Selasa, 28 Mei 2013

DARAH PENDEKAR 28

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Bab 28

Setelah berpikir sejepak, Liu Pang cepat me-ninggalkan tempat itu dan cepat mengejar pasu-
kan. Bouw - ciangkun yang kembali, ke benteng mereka sendiri. Dia telah mempunyai rencana yang dianggapnya tepat untuk melancarkan pe-nyerbuan pasukannya besok pagi.

Gui-ciangkun mengadakan rapat darurat dengan para perwira pembantunya malam itu juga. Dia juga sudah mendengar akan kemunculan Jen-deral Lai dan tahulah dia bahwa Bouw - ciangkun tentu mengadukannya kepada Jenderal Lai. Meng-ingat bahwa tiga orang perwira tinggi lainnya, di kota Lok - yang telah menjadi antek kepala daerah yang bersekongkol dengan pasukan asing, maka dia tentu akan kalah suara dan Jenderal Lai tentu akan lebih percaya keterangan mereka. Besok pagi dia tentu akan ditangkap dan pasukannya dianggap pemberontak.

"Tidak sudi aku menyerah!" Demikian dia mengambil keputusan di depan para pembantunya sambil menggebrak meja.

"Akan tetapi, ciangkun," seorang pembantunya menyatakan kebingungan hatinya, "apakah dengan demikian berarti bahwa kita akan melakukan pem-berontakan terhadap pemerintah secara terbuka ?"

"Tidak, kita tidak memberontak melawan pe-merintah, melainkan memberontak terhadap penguasa di Lok-yang yang sudah bersekutu dengan orang asing ! Kita tidak sudi terseret menjadi ma-nusia pengkhianat penjual negara kepada kekuasa-an asing!"

Tiba - tiba terdengar suara gaduh dan daun pintu ruangan itu terbuka dari luar. Muncul seo-rang laki - laki gagah perkasa berpakaian sederha-na, berusia tigapuluh enam tahun yang bertubuh jangkung dan mukanya kurus akan tetapi sepa-sang matanya seperti mata harimau, mencorong penuh wibawa.

Dari luar berlompatan para pengawal yang nampak terkejut dan gelisah. Kepala pengawal berkata, "Maaf, ciangkun. Dia menyelinap masuk dengan cepat sehingga kami terlambat "

Akan tetapi Gui - ciangkun mengangkat tangan memberi isyarat agar para pengawal jangan sem-barangari bergerak. Dia sudah melihat bahwa orang yang datang secara aneh ini mengempit tubuh yang gendut, tubuh Bouw - ciangkun yang kelihatan le-mas tertotok!

Liu Pang memandang kepada Gui - ciangkun dengan sinar mata penuh selidik. "Gui - ciangkun, benarkah kata - katamu tadi bahwa engkau tidak akan menyerah kepada para pengkhianat itu ? Ba-guslah kalau begitu! Ketahuilah bahwa aku Liu Pang!"

Mendengar pengakuan ini, semua orang terkejut dan Gui - ciangkun sendiri memandang terbelalak- "Liu bengcu ?"

"Benar. Pasukanku telah mengepung kota ini. Bersiaplah Gui-ciangkun dengan semua pasukan-mu dan temui aku pada besok pagi di luar benteng kota. Sebagai bukti bahwa aku ingin bekerja sama dengjan pasukanmu, ini kubawakan si pengkhianat Bouw kepadamu. Terserah mau kauapakan dia Nah, selamat tinggal. Pikirkan baik-baik usulku, tidak banyak waktu lagi!" Dan Liu Pang melem-parkan tubuh gendut itu ke atas lantai, kemudian sekali berkelebat tubuhnya meloncat keluar ruang-an itu dan sebentar saja lenyap dalam kegelapan malam. Sebelum kembali ke pasukannya, Liu Pang menggunakan kepandaiannya untuk melakukan penyelidikan dan mengelilingi semua penjuru kota, memeriksa keadaan benteng penjagaan kota itu untuk mengetahui bagian mana yang kuat dan mana yang agak lemah.

Pada waktu itu, fajar telah mulai menyingsing. Langit di timur nampak kemerahan tanda bahwa sang matahari sudah akan menampakkan kehadir-annya di belahan bumi ini. Liu Pang sudah selesai dengan penyelidikannya ketika tiba - tiba terdengar sorak - sorai gemuruh di luar benteng kota. Gembiralah hati pendekar ini. Pasukan para pendekar telah tiba, tepat pada waktunya, sesuai dengan yang telah direncanakan. Cepat dia melompat keluar tembok kota dan menggabungkan diri dengan pasukannya. Pasukan para pendekar itu bersorak gembira melihat sosok tubuh yang me-layang turun itu, setelah mengenal bahwa itu ada-lah tubuh pimpinan mereka yang mereka cinta dan kagumi.

Setelah tiba kembali di antara pasukannya, Liu Pang lalu memimpin sendiri barisannya, dipecah-pecah dan dibagi - bagi tugas pengepungan kota Lok-yang. Dengan tombak panjang di tangan, pemimpin ini dengan gagahnya memimpin sendiri pasukan yang berada di depan pintu gerbang. Pek Lian, Hek-coa Ouw Kui Lam dan para pembantu yang lain masing-masing mendapat bagian tugas memimpin pasukan - pasukan yang mengepung kota itu.

Tentu saja di dalam kota Lok - yang terjadi kegemparan dan kepanikan. Apalagi setelah men-dengar bahwa pintu gerbang telah ditutup semua dan bahwa kota itu telah dikepung oleh barisan "pemberontak" Liu Pang ! Para penduduk yang tidak sempat lari mengungsi itu kini bersembunyi di dalam rumah masing - masing, bergerombol dan saling berpelukan. Suami - suami menghibur iste-rinya, ibu - ibu merangkul anak - anaknya dan ber-usaha agar si kecil tidak sampai menangis membuat gaduh. Pria-pria muda dengan lagak gagah tapi hati takut berjaga di depan pintu kamar keluarga masing - masing.

Jenderal Lai cepat memanggil empat orang perwira yang menjadi komandan-komandan pa-sukan penjaga kota Lok - yang. Akan tetapi, kea-daan menjadi geger ketika Bouw - ciangkun tak dapat ditemukan di dalam bentengnya, sedangkan Gui - ciangkun tidak mau menghadap! Seperti telah kita ketahui, dengan kepandaiannya yang tinggi, malam tadi Liu Pang berhasil menyelundup ke benteng Bouw - ciangkun, menculik perwira gendut ini dan membawanya ke benteng Gui-ciangkun. Terpaksa Jenderal Lai menunjuk seo-rang perwira lain untuk menggantikan kedudukan Bouw - ciangkun dan memimpin pasukan. Akan tetapi, dia tidak dapat berbuat apapun terhadap Gui - ciangkun. Benteng Gui - ciangkun masih di-jaga ketat dan jembatan gantung masih juga belum diturunkan. Jelaslah bahwa Gui - ciangkun dan pasukannya hendak memberontak. Akan tetapi, untuk menggempur dan menghukumnya tidak ada waktu. Yang penting kini ialah menghadapi pem-berontak Liu Pang yang sudah mengepung kota.

Terdengar bunyi terompet dan tambur di luar pintu gerbang, dan Liu Pang menantang perang dengan suara lantang karena teriakannya disertai tenaga khikang yang kuat.

Selagi Jenderal Lai sibuk mengatur pasukan untuk melakukan penjagaan mempertahankan ben-teng kota, tiba - tiba nampak bayangan orang meloncat turun dari tembok benteng. Segera terde-ngar bentakan dan teriakan dari atas benteng dan beberapa batang anak panah meluncur ke arah orang itu. Akan tetapi orang itu yang berpakaian perwira, berlari dengan cepat dan beberapa batang anak panah yang mengenai baju perangnya meleset dan tidak melukainya.

"Cepat sambut orang itu dengan baik!" Liu Pang berseru dan beberapa orang lalu menyambut perwira itu dan membawanya menghadap Liu Pang. Perwira itu melepas topinya dan memberi hormat sambil berlutut di depan Liu Pang.

"Saya membawa salam hormat dari Gui - ciang-kun untuk disampaikan kepada Liu - bengcu ! kata perwira itu agak terengah - engah karena tadi dia harus mengerahkan tenaganya.

"Gui - ciangkun memberitahukan bahwa dia telah mengambil ke-putusan untuk bergabung dengan pasukan Liu-bengcu, dan sekarang sudah siap untuk mengha-dapi gempuran Jenderal Lai yang menganggapnya sebagai pemberontak."

"Bagus! Kalau begitu, kita akan menyerang sekarang ! Jangan beri kesempatan kepada Jenderal Lai untuk menyerbu benteng Gui - ciangkun !"

Liu Pang lalu memberi isyarat kepada semua pembantunya dan pasukannya mulai bergerak. Da-ri dalam benteng itu, keluarlah tiga orang perwira menunggang kuda. Munculnya musuh ini segera disambut oleh Pek Lian, Hek - coa Ouw Kui Lam, dan seorang rekan lagi. Seperti biasa yang dilaku-kan orang pada jaman itu, setiap peperangan se-lalu dimulai dengan pertempuran antara jagoan-jagoan mereka. Kedua pihak bertanding dengan jujur dan gagah sedangkan pasukan masing-masing hanya memberi semangat dengan sorakan-sorakan dan teriakan - teriakan. Terjadilah pertempuran antara tiga orang jagoan dari Lok - yang melawan Pek Lian, Ouw Kui Lam, dan seorang pendekar lain.

Tentu saja dalam perkelahian perorangan seperti ini, ilmu silat jauh lebih penting dan ber-guna dari pada ilmu perang. Belum sampai dua puluh jurus saja, tiga orang perwira jagoan dari Lok-yang itupun roboh dan tewas, disambut so-rak - sorai dari para anak buah pasukan Liu Pang. Dan karena Liu Pang tidak ingin membiarkan pa-sukan Gui - ciangkun mengalami kehancuran di dalam benteng, dia tidak menanti sampai ada jago-an lain keluar dari benteng musuh, terus saja dia memberi aba - aba dan pasukannya bergerak maju sambil menghujankan anak panah ke arah benteng. Dari benteng musuh datang pula anak panah berhamburan menyambut pasukan yang maju.

Terjadilah pertempuran yang dahsyat. Biarpun pasukan penjaga kota Lok - yang cukup banyak dan kuat, bahkan diam - diam dibantu pula oleh pa-sukan asing tanpa diketahui oleh Jenderal Lai sendiri, namun karena kini pasukan yang dipimpin oleh Gui - ciangkun juga membantu melakukan pengacauan dari dalam, akhirnya, menjelang te-ngah hari, pintu gerbang besar dapat dibobolkan dan Liu Pang memimpin pasukannya menyerbu ke dalam kota.

Gegerlah kini keadaan dalam kota. Pertem-puran terjadi di mana - mana di seluruh kota. Rak-yat menjadi panik dan berlari-larian menyelamat-kan diri. Kebakaran - kebakaran terjadi di sana-sini membuat keadaan menjadi semakin kacau dan membuat orang-orang menjadi semakin panik. Suara gaduh dan hiruk - pikuk memenuhi udara, kadang - kadang terdengar pekik kesakitan dan ra-ungan orang menghadapi maut. Pertempuran yang kacau - balau dan tidak teratur sama sekalipun ter-jadilah di mana - mana. Pertempuran antar ke-lompok dan antar perorangan terjadi di jalan-jalan, di lorong - lorong, di halaman rumah orang. Ke-bakaran makin menjalar luas.

Liu Pang sendiri bersama limapuluh orang pengawal yang selalu membantu dan melindungi-nya, menerjang ke arah gedung gubernuran untuk menduduki gedung yang menjadi pusat pemerintah-an di daerah itu. Akan tetapi usahanya ini tidak-lah mudah karena selalu dirintangi oleh pasukan musuh yang agaknya hendak mempertahankan ge-dung, itu dengan mati - matian. Apa lagi, jalan be-sar menuju ke gedung kepala daerah itu penuh dengan rakyat tua muda yang berlarian mengungsi dan menyelamatkan diri, sehingga mereka ini menghambat majunya Liu Pang yang selalu me-larang anak buahnya mengganggu rakyat.

Dengan menunggang seekor kuda putih yang besar, Liu Pang terus menghajar musuh dengan gagahnya. Dia sudah berhati - hati sekali agar ja-ngan sampai salah tangan melukai rakyat yang berlari - larian mengungsi, akan tetapi karena sua-sana begitu kacau, tanpa disengaja kudanya me-langgar tubuh seorang laki-laki berpakaian pela-yan yang setengah tua. Pelayan tua itu diiringkan oleh beberapa orang pelayan lain dan dia jatuh tunggang langgang ketika terlanggar oleh kuda putih besar itu.

Liu Pang terkejut sekali dan sesuai dengan wataknya yang gagah dan selalu memperhatikan orang kecil, diapun cepat melompat turun dari atas kudanya dan membantu orang tua itu untuk ba-ngun. Dengan ramah Liu Pang minta maaf dan sekalian bertanya kepada kakek itu di mana letak-nya gedung sang gubernur.

"Tak jauh lagi , di sana . . . . . . ."kakek itu menunjuk ke arah barat. Kemudian, tertatih-tatih orang itu melanjutkan perjalanannya mengungsi dipapah para pelayan pengikut yang lain.

Liu Pang tidak memperhatikan lagi rombongan pelayan itu dan melanjutkan penyerbuannya ke arah gedung kepala daerah seperti yang ditunjukkan oleh pelayan tua tadi. Dan sekarang terjadi hal yang mengherankan. Perlawanan pasukan musuh tidaklah seketat tadi, bahkan kini mereka dapat maju sampai ke gedung gubernuran tanpa banyak halangan! Cepat Liu Pang memimpin pasukannya menyerbu ke dalam gedung, dan ter-nyata gedung itu sudah kosong. Seniua penghuni-nya agaknya telah kabur.

Bahkan para pelayan dan pengawalnya juga tidak ada lagi, gardu - gardu penjaga kosong. Para perwira pasukan asing yang katanya mondok di gedung itupun tidak nampak bayangannya. Sungguh aneh, bagaimana mereka mampu meloloskan diri dari gedung di kota yang sudah dikepung dan diserbu itu ? Apakah mereka mungkin melarikan diri dengan menyamar, lalu menjadi satu dengan rakyat yang berlari-larian dan mengungsi berbondong. - bondong itu ? Ti-ba - tiba dia teringat akan rombongan pelayan yang tadi ditabrak kudanya. Ah, kini dia teringat. Muka pelayan tua itu. Tidak pantas sebagai pelayan, mukanya terlalu putih dan gerakannya terlalu ha-lus. Dan pelayan tua itu diiringkan banyak sekali pelayan - yang membawa banyak buntalan pula. Ah, betapa bodohnya !

"Tolol sekali aku! Orang itu tentu gubernur dan para pengawalnya !" Cepat Liu Pang keluar dari gedung dan melarikan kudanya, pergi menyu-sul. Akan tetapi, ke manapun dia mencarinya, dia tidak berhasil menemukan rombongan gubernur yang mengungsi itu. Pintu gerbang terbuka lebar dan padat oleh para penghuni yang mengungsi keluar kota.

Menjelang senja, pertempuran berakhir. Sisa pasukan penjaga kota melarikan diri dan kota Lok-yang diduduki oleh Liu Pang. Tentu saja pasukan Liu Pang menjadi gembira dan besar hati oleh ke-menangan gemilang ini. Jenderal Lai juga melari-kan diri, dan banyak perwira yang tewas. Gui-ciangkun diterima sebagai pembantu Liu Pang dan pasukannya bergabung dengan induk pasukan besar dari pendekar itu yang kini menjadi semakin besar.

Pesta kemenangan dirayakan ! Dalam keadaan seperti itu, para perajurit makan minum sampai mabok dan mereka itu sama sekali lupa akan te-man - temannya yang gugur dalam pertempuran itu. Yang teringat hanyalah bahwa mereka masih hidup dan menang !

Di dalam pesta ini, Liu Pang lalu mulai meng-atur pasukannya. Dia berpikir bahwa kalau pa-sukannya yang semakin besar itu dibiarkan kacau tanpa peraturan, akhirnya dia sendiri yang tidak akan mampu mengendalikan. Kini sudah tiba saatnya pasukannya harus merupakan bala tentara yang teratur, dengan pembantu - pembantunya dijadikan perwira - perwira sesuai dengan kepandaian, jasa dan kedudukan masing - masing seperti dalam ketentaraan. Untuk menyusun peraturan-peraturan ini, tenaga Gui - ciangkun sangat ber-guna dan bersama Gui - ciangkun, Liu Pang mulai menyusun pasukannya dan pembantunya. Di da-lam benteng itu mereka telah menyita banyak se-kali pakaian dan kini para pembantu dibagi - bagi pakaian sesuai dengan kedudukan dan pangkat mereka yang ditentukan oleh Liu Pang. Suasana pesta menjadi gembira sekali.

Karena mereka itu sebagian besar, yaitu para pembantu utama, terdiri dari pendekar-pendekar yang ahli ilmu silat, maka pesta ini tak dapat di-hindarkan lagi lalu diramaikan dengan pertunjukan ilmu silat yang sekaligus menjadi arena pibu (mengadu kepandaian silat) secara persahabatan. Pibu diadakan karena Liu Pang ingin mengenal kepandaian para pembantu baru dan ingin me-milih pembantu - pembantu baru yang pandai.

Ho Pek Lian mewakili gurunya untuk bertin-dak sebagai penguji. Beberapa orang pimpinan pasukan maju, akan tetapi tidak ada seorangpun yang dapat mengalahkan Pek Lian. Bahkan bekas guru pertamanya sendiri, Ouw Kui Lam seorang di antara Huang - ho Su - hiap, tidak mampu menan-dinginya. Ilmu kepandaian Pek Lian memang su-dah cukup tinggi. Bukan saja dara ini telah me-warisi ilmu - ilmu dari empat pendekar Huang-ho Su - hiap dan kemudian dilatih ilmu pedang oleh Liu Pang sendiri, akan tetapi juga gadis ini selama ini telah digembleng oleh pengalaman-pengalam-an yang hebat, bertemu orang - orang pandai dan menerima petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh keturunan orang - orang sakti. Setelah melihat bahwa tidak ada lagi yang berani maju melawan-nya, Pek Lian hendak mundur dan mengaso. Akan tetapi tiba - tiba muncullah seorang pemuda yang berwajah tampan sekali, seorang pemuda yang keluar dari kelompok perajurit rendahan. Pakaian-nya amat sederhana, dari bahan yang murah, akan tetapi nampaknya rapi dan bersih. Pemuda ini agaknya tidak mau mempergunakan kesempatan dalam kemenangan itu untuk melucuti pakaian lawan dan memakainya, melainkan tetap menge-nakan pakaian biasa seorang petani.

"Harap nona sudi memberi petunjuk kepada-ku," katanya sederhana.

Pek Lian mengerutkan alisnya dan memandang heran. Di antara para pengikut pibu tadi, semua terdiri dari para pimpinan pasukan, tidak ada se-orangpun perajurit biasa yang berani maju. Pemuda ini jelas hanya seorang perajurit biasa saja. Hal ini sudah mengherankan, pula, ia merasa seperti per-nah melihat wajah tampan ini, akan tetapi ia lupa lagi kapan dan di mana. Bagaimanapun juga, pibu itu diadakan secara terbuka dan tanpa batas, maka siapapun juga yang maju haruslah dilayani.

Maka iapun tersenyum ramah dan melangkah kembali ke depan, ke tenglah ruangan indah itu, karena pertemuan pesta itu dilakukan di ruangan luas dari gedung gubernur yang lantainya marmar licin dan bersih. "Baiklah, silahkan maju," katanya sambil memasang kuda - kuda.

"Maafkan !" Pemuda itu lalu membuka serang-an. Gerakannya biasa saja, seenaknya dan seperti tidak bertenaga. Akan tetapi, ketika Pek Lian mengelak dan mulai membalas, diam - diam dara itu terkejut.

Serangannya dapat dipatahkan dengan amat mudahnya oleh pemuda perajurit rendahan ini! Tentu saja ia merasa penasaran dan mulailah ia memberi "isi" kepada serangan berikutnya. Akan tetapi sama saja, berturut - turut ia menyerang dan semua serangannya kandas tanpa hasil! Bahkan pemuda itupun membalas dengan serangan - se-rangan yang tidak kalah cepatnya. Ramai sekali perkelahian pibu itu sampai semua orang meman-dang dengan mata terbelalak. Terdengar pujian-pujian di sana - sini dan semua orang merasa ke-celik. Tak ada seorangpun mengira bahwa pemuda sederhana itu ternyata memiliki ilmu silat yang cukup lihai sehingga mampu menandingi Pek Lian sampai belasan jurus. Makin lama, makin kagum dan heranlah mereka karena yang belasan jurus itu akhirnya menjadi sampai puluhan jurus dan men-dekati seratus jurus akan tetapi pemuda itu belum juga terdesak, apa lagi kalah !

Ternyata permainan silat mereka nampak seimbang. Bahkan diam-diam Liu Pang yang memandang dengan penuh perhati-an juga dapat menduga bahwa pemuda itu tentu memiliki tenaga sinkang yang kuat dan bahwa pemuda itu sengaja mengalah terhadap Pek Lian dan tidak mengerahkan seluruh tenaganya. Seorang pemuda yang berkepandaian tinggi, pikirnya ka-gum.

Sementara itu, si pemuda tampan agaknya me-rasa sudah cukup menguji kepandaian dan dia sengaja memperlambat elakannya ketika tamparan tangan kiri Pek Lian menyambar ke arah kepalanya sehingga biarpun kepalanya tidak sampai terkena pukulan, akan tetapi bahu kanannya tertampar dan diapun terhuyung ke belakang. Cepat dia menjura kepada Pek Lian.

"Banyak terima kasih atas petunjuk nona!" Lalu diapun kembali ke tempat duduknya disam-but sorak - sorai para perajurit yang merasa kagum kepada rekan mereka yang muda namun lihai ini.

Akan tetapi sebelum pemuda itu tiba di tempat duduknya, nampak bayangan berkelebat dan ter-nyata Liu Pang telah berdiri di depannya dan pemimpin ini tersenyum.

"Aku merasa sangat kagum atas kepandaianmu, saudara muda. Tidak kusangka bahwa di antara rekan - rekan yang membantuku, terdapat seorang pendekar muda yang amat lihai. Nah, terimalah rasa kagumku dengan secawan arak!"

Liu Pang yang sudah membawa secawan arak itu lalu mem-berikan cawan penuh arak itu kepada si pemuda. Melihat betapa pemimpin besar ini menghormati-nya dengan secawan arak, wajah si pemuda men-jadi merah seketika karena girang, bangga dan juga terharu dan maluy Dan kenyataan bahwa Liu Pang dapat berkelebat cepat membawa secawan penuh arak tanpa tumpah, membuktikan betapa lihainya pemimpin ini.

"Terima kasih, sungguh merupakan kehormatan besar sekali bagi saya," pemuda itu menjawab dan menerima cawan arak itu. Akan tetapi, begitu ta-ngannya menyentuh cawan, dia terkejut bukan main karena terasa hawa panas dan tenaga kuat mendorongnya dari tangan Liu Pang! Tahulah dia bahwa pemimpin ini memang sengaja hendak mengujinya dengan tenaga sinkang. Pemuda itu tersenyum dan diapun melanjutkan gerakannya menerima cawan arak. Terjadi pertemuan dua tenaga sinkang dan akibatnya, cawan arak itu pin-dah ke tangan si pemuda akan tetapi keduanya tergetar dan mundur! Liu Pang mundur sampai tiga langkah sedangkan si pemuda mundur sampai empat langkah, akan tetapi arak itu sedikitpun ti-dak tumpah dari cawannya.

Liu Pang memandang kaget dan juga kagum. Tahulah dia bahwa pemuda ini benar-benar lihai bukan main, jauh lebih lihai dibandingkan dengan Pek Lian, bahkan dalam hal tenaga sinkang juga hampir dapat mengimbanginya!

"Maaf, siapakah guru saudara ? Bolehkah saya mengenal namanya yang mulia ?" tanya Liu Pang, sikapnya bukan sebagai pemimpin terhadap ba-wahan, melainkan sebagai seorang pendekar yang bertemu kawan baru yang sama lihainya.

"Harap Liu - bengcu sudi memaafkan saya. Sesungguhnya, saya terseret oleh kegembiraan pesta kemenangan ini sehingga lupa diri dan tadi lancang memasuki pibu. Bukan lain hanya untuk ikut bergembira. Akan tetapi saya hanyalah seo-rang perajurit pejuang, dan tentang asal - usul saya, harap bengcu sudi memberi kelonggaran dan ke-bebasan kepada saya untuk sementara ini tidak menceritakannya."

Ucapan itu dikeluarkan dengan nada sedih dan juga dengan sikap sopan, maka biarpun hatinya merasa penasaran sekali, Liu Pang tidak menjadi marah. Sementara itu, Pek Lian memandang tajam, mengingat-ingat di mana kiranya ia pernah ber-temu dengan pemuda ini, namun ia tetap tidak mampu mengingatnya.

Liu Pang merasa sangat terkesan hatinya oleh pemuda tampan itu. Maka pemuda itu langsung saja diangkat menjadi pembantu dekatnya, sebagai pengawal pribadi karena selain suka, diapun ingin benar mengetahui asal-usul pemuda aneh yang amat lihai ini. Dia menghadiahkan pakaian perwira karena pemuda itu diangkatnya sebagai ko-mandan pengawal, dan diberi hadiah sebatang pedang rampasan yang amat baik. Karena gembira dan didorong oleh kawan - kawannya, pemuda itu mengenakan pakaian perwira itu dan dia kelihatan semakin tampan dan gagah. Kini dia mendapat kehormatan untuk duduk di kursi para pembantu dekat Liu Pang dan pesta dilanjutkan dengan pe-nuh kegembiraan sampai pagi.

                                                                                     ***

Kita tinggalkan dulu mereka yang sedang me-rayakan pesta kemenangan di dalam kota Lok-yang yang baru mereka duduki itu dan mari kita meng-ikuti perjalanan Chu Seng Kun, Chu Bwee Hong, Kwa Siok Eng, dan A - hai.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, empat orang muda ini meninggalkan Pek Lian dan pasu-kan Liu Pang yang sedang menyusun kekuatan itu dan mereka berangkat menuju ke kota raja.

Mereka berempat itu tidak tahu bahwa gerak-gerik mereka semenjak meninggalkan pasukan Liu Pang telah diperhatikan orang. Mereka baru tahu akan bahaya setelah pada hari ke dua, ketika me-reka memasuki sebuah hutan yang sunyi, tiba-tiba terdengar suara nyaring dan muncullah tidak ku-rang dari tigapuluh orang dari balik pohon dan semak - semak, dan mereka berempat sudah dike-pung ! Para pengepung itu rata - rata memiliki ilmu silat yang tinggi, dan biarpun mereka itu berpakaian preman, namun gerakan mereka yang teratur itu membayangkan bahwa mereka adalah anggauta-anggauta pasukan yang terpimpin rapi. Dan me-mang tidak keliru karena mereka adalah pasukan pemerintah yang pilihan dan menyamar sebagai orang biasa. Pasukan seperti ini bertugas meng-gempur para pemberontak secara diam - diam dan kini mereka telah mengepung empat orang yang mereka tahu adalah anggauta - angauta pemberon-tak yang baru saja meninggalkan pasukan Liu Pang dan agaknya akan bertugas sebagai mata - mata.

"Pemberontak - pemberontak hina, menyerahlah sebelum, kami menggunakan kekerasan!" bentak seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi ku-rus. Mereka ini adalah pasukan khusus di bawah kekuasaan Jenderal Lai, merupakan pasukan pilih-an.

'Siapa pemberontak ?" A - hai balas memben-tak.

"Jangan menuduh orang sembarangan dan tentang hina itu, kiranya kalianlah yang hina kare-na menuduh orang dengan fitnah keji !"

Akan tetapi jawaban A - hai itu tidak diperduli-kan dan tigapuluh orang itu sudah menyerbu untuk menangkap mereka. Agaknya, melihat bahwa di antara empat orang itu terdapat dua orang dara yang begitu cantik - cantik dan manis - manis, me-reka itu berlumba untuk menangkap Bwee Hong dan Siok Eng sehingga Seng Kun dan A - hai tidak ada yang menyerang!

Bagaikan serombongan srigala menyerang dua ekor domba mereka menubruk ke arah Bwee Hong dan Siok Eng, dengan tangan terulur panjang, jari-jari tangan terbuka hendak mencengkeram daging lunak kulit mulus itu. Akan tetapi, segera terde-ngar teriakan - teriakan mereka ketika dua orang gadis itu menyambut serangan mereka dengan tamparan dan tendangan yang membuat sedikitnya ada lima orang terjungkal!

Tentu saja teman - temannya terkejut sekali dan pemimpin mereka yang tinggi kurus itu lalu me-ngeluarkan aba - aba, "Serang dan bunuh mereka ! Hati-hati, mereka ini lihai, gunakan senjata I"

Dan kini mereka menyerbu dengan senjata pe-dang atau golok! Mengamuklah Seng Kun, Bwee Hong, dan Siok Eng, sedangkan A - hai hanya ber-diri bengong saja sambil berkali - kali mencoba untuk melerai dengan kata - kata dan nasihat - na-sihat ! Masih untung bagi A - hai bahwa Seng Kun selalu menjaganya sehingga tidak ada seorangpun pengeroyok dapat mendekatinya. Dan tiga orang yang mengamuk itu adalah orang-orang muda keturunan orang - orang sakti yang telah memiliki ilmu kepandaian hebat, maka biarpun kepungan itu ketat, sampai puluhan jurus lewat, tiga orang muda itu masih belum dapat mereka lukai, apa lagi mereka merobohkan. Bagaimanapun juga, Seng Kun maklum bahwa mereka terancam bahaya. Ka-lau tidak ada A - hai di situ, mereka bertiga tentu dapat melarikan diri.

Tiba - tiba tercium bau asap hio yang keras dan lima orang pengeroyok roboh dengan mata men-delik dan dari lubang pori- pori di tubuh mereka nampak bintik - bintik darah ! Itulah pukulan sakti dari Tai - bong - pai dan melihat ini, Seng Kun berseru, "Nona Kwa, jangan bunuh orang !!"

Dia merasa ngeri membayangkan betapa dara yang amat cantik dan sikapnya juga halus ini dapat membunuh orang secara demikian kejinya, walau pun dia tahu bahwa memang gadis itu adalah pu-teri ketua Tai-bong-pai yang tentu saja mewarisi ilmu - ilmu yang sakti dan keji dari Tai - bong - pai.

"Tidak, taihiap, bukan aku "

Bau asap hio semakin keras dan kembali ada lima orang pengeroyok yang roboh dan mati mendelik seperti lima orang pertama. Melihat ini, para pengeroyok terkejut sekali dan pemimpin mereka agaknya sudah mendengar akan ilmu ke-saktian ini.

Dia berteriak ketakutan, "Iblis - iblis Tai - bong - pai datang ! Lari !" Dan larilah mereka tunggang-langgang, meninggalkan mayat sepuluh orang kawan mereka itu.

Terdengar suara ketawa halus dan muncullah seorang nenek berusia limapuluh tahun lebih yang cantik, berpakaian serba putih sederhana.

"Ibu !" Kwa Siok Eng cepat merangkul wanita itu yang ternyata adalah Kwa-hujin (nyo-nya Kwa) isteri ketua Tai - bong - pai.

"Anak nakal, baru sekarang engkau pulang? Ah, kiranya engkau bersama dengan kedua orang penolong kita dan penyelamat nyawamu ? Bu-kongcu, Bu - siocia, selamat bertemu !" Nyonya itu menyapa halus kepada Seng Kun dan Bwee Hong. Dua orang muda yang kini shenya sudah berganti menjadi Chu itu tidak membantah dan cepat maju memberi hormat kepada nyonya yang lihai itu.

"Bibi datang menyelamatkan kami, terima ka-sih," kata Seng Kun dan Bwee Hong juga memberi hormat.

"Ilmu bibi sungguh sadis sekali! Membunuh orang begitu mudah dan mengerikan! Aih, sungguh merupakan ilmu siluman !" A - hai berkata sambil bergidik ngeri.

Nyonya Kwa mengerutkan alisnya dan perlahan - lahan menoleh ke arah A - hai, kedua tangannya menegang. Ada orang berani mencela seperti itu, berarti harus mati! Kwa Siok Eng dapat melihat sikap ibunya ini, maka ia mempererat rangkulannya dan berbisik, bisikan halus yang hanya terdengar oleh ibunya saja, "Ibu, dia seorang sahabat baik, hanya otaknya agak miring. Harap ibu maafkan "

Nyonya itu terbelalak lalu menarik napas pan-jang. Heran ia mengapa puterinya dan dua orang penolong itu mau saja bersahabat dengan seorang gila! Akan tetapi iapun tidak mau lagi memper-dulikan pemuda itu dan ia segera menegur puteri-nya, "Sampai begitu lama engkau tidak pulang, juga kakakmu pergi tanpa memberi tahu. Engkau hendak pergi ke manakah bersama kedua orang penolong ini ?"

"In-kong hendak ke kota raja dan aku ikut ke sana, kemudian dia hendak mengantar aku pulang, ibu," jawab Siok Eng.

"Hemm, negara sedang kalut, suasana sedang kacau dan berbahaya begini, lebih baik engkau ikut bersamaku lekas pulang. Ayahmu sudah ma-rah - marah terus."

"Tapi, ibu "

Seng Kun merasa tidak enak. "Nona Kwa, se-baiknya kalau nona ikut ibu nona pulang lebih dulu."

"Tapi tapi bukankah in - kong mau singgah di tempat kami ?" Nada suara gadis itu kecewa bukan main.

"Baiklah, setelah urusanku selesai, aku akan menyediakan waktu untuk berkunjung."

Wajah yang manis itu berseri. "Harap in-kong jangan melanggar janji. Aku sudah menjelaskan jalan menuju ke Tai - bong - pai. Aku akan menanti - nanti siang malam, in - kong, jangan lupa "

"Baiklah."

Mereka lalu berpisah. Gadis Tai - bong - pai itu dan ibunya lalu berangkat, diantar oleh belasan orang Tai - bong - pai yang muncul seperti setan saja, tanpa suara, tanpa mengatakan sesuatu dan gerakan mereka mengerikan dan penuh rahasia.

A - hai bergidik. "Ihh ! Tak sangka bahwa nona Kwa punya ibu seperti iblis ! Dan para pengikutnya itu. Baunya dupa lagi. Ih, seperti sekumpulan arwah - arwah saja."

Seng Kun tersenyum. "Sudahlah, saudara A-hai, mari kita lanjutkan perjalanan kita."

"Nanti dulu ! Apakah sepuluh mayat itu dibi-arkan begitu saja ? Kita harus mengubur mereka lebih dulu !"

Diam - diam Seng Kun dan Bwee Hong saling pandang dengan kagum. Biarpun gila, sinting atau tolol, pemuda ini sungguh masih memiliki budi yang luhur. "Jangan sentuh mereka itu, saudara A - hai. Tubuh mereka telah keracunan dan me-nyentuh mereka saja dapat membuat kita kehi-langan nyawa. Nanti tentu teman-temannya akan datang dan mengurus mayat mereka ini. Mari kita pergi sebelum teman - teman mereka ini datang dan mengganggu kita lagi."

A - hai terpaksa ikut pergi sambil menggeleng-geleng kepala- "Ilmu setan, dunia kejam dan gila, semua manusia kejam dan gila !" Dia mengomel terus seolah - olah dia lupa bahwa dia juga manusia dan berada di dunia yang sama.

Kini mengertilah Seng Kun bahwa perjalanan menuju ke kota raja itu bukan merupakan perjalan-an yang aman. Banyak halangan di sepanjang ja-lan, terutama sekali mereka harus dapat menghin-dari pertemuan dengan pasukan kepala daerah yang bersekongkol dengan pasukan asing, dan jangan sampai diketahui oleh mata - mata mereka yang agaknya telah disebar di mana - mana. Ketika me-reka melanjutkan perjalanan, nampak jelas penga-ruh dan akibat dari perang. Dusun-dusun sepi ditinggalkan penghuninya yang pergi mengungsi jauh ke selatan. Bahkan kota - kota kecil yang tadi-nya ramai kini nampak sunyi karena para pe-dagang tidak berani berdagang. Sawah ladang tidak terpelihara, ditinggalkan begitu saja oleh para petani yang pergi mengungsi. Semenjak jaman da-hulu sebelum sejarah sampai jaman kapanpun, selama manusia belum sadar, perang masih akan selalu timbul. Perang merupakan puncak kebuda-yaan merusak dari manusia. Perang adalah keji dan kejam, apapun yang menjadi dalih dan alasannya bagi yang membela dan mempertahankannya.

Perang merupakan puncak adanya konflik lahir yang timbul dari kebencian, dan sebab adanya konflik lahir sesungguhnya didasari oleh adanya konflik batin dalam diri sendiri, diri setiap orang manusia. Karena itu, selama konflik batin dalam diri kita masing - masing belum musnah, jangan harap konflik lahir akan berhenti dan jangan mengharap pula karenanya perang akan lenyap dari permukaan bumi.

 Karena tidak ingin bertemu dengan pasukan-kepada kaisar, kalau ada, ataupun pasukan para penguasa setempat yang bersekongkol dengan pa sukan asing, maka Seng Kun mengajak adik dan temannya itu untuk mengambil jalan liar, masuk keluar hutan, kadang-kadang melewati lorong-lo-rong kecil bahkan jalan - jalan setapak. Seng Kun ingin sekali segera sampai di kota raja di mana dia akan cepat menghadap kaisar dan menceritakan segala-galanya agar jangan sampai kesalahpahaman antara beberapa kekuatan itu terpecah - belah dan mengakibatkan perang saudara yang menghancur-kan.

Karena diapun maklum bahwa apa bila pasu-kan yang mendukung Liu Pang itu bentrok dengan pasukan penguasa daerah dibantu oleh pasukan pemerintah pusat, hal itu tentu akan berarti kehan-curan. Di daerah barat dan utara saja pasukan pe-merintah sudah sibuk menghadapi pemberontakan Chu Siang Yu yang semakin kuat. Kalau Liu Pang dan pasukannya dapat berbaik kembali dengan pe-merintah pusat dan dipercaya untuk menumpas pasukan asing dan mereka yang bersekongkol, mungkin pemerintah dapat diselamatkan.

Pada suatu siang ketika mereka keluar dari sebuah hutan besar, dari jauh nampak berbondong-bondong pengungsi berlari - lari hendak menyelamatkan diri ke dalam hutan besar. Melihat ini, Seng Kun segera menghampiri mereka dan men-cari keterangan apa yang telah dan sedang terjadi.

"Pasukan setempat bersama pasukan dari kota raja sedang mengadakan pembersihan besar-besar-an. Para pendekar dan siapa saja yang bisa silat ditangkapi. Orang yang menyimpan senjatapun, senjata pusaka keturunan nenek moyang, juga di-tangkap dan mereka semua dituduh sebagai anak buah Liu - bengcu," demikian seorang di antara para pengungsi memberi keterangan.

Seng Kun mengerutkan alisnya. Apa yang di-khawatirkannya telah terbukti. Agaknya pemerin-tah pusat telah terkena hasutan para penguasa se-tempat dan memusuhi Liu Pang.

"Siapakah panglima yang memimpin pasukan dari kota raja itu, lopek ?" tanyanya.

"Orang - orang menyebutnya Lai - goanswe."

Mendengar ini, Seng Kun cepat mengajak Bwee Hong dan A - hai menyingkir. "Lai - goanswe ada-lah tangan kanan Jenderal Beng Tian. Celaka, kita benar terlambat. Kelihatannya pemerintah pusat sudah termakan hasutan para penguasa daerah yang memutarbalikkan fakta sehingga kini pasu-kan Liu-bengcu benar - benar dianggap sebagai pemberontak. Kaisar kini malah membantu para penguasa yang sesungguhnya hendak berkhianat dan bersekongkol dengan pasukan asing untuk menentang Liu - bengcu"

"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang ?" tanya adiknya.

"Aku harus cepat dapat menemui Lai-goanswe sendirian. Akan kuperingatkan dia tentang perse-kongkolan antara para penguasa setempat dengan para pasukan asing itu," kata Seng Kim dengan tegas. Kemudian dia menoleh kepada A-hai yang sejak tadi hanya mendengarkan dengan sikap orang yang tidak mengerti.

"Saudara A - hai, sungguh aku merasa menyesal sekali mengingat akan kepentinganmu. Karena keadaan yang serba kacau ini, maka maksud kami berdua untuk berusaha mengobati penyakitmu yang sering bingung itu menjadi terlantar. Pada-hal, sekarang ini kami harus sering kali terjun ke dalam tempat-tempat berbahaya dan keselamatan kami sendiri terancam dalam usaha kami menjer-nihkan suasana. Apakah tidak lebih baik kalau saudara mencari tempat yang aman dulu untuk bersembunyi, dan besok kalau sudah aman, kalau urusan kami sudah selesai, kami pasti akan mencarimu "

"Ehhh ??" A-hai kelihatan terkejut dan tiba - tiba saja, sepasang mata yang tadinya nampak ketololan itu kini berkilat tajam, lalu meredup kembali ketika matanya bentrok dengan pandang mata Bwee Hong. Seng Kun menjadi gelisah juga. Jangan - jangan si sinting ini kambuh. Bisa berabe kalau begitu.

"Tidak ! Kalau kalian berdua memperbolehkan, aku akan tetap mengikuti kalian, ke manapun kalian pergi. Bersama kalian, aku merasa kuat dan mempunyai harapan. Selama ini aku hidup dalam kegelapan. Aku tidak tahu harus berbuat apa dan akan ke mana. Siapa adanya aku ini sebenarnya, akupun tidak tahu " Suara pemuda itu mengandung duka, pandang matanya menatap wajah Bwee Hong dengan penuh permohonan.

Bwee Hong merasa kasihan sekali dan iapun menarik napas panjang. "Koko, biarlah dia ikut bersama kita," katanya lirih.

Seng Kun juga menghela napas panjang dan sesungguhnya, tanpa diminta adiknyapun dia me-rasa tidak tega untuk meninggalkan A - hai begitu saja, terutama sekali karena memang hatinya sudah amat tertarik untuk berusaha menyembuhkan pe-muda yang luar biasa ini. "Baiklah kalau begitu, baik buruk dan suka dukanya kita hadapi bertiga"

A-hai girang bukan main, wajahnya yang tampan gagah itu berseri dan matanya berkilat. Sejenak lenyaplah sinar ketololan dari pandang matanya.

"Terima kasih , terima kasih , hatiku girang sekali, kalian baik sekali!"

Karena khawatir kalau - kalau pemuda itu akan menari-nari sehingga menarik perhatian banyak orang, Seng Kun lalu mengajak Bwee Hong dan A-hai melanjutkan perjalanan. Para pengungsi me-mandang heran dan juga khawatir melihat tiga orang muda itu menuju ke arah yang baru saja mereka tinggalkan. Sungguh bodoh bepergian ke tempat yang tidak aman itu, pikir mereka, apa lagi kalau mengajak seorang gadis yang demikian can-tiknya. Mencari penyakit saja !

Tiga orang muda itu melanjutkan perjalanan. Ketika mereka tiba di luar sebuah dusun di kaki bukit, tak nampak seorangpun. Agaknya semua orang telah pergi mengungsi. Akan tetapi ketika mereka mendekati pintu dusun, terdengar suara hiruk - pikuk orang - orang berkelahi. Cepat mere-ka menghampiri dan ternyata ada belasan orang laki - laki yang pakaiannya seperti para ahli silat sedang dikepung dan dikeroyok oleh hampir lima-puluh orang perajurit. Para pendekar terdesak hebat dan melihat keadaan ini, tanpa ragu - ragu lagi Seng Kun dan Bwee Hong lalu turun tangan membantu para pendekar. A-hai hanya menonton saja dari jauh. Masuknya kakak beradik yang amat lihai ini segera merobah keadaan. Pengeroyokan para perajurit kacau - balau dan para pendekar itu dapat melawan dengan baik.

"Kita lari ! Kembali ke atas!" teriak seorang di antara mereka. Dengan bantuan yang amat kuat dari Seng Kun dan Bwee Hong, belasan orang itu akhirnya dapat lolos dari kepungan dan melarikan diri ke arah bukit. Seng Kun sudah menarik tangan A -hai dan bersama adiknya, diapun terpaksa melarikan diri bersama belasan orang itu karena me-reka menjadi buruan para perajurit. Akan tetapi, melihat kelihaian Seng Kun dan Bwee Hong, para perajurit itu tidak berani mengejar terlalu dekat, hanya membayangi dari jauh saja.

Ketika belasan orang pendekar itu bersama Seng Kun, Bwee Hong, dan A - hai tiba di puncak bukit, ternyata di situ terdapat puluhan orang pendekar. Jumlah mereka seluruhnya ada limapuluh orang dan mereka ini adalah pendekar - pendekar daerah itu yang bergabung menjadi suatu kelompok untuk menentang pasukan pemerintah yang mereka tahu diselewengkan oleh pemimpin mereka untuk me-lawan pemerintah dan bersekongkol dengan orang-orang Mongol. Para pendekar ini dipimpin oleh seorang muda yang gagah perkasa, seorang pemuda yang pakaiannya serba putih dan di punggungnya nampak sepasang pedang. Usia pemuda ini kurang lebih tigapuluh tahun, tubuhnya tinggi besar dan sikapnya jujur terbuka.

Pemuda ini sebenarnya bukan pendekar daerah itu, melainkan seorang pendekar pendatang yang kebetulan merantau di tempat itu dan karena dia memiliki kepandaian tinggi, maka oleh para pendekar diapun diangkat menjadi pimpinan. Dia bernama Kwan Hok dan tentu saja dia lihai karena pemuda ini adalah seo-rang di antara murid-murid Yap-lojin ketua Thian kiam - pang ! Kwan Hok ini masih adik kandung dari mendiang Kwan Tek, murid ke dua dari ketua
Thian-kiam-pang yang telah tewas di tangan kaki tangan Raja Kelelawar.

Sebagai pimpinan kelompok pendekar itu, sete-lah menerima laporan dari teman-temannya, Kwau Hok menyambut Seng Kun, Bwee Hong, dan A-hai dengan hormat dan ramah.

"Terima kasih atas bantuan sam - wi yang gagah," katanya. "Sehingga teman - teman kami dapat lolos dari kepungan pa-sukan."

A - hai cepat mengangkat tangannya dan meng-goyangnya berkali-kali di atas. "Tidak, aku tidak masuk hitungan, karena aku hanya nonton saja !"

Kwan Hok memandang heran, akan tetapi ka-rena pemuda tampan yang menyangkal bantuannya itu datang sebagai kawan dari Seng Kun dan Bwee Hong, dia tetap saja bersikap ramah dan hormat.
Mereka lalu berkenalan dan Seng Kun bersama adiknya dan A - hai menerima jamuan para pende-kar itu dengan gembira, Setelah selesai makan minum, Seng Kun lalu minta diri. "Kami bertiga hanya kebetulan saja lewat di sini. Kami tidak dapat berdiam terlalu lama di. sini dan kami akan melanjutkan perjalanan sekarang juga."

Kwan Hok dan teman - temannya nampak ke-cewa. Bantuan dua orang yang demikian lihai itu amat menguntungkan bagi perjuangan mereka. "Ah, mengapa sam-wi tergesa-gesa? Sam-wi adalah tiga orang gagah, kalau tidak pada saat seperti sekarang ini menyumbangkan tenaga demi nusa dan bangsa, lalu kapan lagi ? Marilah sam-wi ikut bersama kami, bersama berjuang demi nusa bangsa!"

Para penguasa daerah berkhianat dan bersekutu dengan orang - orang asing, mem-persiapkan pemberontakan atau ingin berdiri sen-diri di daerah masing - masing. Rakyat terancam perang saudara yang besar, ban dalam kemelut ini, muncul seorang bengcu yang memimpin para pendekar di seluruh negeri untuk mengatasi kea-daan. Maka kamipun berniat untuk menggabung-kan diri dengan pasukan besar pemimpin rakyat itu," jawab Kwan Hok.

"Kaumaksudkan L.iu - bengcu ?" tanya A-hai. Pemuda ini dapat mengingat orang - orang yang baru dikenalnya dalam keadaan waras, walaupun dia lupa sama sekali akan masa lalunya.

"Ah, jadi sam-wi sudah mengenal Liu-bengcu?" tanya Kwan Hok girang dan semua pendekar me-mandang lebih hormat lagi kepada tiga orang tamu mereka itu.

"Tentu saja kami mengenal baik karena kami pun baru saja berpisah dari pasukan Liu-bengcu," kata Seng Kun sejujurnya.

Pada saat itu terdengar bunyi terompet dan seorang pendekar tergopoh masuk melaporkan bah-wa bukit itu telah dikepung oleh pasukan yang besar jumlahnya- Sedikitnya ada limaratus orang pasukan mengepung bukit itu !

Mendengar laporan ini, Kwan Hok segera me-lakukan pemeriksaan, diikuti pula oleh tiga orang tamunya. Bukit itu merupakan tempat pertahanan yang amat baik. Tidak ada jalan naik ke puncak kecuali melalui lorong yang sempit dan terjal. Pun-cak bukit itu dikelilingi jurang yang tidak mungkin dapat dicapai kecuali melalui lorong itu. Sebuah lorong terjal sempit yang kanan kirinya diapit te-bing.

Hanya seekor kuda atau paling banyak tiga orang dapat melalui lorong ini secara bersama. Dan tentu saja mudah bagi para pendekar untuk meng-halang serbuan dari luar, yaitu dengan jalan men-jaga lorong ini dari atas kedua tebing. Dengan anak panah atau bahkan dengan melemparkan ba-tu - batu saja, tak mungkin musuh dapat menyerbu masuk. Sebelum melewati lorong yang panjangnya ada limapuluh meter itu mereka tentu sudah tertim-bun batu dari atas.

Dari atas tebing itu, Kwan Hok dan teman-te-mannya dapat melihat pasukan yang mengepung bukit. Dia lalu mengatur penjagaan. Batu - batu dan anak panah dipersiapkan dan para pendekar siap untuk menghujankan anak panah atau batu-batuan ke bawah apa bila ada perajurit berani mencoba untuk melalui lorong. Setelah mengatur penjagaan dan memerintahkan teman-teman untuk berjaga secara bergilir, Kwan Hok mengajak tiga orang tamunya turun ke bawah tebing dan dia lalu mengumpulkan sisa teman - temannya yang tidak sedang tugas berjaga untuk mengadakan ra-pat. Rapat diadakan di tempat terbuka, di lapangan puncak itu, di depan pondok - pondok kecil mereka.

Seng Kun, Bwee Hong, dan A - hai yang oto-matis telah diterima sebagai segolongan atau bah-kan kawan seperjuangjan, juga ikut menghadiri ra-pat itu. Bahkan dengan jujur Kwan Hok minta nasihat mereka karena menganggap bahwa mereka yang sudah mengenal Liu - bengcu ini tentu se-dikit banyak dapat membantunya mengatur siasat.

"Kita berkekuatan limapuluh tiga orang," Kwan Hok berkata, lebih banyak ditujukan kepada tiga orang tamunya dari pada kawan - kawannya wa-laupun mereka semua berkumpul dan mendengar-kan.

"Sedangkan menurut taksiranku, jumlah pa-sukan yang mengepung bukit ini ada enamratus
orang. Kita harus mencari siasat yang baik untuk dapat meloloskan diri dari kepungan yang berba-haya ini"

"Kulihat tempat ini amat baik untuk bertahan. Betapapun kuatnya dan besarnya jumlah pasukan musuh, kalau jalan masuk hanya melalui satu lorong sempit itu, sampai bagaimanapun mereka tidak mungkin dapat menyerbu naik ke puncak. Akan tetapi, kalau mereka terus mengepung, kitapun tidak dapat keluar dan kita dapat menjadi kehausan atau kelaparan !" kata Bwee Hong.

"Pendapat nona memang benar sekali. Karena baiknya tempat pertahanan ini, maka kami sengaja memilihnya sebagai markas kami. Tentang mi-numan, tidak perlu kita khawatir karena di bela-kang puncak terdapat sumber air. Akan tetapi mengenai makanan, kami hanya mempunyai per-sediaan untuk dua tiga hari saja."

"Bagaimana kalau kita mengajak damai saja? Aku sudah bosan dengan perang dan bunuh-mem-bunuh ini!"

Tiba - tiba A - hai berkata dan semua orang memandang dengan mata terbelalak. Akan tetapi agaknya Kwan Hok sudah dapat menduga bahwa tamu yang satu ini memang aneh sekali wataknya. Dan sebagai murid Yap-lojin ketua Thian - kiam - pang, tentu saja diapun tidak mera-sa heran karena di dunia kang - ouw, di antara orang - orang sakti, banyak memang yang berwatak aneh - aneh.

"Yang memulai dengan kekerasan adalah me-reka, mengajak mereka berdamai sama dengan mengajak srigala - srigala kelaparan untuk berda-mai," kata Kwan Hok.

"Bagaimana kalau kita serbu saja keluar malam ini ? Biar kita akan jatuh banyak korban, akan te-tapi kitapun dapat membunuh mereka sebanyak-nya dan tentu ada sebagian dari kita yang dapat lolos !" kata seorang pendekar penuh semangat.

"Musuh terlalu kuat, perbandingannya satu lawan sepuluh. Itu hanya akan menjadi bunuh diri yang sia - sia belaka," kata Kwan Hok tidak setu-ju.

Kemudian dia teringat sesuatu dan menarik napas panjang penuh penyesalan. "Sayang, kalau suteku berada di sini, tentu dia akan dapat men-cari akal. Dia cerdik sekali dan selalu mempunyai akal yang baik."

"Siapakah sutemu itu ?" tanya Seng Kun.

"Dia putera guruku sendiri."
"Dan siapakah gurumu ?"

"Guruku adalah ketua Thian - kiam - pang "

"Ahh !!" seru Bwee Hong dan Seng Kun hampir berbareng dan dara itu melanjutkan, "Ki-ranya saudara adalah murid dari Yap - pangcu ? Sungguh pertemuan yang menggembirakan sekali"

"Nona mengenal suhu?"

"Bukan hanya mengenal lagi, akan tetapi beliau pernah menyelamatkan aku di lautan, bahkan kami pernah bersama - sama mengalami hal - hal yang mengerikan di Ban - kwi - to !" jawab Bwee Hong.

Tentu saja Kwan Hok merasa semakin girang dan semakin dekat dengan tiga orang tamunya setelah dia mendengar bahwa tiga orang tamunya ini ber-sahabat baik dengan gurunya.

"Sebaiknya kita mencari siasat. Mari kita tinjau keadaan puncak, siapa tahu ada jalan baik bagi kita untuk lolos," kata Seng Kun.

"Baiklah, akupun ingin memeriksa lagi perse-diaan pangan kita," jawab Kwan Hok. Lalu ber-sama tiga orang tamunya, Kwan Hok pergi ke be-lakang puncak, menyuruh kawan - kawannya tetap melakukan penjagaan secara bergilir dan jangan sembarangan bergerak sebelum menerima petun-juknya, kecuali para penjaga lorong di atas kedua tebing yang sudah mendapat perintah untuk turun tangan mencegah apa bila ada pihak musuh yang berani mencoba untuk memasuki lorong.

Mereka berempat lalu menuju ke belakang pun-cak. Setelah melakukan pemeriksaan sendiri, Seng Kun dan Bwee Hong terpaksa membenarkan pen-dapat Kwan Hok bahwa tidak ada jalan lain bagi para pendekar untuk meloloskan diri. Hanya ada dua pilihan, yaitu menyerbu keluar lewat lorong dan melawan mati - matian, atau bertahan di situ sampai mereka tidak kuat lagi karena kelaparan !

"Hemm, agaknya sekarang banyaknya persedia-an pangan menjadi soal terpenting!" kata Seng Kun.

"Demikian pula perhitunganku," jawab Kwan Hok. "Mari kita memeriksa persediaan pangan itu. Kami sembunyikan di dalam sebuah gua di bawah tanah agar aman dan tidak sampai terbakar apa bila musuh menggunakan panah api untuk mem-bakar markas kami."

Di belakang puncak itu terdapat sebuah gua yang tertutup oleh batu besar sekali. Dibutuhkan tenaga sepuluh orang untuk memindahkan batu itu. Akan tetapi, mereka bertiga, dibantu oleh A - hai yang tanpa disadarinya sendiri memiliki tenaga melebihi sepuluh orang, berhasil mendorong batu itu ke pinggir. Hal ini amat mengagumkan hati Kwan Hok dan dia makin merasa yakin bahwa tiga orang tamunya itu, termasuk pemuda ketolol - to-lolan, adalah orang - orang muda yang berilmu tinggi. Setelah batu besar itu tergeser, nampaklah sebuah mulut gua yang besarnya hanya cukup di-masuki dua orang. Akan tetapi ketika mereka su-dah masuk, nampak jalan menurun dan ternyata gua itu menembus ke bawah tanah, di mana ter-dapat sebuah ruangan yang luas juga, dapat me-muat seratus orang lebih!

Yang amat menyenang-kan, di sudut kiri gua itu terdapat lubang-lubang besar dari mana hawa dapat keluar masuk, dan lubang - lubang ini berada di lambung tebing se-hingga tidak dapat dicapai oleh orang luar, juga tidak nampak dari puncak karena terhalang tebing. Hanya burung - burung sajalah kiranya yang dapat memasuki gua bawah tanah itu dari lubang - lu-bang yang merupakan jendela - jendela buatan alam itu. Bersama hawa, masuk pula sinar matahari yang membuat gua itu cukup terang.

Tepat seperti yang diperhitungkan oleh Kwan Hok, persediaan gandum dan sayur kering hanya cukup untuk dua tiga hari saja, atau paling lama lima hari kalau dihemat sekali. Akan tetapi Seng Kun tidak memperhatikan persediaan itu, melain-kan termenung dan termangu - mangu sehingga Bwee Hong menegurnya.
"Koko, ada apakah ?"

"Aku ada akal !" Tiba-tiba Seng Kun berkata dan wajahnya berseri.

"Ah, bagus sekali. Akal yang bagaimana ?" ta-nya Kwan Hok.

"Gua ini cukup luas untuk menjadi tempat per-sembunyian kita semua, dan hawa udaranyapun cukup. Kita biarkan musuh mengira kita kelaparan dan kita masuk ke dalam guha ini, lalu menutupnya dengan batu. Di depan batu dan di atasnya kita tumpuki kayu - kayu bakar yang banyak sekali, ke-mudian kita bakar dan kita meninggalkan pakaian atas kita di antara kayu-kayu bakar itu sehingga menimbulkan dugaan bahwa para pendekar, karena kelaparan dan tidak mampu melawan lagi, telah membunuh diri. Bukankah hal itu patut dilakukan oleh para pendekar yang tidak sudi ditawan dan lebih baik mati membakar diri beramal - ramai se-telah tiada tenaga lagi untuk melawan ?"

Kwan Hok terbelalak. Akal yang aneh sekali, akan tetapi setelah dipikir - pikir, merupakan siasat yang baik juga. Memang andaikata mereka semua kelaparan dan tiada tenaga untuk melawan, apakah mereka akan membiarkan menjadi orang - orang tawanan ? Masuk di akal pula siasat membunuh diri beramai - ramai dengan membakar diri itu.

"Akan tetapi untuk melakukan pembakaran ka-yu - kayu itu harus ada seorang yang tinggal di luar gua!" kata Bwee Hong.

"Benar !" sambung Kwan Hok. "Bagaimana hal itu dapat dilakukan dan siapa yang akan tinggal di luar ?"

"Memang kenyataannya begitu. Harus ada se-orang yang berani berkorban demi keselamatan kawan - kawannya, dan tinggal di luar untuk mem-bakar kayu - kayu itu dan untuk memberi keterang-an kepada musuh kabur dia ditawan bahwa para pendekar telah membunuh diri semua," jawab Seng Kun. "Kurasa ini jauh lebih baik dari pada bertahan sampai kelaparan atau membunuh diri dengan jalan menyerbu dengan nekat melalui lo-rong. Hanya ada dua kemungkinan, yaitu kalau musuh percaya, tentu mereka meninggalkan tem-pat ini dan kita selamat. Andaikata musuh tidak percaya dan berhasil menemukan guha itu, masih belum terlambat bagi kita untuk menyerbu keluar dan melawan mati - matian, membuka jalan darah berusaha lolos."

"Bagus sekali!" Kwan Hok kini memandang dengan wajah berseri gembira. "Tentang orang yang mau mengorbankan diri dan tinggal di luar, kurasa banyak yang mau melakukannya, bahkan aku sen-diripun, tidak ragu - ragu untuk melakukannya. Mari kita jumpai kawan-kawan dan merunding-kan akal baik ini !"

Dari fihak pasukan pemerintah daerah, bukan tidak ada usaha untuk menyerbu naik ke puncak bukit. Akan tetapi karena jalan naik hanya mela-lui lorong, setelah beberapa kali mereka mencoba untuk menyerbu dan selalu disambut hujan anak panah dan batu yang menewaskan beberapa orang perajurit, mereka tidak lagi berahi mencoba.

Bersambung

Darah Pendekar 27                                                              Darah Pendekar 29