Kamis, 30 Mei 2013

DARAH PENDEKAR 31

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Bab 31
"Ngo - sute ! Siauw - sute !" Bayangan
pertama berseru girang ketika mengenal dua orang adik sepergmuan itu. Kiranya dia adalah Yap Kiong Lee yang gagah perkasa, murid utama dari ketua Thian - kiam - pang dan merupakan tokoh muda yang paling lihai dari perguruan itu. Ada-pun orang ke dua yang datang adalah Ho Pek Lian yang dengan bantuannya membuat Malisang agak repot juga karena dikeroyok empat. Sementara itu, anak buah Kwa Sun Tek digempur oleh para pendekar sehingga terjadilah pertempuran yang amat seru di lembah sungai yang bertebing tinggi itu.
Yang paling seru dan hebat adalah perkelahian antara Song - bun - kwi (Iblis Berkabung) Kwa Sun Tek melawan Yap Kiong Lee. Keduanya adalah keturunan datuk - datuk persilatan yang amat hebat kepandaiannya. Kwa Sun Tek sebagai putera ke-tua Tai - bong - pai tellah mewarisi ilmu - ilmu kesaktian peninggalan dari datuk Cui - beng Kui-ong pendiri Tai - bong - pai dan dia telah mengua-sai ilmu-ilmu Pukulan Sakti Penghisap Darah, Ilmu Pukulan Mayat Hidup dan memiliki pula te-naga sakti Asap Hio yang membuat keringatnya berbau dupa harum.
Akan tetapi lawannya, Yap Kiong Lee, meru-pakan ahli waris dari datuk Sin - kun Bu - tek datuk pendekar dari utara itu. Selain telah mewarisi ilmu kesaktian Thian - hui Khong - ciang (Tangan Kosong Api Langit) dan Hong - i Sin - kun (Silat Sakti Angin Puyuh), juga pemuda ini adalah ahli ilmu pedang pasangan dari Thian - kiam - pang! Kini, karena bertemu lawan tangguh, keduanya menge-luarkan ilmu - ilmu simpanan mereka dan terjadilah perkelahian dahsyat dan mengerikan. Beberapa orang pendekar yang mencoba memasuki gelang-gang perkelahian mereka, cepat mundur dan ada yang terjengkang dengan darah berbintik - bintik merembes keluar melalui pori - pori kulit lengan mereka ! Juga fihak anak buah Kwa Sun Tek yang berani mendekat, tersambar hawa pukulan Api Langit dan merekapun terkapar dengan muka go-song terbakar!
Hawa pukulan yang keluar dari kedua tangan Yap Kiong Lee memang hebat. Mengeluarkan ha-wa panas dan seperti meledak - ledak, menggetar-kan keadaan sekelilingnya. Setiap kali lengannya bertemu dengan lengan Kwa Sun Tek, keduanya tergetar hebat dan keduanya terpental. Ternyata tenaga mereka seimbang dan mereka saling serang, saling desak dengan mati - matian.
Koksu atau pemimpin suku liar Mongol itu, si raksasa Malisang, kini harus memeras keringat menghadapi pengeroyokan empat orang setelah Pek Lian maju. Melihat betapa Yap Kim yang terluka parah maju, tadi Liu Pang diam saja karena memang lawannya amat tangguh. Akan tetapi melihat ada Pek Lian yang datang membantu, Liu Pang berseru agar Yap Kim mundur karena perkelahian amat membahayakan dirinya. Akan tetapi, pemuda ini amat pemberani dan berhati baja, maka biarpun diteriaki agar mundur, tetap saja dia melanjutkan pengeroyokannya. Repotlah Malisang oleh penge-royokan empat orang ini. Terutama sekali pedang dari Kwan Hok dan Liu Pang amat merepotkan dirinya. Kwan Hok telah membagi pedangnya, menyerahkan sebatang dari sepasang pedangnya kepada pemimpin ini.
Sementara itu, pertempuran yang terjadi antara para pendekar melawan pasukan pengawal Kwa Sun Tek juga makin memuncak. Ramai dan seru-Akan tetapi, makin lama makin nampak bahwa pa-ra pendekar dapat mendesak musuh. Banyak anak buah pasukan musuh roboh dan terbunuh. Perke-lahian antara Yap Kiong Lee dan Kwa Sun Tek juga sudah mencapai puncaknya dan sedikit demi sedikit Kiong Lee mulai dapat mendesak lawannya. Kwa Sun Tek melawan dengan gigih dan keduanya sudah mengerahkan seluruh tenaga dan mengelu-arkan semua ilmu simpanan mereka.
"Hiaaaatttt !" Suara lengkingan nyaring
keluar dari tenggorokan Kiong Lee ketika pemuda ini menangkis pukulan lawan sambil membarengi melontarkan sebuah tendangan kilat dengan kaki kirinya.
"Desss !" Kaki itu tepat menghantam ping-
gang dan tubuh Kwa Sun Tek terlempar ke bela-
kang, menghantam sebatang pohon dengan amat
kerasnya. Pohon itu tumbang seketika ! Akan te-
tapi, dengan cekatan Kwa Sun Tek dapat meloncat
bangun, tubuhnya bergoyang - goyang dan dari
hidung serta mulutnya keluarlah darah segar. Dia
telah terluka cukup parah oleh tendangan kilat
tadi.
Akan tetapi Kiong Lee merasa betapa kaki ki-rinya nyeri sekali. Cepat dia mengeluarkan sebu-tir pel yang segera ditelannya, kemudian memerik-sa kakinya. Ternyata sepatunya ada tanda - tanda darah dan ketika dia membukanya, nampaklah da-rah merembes keluar dari pori - pori kakinya sam-pai sebatas mata kaki kirinya. Kiong Lee merasa ngeri juga. Lawannya benar-benar memiliki ilmu yang menyeramkan.
Pada saat itu, terdengar sorak-sorai dari keja-uhan. Seorang pendekar datang berlari-lari dan berkata kepada Liu Pang yang masih mendesak si raksasa Malisang, "Liu-bengcu, pasukan, pe-merintah di bawah pimpinan Jenderal Lai datang !"
Tentu saja para pendekar terkejut dan kecewa mendengar ini. Mereka sudah hampir berhasil menguasai keadaan dan mengalahkan musuh, akan tetapi sekarang datang barisan yang dipimpin oleh Jenderal Lai. Tentu saja mereka tidak berani menghadapi ancaman pasukan besar itu. Liu Pang lalu menganjurkan para pendekar untuk melarikan diri. Malisang dan Kwa Sun Tek tidak berani me-ngejar, karena selain anak buah mereka banyak yang sudah tewas, juga keadaan Kwa Sun Tek yang sudah terluka parah itu tidak memungkinkan pe-muda ini untuk bertanding lagi.
Liu Pang lalu mengajak semua orang untuk melarikan diri kembali ke perkemahan pasukannya, di lembah Huang - ho. Mereka disambut oleh pa-sukan pendekar dan Liu Pang lalu memperkenalkan Yap Kiong Lee dan Kwan Hok, dua orang murid Thian - Idam - pang itu, kepada para pembantunya. Semua orang menjadi kagum terhadap Kiong Lee ketika mendengar betapa pemuda perkasa ini mampu menandingi bahkan mengalahkan tokoh Tai - bong - pai yang memiliki ilmu penghisap darah yang mengerikan itu.
Kiong Lee segera mengobati Yap Kim, ditung-gui oleh Kwan Hok. Dia menegur Yap Kim dengan halus. Seperti biasa, Yap Kim diam saja dan hama menunduk, merasa bahwa dia memang bersalah. Akan tetapi ketika kakak angkat yang juga menja-di kakak seperguruan yang membimbingnya dalam ilmu silat itu mengajaknya pulang, dia menolak keras. "Tidak, twako. Aku tidak mau pulang ke rumah yang sunyi membosankan itu. Aku tidak mau bertemu dengan ayah yang selalu mengasing-kan diri di tempat samadhinya. Aku tidak mau bertemu dengan ibu yang selalu berdiam di istana membantu kaisar lalim itu. Ibu selalu bersahabat dengan pembesar - pembesar lalim penindas rak-yat. Aku ingin bersama kawan - kawan berjuang di antara rakyat. Kalau twako memaksa aku pu-lang, lebih baik engkau bunuh sajalah aku !"
Mendengar ucapan sutenya ini, Kiong Lee ter-mangu - mangu. Di dalam hatinya dia harus meng-akui bahwa apa yang diucapkan oleh adiknya itu memang benar. Gurunya seperti sudah mengasing-kan diri dari dunia ramai, kerjanya hanya bersa-madhi saja di dalam kamarnya. Sedangkan subo-nya bahkan telah memisahkan diri dari suhunya, subonya begitu ambisius untuk menjadi tokoh istana. Dia dapat mengerti bagaimana perasaan Yap Kim sebagai putera tunggal dari ayah dan ibu yang saling berpisah dan saling bertolak belakang itu. Dia sendiripun, yang hanya menjadi murid utama dan putera angkat, kadang - kadang juga merasakan kepahitan kenyataan ini.
Sementara itu, di bagian belakang perkemahan pusat, Liu Pang juga bercakap - cakap dengan muridnya. Dia ingin sekali tahu apa yang telah terjadi dengan muridnya yang tiba - tiba menghi-lang kemudian secara mendadak muncul pula ber-sama Yap Kiong Lee.
"Suhu, kita semua harus berterima kasih kepa-da Yap - twako. Tanpa ada dia yang turun tangan, agaknya kita semua sukar untuk menyelamatkan diri. Aku sendiripun tentu akan celaka kalau tidak ada dia yang menolong."
Dara itu lalu menceritakan pengalamannya malam itu. Seperti kita ketahui, ia disuruh oleh Liu Pang untuk mencari air dan membuat minuman teh. Ketika ia pergi ke belakang rumah, ke sebuah sumur yang agak jauh terpencil di tempat sunyi dan selagi ia hendak menimba air tiba - tiba ia dikejutkan oleh bayangan orang berkelebat. Ia mengangkat muka dan kiranya di situ telah mun-cul seorang laki - laki bertubuh kecil pendek, ber-pakaian mewah dan tangannya memegang sebatang cambuk. Biarpun cuaca hanya diterangi oleh bulan sepotong, namun Pek Lian segera mengenal orang itu. Dia mengenal laki - laki bertubuh pendek kecil bermata sipit yang duduk di pagar sumur itu. Si cebol itupun memandang tajam lalu tersenyum menyeringai.
"Hi - hi - hik, kita bertemu lagi, nona manis! Ternyata dunia ini tidak begitu luas lagi, hi-hi-hik! Di manakah kawan - kawanmu yang cantik-cantik itu ?" Suaranya juga kecil mencicit seperti suara tikus.
Pek Lian bergidik dan teringat akan barisan tikus di lorong - lorong bawah tanah. Bagaimana-kah iblis ini bisa sampai di tempat ini ? Iblis ini adalah putera Te - tok - ci Si Tikus Beracun, iblis muda yang berjuluk Siauw - thian - ci. Apakah orang - orang Ban - kwi - to telah keluar dari sarang mereka semua ?
Tentu saja Pek Lian tidak sudi menyerah be-gitu saja dan tanpa menjawab sedikitpun, ia sudah menyerang dengan pedangnya- Siauw - thian - ci tertawa dan menghadapi gadis itu dengan meng-gunakan cambuknya. Terjadilah perkelahian yang sengit. Sebenarnya, ilmu silat dari si katai ini tidaklah berapa tinggi. Orang - orang Ban-kwi-to memang tidak memiliki ilmu kepandaian yang ter-lalu hebat. Mereka hanya mengandalkan penggu-naan racun saja, maka Siauw - thian - ci, biarpun menjadi putera dari orang pertama Ban - kwi - to, juga hanya memiliki ilmu silat yang seimbang saja dibandingkan dengan Pek Lian. Biarpun gerakan cambuknya aneh dan buas, namun menghadapi pedang dara itu, dia tidak mampu mendesaknya. Setelah perkelahian itu berlangsung puluhan jurus dan belum juga dia mampu menundukkan Pek Lian, Siauw - thian - ci menjadi penasaran dan ma-rah sekali.
"Bocah bandel, engkau belum juga mau me-nyerah ?" bentaknya dan tiba - tiba cambuknya meledak ketika dia menyerang. Pek Lian mengelak dan balas menusuk, akan tetapi dia terkejut sekali melihat sinar hitam meluncur keluar dari dalam cambuk itu! Ternyata musuh mempergunakan senjata rahasia yang agaknya dipasang di dalam cambuk dan kini ada beberapa batang jarum hitam menyambar ke arah leher dan dadanya. Terpaksa ia menarik kembali pedangnya dan memutar senjata itu, menyampok runtuh semua jarum yang menyambar ke arahnya. Pada saat itu, tangan kiri Siauw - thian - ci mengebutkan sehelai saputangan lebar berwarna hitam dan ada debu hijau me-nyambar ke depan. Pek Lian terkejut dan melon-cat ke belakang, akan tetapi hidungnya sudah mencium bau yang amis memuakkan. Tak tertahan-kan lagi ia muntah - muntah karena perutnya mual dan pada saat ia muntah - muntah itu, ujung cam-buk Siauw - thian - ci mematuk pergelangan tangan-nya. Seketika Pek Lian merasakan lengannya lumpuh dan pedangnya terlepas, dan di lain saat, cambuk panjang itu seperti seekor ular telah mem-belit tubuhnya. Ia sudah terbelenggu dan tidak mampu bergerak ketika Siauw - thian - ci meno-toknya sambil tertawa - tawa.
Pek Lian tak mampu bergerak lagi ketika ia dipondong dan dilarikan dari sumur itu. Kiranya tak jauh dari situ terdapat seekor kuda dan tubuh-nya lalu ditelungkupkan di atas punggung kuda. Si cebol sudah meloncat ke atas punggung kuda dan melarikan binatang itu.
Pek Lian tidak tahu dibawa ke mana ia, akan tetapi akhirnya ia melihat bahwa ia dibawa masuk ke dalam pintu gerbang sebuah kota. Agaknya para perajurit yang berjaga di situ sudah mengenal Siauw - thian - ci karena pintu gerbang dibuka dan para perajurit tertawa - tawa fnelihat si cebol ini datang membawa tangkapan seorang dara cantik.
Sambil tertelungkup melintang di atas punggung kuda, Pek Lian mendengar suara para penjaga itu.
"Hemm, dia sudah mendapatkan seorang gadis cantik lagi. Hampir setiap malam dia selalu men-cari pengganti baru!"
"Husssh, jangan keras - keras bicara. Jangan - ja-ngan engkau nanti hanya tinggal tulang-tulang saja digerogoti tikus - tikusnya yang mengerikan. Hiih, kemarin itu untung ada Kwa - taihiap yang mence-gahnya, kalau tidak tentu akupun sudah habis di-makan tikus - tikusnya."
Mendengar percakapan itu, Pek Liari merasa ngeri. Kiranya manusia tikus ini telah bersekutu dengan tokoh Tai - bong - pai dan pasukan asing. Ia tidak mampu bergerak, akan tetapi matanya dapat mengerling dan ia melihat bahwa si cebol itu menghentikan kudanya di depan sebuah rumah penginapan. Malam sudah larut dan suasananya sunyi sekali. Penginapan itupun sudah tutup daun pintunya dan Pek Lian merasa ngeri ketika ia dipondong turun dari kuda, kemudian si katai itu mengetuk daun pintu. Ketika daun pintu terbuka, ternyata di ruangan depan masih terang - bende-rang. Di sudut ruangan itu nampak sepasang laki-laki dan wanita setengah tua sedang asyik bermain catur. Tentu saja Pek Lian terkejut sekali ketika mengenal mereka itu. Suami isteri cabul dari Ban-kwi - to, Im - kan Siang - mo !
Bouw Mo - ko, kakek berusia enampuluh tahun lebih yang kecil kurus itu tanpa menoleh agaknya sudah tahu akan kedatangan Siauw - thian - ci, dan dia menegur, "Engkau baru datang ? Mana pa-man - paman dan bibi - bibimu yang lain ?"
Si Tikus Muda itu melihat paman dan bibi gurunya, menjadi gembira, "Ah, kiranya paman guru dan bibi guru sudah datang lebih dulu ! Aku belum melihat yang lain - lain."
Diam - diam Pek Lian mengeluh. Ternyata fihak pemberontak agaknya memperoleh bantuan banyak golongan sesat termasuk tokoh - tokoh Ban-kwi - to ini. Sungguh merupakan lawan berat dan Liu - bengcu harus cepat diberi tahu akan hal ini. Akan tetapi bagaimana mungkin ia meloloskan diri dari tangan iblis - iblis ini ?
Setelah dia menjalankan biji caturnya dan me-nanti isterinya mendapat giliran, Bouw Mo - ko menoleh, memandang kepada murid keponakan-nya. Pada saat itulah dia baru melihat gadis yang dipanggul oleh Siauw - thian - ci dan seketika dia bangkit berdiri.
"Heiii ! Itu adalah gadis tawananku tempo
hari yang lolos. Bagus engkau sudah dapat me-nangkapkannya untukku, ha - ha. Berikan kepada-ku !" Diapun lalu melangkah maju dan mengulur tangan hendak mencengkeram Pek Lian yang tidak mampu bergerak karena tertotok itu dan meram-pasnya dari panggilan Siauw - thian - ci. Akan tetapi si cebol itu meloncat ke belakang, mengelak dan memandang marah.
"Susiok, ia ini milikku ! Aku yang menangkap-nya dan siapapun juga tidak boleh merampasnya!" Matanya mendelik dan tangan kanannya sudah siap dengan senjata cambuknya, sikapnya mengancam seperti seekor anjing hendak direbut tulang yang sudah berada di depan mulutnya.
"Apa ? Kau berani melawan dan tidak mentaati susiokmu ? Gadis ini milikku, dan engkau hanya membantuku menangkapnya kembali. Berikan!"
"Tidak !"
"Engkau sungguh tidak mau memberikannya kepadaku ?" "Tidak !"
"Bocah keparat, engkau pantas dihajar!" Bouw Mo - ko menubruk ke depan, tangan kiri meraih ke arah tubuh Pek Lian sedangkan tangan kanan-nya menghantam dengan tangan terbuka ke arah kepala murid keponakannya. Siauw - thian - ci maklum akan kelihaian susioknya ini, akan tetapi dia tidak takut. Dia meloncat mundur, melempar tubuh Pek Lian yang tak mampu bergerak itu ke sudut ruangan dan cambuknya diputar cepat, mele-dak - ledak membalas serangan paman gurunya. Paman dan murid keponakan itu segera terlibat dalam perkelahian sengit mati - matian ! Demiki-anlah watak orang - orang dari golongan sesat.
Untuk memperebutkan sesuatu, mereka tidak se-gan - segan untuk saling serang, kalau perlu saling bunuh. Dan anehnya, Hoan Mo - li, nenek gendut galak yang tadi bermain catur bersama suaminya, agaknya tidak perduli atau tidak tahu akan per-kelahian itu dan masih enak-enak saja mengerutkan alis memutar otak untuk mengajukan langkah biji caturnya yang tadi terdesak.
Orang - orang golongan sesat memang selalu mendambakan kebebasan dalam kehidupan mereka. Akan tetapi, terdapat dua macam kebebasan dalam sikap. Kaum sesat ini bersikap bebas semau gue, bebas yang liar dan bebas yang didasari untuk senang dan menang sendiri. Kebebasan macam ini bukanlah kebebasan namanya karena kebebasan seperti ini merupakan semacam ikatan atau beleng-gu yang kuat dari nafsu ingin senang sendiri. Yang dinamakan kebebasan hidup bukan sekedar bebas dari pengaruh pendapat orang lain. Kebebasan adalah kebebasan yang wajar, bebas dari si aku yang selalu ingin mengejar kesenangan dan men-capai kemenangan sendiri. Sungguhpun bebas dan tidak terikat oleh apapun, namun tetap saja ada suatu tertib diri yang tidak kaku, yang bukan tim-bul dari ingin menyenangkan atau ingin disenang-kan, ingin menghormat atau dihormat, tertib diri ini tidak mengandung pamrih, melainkan timbul dari hati yang disinari cinta kasih sehingga batin yang demikian itu tidak akan melakukan sesuatu yang merugikan atau menyusahkan orang lain!
Perkelahian antara dua orang tokoh Ban - kwi-to itu hebat bukan main. Ilmu silat mereka me-mang tidaklah amat tinggi, akan tetapi mereka itu mempergunakkan racun! Dan sekali orang Ban-kwi-to mempergunakan senjata racun, mereka tidak berlaku kepalang tanggung.
Rumah penginapan itu menjadi geger. Para ta-mu yang tadinya sudah mengaso dalam kamar, mendengar suara ribut - ribut itu ada yang keluar. Akan tetapi sungguh celaka bagi mereka yang ka-marnya berdekatan dengan ruangan itu, karena di antara para tamu itu ada yang terkena jarum atau pasir beracun yang dikeluarkan oleh dua orang itu. Mereka yang terkena senjata rahasia beracun ini, langsung roboh dan mendelik dengan nyawa putus! Apa lagi melihat bermacam binatang kecil seperti kelabang, kalajengking, bahkan beberapa ekor lebah beracun beterbangan, para tamu men-jadi panik dan melarikan diri.
Setelah keadaan menjadi semakin ricuh, agaknya barulah Hoan Mo-li menaruh perhatian. Inipun karena ia sudah selesai melangkahkan biji caturnya. "Heii, suami tolol, kini giliranmu menggerakkan biji catur!" teriaknya dan ketika ia menoleh dan melihat suaminya berkelahi melawan Siauw-thian-ci, ia mengerutkan alisnya. "Siauw - thian - ci, tikus kecil keparat. Hentikan ribut - ribut ini dan biarkan suamiku melanjutkan permainan caturnya denganku ! Suami tolol, kalau engkau tidak cepat melanjutkan permainan, kupatahkan hidungmu !"
Akan tetapi, dua orang yang sedang "gembira" saling serang amat asyiknya itu, mana mau men-dengarkan ucapan si nenek galak ? Mereka masih terus saling serang dan mengobral senjata - senjata dan binatang - binatang berbisa mereka seolah-olah hendak memamerkan kehebatan masing - masing. Hoan Mo - li menjadi kesal rupanya dan iapun me-noleh ke arah Pek Lian yang masih rebah miring di sudut setelah tadi dilemparkan oleh Siauw-thian-ci. Maka bangkitlah Hoan Mo - li dari tempat du-duknya, sekali loncat ia sudah mendekati Pek Lian.
"Hi - hik, si genit ini kiranya yang menjadi ga-ra - gara sampai paman dan keponakan saling han-tam sendiri. Dasar kaum laki - laki, mata keranjang dan tidak boleh melihat perempuan cantik. Dari pada sekeluarga berkelahi karena perempuan, le-bih baik perempuan genit ini kubunuh saja !" Ia mengangkat tangan dan Pek Lian sudah menanti saat kematiannya di tangan wanita gendut itu. Akan tetapi Hoan Mo - li menahan tangannya, dan menatap wajah Pek Lian yang manis itu sambil tertawa ha ha - hi-hi.
"Wajah begini cantik, pipi begini halus, tentu saja laki - laki mata keranjang ingin mencium dan membelainya. Coba hendak kulihat apakah mere
ka masih akan memperebutkan dirimu kalau muka-mu kubikin rusak dan menjadi buruk. Hi-hi-hik !" Wanita itu terkekeh - kekeh seolah - olah ia mem-peroleh pikiran yang amat menyenangkah dan lucu. Dikeluarkannya sebuah botol kecil berisi cairan kuning. Pada saat itu, Pek Lian sudah berhasil membebaskan diri dari pengaruh totokan dan ja-lan darahnya sudah pulih kembali, membuat ia mampu bergerak. Pada saat wanita gendut itu membuka tutup botol dan menuangkan cairan ku-ning ke arah wajahnya, Pek Lian cepat menggu-lingkan tubuhnya sehingga beberapa tetes cairan kuning yang tadinya dimaksudkan untuk menge-nai mukanya kini menetes ke atas lantai. Terde-ngar bunyi desis dan nampak asap mengepul, dan permukaan lantai itu menjadi berlubang-lubang seperti terbakar! Pek Lian bergidik ngeri. Kalau cairan kuning itu tadi mengenai mukanya, tentu kulit mukanya yang dimakan cairan itu dan mu-kanya akan berlubang - lubang dan menjadi muka setan yang amat menjijikkan ! Sementara itu, Hoan Ma-li terkekeh girang melihat gadis itu bergu-lingan dengan muka ngeri ketakutan. Dikejarnya gadis itu sambil mengacung - acungkan botol yang isinya masih setengahnya lebih. Melihat orang ter-siksa merupakan kesenangan tersendiri bagi nenek ini. Melihat orang ketakutan karena ancaman sik-saan amat menggembirakan hatinya. Agaknya se-perti itulah setan - setan penjaga neraka kalau menyiksa orang berdosa, seperti digambarkan dalam dongeng - dongeng lama.
Tanpa kita sadari, sifat atau perasaan sadis se-perti ini, yaitu merasa gembira melihat mahluk atau orang lain ketakutan atau tersiksa atau men-derita, agaknya menjadi semacam penyakit yang menghinggapi diri kita masing - masing. Kalau kita mau mengamati dengan jujur, akan nampaklah penyakit itu melekat di batin kita. Kitapun selalu merasa senang atau gembira melihat mahluk atau orang lain tersiksa, terutama sekali kalau ada ke-bencian dalam hati kita terhadap mahluk atau orang lain itu, kebencian yang timbul dari perasaan dirugikan. Kalau kita mau membuka mata melihat dengan jujur, bukankah ada rasa gembira dalam hati melihat mahluk - mahluk yang merugikan kita seperti nyamuk, kutu busuk dan sebagainya kita bunuh perlahan - lahan, kita siksa sebagai pelam-piasan dari pada dendam karena kita diganggu ? Bukankah ada rasa gembira atau girang dalam hati kita, di luar kesadaran kita, kalau kita mendengar bahwa orang yang kita benci, atau bangsa yang ke-betulan sedang kita musuhi, menderita malapetaka ? Bukankah hati kita bersorak gembira kalau kita melihat atau mendengar orang yang tidak kita su-kai, penjahat - penjahat dalam film atau cerita mi-salnya, menerima hukuman dan siksaan yang amat sadis ? Bukankah kadang-kadang datang keingin-an atau harapan dalam batin kita melihat orang yang kita benci mengalami penderitaan seberat-beratnya ?
Hoan Mo - li terus mengejar Pek Lian. Kalau ia mau, dari jauhpun dapat saja ia melemparkan botol itu agar isinya tumpah mengenai muka Pek Lian. Akan tetapi ia tidak akan puas kalau hanya demikian. Ia ingin melihat jelas ketika tetesan ca-iran kuning beracun itu mengenai muka yang cantik itu dan menggerogoti kulitnya, ingin melihat gadis itu menggeliat - geliat seperti cacing terkena panas, maka iapun terus mengejar. Akhirnya, ia dapat menangkap Pek Lian. Dengan tangan kirinya ia menjambak rambut gadis itu, memaksa muka yang pucat dengan mata terbelalak ngeri itu terlentang dan ia sudah siap menuangkan isi botol sambil ter-kekeh - kekeh.
"Wuuuuutttt plakkk!" Botol kecil itu
terlempar dan mengenai dinding, isinya tumpah semua, menyebabkan dinding dan lantai mengelu-arkan asap dan berlubang - lubang. Kiranya pada saat yang amat berbahaya bagi Pek Lian itu, nam-pak sesosok bayangan putih berkelebat memasuki ruangan dan pemuda ini cepat menendang ke arah tangan Hoan Mo-li yang memegang botol sehing-ga botolnya terlempar. Pek Lian cepat menggu-lingkan tubuhnya, akan tetapi karena ia tadi amat ketakutan, tubuhnya menjadi lemas dan ia hampir pingsan.
Pemuda itu adalah Yap Kiong Lee. Kebetulan sekali pemuda yang sedang mencari - cari sutenya inipun bermalam di tempat penginapan itu, akan tetapi dia bersembunyi saja di kamarnya dan di-am-diam melakukan penyelidikan ketika dia me-lihat betapa suami isteri cabul dari Ban - kwi - to itu berada di situ. Ketika terjadi keributan, diapun keluar dan terkejutlah dia melihat Pek Lian ter-ancam bahaya. Maka diselamatkannya Pek Lian dari ancaman mengerikan itu. Melihat Pek Lian masih terbelenggu kedua tangannya dan nampak lemas, Kiong Lee cepat menyambar tubuhnya dan dipanggulnya tubuh dara itu di pundak kirinya.
Sementara itu, Hoan Mo-li tadi terkejut seka-li. Lengannya seperti patah rasanya dan racun di botol itu sudah terbuang sia - sia. Marahlah wa-nita ini dan iapun mengeluarkan teriakan seperti seekor serigala, dan iapun menyerbu dan menye-rang Kiong Lee dengan ganas, dengan kedua ta-ngan membentuk cakar. Akan tetapi dengan tenang saja Kiong Lee mengelak dan ketika kaki kirinya menyambar, Hoan Mo-li nyaris terkena tendangan.
Sebetulnya, ting-kat kepandaian Kiong Lee sudah jauh lebih tinggi dari pada mereka dan biarpun pemuda perkasa ini memanggul tubuh Pek Lian, dia tidak akan kewalahan menghadapi pengeroyokan mereka ber-tiga. Akan tetapi, musuh - musuhnya adalah iblis-iblis yang licik dan mempergunakan senjata rahasia dan racun - racun berbahaya. Terpaksa Kiong Lee harus mengerahkan tenaga dan memainkan pe-dangnya untuk menangkis dan menolak semua ra-cun.
Melihat orang - orang yang hendak menonton, Kiong Lee menyuruh mereka menyingkir dan men-jauhi ruangan itu. Akan tetapi tetap saja ada be-berapa orang yang terhuyung dan roboh karena ruangan itu kini penuh dengjan asap dan hawa yang berbau memuakkan dan mengandung racun-racun ganas. Biarpun Kiong Lee amat lihai, bau memu-akkan dan mengandung hawa beracun itu membuat dia repot dan kepalanya terasa pusing. Dia meli-hat bahwa Pek Lian juga sudah pingsan karena bau keras itu. Maka diapun lalu memutar pedangnya membuat tiga orang lawan mundur dan dia melon-cat keluar ruangan itu, terus melarikan diri. Tiga orang Ban - kwi - to yang merasa penasaran melakukan pengejaran, akan tetapi dalam hal ilmu me-ringankan tubuh dan berlari cepat, mereka bertiga itu masih belum mampu menandingi Kiong Lee sehingga belum juga dapat menyusul pemuda ini yang menyelinap di antara rumah - rumah orang. Terjadi kejar - kejaran dan tiga orang tokoh Ban-kwi - to itu berteriak - teriak di sepanjang jalan bahwa ada mata-mata musuh, anak buah Liu Pang, memasuki kota. Teriakan - teriakan ini menimbul-kan kegempalan dan banyak perajurit mulai berke-liaran ikut mencari di seluruh kota itu.
Di antara banyak perajurit yang berkeliaran dan ubek - ubekan mencari ke semua penjuru kota itu, terdapat dua orang berpakaian perwira yang ikut pula mencari - cari. Mereka ini bukan lain adalah Kiong Lee dan Pek Lian ! Setelah Pek Lian siuman dari pingsannya, mereka berdua lalu menawan dua orang perwira, melucuti pakaian mereka dan me-notok lalu membelenggu dan menyumpal mulut mereka, dan mengenakan pakaian seragam perwira itu. Dengan penyamaran ini, Kiong Lee dan Pek Lian bebas berkeliaran tanpa ada yang menaruh curiga.
Kiong Lee dan Pek Lian akhirnya tiba di pintu gerbang sebelah selatan. Dengan sikap gagah Kiong Lee menghampiri para penjaga pintu gerbang dan memerintahkan agar dia dan Pek Lian dibukakan pintu karena mereka berdua hendak keluar dari pintu gerbang itu.
"Ada mata - mata berkeliaran di dalam kota. Kami harus menutup pintu gerbang dan tidak membiarkan seorangpun keluar. Demikian perin-tah atasan !" bantah komandan jaga.
"Siapa yang tak tahu akan perintah itu ?" ben-tak Kiong Lee. "Kamipun sudah mendengarnya. Akan tetapi, kami mempunyai dugaan keras bah-wa para penjahat mata - mata itu sudah mening-galkan kota dan kami ingin melakukan pengejaran. Kalau kalian mencegah kami dan sampai mata-ma-ta itu jauh meninggalkan kota, kami akan mela-porkan hal ini kepada atasan !"
Mendengar ancaman Kiong Lee ini, para pen-jaga pintu gerbang menjadi bingung. Akhir-akhir ini memang banyak pasukan datang dan mereka tidak mengenal semua perwira yang baru tiba. Pin-tu gerbang lalu dibuka perlahan - lahan dan kedua orang pendekar itu segera cepat menyelinap keluar dan berlari cepat. Pada saat itu, serombongan pa-sukan juga mendatangi pintu gerbang. Jenderal Lai yang memimpin pasukan itu untuk ikut men-cari, menjadi marah melihat pintu gerbang dibuka.
"Hei, siapa berani lancang membuka pintu ger-bang ? Bukankah sudah kami perintahkan agar semua pintu gerbang ditutup dan tak seorangpun boleh lolos keluar ?" bentaknya. Dengan muka pucat komandan jaga lalu menghadap dan membe-ri hormat kepada panglima itu.
"Harap paduka maafkan. Kami membuka pin-tu hanya untuk membiarkan dua orang perwira keluar karena mereka hendak mengejar mata - mata yang melarikan diri,"
Panglima itu melotot dan marah sekali. "Tolol kamu ! Merekalah mata - mata itu !" Dan diapun menyuruh pasukan melakukan pengejaran keluar kota. Akan tetapi sudah terlambat. Dua orang bu-ronan itu sudah menghilang di dalam gelap dan mereka semua tidak tahu ke arah mana harus me-ngejar.
Yap Kiong Lee dan Ho Pek Lian merasa lega setelah dapat lolos dan mereka berdua segera mem-buang pakaian perwira yang dipakai di luar pakai-an mereka sendiri itu. Pek Lian mengucap terima kasih atas pertolongan Kiong Lee.
"Berkali - kali Yap - twako menolongku, sungguh budimu besar sekali."
"Sudahlah, nona. Lebih baik kauceritakan ba-gaimana engkau sampai tertawan oleh iblis dari Pulau Selaksa Setan itu."
Pek Lian lalu bercerita tentang semua penga-lamannya. "Aku sedang melakukan penyelidikan tentang keadaan fihak musuh, bersama guruku,
Liu-bengcu, dan bersama Bu Beng ah, sekarang aku ingat! Setelah bertemu dengan iblis-iblis Ban-kwi-to dan bertemu denganmu, baru aku ingat. Benar, dia adalah sutemu yang nakal itu, Yap Kim putera ketua Thian - kiam - pang !" Pek Lian berseru gembira. Tadinya memang ia me-rasa sudah mengenal wajah Bu Beng Han, akan tetapi ia lupa lagi kapan dan di mana. Sekarang tiba - tiba saja ia teringat bahwa ia pernah berte-mu dengan pemuda itu di Ban - kwi - to, ketika pemuda itu bersama - sama dengan Thian - te Tok-ong atau Ceng-yang-kang Si Kelabang Hijau, orang ke lima. dari iblis-iblis Ban-kwi-to, berada di kepulauan itu !
Tentu saja Kiong Lee gembira sekali mendengar bahwa sutenya yang dicari - carinya itu sudah ber-ada bersama para pendekar, bahkan membantu Liu Pang! Dia mendengarkan penuturan gadis itu yang bukan hanya menceritakan kemunculan Yap Kim yang aneh dan yang kini hanya dikenal seba-gai Bu Beng Han. Mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan ke dusun sunyi itu dan seperti telah kita ketahui, kedatangan Kiong Lee dan Pek Lian ini amat tepat saatnya karena Liu Pang dan Yap Kim sedang terancam bahaya maut dan akhirnya Kiong Lee dapat menyelamatkan mereka dan kembali ke markas pasukan para pendekar di Lembah Huang-ho.
"Demikianlah, suhu. Untung sekali aku berte-mu dengan Yap - twako sehingga kita semua dapat terbebas dari pada bahaya maut." Pek Lian meng-akhiri ceritanya.
Liu Pang mengerutkan alisnya. "Wah kalau benar pemuda Tai-bong-pai itu bersahabat dengan
para iblis Ban - kwi - to hemm, berat juga bagi
kita. Agaknya kini para pengkhianat itu selain bersekongkol dengan pasukan asing, juga tidak segan-segan memperalat orangworang dunia hitam."
"Akan tetapi, tidak semua orang Tai-bongrpai jahat, suhu. Aku mengenal beberapa orang di an-tara mereka, bahkan adik perempuan dari Kwa Sun Tek itupun merupakan seorang gadis yang biarpun wataknya aneh, namun menghargai kega-gahan dan sama sekali tidak jahat"
Liu Pang menghela napas panjang. "Tidak aneh, di dalam keadaan negara sedang kacau-balau, ten-tu bermunculan kaum penjahat untuk mengeduk keuntungan sebesar - besarnya, dengan cara dan jalan apapun."
* * *
Malam itu juga, Liu Pang mengadakan musya-warah dengan para pembantunya, yaitu para pim-pinan pasukan pendekar yang sudah menggabung-kan diri dengan pasukan induk yang dipimpinnya.
Di dalam musyawarah itu hadir pula Yap Kiong Lee. Akhirnya pendekar ini, murid utama dan juga putera angkat ketua Thian - kiam - pang ini terpaksa mengalah terhadap sute atau adik ang-katnya yang amat disayangnya itu-. Dia terpaksa ikut pula berunding dan membantu gerakan yang dipimpin oleh Liu Pang, yang telah menarik per-hatian Yap Kim dan bahkan telah dibantu oleh pendekar muda ini yang merasa bersimpati.
Setelah menceritakan keadaan pasukan mereka yang mulai kuat karena datangnya banyak bantuan dari rakyat petani dan juga banyaknya perajurit ke-rajaan yang menyeberang dan membantu, Liu-beng-cu berkata lantang, "Di hadapan kita terdapat dua kekuatan yang biarpun berdiri sendiri - sendiri, namun pada waktu ini mereka bergabung menjadi satu untuk menghadapi kita. Yang satu adalah pasukan kerajaan yang dipimpin oleh Jenderal Lai, sedangkan kekuatan ke dua adalah pasukan pembesar daerah yang bersekongkol dengan pasu-kan asing. Kita harus mencari akal agar keduanya itu terpisah sehingga kedudukan mereka tidaklah begitu kuat dan memudahkan kita untuk maju terus."
Semua orang yang menghadiri rapat itu me-ngerutkan alis dan berpikir. Tiba - tiba seorang di antara mereka, yang berpakaian perwira tinggi bangkit berdiri- Dia ini adalah Siong - ciangkun, seorang bekas komandan tentara kerajaan yang sudah menyeberang membantu gerakan Liu Pang, seorang ahli perang yang usianya sudah hampir enampuluh tahun.
"Memang benar sekali pendapat Liu - twako bahwa kita harus mencari akal yang baik untuk menceraikan mereka. Akan tetapi sebelum kita mencari akal, sebaiknya kita mempelajari dahulu keadaan kekuatan seluruh bala tentara kerajaan pada saat ini. Setelah itu baru saya akan menge-mukakan akal saya."
Liu Pang mengangguk - angguk. "Siong-ciang-kun tentu lebih mengetahui keadaan bala tentara kerajaan pada umumnya, silahkan ciangkun meng-gambarkan agar kita semua mengetahuinya."
"Seperti kita ketahui, Jenderal Lai adalah pem-
bantu utama Panglima Besar Beng Tian. Jenderal
Lai ditugaskan untuk menghentikan gerakan pa-
sukan kita agar tidak menjalar ke kota raja. Jen-
deral Beng Tian sendiri bersama induk pasukan-
nya yang terbesar sedang dikerahkan ke barat,
membendung gerakan pasukan Chu Siang Yu yang
semakin kuat itu. Saya mendengar bahwa kaisar
kini mengutus pangeran mahkota untuk memimpin
tentara cadangan dari kota raja untuk membantunya"
Bekas perwira kerajaan itu berhenti sebentar dan dengan pandang matanya menyapu para
hadirin yang duduk memperhatikannya. Yap Kiong
Lee yang selalu dekat dengan istana di kota raja
menarik napas panjang. Tentu saja dia tahu akan
semua itu, bahkan tahu lebih mendalam keadaan
di istana dari pada bekas perwira itu. Melihat
sikap ini, Siong - ciangkun bertanya kepadanya,
"Bukankah demikian, Yap - taihiap ?"
Yap Kiong Lee mengangguk. "Memang benar apa yang dikatakan oleh Siong - ciangkun. Akan
tetapi sesungguhnya bukan kaisar yang mengutus
pangeran mahkota membawa pasukan ke garis de-
pan peperangan, melainkan Perdana Menteri Li
Su. Harap saudara sekalian ketahui bahwa keadaan
di istana kota raja sungguh berobah. Penuh raha-
hasia dan semua orang berada dalam ketegangan
dan kebingungan. Kaisar tidak pernah kelihatan,
bahkan semua orang berani menduga bahwa kai-
sar tidak berada di istana, tidak berada di kota
raja lagi. Entah di mana, tidak ada yang tahu atau
dapat menduga. Bahkan subo sendiri yang menjadi
pengawal pribadi kaisar, juga tidak tahu ! Yang
diketahui hanyalah bahwa kaisar telah melimpah-
kan kekuasaannya kepada Perdana Menteri Li Su
untuk urusan kenegaraan dan kepada thaikam ke-
pala, yaitu Chao Kao untuk urusan dalam istana,
lalu kaisar menghilang !" .
Semua orang terheran - heran mendengar ini, hampir tidak percaya. Akan tetapi karena pemuda itu baru saja datang dari kota raja dan mereka tahu bahwa subo dari pendekar itu adalah Siang Houw Nio - nio, bibi dan juga pengawal pribadi kaisar, maka mereka menaruh kepercayaan dan menanti pemuda itu melanjutkan ceritanya. Liu Pang juga merasa tertarik sekali. Dia menganggap betapa pentingnya berita itu, maka diapun mendesak, minta agar pemuda itu suka melanjutkan cerita-nya.
Yap Kiong Lee menghela napas panjang. "Se-telah Perdana Menteri Li Su berkuasa di kota raja, bergandeng tangan dengan Chao - thaikam, maka mulailah kemelut menggelapkan kota raja. Wakil Perdana Menteri Kang dan para menteri setia yang tadinya sudah diangkat kembali oleh kaisar, satu demi satu disingkirkan."
"Ahhh ! " Para pendekar mengepal tinju
mereka dengan muka merah dan semua merasa penasaran dan marah.
"Penyingkiran mereka dilakukan secara halus dan dirahasiakan, maka tidak sampai tersiar ke luar kota raja." Murid utama Thian - kiam - pang itu melanjutkan. "Semua orang yang masih setia menjatuhkan harapan mereka kepada putera mah-kota, akan tetapi pada suatu hari, pangeran itu dikirim ke garis depan. Saya dapat mengerti bah-wa semua ini tentulah akal muslihat Li Su dan Chao Kao itu, yang kini sebagai kedok, mengang-kat putera kaisar ke dua yang berwatak jelek itu sebagai pengganti putera mahkota, dan menjadi boneka di tangan mereka. Kini yang berkuasa ada-lah panglima-panglima dan menteri-menteri yang menjadi kaki tangan kedua orang lalim itu. Hanya Jenderal Beng Tian, Jenderal Lai, putera mahkota sendiri dan orang - orang seperti mereka itulah yang benar - benar setia dan merupakan patriot-patriot yang mengabdi kepada kerajaan. Oleh ka-rena itu saya sungguh mengharapkan kebijaksanaan Liu - bengcu clan saudara sekalian untuk kelak memikirkan nasib mereka itu, yang saya tahu ada-lah orang - orang yang menjunjung kegagahan dan kesetiaan."
Liu Pang mengangguk - angguk. "Terima kasih atas semua keterangan yang amat penting itu, Yap - sicu. Keadaan itu makin mendorong kita untuk segera turun tangan menghancurkan mereka yang jahat itu. Nah, Siong - ciangkun, harap suka menjelaskan bagaimana rencana siasatmu itu ?"
"Untuk dapat memisahkan dua kekuatan yang bergabung itu, kita harus memecah barisan kita menjadi tiga bagian. Sebagian kecil melewati mar-kas Jenderal Lai dan bersikap seolah - olah meng-hindarkan diri tidak menghendaki bentrokan, lang-sung; saja ke depan dan menyerang atau menduduki kota kecil di depan. Ini untuk mengejutkan pasukan Jenderal Lai agar dia segera melakukan pengejar-an."
"Maksudmu menggunakan siasat memancing harimau meninggalkan sarang ?"
"Benar, Liu - twako. Kalau pasukan kerajaan itu sudah meninggalkan benteng melakukan pengejar-an, kita menggunakan tiga perlima bagian pasu-kan untuk menghadangnya agar pasukan itu tidak dapat kembali ke markas, kita memotong jalan. Sementara itu. yang seperlima bagian lagi kita pergunakan untuk menggempur benteng dan menyerang pasukan pejabat daerah yang bersekong-kol dengan orang - orang asing itu."
Mereka lalu ramai membicarakan dan mengatur siasat seperti yang diusulkan oleh Siong - ciangkun. Kekuatan pertama yang bertugas memancing ha-rimau keluar dari sarang hanya merupakan seper-lima bagian dari pasukan, dipimpin oleh Hek-coa Ouw Kui Lam dan para pendekar lain. Bagian ke dua merupakan pasukan inti yang besarnya tiga perlima bagian, dipimpin oleh tiga orang murid Thian - kiam - pang sendiri, dikepalai oleh Yap Kim dan dibantu oleh Yap Kiong Lee dan Kwan Hok murid ke lima Thian - kiam - pang dan diperkuat oleh Siong - ciangkun sebagai penasihat. Adapun bagian ke tiga, yaitu hanya seperlima bagian, di-pimpin sendiri oleh Liu Pang dan dibantu oleh Pek Lian. Pasukan inilah yang bertugas untuk menduduki dan menyerbu benteng yang dikosong-kan oleh Jenderal Lai nanti, untuk menghancurkan pasukan daerah yang dibantu oleh orang - orang asing itu, musuh utama dari pasukan para pende-kar.
Setelah siasat diatur dan rencana sudah matang, pasukan dibagi - bagi. Sesuai dengan rencana, pa-sukan pertama berangkatlah, menghindarkan mar-kas besar Jenderal Lai, lalu menuju ke kota kecil di depan. Sementara itu, diam - diam pasukan be-sar yang dipimpin oleh tiga saudara seperguruan Thian - kiam - pang juga meninggalkan sarang dan
mencari posisi yang baik untuk nanti melakukan pemotongan atau penghadangan terhadap pasukan Jenderal Lai.
Liu Pang sendiri dibantu oleh Ho Pek Lian, bersama pasukannya menyelinap dan mendekati benteng musuh dengan hati - hati pada malam hari itu juga. Mereka bersembunyi di tepi sebuah su-ngai kecil yang airnya jernih, menanti saat baik sampai pasukan besar Jenderal Lai meninggalkan benteng. Mereka harus menanti dengan sabar, mungkin sehari, dua hari atau tiga hari sampai Jen-deral Lai melakukan pengejaran dengan pasukan-nya terhadap pasukan para pendekar yang me-nyerang kota kecil di depan.
Pada keesokan harinya setelah matahari terbe-nam, barulah Liu Pang menerima kabar bahwa gerakan pertama dari pasukan pertama telah ber-hasil mengepung kota kecil di depan, dalam gerak-an memancing harimau meninggalkan sarang. Kota kecil itu diserbu dan pasukan para pendekar se-ngaja membiarkan kepala daerah dan para penga-walnya lolos, agar mereka dapat mengabarkan ke-pada Jenderal Lai dan mengharapkan bantuan jen-deral ini.
Seperti yang telah direncanakan, ternyata ha-silnya memang tepat. Jenderal Lai yang mende-ngar bahwa pasukan para pendekar menduduki kota kecil di depan, menjadi geram. "Kurang ajar sekali Liu Pang itu! Dia dan pasukannya takut menghadapi pasukanku dan sengaja mengambil jalan memutar untuk bergerak ke arah kota raja. Hemm, hal ini tak boleh dibiarkan saja!" Diapun lalu memerintahkan para perwiranya untuk mem-persiapkan pasukan mereka. Berangkatlah pasukan kerajaan yang besar dengan megah, menuju ke kota kecil untuk merampas kembali kota itu, mengha-langi pasukan Liu Pang menuju ke kota raja dan menghajar mereka.
Mendengar pelaporan tentang gerakan Jenderal Lai ini yang telah masuk perangkap sesuai dengan siasatnya, Liu Pang merasa girang sekali. Cepat diapun mempersiapkan pasukannya untuk menyer-bu ke benteng yang telah ditinggalkan pasukan kerajaan itu. Akan tetapi, tiba - tiba terjadilah hal yang sama sekali tidak mereka sangka - sangka. Terjadilah kegemparan ketika sebagian besar dari para anak buah pasukan pendekar itu mengeluh, memegangi perut mereka yang terasa sakit sekali! Mereka semua telah keracunan! Hanya sebagian kecil saja yang tidak keracunan dan mereka ini tentu saja sibuk dan bingung menolong teman-teman yang mengaduh - aduh tak berdaya itu.
Liu Pang dan Pek Lian sendiri segera merasa-kan betapa perut mereka mulas dan nyeri. Terke-jutlah mereka dan maklumlah Liu Pang bahwa mereka semua telah keracunan. Untunglah bahwa dia dan muridnya memiliki sinkang yang kuat dan daya tahan lebih tangguh, dan pula agaknya mereka tidak begitu banyak terkena racun seperti anak buah mereka. Setelah mengadakan pemerik-saan dan melihat betapa terdapat banyak ikan yang mabok dan mati di dalam sungai kecil, tahulah Liu Pang bahwa air sungai itulah yang mengandung racun. Tahulah dia bahwa fihak musuh amatlah cerdiknya dan agaknya fihak musuh sudah tahu akan tempat persembunyian mereka itu dan men-campuri air sungai dengan racun.
"Ini tentu perbuatan iblis Tai - bong - pai itu !" Pek Lian teringat dan gurunya mengangguk.
Liu Pang dan para pembantunya segera mem-bagi - bagi obat penawar. Untunglah bahwa racun yang telah larut dengan air sungai itu hanya ter-batas kekuatannya, hanya membuat mabok dan sakit perut saja, tidak sampai mematikan walaupun cukup membuat mereka tak berdaya dan lemas badan. Selagi mereka sibuk mengobati diri, men-jelang tengah malam itu terdengarlah sorak-sorai dan datanglah pasukan kepala daerah yang tinggal di benteng itu, dibantu oleh pasukan asing, menye-rang para pendekar yang sedang dilanda sakit perut dan keracunan. Pasukan ini dipimpin sendiri oleh Song - bun - kwi Kwa Sun Tek dan Malisang raksasa Mongol yang lihai itu dan terjadilah pem-bantaian terhadap pasukan para pendekar. Untung malam itu gelap sehingga para pendekar yang melawan mati - matian itu dapat melarikan diri cerai - berai memasuki hutan-hutan gelap mencari
selamat sendiri - sendiri. Pasukan para pendekar ini, dalam keadan masih dilanda sakit perut, dapat dikatakan hancur total walaupun banyak juga di antara mereka yang berhasil selamat. Liu Pang sendiri bersama muridnya, dengan pedang di tangan mengamuk. Namun, menghadapi Kwa Sun Tek dan Malisang, guru dan murid inipun tidak kuat bertahan dan akhirnya mereka berdua terpaksa menyelamatkan diri berlindung pada kegelapan malam dan kekacauan yang terjadi di tepi sungai kecil itu.
Dengan dilindungi oleh belasan orang penga-walnya yang terdiri dari pendekar - pendekar yang memiliki ilmu silat cukup tinggi, Liu Pang dan Pek Lian melarikan diri, dikejar oleh pemuda Tai-bong - pai dan raksasa Mongol.
"Ha - ha - ha, Kwa - taihiap, engkau pimpin saja pasukan kita hancurkan semua pemberontak ini, habiskan mereka. Berikan orang she Liu itu ke-padaku kata Malisang dan dengan dua losin pengawal diapun melakukan pengejaran terhadap Liu Pang dan teman - temannya.
Pengejaran itu akhirnya berhasil dan Liu Pang bersama muridnya, dilindungi oleh sebelas orang pengawal, dikepung ketika mereka keluar dari da-lam hutan. Perkelahian seru terjadi secara kero-yokan. Maklum betapa lihainya Malisang, Liu Pang sendiri maju menghadapinya, sedangkan Pek Lian membantu para pengawal menandingi para pengawai musuh yang jumlahnya dua kali lipat lebih banyak itu.
Biarpun Liu Pang terkenal dengan ilmu pe-dangnya yang lihai, namun pada saat itu dia mengalami pukulan lahir batin. Batinnya tertekan menyaksikan betapa pasukannya dipukul cerai-berai oleh musuh, betapa siasatnya telah digagal-kan fihak musuh bahkan dia kena ditipu sehingga pasukannya menderita kerugian besar. Lahirnya, diapun telah minum air beracun yang biarpun ti-dak membahayakan keselamatan nyawanya, na-mun cukup membuat tubuhnya lemas dan tenaga-nya berkurang. Karena itu, kecepatannyapun ba-nyak berkurang sehingga beberapa kali dia terke-na hantaman tangan Milasang yang amat kuat itu. Melihat keadaan gurunya, Pek Lian cepat mener-jang maju membantu mengeroyok Malisang yang tertawa - tawa girang karena raksasa ini sudah me-mastikan bahwa malam itu dia tentu akan berha-sil membekuk pemberontak besar Liu Pang ini, baik dalam keadaan hidup maupun mati.
"Suhu, mari kita pergi!" Tiba - tiba Pek Lian menusukkan pedangnya ke arah dada Malisang. Ketika raksasa ini menggerakkan tangan untuk mencengkeram ke depan, kedua tangannya berani menghadapi senjata tajam karena kebal dan kuat, Pek Lian menarik kembali pedangnya, menggan-deng tangan gurunya dan mengajak gurunya yang
sudah terkena beberapa kali pukulan keras itu un-tuk bersama - sama meloncat ke dalam sungai.
"Byuurrr !" Keduanya ditelan air yang
gelap dan dengan pengerahan seluruh tenaganya, sambil menggigit pedangnya, Pek Lian membantu gurunya untuk menyeberangi sungai, sedangkan para pengawalnya menahan Malisang dan kawan-kawannya yang hendak melakukan pengejaran. Dalam usaha ini, beberapa orang pendekar yang menolong dan melindungi guru dan murid itu ro-boh dan tewas, lainnya terpaksa melarikan diri karena kekuatan fihak musuh jauh lebih besar.
Pasukan yang dipimpin oleh Liu Pang itu be-nar - benar mengalami hantaman yang tidak kepa-lang tanggung. Ratusan orang pendekar tewas dalam penyerbuan ini dan lainnya kembali meng-alami nasib seperti yang pernah berkali - kali me-reka alami, yaitu cerai - berai melarikan diri men-cari keselamatan masing - masing untuk kelak menyusun kembali kekuatan mereka. Bagaimana-pun juga, mereka itu tidak pernah kehilangan se-mangat perlawanan, sesuai dengan watak mereka sebagai pendekar yang hanya memiliki satu tujuan, yaitu menentang kekuasaan lalim.
Sejarah berulang tenis. Golongan yang mena-makan dirinya penentang kejaliman, yang meng-anggap diri mereka sebagai pembela rakyat jelata, atau penegak keadilan yang berjuang dengan se-mangat bernyala - nyala, rela berkorban apa saja yang dimilikinya, bahkan rela berkorban nyawa, selalu bangkit menentang golongan yang pada sa-at itu berkuasa dan yang dianggap sebagai golong-an yang lalim, golongan penindas dan golongan yang jahat. Fihak penentang kekuasaan yang ada selalu menganggap diri mereka sebagai golongan yang baik menentang golongan yang jahat! Dan sebaliknya, fihak yang pada saat itu berkuasa, tentu saja menganggap fihak yang menentang itu sebagai perusuh - perusuh, pengacau - pengacau dan peru-sak - perusak ketenteraman, sebagai pemberontak-pemberontak yang hanya bergerak demi satu am-bisi, yakni merebut kekuasaan. Fihak yang berku-asa tentu saja menganggap golongan penentang itu sebagai yang jahat, yang hendak menyengsara-kan kehidupan rakyat dengan adanya kekacauan dan pengrusakan. Jadi, kedua fihak itu selalu men-dasarkan "perjuangan" mereka demi kebaikan rakyat, demi kebaikan dan demi menentang keja-hatan dan kebusukan !
Hal ini berulang ribuan kali dalam sejarah, di dalam negeri manapun juga. Selalu nama rakyat dipergunakan untuk perjuangan mereka, juga rak-yat ditarik sana - sini untuk dijadikan sekutu, un-tuk memperkuat landasan mereka. Dan bagaima-na kalau sampai golongan yang menentang kekua-saan yang ada itu mencapai kemenangan, berhasil menggulingkan kekuasaan yang ada dan fihak pe-nentang ini kemudian menggantikan kedudukan dan menjadi yang berkuasa ? Sejarahpun berulang kembali! Cepat atau lambat muncullah lagi go-longan - golongan yang menentangnya, golongan yang sekali lagi mempergunakan nama rakyat dan kebenaran dan keadilan untuk menentang kekuasa-an baru itu, untuk menumbangkannya, untuk me-rebut kekuasaan !

Bersambung

30                                                                                                                 32