Selasa, 28 Mei 2013

DARAH PENDEKAR 29

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Bab 29

"Biarkan mereka mampus sendiri kelaparan di sana!" kata pemimpin mereka dengan marah. Pe-mimpin mereka itu adalah seorang laki - laki ber-usia tiga puluh tahun, berwajah tampan namun dingin dan matanya menyeramkan, berpakaian ser-ba putih dan rambutnya riap - riapan, tangannya memegang senjatanya yang luar biasa, yaitu sebu-ah cangkul panjang melengkung, seperti cangkul para penggali kuburan.

Dia ini bukan lain adalah Kwa Sun Tek yang berjuluk Song - bun - kwi (Setan Berkabung), putera dari ketua Tai - bong - pai itu. Seperti telah kita ketahui, Kwa Sun Tek ini telah mengabdikan dirinya kepada pemberontak Chu Siang Yu untuk mengadakan persekutuan dengan para penguasa di daerah timur dan selatan, untuk mengacau pemerintah dan membagi-bagi kekuatan pemerintah sehingga pergerakan Chu Siang Yu dari barat dapat dilakukan lebih lancar lagi. Dan se-perti kita ketahui, usaha Kwa Sun Tek itu berhasil baik. Dia dapat bersekongkol dengan para pengu-asa daerah dan para pasukan asing, lalu mengguna-kan siasat mengadu domba antara pasukan peme-rintah yang setia kepada kaisar dengan pasukan-pasukan Liu Pang, tentu saja dengan tujuan agar kekuatan pemerintah berkurang dan juga untuk menghantam Liu Pang yang dianggap sebagai saingan.

Melihat betapa pasukan pemerintah daerah ti-dak mampu menyergap ke puncak bukit, bahkan ada belasan orang luka - luka atau tewas tertimpa batu dan terkena anak panah, Kwa Sun Tek men-jadi marah sekali. Dia menasihatkan komandan pasukan untuk memperketat kepungan dan tidak membiarkan para pendekar di puncak itu lolos. Setiap hari dia sendiri mencoba penjagaan musuh dengan memasuki lorong dan setiap kali ada batu-batu dan anak panah turun, dia dengan mudah dapat menyelamatkan diri.

Akan tetapi pada hari ke tiga, ketika Kwa Sun Tek berjalan memasuki lorong, hanya ada bebe-rapa buah batu kecil dan anak panah yang luncurannya lemah menyerangnya. Melihat ini, giranglah hatinya.

"Mereka telah lemah kelaparan ! Mari kita me-nyerbu ke atas!" teriaknya dan benar saja, ketika mereka menyerbu dan memasuki lorong sempit itu, tidak ada serangan terlalu hebat, bahkan lalu tidak ada serangan sama sekali dari kedua tebing. Akan tetapi, lorong itu terlalu sempit sehingga membu-tuhkan banyak waktu bagi semua perajurit untuk dapat lewat.

Sementara itu, para pendekar telah berkumpul di depan gua yang batunya telah digeser dan di mana telah tersedia tumpukan kayu yang banyak sekali. Mereka kini berebut, memperebutkan tugas untuk tinggal sendirian di luar gua! Melihat ini, Kwan Hok lalu melangkah maju.

"Kalian semua masuklah ke gua dan aku sendiri yang akan tinggal di sini!" Ketika semua orang mengajukan keberat-an, pendekar muda ini membentak, "Ini sebuah perintah ! Aku yang akan berjaga di sini membakar kayu ini dan kalian harus cepat masuk. Tanggalkan baju atas kalian!"

Para pendekar itu menanggalkan baju atas mereka dan memandang kepada Kwan Hok dengan muka pucat, bahkan ada yang matanya basah kare-na melihat betapa pemimpin mereka hendak me-ngorbankan diri demi keselamatan mereka. Seng Kun dan Bwee Hong memandang dengan terharu. Betapa gagahnya murid Yap-lojin ini! Begitu beraninya mengorbankan diri demi teman-teman-nya, demi perjuangan membela nusa bangsa! Terlepas dari baik buruknya alasan perjuangan, namun sikap ini saja, yang sudah melenyapkan ke-pentingan diri pribadi, sungguh amat mengagum-kan, gagah perkasa dan patriotik !

"Tidak ! Tidak boleh ini dilakukan !" Tiba - tiba A-hai maju dan berkata lantang. Seng Kun dan Bwee Hong memandang terbelalak. Mereka sudah tahu bahwa pemuda ini aneh, dan di balik kegilaannya tersembunyi suatu watak yang amat luar biasa dan mereka tidak dapat menduga lebih dahulu apa yang akan dikatakan atau dilakukan oleh pemuda ini.

"Apa maksudmu, saudara A-hai ?" Seng Kun bertanya.

"Tidak pantas kalau seorang di antara kalian harus tinggal di luar dan mengorbankan diri! Tidak ada seorangpun di antara kalian yang pantas untuk mengorbankan diri dan tinggal di luar untuk mem-bakar tumpukan kayu ini!"

"Eh ?" Kwan Hok terbelalak heran.

"Akan tetapi, siasat ini harus dilakukan dan sekarang pasukan pemerintah telah mulai menyerbu naik. Harus ada seorang yang melakukannya dan bagaimana sau-dara mengatakan bahwa tidak ada yang pantas melakukannya ?"

"Satu - satunya orang yang patut melakukan tu-gas itu hanyalah aku!"

"A-hai !" Bwee Hong berseru.

"Saudara A-hai, engkau tidak boleh "

Seng Kun juga berkata setengah berteriak.

A-hai tersenyum, bukan senyum tolol lagi sekali ini. Dia mengangkat dadanya yang memang bidang dan kokoh itu.

"Mengapa tidak boleh ? Bahaya maut tidak hanya mengancam kelompok pejuang ini, melainkan kalian juga, terutama sekali nona Bwee Hong! Dan kalian semua masih belum tentu selamat, kalau gua itu ketahuan kalian akan membutuhkan semua tenaga untuk melawan dan menyelamatkan diri. Tenaga setiap orang amatlah penting, kecuali tenagaku. Aku tidak bisa berkelahi dan bahkan hanya akan mengganggu kalian saja yang harus melindungiku. Nah, biarlah aku memanfaatkan tenaga tak berharga ini untuk membakar kayu dan memberi keterangan bahwa para pejuang telah membakar diri karena tidak mau tertawan. Dan barangkali siapa tahu, belum tentu mereka membunuh orang seperti aku !"

Seng Kun memandang terbelalak penuh kagum. Dia tahu bahwa di balik penyakit yang membuat A-hai kadang - kadang menjadi linglung dan be-ringas itu terdapat watak pendekar yang amat he-bat, yang tidak berkejap mata sedikitpun dalam menghadapi maut untuk membela dan menyelamatkan orang lain

"A-hai, jangan !" Bwee Hong berkata lagi. Seng Kun merangkul A-hai dan menepuk-nepuk pundaknya.

"Tapi dia benar ! Dia benar sekali dan kita ha-rus menurut sarannya itu!" katanya dengan ter-haru.
Seorang pendekar datang berlarian, mengabar-kan bahwa kini hampir semua perajurit musuh sudah melalui lorong sempit.

"Masuklah kalian semua. Nona Bwee Hong, masuklah cepat!" kata A-hai dan sinar matanya tajam berseri ketika dia menatap wajah Bwee Hong. Nona itu membalas pandang matanya dan tak terasa lagi matanya menjadi panas. Karena tahu bahwa air matanya hampir runtuh, Bwee Hong mengeluh lalu membalik dan melompat masuk ke dalam gua, diikuti oleh para pendekar yang sudah menang-galkan baju atas mereka dan menumpuk serta melemparkan baju - baju itu di atas tumpukan kayu.

Barulah setelah semua orang masuk, batu besar itu digeser dari dalam dan dibantu dari luar oleh dorongan kedua tangan A-hai! Tidak ada seo-rangpun yang berani menyangka bahwa tanpa bantuan orang lainpun, kalau A-hai dapat meng-gunakan sinkangnya, batu itu akan dapat digeser-nya sendirian dengan amat mudah. Kinipun, dalam keadaan "penuh semangat", sebagian tenaga sin-kangnya timbul dan tanpa banyak kesukaran batu besar itu kini telah menutupi lubang gua yang dari luar hanya kecil saja itu. A-hai lalu menggunakan api membakar kayu yang bertumpuk di depan dan di atas gua. Karena tumpukan kayu itu kering se-kali, sebentar saja api berkobar besar dan A-hai terpaksa harus menjauhkan diri karena tidak tahan oleh panasnya api.

Pasukan yang menyerbu ke puncak bukit itu terkejut melihat api besar bernyala di puncak. Kwa Sun Tek cepat berlari ke depan dan ketika melewati pondok-pondok darurat, dia menendangi semua pintu hanya untuk melihat bahwa semua pondok itu kosong! Dia merasa penasaran dan bersama anak buah pasukan dia lari ke atas. Di sana, di puncak itu, agak menurun sedikit di be-lakang puncak, mereka melihat kobaran api yang bernyala besar dan agak jauh dari situ nampak se-orang laki - laki berdiri bengong memandang ke arah api seperti orang melamun.

Tentu saja Kwa Sun Tek menjadi curiga dan cepat dia meloncat ke arah A-hai yang berdiri dengan bengong, tidak dibuat - buat karena dia seperti melihat hal - hal aneh di dalam api yang bernyala-nyala itu. Nyala api seolah - olah mem-bentuk wajah-wajah yang sekelebatan saja dan mengingatkan dia akan wajah seorang yang amat dekat dengan hatinya. Wajah Bwee Hong? Atau Pek Lian? Atau wajah ibunya, adiknya ataukah kakaknya? Dia tidak tahu dengan pasti, hanya merasa yakin bahwa yang diingatnya dan dilihatnya sekelebatan dalam api itu adalah wajah seo-rang wanita.

Ketika Kwa Sun Tek melakukan serangan de-ngan pukulan dahsyat ke arah A-hai, pemuda ini sama sekali tidak sadar, juga tidak mengelak atau-pun menangkis. Melihat sikap orang yang diserang-nya itu jelas tidak memiliki kepandaian silat, Kwa Sun Tek terkejut dan heran. Bukankah kabarnya yang berkumpul di puncak bukit ini adalah para pendekar ? Karena berita itulah maka dia diper-bantukan untuk menghancurkan gerombolan pen-dekar itu. Dan orang ini sama sekali tidak pandai silat. Diapun merobah pukulannya, diganti dengan cengkeraman dan ketika tangannya mencengkeram lengan A-hai, juga tidak ada sedikitpun tenaga perlawanan maka Kwa Sun Tek mengendurkan cengkeramannya. Biarpun sudah dikendurkan, tetap saja A-hai berteriak.

"Aduhhh !" Lalu dia memandang kepada orang yang memegangi lengannya itu, juga melihat datangnya banyak perajurit. "Hei, apa salahku ? Kenapa aku ditangkap ?"

"Hayo katakan, siapa engkau ?" Kwa Sun Tek membentak.

"Jangan bohong atau kubunuh kau!" Dia merasa curiga sekali melihat sikap ketolol-tololan dari pemuda itu.

"Aku ? Aku A-hai, tukang nyalakan api," jawab A-hai seenaknya, sedikitpun tidak bermak-sud membohong.

"Jawab yang betul!" bentak seorang anggauta Tai - bong - pai sambil menampar.

"Plakk !" Pipi A-hai kena tampar keras sekali, sampai pemuda itu merasa pening dan pipinya merah membengkak.

"Hei, kenapa kau pukul - pukul anak orang tan-pa dosa ? Sudah kujawab benar bahwa aku tukang nyalakan api! Apakah kau tidak melihat aku se-dang menyalakan api sekarang ? Pegang saja sen-diri dengan tanganmu, api atau bukan yang kunya-lakan itu !"

"Tolol! Apa itu tukang nyalakan api ? Tukang masak ?" bentak Kwa Sun Tek yang mencegah anak buahnya untuk memukul lagi.

"Tukang masak ? Ya, ya, aku tukang nyalakan api dan tukang masak, masak daging orang!" A-hai menjawab sambil tersenyum - senyum, lupa lagi akan tamparan tadi karena dia teringat bahwa dia harus mengatakan bahwa para pendekar telah membakar diri. Bukankah itu sama saja dengan memasak daging orang ?

Tentu saja Kwa Sun Tek semakin heran dan juga marah.

"Tolol, bicara yang betul! Tukang masak daging orang bagaimana yang kaumaksud-kan ? Hayo katakan, di mana adanya para pende-kar ?"
A-hai menunjuk ke arah api yang berkobar kobar. "Mereka telah membakar diri, semua! Me-reka tidak sudi menyerah dan mereka membunuh diri dengan membakar dirinya." Kata - kata ini sudah dihafalkan sejak tadi oleh A-hai.

Tentu saja Kwa Sun Tek tidak mau percaya.

"Cari di seluruh puncak !" perintahnya dan dia sendiripun ikut mencari sambil terus memegangi lengan A-hai. Akan tetapi, dicari sampai ke ma-napun tidak nampak bayangan seorangpun pende-kar. Tak mungkin mereka dapat lolos. Bukit itu te-lah dikepung. Benarkah cerita si tolol ini? Kwa Sun Tek lalu menyuruh pasukan membongkar api yang bernyala - nyala itu. Tidak mudah melaksanakan ini karena api sedang berkobar amat besarnya me-makan kayu yang bertumpuk tumpuk. Dan di antara timbunan abu dan kayu yang menjadi arang, mereka menemukan pakaian-pakaian yang terbakar. Maka mereka mulai percaya bahwa para pendekar telah membunuh diri, memilih bakar diri dari pa-da menyerah.

"Kita bakar juga orang ini!" kata seorang ko-mandan sambil menyeret A-hai. Akan tetapi Kwa Sun Tek melarangnya. Kwa Sun Tek bukan orang bodoh. Dia tidak menemukan bekas abu tulang manusia di antara puing itu. Hanya si tolol inilah satu - satunya orang yang tinggal, dan dia yakin bahwa si tolol ini tentu merupakan satu - satunya orang pula yang mengetahui ke mana perginya semua pendekar itu dan bagaimana caranya dapat lolos. Akan tetapi, Kwa Sun Tek juga bukan orang bodoh dan dia dapat melihat benar-benar bahwa pemuda itu berada dalam keadaan tidak wajar, mengalami guncangan jiwa yang hebat dan keto-lolannya itu bukanlah pura-pura atau dibuat-buat. Maka, tidak ada lain jalan baginya kecuali membi-arkan A-hai ditawan oleh pasukan dan dibawa ke kota di daerah itu di sebelah utara Sungai Ku-ning.


                                                                          * *

Setelah para pendekar mengetahui bahwa pa-sukan telah meninggalkan bukit itu, mereka keluar dengan hati - hati dan pertama - tama yang keluar adalah Seng Kun dan Bwee Hong. Kakak beradik ini keluar dengan jantung berdebar penuh kege-lisahan dan kekhawatiran. Mereka membayangkan akan melihat mayat A-hai terkapar di situ, dibu-nuh oleh pasukan pemerintah. Akan tetapi, tak seorangpun mayat mereka temukan di sekitar pu-ing - puing bekas yang dibakar. Mereka terus men-cari-cari akan tetapi tidak dapat menemukan jejak A-hai. Timbul harapan baru di dalam hati kakak beradik ini. Wajah mereka tidak sepucat tadi, bahkan Bwee Hong mulai berseri.

"TENTU dia ditawan," kata Seng Kun.

"Benar, mari kita kejar pasukan itu, koko. Kita harus dapat menolong dan membebaskan A-hai," kata Bwee Hong. Kakaknya mengangguk dan mereka berdua segera berpamit dari pasukan para pendekar itu untuk pergi menyusul pasukan dan menyelamatkan A-hai.

"Kami merasa menyesal sekali bahwa demi un-tuk menyelamatkan kami, sahabatmu terpaksa ha-rus menjadi korban dan ditawan," kata Kwan Hok. "Bagi kami, saudara A-hai adalah seorang pahla-wan dan sungguh kecewa sekali hati kami bahwa ji-wi tidak dapat terus menemani kami untuk ber-juang bersama."

"Kami mempunyai urusan sendiri, saudara Kwa. Dan ke mana sekarang pasukanmu ini akan pergi?"

"Kami hendak menggabungkan diri dengan pa-sukan Liu-bengcu yang kabarnya telah berhasil menduduki Lok - yang."

Merekapun berpisah. Seng Kun dan Bwee Hong menggunakan ilmu berlari cepat, mengejar pasukan
yang jejaknya mudah diikuti. Menjelang senja, me-reka dapat menyusul pasukan itu dan legalah hati mereka ketika mereka melihat A-hai dalam kea-daan selamat dan sehat benar saja menjadi tawanan pasukan itu. Pasukan memasuki pintu gerbang ko-ta dan dibawa masuk ke dalam benteng tanpa ka-kak beradik ini mampu berbuat sesuatu. Mereka tidak berani nekat menyerbu karena hal itu selain membahayakan diri mereka, juga membahayakan keselamatan A-hai sendiri. Mereka hendak me-nyusup ke dalam kota, melakukan penyelidikan dan berusaha merampas kembali A-hai dari benteng.

Ketika mereka tiba di pintu gerbang, muncul sepasukan perajurit berkuda yang mengiringkan seorang perwira tinggi yang pakaiannya gemerlapan mewah. Itulah Lai - goanswe, jenderal pembantu Jenderal Beng Tian. Seperti diketahui, jenderal ini bertugas di daerah timur dan sudah beberapa kali dia mengalami kegagalan dalam menghadapi ge-rakan Liu Pang dan pasukannya.

"Itulah orang yang kita cari!" Seng Kun ber-bisik kepada adiknya. "Mari kita menemuinya !"

Seng Kun dan Bwee Hong lalu meloncat ke depan, menghadang pasukan itu dan Seng Kun mengangkat tangannya ke atas sambil berseni, "Ka-mi mohon bicara dengan Lai -goanswe "!

Pada waktu itu, negara sedang kacau - balau, pertempuran terjadi di mana - mana, maka tentu saja perbuatan Seng Kun ini menimbulkan kecuri-gaan. Juga Lai - goanswe yang maklum akan banyaknya mata - mata pihak pemberontak, me-ngerutkan alisnya dan memerintahkan para penga-walnya untuk menangkap pemuda dan dara yang berani menghadang perjalanannya itu.

Belasan orang pengawal lalu mengepung dan hendak menangkap Seng Kun dan Bwee Hong de-ngan kekerasan. Akan tetapi, dua orang kakak ber-adik ini tentu saja tidak sudi membiarkan diri ditangkap. Kaki tangan mereka bergerak dan be-lasan orang pengawal itu terpelanting ke kanan kiri. Diam - diam Jenderal Lai terkejut dan makin yakinlah dia bahwa tentu dua orang ini merupakan pendekar - pendekar yang memberontak pula.

"Siapkan pasukan panah!" perintahnya dan sepasukan yang memegang busur telah datang dan siap untuk menyerang dua orang kakak beradik itu. Melihat ini, Seng Kun merasa khawatir kalau-kalau perkelahian menjadi semakin berlarut. Dia tidak takut, akan tetapi dia tahu bahwa bukan inilah caranya untuk mendekati jenderal itu.

"Tahan dulu !" bentaknya sambil mengerahkan khikangnya sehingga suaranya terdengar amat lan-tang berwibawa.

"Harap Lai - goanswe tidak salah menilai orang! Ketahuilah bahwa saya adalah utusan pribadi dari sri baginda kaisar. Inilah buk-tinya!"

Dan Seng Kun cepat mengeluarkan sehelai bendera yang ada tanda kebesaran kaisar. Itulah sebuah leng-ki (bendera utusan kaisar) yang dikenal baik oleh Jenderal Lai. Dia menjadi ragu-ragu, akan tetapi cepat memerintahkan pasukan panah mundur dan memberi perintah kepada para pengawalnya untuk menggiring dua orang muda itu ke markas yang berada di dalam kota.

Legalah hati Seng Kun dan dia bersama adik-nya berjalan di antara pasukan itu, kembali ke dalam kota karena Jenderal Lai agaknya akan me-meriksa dan bicara dengan mereka. Lai - goanswe sendiri tetap naik kuda dan alisnya berkerut. Se-lama beberapa bulan ini, Jenderal Lai mengalami kegagalan - kegagalan yang membuatnya merasa amat penasaran, juga malu.

Ketika rombongan ini tiba di pintu gerbang ben-teng yang terjaga ketat, muncullah seorang perwira muda yang gagah. Dia ini Kwa Sun Tek yang telah berganti pakaian sebagai perwira, karena memang putera ketua Tai-bong-pai yang banyak berjasa ini bersama hampir limapuluh orang anak buahnya telah diangkat menjadi perwira dan pasukan isti-mewa oleh gubernur dan diperbantukan dalam benteng itu. Hal ini adalah siasat sang gubernur agar pemerintah pusat tidak tahu akan persekong-kolannya dengan berbagai pihak untuk memper-kuat kedudukan.

Ketika Kwa Sun Tek melihat Seng Kun dan Bwee Hong, dia terkejut sekali, mengenal mereka berdua dan membentak, "Pemberontak - pemberontak mereka ini!" Dan langsung saja dia menyerang dengan pukulan dahsyat ke arah Seng Kun. Tentu saja pemuda inipun tidak tinggal diam dan cepat menangkis, dan ka-rena dia sudah maklum akan kelihaian kakak dari Kwa Siok Eng ini, maka diapun menangkis sambil mengerahkan tenaga sinkangnya.

"Dessss !!" Pertemuan dua tenaga sinkang yang amat dahsyat itu membuat keduanya tergetar mundur, akan tetapi ternyata Kwa Sun Tek terdorong sampai tiga langkah lebih jauh, dibandingkan dengan Seng Kun. Hal ini membuat dia penasaran dan dia sudah siap melakukan se-rangan dengan pukulan yang lebih ampuh. Akan tetapi, Jenderal Lai yang kembali karena mende-ngar suara ribut - ribut, membentaknya.

"Hentikan perkelahian itu !"

Tentu saja Kwa Sun Tek tidak berani memban-tah, hanya berkata, "Harap paduka ketahui bahwa mereka ini adalah anggauta - anggauta pasukan pemberontak!"

"Kami bukan pemberontak dan hal ini tentu telah goanswe ketahui dari leng - ki yang kami perlihatkan tadi," kata Seng Kun. Hati jenderal itu menjadi bimbang, dan akhirnya dia memerin-tahkan Seng Kun dan Bwee Hong dibawa ke dalam kantornya, juga dia memerintahkan perwira muda itu ikut pula.
Setelah dihadapkan kepada Jenderal Lai di dalam kantornya yang terjaga ketat oleh para pe-ngawal, Seng Kun lalu menceritakan segala per-soalan yang diketahuinya. Bahkan dia menceritakan pula pengalamannya ketika dia berada bersama pasukan Liu Pang.

"Kami diutus oleh sri baginda kaisar untuk me-nyelidiki dan mencari Menteri Ho yang diculik orang. Akan tetapi kami terlambat dan Menteri Ho telah terbunuh. Pasukan Liu - bengcu juga gagal menyelamatkannya. Hal ini membuat para pen-dekar penasaran. Hendaknya goanswe ketahui bahwa para pendekar itu sama sekali tidak ber-maksud memberontak terhadap pemerintah, mela-inkan terhadap penguasa - penguasa daerah yang bersekongkol dengan orang - orang asing.

Agaknya, para penguasa daerah itu berhasil mengadu dom-ba antara pasukan para pendekar dan pasukan pemerintah. Kami sengaja hendak menemui goanswe sebagai perwira tinggi yang memegang komando atas semua pasukan pemerintah di daerah timur dan selatan, untuk menjelaskan duduknya persoalan. Kalau goanswe mau melakukan pen-dekatan dengan Liu - bengcu, kami yakin semua pertempuran ini dapat dihentikan dan bersama-sama Liu-bengcu, goanswe dapat membersihkan negara dari para pemberontak aseli yang berse-kongkol dengan pasukan asing."

"Semua itu bohong belaka, Lai - goanswe !" Tiba-tiba Kwa Sun Tek mencela dengan suara lantang.

"Hamba sendiri yang melihat betapa dua orang ini ikut pula memberontak dan membantu pasukan Liu Pang menentang pasukan pemerintah. Banyak saksinya akan kenyataan ini dan harap paduka tidak sampai terkena bujukannya yang be-racun. Liu Pang sudah jelas merupakan pembe-rontak, bahkan kini telah merampas dan mendu-duki Lok - yang, bagaimana mungkin paduka di-minta untuk bersekutu dengan pemberontak itu ?"

Jenderal Lai menjadi bimbang. Keterangan Seng Kun tadi berkesan di hatinya karena diapun mena-ruh kecurigaan kepada para penguasa daerah yang suka berhubungan dengan pasukan asing. Akan tetapi bantahan perwira muda itupun amat meya-kinkan.

"Bagaimana keteranganmu tentang dirampas dan didudukinya Lok-yang oleh Liu Pang?" ta-nyanya kepada Seng Kun.

Tentu saja pemuda ini menjadi bingung. Dia sendiri tidak tahu, hanya mendengar saja bahwa Liu - bengcu telah menduduki Lok - yang. "Tentu ada hal - hal yang memaksanya melakukan itu, goanswe. Mungkin penguasa di Lok - yang juga bersekutu dengan pasukan asing !"

Jenderal Lai menggebrak meja.

"Tahan ucap-anmu ! Aku sendiri yang ikut mempertahankan kota itu dari serbuan pemberontak Liu, dan kau berani bilang aku bersekutu dengan orang asing ?"

"Bukan Lai - goanswe, akan tetapi para pe-nguasa setempat."

"Harap paduka jangan percaya, semua omong-annya itu beracun ! " Kwa Sun Tek berkata lagi.

Bwee Hong yang sejak tadi diam saja menjadi marah.

"Engkaulah yang beracun! Siapa tidak tahu akan hal itu ? Kami adalah utusan sri bagin-da kaisar dan untuk ini kakakku mempunyai ben-dera tanda utusan kaisar. Pula, ayah kami adalah seorang yang berkedudukan tinggi di istana, mana mungkin kami yang berada di luar lalu membantu pemberontak ?"

Seng Kun memandang adiknya, akan tetapi ucapan itu telah dikeluarkan dan hal ini amat menarik perhatian Jenderal Lai.

"Siapakah ayah-mu yang berada di istana, nona ?"

Karena adiknya sudah terlanjur bicara, Seng Kun lalu berkata, "Saya bernama Chu Seng Kun dan adik saya ini Chu Bwee Hong. Ayah kami adalah kepala kuil istana Thian - to - tang."

"Ahhh ! Bu Hong Sengjin ?" Jenderal itu bertanya dan hatinya kecut. Bu Hong Sengjin, biarpun hanya seorang pendeta yang mengurus kuil istana Thian - to - tang, adalah paman dari kaisar dan tentu saja mempunyai pengaruh dan kekuasaan besar. Kalau kedua orang ini adalah benar putera-puterinya, tentu saja dia tidak boleh sembarangan mencelakakan mereka, apa lagi mereka ini masih utusan kaisar yang membawa leng - ki!

"Sudahlah, untuk sementara ini kalian terpaksa kami tahan di sini. Aku akan mencari keterangan tentang kalian ke istana, untuk menyatakan apakah benar-benar kalian adalah utusan sri ba-ginda kaisar."

"Akan tetapi, kami mempunyai tugas penting dan kami harus cepat-cepat kembali ke istana untuk melapor kepada sri baginda !" Seng Kun membantah.

"Jangan membantah ! Di kota raja dan istana sendiri sekarang ini sedang kalut " Tiba-tiba sang jenderal menghentikan kata - katanya dan merasa kelepasan bicara.

"Apa apakah yang terjadi di istana ?"

Seng Kun cepat bertanya.

Akan tetapi, jenderal itu bangkit dan mening-galkan ruangan dan berkata kepada Kwa Sun Tek, "Tahan mereka itu, jangan sampai terlepas. Akan tetapi kalau aku membutuhkan, mereka itu harus ada di tempat!"

Seng Kun dan Bwee Hong tidak dapat berbuat sesuatu dan tentu saja mereka tidak berani mela-wan ketika digiring memasuki kamar tahanan di markas itu. Diam-diam. Kwa Sun Tek menjadi girang sekali. Musuh-musuhnya ini yang telah banyak mengganggu dan menggagalkan rencana-nya sekarang terjatuh ke dalam tangannya. Dia berpikir-pikir, apa yang akan dilakukan terhadap dua orang itu, terutama sekali terhadap Bwee Hong yang cantik jelita. Dengan wajah berseri dan se-pasang mata mengerling tajam ke arah Bwee Hong, Kwa Sun Tek sendiri memimpin para pengawal yang menggiring dua orang kakak beradik itu menuju ke kamar tahanan.

Diam - diam Seng Kun dan Bwee Hong merasa khawatir. Mereka berdua yakin akan ketegasan Lai - goanswe sebagai panglima perang, akan teta-pi tentu saja mereka tidak dapat percaya kepada putera Tai - bong - pai yang berhati curang dan palsu ini.

Selagi rombongan pengawal itu mengantar Seng Kun dan Bwee Hong ke kamar tahanan mereka, tiba - tiba muncul seorang perwira yang segera menemui Kwa Sun Tek dan berkata dengan suara serius, "Taihiap ...... eh, ciangkun! Engkau di-panggil menghadap oleh Jenderal Lai, sekarang juga. Ada urusan penting sekali!"

Kwa Sun Tek ragu - ragu dan kecewa, akan tetapi tentu saja dia tidak berani membantah.

"Bawa mereka ini ke penjara bawah tanah bersa-ma si gila itu. Awas, jangan ganggu mereka dan jangan sampai mereka lolos. Kalian bertanggung jawab!"

Setelah berkata demikian, pergilah pemuda Tai - bong - pai itu bersama perwira yang diutus oleh Lai - goanswe. Sementara itu, Chu Seng Kun merasa curiga sekali melihat bahwa perwira yang memanggil pemuda Tai - bong - pai itu dikenalnya sebagai seorang di antara perwira - perwira yang berada di Ban-kwi-to, yaitu perwira yang bersekongkol dengan pasukan asing, jelaslah bahwa persekutuan itu telah menjalar sampai ke kota be-sar, bahkan di tempat ini, di dekat kota raja, seo-lah-olah di depan hidung kaisar sendiri, perse-kongkolan itu berjalan lancar. Sungguh keadaan sudah teramat gawat. Akan tetapi dia tidak ber-daya sebelum Lai-goanwse memperoleh keterang-an dari kaisar sendiri tentang kedudukannya se-bagai utusan kaisar.

Kamar tahanan di bawah tanah itu melalui lorong bawah tanah yang diterangi oleh lampu-lampu, biarpun waktu itu siang hari. Dan di da-lam sebuah kamar tahanan yang kokoh kuat, me-reka didorong masuk. Di dalamnya mereka melihat A-hai! Pemuda ini duduk bersila dan kelihatan teainenung. Akan tetapi begitu melihat mereka berdua, A-hai mlenjadi girang sekali.

"Ah, aku sudah khawatir sekali akan keadaan kalian!" teriaknya. "Syukurlah kita dapat berte-mu kembali dalam keadaan sehat!"

"Ya, akan tetapi bertemu dalam kamar tahanan yang kokoh kuat!" Seng Kun menambahkan.

"Tidak apa !" A-hai berkata gembira.

"Yang penting adalah selamat dan sehat. Apa artinya bertemu di istana yang indah kalau dalam keadaan tidak sehat dan tidak selamat ? Betul tidak, nona Hong ?”

Bwee Hong terpaksa tersenyum. Biarpun ucapan itu terdengar kekanak-kanakan, namun harus diakui bahwa memang tepat dan tak dapat dibantah. Ia mengangguk membenarkan sehingga A-hai menjadi semakin gembira.

Akan tetapi Seng Kun tidak banyak melayani pemuda sinting itu dan dia sudah mulai memeriksa keadaan kamar tahanan itu. Sebuah kamar tahanan yang kokoh kuat memang. Dindingnya dari batu yang sebelah dalamnya dilapisi baja. Juga pintu itu amat kuatnya sehingga ketika Seng Kun men-coba untuk mendorongnya, sedikitpun tidak bergo-yang. Bwee Hong juga memeriksa seluruh din-ding, mencari jalan keluar. Mereka maklum bahwa selama mereka masih dalam kamar tahanan, ba-haya selalu mengancam karena mereka tahu bahwa mereka terjatuh ke dalam tangan komplotan itu, dan Lai - goanswe sendiri tidak tahu adanya komplotan itu. Karena Seng Kun sudah mem-bongkar rahasia, tentu komplotan itu, di bawah pimpinan pemuda Tai - bong - pai, tidak akan membiarkan mereka lolos dengan selamat. Maka, mereka harus dapat keluar dari tempat ini, sebe-lum terlambat.

Kalau kakak beradik itu sibuk memeriksa se-luruh dinding dan mencari kemungkinan lolos, A-hai masih enak - enak duduk saja di atas lantai dan kini tangannya mengetuk-ngetuk lantai. Agaknya dia juga merasa kesal didiamkan saja oleh dua orang kawannya itu.

"Tuk - tuk - tuk - tuk !" Tangannya, yang di luar kesadarannya sendiri memiliki tenaga mu-jijat itu, mengetuk - ngetuk lantai menggunakan sepotong batu kecil yang ditemukannya di tempat tahanan itu.

Kini dia memindahkan batu itu dari tangan ka-nan ke tangan kiri dan mengetuk - ngetuknya kem-bali ke atas lantai di sebelah kirinya.

"Tuk - tuk - tung - tung - tung - tunggg !"

Tiba - tiba Seng Kun meloncat, mendekat. "Sau-dara A-hai, coba kaupukul lagi lantai sebelah kananmu."

A-hai memandang heran dan menurut. "Tuk-tuk-tukk!"

"Sekarang sebelah kirimu." Kembali A-hai menurut.

"Tung - tung - tunggg !" Jelas sekali terdengar perbedaan bunyi.

Seng Kun berjongkok dan menggunakan jari tangannya mengetuk-ngetuk bagian kiri A-hai itu, di atas lantai batu. "Tung - tung - tunggg .,.,.!"

Melihat ini, Bwee Hong juga ikut berjongkok dan mengetuk - ngetuk lantai di sana - sini dan ternyata yang terdengar bunyi "tung - tung" hanya di sekitar sebelah kiri A-hai.

"Ah, ada lubang di bawah sini!" bisik Bwee Hong. Kakaknya mengangguk dan mengerutkan alisnya.

"Agaknya ini merupakan satu - satunya harapan kita. Saudara A-hai dan kau juga Bwee Hong, berdirilah di depan terali pintu dan beri isyarat kalau ada penjaga datang. Aku akan berusaha membongkar lantai ini."

Tanpa berkata sesuatu, Bwee Hong dan A-hai lalu berdiri di pintu, di mana terdapat jeruji baja yang kuat. Tidak nampak adanya penjaga di de-pan pintu itu. Para penjaga berkumpul agak jauh dari situ walaupun mereka tidak pernah lengah dan selalu memandang ke arah kamar tahanan. Melihat ini, Bwee Hong lalu memberi isyarat de-ngan tangannya.

Seng Kun lalu mengerahkan seluruh tenaganya, disalurkan kepada kedua lengannya dan setelah merasa cukup kuat, dia lalu menggunakan kedua tangannya menghantam lantai itu.

"Brakkkkk !" Lantai itu pecah dan ambrol dan ternyata di bawahnya memang berlubang.

Bagaimanapun juga suara itu menarik perhatian para penjaga. Mereka berlarian mendatangi tem-pat itu. Melihat ini, Bwee Hong cepat menarik tangan A-hai dan bersama Seng Kun mereka lalu menutupi lubang itu dengan tubuh mereka yang sengaja direbahkan miring di atas lantai. Seng Kun dan Bwee Hong pura - pura memijiti tubuh A-hai yang setengah dipaksa untuk rebah menelung-kup di atas lubang.

"Kenapa ? Apa yang terjadi ?" tanya komandan penjaga melihat mereka yang berada di dalam kamar tahanan itu.

"Teman karni ini pening dan terjatuh. Tapi tidak apa - apa, sebentar lagi tentu dia sembuh. Memang dia mempunyai penyakit ayan yang ka-dang-kadang kumat!" kata Seng Kun. Diam-diam A-hai mengomel dikatakan bahwa dia mem-punyai penyakit ayan. Para penjaga tertawa lalu pergi lagi setelah melihat bahwa memang tidak terjadi apa - apa di kamar itu, tidak terdapat tan-da - tanda bahwa tiga orang tawanan itu akan melarikan diri.

"Kita tunggu sampai gelap," bisik Seng Kun.

Mereka tetap rebah - rebahan menutupi lubang dan setelah kamar itu menjadi gelap karena me-mang tidak diberi penerangan, barulah Seng Kun memeriksa lubang. Lubang itu cukup besar untuk dapat dimasuki dan ketika dia memasuki lubang, ternyata di sebelah bawah terdapat sebuah lorong seperti yang pernah mereka lihat lorong - lorong di bawah tanah dari Kepulauan Ban - kwi - to. Maka mereka bertigapun cepat maju ke depan dengan hati - hati karena keadaan di dalamnya gelap sama sekali. Setelah berjalan beberapa la-manya, mereka tiba di jalan buntu. Di depan mereka menghadang dinding batu yang keras.

"Celaka, terowongan ini merupakan jalan bun-tu !" kata Seng Kun, mengeluh karena kalau mereka ketahuan dan para penjaga mengejar, tentu mereka akan tertawan kembali. Di terowongan yang sempit itu tidak mungkin mereka melakukan perlawanan.

"Lihat, bagian ini tanahnya lunak dan bercam-pur pasir. Bagaimana kalau kita membuat jalan dari sini ?" Bwee Hong berseru.

Seng Kun setuju dan mereka bertiga lalu mulai menggali. Dan memang benar, tanah itu mudah digali, apa lagi oleh sepasang tangan kakak ber-adik yang kuat itu. Tak lama kemudian mereka melihat batu landasan atau fondamen bangunan rumah.

"Wah, kita sampai di bawah rumah orang!"

Dengan jari tangannya yang kuat, Seng Kun lalu membuat lubang di lantai rumah yang berada di atas mereka. Segera terdengar suara orang-orang bercakap - cakap melalui lubang kecil itu dan mereka terkejut. Seng Kun dan adiknya segera mengenal suara pemuda Tai - bong - pai yang menawan mereka! Mereka bertiga mendengarkan dengan jantung berdebar tegang. Kiranya di atas mereka merupakan sebuah ruangan di mana Kwa Sun Tek sedang mengadakan rapat dengan bebe-rapa orang sekutunya, di antaranya terdapat kepala daerah Lok - yang, juga Malisang, kepala Suku Mongol yang bersekutu dengan para pemberontak.

"Boleh jadi pasukan pemerintah sudah tidak begitu kuat karena mereka harus menentang gerakan Chu Siang Yu dari barat, akan tetapi kita harus memperhitungkan kekuatan Liu Pang," de-mikian kepala daerah Lok - yang bicara. "Daerah-ku telah dikuasainya. Untung aku masih dapat lolos dengan menyamar sebagai pelayan. Padahal, pasukan penjaga kota dan dibantu oleh pasukan koksu sudah cukup kuat, namun kami kalah, dan kehilangan banyak perajurit."

"Kami juga kehilangan banyak anak buah," kata orang Mongol itu dengan suara kaku. "Kami tidak mengira bahwa Liu Pang dapat bergerak sedemi-kian cepatnya, dan terutama sekali yang membikin kami gagal adalah kenyataan bahwa dalam pasukan tuan terdapat pengkhianatnya, yaitu Gui-ciangkun dan pasukannya." Koksu atau kepala Suku Mongol itu terdengar kecewa dan penasaran. "Akan tetapi sekarang, hal itu tidak perlu terulang kembali. Pasukan - pasukan kami telah berdatangan di se-panjang pantai. Tak lama lagi mereka akan dapat berkumpul untuk membantu kita semua."

Mendengar percakapan ini, diam - diam Seng Kun mengerutkan alisnya dan hatinya khawatir sekali.

"Celaka," pikirnya. "Keselamatan, negara sungguh terancam. Pasukan asing dalam jumlah banyak telah mendarat. Sedangkan bangsa sendiri malah saling bermusuhan karena saling mempere-butkan kedudukan. Pasukan Chu Siang Yu yang kuat itu memberontak. Para gubernur juga mem-berontak dengan diam-diam. Pemerintah pusat menghadapi begitu banyak ancaman pemberon-takan. Agaknya negara sudah berada di ambang kehancuran."

Tak lama kemudian, rapat di atas itupun bubar dan keadaan menjadi sepi. Seng Kun mengintai dari lubang kecil yang dibuat jarinya tadi. Memang ruangan itu sudah kosong sama sekali. Mereka lalu membongkar lantai dan keluar dari lorong bawah tanah itu. Ternyata mereka berada di da-lam ruangan yang menjadi bagian dari gedung gubernuran. Hari masih larut malam dan mereka-pun cepat menyelinap keluar ruangan itu, ber-sembunyi di dalam gelap. Seng Kun menjadi pe-mimpin dan dua orang kawannya mengikuti dari belakang. Mereka hendak mencari jalan untuk keluar dari gedung itu.
Akan tetapi, baru saja mereka tiba di samping gedung, mereka mendengar suara ribut - ribut dan melihat banyak sekali perajurit membawa obor. Di antara mereka terdapat Kwa Sun Tek yang berteriak - teriak marah, "Mereka takkan dapat pergi jauh ! Sudah pasti masih berada di dalam gedung. Hayo kepung gedung dan jangan sampai membiarkan seorangpun lolos !"

"Celaka, kita telah ketahuan!" bisik Seng Kun dan diapun mengajak Bwee Hong dan A-hai untuk mundur kembali memasuki gedung !

Seng Kun berpikir cepat dan. tak lama kemudian dia sudah terus masuk ke dalam gedung menyuruh A-hai dan Bwee Hong bersembunyi dan segera menang-kap seorang pelayan yang agaknya terkejut men-dengar ribut - ribut di luar gedung.

"Cepat bawa kami ke dalam kamar gubernur!" Seng Kun mengancam sambil mencengkeram teng-kuk pelayan itu. Cengkeramannya membuat pela-yan itu merasa kesakitan dan tanpa banyak cakap lagi diapun, mengangguk - angguk dan pergilah mereka bertiga mengikuti pelayan ke kamar sang gubernur. Dengan kepandaiannya, Seng Kun men-dorong pintu terbuka setelah Bwee Hong melum-puhkan dua orang pengawal jaga di luar pintu, kemudian, sebelum sang gubernur yang baru saja bangun karena kaget itu sempat berteriak Seng Kun telah menangkapnya dan mengancam.

"Kalau sayang nyawa, jangan banyak bergerak dan jangan mengeluarkan suara!"

"Ampun jangan bunuh "

"Keluarkan kereta, selundupkan kami keluar dari kota ini. Kalau kami selamat, engkaupun hi-dup !" hardik Seng Kun dengan suara lirih akan tetapi penuh ancaman.

"Baik baik !"

Di bawah ancaman Seng Kun dan Bwee Hong, akhirnya pembesar itu mengenakan pakaian kebe-saran lalu membawa mereka ke tempat kereta, membangunkan kusir kereta dan tak lama kemu-dian, keretapun bergerak keluar dari halaman samping gedung. Beberapa orang perajurit melihat dengan heran, bahkan ada seorang perwira yang berseru kepada kusir kereta, bertanya. Gu-bernur, di bawah ancaman Seng Kun, menyingkap tirai jendela kereta dan berkata bahwa dia ingin memeriksa dan melihat sendiri keluar gedung, mencari tahu tentang kerusuhan - kerusuhan yang terjadi di kota. Beberapa pasukan pengawal siap hendak mengiringkan kereta, akan tetapi gu-bernur itu menolak dan memerintahkan mereka menjaga gedung baik - baik.

Setelah berhasil keluar dari pintu gerbang ge-dung itu, Seng Kun lalu menotok kusir kereta dan dia sendiri lalu duduk menggantikan tempat kusir. "Saudara A-hai, engkau duduklah di sampingku sebagai pembantu," katanya.

Si gubernur gendut duduk berdua saja dengan Bwee Hong dan hal ini agaknya melegakan hati-nya. Disangkanya bahwa dara secantik itu tentu tidak kejam dan tidak begitu kuat, maka dia sudah mulai melihat ke kanan kiri untuk mencari kesem-patan menyelamatkan diri. Melihat ini, Bwee Hong berkata,
"Kalau engkau melakukan yang bukan - bukan, aku akan menghancurkan kepalamu seperti ini!" Dan Bwee Hong menggunakan tangannya meremas lengan kursi dalam kereta yang terbuat dari kayu keras. Lengan kursi itu hancur ketika dicengkeram-nya. Melihat ini seketika muka si gubernur men-jadi pucat dan diapun tidak lagi berani berkutik, maklum bahwa gadis cantik jelita inipun lihai bu-kan main dan agaknya tidak kalah kejam diban-dingkan dengan orang yang kini menggantikan kusirnya. Maka diapun pasrah saja dengan muka pucat, hati berdebar dan tubuh menggigil.

Kereta berhasil melalui pintu gerbang kota de-ngan selamat. Para perwira dan pasukan penjaga, biarpun terheran - heran, tidak berani mengganggu melihat sang gubernur duduk di dalam kereta de-ngan santai bersama seorang wanita muda yang cantik. Mereka mengira bahwa sang gubernur sedang mencari angin bersama seorang selirnya
yang terkasih dan tidak ingin diganggu, maka tidak ada pasukan pengawalnya dan hanya ditemani oleh kusir dan pembantunya.

Akan tetapi, tidak semua pasukan setolol itu. Ada beberapa orang perwira yang merasa curiga sekali. Tidak seperti biasa seorang gubernur melakukan perjalanan malam seperti itu, tanpa kawalan dan keluar dari kota. Mereka lalu mempersiapkan pa-sukan dan diam - diam membayangi kereta itu dari jauh.

Ketika kereta melalui pintu, tiba - tiba saja perwira - perwira dan pasukannya itu menghadang di depan kereta.

"Tahan dulu !" bentak seorang di antara para perwira.

"Harap taijin maafkan ke-lancangan kami, akan tetapi dalam keadaan yang gawat ini kami harus bertindak hati-hati dan kami ingin merasa yakin bahwa taijin dalam keadaan selamat."

Bwee Hong mencengkeram tengkuk pembesar itu yang menjadi semakin ketakutan.

"Hayo katakan bahwa engkau selamat dan suruh mereka semua minggir!" desis dara itu kepada sang gubernur. Akan tetapi, gubernur itu menjadi demikian takut-nya sehingga sukar baginya untuk mengeluarkan suara.

"Selamat aku selamat sebaiknya kalian pergilah "

Melihat sikap gugup ketakutan dan mendengar suara yarig menggigil dan tersendat-sendat itu, tentu saja para perwira menjadi semakin curiga. "Kepung ! Tangkap penjahat !"

"Heh, mereka adalah tawanan - tawanan yang meloloskan diri itu!"

Tentu saja keadaan menjadi geger dan para perajurit lari mendatangi dan kereta itu dikepung. Seng Kun dan Bwee Hong sudah melompat turun dan mereka berdua mengamuk. Biarpun dikepung dan dikeroyok banyak perajurit, kalau mereka menghendaki, dua orang kakak beradik ini agaknya akan mudah untuk melarikan diri. Akan tetapi mereka teringat akan A-hai yang masih saja du-duk di tempat kusir dan memandang perkelahian itu dengan bingung. Banyak perajurit sudah ro-boh terkena tamparan dan tendangan kakak ber-adik yang tangguh itu.

"Saudara Seng Kun! Nona Hong, kalian larilah saja dan jangan hiraukan aku !"

Berkali - kali A-hai minta mereka melarikan diri. Dia tahu bahwa ka-kak beradik itu tidak mau lari karena hendak me-lindungi dia. Hal ini membuat hatinya terasa amat tidak enak. Dia sendiri tidak mampu melawan. Apa lagi melawan, bahkan melihat mereka berdua di-keroyok saja hatinya sudah menjadi gelisah sekali.

Bwee Hong mengerutkan alisnya. Harus ada akal untuk menyelamatkan A-hai, dan satu-satu-nya akal hanyalah membuat pemuda itu menga-muk ! Kalau ia dan kakaknya harus membawa A-hai dari situ sambil melawan pengeroyokan, sungguh tidak mungkin. Selain A-hai tidak akan mau, juga kalau muncul lawan berat seperti putera Tai - bong - pai, akan berbahaya sekali. Akan teta-pi bagaimana ia harus berbuat untuk dapat mem-buat A-hai kumat dan timbul kelihaiannya ?

Seorang pengeroyok menyerang Bwee Hong dari samping dengan tusukan tombaknya. Bwee Hong menangkap tombak itu dan tiba-tiba men-jerit, lalu roboh bersama penusuknya, mandi darah! Melihat ini, Seng Kun terkejut bukan main. Ham-pir dia tidak percaya bahwa adiknya akan roboh sedemikian mudahnya, diserang oleh seorang pe-rajurit biasa dengan tombak. Tubuhnya meloncat dan meluncur bagaikan halilintar menyambar dan para pengeroyok adiknya terpelanting ke kanan
kiri. Dengan muka pucat dia melihat adiknya menggeletak berlumuran darah.

"Hong-moi !" teriaknya. Akan tetapi pada saat itu, terdengar bunyi derap kaki kuda dan se-pasukan perajurit datang dipimpin oleh Kwa Sun Tek yang lihai. Bahkan kepala Suku Mongol yang tinggi besar itupun datang bersama pemuda Tai-bong - pai itu !

Celaka, pikir Seng Kun. Matilah mereka seka-rang. Adiknya yang merupakan pembantu amat lihainya, telah menggeletak dan agaknya terluka cukup parah. Dia seorang diri mana mampu ber-tahan ? Apa lagi kalau harus melindungi adiknya yang terluka dan A-hai yang masih duduk di atas kereta.

Melihat datangnya pasukan bantuan yang kuat, kini para perajurit sudah mulai maju lagi menge-royok Seng Kun yang terpaksa harus melindungi tubuh adiknya. Pada saat itu, tiba - tiba saja ter-dengar teriakan yang amat dahsyat dan memekak-kan telinga, lengkingan yang seperti bukan keluar dari mulut manusia, disusul berkelebatnya sesosok tubuh manusia yang melayang turun dari atas kereta. Tubuh itu melayang ke arah Bwee Hong yang masih rebah miring mandi darah, lalu dengan mata beringas dia menggunakan tangan kiri me-nyambar tubuh Bwee Hong dan memanggul di atas pundaknya. Orang ini bukan lain adalah A-hai yang telah "kumat" gilanya ketika melihat Bwee Hong roboh mandi darah. Kini, dengan tubuh Bwee Hong dipanggul di atas pundaknya, dia me-mandang ke depan dengan sikap beringas menge-rikan, sepasang matanya mencorong dan mengan-dung penuh nafsu membunuh.

Melihat ini, tentu saja beberapa orang perajurit mengepung dan menyerangnya. Akan tetapi, sam-bil mengeluarkan suara mendengus pendek, A-hai menggerakkan tangan kanannya dengan cepat dan terdengarlah jerit - jerit mengerikan dan lima orang perajurit telah roboh dengan tubuh kaku dan mata mendelik, mati! Tidak ada setetespun darah ke-luar, tidak ada sedikitpun luka nampak di tubuh mereka.
Tentu saja hal ini menimbulkan kegem-paran dan para perajurit menjadi ngeri ketakutan. Bahkan Seng Kun sendiripun yang melihat jelas akibat gerakan tangan A-hai itu, diam-diam merasa serem dan ngeri. Ilmu apakah yang diper-gunakan A-hai sehingga akibatnya sedemikian hebatnya ?

Melihat kelihaian dua orang pemuda yang mengamuk itu, majulah Kwa Sun Tek yang diban-tu oleh Malisang, raksasa Mongol kepala suku yang menjadi sekutu pemberontak itu. Dia menubruk ke arah A-hai yang memanggul gadis pingsan itu, menggunakan kedua lengannya yang panjang dan besar itu untuk mencengkeram ke depan se-perti gerakan seekor biruang menerkam. Akan te
tapi, A-hai kembali mendengus pendek dan tangan kanannya menyambut dengan dorongan.

"Bresss !" Pertemuan dua tenaga besar seolah - olah menggetarkan udara dan akibatnya, raksasa Mongol itu terjengkang dan terbanting jatuh, lalu bergulingan dan meloncat bangun kem-bali. Matanya terbelalak saking kagetnya dan hampir dia tidak dapat percaya bahwa ada seo-rang pemuda yang menggunakan sebelah tangan saja untuk menyambut tubrukannya yang mengan-dung tenaga amat besar itu. A-hai sendiri tergetar karena besarnya tenaga lawan, akan tetapi dia hanya melangkah mundur sebanyak empat langkah saja. Melihat kehebatan pemuda ini, Malisang maju lagi dan kini dia dibantu oleh beberapa orang perwira pengawalnya yang sudah mencabut pe-dang, Namun, A-hai menyambut pengeroyokan tujuh orang itu dengan sebelah tangan kanan saja dan hebatnya, pemuda yang biasanya lemah dan bodoh itu kini tiba-tiba saja berobah menjadi se-orang yang selain gagah perkasa, juga cerdik dan lengan kanannya itu kebal senjata, bahkan jari-jari tangannya dapat dipergunakan untuk menangkis senjata tajam lawan tanpa terluka sedikitpun! Se-pak terjangnya menggiriskan sehingga Malisang minta bantuan lebih banyak temannya lagi.

Sementara itu, Seng Kun juga sudah bertan-ding melawan Kwa Sun Tek, tokoh muda Tai-bong - pai. Mula - mula mereka berdua berkelahi dengan tangan kosong, akan tetapi melihat betapa pemuda jangkung tampan itu memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat, terlalu kuat baginya, Kwa Sun Tek lalu mempergunakan senjatanya yang aneh, yaitu sebatang cangkul penggali kuburan. Terjadilah perkelahian yang amat seru, akan tetapi karena Kwa Sun Tek juga dibantu oleh banyak orang, Seng Kun mulai terdesak pula. Juga A-hai terdesak karena pemuda ini selalu harus melin-dungi sambaran senjata yang mengancam tubuh Bwee Hong yang dipanggulnya.

Seng Kun menggeser kedudukannya agar men-dekati A-hai dan dia berseru, "Saudara A-hai, mari kita melarikan diri!"

Berkali - kali dia mendesak, akan tetapi A-hai sama sekali tidak memperdulikannya, bahkan ke-tika Seng Kun terlalu mendekatinya, pemuda sin-ting ini menggunakan tangannya untuk menyam-pok sehingga Seng Kun terhuyung! Kiranya se-telah kumat, A-hai sama sekali tidak mengenal-nya lagi! Maka terpaksa Seng Kun menjauh lagi dan melanjutkan amukannya. Diam - diam dia me-ngeluh. Tidak mungkin bagi mereka berdua, be-tapapun lihainya A-hai, akan dapat bertahan menghadapi pengeroyokan sedemikian banyaknya anak buah pasukan.

Tentu saja semua ini dilihat jelas oleh Bwee Hong yang dipondong oleh A-hai. Dara ini tadi memang hanya pura-pura saja membiarkan dirinya seolah - olah terkena serangan senjata lawan. Pa-dahal, darah yang menodai pakaiannya itu bukan-lah darahnya sendiri, melainkan darah lawannya. Ia berhasil mengelabuhi A-hai dan berhasil pula membikin pemuda itu kumat sintingnya.

Akan te-tapi sungguh celaka, kini A-hai mengamuk dan tidak mau melarikan diri seperti yang dianjurkan berkali - kali oleh kakaknya. Iapun tahu bahwa betapapun lihainya A-hai, tidak mungkin dapat bertahan kalau terus-menerus menghadapi penge-royokan ratusan, bahkan ribuan orang perajurit.

Maka, diangkatnya kepalanya mendekati telinga pemuda sinting itu dan iapun berbisik, "A-hai, lihatlah, kakakku sudah terdesak. Mari kita pergi dari sini !"

Bersambung

28                                                                                                                         30