restoran itu yang duduk di meja keu-angan, terpaksa memenuhi kantong butut itu de-ngan uang, kemudian menyerahkannya kepada si pengemis dengan sikap takut - takut. Pengemis itu menerima kantong, isi kantongnya lalu dituangkan ke dalam kantong besar yang diikat di punggung-nya. Kemudian, kantong butut kosong itu dilem-parkannya ke atas meja yang dihadapi Bwee Hong, Seng Kun dan A-hai.
"Nona tadi telah mengabaikan biaya yang menjadi kewajiban semua orang yang lewat di pintu gerbang, sekarang harus nona penuhi kantong itu dengan uang, baru aku mau menghabiskan perka-ra itu!"
A-hai memandang dengan mata terbelalak ketakutan. Dia sudah melihat betapa lihainya pe ngemis tua itu. Akan tetapi, Bwee Hong sudah menjadi marah dan iapun meloncat bangun dari kursinya, bertolak pinggang di luar pintu restoran menghadapi pengemis itu sambil tersenyum meng-ejek.
"Huh, kukira engkau adalah jembel tua yang hanya mencari derma, kiranya engkau jembel bu-suk yang menjadi sekutu para pencoleng itu. Me-muakkan sekali I"
Pengemis tua itu membelalakkan matanya yang merah dan diapun memutar tongkat yang tadi ke-tika dia dikeroyok selalu dikempitnya saja tanpa pernah dipergunakan itu. Baru dengan sebelah tangan kosong saja dia sudah mampu merobohkan belasan orang tukang pukul. Dapat dibayangkan betapa lihainya kalau mempergunakan tongkatnya itu sebagai senjata. Akan tetapi, pengemis yang sudah tua itu agaknya tahu malu dan merasa sung-kan kalau dia sebagai seorang tokoh besar harus menandingi seorang gadis cantik yang begitu mu-da. Maka matanya yang merah mengerling ke arah A-hai dan Seng Kun, lalu mulutnya mengomel.
"Tak tahu malu ada dua orang, lelaki membiar-kan teman wanitanya yang maju. Kalau kalian bu-kan pengecut, majulah dan jangan berlindung di belakang wanita!"
Biarpun dia sendiri tidak sadar bahwa dia me-miliki kepandaian tinggi, akan tetapi A-hai sama sekali bukan seorang pengecut. Dia bangkit ber-diri dan menudingkan telunjuknya ke arah muka pengemis itu. "Eh, kakek pengemis jangan engkau bicara seenaknya saja, ya! Aku bukan tukang berkelahi seperti engkau, akan tetapi jangan bilang kalau aku pengecut!"
Bwee Hong cepat berkata, "A-hai, sudahlah, jangan ikut campur. Yang menghajar para penco-leng di pintu gerbang adalah aku, maka kini aku-lah yang akan mempertanggungjawabkan perbuat-an itu terhadap datuknya pencoleng ini!" Ia lalu melangkah maju dan mengejek, "Jembel - busuk, kalau engkau takut melawan aku, pergilah dengan cepat dan jangan banyak cerewet lagi !"
"Perempuan rendah !" Pengemis itu marah dan tongkatnya meluncur bagaikan kilat menusuk ke arah leher Bwee Hong. Akan tetapi terkejutlah dia ketika melihat tubuh gadis di depannya itu tiba-tiba lenyap dan tahu - tahu dari samping gadis itu telah membalas serangannya dengan sebuah ten-dangan kilat yang nyaris mengenai lambungnya. Kakek itu cepat meloncat ke depan sambil menge-lebatkan tongkatnya menangkis, akan tetapi Bwee
Hong sudah menarik kembali kakinya. Terjadilah perkelahian yang seru dan cepat sekali. Gerakan pengemis itu ternyata amat gesit, akan tetapi meng-hadapi Bwee Hong dia masih kalah jauh dalam hal kecepatan. Perkelahian dalam tempo yang amat cepat ini membuat mereka yang melihatnya menjadi silau dan kabur pandangannya. Seng Kun memandang sejenak penuh perhatian lalu diapun melanjutkan makan minum dengan sikap tenang. A-hai yang juga nonton dengan gelisah, melihat betapa Seng Kun tidak mengacuhkan adiknya yang sedang berkelahi itu, menegur,
"Engkau ini bagaimana sih ? Adikmu berkela-hi melawan pengemis yang demikian lihainya dan engkau enak - enak makan minum saja !"
Seng Kun mengangkat muka memandang wa-jah yang tampan gagah itu sambil tersenyum. "Ha-bis harus bagaimana aku ?"
"Bantulah, atau hentikanlah perkelahian itu !"
"Tidak apa, ia tidak akan kalah."
"Bagaimana engkau tahu " A-hai menengok lagi dan dia terbelalak melihat betapa tahu-tahu pengemis tua itu telah terpelanting jauh, entah terkena pukulan atau tendangan Bwee Hong yang berdiri bertolak pinggang dengan sikap menantang.
"Bawa kantong busukmu dan enyahlah !" kata Bwee Hong sambil melemparkan kantong kosong yang tadi oleh si pengemis dilemparkan ke atas meja.
Pengemis itu memungut kantong itu, lalu bang-kit berdiri dan memandang ke arah Bwee Hong, Seng Kun dan A-hai. Matanya yang sudah merah itu menjadi lebih merah lagi ketika dia berkata, "Kalian mempunyai perhitungan dengan kami, orang - orang rimba hijau dan sungai telaga. Hati-hatilah kalian !"
Setelah jembel tua itu pergi, Bwee Hong dan dua orang pemuda itu melanjutkan makan minum, tidak memperdulikan pandang mata orang - orang yang ditujukan ke arah mereka dengan kagum. Setelah kenyang dan membayar harga makanan, merekapun kembali ke kamar hotel mereka.
Malam itu, Seng Kun dan Bwee Hong bersikap waspada, tidak seperti A-hai yang sudah tidur sore - sore. Kakak beradik ini maklum bahwa pe-ristiwa sore dan pagi hari tadi tentu masih akan berkelanjutan. Mereka maklum bahwa para pen-jahat yang agaknya menguasai kota kecil itu, se-telah mendapat hajaran, tentu akan berusaha membalas dendam dan mendatangkan jagoan - jago-an mereka yang lebih lihai. Oleh karena itu, Seng Kun meninggalkan kamarnya di mana dia tinggal bersama A-hai dan bercakap - cakap sambil ber-jaga dengan adiknya di ruangan depan adiknya.
Dan apa yang mereka khawatirkan dan nanti-nantikan itu memang sungguh terjadi. Menjelang tengah malam, ketika mereka sudah bosan menanti dan hendak tidur, tiba - tiba mereka dikejutkan oleh suara harimau mengaum. Keduanya masih duduk dengan tenang akan tetapi dengan jantung berdebar dan urat syaraf menegang ketika daun pintu terbuka dengan mudahnya dari luar, seolah-olah didobrak oleh tenaga raksasa dan muncullah seorang kakek tinggi besar yang mengenakan ju-bah kulit harimau. Kakek itu usianya tentu sudah limapuluh tahun lebih, akan tetapi tubuhnya ma-sih nampak tegap dan membayangkan tenaga besar, rambutnya yang dibungkus kain hitam itu masih nampak hitam lebat, dengan cambang bauk mem-buat wajahnya nampak menyeramkan. Jubahnya dari kulit harimau tutul dan sepasang matanya bersinar - sinar galak. Berturut - turut muncul pula enam orang laki - laki yang kesemuanya bersikap kasar dan bertubuh tegap.
Seng Kun bangkit berdiri dan menghadapi mereka. Bwee Hong juga sudah bangkit dan men-dampingi kakaknya. Sejenak mereka saling beradu pandang dan tiba - tiba kakek tinggi besar itu ter-tawa. Suara ketawanya menyeramkan karena di-seling gerengan - gerengan seperti auman harimau. Dia adalah seorang tokoh besar di dunia penjahat, seorang di antara Sam - ok (Si Tiga Jahat) dan dia-lah yang kini menjadi seorang di antara, pemban-tu - pembantu dan kepercayaan Raja Kelelawar. Orang ini adalah San - hek - houw Si Harimau Gunung. Para pencoleng yang siang tadi dihajar oleh Bwee Hong, juga si pengemis lihai, adalah anak buahnya. Ketika mendengar pelaporan betapa anak buahnya, juga si pengemis lihai yang diserahi tugas mengamati dan memimpin para anak buah yang beroperasi di kota kecil itu, dihajar oleh seorang gadis cantik, tentu saja San - hek - houw menjadi marah dan penasaran sekali. Maka, malam itu, dengan diiringkan oleh beberapa orang pemban-tunya, dia mendatangi rumah penginapan di mana gadis dan dua orang muda itu berada. Pemilik ru-mah penginapan dan para penjaganya sudah sejak tadi menyembunyikan diri begitu mendengar suara auman harimau itu, yang mereka kenal sebagai tanda kemunculan "raja" penjahat yang mengua-sai kota itu.
Ketika datang sendiri dan melihat bahwa yang dianggapnya musuh berbahaya itu hanyalah seo-orang gadis muda yang cantik bersama seorang pemuda tampan yang kelihatannya lemah, San-hek - houw tak dapat menahan ketawanya. Tentu saja dia memandang rendah kepada anak - anak ini.
"Ha - ha - ha, benarkah bahwa kalian bocah-bocah ini yang siang dan sore tadi mengacau di kota ini ?" tanyanya, suaranya menggetar dan pa-rau menyeramkan.
Seng Kun yang dapat menduga bahwa orang ini tentu merupakan tokoh besar penjahat dan merupakan lawan tangguh, sudah mendahului adiknya, melangkah maju dan berkata dengan sua-ra halus, "Sobat, sesungguhnya bukan kami yang mengacau, melainkan teman - temanmu itu, dan kami hanya membela orang yang tertindas saja."
"Ha - ha - ha, orang muda, aku mendengar bah-wa yang memukul anak buahku adalah seorang gadis cantik. Ia itukah orangnya ?" San-hek-houw menudingkan telunjuknya ke arah Bwee Hong.
Bwee Hong sudah sejak tadi menjadi marah. Ia tidak sesabar kakaknya dan kini mendengar pertanyaan itu, iapun menjawab lantang, "Benar ! Akulah yang menghajar pencoleng - pencoleng bu-suk itu. Habis, engkau mau apa °"
"Bagus ! Engkau harus menyerahkan diri un-tuk kutangkap dan menerima hukuman!" kata San - hek - houw.
"Hemrn, andaikata aku mau iuga, pedangku ini yang tidak membolehkan aku menyerah kepada segala macam penjahat kejam !" kata Bwee Hong sambil menghunus pedangnya.
"Ha - ha - ha, engkau kuda betina liar yang cantik, memang patut untuk ditundukkan dulu sebelum dijinakkan ! Ha-ha-ha!" Kakek tinggi besar itu menggerakkan tangannya dan ada angin menyambar dahsyat ketika lengannya yang pan-jang mencuat dan mencengkeram ke arah dada Bwee Hong.
"Dukkk!" Seng Kun menangkis dari samping.
Harimau Gunung terkejut ketika merasa betapa tangkisan pemuda itu membuat lengannya terge-tar. Tahulah dia bahwa pemuda ini ternyata ber-isi juga, maka diapun mengeluarkan suara auman yang menggetarkan seluruh bangunan rumah pe-nginapan itu, kemudian diapun menyerang Seng Kun dengan kalang - kabut. Sepak terjangnya me-mang kasar sekali, dan mengandung kebuasan, apa lagi serangannya itu disertai gerengan - gerengan seperti harimau. Dan meruanglah, tokoh hitam ini mempunyai pembawaan seperti harimau. Biasa-nya, kemunculannya selalu ditemani oleh sepasang harimau kumbang, akan tetapi sekali ini, dalam tugasnya mengacau dan menuju ke kota raja, dia terpaksa meninggalkan sepasang binatang peliha-raan itu di dalam kandang. Dan ilmu silatnya ju-ga merupakan ilmu silat yang gerakan - gerakan-nya didasari gerakan binatang harimau yang bu-as. Kedua tangannya membentuk cakar harimau, yang disebut Houw - jiauw - kang dan dengan ca-karnya ini dia mampu merobek - robek tubuh orang, bahkan cengkeramannya dapat menghan-curkan batu karang saking kuatnya.
Seng Kun terkejut bukan main menyaksikan kehebatan lawan ini. Beberapa kali dia terhuyung ketika mengadu tenaga dan beberapa kali nyaris kulit dagingnya terkena cengkeraman dan menja-di korban Ilmu Houw - jiauw - kang ! Terpaksa Seng Kun lalu menghunus pedangnya dan melin-dungi dirinya dengan putaran pedangnya. Melihat ini, San - hek - houw tertawa bergelak dan melo-loskan sebatang rantai yang ujungnya bertongak jangkar terbuat dari pada baja yang selain kuat juga berat sekali! Terjadilah perkelahian yang lebih seru lagi di dalam ruangan yang cukup luas itu. Enam orang laki - laki pengikut San-hek-houw hanya menonton sambil mengepung ruangan itu dengan sikap mereka yang congkak.
Diam - diam Seng Kun mengeluh. Ternyata lawannya ini benar - benar amat tangguh, bukan sembarang tokoh sesat, melainkan seorang datuk yang lihai bukan main. Pedangnya selalu terpen-tal ketika bertemu dengan senjata lawan yang be-rat dan segera dia terdesak oleh gerakan senjata lawan yang berat dan panjang itu. Melihat kea-daan kakaknya, Bwee Hong meloncat maju dan membantu. Enam orang teman San - hek - houw hendak bergerak mencegah, akan tetapi San - hek-houw tertawa.
"Ha - ha - ha, biarlah ia maju untuk mengha-ngatkan suasana, ha - ha !"
Karena pemimpin mereka membolehkan, maka enam orang itupun tidak berani bergerak dan mem-biarkan gadis itu mengeroyok San - hek - houw yang ternyata memang tangguh itu. Bagaimanapun juga, setelah Bwee Hong maju dan kakak beradik itu mengandalkan ginkang mereka yang luar biasa, San-hek-houw mulai kewalahan dan terpaksa selalu memutar senjatanya melindungi diri. Dia tidak mampu mengimbangi kecepatan gerakan kakak beradik itu, walaupun dia menang kuat dan juga senjatanya lebih menguntungkan, lebih pan-jang, berat dan juga mudah digerakkan karena me-rupakan rantai yang lemas.
Melihat ini, tanpa diperintah lagi, enam orang itupun menghunus senjata mereka, ada yang meng-gunakan golok, ada yang menggunakan tombak atau pedang, menyerbu dan membantu San - hek-houw. Tentu saja kini kakak beradik itu yang ber-balik terkepung dan terdesak hebat! Melihat ini, Bwee Hong menjadi khawatir sekali. Ia tahu bah-wa kalau ia dan kakaknya kalah, tentu kakaknya akan dibunuh dan ia sendiri ah, ngeri ia me
mikirkan nasibnya kalau sampai terjatuh ke tangan orang-orang kejam, ini. Pada saat itu, ia melihat A-hai muncul dari pintu dengan wajah masih memperlihatkan bekas tidur dan kini A-hai ber-diri terbelalak dan nampak khawatir sekali. Berka-li - kali A-hai mengangkat tangan ke atas seperti hendak mencegah atau melerai perkelahian itu.
Melihat munculnya A-'hai, Bwee Hong tahu bahwa hanya pemuda sinting itulah yang akan mampu menyelamatkan ia dan kakaknya. Dan sa-tu - satunya jalan hanyalah merangsangnya, meng-guncang batinnya agar dia kumat, seperti yang pernah dilakukannya. Itulah satu - satunya jalan dan jalan lain tidak ada lagi. Ia maklum bahwa para penjahat ini tidak akan membiarkan ia dan Seng Kun lolos dengan selamat. Andaikata mereka berdua mempergunakan ginkang untuk melarikan diri sekalipun, lalu bagaimana dengan A-hai ? Tentu pemuda itu akan dibantai oleh para penjahat dan tak mungkin ia membiarkan hal ini terjadi. Dan untuk akal seperti ini memang ia sudah membuat persiapan sebelumnya. Ketika ia melakukan per-jalanan bersama A-hai, ia maklum bahwa ada dua hal terdapat pada diri pemuda sinting ini, yang satu amat merugikan akan tetapi yang lain amat menguntungkan. Yang merugikan adalah bahwa pe-muda ini dalam keadaan sadar merupakan seorang pemuda yang bodoh dan lemah, tidak tahu apa-apa. Akan tetapi yang menguntungkan adalah bah-wa pemuda ini dapat "dibikin" menjadi lihai. Maka iapun sudah mempersiapkan diri untuk sewaktu-waktu, dalam keadaan darurat seperti sekarang ini, mempergunakan akal dan siasat untuk membangunkan pemuda itu, untuk membuatnya menjadi kumat gilanya dan juga lihainya !
Pada saat itu, Seng Kun sudah kewalahan benar-benar dan tiba - tiba, sapuan senjata rantai yang berat itu menyerempet kakinya dan tubuh Seng Kun terjungkal! Kinilah saatnya, pikir Bwee Hong, sebelum terlambat. Maka iapun melolos sebatang pisau belati, lalu menjerit dan menghadap kepada A-hai, pisau belatinya bergerak seo-lah - olah menikam perut sendiri, tangannya mencengkeram ke perutnya dan iapun roboh, dari pe-rutnya bercucuran darah merah membasahi lantai dan pakaiannya.
Sepasang mata A-hai terbelalak, mukanya se-ketika menjadi pucat. Kemudian dia mendelik,
dari mulutnya keluar teriakan parau, "Ibuuu !!"
Dan tubuhnya mencelat ke depan. Diapun berlutut dan menubruk tubuh Bwee Hong, dirangkulnya dan diciumnya gadis itu. Tentu saja Bwee Hong merasa tubuhnya panas dingin ketika ia merasa betapa wajahnya diciumi oleh pemuda itu, ciuman seorang anak yang menangisi ibunya dengan air mata bercucuran. Kaki tangannnya menjadi dingin dan tubuhnya menggigil. Hal ini membuat A-hai menjadi semakin khawatir.
Wajah pemuda yang biasanya membayangkan ketololan dan tadi nampak ketakutan itu kini ber-ubah sama sekali. Kini wajah itu membayangkan kedukaan, kemarahan dan menyeramkan, penuh nafsu membunuh. Matanya berkilat liar dan Bwee Hong yang terbelalak kengerian itu ketika meman-dang penuh perhatian, tiba - tiba melihat sebuah tonjolan berwarna biru sebanyak tiga buah di pe-lipis kiri A-hai. Tonjolan yang tiga bintik itu letaknya berbentuk segi tiga dan setiap tonjolan sebesar ujung sumpit. Padahal biasanya, seingat Bwee Hong, tidak pernah terdapat tonjolan seperti itu di pelipis A-hai.
Kini A-hai yang melihat bahwa nona yang di-sebut ibunya itu masih hidup, merebahkan Bwee Hong dengan lembut ke atas tanah, kemudian se-kali menggerakkan tubuh, dia sudah meloncat dan membalik, menghadapi San - hek - houw. Hari-mau Gunung Hitam ini memandang kepada A-hai, juga terheran akan tetapi tentu saja dia tidak me-mandang sebelah mata kepada pemuda yang tidak waras ini. Melihat A-hai berdiri tegak mengha-dapinya dengan sinar mata yang buas mengerikan, hati tokoh hitam ini merasa tidak senang.
"Mampuslah !" bentaknya dan diapun menu-bruk dengan kedua tangannya setelah tadi me-nyimpan kembali senjata rantainya yang diang-gapnya tidak perlu dipergunakannya lagi. Dia merasa yakin bahwa sekali hantam dia akan mampu merobohkan dan menewaskan pemuda ini, baru kemudian dia akan melanjutkan serangannya terhadap kakak beradik itu.
"Dukkk! !"
San - hek - houw terpelanting dan terbanting ke atas lantai. Dia mengeluarkan suara gerengan sambil bergulingan. Selain kesakitan, dia juga kaget setengah mati. Tak disangkanya bahwa pemu-da yang seperti gila itu memiliki tenaga sedemikian dahsyatnya. Dia tadi merasa seperti membentur gunung baja! Melihat ini, enam orang teman San-hek - houw menjadi marah dan merekapun menye-rang maju dengan serentak.
Dari mulut A-hai keluar lengkingan yang me-ngerikan dan tubuh pemuda ini menerjang bagai-kan badai, menyambut enam orang itu. Segera terdengar pekik - pekik kesakitan dan enam orang itu sudah dicengkeramnya, ada yang dibanting, ada yang dilontarkan, seperti orang mencabuti dan membuang rumput saja. Dalam waktu beberapa gebrakan saja, enam orang itu sudah malang melin-tang, roboh tak mampu bangkit kembali!
San - hek - houw marah bukan main. Kembali gerengannya menggetarkan ruangan itu dan dia-pun meloncat keluar dari ruangan. Dianggapnya tempat itu kurang luas, apa lagi setelah ada enam tubuh teman - temannya malang melintang. Dia keluar dari rumah penginapan dan menanti di kebun samping. A-hai mengejar dan setelah tiba di situ, dia disambut serangan yang buas oleh San-hek - houw yang kini sudah melolos rantainya. A-hai menyambutnya dan terjadilah perkelahian yang amat seru dan hebat, juga liar dan buas. Me-reka sama buasnya, akan tetapi Seng Kun dan Bwee Hong yang mengikuti pula jalannya perkelahian, melihat betapa San - hek - houw terdesak hebat oleh gerakan silat A-hai yang aneh. Ran-tai yang menyambar-nyambar itu selalu dapat die-lakkan atau ditangkis oleh A-hai, seolah-olah gerak-annya otomatis mengikuti gerakan lawan dan ba-lasan serangan A-hai yang kelihatannya kacau-balau itu sesungguhnya pada dasarnya mengandung gerakan ilmu silat yang aneh dan tinggi.
"Wuuuuttt plakk !" Tiba - tiba ujung rantai yang dipasangi jangkar baja itu dapat ditangkap oleh A-hai. San - hek - houw menggerakkan tangannya yang memegang gagang rantai dan rantai itu seperti hidup melingkari kepala dan menjerat leher pemuda itu. Tentu saja Seng Kun dan Bwee Hong terkejut bukan main dan siap menolong karena melihat A-hai terancam bahaya tercekik lehernya. Akan tetapi, rantai yang menjerat leher A-hai itu tidak mampu mencekik leher yang nampak berotot dan kuat itu. bahkan kini A-hai secara tiba - tiba mengangkat kakinya menendang, suatu gerakan yang tidak disangka - sangka olehSan - hek - houw yang menduga bahwa pemuda itu tentu menjadi panik dan berusaha melepaskan rantai yang menjirat leher.
"Desss !" Tendangan yang amat keras itu membuat tubuh San-hek-houw yang tinggi be-sar terlempar dan rantainya terlepas, tertinggal ke tangan A-hai dan sebagian masih melingkari le-her pemuda itu.
"Huhh !" A-hai membuang rantai itu dan de-ngan langkah lebar menghampiri San - hek - houw yang kini sudah bangkit berdiri. Akan tetapi, baru saja dia berdiri, A-hai sudah menyerangnya de-ngan tamparan - tamparan dan pukulan - pukulan bertubi - tubi, kelihatannya semua serangan itu kacau, akan tetapi justeru cara yang kacau itulah yang membuat lawan bingung dan tanpa dapat dicegah lagi, San - hek - houw yang masih merasa pening karena terbanting tadi, terkena sebuah pu-kulan tangan kiri, tepat pada dadanya.
"Desss !" Terdengar datuk kaum sesat itu mengeluh dan kembali tubuhnya terjengkang dan sekali ini bahkan terguling - guling, baru berhenti ketika tubuhnya tertabrak pohon. Dia kembali me-ngeluh, menggoyang - goyangkan kepalanya karena dia melihat bintang - bintang bertaburan dan me-nari - nari, dari mulutnya mengalir darah segar. A-hai masih melangkah lebar mengejarnya. Me-lihat betapa pada wajah A-hai nampak sinar be-ringas dan penuh nafsu membunuh, Seng Kun yang tidak ingin melihat A-hai menjadi pembunuh kejam terhadap lawan yang sudah kalah itu, lalu meloncat dekat dan tanpa dipikir lagi dia berte-riak melarang.
"Saudara A-hai, jangan bunuh orang !"
Akan tetapi, pada saat itu, A-hai sudah tidak ingat apa - apa lagi, yang ada hanya perasaan duka bercampur kemarahan yang membuat dia beringas dan ingin menghajar siapapun juga yang mengha-langinya. Kini melihat Seng Kun berani mengha-dangnya, diapun menganggap pemuda ini musuh-nya. Dia mengeluarkan suara gerengan hebat dan segera menerjang ke arah Seng Kun.
Seng Kun terkejut, namun dia juga mengerti bahwa hal itu dilakukan oleh A-hai dalam keadaan tidak sadar. Cepat dia menangkis karena untuk mengelak amat berbahaya. Dia tadi sudah melihat perkelahian antara A-hai dan San - hek - houw dan melihat betapa setiap kali pukulannya dielakkan lawan, pukulan itu masih dilanjutkan dengan aneh dan terus mengejar lawan. Lebih aman menangkis dari pada mengelak.
"Dukkk !" Hebat bukan main tenaga yang mendorong pukulan A-hai itu sehingga begitu menangkis, seketika tubuh Seng Kun terdorong, terjengkang dan pantatnya terbanting keras di atas tanah ! Akan tetapi A-hai menyusulkan pukulan yang mengandung hawa pukulan amat hebatnya ke arah Seng Kun yang rebah di atas tanah.
"Blaaarrr !" Debu dan tanah berhamburan. Pukulan itu tidak mengenai tubuh Seng Kun yang sudah bergulingan dan wajah pemuda ini menjadi pucat. Kalau pukulan yang mengandung tenaga sinkang amat kuat tadi mengenai tubuhnya, belum tentu dia akan sanggup bertahan.
"Jangan !!" Tiba-tiba Bwee Hong menjerit dan jeritan yang melengking tinggi ini mengejutkan A-hai. Sementara itu, San - hek - houw mempergunakan kesempatan ini untuk lari meninggalkan tempat berbahaya itu.
Mendengar jeritan itu, A-hai termangu - mangu, lalu menoleh dan meninggalkan Seng Kun, kini menghadapi Bwee Hong. Mukanya merah padam seperti dibakar, seluruh darah di tubuhnya seolah - olah berkumpul di kepalanya. Tiga bintik tonjolan biru itu makin jelas nampak di pelipisnya.
Matanya inengeluarkan sinar berkilat-kilat, liar menakutkan, membuat Bwee Hong yang sebenarnya memiliki ketabahan besar dan bukan seorang penakut, kini berdiri bengong dengan kedua kaki gemetar, menggigil ketakutan! Ngeri hatinya membayangkan bahwa pemuda yang dihadapinya ini adalah orang yang gila, bukan gila biasa, melainkan gila yang amat berbahaya karena memiliki ilmu yang amat mengerikan. Kini A-hai berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, dan kedua lengannya digerak - gerakkan secara aneh, ke depan, ke atas, ke samping, bukan seperti orang bersilat, akan tetapi hebatnya, gerakan kedua lengan itu mengeluarkan hawja yang kuat sehingga terdengar bunyi "wuuuuttt wuuuttt wuuuttt!"
Melihat ini, dari tempat dia rebah, Seng Kun cepat mengirim suara dari jauh, menggunakan Ilmu Coan - im - jip - bit sehingga bisikannya hanya dapat ditangkap oleh adiknya itu, "Hong-moi, tenanglah. Engkau senyumlah, cepat. Jangan pa-nik karena diapun akan menjadi panik. Pasrah saja, jangan kelihatan takut, bujuk dia dengan kata-kata manis. Senyumlah dan dia akan menurut se-gala kata - katamu, percayalah !"
Tentu saja hal ini jauh lebih mudah dikatakan dari pada dilakukan. Dalam keadaan hatinya kecut, berdebar cemas dan takut, bagaimana orang disuruh senyum ? Bagaimanapun juga, Bwee Hong segera mentaati perintah kakaknya dan diapun ter-senyum manis. Mula - mula senyumnya merupa-kan senyum kecut, senyum dipaksakan. Akan te-tapi, ketika ia melihat betapa sinar mata yang bu-as dari A-hai itu seketika agak melunak dan gerak - gerik kedua lengan itu lebih lambat dan ra-gu - ragu, kini Bwee Hong benar - benar tersenyum, senyum lega yang membuat senyumnya nampak benar - benar manis sekali, dengan lesung pipit di pipi kirinya.
"A-hai, tenanglah, A-hai, tidak ada apa - apa yang perlu dibuat gelisah atau marah lagi. Aku Bwee Hong ingatkah engkau ? Aku Bwee Hong dan dia itu kakakku, Seng Kun koko !"
Dengan suara yang halus merdu dan ramah, de-ngan pandang mata yang lunak dan halus, dengan senyum menghias bibir, Bwee Hong membujuk.
A-hai sejenak memandang wajah gadis itu de-ngan bingung, akan tetapi lambat - laun pandang matanya yang tadinya buas itu menjadi makin lembut, lalu dia tertegun dan berdiri seperti patung, kedua tangan kini tergantung di kanan kiri tubuhnya. Mukanya ditundukkan dan sepasang matanya dipejamkan.
Seng Kun melihat ini semua dengan penuh per-hatian. Ketika dia melihat betapa wajah A-hai itu kini merah padam, tiba - tiba dia teringat akan soal pengobatan dan diapun seperti memperoleh petunjuk.
"Hong - moi, dia mengalami serangan darah yang membanjir ke kepala. Lihat, mukanya begitu merah sebaliknya kedua tangannya putih pucat seperti kehilangan darah. Tekanan darahnya keli-hatan sangat kuat dan semua mengalir ke arah ke-palanya. Ini sangat berbahaya bagi jiwanya. Ka-lau dia tidak lekas - lekas jatuh pingsan seperti biasanya, darah itu akan mengalir semakin kuat dan hal ini akan dapat memecahkan dinding-din-ding pembuluh darahnya dan mengalir keluar melalui mata, hidung, telinga dan merusak otak-otak-nya. Dia akan tewas dalam keadaan yang mengerikan !"
Wajah Bwee Hong seketika pucat mendengar ini dan diapun pernah membaca tentang ini dan sekarang ia teringat, maka kekhawatirannya me-muncak. "Koko, apa yang harus kita lakukan ?"
"Cepat, engkau harus bertindak. Dekati dia, tetap bujuk dengan halus. Lihat, urat-uratnya sudah mengembung, sebentar lagi dapat pecah ! Siapkan sebatang jarum emas. Hati - hati, jangan sampai dia melihatnya. Berusahalah menusuknya di jalan darah balik tengkuk. Tapi ingat! Jangan sampai dia tahu dan curiga. Begitu dia tahu, dia tentu akan mengira engkau menyerangnya dan kalau dia menyerangmu, aku sendiri belum tentu dapat menyelamatkanmu ! Cepat, Hong-moi, tapi hati - hati " Biarpun Seng Kun bersikap setenang mungkin, tetap saja suaranya terdengar gugup dan agak gemetar. Hal ini tentu saja membuat Bwee Hong menjadi semakin gelisah dan ngeri. Amatlah menegangkan saat itu bagi Bwee Hong dan Seng Kun. A-hai berada diambang kematian, kalau tidak tertolong, sebentar lagi akan tewas secara mengerikan sekali, akan tetapi hal ini sedikitpun tidak disadari sendiri olehnya. Sedangkan kakak beradik ahli pengobatan itu ingin sekali menyelamatkan nyawanya, akan tetapi merekapun tahu bahwa sedikit saja mereka salah gerak atau diterima salah oleh A-hai dan menimbulkan kecurigaan pemuda yang dilanda penyakit hilang ingatan itu, mereka akan mati konyol karena mereka berdua tidak akan mampu menandingi kelihaiannya.
Yang paling tegang adalah perasaan Bwee Hong karena ialah yang harus bertindak. Di tangannyalah terletak keselamatan nyawa A-hai, ju-ga keselamatan mereka berdua sendiri. Ia harus dapat bertindak cepat dan tepat tanpa keraguan. Maka iapun melangkah maju mendekati A-hai yang masih berdiri seperti patung itu. Tadi keti-ka ia hendak melangkah maju, melihat A-hai me-mejamkan kedua matanya, diam - diam ia telah mengeluarkan sebatang jarum emas yang kini digenggamnya. Begitu ia melangkah maju, A-hai membuka kedua matanya dan kembali Bwee Hong merasa ngeri. Sepasang mata pemuda itu, walau-pun tidak beringas dan liar seperti tadi, akan teta-pi masih nampak merah penuh darah dan menakutkan sekali.
"A-hai, ingatlah, aku Bwee Hong sahabat baikmu. Ingat ? Aku bukan musuhmu, aku tidak akan mengganggumu . . . . . . . . " Ia melangkah maju sampai dekat sekali dan tiba - tiba A-hai memandang dengan matanya yang merah, bibirnya ber-bisik - bisik aneh, penuh keraguan.
"Hong-moi ah, Hong-moi !" Suaranya seperti orang merintih atau hendak menangis dan tiba - tiba saja kedua lengannya merangkul Bwee Hong. Tentu saja dara ini menjadi kaget dan juga heran. Bagaimana A-hai yang berada dalam keadaan lupa ingatan ini sekarang menyebutnya Hong - moi, seolah - olah teringat akan namanya ? Dan pelukan yang mesra itu membuat ia gelagapan dan bingung. Akan tetapi pada saat itu, terdengar bisikan kakaknya melalui Ilmu Coan-im - jip - bit.
"Hayo cepat, tusukkan jarum itu selagi dia lengah. Cepat, antara dua jari di belakang telinga kirinya. Cepat, jangan sampai terlambat dan pembuluhnya pecah " Suara Seng Kun terdengar penuh kekhawatiran.
Teringatlah Bwee Hong akan tugasnya lagi. ta-pun pura - pura balas merangkul leher pemuda itu dan setelah meraba - raba, cepat ia menusuk-kan jarum emas itu di tempat yang tepat.
"Aduhhh ;!" A-hai mengaduh lirih dan rangkulannya mengendur. Bwee Hong yang takut kalau-kalau pemuda itu mengamuk, cepat mele-paskan dirinya dengan hati was - was. Akan tetapi ternyata A-hai tidak mengamuk dan masih ber-diri seperti patung. Akan tetapi kini matanya yang tadinya merah dan liar itu meredup. Perlahan - lahan muka yang merah padam menjadi pu-tih dan bagian - bagian tubuhnya yang lain kem-bali menjadi merah. Tiga buah tonjolan biru di pelipisnya itupun perlahan - lahan mengempis dan menghilang. Kemarahan dan keadaan yang tadi membayang di wajahnyapun mulai surut dan per-lahan-lahan hilang. Sejenak dia menunduk, kadang-kadang kedua matanya dipejamkan, dan kadang-kadang tubuhnya menggigil sedikit. Akhirnya, keadaannya menjadi tenang, agaknya perobahan yang amat hebat pada dirinya telah berlangsung dengan selamat dan baik.
Tak lama kemudian, A-hai mengangkat mukanya. Wajahnya sudah seperti biasa, wajah yang lembut dan jujur. "Aduh tubuhku dingin sekali " dan diapun agak menggigil.
Bwee Hong menjadi gembira bukan main. Ingin rasanya ia bersorak kegirangan melihat pemuda itu telah dapat diselamatkan dan tidak terasa lagi kedua matanya menjadi basah saking terharu dan lega rasa hatinya. Ia melangkah dekat dan kini A-hai memandangnya dengan wajah membayangkan keheranan. "Siapakah engkau, nona ?" Tentu saja Bwee Hong menjadi terkejut bukan main, langkahnya terhenti dan ia menatap wajah A-hai dengan bengong, tak tahu apa yang harus dikatakannya. Pada saat itu, kembali terdengar bisikan kakaknya.
"Awas, dia belum sembuh sama sekali seperti yang kaukira. Dia masih tetap dalam keadaan kumat dan masih berpijak di masa lalunya yang hilang itu. Dia tidak mengenal siapa engkau akan tetapi dia tidak berbahaya lagi, meskipun ilmunya selalu siap untuk dipergunakan. Jarum yang kau-tusukkan tadi hanya membuat darah yang berkum-pul di kepalanya dapat menyebar lagi ke seluruh tubuh. Sebentar lagi kalau tekanan darahnya su-dah normal, dia akan kembali menjadi kawan kita yang lemah dan ketololan itu. Nah, lihat, matanya kini menjadi sayu dan sebentar lagi dia akan mendusin, seperti orang baru bangkit dari tidur. Nah, sekarang inilah tiba saatnya seperti yang kita bica-rakan dahulu. Saat - saat dia seperti inilah kita harus dapat mengetahui masa lalunya. Saat seper-ti inilah di mana dia berada dalam keadaan kumat akan tetapi mudah diajak bicara. Sekarang cobaah, tanyakan siapa dirinya. Cepat sebelum dia kembali lagi dalam keadaannya yang lupa ingatan."
Bwee Hong memberanikan diri dan dara inipun menjura ke arah A-hai seperti orang yang baru saling jumpa. Pemuda itupun berdiri memandang-nya dengan terheran - heran.
"Saudara, bolehkah aku mengenal namamu ?" tanya Bwee Hong dengan suara lembut dan sikap menghormat.
"Apa ? Nama ? Namaku namaku Thian Hai !"
"Saudara dari perguruan manakah ?" Bwee Hong bertanya lagi, jantungnya berdebar tegang karena ia mulai dapat menyingkap tabir rahasia yang menyelimuti diri pemuda aneh ini.
"Aku aku dari ooohhh " Tiba-tiba A-hai terjerembab ke depan. Tentu saja Bwee Hong cepat menyambutnya dengan kedua lengan karena kalau tidak tentu pemuda itu akan terpelanting.
A-hai nampak bingung, lalu mengangkat muka memandang. "Ahh " Dan diapun cepat melepaskan dirinya. "Nona Hong, mana penjahat tadi ? Sudah pergikah dia ?" Suaranya kembali seperti suara A-hai yang tolol!
Seng Kun dan Bwee Hong saling pandang dan mereka merasa gemas dan mendongkol sekali. Penjahat berbahaya itu lari tunggang-langgang karena dihajar A-hai, dan kini pemuda itu bertanya di mana adanya penjahat itu. Bagaimanapun juga, mereka telah dapat sedikit lebih maju dalam mengungkap tabir rahasia pemuda itu, yalah bahwa nama pemuda yang mereka kenal sebagai A-hai itu adalah Thian Hai. Apa she - nya dan dari mana asalnya belum mereka ketahui.
Malam, itu juga Seng Kun mengajak A-hai dan Bwee Hong untuk meninggalkan rumah penginap-an dan melanjutkan perjalanan karena dia khawa-tir kalau - kalau San - hek - houw datang lagi mem-bawa teman - teman yang lebih banyak dan lebih kuat.
Untung malam itu ada bulan menerangi perja-lanan mereka. Di tengah perjalanan, Bwee Hong memuji kakaknya. "Kun - koko, engkau benar - be-nar pantas menjadi ahli waris sucouw kita Bu-eng Sin - yok - ong. Semua keteranganmu tentang pe-nyakit yang diderita oleh saudara Thian Hai ini cocok semua. Kini tinggal mencari dan melaksana-kan cara - cara pengobatannya saja."
"Thian Hai ? Siapa yang bernama Thian Hai ? Akukah ?" A-hai bertanya heran. "Kalau begitu, kalian telah menemukan rahasiaku dan tahu siapa sebenarnya aku ?"
"Sabarlah, saudara A-hai. Kami sedang mela-kukan penyelidikan dan mudah - mudahan kami dapat membantumu untuk menemukan kembali dirimu."
"Kalian sahabat-sahabat baik , sahabat-sahabat baik " kata A-hai dengan suara terharu dan juga kecewa karena mereka itu ternyata belum dapat menemukan rahasianya. Mereka berhenti di puncak sebuah bukit dan A-hai menjauhkan diri, berdiri memandang ke depan, ke bawah di mana terhampar pemandangan yang remang-remang karena sinar bulan tidak mungkin dapat memberi penerangan yang jelas.
"Kun-ko, ketika dia tadi kumat, aku melihat ada tiga buah tonjolan biru di pelipis kirinya. Akan tetapi sekarang tidak tampak lagi. Apakah itu ?" tanya Bwee Hong. Mereka duduk di atas batu-batu gunung untuk beristirahat.
Mendengar ini, Seng Kun nampak kaget. "Tiga tonjolan biru di pelipis ? Benarkah itu ? Coba kita periksa. Saudara A-hai, maukah engkau datang ke sini sebentar ?"
A-hai yang sedang berdiri melamun itu, ter-kejut dan menoleh, lalu menghampiri mereka. "Di bawah sana ada dusun. Ah, perutku lapar benar. Kalau saja kita dapat segera ke sana, aku akan me-mesan ayam panggang!"
Bwee Hong tertawa juga mendengar ucapan ini. "Akupun sudah lapar. Nanti kita lanjutkan perjalanan, akan tetapi di dusun mana ada ayam panggang ?"
"Saudara A-hai, aku hendak memeriksa peli-pismu sebentar, bolehkah ?"
"Pelipisku ? Ada apa dengan pelipisku ? Tapi, tentu saja boleh !"
Kakak beradik itu lalu memeriksa pelipis kiri A-hai. Kulit pelipis itu kini nampak bersih saja, tidak ada tanda apa - apa. Akan tetapi ketika Seng Kun meraba bagian itu, lapat - lapat dia merasa seperti ada tiga buah benda kecil bulat di bawah kulit.
"Hemmm " ahli obat muda itu bergumam sambil meraba - raba. "Seperti gumpalan daging mengeras karena memar. Atau kalau tidak, tentu darah yang menggumpal karena terlanggar benda keras, atau eh, ini, satu di antara tiga tonjolan ini persis melintang di pembuluh darah otak depan "
"Mungkinkah benda itu yang menyebabkan pe-nyakitnya ?" tanya si adik serius.
"Entahlah, mungkin juga. Aku belum bisa me-mastikan, harus memeriksanya dengan teliti lebih dulu. Penyakit yang berdekatan dengan otak amat-lah berbahaya kalau keliru pengobatannya." Kakak beradik itu lalu termenung, nampak murung. Melihat ini A-hai menjadi tidak sabar.
"Aih, kenapa susah - susah memikirkan penya-kitku ? Lihat, sinar matahari pagi sudah mulai nampak di sana. Lebih baik kita turun dan men-cari dusun untuk sarapan !"
Kakak beradik itu tersenyum dan menyatakan setuju. "Perutku sudah lapar, biar aku jalan dulu, akan kucarikan warung nasi untuk kita!" Dan A-hai lalu berjalan cepat menuruni puncak bukit itu.
"Saudara A-hai, hati - hatilah, masih gelap dan jalannya licin !" Bwee Hong memperingatkan dan bersama kakaknya ia mengejar. Akan tetapi, sung-guh amat mengherankan hati dua orang muda ahli ginkang ini ketika mereka tidak melihat A-hai lagi, tidak mampu menyusul pemuda itu. Jalan menurun itu memang agak sukar dan licin, apa lagi karena mereka belum mengenal jalan itu, dan cu-aca masih gelap sehingga mereka harus melang-kah hati - hati agar jangan sampai terpeleset ma-suk jurang. Padahal, A-hai yang berada dalam keadaan biasa itu tidak mempunyai kepandaian apa - apa, jangankan berlari cepat. Akan tetapi ba-gaimana kini A-hai dapat meninggalkan mereka ? Satu - satunya kemungkinan adalah bahwa pemu-da itu telah mengenal baik tempat dan jalan ini. Akan tetapi mana mungkin ? Andaikata A-hai pernah mengenalnya pula, tentu sekarang dia telah melupakan jalan itu.
Matahari telah muncul ketika kakak beradik itu menuruni bukit dan mereka terpaksa berhenti karena ada sebuah sungai menghalang perjalanan mereka. Tidak nampak sebuahpun perahu di tem-pat sunyi itu, juga tidak ada jembatan penyeberang.
"Eh, ke mana dia ?" Bwee Hong memandang ke kanan kiri.
"Saudara A-hai !" Seng Kun berteriak.
"Di mana engkau ?"
Tidak ada jawaban. Tiba - tiba Bwee Hong yang meloncat ke atas batu dan memandang ke seberang sungai berseru, "Heiiii, itu dia! Di se-berang sungai!"
Seng Kun memandang dan benar saja. Mereka melihat tubuh A-hai di seberang sungai. Pemuda itu sedang melenggang dengan santainya, menu-ju ke sebuah dusun yang dapat dilihat dari seberang sini.
Seng Kun lalu mengerahkan khikangnya dan berteriak memanggil, "Saudara A-hai!!! Tunggu dulu ! Di mana kita harus menyeberang ? Apa-kah memakai perahu ? Di mana ??"
"Jangan - jangan dia tadi berenang," Bwee Hong berkata dan ia merasa ogah kalau harus berenang menyeberangi sungai itu yang walaupun tidak berapa lebar, akan tetapi airnya berlumpur dan kelihatan dalam.
Teriakan yang menggema karena didorong te-naga khikang itu terdengar oleh A-hai di seberang sana. Dia menoleh, kemudian menggerakkan bahu dan dengan sikap ketololan diapun berjalan kembali ke tepi sungai lalu dia menghilang di ba-lik semak - semak di tepi sungai seberang sana. Sampai lama dia tidak muncul - muncul.
"Eh, eh, ke mana dia ? Kenapa malah ber-sembunyi ? Dia menghilang di balik semak-semak.
Apakah dia buang air besar ?" Bwee Hong meng-omel. "Atau ketiduran ?"
"Ha - ha, jangan bergurau !" keduanya lalu mendekati tepi sungai dan melcngak - longok ke seberang, mencari - cari bayangan A-hai yang belum juga nampak.
Tiba - tiba kakak beradik itu cepat mengggerak-kan tubuh membalik ketika mendengar langkah kaki orang dan mereka memandang dengan mata ter-belalak ketika melihat bahwa yang datang melang-kah itu bukan lain adalah A-hai!
"Ehhh ! Ohhh ! Bagaimana engkau tadi menyeberang ? Kami tidak melihatmu "
"Hemm, engkau tentu lewat di sebuah tero-wongan, bukan ?" Seng Kun yang cerdik menduga.
A-hai makin bingung, dan sikapnya semakin ke-tololan ketika dia melihat dua orang yang biasanya cerdik itu kini nampak kebingungan. "Benar .. ,aku memang lewat di bawah air sungai. Kenapa ka-lian heran ? Memang itulah satu - satunya jalan un-tuk menyeberang !"
Akan tetapi ucapan itu membuat Seng Kun dan Bwee Hong saling pandang dan menjadi semakin terheran - heran. Apakah A-hai ini sudah benar-benar menjadi gila sekarang, pikir mereka. Tentu saja mereka tidak percaya begitu saja.
"Jangan main - main, saudara A-hai. Katakanlah bagaimana kita dapat menyeberangi sungai ini," kata Bwee Hong.
A-hai mengerutkan alisnya dan menjadi pena-saran. "Kalian tidak percaya ? Marilah ikut aku !" katanya dan dengan lagak kasar karena penasaran dia menggandeng tangan kedua orang itu dan di-tariknya menuju ke balik pohon - pohon lalu nam-paklah bahwa di balik semak - semak belukar ter-dapat sebuah jalan terowongan yang melewati da-sar sungai. Agak gelap di situ sehingga Bwee Hong dan Seng Kun saling berpegangan tangan. Akan tetapi A-hai melangkah seenaknya saja sambil menggandeng tangan Seng Kun dan sebentar saja dia sudah membawa kakak beradik itu menyebe-rang dan mereka muncul di belakang semak-semak di tepi seberang sana.
Tentu saja Seng Kun dan Bwee Hong merasa heran sekali. Jelaslah bahwa jalan penyeberangan ini bukan jalan umum karena tempatnya tersem-bunyi dan di mulut terowongan ditumbuhi semak belukar yang liar sehingga menutupi jalan itu.
Seng Kun memandang wajah A-hai dengan penuh perhatian, juga gadis itu memandang kepa-danya penuh selidik. "Saudara A-hai, bagaimana-kah engkau bisa mengetahui adanya jalan tero-wongan menyeberangi sungai ini ?"
"Mengetahui?" A-hai menjawab dan tertegun bingung. "Aku aku tidak mengetahui. Aku tadi berjalan sambil membayangkan panggang a-yam yang kupesan nanti di warung dusun. Aku ingin makan sekenyangnya, uangku masih cukup.
Aku tidak memikirkan jalan yang kulalui dan tahu-tahu aku masuk terowongan itu dan sampai di seberang. Kenapa sih ? Bukankah terowongan itu memang jalan satu - satunya untuk menyeberang ? Apakah aku telah salah jalan ?"
Ditanya demikian, kakak beradik itu saling pan-dang dan menjadi bingung sendiri bagaimana harus menjawab. "Sudahlah," kata Seng Kun kepada adik-nya. "Mari kita cepat pergi ke dusun di depan un-tuk mencari sarapan."
"Dusun itu berada di sana ! Mari!" kata A-hai dan kembali kakak beradik itu saling pandang de-ngan heran, akan tetapi tidak berkata sesuatu me-lainkan mengikuti A-hai yang melangkah tegap menuju ke suatu arah tertentu. Tak lama kemudian mereka memasuki sebuah dusun dan biarpun tidak mengeluarkan sebuah katapun, namun ada pero-bahan terjadi pada wajah A-hai yang tampan. Wajah itu berseri gembira dan diapun membawa dua orang sahabatnya menuju ke sebuah warung.
Dusun itu tidak begitu besar. Rumah - rumah-nya berjajar sampai di tepi sungai. Agaknya memang hanya sebuah dusun nelayan. Beberapa bu-ah perahu berjajar di tepi seberang ini dan ada jaring - jaring yang sedang dijemur. Beberapa orang nelayan wanita tampak sibuk bekerja. Ada yang menjahit jaring yang robek, ada yang sedang men-jemur ikan - ikan hasil tangkapan mereka di halaman rumah masing - masing. Bau amis ikan me-rangsang hidung. Sebuah dusun nelayan seder-hana.
Ketika mereka sedang berjalan, tiba - tiba di ujung jalan itu muncul seorang pendek bertopi lebar keluar dari sebuah kedai minuman. Dia ber-gegas menuju ke sebuah gerobak pembawa barang yang berdiri di depan sebuah gardu. Cepat Seng Kun menarik tangan adiknya dan A-hai untuk me-nyelinap ke belakang sebuah rumah. Melihat ini, A-hai bertanya, "Ada apakah ?"
"Ssttt !" Seng Kun memberi tanda dengan telunjuk ditempelkan di bibir, tanda bahwa dia minta kedua orang itu tidak banyak mengeluarkan suara. Kemudian dia mengajak mereka menyelinap dan mengambil jalan memutar mencapai wa-rung yang dimaksudkan oleh A-hai untuk dikunjungi tadi. Di sini mereka duduk di tempat ter-lindung, akan tetapi dengan bebas mereka dapat melihat ke arah jalan raya di depan.
"Koko, ada apakah ? Engkau melihat sesuatu yang mencurigakan ?" Bwee Hong bertanya kepada kakaknya.
"Kalian melihat orang yang keluar dari kedai minuman di ujung jalan sana tadi ?" dia balas bertanya.
"Ya, tapi kenapa ?" Bwee Hong mendesak. "Apakah engkau tidak mengenalnya ? Biarpun dia menyamar seperti itu, aku masih ingat cara dia berjalan dan juga perawakannya. Akupun belum yakin benar, akan tetapi sebaiknya kita berhati-ha-ti. Nah, dia akan lewat di depan sini, mari kita perhatikan."
Tak lama kemudian, lewatlah di depan warung itu sebuah gerobak kecil ditutup rapat dan dihela oleh seekor kuda yang dikusiri oleh seorang laki-laki bertubuh pendek tegap yang berpakaian sederhana, mukanya ditutup caping lebar sehingga yang nampak hanyalah dagunya. Ketika gerobak itu lewat, terciumlah bau yang amis agak busuk, amat memuakkan seperti bau bangkai atau bau ikan asin yang belum jadi.
Bwiee Hong menggeleng kepala ketika gerobak itu sudah lewat. "Siapa dia ? Aku tidak mengenalnya. Bukankah dia hanya seorang pedagang ikan asin yang datang ke dusun ini untuk berbelanja ikan asin ?"
A-hai juga menggeleng kepala. "Aku tidak me-ngenal dia!"
Seng Kun menghela napas panjang. "Aku ter-ingat akan seorang yang perawakannya persis orang itu, seorang yang kepandaian silatnya amat tinggi. Gayanya ketika tadi berjalan sama seperti orang itu, ialah Pek - lui - kong Tong Ciak, jagoan Soa - hu - pai, komandan pengawal istana yang lihai itu ! Betapa lihai dia. Pernah aku berkenalan dengan pukulannya yang ampuh. Akan tetapi, aku juga belum yakin bahwa orang tadi adalah Tongciangkun yang sesungguhnya. Perlu apa dia me-nyamar seperti itu ? Dan kenapa pula dia berada di sini ? Padahal, keadaan di istana sendiri sedang dalam kemelut ?"

Bersambung

32                                                                                                                       34