Selasa, 28 Mei 2013

DARAH PENDEKAR 25

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Bab 25
Sementara itu, si kurus pucat sudah menyerang lagi, tongkatnya bergerak seperti kitiran cepatnya dan menyerang ke tubuh Bwee Hong. A-hai meng-hadang di depan, bertolak pinggang sambil berkata, "Eh, eh, mengapa kalian menyerang orang - orang tak berdosa ?"
Melihat sikap A-hai yang begitu polos, agaknya si kurus pucat itu menjadi tertegun dan malu. "Ka-mi harus menawan kalian dan baru akan kami be-baskan setelah urusan kami di tempat ini selesai," katanya, seperti mayat bicara.
"Kalau cuma begitu, kenapa tidak bicara dari tadi ? Tanpa kekerasanpun, kami tidak akan mela-wan. Silahkan kalau mau menawan kami!" Men-dengar ini, diam - diam Pek Lian, Bwee Hong dan Seng Kun tercengang. Pemuda ini sungguh penuh keanehan, kadang - kadang sikapnya begitu matang, tenang dan menguasai keadaan. Dan memang si-kapnya itu membuat si pemuda kurus pucat men-jadi serba salah.
"Baiklah, kalau begitu kalian ikut bersama kami Asal tidak melawan kamipun tidak akan menggu-nakan kekerasan," katanya dan dengan isyarat ta-ngan ia memerintahkan anak buahnya membebas-kan Pek Lian dari belenggu. Lalu mereka ber-empat digiring oleh belasan orang itu ke sebuah bukit yang letaknya tak jauh dari pantai itu.
Siapakah pemuda kurus pucat yang amat lihai itu ? Dia memang bukan orang sembarangan. Na-manya Kwa Sun Tek dan dia adalah putera dari ketua Tai - bong - pai. Kwa Siok Eng adalah adik kandungnya! Pemuda kurus ini telah mewarisi ilmu-ilmu Tai - bong - pai dari ayahnya, maka tentu saja dia lihai sekali, lebih lihai dari pada adiknya dan semuda itu dia telah dijuluki Song-bun-kwi (Setan Berkabung) yang sesuai dengan pakaiannya yang serba putih.
Empat orang muda itu dibawa masuk ke dalam sebuah kuil kosong yang berada di puncak bukit.
Mereka dimasukkan ke dalam sebuah kamar dan dijaga ketat oleh belasan orang anak buah Song-bun-kwi Kwa Sun Tek. Dan di tempat itu terdapat puluhan orang anak buahnya yang lain. Mereka kelihatan seperti sedang menunggu kedatangan tamu.
*
* * *
Mengapa putera ketua Tai - bong - pai berada di tempat itu dan siapakah yang dinantikannya ? Dan biarpun Pek Lian telah menyebut nama Kwa Siok Eng, adik kandungnya, mengapa pemuda kurus pucat itu seakan - akan tidak memperdulikan nama adiknya ?
Song - bun - kwi Kwa Sun Tek tak dapat diban-dingkan dengan adiknya. Dan diapun telah me-nyeleweng dari pada peraturan dan kebiasaan Tai-bong - pai. Tai - bong - pai semenjak dahulu me-mang tersohor sebagai perkumpulan rahasia yang penuh misteri, penuh dengan keanehan, akan tetapi biarpun perkumpulan ini dapat digolongkan seba-gai perkumpulan hitam atau sesat, namun Tai-bong - pai memiliki keangkuhan dan tidak pernah mau melibatkan diri dalam urusan orang-orang lain.
Namiun Kwa Sun Tek tak dapat mempertahan-kan tradisi nenek moyangnya. Dia tidak sama seperti nenek moyangnya yang selalu mempertahan-kan keangkuhan sebagai pimpinan suatu golongan tersendiri yang tidak tunduk kepada siapapun dan tidak bersekutu dengan siapapun, mielainkan meng-andalkan kekuatan sendiri malang - melintang di dunia kang - ouw. Kwa Sun Tek termasuk seorang muda yang ambisius dan diam - diam dia menga-dakan persekutuan dengan golongan - golongan yang hendak mengadakan pemberontakan terhadap kerajaan ! Dia mengharapkan kalau sampai pem-berontakan itu berhasil, dia akan memperoleh ke-dudukan. Kemuliaan dalam kedudukan tinggi ini-lah yang diidamkannya, karena yang lain - lain, seperti kekayaan, kepandaian dan nama besar sudah dimilikinya sebagai putera ketua Tai - bong - pai.
Demikian pula dengan Song - bun - kwi Kwa Sun Tek. Dia mempunyai ambisi besar, mempunyai cita - cita yang menjadi tujuannya, yaitu hidup se-bagai seorang penguasa, dan untuk mencapai tujuan ini, cara apapun akan dipergunakannya. Dan dia melihat kesempatan dan harapan untuk dapat men-capai cita - citanya itu melalui persekutuan dengan pihak pemberontak yang menentang dan hendak menggulingkan kaisar.
Pada waktu itu, para pemberontak memang te-ngah menyusun kekuatan. Seperti telah kita keta-hui, pemerintah mengerahkan pasukan - pasukan kuat yang dipimpin oleh Jenderal Beng Tian yang dibantu pula oleh Pek - lui - kong Tong Ciak, dan berkat kepandaian dua orang tokoh istana ini, pa-sukan - pasukan para pemberontak di sekitar Lem-bah Yang - ce telah diobrak - abrik dan dihancurkan. Banyak yang tewas dan sisanya melarikan diri cerai berai. Pasukan - pasukan pemberontak itu adalah sebagian besar pasukan yang dipimpin oleh Chu Siang Yu, yaitu pemimpin para pemberontak yang lihai, keturunan Jenderal Chu yang amat terkenal sepanjang sejarah. Setelah pasukannya dihancurkan oleh pemerintah, Chu Siang Yu bukan mundur, sebaliknya hal ini malah mengobarkan semangat nya untuk membalas dendam. Cita - citanya seting-gi langit, yaitu untuk merebut kekuasaan kaisar! Dan untuk mencapai cita - cita ini, dia mengorban-kan semua harta bendanya dan kepandaiannya, mengumpulkan orang - orang gagah, dihimpun dan dibujuk, dibakar semangat mereka sampai akhirnya dia memiliki banyak pengikut yang setia.
Kini Chu Siang Yu mengadakan persekutuan rahasia dengan fihak mana saja yang dapat meng-untungkan gerakannya. Dia merasa sakit hati ka-rena daerahnya, yaitu Lembah Yang-ce yang subur itu direbut pemerintah. Mulailah dia memimpin anak buahnya yang jumlahnya cukup banyak sam-pai melebihi selaksa orang itu untuk bergerak menggempur dari timur. Desa demi desa, sampai kota demi kota direbutnya. Gerakan itu baru berhenti ketika bala tentara kerajaan datang menyam-but dan menggempurnya. Pasukan pemberontak yang dipimpin Chu Siang Yu menjadi kewalahan dan terpaksa mundur, lalu pemimpin pemberontak ini mengadakan persekutuan dengan para pembesar di wilayah timur. Sampai gubernur daerah pantai timur ditempel dan dipengaruhinya. Di samping ini, juga dia tidak segan-segan untuk bersekutu dengan orang-orang asing dari utara, peranakan Mongol yang memiliki pasukan yang cukup kuat. Pendeknya, untuk mencapai cita-citanya, yaitu menggulingkan kekuasaan kaisar, cara apapun akan ditempuhnya. Maka, bersekutu dengan orang asingpun bukan merupakan sesuatu yang diharamkan. Kemudian, diapun mengajak orang-orang Tai - bong - pai bersekutu setelah melihat betapa pemuda Tai - bong - pai, Kwa Sun Tek, ke-lihatan berambisi besar. Pasukan Tai - bong - pai memang tidak dapat dikata besar untuk dipergu-nakan dalam perang. Akan tetapi sama sekali tidak kecil artinya mengingat bahwa pasukan itu adalah orang - orang yang ahli dalam mempergunakan racun sehingga mereka itu dapat meniadi pasukan istimewa. Juga pemuda itu lihai sekali ilmu silat-nya, dapat menjadi pembantu yang amat mengun-tungkan
Demikianlah, pada hari itu, di dalam kuil di atas bukit dekat pantai itu akan diadakan pertemu-an rahasia antara pemberontak pimpinan Chu Siang
Yu yang diwakili oleh Kwa Sun Tek yang sudah mendapat kepercayaan dari pimpinan itu, lalu pa-sukan Mongol yang dipimpin sendiri oleh kepala mereka, seorang bertubuh raksasa yang bertenaga besar sekali, dan utusan gubernur dan para pejabat daerah.
Gerakan Chu Siang Yu ini diam - diam diikuti oleh para pendekar, yaitu para pendekar penentang kaisar karena kelalimannya, para pendekar yang bergabung dalam pasukan yang dipimpin oleh Liu Pang. Di antara para kelompok atau gerombolan pemberontak yang timbul di sana - sini pada jaman itu, yang patut disebut hanyalah pasukan pimpinan Chu Siang Yu dan para pendekar pimpinan Liu Pang. Pasukan Chu Siang Yu memang lebih besar jumlahnya, namun pasukan Liu Pang yang tidak berapa besar itu terdiri dari para pendekar yang rata-rata memiliki kepandaian silat yang cukup tinggi. Apa lagi, karena Liu Pang berasal dari ke-luarga tani sederhana dan di antara para pendekar-pun dia disebut dengan sebutan sederhana, yaitu Liu-twako, maka dia memperoleh dukungan dari rakyat jelata, terutama kaum tani. Sebaliknya, Chu Siang Yu adalah keturunan ningrat dan untuk membangkitkan semangat para pengikutnya, dia menjanjikan pangkat-pangkat dan kemuliaan. Ber-beda dengan Liu Pang yang didukung oleh orang-orang yang ingin "berbakti" kepada nusa dan bangsa, ingin menjadi pahlawan dan patriot.
Memang banyaklah "cara" untuk menggerakkan manusia menuju kepada cita - cita. Dalam hal pe-perangan, caranya hanyalah kekerasan, kekejaman, saling bunuh dan memperebutkan kemenangan. Jadi, kemenangan itulah tujuannya. Akan tetapi tentu saja bukan tujuan terakhir karena kemenang-an itu hanyalah merupakan "jembatan" saja untuk mencapai yang diidam - idamkan, yaitu kedudukan-kehormatan, kemuliaan, harta benda. Para pimpin-an yang berambisi pandai sekali membangkitkan semangat rakyat dengan berbagai cara. Ada yang membangkitkannya melalui kepahlawanan, patriot atau pejuang, rela berkorban nyawa! Ada pula yang membangkitkan semangat melalui janji - janji muluk, kedudukan, kehormatan, kemuliaan atau harta benda. Apapun tujuannya, kalau caranya adalah saling bunuh dengan kejam, sudah dapat dipastikan bahwa tujuannya itupun hanya merupa-kan pementingan diri sendiri, pemuas kehausan nafsu sendiri belaka, mencari sesuatu yang diang-gap akan mendatangkan kesenangan hidup, seperti kedudukan, kemuliaan, kehormatan dan harta ben-da !
Gerakan Chu Siang Yu yang membalas dendam kepada pemerintah ini, mula - mula memang didi-amkan saja oleh Liu Pang. Pada waktu itu, memang kelaliman kaisar membuat rakyat menderita. Rak-yat ditindas, dipaksa bekerja membuat Tembok Besar, kaum sasterawan dikejar-kejar dan dibunuh, menteri - menteri yang setia dan jujur dipecat dan dihukum, hukum rimba berlaku di mana - mana. Karena itu, rakyat membenci kaisar dan pemerin-tahnya. Dan karena ini pula, maka melihat gerakan Chu Siang Yu, Liu Pang dan pasukannya mendiam-kannya saja, menganggap bahwa memang sudah sepatutnya kalau kaisar ditentang. Akan tetapi, setelah mendengar bahwa Chu Siang Yu bersekong-kol dengan pasukan asing, Liu Pang menjadi marah sekali dan mencap Chu Siang Yu sebagai seorang pengkhianat yang hendak menjual negara kepada orang asing. Maka bergeraklah Liu Pang, memim-pin pasukan para pendekar, membantu tentara kerajaan dan menggempur pasukan asing yang bersekongkol dengan pasukan pemberontak Chu Siang Yu-
Karena pasukan Liu Pang merupakan pasukan istimewa yang menggiriskan, rata - rata memiliki ilmu silat tinggi, maka pasukan pemerintah berha-sil merebut kembali dusun dan kota yang jatuh ke tangan bala tentara pemberontak Chu Siang Yu.
Marahlah pimpinan pemberontak she Chu itu dan mulai saat itu, dia menganggap Liu Pang se-bagai saingan dan juga musuh. Dan biarpun per-musuhan di antara mereka tidak atau belum terjadi secara terbuka, namun di dalam hati masing-imasing mereka itu telah menganggap masing - masing se-bagai musuh dan saingan berbahaya.
Akan tetapi, bantuan dari Liu Pang dan kawan-kawannya inipun tidak dapat diterima begitu saja oleh pihak pemerintah. Para pendekar itu terkenal sebagai orang - orang yang mendukung para sas-terawan dan menteri yang diperlakukan dengan se-mena - mena oleh kaisar, dan mereka itupun diang-gap sebagai pemberontak. Mereka selalu dicurigai dan hubungan antara mereka tidak akrab sama se-kali. Padahal, ketika Chu Siang Yu memberontak dibantu oleh pasukan asing itu, Liu Pang benar-benar berniat membantu pemerintah. Apa lagi ketika mendengar keputusan kaisar yang mengam-puni para menteri yang telah dipecat, hal ini me-nimbulkan suka di hati para pendekar.
Chu Siang Yu maklum akan sikap pemerintah yang mencurigai Liu Pang, maka di manapun juga, dia menyuruh anak buahnya untuk menyebar fit-nah dan berita-berita bohong untuk memanaskan suasana dan untuk mengadu domba antara pasukan para pendekar dengan pasukan pemerintah !
Demikianlah keadaan pemerintah yang dirong-rong oleh para pemberontak pada waktu itu dan si kurus Kwa Sun Tek bersama anak buahnya te-ngah menanti datangnya para tamu penting pada hari itu.
Matahari naik semakin tinggi dan hari nampak cerah. Terdengar derap kaki kuda naik ke bukit itu menuju ke kuil. Mereka adalah tiga orang ber-pakaian perwira kerajaan yang dikawal oleh sepuluh orang pasukan berkuda. Mereka ternyata adalah pasukan pengawal gubernur daerah pantai timur dan mereka datang sebagai utusan sang gubernur yang bersekongkol dengan pemberontak Chu Siang Yu. Kwa Sun Tek menyambut mereka dan setelah melihat pakaian yang gemerlapan dan bendera pengenal itu dengan seksama, dia merasa heran sekali. Setelah menyambut dengan ucapan selamat datang, dia bertanya.
"Maaf, sam - wi ciangkun (tiga perwira), apakah tidak berbahaya dan tidak akan menimbulkan ke-curigaan dan perhatian orang dengan pakaian sera-gam sam - wi seperti ini ?"
Perwira yang berkumis tebal tertawa. "Ah, sa-ma sekali tidak. Bahkan kami kira lebih aman be-gini. Orang - orang tentu mengira bahwa kami se-dang menjalankan tugas atau sedang meronda. Dan pertemuan ini adalah pertemuan penting, kami tidak ingin menjatuhkan martabat kami!"
Kwa Tek Sun mengangguk - angguk dengan alis dikerutkan karena diam - diam dia merasa bahwa orang - orang pemerintah ini sungguh berpeman-dangan sempit dan bodoh. Akan tetapi tentu saja dia tidak berani banyak mencela lagi dan memper-silahkan tamu - tamu itu duduk di sebelah dalam, di mana terdapat sebuah ruangan dan di situ telah tersedia bangku - bangku untuk menerima para ta-mu. Karena pertemuan itu adalah pertemuan rahasia, maka tempat pertemuanpun seadanya dan tidak ada yang mengeluh karena hal ini.
Beberapa orang anggauta Tai-bong-pai datang menghadap Kwa Sun Tek, melaporkan bahwa ada sebuah perahu besar berlabuh. Tak lama kemudian, nampak seorang raksasa tua berjenggot putih me-langkah lebar menuju ke kuil, diiringkan pasukan asing yang bersenjata lengkap. Itulah kepala suku yang memimpin pasukan asing peranakan Mongol itu.
Setelah utusan ketiga golongan itu datang, per-temuan segera diadakan. Yang mengadakan perca-kapan dalam rapat rahasia itu adalah Kwa Sun Tek, tiga orang perwira, dan Malisang, yaitu kepala suku peranakan Mongol yang tinggi besar itu. Anak buah Tai - bong - pai, pasukan pengawal gubernur, dan juga anak buah Malisang berjaga di luar dan di sekitar kuil.
"Chu - bengcu (pemimpin rakyat Chu) meng-hendaki agar gerakan di timur dimulai dari pantai ini," antara lain Kwa Sun Tek menyampaikan pe-rintah Chu Siang Yu. "Di bagian barat, gerakan pa-sukan Chu-bengcu telah berhasil merebut beberapa kota dan dusun."
"Memulai gerakan mudah saja, akan tetapi kita harus melakukan penyelidikan dengan seksama akan kekuatan penjagaan di setiap daerah," kata si raksasa peranakan Mongol yang bernama Malisang itu.
"Tentu saja dan tentang hal itu, kami percaya sam - wi ciangkun ini tentu lebih paham," kata Kwa Sun. Tek. Sebelumnya, mereka semua memang sudah sepakat untuk membagi gerakan mereka menjadi dua bagian. Bagian barat digerakkan oleh pasukan yang dipimpin oleh Chu Siang Yu sendiri, sedangkan bagian timur dilakukan oleh gabungan sekutu mereka, yaitu pasukan peranakan Mongol dan pasukan gubernur dan para pejabat tinggi. Adapun pasukan Tai - bong - pai yang hanya ber-jumlah kecil hanya bertugas membantu sana - sini untuk tugas - tugas praktis.
Perwira berkumis tebal mengangguk - angguk. "Hal itu sudah kami selidiki. Panglima kerajaan yang ditempatkan di daerah timur ini adalah Lai-goanswe (Jenderal Lai), bawahan Jenderal Beng Tian yang dipercaya. Dia seorang ahli perang yang pandai, juga memiliki pasukan yang terdidik dan terlatih baik. Harus diakui bahwa bukan merupa-kan pekerjaan ringan untuk menandingi pasukan yang dipimpin oleh Jenderal Lai itu."
Kwa Tek Sun berkata, "Chu - bengcu juga su-dah tahu akan hal itu dan karenanya beliau meng-utus kami dari Tai - bong - pai untuk mencari jalan baik membantu gerakan saudara sekalian. Kami sudah mendengar berita bahwa sebagian pasukan pendekar pimpinan Liu Pang juga berada di daerah ini. Kami akan berusaha agar terjadi bentrokan antara pasukan Liu Pang dan pasukan Jenderal Lai. Kalau mereka itu bentrok sendiri, maka tugas kita untuk membuka dan memulai gerakan di ti-mur ini akan menjadi lancar dan mudah."
Semua orang mengangguk tanda setuju. Lalu seorang di antara tiga perwira itu berkata, "Akan tetapi, bagaimana hal itu dapat dilakukan ? Bukan-kah kaisar telah mengampuni para menteri, bahkan akan mengembalikan kedudukan mereka dan se-mua itu dilakukan kaisar untuk memberi hati ke-pada Liu Pang dan anak buahnya ?"
"Memang benar demikian," jawab Kwa Sun Tek yang sebagai pembantu terpercaya dari Chu Siang Yu, agaknya mengenal baik keadaan negara pada waktu itu. "Karena itulah, maka Liu Pang bersikap lembut kepada kaisar dan bahkan melakukan ge-rakan membantu pasukan kerajaan menentang kita. Bahkan Liu Pang agaknya telah sadar bahwa yang meniup - niupkan kebencian antara pasukannya dan pasukan pemerintah adalah pihak kita, maka dia bersikap hati - hati. Kami telah mendengar kabar bahwa dia telah mengutus wakilnya ke daerah ini untuk menghubungi Lai - goanswe dan untuk me-nyampaikan iktikad baiknya membantu pemerintah menghadapi pemberontakan. Selain itu, juga ka-barnya dia hendak menanyakan mengapa janji kai-sar untuk mengembalikan para menteri ke tempat kedudukan masing-masing, sampai sekarang belum juga terlaksana."
Kini Malisang, raksasa Mongol yang sejak tadi hanya mendengarkan dengan penuh perhatian, mengangguk - angguk maklum. "Ah, jadi kalau be-gitu, Chu - bengcu yang memerintahkan agar Men-teri Ho dibawa ke daerah ini, sebenarnya ada hu-bungannya dengan persoalan ini ?"
"Benar demikian!" kata Kwa Sun Tek. "Men-teri Ho dapat kita pergunakan sebagai alat untuk memecah belah di antara pihak perajurit kerajaan dan pihak anak buah Liu Pang. Dengan demikian maka usaha Liu Pang untuk berdekatan dengan pihak pemerintah akan gagal dan itu merupakan keuntungan yang tak ternilai harganya bagi kita"
"Eh, bagaimana caranya ?" tanya perwira ber-kumis tebal.
Biarpun di ruangan itu hanya ada mereka ber-lima dan kuil itu dijaga oleh banyak sekali anak buah mereka, namun sebelum menjawab orang she Kwa yang kurus itu menengok ke kanan kiri lebih dulu, kemudian berbisik, "Mendekatlah ke sini dan dengarkan baik - baik rencana yang telah diatur oleh
Chu - bengcu " Mereka lalu berbisik - bisik
dengan kepala saling berdekatan.
***
Empat orang muda itu, Chu Seng Kun, A - hai, Ho Pek Lian, dan Chu Bwee Hong, masih berada di dalam kamar kuil di mana mereka ditahan dan kamar itu dijaga ketat oleh orang - orang Tai-bong-pai. Seng Kun hanya duduk bersila dan berusaha untuk memulihkan kesehatannya. Dia baru saja mengalami keracunan ketika bersama A-hai dia menjadi tawanan Jeng - bin Siang - kwi, dua orang wanita iblis dari Ban - kwi - to itu. Dan belum juga kesehatannya pulih, dia harus mengalami hal-hal yang berat, bahkan terlempar ke lautan, dan baru saja dia terkena pukulan ampuh dan kuat dari Kwa Sun Tek. Memang tubuhnya sudah tidak keracun-an, akan tetapi masih lemah dan tenaganya belum pulih benar. Agaknya A - hai memang memiliki tubuh yang luar biasa sekali maka pengaruh racun-racun itu tidak begitu hebat terasa olehnya dan tubuhnya tidak kelihatan lemah.
Pek Lian, seperti juga Bwee Hong dan A-hai, duduk di atas lantai kamar itu dan termenung. Da-ra ini diam - diam merasa gelisah sekali memikirkan ayahnya. Ia sama sekali tidak pernah mengira bah-wa pada saat itu justeru nama ayahnya disebut-sebut dan menjadi bahan percakapan antara orang-orang yang sedang mengadakan rapat di ruangan dalam kuil itu. Sebagai murid dari Liu Pang, dan sebagai pemimpin dari pasukan pendekar, tentu saja Ho Pek Lian juga tahu akan keadaan negara pada waktu itu. Ia tahu pula akan gerakan Chu Siang Yu yang menentang kaisar dengan ambisi untuk merampas kedudukan. Gadis yang banyak berkecimpung dalam pergolakan negara itu dapat mengumpulkan data - data bahwa pada waktu itu, negara sedang kacau-balau dan terjadi perpecahan-perpecahan dan pemberontakan - pemberontakan akibat dari kelaliman kaisar. Kaisar yang agaknya menurutkan bisikan beracun para pembantunya yang palsu, telah melakukan banyak hal yang mem-bangkitkan kemarahan rakyat. Bukan hanya me-nindas rakyat dengan pekerjaan berat yang mema-kan banyak korban jiwa seperti pembangunan Tem-bok Besar, juga kaisar telah membakar kitab-kitab kaum sasterawan, bahkan mengejar dan membunuh banyak sasterawan dan pendekar. Hal ini tentu saja menimbulkan kemarahan di kalangan rakyat dan menimbulkan pemberontakan - pemberontakan- Pek Lian mjaklum bahwa golongan gurunya adalah ka-um pendekar yang menentang kelaliman kaisar untuk membela rakyat dan mereka tidak berambisi mengejar kedudukan. Kalau kaisar dapat merobah sikapnya dan rakyat tidak menderita, tentu gerak-an Liu Pang ini akan berhenti pula. Golongan ke dua adalah golongan pemberontak yang tadinya bermarkas di lembah Yang - ce, yaitu pemberon-tak yang dipimpin oleh Chu Siang Yu, pemberon-takan yang berpamrih merampas kedudukan. Ten-tu saja selain golongan pendekar yang dipimpin-nya bersama suhunya itu dan golongan pemberon-tak pimpinan Chu Siang Yu, juga ada golongan pemerintah sendiri yang menentang pemberontak-an, yaitu bala tentara pemerintah yang memiliki
banyak jenderal - jenderal yang tangguh terutama jenderal Beng Tian. Kemudian, gadis inipun meli-hat munculnya golongan baru yaitu golongan kaum sesat yang agaknya akan dihimpun dan dibangun oleh seorang tokoh sesat yang menyeramkan, yaitu Bit - bo - ong Si Raja Kelelawar !
Sementara itu Bwee Hong juga duduk bersila mengumpulkan hawa murni karena bagaimanapun juga, setelah mengalami segala hal yang mengeri-kan di Kepulauan Selaksa Setan itu dan telah be-berapa kali keracunan, walaupun racun telah lenyap dari tubuhnya, namun ia perlu beristirahat dan memulihkan kekuatannya. A - hai sendiri juga du-duk di lantai, dan pemuda ini dengan bengong memandang kepada Bwee Hong penuh kagum, dan kadang - kadang dia menoleh dan memandang ke-pada Pek Lian, alisnya berkerut seperti orang hen-dak mengingat-ingat namun lupa segalanya.
Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan muncul lah pemuda kurus yang menawan mereka tadi. Kiranya rapat itu telah bubar dan para tamu telah pergi. Kwa Sun Tek menghampiri empat orang muda itu dan menjura dengan sikap hormat.
"Harap maafkan kami bahwa terpaksa kami me-nahan kalian berempat di sini karena kami mem-punyai urusan yang sangat penting. Tak seorang-pun boleh melihat atau mendengar urusan kami itu.
Akan tetapi setelah sekarang urusan selesai, kalian boleh meninggalkan tempat ini."
Pek Lian dan kawan - kawannya tentu saja me-rasa mendongkol sekali. Apa lagi mengingat bah-wa mereka ini adalah orang - orang Tai-bong-pai, anak buah Kwa Siok Eng yang mereka kenal de-ngan baik. Akan tetapi, mereka tidak sudi berurus-an dengan orang - orang kasar ini dan di dalam hati saja mereka itu berjanji akan melaporkan sikap orang - orang Tai - bong - pai ini kepada Kwa Siok Eng kelak kalau mereka berkesempatan bertemu dengan dara puteri ketua Tai - bong - pai itu. Tan-pa bicara dan tanpa pamit mereka berempat lalu pergi meninggalkan kuil, menuruni bukit dan me-nuju ke pantai kembali.
"Heiii ! Perahu besar di sana itu! Bukan-
kah itu perahu yang telah kita kenal ?" Tiba - tiba
Pek Lian menuding ke arah lautan di mana nampak
sebuah perahu besar yang baru saja berangkat ber-
layar.
"Benar! Dan perahu itu baru saja berangkat dari sini !" kata Bwee Hong.
"Hemm, ini ada sebatang anak panah di pantai Serupa benar dengan anak panah yang diperguna-kan untuk menyerang perahu kita," kata Seng Kun. "Hemm, si kurus itu ternyata mengadakan perse-kutuan dengan pasukan asing. Pantas orang lain tidak boleh melihat atau mendengar pertemuan mereka di sini. Sungguh mencurigakan sekali. Kita harus melaporkan hal ini kepada Jenderal Beng Tian !"
Tiba - tiba terdengar suara ketawa. Empat orang muda itu terkejut dan ketika mereka yang tadinya memandang ke arah perahu di lautan itu membalik-kan tubuh, ternyata di situ telah berdiri si kurus bersama puluhan orang anak buah Tai - bong - pai! Si kurus Kwa Sun Tek telah mendengar ucapan Seng Kun tadi dan kini dia tersenyum mengejek dan berkata, "Tepat dugaanku bahwa kalian tentu bukan orang - orang semibarangan. Tepat pula sia-satku pura - pura melepaskan kalian tadi. Kiranya kalian adalah orang - orang yang menentang kami. Hemm, dari golongan manakah kalian ? Anak buah Liu - twako ? Ataukah petugas kerajaan ?"
Pek Lian mewakili teman-temannya menjawab cepat, "Kami hanyalah pendekar-pendekar yang menentang kejahatan ! Dan ketahuilah bahwa adik Kwa Siok Eng adalah sahabat baik kami!"
"Hemm, adikku Siok Eng memang suka bergaul dengan golongan - golongan yang menjadi musuh kami. Anak itu masih saja tolol dan tidak pernah menjadi dewasa. Kalian adalah para pendekar ? Kalau begitu berarti menjadi kaki tangan Liu Pang! Dan kalian, hendak melaporkan kepada Jenderal Beng Tian ? Kalau begitu juga menjadi mata-mata pemerintah. Kami terpaksa menangkap kalian lagi!"
Empat orang itu terkejut dan heran. Ternyata si kurus ini adalah kakak dari Kwa Siok Eng, akan tetapi agaknya kakak beradik ini memiliki watak yang amat berbeda, seperti bumi dan langit.
"Engkau iblis jahat!" Pek Lian membentak marah dan ia sudah menerjang maju menyerang Kwa Sun Tek dengan pukulan kedua tangannya bertubi-tubi. Akan tetapi, pemuda kurus itu ter-tawa mengejek dan dengan mudah mengelak, bah-kan balasan tangannya yang mencengkeram ke arah muka Pek Lian mengejutkan dara ini dan membu-atnya terpaksa meloncat mundur dengan gugup. Seng Kun yang masih lemah itu juga tidak dapat membiarkan mereka ditangkap begitu saja dan dia-pun bersama adiknya sudah melakukan perlawan-an, dikeroyok oleh Kwa Sun Tek dan puluhan orang anak buahnya.
"Jangan berkelahi lagi , ah, kenapa kita
harus selalu berkelahi menggunakan kekerasan ?" A-hai berteriak-teriak marah melihat betapa orang-orang itu suka sekali berkelahi. Akan tetapi, tentu saja tidak ada yang memperdulikannya, bahkan dia sudah ditubruk dari belakang oleh dua orang lalu dibelenggu kaki tangannya.
Terjadilah perkelahian yang berat sebelah. Pek Lian, Bwee Hong dan Seng Kun melawan mati-matian. Biarpun Seng Kun sendiri yang paling lihai di antara mereka masih lemah namun karena mereka adalah keturunan orang - orang yang lihai, tidak mudah bagi Kwa Sun Tek untuk menangkap mereka tanpa membunuh. Maka dia lalu menggu-nakan asap harum yang mengandung obat bius dan barulah tiga orang lawan itu menjadi pening dan terhuyung-huyung, permainan mereka menjadi kacau dan dengan mudah mereka lalu ditubruk dan diringkus, kemiudian dibelenggu seperti juga A-hai.
"Jangan bunuh mereka sekarang. Ikat mereka pada pohon - pohon. Kita mengadakan upacara hio nanti malam!" terdengar Kwa Sun Tek berkata dengan suara gembira dan para anak buahnya juga menyambut perintah itu dengan gembira. A - hai, Seng Kun, Pek Lian dan Bwee Hong lalu diseret ke dekat pohon-pohon di kaki bukit, kemudian diikat pada batang pohon-pohon itu. Seng Kun diikat pada sebatang pohon bersama adiknya, Bwee Hong, saling membelakangi, terhalang batang po-hon. Pek Lian diikat pada sebatang pohon yang lebih kecil, tak jauh dari situ, demikian pula A-hai diikat pada sebatang pohon. Mereka hanya dapat saling pandang, tidak tahu apa yang akan terjadi atas diri mereka. Mereka tidak tahu apa artinya "upacara hio" yang dikatakan oleh pemuda kurus itu dan tidak berani menduga - duga.
"Koko " Terdengar bisikan suara Bwee Hong
yang ditujukan kepada kakaknya di balik batang pohon.
"Ya ?" kakaknya menjawab. Orang-orang
Tai - bong - pai berjaga - jaga agak jauh dari situ dan mereka itu agaknya sibuk dengan sesuatu bahkan ada yang dari jauh datang menggotong peti mati! Karena itu, kakak beradik ini memperoleh kesempatan untuk bercakap - cakap.
"Koko, apakah tidak ada jalan keluar ?"
Suara Bwee Hong agak gemetar- Ia bukan seorang gadis penakut, akan tetapi melihat orang-orang Tai-bong-pai yang mengerikan itu menggotong peti mati, ia menjadi serem dan takut juga.
"Hong-moi, tenagaku belum pulih. Apakah
engkau tidak dapat menggunakan sinkang untuk
mematahkan ikatanmu dan menolongku ?" Seng
Kun balas bertanya. "Belenggu ini tidak berapa
kuat, kalau engkau menggunakan tenaga Pai-hud-
ciang "
"Iblis keparat itu tadi menotokku dan pengaruh totokannya masih terasa, membuat aku tidak dapat mengerahkan sinkang sekuatnya," jawab Bwee Hong lirih dan jengkel.
"Hemmm , mungkin ikatan ini terlalu kuat
bagi nona Ho, akan tetapi kalau saja A - hai sadar
akan kekuatannya, kalau saja dia kumat, tentu se-
kali renggut akan bebaslah dia dan dengan kepan-
daiannya yang hebat, dia akan dapat menyelamat-
kan kita semua, tapi "
"Tapi dia dalam keadaan sadar dan lupa akan segala ilmunya itu, koko. Lalu bagaimana ? Apa-kah kita harus menghadapi semua ancaman ini tanpa berdaya sedikitpun ?"
"Tenanglah, adikku. Aku sudah sembuh, hanya tenagaku yang belum pulih. Tunggu, aku akan mengumpulkan hawa mumi sebanyaknya dan mu-dah - mudahan saja usahaku tidak terlambat. Kalau tenagaku sudah pulih, aku dapat membebaskan kalian semua dan kurasa aku akan dapat pula me-nandingi ilmu sesat dari si kurus itu."
Bwee Hong lalu berdiam diri, memberi kesem-patan kepada kakaknya untuk memulihkan te-naganya dan ia sendiripun lalu menghimpun hawa murni untuk memulihkan tenaga sinkangnya yang tidak dapat dikerahkan dengan baik akibat totokan yang dilakukan oleh Kwa Sun Tek terhadap diri-nya.
Malam tiba. Gelap sekali. Tempat itu hanya diterangi sebuah api unggun yang dibuat oleh orang - orang Tai - bong - pai. Cahaya api yang merah menerangi tempat itu, akan tetapi hanya re-mang-remang saja. Tidak ada angin bertiup, suasana amat sunyi menyeramkan. Di dekat api unggun berjajar empat buah peti mati dan di atas tanah dipasangi hio - hio membara yang mengeluarkan asap putih dan bau harum tapi menyeramkan. A-sap hio yang membubung tinggi itu kadang-kadang tegak lurus karena tidak banyak angin bersilir ma-lam itu.
Seng Kun yang sedang tekun sekali menghimpun hawa murni untuk memulihkan tenaga sinkangnya, menjadi terganggu sekali oleh bau asap hio itu-
Akan tetapi dia berkeras untuk mengusir gangguan ini dan melanjutkan usahanya. Memang agak su-kar baginya karena kedudukan tubuhnya. Kalau dia melakukannya dengan bersila, tentu hasilnya akan lebih cepat. Akan tetapi, dia berdiri dan ke-dua lengannya terangkat ke atas karena terikat pa-da tali yang digantungkan pada cabang pohon itu.
Bau asap hio itu sungguh keras menusuk hi-dung. Beberapa kali A - hai sampai terbangkis. Ada duapuluh lima orang Tai - bong - pai duduk bersila mengelilingi api unggun itu dan Kwa Sun Tek sendiri duduk bersila di dekat api. Upacara hio itu agaknya dimulai!
Apakah sesungguhnya upacara hio ini ? Suatu kebiasaan dari Tai - bong - pai yang amat mengeri-kan ! Semacam upacara menghukum musuh dari Tai - bong - pai yang merupakan upacara tradisio-nil. Tadinya dimaksudkan untuk menghormati arwah orang - orang mati dengan memberi korban. Biasanya, dalam sembahyang menghormat arwah orang mati, korban berupa ayam, bebek, babi dan bermacam masakan yang seolah - olah merupakan sebuah pesta yang dihidangkan kepada arwah si mati yang diundang. Akan tetapi, dalam upacara hio itu, yang dikorbankan adalah orang - orang hidup, yaitu musuh-musuh yang tertawan, sebagai hukuman mati bagi musuh dan sebagai hidangan bagi arwah orang mati. Hebatnya, yang bertugas membunuh musuh adalah mayat - mayat yang sengaja dihidupkan untuk keperluan ini! Dan bukan sembarangan orang yang akan mampu memimpin upacara ini. Dia harus memiliki tenaga Sakti Asap Hio dan juga mahir dengan Pukulan Mayat Hidup, ilmu yang paling tinggi dari Tai - bong - pai dan pada waktu itu, hanya tiga orang saja yang me-nguasainya, yaitu ketua Tai - bong - pai Kwa Eng Ki, isterinya, dan Kwa Sun Tek inilah. Kwa Siok Eng sendiri ketika melatih diri dengan ilmu - ilmu ini, karena salah latihan, sampai menderita lumpuh. Tenaga sakti ini, digabungkan dengan ilmu hitam, dapat dipergunakan untuk memanggil roh dan memerintahkan roh memasuki mayat, membuat mayat hidup kembali untuk sementara, untuk membunuh musuh yang dijatuhi hukuman.
Suasana semakin sunyi. Empat orang muda yang menjadi tawanan itu memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat. Mereka belum tahu apa yang akan terjadi atas diri mereka, namiun me-reka dapat merasakan adanya suasana yang menge-rikan dan ada getaran - getaran aneh yang mem-buat Pek Lian kadang-kadang menggigil. Tidak terdengar sesuatu kecuali lirih-lirih suara Kwa Sun Tek membaca mantera, mulutnya berkemak - kemik ketika dia bersila sambil mengheningkan cipta di dekat api unggun.
Tiba - tiba terjadi keanehan. Masih tidak ada angin bertiup sama sekali, akan tetapi kini api unggun yang bernyala - nyala itu bergoyang - goyang dan asap hio - hio itupun tidak tegak lurus lagi, melainkan menari - nari seperti ada yang meniup-nya, atau seolah - olah ada angin menyambal kare-na kehadiran sesuatu yang baru datang tapi tidak nampak oleh mata.
Melihat ini, para anggauta Tai - bong - pai itu yang duduk bersila, lalu menelungkup dengan ke-dua lengan di atas tanah, di depan kepala, seolah-olah memberi penghormatan kepada "yang baru datang". Sementara itu, Kwa Sun Tek masih terus bersila memejamkan kedua mata dan bibirnya ber-kemak - kemik semakin cepat.
Hampir saja Pek Lian menjerit ketika kebetulan ia memandang ke arah peti - peti mati itu, ia me-lihat empat sosok mayat dalam peti mati itu kini bangkit duduk dari dalam peti mati, kemudian dengan gerakan kaki empat sosok mayat itu keluar peti dan turun di atas tanah lalu menari - nari kaku dekat api unggun! Sungguh merupakan peman-dangan yang amat mengerikan sekali. Mayat-mayat itu melangkah kaku, dengan kedua lengan seperti kejang, pakaian compang - camping dan mengelu-arkan bau busuk ! Ada yang sudah mulai membu-suk. Air kekuningan yang berbau busuk menetes-netes dari tubuh mereka, bahkan ada yang sudah mengeluarkan belatung! Suasana menyeramkan menyelubungi tempat itu.
Tiba - tiba Kwa Sun Tek membuka matanya, memandang ke arah empat sosok mayat hidup dan tersenyum puas. Lalu dia melayangkan pandang matanya ke arah empat orang tawanan, dan me-nyeringai girang melihat keadaan mereka yang dicekam ketakutan. Dengan perlahan dia lalu me-nudingkan telunjuk larinya ke arah Seng Kun, orang yang dia ketahui memiliki ilmu kepandaian paling tinggi akan tetapi berada dalam keadaan sakit, lalu dia berseru, "Bunuh orang itu !"
Empat sosok mayat itu memutar tubuh meman-dang ke arah si kurus, kemudian perlahan - lahan memutar tubuh ke arah yang ditunjuk dan ketika mereka melihat Seng Kun dan agaknya mengerti makna perintah itu, bersicepat mereka berempat itu seperti berlumba dengan langkah-langkah kaku menghampiri Seng Kun. Ketika mereka lewat di dekat Pek Lian, tak tertahankan lagi Pek Lian mun-tah-muntah karena bau busuk itu sungguh membu-atnya merasa muak dan jijik. Melihat ini, Seng Kun sudah siap siaga. Dia sudah merasa betapa seba-gian dari tenaganya pulih kembali. Akan tetapi pada saat itu, sebelum dia bergerak, nampak ba-yangan berkelebat dan bayangan putih itu ternyata adalah seorang dara cantik yang muncul dari ke-gelapan malam.
"Koko, jangan !" teriak gadis berpakaian
putih itu dan ia ini bukan lain adalah Kwa Siok Eng. Tanpa membuang waktu lagi Siok Eng lalu duduk bersimpuh di dekat kakaknya, mulutnya berkemak - kemik, Sungguh aneh. Empat sosok mayat itu tiba - tiba berhenti melangkah, bahkan tiba-tiba mereka itu roboh. Kemudian, nampak asap hio dan api kembali bergerak - gerak seperti tadi ketika Kwa Sun Tek memanggil arwah-arwah, agaknya kini arwah - arwah itu pergi meninggalkan tempat itu. Suasana yang menyeramkan dan aneh itupun lenyap bersama dengan datangnya kema-rahan yang membuat muka Kwa Sun Tek yang biasanya pucat itu menjadi kemerahan.
Akan tetapi Siok Eng tidak perduli. Melihat bahwa bahaya mengerikan telah lewat, ia lalu ber-lari ke depan dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Seng Kun. Dengan pandang mata me-sra dan lembut, dara itu terdongak memandang wajah penolongnya.
"In-kong, harap sudi memaafkan kesalahan kakakku yang ceroboh dan jahat itu."
Seng Kun memandang wajah cantik itu dan
tersenyum halus. "Tidak mengapa, nona Kwa,
agaknya ini hanya kesalahpahaman belaka "
Kwa Sun Tek sudah bangkit berdiri. Senjata pacul penggali kuburan itu menggigil di tangan kanannya dan mukanya kembali menjadi pucat seperti muka mayat, matanya mengeluarkan sinar berkilat saking marahnya.
"Siok Eng! Berani kau !" bentaknya dan
dia sudah melompat ke depan, mengepal tinju.

Dara itupun meloncat berdiri dan pada saat itu, Kwa Sun Tek sudah menerjangnya. Siok Eng me-nangkis dan dua tenaga sakti bertemu. Akan teta-pi, baru saja Siok Eng memperoleh bunga hitam berdaun putih, dan ia belum sempat menyempur-nakan ilmunya, maka ketika kedua lengan bertemu, iapun terjengkang dan bergulingan di atas tanah.
"Bocah lancang, berani engkau membela mu-suhku ? Engkau layak dihajar!" bentak Kwa Sun Tek yang agaknya sudah marah sekali. Pemuda kurus itu sudah menerjang maju lagi, mengirim hantaman ke arah Siok Eng yang baru saja bangun dengan pakaian kotor terkena debu.
"Desss !!" Tubuh Kwa Sun Tek terpental
ke belakang dan dia memandang dengan mata ter-belalak. Kiranya yang menangkis pukulannya atau yang menyambut dorongan tangannya dengan do-rongan lain dari depan itu bukan lain adalah pe-muda jangkung tampan yang tadinya masih terbe-lenggu. Seng Kun telah dapat melepaskan beleng-gunya dan membantu Siok Eng menangkis pukulan itu dengan pengerahan tenaga sinkang. Tenaga sakti Pai - hud - ciang ternyata berhasil memukul mundur tenaga sakti Asap Hio ! Dan pada saat itu, Pek Lian, Bwee Hong dan A - hai juga sudah ter-bebas dari belenggu dan berdiri dengan sikap me-nantang. Kiranya sebelum menangkis pukulan, Seng Kun juga berhasil membebaskan totokan yang mempengaruhi tubuh adiknya sehingga dengan sinkangnya Bwee Hong mampu mematahkan ikat-an kaki tangannya kemudian gadis ini membebas-kan Pek Lian dan A - hai. Melihat semua tawanan-nya sudah terlepas dan melihat betapa kini tenaga pemuda jangkung itu hebat sekali, Kwa Sun Tek menjadi gentar juga.
Akan tetapi, Kwa Sun Tek mengandalkan anak buahnya. "Serbu dan bunuh mereka!" bentaknya kepada anak buahnya
Akan tetapi Siok Eng juga melangkah ke depan menghadapi anak buah Tai - bong - pai.
"Siapa berani maju melawan aku ?"
Tentu saja melihat puteri ketua mereka, semua anak buah atau anggauta Tai - bong - pai menjadi ketakutan dan tidak ada yang berani maju atau bergerak! Mereka takut dan taat kepada Kwa Sun Tek sebagai putera ketua mereka, akan tetapi me-rekapun takut kalau harus melawan puteri ketua mereka sendiri.
"Siok Eng!" Kwa Sun Tek membentak marah. "Engkau hendak berkhianat dan menghadapi Tai-bong-pai sebagai lawan? Tahu engkau apa hu-kumannya sebagai seorang pengkhianat ? Engkau akan dikorbankan kepada arwah - arwah kalau ku-laporkan kepada ayah dan ibu tentang sikapmu membela musuh Tai - bong - pai ini!"
"Hemm, engkaulah yang akan menjalani hukum-an itu kalau kulaporkan kepada ayah ibu !" Siok Eng juga membentak. "Mereka ini bukan musuhmusuh Tai - bong - pai, sebaliknya malah. Taihiap ini adalah penolongku. Dia telah menyelamatkan aku dengan mengorbankan nyawa ayah bundanya. Kalau engkau membunuhnya, berarti engkau mem-berontak dan berkhianat kepada ibu. Lihat baik-baik, apa yang dimilikinya ini ?" Siok Eng lalu menarik tali kalung yang tergantung di leher Seng Kun dan kini nampaklah benda yang berada di ujung kalung, yang tadinya tersembunyi di balik baju. Sebuah bendera logam dari Tai - bong - pai!
Melihat benda itu, Kwa Sun Tek terkejut sekali. Itulah bendera pusaka yang biasanya hanya dipe-gang dan dimiliki ayah bundanya saja. Kalau pe-muda ini memilikinya, berarti bahwa dia telah dianggap sebagai orang yang sederajat dengan ke-tua Tai-bong-pai dan selalu harus dilindungi oleh Tai - bong - pai! Hatinya merasa penasaran dan kecewa sekali, akan tetapi di depan adiknya, dia tidak berani menentang. Kalau dia menentang dan sampai terdengar oleh ayah bundanya, tentu dia tidak akan mampu meloloskan diri. Maka, dengan wajah bersungut - sungut dia lalu menjura kepada Seng Kun dan berkata, "Maafkan kami, karena ti-dak tahu telah berani mengganggu. Tai-bong-pai akan selalu melindungi pemegang bendera pusaka."
"Ah, tidak mengapa. Sebagai kakak nona Siok Eng, bolehkah kami mengenal namamu ?" Akan tetapi pertanyaan Seng Kun ini tidak dijawab kare-na Kwa Sun Tek telah menjura lagi dan pergi dari tempat itu setelah memberi isyarat kepada para anak buahnya yang segera membawa mayat-mayat dan peti-peti itu pergi pula meninggalkan tempat itu entah ke mana.
Setelah mereka pergi, Pek Lian memegang ta-ngan Siok Eng. "Adik yang baik, sungguh menge-rikan sekali ilmu-ilmu dari Tai-bong-pai itu. Dan melihat keadaanmu, sungguh hampir aku tidak percaya bahwa engkau adalah puteri ketua Tai-bong-pai dan adik dari si kurus yang lihai tadi"
Siok Eng menarik napas panjang. "Aku memang menjadi anak bandel dan suka melawan dalam ke-luarga kami, karena aku tidak menyetujui banyak hal dalam Tai - bong - pai. Karena itulah maka ayah tidak menurunkan ilmu-ilmu yang tertinggi sehingga terpaksa aku belajar sendiri sampai terse-sat dan hampir mati karena salah latihan. Setelah demikian, barulah ayah bundaku menolong mem-bimbing. Kakakku itu sebenarnya tidak jahat, menurut ukuran Tai-bong-pai dan dia taat sekali terhadap perkumpulan kami. Memang kadang-ka dang perkumpulan kami keras dalam menghukum musuh - musuh yang merugikan kami. Tapi, ibu
sebenarnya bukan wanita kejam ah, sudahlah.
Semua orang tahu bahwa Tai - bong - pai adalah sebuah perkumpulan sesat dan aku adalah puteri dari ketuanya." Dara itupun menarik napas pan-jang lagi dan kelihatan berduka.
Melihat ini, Pek Lian menyimpangkan perca-kapan dan berkata, "Eh, bagaimana engkau dapat menyelamatkan diri dari lautan itu, adik Eng ?"
Mereka lalu saling menceritakan pengalaman mereka semenjak mereka saling berpisah karena perahu Tai - bong - pai itu pecah terbakar. Ter-nyata Siok Eng dan anak buahnya berhasil menye-lamatkan diri.
"Banyak anak buahku yang tewas tenggelam. Setelah kami berhasil mendarat, aku perintahkan mereka pulang memberi laporan kepada ayah ten-tang segala hal, dan aku sendiri lalu mencari ke sepanjang pantai kalau - kalau ada di antara kalian yang selamat. Untung aku dapat mencium bau
hio itu dari jauh, kalau tidak "
Mereka bercakap - cakap sambil melanjutkan perjalanan menuju ke sebuah kota terdekat. Kota itu adalah kota Yen - kin yang berada paling dekat dengan pantai di daerah itu. Mereka berlima me-masuki sebuah restoran dan memesan hidangan. Biarpun malam telah agak larut, banyak juga tamu yang makan di situ. Semenjak mereka memasuki kota Yen - kin, sudah terasa suasana panas karena perang- Rakyat sudah berkelompok dan terpisah-pisah, terasa ada ketegangan dan permusuhan. A-gaknya bentrokan dan kerusuhan dapat saja terjadi sewaktu - waktu di kota itu. Banyak toko menutup pintunya dan yang buka memberi harga tinggi kepada barang - barang dagangan mereka. Rakyat sudah bersiap dan mengumpulkan barang-barang untuk sewaktu-waktu dibawa pergi mengungsi. Padahal, perang baru terjadi di daerah barat dan utara, belum melanda daerah itu. Namun, suasana panas sudah terasa, bahkan percakapan - percakap-an di dalam restoran, di antara para tamu yang se-dang makan, juga berkisar sekitar pemberontakan-pemberontakan itu.
"Pemberontak-pemberontak itu telah mere-but sebuah kota lagi!" seorang laki - laki berpa-kaian pedagang bercerita kepada temannya sambil menghadapi hidangan.
Lima orang muda itu saling pandang, akan te-tapi tentu saja A - hai tidak begitu memperhatikan suasana ini. Seng Kun bertukar pandang dengan adiknya. "Hemm, orang she Chu keturunan jende-ral itu agaknya kini memberontak secara terbuka," bisiknya.
"Ihh, koko, jangan memburukkan she-nya. Ingat, kitapun sekarang she Chu juga!" cela Bwee Hong.
Kakaknya menghela napas panjang. "Sayang bahwa kenyataannya demikian. Mudah-mudahan antara kita dan dia, si pemberontak itu, tidak ada hubungan darah kekeluargaan."
"Sayang bahwa kaisar banyak melakukan tin-dakan-tindakan yang mengecewakan hati rakyat. Kalau rakyat merasa tidak senang kepada kaisar, hal ini akan membuat mereka mudah terpancing oleh kaum pemberontak dan keadaan sungguh amat berbahaya," kata pula Bwee Hong.
Pek Lian yang mengikuti percakapan mereka, mengangguk. "Memang benar- Dan agaknya para pemberontak maklum akan hal ini dan memanfaat-kannya."
Tiba-tiba Seng Kun memandang kepada Siok Eng dan bertanya lirih, "Maaf, nona. Apakah Tai-bong-pai juga melibatkan diri dalami kekeruhan negara ini ?"
Dengan keras Siok Eng menggeleng kepala. "Setahuku tidak, in - kong. Tai - bong - pai adalah perkumpulan bebas yang tidak mau melibatkan diri dengan urusan di luar Tai - bong - pai."
"Tapi kakakmu " Setelah meragu sejenak,
Seng Kun melanjutkan, berpikir bahwa terhadap dara ini yang sudah dikenal wataknya, lebih baik dia berterus terang karena dara ini tentu berpihak kepadanya atau kepada yang benar. "Dengar, no-na. Perahu besar pasukan asing yang menyerang perahumu itu, ternyata berlabuh di sini dan agak-nya para pemimpinnya mengadakan pertemuan rahasia dengan kakakmu. Aku merasa curiga se-kali bahwa ada persekutuan rahasia antara kakak-mu dengan orang - orang Mongol itu."
Siok Eng mjengerutkan alisnya. "Ah, kakakku Kwa Sun Tek itu memang sejak dahulu berwatak keras dan aneh, suka memakai jalan kekerasan dan mencari menang sendiri. Entah apa lagi yang hendak dilakukannya sekarang. Biar, aku akan mem-beritahukan ayah agar diselidikinya dan kalau per-lu dicegah perbuatannya yang akan menyeret Tai-bong-pai kepada kehancuran."
Setelah makan sambil bercakap - cakap lirih, mereka lalu mencari penginapan. Tiga orang dara itu tidur sekamar, dan dua orang pemuda itu tidur di lain kamar. Seng Kun mengatakan bahwa dia perlu untuk beristirahat dan menghimpun hawa murni untuk memulihkan seluruh tenaganya yang sudah pulih sebagian besar akan tetapi belum se-penuhnya itu.
Tiga orang dara itu masih belum tidur dan me-reka masih bercakap - caikap. Tiba - tiba Siok Eng memberi isyarat agar mereka diam. Dara puteri ketua Tai - bong - pai ini memang paling tinggi ilmunya dibandingkan dengan kawan - kawannya. Diperhatikannya suara di luar pintu dan ia mende-ngar langkah - langkah orang, langkah - langkah dari orang - orang yang berkepandaian ! Kini Pek Lian dan Bwee Hong juga mendengarnya. Ada beberapa orang lewat di depan kamar mereka.
"'Kita harus berhasil menyelamatkannya !" Ka-limat ini terdengar oleh tiga orang gadis itu dan tentu saja mereka menjadi tertarik, terutama sekali Pek Lian dan Bwee Hong yang keduanya sedang melakukan tugas rahasia, yaitu mencari ayah Pek Lian. Karena besarnya hasrat hatinya menyelamat-kan ayahnya, maka mendengar kalimat itu, Pek
Lian menjadi curiga dan tanpa kata - kata ia mem-beri isyarat kepada kawan - kawannya, kemudian iapun keluar dari dalam kamar melalui jendela. Dua orang temannya mengikuti dan bagaikan tiga ekor burung saja, mereka berloncatan naik ke atas wuwungan rumah dan melakukan pengintaian. Mereka melihat empat orang laki - laki yang dari langkah kakinya dapat diketahui berilmu silat tinggi. Empat orang ini keluar dari rumah pengi-napan, dan setelah berjalan keluar kota, merekapun melanjutkan perjalanan dengan ilmju berlari cepat. Tentu saja tiga orang gadis itu tertarik dan mem-bayangi mereka. Tak lama kemudian, di tempat yang sunyi empat orang itu berhenti dan di situ telah berkumpul belasan orang pula. Ketika seo-rang di antara mereka bicara, Pek Lian menjadi girang dan juga terkejut bukan main.
"Para penyelidik kita mendengar berita bahwa Menteri Ho akan menjalani hukuman mati, dilaku-kan oleh perajurit - perajurit pemerintah, di luar kota Yen - tai, pada besok malam. Kita harus cepat bergerak. Yang penting, kita harus cepat memberi tahu kepada Sin - kauw Song - taihiap. Dia berada di sini."
Mendengar ucapan ini, tentu saja Pek Lian girang sekali. Ia berbisik kepada dua orang ka-wannya. "Mereka ini tentu teman Sin - kauw Song Tek Kwan, seorang di antara Huang - ho Su - hiap, yaitu seorang di antara guru-guruku. Mereka akan berusaha membebaskan ayah. Aku akan mengikuti mereka, aku ingin bertemu dengan guruku."
"Tapi, bagaimana dengan A - hai dan kakakku yang sedang mengobati dirinya di rumah pengi-napan itu ?" tanya Bwee Hong.
"Kalian pulanglah, biar aku sendiri yang pergi," jawab Pek Lian.
"Aih, mana bisa begitu ?" bantah Bwee Hong. "Aku harus menggantikan tugas kakakku."
"Biarlah aku yang kembali ke penginapan dan besok akan kuceritakan kepada in - kong tentang kepergian kalian ini," kata Siok Eng. Dua orang kawannya setuju dan puteri ketua Tai - bong - pai itupun segera meninggalkan tempat itu, kembali ke rumah penginapan.
Sementara itu, Pek Lian dan Bwee Hong segera mengikuti dan membayangi rombongan orang ga-gah yang berangkat meninggalkan tempat perte-muan di luar kota itu. Mereka memasuki hutan, mendaki bukit dan turun di sebuah lembah yang sunyi. Dan mereka itu tiba di tepi sebuah hutan kecil di mana terdapat sebuah pondok bambu se-derhana.
"Song - taihiap ! Kami datang dari Lembah
Yang - ce !" Seorang di antara mereka berkata
ke arah pintu pondok yang tertutup. Kiranya itu merupakan kata - kata sandi untuk saling mengenal di antara para pendekar patriot. Daun pintu terbu-ka dan seorang laki-laki yang usianya menjelang limapuluh tahun, mukanya kecil hidungnya pesek dan muka itu kelihatan seperti muka monyet, keluar sambil membawa lampu gantung.
Melihat kakek ini, Pek Lian merasa terharu se-
kali dan iapun meloncat keluar dari tempat sem-
bunyinya sambil berseru memanggil, "Song-su-
hu ! !"
Semua orang terkejut dan Sin-kauw Song Tek Kwan, orang ke empat dari Huang - ho Su - hiap, juga terkejut dan mengangkat obornya tinggi-ting-gi sambil membalikkan tubuh memandang Pek Lian. Seketika wajahnya berseri gembira ketika dia mengenal wajah muridnya yang tercinta itu.
"Nona Ho Pek Lian !" teriaknya sambil
melangkah maju menghampiri.
"Suhu !" Hubungan antara Pek Lian dan
keempat orang suhunya memang akrab sekali, se-
perti kepada paman sendiri saja. Maka kinipun,
dalam keadaan terharu, Pek Lian tidak melakukan
banyak peraturan, melainkan lari menghampiri dan
memegang tangan gurunya itu, matanya basah dan
air mata menitik turun ke atas pipinya- "Song suhu ah, Tan-suhu dan Liem - suhu " Ia
tidak dapat melanjutkan, lehernya seperti tercekik rasanya teringat akan kematian dua orang guru-nya ketika mereka dikeroyok oleh pasukan peme-rintah.
Sin - kauw ( Monyet Sakti ) Song Tek Kwan mengangguk - angguk. "Aku sudah tahu, aku sudah mendengar akan hal itu. Mereka berdua tewas sebagai pendekar sejati, dan darah mereka hanya menambah mengalirnya darah pendekar di bumi kita, semoga menjadi pupuk bagi tanah air. Sudah-lah, seorang wanita perkasa seperti engkau ini tidak patut kalau meruntuhkan air mata, nona Ho. Sia-pakah kawanmu itu ?" tanya Sin - kauw Song Tek Kwan sambil menunjuk kepada Bwee Hong yang juga muncul mengikuti Pek Lian.
"Ia adalah enci Chu Bwee Hong "
"She Chu ?" Sin - kauw Song Tek Kwan
memotong, memandang kaget.
"Jangan khawatir, suhu. Biarpun enci Hong ini she Chu, akan tetapi tidak ada hubungannya sedi-kitpun juga antara ia dan Chu Siang Yu. Dan ia ini adalah pewaris dari Bu - eng Sin - yok - ong."
"Ahhh !" Si Monyet Sakti berseru takjub
dan cepat menjura sebagai penghormatan terhadap gadis yang diperkenalkan sebagai keturunan Raja Tabib Sakti Tanpa Bayangan itu. Bwee Hong ce-pat membalas penghormatan itu dan Sin - kauw la-lu memperkenalkan dua orang gadis itu kepada teman - temannya. Semua pendekar memandang Pek Lian dengan hormat karena semua pernah mendengar nama murid Liu - twako yang telah diangkat menjadi pemimpin para pendekar, bahkan yang ayahnya amat terkenal karena ayahnya ada-lah Menteri Ho yang sedang dijadikan bahan per-cakapan itu. Mereka lalu memasuki pondok untuk bercakap - cakap di dalam pondok. Berada di an-tara para pendekar ini Pek Lian merasa betah se-perti di rumah sendiri, juga Bwee Hong merasa suka akan sikap para pendekar yang gagah itu.
Bersambung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar