Selasa, 28 Mei 2013

DARAH PENDEKAR 27

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Bab 27
"Blaarrrr !" Sebongkah batu karang besar pecah berantakan dan terguling!
"Bukan main ! Itu agaknya Thai – lek Pek - kong - ciang !" kata Seng Kun dengan takjub. Dia pernah mendengar cerita dari Bu Kek Siang tentang ilmu pukulan mujijat itu akan tetapi belum pernah menyaksikannya. Dan kalau sekarang pemuda sinting itu mampu melakukan ilmu pukulan mujijat itu sedemikian baiknya, maka asal - usul pemuda itu sungguh menjadi semakin menarik dan penuh rahasia.
Pek Lian yang maklum bahwa kalau dibiarkan berlarut-larut, keadaan A-hai bisa berbahaya, lalu menggandeng tangan Bwee Hong dan mende-kati pemuda itu. Keduanya membujuk, "A - hai, lihatlah kami... jangan mengamuk lagi, jangan berkelahi lagi, sudah tidak ada musuh yang harus dilawan !"
A-hai menghentikan permainan silatnya, memandang kosong kepada dua orang dara itu dan nampak bingung. "Jangan berkelahi..... jangan membunuh..... ahhh.. Pek Lian..... Bwee Hong, jangan berkelahi..." Dan diapun menjatuhkan diri berlutut dan tubuhnya menjadi lemas.
Mereka lalu kembali ke kota Yen - tai dan di-sambut oleh Liu Pang sendiri yang memuji mereka sebagai orang-orang yang telah berhasil menunai-kan tugas penting. "Kita harus terus melakukan pengejaran dan menyerbu kota Yen - kin, menang-kap gubernur yang bersekutu dengan pasukan asing itu," katanya dan merekapun bersiap-siap. Ke-menangan Liu Pang dan pasukannya ini disambut gembira oleh rakyat dan banyaklah rakyat di sekitar daerah itu yang berdatangan dan masuk menjadi anggauta suka rela! Bahkan banyak pula bekas-bekas perajurit pasukan pemerintah yang menye-berang dan membantu gerakan Liu Pang yang hendak melakukan pembersihan terhadap para pengkhianat dan pasukan asing.
Pada kesokan harinya, Liu Pang memimpin pa-sukannya yang menjadi semakin besar jumlahnya itu menuju ke Yen - kin. Chu Seng Kun dan Chu Bwee Hong ikut membantu karena kakak beradik ini maklum bahwa gerakan Liu Pang itu adalah untuk membantu pemerintah menghancurkan para pengkhianat yang hendak memberontak dan yang bersekutu dengan pasukan asing.
Di sepanjang perjalanan menuju ke Yen - kin, berbondong-bondong rakyat dan perajurit kerajaan yang menyeberang menyambut dan masuk pula menjadi sukarelawan untuk mengusir pasukan asing dan menghajar pasukan pemerintah yang hendak memberontak dan berkhianat. Apa lagi karena semua orang mendengar bahwa Liu Pang adalah seorang pemimpin rakyat yang sejati, yang datang dari kalangan rakyat petani. Demikian banyaknya rakyat mendukung sehingga jumlah pasukan itu setelah tiba di Yen - kin sudah mencapai hampir sepuluh ribu orang !
Ternyata Gubernur Ci yang berkuasa di propinsi bagian timur (sekarang Shan-tung) itu telah me-nerima pelaporan kepala daerah Yen - tai dan sudah bersiap-siap dengan pasukannya, dibantu pula oleh pasukan asing yang dipimpin oleh Malisang, raksasa peranakan Mongol itu. Juga ada pula pa-sukan yang menjadi anak buah pemberontak Chu Siang Yu, yang dibantu oleh Kwa Sun Tek tokoh Tai - bong - pai bersama anak buahnya, yaitu ang-gauta - anggauta Tai-bong-pai yang dibawa me-nyeleweng oleh Kwa Sun Tek, bersekutu dengan para pemberontak untuk mencari kedudukan. Gu-bernur Ci merasa yakin akan dapat menghancurkan pasukan pimpinan Liu Pang yang dianggap sebagai penghalang cita-citanya itu karena dia menerima laporan bahwa pasukan yang menyerbu Yen-tai itu hanya berjumlah tigaratus orang lebih. Padahal, pasukan keamanan di daerahnya yang dikumpulkan itu berjumlah limaribu orang, belum lagi ratusan orang pasukan asing dan pasukan pemberontak Chu Siang Yu. Jumlah pasukannya tidak kurang dari enamribu orang. Mana mungkin musuh yang hanya tigaratus orang lebih itu akan mampu menandingi enamribu orang? Dia sama sekali tidak pernah mimpi bahwa dalam waktu singkat, rakyat dan para perajurit yang menyeberang berbondong-bondong menjadi sukarelawan dan kini pasukan Liu Pang berjumlah selaksa orang!
Dapat dibayangkan betapa kagetnya Gubernur Ci dan para sekutunya ketika mendengar bahwa Liu Pang datang dengan pasukan yang mendekati selaksa orang jumlahnya ! Terjadilah perang yang dahsyat di luar kota Yen - kin. Perang yang mema-kan waktu setengah hari lebih. Akan tetapi karena Liu Pang dibantu oleh orang - orang gagah, walau-pun sekali ini A - hai tidak ikut berperang, dan juga karena jumlah pasukan Liu Pang jauh lebih banyak, akhirnya pasukan gubernur itu lari cerai - berai dan banyak yang tewas. Gubernur dan sekutunya ter-paksa melarikan diri ke utara dan kota Yen - kin diduduki oleh Liu Pang.
Karena maklum bahwa di depan terdapat bala tentara kerajaan yang kuat dan pula dia harus membiarkan pasukannya beristirahat, Liu Pang ti-dak melakukan pengejaran dan mengatur kota Yen - kin yang didudukinya itu, mengatur penjagaan dan menyebar para penyelidik untuk menyeli-diki keadaan musuh yang melarikan diri ke arah kota Cin-an.
Gubernur Ci adalah seorang yang cerdik, apa-lagi dia adalah sekutu pemberontak Chu Siang Yu yang telah memberi rencana siasat kepadanya. Be-gitu melarikan diri dari Yen - kiri, gubernur ini bersama pasukan pengawalnya dan pasukan - pa-sukan lain yang melarikan diri, langsung menuju ke Cin - an dan mendatangi Lai - goanswe yang menjadi panglima yang berkuasa atas benteng dan bala tentara kerajaan di daerah timur. Gubernur itu lalu memberi laporan dan tentu saja dia me-mutarbalikkan kenyataan. Dia melaporkan bahwa pemberontak Liu Pang melakukan gerakan tiba-tiba di timur, menduduki kota Yen - tai dan Yen - kin, dan kini mengumpulkan barisan pemberontak yang jumlahnya selaksa orang dan hendak bergerak ke barat.
Mendengar laporan ini, Lai - goanswe (Jenderal Lai), terkejut sekali. Tentu saja dia sudah men-dengar nama besar Liu Pang sebagai pemimpin rakyat, sebagai bengcu yang mengepalai para pen-dekar dan yang ikut memprotes tindakan - tindakan kaisar terhadap ditangkapnya para menteri. Dan dia juga maklum bahwa Liu Pang adalah seorang pendekar yang berilmu tinggi, seorang pendekar dan jagoan pedang yang disuka oleh para pende-kar kang-ouw. Baru pemberontakan - pemberontakan yang dilakukan oleh Chu Siang Yu dan yang bergerak di daerah barat saja sudah amat memu-singkan, apalagi kalau Liu Pang kini memberontak pula. Lai - goanswe adalah seorang jenderal ber-usia empatpuluh lima tahun yang pandai dan juga gagah perkasa, merupakan pembantu utama dari Jenderal Beng Tian dan seorang perajurit sejati yang tidak melibatkan diri dengan politik, dan ha-tinya bulat menjunjung tugasnya, yaitu membela negara dan mentaati perintah atasan.
Begitu mendengar tentang pemberontakan Liu Pang, Lai - goanswe cepat mempersiapkan pasu-kannya yang selaksa orang jumlahnya. Dan diapun mempergunakan sisa pasukan dari Gubernur Ci untuk memperkuat pasukannya. Akan tetapi tentu saja ketika menghadap Jenderal Lai, Gubernur Ci sama sekali tidak bercerita tentang persekutuannya dengan Chu Siang Yu, apa lagi dengan bantuan pasukan asing! Dan jenderal itupun tidak tahu sama sekali bahwa dia telah ditipu dan diadu dom-ba dengan Liu Pang oleh Gubernur Ci.
Tentu saja Liu Parig terkejut bukan main me-lihat pasukan besar Jenderal Lai datang dan me-nyambutnya dengan serangan. Dia sama sekali tidak bermaksud melawan pasukan pemerintah. Semua yang dilakukan hanyalah membasmi pasu-kan asing dan menentang para pejabat yang berse-kutu dengan orang-orang asing. Akan tetapi, sudah tidak ada waktu lagi. baginya untuk menjer-nihkan kesalahpahaman ini. Pasukan Jenderal Lai sudah datang menyerbu. Bahkan diam-diam Liu Pang menjadi penasaran sekali dan mengira bahwa memang kaisar berhati palsu dan bercabang, di satu pihak pura - pura membetulkan kesalahannya dan hendak mengangkat kembali para menteri jujur, di lain pihak menggunakan tangan besi menentang para pendekar patriot Maka Liu Pang lalu mela-wan dan mengerahkan pasukannya.
Pertempuran yang amat dahsyat dan seru ter-jadilah di luar kota Cin - an. Setelah kedua pihak kehilangan banyak perajurit, pasukan kerajaan ter-desak sehingga terpaksa mundur dan melakukan pertahanan di dalam kota yang dikepung oleh pasukan Liu Pang. Di luar kehendaknya sendiri, Liu Pang mulai hari itu secara resmi dianggap sebagai pemberontak oleh kerajaan.
Bentrokan langsung dengan pasukan pemerintah ini membuat Chu Seng Kun dan Chu Bwee Hong merasa kikuk dan bingung. Tidak mungkin me-reka dapat membantu Liu Pang dan pasukannya untuk menentang pemerintah sendiri! Ayah me-reka, Pangeran Chu Sin yang kini telah menjadi kepala kuil istana yang berjuluk Bu Hong Sengjin, adalah seorang anggauta keluarga istana yang pen-ting. Seng Kun sendiri menerima tugas dari kaisar untuk mencari Menteri Ho, berarti diapun seorang utusan dan petugas kaisar bagaimana mungkin dia berada di dalam pasukan para pendekar yang kini telah digempur pasukan pemerintah sebagai pemberontak ? Seng Kun tidak dapat menyalahkan Liu Pang dan dia dapat memaklumi bahwa sesung-guhnya bukanlah kehendak Liu Pang dan pasukan-nya untuk memberontak.
"Liu-bengcu, harap maafkan kami berdua. Dalam kedudukan saya sebagai utusan kaisar yang berarti bahwa saya adalah seorang petugas kera-jaan, keadaan sekarang ini tentu tidak memungkin-kan saya untuk terus berkumpul dengan pasukan bengcu lebih lama lagi. Kami berdua akan kembali ke kota raja dan membuat laporan tentang apa yang terjadi atas diri Menteri Ho."
Liu Pang menarik napas panjang dan nampak-nya menyesal sekali. "Sungguh kami sendiri tidak pernah mengira bahwa akibatnya akan menjadi begini. Akan tetapi, sungguh kebetulan sekali kalau ji - wi hendak menghadap sri baginda kaisar. Selama beberapa hari ini, semenjak terjadi pertem-puran secara terbuka dengan pasukan pemerintah, saya memikirkan dan mencari jalan bagaimana ca-ranya agar kesalahpahaman antara kami dengan kaisar tidak sampai berlarut-larut. Ji-wi telah beberapa lama mengikuti gerakan kami dari de-kat, bahkan membantu kami menghadapi pasukan asing. Maka kami percaya bahwa ji - wi tentu akan dapat melaporkan secara sejujurnya kepada sri baginda kaisar apa yang sebenarnya telah terjadi dan bagaimana sesungguhnya kedudukan kami."
"Tentu saja, Liu - bengcu. Kami berdua kakak beradik tentu akan berusaha menjernihkan suasana yang tidak enak ini !" kata Chu Seng Kun dengan suara pasti.
Melihat kedua orang kakak beradik itu berpa-mit, tiba-tiba A-hai yang sejak tadi memandang kepada Bwee Hong lalu berkata, "Akupun akan pergi. Kalau kalian boleh, aku akan ikut pergi. Aku sungguh tidak betah berada di sini. Aku membenci pertempuran, membenci bunuh - membunuh yang kejam itu!"
Chu Seng Kun dan Chu Bwee Hong tentu saja tidak dapat menolak permintaan pemuda sinting itu. Apa lagi karena pemuda itu dengan mati-mati-an telah menyelamatkan Bwee Hong ketika dara itu berada dalam tangan Tiat - siang - kwi, tokoh ke dua dari Ban - kwi - to. Di samping itu, kakak beradik yang menjadi ahli waris Bu-eng Sin-yok ong ini memang merasa tertarik akan keadaan A-hai dan kalau mungkin mereka ingin mencoba kepandaian mereka dalam hal pengobatan untuk memeriksa dan menyembuhkan pemuda aneh itu.
"Tentu saja engkau boleh ikut bersama kami, saudara A - hai," jawab Seng Kun dengan ramah.
"Kebetulan sekali sayapun mempunyai keinginan yang sama, Liu - bengcu," tiba - tiba Kwa Siok Eng berkata. "Saya harus segera pulang dan melapor-kan semua pengalaman saya kepada ayah dan ibu, terutama sekali, tentang penyelewengan kakakku dan juga tentang hasil perjalanan saya. Karena itu, sayapun berpamit untuk mengundurkan diri."
Liu Pang menarik napas panjang. Kemudian dia menengadah dan seolah - olah berkata kepada diri sendiri, "Betapa gembira berusia muda bebas dari segala ikatan, bebas lepas seperti burung di udara, ke manapun hendak pergi tidak ada yang melarang, tidak ada ikatan yang membelenggu kaki tangan. Akan tetapi, ahhh setelah terbelenggu oleh ikatan yang demikian kuat ini, yang telah menjadi tugas yang mendarah daging, mana mung-kin aku mengikuti jejak orang - orang muda yang bebas lepas ?"
Biarpun tidak secara berterang, namun pemim-pin para pendekar itu mengeluhi nasib sendiri dan agaknya iri hati melihat orang-orang, muda itu. Seng Kun melihat bahwa sebenarnya keadaan di-rinya tidaklah jauh bedanya dengan pemimpin ini karena bukanlah dia sendiri juga terikat oleh tugas yang diberikan oleh kaisar kepadanya ? Mende-ngar keluhan gurunya itu, Pek Lian yang wataknya polos dan tidak suka menyembunyikan perasaan-nya itu berkata, "Akan tetapi, suhu. Apa artinya hidup ini kalau tidak ada tugas - tugas yang meng-ikat kita ? Bukankah kegembiraan terasa apa bila kita berhasil melaksanakan tugas kita ? Hidup akan kosong tanpa ikatan, dan untuk ikatan itu kita ber-juang dalam hidup!"
Gurunya tersenyum dan menggeleng kepala. "Nona Ho, engkau masih terlalu muda untuk dapat mengerti tentang ikatan - ikatan dalam kehidupan."
"Maaf, suhu. Akan tetapi saya kira suhupun masih muda, atau belum terlalu tua untuk meng-anggap saya masih terlalu muda !" bantah nona itu.
Liu Pang tersenyum lebar dan wajahnya ber-seri. Begitu dia tersenyum lebar, nampaklah bah-wa tokoh ini memang belum tua benar. Usianya memang baru tigapuluh enam tahun, akan tetapi perjuangan dengan segala kepahitannya menggem-blengnya lahir batin sehingga dia nampak jauh lebih tua dari pada usianya.
"Muridku, tua muda atau matang mentahnya seseorang tidak selalu ditentukan oleh usianya. Akan tetapi memang apa yang kaukatakan tadi ada benarnya. Di dalam setiap ikatan memang terda-pat kesenangan, kalau tidak begitu, tidak nanti ia mengikat! Akan tetapi yang kita lupakan adalah bahwa setiap kesenangan selalu dibayangi oleh saudara kembarnya, yakni kesusahan. Dan celaka-nya, antara dua saudara kembar ini, Duka lebih banyak muncul dalam batin manusia dibandingkan dengan Suka!"
"Maaf, Liu - bengcu. Saya pernah mendengar wejangan ayah bahwa Suka - Duka itu sesungguh-nya tidak ada. Dalam setiap benda, setiap peristiwa, tidak terdapat .suka atau duka itu- Mereka ini baru muncul apa bila pikiran kita membuat ban-dingan - bandingan dan penilaian."
Liu - bengcu mengangguk - angguk. "Ayah ji-wi adalah Bu Hong Sengjin dan saya pernah men-dengar bahwa ayah ji - wi itu selain memiliki ke-pandaian silat yang tinggi, juga amat bijaksana. Tidak keliru sama sekali wejangan beliau itu. Me-mang suka atau duka timbul karena pikiran kita sendiri yang menilai berdasarkan untung rugi bagi diri pribadi. Yang menguntungkan menimbulkan suka dan yang merugikan menimbulkan, duka. Kita semua terseret oleh dualitas ini."
"Akan tetapi, locianpwe," kata Siok Eng yang juga tertarik mendengar percakapan itu. "Bukan-kah itu sudah menjadi watak manusia pada umum-nya ? Kita semua menghendaki untung dan senang, siapakah manusianya menghendaki rugi dan susah?"
Liu Pang mengangguk - angguk. "Pernyataan yang amat jujur dan aku memang mendengar bah-wa Tai - bong - pai mengutamakan kejujuran dan kepolosan walaupun kadang - kadang diikuti oleh tindakan yang nampaknya sadis dan kejam. Me-mang, umum menganggapnya demikian. Akan teta-pi, apakah umum harus selalu benar ? Umum con-dong untuk ikut-ikutan, untuk mengekor dan agak-nya tidak memperdulikan lagi tentang benar atau salah. Kita melihat bahwa kita terbelenggu, namun kita tidak berani membebaskan diri dari pada belenggu ini. Aihh, betapa lemahnya kita manusia ini!" Kembali pemimpin ini menarik napas panjang.
Hening sejenak dan percakapan yang menyim-pang ke soal kehidupan yang ruwet itupun macet. Menggunakan kesempatan ini, Siok Eng berkata, "Saya pamit sekarang, locianpwe dan banyak teri-ma kasih atas kebaikan semua kawan kepadaku sewaktu kita berkumpul." Dara itu bangkit dan pada saat itu. Seng Kun juga ikut bangkit dan menjura.
"Nona Kwa aku ingin bicara sedikit "
Puteri Tai - bong - pai itu memandang dengan sinar mata berseri dan ia memandang wajah pemu-da tampan dan gagah itu dengan lembut. "Silahkan, in-kong."
"Pada waktu ini, keadaan negara sedang dalam suasana kacau dan di mana - mana terjadi pertenr tangan sehingga tidak aman. Biarpun nona memi-liki kepandaian tinggi, akan tetapi sebagai seorang wanita muda, melakukan perjalanan sendirian saja tentu akan memancing datangnya banyak sekali halangan dan bahaya. Hatiku merasa tidak enak dan khawatir sekali membayangkan engkau mela-kukan perjalanan seorang diri."
Sejak pemuda itu bicara, sepasang mata Siok Eng yang indah tajam itu menatap tanpa pernah berkejap dan mata itu kini berseri, sepasang pipinya berobah agak kemerahan dan jantungnya berdegup kencang. Hatinya merasa senang sekali melihat kenyataan bahwa pemuda yang diam - diam dipu-janya di dalam hati semenjak ia merasa berhutang nyawa dan budi itu begitu memperhatikan kesela-matan dan keadaannya.
"Sungguh in-kong amat baik hati dan aku berterima kasih sekali atas perhatianmu. Akan tetapi, aku dapat menjaga diri dalam perjalanan, maka harap in-kong tidak merasa khawatir"
"Aku mengerti, nona... tapi bolehkah aku mengajukan suatu permintaan kepadamu ?"
Mendengar pertanyaan ini, hati Siok Eng me-rasa tergerak dan terharu. Sejak kecil ia hidup di antara lingkungan orang - orang sesat yang hampir tidak mempunyai kepekaan atau kehalusan pera-saan lagi. Akan tetapi sejak ia diobati di rumah keluarga Bu, terjadilah perobahan di dalam batin nya.
"Aihh, in - kong, mengapa bertanya begitu ? Harap in - kong tidak ragu-ragu untuk mengatakan apa yang menjadi keinginan hatimu. In - kong tentu mengerti betapa besar rasa terima kasih kami sekeluarga terhadap in - kong sekeluarga. Bu-locianpwe suami isteri telah tewas karena aku. Sekarang, mengapa in - kong masih sungkan kepa-daku ? Nah, katakan saja, apapun permintaanmu, akan kulaksanakan. Biar nyawaku sekalipun akan kuserahkan kalau in - kong minta !"
Semua orang yang mendengar ucapan yang dikeluarkan dengan suara bening, lembut dan pe-nuh getaran perasaan itu, menjadi tertegun dan juga terharu. Mereka ini telah tahu bahwa gadis remaja itu adalah puteri ketua Tai - bong - pai, sebuah perkumpulan yang terkenal sebagai per-kumpulan iblis yang dianggap sesat oleh dunia kang - ouw. Akan tetapi, gadis ini yang menjadi satu di antara tokoh - tokoh utama Tai - bong - pai ternyata dapat bersikap demikian lembut, menge-nal budi dan amat perasa !
"Karena hatiku akan selalu merasa khawatir kalau engkau melakukan perjalanan seorang diri dalam suasana yang sedang kemelut ini, maka aku minta sukalah engkau melakukan perjalanan bersa-ma kami lebih dulu ke kota raja. Kalau urusan kami sudah selesai di kota raja, aku akan mengan-tarkanmu pulang sampai ke tempat tinggalmu, nona. Tentu saja kalau engkau tidak menaruh ke-beratan."
Keberatan ? Hampir saja Siok Eng bersorak dan menari saking girangnya. Kalau ada suatu hal yang amat diinginkan di dunia ini pada saat itu adalah berdekatan dengan Chu Seng Kun, melaku-kan perjalanan dengan pemuda ini dan kalau boleh jangan lagi sampai saling berpisah lagi.
"Terima kasih, in-kong. Tentu saja saya merasa terhormat dan suka sekali untuk dapat melakukan perjalanan bersama dengan in - kong dan teman-teman lainnya."
Maka berangkatlah empat orang muda itu, Seng Kun, Bwee Hong, A-hai dan Siok Eng, mening-galkan bala tentara yang dipimpin oleh Liu Pang dan yang sedang menghadapi ancaman penyerbuan pasukan pemerintah itu. Mereka menunggang em-pat ekor kuda pemberian Liu Pang dan membalap-kan tunggangan mereka itu menuju ke kota raja.
*
***
Yang merasa paling sedih oleh kepergian empat orang muda itu adalah Pek Lian. Baru saja ia kematian ayahnya dan kini ia ditinggalkan kawan-kawan baiknya dengan siapa ia telah mengalami banyak hal-hal yang mengesankan. Bersama-sama lolos dari cengkeraman maut dan terutama sekali yang membuat hatinya terasa amat tidak enak ada-lah karena ia harus berpisah dari A - hai dalam keadaan seperti itu! Ia melihat betapa pemuda sinting itu amat akrab dengan Bwee Hong dan kalau dahulu A - hai kelihatan amat jinak kepada-nya, bahkan tidak pernah melupakan namanya, kini pemuda itu kelihatan begitu jinak dari dekat dengan Bwee Hong. Bahkan pemuda itu ikut pula bersama Bwee Hong dan kakaknya pergi ke kota raja.
Setelah empat orang muda itu berangkat, Pek Lian lari memasuki kamarnya dan iapun menjatuhkan diri di atas pembaringan kamarnya dan me-nahan tangisnya. Hanya air matanya yang mem-basahi pipi. Ia merasa begitu kesepian, merasa ditinggalkan dan nelangsa. Terutama sekali yang membuat hatinya amat menderita adalah bayangan A - hai yang kelihatan begitu mesra terhadap Bwee Hong. Ia tahu bahwa sikap Bwee Hong yang ma-nis dan baik terhadap A-hai adalah karena gadis itu berterima kasih dan terharu melihat betapa A-hai membela dan menyelamatkannya sehingga gadis itu merasa berhutang budi dan bersama ka-kaknya bermaksud untuk mencoba mengobati dan menyembuhkan A - hai. Akan tetapi, ia dapat menduga pula bahwa A - hai yang hanya mengan-dalkan perasaan dan nalurinya, agaknya jatuh cinta kepada gadis cantik jelita itu.
Mengapa aku harus merasa tidak senang karena mereka begitu akrab ? Mengapa aku seperti geli-sah kalau - kalau mereka saling mencinta? Mengapa begini ? Pek Lian tidak mau, bahkan tidak berani mengaku dalam hatinya sendiri bahwa ia telah ja-tuh cinta kepada A - hai, pemuda sinting itu ! Akan tetapi, perasaannya yang tidak enak ketika melihat A - hai pergi bersama Bwee Hong, adalah perasaan cemburu !
Sementara itu, pertempuran berhenti ketika ba-la tentara pemerintah yang dipimpin oleh Jenderal Lai itu menarik pasukannya mundur ke dalam kota
Cin - an. Liu Pang mempergunakan kesempatan ini untuk menyusun kembali sisa pasukannya dan berunding dengan para pembantunya. Tentu saja Pek Lian hadir pula dalam perundingan ini dan Liu Pang lalu mengatur siasat, merencanakan ge rakan mereka selanjutnya. Kebetulan sekali, pa-sukan kecil yang dipimpin oleh Hek - coa Ouw Kui Lam juga sudah tiba dan pasukan ini menggabung-kan diri dengan pasukan induk. Seperti kita keta-hui, Hek - coa Ouw Kui Lam ini adalah seorang di antara empat Huang - ho Su - hiap, yaitu guru-guru dari Pek Lian. Di amtara Empat Pendekar Huang-ho itu, hanya tinggal dia sendiri yang masih hidup. Tiga lainnya, yaitu Kim - sui - poa Tan Sun, Pek-bin - houw Liem Tat dan Sin-kauw Song Tek Kwan telah gugur semua. Hek - coa Ouw Kui Lam juga ikut duduk dalam perundingan itu.
"Pemerintah agaknya telah benar - benar meng-anggap kita sebagai musuh," antara lain Liu Pang mengemukakan pendapatnya. "Karena itu, kitapun harus memperkuat diri, dan kurasa sebaiknya kalau kita menuju ke barat dan menyatukan diri dengan kawan - kawan yang berpencaran menjadi pasukan-pasukan yang berpisah - pisah. Sambil melakukan perjalanan mengumpulkan teman-teman dan mem-perkuat barisan, kita melakukan pembersihan di sepanjang jalan. Kita gempur pasukan-pasukan asing yang membantu penguasa - penguasa daerah yang memberontak, dan kita basmi pula para pembesar yang bersekongkol dengan pasukan - pasukan asing, pengkhianat-pengkhianat penjual negara dan bangsa itu !"
Demikianlah, Liu Pangj memimpin pasukannya dan mulailah dia melakukan "long march" yang panjang dan bersejarah itu. Di sepanjang perjalan-an, pasukannya makin bertambah karena rakyat jelata bersimpati dengan perjuangannya. Dan ka-rena Liu Pang juga lahir dari keluarga petani dan sudah terbiasa hidup di antara petani, maka dia pandai bergaul dengan anak buahnya dan dikenal sebagai seorang pemimpin yang gagah perkasa juga menyenangkan hati semua anak buahnya. Bukan hanya rakyat jelata, kaum tani yang bergabung dengan pasukannya, keluarga dari mereka yang tewas karena kerja paksa yang diperintahkan kaisar melalui kaki tangannya, akan tetapi juga banyak perajurit - perajurit yang lari menyeberang karena mereka tidak suka diharuskan bekerja sama dengan pasukan asing oleh para komandan mereka. Liu Pang tidak pernah mengampuni pembesar-pembe-sar yang bersekongkol dengan pasukan asing. Setiap dusun dan kota di mana terdapat pasukan asing-nya tentu digempur dan tempat-tempat itu didu-duki, akan tetapi kota yang pembesamya masih setia kepada pemerintah, dilewati saja dan tidak diganggu.
Akhirnya pasukan itu berhenti di lembah Sungai Huang-ho, tak jauh dari kota besar Lok-yang yang merupakan kota ke dua besarnya setelah Tiang - an yang menjadi ibu kota atau kota raja di mana kaisar tinggal.
Liu Pang membentuk benteng pertahanan di lembah ini dan mengajak kawan - kawannya untuk berunding lagi. Biarpun dia seorang pemimpin dengan kekuasaan penuh dan semua anggauta pasukan itu taat kepadanya, namun Liu Pang selalu mengajak para pimpinan atau pembantunya untuk bermusyawarah setiap kali menghadapi hal-hal penting, tidak mengambil keputusan sendiri begitu saja. Inilah merupakan satu di antara kebi-jaksanaan Liu Pang yang jarang dimiliki oleh para penguasa. Biasanya, kalau orang sudah duduk di kursi tertinggi, lalu menjadi lupa akan pendapat orang - orang lain dan menganggap bahwa penda-patnya sendirilah yang paling benar.
"Chu Siang Yu telah bergerak maju dan pasu-kannya telah merebut beberapa kota besar di dae-rah barat dan utara. Agaknya bala tentara peme-rintah tidak berdaya menahan arus serangannya. Hal ini terjadi karena di dalam tubuh pemerintah sendiri terjadi kekacauan dan membuat kekuatan menjadi terpecah-belah. Suasana seperti ini mem-buat daerah - daerah menjadi tidak puas dan ba-nyak daerah mengambil sikap memberontak dan ingin memisahkan diri dari pusat. Adalah menjadi tugas kita sebagai pendekar-pendekar dan patriot-patriot untuk berjuang agar keadaan seperti ini jangan sampai berlarut - larut dan kita harus me-nyelamatkan negara dan bangsa agar tinggal. utuh dan kuat."
"Benar sekali ucapan itu !" Tiba - tiba Hek-coa Ouw Kui Lam yang tinggi besar dan bermuka hitam itu berseru dengan suara yang lantang. "Biarlah para pembesar istana menganggap kita pemberontak, biarlah kaisar salah kira dan mencap kita pemberontak, perduli amat! Keadaan negara dan bangsa terancam bahaya perpecahan, dan ter-ancam penjajahan pasukan-pasukan asing. Kita harus bergerak, tak mungkin tinggal diam saja. Kita basmi pasukan - pasukan asing yang berkeli-aran di sini. Kita hajar daerah - daerah yang mem-berontak dan kita persatukan lagi negara ini agar kuat seperti dahulu lagi!"
Mendengar kata-kata yang penuh semangat ini, yang lain-lain bertepuk tangan dan menyatakan persetujuan mereka. "Kami semua mentaati perintah Liu-bengcu !" demikianlah teriakan-te-riakan mereka.
Liu Pang mengangguk - angguk dan mengang-kat tangan menyuruh mereka tenang. "Tugas kita masih banyak dan bukan ringan. Kalian semua harus selalu ingat bahwa kita adalah pasukan rak-yat, kita datang dari rakyat, oleh karena itu, aku melarang siapapun juga mengganggu rakyat di sepanjang perjalanan. Rakyat jelata, kaum tani, adalah sekutu kita. Tanpa dukungan mereka kita akan lemah dan jatuh. Maka, siapa berani meng-ganggu rakyat di sepanjang perjalanan, merampok, menyerang apa lagi membunuh atau melarikan wanita, akan dihukum mati dan mungkin tangan-ku sendiri yang akan melaksanakan hukuman itu !"
Suara pemimpin ini terdengar begitu penuh wi-bawa dan semua orang menjadi gentar. "Liu-beng-cu, jangan khawatir. Kita sendiri juga datang dari rakyat, mana mungkin kita akan mengganggu me-reka ? Kalau ada yang berani melanggar pantangan itu, kami kira bengcu tidak perlu turun tangan karena teman - teman yang lain tentu akan turun tangan mencegah atau menghukumnya !" demikian seorang di antara mereka berkata.
"Kita sekarang berada di dekat Lok - yang. Kita tidak tahu bagaimana keadaan kota ini, bagaimana sikap para pembesar di Lok - yang. Kita tidak bo-leh bertindak sembrono dan nanti setelah kita mengenal benar keadaan kota itu, barulah kita berunding lagi untuk mengatur siasat bagaimana harus mengambil tindakan. Biarkan pasukan ber-istirahat dan menyusun kekuatan di sini. Aku sen-diri bersama muridku, nona Ho Pek Lian, akan memasuki kota dan melakukan penyelidikan. Se-barkan beberapa orang kawan yang cukup tinggi ilmunya untuk menyusup ke kota melakukan pe-nyelidikan pula. Akan tetapi ingat, mereka yang diselundupkan harus berani bertanggung jawab dan memilih mati dari pada membuka rahasia kita kepada musuh."
Setelah berunding dan mengatur siasat, Liu Pang bersama Pek Lian lalu berangkat untuk ber-tugas sebagai mata - mata di kota Lok - yang. Liu Pang menyamar sebagai seorang petani dan murid-nya juga. Rambut pemimpin yang hitam lebat itu kini berobah putih, juga mukanya berkeriputan walaupun badannya nampak sehat dan terbakar matahari, seperti seorang kakek petani yang biasa bekerja berat di tempat terbuka. Pek Lian juga melumuri muka, leher dan bagian kulit tubuhnya yang nampak dengan ramuan yang membuat kulit yang putih mulus itu menjadi kehitaman. Alisnya yang indah bentuknya itu dibikin tebal, bibirnya yang kecil dan merah basah itu digosok ramuan yang membuat bibirnya menjadi kasar dan agak kebiruan. Ia berobah sebagai seorang gadis dusun yang lugu dan tidak mengenal cara berias. Ram-butnya juga agak kasar dan kotor, digelung seder-hana seperti gelung gadis dusun.
Setelah menyamar dengan baik, keduanya be-rangkat pada senja hari itu memasuki kota Lok-yang. Kota ini ramai dan kelihatan sibuk sekali, kesibukan yang agaknya tidak wajar karena banyak nampak perajurit berkeliaran. Banyak pula peng-ungsi-pengungsi yang mengaso di emper-emper to-ko, yakni mereka yang datang dari luar kota karena takut akan berita perang yang terjadi. Pasukan-pa-sukan penjaga berkeliling dan meronda dengan muka bengis dan mata tajam menyelidik. Akan tetapi, penyamaran Liu Pang dan Pek Lian amat sempurna sehingga tidak ada seorangpun yang ter-tarik kepada kakek dusun dan gadisnya ini.
Ketika mereka sedang berjalan di tepi jalan raya, mereka berpapasan dengan seregu perajurit yang terdiri dari belasan orang. Akan tetapi pasu-kan kecil ini tidak berjalan dalam bentuk barisan, melainkan berjalan dengan kacau dan di antara mereka bahkan ada yang jalannya terhuyung - hu-yung karena mabok. Tentu pasukan ini sedang bebas tugas dan menghibur diri di kota.
"Heh-heh, manis, mari ikut dengan kami. Tanggung engkau akan kenyang lahir batin, heh-heh - heh!" seorang di antara mereka berkata, dan tangannya menyambar ke arah buah dada Pek Lian. Gadis ini miringkan tubuhnya, dengan ge-rakan biasa saja bukan gerakan ahli silat, seperti seorang gadis yang ketakutan. Ia membiarkan ta-ngan itu mengenai lengannya, akan tetapi perajurit mabok itu begitu menyentuh lengan yang gempal dan lunak lalu mencubit.
"Aduhh !" Pek Lian menjerit tanpa mengerahkan tenaga dan cepat melangkah mundur "Ha-ha, kakek dusun. Berapa kau mau jual anak gadismu ini ? Jual saja kepada kami untuk semalam ini. Kami sudah bosan dilayani pelacur-pelacur !"
"Benar, aku ingin tidur dengan gadis dusun yang sehat ini!"
Pek Lian sudah mengepal tinju dan akan meng-amuk, akan tetapi lengannya dipegang oleh Liu Pang yang segera berkata sambil menarik muridnya, "Saudara - saudara harap jangan mengganggu kami. Gadisku ini sudah dipesan oleh Coa-ciangkun dan kalau kalian mengganggu, tentu akan kami lapor-kan !"
Tentu saja Liu Pang hanya ngawur menyebut Coa - ciangkun. Akan tetapi agaknya ngawurnya itu kebetulan karena para perajurit itu terkejut, saling pandang, lalu seorang di antara mereka yang tidak mabok berkata, "Paman, harap jangan marah. Kami tidak tahu bahwa nona ini adalah pesanan Coa - ciangkun. Nah, nona, kami ucapkan selamat, yang baik - baik saja melayani Coa - ciangkun yang perutnya gendut itu !" Mereka lalu pergi sambil tertawa - tawa dan wajah Pek Lian masih merah sekali karena marah. Akan tetapi suhunya sudah mengajaknya melanjutkan perjalanan sambil me-nyumpah - nyumpah perlahan.
Guru dan murid ini memasuki sebuah kedai makan yang sederhana akan tetapi cukup luas dan mempunyai meja kursi yang dapat menampung sedikitnya tigapuluh orang. Tempat itu ramai dan terdapat beberapa orang perajurit yang sedang bercakap - cakap. Liu Pang mengajak muridnya duduk agak jauh dari para perajurit itu, dan Pek Lian sengaja duduk menghadap ke arah mereka dan agar mukanya yang di tengah jalan tadi sudah lebih diperjelek lagi nampak oleh mereka dan melenyapkan selera mereka untuk menggoda. Se-telah memesan bakmi dan beberapa masakan se-derhana lainnya berikut minuman teh, Liu Pang memperhatikan percakapan para perajurit itu. Mereka bercerita tentang jatuhnya beberapa kota dan dusun ke tangan pasukan Liu Pang yang kuat. Mereka bercerita pula tentang pasukan pemberon-tak Chu Siang Yu dari arah barat dan utara.
"Eh, Lo Ciang, kaupikir mana yang lebih kuat antara pasukan Liu Pang dan pasukan Chu Siang Yu itu ?" seorang di antara mereka bertanya kepa-da rekannya yang berkumis panjang dan yang lebih tua, juga agaknya si kumis ini yang lebih mengerti keadaan karena dialah yang bercerita dengan ber-semangat, terdorong oleh arak yang sudah banyak diminumnya.
Yang ditanya menggeleng - geleng kepala lalu mengerutkan alis seperti orang berpikir dalam-da-lam, lalu berkata, "Sukar dikatakan siapa lebih kuat. Chu Siang Yu adalah keturunan jenderal, di samping ahli silat pandai, juga dia pandai sekali dalam hal ilmu perang. Pasukan - pasukannya amat kuat dan terlatih. Sedangkan Liu Pang yang dise-but Liu - bengcu itu biar amat lihai ilmu silatnya akan tetapi dia bukan ahli mengatur barisan. Bi-arpun demikian, dia seorang pendekar gagah per-kasa, dan pergerakannya memperoleh dukungan para pendekar dan juga rakyat jelata, maka diapun amat kuat dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan."
"Ah, ceritamu menakutkan, Lo Ciang. Lalu, apakah kaupikir pasukan-pasukan pemerintah tidak akan mampu membasmi mereka itu ?"
Si kumis menghela napas panjang.. "Sukar sekali ! Kekuatan bala tentara kita hanya pasukan yang dipimpin oleh Jenderal Beng Tian seorang
dan hanya pasukan itu yang dapat diandalkan.
Pasukan-pasukan daerah tak dapat diharapkan
lagi karena banyak daerah yang merasa tidak puas
dan ada gejala - gejala hendak memberontak sen-
diri. Lihat saja adanya pasukan - pasukan asing
dan liar itu "
"Sssttt... , Lo Ciang. Jangan sembarangan engkau bicara. Hati - hatilah. Kau lihat, kepala daerah kita sendiri menerima kedatangan pimpin-an pasukan asing beberapa hari yang lalu. Siapa tahu di antara mereka ada yang berada di sini ?"
"Takut apa ? Komandan kita sendiri, Gui-ciang-kun, juga tidak suka dengan adanya pasukan asing itu. Kemarin hampir saja Gui-ciang(kun atasan kita itu bentrok dengan Bouw-ciangkun, karena urusan pasukan asing itu, ketika diadakan rapat para pim-pinan kota. Kebetulan aku bertugas mengawal Gui - ciangkun ke pertemuan itu."
Pada saat itu, nampak empat orang perajurit memasuki kedai dan mereka langsung menuju ke meja di mana duduk empat orang perajurit rekan mereka tadi. Empat orang pendatang baru ini nampak loyo dan seorang di antara mereka terbalut lengannya. Mereka lalu duduk di atas bangku-bangku yang disediakan oleh para pelayan dan delapan orang perajurit itu duduk menghadapi meja.
"Eh, engkau kenapa ?" tanya si kumis melihat betapa empat orang rekannya itu kelihatan lelah, bahkan ada pula yang mukanya benjol-benjol be-kas pukulan.
"Kami baru saja bentrok dengan pasukan Bouw-ciangkun yang dibantu oleh beberapa orang pasu-kan asing itu. Pasukan asing itu ternyata pandai main banting sehingga kami mengalami banyak kerugian."
"Keparat ! Orang-orang liar itu semakin berani saja, berani menyerang perajurit tuan rumah!" Seorang di antara mereka berseru marah.
"Kenapa kalian sampai bentrok dengan pasukan Bouw-ciangkun ?" Si kumis bertanya dan agak-nya dia merupakan anggauta pasukan yang tertua di antara mereka dan paling dihormati.
"Siapa tidak marah ? Tadinya keributan terjadi hanya soal perebutan pelacur, hal yang biasa saja. Akan tetapi mereka berani mengatakan bahwa pa-sukan kita katanya akan dilucuti dan dipenjarakan karena Gui-ciangkun kita berani menentang ke-hendak kepala daerah dan tiga komandan lainnya. Bahkan katanya, Gui - ciangkun akan dihukum mati karena beliau berani menyarankan agar kita semua mendekati Liu - bengcu dengan jalan damai dan bersahabat. Huh, mereka sungguh menghina. Jumlah kita ada seribu orang, masa akan begitu mudah saja dilucuti dan dipenjarakan ?"
"Mereka sombong dan membual !" kata yang lain-lain.
Akan tetapi si kumis mengerutkan alisnya. "Belum tentu kalau ancaman mereka itu hanya bu-al kosong saja. Dalam keadaan seperti sekarang ini, apapun dapat saja terjadi. Kita harus waspada dan siapa tahu komandan kita dalam bahaya. Bagai-manapun juga, jumlah mereka semua itu kalau digabung ada empat lima kali lipat dari pada ke-kuatan pasukan kita, dan masih ada pasukan liar yang membantu. Sebaiknya kita lekas kembali ke markas dan melaporkan kepada Gui - ciangkun !"
Setelah membayar harga makanan, delapan orang perajurit itu lalu meninggalkan kedai. Akan tetapi baru saja mereka tiba di luar kedai, mereka berpapasan dengan duabelas orang perajurit yang melihat seragam mereka agak kuning tentu bukan rekan - rekan dari delapan orang perajurit pertama. Dan mereka berhadapan di depan kedai dengan sikap tegang. Ternyata duabelas orang perajurit itu adalah anak buah pasukan Bouw - ciangkun !
Karena, kedua rombongan yang sudah saling mendendam ini berpapasan tepat di depan pintu, maka bentrokan agaknya tak dapat dihindarkan lagi.
"Minggir kalian ! Kami hendak masuk !" bentak seorang di antara duabelas orang perajurit seragam kuning itu.
"Kalian yang minggir dan biarkan kami keluar dulu !" bentak seorang di antara kelompok perajurit si kumis yang seragamnya agak biru,
"Nona Ho, engkau duduk saja di sini. Agaknya mereka akan berkelahi dan aku akan membantu anak buah Gui - ciangkun," bisik Liu Pang kepada muridnya dan Pek Lian mengangguk. Tentu saja gurunya ingin membantu anak buah Gui-ciangkun dan menentang pasukan - pasukan yang bersekong-kol dengan pasukan asing itu.
Perang mulut segera disusul perkelahian. Dua-belas orang itu mencabut senjata dan hal ini me-ngejutkan delapan orang perajurit anak buah Gui-ciangkun. Biasanya, perkelahian antara perajurit hanya menggunakan tangan kosong sehingga tidak sampai membunuh lawan. Akan tetapi agaknya duabelas orang anak buah Bouw - ciangkun ini sudah begitu nekat sehingga begitu menyerang me-reka menggunakan senjata tajam. Tentu saja me-rekapun segera mencabut golok masing - masing dan ributlah di depan kedai itu. Para tamu yang makan minum di dalam kedai menjadi seriba salah dan panik. Mau keluar, di depan justeru menjadi medan perkelahian. Maka mereka semua ber-bondong-bondong lari ke belakang, hendak mela-rikan diri dari pintu belakang dan karena pintu belakang itu kecil sekali, melalui lorong kecil, mereka berebutan, berhimpitan sehingga keadaan di dalam kedai itu tidak kalah kacaunya dengan keadaan di luar.
Delapan orang perajurit anak buah Gui-ciang-kun itu pasti akan celaka karena mereka kalah banyak, kalau saja tidak ada uluran tangan secara diam - diam oleh Liu Pang. Dengan menggunakan segenggam kacang goreng, Liu Pang membantu mereka. Tanpa diketahui orang, berjejal di antara mereka yang berani nonton perkelahian di luar kedai, Liu Pang menggunakan jari-jari tangannya untuk menyentil kacang - kacang itu ke arah para anak buah Bouw - ciangkun. Biarpun hanya sebu-tir kacang goreng, akan tetapi kalau meluncur de-ngan amat cepatnya dan menyambar mata, hidung, pipi atau mulut, sama nyerinya dengan kalau di-sambit dengan batu. Dalam keadaan kesakitan itu, mudah bagi anak buah Gui - ciangkun untuk membabat dan merobohkan mereka dengan golok. Akhirnya, duabelas orang itu roboh semua, terluka oleh bacokan-bacokan golok anak buah Gui-ciangkun, bahkan di antaranya ada yang tewas ! Melihat akibat perkelahian itu, si kumis menjadi khawatir sekali. "Hayo kita cepat kembali ke mar-kas melapor kepada ciangkun !" katanya dan de-lapan orang itupun berlari-larian menuju ke mar-kas mereka.
Liu Pang mengajak muridnya untuk pergi membayangi setelah membayar harga makanan kepada pengurus kedai yang sudah pucat dan menggigil ketakutan itu. Akan tetapi, dasar peda-gang, biarpun di depan kedainya terjadi perkelahi-an dan kini ada duabelas orang mandi darah menggeletak di situ, dia tidak pernah salah meng-hitung harga makanan dan minuman, dan biarpun tangannya menggigil, sigap saja dia menerima pembayaran !
Akan tetapi, sebelum delapan orang itu tiba di markas mereka, di tengah jalan mereka disusul serombongan perajurit berkuda, anak buah pasu-kan Bouw - ciangkun yang sudah mendengar akan terjadinya perkelahian di depan kedai makanan itu. "Itu dia ! Mereka pembunuh kawan - kawan kita di depan kedai itu. Tangkap mereka! Lucuti sen-jata mereka sekarang. Bunuh! Mereka agaknya hendak memberontak !"
Delapan orang itu melawan, akan tetapi belasan orang perajurit berkuda itu dibantu oleh tiga orang perajurit asing dan terjadilah perkelahian yang berat sebelah. Liu Pang tidak dapat membantu secara menggelap seperti tadi karena mereka ber-ada di tempat terbuka. Pula, bagi pemimpin ini, ada hal - hal yang jauh lebih penting lagi untuk dilaksanakan dari pada hanya menyelamatkan nya-wa delapan orang perajurit itu. Menolong mereka secara berterang berarti membuka penyamarannya dan hal ini amat merugikan bagi tugasnya.
"Nona, engkau cepat kembali ke pasukan kita. Katakan kepada gurumu Hek - coa Ouw Kui Lam itu dan para saudara lain bahwa aku memerintah, kan agar mereka mengatur pasukan untuk mengu-rung kota ini. Besok pagi - pagi sebelum matahari terbit, pasukan kita harus sudah berada di luar benteng. Kita hancurkan pasukan asing dan pasu-kan pengkhianat di kota ini!" "Suhu sendiri bagaimana ?" "Aku akan metoemui Gui - ciangkun dan me-nyelamatkan sisa pasukannya, setidaknya sampai besok pagi. Kalau aku berhasil menggerakkan hati Gui - ciangkun, maka kita dapat menggempur kota dari luar dan dalam. Pasukan yang seribu orang kekuatannya bukan main - main, kalau pandai menggunakan dapat berguna sekali." "Baiklah, suhu."
"Seperti biasa, aku akan melepas panah api hi-jau sebagai tanda penyerbuan !"
Pek Lian lalu menyelinap pergi dan cepat me-ninggalkan kota, kembali ke pasukannya. Semen-tara itu, Liu Pang membalik dan melihat betapa delapan orang perajurit anak buah Gui - ciangkun itu dibantai habis oleh pasukan berkuda yang di-bantu oleh tiga orang asing tinggi besar yang kalau dia tidak salah duga tentulah orang - orang liar dari luar Tembok Besar, dari daerah Mongol.
Liu Pang segera meninggalkan tempat itu dan seorang diri dia mencari benteng pasukan yang dipimpin oleh Gui - ciangkun. Tidak sukar baginya untuk mencarinya karena setiap orang tahu belaka di mana adanya bentengi kecil itu. Sebuah barak pasukan yang dikelilingi oleh parit yang lebar dan dalam. Terdapat sebuah pintu gerbang besar dan yang menghubungkan pintu besar itu dengan se-berang parit adalah sebuah jembatan gantung dari besi
Liu Pang mempergunakan ilmunya untuk men-dekati parit, menyelinap ke tempat gelap dan mempelajari keadaan benteng itu. Dari luar sudah nampak kesibukan di dalam benteng. Jembatan gantung terangkat ke atas dan agaknya di setiap
penjuru terjaga ketat. Banyak pula yang mondar-mandir dengan sikap tegak. Suasananya jelas me-nunjukkan kesiapsiagaan dan agaknya berita ten-tang perkelahian itu sudah sampai pula di dalam benteng. Liu Pang tetap bersembunyi, memikirkan rencana yang kiranya dapat dilakukan untuk me-nyelamatkan benteng ini dan menggandeng pasu-kan Gui - ciangkun sehingga dapat dimanfaatkan besok, membantu penyerbuan pasukannya dari luar benteng.
DIA masih sangsi apakah Gui - ciangkun mau menerimanya kalau dia datang berterang. Apa lagi dia menyamar sebagai seorang; kakek pe-tani dan tidak ada seorangpun yang mengenal wajah Liu - bengeu.
Tiba-tiba, selagi Liu Pang mencari akal dan me-renung, terdengarlah sorak - sorai dan derap kaki kuda yang banyak sekali mendatangi tempat itu. Sepasukan tentara yang berjumlah ratusan, bahkan mungkin ada seribu orang, datang mengepung ben-teng itu. Dari seragam mereka yang agak keku-ningan, Liu Pang dapat menduga bahwa mereka itu tentulah anak buah Bouw - ciangkun. Dugaan-nya memang tepat, bahkan yang memimpin pasukan itu adalah Bouw - ciangkun sendiri, seorang perwira yang bertubuh pendek gendut. Di sebelah pembe-sar ini nampak beberapa orang perwira pasukan asing.
Terdengar bunyi terompet dan pintu gerbang di seberang terbuka. Muncullah seorang perwira tinggi kurus. Perwira ini bukan lain adalah Gui ciangkun sendiri yang sengaja keluar menyambut kedatangan pasukan berkuda yang dipimpin oleh Bouw - ciangkun, rekannya. Kota Lok - yang dijaga oleh empat pasukan besar, dan dua di antaranya dikepalai oleh Gui - ciangkun dan Bouw-ciangkun. Jembatan gantung tidak diturunkan dan kini dua orang komandan pasukan itu berdiri berhadapan, dipisahkan oleh parit yang lebar itu.
"Gui - ciangkun, menyerahlah engkau dan pa-sukanmu dengan baik-baik dari pada harus di-gempur dan dihancurkan !" teriak Bouw-ciangkun dengan sikap garang. Perutnya yang gendut sekali itu bergerak - gerak ketika dia bicara.
Gui-ciangkun mengerutkan alisnya. "Bouw-ciangkun, kita adalah rekan, sama - sama menjaga keselamatan kota ini sebagai komandan pasukan kita masing-masing. Engkau tidak berhak bicara seperti itu kepadaku, apa lagi untuk menangkap-ku dan minta pasukanku menyerah !"
"Hemm, engkau masih belum menginsyafi do-sa - dosamu ? Engkau membiarkan anak buahmu membunuhi anak buahku di depan kedai !" teriak Bouw - ciangkun.
"Perkelahian antara perajurit adalah soal biasa. Akan tetapi anak buahku yang delapan orang itu dibantai oleh belasan orang-orangmu yang dibantu oleh orang-orang liar. Kinipun aku melihat engkau bersanding dengan perwira - perwira bangsa liar, sungguh menjemukan sekali, dan engkau berani bicara tentang pasukanku harus menyerah ?"
"Orang she Gui, engkau hendak memberontak?'' "Orang she Bouw, engkaulah yang hendak mem-berontak dengan bersekongkol bersama pasukan-pasukan asing yang liar!"
Bouw - ciangkun marah sekali. Dia mencabut pedangnya, mengangkat pedangnya ke atas sambil
berteriak, "Pasukan panah, seraaanggggg !"
Pasukan berkuda itu segera bertebaran dan mulailah mereka menyerang dengiui anak panah ke arah benteng. Bouw-ciangkun tentu saja se-gera bersembunyi dan berlindung karena dari ben-tengpun datang anak panah seperti hujan sebagai serangan balasan. Korban kedua pihak mulai ber-jatuhan- Kini seluruh pasukan Bouw - ciangkun dikerahkan dan jumlah mereka tidak berselisih banyak dengan pasukan Gui - ciangkun.
Perang anak panah itu amat gencar akan tetapi sampai tengah malam, belum juga Bouw - ciangkun yang dibantu oleh pasukan kecil bangsa asing itu mampu menyeberangi parit. Beberapa usaha me-reka lakukan, akan tetapi mereka selalu mengha-dapi perlawanan gigih. Perahu-perahu yang me-reka kerahkan tenggelam dan mereka terpaksa mundur kembali ketika pasukan dari benteng me-lempar - lemparkan batu - batu besar ke arah pe-
rahu - perahu itu dan menghujani anak buah pera-hu - perahu itu dengan anak panah.
"Bakar saja benteng itu !" teriak Bouw-ciangkun marah.
Melihat betapa anak buah Bouw-ciangkun kini mempersiapkan bahan - bahan bakar dan panah-panah berapi, hati Liu Pang menjadi gelisah juga. "Celaka," pikirnya. "Kalau digunakan api, tentu habislah benteng itu!" Dia tidak tahu bagaimana dia seorang diri akan mampu menolong benteng itu.
Akan tetapi, sebelum perintah menyerang de-ngan panah api dikeluarkan, tiba - tiba terdengar bunyi terompet tanda bahwa ada pembesar datang. Yang muncul adalah seorang pembesar gagah ber-kuda, diapit oleh dua orang perwira tinggi dan dikawal oleh pasukan pengawal yang berpakaian indah. Kiranya dia adalah Jenderal Lai, yaitu panglima daerah timur dan sepanjang pantai, pang-lima yang menjadi pembantu Jenderal Beng Tian itu. Tentu saja para komandan di kota Lok-yang termasuk bawahannya dan melihat munculnya panglima ini, Bouw - ciangkun cepat memberi hor-mat dan menyambutnya sehingga penyerangan dengan panah api itu tertunda.
Dengan muka merah dan alis berkerut, Jende-ral Lai menegur, "Bouw - ciangkun apa artinya pe-ngepungan dan penyerangan terhadap benteng re-kannya sendiri itu." Bouw-ciangkun lalu melaporkan tentang apa yang telah terjadi, tentang ben-trokan antara anak buahnya dan anak buah Gui-ciangkun. Tentu saja dalam laporan kepada atas-annya ini dia menimpakan semua kesalahan kepada Gui - ciangkun yang dicapnya pemberontak.
"Saya mengundangnya baik-baik untuk saya bawa menghadap Lai-goanswe, akan tetapi dia tidak mau, bahkan menggunakan kata-kata kasar dan menantang. Saya sudah menegurnya dan mengancamnya agar dia menyerah tanpa perlawan-an, akan tetapi Gui - ciangkun membangkang dan menentang," demikian perwira gendut itu menutup pelaporannya.
Jenderal yang terhitung masih muda, baru ber-usia empatpuluh lima tahun itu mengerutkan alis-nya dan suaranya terdengar tegas, "Bouw-ciang-kun ! Seorang perajurit, apapun pangkatnya, ha-rus mentaati peraturan dan berdisiplin. Engkau sendiripun telah melakukan pelanggaran dalam hal ini. Tanpa surat perintahku untuk membawa-nya menghadap, mana mungkin Gui - ciangkun mentaatimu ? Kami tidak berpihak siapapun dalam keributan ini. Besok pagi akan kupanggil Gui-ciangkun. Aku ingin agar suasana menjadi jernih . Kekuatan kita tidak boleh dipecah - pecah seperti ini karena hal itu hanya akan mengeruhkan sua-sana dan melemahkan kedudukan kita sendiri. Nah, sekarang tariklah pasukanmu dan kembalilah ke bentengmu sendiri!"
Setelah pasukan Bouw - ciangkun ditarik kem-bali, tempat itu menjadi sunyi kembali. Hanya di dalam benteng itu saja yang masih terjadi kesi-bukan, yaitu para perajurit merawat teman - teman yang terluka. Gui - ciangkun memeriksa anak bu-ahnya dan memerintahkan agar penjagaan dilan-jutkan dengan ketat.
Liu Pang melihat semua itu dan pemimpin para pendekar ini merasa prihatin sekali. Keadaan di daerah sungguh kacau-balau. Pasukan saling han-tam sendiri dan agaknya pemerintah tidak akan dapat mengatasi keadaan. Kalau dibiarkan berla-rut - larut, di sernua tempat tentu akan muncul pemberontakan - pemberontakan dan kalau api itu sudah membakar negara, akan sukarlah untuk dipa-damkan. Kaisar dan para pembantunya di kota raja agaknya tidak tahu atau tidak memperdulikan keadaan negara yang terancam bahaya gawat ini. Mereka itu hanya pandai mengumbar nafsu, ber-senang-senang di kota raja dan menganggap ringan pemberontakan - pemberontakan itu. Bahkan kaisar agaknya hanya tahu bahwa yang melakukan pem-berontakan adalah Chu Siang Yu saja, di utara dan barat. Padahal, keadaan di timur dan selatan tidak kalah gawatnya. Daerah yang dianggap aman ini sebenarnya sedang bergolak dan sewaktu - waktu akan meledak menjadi pemberontakan yang akan menghancurkan pemerintah. Pasukan asing ber-keliaran di daerah ini dan banyak pembesar dan pasukan yang bersekongkol dengan mereka. Ce-lakanya, pemerintah pusat bahkan percaya akan laporan para pembesar yang sebenarnya merupakan musuh dalam selimut itu, para pembesar yang bersekongkol dengan orang - orang asing, percaya akan laporan mereka bahwa Liu Pang dan para pendekarlah yang memberontak! Padahal, yang menjadi dasar pada gerakannya adalah untuk me-nyelamatkan negara dan pemerintah, untuk meng-halau pasukan asing dan menghajar para pembesar yang bersekongkol dengan mereka.
"Pasukan pemerintah yang kuat kini hanya tinggal yang dipimpin oleh Jenderal Beng Tian, demikian dalam persembunyiannya Liu Pang ber-pikir. "Dan Beng - goanswe itu kini sibuk menge-rahkan tenaga untuk membendung gerakan Chu Siang Yu. Dan pergolakan di timur dan selatan tidak akan ada yang dapat mencegah lagi. Siapa lagi yang dapat menyelamatkan negara dari tangan pasukan asing dan penjual - penjual negara itu ?"
Dengan pikiran ini, bulatlah tekad di hati Liu Pang untuk menyelamatkan negara, apapun akibat-nya. Dia akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menduduki daerah, membasmi pasukan asing, menghancurkan pula kekuatan-kekuatan yang ber-sekongkol dengan pasukan asing dan hendak mem-berontak. Mulai saat itu, berobahlah pendirian Liu Pang. Kalau tadinya dia masih merasa segan dan takut-takut untuk menentang kaisar karena di dasar hatinya terdapat kesetiaan terhadap peme-rintah, kini perasaan itu semakin menipis, bahkan lenyap karena dia mulai menimpakan kesalahan kepada kaisar yang dianggapnya tidak cakap meng-atur pemerintahan sehingga negara terancam baha-ya. Dia sudah mengambil keputusan untuk me-lanjutkan gerakannya, memperbesar pasukannya dan memperluas daerah kekuasaannya untuk me-nyaingi Chu Siang Yu. Mula - mula Liu Pang me-mang didorong oleh jiwa patriot, akan tetapi kini mulai bercampur dengan ambisi.
Kemenangan dan sukses adalah hal-hal yang amat berbahaya bagi kita manusia pada umumnya. Dalam keadaan berjuang, yang ada hubungannya dengan perjuangan berdasarkan kepatriotan, me-mang cita - citanya nampak bersih dan murni, yakni membebaskan tanah air dari bangsa dari keadaan yang buruk, membela rakyat tertindas dan segala slogan yang baik-baik lagi. Dalam keadaan ber-juang, biasanya lubuk hati masih murni dan per-juangan dilakukan dengan setia dan jujur, bersih dari pada mementingkan diri sendiri, penuh kese-tiakawanan dan pengorbanan diri dengan rela. Akan tetapi, setelah perjuangan selesai dan keme-nangan dicapai, setelah memperoleh kemuliaan yang berupa bergelimangnya harta kekayaan dan menjulangnya nama kehormatan, maka akan ter-jadilah pembahan dalam batin kita pada umumnya.
Di dalam perjuangan, yang dituju adalah kepen-tingan bangsa dan kepentingan pribadi sudah teng-gelam ke dalam kepentingan bangsa sehingga ke-jujuran dan kesetiaan terhadap kawan amat terasa. Akan tetapi, setelah memperoleh kemuliaan, yang dipentingkan tentu saja adalah kemuliaannya sen-diri dan setiap orang yang berani menggoyahkan kedudukannya, dengan dalih apapun, dengan dalih kepentingan bangsa sekalipun, akan ditentang mati - matian. Hal ini sudah terjadi berulang kali, tercatat dalam sejarah semua bangsa di dunia. Di kala melakukan perjuangan mengejar kemenangan, semua orang tentu bersatu padu, akan tetapi sete-lah perjuangan berhasil dan kemenangan dicapai, semua orang saling berebut, memperebutkan hasil dari pada kemenangan itu. Yang berhasil memper-oleh kemuliaan akan mempertahankannya mati-matian, sebaliknya yang tidak kebagian akan ber-usaha untuk mengganggu dan memperebutkan ke-dudukan. Tentu saja kita menutupi segala keingin-an itu dengan berbagai macam dalih yang muluk-muluk, dan biasanya selalu nama rakyat dipergu-nakan untuk menutupi keinginan pribadi yang bersumber kepada pementingan diri sendiri. √Ďama rakyat hanya dicatut saja, diperalat untuk mencapai apa yang dikejarnya dan kalau yang dicapai sudah dapat, rakyatpun dilupakan.
Bersambung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar