Kamis, 30 Mei 2013

DARAH PENDEKAR 32

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Bab 32
Pengulangan sejarah pertentangan antara yang berkuasa dan yang menentang ini selalu mengaki-batkan satu hal, yaitu kerusuhan, kekacauan, dan tentu saja rakyat jelata yang menanggung akibat-nya ! Rakyat bagaikan pohon - pohon kecil dilanda badai peperangan, daun-daunnya rontok, kem-bang - kembangnya gugur, bahkan batang-batang-nya tumbang dan mati. Rakyat mengalami keta-kutan, penderitaan, korban kekerasan - kekerasan yang mengerikan. Padahal, semua gerakan yang dinamakan perjuangan itu selalu memakai nama demi rakyat! Memang sungguh menyedihkan, namun ini merupakan kenyataan yang dapat dilihat oleh kita semua di dunia ini.
Mengapa harus demikian ? Kalau semua go-longan itu benar - benar berjuang demi rakyat je-lata seperti yang selalu didengang - dengungkan, bukankah tujuan mereka semua itu sama, yakni demi kesejahteraan, demi kemakmuran rakyat ? Apakah kemakmuran rakyat dapat dicapai dengan perang, dengan bunuh - bunuhan, dengan keka-cauan - kekacauan, dengan perebutan kekuasaan yang pada hakekatnya hanyalah menjadi pamrih dan ambisi beberapa orang yang gila kekuasaan belaka ? Mengapa semua golongan itu tidak mem-buang senjata saja, menggantikan dengan alat-alat pembangunan, memimpin rakyat, mendidik, meng-ajak rakyat untuk benar-benar membangun lahir batinnya menuju kepada kemakmuran dan kesejah-teraan hidup, yang penuh damai, penuh ketente-raman, jauh dari permusuhan atau kebencian, jauh dari kekacauan ?
Sungguh menyedihkan ! Yang jelas, rakyat ha-nya menjadi korban nafsu kemurkaan beberapa ge-lintir orang saja yang mabok akan kekuasaan. Orang - orang gila yang selalu mengejar kekuasaan, yang tidak segan - segan melakukan apapun juga demi mencapai ambisi, bahkan kalau perlu meng-gunakan nama rakyat, kalau perlu mengorbankan rakyat, asal tujuan nafsunya tercapai dan dia akhir-nya duduk di puncak kekuasaan bersama teman-temannya ? Dan mereka selalu menaburi cara men-capai tujuan yang amat busuk ini dengan bunga rampai, dengan slogan-slogan yang muluk - muluk, demi rakyat, demi keadilan dan kebenaran, bahkan mereka tidak segan - segan untuk sekali waktu mengatakan Demi Tuhan! Ya ampun, semoga rakyat di seluruh dunia akan terbuka matanya dan tidak terbuai oleh taburan bunga rampai yang ha-rum dan muluk - muluk itu, dan semoga rakyat dapat melihat bahwa di balik semua itu tersembunyi bangkai membusuk dari nafsu mengejar keku-asaan, kemuliaan dan kesenangan sehingga rakyat tidak sudi lagi dicekoki racun terbalut gula !
* * *
Dalam keadaan lelah lahir batin, Liu Pang akhirnya dapat membebaskan diri dari pengejaran musuh - musuhnya. Dia dan muridnya berhasil menyeberangi sungai dan melanjutkan pelarian mereka menjelang subuh itu, tertatih - tatih dan dalam keadaan lemas. Mereka terpaksa berhenti di sebuah kuburan yang sunyi di pagi hari itu, ka-rena Liu Pang harus beristirahat dan merawat lu-ka - lukanya.
"Suhu, tempat ini sunyi dan sebaiknya kita berhenti di sini untuk merawat luka suhu yang perlu beristirahat sebelum kita melanjutkan per-jalanan," kata Pek Lian dan Liu Pang mengangguk lesu.
Karena pukulan - pukulan yang dideritanya dari raksasa Mongol itu cukup hebat, selama sehari itu Liu Pang bersila, menghimpun tenaga dan ha-wa murni sambil menelan beberapa macam obat. Pada senja harinya, barulah dia dapat memulihkan tenaganya dan luka - luka yang dideritanya men-jadi sembuh atau setidaknya tidak mendatangkan rasa nyeri lagi. Sehari itu, Pek Lian merawat dan
Darah 22 menjaga gurunya, memasakkan air dan mencari
makan sekedarnya.
Malam itu bulan sepotong muncul di antara awan tipis. Guru dan murid yang merasa berduka atas kekalahan mereka itu duduk menghadapi ma-kan malam yang hanya terdiri dari daging ayam hutan panggang sambil bercakap - cakap.
"Suhu, sungguh tidak kusangka bahwa fihak musuh sedemikian lihai dan cerdiknya. Juga ba-nyak orang lihai di antara mereka."
Gurunya mengangguk - angguk dani menghela napas panjang. "Di sana ada tokoh Tai-bong-pai yang jahat sekali dan amat lihai, hampir saja ra-cun - racunnya membunuh kita sepasukan ! Dan raksasa Mongol itupun amat lihai, tenaganya kuat dan tubuhnya kebal. Sungguh tidak kusangka, rencana kita dapat gagal, padahal sudah kita susun baik - baik. Kita malah yang menjadi sasaran se-rangan mereka. Orang - orang yang bergabung da-lam benteng itu kiranya bukan orang - orang sem-barangan."
"Agaknya demikianlah, suhu. Di sana berkumpul pembesar - pembesar daerah dan perwira - perwira yang banyak pengalaman, bahkan dibantu oleh pasukan asing yang tentu saja dipimpin oleh orang-orang pandai di samping tokoh - tokoh kaum sesat yang lihai."
Tiba - tiba Liu Pang memberi isyarat kepada muridnya agar diam. Hidung mereka kembangkempis dan jantung mereka berdebar tegang ketika tiba - tiba mereka mencium bau asap dupa wangi yang semerbak menusuk hidung! Di tempat se-perti itu, di kuburan tua yang sepi tercium bau dupa. Sungguh menyeramkan!
Guru dan murid itu segera memandang ke ka-nan kiri dengan sikap yang waspada dan seluruh urat syaraf mereka menegang dalam kesiapsiagaan. Mereka memandang ke arah gundukan - gundukan tanah kuburan yang tersebar di tempat luas itu. Akan tetapi, tempat itu benar - benar sunyi, tak nampak ada seorangpun manusia, bahkan tidak ada sesuatupun yang nampak bergerak. Kadang-kadang, selapis awan tipis menyembunyikan bulan yang si-narnya memang lemah itu, membuat suasana men-jadi semakin menyeramkan. Akan tetapi, hidung mereka masih menangkap bau dupa terbakar wa-laupun mereka tidak melihat adanya asap. Kadang-kadang bau itu sedemikian kerasnya seolah-olah dupa yang terbakar itu berada amat dekat de-ngan mereka. Pek Lian gemetar dan bulu tengkuk-nya berdiri. Ia sudah mengenal bau ini dan oto-matis ketika ada bau keras datang dari arah bela-kangnya, ia menoleh cepat.
"Hiiihhh !" Ia menjerat tertahan dan ta-
ngannya menangkap lengan suhunya.
"Ada apa ?" bisik gurunya kaget sambil
menoleh tanpa melihat sesuatu yang mencurigakan.
"Di sana tadi ah, ke mana perginya ?"
"Sttt, tenanglah. Apa yang kaulihat ?" gurunya berbisik dan bersikap waspada.
"Tadi tadi kulihat di sana, di belakang
gundukan tanah itu, seorang laki - laki dan seorang wanita melihat ke sini. Pakaian dan wajah mereka
putih pucat seperti mayat. Tapi sekarang
menghilang "
"Hemm, aku tidak melihat ada orang. Tenang-kan hatimu, nona Ho," kata Liu Pang yang setiap kali teringat bahwa Pek Lian adalah puteri Men-teri Ho selalu menyebutnya nona walaupun gadis itu adalah muridnya.
Tiba - tiba mereka terkejut sekali ketika men-
dengar suara orang tertawa. "Ha - ha - ha - ha !
Pemberontak Liu Pang, mana mungkin engkau lo-los dari tanganku ?" Tiba - tiba muncullah raksasa Mongol Malisang bersama belasan orang pemban-tunya yang telah mengepung tempat itu dengan senjata di tangan dan dengan sikap mengancam se-kali !
Karena tidak melihat jalan lain untuk melarikan diri, Liu Pang dan Pek Lian segera menghunus pedang dan merekapun mengamuk. Liu Pang di-serang oleh Malisang yang dibantu oleh dua orang perwira Mongol lainnya sedangkan anak buah la-innya mengeroyok Pek Lian. Terjadilah perkelahian seru dan mati - matian di tanah kuburan itu, per-kelahian dalam cuaca remang - remang yang hanya diterangi oleh bulan kecil sepotong. Tentu saja guru dan murid itu segera terdesak dan terhimpit, berada dalam keadaan gawat dan berbahaya sekali karena mereka berdua itu jauh kalah kuat.
Terpaksa guru dan murid itu kini saling melin-dungi dengan berdiri beradu punggung dengan pe-dang melintang di depan dada. Malisang tertawa bergelak melihat keadaan kedua orang buruannya yang sudah tersudut ini. "Ha - ha - ha, Liu Pang, engkau seperti seekor tikus yang sudah terjepit di pojok. Lebih baik menyerah saja untuk kubeleng-gu dari pada harus kuseret sebagai mayat."
Dengan muka merah dan mata terbelalak Liu Pang melintangkan pedangnya di depan dada. "Mati dalam pertempuran merupakan kehormatan bagi seorang pejuang. Kalau ada kemampuan, majulah dan tak perlu banyak cerewet lagi!"' ben-taknya menantang. Malisang mengeluarkan ben-takan nyaring memberi aba - aba kepada anak bu-ahnya untuk mendesak dan menyerang guru dan murid yang sudah tersudut itu.
"Trang - trang - tranggg !!" Tiba-tiba
nampak sinar berkelebatan dan beberapa buah golok dan pedang yang dipergunakan anak buah pasukan Mongol untuk menyerang guru dan murid itu terlempar dan patah - patah, jatuh berhamburan sedangkan mereka sendiri terhuyung mundur sam-bil memegangi tangan mereka yang terasa panas. Melihat ini, Malisang terkejut sekali dan cepat memandang. Kiranya di situ telah muncul dua
orang, seorang laki - laki dan seorang wanita sete-ngah tua yang bermuka pucat - pucat dan berpa-kaian putih - putih dengan gerakan dingin menye-ramkan seperti mayat - mayat hidup ! Melihat me-reka, Pek Lian juga kaget sekali, mengenal bahwa itulah muka dua orang yang tadi dilihatnya mun-cul di balik gundukan tanah kuburan lalu menghi-lang seperti setan.
Nenek itu menghampiri Pek Lian lalu berkata, "Nona Ho, selamat bertemu kembali !"
Terkejut dan heranlah Pek Lian mendengar teguran ini. Ia memandang penuh perhatian dan di bawah sinar bulan yang suram, wajah nenek itu nampak masih membayangkan kecantikan akan tetapi wajah itu amat pucat sehingga mengerikan. Akan tetapi ia segera mengenal wajah itu, apa lagi setelah hidungnya mencium bau dupa wangi kelu-ar dari tubuh nenek itu.
"Bibi Kwa !" Pek Lian berseru girang
karena kini iapun ingat bahwa nenek ini adalah ibu dari Kwa Siok Eng, atau nyonya ketua Tai - bong-pai yang lihai itu ! Sementara itu, Liu Pang juga sudah dapat menduga siapa adanya kakek dan ne-nek itu karena dia pernah mendengar cerita mu-ridnya. Diapun memandang dengan mata terbela-lak. Sebagai seorang pendekar pedang, tentu saja dia pernah mendengar nama Tai - bong - pai, per-kumpulan manusia iblis yang mengerikan, bahkan diapun sudah tahu bahwa pemuda lihai yang membantu para pengkhianat adalah tokoh muda Tai-bong - pai pula. Kalau yang muncul ini suami isteri ketua Tai - bong - pai, berarti mereka ini adalah ayah ibu pemuda Kwa Sun Tek, dan tentu dia akan celaka!
Akan tetapi, nenek itu kini menudingkan telun-juknya kepada muka Malisang dan dengan suara dingin nenek itu berkata, "Orang asing. Pergilah engkau dari sini, bawa anak buahmu dan jangan engkau berani mengganggu nona ini kalau engkau masih ingin hidup lebih lama lagi!"
Malisang adalah seorang kepala suku yang li-hai dan bertubuh kuat, tidak pernah merasa takut terhadap lawan yang bagaimanapun juga. Kini melihat munculnya sepasang kakek dan nenek yang telah menentangnya itu, tentu saja dia menjadi marah sekali. Apa lagi ketika mendengar ucapan nenek itu yang amat memandang rendah kepada-nya, dia segera mengeluarkan suara menggeleng seperti seekor biruang dan diapun menubruk ke depan dengan kedua lengannya yang panjang itu menyerang dari kanan kiri dan kedua tangannya dengan jari - jari terbuka mencengkeram.
"Duk! Duk!"
Tubuh Malisang terdorong mundur oleh tang-kisan yang dilakukan oleh kakek itu yang mewakili isterinya. Malisang terkejut sekali, akan tetapi kakek itu juga mengeluarkan seruan marah ketika merasa betapa kedua lengannya tergetar hebat bertemu dengan lengan raksasa Mongol yang ber-tenaga raksasa itu. Malisang segera menyerang la-gi, mengerahkan kekuatan dan kekebalannya. Akan tetapi, kini yang dilawannya adalah ketua Tai-bong - pai, seorang tokoh yang memiliki ilmu mu-jijat. Baru Kwa Sun Tek saja, tokoh muda Tai-bong - pai itu, sudah amat lihai. Apa lagi kakek ini adalah ayahnya, ketua Tai - bong - pai yang ten-tu saja telah menguasai ilmu - ilmu siluman dari Tai - bong - pai dengan sempurna. Baru belasan jurus saja, Malisang telah terdorong beberapa kali dan akhirnya roboh terguling dengan darah me-rembes keluar dari tubuhnya bercampur keringat-nya. Dia telah terkena ilmu ampuh Tai - bong - pai, yaitu Pukulan Penghisap Darah! Semua anak bu-ahnya memandang dengan mata terbelalak, bahkan Liu Pang sendiri sampai bergidik.
Sementara itu, Kwa Eng Ki, ketua Tai - bong-pai, bersikap sesuai dengan sikap seorang ketua yang berwibawa dan menghargai kedudukannya. Melihat lawannya roboh dan menjadi korban ilmu-nya, dia lalu mengeluarkan dua buah pel merah dan dilemparkannya dua butir pel itu ke arah Ma-lisang sambil berkata, "Di antara kita tidak ada permusuhan, jangan sampai engkau mati oleh pu-kulanku. Minumlah dua butir pel penawar itu!"
Malisang merasa malu sekali. Akan tetapi dia-pun maklum bahwa kalau tidak memperoleh obat penawar, nyawanya terancam bahaya maut, maka diapun melupakan kerendahan diri dan mengam-bil dua butir pel itu dan terus saja ditelannya. Seketika darah yang merembes keluar dari pori-pori kulit tubuhnya berhenti dan hatinyapun lega. Karena dia merasa malu dan tahu bahwa melawan tiada gunanya lagi, diapun lalu pergi dari tempat itu, diiringkan oleh anak buahnya, tanpa mengelu-arkan kata - kata lagi.
Tentu saja Liu Pang dan Pek Lian merasa lega melihat raksasa Mongol itu dan anak buahnya te-lah dapat diusir pergi dari situ walaupun diam-diam Liu Pang masih meragukan apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh suami isteri iblis Tai-bong - pai yang menyeramkan itu.
"Nona Ho, apakah engkau melihat puteri kami
yang nakal itu ? Kami khawatir sekali, ia pergi
tanpa pamit, padahal ia belum sembuh benar "
Karena Pek Lian sendiri juga merasa ngeri menyaksikan sepasang suami isteri yang seperti ma-yat hidup itu dan tidak mengenal betul bagaimana sesungguhnya watak mereka, iapun tidak banyak bicara dan hanya menjawab, "Saya sendiri tidak tahu, bibi." Pek Lian masih meragukan keadaan suami isteri ini. Keadaan mereka penuh rahasia. Memang harus diakuinya bahwa Kwa Siok Eng adalah seorang gadis yang baik sekali, akan tetapi bukankah kakak gadis itu kini bahkan bersekong-kol dengan para pasukan asing dan juga menjadi kaki tangan pemberontak yang bersekutu dengan pejabat - pejabat daerah ? Sukar diduga keadaan orang-orang Tai - bong - pai, maka ia merasa lebih aman kalau tidak mendekati dan bergaul dengan mereka.
"Sudahlah, mari kita mencari di tempat lain," kata nenek itu kepada suaminya dan sekali berke-lebat, dua orang itu lenyap dari situ seperti menghi-lang saja. Hanya bau dupa harum yang lapat-lapat masih dapat tercium oleh Liu Pang dan muridnya. Mereka berdua bergidik ngeri. Sungguh, banyak terdapat orang - orang lihai yang aneh di dunia ini dan agaknya, dalam keadaan negara dilanda keka-cauan, tokoh - tokoh dari dunia hitam, yang amat lihai dan aneh - aneh pada bermunculan keluar da-ri sarang mereka.
Setelah suami isteri itu pergi, barulah Pek Lian teringat akan putera mereka yang kini bersekutu dengan pasukan asing dan ia merasa menyesal mengapa hal itu tidak dibicarakannya dengan me-reka tadi. Setidaknya ia telah mengenal dan men-dapatkan kesan baik dari ibu Siok Eng dan siapa tahu ketua Tai - bong - pai itu tidak mengetahui akan perbuatan kakak gadis itu dan akan menen-tangnya.
Karena maklum bahwa agaknya fihak musuh tidak akan melepaskan mereka begitu saja, Liu Pang lalu mengajak muridnya untuk melanjutkan perjalanan meninggalkan tempat itu, mengambil jalan memutar melalui tempat - tempat gelap untuk mencari dan menggabungkan diri dengan pa-sukan lain yang dipimpin oleh para tokoh Thian-kiam - pang. Mereka mengambil jalan di lembah bukit yang terjal dan sunyi, dengan hati - hati me-reka melalui jurang - jurang dan tanah yang penuh dengan dinding-dinding karang dan gua-gua. Setelah matahari menyingsing, mereka beristirahat sambil bersembunyi di dalam sebuah guha di mana mereka bersila untuk memulihkan tenaga.
Setelah merasa yakin bahwa daerah itu sunyi dan tidak nampak gerakan manusia, mereka me-lanjutkan perjalanan. Menjelang malam, mereka tiba di tepi sebuah sungai.
"Hati - hati ada asap di depan itu, tentu ada orangnya di sana," kata Liu Pang. Mereka lalu menyelinap dan dengan bantuan kegelapan malam, guru dan murid ini mendekati tempat itu.
Kini mereka dapat melihat dengan jelas dari tempat sembunyi mereka. Di depan sebuah gua kecil nampak seorang laki - laki yang berpakaian indah pesolek, duduk menghadapi sebuah api ung-gun. Laki - laki ini memanggang daging kelinci yang sudah mulai matang dan mengeluarkan bau sedap, sedangkan di dekatnya duduk seorang ga-dis yang menundukkan mukanya dan gadis itu termenung menatap ke dalam api unggun seperti orang yang sedang bersedih-
Di tempat persembunyian mereka yang aman dan cukup jauh dari tempat orang yang mereka intai, Pek Lian menyentuh tangan gurunya dan berbisik, "Suhu, dia adalah si jahat Jai - hwa Toat-beng - kwi yang tersohor itu."
Liu Pang mengangguk dan memandang penuh perhatian. Laki - laki tampan pesolek itu kini me-nyodorkan sepotong daging kelinci kepada si gadis yang bermuka pucat dan sedih. "Nih, makanlah, agar engkau tidak nampak lesu begitu."
Gadis itu memandang dengan mata kosong dan agaknya takut untuk menolak. Diterimanya po-tongan daging panggang itu dan gadis itupun ma-kan karena memang perutnya amat lapar. Jai-hwa Toat - beng - kwi tersenyum dan diapun makan potongan daging yang lain.
"Nah, begitu bagus. Kalau engkau mentaati semua perintahku, tentu engkau akan senang." Keduanya makan daging panggang dan minum dari sebuah guci besar yang agaknya terisi arak karena tercium bau arak ketika laki - laki itu meminumnya. Gadis itupun terpaksa minum arak walaupun ia kelihatan tersedak dan tidak biasa. Kini pria itu menyalakan ujung himcwe emasnya dan tercium-lah bau asap tembakau.
"'Aku sudah banyak mendengar tentang jaha-nam itu," bisik Liu Pang. "Gadis itu tentu seorang korbannya. Akan tetapi kita tidak usah mengusik-nya. Penjahat seperti dia banyak muslihatnya. Ja-ngan-jangan urusan kita malah menjadi berantak-an. Kaum sesat seperti mereka itu kini bersatu di bawah Si Raja Kelelawar, sangiat berbahaya kalau mencari perkara dengan mereka. Dia sendiri sih tidak perlu ditakuti, akan tetapi kalau kawan - ka-wannya muncul, berbahaya juga. Mari kita meng-hindar saja."
Akan tetapi sebelum guru dan murid itu sem-pat pergi, tiba - tiba terdengar siulan nyaring yang menuju ke tempat itu. Terpaksa mereka menyeli-nap dan bersembunyi lagi sambil mengintai.
Sesosok bayangan hitam berkelebat datang dan ternyata ia adalah seorang wanita yang berwajah cantik dan bertubuh ramping. Usianya kurang dari tigapuluh tahun dan gerakannya cepat sekali, dan kini setelah berdiri di dekat api unggun, mata-nya yang jeli mengerling ke arah si Jai - hwa Toat-beng - kwi, lalu kerling mata itu menyambar ke arah si gadis yang bermuka sedih dan wanita ini tersenyum mengejek, bibirnya yang merah berjebi.
"Pek-pi Siauw-kwi Si Maling Cantik !"
Pek Lian berbisik dengan kaget ketika mengenal wanita ini. Akan tetapi, ternyata bukan wanita penjahat ini saja yang muncul karena berturut-turut muncul pula orang - orang yang di dunia kang-ouw sudah terkenal sebagai tokoh - tokoh kaum sesat. Ada sembilan orang banyaknya dan kini Jai - hwa Toat - beng - kwi bangkit berdiri dan mengomel.

"Wah, sampai penat - penat badanku menanti kalian. Nah, inilah surat dari Ong - ya ! Siauw-kwi, bacalah keras - keras agar semua orang mendengarnya !" kata jai-hwa Toat - beng - kwi sambil melemparkan segulung kertas ke arah Si Maling Cantik.

Kertas gulungan itu menyambar cepat dan ditangkap oleh Pek - pi Siauw - kwi yang segera membuka gulungannya dan terdengarlah suaranya yang lembut namun nyaring itu.

"Sekalian rakyatku yang malang-melintang di rimba raya dan sungai telaga, dengarlah baik-baik ! Saat ini negara sedang dalam keadaan kalut. Pem-berontakan terjadi di mana - mana. Negara berada dalam bahaya keruntuhan. Dari arah barat dan timur para pemberontak sedikit demi sedikit men-duduki daerah - daerah. Kini tinggal beberapa daerah saja di sekitar kota raja yang masih tersisa. Nah, sekaranglah saat kejayaan yang aku janjikan kepada kalian itu tiba. Berkumpullah kalian se-mua ke kota raja. Akan kuberikan tugas-tugas penting. Kita akan bersuka ria dan kejayaan ber-ada di tangan kita!"

Mendengar bunyi surat yang dibacakan oleh Pek - pi Siauw - kwi, semua orang menyambut gembira.

"Hidup Tuanku Raja Kelelawar! Hidup Ong - ya!"

Kalau saja mereka semua belum me-nyaksikan sendiri kehebatan orang yang kini men-jadi pemimpin mereka itu, tentu para tokoh sesat ini tidak akan mudah begitu saja mempercayai jan-ji yang dikeluarkan sedemikian mudahnya. Berge-rak di kota raja !

Sungguh merupakan perbuatan nekat dan biasanya hal ini akan dianggap seperti orang mencari mati saja. Akan tetapi kaum sesat itu kini sudah percaya sepenuhnya kepada Raja Kelelawar dan apapun yang diperintahkannya akan mereka taati tanpa banyak ragu lagi.

Sambil bersorak - sorak, para tokoh sesat itu meninggalkan tempat itu, dan Jai - hwa Toat beng-kwi sendiri lalu menarik tangan gadis korbannya, kemudian memondongnya dan penjahat cabul itu-pun berkelebat pergi.

Liu Pang dan Pek Lian masih bersembunyi. Biarpun para tokoh sesat itu sudah lama pergi, mereka masih saja bersembunyi di tempat tadi. Bulan sepotong tertutup awan, malam amat gelap dan kini api unggun itu telah padam. Di dalam kegelapan ini sukar diketahui apakah benar - benar tempat itu telah bersih dari orang-orang jahat itu. Hanya dengan ketajaman pendengaran saja Liu Pang meneliti keadaan di tempat itu dan mereka mengambil keputusan untuk menanti dulu sebelum meninggalkan tempat persembunyian mereka.

"Hemm, keadaan menjadi semakin gawat," bisik Liu Pang kepada muridnya.

"Golongan sesat yang dipimpin Raja Kelelawar itu ternyata sudah terjun pula dalam pergolakan negara, bahkan me-reka itu langsung bergerak ke kota raja. Ini benar-benar merupakan hal yang amat gawat. Jenderal Beng Tian dan putera mahkota sudah tidak berada di kota raja dan kini keadaan akan menjadi sema-kin kalut. Kiranya di istana yang dapat diandalkan kini hanyalah pasukan pengawal istana saja. Sedangkan barisan kita sendui kini masih tertahan di daerah ini. Untuk mencapai kota raja masih melalui jalan yang panjang dan sukar. Bagaimana-pun juga, kita harus cepat dapat mencapai kota raja, jangan sampai didahului oleh pasukan yang dipimpin oleh Chu Siang Yu. Apa lagi kalau istana sampai dikuasai oleh iblis - iblis pimpinan Raja Kelelawar, ahh jangan sampai terjadi hal itu! Kita harus cepat mencari pasukan kita."

TIBA - TIBA Liu Pang memegang tangan mu-ridnya dan menyuruhnya jangan bergerak. Bulan sepotong telah terlepas dari cengkeraman awan dan di dalam cuaca yang suram - muram itu nampak bayangan yang berkelebat halus namun cepat sekali. Tahu - tahu, seperti setan saja di tempat itu, tak jauh dari tempat persembunyian mereka, nampak dua orang kakek berjenggot putih panjang. Mereka adalah dua orang kakek yang mengenakan jubah panjang berwarna coklat dan di bagian dada jubah itu nampak jelas lukisan naga terbuat dari pada benang kuning emas.

Liu Pang dan Pek Lian tidak berani bergerak. Dari gerak - gerik kedua orang kakek itu, guru dan murid ini dapat menduga bahwa mereka tentulah orang-orang yang memiliki kesaktian dan sedikit saja mereka mengeluarkan suara tentu akan terdengar oleh dua orang kakek itu.

Seorang di antara mereka, yang lebih muda, menuding ke arah bekas api unggun dan terdengar suaranya lirih, "Lihat, suheng. Iblis - iblis itu tentu baru saja berkumpul di sini. Sungguh mengherankan, mereka itu biasanya bergerak sendiri - sen-diri, kalau sampai mereka dapat berkumpul, tentu telah terjadi hal yang amat luar biasa."

"Benar, memang telah terjadi hal yang luar bia-sa," kata temannya.

"Munculnya seorang pelindung seperti Raja Kelelawar memberi kesempatan ke-pada mereka untuk tumbuh, keadaan mereka se-perti harimau tumbuh sayap. Mereka merajalela mengganggu rakyat yang sudah cukup menderita sengsara akibat peperangan - peperangan itu. Me-reka itu menjadi semakin berani dan ganas karena mereka tahu bahwa dalam keadaan seperti sekarang ini, tidak ada kekuatan yang berani menghalangi mereka. Pasukan pemerintah sedang sibuk me-nanggulangi para pemberontak. Musuh bebuyutan mereka, yaitu para pendekar, bahkan kini sibuk melawan pemerintah."

"Para iblis itu mengganas di kota raja sekalipun, takkan ada yang menghalangi. Bukankah ini sudah keterlaluan sekali ? Bagaimana jadinya dengan ne-gara ini nanti ?"

"Sayang, kita sedang melaksanakan tugas yang diberikan oleh suhu. Kalau tidak, sudah kuhancur-kan orang - orang itu tadi!" Orang yang lebih muda mengepal tinju dengan sikap marah.

"Sabarlah, sute. Nanti kalau tugas kita selesai kita cari orang - orang itu. Hayo kita pergi, benteng itu tidak jauh lagi dari sini."

Mereka berkelebat dan lenyap dari tempat itu. Gerakan para iblis sesat tadi memang sudah hebat dan menunjukkan betapa mereka itu rata - rata berkepandaian tinggi. Akan tetapi, tingkat kepan-daian dua orang ini bahkan melebihi mereka itu dan melihat betapa mereka berkelebat lenyap, Liu Pang menghela napas panjang.

"Kedua orang itu lihai bukan main. Gerakan mereka sedikitpun tidak meninggalkan suara. Entah dari golongan manakah mereka itu ? Agaknya me-reka tidak menyukai golongan Chu Siang Yu mau-pun golongan kita. Dan mereka amat membenci anak buah Raja Kelelawar. Mereka juga tidak s-ka kepada golongan yang mengkhianati pemerintah. Hemm, sungguh aneh, mereka itu dari golong-an mana dan berpihak kepada siapakah ?"

"Suhu, aku mengenal jubah mereka. Mereka itu masih seperguruan dengan kakak beradik Chu Seng Kun dan Chu Bwee Hong. Kalau tidak salah, orang-orang tadi masih terhitung susiok kakak ber-adik itu. Guru orang - orang tadi adalah murid ke dua dari mendiang Tabib Sakti Tanpa Bayangan. Aku bahkan pernah berjumpa dengan guru mereka itu, yaitu di tempat kediaman murid keturunan Sin - kun Bu - tek, yaitu ketua Thian - kiam - pang. Agaknya di antara kedua orang tua itu terdapat persahabatan yang erat. Kalau mengingat bahwa isteri ketua Thian-kiam-pang adalah keluarga kaisar, maka kurasa kedua orang itupun tentu termasuk pengikut kaisar."

Liu Pang mengangguk - angguk. "Dan mereka hendak pergi ke benteng, apa sebenarnya tugas yang mereka terima dari guru mereka itu ?"

Mereka melanjutkan perjalanan dengan hati-hati sekali dan setelah lewat tengah malam, tibalah me-reka di suatu padang rumput Kini bintang berta-buran di langit bersih sehingga cahaya cukup me-nerangi keadaan sekeliling.

"Suhu, lihat di sana itu ! Apakah itu ?" Pek Lian menunjuk jauh ke depan. Guru dan murid itu memandang dan jauh di depan nampak peman-dangan yang amat menarik.

Seolah - olah ribuan bintang di langit itu bergerak turun dan berbaris di atas bumi, merupakan barisan panjang berkelap-kelip.

"Hemm , itu sudah pasti sebuah barisan pasukan yang cukup besar, begitu panjang. Sedikitnya tentu ada limaribu orang, dan ada iring-iringan kereta lagi, hemim entah pasukan mana yang bergerak pada malam hari ini ?"

Mereka lalu cepat menyelinap di antara pohon-pohon dan mendekati, kemudian bersembunyi di balik pohon - pohon besar dan lebat. Kini bunyi derap kaki dan ringkik kuda, juga bunyi roda kere-ta sudah terdengar oleh mereka, diseling berkerin-cingnya senjata para anak buah pasukan.

Dugaan Liu - bengcu yang berpengalaman itu memang tepat. Yang sedang bergerak itu adalah sepasukan besar yang bersenjata lengkap. Mereka berdua tidak berani terlalu mendekatkan diri, dan hanya mengintai dari balik batang-batang pohon besar yang berada di lereng bukit itu. Pada saat itu terdengar derap kaki kuda mendekat dan nam-paklah beberapa orang perajufit pengawal mengi-ringkan dua orang raksasa. Pek Lian terkejut sekali mengenal bahwa raksasa pertama adalah Malisang, kepala suku Bangsa Mongol yang bersekongkol de-ngan pasukan daerah itu. Kiranya orang Mongol ini sudah sembuh kembali setelah terluka oleh pu-kulan mujijat ketua Tai - bong, - pai dan kini sudah berada di sini, agaknya memimpin pasukan besar yang melakukan gerakan di waktu malam itu. Akan tetapi, gadis ini lebih kaget lagi ketika mengenal raksasa ke dua yang lebih besar lagi tubuhnya dari pada si tokoh Mongol. Dan iapun menjadi gentar ketika mengenal bahwa raksasa ini ternyata adalah Tiat - siang - kwi (Setan Gajah Besi), tokoh ke dua dari para iblis Ban - kwi - to itu ! Tentu saja guru dan murid itu tak berani banyak berkutik ketika melihat betapa dua orang raksasa bersama penga-walnya itu kini berhenti di dekat pohon - pohon tempat mereka bersembunyi!

"Ha - ha !" Raksasa Ban - kwi - to itu tertawa bergelak ketika mereka itu memandang ke arah pasukan yang lewat di bawah.

"Kalau kota raja sedang kalut, dengan barisanmu yang kuat ini, lang-sung menyerang kota raja terus menduduki istana-nya, apakah sukarnya ?"

"Ho-ho, saudara Tiat-siang-kwi mudah saja bicara ! Keadaan istana dan kota raja memang ka-lut, akan tetapi bukan itulah yang selama ini me-musingkan kami, melainkan si petani Liu Pang itu-lah ! Kalau pasukannya sudah kami hancurkan, barulah kita berkesempatan menyerbu kota raja."

"Hemm, aku tidak tahu tentang siasat perang. Akan tetapi engkau tahu bahwa kami mau mem-bantu karena pasukanmu hendak menyerbu istana di kota raja," kata pula si raksasa dengan suaranya yang lantang.

"Tentu saja, tentu saja. Jangan khawatir, kalau kita sudah menyerbu istana, tentu kami akan mem-beri kesempatan seluasnya kepada engkau dan saudara - saudaramu untuk berpesta - pora sepuas-nya di istana. Ha - ha - ha !"

"Huhh !" Tiba - tiba raksasa dari Ban-kwi - to itu mendengus dan berdesah seperti seekor kerbau. Dia celingukan ke kanan kiri, ke belakang dan hidungnya terdengar mendengus - dengus.

"Aku mencium bau daging wanita muda! Ada wanita muda di sekitar tempat ini!"

Tentu saja Pek Lian terkejut setengah mati mendengar ini. Raksasa pemakan daging manusia ini benar - benar memiliki penciuman yang tajam seperti srigala saja. Akan tetapi Malisang tertawa.

"Saudara Tiat - siang - kwi benar - benar memiliki penciuman yang hebat. Memang ada wanita-wa-nita di dalam barisan itu. Di dalam kereta itu terdapat para wanita keluarga gubernur yang ikut mengungsi dan kita kawal!"

"Bukan, bukan mereka! Wanita ini berada di sini, di sekitar tempat ini!" kata raksasa itu dan dengan langkah lebar dia lalu menghampiri pohon besar di mana Liu Pang dan muridnya bersembu-nyi.

Ketika itu, guru dan murid ini bersembunyi di atas pohon besar itu, di antara dahan - dahan dan daun - daun pohon yang lebat. Tentu saja melihat raksasa itu menghampiri pohon, Pek Lian bergidik dan jantungnya seperti akan pecah rasanya karena berdegup kencang penuh ketegangan. Liu Pang sendiri sudah bersiap - siap untuk meloncat turun dan kalau perlu mengadu nyawa melindungi mu-ridnya.

Akan tetapi, ketika tiba di bawah pohon besar itu, Tiat - siang - kwi bukan menengok ke atas, me-lainkan membungkuk ke bawah dan tangannya menyambar ke arah sehelai ikat pinggang yang berkembang merah.

"Inilah wanita itu !" katanya sambil memandang ikat pinggang itu yang ternyata sebagian tertanam dalam tanah. Malisang menghampiri dan memandang heran.

"Eh, ini tanah galian baru !" katanya dan dia-pun membantu raksasa itu menarik ikat pinggang yang sebagian besar tertanam itu.

Tanah terbuka dan keluarlah sesosok tubuh wanita yang sudah menjadi mayat! Dari atas, Liu Pang dan Pek Lian memandang dengan hati ngeri dan mengenal bahwa itulah gadis yang mereka lihat bersama Jai-hwa Toat - beng - kwi itu ! Kiranya gadis korban penjahat cabul itu telah dibunuh dan mayatnya dikubur secara sembarangan di bawah pohon itu.

"Heii ! Mayat siapakah itu ?" Terdengar seruan orang dan seorang pria muda yang rambutnya riap-riapan tahu-tahu muncul di situ.

Dia adalah Kwa Sun Tek, tokoh muda Tai-bong-pai itu.
"Entahlah, kami temukan ia terkubur di sini," jawab Malisang. Kwa Sun Tek berjongkok meme-riksa.

"Hemm, bukan mayat orang yang kami cari," katanya sambil bangkit berdiri lagi.

"Kwa - sicu, apa maksudmu ?" tanya Malisang yang merasa heran melihat sikap pemuda ini seper-ti orang marah - marah dan mencari - cari sesuatu.

"Sungguh kurang ajar sekali!" Kwa Sun Tek mengomel.

"Para penjahat itu sungguh tidak me-mandang sebelah mata kepada kita! Berani meng-ganggu barisan kita yang besar. Seorang dayang gubernur telah diculik, berikut beberapa buah perhiasan yang dibawa oleh keluarga gubernur. Bukankah itu perbuatan yang lancang dan menan-tang sekali ? Seorang di antara mereka, kalau tidak salah yang berjuluk Pek - pi Siauw - kwi, terkena pukulanku, akan tetapi ia gesit sekali dan dapat melarikan diri. Malam amat gelap dan mereka lari ke dalam hutan, bagaimana aku dapat menge-jar mereka ?"

"Aih, sudahlah, mengapa urusan kecil begitu harus dibesarkan. Urusan besar kita bisa kapiran. Hayo kita berangkat, perjalanan malam ini harus mencapai tempat tujuan sebelum matahari terbit." Merekapun lalu pergi meninggalkan bawah pohon besar itu.

Dari atas pohon, Liu Pang dan Pek Lian me-nyaksikan iring - iringan yang besar dan ternyata bahwa pasukan itu terdiri dari pasukan pejabat daerah bersama pasukan asing. Mereka agaknya meninggalkan benteng karena takut akan serbuan pasukan Liu Pang. Pada akhir barisan itu nampak kereta - kereta, di antaranya gerobak suami isteri Ban - kwi - to yang sudah amat dikenal oleh Pek Lian itu.

Melihat ini, Liu Pang berpikir. "Wah, sungguh gawat. Ternyata para gubernur daerah itu bukan hanya bersekongkol dengan orang - orang asing, akan tetapi juga dibantu oleh kaum sesat."

Setelah barisan itu lewat dan suasana di situ menjadi sunyi lagi, Liu Pang dan muridnya turun dari batang pohon besar itu. Sejenak keduanya berdiri memandang kepada mayat gadis yang masih menggeletak di bawah pohon. Liu Pang me-narik napas panjang.

"Gadis yang malang "

"Dan biarpun sudah menjadi mayat, ia masih berjasa dan menyelamatkan kita, suhu," kata Pek Lian. Mereka lalu menggali lubang dan mengubur mayat gadis itu.

Setelah itu, keduanya lalu dengan hati - hati melanjutkan perjalanan. Semua pengalaman yang dialami oleh Liu Pang bersama muridnya dalam perjalanan ini, sungguh amat berharga baginya. Tanpa disengaja dia telah memperoleh banyak ke-terangan mengenai keadaan musuh - musuhnya se-hingga dari semua pengalaman ini dapat dipergu-nakannya untuk menyusun siasatnya kelak ketika dia memimpin pasukannya sampai berhasil.


                                                                    * * *

Sudah terlalu lama kita meninggalkan Seng Kun dan Bwee Hong, kakak beradik yang melakukan perjalanan ke kota raja dan diikuti oleh A-hai itu. Makin mendekati kota raja, kakak beradik ini me-lihat betapa keadaan semakin kacau dan kekalutan amat terasa. Memang arus para pengungsi berku-rang akan tetapi ketegangan terasa di mana - mana. Kota - kota menjadi sunyi, dusun - dusun diliputi ketegangan dan ketakutan. Para penjahat berpes-ta-pora, melakukan aksi di mana saja, terutama sekali di sekitar kota raja. Para penjahat ini tahu bahwa para perajurit sedang sibuk bertempur menghadapi pemberontak. Kekuatan petugas kea-manan hanya lemah dan sedikit saja, bahkan para petugas keamanan sendiri ikut - ikutan bersikap sewenang - wenang karena tidak diawasi oleh atas-an mereka yang sibuk sendiri. Para penjahat yang memiliki kepandaian seperti menjadi raja - raja ke-cil atau penguasa - penguasa yang menguasai kota-kota besar. Biasanya, selain para petugas keaman-an, juga para pendekar menentang mereka ini. Akan tetapi kini para pendekar banyak yang me-ninggalkan rumah dan bergabung dengan pasukan pendekar menentang pemerintah dan menentang para pengacau. Keadaan sungguh kalut dan hu-kum rimbapun berlakulah. Siapa kuat dia menang.

Para hartawan dan para pejabat, orang - orang terkemuka dan mampu, menggaji barisan tukang pukul untuk menjaga keselamatan keluarga mereka, atau setidaknya mereka ini mendekati para penja-hat, menyogok sana - sini agar keluarga mereka ti-dak diganggu. Segala macam perbuatan kejipun terjadilah di malam hari. Penindasan, perampokan, perkosaan dan kerusuhan karena persainganpun terjadi hampir setiap hari. Keadaannya amat me-nyedihkan.

Seng Kun dan Bwee Hong melihat semua ini. A-hai juga melihatnya, akan tetapi pemuda yang linglung ini seperti tidak mengacuhkannya atau tidak menyadari keadaan. Sebaliknya, kakak ber-adik yang berjiwa pendekar itu merasa berduka se-kali. Mereka prihatin menyaksikan keadaan ini, melihat bahwa bagaimanapun juga, akhirnya yang paling menderita adalah rakyat jelata yang miskin dan lemah. Rakyat yang tidak mempunyai pelin-dung dan tidak kuasa melindungi diri sendiri inilah yang ditindas, diinjak - injak, disiksa, dibunuh, di-perkosa hak - haknya, sedikitpun tidak ada kemam-puan untuk membalas dan biasanya hanya menangis saja.

Pada suatu pagi yang cerah, tiga orang muda ini memasuki sebuah kota kecil yang terletak di sebelah tenggara kota raja. Sebuah jalan raya yang cukup besar terbentang di depan, memasuki pintu gerbang utara untuk menuju ke arah kota raja. Kota kecil ini biasanya cukup ramai akan tetapi sekarang di balik keramaian itu terasa adanya ke-tegangan dan rasa takut membayang dalam pan-dang mata setiap orang yang masih melanjutkan usahanya berdagang.

Baru sampai di pintu gerbang saja, tiga orang muda itu sudah melihat hal yang amat mengheran-kan. Mereka melihat betapa setiap orang yang le-wat di situ menghampiri sebuah sudut di pintu gerbang. Di situ berdiri sebuah guci besar, tinggi-nya ada satu meter dan mulut guci itu lebar, lalu menyempit di bagian leher. Setiap orang yang menghampiri guci itu lalu memasukkan uang ke dalam mulut guci. Di belakang guci itu duduk ber-sila seorang laki - laki yang bertubuh kekar dan berjenggot lebat. Di sekitar tempat itu terdapat enam orang laki - laki yang rata - rata berwajah se-rem dan bersikap galak. Mereka inilah yang meng-amati setiap ada orang memasukkan uang ke da-lam guci, dan orang - orang yang memasukkan uang itupun dengan sengaja memperlihatkan jumlah uang yang dimasukkannya, seolah - olah hendak memperlihatkan bahwa mereka telah memasukkan jumlah uang yang secukupnya. Dari sikap mereka yang menghampiri guci, dapat terlihat bayangan rasa gentar dan takut terhadap orang - orang yang menjaga guci itu.

Tentu saja tiga orang muda itu merasa heran bukan main. Mula-mula mereka tidak tahu apa artinya guci yang dimasuki uang oleh mereka yang lewat di pintu gerbang itu. Maka Seng Kun dan Bwee Hong juga meragu dan berdiri memandang ketika ada seorang nenek datang menghampiri guci itu dengan mulut kemak - kemik dan muka pucat, mata terbelalak membayangkan rasa takut. Nenek itu berusia hampir enampuluh tahun, memikul ke-ranjang sayuran yang kosong. Melihat pakaiannya, tentu ia seorang nenek dusun yang baru saja pu-lang dari kota menjual hasil ladangnya berapa sa-yur - sayuran. Dengan tangan gemetar, nenek itu mengambil sepotong uang logam dan hendak memasukkannya ke dalam mulut guci. Akan tetapi tiba - tiba terdengar bentakan keras dan nenek itu terkejut, tangannya menggigil dan mukanya pucat memandang kepada laki - laki tinggi besar yang membentaknya tadi.

"Nenek mau mampus ! Berani engkau menghina kami dengan memberi uang kecil yang tiada har-ganya itu?" Seorang di antara enam laki-laki ga-lak itu membentak dan menghampiri dengan sikap mengancam.

"Ampun saya saya tidak punya uang " nenek itu berkata dengan suara gemetar dan merangkapkan kedua tangan, memberi soja berkali-kali.

"Nenek pelit! Siapa tidak tahu bahwa engkau pagi tadi lewat membawa sayuran sepikul ? Hayo cepat beri lima kali itu !"

"Akan tetapi ah cucu saya sakit panas ....... uang penjualan sayur nanti untuk membeli obat "

"Alasan ! Biar cucumu mampus ! Cepat beri-kan uang itu !"

"Tidak tidak nanti bagaimana cucuku "

"Plak !" Laki - laki kasar itu menggerakkan tangan menampar dan nenek itu terkena tamparan pada pipinya, membuatnya terpelanting.

"Nenek pelit bosan hidup!" Laki-laki kasar yartg marah itu melangkah lebar dan hendak melanjutkan serangannya dengan sebuah tendangan.

"Manusia berhati kejam seperti binatang!" Ti-ba - tiba nampak bayangan berkelebat dan Bwee Hong sudah berada di situ, menyambar tubuh ne-nek itu sehingga terluput dari tendangan.

Dengan sikap halus Bwee Hong mengajak nenek itu ber-diri di tepi jalan, membersihkan baju nenek itu dan menyerahkan beberapa mata uang perak sambil berkata, "Nenek, pakailah uang ini untuk membeli obat cucumu dan cepatlah pergi meninggalkan tempat ini."

Nenek itu menerima uang perak dengan mata basah. Ia mengenal mata uang itu dan cepat pergi terbongkok - bongkok. Sementara itu, laki - laki tinggi besar tadi memandang kepada Bwee Hong dengan muka merah. Dia hendak marah, akan te-tapi begitu melihat wajah yang cantik jelita itu, kemarahannya lenyap seperti awan tipis ditiup angin. Sebaliknya, dia malah tersenyum lebar dan matanya terbelalak menatap wajah yang luar biasa manisnya itu.

"Ah, kiranya ada bidadari dari kahyangan yang datang membagi berkah ! Nona manis”

Melihat nona cantik itu menggerakkan tangan menamparnya, si tinggi besar itu tertawa dan menggerakkan tangan untuk meraih dan hendak menangkap tangan kiri Bwee Hong yang menam-par. Akan tetapi, tiba tiba ada bayangan menyam-bar dari bawah dan tahu - tahu kaki kanan Bwee Hong sudah mendahului tangan kirinya, menen-dang tinggi ke atas dan menyambar ke arah muka pria itu dengan kecepatan kilat.

"Plakkk !" Laki-laki itu mengaduh, terpelanting dan meraba pipinya yang tiba tiba saja membeng-kak, dan darah segar mengalir dari bibirnya karena beberapa buah giginya telah rontok terkena ten-dangan kaki Bwee Hong. Kiranya nona ini telak sudi menyentuh muka orang dengan tangan dan tangan kirinya tadi hanya merupakan gerakan me-mancing belaka sedangkan yang sungguh - sung-guh menyerang adalah kakinya.

Lima orang temannya terkejut dan juga mulai marah melihat kawan mereka mengalami penghi-naan seperti itu. Mengertilah mereka bahwa nona cantik ini ternyata pandai ilmu silat. Bagaimana-pun juga, mereka masih memandang rendah. Bo-leh jadi nona ini pandai dan berhasil menendang muka kawan mereka, akan tetapi menghadapi me-reka semua, tentu nona ini, tidak akan mampu ber-buat banyak. Kemarahan mereka membuat mereka mengambil keputusan untuk menangkap dan mem-balas dendam dengan menghina dara ini.

"Perempuan tak tahu diuntung ! Kita tangkap dan kita permainkan ia sepuas kita!" kata seorang di antara mereka yang berkumis tebal dan bertu-buh gendut pendek. Lima orang itu dengan kedua tangan mencengkeram seperti lima ekor harimau hendak memperebutkan seekor domba, lalu menu-bruk ke depan dari semua jurusan.

Akan tetapi, lima orang itu yang kini dibantu oleh orang pertama yang giginya rontok tadi, se-kali ini benar-benar kecelik. Telah berbulan-bulan lamanya mereka ini, dikepalai oleh orang tinggi besar yang masih duduk bersila, bersikap sewe-nang - wenang di kota kecil itu, merajalela seperti raja - raja kecil memeras rakyat dan melakukan apa saja seenak perut mereka sendiri, tanpa ada yang dapat menentang mereka. Kini, mereka kecelik dan benar-benar bertemu batunya. Mereka hanya meli-hat tubuh nona yang langsing itu lenyap lalu nam-pak bayangan berkelebatan dan bagaikan terbang saja Bwee Hong berloncatan ke sana - sini, mem-bagi - bagi tendangan dengan kedua kakinya, su-sul - menyusul dan ganti - berganti. Terdengar sua-ra kaki bertemu dengan dagu, dengan dada, dengan perut, disusul teriakan kesakitan dan enam orang itu sama sekali tidak mampu menghindarkan diri dari kaki Bwee Hong dan merekapun terpelanting jatuh bangun dan mengaduh - aduh. Ada yang pe-rutnya mendadak menjadi mulas, ada yang dada-nya sesak sukar bernapas, ada yang patah tulang dan ada pula yang mulutnya berdarah giginya ron-tok ! Hebat memang sepak terjang Bwee Hong dengan kecepatannya yang membuat semua lawan-nya roboh tanpa mereka ketahui apa yang sebe-narnya menyambar dirinya dan membuat mereka roboh tadi.

Tiba-tiba terdengar suara geraman hebat se-perti seekor srigala marah dan tahu - tahu laki-laki tinggi besar yang tadi duduk bersila di belakang guci uang, melompat ke atas dan dengan kedua lengan bersilang membentuk cakar harimau, orang itu sudah menubruk ke arah Bwee Hong. Jelaslah bahwa dari gerakannya, orang ini jauh lebih lihai dari pada enam orang temannya tadi dan memang sesungguhnya dia adalah kepala dari gerombolan penjahat itu yang tentu saja memiliki ilmu silat yang lebih lihai. Ilmu silatnya adalah ilmu silat harimau dan dengan loncatan itu, dia sudah me-nerkam ke arah Bwee Hong, mencengkeram ke arah kepala dan dada gadis itu. Akan tetapi Bwee Hong sudah siap sedia menghadapi serangan ini maka begitu terkaman itu tiba, ia sudah dapat mengelak dengan amat cepatnya dan membalas dengan tendangan ke arah perut orang tinggi be-sar itu.

"Dukk!" Orang itu menangkis dengan lengannya dan dari tangkisan ini tahulah Bwee Hong bahwa lawannya hanya memiliki tenaga kasar saja. Sebaliknya orang itu, begitu menangkis, tangannya sudah mencengkeram hendak menangkap kaki yang menendang. Akan tetapi, tangan Bwee Hong su-dah menyambar ke depan dan tangan kirinya yang membentuk paruh burung sudah menyambar ke arah mata lawan. Kagetlah laki - laki itu karena gerakan gadis itu sedemikian cepatnya sehingga hampir saja dia tidak mampu menghindarkan diri-nya lagi. Hanya dengan membuang dirinya ke be-lakang dia dapat mengelak, akan tetapi Bwee Hong telah menyusulkan tendangan berantainya yang amat lihai itu- Lawannya berusaha mengelak dan menangkis, hanya empat kali berhasil dan tendang-an susulan yang ke lima kalinya tanpa dapat dice-gah lagi telah mengenai lambungnya.

"Dukk augghhh !" Tubuh yang tinggi besar itupun terpelanting dan si tinggi besar itu tak mampu bangun lagi karena roboh pingsan. Menyaksikan betapa kepala mereka yang amat mereka andalkan itu ternyata roboh pula oleh ga-dis cantik itu, enam orang kasar tadi menjadi ter-belalak dan muka mereka berobah pucat sekali.

Sementara itu, A-hai sejak tadi nonton saja dan diapun tahu apa artinya guci uang itu. Agaknya, pemuda inipun menjadi penasaran sekali? "Memaksa orang memberikan uangnya, sama saja de-ngan perampokan di siang hari, di tempat ramai pula. Sungguh keterlaluan!" Sambil berkata de-mikian, A-hai lalu mengangkat guci uang itu, menuangkan isinya sehingga banyak uang berham-buran keluar dari guci. Tumpukan uang itu lalu ditendang dan disebar - sebarkannya. Tentu saja menjadi rebutan orang - orang yang banyak lalu-lalang, di tempat itu. Enam orang kasar itu tidak berani banyak bergerak, bahkan diam - diam me-reka lalu menggotong pimpinan mereka dan meng-ambil langkah seribu melarikan diri dari tempat itu. Mereka merasa takut sekali. Baru gadis itu saja sudah membuat mereka tidak mampu mela-wan, apa lagi kalau dua orang pemuda yang datang bersama dara itu juga turun tangan. Bisa celaka mereka, mungkin akan mati semua mereka. Maka merekapun segera menghmbil langkah aman dan melarikan diri.

Tiga orang muda itu lalu memasuki kota kecil dan melihat - lihat keadaan. Berita tentang diha-jarnya para pencoleng oleh gadis cantik yang da-tang bersama dua orang muda itu segera tersiar dan ramai dibicarakan orang. Banyak orang diam-diam bersyukur bahwa dalam keadaan kalut seperti itu masih ada pendekar yang suka turun tangan membasmi kejahatan. Peristiwa itu mendatangkan secercah sinar harapan dalam hati mereka yang ta-dinya sudah menjadi muram dan tak acuh karena kekalutan yang melanda kehidupan mereka selama ini.

Tiga orang muda itu melihat bahwa biarpun di dalam kota kecil itu masih terdapat orang - orang berpakaian seragam, yaitu para penjaga keamanan kota, namun sikap mereka itu tak acuh walaupun masih jelas nampak keangkuhan dan ketinggian hati mereka.
Sore hari itu, setelah memperoleh kamar pengi-napan, Bwee Hong, Seng Kun dan A-hai keluar dan memasuki sebuah restoran. Ternyata, biar da-lam keadaan kalut, restoran itu menyediakan ma-kanan yang cukup lengjkap sehingga Bwee Hong merasa gembira ketika memesan masakan kesa-yangannya. Seperti juga para pengusaha lainnya, restoran yang cukup besar itupun memelihara be-lasan orang tukang pukul yang berjaga di dalam ruangan dan juga di depan pintu.


Bersambung

31                                                                                                                   33