Rabu, 15 Mei 2013

DARAH PENDEKAR 23

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Bab 23
Melihat mundurnya tuan rumah, para tamu yang memang sudah gentar menghadapi lima orang pendekar itu, juga banyak yang mulai menjauhkan diri sehingga pengepungan tidak begitu ketat lagi. Sementara itu, Pek Lian yang mencurigai kepergian Si Tikus Beracun dan puteranya, dengan cerdik su-dah dapat menduga apa yang akan dilakukan oleh tuan rumah yang licik dan amat curang itu. Tuan rumah telah menghilang, para pengawal juga mun-dur sehingga mereka berlima ditinggalkan di ruang-an depan itu.
"Yap - locianpwe, harap hati - hati terhadap jebakan rahasia. Jangan sembarangan menginjak lantai yang mencurigakan ahhhh !!"

Ia yang memperingatkan, akan tetapi ia sendiri bersama Siok Eng yang berdiri di sebelahnya yang lebih dulu menjadi korban ketika lantai yang mere-ka pijak dan yang tadinya kokoh kuat itu tiba-tiba saja bergerak dan mereka berduapun terjeblos ke bawah tanpa dapat mereka hindarkan lagi.
"Adik Lian, awas !!" Bwee Hong berteriak dan gadis yang memiliki ginkang luar biasa hebat-nya ini sudah melesat ke depan, maksudnya Untuk menolong Pek Lian dan Siok Eng, akan tetapi aki-batnya ia sendiripun ikut terjeblos bersama dua orang dara itu !

Melihat betapa tiga orang dara itu telah terje-blos dan lenyap ke bawah, sedangkan lantai itu te-lah menutup kembali, Yap - lojin menyambar tangan muridnya dan berkata, "Mari kita keluar!"

Mereka berdua meloncat dengan cepatnya, melayang untuk keluar dari pintu. Akan tetapi tiba-tiba dari luar menyambar puluhan batang anak panah beracun ke arah mereka! Karena maklum bahwa anak panah itu berbahaya sekali, keduanya terpaksa menangkis dan meruntuhkan senjata - senjata rahasia itu dengan pukulan sakti, akan tetapi terpaksa pula mereka menurunkan kaki menginjak ambang pintu dan merekapun terjeblos ke bawah karena lantai berikut pintunya juga terjeblos dalam jebakan rahasia itu!

Guru dan murid ini  mengerahkan sinkang dan mereka berhasil berjungkir balik, membuat poksai (salto) ke atas sehingga tubuh mereka yang sudah terjeblos ke bawah itu mencelat ke atas lagi. Akan tetapi, kembali puluhan anak panah menyambar. Tentu saja mereka terpaksa menangkis dan tubuh mereka jatuh lagi ke bawah dan lantai itupun telah tertutup kembali ketika tubuh mereka meluncur ke dalam lubang yang amat gelap.
"Kerahkan ginkang !!" Yap-lojin masih sempat memperingatkan muridnya karena dia kha-watir kalau - kalau di bawah terdapat senjata - sen-jata runcing menyambut tubuh mereka. Hanya dengan pengerahan ginkang yang hebat saja mere-ka dapat menghindarkan maut kalau terjadi hal seperti itu dan paling banyak hanya akan menga-lami sedikit luka - luka pada kaki mereka, Tentu saja Yap Kiong Lee yang sudah banyak pengalam-an di dunia kang - ouw itupun telah tahu akan hal ini sehingga tubuh guru dan murid itu melayang turun dengan ringan. Akan tetapi, mereka merasa lega dan juga heran karena kedua kaki mereka hinggap di atas tanah kering biasa, tidak ada sen-jata yang menerima tubuh mereka. Mereka telah tiba di dalam sebuah terowongan, lorong di bawah tanah dan ada sinar menerangi terowongan itu dari depan dan belakang.
Sebelum mereka mengambil keputusan ke mana mereka akan mencari jalan keluar, tiba - tiba terde-ngar bunyi ledakan cambuk, disusul suara gemuruh dan mencicit. Suara tikus ! Dan kini nampaklah tikus - tikus itu. Tikus - tikus itu berwarna coklat dengan kepala dan ekor berwarna putih. Kalau ha-nya seekor dua ekor, tentu binatang - binatang itu merupakan tikus - tikus yang menarik, mungkin ba-gus untuk dipelihara. Akan tetapi, yang muncul ini bukan seekor dua ekor melainkan ratusan dan ti-kus - tikus itu luar biasa besarnya, bukan seperti tikus biasa. Juga mereka itu nampak ganas dan liar, sambil mencicit mereka menyerbu maju, ratusan banyaknya, hampir memenuhi terowongan itu !

Melihat ini, guru dan murid cepat membalikkan tubuh dan melarikan diri dari tempat itu, menjauh. Mereka mengikuti terowongan yang berbelak-belok itu dan akhirnya berhadapan dengan seorang kakek berwajah putih menyeramkan yang berdiri di de-pan sebuah pintu baja. Kakek ini menyeringai dan tangannya bergerak mencabut obor yang tertancap di atas pintu. Tiba - tiba pintu terbuka dan ratusan, bahkan ribuan tikus putih menerobos ke-luar dan dengan bunyi bercicitan menyerbu ke arah guru dan murid itu !
Yap-lojin adalah ketua Thian-kiam-pang yang sudah sering kali menghadapi penjahat - penjahat kejam dan sudah sering menghadapi maut pula. dan Yap Kiong Lee juga seorang pendekar yang berpengalaman. Namun belum pernah mereka menghadapi penyerbuan ribuan ekor tikus yang kelihatan buas itu, maka mereka berdua terbelalak memandang dan merasa betapa bulu tengkuk me-reka meremang bergidik. Mereka meloncat ke be-lakang dan membalikkan tubuh hendak menjauh kan diri, akan tetapi dari arah belakang, barisan tikus coklat yang tadi mengejar sudah datang, kini digiring oleh seorang kakek yang berambut coklat penuh uban sambil tertawa - tawa. Karena berada di jalan terowongan dan sudah terjepit dari depan dan belakang oleh dua barisan tikus, terpaksa Yap-lojin dan Yap Kiong Lee berdiri tegak beradu punggung saling membelakangi, memasang kudakuda dan siap untuk membela diri menghadapi ri-buan ekor tikus itu. Diam-diam mereka mengerah-kan tenaga sakti Thian - hui Khong - ciang dan be-gitu tikus - tikus itu sudah menyerbu dekat, kedua orang guru dan murid ini lalu menggerakkan kedua tangan menyerang dan memukul ke depan. Terde-ngar suara gemuruh angin pukulan dahsyat me-nyambar ke depan dan bagaikan petir menyambar pukulan - pukulan sakti itu mengenai tikus - tikus dan batu - batu dinding. Tikus - tikus itu terpental dan darah berhamburan, debu mengepul tebal.
"Hati - hati, Kiong Lee. Jangan sampai terowongan runtuh terkena pukulanmu!" teriak Yap-lojin memperingatkan muridnya.

Dia tahu bahwa muridnya itu marah dan pukulannya mengandung tenaga dahsyat. Kalau sampai terowongan itu run-tuh karena pukulan muridnya, berarti mereka akan terkubur hidup - hidup. Diam-diam guru ini amat kagum dan sayang kepada muridnya atau anak angkatnya itu. Memang Kiong Lee memiliki bakat yang luar biasa sehingga dalam usia semuda itu te-lah mewarisi ilmu - ilmu sakti dari perguruannya, bahkan hampir mencapai tingkat yang sama dengannya.

Puluhan ekor tikus tewas dan hancur terbanting kepada dinding terowongan, dan bau yang amat amis dan busuk memenuhi udara, memusingkan kepala guru dan murid itu,
"Suhu, tikus - tikus ini beracun !" teriak Kiong Lee.

"Tentu saja! Lindungi hidung dengan saputangan." Mereka lalu mengeluarkan saputangan dan mengikatkan saputangan itu di depan hidung.

Akan tetapi, tikus - tikus itu sungguh nekat dan liar sekali. Biarpun guru dan murid itu sekali pukul membunuh puluhan ekor, namun yang datang se-makin banyak. Mati sepuluh datang seratus! Dan ribuan ekor masih berjubel - jubel di belakang se-perti berebut untuk dapat mengeroyok dua orang manusia yang menjadi musuh mereka itu, atau juga merupakan calon - calon mangsa mereka.
Bau amis membuat mata mereka berkunang. Biarpun mereka sudah melindungi hidung dengan saputangan, tetap saja hawa beracun tikus - tikus itu membuat mereka pengap dan sukar bernapas. Memang, dengan pukulan - pukulan Thian - hui Khong - ciang, tikus - tikus itu tidak ada yang mam-pu mendekat, akan tetapi sampai kapan mereka akan mampu bertahan ? Tikus - tikus itu tak ter-hitung banyaknya, dan agaknya bukan liar atau bu-as lagi, melainkan sudah gila dan agaknya sebelum habis sama sekali tidak akan mau mengaku kalah atau mundur. Dan tidak mungkin guru dan murid itu akan sanggup bertahan demikian lamanya sam-pai tikus - tikus itu habis.
"Suhu, kita menyerbu satu jurusan saja membuka jalan darah !" Tiba - tiba Kiong Lee berkata, dan gurunya menjadi kagum dan girang.

Memang be-nar pendapat muridnya. Kalau mereka beradu punggung, masing - masing menghadapi satu ba-risan tikus, berarti mereka terjepit dan harus me-layani barisan itu sampai habis, yang agaknya tidak mungkin. Akan tetapi kalau mereka menyerbu satu jurusan saja, dengan kerja sama mereka, agaknya mereka masih memiliki harapan untuk dapat mele-paskan diri dari himpitan maut ini.
"Baik, aku membantumu !" Yap - lojin berseru dan diapun membalik setelah lebih dulu mengirim pukulan dahsyat yang membuat tikus - tikus di de-pannya itu terlempar jauh ke belakang dan menjadi kacau.

Mempergunakan kesempatan ini, dia mem-balik dan membantu muridnya. Dengan pukulan mereka berdua, tentu saja akibatnya lebih hebat lagi. Gabungan pukulan mereka membuat tikus-tikus coklat itu seperti sekumpulan daun kering di-tiup angin badai. Ratusan ekor tikus terlempar saling bertubrukan dan bertumpuk - tumpuk. Guru dan murid itu melakukan pukulan bertubi-tubi, lalu meloncat dan menggunakan tumpukan bangkai tikus untuk menjadi batu loncatan, terus melarikan diri setelah melompati barisan tikus coklat itu. Ka-kek penggiring tikus itupun tidak berani turun ta-ngan menyerang, bahkan mepet di dinding karena merasa gentar melihat kelihaian guru dan murid itu. Akan tetapi, diapun cepat membunyikan cam-buknya berdetak - detak dan tikus - tikus coklat itu. diikuti oleh tikus - tikus putih, melakukan pengejar-an sambil mengeluarkan bunyi bercicitan riuh-rendah.
Udara di terowongan itu penuh dengan hawa beracun dari tikus - tikus itu. Yap - lojin dan Kiong Lee merasa betapa kepala mereka pening sekali, akan tetapi mereka harus berlari terus kalau tidak ingin celaka. Tiba-tiba mereka mendengar suara Pek Lian sayup-sayup memanggil-manggil.
Mereka berdua mempercepat lari mereka ke depan dan nampaklah oleh mereka tiga orang dara itu berdempetan, berdiri ketakutan di sebuah ru-angan luas, dikepung oleh ribuan tikus yang ber-macam - macam bentuk moncongnya dan berma-cam - macam pula warna bulunya. Ada yang hitam, ada yang kemerahan atau bintik-bintik. Tikus-tikus itu sungguh amat luar biasa banyaknya, sam-pai bertumpuk - tumpuk. Dan dari jarak jauh, nam-pak beberapa orang kakek memegang cambuk yang dengan berbagai gaya dan cara memerintahkan ba-risan masing - masing menyerang tiga orang dara itu. Namun, sungguh aneh.

Tikus-tikus itu agak-nya tidak berani menyerang, hanya memandang, mencicit dan memperlihatkan taring dengan buas-nya tanpa berani maju menyerang. Tentu saja di-kerumuni ribuan ekor tikus yang memperlihatkan sikap buas mengancam itu, tiga orang dara menja-di ketakutan dan jijik sekali. Agaknya merekapun sudah bosan melawan tikus - tikus yang tiada habishabisnya itu, lelah dan muak karena hawa beracun yang berbau busuk, apek dan amis.
"Yap - locianpwe tolonglah kami !"

Pek Lian berseru ketika melihat Yap-lojin dan Yap Kiong Lee berlarian datang.

Akan tetapi ia tidak tahu bahwa untuk menolong diri sendiri saja guru dan murid itu sudah kerepot-an sekali. Kini tikus - tikus yang berada di ruangan itu, begitu melihat munculnya Yap-lojin dan Kiong Lee, sudah membalikkan tubuh dan disertai suara mencicit riuh-rendah mereka semua menyerbu ke arah Yap - lojin dan muridnya. Tentu saja guru dan murid ini menyongsong mereka dengan pukulan sakti Thian - hui Khong - ciang. Kembali darah berhamburan ketika tikus-tikus itu dilanda pukulan sakti.
Akan tetapi binatang-binatang itu agaknya sudah sejak tadi menahan kemarahan mereka ketika mereka secara aneh tidak berani menyerang tiga orang dara itu. Seperti sekawanan tikus kelaparan melihat daging empuk tiga orang dara yang tinggal mengganyang saja namun ada sesuatu yang mela-rang mereka atau membuat mereka tidak berani menyerang. Kini, mereka menumpahkan semua kemarahan dan kerakusan mereka kepada dua orang pendatang baru ini. Bagaikan air bah mereka itu menerjang datang. Tikus - tikus ini terdiri dari ber-macam - macam jenis, menyerang menjadi satu, ri-buan banyaknya, disertai bau busuk menyengat hidung. Kembali guru dan murid itu mengamuk, mengirim pukulan berantai bertubi-tubi, namun tikus - tikus itu makin banyak juga yang datang menyerbu. Bau racun bercampur bau darah dan bau kotoran mereka sungguh membuat udara di situ penuh racun.
Yap - lojin adalah seorang yang sakti, juga mu-ridnya amat gagah perkasa, dan tiga orang dara itiipun bukan orang sembarangan. Di samping ini, mereka semua sudah menelan pel anti racun yang amat mujarab. Namun, menghadapi bau yang ter-amat busuk ini, mereka tidak dapat bertahan lagi dan isi perut mereka meronta, lalu mereka itu muntah - muntah!
Pek Lian yang memang sudah mempunyai pe-rasaan jijik terhadap tikus, dan di antara mereka berlima itu dara inilah yang terhitung paling le-mah, tidak kuat dan muntah - muntah lalu jatuh ter-duduk. Kepalanya pening bukan main. Untung ti-dak ada tikus yang berani menyerangnya, karena kalau terjadi hal demikian, tentu ia dan dua orang kawannya tidak akan dapat melawan dan tentu mereka akan dikeroyok dan diganyang sampai ha-bis oleh tikus - tikus itu. Mengerikan ! Syukur bah-wa tidak ada seekorpun yang berani menyerang padahal begitu Yap-lojin dan muridnya muncul, semua tikus berobah ganas dan menyerang dengan buas dan berani. Mengapa demikian ?
Dalam kepeningannya, sambil duduk bersandar dinding terowongan itu Pek Lian merenung. Apakah karena mereka bertiga itu wanita maka tikus-tikus ini tidak berani menyerang ? Ah, mustahil!

Bukankah ketika pertama kali ia bertemu tikus-tikus itu bersama Siok Eng, iapun dikejar - kejar ?
Kenapa sekarang ah, kenapa ia lupa ? Bukankah ia dan Siok Eng membawa bubuk putih yang mereka bungkus dengan saputangan itu ? Bukankah bubuk putih itu merupakan racun anti tikus ? Benar ! Itulah sebabnya dan agaknya Siok Eng yang demikian gagahnya akan tetapi demikian takutnya terhadap tikus sampai lupa pula akan hal itu saking jijiknya menghadapi ribuan ekor tikus.

Kesadaran akan hal ini membangkitkan sema-ngat Pek Lian dan iapun membuka matanya. Di-lihatnya kedua temannya sudah terduduk dengan lemas pula, di kanan kirinya. Ketika ia melihat ke depan, ternyata guru dan murid yang lihai itu ma-sih mengamuk, akan tetapi mereka berdua sudah kepayahan, terhuyung-huyung dan mepet ke din-ding terowongan. Tenaga pukulan mereka tidaklah sedahsyat semula. Agaknya mereka mulai kehabis-an tenaga atau keracunan oleh bau yang amat bu-suk itu. Pakaian guru dan murid itu yang terbuat dari sutera putih, yang semula indah dan bersih, kini sudah koyak - koyak dan berlepotan darah. Di depan kedua orang ini bertumpuk bangkai tikus dan daging-daging tikus yang hancur berserakan.
Baunya amat menjijikkan dan penglihatan itu sung-guh amat mengerikan. Tikus - tikus itu masih terus menyerbu, tiada habis - habisnya dan jauh di bela-kang mereka nampak kakek-kakek yang menjadi pawang - pawang mereka itu memegang cambuk, mendorong anak buah mereka sambil tertawa-tawa mengejek. Tikus - tikus itu mundur setiap kali dua orang guru dan murid memukul, akan tetapi apa bila mereka berdua diam, mereka menyerbu. Ada beberapa ekor telah bergantung di pakaian gu-ru dan murid itu, mati akan tetapi mereka masih mengait pada celana. Mengerikan!
Dengan tubuh lemah Pek Lian lalu mengeluar-kan bungkusan bubuk putih itu sambil berbisik kepada Siok Eng, "Eng-moi kita lupa tidak mempergunakan bubuk anti tikus kita "
Siok Eng membuka matanya. Karena sinkang-nya jauh lebih kuat dibandingkan dengan Pek Lian, maka iapun cepat dapat menguasai dirinya.

"Aih, benar, enci!" Dan iapun cepat mengeluarkan sa-putangan yang membungkus obat putih itu.

Dengan penuh harapan mereka lalu mengambil sejumput bubuk putih dan menyebarkannya ke arah tikus - tikus yang mengurung guru dan murid itu. Dan begitu bubuk putih itu disebarkan, tikus - tikus yang berada di dekat bubuk putih itu mencicit ke-takutan dan cepat pergi menjauh. Hal ini meng-gembirakan hati dua orang dara itu yang cepat ber-jalan sambil menyebarkan bubuk putih, membuka jalan ke arah Yap - lojin dan muridnya. Bwee Hong juga sudah bangkit berdiri dan memandang dengan girang. Ia tahu apa artinya bubuk putih itu.

"Locianpwe, marilah mendekat ke sini !" kata Pek Lian. Yap - lojin dan Kiong Lee juga merasa girang sekali. Melihat jalan terbuka, mereka berdua lalu berloncatan mendekat dan bersatu dengan tiga orang gadis itu di dalam ruangan, sedangkan tikus-tikus itu mengurung agak jauh, tidak berani men-dekat lagi dan mereka itu gelisah karena di satu pihak, para pawang mereka membujuk mereka un-tuk maju, akan tetapi bubuk putih itu membuat me-reka ketakutan dan memaksa mereka untuk mundur menjauh.
Pek Lian berangkulan dengan Bwee Hong. Ba-ru sekarang mereka, dalam keadaan sama - sama lemas, mendapat kesempatan untuk berdekatan.

"Enci Hong, akhirnya kita dapat berkumpul dan sama - sama menempuh segala bahaya lagi!" kata Pek Lian sambil mencium pipi yang kemerahan dan halus itu dengan hidungnya. Bwee Hong membalas ciuman itu dan kedua pipinya menjadi semakin me-rah karena Pek Lian bersikap sedemikian terbuka, padahal di situ ada Yap - lojin dan terutama sekali Yap Kiong Lee.

"Ah, adik Lian. Sungguh aku berterima kasih kepada Thian yang telah mempertemukan kita kem-bali, dan sekali ini engkau kembali telah menolong-ku dengan bubuk putihmu yang mujijat itu!"

"Hi - hik, bubuk ini adalah milik mereka," kata-nya sambil memandang ke arah para pawang.

"Un-tung adik Eng yang memperingatkan sehingga kami berdua membawanya dengan saputangan."

"Kita harus cepat - cepat keluar dari sini sebe-lum hawa beracun in'i membuat kita semua ping-san,"

Yap - lojin berkata. "Hawa beracun ini lebih berbahaya dari pada tikus - tikus itu sendiri."
"Ke mana kita harus pergi ? Lorong - lorong di sini penuh rahasia dan tikus - tikus itu " Kiong Lee mengeluh.

Sementara itu, para pawang sudah memberi pe-rintah kepada tikus - tikus itu dengan bermacam gerakan, suara dan ledakan cambuk. Dan tiba-tiba terdengar suara berdesis - desis dan beberapa ma-cam tikus jenis tertentu mengeluarkan semburan yang mengeluarkan bau yang luar biasa kerasnya, membuat ruangan itu penuh dengan hawa beracun ! Lima orang itu merasakan ini dan kepeningan me-nyerang mereka, membuat mereka terhuyung-huyung.
"Mari kita pergi " Yap - lojin memimpin kelompok itu meninggalkan ruangan se-telah dia menerima saputangan berisi obat bubuk putih dari Pek Lian, sedangkan Kiong Lee juga menerima saputangan berisi bubuk putih itu dari Siok Eng lalu dia berjalan di belakang. Dengan senjata bubuk putih ini, mereka dapat keluar dari tempat itu. Akan tetapi keadaan mereka sudah payah, terutama sekali Pek Lian yang paling lemah sinkangnya. Kepalanya terasa pening dan ia ter-paksa dipapah oleh Bwee Hong dan Siok Eng yang lebih kuat sinkang mereka. Mereka semua merasa khawatir sekali. Biarpun untuk sementara waktu, berkat khasiat bubuk putih, mereka terhindar dari maut karena tikus - tikus itu takut menyerang me-reka, namun keadaan mereka begini lemah dan ka-lau sampai tuan rumah, Si Tikus Beracun, turun ta-ngan, bagaimana mereka akan mampu bertahan ?

Pada saat yang amat gawat itu, Siok Eng ter-ingat akan botol berisi cairan kuning yang diambil-nya dari dalam kamar merah, botol yang ada tulis-annya bahwa cairan kuning itu adalah obat pena-war segala macam racun! Ia tadi sedang kebi-ngungan, karena biarpun Tai - bong - pai merupakan perkumpulan para ahli racun, namun di antara obat - obat penawar racun yang dibawanya sebagai bekal tidak terdapat obat untuk melawan hawa be-racun seperti yang dikeluarkan oleh tikus - tikus itu. Kini ia teringat akan obat dalam botol yang diper-olehnya di kamar Tikus Beracun, maka dikeluar-kanlah obat itu. Setelah diperiksanya, sebagai se-orang ahli ia tahu bahwa obat itu dapat diperguna-kan dengan cara meminumnya, atau menciumnya atau mengoleskannya.

Memang benar obat pena-war segala macam racun. Iapun mencobanya dan menciumnya dan seketika peningnya lenyap ketika ia mencium bau yang agak harum itu, "Ah, inilah obat penawarnya. Harap kalian men-cium dan menyedotnya secara bergilir," katanya.

Empat orang yang lain itu menjadi girang dan cepat menyedot dari botol cairan kuning itu dan memang mujarab bukan main. Mereka sembuh dan merasa tubuh mereka segar kembali. Akan te-tapi, tiba - tiba Pek Lian jatuh terkulai.
"Celaka " keluhnya " obat bius " dan dara inipun sudah jatuh pingsan !
Siok Eng dan Bwee Hong terkejut, apa lagi ke-tika mereka berduapun tiba - tiba merasa lemas se-perti dilolosi semua urat dalam tubuh. Mereka men-coba mempertahankan diri, namun terhuyung dan akhirnya jatuh pingsan pula !

Terdengar suara pecut meledak - ledak dan de-lapan orang pawang tikus telah mengurung dan menyerang dengan cambuk - cambuk mereka. Yap-lojin dan Yap Kiong Lee juga merasa betapa kele-mahan menyelubungi diri mereka, namun dengan pengerahan sinkang dan kemauan membaja, mere-ka berdua masih dapat melakukan perlawanan dan dengan pukulan - pukulan sakti, mereka berdua ma-sih dapat menahan delapan orang itu sehingga me-reka tidak berani terlalu mendekat, hanya mengan-dalkan cambuk - cambuk panjang mereka untuk menyerang dari jarak jauh.

Akan tetapi, betapapun mereka mengerahkan tenaga mengamuk, dari dalam ada suatu daya me-lumpuhkan membuat guru dan murid itu menjadi bulan - bulanan patukan dan gigitan ujung cambuk delapan orang anak buah Tikus Beracun itu. Keti-ka Kiong Lee terhuyung ke kiri, dia disambut oleh pukulan beracun pawang tikus putih, sebuah pu-kulan keras yang menyambut dadanya.
"Bukkk ! !" Kiong Lee mengeluh dan terpental, kemudian terbanting ke dinding ruangan itu dan jatuh terkapar dekat tubuh tiga orang dara yang sudah pingsan terlebih dulu. Pemuda ini tidak bergerak lagi.
Tentu saja Yap - lojin merasa terkejut dan kha-watir bukan main. Dia tidak tahu apakah murid-nya tewas atau hanya pingsan oleh pukulan yang keras tadi. Dia mengamuk dan mengerahkan sin-kangnya, namun tenaganya semakin lemah dan diapun terhuyung - huyung.

'Ha - ha - ha - ha ! Kiranya hanya sekian saja-kah kelihaian Yap - lojin yang terkenal sebagai ke-turunan datuk utara Sin - kun Bu - tek itu ? Ha-lia - ha, tidak berapa hebat! Baru kau tahu seka-rang betapa lihainya para jago dari Ban - kwi - to, ha - ha !" Ini adalah suara Tikus Beracun dan dia sudah berdiri di situ bersama puteranya si Tikus Langit Kecil yang berdiri dengan sikap angkuh.

Yap - lojin berhenti memandang dan kepalanya terasa semakin pening. Matanya menjadi kabur dan musuh - musuhnya hanya kelihatan samar - samar saja. Akan tetapi, kakek yang gagah perkasa ini tidak mau menyerah begitu saja, sedikitpun dia ti-dak menjadi gentar. Nyawa empat orang muda yang sudah roboh entah pingsan entah tewas itu, kalau masih ada, terletak dalam tangannya. Kalau dia jatuh, mereka semua tidak akan tertolong lagi. Dia sendiri sudah lemah bahkan untuk berdiri tegak-pun sudah sukar, namun dia tidak memperlihatkan kelemahannya.

"Hemm, kalian majulah semua !" bentaknya.
"Tar - tar - tar - tarr !" Delapan orang pawang itu tetap tidak berani mendekatinya karena dari kedua tangannya keluar hawa pukulan yang masih ampuh.
"Minggirlah kalian !" tiba - tiba Siauw-thian-ci membentak. "Biar kuhadapi tua bangka ini!"

Sikap Siauw - thian - ci angkuh dan sombong karena memang matanya yang kecil sipit akan tetapi tajam itu sudah dapat melihat bahwa kakek itu sudah kehilangan tenaga saktinya dan gerakannya sudah kacau dan lemah. Kalau tidak melihat de-mikian, mana dia berani omong besar ? Tadi dia sudah menyaksikan sendiri kehebatan ketua Thian-kiam - pang ini. Bahkan ayahnya sendiri tidak mampu melawan dan mengalahkannya. Melihat kelemahan kakek itu, Siauw-thian-ci dengan sikap sombongnya, untuk pamer kepada anak buahnya, melepaskan cambuknya dan maju menyerang Yap-lojin dengan tangan kosong! Melihat ini, biarpun dia sudah lemah dan terancam, Yap - lojin tidak mau mencabut pedangnya. Kalau tadi dia tidak mencabut pedang ketika dikeroyok delapan, ada-lah karena untuk menghadapi cambuk - cambuk lemas itu lebih baik menggunakan kedua tangan, sekarang dia tidak mungkin dapat menggunakan pedang melihat betapa penyerangnya hanya ber-tangan kosong saja.
Siauw - thian - ci menubruk ke depan dan me-ngirim pukulan kilat ke arah dada Yap - lojin. Ka-kek ini mengenal pukulan berat, maka diapun cepat menangkis karena untuk mengelak, dia sudah ku-rang gesit dan pandang matanya sudah kabur.

"Dukk !" Benturan kedua lengan yang keras itu membuat tubuh Yap - lojin terhuyung dan sebelum dia mampu menguasai dirinya, Siauw-thian - ci sudah menerjang lagi dengan tendangannya yang mengenai pinggang lawan.
"Dess !" Tubuh kakek itu terpelanting.

Akan tetapi, kakek yang gagah perkasa ini masih bangkit kembali, hanya untuk menerima pukulan yang mengenai lehernya, membuat dia jatuh lagi dan terkapar pingsan. Siauw - thian - ci menyeri-ngai puas dan bangga, lalu memandang kepada ayahnya, sikapnya menanti perintah.

Si Tikus Beracun memandangi tubuh lima orang yang sudah tak bergerak di atas lantai itu, lalu dia berkata, "Hemm, mereka ini orang - orang berbaha-ya. Bunuh saja mereka sekarang, tidak usah terlalu lama dibiarkan hidup, hanya akan merongrong kita saja!"

"Akan tetapi, tiga orang dara itu muda - muda, cantik dan mulus, ayah, apa lagi yang berpakaian hitam itu. Sayang kalau dibunuh begitu saja," kata Siauw - thian - ci, sikapnya ragu - ragu.

Tikus Beracun menyeringai dan mengusap ku-misnya yang hanya beberapa lembar, kumis tikus. "Heh - heh, benar juga ! Tapi yang berpakaian hi-tam itu untuk aku. Kau ambil saja yang dua itu." Lalu dia memandang kepada Yap - lojin dan mu ridnya.

"Akan tetapi cepat bunuh dua orang itu, baru kita bersenang - senang dengan tiga orang da-ra itu."

Siauw - thian - ci menyeringai, terkekeh girang dan dia menghampiri tiga orang dara yang sudah terkapar tak bergerak itu. Tangannya digerakkan ke depan, ke arah dada Pek Lian, entah apa yang hendak diperbuatnya.
Sebelum jari - jari tangan yang kurang ajar itu berhasil menyentuh baju, tiba - tiba terdengar ke-luhan dan ternyata Kiong Lee siuman ! Pemuda ini mengeluh dan bangkit duduk, kepalanya digoyang-goyang seperti mengusir kepeningan, matanya dibu-ka. Tentu saja Te - tok - ci dan Siauw - thian - ci menjadi terkejut dan khawatir sekali.

"Anakku, bunuh saja dulu bocah itu !" teriak Te-tok - ci.

Tanpa menanti perintah kedua kalinya, Siauw-thian - ci mengerahkan tenaga pada tangan kanan-nya, lalu dia menerjang ke depan, menghantam dengan pengerahan tenaga sepenuhnya ke arah ke-pala Kiong Lee yang masih duduk dan masih na-nar itu. Kiong Lee terkejut dan cepat mengangkat lengan menangkis.
"Desss !" Benturan tenaga dahsyat itu mengakibatkan, tubuh Siauw - thian - ci terlempar ke belakang sedangkan tubuh Kiong Lee yang baru saja siuman itupun terguling - guling. Akan tetapi pemuda ini cepat meloncat bangun dalam keadaan sadar sepenuhnya, sebaliknya Siauw - thian - ci me-mandang dengan muka pucat. Kiong Lee menoleh ke arah gurunya dan tiga orang dara itu. Melihat mereka menggeletak pingsan, diapun marah bukan main dan dicabutnyalah sepasang pedang dari punggungnya. Nampak sinar berkilat disusul dua gulungan sinar pedang menyambar - nyambar !
SIAUW-THIAN-CI dan Te-tok-ci kaget setengah mati. Cepat - cepat mereka melon-cat ke sana - sini untuk menghindarkan cengkeram-an maut melalui sinar pedang itu dan merekapun sudah mencabut senjata masing - masing. Te - tok-ci mengeluarkan sebatang golok. Biarpun kelihat-annya sebatang golok biasa saja, akan tetapi se-sungguhnya golok ini istimewa sekali. Bukan ha-nya terbuat dari logam mulia yang amat kuat, akan tetapi juga diperlengkapi dengan alat - alat rahasia sehingga golok ini dapat digerakkan dengan per menjadi memanjang atau memendek sesuka hati pemegangnya, dan gagangnya dapat menyem-burkan jarum-jarum beracun. Selain itu, juga ga-gang golok itu diikat dengan tali yang membuat golok itu dapat dilempar seperti golok terbang dan dapat kembali kepada pemiliknya ketika tadinya ditarik. Sebuah senjata istimewa yang berbahaya sekali! Sedangkan Siauw - thian - ci lebih suka mempergunakan senjata kepercayaannya, yaitu cambuk panjang yang mengandung rambut-rambut baja halus dan mengandung racun pula.

"Cringgg !" Sedikit bulu cambuk rontok ketika bertemu pedang.
"Tranggg ! !" Telapak tangan Te - tok - ci tergetar hebat. Ayah dan anak itupun terkejut dan maklum bahwa pemuda pakaian putih itu sungguh merupakan seorang tokoh Thian - kiam - pang yang amat lihai. Sepasang pedang itu kini menyambar-nyambar, membentuk dua gulungan sinar yang panjang dan menyilaukan, seperti sepasang naga bermain di angkasa, menyemburkan maut!
Biarpun dikeroyok dua oleh tokoh pertama Tu-juh Iblis Ban-kwi-to dibantu puteranya yang ju-ga amat lihai, namun Kiong Lee sama sekali tidak terdesak. Bahkan gulungan sinar pedangnya me-rupakan bahaya besar bagi kedua orang pengero-yoknya, terutama sekali Siauw - thian - ci yang berkali-kali terpaksa harus berlindung menyela-matkan diri di belakang ayahnya. Beberapa kali jarum - jarum rahasia dari golok itu menyambar, namun hal itu sia - sia belaka karena semua jarum runtuh oleh sinar pedang yang seolah - olah telah membentuk benteng sinar yang kokoh kuat. juga beberapa kali golok itu melayang, terbang me-nyambar ke arah lawan seperti benda hidup, akan tetapi hampir saja pedang di tangan Kiong Lee berhasil memukul jatuh golok itu sehingga pemi-liknya menjadi gentar untuk melemparkannya lagi.
Sementara itu, tiga orang dara dan Yap - lojiri mulai bergerak dan mengeluh. Melihat ini, tentu saja Te-tok-ci menjadi khawatir sekali. Dia me-ngeluarkan seruan panjang dan bersama puteranya dia menghilang di balik dinding yang ada rahasia-nya. Juga delapan orang pawang tikus telah menghilang.
Kiong Lee cepat menolong gurunya dan tiga orang dara itu. Dengan totokan, dia mempercepat kesadaran mereka. Dan mereka belima terheran-heran karena kini, setelah siuman, tenaga mereka bukan hanya pulih kembali, bahkan merasa betapa tubuh mereka segar sekali, seperti orang yang baru habis makan kenyang atau mandi air sejuk! Itulah khasiat dari cairan kuning yang mereka sedot tadi! Cairan kuning itu membersihkan, bukan hanya membersihkan hawa beracun, akan tetapi juga membersihkan darah dan rongga dada dan perut secara luar biasa sekali. Akan tetapi, saking keras-nya obat ini, pemakainya memang biasanya terti-dur atau pingsan lebih dulu, seperti yang dialami oleh mereka. Untung bahwa Kiong Lee yang ping-san terlebih dahulu sehingga dia lebih dahulu pula siuman dan dapat menyelamatkan mereka berlima yang terancam bahaya maut.

Setelah ditinggalkan oleh Tikus Beracun dan anak buahnya, lima orang itu mulai mencari jalan keluar. Akan tetapi, mereka berputar - putar menu-rutkan lorong bawah tanah dan tidak pernah ber-hasil menemukan jalan keluar dari terowongan itu. Tiba - tiba Kiong Lee membungkuk dan mengam-bil sesuatu dari atas lantai lorong.
"Aih, itu saputanganku !" tiba - tiba Pek Lian berkata sambil menerima saputangan itu dari Kiong Lee.

"Benar, saputanganku yang terjatuh tanpa kuketahui. Ah, aku ingat sekarang. Tak jauh dari sini terdapat pintu rahasia keluar. Kita jalan lurus saja dari sini, jangan berbelok - belok. Saputangan ini terjatuh ketika untuk pertama kalinya aku dan adik Siok Eng memasuki terowongan ini. Aku ter-lonjak kaget ketika menginjak seekor tikus. Ingatkah engkau, adik Eng ?"
Siok Eng mengangguk dan merasa girang karena iapun ingat bahwa tak jauh dari situ terdapat jalan keluar. Mereka lalu maju terus, kini Pek Lian di depan sebagai penunjuk jalan. Ingatan nona ini kuat sekali sehingga tak lama kemudian mereka tiba di jalan buntu, tertutup oleh sebuah pintu baja. Pek Lian mengamati pintu itu dan berseru girang.
"Nah, inilah pintu rahasia itu! Di balik pintu ini terdapat jalan keluar. Akan tetapi, aku tidak tahu rahasia cara membukanya. Tentu ada alatnya. Mari kita sama - sama mencari alat rahasia untuk membukanya."

"Biar kudobrak saja dengan kekerasan," kata Kiong Lee.

Gurunya mencegahnya. "Jangan. Pintu rahasia tidak boleh dibuka dengan kekerasan, karena kalau hal itu dilakukan tentu akan mendatangkan baha-ya lain. Mari kita cari alat rahasia pembukanya itu."

Akan tetapi, sampai pusing dan bosan mereka mencari, tidak juga mereka dapat menemukan alat rahasia pembuka pintu itu. Akhirnya mereka men-jadi bosan dan putus asa. "Kita cari jalan keluar lain saja !" kata Bwee Hong.
"Nanti dulu " Pek Lian berseru dan ia teringat akan tempat lampu minyak di atas pintu baja di mana tikus-tikus itu ditempatkan. Ia lalu meloncat ke atas, tangannya bergantung kepada celah-celah di atas pintu dan meraba - raba. Benar saja, di atas daun pintu terdapat sebuah lubang dan di situ terdapat pula sebuah lampu minyak. Ia mencoba untuk mencabut lampu itu, akan tetapi tidak bergoyang sedikitpun.

Lalu diputar - putarnya dan tiba-tiba terdengar suara berkerotokan dan daun pintu itupun terbuka! Semua orang bersorak kegirangan.
"Engkau memang hebat, enci Lian!" Siok Eng memujinya ketika Pek Lian melompat turun.

"Sudahlah, mari kita lari ke pantai!" kata Pek Lian. Mereka berlima cepat berlari - larian menuju pantai, Pek Lian dan Siok Eng menjadi penunjuk jalan karena kedua orang dara ini hendak mencari perahu-kecil mereka, yaitu milik Tiat - siang - kwi, tokoh ke dua dari Tujuh Iblis Ban - kwi - to, perahu yang mereka larikan itu. Begitu mereka menemukan perahu, mereka berlima segera naik ke perahu kecil itu dan mendayungnya meninggalkan pulau. Pada saat itu, mereka melihat orang berbondong - bon-dong lari ke pantai. Mereka telah ketahuan oleh Tikus Beracun dan anak buahnya, akan tetapi pe-rahu mereka telah menjauh dan mereka telah aman dari gangguan iblis-iblis jahat itu.

                                                                     ***

"Ah, ternyata telah sehari penuh kita terkurung di dalam terowongan bawah tanah itu," kata Yap-lojin.

"Untung ada nona Ho Pek Lian, kalau tidak, ah, agaknya aku orang tua ini sekarang hanya tinggal nama saja. Aku dan muridku ini sungguh berhutang budi dan nyawa kepada nona Ho."
"Aih, Yap - locianpwe, bagaimana dapat bersi-kap sungkan begitu ? Di antara kita ini mana bisa dikatakan melepas dan berhutang budi ? Aku bah-kan berterima kasih sekali dapat bertemu kembali dengan enci Bwee Hong. Bagaimanakah enci Bwee Hong dapat muncul secara demikian tiba-tiba bersama locianpwe di pulau iblis itu ? Aih, enci Hong, aku sudah putus harapan dan mengira eng-kau telah benar-benar lenyap ditelan lautan ga-nas," kata Pek Lian.
"Sama saja dengan kekhawatiranku, adik Lian. Kusangka engkaupun sudah lenyap ketika aku ter-cebur ke dalam lautan itu."

"Ah, aku kebetulan sekali bertemu dengan pera-hu adik Siok Eng dan ialah yang menolongku. Ke-mudian ia mengajakku ke Pulau Ban - kwi - to itu karena ia hendak mencari setangkai bunga obat yang hanya terdapat di sana. Dan engkau sendiri bagaimana, enci Hong ?"
"Akupun terapung - apung dan kebetulan ber-temu dengan perahu Yap - locianpwe sehingga be-liau dan Yap - taihiap yang menyelamatkan aku. Karena mereka berdua sedang menuju ke Pulau Ban - kwi - to untuk mencari putera Yap-locianpwe, maka akupun ikut dengan mereka. Sama sekali tidak pernah kuduga bahwa di tempat pesta yang berbahaya itu aku akan bertemu dengan engkau dan adik Siok Eng yang menyamar sebagai selir-selir cantik!"
Tiga orang gadis itu lalu bercakap - cakap de-ngan gembira setelah pertemuan yang sama sekali tak tersangka - sangka itu, pertemuan yang menda-tangkan kegembiraan karena melihat kenyataan bahwa teman yang disayangnya itu ternyata masih dalam keadaan selamat. Apa lagi setelah apa yang mereka alami di terowongan itu dan kemudian mereka bersama berhasil menyelamatkan diri dari ancaman bahaya maut.
"Nona Ho," akhirnya Yap - lojin berkata, "ka-lau nona mengetahui di mana adanya puteraku, harap segera memberi tahu karena aku ingin sekali tahu di mana dia berada."
"Dia berada tak jauh dari sini, locianpwe. Di pulau kediaman Thian - te Tok - ong "

"Hemm, Si Kelabang Hijau tokoh ke lima dari Tujuh Iblis itu ?"

"Benar, locianpwe. Lihat, air laut di sini berwarna kekuning - kuningan dan berbau busuk."

"Memang begitu," kata Siok Eng yang banyak tahu tentang Ban - kwi - to karena sebelum berang-kat ia telah mempelajarinya dari ayahnya.

"Air laut di sini terkena pengaruh racun membusuk dari bangkai - bangkai dan tulang - tulang yang dibuang oleh Tiat - siang - kwi tokoh ke dua dari Tujuh Iblis. Tempat ini sudah termasuk wilayahnya. Nah, itu pulau yang nampak gersang di depan, di sanalah raksasa itu tinggal."

"Hemm, tempat mengerikan," kata Kiong Lee.

"Tidak nampak pohon sama sekali. Hanya batu dan pasir melulu. Tempat berbahaya !"

"Lebih baik kita berputar dan menghindari tem-pat ini. Bukan main busuk baunya."
Perahu didayung terus meninggalkan pulau ger-sang itu dan bau busuk itupun makin menghilang dan kini air laut berobah warnanya menjadi agak kebiruan bercampur warna ungu, dan bau yang tadinya busuk seperti bangkai itu kini berobah menjadi amis sekali, makin lama makin memuakkan! Semua orang memencet hidung karena bau itu membuat orang ingin muntah.
"Daerah ini termasuk wilayah orang terakhir dari Tujuh Iblis Ban - kwi - to, yaitu suami isteri Im - kan Siang - mo. Pulau kediaman mereka penuh dengan lumut dan rawa - rawa, banyak terdapat binatang air dan binatang melata yang beracun sekali. Lihat, itu pulaunya sudah tampak dari sini," kata pula Kwa Siok Eng puteri ketua Tai-bong-pai itu.

Karena ingin tahu, Yap - lojin mengajak mereka untuk mendayung perahu itu mendekati pulau, apa lagi karena arus di situ kuat sekali. Tiba - tiba mereka mendengar suara mendengung - dengung dari atas pulau dan nampaklah sekelompok lebah terbang lewat dan tercium bau wangi arak.
"Ahh lebah arak putih !" seru Yap - lojin dan wajahnya berobah karena dia tahu betapa ja-hat dan berbahayanya lebah - lebah itu.
"Kurang ajar !" Tiba - tiba Kiong Lee memaki dan memalingkan mukanya agar tidak melihat apa yang terjadi di atas pasir di pantai yang berdekatan. Akan tetapi, tanpa disengaja, seruannya itu bahkan membuat tiga orang dara memandang ke arah pan-tai. Mata mereka terbelalak, muka mereka berobah merah sekali dan cepat - cepat merekapun membu-ang muka. Apakah yang mereka lihat di sana ? Dua orang manusia berlainan kelamin, seorang pria dan seorang wanita, sudah kakek dan nenek, akan tetapi gaya dan lagaknya membuat orang - orang muda merasa malu. Mereka berdua itu sedang bersendau gurau bermain cinta di atas pasir dalam keadaan telanjang bulat!

Dua orang itu bukan lain adalah Im- kan Siang-mo, yaitu Bouw Mo - ko dan Hoan Mo - li, suami isteri yang jahat seperti iblis dan yang tidak tahu malu itu, orang ke enam dan ke tujuh dari Tujuh Iblis Ban - kwi - to. Ketika mereka melihat ada pe-rahu lewat, keduanya cepat mengenakan pakaian, lalu mereka memaki - maki, mencak - mencak dan mencari perahu mereka untuk melakukan pengejar-an. Akan tetapi, Yap - lojin dan rombongannya su-dah cepat meninggalkan pulau cabul itu !
Atas petunjuk Siok Eng, perahu itu kini mema-suki daerah yang berbau semerbak harumi dan air laut kini berobah warnanya, menjadi kemerahan! Siok Eng memperhatikan sekeliling lalu berkata, "Kita telah memasuki daerah kekuasaan Jeng - bin Siang-kwi (Sepasang Iblis Bermuka Seribu), dua orang wanita kembar yang menjadi tokoh ke tiga dan ke empat dari iblis - iblis itu. Mereka adalah sepasang wanita cantik yang ganas dan kejam bu-kan main. Kesukaannya adalah mengumpulkan pe-muda - pemuda tampan."

"Heii ! Perahu kita oleng !" teriak Pek Lian.
Air laut nampak bergelombang dan perahu me-reka oleng ke kanan kiri. Tiba - tiba mereka merasa perahu mereka tertumbuk sesuatu dan tergetar he-bat seperti dihantam oleh sesuatu dari bawah. Dan di sekeliling perahu itu mendadak muncul moncong- moncong binatang yang bergigi tajam ma-cam moncong buaya.

"Wah, perahu kita bocor!" teriak Kiong Lee

"Cepat dayung perahu ke pulau !" teriak pula Yap-lojin dan dia menggunakan dayung, dibantu muridnya, menghantam ke arah moncong - moncong buaya laut yang tersembul di sekitar perahu. Akan tetapi, air mulai memasuki perahu dan untunglah bahwa tiga orang dara yang mendayung perahu itu memiliki tenaga sinkang yang kuat sehingga pera-hu sudah hampir mencapai pantai ketika air sema-kin memenuhinya. Merekapun berloncatan ke pan-tai. Perahu tenggelam !

Sejenak mereka berlima berdiri bengong meman-dang ke arah perahu mereka yang tenggelam dan perahu itu bergerak ke sana - sini seperti diserang oleh binatang - binatang buas itu di dalam air. Tak lama kemudian, nampak pecahan - pecahan perahu mereka terapung di permukaan air.

Yap-lojin menghela napas panjang sedangkan gadis-gadis itu bergidik.

"Untung kita sudah dekat dengan pulau ini, kalau di tengah-tengah lautan bisa berbahaya. Sekarang kita harus berusaha men-dapatkan perahu lain."

Dengan hati-hati mereka berlima menyusuri pantai. Pulau itu merupakan pulau yang indah dan subur, penuh dengan pohon-pohon yang hijau dan rimbun daunnya. Juga banyak pohon-pohon bunga tumbuh di sana - sini, bentuk dan warnanya ber-macam - macam, selain indah dipandang, juga se-dap dicium karena baunya harum semerbak.
"Kita harus hati - hati. Biarpun bunga - bunga itu kelihatan indah dan berbau harum, akan tetapi semua itu beracun !" kata Siok Eng memperingat-kan. Bwee Hong dan Pek Lian memandang kagum dan menjulurkan lidah.

Tiba-tiba Yap - lojin memberi isyarat dan me-reka semua cepat menyelinap dan bersembunyi di balik pohon - pohon, mengintai ke depan. Dari ja-uh nampak dua orang wanita kembar sedang ber-jalan mendatangi tempat itu, bergandeng tangan dengan dua orang pemuda. Kedua orang pemuda itu kelihatan lesu dan loyo, mandah saja digandeng dan diajak berjalan ke manapun. Ketika mereka sudah tiba agak dekat, Bwee Hong memegang ta-ngan Pek Lian. Nona inipun sudah mengenal kedua orang pemuda itu.

Yang seorang adalah kakak Bwee Hong, yaitu Chu Seng Kun, sedangkan pemuda yang ke dua adalah A-hai, pemuda sinting yang aneh itu !
"Kakakku !" Bwee Hong berbisik, lirih akan tetapi terdengar oleh empat orang kawannya.

"Ssttt !" Kwa Siok Eng memberi isyarat.

"Hati-hati, lebih baik kita membayangi mereka. Kelihatannya kakakmu itu keracunan, mungkin terbius atau keracunan hebat karena racun perampas ingatan."
"Hemm, itukah kakakmu yang kaucari-cari itu?" tanya Yap - lojin
Masuk ke dalam sebuah gedung, langsung mema-suki ruangan belakang. Dua orang pelayan wanita sibuk mengeluarkan hidangan di atas meja dan me-reka berempat lalu berpesta - pora, makan minum Sepasang iblis itu dengan sikap manja dan genit beberapa kali menyuguhkan arak kepada sepasang pemuda tampan, atau menyuapkan makanan de-ngan sumpit mereka, dan kadang - kadang men-cumbu mereka. Melihat ini, kembali tiga orang dara itu menjadi merah mukanya, akan tetapi seka-li ini Bwee Hong hampir tidak kuat bertahan dan ingin menyerbu saja.
"Enci Hong, harap bersabar. Kita harus berha-ti - hati. Ilmu silat kedua orang iblis itu sih tidak perlu dikhawatirkan, akan tetapi mereka itu licik sekali dan ilmu mereka tentang racun amat hebat. Apa gunanya kita turun tangan menolong kakakmu kalau kemudian ternyata bahwa kakakmu keracunan hebat dan sukar ditolong nyawanya ? Kedua orang pemuda itu jelas dalam keadaan tidak wajar. Tentu ada sebabnya," bisik Siok Eng.
Pek Lian mengangguk - angguk. "Enci Hong. apa yang diucapkan Eng-moi itu memang benar. Kaulihat saja A - hai itu. Dia adalah seorang yang wajar dan tidak mampu pura - pura, kini diapun kelihatan tidak wajar dan seperti kehilangan akal. Aku yakin bahwa mereka berdua itu dalam keada-an terbius atau terampas akal mereka oleh racun yang digunakan oleh dua iblis itu. Kita menanti saat yang baik."
 
Akan tetapi kini dua orang wanita kembar itu sudah bangkit dan menggandeng kedua orang pe-muda memasuki sebuah kamar besar dan lima orang yang mengintai itu tidak dapat mengintai lagi. Sebelum mereka tahu apa yang harus mereka la-kukan, tiba-tiba terdengar suara parau dari jauh.
"Siang - sumoi ! Di mana kalian ?"

Kemudian, terdengar langkah-langkah yang membuat lantai tergetar. Muncullah seorang rak-sasa yang memasuki ruangan itu dan langsung ma-suk ke dalam kamar besar di mana dua orang iblis cantik dan dua orang mangsanya tadi masuk.

"Kiong Lee, lihatlah apa yang terjadi di dalam, Biar kami menanti di sini dan baru turun tangan kalau kauberi isyarat. Hati-hati, jangan sembarangan bertindak."
"Baik, suhu !" Dan tubuh pemuda itu sudah mencelat ke atas, menerobos daun - daun pohon dan hinggap di atas wuwungan rumah. Gerakannya gesit seperti terbang saja sehingga Bwee Hong yang telah memiliki ginkang paling hebat itupun memandang kagum. Apa lagi Pek Lian yang paling rendah tingkat kepandaiannya, memandang terbelalak.

Siok Eng juga kagum memuji, "Bukan main !"
"Dia memang anak yang baik dan patut dibanggakan," kata sang guru sambil tersenyum.

Yap-lojin sengaja mengutus murid atau putera angkat-nya itu untuk melakukan pengintaian sendiri saja. Kalau mereka berlima semua mengintai di atas wuwungan, tentu mudah diketahui lawan, dan se-lain itu, yang terpenting baginya adalah agar tiga orang dara itu tidak usah melihat apa yang terjadi di dalam kamar itu, yang diduganya tentulah adeg-an cabul yang tidak layak ditonton gadis - gadis seperti mereka.
Kiong Lee mengintai ke dalam. Dari sebuah lubang di genteng dia melihat Seng Kun, kakak Bwee Hong itu, rebah di atas sebuah kursi panjang sambil minum arak. Pemuda lain yang bertubuh tinggi tegap berwajah tampan gagah, yang oleh Pek Lian disebut bernama A - hai, nampak tertelungkup di atas meja, agaknya sudah mabok dan tertidur.

Di atas tempat tidur rebah dua orang wanita kembar itu, dengan pakaian hampir telanjang. Me-reka itu cekikikan, entah apa yang mereka bicarakan dan tertawakan.

"Siang - sumoi, di mana kalian ?" seruan lantang dari Tiat - siang - kwi, ji-suheng mereka itu mem-buat mereka cepat bangkit dari tempat tidur. Akan tetapi sebelum mereka sempat membetulkan pakai-an dalam yang awut - awutan itu, si raksasa sudah muncul dari luar memasuki kamar besar itu.
"Ha - ha - ha, Siang-sumoi, kalian sungguh tidak manis kepadaku ! Berkali - kali kalian menghindar-kan diri, menjauhi aku dan tidak mau melayaniku seperti biasa, padahal dahulu kalian suka saling berebut untuk melayaniku. Hemm, sejak kalian merampas dua orang bocah itu dari tangan San-hek - houw dan Sin - go Mo Kai Ci, kalian seperti sudah lupa diri. Ini namanya mendapatkan keka-sih baru melupakan yang lama. Jangan begitu, Siang - sumoi, sekali ini kalian harus melayani aku, untuk mengobati rinduku kepada kalian yang su-dah bertumpuk - tumpuk !" Raksasa itu lalu me-langkah maju mendekat.
Kini dua orang wanita itu sudah berdiri berdam-pingan menghadapi si raksasa. Mereka memang cantik dan bertubuh denok menggairahkan dan nampaknya usia mereka antara tigapuluh sampai tigapuluh lima tahun.

"Ji-suheng, pergilah dan jangan ganggu kami. Kami sedang lelah " kata seorang di antara mereka.
"Biar lain hari saja kami melayanimu, ji - su-heng!" kata yang ke dua.

"Ha - ha - ha, kalian lelah karena susah payah membujuk dua orang muda yang keras kepala itu, ya ? Ha - ha, kenapa susah - susah membujuk rayu orang - orang yang tidak mau. sebaliknya menolak orang yang mau dan bergairah besar seperti aku ? Sudahlah, Siang-sumoi, kita panggang saja daging kedua orang muda ini. Dagingnya kalau dipang-gang tentu lezat dan akan kuajarkan kalian makan daging manusia yang selain lezat juga dapat men-datangkan kekuatan. Dan mari kalian layani aku, mari kita main - main sepuasnya seperti dahulu !" Raksasa itu mengulur tangan hendak merangkul mereka.

Akan tetapi dua orang wanita itu mengelak dan kelihatan marah. "Ji - suheng, ingat bahwa engkau berada di tempat kami. Pergilah dan jangan gang-gu kami. Ataukah kami harus menggunakan keke-rasan ?"
"Ha - ha - ha, apakah kalian juga ingin aku menggunakan kekerasan untuk bermain - main de-ngan kalian ?" Raksasa itu menubruk ke depan,. akan tetapi kedua orang wanita itu bukan hanya mengelak, bahkan kini menyerang dari kanan kiri dengan hebatnya !
Terjadilah perkelahian mati - matian dalam ka-mar itu ! Walaupun mereka itu masih merupakan sekutu bahkan saudara - saudara seperguruan, na-mun karena mereka adalah datuk - datuk kaum sesat yang batinnya dipenuhi oleh nafsu pementingan diri sendiri, mereka saling serang dengan sungguh-sungguh dan mati-matian. Mereka tidak saling mempergunakan racun karena maklum bahwa hal itu tidak berguna mengingat bahwa mereka bertiga itu sudah kebal racun, maka mereka berkelahi de-ngan mempergunakan ilmu silat saja. Dan dalam hal ilmu silat dan tenaga, sepasang wanita kembar itu harus mengakui keunggulan si raksasa.

Tiat-siang-kwi (Setan Gajah Besi) tertawa-tawa ketika dia mulai dapat melukai dua orang sumoi-nya dengan pukulan - pukulan, tendangan dan ka-dang-kadang cengkeraman tangannya. Dia mera-sa gembira bukan main dapat menghajar dua orang wanita itu. Tubuh yang hanya tertutup pakaian dalam yang banyak memperlihatkan kulit tubuh yang mulus itu menjadi bulan - bulan pukulan, tam-paran dan tendangan, nampak lecet - lecet dan ma-tang biru babak - belur. Bahkan darah mulai mele-leh dari mulut dan hidung mereka. Hal ini mem-buat si raksasa semakin bernafsu dan gembira.
Tentu saja Tiat - siang - kwi tidak pernah men-cinta dua orang wanita itu dalam arti yang se-sungguhnya, baik mencinta sebagai pria terhadap wanita maupun mencinta sebagai saudara terhadap adik - adik seperguruannya. Yang ada hanya nafsu dan kalau dia kadang-kadang bermain cinta de-ngan mereka, sepenuhnya yang menjadi pendorong hanyalah nafsu berahi yang memperalat orang lain demi pemuasan diri. Kini, nafsu berahinya agaknya telah berobah menjadi nafsu kekejaman dan kesa-disan melihat tubuh yang mulus itu mulai babak belur dan berdarah.
Chu Seng Kun yang tadinya rebah di atas kursi sambil minum arak, memandang dengan sikap te-nang dan tidak acuh, akan tetapi A - hai yang ta-dinya tertelungkup di atas meja dan seperti tidur nyenyak, kini sudah bangkit berdiri, mukanya men-jadi pucat melihat penyiksaan sadis yang dilakukan oleh si raksasa itu terhadap dua orang wanita yang kini hanya dapat melawan dengan lemah saja. Mu-lut A - hai komat - kamit dan terdengar dia menge-luh panjang pendek.
"Ahhh jangan berkelahi ...... jangan membunuh, ahhh jangan menggunakan kekerasan untuk menyiksa orang lain "

Ketika dia melihat darah bercucuran dari hidung dan mulut sepasang iblis kembar yang cantik itu, A - hai menutupi mu-kanya dengan kedua tangan dan dengan terhuyung-huyung seperti orang mabok diapun sempoyongan menuju ke arah pintu keluar.
"Ha - ha - ha !" Si raksasa terbahak dan dengan dua kali jotosan, tubuh dua orang wanita itu terpe-lanting roboh dengan napas senin-kemis.

Melihat betapa dua orang lawannya sudah tidak mampu melawan lagi, dan melihat A - hai menuju ke pintu, Tiat-siang-kwi membentak, "Heh, kelinci tolol,
kau hendak lari ke mana ? Engkau kasihan dan-sayang kepada mereka, ya ? Pantas mereka tidak mau lagi dengan aku. Huh, lihat saja nanti kalau sudah kuganyang dagingmu dan kuminum darah-mu !"
Melihat raksasa itu mengejar ke pintu, ke arah A-hai yang hendak pergi meninggalkan kamar itu, Kiong Lee sudah bersiap - siap. Dia tidak mungkin membiarkan raksasa itu membunuh pemu-da yang kelihatan lemah itu. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar siulan keras. Itulah siulan gurunya yang memanggilnya ! Dia cepat menoleh dan meman-dang ke bawah. Kiranya di dalam gelap itu telah terjadi pertempuran. Si Tikus Beracun dan Im-kan Siang-mo, suami isteri cabul itu, telah datang mem-bawa anak buah mereka. Melihat ini, Kiong Lee menjadi bingung, mana yang harus dibantunya lebih dulu.
Terdengar suara gaduh di dalam kamar. Dia memandang dan dia mengerutkan alisnya. Ternya-ta dia telah terlambat. Pemuda itu telah dihajar, terkena pukulan keras dari kepalan tangan yang besar dan kuat dari Tiat - siang - kwi sehingga pe-muda itu terlempar menabrak meja, lalu jatuh tunggang-langgang dengan darah mengucur dari luka di dahinya. Pemuda itu bangkit duduk, nam-pak nanar dan tangannya meraba ke arah dahi yang terbuka.

Bersambung

Darah Pendekar 22                                                              Darah Pendekar 24