Selasa, 28 Mei 2013

DARAH PENDEKAR 26

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Bab 26

"Kebetulan sekali engkau datang, nona Ho. Ka-mi memang sedang merencanakan untuk menye-lamatkan Menteri Ho, ayahmu. Kami mendengar berita bahwa Menteri Ho akan dihukum mati oleh pasukan pemerintah di luar kota Yen - tai- Maka kami berkumpul di sini dan mempersiapkan ka-wan - kawan untuk menyergap dan menyelamatkan ayahmu besok malam, sebelum pelaksanaan hu-kuman itu terjadi."

Mereka lalu mengatur siasat dan membagi tu-gas. Para pendekar itu mendapatkan tugas untuk menghubungi dan mengajak para pendekar yang berada di luar kota, dan pada besok sore sudah harus berkumpul di semua pintu gerbang kota Yen - tai. Setelah mengadakan perundingan sampai jauh malam, mereka semua beristirahat dan dua orang gadis itupun beristirahat di dalam pondok bambu, mendapatkan kamar untuk dipakai mereka berdua sedangkan para pendekar pria beristirahat di ruangan luar.

Pada keesokan harinya, mereka berpencar, ada yang pergi mencari para pendekar, dan ada pula yang langsung menuju ke kota Yen - tai yang le-taknya kurang lebih duapuluh li dari situ. Pek Lian dan Bwee Hong bersama Sin-kauw Song Tek Kwan menuju ke pintu gerbang kota Yen-tai sebelah barat, di mana mereka menanti kawan - kawan dan menanti datangnya malam sambil mengintai ke arah pintu gerbang untuk melihat setiap orang yang keluar masuk. Mereka mengenal banyak pen-dekar yang berdatangan, akan tetapi mereka itu hanya saling pandang dan pura - pura tidak saling mengenal, namun kesemuanya bersiap - siap tak jauh dari pintu gerbang. Demikian pula dengan para pendekar yang telah mengadakan persiapan di pintu - pintu gerbang lain dan di antara pintu-pintu gerbang ini terdapat kontak melalui kurir-kurir yang pergi datang tiada hentinya.

Malam tiba dan apa yang mereka tunggu-tung-gupun terjadilah. Sebuah kereta yang jendela dan pintunya tertutup rapat keluar dari pintu gerbang barat, diiringkan oleh pasukan pengawal yang kuat. Melihat ini, Sin - kauw, Pek Lian dan Bwee Hong bergegas membayangi dan para pendekar yang berjaga di pintu - pintu gerbang lainnya segera diberi kabar dan merekapun cepat melakukan pe-ngejaran dan ikut membayangi. Jumlah para pen-dekar ini lebih dari seratus orang!

Sesuai dengan rencana para pendekar, ketika kereta tiba di sebuah dataran luas, para pendekar menghadang dan mengepungnya. Lebih dari se-ratus orang pendekar mengepung dan menyerbu. Pasukan pengawal yang jumlahnya hanya duapu-luh lima orang itu melawan. Akan tetapi tentu saja mereka kewalahan walaupun mereka merupakan pasukan pengawal pilihan karena para penyerbu itu selain berjumlah lebih besar, juga rata - rata memiliki ilmu silat yang kuat. Para perajurit penga-wal itu mundur sambil melawan sedapat mungkin, akan tetapi banyak di antara mereka yang roboh. Kereta itupun ikut dibawa mundur sampai ke lem-bah yang tak berapa jauh dari dataran itu. Ketika para pengawal itu sudah terdesak hebat dan seba gian besar di antara mereka sudah roboh, tiba - tiba saja pintu kereta terbuka dan dari dalam kereta itu muncul seorang laki - laki kurus yang memiliki gerakan gesit sekali. Dan begitu dia meloncat ke-luar dan menerjang para pengeroyok, empat orang anggauta pasukan pendekar terlempar ke sana-sini, dan pada saat itu tercium bau dupa harum yang keras. Pek Lian dan Bwee Hong terkejut sekali ketika mengenal pemuda kurus yang bukan lain adalah Kwa Sun Tek, kakak dari Siok Eng, putera ketua Tai - bong - pai yang amat lihai itu.

Melihat kelihaian pihak lawan ini, Sin - kauw Song Tek segera menubruk dengan sebuah loncatan cepat. Kedua tangannya terulur hendak menceng-keram muka dan dada lawan. "Haiiiiittt!" Bentak-nya dengan serangan kilat sambil melompat itu.

"Huhh !" Pemuda kurus yang kini mengenakan jubah biru itu mendengus dan kedua lengannya menangkis dari atas ke bawah.

"Desss !" Tubuh Sin - kauw Song Tek terpelanting clan dia tentu akan roboh terbanting kalau saja dia tidak memiliki kegesitan dan cepat dia menggulingkan tubuh ke atas tanah.

Melihat betapa kakek itu sama sekali tidak da-pat menandingi Kwa Sun Tek jagoan muda Tai-bong - pai yang lihai itu, Pek Lian dan Bwee Hong segera menerjang maju dan menyerangnya. Dua orang dara perkasa ini masih dibantu oleh beberapa orang pendekar. Tentu saja Kwa Sun Tek merasa kewalahan dan maklum bahwa dia dikeroyok oleh orang - orang lihai, terutama dara cantik jelita Chu Bwce Hong yang memiliki ginkang istimewa itu. Maka sambil berteriak panjang Kwa Sun Tek me-loncat ke belakang, lalu naik kembali ke dalam kereta yang dilarikan cepat turun ke lembah.

"Kejar ! Rampas kereta itu !" teriak Sin - kauw Song Tek Kwan menganjurkan kawan - kawannya dan mereka semua melakukan pengejaran sampai ke lembah.

Kereta itu berhenti di tengah lembah dan begi-tu semua pendekar masuk lembah itu, tiba - tiba terdengar terompet disusul sorak - sorai gemuruh. Muncullah ratusan orang perajurit yang tadinya bersembunyi di balik semak - semak belukar dan tempat itu telah terkepung ketat!

"Celaka! Kita terjebak. Mundur lari !"

Sin - kauw Song Tek Kwan berteriak lantang.

Namun terlambat. Tidak ada jalan keluar lagi. Pasukan yang besar jumlahnya itu sudah menge-pung dan menyerbu dari segala jurusan. Para pen-dekar itu tentu saja melawan mati - matian dan terjadilah perang kecil di lembah itu, perang yang dahsyat dan mengerikan, kejam dan tidak menge-nal ampun. Akan tetapi, biarpun para pendekar melawan mati - matian dan nekat, pertempuran itu lebih menyerupai pembantaian karena jumlah para pendekar itu kalah jauh. Sin - kauw Song Tek Kwan sendiripun akhirnya roboh dan para pende-kar itu satu demi satu roboh terluka atau tewas. Melihat ini, bukan main marahnya hati Pek Lian dan dara ini mengamuk bagaikan seekor naga dan agaknya ia akan melawan terus sampai mati kalau saja tangannya tidak disambar oleh Bwee Hong dan diajak pergi dari situ.

"Mari kita pergi, adik Lian !" teriak Bwee Hong sambil menarik dara itu dan membawanya loncat menjauh.

Pek Lian hendak membantah akan tetapi Bwee Hong menyeretnya dan berkata, "Tidak perlu bunuh diri, lain waktu kita masih dapat membuat perhitungan !"

Akhirnya, dengan amukan mereka, dua orang dara itu berhasil lolos dari kepungan dan melarikan diri. Akan tetapi, di antara seratus lebih orang pen-dekar yang menjadi anak buah Liu - bengcu itu, tidak ada yang dapat lolos. Semua dibantai, seba-gian besar tewas dan sebagian pula dengan sengaja hanya dibuntungi lengan mereka dan dibiarkan hidup untuk menyaksikan hukuman mati yang di-laksanakan di tempat itu juga terhadap seorang kakek berusia limapuluh tahun lebih yang bersikap tenang dan agung. Kakek ini mengenakan pakaian pembesar yang sudah rompang-ramping, tubuhnya kurus, jenggot dan rambutnya panjang riap-riapan, akan tetapi pandang matanya masih tajam dan lembut. Para pendekar yang roboh terluka dan belum tewas, dengan terkejut mengenal Menteri Ho yang dibawa ke tempat itu oleh rombongan pcrajurit. Kemudian, para pendekar yang terluka itu hanya dapat mengucurkan air mata ketika me-reka melihat betapa menteri tua yang mereka ka-gumi dan hormati itu dihukum mati dengan tusuk-an pedang pada lambungnya ! Tubuh tua kurus itu terkulai dan tewas mandi darahnya sendiri, menggeletak begitu saja di atas tanah yang sudah ternoda darah pertempuran tadi. Menteri yang se-tia dan jujur ini tewas dalam keadaan menyedih-kan, tanpa upacara, bahkan pelaksanaan hukuman itupun nampaknya liar, disaksikan oleh para pen-dekar yang sudah luka - luka !

Ketika kakek bangsawan ini tewas, para peraju-rit bersorak dan jenazah bekas menteri itu lalu di-kubur di tempat itu juga secara sederhana, hanya dilemparkan ke dalam lubang dan ditimbuni tanah dan batu. Setelah itu, pasukan pemerintah mening-galkan tempat itu, membiarkan bekas lawan yang terluka begitu saja tanpa membunuh mereka dan ini memang merupakan perintah yang harus mereka laksanakan sebagai siasat atasan mereka. Para pen-dekar yang dibiarkan hidup dalam keadaan terluka dan buntung kaki atau tangannya itu, menjadi saksi dari pada pelaksanaan hukuman mati terhadap diri Menteri Ho dan tentu saja para pendekar yang dibiarkan hidup ini akan menjadi corong dan te-rompet mereka untuk mengabarkan kepada rakyat jelata bahwa pasukan pemerintah membantai para pendekar dan menghukum mati Menteri Ho. Sia-sat inilah yang dijalankan oleh Kwa Sun Tek dan sekutunya sebagai rencana yang diatur oleh pem-berontak Chu Siang Yu dalam usahanya mengadu domba antara pemerintah dan para pendekar di bawah bimbingan Liu - bengcu.

Kwa Sun Tek memasuki kota Yen - tai bersama sekutunya dengan gembira sekali. Mengingat akan jasa - jasanya, maka Kwa Sun Tek lalu dijamu oleh para perwira yang menjadi utusan gubernur wila-yah timur yang bersekutu dengan pemberontak Chu Siang Yu, dan hadir pula di situ sekutu mere-ka yang lain, yaitu raksasa peranakan Mongol yang bernama Malisang itu. Apa yang telah terjadi siang tadi, pembantaian para pendekar dan dilaksana-kannya hukuman mati terhadap Menteri Ho di depan para pendekar yang terluka tapi belum tewas, adalah pelaksanaan dari pada siasat yang dibisikkan oleh Kwa Sun Tek pada rekan-rekan sekutunya ketika diadakan pertemuaan di antara mereka itu.

Ternyata siasat itu berjalan dengan baik sekali. Sekali pukul mereka memperoleh dua keuntungan besar. Pertama dapat menghancurkan sebagian dari pada kekuatan para pasukan pendekar yang dipimpin oleh Liu Pang, dan ke dua menanam persangkaan rakyat dan terutama para pendekar bahwa Menteri Ho dihukum mati oleh kaisar yang berarti kaisar mengingkari janji. Hal ini pasti akan menimbulkan dendam dan tentu para pendekar akan menentang kaisar sehingga keduanya akan terpecah. Hal ini amat menguntungkan bagi usaha pemberontakan Chu Siang Yu. Dan memang ke-nyataannyapun demikianlah. Para pendekar yang terluka dan buntung kaki atau tangannya itu, de-ngan susah payah dapat melarikan diri dari lembah dalam keadaan luka parah, dan tentu saja mereka tidak tinggal diam dan menceritakan semua peris-tiwa itu kepada siapa saja. Dengan demikian, se-bentar saja menjadilah berita di kalangan rakyat bahwa Menteri Ho telah dihukum mati oleh kaisar, dan bahwa pasukan pendekar di bawah pimpinan Liu - bengcu telah dibantai habis - habisan oleh para perajurit pasukan pemerintah.


                                                                      * * *


Pek Lian dan Bwee Hong yang berhasil melo-loskan diri itu juga mendengar akan pelaksanaan hukuman mati dari Menteri Ho dan dibasminya semua pendekar. Mereka belum jauh meninggalkan tempat itu dan mereka bertemu dengan seorang pendekar yang buntung lengannya dan dari pen-dekar inilah mereka mendengar berita itu. Tentu saja Pek Lian menjadi berduka dan terkejut sekali. Ia menangis sepanjang perjalanan ketika ia dibujuk untuk kembali ke Yen-kin, di mana menunggu Seng Kun, A - hai dan Siok Eng.

Ketika Siok Eng dan Seng Kun mendengar be-rita buruk itu, mereka ikut merasa berduka dan penasaran sekali. A - hai yang ikut mendengarkan hanya mengerutkan alisnya, bukan karena berita itu, melainkan karena terharu dan kasihan melihat Pek Lian menangis demikian sedihnya.

"Sudahlah, enci Lian," kata Siok Eng dengan tenang. Dara ini hidup di antara kaum sesat dan sudah banyak mengalami hal-hal mengerikan, maka jaranglah ada hal yang dapat membuat darah-nya yang dingin menjadi terharu. "Kematian bukan apa - apa bagi seorang gagah."

Pek Lian menyusut air matanya dan memandang kepada gadis Tai - bong - pai itu.

"Aku tidak menangisi kematian ayah, melainkan menangis karena menyesal mengapa aku sebagai anaknya tidak mampu menyelamatkan ayah di depan hidungku sendiri."

Tiba - tiba Siok Eng kelihatan marah dan me-ngepal tinjunya.

"Hemm, kakakku yang keparat itu! Siapa kira dia melanggar pantangan Tai-bong - pai dan membiarkan dirinya menjadi kaki tangan pemerintah ! Aku akan melaporkan hal ini kepada ayah dan dia pasti akan menerima hukumannya !"

Bwee Hong mengerutkan alisnya. "Aku merasa heran sekali mengapa sri baginda kaisar melanggar janji sendiri dan menjatuhkan hukuman mati juga kepada Menteri Ho."

Seng Kun sejak tadi termenung saja tidak me-ngeluarkan kata - kata, akan tetapi diam - diam diapun merasa heran seperti adiknya. Akan tetapi dia tetap tidak dapat percaya bahwa pelaksanaan hukuman terhadap Menteri Ho itu adalah atas pe-rintah kaisar. Bukankah kaisar telah mengutus dia untuk mencari dan menyelamatkan Menteri Ho yang diculik orang ? Tidak mungkin kalau kaisar memberi perintah lain untuk menghukum mati menteri itu. Tentu ada hal - hal yang tidak beres dalam urusan ini. Apa lagi melihat munculnya Kwa Sun Tek, pemuda Tai - bong - pai itu yang kemarinnya telah mengadakan pertemuan di dekat pantai dengan pasukan kapal asing. Diam - diam dia merasa curiga sekali dan ingin menyelidiki apa yang sesungguhnya terjadi di balik peristiwa hu-kuman aneh itu.

"Aku harus melihat kuburan ayah dan bersembahyang di sana. Harus !!" tangis Pek Lian.

"Akan tetapi, hal itu tentu sangat berbahaya, enci!" cela Siok Eng.

"Siapa tahu pasukan meng-adakan penjagaan dan pengintaian dan akan turun tangan terhadap siapa saja yang berani datang bersembahyang."

"Aku tidak perduli! Kalau ada yang menggang-guku, aku akan mengamuk dan biarlah aku mati di kuburan ayahku !" Kembali gadis itu menangis. Teman - temannya segera menghiburnya.

"Baik, malam nanti kita bersama pergi ke ku-buran. Aku pun ingin sekali tahu apa yang sebe-tulnya telah terjadi," kata Seng Kun.

"Kesehatan-ku telah pulih, tenagaku telah kembali, aku akan dapat membantumu sekarang, nona."
Mereka menanti sampai siang terganti senja.

"Kuharap saudara A - hai tinggal saja di losmen ini, menanti kami pulang," Seng Kun berkata ke-pada pemuda sinting itu.

A - hai menggeleng kepala keras - keras. "Aku tidak suka ditinggal, aku mau ikut! Nona Bwee Hong,' Pek Lian, biarkan aku ikut!"

Memang aneh pemuda sinting ini. Dia lupa segala, akan tetapi nama Pek Lian dan Bwee Hong dia tidak pernah lupa!

"Tapi kita melakukan perjalanan yang berbahaya sekali!" Siok Eng mencegah karena khawatir ka-lau - kalau terjadi sesuatu dan pemuda sinting ini tidak dapat menjaga diri, kecuali kalau sedang ku-mat. Akan tetapi siapa tahu kapan kumatnya ?

"Biarpun berbahaya aku tidak takut. Biarlah kalian berempat tidak usah memikirkan aku, tidak perlu menjagaku. Apapun yang terjadi kepada diriku, aku tanggung sendiri dan tidak akan menya-lahkan kalian."

Tentu saja empat orang pendekar itu tidak da-pat membantah lagi. Bagaimanapun juga, mereka semua maklum bahwa kalau pemuda ini sedang kambuh, tidak ada seorangpun di antara mereka yang akan mampu menandingi kelihaiannya. A-hai gembira sekali ketika diperbolehkan dan malam itu berangkatlah mereka meninggalkan losmen dengan cepat menuju ke lembah bukit di mana terjadi per-tempuran pada siang hari tadi.

Baru saja mereka keluar dari pintu gerbang kota, serombongan orang yang berpakaian ringkas dan bersikap gesit mendahului mereka. Orang-orang itu lalu menoleh dan menghentikan langkah mere-ka, seorang di antara mereka menyapa lirih, "Ka-lian dari gunung mana ?"

Tentu saja Seng Kun dan teman - temannya termangu - mangu mendengar pertanyaan ini. Me-reka tahu bahwa pertanyaan itu merupakan sema-cam kata sandi untuk mengenal lawan atau kawan, akan tetapi karena mereka sama sekali tidak tahu arti kata sandi itu, merekapun hanya memandang bengong. Akan tetapi A-hai segera menjawab dengan nada suara lucu, tanda bahwa pemuda ini sedang bergembira dan dalam keadaan sehat, "Ma-af, kami bukan dari gunung !"

Serombongan orang itu memandang dengan pe-nuh kecurigaan, akan tetapi karena cuaca hanya remang - remang, mereka tidak dapat melihat ba-nyak. Seng Kun dan teman - temannya juga tidak banyak cakap dan melanjutkan perjalanan dengan cepat. Di tengah perjalanan A - hai mengomel.

"Heran sekali, kenapa tiba - tiba bertanya apa-kah kita datang dari gunung ? Eh, nona - nona, apakah orang macam aku ini kelihatan kampungan dan seperti orang gunung ?"

A - hai menunjuk hi-dungnya sendiri. Melihat sikap ini, tiga orang dara itu tertawa dan sejenak Pek Lian dapat melupakan kesedihannya.

"Engkau sepantasnya datang dari alam rahasia, A-hai !" kata Siok Eng menggoda.

Ketika mereka tiba di kaki bukit, di tepi hutan kecil nampak beberapa orang laki - laki berdiri di tepi jalan. Ketika mereka lewat, orang - orang itu menyapa mereka dengan pertanyaan yang sama, "Kalian dari gunung mana ?"

Kembali rombongan Seng Kun tak dapat men-jawab dan melihat betapa rombongan yang mereka sapa itu tidak dapat menjawab, merekapun cepat pergi. A - hai menggaruk - garuk kepalanya. "Duhai betapa banyaknya orang gila di dunia ini!"

Kembali kawan - kawannya tersenyum melihat sikap A-hai ini. Dia sendiri kalau sedang kumat kaya orang gila tanpa disadarinya sendiri, kini me-ngatakan orang lain gila.

"Agaknya ada sesuatu yang tidak wajar. Kita harus berhati - hati," kata Seng Kun

Biarpun para pengeroyok itu berjum-lah puluhan orang, akan tetapi ternyata mereka itu merasa kewalahan menandingi amukan empat orang pendekar muda yang lihai itu. Hanya A - hai yang tidak ikut berkelahi. Pemuda ini hanya berdiri bingung dan berulang - ulang menegur dan men-cela, menyuruh mereka jangan berkelahi. Tentu saja pemuda ini akan celaka dan terluka kalau saja Bwee Hong dan Pek Lian tidak selalu melindungi-nya. Dua orang dara ini mengamuk tidak jauh dari tempat A - hai berdiri dan setiap kali ada penge-royok berani mendekati dan menyerang A - hai, tentu mereka robohkan dengan tamparan atau tendangan.

'Tahan, jangan berkelahi!"

Tiba - tiba terde-ngar seruan orang yang penuh wibawa dan semua pengeroyok menahan senjata dan mundur. Seo-rang laki-laki yang gagah perkasa, sikapnya tenang namun berwibawa, berpakaian sederhana seperti petani, mukanya agak kurus dan tubuhnya jang-kung, muncul menghadapi lima orang muda itu. Ketika melihat laki - laki gagah perkasa yang usia-nya antara tigapuluh lima sampai empatpuluh ta-hun ini, Pek Lian berteriak girang.

"Suhu !!"

"Nona Ho, tak kusangka akan dapat bertemu denganmu di sini!" kata laki - laki gagah itu yang bukan lain adalah Liu Pang atau lebih terkenal dengan sebutan Liu - twako atau Liu - bengcu.

"Mari kita menjauhi tempat ini dan bicara di tem-pat aman."

Tanpa membantah Pek Lian lalu mengajak kawan - kawannya pergi bersama mereka, menghi-lang di dalam kegelapan sebuah hutan tak jauh dari lembah. Kiranya di tengah hutan ini telah didirikan sebuah pondok darurat dan Liu Pang mengajak lima orang muda itu masuk ke dalam pondok di mana dinyalakan sebuah lampu gantung.

Pek Lian memperkenalkan gurunya kepada teman - temannya. "Inilah guruku."

Seng Kun, Bwee Hong, dan Siok Eng, juga A-hai memberi hormat kepada laki - laki gagah per-kasa itu dan A - hai berkata lantang,

"Pantas saja nona Pek Lian gagah perkasa, kiranya gurunya juga seorang yang amat gagah!" Mendengar ini, Liu Pang hanya tersenyum. Pemuda itu kelihatan begitu gagah, akan tetapi kejujurannya itu berbau ketololan!

"Sudah lama kami mendengar nama besar Liu-bengcu !" kata Seng Kun.

"Nona Ho, siapakah teman - temanmu ini ? Se-muda ini sudah memiliki kepandaian demikian he-batnya sehingga para pendekar kewalahan dibuat-nya."

Pendekar yang kini menjadi pimpinan rakyat itu memang selalu menyebut nona Ho kepada mu-ridnya, hal ini tentu saja karena Pek Lian adalah puteri seorang menteri yang berkedudukan tinggi.

"Suhu, twako dan enci ini adalah Chu Seng Kun dan Chu Bwee Hong, keduanya adalah keturunan dan ahli waris dari Bu - eng Sin-yok-ong! Dan adik ini adalah Kwa Siok Eng, puteri ketua Tai-bong - pai! Sedangkan twako ini adalah eh, namanya dikenal sebagai A - hai saja. Dia sendiri lupa akan asal - usulnya, akan tetapi kalau dia sedang kesetanan, tidak ada seorangpun di dunia ini yang akan dapat melawannya !"

"Wah, wah, jangan begitu Pek Lian. Apakah aku kadang - kadang kemasukan setan ?" A - hai memprotes, menimbulkan senyum mereka.

"Siancai , tak kusangka akan dapat bertemu dengan orang - orang muda yang ternyata adalah keturunan tokoh - tokoh besar yang amat hebat! Sungguh merupakan kegembiraan besar sekali. Sayang kami sedang dalam keadaan prihatin sehingga tidak dapat menyambut sepatutnya kepada cu-wi (anda sekalian). Nona Ho, bagaimana engkau dapat muncul di sini bersama sahabat - sahabatmu ini ?"

Ditanya demikian, tak tertahankan lagi Pek Lian menangis. "Suhu ayah " Ia tidak dapat melanjutkan kata - katanya.

LIU - BENGCU menarik napas panjang. "Aku sudah tahu akan hal itu, juga kehancuran teman-teman yang seratus lebih banyaknya, bah-kan ada puluhan lain teman kita yang kini masih tertawan di Yen - tai. Karena itulah maka aku da-tang ke sini bersama kawan - kawan dan kami telah mengatur siasat. Ketika tadi rombonganmu lewat, kawan - kawan mengira bahwa kalian dari pihak musuh atau pihak lain yang akan mengacaukan rencana kami, maka mereka menyergap kalian."

"Aku ingin menyembahyangi kuburan ayah, suhu "

Kembali pendekar besar itu menarik napas pan-jang. "Aku mengerti bagaimana perihnya hatimu, nona. Akan tetapi ayahmu tewas sebagai seorang pahlawan sejati. Kami bahkan mempunyai rencana yang lebih besar dari pada sekedar menyembah-yanginya. Kami bermaksud mengambil jenazah ayahmu agar dapat kita makamkan sebagaimana layaknya."

"Ah, terima kasih, suhu!" Pek Lian berkata pe nuh semangat dan kegembiraan.

"Bagaimana ren-cana itu ? Aku akan membantu, kalau perlu ber-korban nyawa menghadapi para pembunuh ayah itu !"

"Jangan terburu nafsu, muridku. Di dalam urusan ini terdapat hal - hal yang penuh rahasia. Pada mulanya aku sendiripun penasaran sekali mengapa sri baginda kaisar yang sudah mengam-puni para menteri bahkan berjanji akan mendu-dukkan mereka kembali ke kursi mereka semula, tiba-tiba saja memerintahkan pasukan kerajaan untuk melaksanakan hukuman mati terhadap ayah-mu secara liar. Akan tetapi sekarang aku mengerti dan kiranya semua ini terjadi karena ada pihak ke tiga yang hendak memberontak terhadap kaisar dan juga hendak menghancurkan kita dan merusak nama baik kita."

Liu Pang lalu menceritakan dengan singkat. Dia telah menyelidiki di rumah kepala daerah di Yen-tai dan melihat betapa pembesar itu bersama para perwira telah mengadakan perjamuan untuk meng-hormati orang - orang Mongol dan beberapa orang lain yang telah membantu terlaksananya siasat mereka itu. Liu Pang tidak menyebut nama Kwa Sun Tek, akan tetapi Siok Eng mendengarkan de-ngan jantung berdebar dan muka merah. Dari percakapan dalam pesta itu, Liu Pang yang melakukan pengintaian itu baru mengerti bahwa pem-bunuhan terhadap Menteri Ho dan penyergapan yang merupakan perangkap terhadap anak buah-nya adalah siasat yang direncanakan dari perseku-tuan pemberontak itu.

"Mereka sudah tahu pula akan gerakan rom-bonganku yang tiba di sekitar kota," sambung pemimpin para pendekar itu.

"Dan mereka telah merencanakan siasat baru untuk menghancurkan rombonganku dengan jalan menyebar berita bahwa kuburan Menteri Ho akan dibongkar pada besok malam. Mereka berpendapat bahwa kita tentu akan mengambilnya lebih dulu sebelum malam datang dan mereka telah mempersiapkan pasukan untuk menjebak dan menyergap kita."

Seng Kun mengangguk - angguk. Tepat seperti yang diduganya. Tentu ada pihak ke tiga yang mengacau.

"Maaf, Liu - bengcu, kalau boleh saya tahu. Siapakah pihak ke tiga itu ? Siapakah yang meng-gerakkan persekutuan ini ? Apakah pembesar se-tempat sini yang hendak memberontak ?"

Liu Pang menghela napas panjang. "Memang belum terdapat buktinya, akan tetapi melihat cara mempergunakan siasat yang amat cerdik itu, aku mempunyai dugaan bahwa yang berada di balik semua ini tentulah otak dari Chu Siang Yu."

"Bengcu yang bergerak di barat itu ?'" tanya Seng Kun.

Liu Pang mengangguk. "Aku pernah memban-tunya dan tahu akan kecerdikannya."

"Suhu, lalu apa yang harus kita lakukan selan-jutnya ?" Pek Lian bertanya.

"Pertama - tama, malam ini juga kita harus da-pat mengambil jenazah ayahmu! Kita bergerak kilat sehingga mereka tidak menduga - duga. Me-reka tentu mengira bahwa belum ada yang akan bergerak, baru besok setelah berita itu disiarkan. Mereka tidak mengira bahwa aku telah mendengar siasat mereka, maka kita harus mendahuluinya ma-lam ini juga."

"Baik, kami akan membantu, suhu !" kata Pek Lian mewakili teman - temannya yang tentu saja merasa setuju.

Malam telah larut ketika mereka menuju ke lembah. Di mulut lembah terdapat pasukan pera-jurit pemerintah berjaga - jaga di tempat gelap. Tentu saja Liu Pang dan para pendekar muda itu tahu akan hal ini dan dengan mudah mereka dapat menyelinap masuk tanpa diketahui oleh para pe-rajurit penjaga itu. Dengan jalan memutar, mele-wati tebing, Liu Pang dan lima orang muda itu menuruni lembah dan ketika mereka tiba di tem-pat yang sunyi dan menyeramkan itu, tempat per-tempuran, mereka menjadi bingung. Di tempat itu, di tempat bekas pertempuran, nampak gundukan makam yang banyak ! Puluhan banyaknya ! Mereka tidak tahu, makam yang mana yang terisi jenazah Menteri Ho. Kiranya para korban telah ditanam secara kasar dan semua gundukan tanah itu sama tanpa ada tandanya sama sekali.

"Ah, bagaimana kita dapat menemukan makam ayah kalau begini ?" keluh Pek Lian.

"Hemm, sungguh gila mereka itu. Tak mungkin kita harus membongkar semua makam ini untuk menemukan jenazah ayahmu," kata Liu - bengcu. Tiba - tiba terdengar suara bisikan dan mereka semua, kecuali A - hai, terkejut bukan main karena mereka semua maklum apa artinya bisikan yang seolah - olah dibisikkan di dekat telinga mereka itu. Itu adalah pengiriman suara dari jarak jauh atau apa yang disebut Coan - im Jip - bit dan pengirim-nya tentu telah memiliki khikang yang amat kuat sehingga suara dari jauh itu terdengar demikian jelas di dekat telinga masing - masing.

"Kalau kalian ingin mencari makam Menteri Ho, di sinilah tempatnya."

Liu Pang diikuti oleh lima orang muda itu lalu menghampiri ke arah datangnya suara itu, walau-pun bagi orang yang kurang tajam pendengarannya suara itu tidak mempunyai arah melainkan terde-ngar di dekat telinga. Dan di dalam keremangan malam mereka melihat bayangan dua orang berdiri di dekat sebuah gundukan tanah kuburan, di bawah sebatang pohon yang tidak berdaun dimakan musim rontok. Karena tubuh mereka terselimut oleh bayangan pohon, maka kedua orang itu hanya ke-lihatan seperti dua tonggak hitam saja.

Maklum bahwa dia berhadapan dengan orang pandai, Liu Pang bersama lima orang muda itu melangkah maju menghampiri dengan hati - hati sekali. Setelah dekat barulah dia dapat melihat bahwa dua orang itu adalah seorang kakek yang sangat tua dan seorang muda yang gagah. Dia sama sekali tidak mengenal dua orang itu, akan tetapi Pek Lian segera berseru heran.

"Ah, kiranya Kwee - kokcu (ketua lembah Kwee) dan locianpwe " Pek Lian meragu karena ia belum yakin benar siapa adanya kakek ini walaupun ia sudah mendengar tentang murid - murid Sin-yok - ong.

Seng Kun dan Bwee Hong belum pernah bertemu dengan murid ke tiga dari Sin - yok - ong ini, yang masih terhitung adik seperguruan kakek guru mereka, akan tetapi mereka sudah banyak mendengar tentang tokoh ini dari mendiang Bu Kek Siang dan pernah pula mendengar penuturan Pek Lian tentang pertemuan dara itu dengan ka-kek yang ginkangnya luar biasa itu. Maka Seng Kun sudah dapat menduga siapa adanya kakek ini, apa lagi ketika mendengar bahwa pemuda gagah itu adalah kokcu dari Lembah Yang - ce seperti yang pernah diceritakan oleh Pek Lian.

"Kam - susiok - couw, teecu Chu Seng Kun dan Chu Bwee Hong menghaturkan hormat," kata Seng Kun sambil menjura dengan sikap hormat.

Kakek yang memegang tongkat itu menatap tajam kepada Seng Kun dan Bwee Hong, lalu mengerutkan alisnya. "Kalian kalian she Chu ? Menyebutku susiok - couw ? Ah, kalian inikah yang dahulu diambil anak oleh Bu Kek Siang ?"

Dua orang muda itu lalu menjatuhkan diri ber-lutut. Akan tetapi kakek itu menggerakkan tong-katnya ke depan dan seperti ada tenaga sakti yang mengangkat mereka, kedua orang muda itu terpak-sa bangkit berdiri lagi dan menjura.

"Tidak perlu banyak peraturan dalam keadaan seperti ini," kata kakek itu yang segera menghadapi Liu Pang. "Aku gembira dapat bertemu dengan Liu - bengcu yang gagah perkasa."

Liu Pang cepat menjura dengan hormat. "Ma-afkan bahwa saya tidak mengenal nama dan juluk-an locianpwe, akan tetapi saya berterima kasih atas petunjuk locianpwe. Inikah makam jenazah Men-teri Ho ?"

"Benar dan kalau kalian hendak membongkar, cepat - cepatlah. Para penjaga itu telah kami bikin pulas sampai pagi sehingga sementara ini kalian tidak akan ada yang mengganggu."

Maka mulailah mereka menggali lubang kubur-an baru itu. A - hai tanpa diminta juga membantu dan ternyata tenaganya besar ketika dia menggali tanah dan batu itu. Juga Seng Kun bekerja keras, dibantu pula oleh Kwee Tiong Li, ketua Lembah Yang - ce atau murid dari pemberontak Chu Siang Yu yang kini menjadi murid dari kakek sakti Kain Song Ki itu. Akhirnya, jenazah itu dapat dikeluar-kan dari timbunan tanah dan batu, dan ternyata jenazah itu masih utuh walaupun pakaiannya masih compang - camping. Darah dari lambungjnya telah mengering dan kakek bangsawan itu kelihatan se-perti orang tidur saja.

"Ayaaaahhh ! !" Pek Lian tidak dapat menahan kesedihan hatinya dan ia lalu menjatuhkan diri berlutut di dekat mayat ayahnya sambil menangis. Semua orang memandang dengan terharu ketika melihat gadis yang perkasa itu bersimpuh dan mengguguk. Seorang gadis yang malang. Keluarganya menjadi korban keadaan dan pergolakan.

Tanpa mengenal lelah, gadis ini telah menempuh segala macam bahaya dan kesukaran untuk mencari dan menyelamatkan ayahnya. Kini, ia hanya menemukan ayahnya yang sudah menjadi mayat dalam keadaan yang demikian menyedihkan.

Kakek Kam Song Ki yang juga masuk ke dalam lubang itu dan berdiri di belakang Pek Lian dengan tongkat di tangan kiri, melangkah maju dan me-nyentuh pundak gadis yang sedang menangis se-senggukan itu.

"Cukup, nona. Tidak baik yang sudah mati ditangisi, tidak ada gunanya dan hanya mengeruhkan suasana dan pikiran saja." Sentuhan di pundak itu mengandung getaran hangat dan sekaligus membersihkan pikiran Pek Lian dan mem-bangkitkan semangatnya. Ia menoleh dan tangisnya terhenti.

"Terima kasih, locianpwe," katanya sambil bangkit berdiri. Ketika ia bangkit berdiri itulah ia berhadapan dan bertemu pandang mata dengan Kwee Tiong Li, pemuda yang juga berlutut di de-kat kepala jenazah itu, memegang tongkat dan me-ngerutkan alisnya.

Dan pertemuan pandang mata itu mengingatkan Pek Lian siapa adanya pemuda ini. Murid kesayangan Chu Siang Yu ! Dan menu-rut perhitungan gurunya, semua kejadian itu diatur oleh Chu Siang Yu si pemberontak. Berarti, kema-tian Tayahnya adalah akibat perbuatan Chu Siang Yu dan pemuda ini adalah murid kesayangannya. Siapa tahu, murid inilah yang menjadi pelaksana rencana gurunya.

"Engkau harus mempertanggungjawabkan keja-hatan gurumu !" bentaknya dan tiba - tiba gadis itu menyambar pedang yang tadi diletakkan di atas tanah dan dengan pedang itu diserangnya Kwee Tiong Li yang menjadi terkejut sekali.

"Trang - trang - tranggg ! !" Tiga kali Tiong Li mengangkat tongkat untuk menangkis serangan pedang itu dan dia sengaja tidak mengerahkan te-naga agar pedang di tangan gadis yang sedang kalap itu tidak sampai terlepas. Sementara itu, yang lain - lain sudah cepat turun tangan melerai.

"Nona Ho, dalam keadaan seperti ini, tidak baik sembarangan saja menuduh orang," kata Liu Pang. Pemimpin inipun melihat bahwa sikap pemuda dan kakek itu tidak seperti musuh, maka diapun ber-hati - hati dan tidak mau menyangka orang tanpa melihat buktinya lebih dahulu.

"Nona, aku tidak tahu-menahu dan tidak men-campuri urusan ini!" kata Tiong Li dengan wajah berduka.
"Nona, semenjak kita saling berpisah, Tiong Li selalu bersamaku. Dia tidak mempunyai hubungan lagi dengan segala macam pemberontakan," kakek Kam Song Ki juga menerangkan.

Pek Liian sadar akan kelancangannya, maka de-ngan muka merah ia memandang kepada Tiong Li sambil berkata, "Maafkan pikiranku sedang kacau "

Tiong Li tersenyum kasihan. "Tidak mengapa nona. Aku mengerti."

Liu Pang lalu mengeluarkan segulung kain lebar dan jenazah itu dibungkus, kemudian mereka pergi meninggalkan lembah itu. Setelah tiba di luar lembah, kakek Kam Song Ki berkata, "Kami berdua harus pergi dari sini. Selamat tinggal!" Dan sekali berkelebat, kedua orang itupun lenyap dari depan mereka.

Melihat ini, Liu Pang menggeleng - geleng ke-palanya dengan penuh kagum. "Di jaman ini masih ada orang dengan ginkang seperti itu, sungguh sukar untuk dipercaya kalau tidak melihatnya sen-diri."

"Suhu, kakek itu adalah murid ke tiga dari mendiang Sin - yok - ong locianpwe," kata Pek Lian.

Liu Pang mengangguk-angguk dan menjadi semakin kagum, juga diam - diam dia merasa heran mengapa kini bermunculan keturunan dari para datuk sakti di jaman dahulu. Apakah ini menjadi pertanda akan terjadinya perobahan besar di dunia? Pemimpin ini sama sekali pada saat itu tidak per-nah mengira bahwa dialah orangnya yang akan mendatangkan perobahan besar itu seperti terbukti dalam sejarah bahwa Liu Pang inilah yang kelak akan menjadi kaisar yang berkuasa penuh !

                                                                            * * *

Jenazah Menteri Ho dipanggul oleh Liu Pang sendiri dan fajar telah menyingsing ketika rom-bongan itu tiba kembali di dalam hutan, di mana para pendekar berkumpul. Jenazah itu dengan upacara sederhana namun penuh hormat, menerima penghormatan para pendekar itu, kemudian diperabukan.

Setelah upacara penyempurnaan jenazah Men-teri Ho selesai, pada pagi hari itu juga Liu Pang mengadakan musyawarah dengan para pimpinan pendekar, dihadiri pula oleh Pek Lian, Bwee Hong, Siok Eng, Seng Kun, dan A - hai.

Sebelum mu-syawarah dimulai, Liu Pang yang sudah mendengar keterangan muridnya tentang kawan - kawan mu-ridnya itu berkata, "Saudara sekalian hendaknya maklum bahwa Chu - taihiap ini dan adiknya, ada-lah dua orang utusan pribadi sri baginda kaisar..."

"Ahhh ! !" Beberapa orang pendekar kaget dan memandang dengan mata terbelalak.

Liu Pang mengangkat tangan menyuruh mereka tenang. "Harap kalian tenang. Mereka ini adalah putera dan puteri dari Bu Hong Sengjin kepala kuil istana Thian - to - tang yang berpihak kepada para menteri yang baik. Dan mereka ini diutus oleh kaisar untuk menyelamatkan Menteri Ho. Jadi, pekerjaan mereka ini sama sekali tidak bertentang-an dengan perjuangan kita." Mendengar ini, para pendekar itu mengangguk-angguk dan tidak men-jadi gelisah lagi.

"Dan nona Kwa Siok Eng ini adalah puteri dari ketua Tai - bong - pai "

Kembali para pendekar menjadi terkejut dan gelisah. "Pemuda kurus yang bernama Kwa Sun Tek itupun putera ketua Tai - bong - pai dan dia membantu persekutuan pemberontak!"

"Kwa Sun tek adalah kakak kandungku, akan tetapi dia menyeleweng dari peraturan Tai - bong-pai yang tidak membolehkan semua anggautanya melibatkan diri dengan urusan orang lain, apa lagi urusan pemberontakan. Jadi, kalau dia bersalah, harap kalian jangan melibatkan Tai - bong - pai yang tidak tahu apa - apa, itu adalah kesalahan pribadinya."

Keterangan nona itu cukup jelas dan dapat di-terima karena orang - orang muda itu adalah sa-habat - sahabat dari nona Ho Pek Lian, maka merekapun dapat mempercaya keterangan gadis Tai - bong - pai itu.

"Dan saudara A - hai ini adalah seorang sahabat yang sudah banyak membantuku." Pek Lian me-lanjutkan keterangan gurunya karena tidak ada seorangpun di antara mereka yang tahu betul siapa sebenarnya pemuda aneh ini. Bahkan orangnya sendiripun tidak tahu asal - usulnya sendiri.

Musyawarah lalu dimulai. "Jelaslah bahwa gu-bernur wilayah ini telah bersekongkol dengan pasukan asing yang dipimpin oleh orang Mongol. Mereka itu akan menjebak kita di lembah malam ini dan mengharapkan kita akan datang merampas jenazah. Kita telah berhasil mendahului mereka dan makam itu telah kita tutup kembali sedangkan para penjaga itu dalam keadaan pulas akibat ban-tuan kakek sakti sehingga mereka tidak tahu bahwa jenazah telah kita rampas. Adanya pasukan asing itu sungguh amat berbahaya bagi negara kita, maka kewajiban kita adalah untuk menghancurkan pasukan asing itu. Dan kalau bala tentara kerajaan yang berada di bawah kekuasaan para pembesar setempat membantu pasukan asing, berarti mereka itu, adalah pengkhianat - pengkhianat yang harus kita hancurkan pula."

Dengan panjang lebar Liu Pang lalu memberi gambaran keadaan di waktu itu. Bahwa ada keku-atan lain yang memberontak terhadap kaisar, yang bersekongkol dengan pasukan asing. "Kita bukan membela kaisar pribadi, melainkan membela negara agar tidak dicengkeram oleh para pemberontak yang mementingkan diri pribadi untuk merampas kedudukan, juga harus menghancurkan pasukan asing agar jangan menduduki tanah air kita. Kalau perlu, kita rampas dusun dan kota yang berada di bawah kekuasaan bala tentara pemerintah yang memberontak dan bersekongkol dengan pasukan asing." Demikian antara lain dia berkata.

Mereka lalu mengatur siasat. Jumlah anak buah Liu Pang yang telah berkumpul di sekitar tempat itu tidak kurang dari tigaratus orang. Ka-rena dia tahu bahwa kekuatan pasukan penjaga kota Yen - tai dan pasukan asing akan dikerahkan untuk menjebak mereka di lembah itu sehingga kota Yen - tai akan ditinggalkan kosong atau tidak terjaga kuat, dia mengambil keputusan untuk me-nyerbu dan menduduki kota Yen - tai!

"Kita pecah kekuatan kita menjadi dua. Murid-ku, nona Ho ini memimpin para sahabatnya yang berilmu tinggi dibantu oleh belasan orang yang memiliki kepandaian tinggi, pergi ke lembah malam ini, pura - pura hendak mengambil jenazah. Hal ini akan menarik seluruh perhatian dan pemusatan kekuatan musuh ke lembah. Sementara itu, sisa seluruh kekuatan kita akan kupimpin sendiri me-nyerbu kota Yen - tai, mendudukinya dan membe-baskan ratusan teman-teman kita yang tertawan."

Sehari itu, para pendekar ini mengatur siasat dan membagi - bagi pekerjaan. Ada pula yang bertugas memancing perhatian musuh dengan me-nyelidiki keadaan lembah sehingga menimbulkan kesan bahwa malam nanti para pendekar hendak mendahului pasukan pemerintah membongkar ma-kam ! Sementara itu, diam - diam beberapa orang anggauta rombongan yang berkepandaian tinggi melakukan penyelidikan ke kota Yen - tai dan me-lihat gerak - gerik dan gerakan pasukan di kota itu. Memang tepat dugaan Liu Pang seperti yang telah dipaparkan kepada teman - temannya. Setelah menyebar berita desas-desus bahwa malam itu pa-sukan hendak membongkar makam Menteri Ho, dan setelah melihat adanya orang-orang yang melakukan penyelidikan ke makam, maka pasukan pemerintah dibantu oleh pasukan asing dipusatkan ke sekeliling lembah. Lembah itu seperti mereka kepung untuk menanti datangnya rombongan pen-dekar untuk menjebak dan membinasakan mereka seperti yang telah dilakukan kemarin. Dan karena pemusatan kekuatan ke lembah itu, maka kota Yen - tai hanya dijaga oleh pasukan kecil saja.

Setelah rencana diatur matang berangkatlah Pek Lian bersama Seng Kun, Bwee Hong, Siok Eng dan tidak ketinggalan pula A - hai, disertai pula oleh beberapa orang pendekar sehingga jumlah mereka ada limabelas orang menuju ke lembah. Mereka itu sengaja mengambil jalan menyusup-nyusup seperti orang-orang yang sungguh-sungguh hendak melakukan pekerjaan rahasia, memasuki lembah. Tentu saja gerakan mereka itu diketahui oleh pasukan yang sudah berjaga - jaga dan para pemimpin pasukan sudah menggosok-gosok tangan dengan gembira dan puas, merasa betapa siasat mereka berhasil baik dan para pendekar telah berdatangan ke lembah. Mereka itu percaya bahwa yang datang tentu banyak pendekar, tentu dengan jalan menyusup - nyusup dari berbagai jurusan.

Para pemimpin pasukan itu menanti sampai tidak nampak lagi adanya musuh yang menyusup memasuki lembah. Cuaca mulai remang-remang karena senja telah mendatang ketika lembah yang sunyi itu tiba - tiba menjadi gempar oleh suara terompet sebagai tanda bagi pasukan - pasukan itu untuk menyerbu ke dalam lembah. Dan mereka itu dihadapkan pada suatu kenyataan yang mem-bingungkan ! Ternyata yang berada di dalam lem-bah itu hanya ada limabelas orang saja, di antara-nya malah tiga orang gadis cantik. Dan empatbe-las orang di antara mereka, karena yang seorang biarpun nampak gagah perkasa hanya tinggal diam saja, sudah menyambut pasukan dengan senjata pedang di tangan, lalu empatbelas orang pendekar itu menerjang dan mengamuk. Dan biarpun yang terjadi kemudian adalah sebuah pertempuran yang terlalu berat sebelah, empatbelas orang melawan beratus - ratus perajurit pemerintah yang dibantu oleh perajurit-perajurit asing, namun para perajurit itu benar-benar merasa kecelik karena ternyata bah-wa empatbelas orang ini lihai bukan main dan dalam waktu singkat saja sudah ada puluhan orang perajurit yang roboh! Melihat ini, para pimpinan pasukan cepat merobah siasat dan tak lama kemu-dian, yang maju mengeroyok hanyalah perajurit-perajurit yang pandai ilmu silat dibantu oleh per-wira - perwira yang lihai. Juga mereka ini mem-pergunakan senjata panjang seperti tombak dan toya agar tidak usah terlalu berdekatan dengan para pendekar yang lihai itu. Setelah diadakan siasat seperti ini, ditambah pula dengan bantuan para perajurit yang luar biasa banyaknya, mulailah para pendekar itu terdesak dan terhimpit!

Pek Lian melihat keadaan yang tidak mengun-tungkan. Memang, mereka telah berhasil mero-bohkan banyak lawan, akan tetapi pihaknya mulai terdesak dan ada dua orang pendekar yang sudah menderita luka cukup parah sehingga mereka itu mulai lemah. Tugas pasukan kecil ini memang hanya untuk memancing dan mengalihkan perha-tian, agar musuh memusatkan kekuatan di lembah ini sementara Liu Pang dan pasukannya menyerbu kota. Akan tetapi untuk menyuruh teman - teman-nya mundur, Pek Lian khawatir kalau - kalau hal itu akan menggagalkan usaha gurunya. Ia harus dapat bertahan selama mungkin dan baru setelah melihat tanda rahasia gurunya, yaitu sorak - sorai dan panah api ke udara ia boleh meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, keadaan pasukannya yang kecil mulai terhimpit dan hanya ia sendiri, Siok Eng, Seng Kun dan Bwee Hong sajalah yang masih kelihatan segar. Namun, berapa lama mereka akan dapat bertahan menghadapi lawan yang begini ba-nyaknya ?

Tiba-tiba Pek Lian teringat kepada A-hai. Pemuda ini masih berdiri dengan mata terbelalak dan muka pucat menyaksikan pertempuran. Ia ta-hu bahwa pemuda itu amat membenci perkelahian dan merasa ngeri kalau melihat darah. Darah ! Itulah yang akan membuat A - hai kumat dan kalau pemuda itu kumat dan ia dapat mempergunakan kedahsyatan kepandaian A - hai, tentu ia dan ka-wan - kawannya akan dapat tertolong dan perta-hanan itu dapat dilakukan cukup lama sehingga gurunya mendapatkan kesempatan cukup banyak untuk melakukan penyerbuan ke kota Yen - tai.

Pada saat itu, sebatang tombak menyambar dan menusuk ke arah lambungnya dari kanan. Pek Lian membiarkan saja tombak itu lewat, hanya miringkan sedikit tubuhnya dan begitu nampak bayangan tombak lewat, cepat ia menangkap ba-tang tombak dengan tangan kirinya, lalu membetot dengan pengerahan sinkang dan berbareng tubuh-nya membalik ke kanan, pedangnya menyambar dan terdengarlah pekik mengerikan ketika lawan yang memegang tombak itu roboh dan darah muncrat dari dadanya. Pek Lian melangkah maju dan se-ngaja membiarkan tangan kirinya terkena percikan darah yang cukup banyak. Setelah itu, sekali lon cat ia telah mendekati A-hai yang memandang de-ngan mata terbelalak.

"A - hai bantulah aku !" kata Pek Lian sambil menangkap lengan kanan pemuda itu dengan tangan kirinya yang bernoda darah.

"Ah, aku...... aku tidak berani, Pek Lian... aku tidak suka berkelahi" jawab A-hai menggelengkan kepalanya.

"Lihat, lenganmu berlepotan darah, A-hai !"

Tiba - tiba Pek Lian menepuk lengan itu dengan keras dan begitu A-hai melihat ke arah lengan-nya, seketika wajahnya menjadi pucat, matanya terbelalak, dan tubuhnya gemetaran.

"Darah... ! Darah... ! Ahhh, ibuuuu... darah... darah... !!" Makin keras tubuh itu gemetar dan kini dengan hati ngeri Pek Lian men-dengar suara berkerotokan di seluruh tubuh pemuda itu !

Pada saat itu, dua orang musuh sudah mener-jang Pek Lian dari kanan kiri, menggunakan golok mereka. Kedua orang ini adalah perwira-perwira musuh yang cukup lihai. Pek Lian yang sudah melihat betapa terjadi perobahan pada diri A - hai, cepat mengelak sambil menarik lengan A - hai ke arah dua orang penyerang itu dan berkata, "A - hai, tolonglah aku !"

"Bresss... !" Tubuh A-hai bertemu dengan terjangan kedua orang itu dan sebatang golok menghantam pundaknya, akan tetapi golok itu mental dengan keras seperti bertemu baja.

"Aku menolongmu, Pek Lian, aku menolong-mu!" A-hai berkata di antara tangisnya dan se-kali kedua tangannya merenggut, dia sudah men-jambak rambut dua orang perwira itu dan menga-du kepala mereka.

"Prakkk... !" Pecahlah dua kepala perwira itu dan A-hai melontarkannya ke depan, lalu diapun mengamuk ! Siapa saja yang dekat dengan dia, tentu terkena sambaran angin pukulannya yang cukup membuat orang terlempar, terbanting dan semaput! Semua senjata yang mengenai dirinya, mental seperti mengenai baja sehingga tentu saja keadaan menjadi geger! Akan tetapi celakanya, A - hai tidak memandang bulu. Ketika dia kebe-tulan dekat dengan Seng Kun, diapun menghantam dan Seng Kun yang sudah tahu akan kehebatan pemuda ini, cepat menggulingkan tubuhnya karena untuk mengelak sudah tidak keburu lagi. Diapun terguling - guling dan meloncat bangun dengan muka pucat, maklum betapa berbahayanya pu-kulan A - hai tadi.

Pek Lian cepat mendekati Bwee Hong. "Enci, mari kita bujuk dia agar membantu kita dan jangan menjauh dari kita !"

Wajah Bwee Hong berobah merah dan meng-angguk, lalu menerobos di antara hujan senjata itu mendekati A - hai.

"A - hai, bantulah aku !" Pek Lian berseru.

"Pek Lian, aku membantumu !" A - hai berkata seperti orang mimpi dan diapun menubruk ke arah seorang Mongol tinggi besar yane mengeroyok Pek Lian. Orang Mongol itu bertubuh raksasa dan nampak kuat sekali, maka melihat A - hai menu-bruknya, dia menyeringai lebar dan kedua lengan-nya yang panjang dan besar itu segera diulur dan menangkap. Tangan kanan dengan jari - jari pan-jang besar itu mencengkeram pundak dan tangan kiri mencengkeram bahu, kemudian raksasa Mo-ngol yang menjadi ahli gulat itu mengerahkan te-naga hendak mengangkat tubuh lawannya yang jauh lebih kecil darinya itu untuk kemudian diban-ting. Akan tetapi, tubuh kecil itu tidak bergoyang sedikitpun juga, jangankan terangkat! Si Mongol mendengus - dengus mengerahkan kekuatannya, dari mulutnya terdengar suara ah - ah - uh - uh dan mukanya menjadi merah, otot - ototnya menggem-bung seperti orang sakit perut tak dapat buang air besar dengan lancar.

Tadinya A - hai yang sedang kumat itu agaknya bingung dan heran mengapa orang ini memeluk-meluknya, seperti tidak mengajak berkelahi, kemu-dian agaknya dia merasa bosan dan sekali kedua tangannya menangkap pinggang yang besar itu dan membentak, tubuh raksasa itu terangkat ke atas, kemudian dibanting.

"Brukkk... !!" Tubuh besar itu terbanting keras dan berkelojotan, mengeluarkan suara tidak karuan dan orang itupun sekarat karena tulang punggungnya patah ketika terbanting tadi.

"A - hai, bantulah aku... !" Bwee Hong mencoba untuk berteriak setelah dianjurkan oleh Pek Lian. Dara inipun sedang menandingi pengeroyokan empat orang lawan.

"Bwee Hong, aku membantumu !" teriak A - hai dan sekali meloncat, diapun sudah menggerakkan kedua tangan mendorong dan dua orang pengero-yok Bwee Hong terjengkang dan muntah darah, tewas tanpa tersentuh tangan pemuda itu sedikit-pun juga!

Ternyata A - hai dalam keadaan kumat itu masih teringat kepada Pek Lian dan Bwee Hong. Pek Lian berteriak kepada Siok Eng dan Seng Kun untuk mencoba pula. Akan tetapi ketika dua orang ini minta bantuan A - hai, pemuda sinting itu sama sekali tidak menjawab, bahkan dengan bingung dia menyerang Siok Eng dengan dorongan tangan kirinya. Angin pukulan dahsyat menyambar ke arah gadis itu.

"Ilihhhh ...... !" Siok Eng berseru kaget dan karena melihat tidak ada kesempatan menghindar lagi, puteri ketua Tai - bong - pai inipun lalu meng-gunakan kedua tangannya menolak dan biarpun belum sempurna, tenaga sakti Asap Hio melin-dunginya dan dari kedua tangannya meluncur uap putih. Bagaimanapun juga, tetap saja ketika dua tenaga sakti bertemu, tubuh dara ini terguling dan untung ia cepat menggulingkan tubuhnya ke kiri dan meloncat bangun dengan muka pucat.

Karena maklum bahwa A - hai hanya mengenal ia dan Bwee Hong, Pek Lian lalu mengeluarkan saputangan kuning dan merobek - robeknya, mem-bagi - bag'kan robekan kain kuning itu kepada semua anggauta rombongannya yang masih sibuk menghadapi pengeroyokan banyak musuh dan me-nyuruh mereka memasang kain kuning itu pada rambut masing - masing.

"A - hai, jangan menyerang teman yang memakai kain kuning di rambutnya !" Demikian Pek Lian dan Bwee Hong berseru kepada A - hai.

"Baik ! !" jawab A - hai dan kini pemuda itu mengangguk sambil melihat ke arah rambut setiap orang yang digempurnya. Gegerlah keadaan di tempat itu dan terpaksa para pimpinan dua pasukan itu mengerahkan orang - orangnya yang terpandai karena para pendekar itu, terutama pemuda tinggi tegap yang mengamuk secara meng-giriskan itu, merupakan lawan yang amat lihai dan tangguh. Setelah A-hai mengamuk, rombongan itu tidak begitu terdesak lagi. Bahkan pasukan itu kocar-kacir dan sebagian besar dari mereka menjadi gentar sekali dan menjauhkan diri.

Sementara itu, di kota Yen - tai juga terjadi hal yang amat hebat. Liu Pang dengan pasukannya yang terdiri dari para pendekar dan berjumlah se-kitar tigaratus orang menyerbu gedung kepala daerah. Serangan ini terjadi amat tiba - tiba karena para pendekar itu telah menyelundup dengan di-am - diam ke dalam kota. Tentu saja kota menjadi geger. Pasukan pengawal dan penjaga melakukan perlawanan, dipimpin sendiri oleh pembesar yang menjadi kepala daerah Yen - tai. Namun, para pendekar yang dipimpin oleh Liu Pang itu ternyata jauh lebih kuat dan kepala daerah itu terpaksa melarikan diri dikawal oleh pasukan pengawalnya, menuju ke kota gubemuran.

Liu Pang membebaskan para tawanan sehingga kini jumlah mereka mendekati limaratus orang dan mereka segera menduduki kota, melakukan penja-gaan di pintu - pintu gerbang dan rakyat menyam-but mereka dengan gembira. Mereka ini memper-oleh simpati dari rakyat oleh karena sikap para anak buah pasukan Liu Pang ini memang gagah perkasa dan sopan. Mereka adalah pendekar - pendekar dan terdiri dari rakyat jelata pula, maka tentu saja mereka tidak mau mengganggu rakyat. Liu - Pang lalu memerintahkan anak buahnya untuk melepas panah - panah berapi sebagai tanda keberhasilan mereka kepada Pek Lian dan kawan - kawannya yang bertugas di lembah.

Melihat panah - panah berapi itu meluncur di udara arah kota Yen - tai, dibarengi sorak - sorai para pendekar dan rakyat, Pek Lian gembira bukan main. "Suhu berhasil! Mereka telah menduduki kota Yen - tai! !"

Sebaliknya, pasukan yang mengeroyok mereka terkejut sekali. Para pimpinan mereka lalu meme-rintahkan mereka untuk meninggalkan lembah. Apa lagi, para pendekar yang berada di lembah itu hanya limabelas orang saja, tidak cukup berharga untuk dibasmi, kalaupun mereka mampu melaku-kannya karena para pendekar itu benar-benar lihai bukan main. Amukan mereka itu telah merobohkan puluhan orang perajurit.

A - hai tetap mengamuk biarpun para perajurit telah mengundurkan diri. Para pendekar melihat dengan penuh takjub. Bahkan Seng Kun sendiri memandang dengan mata terbelalak. Pemuda itu memang hebat bukan main. Kini pemuda itu ber-silat secara aneh, gerakannya mantap, kedua ka-kinya bergeser - geser ke depan, bukan melangkah dan kedua tangannya memukul - mukul ke depan dengan telapak tangan terbuka.

"Set - set - settt !" kedua kaki itu bergeser ke depan dan ketika kedua tangan itu memukul-mukul dengan dorongan kuat, nampak hawa yang seperti sinar putih keluar dari kedua telapak tangan dan tiap kali kedua telapak tangan itu bergesekan, terdengar suara meledak dan nampak seperti ada bunga api berpijar! Tangan kanan itu meluncur ke kanan, ke arah bayangan hitam yang mungkin dianggap musuh oleh A - hai.

"Braaaakkkk !" Dan robohlah sebatang pohon besar.

A - hai memukul ke kiri sambil membalikkan tubuh, menghantam ke arah bayangan hitam, lain.

Bersambung

Darah Pendekar 25                                                                  Darah Pebndekar 27