Rabu, 15 Mei 2013

DARAH PENDEKAR 22

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Bab 22
DENGAN penuh perhatian dua orang gadis itu memandang ke arah mereka. Kini mata-hari telah membuat mereka dapat meneliti wajah orang - orang itu dengan jelas. Yang berjalan pa-ling depan di dalam rombongan tuan rumah adalah seorang laki - laki pendek kecil yang pakaiannya mewah sekali. Orang ini mempunyai sepasang ma-ta yang kecil dan dalam, akan tetapi mata itu ber-kilat - kilat penuh kecerdikan dan kelicikan. Dari gerak - gerik dan pandang matanya saja mudah di-duga bahwa orang ini tentu lihai sekali.
Rombongan tuan rumah itu mengantar para ta-munya sampai mereka semua naik ke perahu ma-sing - masing dan perahu - perahu itu berlayar me-ninggalkan pulau. Dapat dibayangkan betapa ka-getnya hati Siok Eng dan Pek Lian ketika melihat rombongan tuan rumah itu kini menuju ke arah pohon tempat mereka bersembunyi. Biarpun pohon itu besar dan daunnya lebat, akan tetapi kalau orang - orang itu berada di bawah pohon, tentu mereka berdua akan ketahuan.
"Adik Eng, lihat, ada lubang besar di batang pohon ini!" Tiba - tiba Pek Lian berkata sambil menuding ke bawah. Memang benar. Pohon itu memiliki batang yang amat besar, sebesar pelukan tiga empat orang dewasa dan kini setelah Pek Lian menyingkap daun-daun yang rimbun, nampak ada lubang besar tepat di tengah - tengah batang pohon itu.
"Bagus, kita bersembunyi saja di dalamnya!" kata Siok Eng yang mendahului Pek Lian mema-suki lubang itu.

Pek Lian mengikuti dan ternyata lubang itu memang cukup besar untuk mereka ma-suki berdua. Akan tetapi, ternyata lubang itu terus menembus ke bawah, merupakan terowongan gelap yang terus ke dalam tanah ! Kiranya, itu merupakan sebuah jalan rahasia pula! Tentu saja keduanya yang takut ketahuan itu menjadi heran dan girang, lalu melanjutkan perjalanan mereka melalui tero-wongan. Di bawah tanah, mereka dapat berjalan sambil merunduk, akan tetapi cuacanya menjadi semakin gelap sehingga mereka harus meraba-raba ke atas dan ke depan agar kepala mereka tidak ter-bentur dan kaki mereka tidak terjeblos. Karena ma-kin lama lorong terowongan itu menjadi semakin dalam dan gelap, Pek Lian merasa khawatir juga.
"Eng-moi, apakah tidak sebaiknya kita kem-bali saja ? Guha ini gelap menyeramkan dan kita tidak mengenalnya sama sekali, tidak tahu ke mana terowongan ini menuju. Bagaimana kalau terowongan ini runtuh dan jalannya terputus ? Kita tentu akan terkubur hidup - hidup di sini, kita akan megap - megap kehabisan napas, seperti tikus-tikus tertimbun aiiihhhh !"

Pek Lian menjerit saking ngerinya ketika tiba-tiba saja kakinya meng-injak seekor tikus besar yang menggigit betisnya! Untung bahwa betisnya telah diolesi obat penawar dan juga dilindungi kaos kaki dan ia tadi mengerah-kan sinkang sehingga tidak sampai terluka. Sekali ia menggerakkan kaki menginjak, terdengar bunyi"cieeettt prakkk i" dan tikus itu mati dengankepala dan tubuh pecah, isi tubuhnya dan darah-nya muncrat ke mana-mana. Tercium bau wangi bercampur amis yang memuakkan.
"Ihhh ! Adik Eng, sungguh menjijikkan . . . ."  Pek Lian berseru. "Aku aku menginjak tikus dan kuinjak ia sampai lumat!"
"Hihhh mengerikan ., I" Siok Eng juga bergidik jijik, akan tetapi ia segera menguatkan batinnya.

"Akan tetapi terowongan ini agaknya sudah biasa dimasuki orang. Coba raba, tanahnya begini bersih dan kering dan terowongan ini agak-nya menuju ke tengah pula. Siapa tahu ini meru-pakan jalan rahasia yang akan membawa kita ke tempat Si Tikus Beracun ?"
"Tapi tapi tikus - tikusnya " Pek Lian bergidik. Ia masih merasa ngeri membayang-kan tikus-tikus besar yang pernah menghadang mereka dan membayangkan tikus yang diinjaknya pecah tadi.

"Adik Eng, aku bukan takut mati, akan tetapi siapa tahu terowongan ini penuh dengan tikus beribu - ribu banyaknya ? Hiihh, kalau harus berhadapan dengan ribuan tikus, sebelum apa-apa aku mungkin sudah akan mati lemas karena jijik...!"
"Baiklah, enci Lian, mari kita kembali saja eh, awas, ada orang datang!" Siok Eng berkata li-rih dan menarik tangan kawannya, diajak bersem-bunyi mepet di dinding terowongan, lalu mundur ke bagian yang berbelok.
Tak lama kemudian, laki - laki pendek kecil yang tadi mereka lihat di luar, lewat di terowongan itu. Untung bahwa tempat itu gelap sehingga laki-laki itu tidak melihat dua orang gadis yang mepet di dinding. Tangan kanan laki - laki ini memegang sebatang cambuk. Setelah melewati tempat per-sembunyian dua orang dara itu sampai beberapa langkah, tiba - tiba dia berhenti dan hidungnya mendengus - dengus.
"Hemm, ada bau asing di tempat ini! Apa yang dibawa anak - anak itu ke sini ?" terdengar dia menggerutu.

Tentu saja hati kedua orang dara itu berdebar tegang. Apakah jejak mereka telah diketahui ? Bukan main tajamnya daya cium manusia ini. Apakah dia ini yang berjuluk Te-tok-ci, orang pertama dari Ban-kwi-to ? Akan tetapi menurut keterang-an yang diperoleh Siok Eng, Tikus Beracun itu sudah berusia enampuluh tahun lebih, sedangkan orang pendek kecil ini usianya paling banyak tiga-puluh lima tahun.
Pada saat orang itu dengan penuh keraguan hendak berbalik dan dua orang dara itu sudah siap siaga menghadapi segala kemungkinan, tiba - tiba terdengar suara riuh mencicit dari depan sana. De-mikian gaduh dan riuh suara itu, suara dari mungkin ratusan ekor tikus yang bercuitan, se-hingga orang pendek kecil itu tidak jadi kembali.
"Kurang ajar! Ada apakah dengan anak - anak setan itu ?" gerutunya dengan suara geram.

Dia meloncat ke depan dan tubuhnya meluncur dengan cepatnya. Dua orang gadis itu memandang ke de-pan dan tiba-tiba nampak cahaya terang di depan, seolah - olah ada pintu yang dibuka. Mereka ber-dua menjadi tertarik dan karena tidak ada jalan lain untuk keluar dari tempat itu, merekapun tidak jadi kembali, khawatir bertemu dengan orang-orang yang baru masuk, dan merekapun lalu berindap-indap melangkah maju dengan hati - hati. Kini te-rowongan menjadi tidak segelap tadi, remang - remang dan mereka dapat melihat ke depan.
"Ah, di depan itu terang benar, agaknya kita menuju ke lubang keluar, Eng - moi," kata Pek Lian dengan suara berbisik gembira.

Ia merogoh saku hendak mengambil saputangan untuk meng-hapus keringatnya, akan tetapi ternyata kantongnya kosong. Agaknya saputangannya itu terjatuh ketika ia menginjak tikus tadi. Mereka berjalan terus ke depan, ke arah sinar terang.

Akan tetapi ternyata mereka kecelik. Sinar te-rang itu sama sekali bukan datang dari lubang ke-luar, melainkan dari sebuah lampu minyak yang besar sekali, yang berdiri di atas meja batu. Di tem-pat ini, terowongan menjadi besar dan membentuk sebuah ruangan yang luas penuh dengan batu-batu besar berserakan. Dan di ruangan luas ini, terdapat pintu-pintu terowongan lain yang semuanya ber-jumlah delapan buah termasuk, terowongan dari mana mereka datang. Tentu saja dua orang dara itu menjadi bingung sekali. Tidak nampak laki-laki kecil pendek tadi, dan mereka berdua tidak tahu ke mana mereka harus pergi, mulut terowongan mana yang harus mereka ambil untuk dapat keluar dari tempat itu.

"Wah, enci Lian, sungguh aku menyesal sekali telah membawamu ke sini. Agaknya kita akan be-nar-benar terkubur hidup-hidup di sini,"

"Jangan sesalkan hal itu, adik Eng. Kalau bukan engkau yang menolong, bukankah aku juga sudah mati ditelan lautan ? Sekarang kita belum mati, tidak boleh putus asa, walaupun aku aku seperti mendapat firasat bahwa kita telah memasuki tempat yang sangat mengerikan."

Bayangan tikus yang diinjaknya tadi masih membuat nona ini ber-gidik ngeri dan jijik.
"Bagus, enci. Engkau telah membangkitkan se-mangatku kembali. Kita memang tidak boleh putus asa dan kita hadapi bersama segala bahaya yang mungkin menimpa kita. Akan tetapi karena kita kehilangan jejak orang tadi, mari kita cari sendiri saja jalan keluar secara untung-untungan."
"Lalu mulut terowongan mana yang harus kita pilih, Eng - moi ?"

"Aku yakin bahwa satu di antara mulut - mulut terowongan itu tentu menuju ke istana Te - tok - ci. Karena kita baru saja keluar dari mulut terowongan yang di kanan, maka untuk menuju ke tengah pu-lau tentu harus mengambil jalan yang bertentangan, yaitu yang berada di lari. Akan tetapi, di sebelah kiri terdapat tiga buah mulut terowongan yang ha-rus kita pilih salah satunya. Enci Lian, berkali-kali engkau lolos dari cengkeraman maut, itu tandanya bahwa nasibmu masih baik. Oleh karena itu, biar aku membonceng nasib baikmu itu dan engkaulah yang memilih satu di antara tiga pintu terowongan itu."
Pek Lian tersenyum.. "Mudah - mudahan saja nasibku akan selalu mujur dan tidak salah memilih terowongan ini. Bagaimanapun juga, andaikata sa-lah pilih, kita masih dapat kembali ke sini dan me-milih yang lain lagi, bukan ? Nah, mari kita mema-suki lubang yang di tengah itu."
Ternyata lubang ini tidaklah selebar yang me-reka lalui tadi. Juga amat sukar dilaku karena di dalamnya banyak sekali batu - batu karang yang tajam dan runcing bertonjolan di kanan kiri atas dan bawah. Mereka harus berhati - hati, kadang-kadang meloncat dan harus selalu waspada karena kalau tidak hati - hati, kepala mereka dapat ter-tumbuk batu di atas. Apa lagi lubang itu tidak begitu terang, hanya remang - remang.
Tiba - tiba terdengar suara ledakan cambuk di sebelah depan. Tentu saja dua orang gadis yang sejak tadi sudah merasa tegang dan amat berhati-hati itu, menjadi terkejut dan mereka berhenti melangkah, saling berpegang tangan dan meman-dang tajam ke depan.
"Enci Lian, itu dia! Kiranya masuk juga ke terowongan ini," bisik Siok Eng.

Mereka bergerak dengan hati - hati menuju ke depan. Dari depan ada angin bertiup lembut dan mereka menutupi hidung. Angin itu membawa bau yang menyengat hidung karena amis dan busuk. Tibalah mereka di sebuah ruangan yang luas dan pada dinding - dinding ruangan itu terdapat bebe-rapa buah lampu minyak yang terang. Ketika de-ngan hati - hati mereka mengintai ke ruangan itu, mereka bergidik dengan hati ngeri. Di atas lantai, di tengah - tengah ruangan itu nampak bangkai ra-tusan ekor tikus berserakan dan bertumpuk-tumpuk! Dan di antara bangkai - bangkai itu berdiri seorang laki - laki memegang cambuk yang digerak - gerakkan ke kanan kiri seperti orang mengancam. Itulah laki-laki pendek kecil tadi.
Pek Lian dan Siok Eng mengintai dari tempat sembunyi mereka dengan hati ngeri. Kini nampak jelas oleh mereka bahwa bangkai - bangkai tikus itu terdiri dari dua macam tikus yang besar - besar, yang berbulu kemerahan dan kehitaman. Dan kini nampaklah oleh mereka bahwa di sebelah kiri nampak tikus berbulu merah, ratusan banyaknya, dengan sikap ganas dan siap menyerang. Sedang-kan di sebelah kanan orang pendek itupun ber-gerombol ratusan ekor tikus hitam yang berbin-tik-bintik putih, semua juga menyeringai buas se-perti tikus - tikus merah. Mudah diduga bahwa dua macam gerombolan tikus ini telah mengadakan pe-rang, terbukti adanya bangkai - bangkai dua ma-cam tikus di tempat itu.
Dua gerombolan tikus yang masih hidup itu, nampak buas dan marah, siap untuk saling serang akan tetapi mereka itu kelihatan tunduk dan takut kepada si kecil pendek yang berdiri dengan cambuk di tangan, di antara mereka. Agaknya si pendek inilah yang tadi menghentikan perang antar tikus ini.
"Bedebah busuk! Keparat jahanam! Tikus-tikus tengik yang tak tahu aturan ! Kenapa kamu saling serang dan saling bunuh ? Kurang ajar ! Be-rani ya kalian menyerang tanpa diperintah ? Uhh, percuma saja kamu dipelihara dan diberi makan.

Tar - tar - tarrrr !!" Cambuknya meledak-ledak dan tikus-tikus kedua pihak itu undur ketakutan.

"Binatang - binatang busuk, di mana pengasuh-pengasuh kalian ? Ang - lojin ! Hek - lojin Di mana kalian? Kenapa bocah-bocah peliharaamnu kalian biarkan saling bunuh ?"
Gema suaranya yang mengandung tenaga khi-kang itu menerobos ke seluruh lorong - lorong ba-wah tanah itu, kemudian lenyap dan suasana men-jadi amat sepi. Dan di dalami kesunyian ini tiba-tiba terdengar suara rintihan dari lubang terowong-an sebelah kanan. Di ruangan itu terdapat empat buah lubang terowongan. Pulau kecil yang men-jadi tempat tinggal atau sarang Te - tok - ci atau Tikus Tanah Beracun ini memang merupakan tem-pat yang paling berbahaya.

Di bawah tanah pulau ini penuh dengan jalur - jalur lalu lintas bawah ta-nah, terowongan - terowongan yang mempunyai banyak cabang dan ranting, penuh rahasia dan di-pasangi alat - alat rahasia pula, bahkan di situ terdapat tikus-tikus beracun peliharaan Te-tok-ci. Maka, dapat dibayangkan betapa berbahayanya keadaan di pulau ini. Dari atas memang nampak sebagai sebuah pulau yang indah dan menyenang-kan, namun di bawah pulau tersembunyi jebakan-jebakan dan binatang-binatang peliharaan yang kalau dikerahkan akan merupakan pasukan yang menyeramkan dan berbahaya. Apa lagi kalau sampai ada musuh yang terjebak ke dalam terowongan ini!

Mendengar suara rintihan dari terowongan se-belah kanan ini, si pendek kecil berkelebat ke ka-nan dan lenyap ke dalam terowongan itu. Dan be-gitu orang itu pergi, tikus - tikus kedua pihak yang sejak tadi memang sudah siap tempur itu sudah saling berlompatan menyerang lawan dengan ga-nasnya. Terdengar suara hiruk - pikuk menggiris-kan dan darah tikus berhamburan, udara menjadi amat busuk dan amis.

Apa lagi ketika muncul see-kor tikus hitam berbintik putih yang sangat besar, dua kali besarnya dari pada teman - temannya. Ti-kus ini menyerang dengan buas dan biarpun dike-royok oleh lima ekor tikus merah, dia masih dapat mengungguli mereka. Darah makin banyak ber-hamburan dan bau amis membuat dua orang gadis yang menonton semua ini dari tempat persembu-nyian mereka itu hampir muntah.
"Enci Lian, mari kita pergi " Suara Siok Eng agak menggigil karena ia merasa ngeri.

"Kalau sampai kita yang dikeroyok ribuan atau laksaan tikus hihih, aku bisa jatuh pingsan karena jijik."

Akan tetapi pada saat itu kembali terdengar bu-nyi cambuk meledak - ledak dan sungguh luar bia-sa sekali, tikus - tikus yang tadinya saling terkam, saling gigit dan saling bantai itu mendadak saja berhenti dan mereka mundur ke tempat masing-masing, bersatu dengan kawan-kawannya. Tikus-tikus yang mati menambah banyak bangkai yang berserakan, sedangkan tikus-tikus yang terluka pa-rah dengan susah payah beringsut-ingsut dan ter-saruk - saruk mencoba untuk berkumpul ke dalam barisan teman - temannya.
Si pendek kecil itu datang lagi dan tangan kiri-nya menarik lengan seorang kakek yang berkulit hitam legam mengkilat. Kakek itu nampak keta-kutan dan tubuhnya agak gemetar. Dia berjalan setengah diseret dan kelihatan lemah dan terhu-yung seperti orang sakit.

"Tar - tarrr !" Cambuk itu meledak di udara.

"Jahanam-jahanam gila ! Apa yang telah terjadi? Apakah dunia telah kiamat dan neraka muncul di tempat ini ? Agaknya setan - setan berkeliaran dan memasuki tubuh kalian semua ! Heh, Hek - lojin. Hayo katakan, apa yang telah terjadi di sini ? Ke-napa engkau sampai menderita luka dalam akibat pukulan ? Dan di mana adanya Ang - lojin ?"

Kakek berkulit hitam itu lalu menjatuhkan diri-nya berlutut dan kelihatan semakin ketakutan! Dengan suara lirih dan gemetar, kakek yang usia-nya sudah enampuluh tahun lebih itupun mulai bercerita. Dia dan Ang - lojin merupakan dua di antara delapan orang penjinak atau pawang tikus-tikus liar yang menjadi kaki tangan Te - tok - ci. Tentu saja keduanya, bersama enam orang lainnya, adalah sahabat - sahabat dan rekan - rekan yang mempunyai daerah - daerah sendiri di dalam dunia bawah tanah itu, mengepalai gerombolan tikus ma-sing-masing. Akan tetapi, ketika rombongan pera-hu asing itu datang bertamu, muncul seorang pe-rempuan yang menjadi pelayan di sebuah di antara perahu - perahu itu.

Ketika perempuan itu turun ke pulau untuk mencari air, Hek - lojin melihatnya, tertarik dan merayunya. Perempuan itu, seorang perempuan peranakan Mongol, mau menyambut dan melayani rayuannya. Akan tetapi celakanya, perempuan itu adalah seorang perempuan yang ti-dak puas dengan hanya seorang pria saja dan iapun melayani rayuan Ang-lojin. Tentu saja hal ini mengakibatkan cemburu dan persaingan.
"Demikianlah, siauw - ya (tuan muda), kami berkelahi dan tentu saja kami berdua juga mengerahkan binatang-binatang peliharaan kamii untuk saling menyerang. Kami berdua sama-sama terluka"
"Keparat tolol! Hanya untuk urusan perem-puan saja saling gasak dengan rekan sendiri ? Ja-hanam ! Hayo. katakan, di mana sekarang Ang-lo-jin ?" Orang cebol yang galak itu membentak-ben-tak.

"Dia dia bersama perempuan itu di gudang makanan "
"Bangsat!" Si cebol itu memaki-maki dengan segala macam makian kotor dan tubuhnya sudah berkelebat pergi lagi.

Tak lama kemudian, setelah menemukan Ang-lojin yang sedang dirawat karena luka - lukanya oleh seorang perempuan Mongol, dia menyeret kedua orang itu kembali ke tempat di mana Hek-lojin masih berlutut dengan takut-takut. Setelah tiba di situ, dengan kasar si cebol itu men-dorong Ang- lojin dan perempuan itu sehingga me-rekapun jatuh bersimpuh dan berlutut.

Pek Lian dan Siok Eng mengintai dengan jan-tung berdebar. Ang-lojin bermuka merah dan memang dia itu beberapa tahun lebih muda dan kelihatan ganteng apa bila dibandingkan dengan Hek - lojin yang berkulit hitam legam ! Pantaslah kalau perempuan itu lebih condong hatinya kepada si muka merah ini. Dan wanita itu sendiri sebenar-nya bukan seorang wanita cantik. Usianya tentu sedikitnya tigapuluh lima tahun, bermuka kasar se-perti orang-orang Mongol dan juga tubuhnya be-sar seperti pria. Akan tetapi dari pandang mata dan senyum mulutnya nampak jelas bahwa ia ada-lah seorang wanita yang "panas" dan besar nafsu berahinya.
"Hek-lojin dan Ang-lojin, bagaimana seka-rang ? Kalau kalian sudah menyadari kesalahan, minta maaf kepadaku dan saling memaafkan, me-lupakan semua permusuhan, baru aku akan mem-beri ampun. Kalau tidak, aku sendiri yang akan menghukum kalian !" bentak si cebol yang sudah nampak marah sekali.

Hek - lojin dan Ang - lojin yang masih berlutut itu lalu berkata, hampir berbareng. "Harap siauw-ya sudi memaafkan saya."
"Bagus, sekarang kalian berjabat tangan dan saling melupakan semua kesalahan masing-masing."
Dua orang kakek itu saling pandang, kemudian mereka mengulurkan tangan dan saling berpegang-an dan pada saat itu juga habislah semua permu-suhan dan dendam di antara mereka karena mereka sadar bahwa permusuhan antara mereka hanya akan mencelakakan diri mereka sendiri.
Tiba - tiba si cebol tertawa. Dua orang dara yang menonton semua itu, mengkirik. Si cebol ini sungguh mengerikan. Baru saja maki - maki dan marah - marah, tiba - tiba dapat tertawa segembira itu. Dan tiba - tiba si cebol sudah menubruk ke depan dan menangkap perempuan itu. Tentu saja perempuan itu menjerit kaget, akan tetapi si cebol sudah membenamkan mukanya pada leher perem-puan itu ! Terdengar jerit melengking mengerikan.
Pek Lian dan Siok Eng memandang dengan muka pucat. Mereka mengira bahwa si cebol itu melakukan hal yang kurang ajar dan cabul, men-cium leher perempuan itu. Akan tetapi ketika me-reka melihat darah bercucuran, tahulah mereka bahwa si cebol bukannya mencium, melainkan menggigit putus urat darah di leher perempuan itu! Hampir saja Pek Lian meloncat ke depan, akan tetapi Siok Eng sudah memegang lengannya dan mencegahnya.
Kini sambil tertawa, si cebol melepaskan gigit-annya dan perempuan itu kelihatan terbelalak dan terhuyung, lehernya mengucurkan darah seperti pancuran karena urat darah di lehernya putus. Si cebol menggerakkan cambuknya, terdengar suara meledak dan tubuh perempuan itu terlempar ke daerah gerombolan tikus. Dan terjadilah peman-dangan yang amat mengerikan hati dua orang dara itu. Tikus - tikus yang tadinya saling serang itu kini beramai - ramai menyerang tubuh perempuan yang sudah terluka lehernya itu. Hanya sebentar saja perempuan itu meronta - ronta dan menjerit-jerit. Suaranya hilang dan tubuhnya berhenti me-ronta, mengejang sedikit lalu terdiam, dan dalam waktu singkat saja semua daging tubuhnya habis, tinggal tulang - tulangnya saja! Dan dua orang kakek itu hanya memandang dingin saja kepada bekas kekasih mereka yang terbunuh dalam keada-an yang demikian mengerikan.
Pek Lian hampir pingsan. Ia memejamkan ma-tanya dan dipeluk oleh Siok Eng. Agaknya, dara yang lebih muda ini lebih tabah menghadapi pe-nyiksaan yang demikian sadis tadi. Hal ini tidak aneh karena gadis itu adalah seorang puteri Tai-bong-pai, perkumpulan yang oleh dunia kang-ouw dianggap sebagai perkumpulan iblis juga.
Kini si cebol duduk di atas batu karang bundar di tengah - tengah ruangan itu. Tidak ada bangkai tikus lagi di situ karena semua telah habis "disi-kat" tikus - tikus yang liar tadi. Agaknya mereka telah menerima perintah atau ijin dari pamong atau pawang masing - masing dan mereka bukan hanya makan daging perempuan Mongol itu, melainkan juga bangkai - bangkai tikus yang berserakan itu mereka ganyang beramai - ramai. Kemudian tikus-tikus itupun pergi dan ruangan itu kembali bersih, bahkan darah yang tadinya berceceran di mana-mana telah bersih dijilati tikus - tikus itu. Yang ada hanya tinggal tulang - tulang besar tubuh perempu-an itu yang tidak dapat dihabiskan atau ditelan oleh tikus - tikus itu.

Si cebol meraih ke atas di mana tergantung se-buah genta besar, lalu memukulnya. Terdengar su-ara nyaring yang bergemuruh dan gemanya mem-balik dari semua penjuru. Tak lama kemudian, panggilan ini telah mendapat sambutan dan terde-ngar suitan - suitan dari lorong - lorong itu. Dan muncullah enam orang lain yang rata - rata memi-liki tampang yang menyeramkan. Bersama Ang-lojin dan Hek - lojin, mereka berdiri mengelilingi batu di mana si cebol yang mereka sebut siauw - ya itu duduk. Si cebol memandang kepada mereka se-mua, seorang demi seorang, dengan pandang mata tajam penuh wibawa.
"Dengarlah kalian semua ! Ayah amat sibuk dan tidak ingin diganggu, maka kalian harus tidak me-nimbulkan keributan. Hari ini ayah menerima ba-nyak tamu. Akan tetapi ketahuilah, Selain kawan-kawan ayah dari dunia kang - ouw dan liok - lim yang berkunjung untuk bersahabat dan minta se-suatu dari ayah, ada pula seorang jago silat bekas musuh ayah yang datang untuk suatu keperluan yang belum kita ketahui. Karena itu, ayah menyu-ruhku menghubungi kalian agar kalian bersiap-siap dan berhati - hati. Semua peliharaan harus diper-siapkan agar sewaktu-waktu dibutuhkan, dapat segera dipergunakan. Periksa alat rahasia yang menghubungkan tempat ini dengan istana. Dan ingat baik - baik. Musuh yang datang sekarang ini bukanlah sembarang orang, akan tetapi dia adalah keturunan seorang datuk dari utara. Bukan musta-hil kalau ayah sendiri tidak akan mampu menun-dukkan. Maka kita harus bersiap - siap, kalau ter-paksa dia akan kujebak ke dalam terowongan."
Setelah selesai menyampaikan berita penting itu, yang disambut oleh delapan orang pembantu yang mengangguk - angguk, si cebol yang ternyata adalah putera dari Te - tok - ci itu meloncat ke arah meja batu di mana terdapat sebuah lampu mi-nyak. Meja itu didorongnya ke samping sampai miring. Tiba-tiba di atas langit - langit ruangan itu terbuka sebuah lubang kecil dan secepat kilat si cebol sudah meloncat dan menerobos keluar ke atas. Tak lama kemudian meja itu tegak kembali seperti semula dan lubang di atas itupun tertutup kembali oleh sebongkah batu karang besar.
Si cebol itu adalah putera Te - tok - ci dan dia memakai julukan Siauw - thian - ci (Tikus Langit Kecil)! Agaknya, dalam hal julukan, dia tidak mau kalah oleh ayahnya yang berjuluk Tikus Beracun Bumi. Dia berjuluk Tikus Langit! Hanya ditambah Kecil karena tentu saja dia tidak berani melampaui ayahnya. Dan semua anak buah Tikus Beracun menyebut siauw - ya (tuan muda).

Setelah Siauw-thian-ci pergi, delapan orang itupun meninggalkan ruangan itu, kembali ke tem-pat tugas masing-masing. Sampai lama Pek Lian dan Siok Eng belum berani bergerak, sampai mere-ka merasa yakin benar bahwa tidak ada lagi orang yang kembali ke tempat itu.
"Ke mana sekarang, Eng - moi ? Menerobos lo-wat lubang langit - langit seperti dia tadi ?"

"Itu sangat berbahaya, enci Lian. Siapa tahu dia masih berada di atas, sedangkan untuk kembali kita tidak mengenal alat rahasianya dari atas. Apa lagi kalau di sanapun masih terdapat pintu - pintu rahasia seperti ini."

"Habis bagaimana ? Tinggal di sini kita menjadi seperti tikus - tikus itu, tidak dapat keluar."

"Mari kita ke sana saja." Siok Eng menunjuk ke arah lubang terowongan yang paling lebar. Mereka berjalan dengan hati - hati sekali dan bersikap waspada.

Tiba - tiba keduanya menghentikan lang-kah dan mepet di dinding terowongan. Seorang di antara delapan anak buah yang tadi berkumpul se-dang berjalan membawa sebuah keranjang yang nampaknya berat. Orang itu bermuka putih pucat dan dia membelok ke kiri lalu menuruni anak tang-ga. Di dasar tangga itu terdapat sebuah ruangan berpintu baja. Dua orang dara perkasa itu meng-ikutinya dan mengintai ketika orang itu berdiri di depan pintu baja. Si muka putih mencabut setang-kai obor yang terpasang di atas pintu baja dan pin-tu itupun terbuka secara otomatis.
Ketika pintu terbuka, hampir saja dua orang dara itu mengeluarkan teriakan kaget dan jijik. Di balik pintu baja itu terdapat sebuah guha yang luas dan di situ berkumpul tikus berbulu putih yang mungkin ribuan ekor banyaknya! Orang bermuka putih itu melontarkan isi keranjang besar ke dalam. Tikus - tikus putih berebutan sambil mengeluarkan suara bercicit riuh rendah. Sebentar saja isi keran-jang itupun habis dan agaknya tidak mencukupi. Tikus - tikus yang tidak mendapat bagian kelihatan menjadi buas dan marah. Mereka menyerbu ke arah pintu. Melihat ini, Pek Lian menangkap le-ngan Siok Eng dan mencengkeramnya dengan hati penuh kengerian. Kalau bukan puteri ketua Tai-bong-pai yang dicengkeramnya, tentu lengan itu akan terluka!
Akan tetapi, dengan tenang saja si muka putih itu mencabut keluar sebuah tabung bambu besar lalu mengeluarkan isi tabung yang berupa bubuk putih. Tercium bau yang keras ketika bubuk putih itu digenggamnya dan aneh sekali, tikus - tikus yang tadinya buas menyerbu ke depan itu, seketika un-dur kembali ketakutan dan kembali ke tempat ma-sing-masing. Si muka putih menyeringai gembira.
"Nah, begitu baru anak - anak baik namanya. Nanti aku akan kembali membawa makanan lebih banyak lagi." Kakek itu lalu menutupkan kembali pintu baja dengan mengembalikan obor di tempat semula, lalu diapun pergilah dari situ.

Ketika orang itu lewat, dua orang dara cepat bersembunyi di dalam lubang - lubang dan celah - celah batu. Ke-tika orang itu datang dekat, dia lalu memandang ke kanan kiri, cuping hidungnya kembang kempis. Akan tetapi dia lalu menciumi tangannya yang tadi menggenggam obat bubuk dan dia mengge-leng kepala lalu lewat pergi.

"Aih, orang-orang di sini mempunyai pencium-an yang peka sekali, enci. Untung dia tidak mene-mukan kita. Mari kita ikuti dia !"
Dengan hati-hati dua orang dara itu memba-yangi si muka putih. Ketika tiba di persimpangan jalan terowongan, muncul berturut - turut tujuh orang anak buah yang lain dan mereka semua juga memegang tabung bambu besar berisi obat bubuk putih yang merupakan obat yang ditakuti tikus itu.
Mereka mengumpulkan tabung - tabung itu dan dua orang di antara mereka lalu membawa tabung - ta-bung itu ke sebuah ruangan besar setelah melalui jalan berbelak - belok. Agaknya dua orang ini ber-tugas untuk mengumpulkan dan menyimpan ta-bung - tabung itu, karena isinya merupakan barang yang amat penting bagi mereka dan tidak boleh sampai terjatuh ke tangan musuh. Bubuk putih itu merupakan senjata ampuh untuk mengusir tikus-tikus liar.
Ada dua buah pintu di ruangan itu, dan mereka berdua itu lalu membuka pintu hijau, menyimpan tabung itu ke dalam sebuah kamar di balik pintu hijau. Kemudian merekapun pergi melalui jalan terowongan di sebelah kiri, meninggalkan dua orang nona yang membayangi mereka. Setelah dua orang kakek itu pergi, Siok Eng berbisik, "Kita perlu se-kali dengan bubuk putih itu. Kita harus mengam-bil yang cukup untuk dipergunakan kalau perlu."

Pek Lian mengangguk dan mereka lalu berindap-indap menghampiri pintu hijau, membuka daun pintu yang tidak dipasangi alat rahasia. Siok Eng yang sebagai puteri ketua Tai-bong-pai amat ahli tentang racun, mengambil bubuk putih, membung-kusnya dengan saputangan dan Pek Lian melakukan hal yang sama. Kemudian mereka berunding sam-bil bisik - bisik.

"Sekarang lihat baik - baik pintu merah itu, enci Lian. Di atasnya ada tulisan yang melarang orang masuk. Kurasa itu menandakan bahwa di dalam kamar di balik pintu merah itu tentu ada rahasianya yang penting. Kita masuk ke situ!"
"Tapi bagaimana kalau di dalamnya menanti jebakan - jebakan atau orang - orang yang sudah siap ? Bukankah itu berarti kita seperti ular-ular mencari penggebuk ?"
"Kita harus berani menghadapi resiko itu. Ku-rasa tulisan itu ditujukan kepada para anak buah dan ini berarti bahwa hanya orang - orang penting seperti ketuanya sendiri saja yang boleh masuk. Dan mustahil kalau jalan untuk sang ketua dipasangi jebakan. Mari, ikuti aku."

Mereka berdua mendorong pintu merah yang terbuka dengan mudah. Keduanya tertegun. Di balik pintu itu terdapat sebuah kamar yang indah dan di dekat dindingnya terdapat sebuah tempat tidur yang besar.
"Ehh !" Pek Lian menahan seruannya dan menghampiri meja, lalu mengambil benda yang ternyata adalah sebuah cincin. Cincin ayahnya ! Cincin stempel tanda kebesaran Menteri Ho !

"Cincin apakah itu, enci ?"

"Cicin ayahku ! Ah, benar ! Tentu ayah terba-wa oleh perahu yang sekarang berlabuh di sini ! Ayahku berada di sini!" Pek Lian merasa gembira sekali dan matanya berkilat - kilat. Ia menyimpan cincin itu di saku bajunya sebelah dalam.
Tiba-tiba Pek Lian melihat sekilat cahaya di balik lemari. "Eng - moi, lihat. Ada sinar dari belakang lemari. Ini berarti bahwa di belakang lemari itu tentu ada ruangan lain. Mari kita geser!"
Mereka bekerja sama menggeser lemari itu dan setelah tergeser mereka melihat adanya sebuah lorong yang menuju ke atas. Akan tetapi lorong ini kemudian terpecah menjadi dua. Mereka lalu memilih yang kiri. Dengan hati - hati mereka me-langkah, takut kalau - kalau ada jebakan rahasia di depan. Lorong itu berakhir dengan sebuah pintu dan ketika mereka membuka dan mengintai, mere-ka melihat bahwa di luar daun pintu itu terdapat sebuah taman yang indah, dengan kolam renang di tengah - tengah dan pada saat itu terdapat belasan orang wanita cantik yang sedang mandi sambil bersendau - gurau. Kedua orang dara itu dapat menduga bahwa tempat ini tentu merupakan tem-pat tinggal para isteri atau selir pemilik pulau.

Mereka tidak berani memasuki taman, menutupkan kembali daun pintu itu dan kembali sampai di lo-rong bercabang, lalu kini mengambil lorong yang kanan. Dan tidak lama mereka tiba di akhir lorong ini yang merupakan sebuah halaman terkurung pa-gar besi dan di tengah halaman itu tumbuh sebuah pohon bunga yang luar biasa. Daun - daunnya pu-tih dan bunganya hitam mengkilat! Itulah bunga yang dicari - cari oleh Siok Eng ! Melihat bunga ini, Siok Eng melompat kegirangan, hampir ia ber-sorak dan seperti seorang anak kecil mendapatkan sebuah mainan yang sudah lama diinginkannya, ia menghampiri pohon bunga itu.
"Hati - hati, enci, kau jangan memegang bunga ini," katanya dan ia sendiri lalu mengeluarkan se-buah botol berisi cairan berwarna kuning, kemudian menggunakan cairan itu untuk melumuri semua bagian kedua lengannya dan jari - jari tangannya. Setelah itu, barulah ia memetik beberapa kuntum bunga hitam dan disimpannya baik - baik ke dalam guci kecil yang sudah ada airnya.

"Aih, benar kata ayahku dan tidak sia-sialah perjalananku yang jauh dan berbahaya ini," kata Siok Eng sambil tersenyum manis. "Dan engkau juga berjasa atas hasil yang kuperoleh ini, enci. Terima kasih !"
"Adik Eng, bukan engkau yang harus berterima kasih, melainkan aku. Sekarang, bagaimana kita akan dapat keluar dari lubang tikus ini ? Ingat, selama kita belum dapat meninggalkan pulau ini, belum berarti bahwa kita berhasil."
"Engkau benar, cici. Lebih baik kita mengam-bil jalan lewat taman itu. Andaikata kita ketahuan, lebih baik kita melayani musuh di tempat terbuka dari pada di dalam terowongan ini. Kalau mereka menutup saja pintu rahasia terowongan ini, berarti kita akan terkubur hidup - hidup dan menjadi san-tapan tikus - tikus menjijikkan itu !''
Membayangkan ini, Pek Lian sendiri bergidik. "Marilah, Eng - moi !'"

Diingatkan tentang tikus-tikus itu, kedua orang dara ini lalu bersicepat me-nuju ke daun pintu yang berada di akhir terowong-an kiri. Mereka membuka daun pintu dan ternyata para wanita cantik tadi sudah selesai mandi dan ti-dak ada orangnya dan di situ mereka melihat ba-nyak pakaian wanita yang indah - indah. Kiranya itu adalah sebuah kamar pakaian yang serba leng-kap.

"Adik Eng, aku mempunyai gagasan baik. Ba-gaimana kalau kita menyamar saja sebagai seorang di antara wanita-wanita itu? Dengan demikian, setidaknya memudahkan kita untuk mencari jalan keluar."
"Bagus, enci Lian. Gagasanmu itu baik sekali!" kata Siok Eng sambil tertawa girang. Keduanya lalu memilih pakaian yang cocok untuk ukuran tu-buh mereka dan sambil cekikikan seperti dua orang anak nakal, mereka lalu berdandan. Dan karena keduanya memang cantik jelita, tentu saja setelah berdandan, mereka nampak makin menarik sehing-ga keduanya saling memuji.

"Wah, adik Eng, kalau melihat engkau, agak-nya wanita - wanita itu takkan terpakai lagi oleh majikan pulau ! Engkau cantik seperti bidadari!"

"Aih, tidak menang dibandingkan denganmu, enci. Pakaian itu pantas benar kaupakai!"
Akan tetapi, tiba - tiba mereka waspada dan sa-ling pandang ketika ada langkah kaki menuju ke kamar itu. Pek Lian berkedip, lalu ia membuka pintu dan dengan suara berwibawa menegur, "Sia-pa berani menganggu kami?"

Kiranya yang datang adalah seorang penjaga dan dibentak demikian, dia kelihatan ketakutan dan cepat menjatuhkan dirinya berlutut.

"Maaf, saya tidak tahu bahwa ji - wi (kalian berdua) berada di sini. Saya diperintahkan oleh tocu (majikan pulau) untuk minta kepada dua orang hujin dari puri ini sebagai wakil para hujin lain untuk mene-rima tamu."
Pek Lian mengerutkan alisnya. Sebagai seorang pemimpin ia memiliki kecerdikan dan ia sudah da-pat menduga apa yang terjadi, maka iapun meng-ambil sikap angkuh dan bertanya dengan lagak seorang nyonya besar bertanya kepada pelayannya.

"Masa hanya kami berdua ? Siapakah tamu - tamunya ?"
"Bukan hanya ji - wi hujin (kedua nyonya) yang diharapkan hadir. Setiap puri diwakili oleh dua orang, jadi dari empat puri berjumlah delapan orang. Adapun yang menjadi tamu - tamunya ba-nyak sekali. Ada orang - orang Mongol, ada orang-orang kang - ouw, dan ada seorang datuk dari utara bersama murid-muridnya. Delapan orang hujin dari empat puri diminta mengatur dan mengepalai para pelayan untuk menghormat para tamu."
Karena penjaga itu bicara sambil berlutut maka dua orang dara itu sempat untuk saling pandang dan Siok Eng memberi tanda setuju dengan meng-angguk sedikit kepada temannya. Mereka tidak mempunyai pilihan lain. Menolak berarti membu ka rahasia. Mereka akan menerima saja dan nanti akan dicari jalan terbaik kalau sudah tiba saatnya yang gawat. Apa lagi mendengar nama julukan da-tuk utara itu, membuat hati Pek Lian tertarik.
"Apakah kaumaksudkan datuk utara itu adalah Yap - lojin ketua Thian - kiam - pang ?" tanyanya.

Pertanyaan yang tepat ini tidak mengherankan hati si penjaga. Sebagai isteri atau selir majikan-nya, tidak aneh kalau wanita cantik ini tahu akan nama tokoh - tokoh dunia persilatan. Maka diapun mengangguk. "Benar dugaan hujin yang mulia."
Tentu saja Pek Lian menjadi girang bukan main. Bagaimanapun juga, Yap - lojin adalah seorang pendekar besar dan hal ini dapat diartikan bahwa mereka berdua mempunyai seorang kawan dalam sarang iblis ini. Apa lagi kalau Yap Kiong Lee, murid utama atau putera angkat Yap - lojin berada di situ. Pemuda perkasa itu sudah pasti tidak akan membiarkan ia dan Siok Eng celaka dan bantuan-nya sangat boleh diharapkan dan diandalkan. Be-sarlah hati Pek Lian mendengar bahwa Yap - lojin dan murid - muridnya, para pendekar Thian - kiam-pang itu, berada pula di pulau iblis ini.
Dua orang dara itu lalu mengikuti si pengawal dan akhirnya terkumpul delapan orang "nyonya" bersama mereka. Tentu saja para selir itu meman-dang kepada mereka dengan heran karena tidak mengenal mereka. Akan tetapi, karena mereka menghadapi tugas penting dan mereka sudah ter-biasa dengan adanya muka - muka baru di kalang-an mereka, yaitu selir - selir baru yang diambil oleh Tikus Beracun, merekapun tidak banyak bertanya, hanya memandang dengan alis berkerut seperti pandang mata seorang wanita terhadap madu baru yang dianggap saingan. Dengan iringan pengawal, mereka lalu menuju ke pendapa di mana telah ber-kumpul para tamu. Karena pakaian mereka serupa, maka kehadiran dua orang dara di antara para selir ini tidak terlalu menyolok dan sekelebatan mereka itu tidak ada bedanya dengan yang lain.
Di ruangan pendapa itu terdapat lebih dari li-mapuluh orang tamu. Dengan bantuan pelayan-pelayan yang juga cantik - cantik akan tetapi pakaian mereka lebih sederhana, delapan orang selir ini lalu melayani para tamu, menyuguhkan hidang-an-hidangan dan minuman-minuman. Pek Lian mencari - cari dengan pandang matanya dan akhir-nya ia menemukan orang yang dicarinya. Mereka duduk di deretan depan. Seorang kakek yang usia-nya sudah tujuhpuluhan tahun, berpakaian putih-putih dengan jenggot putih panjang, sikapnya ga-gah. Di sebelahnya duduk seorang pemuda perkasa berusia tigapuluh tahun lebih, juga mengenakan pakaian serba putih dengan pedang di punggung. Di sebelah kiri kakek itu duduk seorang gadis yang luar biasa cantik jelitanya, berpakaian hitam dari sutera sehingga kulit leher dan tangannya nampak semakin putih mulus. Hampir semua mata para tamu pria, baik tua maupun muda, tiada hentinya mengerling ke arah gadis yang luar biasa cantiknya ini.
Melihat tiga orang ini, Pek Lian hampir berte-riak kegirangan. Tidak saja ia mengenal Yap - lojin dan Yap Kiong Lee, akan tetapi juga ia mengenal gadis berpakaian sutera hitam itu karena gadis itu bukan lain adalah Bu Bwee Hong atau lebih tepat lagi bermarga Chu, karena gadis ini adalah anak kandung dari Pangeran Chu Sin! Di samping rasa girang yang luar biasa melihat bekas teman seper-jalanan ini ternyata masih hidup, juga timbul rasa herannya bagaimana gadis yang terbawa hanyut oleh gelombang lautan dan terpisah darinya itu tahu-tahu berada di situ bersama Yap - lojin ketua Thian - kiam - pang dan murid pertamanya.
Juga Siok Eng merasa girang bukan main ketika ia mengenal Bwee Hong, puteri dari keluarga Bu yang telah menolongnya, bahkan telah menyelamat-kan nyawanya dengan pengorbanan nyawa suami isteri Bu dan terbukanya putera mereka, kakak dari Bwee Hong. Akan tetapi, tiga orang itu sama se-kali tidak mengenal Pek Lian dan Siok Eng yang tidak mudah dibedakan dari selir - selir tuan rumah yang lain. Baru setelah Pek Lian melayani meja mereka dan sengaja menginjak kaki Bwee Hong, nona cantik jelita ini mengangkat muka meman-dang dan sinar mata mereka bertemu. Pek Lian berkedip dan memberi isyarat kepada Bwee Hong agar tidak mengeluarkan suara. Bwee Hong terkejut dan girang bukan main ketika mengenal Pek Lian, akan tetapi melihat isyarat itu, ia tidak berani ber-kata sesuatu, hanya memandang bengong. Apa lagi ketika Bwee Hong mengenal pula Siok Eng sebagai gadis Tai - bong - pai yang pernah diobati oleh ayah bundanya, ia terheran - heran dan juga amat girang.
"Enci, kalian bertiga harus menelan pel ini un-tuk menjaga diri terhadap racun," bisik Siok Eng sambil memberikan tiga butir pel kepada Bwee Hong, akan tetapi gadis cantik jelita itu tersenyum.

"Jangan khawatir, adik yang baik. Kami telah minum obat penawar racun," jawabnya dengan bisikan lirih. Siok Eng mengangguk dan iapun mera-sa tenang karena ia percaya bahwa nona cantik ini adalah puteri seorang datuk yang menjadi keturun-an Sin-yok-ong, Si Raja Tabib Sakti. Tentu saja dara ini seorang ahli pengobatan yang tidak takut akan segala macam racun !
Adapun Yap - lojin dan putera angkatnya yang belum begitu akrab dengan Pek Liari, tidak menge-nal nona ini. Baru setelah Bwee Hong berbisik-bisik kepada ketua Thian - kiam - pang itu, Yap-lojin mengerutkan alisnya. Dia teringat kepada ga-dis yang menjadi tawanan isterinya, Siang Houw Nio - nio. Akan tetapi dia diam saja, hanya merasa heran apa lagi yang dikerjakan oleh gadis pembe-rani itu di tempat seperti ini.
Pek Lian dan Siok Eng juga tidak sempat bica-ra dengan Bwee Hong karena pada saat itu mun-cul tuan runyah, yaitu Tikus Beracun Bumi! Para tamu bangkit dani tempat duduk mereka untuk menghormati tuan rumah yang terkenal sebagai datuk pertama dari Tujuh Iblis Ban - kwi - to ! Ka-rena para tamu bangkit berdiri, Siok Eng dan Pek Lian merasa aman, mereka tertutup oleh para tamu sehingga tuan rumah yang bertubuh pendek kecil itu tidak dapat melihat mereka.
Te - tok - ci atau Tikus Beracun Bumi itu ter-nyata memliliki tubuh yang sama sekali tidak serem seperti namanya. Kakek ini usianya sekitar enam-puluh lima tahun, tubuhnya pendek kecil nampak lemah, mengenakan pakaian mewah seperti seorang bangsawan saja. Mukanya kecil sempit dan pan-jang ke muka, memang dari samping wajahnya me-miliki bentuk seperti muka tikus. Di sebelah kanan-nya berjalan laki- laki berusia tigapuluh tahun le-bih yang juga bertubuh kecil pendek. Itulah Siauw - thian - ci, putera tunggal Tikus Beracun Bumi, yaitu pria kecil pendek kejam, yang pernah dilihat oleh Pek Lian dan Siok Eng di dalam tero-wongan bawah tanah itu.
Setelah tiba di tempat duduk yang dipersiapkan untuknya, yaitu di antara kursi para tamu kehor-matan, tuan rumah yang pendek ini lalu berdiri di atas tangga, menjura ke empat penjuru dan suara-nya lantang ditujukan kepada semua tamu yang bangkit berdiri ketika dia datang.
"Cu - wi sekalian, selamat datang dan silahkan duduk ! Semua dipersilahkan untuk menikmati hi-dangan yang kami suguhkan !"
Setelah berkata demikian dia bersama Siauw-thian - ci duduk menghadapi meja yang penuh hi-dangan, kemudian tanpa banyak cakap lagi ayah dan anak ini lalu makan minum dengan lahapnya, sama sekali tidak memperdulikan kanan kiri lagi! Dan lucunya, biarpun di atas semua meja tamu te-lah tersedia hidangan yang nampaknya lezat dan mewah, namun tidak ada seorangpun yang berani menyentuhnya, apa lagi makan ! Hal inipun tidak mengherankan, karena siapakah yang akan berani menyentuh hidangan yang disuguhkan oleh datuk sesat ahli racun yang paling kejam dan berbahaya di dunia ini ? Selain itu, agaknya para tamu yang sebagian besar terdiri dari tokoh - tokoh sesat itu memang sudah tahu akan adegan yang sudah diatur ini dan agaknya sikap tuan rumah itu memang ditu-jukan kepada para tamu yang bukan segolongan dengan mereka, terutama sekali ditujukan kepada ketua Thian - kiam - pang. Maka, para tokoh sesat yang hadir hanya tersenyum - senyum saja menon-ton pertunjukan yang mereka anggap sebagai lelu-con yang menarik. Mereka tersenyum - senyum geli dan gembira melihat aksi Te - tok - ci dan Siauw-thian - ci.
Akan tetapi, bagi manusia sopan pada umum-nya, aksi ayah dan anak itu sungguh memuakkan, menjijikkan dan juga memanaskan perut! Mana ada pihak tuan rumah makan minum seenak perut-nya sendiri tanpa memperdulikan para tamu, bah-kan mereka makan minum dengan lahap, berdahak dan kadang-kadang meludahkan tulang-tulang ikan ke kanan kiri. Setengah jam lamanya para ta-mu disuguhi tontonan ini dan seperti orang baru tahu bahwa para tamu tidak ada yang makan hi-dangan di atas meja depan mereka, terdengar Te-tok-ci tertawa dan bicara dengan puteranya.

"Ha - ha - ha, dunia penuh penakut dan penge-cut, anakku yang gagah ! Lihat, tidak ada yang berani menyentuh hidangan di atas meja. He-hehe, siapa yang makan minum hidangan itu dan tidak mampus mendadak, aku sungguh kagum padanya dan akan kuangkat saudara!"
Ucapan ini sungguh merupakan ejekan menghi-na yang sepatutnya hanya diucapkan orang gila. Seorang tamu yang usianya baru tigapuluh tahun lebih dan berwatak berangasan, dari golongan se-sat yang agaknya belum paham akan sikap tuan rumah dan. dia merasa tersinggung, bangkit dari tempat duduknya. Dia tidak berani menentang tuan rumah, akan tetapi merasa tidak senang de-ngan sikap itu dan diapun melangkah pergi hendak meninggalkan ruangan itu. Akan tetapi, beberapa orang pengawal, anak buah Si Tikus Beracun, su-dah menghadangnya dengan tombak melintang.
"Sicu hendak pergi ke mana ? Sebelum to - cu selesai makan minum, tidak ada yang boleh pergi kecuali seijin to - cu !"
"Apa ?" Laki - laki bermuka hitam itu melotot.

"Aku Tiat - pi Hek - kwi (Setan Hitam Lengan Be-si), datang dan pergi tidak pernah diatur orang lain. Aturan gila mana ini ?" Dia hendak memaksa pergi dan ketika tiga orang pengawal itu tetap mengha-dang, dia menggunakan kedua lengannya untuk mendorong dan tiga orang pengawal itupun ter-jengkang. Ternyata Setan Hitam Lengan Besi ini memang memiliki sepasang lengan yang kuat sekali.

Si Tikus Beracun yang sedang asik makan mi-num itu menoleh dan sepasang matanya yang kecil itu menyipit, akan tetapi mengeluarkan sinar ber-kilat. Marahlah dia melihat ada orang berani ber-sikap menentangnya.
"Cuhh !" Dia meludah ke atas lantai yang sudah, kotor dengan ludah dan tulang-tulang ikan itu.

"Bunuh orang itu !" teriaknya bengis.
Tiga orang kepala pengawal berloncatan datang dan mereka memegang alat semprotan dari bambu. Begitu mereka menggerakkan alat itu, ada benda cair yang amat lembut dan beruap menyambar ke arah Si Setan Hitam dari tiga jurusan. Tentu saja orang itu berusaha mengelak dan mtelawan, namun begitu uap mengenai tubuhnya, dia menjerit kesa-kitan. Kulit tubuhnya dan pakaian yang terkena uap itu hancur dan melepuh, seperti terbakar dan orang itupun tak dapat menahan lagi rasa nyerinya. Dia terguling dan berkelojotan di atas lantai, seka-rat dan tewas seketika!
Semua tamu memandang dengan muka pucat dan mereka bergidik. Akan tetapi, Yap - lojin ketua Thian - kiam - pang yang melihat ini menjadi marah sekali. Mukanya berobah merah dan diapun bang-kit berdiri, diikuti oleh Yap Kiong Lee dan Chu Bwee Hong. Bagaimanapun juga, sebagai seorang tamu Yap - lojin tidak sudi mencampuri urusan orang, apa lagi urusan antara Setan Hitam dan tu-an rumah yang keduanya adalah orang - orang go-longan sesat. Dengan sikap hormat namun gagah.

Yap - lojin menjura ke arah Tikus Beracun dan suaranya terdengar lantang.

"Te - tok - ci, aku datang ke sini untuk berjumpa dengan seorang di antara penghuni Ban - kwi - to, yaitu Thian - te Tok - ong atau yang juga dikenal sebagai Ceng - ya - kang. Aku ingin bertanya kepa-danya tentang puteraku!"

Yang ditanyakan Yap - lojin adalah tokoh ke li-ma dari Tujuh Iblis Ban - kwi - to. yaitu si gendut pendek yang berjuluk Thian - te Tok - ong (Raja Racun Bumi Langit) atau juga terkenal dengan se-butan Ceng - ya - kang (Kelabang Hijau) karena dia suka mengumpulkan kelabang beracun. Seperti te-lah diceritakan di bagian depan, tokoh sesat ini nampak gulang - gulung dengan Yap Kim, putera kandung Yap Cu Kiat atau Yap - lojin itu yang kini lenyap dan sedang dicari oleh ayahnya dan suhengnya.
Tentu saja Tikus Beracun sudah tahu akan hal ini dan memang sejak tadi semua adegan yang di-suguhkan di situ hanya untuk memancing keturunan datuk utara ini. Sekarang, melihat tamu yang di-anggap musuh besar ini sudah bangkit dan menge-luarkan suara, pihak tuan rumah menemukan alasan untuk turun tangan, seperti yang telah dilakukan-nya terhadap Setan Hitam tadi.
Pada saat itu, mulut Si Tikus Beracun penuh makanan. Dia mengangkat muka memandang ke arah Yap - lojin, lalu dia memuntahkan makanan itu ke atas lantai dan menudingkan telunjuknya ke-arah kakek itu sambil membentak, "Bunuh juga orang itu ! !"
Tiga orang kepala pengawal itu sudah mengu-rung Yap - lojin dan dua orang muda itu, kemudian tanpa menanti perintah kedua kalinya lagi, tiga o-rang yang memang mempunyai hobby membunuh orang itu menyemprotkan alat semprot mereka yang mengandung racun amat jahat itu. Akan teta-pi, karena tadi mereka sudah menjaga diri dengan minum obat penolak racun yang diberikan oleh Bwee Hong, mereka tidak takut terhadap racun itu, dan untuk menjaga pakaian mereka, tiga orang ini lalu menggerakkan kedua tangan dikibaskan ke depan. Bahkan Yap Kiong Lee sudah mengerahkan tenaga Thian-hui Khong-ciang yang luar biasa, itu, yang menjadi ilmu keturunan dari datuk utara Sin-kun Bu-tek. Akibatnya luar biasa hebatnya karena tiga orang itu terjengkang dan tidak dapat bangkit kembali, napas mereka empas - empis dan muka mereka pucat, tubuh terasa lumpuh kehilang-an tenaga!
Gegerlah ruangan itu ketika para anak buah Ti-kus Beracun maju mengeroyok. Bahkan Tikus Be-racun sudah berteriak-teriak minta bantuan para tamu. Para tamu yang sebagian besar adalah tokoh-tokoh kaum sesat itu dan menjadi sekutu Tujuh Iblis Ban - kwi - to tentu saja berpihak kepada Ti-kus Beracun dan terjadilah pengeroyokan atas diri tiga orang itu. Namun, mereka bukanlah orang-orang sembarangan ! Nona Chu Bwee Hong adalah keturunan dari datuk selatan Sin-yok-ong yang memiliki ilmu silat luar biasa tingginya. Yap - lojin adalah ketua Thian - kiam - pang yang merupakan keturunan datuk utara Sin-kun Bu-tek yang amat lihai, sedangkan Yap Kiong Lee, murid utama atau putera angkatnya, telah sedemikian maju dalam ilmunya sehingga tidak jauh selisihnya dengan ilmu kakek itu sendiri! Inilah sebabnya yang membuat para orang sesat itu seperti air bah membentur batu karang yang kokoh kuat. Bwee Hong mengan-dalkan ginkangnya yang istimewa. Tubuhnya ber-kelebatan seperti terbang saja di antara pengero-yokan banyak orang. Tidak ada sebuahpun senja-ta mampu menyentuhnya dan ia membagi-bagi pukulan dan tendangan secepat kilat. Dengan gin-kang keturunan datuk selatan Sin - yok - ong yang luar biasa, yaitu yang dinamakan Pek - in Gin-kang (Ilmu Meringankan Tubuh Awan Putih), tubuhnya berkelebatan seperti kilat dan Ilmu Silat Kim-hong-kun (Silat Burung Hong Emas) membingungkan para pengeroyoknya.
Yap - lojin bersikap tenang - tenang saja meng-hadapi semua pengeroyokan. Kakek ini hanya menggerak - gerakkan kedua lengannya dan ujung jubahnya yang lebar itu mendatangkan angin keras, membuat para pengeroyoknya terpelanting atau terdorong mundur. Akan tetapi, sepak terjang Yap
Kiong Lee lebih hebat lagi. Pemuda ini mengamuk dan kedua tangannya bergetar menimbulkan suara gemuruh seperti angin ribut. Itulah Hong-i Sin-kun (Ilmu Silat Sakti Angin Badai) yang hebat, d: sertai penggunaan tenaga sakti Thian-hui Khong-ciang yang mengeluarkan suara ledakan seperti pe-tir dan menghancurkan benda - benda di sekitar-nya. Semua orang terkejut ketakutan dan menjauh-kan diri, tidak kuat menahan pukulan - pukulan sakti ketiga orang itu. Semua orang menjadi kagum sekali, bahkan si kakek Yap - lojin juga diam - diam amat kagum terhadap murid ini.
"Kiong Lee, engkau cari adikmu, biar kuhadapi tikus - tikus ini!" kata Yap - lolin yang menduga bahwa tentu puteranya, Yap Kim, disembunyikan di pulau itu.

"Baik, suhu !" kata Kiong Lee yang sudah mulai membuka jalan dengan menghambur-hamburkan pukulan saktinya ke kiri untuk keluar dari kepungan.

Akan tetapi tiba-tiba Pek Lian berteriak, "Locianpwe, puteramu tidak berada di sini. Mari ikut dengan kami!"
Karena teriakan ini, Kiong Lee meragu dan tidak jadi keluar dari kepungan, dan sebaliknya, Pek Lian dan Siok Eng ketahuan dan dikeroyok pula. Karena ingin mencari kawan, Pek Lian dan Siok Eng mengamuk dan mendekati Yap - loiin bertiga sehingga kini mereka berlima mengamuk dan me-robohkan banyak pengeroyok yang berani menye-rang terlalu dekat. Melihat kehebatan lima orang musuh ini, Tikus Beracun dan puteranya menjadi marah. Mereka sibuk berteriak - teriak memberi komando kepada para pengawal.

"Semprotkan darah maut!"

"Taburkan bubuk pencabut nyawa!"

"Bakar dupa setan sebanyaknya !"

"Serang dengan jarum kalajengking!"

Para pengawal sibuk melaksanakan perintah-perintah ini, namun karena lima orang itu semua telah melumuri tubuh dengan obat anti racun, juga sudah menelan obat mujijat dari Raja Obat Sakti atau juga terkenal dengan julukan Tabib Sakti, se-dangkan Pek Lian dan Siok Eng telah dilindungi obat anti racun dari Tai - bong - pai, maka semua racun yang mengerikan itu tidak dapat melukai me-reka. Apa lagi dengan ilmu silat mereka yang amat hebat itu, semua senjata dan racun dapat ditolak dan yang celaka bahkan para tamu yang ikut me-ngeroyok. Yang terkena racun - racun itu berjatuh-an dan berkelojotan sekarat dan tewas seketika da-lam keadaan amat mengerikan.
Melihat kehebatan lawan, Tikus Beracun dan puteranya lalu tiba - tiba menghilang. Mereka hen-dak mempersiapkan diri untuk menjebak musuh-musuh yang amat tangguh itu agar terperosok ke dalam terowongan rahasia mereka karena mereka maklum bahwa menghadapi mereka takkan mungkin menang kalau hanya mengandalkan ilmu silat dan pengeroyokan.

Bersambung

Darah Pendekar 21                                                            Darah Pendekar 23