Rabu, 15 Mei 2013

DARAH PENDEKAR 24

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Bab 24

Kembali terdengar siulan gurunya. Kiong Lee semakin bingung. Dia melihat betapa Tiat - siang-kwi sudah mencabut senjatanya, yaitu golok gergaji yang besar mengerikan. Agaknya raksasa itu benar - benar hendak membantai dan menguliti pemuda itu. Pada saat itu, A-hai mengusap lukanya dan ketika dia melihat tangannya penuh darah, juga mukanya menjadi berlepotan darah, terjadi perobahan hebat pada dirinya.

Matanya terbelalak, mencorong ganas, dan lidahnya terjulur menjilati darah yang berlepotan di telapak tangannya sambil menggumam lirih, "Darah darah !" Melihat ini, Kiong Lee terbelalak dan merasa kasihan sekali.

Dia mengira bahwa tentu pukulan si raksasa tadi telah mengakibatkan luka di dalam kepala pemuda itu sehingga dia mendadak menjadi gila! Dan Tiat - siang - kwi sendiripun melihat ini dan si raksasa tertawa lalu menyimpan kembali goloknya.

"Ha - ha - ha, akan kubeset kulitmu dengan ku-ku jari tanganku saja, ha-ha-ha!" katanya dan tiba - tiba kata - katanya terhenti dan matanya ter-belalak ketika dia melihat secara luar biasa sekali pemuda yang menjilati darah dari telapak tangan-nya itu mendadak terbang!

Ya, gerakan pemuda itu hanya tepat disebut "terbang" karena tidak nampak dia membuat gerakan meloncat dan tahu tahu tubuhnya sudah meluncur ke atas, ke depan dan menyerangnya. Kiong Lee sendiri terbelalak melihat ini, sungguh penglihatan yang ajaib dan membuat dia merasa seperti dalam mimpi. Semen-tara itu, Chu Seng Kun yang sedang minum arak itu masih enak - enak saja minum araknya da-lam keadaan tidak sadar, terbuai dalam kemabokan mendalam.

"Haaaiiiittt !" Tiat - siang - kwi menangkis, bahkan menyambut serangan itu dengan hantaman tangannya yang terbuka seperti cakar naga.

"Blaarrrrr !" Dua tenaga raksasa bertemu dan seluruh ruangan sampai ke atas genteng ter getar hebat. Akibatnya tubuh raksasa sebesar gajah itu terlempar melayang menghantam dinding sehingga dinding kamar itu jebol dan tubuhnya yang besar itu terbanting keluar !

"Adouuhh ehhh ohhh,, !" Si raksasa merangkak bangun, memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak melalui lubang besar di dinding kepada pemuda itu, kemudian membalikkan tubuh dan lari tunggang-langgang! A-hai yang sudah berobah menjadi buas itu segera mengejar melalui lubang di dinding.

Kiong Lee mengucek - ngucek kedua matanya, lalu berkejap - kejap, masih belum dapat percaya akan penglihatannya sendiri. Raksasa itu demikian lihai dan kuat sehingga dua orang sumoinya juga tidak kuat melawannya. Akan tetapi apa yang telah terjadi sehingga sekali hantam saja A - hai telah membuat tubuhnya terlempar keras membobolkan dinding dan membuat raksasa itu lari ketakutan ?

Siulan gurunya untuk ketiga kalinya membuat dia sadar. Dia cepat meloncat turun. Kiranya gup runya dan juga tiga orang dara perkasa itu berada dalam keadaan berbahaya! Gurunya dikeroyok oleh Tikus Beracun dan puteranya, sedangkan tiga orang dara itu berkelahi melawan kakek dan ne-nek cabul. Tentu saja mereka berempat akan dapat mengalahkan lawan - lawan itu dengan mudah da-lam keadaan biasa. Akan tetapi, mereka berempat itu kewalahan, bukan oleh lawan melainkan oleh ribuan ekor lebah putih yang beterbangan di atas kepala mereka dan menyerang mereka dengan ga-nas membuat empat orang pendekar itu benar-be-nar kewalahan. Bukan hanya bahaya penyengatan mereka yang beracun itu yang mengkhawatirkan, melainkan juga suara mereka yang berdengung se-perti gemuruh air terjun itu membuat Yap - lojin dan kawan - kawannya panik. Bahkan ketika Kiong Lee menyerbu, pemuda itupun segera dikeroyok oleh ribuan ekor lebah putih.

"Lari ke bawah pohon itu !"

Tiba - tiba Yap-lojin berteriak dan empat orang muda itu mengerti maksudnya. Kalau mereka berada di bawah pohon yang rindang daunnya itu, tentu lebah - lebah ini akan kurang leluasa beterbangan di atas kepala mereka, atau setidaknya tentu jumlah mereka ber-kurang karena sempitnya ruangan di atas kepala mereka. Maka mereka lalu memutar sebelah tangan di atas kepala sedangkan tangan lain dipergunakan untuk menghadapi serangan musuh, dan mereka-pun akhirnya berhasil menyusup ke bawah pohon walaupun Tikus Beracun, puteranya dan sepasang suami isteri iblis itu mencoba untuk menghalangi mereka.

Akan tetapi, hanya sebentar saja mereka merasa lega karena benar - benar ribuan lebah itu tidak begitu leluasa menyerang mereka, karena tiba - tiba Pek Lian menjerit-jerit dan diikuti oleh dua orang gadis lainnya ketika kaki mereka dirambati semut-semut merah yang buas sekali! Semut merah be-racun yang buas. Repotlah mereka sekarang harus melawan musuh yang cukup berbahaya sambil menghalau lebah - lebah dan menepuk mati semut-semut yang merayap ke mana-mana!

"Lari ke dalam rumah !" Kembali Yap - lojin memberi komando dan merekapun berlari - larian memasuki ruangan di mana A - hai dan Seng Kun berada. Biarpun mereka masih dikeroyok oleh empat orang iblis yang dibantu lebah - lebah mere-ka, namun kini mereka tidak sesibuk tadi. Lebih dari tiga perempat bagian dari pasukan lebah itu kebingungan, tertahan di antara daun - daun pohon tadi. Sedangkan yang masih mengeroyok mereka di dalam rumah juga tidak dapat bergerak leluasa. Melihat betapa kawan - kawannya tidak kerepotan lagi, Bwee Hong segera lari menghampiri Seng Kun.

"Koko !" katanya sambil merangkul pemuda itu.

Akan tetapi Seng Kun hanya memandang kepadanya dengan sinar mata bingung karena kakak ini tidak mengenal adiknya lagi. Bwee Hong cepat memeriksa denyut nadi tangan kakaknya dan setelah melakukan pemeriksaan, iapun mengerti bahwa kakaknya berada di dalam pengaruh obat bius perampas ingatan yang amat kuat.

Pada saat itu, tiba - tiba nampak berkelebatnya orang ke dalam ruangan itu. Ternyata dia adalah si raksasa yang melarikan diri dikejar oleh A - hai.

"Dess !" Tubuh raksasa itu tunggang-langgang mengacaukan pertempuran yang sedang berlangsung.

"Aduh aduhh tobat ! Aku menyerah!" teriaknya dengan suara parau dan mulutnya muntahkan darah segar.

Akan tetapi, agaknya A - hai sudah seperti kese-tanan. Dia mengeluarkan suara gerengan buas, tubuhnya melayang ke atas dan jari - jari tangan-nya terbuka, mencengkeram ke arah kepala raksa-sa itu. Melihat ini, Kiong Lee terkejut. Bagaimana-pun juga, dia tidak ingin melihat pemuda aneh itu menjadi seorang pembunuh keji, membunuh lawan yang sudah mengaku kalah dan bertobat. Dia me-nyayangi pemuda luar biasa itu, maka untuk men-cegah agar A - hai jangan menjadi pembunuh keji, diapun cepat menggerakkan tubuhnya dan meng-gunakan tangannya memukul ke arah lengan A-hai yang terulur hendak mencengkeram kepala Tiat-siang - kwi itu.

"Dukkk !" Dua lengan bertemu, keduanya terisi tenaga sinkang yang luar biasa kuatnya. Akibatnya, pukulan A - hai itu menyeleweng dan menghantam lantai di bawah, dekat kaki Tiat - siang - kwi.

"Blarrrr ...... !" Debu mengepul tinggi dan lan-tai itu berlubang besar. Semua orang terkejut dan memandang kagum. Kiong Lee sendiri terkejut bukan main ketika lengannya bertemu dengan le-ngan pemuda itu dan dia sudah meloncat ke bela-kang sejauh tiga meter. Kini dia berdiri tegak dan memandang dengan mata bernyala. Hatinya terba-kar juga. Sebagai seorang pemuda perkasa, dia te-lah menemukan tandingan. Kini kedua orang muda itu berdiri saling pandang, sama - sama tegap dan gagah. Akan tetapi sepasang mata A - hai tidaklah sebuas tadi, agak meredup, agaknya ada sesuatu yang meringankan kegilaannya yang kambuh itu.

Melihat ini, Pek Lian meninggalkan sepasang suami isteri tua yang masih bertanding melawan Siok Eng dan iapun cepat menghampiri dua orang pemuda yang saling berhadapan dalam jarak tiga meter seperti dua ekor ayam jantan yang hendak berlaga itu.

"Saudara Yap, dia tidak sadar akan apa yang dilakukannya. Jangan layani dia!" Setelah berkata demikian, Pek Lian menghampiri A - hai.

"A - hai , lupakah engkau kepadaku ?"

A - hai memandang kepada Pek Liari, alisnya berkerut dan dia menggeleng kepalanya, akan tetapi walaupun dia tidak mengenal gadis ini, agaknya ada sesuatu yang membuat hatinya lunak dan pandang matanya tidak seganas tadi.

Pada saat itu, tanpa diketahui orang lain, Tiat-siang - kwi yang nyaris melayang nyawanya kalau tidak ditolong oleh Kiong Lee, tiba - tiba melompat dan menubruk Bwee Hong yang sedang memeriksa keadaan kakaknya. Semua orang terkejut dan Pek Lian menjerit. Akan tetapi terlambat karena Bwee Hong yang tidak mengira akan diserang itu, tahu-tahu telah dicengkeram bahu dan tangan kirinya. Ia dibikin tidak berdaya dengan pukulan jari ta-ngan pada tengkuknya, dan kini kuku - kuku jari yang runcing melengkung itu menusuk daging balut dan lengannya yang lembut. Darah mengalir keluar.

Sambil tertawa si raksasa itu menyeret Bwee Hong, dengan kasar dan buas, menjauhi Seng Kun yang masih memandang dengan linglung. Sambil tertawa - tawa ganas, raksasa itu lalu mencengkeram kaki Bwee Hong, diangkatnya dara itu dan iapun mengamuk, memutar - mutar tubuh Bwee Hong untuk mencari dan membuka jalan keluar dan mem-bantu kawan-kawannya. Tentu saja Yap-lojin dan teman - temannya menjadi khawatir dan cepat mundur, tidak berani menyerang karena takut kalau - kalau serangan mereka mengenai tubuh Bwee Hong yang diputar - putar itu. Mereka memandang gelisah, tidak tahu bagaimana harus menghadapi lawan yang amat curang itu.

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara geraman buas seperti keluar dari mulut seekor binatang liar. Sepasang mata A - hai yang tadinya sudah mere-dup, berobah ganas lagi. Sepasang mata itu kini memandang ke arah si raksasa dengan pandang mata buas, seperti mata harimau yang penuh nafsu membunuh. Tubuhnya perlahan-lahan bergerak, berputar ke arah raksasa yang tertawa terbahak-bahak kegirangan melihat musuh-musuhnya yang tangguh itu menyingkir semua. Tiba-tiba, kedua lengannya mengeluarkan uap putih dan begitu ta-ngan kirinya digerakkan ke depan seperti menusuk ke arah kaki Tiat - siang - kwi, raksasa itu berteriak kesakitan dan kakinya terkulai, lututnya tertekuk. Dia hanya merasa seolah - olah pahanya dihantam palu godam yang tidak nampak. Dia mencoba bangkit, akan tetapi jatuh berlutut lagi. A - hai kembali menggerakkan tangan kanannya, kini mem-buat gerakan membacok ke arah pundak. Kembali raksasa itu berteriak kesakitan dan lengan kanan-nya terkulai. Tentu saja Bwee Hong terlepas jatuh ke lantai dan Siok Eng cepat menyambarnya dan memulihkan jalan darahnya yang tadi tertotok.

Sementara itu, Yap - lojin yang sejak tadi meng-ikuti semua gerakan A - hai, ternganga dan tanpa disadarinya dia menggeleng - geleng kepala dan berkata, "Thai - kek Sin - ciang !"

Kiong Lee terkejut. Yang disebut gurunya itu adalah ilmu pukulan yang kabarnya hanya dimiliki dewa saja, yang hanya terdapat dalam dongeng. Akan tetapi, melihat apa yang dilakukan oleh A-hai tadi, dia percaya bahwa ilmu pukulan jarak ja-uh itu sungguh amat luar biasa.

Sikap A-hai sungguh luar biasa sekali. Setelah si raksasa roboh, kebuasannyapun lenyap dan kini dia termangu - mangu memandang kepada Bwee Hong yang juga sudah bangkit berdiri dan meman-dang kepadanya setelah terbebas dari totokan. Dan tiba - tiba saja, A - hai menangis ! Air matanya ber-cucuran dan dia memandang kepada Bwee Hong melalui air matanya, kemudian diapun berlari ke depan, menubruk kedua kaki itu dan menangis.

"Ibu ....... ibu ......!" A-hai meratap sambil merangkul kedua kaki Bwee Hong.

Sejenak suasa-na menjadi hening, akan tetapi melihat robohnya adiknya yang ke dua, Te - tok - ci lalu mengeluar-kan aba - aba lagi dan semua anak buahnya berge-rak lagi mengeroyok. Pertempuran pecah lagi dan kini pihak tuan rumah ditambah dengan dua orang wanita kembar yang agaknya sudah pulih kesehat-annya dan sudah berpakaian. Yap - lojin memimpin kawan - kawannya untuk melakukan perlawanan. Hanya A - hai dan Bwee Hong yang tidak memperdulikan itu semua. A-hai masih merangkul kedua kaki dara itu sambil menangis.

Sejenak Bwee Hong menjadi bengong termangu-mangu. Akan tetapi, melihat penolongnya yang memiliki kesaktian luar biasa itu kini berlutut di depannya sambil memeluk kedua kakinya dan menangis, Bwee Hong membiarkannya saja. Sedikit banyak ia sudah mendengar dari Pek Lian tentang pemuda aneh ini yang agaknya mengalami guncangan jiwa yang amat hebat. Melihat keadaan pemuda ini, timbul rasa iba yang amat mendalam di hati Bwee Hong. Tak terasa lagi kedua tangannya menyentuh dan membelai rambut kepala A - hai yang awut - awutan itu dan dengan suara halus ia membujuk, "Jangan menangis !" Akan tetapi ia sendiri tidak dapat menahan menetesnya beberapa butir air mata dari sepasang matanya karena terha-ru dan kasihan.

Mendengar suara halus ini, A - hai mengangkat mukanya. Air mata gadis itu mengalir turun dan menetes dari wajahnya yang menunduk, jatuh me-ngenai dahi A-hai, mengalir turun bercampur de-ngan air mata pemuda itu. Tiba - tiba tubuh A-hai bergetar. Agaknya ada suatu pergolakan jiwa ter-jadi di bawah sadarnya dan tiba - tiba saja tangis-nya meledak, terisak-isak tak terkendalikan lagi.

Hati Bwee Hong semakin terharu. Ia merasa betapa pemuda itu merangkul kakinya sambil me-nangis sesenggukan, membasahi sepatunya dengan air mata yang hangat.

"Sudahlah harap jangan menangis " bujuknya akan tetapi ia sehdiripun menangis.

Menghadapi peristiwa ini, semua orang menjadi bengong. Akan tetapi pada saat itu terdengar suara berdengung nyaring, bergemuruh datang dari luar. Itulah suara pasukan lebah, pikir Pek Lian dengan hati ngeri.

"Yap - locianpwe, kita harus cepat pergi dan sini !" katanya.

"Benar," kata Yap-lojin setelah tadi dia sendiri termangu menyaksikan hal-hal yang luar biasa itu.

"Kiong Lee, engkau mengendong Chu Seng Kun !"

Kiong Lee juga melihat datangnya ancaman ba-haya. Agaknya pihak lawan yang tadi mengundur-kan diri karena merasa kalah kuat, kini telah me-nyusun kembali kekuatannya dan hendak datang menyerbu. Maka diapun cepat menggendong Chu Seng Kun yang selain kehilangan ingatannya, juga kelihatan amat lemah. A - hai kini tidak kelihatan lemah lagi walaupun dia juga seperti kebingungan dan bahkan tidak mengenal Pek Lian.

Akan tetapi, begitu Bwee Hong mengulurkan tangan dan berka-ta, "A-hai, mari kita pergi dari sini." Diapun bang-kit dan kelihatan girang, seperti seorang anak kecil yang diajak pesiar oleh ibunya.

"Mari ikut aku !" Pek Lian berkata cepat dan segera ia membawa rombongan itu melalui tero-wongan di bawah laut yang menuju ke pulau Si Kelabang Hijau, tokoh ke lima dari para penghuni Ban - kwi - to itu. Selagi mereka berlari - lari me-masuki terowongan, terdengar suara Te - tok - ci dan anak buahnya mengejar dari belakang.

Akan tetapi, agaknya para pengejar itu juga ti-dak terlalu berani sehingga pengejaran mereka itu dilakukan dari jarak jauh saja sehingga memudah-kan Yap - lojin dan rombongannya untuk melarikan diri. Setelah mereka keluar dari mulut terowongan dan tiba di pulau tempat kediaman Kelabang Hi-jau, Yap - lojin dibantu Kiong Lee lalu menggu-nakan tenaga sinkang mereka menggempur batu karang di mulut terowongan sehingga batu - batu itu terbongkar dan terowongan itu. tertutup !

"Inikah pulau di mana puteraku berada ?" tanya Yap - lojin.

"Benar, locianpwe. Inilah tempat tinggal Thian-te Tok-ong atau Ceng - ya - kang Si Kelabang Hi-jau tokoh ke lima dari Tujuh Iblis itu," jawab Pek Lian.

Mereka lalu memasuki bangunan yang ber-ada di tengah pulau. Akan tetapi, ternyata rumah itu kosong dan biarpun mereka telah mencari ke seluruh pulau itu, namun mereka tidak dapat me-nemukan bayangan Si Kelabang Hijau maupun ba-yangan Yap Kim. Tentu saja Yap - lojin dan kawan-kawannya menjadi kecewa sekali.

"Tentu iblis itu telah tahu akan kedatangan kita maka dia sudah lebih dahulu melarikan diri meng-ajak putera locianpwe," kata Pek Lian.

Pada saat itu, terdengar bunyi terompet kapal ditiup nyaring. Mendengar ini, Kwa Siok Eng ter-belalak.

"Ah, itu suara kapalku berada dalam ba-haya. Dayang-dayangku memanggil agar aku se-gera kembali ke perahu kami."

Rombongan itu lalu berlari-lari ke arah di mana perahu besar Tai-bong-pai itu disembunyikan. Seperti kita ketahui, ketika Siok Eng dan Pek Lian meninggalkan perahu, para dayang atau anak bu-ah Tai - bong - pai itu oleh Siok Eng diperintahkan untuk menunggu dan bersembunyi di situ sampai ia kembali.
Ketika rombongan ini sedang berlari menuju ke pantai di mana perahu itu disembunyikan, di jalan mereka bertemu dengan seorang anak buah Tai-bong - pai yang terhuyung - huyung dan mukanya kehijauan. "Siocia perahu kita dirampas seorang gendut dan seorang pemuda" dan dayang itu terguling dan terkulai, tewas.

"Si Kelabang Hijau !" Siok Eng berseru marah melihat tewasnya anak buahnya dengan muka kehijauan itu. Ia tahu bahwa itulah akibat pukulan yang mengandung racun kelabang hijau yang amat ganas.

Mereka lalu mempercepat lari mereka ke arah pantai dan benar saja, di atas pe-rahu besar itu nampak belasan orang anggauta Tai-bong - pai kewalahan menandingi seorang kakek gemuk pendek dan berkepala gundul yang lihai sekali.

"Iblis keparat, berani engkau mengacau orang-orang Tai - bong - pai ?" Siok Eng membentak ma-rah dan ia mendahului yang lain, menerjang ke atas perahu dan langsung menyerang kakek gundul pendek itu.

"Plak - plak - plakk !" Tiga kali tamparan Siok Eng dapat ditangkis oleh Si Kelabang Hijau akan tetapi kakek itu repot juga menghadapi kecepatan gerakan dara Tai - bong - pai ini.

"Wah - wah - wah, galaknya !" Dia berteriak - teriak dan berloncatan ke belakang. "Yap kongcu, bantulah !"

Tiba - tiba berkelebat bayangan orang dari dalam bilik perahu dan seorang pemuda menerjang Siok Eng untuk membantu kakek gendut pendek itu. Akan tetapi dari samping, Kiong Lee sudah meloncat dan menangkap tangan pemuda itu sambil berseru, "Sute !!"

Pemuda tampan itu menoleh dan terkejut bukan main melihat Kiong Lee. "Eh, toa - suheng!" te-riaknya girang
.
"Sute, lihat siapa yang datang !" Kiong Lee me-nunjuk ke kiri dan ketika Yap Kim menoleh, dia makin terkejut dan girang.

"Ayah !" teriaknya sambil menghampiri ayahnya dan menjatuhkan dirinya berlutut di depan kakek itu. Yap-lojin mengelus jenggotnya, dan alisnya berkerut.

Hatinya lega melihat puteranya dalam keadaan sehat dan selamat, akan tetapi perasaannya tidak sedap melihat puteranya itu bersa-habat dengan iblis macam Kelabang Hijau, bahkan tadi dilihatnya puteranya hendak membantu kakek iblis itu menghadapi Siok Eng.

"Hemmm, bagus sekali! Engkau bergaul de ngan segala macam iblis dan sekarang engkau malah hendak membantu iblis Kelabang Hijau ini mela-wan kami ? Boleh, majulah dan lawanlah aku!" bentak Yap - lojin dengan muka merah karena marah.

"Tapi tapi Tok - ong itu baik sekali,ayah !" Yap Kim berkata dengan muka pucat.

Mendengar ucapan ayahnya yang mengandung ke-marahan itu.

"Hemm , dia baik ? Orang yang mengatakan bahwa Tujuh Iblis penghuni Ban - kwi - to baik hanyalah orang jahat, dan dia adalah tokoh ke lima dari Tujuh Iblis itu !"

"Tapi tahukah ayah ketika aku terluka oleh Raja Kelelawar dan hampir mati, kalau tidak ada Tok - ong yang menolongku, tentu sekarang aku hanya tinggal nama saja. Aku berhutang nyawa padanya, ayah, dan kulihat selama ini dia bukan orang jahat. Perahu ini milik orang-orang Tai - bong - pai, bukankah perkumpulan itu termasuk perkumpulan kaum sesat, ayah ? Kenapa ayah dan suheng malah berpihak kepada orang - orang Tai - bong - pai ?'"

Yap - lojin adalah seorang gagah perkasa yang berwatak adil. Mendengar ucapan puteranya itu, dia termangu - mangu. Memang benar ucapan pu-teranya yang terakhir itu. Tai - bong - pai terkenal sebagai perkumpulan hitam yang sesat, akan tetapi karena Siok Eng, puteri ketua Tai - bong - pai baik, diapun menganggapnya baik. Agaknya demikian pula dengan puteranya, yaitu menganggap baik kepada Thian - te Tok - ong karena Tok - ong bersi-kap baik, bahkan telah menyelamatkan nyawanya. Sesungguhnya, baik atau buruk hanyalah pendapat yang berdasarkan penilaian dan penilaian tentu saja amat pribadi, tergantung ke aku - an masing-masing. Dia menoleh dan melihat betapa Kelabang Hijau terdesak hebat karena sekarang Kiong Lee membantu Siok Eng.

"Kiong Lee, bebaskan dia!" katanya. Mende-ngar bentakan ini, Kiong Lee melompat mundur, dan Siok Eng juga menghentikan penyerangannya dan memandang dengan ragu.

Sementara itu, Thian - te Tok - ong meloncat turun dari perahu menghadapi Yap- lojin sambil tertawa - tawa.

"Ha - ha - ha - ha. Yap - lojin tidak suka kepadaku, hal itu tidaklah aneh ! Akupun ti-dak suka kepadamu, dan tidak suka kepada para pendekar karena mereka itu adalah orang - orang sombong sok suci ! Kami memang golongan jahat, akan tetapi setidaknya kami tidaklah berpura - pura suci. Tangan kami memang kotor dan kami mengakuinya, tidak menutupinya dengan sarung tangan bersih ! Ha - ha - ha, terus terang saja, aku suka kepada Yap - kongcu karena dia tidaklah pura-pura suci seperti para pendekar."

"Thian - te Tok - ong, Tujuh Iblis Ban - kwi - to sudah terkenal dengan kejahatannya. Orang yang suka bermain dengan racun seperti engkau, mana bisa dibilang baik ?"

"Bagus! Bagus ! Memang sejak kecil aku sudah diajar bermain dengan segala macam binatang beracun. Dan binatang - binatang beracun itu lebih baik dari pada manusia. Setidaknya, mereka itu mempergunakan racun mereka untuk membela diri dan mereka tidak pura - pura. Sebaliknya, sikap gagah dan baik, sikap manis dari manusia menyem-bunyikan racun yang lebih jahat dari pada binatang beracun."

Siok Eng termangu mendengar ucapan itu, ucap-an yang sering kali didengarnya di antara para to-koh Tai - bong - pai sendiri! Ucapan yang me-ngandung kepahitan hati orang - orang yang di-anggap jahat dan kotor, dipandang dengan sinar mata menghina oleh para tokoh kang - ouw yang menganggap diri mereka pendekar - pendekar bu-diman dan baik. Ia sendiri tidak setuju dengan tin-dakan - tindakan kasar dan bengis dari orang-orang Tai - bong - pai, namun kadang - kadang terasa pu-la olehnya betapa kaumnya itu dikesampingkan dan bahkan kadang - kadang dihimpit dan disudutkan oleh orang - orang yang menganggap diri me-reka "baik".

Sementara itu, Yap-lojin merasa penasaran men-dengar kata - kata tokoh sesat itu yang jelas me-nyerang pihak pendekar.

"Tok - ong, apakah eng-kau hendak mengatakan bahwa kaum sesat lebih benar dari pada para pendekar ? Kalian adalah orang-orang yang suka melakukan kejahatan, meng-andalkan kekerasan dan bertindak sewenang - we-nang, sedangkan kami para pendekar mempergu-nakan kepandaian untuk menentang kejahatan dan membela pihak lemah yang tertindas. Bukankah sudah jelas adanya garis pemisah antara kita ?"

"Ha - ha - ha, Yap - lojin, apa yang berbeda ? Kalau kami mempergunakan kekerasan dan membu-nuh, kalian para pendekar juga menggunakan keke-rasan dan membunuh. Apa bedanya ? Dan garis antara baik dan buruk, di mana letaknya ? Pula, apakah engkau hendak melupakan bahwa tanpa adanya kami, kalian tidak akan ada ? Tanpa ada-nya Im takkan ada Yang, tanpa adanya buruk tak-kan ada baik, tanpa adanya kanan takkan ada kiri ! Kekayaan dapat dinikmati hanya karena adanya kemiskinan ! Kesehatan dapat dinikmati karena adanya penyakit, dan apa artinya ahli pengobatan tanpa adanya racun - racun dan penyakit-penyakit? Ha - ha - ha, dipikir lebih mendalam, kalian para pendekar yang suka sok suci ini sepatutnya berte-rima kasih kepada kami, karena sesungguhnya kamilah yang mengangkat nama kalian sehingga di-puji - puji sebagai pendekar !"

Yap - lojin termangu bingung. Orang ini memi-liki kepandaian bicara yang luar biasa, pikirnya. Pantas puteranya mudah terpikat. Dia menoleh kepada kawan - kawannya yang juga termangu bi-ngung mendengar ucapan - ucapan yang langsung menyentuh hati mereka itu. Hanya A-hai seorang-lah yang tidak acuh, juga Chu Seng Kun yang ma-sih "linglung".

Apa yang diucapkan oleh Thian - te Tok - ong atau Ceng - ya - kang Si Kelabang Hijau secara ugal - ugalan itu memang sesungguhnya mengan-dung kenyataan - kenyataan yang patut untuk kita pikirkan. Di dunia ini kehidupan manusia sudah terbelenggu dengan kuatnya oleh dua hal yang se-lalu bertentangan. Baik - buruk, senang - susah, ka-ya - miskin, pintar - bodoh, sorga - neraka dan se-lanjutnya. Keduanya merupakan lingkaran setan yang saling kait - mengait mempermainkan batin manusia sehingga setiap saat terjadilah konflik da-lam batin antara yang satu dengan yang lain. Di antara semua dualisme itu yang terbesar menggun-cang dunia dan manusia adalah perang dan damai.

Karena adanya perang orang rindu akan perdamai-an, lalu menggunakan segala cara, kalau perlu de-ngan cara berperang pula, untuk mencapai keda-maian ! Padahal, kalau tidak ada perang, tidak seorangpun membutuhkan damai! Jadi, bukan damai yang perlu dikejar-kejar, melainkan perang yang perlu dihentikan atau dibuang jauh - jauh. Demikian pula dengan golongan yang baik dan yang jahat. Kaum pendekar yang "baik" ini me-nentang kaum yang dianggap jahat, kalau perlu dengan jalan kekerasan, bahkan membunuh. Akan tetapi, mungkinkah kejahatan dapat dibunuh atau dibasmi ? Orangnya tentu dapat dibunuh atau disik-sa, akan tetapi kejahatan itu letaknya bukan di luar atau di tubuh, melainkan di dalam batin! Jadi, yang diobati haruslah batinnya kalau kita ingin melihat kejahatan lenyap. Kejahatan seperti penya-kit, harus kita usahakan agar penyakitnya itu lenyap.

Bagaimanapun juga, setelah kita terseret ke da-lam kebudayaan seperti sekarang ini, di mana kita terbelenggu oleh dualisme - dualisme yang saling berlawanan, kita dapat melihat bahwa segala hal-hal negatip ini bukannya tidak ada manfaatnya ! Karena adanya kebodohan maka timbul gairah un-tuk belajar. Karena ada kemiskinan maka timbul perjuangan untuk memperoleh kemajuan dalam materi.

Karena ada ancaman neraka maka timbul usaha untuk memperoleh sorga, dan sebagainya. Dan apakah artinya kekayaan kalau tidak ada ke-miskinan ? Kalau kita semua manusia di seluruh dunia ini kaya, siapakah yang akan dapat menik-mati kekayaan lagi ? Kalau tidak ada kebodohan, apa lagi artinya menjadi orang pintar ? Bahkan setelah kita memasuki lingkaran setan dalam kebuda-yaan kita sekarang ini, jangankan orang - orang ma-cam Tujuh Iblis itu, bahkan Setan sendiripun bukan tidak ada manfaatnya! Adanya Setan menjadi pendorong bagi manusia untuk berpaling dan men-cari Tuhan! Andaikata tidak ada Setan, andaikata tidak ada dosa, mungkinkah manusia mencari Tu-han lagi ? Untuk apa ?

Karena ucapan Si Kelabang Hijau itu menda-tangkan kebingungan, maka Yap - lojin lalu berseru kepada puteranya, "Kim - ji, katakan saja, engkau hendak ikut ayahmu pulang ataukah engkau akan tinggal bersama dia selamanya ? Jawab !"

Yap Kim kebingungan. Selama dia berkelana bersama Kelabang Hijau, dia merasakan kehidupan yang lain. Dia merasa bebas dan tidak ada ikatan apapun, tidak ada penghalang - penghalang berupa peraturan - peraturan dan pantangan - pantangan, hidup bebas seperti burung di udara, melakukan apa saja yang dibisikkan oleh hatinya, bicara apa saja yang dikehendaki hatinya. Akan tetapi, sejak kecil dia digembleng oleh ayahnya untuk menjadi pendekar dan dia tahu bahwa jawabannya ini akan merupakan keputusan. Dan bagaimanapun senang-nya hidup seperti ketika dia berkelana dengan Ke-labang Hijau, tidak mungkin dia dapat melepaskan ayahnya begitu saja.

"Aku ikut bersama ayah," jawabnya lirih.

"Kalau begitu, mari kita pergi dari neraka ini! kata Yap - lojin.

"Silahkan naik ke perahu kami, locianpwe," ka-ta Siok Eng dan semua orang naik ke dalam perahu besar itu. Dayung digerakkan, layar dipasang dan perahu itu meninggalkan pantai pulau diiringi suara ketawa bergelak - gelak oleh. Kelabang Hijau yang berdiri di pantai dengan kedua kaki terpentang le-bar dan kedua tangan di pinggang. Tak seorangpun di atas perahu itu melihat betapa kedua mata kakek pendek gendut itu menjadi basah ketika dia melihat Yap Kim ikut terbawa pergi oleh perahu itu.


                                                              * * *

Perahu itu melaju dengan cepatnya. Layar ter-kembang penuh didorong angin. Semua orang me-rasa lega hatinya. Ho Pek Lian bergidik, merasa ngeri hatinya.

"Ih, aku tidak mau lagi pergi ke pulau-pulau itu. Benar - benar mengerikan sekali! Heii, kenapa gatal amat ?" Iapun menggaruk punggung tangan-nya dan melihat bercak-bercak putih. Teriakan-nya disusul oleh teriakan Siok Eng dan Bwee Hong.

"Celaka, ini racun lebah putih itu !" seru Siok Eng.

"Saya saya kedinginan " kata seorang anggauta Tai - bong - pai kepada Siok Eng.

"Saya juga, nona " kata yang ke dua dan disusul oleh yang ke tiga. Muka mereka pucat ke-hijauan dan tubuh mereka menggigil.

"Hemm, itu tentu pukulan Si Kelabang Hijau, pukulan beracun kelabang hijau!" kata pula Siok Eng.

"Hemm, kakiku juga terasa panas dan gatal ga-tal !" Kiong Lee juga berkata dan ketika dia me-nyingkap celananya, kakinya nampak ada totol-to-tol merah.

"Gigitan semut merah !" seru Siok Eng. "Racun-nya juga jahat sekali!"

Semua orang kebingungan, akan tetapi Yap-lo-jin tetap tenang dan tiba - tiba dia bertanya kepada Pek Lian dan Siok Eng, "Bukankah kalian masih mempunyai obat penawar racun cairan kuning dari Ban - kwi - to itu ?"

"Aihh, benar ! Kenapa kita lupakan obat itu, adik Eng ?" teriak Pek Lian yang memegang lengan Siok Eng.

Puteri ketua Tai - bong - pai ini-pun menjadi girang dan cepat mengeluarkan sisa obat cairan kuning yang diambilnya dari kamar Te-tok-ci itu. Semua orang yang keracunan diberi obat ini dan sungguh amat luar biasa sekali! Agak-nya memang obat itu khusus dibuat oleh Te-tok-ci untuk melawan segala macam racun yang ada di Ban - kwi - to, karena begitu memakai obat ini, se-mua orang sembuh. Bahkan Chu Seng Kun dan A-hai juga sembuh dari kehilangan ingatan mereka, walaupun tubuh mereka, terutama Seng Kun, masih terasa lemah !

Begitu keduanya diberi minum obat ini, kedua orang pemuda ini segera tertidur pulas setengah pingsan, demikian pula yang lain - lain karena ke-rasnya obat itu bekerja. Orang terakhir yang siu-man dari pingsannya adalah A - hai dan Seng Kun Akan tetapi karena A - hai memang sudah lebih dulu linglung, maka ketika sadar diapun masih tetap lupa segala, kecuali Pek Lian dan Bwee Hong! Begitu melihat Pek Lian, dia tersenyum dan cepat bangkit berdiri, memandang dengan wajah berseri.

"Engkau nona Pek Lian !" katanya girang. Pek Lian juga memandang dengan tersenyum manis.

"A - hai, engkau sudah sembuh !"

Akan tetapi A-hai memandang ke sekeliling dan ketika dia melihat Bwee Hong, terdengar se-ruan heran dan kaget di kerongkongannya dan dia-pun melangkah maju menghampiri gadis ini, me-mandang bengong lalu berkata bingung, "Nona ....nona ?"

Bwee Hong tersenyum, mengangguk. "Namaku Chu Bwee Hong."

"Chu Bwee Hong Chu Bwee Hong "

A-hai berulang-ulang menyebut nama itu lirih-lirih seperti seorang anak kecil sedang menghafal tiga buah huruf baru. Semua orang memandang kepadanya dengan hati kasihan sekali, akan tetapi, sungguh Pek Lian merasa heran kepada diri sendiri mengapa sikap A - hai itu mendatangkan rasa tidak enak di hatinya! Ia merasa seolah - olah tidak di-perdulikan lagi oleh A - hai dan pemuda itu kini duduk dekat Bwee Hong seperti seekor anjing yang tidak mau jauh dari majikannya! Ia merasa iri ataukah cemburu ? Ia sendiri tidak tahu, akan tetapi yang jelas, ia merasa betapa hatinya tidak sedap.

Seng Kun sadar paling akhir karena dialah yang paling banyak terkena racun dari Kepulauan Ban-kwi - to. Begitu sadar dia bangkit duduk dan terhe-ran-heran melihat semua orang berkumpul di da-lam perahu, merubungnya. Akan tetapi, wajahnya berseri gembira ketika dia melihat adiknya.

"Hong - moi !"

"Koko !" Dara yang cantik jelita itu membiarkan dirinya dirangkul oleh kakaknya.

"Nona Ho ! Dan engkau saudara A - hai! Syu-kurlah kalian juga selamat!" kata Seng Kun. Akan tetapi dia melihat Yap - lojin, Kiong - Lee dan juga Siok Eng. Alisnya berkerut memandang Yap-lojin dan Kiong Lee yang tak dikenalnya.

"Koko, ini adalah Yap - locianpwe, ketua Thian-kiam-pang dan ini adalah saudara Yap Kiong Lee, putera beliau. Mereka berdua telah menyelamat-kan aku dari ancaman bahaya tenggelam di lautan."

"Ah, sungguh besar budi ji - wi yang telah me-nyelamatkan nyawa adikku," ' kata Seng Kun yang cepat - cepat menjura dengan hormat. Tentu saja Yap - lojin dan muridnya cepat membalas penghor-matan itu.

Pada saat itu, terdengar suara halus, "In - kong, kami menghaturkan selamat dan hormat."

Seng Kun memandang dan dia melihat seorang gadis cantik bersama semua anak buah perahu yang terdiri dari wanita - wanita cantik, berlutut di de-pannya ! Seng Kun mengerutkan alisnya dan dia tidak ingat lagi kepada gadis cantik itu.

"Koko, ia adalah Kwa Siok Eng, puteri dari ke-tua Tai-'bong-pai yang pernah kita obati dahulu itu."

"Ahhh !" Seng Kun teringat dan kedua mukanya menjadi merah. Dia bukan hanya merasa jengah teringat kepada dara yang hampir mati, yang diobati olehnya dan oleh ayah bundanya yang ter-nyata kemudian hanyalah paman kakeknya suami isteri, dan pengobatan itulah yang mengakibatkan matinya dua orang tua itu. Dia merasa jengah mengingat betapa gadis ini dahulu telanjang bulat di depan matanya ketika diobati, akan tetapi di samping rasa malu - malu ini, juga dia teringat akan kematian paman kakek dan isterinya itu, yang su-dah dianggapnya sebagai orang tua sendiri.

"In - kong (tuan penolong), perkenankanlah saya menghaturkan terima kasih atas pertolongan in-kong dahulu, yang in - kong lakukan dengan pe-ngorbanan yang teramat besar."

Seng Kun menggerakkan tangan menolak.

"Su-dahlah, nona, harap jangan memakai banyak per-aturan dan sungkan - sungkan. Kita berada di an-tara teman sendiri dan sudah seharusnyalah kalau selagi hidup kita saling bantu-membantu."

Sikap yang sederhana dan halus dari pemuda ini mendatangkan rasa kagum dalam hati Yap - lojin dan muridnya, apa lagi mengingat bahwa pemuda inilah ahli waris utama dari ilmu - ilmu sakti yang dimiliki oleh mendiang Raja Tabib Sakti!

Kalau semua orang ikut terharu menyaksikan adegan ini, adalah A - hai yang bersikap tidak per-duli, bahkan seperti orang bingung dia hanya duduk memandang wajah Bwee Hong yang cantik jelita itu, membuat Bwee Hong kadang - kadang tersipu malu, akan tetapi membuat hati Pek Lian merasa semakin tidak enak saja.

Malam itu lewat tanpa peristiwa yang berarti. Perahu mereka melaju, cepat sekali menuju ke ba-rat, ke arah daratan besar. Karena lautan cukup tenang dan angin kuat, perahu mereka dapat mela-ju dengan amat cepatnya. Setelah berlayar sehari lagi, menjelang senja mereka sudah dapat melihat daratan besar, merupakan garis hitam di barat. Tentu saja hati mereka merasa gembira setelah lama mereka merantau di lautan ganas dan di anta-ra pulau-pulau yang mengerikan. Hanya dua orang yang nampak tidak gembira, yaitu Yap Kim dan Pek Lian. Agaknya pemuda putera tunggal ketua Thian - kiam - pang itu merasa kehilangan kebebas-annya setelah dia kembali ke "dunia sopan" di mana dia terikat oleh peraturan - peraturan, tidak seperti ketika dia berada di dunianya Si Kelabang Hijau yang serba bebas. Sedangkan Pek Lian me-rasa gelisah memikirkan ayahnya yang juga belum dapat ditemukan, walaupun ia telah berkumpul kembali dengan Seng Kun dan Bwee Hong.

"Heiiii! Perahu besar di depan !" Tiba-tiba terdengar teriakan wanita penjaga di atas. Semua orang keluar dari bilik dan memandang kedepan. Benar saja, remang - remang nampak sebuah perahu besar di depan, bahkan kini perahu besar itu mulai menyalakan lampu lampunya yang cukup banyak.

"Eh, itu perahu Mongol yang dipimpin orang-orang bermuka merah dan berambut putih itu!" Tiba-tiba Pek Lian berseru.

"Benar sekali, adik Lian!" seru Bwee Hong.

"Di mana engkau mendengar suara ayahmu itu, nona Ho ?" tanya Seng Kun dengan hati tertarik. Dia sudah mendengar dari Pek Lian dan Bwee Hong tentang pengalaman mereka ketika berpisah darinya.

"Kalau begitu, kita harus menolong Menteri Ho !" kata Yap - lojin yang juga berjiwa gagah dan sudah lama kagum kepada menteri itu. Sejak da-hulu dia memang tidak suka kepada keluarga kaisar, dan inilah sebabnya mengapa dia sampai cekcok dengan isterinya karena isterinya, bibi dari kaisar, mengajaknya menghambakan diri kepada kaisar. Sejak dahulu Yap - lojin berpihak kepada para pendekar dan orang gagah yang menentang kelaliman, maka kini mendengar bahwa mungkin Menteri Ho yang dikaguminya itu tertawan musuh dan berada di perahu besar di depan, timbul sema-ngatnya untuk menolong menteri itu.

"Kita kejar perahu di depan !" katanya penuh semangat dan sikapnya ini tentu saja menggirang-kan hati Seng Kun, Bwee Hong, dan Pek Lian yang memang bertugas untuk menyelamatkan Menteri Ho. Layar cadangan dipasang dan perahu melaju cepat menyusul perahu besar di depan.

"Ayah, aku mendengar bahwa orang - orang dari utara itu bukan orang Mongol asli dan mereka adalah ahli - ahli di lautan. Kulihat perahu besar itu tentu kuat sekali dan banyak anak buahnya. Perahu kecil kita dengan tenaga kita yang sedikit ini mana dapat menang ? Pula, perlu apa kita men-campuri urusan orang lain dan menanam permu-suhan dengan mereka ?" Yap Kim berkata.

Mendengar ucapan putera kandungnya ini, se-pasang mata Yap - lojin melotot.

"Apakah engkau tidak tahu siapa adanya Menteri Ho itu ? Dia ada-lah seorang patriot besar, seorang menteri yang setia dan bersih, jujur, berani menentang kelaliman kaisar dan pembela rakyat jelata. Dan kau bilang mencampuri urusan orang lain kalau kita kini hen-dak menyelamatkannya dari tangan musuh-musuh-nya yang menawannya ? Sungguh ucapan yang tolol sekali. Tolol!"

Yap Kini menarik napas panjang.

"Maaf, ayah. Bukan maksudku untuk bersikap pengecut dan tentu aku akan membantu ayah dengan taruhan nyawa. Hanya kupikir, bodoh sekali dan sama se-kali bukan gagah kalau nekat menyerbu lawan yang jauh lebih kuat. Dan agaknya di dunia ini terlalu banyak terjadi permusuhan karena pencampurta-nganan pihak ke tiga."

Sang ayah tidak membantah lagi walaupun amat marah karena ketika itu, perahu mereka telah ber-dekatan dengan perahu besar di depan yang agak-nya juga memperlambat pelayaran dan menanti mereka. Dan tiba - tiba saja, para perajurit di atas perahu besar itu bersorak - sorak dan menghujan-kan anak panah ke arah perahu para pendekar! Bukan anak panah biasa, melainkan anak panah yang membawa api! Jarak mereka sudah terlam-pau dekat untuk serangan anak panah, akan tetapi masih terlampau jauh untuk meloncat dan menyer-bu, maka para pendekar sibuk menangkis anak pa-nah yang datang seperti hujan itu. Melihat A - hai sama sekali tidak mampu mengelak atau menang-kis, Bwee Hong sudah memutar pedangnya melindungi pemuda ini yang kelihatan ketakutan dan bingung. Para anak buah perahu sibuk memadam-kan kebakaran - kebakaran yang diakibatkan anak panah api itu, dan karena kesibukan ini, maka be-berapa orang di antara mereka roboh terkena anak panah. Keadaan menjadi kalut, apa lagi ketika ke-bakaran makin menghebat dan layar sudah terma-kan api, juga tiang layar dan perahu itupun mulai terbakar ! Sukar meloncat ke perahu musuh yang memang sengaja menjauh itu, maka tiada pilihan lain, para pendekar itu berloncatan ke air yang gelap !

Pek Lian gelagapan. Di dalam hatin ya ia me-ngeluh. Kenapa ia harus terlempar ke air lautan lagi ? Apakah sudah menjadi nasibnya untuk mati di lautan ? Ia menggerakkan kaki tangannya ber-usaha berenang ke arah perahu besar di mana didu-ga ayahnya berada. Ia ingin naik ke perahu besar itu dan mengamuk, kalau perlu mati demi membela ayahnya. Akan tetapi, perahu besar itu setelah melihat perahu kecil terbakar, lalu cepat menjauh-kan diri dan terdengar sorak - sorai para perajurit itu yang merasa memperoleh kemenangan besar. Pek Lian tidak mampu mengejar perahu itu dan ia hampir kehabisan tenaga dipermainkan gelombang.

Tiba - tiba terdengar seruan, "Adik Lian, ke sinilah !"

Remang - remang dilihatnya Bwee Hong dan dua orang lain di atas atap perahu mereka. Atap ini masih utuh, akan tetapi perahunya entah lenyap ke mana, juga entah ke mana perginya orang-orang lain. Pek Lian mengerahkan sisa tenaganya dan akhirnya terengah - engah ia berhasil mencapai atap perahu itu dan dibantu oleh Bwee Hong dan dua orang itu yang ternyata adalah Seng Kun dan A-hai, iapun naik dan terkapar di atas papan dalam keadaan setengah pingsan.

"Nona Pek Lian ! Nona Pek Lian !!"

Suara itu terdengar sayup - sayup, seperti pang-gilan orang dari jauh, dan ia mengenal benar suara itu, karena selama ini, suara itu hampir selalu ter-ngiang di dalam telinganya. Suara A - hai! Pek Lian merasa seolah - olah ia terbawa oleh air, ha-nyut di atas perahu kecil, makin jauh meninggalkan A - hai yang juga berada di atas perahu lain dengan seorang dara jelita yang bukan lain adalah Bwee Hong !

Dan A - hai memanggil - manggilnya. Ah, betapa ingin hatinya menjawab panggilan itu, dan betapa inginnya untuk dekat dengan pemuda yang sejak semula telah menimbulkan rasa iba dan suka bercampur kagum di dalam hatinya. Akan tetapi, kini A - hai bersama dengan Bwee Hong dalam sebuah perahu dan ia tahu betapa akrab hubungan antara mereka. Ia tidak ingin menjadi penghalang, tidak ingin menyaingi Bwee Hong! Maka iapun tidak menjawab dan membiarkan perahunya hanyut makin jauh meninggalkan A-hai. Hatinya seperti ditusuk rasanya dan tak tertahankan lagi, iapun menangis terisak - isak ! Padahal, tidak mudah bagi pendekar wanita ini untuk menangis!

"Nona Pek Lian !" Kembali terdengar seruan A - hai, sekali ini suaranya terdengar amat dekat.

"Adik Lian, engkau kenapakah ?" Tiba - tiba terdengar suara Bwee Hong, juga dekat sekali.

Pek Lian membuka kedua matanya dan melihat betapa A - hai dan Bwee Hong berlutut di dekatnya, mengguncang - guncang tubuhnya yang basah kuyup dan kedinginan itu. Ia masih terpengaruh mimpi tadi, mengira bahwa mereka berdua berha-sil mengejarnya dan kini berada di atas perahunya dan berusaha menghiburnya. Keramahan mereka bahkan menambah perih pada luka di hatinya, maka iapun menggerakkan kedua lengannya meno-lak dengan halus dan berkata dengan nada suara sedih,

"Biarkan aku-sendiri ah, biarkan aku sendiri dalam kemalanganku hu - huhuuhhh "

Dan iapun terisak menangis karena ia segera teri-ngat akan ayahnya dan merasa betapa sengsara hidupnya.

Seng Kun memberi isyarat kepada adiknya dan A - hai untuk membiarkan dara itu menangis. Pe-muda ini dapat menduga apa yang menyebabkan Pek Lian berduka, tentu karena teringat akan ayahnya, pikirnya. Tentu saja dia tidak dapat menduga lebih mendalam dari pada itu. Setelah tangis Pek Lian agak mereda, diapun menghibur.

"Nona Ho, harap engkau dapat menenangkan hatimu. Bagaimanapun juga, aku tidak akan ber-henti berusaha untuk menemukan kembali ayahmu. Hal itu merupakan tugasku, perintah dari sri bagin-da kaisar sendiri."

Pek Lian sadar akan kelemahannya. Iapun bangkit duduk, menyusut air matanya, memandang dengan sinar mata bersyukur kepada Chu Seng Kun dan menarik napas panjang. "Harap kalian maafkan kelemahanku tadi," katanya kepada Bwee Hong, sedangkan A - hai diam saja, memandang bingung karena dia tidak mengerti urusan.

Perahu istimewa mereka itu dipermainkan ge-lombang samudera dan karena mereka berempat tidak berdaya, merekapun hanya dapat menyerah-kan nasib mereka kepada lautan luas. Mereka mencari - cari, namun tidak pernah dapat melihat tanda - tanda tentang teman - teman mpreka yang lain. Tidak ada bayangan seorangpun di antara teman - teman uriereka. Padahal mereka begitu banyak. Kwa Siok Eng dengan anak buahnya, Yap - lojin, Yap Kiong Lee dan Yap Kim. Apakah mereka semua itu telah menjadi korban dan ditelan lautan ?

"Mudah - mudahan saja mereka dapat tertolong, seperti juga kita," kata Seng Kun menghibur hati Pek Lian dan Bwee Hong yang merasa gelisah dan berduka kalau membayangkan malapetaka menimpa teman - teman mereka itu.

Akan tetapi, pada keesokan harinya, begitu ma-tahari terbit, mereka bergembira sekali melihat daratan begitu dekatnya ! Daratan besar ! Perahu mereka yang dipermainkan gelombang itu ternyata telah dihanyutkan oleh gelombang menuju pantai. Seperti pulih kembali tenaga mereka dan dengan wajah cerah mereka mendayung perahu yang se-sungguhnya bukan perahu melainkan atap perahu itu, mendekat tepi. Mereka hanya menggunakan tangan saja untuk mendayung, akan tetapi karena mereka adalah pendekar - pendekar yang memiliki kekuatan hebat, mereka berhasil juga mendayung perahu atap itu sampai kandas ke pasir. Mereka berlompatan dan dengan pakaian basah kuyup mereka tiba di daratan.

Chu Seng Kun dan A - hai masih lemah walau-pun mereka sudah sembuh. Agaknya, pemuda sinting itu pada dasarnya memiliki tubuh luar biasa yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan Seng Kun, karena tubuhnya tidaklah selemas Seng Kun yang benar - benar harus banyak istirahat untuk memulihkan kembali tenaganya.

Mereka berempat duduk di tepi pantai ketika tiba - tiba hidung mereka mencium bau harum du-pa ! Cuping hidung mereka kembang - kempis dan mereka menoleh ke kanan kiri. Pantai lautan itu sunyi dan tidak nampak adanya manusia lain, na-mun jelas bahwa yang tercium oleh miereka itu adalah bau dupa harum. Pek Lian dan Bwee Hong saling pandang dan berbareng mereka berbisik, "Dupa harum kaum Tai - bong - pai!"

"Adik Siok Eng selamat !" kata Pek Lian girang karena mengira bahwa tentu dara puteri ketua Tai - bong - pai itu yang mengeluarkan bau dupa harum seperti ini.

Akan tetapi, mereka berempat memandang de-ngan curiga dan khawatir ketika muncul belasan orang laki - laki kasar yang dipimpin oleh seorang pria berusia kurang lebih tigapuluh tahun yang berperawakan kurus. Orang ini juga kelihatan ka-sar dan menyeramkan. Pakaiannya serba putih, rambutnya awut-awutan dan kaku, mukanya se-perti muka mayat saja, pucat dan jarang bergerak. Wajah itu sebetulnya tampan, akan tetapi karena pucat dan tak bergerak seperti mayat, maka me-nyeramkan sekali. Begitu tiba di situ, belasan orang itu segera mengurung dan bau hio semakin keras.

Empat orang itu bangkit berdiri dan Pek Lian cepat menjura ke arah pemuda yang seperti mayat itu. "Kami adalah sahabat - sahabat dari adik Kwa Siok Eng. Di manakah dia ? Apakah ia selamat?"

Akan tetapi, pertanyaan ini agaknya membuat belasan orang itu marah - marah. Mereka menge-pal tinju dan memandang dengan sikap mengan-cam. Pek Lian tidak tahu bahwa pertanyaan kese-lamatan merupakan pantangan bagi para anggauta Tai - bong - pai! Mereka itu menganggap diri me-reka sebagai keluarga kuburan, sebagai orang-orang yang telah mati, maka pertanyaan tentang kesela-matan itu seperti ejekan atau penghinaan saja bagi mereka ! Pemuda pucat itupun marah - marah dan tanpa banyak cakap dia sudah mengeluarkan tong-katnya dan menyerang Pek Lian.

"Eh, eh gila !" Pek Lian cepat mengelak, akan tetapi sambaran tongkat itu lihai bukan main seolah - olah tongkat itu bernyawa dan terus mengikuti ke mana ia mengelak, sampai Pek Lian terpaksa bergulingan menyelamatkan diri.

"Manusia jahat!" Bwee Hong membentak sam-bil menotok dari belakang ke arah punggung pemuda miuka pucat itu. Akan tetapi, biarpun totok-an yang dilakukan oleh Bwee Hong itu bukan sem-barang totokan melainkan ilmu keturunan dari Si Tabib Sakti, ternyata pemuda itu mampu mengelak dengan cekatan ! Diam - diam Bwee Hong terke-jut juga, dan maklumlah dara perkasa ini bahwa ia berhadapan dengan seorang lawan yang amat tangguh.

Pek Lian dapat bernapas lega karena serangan bertubi - tubi tadi tidak dilanjutkan dan kini pe-muda mengerikan itu telah ditandingi oleh Bwee Hong yang jauh lebih lihai dari padanya. Akan te-tapi ia sendiripun tidak dapat tinggal enak - enakan karena belasan orang sudah mengeroyoknya dengan sengit. Kiranya para anggauta Tai - bong - pai itu membencinya karena pertanyaan keselamatan tadi! Tentu saja Pek Lian melawan mati - matian dan untung baginya bahwa tingkat kepandaian para anggauta Tai - bong - pai ini tidaklah sehebat pe-muda muka pucat itu. Biarpun demikian, repot jugalah ia karena dikeroyok oleh belasan orang ka-sar dan ia sendiri bertangan kosong. Pedangnya telah hilang ketika ia terlempar ke lautan.

Keadaan Bwee Hong sama buruknya dengan Pek Lian. Ternyata pemuda kurus pucat itu lihai bukan main ! Dan makin kagetlah hati Bwee Hong ketika melihat betapa pemuda itu mengeluarkan ilmu - ilmu yang mujijat dari Tai - bong - pai, ilmu-ilmu yang pernah didengarnya. Begitu sebuah pu-kulan menyerempet lengannya, ia melihat lengan bajunya menjadi merah dan ternyata darah telah keluar dari lubang pori-pori kulit lengannya! Tahulah ia bahwa itu adalah ilmu mengerikan dari Tai - bong - pai yang disebut Pukulan Penghisap Darah! Dan tenaga pemuda kurus itu sungguh membuatnya pening, karena tenaga sinkang yang amat kuat itu mengeluarkan bau asap hio wangi! Selain Tenaga Sakti Asap Hio ini, yang membuat keringat pemuda itu berbau dupa, juga ilmu silatnya aneh dan mengerikan. Tentu itulah yang dina-makan Ilmu Silat Mayat Hidup karena kadang-ka-dang gerakan pemuda itu kaku seperti mayat hidup. Hanya dengan kelebihan ginkang (ilmu meringan-kan tubuh) sajalah maka sampai sekian lamanya Bwee Hong masih mampu mempertahankan diri dan tidak sampai terkena pukulan - pukulan ampuh itu. Entah mana yang lebih berbahaya, sinar tong-kat yang menyambar-nyambar itu ataukah cengke-raman tangan kiri itu.

"Jangan berkelahi ah, jangan berkelahi....!" A - hai berteriak - teriak kebingungan, mengangkat kedua tangan ke atas dan lari ke sana ke sini.

Dengan matanya yang bersinar tajam, Seng Kun dapat melihat bahwa adik kandungnya terancam bahaya besar. Pukulan - pukulan orang kurus pucat itu sungguh amat ampuh dan dia tahu bahwa sekali terkena pukulan itu, tentu adiknya akan terluka parah dan mungkin akan keracunan. Dia sendiri masih amat lemah, tenaganya belum pulih benar, akan tetapi tentu saja tak mungkin dia mendiamkan adiknya terancam bahaya tanpa membantu. Meli-hat betapa adiknya ini hanya dapat mengelak ke kanan kiri mengandalkan kegesitannya, Seng Kun lalu meloncat ke depan dan membantu adiknya, mengirim pukulan yang merupakan tamparan ta-ngan kanan ke arah leher pemuda kurus pucat itu.

Hebat tamparan ini dan si muka pucat terkejut, lalu diapun menggunakan lengan kiri menangkis sambil mengerahkan tenaga.

"Wuuuuttt ! Plakkk ! !"

Pertemuan dua tenaga sinkang yang kuat itu amat hebat dan seandainya keadaan Seng Kun sehat - sehat seperti biasa, belum, tentu dia kalah kuat. Akan tetapi, dia masih belum pulih benar kesehatan dan kekuatannya, maka pertemuan tena-ga itu tidak dapat tertahan oleh tubuhnya yang masih lemah. Dia terdorong ke belakang dan terpelanting ke atas tanah, sedangkan si muka pu-cat itu hanya terhuyung mundur.

”KOKO !" Bwee Hong menubruk kakaknya yang terengah - engah bangkit duduk itu, dan A-hai juga mendekatinya. Juga Pek Lian yang masih menghadapi pengeroyokan belasan orang anggauta Tai - bong - pai itu menengok. Perbuatan ini mencelakakan dirinya karena tahu-tahu belasan orang telah menubruknya dan betapapun ia meronta, tetap saja ia tertangkap, dan kaki tangannya dibelenggu sampai dara ini tidak mampu bergerak lagi.

Bersambung

Darah Pendekar 23                                                             Darah Pendekar 25