Kamis, 30 Mei 2013

DARAH PENDEKAR 30

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Bab 30

"Hemmm ? Pergi ?" A-hai menunduk dan memandang wajah dara itu. Matanya yang buas itu membuat Bwee Hong sendiri menjadi ngeri.

"Koko, mari kita lari! A-hai, hayo loncati tembok di sana itu!" Bwee Hong berseru sambil menekan - nekan pundak A-hai.

Seng Kun girang sekali melihat bahwa adiknya ternyata selamat dan kini kakak ini baru mengerti bahwa robohnya Bwee Hong tadi ternyata hanya-lah siasat untuk "membangkitkan" A-hai.

"Baik, mari kita pergi!" katanya sambil mero-bohkan dua orang perajurit dan pemuda inipun mempergunakan ginkangnya yang amat hebat untuk melayang ke arah tembok bagaikan seekor burung terbang saja.

"Hayo kita pergi, A-hai !" kata pula Bwee Hong.

"Pergi ? Baik, ibu !" Dan A-hai lalu meloncat dengan kecepatan yang membuat Bwee Hong terkejut dan ngeri. Akan tetapi, lebih terkejut dan heran lagi hatinya ketika tadi ia mendengar A-hai menyebutnya "ibu" !

"Kejar!"

"Tangkap !"

"Bunuh !!"

Teriakan - teriakan itu menggerakkan para pe-rajurit untuk mengejar, akan tetapi begitu A-hai menggerakkan tangan ke belakang dan empat orang roboh terpelanting dan tewas, mereka menjadi jerih dan akhirnya mereka bertiga dapat lolos dari pe-ngejaran para perajurit. Tentu saja Kwa Sun Tek menjadi marah dan khawatir. Tawanan - tawanan itu diserahkan kepadanya dan menjadi tanggung jawabnya, raaka tentu saja sama sekali tidak boleh lolos ! Dia mengerahkan pasukannya, dibantu oleh Malisang, melakukan pengejaran secepatnya.

Ketika pasukan itu tiba di pintu gerbang, baru saja pintu gerbang dibuka, terdengar derap kaki kuda dan muncullah Jenderal Lai diikuti oleh pa-sukan pengawalnya. Melihat jenderal ini, tentu saja Kwa Sun Tek terkejut dan cepat memberi hormat bersama para pembantunya.

Jenderal Lai mengerutkan alisnya dan meman-dang tajam. "Ada kejadian apa lagi ini ? Kenapa sampai terdengar dipukulnya tanda bahaya segala?"

Tentu saja Kwa Sun Tek merasa canggung dan gugup. Akan tetapi dia tidak mungkin dapat me-nyembunyikan kenyataan, maka dengan hati-hati dia lalu bercerita bahwa tiga orang tawanan itu memberontak dan melarikan diri dengan jalan kekerasan. "Kami sedang berusaha mengejar mere-ka, Lai - ciangkun."

Jenderal Lai terkejut sekali mendengar ini. Dia marah. "Hemm, mengapa engkau begini ceroboh dan membiarkan tawanan penting lolos ?"

"Kami tentu akan dapat menangkap mereka kembali!" kata Malisang melihat kemarahan jen-deral itu. Jenderal Lai menengok dan melihat rak-sasa rambut putih itu dia membentak,

"Siapa pula orang ini ?"
Kwa Sun Tek sudah terkejut sekali mendengar Malisang ikut bicara tadi, dan kini dengan gugup dia menjawab. "Dia adalah seorang pengawal pribadi saya, goanswe!"

"Hayo kejar dan tangkap mereka kembali!" Akhirnya sang jenderal memberi perintah sambil memutar kudanya memasuki kota kembali. Kwa Sun Tek bersama Malisang lalu mengerahkan pa-sukan dan melakukan pengejaran keluar kota.

Chu Seng Kun diam-diam merasa kagum bu-kan main kepada A-hai. Biarpun pemuda sinting yang sedang kumat itu memanggul tubuh Bwee Hong, akan tetapi dia dapat berlari dengan kece-atan yang luar biasa. Seng Kun sendiri adalah keturunan dari Tabib Sakti Tanpa Bayangan yang sudah terkenal memiliki ginkang nomor satu di dunia persilatan. Akan tetapi sekali ini dia harus mengakui bahwa ginkang atau ilmu meringankan tubuh dari pemuda sinting itu tidak kalah olehnya. Bahkan dia harus mengerahkan semua tenaganya untuk dapat mengimbangi kecepatan lari A-hai.

Mereka keluar masuk hutan dan naik turun bukit-bukit. Setelah mereka tiba di tepi sebuah sungai yang jernih airnya, Bwee Hong berbisik kepada A-hai, "A-hai, berhenti! Turunkan aku di sini !"

Memang aneh sekali. Dalam keadaan kumat, pemuda ini tidak mau perduli, bahkan tidak me-ngenal semua orang. Akan tetapi seperti ketika berhadapan dengan Pek Lian, kini dia amat patuh kepada Bwee Hong. Biarpun tadinya beringas dan buas, mendengar suara Bwee Hong, dia menjadi lemah dan penurut sekali. Dan suasana yang te-nang di tempat itu agaknya cepat memulihkannya kembali dari kambuhnya.

Dia menurunkan Bwee Hong, lalu dia duduk di atas sebongkah batu besar, termenung sejenak, memandang ke kanan kiri se-perti orang terheran - heran atau seperti baru saja bangun dari mimpi buruk, kemudian dia menutupi mukanya dengan kedua telapak tangannya sambil mengeluh panjang pendek, "Aduh, kepalaku ! Kepalaku !"

Dengan perasaan iba Bwee Hong mendekatinya, lalu memegang pundaknya dengan sikap halus. "Kepalamu kenapa, A-hai? Bagaimana rasanya?"

"Aduhh pening , pusing sekali. Ahhhh " Dan tiba - tiba saja A-hai terkulai dan tentu jatuh terguling dari atas batu kalau tidak cepat-cepat dipegang oleh Bwee Hong. Pemuda itu sudah roboh pingsan!

"A-hai ! A-hai ! Engkau kenapakah, A-hai ?" Bwee Hong yang merangkulnya itu mengguncang - guncangnya, hatinya penuh dengan perasaan iba. Wajah A-hai yang tadinya kemerahan dengan mata beringas itu kini perlahan - lahan berobah menjadi pucat.

"Tenanglah, Hong-moi, biarkan dia terlentang di atas rumput. Dia sedang mengalami perobahan seperti biasa, setelah tadi mengalami guncangan batin yang hebat dan yang membuatnya kumat. Bagaimanapun juga, siasatmu itu bagus sekali dan telah menyelamatkan kita."

"Ah, itu merupakan jalan satu - satunya, yaitu membuat dia kumat. Sebetulnya, kalau tidak ter-paksa, aku tidak tega melihat dia kumat seperti itu, dan engkau tahu, koko, ketika kumat tadi, dia menyebut aku ibu!"

Seng Kun memandang wajah pemuda yang kini rebah terlentang dengan muka pucat itu dan me-raba-raba dagunya yang masih halus belum di-tumbuhi jenggot. "Hemm, tentu ada rahasia di balik itu semua, rahasia yang menyangkut ibunya. Agaknya dahulu terjadi peristiwa hebat sekali yang membuat batinnya terguncang secara luar biasa."

"Kita sudah melihat dia beberapa kali kumat dan agaknya dia kumat karena guncangan batin, terutama sekali apa bila dia melihat darah. Adik Pek Lian juga menceritakan demikian. Aku ham-pir merasa pasti bahwa masa lalunya yang telah dilupakannya itu apa bila dia dalam keadaan biasa, tentulah sangat serem dan mengerikan. Tentu masa lalunya itu penuh dengan peristiwa yang-berlepotan darah dan pembunuhan. Dan peristi-wa itu sangat melukai hatinya sehingga sampai sekarangpun mempengaruhi batinnya. Kurasa, apa bila dia sedang kumat, dia justeru sedang hidup kembali dalam masa lalu yang terlupakan itu, dia menjadi buas dan penuh dengan hawa nafsu mem-bunuh ! Bagaimana pendapatmu, koko ?"

Seng Kun menarik napas panjang dan menatap wajah A-hai yang masih pingsan seperti orang tidur nyenyak itu. "Hemm, terus terang saja, adik-ku. Aku sendiri belum dapat memastikan penya-bit apa yang dideritanya, hanya dapat meraba raba dan mengira-ngira saja. Akan tetapi setelah melihat keadaannya dan mendengar cerita menge-nai dirinya, aku merasa yakin bahwa dia menga-lami gangguan pada jalinan syaraf otaknya. Ada gangguan yang membuat otaknya terganggu se-hingga terjadi kelainan. Telah terjadi sesuatu yang mengguncangkan dan mendatangkan luka pada susunan otaknya sehingga merusak daya ker-janya, membuat dia kehilangan ingatannya saat dia kecil sampai beberapa saat yang lalu.

Di da-lam buku kakek, aku pernah membaca tentang gangguan yang dapat mengakibatkan kerusakan daya kerja otak. Benturan kepala yang keras dapat mengakibatkan kerusakan. Keracunan racun-racun tertentu dapat juga merusak syaraf otak dan meng-akibatkan ketidaknormalan. Juga peristiwa-peris-tiwa yang amat hebat dapat mengguncangkan ba-tin sedemikian hebatnya sehingga mengakibatkan pula kelainan pada susunan otak dan mendatang-kan kegilaan. Ada pula penyakit yang merupakan penyakit keturunan, penyakit gila keturunan yang kadang-kadang muncul kadang-kadang tidak, seperti keadaan A-hai ini. Akan tetapi aku me-lihat gejala-gejala berbeda dari pada diri A-hai dengan penyakit gila keturunan, karena A-hai hanya kambuh kalau batinnya terguncang oleh kengerian saja. Sayang kita tidak mengenal asal-usul dan masa lalunya. Kalau kita mengetahuinya, tentu akan lebih mudah untuk mengenal jenis pe-nyakitnya dan tentu saja lebih mudah pula untuk mencoba memberi pengobatannya."

"Habis, bagaimana baiknya, koko ? Aku ingin sekali melihat dia sembuh. Dia sudah berbuat banyak terhadap kita, dia sudah melepas budi besar walaupun tidak disengajanya."

"Itulah, kita harus menyelidiki dengan cermat. Belum tentu yang menimpa dirinya itu merupakan suatu penyakit. Mungkin akibat guncangan batin yang hebat. Atau dapat juga jalinan syaraf rusak karena peredaran darah yang kacau. Keracunan darah melalui luka dapat saja merusak syaraf otak. Kita harus menyelidiki "

"Lalu bagaimana caranya ? Bagaimana kita bisa membuka rahasia penyakitnya P"

Seng Kun mengerutkan alisnya dan mengguna-kan pikirannya. Sebelum adiknya mengajukan per-tanyaan - pertanyaan itu mengenai diri A-hai, hal ini sudah sering kali direnungkannya. Tidak, dia ingin mengobati A-hai bukan karena merasa ber-hutang budi. Andaikata A-hai tidak pernah mele-pas budi sekalipun, tetap saja dia ingin mengobati-nya. Yang mendorongnya adalah wataknya sebagai ahli pengobatan. Setiap orang ahli pengobatan yang benar - benar mencintai keahliannya, tentu akan merasa ditantang apa bila menghadapi seo-rang yang menderita penyakit berat dan aneh. Makin berat dan makin aneh penyakitnya, makin besarlah gairahnya untuk memeranginya, untuk melawan dan menundukkan penyakit itu. Dia merasa ditantang oleh seorang lawan yang mena-rik !

"Satu - satunya jalan ialah mengetahui sebabnya mengenai dunia masa lalunya itu. Siapakah dia sebenarnya, bagaimana asal-usulnya dan apa yang terjadi dengan dia pada saat - saat terakhir masa lalunya itu ? Dan siapa keluarganya, dari mana asalnya ? Kalau kita mengetahui asal - usul-nya, kita dapat mengajaknya ke tempat itu. Tem-pat-tempat yang sudah sangat dikenalnya, kam-pung halaman di mana dia tumbuh di waktu masa kanak-kanak, akan membantu dia untuk cepat menemukan dirinya kembali. Akan tetapi dalam keadaan sekarang, tak mungkin hal itu terjadi. Dia sendiripun sudah lupa akan asal - usulnya, bagai-mana kita akan dapat menyelidikinya ? Hanya ada satu jalan, akan tetapi ......" Seng Kun tidak me-lanjutkan.

"Tetapi bagaimana, koko ?" tanya adiknya tak sabar.

"Engkau tahu, untuk dapat memperoleh keterangan yang paling mudah mengenai masa lalunya, tentu saja pada saat - saat dia kumat. Karena dalam keadaan normal dia lupa sama sekali mengenai dirinya. Dan pada saat dia kumat tentu dia tahu akan keadaan dirinya di masa lalu, hanya dia berbahaya sekali. Ilmu kepandaian silat kita sama sekali bukan apa - apa dibandingkan dengan dia. Dan perasaannya amat halus. Sekali dia tersinggung, kita akan dengan amat mudah saja tewas di tangannya."

Bwee Hong mengangguk-angguk. Iapun sudah mengenal kehebatan A-hai kalau sedang kumat. "Lalu bagaimana baiknya ? Apakah kita akan diam saja melihat penderitaannya yang hebat itu ?" tanyanya sedih dan matanya menjadi basah ketika ia memandang ke wajah pemuda yang masih ping-san itu.

Melihat kesedihan adiknya, Seng Kun menjadi kasihan dan dia menyentuh tangan adiknya. "Hong-moi, sebenarnya aku telah memikirkan suatu jalan, akan tetapi aku tidak berani mengatakannya kare-na aku amat mengkhawatirkan resikonya."

"Katakanlah, jalan apa itu ? Kalau perlu, kita harus berani menempuh resikonya."

"Begini, adikku. Sebuas - buasnya binatang, pada dasarnya masih memiliki kasih sayang, apa lagi manusia. Seluruh mahluk di permukaan bumi ini, dari binatang yang paling buas dan tak ber-akal budi, sampai kepada manusia, semua tunduk oleh rasa kasih sayang ini. Aku melihat betapa A-hai, dalam keadaannya yang paling buas selagi kumat, masih juga mempunyai kelemahan dan tun-duk terhadap perasaan suci itu. Dia mempunyai tanggapan tersendiri kepadamu. Ingatkah engkau sewaktu dia berlutut di depanmu ketika dia ku-mat di pulau terlarang itu ? Dan tadi ? Dia begitu buas dan mengerikan, akan tetapi terhadap engkau dia seperti seorang anak kecil yang lemah dan taat. Maka, menurut dugaanku, hanya engkaulah seorang di dunia ini yang dapat mendekati hatinya sewaktu dia kumat. Dengan senjata kasih sayang yang ada pada dirinya itu, engkau akan dapat menundukkannya di waktu dia kumat dan menjadi buas. Akan tetapi bagaimanapun juga, engkau adalah adikku. Aku tidak berani mengambil resiko yang terlalu besar. Sekali saja salah jalan, nyawa-mu bisa melayang. Sewaktu dia kumat, akupun tidak mampu melindungi dirimu lagi. Dan lebih sukar lagi, saat kumatnya itu demikian singkat sehingga tidak banyak waktu lagi untuk melakukan penyelidikan "

Pada saat itu terdengar suara keluhan dan A-hai nampak menggeliat bangun.

"Koko, dia telah siumam"

A-hai bangkit duduk dan memandang ke ka-nan kiri dengan bingung. Melihat Bwee Hong dan Seng Kun berada di situ, diapun bertanya heran, "Eh, apa yang telah terjadi ? Di mana pengero-yok - pengeroyok itu, di mana pula kereta kita ? Kita berada di manakah ?"

"Engkau pingsan dan kita bawa ke sini," kata Seng Kun membohong agar pemuda itu tidak banyak berpikir dan menjadi bingung.

A-hai masih bengong dan nampak termenung. Seolah - olah dia hendak mengingat sesuatu dan dia merasa seperti mimpi, mimpi aneh. Mereka lalu melanjutkan perjalanan dan bermalam di sebuah pondok tua yang tiada penghuninya lagi, di luar sebuah dusun kecil. Mereka membuat api unggun dan Bwee Hong menangkap tiga ekor ayam hutan kemudian mereka makan daging ayam hutan pang-gang. Setelah itu, mereka membuat api unggun dan sambil duduk mengelilingi api unggun mereka ber-cakap - cakap.

"A-hai, sebenarnya, di manakah tempat ting-galmu, maksudku kampung halamanmu ?" Bwee Hong bertanya, memancing dan mencoba kalau-kalau pemuda itu dapat mengingatnya.

A-hai menundukkan mukanya. "Entahlah, aku tidak ingat sama sekali. Nona tentu Sudah tahu bahwa aku sudah lupa sama sekali tentang diriku, lupa siapa aku ini, siapa orang tuaku. Bagaimana aku tahu di mana kampung halamanku ?"

"Akan tetapi engkau tentu masih ingat akan tempat - tempat yang kaukunjungi untuk yang pertama kali dan yang terakhir kali, bukan ?"

"Tentu saja," jawab A-hai sambil tersenyum sedih.

"Tempat yang terakhir adalah di sini, bu-kan ?" Dia menepuk tanah di mana dia duduk dekat api unggun.

"Dan yang pertama kali kaukunjungi ? Yang masih kauingat pada pertama kalinya sesudah waktu yang terlupakan olehmu itu, di manakah itu ?"

A-hai mengerutkan alisnya, seperti hendak menggali dalam benaknya ingatan - ingatan lama. Sampai berkeringat wajahnya. Seng Kun memper-hatikan dan diam saja. Dia menyerahkan hal itu kepada adiknya saja, akan tetapi dengan cermat dia memperhatikan wajah A-hai. Wajah itu kini berkeringat, seolah - olah pekerjaan mengingat-ingat merupakan pekerjaan yang amat berat dan melelahkan baginya.

"Sapi kuda kerbau domba ......ah, pendeknya banyak ternak dan aku menggembalanya, di padang rumput , benar, di padang rumput yang segar dan hijau."

"Padang rumput ? Menggembala ternak ?" Bwee Hong bertanya sambil saling pandang dengan ka-kaknya

"Benar, tempat itulah yang bisa kuingat, sampai kini. Lebih lama dari waktu itu aku tidak ingat lagi."
"Jadi saat engkau menjadi penggembala itulah saat terakhir yang dapat kauingat dan se-belum saat itu engkau lupa ?"

"Benar. Menjadi penggembala di padang rum-put itulah bagiku menjadi permulaan dari hidupku sampai sekarang. Aneh, bukan ?" A-hai tersenyum getir.

Tiba - tiba Seng Kun meloncat bangun, diikuti oleh Bwee Hong, sedangkan A-hai tetap duduk saja, tidak tahu bahwa kakak beradik itu telah mendengar suara orang datang ke tempat itu. Ba-rulah A-hai memandang dengan kaget ketika melihat munculnya dua orang yang bukan lain, adalah Kwa Sun Tek dan Malisang, diikuti oleh para perwira anak buah mereka. Kiranya setelah men-dapat teguran keras dari Jenderal Lai, pemuda Tai - bong - pai ini mati - matian mencari jejak buronan mereka dan akhirnya dapat menemukan tiga orang muda itu di situ. Biarpun Kwa Sun Tek sendiri merasa gentar melihat A-hai yang masih enak - enak duduk di dekat api unggun, namun dia mengandalkan pasukannya dan bertekad untuk menangkap kembali tiga orang itu.

Seng Kun dan Bwee Hong maklum bahwa menghadapi mereka ini tidak ada gunanya untuk banyak cakap lagi, maka kakak beradik ini segera menerjang ke depan. Seng Kun menyerang Kwa Sun Tek sedangkan Bwee Hong menandingi Mali-sang. Akan tetapi, beberapa belas orang perwira pengawal ikut mengeroyok sehingga keadaan kedua orang kakak beradik ini sebentar saja terdesak hebat. Celakanya, A-hai berada dalam keadaan normal sehingga seperti biasa, pemuda ini hanya memandang dengan bingung saja.

Selagi dua orang kakak beradik itu terdesak hebat, tiba - tiba terdengar suara orang melengking nyaring dan panjang dan nampak pula dua gulung sinar putih berkelebatan menyilaukan mata, disusul patahnya senjata - senjata para pengeroyok dan robohnya beberapa orang di antara mereka. Mun-cullah seorang pemuda gagah tampan berpakaian putih - putih yang mengamuk dengan sepasang pedangnya yang mengeluarkan sinar kilat.

"Yap-twako !.!" Bwee Hong berseru girang sekali ketika mengenal pemuda ini.

Kiranya yang datang adalah Yap Kiong Lee, pemuda lihai dari Thian-kiam-pang itu. Permain-an pedangnya hebat bukan main dan ketika pemu-da itu akhirnya terjun ke dalam perkelahian mem-bantu Seng Kun dan Bwee Hong, pemuda Tai-bong - pai dan pembantunya si raksasa Mongol itupun merasa kewalahan. Tiga orang pendekar ini mengamuk dan akhirnya para pengeroyok itu terpaksa mundur. Kiong Lee lalu mengajak mereka melarikan diri. Seng Kun cepat menyambar lengan A-hai dan diajaknya pemuda itu lari. Mereka menghilang di dalam kegelapan malam dan karena Kwa Sun Tek merasa jerih terhadap pemuda yang memegang sepasang pedang, pengejaran yang dilakukannya amat terlambat dan hanya seperti orang membayangi dari jauh saja.

Empat orang muda itu berlari terus dan setelah malam terganti pagi, baru mereka berhenti di tepi jalan gunung. A-hai terengah - engah dan meng-omel panjang pendek.

"Orang - orang tak berperi-kemanusiaan itu ! Mengejar - ngejar dan hendak membunuh, membikin orang menjadi hidup tak aman saja!" Dia menyusuti keringatnya dengan ujung lengan bajunya.

Seng Kun dan Bwee Hong menjura kepada Yap Kiong Lee. "Kami menghaturkan terima kasih atas pertolongan Yap - twako sehingga kami dapat lolos dengan selamat."

"Ah, di antara kita, masih perlukah bersikap sungkan ?" jawab Yap Kiong Lee dengan seder-hana.

"Sungguh kemunculan Yap - twako selalu seperti seorang dewa penyelamat saja," kata Bwee Hong.

"Ketika aku terancam gelombang lautan, engkau muncul dan menyelamatkan aku, dan sekarang, selagi kami dikurung dan didesak, engkau muncul pula menolong kami. Yap-twako, bagaimana eng-kau bisa muncul di tempat ini ?"

Pendekar berpakaian putih itu menarik napas panjang. "Orang yang benar selalu dilindungi Thian. Tentu kalian adalah orang - orang yang benar maka setiap kali terancam bahaya, ada saja yang kebetulan datang membantu. Aku diutus oleh suhu lagi. Urusan apa lagi kalau bukan urusan siauw - sute yang nakal itu ? Dia telah kabur lagi dan sekali ini dia mengajak Ngo - sute Kwan Hok."

"Kwan Hok ?" Seng Kun berseru.

"Ah, adikmu yang ke lima itu sekarang menjadi pemimpin para pendekar yang melawan pemerintah daerah yang memberontak. Kami bersama dia kemarin dulu dan kalau tidak salah dia dan kawan - kawannya akan menggabungkan diri dengan pasukan Liu - beng-cu."

"Apakah kalian tidak melihat siauw-sute Yap. Kim ?" tanya Yap Kiong Lee yang menjadi kaget dan juga gembira mendengar keterangan itu.

"Tidak, kami tidak melihatnya."

"Aih, di mana lagi si bengal itu?" Kiong Lee termenung kesal. Ngo - sutenya telah diketahui kabarnya, akan tetapi ternyata Ngo - sutenya itu berpisah dari Yap Kim. Gurunya memesan kepada-nya agar menemukan sutenya itu.

Negara sedang dalam keadaan ricuh, di mana - mana terjadi per-tempuran. Kepandaian Yap Kim memang sudah cukup tinggi, akan tetapi wataknya yang aneh itu bisa mencelakakan dirinya sendiri. Seperti peris-tiwa beberapa waktu yang lalu, sutenya itu gu-lung-gulung dengan seorang dari Ban - kwi - to, yaitu Si Kelabang Hijau. Padahal semua orang di dunia kang - ouw tahu belaka betapa jahatnya iblis - iblis Kepulauan Ban - kwi - to itu.

"Ngo - sutemu itupun tidak tahu ke mana per-ginya siauw - sutemu," kata Bwee Hong.

"Biarlah, aku akan menemui Ngo - sute dulu, baru kami akan mencarinya. Kalian bertiga hendak pergi ke manakah ?" tanya Kiong Lee.

"Kami hendak ke kota raja, menghadap sri baginda kaisar," kata Seng Kun singkat. Karena dia percaya penuh kepada tokoh Thian - kiam - pang ini, maka diapun menceritakan bahwa dia diutus kaisar untuk mencari Menteri Ho dan kini dia hendak melaporkan hasil penyelidikannya.

"Bah-kan aku akan bentangkan semua peristiwa yang aneh-aneh di daerah, tentang bersihnya perjuangan Liu - bengcu dan palsunya para pejabat daerah yang bersekongkol dengan orang - orang asing dan mereka inilah yang sebenarnya hendak membe-rontak."

"Ah, kalian terlambat!" kata Yap Kiong Lee.

"Apa maksudmu ?" tanya Seng Kun terkejut.

"Kaisar tidak berada di istana. Sudah sebulan lebih sri baginda tidak berada di istana." Pemuda perkasa itu nampak ragu - ragu, menoleh ke kanan kiri, kemudian berkata dengan suara berbisik, "Sebaiknya jangan memasuki istana dalam saat-saat ini. Berbahaya sekali. Sri baginda kaisar tidak ada di istana, dan yang berkuasa adalah Perdana Menteri Li Su. Orang ini luar biasa palsu, kejam dan liciknya. Beberapa hari yang lalu dia mengi-rimkan putera mahkota ke utara, ke tempat Jen-deral Beng Tian memimpin pasukan yang ber-tempur melawan pemberontak."

Chu Seng Kun terkejut dan merasa heran. "Putera mahkota dikirim ke medan pertempuran ? Untuk apa ?"

"Perdana Menteri Li Su mengirimkannya dengan dalih agar putera mahkota dapat menambah peng-alaman dan membantu Panglima Beng Tian. Akan tetapi, semua orang juga tahu bahwa dia hanya ingin menyingkirkan putera mahkota sehingga dalam istana yang sedang kosong itu dia boleh berkuasa sebebasnya tanpa pengganggu atau sa-ingan. Semua orang tidak berani menentang kare-na sebagai perdana menteri, kalau sri baginda tidak ada, dialah yang paling berkuasa."

"Ah, tidak kusangka keadaan di istana sekacau itu !" kata Seng Kun penasaran.

Yap Kiong Lee menarik napas panjang. "Mudah dilihat bahwa negeri kita ini terancam malapetaka, sebentar lagi tentu akan porak-poranda. Di luar istana keadaan begini kacau, penuh dengan pem-berontakan dan pejabat-pejabat daerah ingin berkuasa sendiri, orang-orang jahat mempergunakan kesempatan untuk mencari keuntungan seba-nyaknya, di mana - mana terjadi perebutan keku-asaan. Sedangkan di dalam istana sendiri sudah mulai nampak kericuhan. Semua orang yang tidak disukainya, disingkirkannya dengan kekuasaannya, diganti kedudukan mereka dengan antek - antek-nya. Karena kekuasaan mutlak berada di tangan-nya, para menteri yang setia kepada kerajaan tidak ada yang berani menentangnya."

"Apakah di istana tidak ada keluarga kerajaan yang dapat mempengaruhinya ?" tanya Bwee Hong.

"Tidak ada! Subo sendiri, yang masih sanak dekat, bibi dari sri baginda kaisar, sama sekali ti-dak pernah mencampuri pemerintahan. Putera mahkota yang tahu akan urusan pemerintahan dikirim ke garis depan pertempuran. Sedangkan putera-putera sri baginda yang lain masih kecil, sedangkan puteri-puterinya tentu tak banyak dapat berdaya. Memang sebenarnya ada seorang pange-ran lagi yang sudah dewasa, yaitu adik tiri putera mahkota. Akan tetapi dia jarang berada di istana. Tabiatnya sangat jahat dan nakal. Sejak kecil sri baginda sendiri tidak menyukainya. Bahkan sri baginda selalu dengan halus mengusahakan agar putera yang satu ini jangan berada di dalam istana."

"Eh, aku belum mendengar tentang hal ini!" kata Seng Kun heran.

"Bagaimanakah dia sebagai pangeran dianggap nakal dan tidak disukai oleh sri baginda yang menjadi ayahnya sendiri ?"

Entahlah, entah rahasia apa yang ada di balik kelahiran pangeran ini sebagai putera kaisar. Yang jelas, dia nakal sekali, sejak kecil tidak me-nurut dan selalu membawa kemauan sendiri. Ka-barnya sejak kecil dia suka mempelajari ilmu silat, dan melakukan hal - hal yang memalukan. Setelah besar dia bergaul dengan orang - orang jahat, dan kalau di istana, kerjanya hanya mengganggu selir-selir ayahnya dan mencuri benda - benda berharga dan pusaka - pusaka istana."

"Ihhh !" Bwee Hong berseru tak senang.

"Sri baginda kaisar tahu akan keadaan putera-nya yang lihai ilmu silatnya, maka sering diberi tugas membasmi penjahat atau memadamkan pem-berontakan. Malah ketika terjadi pembantaian para sasterawan yang menentang pembakaran ki-tab-kitab, karena takut kalau kalau para sastera-wan dilindungi oleh para pendekar, sri baginda juga mengutus puteranya ini untuk mengepalai pasukan dan melaksanakan pembantaian itu."

"Apakah dia lihai sekali ?" tanya Seng Kun, tertarik.

"Aku sendiri belum pernah bertemu dengannya, apa lagi bertanding. Dia putera kaisar, siapa be-rani menentangnya ? Akan tetapi kabar angin mengatakan bahwa dia memang lihai bukan main, mempelajari banyak macam ilmu silat, baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam."

"Kalau dia begitu lihai, apa dia tidak dapat mempengaruhi perdana menteri ?" tanya Seng Kun.

Yap Kiong Lee tersenyum pahit dan menarik napas panjang. "Perdana Menteri Li Su orangnya cerdik dan licik sekali. Pangeran itu kini memang berada di istana, akan tetapi dia dininabobokkan oleh Perdana Menteri Li Su, setiap hari berpesta pora, bahkan dengan bantuan perdana menteri, wanita manapun di istana, baik masih gadis mau-pun isteri pembesar lain, dapat saja diambilnya dan menjadi permainannya. Nah, bukankah keadaan-nya amat berbahaya di istana ? Seolah - olah di sana berkumpul binatang - binatang buas yang se-dang merajalela."

Seng Kun masih merasa penasaran. "Yap-twako, bukankah Menteri Kang dan para menteri lain yang jujur, yang tadinya dipecat, kini telah bekerja kem-bali, kecuali Menteri Ho ? Bukankah mereka itu merupakan sekumpulan menteri yang takkan ting-gal diam saja kalau Perdana Menteri Li Su bertin-dak sewenang - wenang di istana ?"

Kiong Lee menghela napas. "Agaknya engkau belum tahu akan perkembangan selanjutnya setelah para menteri yang jujur ditarik kembali. Keadaan di istana sudah berkembang sedemikian buruknya sehingga setelah para menteri yang jujur itu kem-bali, kekuasaan pemerintahan menjadi terpecah-belah. Mereka selalu bermusuhan, akan tetapi ka-rena fihak Perdana Menteri Li Su dan antek-antek-nya masih jerih terhadap wibawa sri baginda kaisar yang didukung oleh Jenderal Beng Tian sehingga mereka tidak berani bersikap sewenang-wenang. Akan tetapi, kini Panglima Beng Tian sendiri repot mengurus pemadaman pemberontakan di utara dan barat, sedangkan sri baginda juga pergi, maka tentu saja keadaan menjadi berobah sama sekali."

"Ah, begitukah ?" Bwee Hong mengeluh.

Ia tahu bahwa ayahnya sendiri, ayah kandungnya, biarpun masih terhitung paman dari sri baginda kaisar, namun kini ayahnya hanya menjadi seorang pendeta, kepala kuil yang tidak mempunyai keku-asaan, maka tentu saja tidak berani menentang perdana menteri. "Bagaimana baiknya sekarang, koko ?"

"Kalau keadaannya seperti itu, kita harus ber-hati - hati. Kita tetap ke kota raja, akan tetapi kita harus masuk pada malam hari. Kita melihat - lihat dulu suasana di sana. Yap - twako, terima kasih atas semua keteranganmu yang amat berharga ini. Dan kalau engkau hendak mencari ngo - sutemu itu, sebaiknya kalau engkau pergi ke bukit di mana kami saling berpisah. Kalau tidak ada, berarti dia sudah pergi membawa kawan-kawannya bergabung dengan pasukan besar Liu - bengcu."

Yap Kiong Lee menggeleng kepala "Suteku itu benar - benar gegabah sekali. Ini tentu akibat kebengalan siauw - sute. Ibu kandung siauw - sute adalah seorang wanita bangsawan istana, dia sen-diri masih berdarah keluarga kerajaan, masih sau-dara misan dengan sri baginda kaisar, akan tetapi sekarang dia malah bergabung dengan musuh ke-rajaan. Bukankah itu luar biasa sekali ?"

"Mengapa dunia begini kacau ?" Tiba - tiba A-hai yang sejak tadi termenung saja mendengar-kan, kini membuka mulut. "Orang - orang kaya saling memperebutkan harta, orang-orang berpang-kat saling memperebutkan kedudukan, orang-orang berilmu saling bersaing mengadu kepintaran se-hingga dunia menjadi tidak aman dan kacau! Alangkah bahagianya menjadi orang yang tidak memiliki apa - apa, tidak berpangkat apa - apa dan tidak punya ilmu apa - apa kalau begitu !"

Tiga orang pendekar itu termangu mendengar ucapan seorang yang dianggap sinting ini karena ucapan itu begitu tepat seperti ujung pedang me-nusuk jantung, membuat mereka tak mampu men-jawab karena memang seperti itulah keadaannya!

                                                                                 * * *

Kita tinggalkan dulu mereka yang saling ber-pisah, yaitu Kiong Lee pergi mencari sute - sutenya dan Seng Kun bersama Bwee Hong dan A-hai pergi menuju ke kota raja. Mari kita melihat kea-daan Liu Pang dan muridnya, H o Pek Lian.

Seperti telah kita ketahui, Liu Pang dengan pasukannya yang dibantu oleh banyak petani dan rakyat jelata, telah berhasil menduduki kota Lok-yang. Lia Pang tidak tinggal diam di kota itu, melainkan setelah memberi waktu cukup bagi pasukannya untuk beristirahat dan setiap hari mengadakan latihan - latihan untuk memperkuat barisannya, diapun menggerakkan pasukan itu ke utara. Pasukannya bergerak menyeberangi Sungai Huang-ho dan berkemah di lembah utara sungai besar itu, bermaksud untuk mulai menyerang memasuki Propinsi Shan - si.

Propinsi Shan - si merupakan propinsi yang lu-as dan jalan menuju ke kota raja yang berada di sebelah barat, yaitu di Propinsi Shen - si. Lok-yang merupakan ibu kota ke dua setelah kota raja Tiang-an. Sebenarnya, untuk menuju ke Tiang - an dari Lok - yang tidak perlu menyeberangi Sungai Huang-ho, akan tetapi ini merupakan siasat dari Liu Pang. Dia ingin menyerbu dari utara dengan jalan menggunakan Sungai Wei - ho yang menjadi cabang Sungai Huang-ho. Kebetulan Sungai Wei-ho mengalir di tepi kota Tiang-an. Sebagian pula dia kerahkan melalui darat sehingga kota raja akan dapat terkepung dari berbagai jurusan.

Untuk keperluan ini, dia sengaja memecah pasukannya yang jumlahnya mencapai belasan ribu itu menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok dipimpin orang - orang kepercayaannya, termasuk pula pemuda tampan yang baru saja menjadi pengawal pribadinya. Pemuda ini memimpin seribu orang perajurit pilihan yang kesemuanya diambil dari para pendekar silat. Tugas pasukan ini adalah mengawal dan membantu Liu Pang dalam gelanggang pertempuran. Di dalam pasukan ini terdapat pula Pek Lian.

Setelah membagi - bagi barisannya, Liu. Pang memberi mereka waktu untuk beristirahat dan me-nyusun kekuatan. Diapun ingin melakukan pe-nyelidikan terlebih dahulu dan untuk tugas ini, dia sendiri yang pergi bersama Pek Lian dan pengawal pribadinya yang baru. Karena pengawal baru ini selalu merahasiakan riwayat dan asal - usulnya, maka Liu Pang memberi dia julukan Bu Beng II an (Pahlawan Tanpa Nama) dan menyebutnya Bu Beng (Tanpa Nama) saja; Pemberian nama ini diterima dengan gembira oleh si pemuda tampan.

Berangkatlah mereka bertiga, Liu Pang, Pek Lian dan Bu Beng dengan penyamaran sebagai petani - petani biasa. Mereka segera melakukan perjalanan menuju ke kota Sian - cung yang letaknya di perbatasan antara Shan - si dan Shen - si, di lembah Sungai Huang-ho. Di sepanjang perjalanan, mereka melihat suasana yang menyedihkan. Kampung - kampung dan dusun - dusun sunyi dan rusak, ditinggalkan penghuninya karena perang. Kalau toh ada penghuni - penghuni kampung karena mereka tidak ada tempat lain untuk mengungsi, keadaan mereka amat menyedihkan. Diganggu oleh perampok - perampok, hasil sawah ladang merekapun kadang-kadang dihabiskan pasukan atau perampok - perampok. Tubuh mereka kurus kering dan banyak yang menderita busung lapar! Pasukan pemerintah daerah yang kalah perang dan mundur, melalui dusun - dusun ini dan mereka itu tiada ubahnya perampok - perampok liar, bahkan lebih ganas karena mereka itu agaknya hendak membalaskan kekalahan mereka kepada para petani dusun. Liu Pang adalah pemimpin para petani, pikir mereka, oleh karena itu, mereka melampias-kan dendam kepada para petani dusun.

Ketika malam tiba, mereka bertiga terpaksa bermalam di sebuah dusun yang hampir kosong-kosong. Rumah - rumah rusak ditinggalkan peng-huninya, dan kalau ada beberapa orang yang ma-sih tinggal di rumahnya, pintu - pintu rumah itu tak pernah dibuka. Liu Pang mengajak pengawal dan muridnya untuk mendiami sebuah ramah ko-song. Mereka membawa perbekalan dan setelah memasang beberapa batang lilin, mereka makan roti kering yang mereka bawa sebagai bekal. Un-tuk menghalau nyamuk dan dingin, mereka mem-buat api unggun.

Liu Pang dan Pek Lian sudah duduk untuk beristirahat. Mereka melihat Bu Beng Han berdiri termenung di ambang pintu. Pemuda itu meman-dang keluar, ke arah kegelapan dan nampak ter-mangu - mangu. Liu Pang berbisik kepada mu-ridnya.

"Nona Ho, kau carilah air di belakang dan bu-atlah minuman teh sekedar pengusir rasa haus. Aku ingin bercakap - cakap dengan Bu Beng. Nampaknya ada sesuatu yang dirisaukannya." Liu Pang lalu bangkit dan menghampiri Bu Beng Han. Pek Lian sendiri lalu keluar dari dalam pondok itu melalui pintu belakang untuk mencari air.

Dengan cerdik Liu Pang mengajaknya duduk di luar pondok, di atas akar-akar pohon yang me-nonjol di permukaan tanah. Mula - mula Liu Pang mengajaknya bicara tentang gerakan mereka, ten-tang dusun-dusun yang ditinggalkan para peng-huninya, tentang para pembesar daerah yang ber-sekongkol dengan pasukan asing. Semua itu dila-yani oleh Bu Beng dengan penuh semangat. Akan tetapi ketika Liu Pang membelokkan percakapan ke arah dirinya, pemuda itu terdiam.

"Bu Beng, aku melihat engkau sebagai seorang pendekar gagah perkasa, juga seorang patriot yang sejati. Di antara kita yang seperjuangan ini kira-nya sudah tidak ada rahasia lagi. Akan tetapi mengapa engkau tetap merahasiakan dirimu ? Bu-kan berarti aku tidak percaya kepadamu, akan te-tapi kalau engkau berterus terang dan aku menge-tahui asal - usulmu, betapa baiknya hal itu dan be-tapa leganya hatiku. Apa lagi kalau saja aku da-pat membantumu mengatasi kerisauan yang meng-ganggu hatimu, aku akan senang sekali."

Pemuda itu menjura dan menarik napas pan-jang. "Maafkan saya, bengcu. Akan tetapi, belum saatnya bagi saya untuk menceritakan keadaan keluarga saya. Terus terang saja, saya datang dari keluarga yang tidak berbahagia sama sekali, biar-pun ayah dan ibu saya sangat mencinta saya. Me-reka mendidik ilmu silat secara amat keras kepada saya sehingga saya hampir-hampir tidak ada wak-tu untuk bermain - main dan beristirahat. Kadang-kadang saya merasa bosan sendiri dan ingin lari saja. Akan tetapi, kakak saya selalu menasihati saya dengan lemah - lembut dan penuh kasih sa-yang. Bagaimanapun juga, setelah dewasa, hati saya memberontak dan larilah saya meninggalkan mereka."

Liu - bengcu mengangguk - angguk. "Ah, begi-tukah ? Akan tetapi, kepandaian silatmu demikian tinggi, tentu engkau datang dari keluarga yang luar biasa. Tingkat kepandaian kakak dan orang tuamu tentu tinggi bukan main !"

Bu Beng Han tersenyum pahit. "Bengcu sung-guh terlalu memuji. Kepandaian kami sekeluarga tidak sedemikian hebat. Memang, apa bila diban-dingkan dengan kakak serta ayah, kepandaian saya mungkin hanya separahnya saja. Soalnya, sebagian besar ilmu silat yang saya pelajari, kakak sayalah yang melatih dan membimbingnya."

"Ahh ?" Liu Pang berseru kagum. "Kalau begitu, tentu kakakmu itu lihai sekali!"

"Kakakku itu " Tiba - tiba Bu Beng menghentikan kata-katanya dan berbisik, " saya mendengar gerakan orang dari jauh , harap bengcu bersembunyi dan beri tahu nona Ho 1"

Liu Pang juga sudah mendengarnya dan sekali bergerak dia sudah melompat ke dalam pondok dan memadamkan lilin. Akan tetapi Pek Lian tidak nampak, agaknya belum kembali mencari air. Ke-tika dia mendengar gerakan orang-orang di depan pondok, cepat dia mengintai dan terkejutlah pen-dekar ini melihat bahwa Bu Beng kini telah berdiri berhadapan dengan dua orang yang berpakaian perwira. Liu Pang mengenal mereka. Pemuda Tai-bong - pai yang amat lihai dan pemimpin pasukan asing yang bertubuh raksasa dan berambut putih itu. Dua orang lawan yang lihai bukan main.

"Engkau tentu mata - mata, lebih baik menye-rah !" bentak pemuda Tai - bong - pai itu.

"Boleh kaucoba menangkapku !" Bu Beng meng-ejek. Kwa Sun Tek marah sekali dan diapun sudah menubruk dengan kecepatan kilat.

"Wuuuttt !" Dengan langkah ringan Bu Beng Han mengelak dan tubrukan itu hanya me-ngenai angin kosong belaka. Marahlah Kwa Sun Tek. Dia merasa dipermainkan dan kini dia me-nyerang lagi, bukan untuk menangkap melainkan untuk memukul. Padahal, pukulan pemuda Tai-bong - pai ini amat dahsyat dan jarang ada orang mampu bertahan kalau terkena pukulannya yang selain amat kuat juga mengandung hawa beracun itu.

Melihat pukulan yang demikian ampuhnya, Bu Beng Han mengerahkan tenaganya menangkis.

"Desss !" Dua tenaga raksasa bertemu dan akibatnya Bu Beng Han terjengkang dan untung dia memiliki kegesitan sehingga dia mampu ber-jungkir balik sebelum tubuhnya terbanting. Akan tetapi Kwa Sun Tek juga terdorong mundur tiga langkah. Tahulah pemuda Tai - bong - pai itu bahwa orang yang disangkanya mata - mata ini ternyata memiliki kepandaian tinggi. Dia mengerti bahwa anak buah pasukan Liu Pang memang ba-nyak yang lihai.

"Bagus, engkau jelas mata - mata !" bentaknya dan kini dia menyerang dengan sungguh - sungguh, menggunakan pukulan mujijat yaitu Ilmu Pukulan Penghisap Darah! Bu Beng Han melawan dengan pengerahan tenaga dan kepandaiannya, akan tetapi setelah lewat tigapuluh jurus, dia merasa lengan-nya sakit - sakit dan ternyata ada sedikit butiran-butiran darah keluar dari kulit kedua lengannya.

"Ih, ilmu setan!" teriaknya dan diapun cepat mempergunakan kegesitannya menghindarkan ber-adunya lengannya dengan lengan lawan. Kwa Sun Tek tertawa bergelak dan mendesak terus.

"Hemm. buang - buang waktu saja !" kata Ma-lisang melihat betapa Kwa Sun Tek seperti hendak mempermainkan lawan dan memamerkan kepandaian, kemudian raksasa inipun menerjang maju membantu Kwa Sun Tek! Tentu saja Bu Beng Han menjadi semakin repot. Menghadapi pemuda Tai-bong-pai itu seorang diri saja dia sudah ke-walahan, apa lagi kini dikeroyok.

Melihat ini Liu Pang meloncat keluar dan me-nyerang Malisang dengan pukulan-pukulan maut. Raksasa ini terkejut dan menangkis dan merekapun sudah berkelahi dengan mati - matian. Keadaan mereka payah. Bu Beng Han terdesak hebat dan Liu Pang ternyata tidak mampu mendesak lawan-nya yang bertenaga gajah itu. Dia telak dapat mempergunakan pedangnya karena dalam penya-maran sebagai petani, dia harus meninggalkan pedang. Padahal, Liu Pang adalah seorang pende-kar pedang yang kelihaiannya menurun separuh lebih tanpa pedang.

"Kita harus lari !" teriak Liu Pang kepada pem-bantunya.

Akan tetapi pada saat itu Malisang berseru, "Ha-ha, engkau adalah Liu Pang, si pemberontak ! Ha - ha - ha, Kwa-taihiap, kita untung besar, dapat kakap tanpa pengawal di sini !"

Mendengar ini, Kwa Sun Tek memandang cer-mat dan diapun terkejut, juga girang ketika me-ngenal petani itu. "Benar, tahan dia Malisang, jangan sampai lolos !"

"Bu Beng, lari melalui pintu belakang!" teriak pula Liu Pang dan diapun sudah melompat ke belakang, memasuki rumah kosong itu. Bu Beng mengelak dari sebuah pukulan maut, juga melon-cat ke dalam rumah. Akan tetapi dua orang lawan mereka juga meloncat mengejar dan demikian ce-patnya gerakan Kwa Sun Tek sehingga sebelum Bu Beng Han sempat mengelak, punggungnya telah kena tamparan tangan Kwa Sun Tek.

"Plakkk ! !" Tubuh pemuda itu terkapar ke tengah ruangan, hampir menabrak tiang rumah itu.

LIU-TWAKO, cepat lari!" Tiba-tiba dia berteriak. Bagi para anggauta pasukan Liu Pang, pemimpin ini hanya memiliki dua sebutan, yaitu bengcu (ketua / pemimpin) atau twako (ka-kak). Setelah berteriak demikian, biarpun dia ter-luka dalam, Bu Beng Han mengumpulkan seluruh tenaganya dan dia meloncat menghantam tiang rumah itu.

"Braakkkkkk !" Tiang patah dan atap rumah itu runtuh, menimbulkan suara hiruk-pikuk.

Namun, perbuatan Bu Beng Han yang nekat itu ternyata berhasil. Karena takut tertimpa atap yang ambruk, tentu saja Kwa Sun Tek dan Mali-sang berloncatan pergi menyelamatkan diri dan kesempatan ini dipergunakan oleh Liu Pang dan Bu Beng Han untuk melarikan diri ke dalam ke-gelapan malam.

Tentu saja Kwa Sun Tek dan Malisang tidak mau tinggal diam dan mereka me-lakukan pengejaran sambil mengerahkan anak buahnya. Akan tetapi dua orang pendekar itu su-dah menghilang ke dalam sebuah hutan yang gelap di luar dusun itu. Melakukan pengejaran terhadap orang-orang yang memiliki ilmu silat selihai Liu-bengcu dan pemuda tampan itu berarti mengun-dang bahaya maut kalau hal itu dilakukan di dalam hutan yang amat gelap, maka terpaksa Kwa Sun Tek hanya melakukan pencarian dengan hati-hati nekali, tidak tergesa - gesa sehingga dia dan ka-wan - kawannya tertinggal jauh dan kehilangan jejak buruannya.

Pada keesokan harinya, Liu Pang sudah keluar dari dalam hutan itu, menggandeng lengan Bu Beng Han yang menderita luka cukup parah aki-bat pukulan yang dilontarkan oleh tokoh Tai-bong- pai itu.

"Gila, dia memiliki pukulan - pukulan iblis !" Bu Beng Han mengomel.

"Tentu saja, dia adalah seorang tokoh Tai-bong - pai. Untung engkau masih dapat bertahan terhadap pukulan mautnya, Bu Beng."

"Liu - twako, di manakah nona Ho ?" Bu Beng Han bertanya dengan khawatir.

"Entahlah. Malam tadi ia pergi mencari air. Akan tetapi ia cukup cerdik dan berpengalaman, tentu ia dapat menjauhkan diri dari pasukan mu-suh itu. Nanti saja kita mencarinya. Sekarang yang terpenting kita harus dapat menyelamatkan diri karena engkau terluka. Ssstt, ada pasukan datang !" Liu Pang menarik lengan pemuda itu dan mereka menyusup ke dalam semak - semak di balik pohon besar, bersembunji sambil mengintai.

Baru lega dan giranglah hati kedua orang ini ketika melihat bahwa yang datang bukanlah pasu-kan musuh, melainkan sepasukan orang gagah yang dipimpin oleh seorang pria gagah perkasa yang bersenjatakan sepasang pedang. Liu Pang masih berhati - hati karena belum mengenal mereka, akan tetapi begitu melihat pria bersenjata sepasang pedang itu, Bu Beng Han segera keluar dari tempat persembunyiannya dengan wajah berseri- "Ngo - suheng !" serunya girang.

Pria berpedang sepasang itu menoleh dan ter-kejut, akan tetapi wajahnya berseri dan diapun meloncat mendekati.

"Kim - sute ! Kau di sini ?" Alisnya berkerut ketika dia melihat wajah sutenya. "Eh, Kim - sute, engkau kenapakah ? Terluka ?"

Bu Beng Han yang ternyata adalah Yap Kim putera Yap - lojin ketua Thian - kiam - pang itu mengangguk lemah. "Aku terluka oleh pukulan iblis dari seorang tokoh Tai - bong - pai."

Sementara itu, Liu Pang juga keluar dari tempat sembunyinya. Yap Kim segera memperkenalkan ngo - suhengnya kepada pemimpin itu. "Liu-twako, ini adalah suheng saya yang ke lima bernama Kwan Hok. Ngo - suheng, inilah Liu - twako, pemimpin para pendekar yang terkenal itu."

Tentu saja Kwan Hok girang bukan main, juga bangga dapat bertemu dan berkenalan dengan orang yang selama ini amat dikaguminya sebagai seorang gagak perkasa yang berjiwa pahlawan itu,

"Hemm, apakah sekarang engkau masih saja hendak menyembunyikan keadaanmu dariku ?" tanya Liu Pang kepada Yap Kim setelah dia mem-balas penghormatan Kwan Hok dan kawan - kawan-nya.

Yap Kim menghela napas panjang. Kini meli-hat betapa ngo - suhengnya malah menjadi pemim-pin sepasukan pendekar, dia merasa tidak perlu lagi menyembunyikan keadaan dirinya. "Terus te-rang saja, Liu - twako, ayahku adalah ketua Thian-kiam - pang."

"Ah, kiranya putera Yap - lojin yang lihai itu !" Liu Pang berseru girang sekali. Kini orang - orang Thian - kiam - pang membantu perjuangannya, sungguh membesarkan hati sekali.

Apa lagi ketika mendengar pengakuan Kwan Hok bahwa para pendekar yang dipimpin murid Thian - kiam - pang ini memang sedang mencarinya untuk menggabungkan diri, hati Liu - bengcu men-jadi girang sekali. Akan tetapi, pada waktu itu, Yap Kim terluka cukup parah, maka terpaksa me-reka lalu pergi ke tebing - tebing Sungai Huang-ho yang terjal untuk menyembunyikan diri. Sampai malam tiba, fihak musuh yang melakukan pengejaran belum nampak dan mereka mengaso di te-bing sungai. Yap Kim mengobati dirinya dengan bersamadhi, menghimpun hawa murni dan suheng-nya bercakap - cakap dengan Liu Pang. Ternyata banyak hal penting dapat diceritakan oleh Kwan Hok kepada pemimpin ini, mengenai kedudukan pasukan musuh.

"Di dalam kota Sian - cung itu terdapat pasukan pilihan dari kota raja yang dipimpin oleh Jenderal Lai. Akan tetapi, antara pasukan Jenderal Lai dari kota raja dan pasukan - pasukan kepala daerah terdapat rasa tidak akur dan saling mencurigai. Dan hendaknya Liu - bengcu ketahui bahwa di dalam pasukan kepala daerah itu terdapat dua orang per-wiranya yang memiliki kepandaian seperti iblis." Demikian antara lain Kwan Hok bercerita.

"Tidak salah ! Kami malah sudah bertemu dan bentrok dengan dua orang itu. Yang melukai su-temu justeru adalah seorang di antara mereka, ya-itu tokoh Tai - bong - pai, sedangkan yang seorang lagi bertubuh raksasa. Aku merasa curiga dan menduga bahwa dia itu tentulah orang asing yang bersekongkol dengan pasukan daerah. Dua orang itulah bersama pasukannya yang mengejar-ngejar kami berdua, padahal muridku sendiri masih belum ketahuan ke mana perginya "

Tiba - tiba terdengar sorak sorai dan muncullah Kwa Sun Tek dan Malisang, diikuti oleh pasukan-nya yang terdiri dari duapuluh orang pilihan yang menjadi anak buah Malisang. Ternyata mereka ini telah mengurung tempat itu dan kini melakukan penyerbuan serentak.

Tentu saja Kwan Hok dan kawan - kawannya segera melakukan perlawanan. Liu Pang dan Kwan Hok segera bergerak maju mengeroyok Malisang yang lihai itu, bahkan Yap Kim biarpun sudah terluka, masih membantu suhengnya untuk menge-royok kakek raksasa itu. Biarpun dikeroyok oleh tiga orang, Malisang mengamuk dan sepak terjang-nya memang menggiriskan. Pukulan - pukulannya seperti halilintar menyambar, dan lebih berbahaya lagi adalah cengkeraman kedua tangannya yang besar dengan lengan yang panjang itu. Sekali ter-kena cengkeraman itu, jangan harap dapat terlepas!

Sementara itu, Kwa Sun Tek mengamuk dan kasihanlah para pendekar yang mengeroyoknya, menjadi korban dari pukulan iblisnya. Banyak pendekar terkapar dengan kulit tubuh berbintik-bintik darahnya sendiri, dan bau hio menyengat hidung. Bau ini keluar dari keringat Kwa Sun Tek dan dalam keadaan seperti itu, tokoh Tai - bong-pai ini berada dalam puncak keganasannya. Agak-nya, para pendekar itu tentu akan tewas semua di tangan Kwa Sun Tek kalau saja pada saat itu tidak muncul sesosok bayangan yang meluncur dengan cepat. Begitu tiba, dua orang anak buah Kwa Sun Tek terjungkal dan kini bayangan itu menerjang Kwa Sun Tek, sedangkan bayangan kedua yang bertubuh ramping juga sudah menerjang, Mali-sang, membantu Liu Pang dan kawan - kawannya.

Bersambung

29                                                                                                                    31