Rabu, 15 Mei 2013

DARAH PENDEKAR 21

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Bab 21
"Biasanya orang bersamadhi sebaiknya memi-lih tempat di mana hawa udaranya bersih dan te-nang, akan tetapi mengapa justeru engkau meng-gunakan begitu banyak dupa yang asapnya dapat menyesakkan pemapasan ?"
Siok Eng tersenyum mendengar ucapan itu. "Enci yang baik, hio - hio yang kubakar ini adalah dupa khusus buatan kami kaum Tai - bong - pai. Setiap batang hio mengandung sari obat penguat urat-urat dan jalan darah. Siapa saja dari kami yang mulai mempelajari sinkang perguruan Tai-bong - pai akan menggunakan dupa - dupa itu se-bagai landasan atau dasar dari ilmu kami yaitu Tenaga Sakti Asap Hio yang membuat badan dan keringat kami berbau harum seperti hio."
Diam - diam Pek Lian bergidik. Keringat yang berbau harum seperti hio mengingatkan orang akan iblis dan siluman. Hanya iblis dan siluman sajalah agaknya yang keringatnya berbau hio. Akan tetapi tentu saja ia tidak menyatakan isi hati itu melalui mulut. "Sudah lamakah engkau melatih ilmu ra-hasia khusus Tai - bong - pai ?"
"Tentu saja sejak aku masih kecil. Akan tetapi ilmu - ilmu yang sukar hanya dapat dipelajari se-telah dewasa."
Pek Lian mengangguk-angguk dan meman-dang kagum. "Hemm, engkau tentu sekarang telah menjadi lihai bukan main."
Siok Eng menggeleng kepala dan berkata me-rendah, "Masih belum, enci Lian. Aku masih ha-rus dapat menembus pintu Kim - nauw - niat di ubun - ubun itu, baru ada kemungkinan aku berha-sil baik."
Seorang dayang kepercayaan yang sejak tadi mendengarkan percakapan itu dan melihat betapa nonanya selalu merendah, menjadi tidak sabar. "Nona kami memang pandai merendah! Sebenar-nya nona kami adalah nomor tiga tingkat kepandaiannya di dalam perguruan kami. Nomor satu tentu saja adalah pangcu (ketua), kemudian nomor dua adalah siauw - ya (tuan muda) yaitu kakak dari nona kami, dan nomor tiga adalah nona Kwa Siok Eng. Toa - hujin saja kalah oleh nona !"
Mendengar ini, Siok Eng hanya mendengus dan menyuruh dayangnya berhenti bicara sedangkan Pek Lian mendengar dengan hati penuh kagum. Ia pernah melihat betapa ibu nona ini memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa lihainya. Jadi, kalau Siok Eng sudah dapat melampaui ibunya, maka sukar dibayangkan betapa hebatnya ilmu kepan-daian nona remaja ini! Padahal, Siok Eng kelihatan begitu lemah lembut dan halus.
Malam itu gelap. Bulan tua belum lama mun-cul di langit timur, hanya memberi cahaya yang remang - remang. Akan tetapi banyak bintang ber-munculan di angkasa. Setiap kali angkasa tiada bidan atau yang ada hanya bulan sepotong yang remang - remang, pasti bintang - bintang bermun-culan. Dua orang gadis itu berada di atas geladak perahu dan melihat - lihat bintang yang memang nampak cemerlang indah seperti ratna mutu ma-nikam yang menghias langit - langit beludru hitam kebiruan yang lembut dan maha luas.
"Di manakah adanya Pulau Selaksa Setan itu, Eng-moi? Apakah masih jauh dari sini?" tanya Pek Lian. Ia sendiri merasa heran mengapa ia kini betah tinggal di sebuah perahu. Pelayaran ini tera-
sa indah dan menyenangkan baginya, mungkin hal ini karena baru saja ia mengalami pelayaran yang penuh bahaya dan sama sekali tidak menyenang-kan hatinya. Kini ia merasa begitu aman tenteram dan penuh damai di perahu milik Tai - bong - pai itu. Apa lagi di situ terdapat Siok Eng yang amat ramah dan halus budi.
"Entahlah, enci Lian. Kami sendiri belum per-nah melihatnya. Akan tetapi aku telah mempela-jari keadaan pulau itu dari keterangan yang dapat kukumpulkan. Menurut penyelidikanku itu, Pulau Selaksa Setan tidak nampak dari jauh karena se-lalu diliputi kabut tebal sehingga sukarlah dite-mukan dan orang luar tidak dapat melihat keada-annya. Mungkin sekali kabut itu tercipta dari ha-wa beracun yang memenuhi pulau itu. Kabar-nya, semua benda, binatang, tumbuh - tumbuhan dan apa saja yang berada di sana mengandung ra-cun. Juga kabarnya, menurut para nelayan yang pernah melihatnya, pulau itu dapat berpindah-pin-dah, mengikuti arus air laut."
"Ih, kenapa bisa begitu ?" Pek Lian bertanya heran mendengar ada pulau yang bisa pindah-pindah.

"Itulah sebabnya maka pulau itu dinamakan Pulau Selaksa Setan," kata Siok Eng sambil terse-nyum.

"Bukan hanya karena beracun, melainkan juga karena dapat berpindah-pindah seolah-olah ada setan - setan yang mendorong pulau itu pin-dah tempat."
"Tapi tapi, mana mungkin dongeng tahyul seperti itu dapat terjadi sungguh - sungguh ?"

"Aku sendiri tidak percaya ada setan mendo-rong - dorong pulau, enci Lian. Akan tetapi, an-daikata benar terjadi pulau itu pindah - pindah tempat, ada kemungkinannya. Mungkin saja tanah dari pulau itu di bagian bawahnya tidak menjadi satu dengan dasar laut, hanya menempel saja. De-ngan demikian, apa bila ada terjadi arus yang kuat, bukan tak boleh jadi pulau itu tergeser dari tempatnya. Bukankah kemungkinan itu besar dan masuk akal, enci Lian ?"

Pek Lian memandang kagum. "Adik Eng, eng-kau sungguh membuat hatiku kagum. Engkau pandai dan cerdik, lihai ilmu silatmu dan cantik jelita lagi. Alangkah bahagianya pemuda yang da-pat menyuntingmu kelak. Dan aku yakin sebentar lagi ilmumu akan melebihi ayahmu."
"Aihh, cici pandai benar memuji orang! Siapa pula sudi mengawini gadis yang pernah lum-puh sepertiku ini ?" Siok Eng berkata dengan mu-ka kemerahan. Akan tetapi di sudut hatinya ia bergembira sekali. Terbayang di matanya wajah seorang pemuda yang jangkung dan tampan sekali, pemuda yang pernah menyelamatkannya, bahkan yang hampir saja mengorbankan nyawanya sendiri demi penyakit lumpuh yang dideritanya. Pemuda itu mengobati dirinya yang waktu itu dalam kea-daan telanjang bulat. Seorang pemuda yang tam-pan, gagah perkasa, dan berbudi. Bu Seng Kun! Hatinya ingin sekali bertemu dengan pemuda itu, untuk menyatakan rasa terima kasihnya. Akan te-tapi, apa bila ia teringat bahwa ia pernah bertelan-jang di depan pemuda itu, ia merasa malu sekali dan sukar untuk membayangkan bagaimana ia akan dapat berhadapan muka dengan pemuda itu.
"Heii, itu di sana ada ikan besar terapung! Tu-kang dayung! Tangkaplah ikan itu, kita adakan pesta besar malam ini!" Tiba - tiba terdengar se-man seorang dayang yang menudingkan telunjuk-nya ke sebelah kanan perahu mereka.
Sibuklah anak buah perahu itu menangkap ikan yang besarnya seperti manusia dewasa itu. Ikan meronta - ronta dalam jala. Dua orang gadis itu cepat mendekati dan memeriksa ikan yang dari ja-uh nampak kebiruan itu. Dan memang benar. Ikan itu segala-galanya berwarna biru. Sisiknya, ma-tanya, dagingnya dan segalanya.

"Awas, lepaskan dia! Ikan itu beracun!" kata Siok Eng dan mereka lalu, melepaskan kembali ikan itu yang segera menyelam ke dalam air.

"Ah, kita sudah dekat dengan daerah Ban - kwi - to ! Agak-nya tidak sia - sia jerih payah kita berlayar sekian lamanya.

Ikan itu menurut keterangan adalah satu di antara penghuni perairan di sekitar pulau. Kulihat tadi dia terluka di bagian kepalanya, maka tersesat ke sini." Siok Eng lalu memanggil seorang pembantunya yang ahli dalam memeriksa arus ge-lombang. Kakek setengah tua yang juga menjadi kepala bagian pendayung itu mengadakan peme-riksaan dengan teliti.

Dia lalu menunjukkan arah arus air yang menuju ke kiri. Sementara itu, bu-lan tua sudah naik semakin tinggi. Perahu mereka terus dilajukan ke arah kiri dan semua orang ber-sikap tegang namun waspada karena nona mereka sudah mengatakan bahwa mereka telah berada de-kat dengan tempat yang mereka cari.

"Nona, lihatlah! Air laut ini warnanya keme-rahan seperti darah !" kata seorang dayang.
"Dan baunya busuk sekali!" kata Pek Lian yang juga berada di tepi geladak perahu bersama Siok Eng.

Siok Eng juga meneliti ke arah air dan cuping hidungnya yang tipis itu berkembang - kempis. Ti-ba - tiba ia berkata, suaranya mengandung kete-gangan dan kegembiraan,

"Hati - hati, agaknya daerah ini sudah termasuk perairan Ban - kwi - to. Air laut di sini sudah beracun. Tutup hidung kali-an dengan saputangan, udaranya juga mengan dung racun. Nanti kuberi obat penawar."

Setelah nona itu mengeluarkan obat penawar berupa pel - pel putih kecil yang dibagi - bagikan kepada anak buahnya, juga Pek Lian disuruh me-nelan sebutir, mereka tidak perlu lagi melindungi pernapasan dengan saputangan. Akan tetapi karena bau air laut amat busuk, para dayang itu ber-bangkis - bangkis dan ada yang mau muntah.
Pek Lian bergidik ngeri. Sukar untuk dapat membayangkan bagaimana ada manusia dapat hi-dup di tempat seperti ini. Dan iapun semakin ka-gum kepada Siok Eng. Ia tahu bahwa kaum Tai-bong - pai adalah ahli - ahli racun, akan tetapi me-lihat seorang dara remaja seperti Siok Eng bersikap sedemikian tenangnya menghadapi tempat yang amat berbahaya itu, ia merasa kagum sekali. Ha-tinya terasa besar dan gembira untuk menghadapi petualangan bersama seorang kawan seperti puteri ketua Tai - bong - pai ini.

Makin dalam mereka memasuki daerah itu, makin keras bau busuk dari air laut merah. Akan tetapi tiba - tiba saja mereka telah melewati air berbau busuk itu, akan tetapi sebagai gantinya, airnya kini berobah kehijauan dan baunya juga amat kecut, seperti bau keringat yang sudah lama.

"Ihh, seperti bau keringatmu, A - cin !' seorang dayang berolok kepada temannya.
"Sialan ! Keringatku tidak bau seperti ini, A-cui. Keringat seperti ini hanya patut dimiliki oleh laki-laki !"

"Hi - hik, ketahuan sekarang! Si A - cin agaknya sudah hafal akan bau keringat laki - laki!" seorang dayang lain menggoda.

"Tentu keringat pacarnya seperti ini baunya. Wahhhh I"
"Lancang mulut! Kalau keringat pacarku se-perti ini baunya, dalam waktu sehari saja mana aku kuat ?" kata pula A - cin dan semua dayang tertawa. Pek Lian ikut tersenyum. Para dayang itu agaknya, sebagai orang - orang Tai - bong - pai, juga memiliki nyali yang besar sehingga di tempat seperti itu masih sempat berkelakar. Memang bau air laut amat kecut, mirip bau keringat.

"Hei, kalian tenanglah!" tiba-tiba Siok Eng berkata.

"Dan simpan kelakar kalian itu. Ketahui-lah, kita sudah dekat! Ayah pernah bercerita bah-wa air laut yang merah berbau busuk itu merupa-kan perbatasan, dan kalau sudah tiba di daerah air laut kehijauan yang berbau masam, itu tanda-nya bahwa pulau itu akan kelihatan. Kita perhati-kan saja, menurut ayah air laut akan berobah lagi kebiruan dan bau kecut itu akan terganti bau wa-ngi dan pulau itu tentu akan kelihatan di depan kita."
Semua orang termasuk Pek Lian, kini dengan serius memperhatikan keadaan sekeliling. Dan memang benar seperti yang dikatakan oleh Siok Eng tadi, air laut makin lama makin berobah warna menjadi kebiruan dan bau yang masam tadi mulai berobah dengan bau yang wangi, wangi yang aneh seperti sari seribu bunga bercampur bau manis. Dan perlahan-lahan, di antara kabut yang masih remang-remang, nampaklah garis-garis daratan pulau. Tentu saja semua orang me-mandang dengan hati penuh ketegangan karena mereka semua tahu bahwa sebentar lagi mereka akan tiba di tempat yang penuh bahaya. Pulau Selaksa Setan terkenal sebagai pulau terlarang ba-gi orang luar dan kabarnya, siapapun juga tidak berani masuk karena siapa yang masuk tentu tidak akan dapat keluar kembali dalam keadaan hidup-hidup ! Anak buah Tai - bong - pai memang pem-berani, apa lagi mereka itu mengiringkan nona me-reka yang mereka percaya penuh sebagai orang yang memiliki kepandaian luar biasa tingginya.

Memang Siok Eng amat mengagumkan. Biar-pun usianya baru tujuhbelas tahun, masih remaja, namun" sikapnya sudah dewasa. Ia bersikap tenang dan berwibawa sebagai seorang yang bertingkat tinggi. Dengan hati - hati ia membagi - bagikan pel pencegah keracunan kepada semua orang, terma-suk Pek Lian. Ada pel anti hawa beracun, pel anti tanaman beracun, berikut minyak pelumurnya un-tuk mengobati luka - luka yang terkena racun. Ia-pun memimpin pendaratan perahu mereka, memi-lih tempat yang agak menonjol ke depan yang di-tumbuhi pohon - pohon rindang sehingga ketika mereka mendarat, mereka terlindung oleh pohon-pohon itu.

Waktu itu, tengah malam telah lewat. Bulan tua itu tidak mampu menembusi daun - daun pohon yang rimbun sehingga tempat itu nampak gelap, sunyi dan menakutkan. Di dalam kesunyian itu seperti terasa oleh mereka adanya ancaman maut yang mengintai dari tempat - tempat gelap. Diam-diam Pek Lian sendiri bergidik. Ia adalah seorang gadis gemblengan yang semenjak ayahnya ditawan telah mengalami banyak hal - hal yang mengerikan dan membuat hatinya mengeras dan tabah. Akan tetapi, berada di pulau aneh ini, yang namanya sa-ja Pulau Selaksa Setan dan penghuninya adalah iblis - iblis macam kakek dan nenek bergerobak itu, mau tidak mau hatinya gentar juga. Namun ia melihat betapa Siok Eng masih kelihatan te-nang - tenang saja.
Dengan tenang dan penuh wibawa Siok Eng berkata kepada para anak buahnya, "Kalian semua tidak boleh turun dari perahu. Siap dan waspada-lah karena tempat ini benar - benar berbahaya. Sama sekali tidak boleh memegang benda - benda atau mahluk hidup di tempat ini karena semua itu mengandung racun yang ganas. Air itu, rumput itu semua mengandung racun. Kalian sudah me-makai obat penawar, akan tetapi, kalau kalian me-megang apa lagi memakannya, belum tentu obat penawar itu akan dapat melindungi kalian. Makan dan minum saja dari perbekalan sendiri. Tunggu di sini sampai tiga hari. Kalau sampai tiga hari ti-ga malam aku belum kembali, kalian pulanglah dan beri laporan kepada ayah. Nah, aku pergi. Hayo, Lian - ci !"
Kecut juga rasa hati Pek Lian ketika ia digan-deng oleh Siok Eng meninggalkan perahu di mana semua anak buah Tai - bong - pai menanti itu. Bi-arpun pada waktu lain atau dalam keadaan umum, berada bersama orang - orang Tai - bong - pai yang berbau dupa dan pucat-pucat itu sudah merupakan hal yang menyeramkan, namun kalau dibandingkan dengan memasuki pulau setan itu, sungguh jauh le-bih senang tinggal bersama mereka! Akan tetapi, melihat ketabahan Siok Eng, Pek Lian lalu mene-kan perasaannya. Masa ia harus kalah berani di-bandingkan dengan dara remaja ini ?
"Mari, adik Eng, dan berhati - hatilah," kata-nya dengan sikap dewasa.

"Kau pergunakan ini, enci. Lumurilah semua muka leher dan kedua tanganmu agar kulit - ku-litmu terlindung dari serangan racun," kata Siok Eng sambil menyerahkan sebuah poci kecil di ma-na tersimpan minyak membeku yang berwarna kuning dan berbau harum. Pek Lian lalu memakai minyak itu, dioleskan pada seluruh muka, telinga, leher dan kedua tangannya, pendeknya semua bagian tubuh yang tidak terlindung pakaian. Siok Eng agaknya sudah sejak tadi memakainya dan da-ra ini membantu Pek Lian sampai pemakaian obat penawar itu rata benar. Kemudian merekapun melanjutkan perjalanan di malam remang - remang itu.
Biarpun mereka berdua sama - sama belum pernah datang ke pulau ini, namun karena Siok Eng sudah banyak mencari keterangan dan mem-pelajari keadaan pulau ini, maka dara remaja inilah yang memimpin perjalanan. Mereka menyelinap dan menyusup di antara pohon - pohon menuju ke tengah pulau. Tak lama kemudian Siok Eng me-nunjuk ke depan karena sejak tadi mereka tidak mau mengeluarkan suara dan hanya memakai ge-rak tangan untuk saling memberi tahu. Pek Lian juga sudah melihat adanya lampu-lampu di kejauh-an. Mereka berdua mulai merasa tegang. Itulah sarang penghuni Ban - kwi - to yang amat terkenal itu. Dengan amat hati - hati keduanya menyelinap di antara pohon - pohon, hanya melanjutkan ge-rakan setelah meneliti lebih dulu dan merasa yakin bahwa tidak ada manusia lain di sekitar tempat itu.
Tiba-tiba Siok Eng mengangkat tangan me-nyuruh kawannya berhenti. Mereka berdua ber-sembunyi di balik sebatang pohon besar, po-hon terakhir karena ternyata mereka tiba di tempat yang terbuka, tanah kosong yang tidak ditumbuhi pohon, bahkan tidak ditumbuhi rumput. Yang ada pada tanah kosong itu hanyalah kerikil dan batu-batuan berserakan, seperti dasar sebatang sungai yang sudah tidak ada airnya dan kering. Ditimpa sinar bulan tua dan bintang - bintang, batu - batu di. tempat itu berwarna kehijauan, padahal tidak terdapat lumut atau rumput di situ. Dan seolah-olah ada uap tipis kehijauan yang melayang dari tempat itu.
"Awas, Lian - ci. Inilah daerah dari Ceng - ya-kang atau Si Kelabang Hijau itu, orang yang ke lima dari Ban - kwi - to, di mana terdapat tujuh orang tokohnya. Batu - batuan di depan itu adalah tempat di mana dia memelihara kelabang - kela-bangnya," bisik Siok Eng kepada Pek Lian yang mau tidak mau bergidik ngeri membayangkan ke-labang - kelabang beracun. Baru kelabangnya saja ia sudah merasa jijik dan ngeri, apa lagi kalau yang beracun.
"Lalu bagaimana kita harus melalui tempat ini ? Lihat, di seberang sudah nampak genteng-genteng rumah mereka," bisiknya kembali sambil memandang ke arah batu-batuan itu dengan alis berkerut.
"Enci Lian, lihat baik - baik. Kaulihat batu-batu di sebelah kanan itu ? Lihat batu - batu besar yang bagian atasnya lebih mengkilap terkena sinar bulan dan yang menonjol di antara batu-batu lain ? Batu-batu itu tentu biasa diinjak orang. Ha-yo kita lewat di sana, tidak perlu kuatir akan jebakan."

Pek Lian menelan ludah dan mengangguk, ti-dak berani menjawab karena khawatir kalau-ka-lau suaranya akan membayangkan rasa ngerinya. Siok Eng menekan tangannya lalu dara remaja itu melangkah dengan hati - hati, mengerahkan gin-kangnya dan Pek Lian mengikuti di belakangnya, mempergunakan jejak kaki kawannya sehingga ia tidak akan menginjak tempat lain yang mungkin mengandung jebakan. Dengan ringan Siok Eng lalu meloncat dari batu ke batu, memilih batu-batu yang puncaknya mengkilap, terus dibayangi oleh Pek Lian. Di tengah - tengah tempat itu, Pek Lian melihat sinar - sinar hijau merayap di an-tara batu - batu dan ia bergidik. Tentu itulah kela-bang - kelabang yang dimaksudkan oleh Siok Eng! Kalau sampai terpeleset dan jatuh lalu dikeroyok kelabang beracun! Hihh! Sungguh menyeramkan bayangan itu dan Pek Lian cepat - cepat mengum-pulkan kekuatan batinnya untuk melawan rasa ta-kutnya.
Akhirnya Pek Lian mendaratkan kakinya di se-berang dengan hati lega. Mereka telah berhasil melewati daerah kelabang itu. Melihat sebuah ke-bun sayur di mana terdapat tanaman sayur kobis yang cukup subur dan sama sekali tidak memperli-hatkan tanda - tanda bahaya adanya racun, Pek Lian menghampirinya.

Akan tetapi Siok Eng memegang lengannya. "Sstt, hati - hati, enci Lian. Lihat semut - semut itu !"
Pek Lian terkejut dan menahan langkahnya. Ia melihat betapa kobis - kobis yang kelihatan segar itu penuh dengan semut-semut merah.

"Semut - semut apakah itu ?" tanyanya gagap.
"Semut - semut ini beracun. Binatang - binatang ini dipelihara untuk memberi makan kepada kela-bang - kelabang tadi. Dan kebun ini bukan kebun kobis seperti yang biasa kita makan, akan teta-pi sejenis tumbuh - tumbuhan yang mengandung inti racun hijau!"

Pek Lian memandang dengan mata terbelalak kepada kobis - kobis itu dan meleletkan lidahnya. Kini, kobis-kobis yang tadinya nampak menggiur-kan dan segar itu seolah - olah berobah menjadi pe-mandangan yang menyeramkan, seolah - olah tadi ia melihat wajah bidadari yang tiba - tiba saja ber-ubah menjadi wajah iblis.
Siok Eng menunjuk ke kiri. "Rumpun-rumpun bambu itulah yang merupakan daerah aman dan be-bas dari racun, begitu menurut keterangan ayah yang pernah satu kali datang ke sini. Nah, kita meng-ambil jalan melalui kebun bambu hijau itu."

Mereka berdua dengan hati - hati menyelinap di antara rumpun bambu menuju ke sebuah ba-ngunan yang berada di tengah - tengah rumpun bambu itu. Mereka menyelinap ke samping ba-ngunan dan melihat adanya pintu yang terbuka.

Dari pintu itu keluar bau bacin yang menyerang hidung mereka dan membuat mereka hampir mun-tah-muntah. Siok Eng mengeluarkan dua helai sapu-tangan merah dan menyerahkan sebuah kepada kawannya untuk menutupi hidung. Ketika Pek Lian menggunakan saputangan merah itu di de-pan hidungnya, tercium olehnya bau harum yang keras dan segera bau bacin itupun lenyap atau ka-lah oleh bau harum. Dengan isyarat tangannya, Siok Eng mengajak kawannya masuk karena dari luar nampak jelas betapa pondok yang pintunya terbuka itu kosong tidak ada orangnya. Mereka melihat sebuah panci yang penuh dengan air kehi-jau - hijauan mendidih di atas tungku api dan uap air mendidih inilah yang menyebarkan bau bacin tadi. Di dalam almari tak jauh dari situ nampak banyak sekali botol - botol besar kecil. Beberapa kelabang-kelabang yang besar, nampak berkilauan kulitnya tertimpa sinar lampu gantung. Uap yang keluar dari dalam guci itu menyambar hidungnya, mem-buat Pek Lian hampir tak dapat bernapas.
"Cepat telan pel ini, kelabang - kelabang itu amat berbisa !" kata Siak Eng yang melihat keadaan Pek Lian. Gadis ini menurut dan cepat menelan sebutir pel kecil dan dadanya terasa lega kembali. Ia bergidik. Sungguh berbahaya sekali. Baru ha-wa atau uapnya saja sudah demikian berbahaya, apa lagi sengatannya !

Siok Eng mengajak mereka keluar dengan ce-pat dari tempat itu. Dengan berindap keduanya menuju ke gedung induk. Tempat itu kelihatan sepi sekali seolah - olah tidak ada penghuninya sa-ma sekali. Namun mereka berdua tidak pernah mengurangi kewaspadaan. Tak mungkin di situ ti-dak ada orang, karena buktinya terdapat lampu-lampu yang tentu dinyalakan dan dipasang orang. Mungkin para penghuninya sedang tidur.

"Heh - heh - heh - heh !"
Pek Lian terperanjat seperti disengat kelabang hijau. Suara ketawa kecil itu keluar dari sebuah kamar di bangunan sebelah kiri. Dua orang dara itu cepat menyelinap keluar dan menyusup ke balik rumpun barnjbu dengan hati berdebar tegang. Ki-ranya suara ketawa itu keluar dari sebuah jendela yang kini terbuka lebar. Sinar terang dari lampu di dalam kamar itu menyinari halaman. Siok Eng menyentuh tangan kawannya dan mengajaknya berindap mendekati jendela, bersembunyi di antara daun-daun bambu yang tumbuh di luar jendela, mengintai ke dalam dengan hati - hati sekali. Me-reka melihat ada dua orang pria duduk saling ber-hadapan, menghadapi meja sambil bercakap - ca-kap. Pria yang berkepala gundul dan tubuhnya ge-muk pendek berperut gendut duduk menghadap ke arah jendela sedangkan orang yang diajaknya bicara adalah seorang pria yang agaknya masih muda. Kamar itu cukup indah dengan lampu gan-tung yang mewah dan kain - kain sutera bergan-tungan. Si gendut pendek itu tersenyum lebar, nam-paknya amat ramah kepada tamunya, pemuda itu.
Siok Eng mendekatkan bibirnya ke telinga ka-nan Pek Lian, lalu berbisik lirih sekali sehingga Pek Lian yang telinganya demikian dekat dengan mulutnyapun harus mengerahkan ketajaman pen-dengarannya untuk dapat menangkap apa yang di-katakan temannya.
"Kalau tidak salah si gundul itu adalah Ceng-ya - kang Si Kelabang Hijau. Awas kalau berha-dapan dengan dia. Orang itu licik dan kejam bu-kan main, suka menyiksa musuhnya sambil berke-lakar. Anehnya, apa yang dilakukannya lewat te-ngah malam mengobrol dengan tamunya?"
Diam - diam Pek Lian terkejut mendengar bah-wa si gendut itu adalah Si Kelabang Hijau yang disohorkan sebagai tokoh Ban - kwi - to. Mereka berdua menahan napas dan mengintai. Makin dili-hat, makin heranlah hati mereka karena sikap si gendut itu sungguh teramat manis, bahkan terasa oleh mereka betapa sikap itu berlebihan manisnya, mendekati rayuan!

"Kongcu, di tempat ini engkau tidak perlu kha-watir. Tidak akan ada seorangpun setan yang be-rani mengganggumu selama aku berada di dekat-mu. Dan apapun yang engkau kehendaki, tentu akan dapat kuadakan. Maka senangkanlah hatimu tinggal di sini, kongcu."

"Terima kasih, locianpwe. Aku hanya ingin me-luaskan pengalaman dan menambah pengetahuan-ku saja," jawab pemuda itu dan dari suaranya, dua orang gadis itu dapat menduga bahwa pemuda ini bukan orang sembarangan dan juga bukan orang kasar, bahkan kata-katanya teratur dan halus se-perti ucapan seorang terpelajar. Maka, tentu saja mereka berdua menjadi semakin tertarik dan heran.

Atas bujukan si gendut, mereka berdua itu lalu makan minum dengan gembira dan dua orang dara itu menjadi bingung melihat betapa kakek gendut itu makin lama makin gila omongannya. "Kongcu, selama ini banyak sudah kutemui pemuda-pemuda yang gagah dan tampan, akan tetapi baru sekarang aku bertemu dengan seorang ganteng seperti eng-kau. Ha - ha - ha, betapa senang hatiku dapat ber-kenalan denganmu!" Sambil berkata demikian, kakek itu mengajak si pemuda untuk minum lagi arak wangi dari cawan mereka.

"Aku sudah cukup banyak minum arak, locian-pwe," pemuda itu agaknya segan juga untuk menolak.

"Ha - ha - ha, makin banyak minum, makin ke-merahan pipimu, kongcu. Ha-ha, sungguh segar dan tampan sekali engkau!" Kakek gendut itu mengulur tangannya, mula - mula tangan itu me-megang tangan si pemuda untuk dibelainya, akan tetapi tangan itu terus merayap ke atas, mengelus dagu!

"Ah, jangan begitulah, locianpwe," pemuda itu nampak bingung seperti kehilangan akal mengha-dapi tingkah kakek yang makin genit itu. Pek Lian dan Siok Eng saling pandang dengan mata terbela-lak dan wajah mereka berobah merah karena jengah dan malu. Namun merekapun ingin sekali tahu ka--j rena mereka tidak mengerti mengapa ada seorang kakek begitu genit merayu dan membelai seorang pemuda!
Akan tetapi, kakek gendut itu agaknya sudah terlalu banyak minum arak dan sudah setengah mabok karena penolakan pemuda itu bahkan membuat dia merayu semakin panas!
"Kongcu, aku sungguh kagum dan tergila - gila kepadamu. Aku akan menurunkan semua ilmuku kepadamu, akan tetapi, jangan kecewakan hatiku, kau harus menjadi kekasihku !"
Wajah dua orang dara itu menjadi semakin me-rah, akan tetapi hati merekapun diliputi keheranan besar mendengar seorang kakek hendak menjadi-kan seorang pemuda kekasihnya! Apakah kakek itu sudah gila ataukah memang pulau itu menjadi tempat orang-orang yang miring otaknya? Dua orang dara itu tidak tahu bahwa memang kakek Ceng-ya-kang atau Si Kelabang Hijau ini me-miliki sifat yang lain dari pada pria-pria biasa. Dia tidak suka atau tidak tertarik oleh kecantikan wanita, akan tetapi sejak muda dia suka bercinta dengan pria! Jasmaninya adalah pria, akan tetapi watak dan sifatnya cenderung kepada sifat dan wa-tak wanita. Memang banyak terdapat orang - orang seperti Si Kelabang Hijau ini.

Alam telah memberi keadaan yang bertentangan antara badan dan ba-tin mereka dan mereka ini adalah oiang-orang yang patut dikasihani. Mereka suka bergaul dan berde-katan, bahkan bermesraan dan bermain cinta de-ngan pria dan hal ini sama sekali tidak mereka se-ngaja, dan bukan timbul dari watak yang buruk atau cabul. Sama sekali tidak, karena memang de-mikianlah keadaan batin mereka. Mereka kagum melihat sifat jantan, mereka akan merasa bahagia kalau dikasihi oleh seorang pria yang jantan. Mere-ka tidak suka berdekatan dengan wanita sebagai kekasih, kecuali hanya sebagai teman, bahkan ada yang merasa muak kalau memikirkan bahwa mere-ka harus berkasih sayang dengan seorang wanita.

Keadaan seperti ini dapat terjadi karena kesalahan keadaan jasmaniah yang mempengaruhi batin, akan tetapi juga mungkin diperkuat oleh keadaan ling-kungan hidupnya di waktu kecil sehingga batin yang mempengaruhi jasmani. Memang, antara ba-dan dan batin selalu terjadi isi-mengisi, saling mempengaruhi.
Karena sifatnya inilah maka Si Kelabang Hijau itu sering kali meninggalkan Pulau Selaksa Setan dan merantau sampai jauh ke seluruh pelosok du-nia, dan sering mendekati pria - pria yang tampan dan gagah. Karena watak ini pula maka tokoh se-sat ini pernah menjadi sahabat dari Yap Kim, pute-ra kandung dari ketua Thian-kiam-pang yaitu Yap Cu Kiat, murid dari mendiang Sin - kun Bu - tek yang sakti.
Kalau saja Pek Lian dan Siok Eng sudah tahu akan sifat dan watak seorang laki-laki seperti Ceng-ya - kang, tentu mereka akan segera pergi dan ti-dak sudi untuk nonton terus. Akan tetapi karena mereka belum tahu dan tidak mengerti, maka ke-inginan tahu membuat mereka bertahan untuk me nyaksikan adegan yang mereka anggap aneh dan luar biasa itu. Mereka melihat betapa kakek itu membujuk - bujuk dan berusaha untuk memegang tangan si pemuda yang berulang kali mengelak de-ngan menarik tangannya dan dengan halus minta agar kakek itu jangan melanjutkan sikapnya yang ganjil.
Tiba - tiba dua orang dara itu terkejut melihat berkelebatnya bayangan dua orang yang dengan cepat sekali melayang masuk dari pintu dan tahu-tahu di situ telah berdiri dua orang wanita yang nampaknya masih muda, tidak lebih dari tigapuluh tahun usianya dan wajah mereka serupa benar. Se-pasang wanita kembar, hal ini mudah dilihat dari dandanan pakaian, gelung rambut, perhiasan dan wajah mereka yang serupa benar. Pakaian mereka itu ketat membayangkan dada, perut dan paha yang menonjol. Mereka berdiri dengan kaki agak terpentang, tangan kiri bertolak pinggang, dan si-kap mereka genit bukan main.

Mereka berdiri se-perti pohon cemara tertiup angin saja, pinggul me-reka agak bergoyang - goyang, mulut mereka yang digincu merah tebal itu tersenyum merekah, alis mereka bergerak - geiak diangkat - angkat, dan ma-ta mereka itu melirik - lirik genit ke arah si pemu-da yang kebetulan berdiri membelakangi jendela dan menghadap ke arah dua orang wanita itu. Dua orang dara yang berada di luar jendela itu meman-dang penuh perhatian, agak terkejut melihat mun-culnya dua orang wanita yang demikian cepat ge-rakannya tanpa mengeluarkan sedikitpun suara itu.
Biarpun dua orang wanita itu masuk ke ka-mar tanpa menimbulkan suara, namun kakek gen-dut yang tadinya berdiri dalam usahanya merayu si pemuda, kini tiba - tiba duduk kembali dan tan-pa menoleh diapun berkata, "Suci berdua kenapa malam - malam begini berkunjung ke daerahku ? Apakah kalau ada keperluan tidak bisa datang di siang hari ?" Dari nada suaranya, jelas bahwa dia merasa marah dan terganggu, dan biarpun mulut-nya tersenyum, akan tetapi wajahnya masam.

Mendengar ucapan si gendut itu, Siok Eng me-nempelkan bibirnya di dekat telinga kawannya dan berbisik, "Mereka itu orang ke tiga dan ke empat dari iblis - iblis Ban - kwi - to. Mereka kembar dan pandai beralih rupa. Kelakuan mereka sangat ter-sohor buruknya, segala hal yang kotor - kotor mere-ka lakukan !" Suara bisikan Siok Eng mengandung rasa jijik.
Dua orang wanita itu mencibirkan bibir mereka mendengar pertanyaan Ceng - ya - kang tadi dengan sikap yang penuh kegenitan dan ejekan, lalu seo-rang di antara mereka berkata, suaranya nyaring dan genit, "Huh! Kami ke sini cuma ingin melihat apakah engkau sudah kembali ke rumah. Lupakah engkau bahwa esok pagi adalah hari perayaan wa-fatnya guru kita yang ke sepuluh ? Toa - suheng mengharapkan agar semua orang dari Ban-kwi-to hadir di tempat toa-suheng." Sambil berkata de-mikian, wanita itu dan saudara kembarnya tiada hentinya menatap ke arah wajah pemuda yang du-duk berhadapan dengan Ceng - ya - kang itu lirak-lirik dan senyum simpul penuh daya pikat.
"Aku sudah kembali sejak kemarin!" Kakek gendut itu mendengus dengan suara tak senang. "Aku telah datang, sekarang kalian pergilah. Kita bisa berkelahi kalau kalian tidak mau segera pergi dan jangan ganggu aku !"
Pek Lian yang mengintai dan mendengarkan di luar jendela, merasa heran bukan main. Bagaima-na mungkin hari wafat seorang guru malah diraya-kan, bukan berkabung malah berpesta ? Dan bu-kankah mereka itu saudara - saudara seperguruan, segolongan pula, sebagai saudara - saudara yang sama-sama menjadi penghuni Ban-kwi-to, akan tetapi kenapa sikap mereka satu sama lain begitu tidak bersahabat dan bahkan seperti bermusuhan saja ? Pek Lian lupa bahwa mereka itu adalah go-longan hitam, kaum sesat, bahkan tokoh - tokoh be-sarnya yang sudah tidak lagi mengindahkan segala macam aturan dan sopan santun dan mengeluarkan semua isi hati melalui mulut tanpa disaring lagi. Merekapun sudah tidak sudi lagi untuk bermanis muka. Apa lagi hanya terhadap saudara seperguru-an, bahkan terhadap guru sendiripun mereka sudah tidak mau lagi bersopan santun atau menggunakan tata cara manusia beradab. Mereka tidak perduli terhadap orang - orang lain. Golongan mereka ha-nya mengenal pamrih seenaknya untuk diri sendiri. Yang ada hanya kepentingan diri pribadi, lahir ba-tin. Dan menghadapi orang lain, yang ada hanya dua perasaan, yaitu berani atau takut. Kalau mere-ka berani, nah, segala hal bisa saja mereka lakukan, sampai yang paling kurang ajar, yang paling kejam, sadis dan tidak tahu aturan sekalipun. Akan tetapi kalau mereka merasa kalah dan takut, mereka tidak malu - malu untuk melakukan segala macam kecu-rangan atau melarikan diri. Dan untuk kepenting-an pribadi, segala cara dihalalkan, menipu, mem-bokong, bahkan membunuh kawan sendiri sekalipun. Pendeknya, mereka hidup tanpa adanya suatu ke-tertiban apapun, tiada bedanya dengan kehidupan binatang - binatang liar di dalam hutan dan hukum satu - satunya bagi mereka hanyalah hukum rimba raya, yaitu siapa kuat dia menang dan siapa me-nang dia benar dan harus dipatuhi dan ditaati.

Seperti yang telah diterangkan oleh Siok Eng kepada Pek Lian, kakek gundul gendut itu memang benar berjuluk Ceng - ya - kang atau Thian - te Tok - ong dan merupakan tokoh ke lima dari Ban-kwi - to.

Terdapat tujuh orang tokoh Ban - kwi - to yang merupakan saudara - saudara seperguruan, juga merupakan saudara segolongan yang tinggal di kepulauan setan itu. Orang pertama terkenal dengan julukan Tikus Beracun Bumi, yang ke dua berjuluk Tiat - siang - kwi (Setan Gajah Besi), orang ke tiga dan ke empat adalah dua orang wanita kembar yang masing - masing bernama Jeng - bin Sam - ni (Nyonya Ke Tiga Bermuka Seribu), dan Jeng - bin Su - nio (Nyonya Ke Empat Bermuka Se-ribu). Mereka ini dikenal dengan julukan Jeng-bin (Muka Seribu) karena kepandaian mereka beralih rupa, walaupun mereka masih memiliki banyak ma-cam keahlian lagi. Ceng - ya - kang atau Thian - teTok-ong adalah tokoh yang ke lima. Tokoh ke enam dan ke tujuh adalah suami isteri Im - kan Siang-mo, yaitu Bouw Mo-ko dan Hoan Mo-li, kakek dan nenek yang selalu menggunakan gerobak itu.
Mendengar ucapan adik seperguruan mereka yang kasar dan menantang itu, Jeng-bin Siang-kwi, yaitu sebutan bagi mereka berdua, hanya senyum-senyum saja dan tidak kelihatan marah. Tentu saja senyum itu bukan ditujukan kepada Ceng-ya-kang, melainkan kepada pemuda itu yang kelihatan du-duk dengan gelisah.

"Hi - hi - hik, pantas saja engkau tidak mau muncul-muncul biarpun sudah kembali ke mari.... kiranya engkau telah memperoleh seorang korban baru yang ganteng!" kata Jeng-bin Su - nio.

"Pergi kalian !" Tiba -tiba si gundul gendut itu mencelat dari kursinya. Gerakannya demikian ce-patnya, tidak sesuai dengan tubuhnya yang gendut pendek, dan tahu - tahu dia sudah meloncat sam-bil membalikkan tubuhnya, langsung saja menyerang kedua orang wanita itu dengan pukulan yang me-ngandung angin dahsyat. Akan tetapi, dua orang wanita itu mengeluarkan suara ketawa mengejek dan segera mengelak, menangkis dan balas me-nyerang dengan tak kalah cepat dan hebatnya. A-ngin pukulan menyambar - nyambar dan dua orang gadis yang mengintai di luar jendela itu mencium bau amis, tanda bahwa pukulan - pukulan tiga o-rang yang saling hantam itu mengandung hawa beracun yang jahat sekali.

Siok Eng menarik tangan Pek Lian, diajak per-gi menjauhi tempat itu. Setelah jauh, dara ini me-narik napas panjang. "Betapa ganas dan kejinya mereka itu. Mari kita segera mencari Hek - kui-hwa itu, enci Lian. Tak perlu kita mencampuri mereka yang berengsek itu."

"Ke mana kita mencari, adik Eng ?"
Aku harus mencarinya. Bunga itu hanya dapat tumbuh di tempat terbuka, tidak boleh terlindung oleh benda atau tumbuh - tumbuhan lainnya, ha-rus sepenuhnya menerima sinar matahari dan bu-lan, dan terpisah dari tanam-tanaman lain. Bunga mawar hitam atau setan hitam itu bentuknya seper-ti mawar biasa, hanya tidak berbau sama sekali, warnanya hitam legam dan daunnya putih."

"Mari kubantu engkau mencarinya, Eng-moi," kata Pek Lian dan mereka segera mulai mencari-cari di pulau itu.

Akan tetapi mereka tidak berha-sil, apa lagi menemukan bunga itu, bahkan tidak menemukan daerah terbuka seperti yang dimak-sudkan oleh Siok Eng tadi.
"Sungguh heran, kenapa pulau ini demikian ke-cil ? Dan bangunannya juga hanya ada sebuah itu. Di mana para penghuninya yang lain ?" Pek Lian berkata dengan hati kecewa karena kegagalan me-reka menemukan, bunga yang dicari sahabatnya itu.
Enci Lian, Ban-kwi-to bukan terdiri dari se-buah pulau saja, melainkan terdiri dari lima buah pulau yang berpencar akan tetapi juga saling ber-dekatan. Tiap pulau dihuni oleh seorang tokoh, kecuali si kembar itu dan sepasang suami isteri yang masing-masing keduanya mendiami sebuah pulau. Kaulihatlah di seberang sana itu."
"Ah, engkau benar! Itu adalah sebuah pulau yang lain. Akan tetapi, bagaimana kita dapat me-nyeberang ke sana ? Apakah kita harus mengambil perahu kita ? Tentu bunga itu berada di pulau yang lain, tidak mungkin di sini."

"Agaknya benar, enci. Akan tetapi karena kita tidak tahu persis di mana tumbuhnya bunga itu, terpaksa kita harus mencarinya di semua pulau. Hanya, kita harus berhati - hati sekali. Sungguh aneh, bagaimana dua orang wanita kembar tadi da-pat datang ke sini ? Tidak nampak adanya perahu mereka."

Tiba - tiba mereka mfelihat bayangan berkele-bat keluar dari rumah Ceng - ya - kang dan mereka berdua cepat menyelinap bersembunyi. Tak lama kemudian, nampaklah dua orang wanita kembar itu berjalan lewat lalu berhenti tak jauh dari tempat persembunyian mereka.
"Bangsat gundul keparat jahanam!" terdengar seorang di antara mereka memaki - maki sambil mengacungkan tinju ke arah rumah Ceng-ya-kang.

"Anjing banci disambar geledek kamu !" Orang ke dua memaki pula dan keduanya lalu memaki-maki dengan kata - kata yang jorok dan cabul. A-gaknya mereka itu merasa mendongkol dan pena-saran, yang hendak mereka lampiaskan dengan caci maki dan sumpah - serapah mereka terhadap kakek gundul gendut itu.

"Sialan ! Bocah gundul itu telah mencapai titik kesempurnaan dalam menyerap Ilmu Racun Kela-bang Hijau yang lihai itu," kata Jeng-bin Sam-nio dengan suara penasaran.
"Benar, sungguh jahanam ! Tak kusangka dalam pengembaraannya dia dapat meningkatkan ilmu-nya sampai ke titik mendekati kesempurnaan. Li-hat ini! Kantongku racun bunglon merah menjadi tawar terkena ilmunya ludah inti racun kelabang hijau. Sialan! Untung aku selalu dapat menghin-dari semburan ludahnya!"

"Ludahnya yang bacin itu sungguh berbahaya," kata orang ke dua. "Sayang kita tidak membawa alat - alat rias kita. Hemm, ingin aku tahu, mana yang lebih hebat, ludah bacinnya ataukah bedak-bedak harum kita!"

"Biarlah lain kali kita coba lagi. Hatiku pena-saran kalau sampai kalah oleh adik seperguruan kita."
"Eh, ngomong - ngomong, pemuda tadi tampan benar, ya ? Dan kelihatan jantan. Sayang, sudah lebih dulu disekap oleh si gundul gila itu '!"

"Aih, sudahlah! Kita sendiri kan sudah mem-punyai simpanan yang tidak mengecewakan," kata. yang lain sambil tersenyum genit sekali.

"Tidak rugi kita main kucing - kucingan dengan perahu Si Harimau Gunung."

"Sayang mereka belum mau tunduk . . . . . ."

"Akhirnya akan tunduk juga, dan ingat, yang sukar ditundukkan itu sekali tunduk, waahhh hebat deh !"

Mereka berdua cekikikan seperti kun-tianak dan dua orang gadis yang mendengarkan dalam tempat persembunyian mereka menjadi mu-ak. Pek Lian dan Siok Eng melihat betapa kedua orang wanita kembar itu memasuki sebuah rum-pun bambu kuning. Sampai lama mereka tidak muncul kembali dan keadaan begitu sunyi senyap. Dua orang dara itu menjadi curiga lalu dengan ha-ti - hati merekapun memasuki rumpun bambu itu. Ternyata di tengah - tengah rumpun bambu itu ter-dapat sebuah lubang besar yang masuk ke dalam tanah. Ketika mereka memeriksa, ternyata lubang itu adalah terowongan di dalam tanah yang agak-nya lewat di bawah laut!

Dua orang dara yang gagah perkasa itu dengan hati-hati sekali mengikuti terowongan itu. Jalan-nya gelap dan menurun sekali, akan tetapi mereka berdua adalah dua orang dara gemblengan yang ber-ilmu tinggi, maka mereka tidak merasa takut. Mere-ka merasa yakin bahwa dua orang wanita kembar itu tentu mengambil jalan ini dan mereka dapat menduga bahwa tentu inilah jalan yang menghubungkan satu dengan lain pulau. Pantas saja dua orang wanita kembar tadi tidak menggunakan perahu. Kiranya mereka datang ke pulau daerah Si Kela-bang Hijau melalui sebuah terowongan bawah laut.
Ketika dua orang dara itu muncul di pulau yang lain, kiranya mereka itu tiba di sebuah ruangan ke-cil di sudut taman, merupakan pondok kecil yang mungil. Cepat mereka meloncat keluar dan ber-sembunyi, meneliti keadaan sekeliling. Bulan tua telah condong ke barat, akan tetapi bintang-bin-tang di langit masih nampak terang. Tentu telah jauh lewat tengah malam. Dan agaknya semua orang yang berada di pulau ini sudah tidur. Tidak terdengar suara orang, tidak nampak seorangpun penjaga. Agaknya para penghuni kepulauan ini sudah begitu percaya akan keadaan tempat tinggal mereka yang penuh dengan racun sehingga orang luar yang berani memasuki daerah mereka tentu akan mati sendiri terkena racun. Dengan adanya racun-racun yang terkandung dalam tumbuh-tum-buhan, dalam gigitan binatang - binatang kecil, bahkan dalam udara, maka tidak diperlukan lagi penjaga. Orang luar tentu akan tewas kalau me-masuki daerah kepulauan Ban - kwi - to ini.

Ketika dengan hati - hati Siok Eng dan Pek Lian mulai mencari - cari bunga Hek - kui - hwa, mereka mendapat kenyataan bahwa keadaan pulau ini jauh sekali bedanya dengan pulau milik Si Ke-labang Hijau yang baru saja mereka tinggalkan. Pulau kecil milik wanita kembar ini penuh dengan taman bunga - bunga yang indah, keadaannya te-rawat dan bersih apik, tidak seperti keadaan pulau milik Si Kelabang Hijau yang penuh pohon belu-kar dan awut - awutan. Akan tetapi, biarpun di situ terdapat banyak sekali bunga beraneka macam dan warna, dua orang dara itu tidak berhasil mene-mukan bunga mawar hitam berdaun putih.
"Sungguh heran ! Sedemikian banyaknya bunga-bunga di sini, akan tetapi bunga yang kaucari itu tidak ada ! Adik Eng, tidak kelirukah keterangan yang kaudapat mengenai Hek - kui - hwa itu ?" Pek Lian berkata dengan nada suara meragu.

"Tidak, enci Lian. Memang, menurut keterangan ayah, bunga itu langka sekali dan ayahpun tidak dapat memastikan apakah bunga itu ditanam di pulau - pulau ini. Hanya satu hal adalah pasti, yaitu bunga Hek - kui - hwa itu berada dalam kekuasaan Tujuh Iblis dari Pulau Selaksa Setan ini. Entah di mana mereka sembunyikan. Aku harus menemukannya. Heii, awas, enci Lian! jangan kau sentuh bunga - bunga itu. Biarpun kelihatannya begitu bersih dan indah, akan tetapi bunga itu beracun. Bunga - bunga ini memang ditanam untuk memelihara dan mendapatkan racun-racun nya. Ssttt , itu ada perahu datang. Cepat sembunyi !"

 Mereka menyelinap lagi ke balik semak-semak beberapa rumpun alang-alang yang ditanam sebagai penghias dan pagar taman.
Tiba-tiba bumi di sekitar tempat itu tergetar ketika seorang raksasa melangkahkan kakinya. Ber-dentam-dentam bunyinya, seolah-olah bumi di-timpa oleh benda yang amat berat setiap kali raksa-sa itu membanting kakinya. Anehnya, dia agaknya sengaja membanting kakinya ketika melangkah me-masuki taman ! Rambutnya gimbal dan kotor, ma-tanya lebar dan membelalak. Jubah dan pakaiannya terbuat dari kain kotak - kotak yang dibelit-belitkan di tubuhnya. Bagian dadanya terbuka dan nampak betapa dada itu penuh bulu tebal. Mulutnya lebar dan seperti nampak ada taring di antara giginya yang besar-besar. Raksasa ini sungguh tinggi besar, tingginya tidak kurang dari dua meter, bahkan le-bih. Ada suara seperti ngorok ketika dia melang-kah memasuki taman.

Ketika raksasa itu tiba di dekat tempat dua orang dara itu bersembunyi, tiba - tiba saja dia menghentikan langkahnya. Dua orang dara itu mencium bau amis yang menusuk hidung, membu-at mereka hampir saja muntah-muntah. Dan rak-sasa itupun mengembangkempisikan hidungnya. Mu-lutnya menyeringai buas, matanya yang besar itu melotot dan mengamat-amati sekelilingnya, dan air liurnya menetes - netes dari ujung bibirnya,

"Heh -heh bau daging segar ! Daging lunak! Hemm, alangkah sedapnya!" Matanya jelalatan ke kanan kiri, mencari - cari.
Tentu saja dua orang dara itu seketika mandi keringat dingin!

"Mereka bukan penakut, bahkan Siok Eng telah mewarisi ilmu kepandaian yang he-bat. Akan tetapi bagaimanapun juga, mereka itu ha-nyalah dua orang gadis remaja dan keadaan manu-sia raksasa itu memang sungguh amat menyeram-kan. Apa lagi dalam perjalanan mereka dengan perahu, Siok Eng sudah pernah menceritakan ke-pada Pek Lian bahwa orang ke dua dari Tujuh Iblis ini, yang berjuluk Tiat - siang - kwi ( Setan Gajah Besi) kabarnya suka makan daging manusia.

Biarpun seluruh urat syaraf mereka sudah me-negang dan bersiap siaga, akan tetapi ketika rak-sasa itu melangkah mendekati tempat mereka ber-sembunyi, mereka merasa tubuh mereka panas di-ngin ! Akan tetapi pada saat itu terdengar suara ke-tawa cekikikan yang nyaring dari arah gedung di tengah pulau. Suara cekikikan yang penuh kegenit-an, terkekeh - kekeh dibuat - buat. Mendengar sua-ra itu, si raksasa berhenti melangkah dan menoleh ke arah gedung. Agaknya suara itu mengingatkan dia akan maksud kedatangannya ke pulau itu. Mendadak dia lari tunggang-langgang menuju ke arah gedung. Tanah yang diinjaknya ketika dia berlari itu tergetar seperti gempa bumi dan dua orang dara itu bernapas lega.

"Mari kita pergi !" Siok Eng menarik tangan Pek Lian. Sekali ini, Pek Lian yang biasanya berwibawa dan memimpin karena ia adalah seo-rang patriot di lembah, menurut saja karena ia maklum betapa berbahayanya tempat itu dan bah-wa Siok Eng lebih tahu dari pada ia sendiri me-ngenai kepulauan setan itu.
Siok Eng mengajak Pek Lian menggunakan pe-rahu milik Tiat - siang - kwi itu. Ia ingin mencari bunga Hek - kui - hoa di pulau ke tiga setelah ga-gal mencari di kedua pulau pertama. Mereka men-dayung perahu itu dengan cepat. Di depan nampak dua buah pulau kecil berdampingan. Dari jauh, kedua pulau itu nampak gersang tidak ditumbuhi pohon sama sekali. Ketika mereka mendekat, ma-ka mereka melihat bahwa pulau yang satu terdiri dari batu - batu dan pasir melulu. Menurut penge-tahuan Siok Eng, pulau ini adalah tempat tinggal si raksasa, orang ke dua dari tujuh iblis.

Kabar-nya, entah berapa ratus orang yang menjadi korban iblis raksasa ini di tempat itu, tulang - tulangnya berserakan dan terpendam dalam batu - batu dan pasir. Adapun pulau yang ke dua terdiri dari ra-wa-rawa dan di tengah rawa nampak sebuah gu-buk besar yang berdiri di atas tiang - tiang dari ka-yu yang tahan air. Itulah tempat tinggal suami is-teri Im - kan Siang - mo ( Sepasang Iblis Neraka ), yaitu kakek dan nenek yang selalu bergerobak dan tak tahu malu itu.
"Eng-moi, pulau yang mana harus kita darati lebih dulu ?" tanya Pek Lian, melihat betapa ka-wannya itu hanya membawa perahu mereka ber-putar - putar tak menentu.

"Kita terus saja, enci Lian. Pulau - pulau ini adalah tempat tinggal Tiat - siang - kui dan Sepa-sang Iblis Neraka, yaitu orang ke dua, ke enam dan ke tujuh dari Tujuh Iblis. Melihat keadaan kedua pulau ini, juga melihat macamnya raksasa itu, tak mungkin dia yang menanam atau menyimpan Hek-kui - hwa. Juga suami isteri itu jarang berada di ru-mah, selalu mengembara dan pulaunya terdiri dari rawa - rawa pula, kiranya tidak mungkin berada di sana itu."
"Lalu bagaimana ? Ke mana kita harus men-cari ?"

"Enci Lian, kepulauan mereka hanya ada lima buah. Yang empat telah kita ketahui dan agaknya bunga itu tidak berada di situ. Tinggal sebuah pu-lau lagi yang menjadi tempat tinggal tokoh perta-ma dari mereka, yaitu Te-tok-ci (Tikus Beracun Bumi). Ke sanalah kita menuju."

Pek Lian menutup mulut menahan ketawanya. "Sudah banyak kita melihat orang aneh. Ingin aku melihat bagaimana macamnya yang berjuluk Tikus Beracun itu. Apakah mukanya seperti tikus ?"
Siok Eng tersenyum geli. "Mungkin saja. Aku sendiri belum pernah melihatnya. Akan tetapi ayah bilang bahwa dia mempunyai koleksi banyak ma-cam tikus yang aneh - aneh dan buas. Tikus - tikus itu dibuat beracun dan mereka ditempatkan di te-rowongan - terowongan yang banyak terdapat di pulau tempat tinggalnya."

Pek Lian bergidik. Di antara binatang - bina-tang kecil, tikus merupakan binatang yang menji-jikkan baginya. Ara lagi kalau jumlahnya banyak, dan beracun lagi.

"Mudah-mudahan aku tidak ha-rus berhadapan dengan tikus-tikus lebih baik aku melawan Te - tok - ci itu sendiri," katanya.
"Lebih baik kalau bisa jangan, enci. Kepandai-an iblis itu paling lihai dan diapun kabarnya pa-ling kejam di antara Tujuh Iblis."

"Aku sungguh merasa heran, adik Eng. Engkau sudah tahu betapa lihainya Tuiuh Iblis dan betapa besarnya bahayanya mengunjungi Ban-kwi-to, akan tetapi mengapa engkau lakukan juga petua-langan ini ? Apakah engkau tidak takut sedikitpun juga ?"
Siok Eng tersenyum dan wajahnya yang pucat itu nampak manis sekali kalau tersenyum. "Enci, engkau tidak tahu. Kami orang-orang Tai-bong-pai mengutamakan kegagahan. Aku sendiri lebih menghargai kegagahan dari pada nyawa, maka un-tuk mematangkan ilmuku, biar harus menempuh bahaya yang mengancam nyawa sekalipun, akan kujalani tanpa rasa takut sedikitpun." Dan kini se-pasang mata yang bening itu mengeluarkan sinar yang dingin dan menyeramkan sehingga Pek Lian tidak mau bertanya lagi. Ia teringat akan ceritacerita yang pernah didengarnya bahwa Tai - bong-pai adalah golongan yang termasuk sesat dan hitam. Heran ia membayangkan bahwa seorang gadis yang begini ramah dan lemah lembut, begini cantik je-lita, adalah puteri dari ketua Tai - bong - pai! Pa-dahal, nama Tai - bong - pai di dunia persilatan ti-dak kalah seram dan menakutkannya dibandingkan dengan nama Pulau Selaksa Setan ini! Teringat ini, Pek Lian bergidik dan baru ia teringat bahwa dara yang menjadi kawan akrabnya ini sebenarnya datang dari dunia yang sama sekali berlainan de-ngan dunianya sendiri. Ia teringat bahwa Tai-bong-pai adalah golongan yang ahli dalam hal racun, mungkin tidak kalah keji dan berbahayanya diban-dingkan dengan Tujuh Iblis penghuni kepulauan ini.

Akhirnya mereka melihat pulau terakhir, sebu-ah pulau yang bulat dan berbentuk sebuah bukit kecil. Pulau ini banyak ditumbuhi pohon - pohon seperti pohon cemara yang kecil dan tinggi. Pada waktu itu, fajar telah menyingsing. Langit timur seperti terbakar, kemerahan oleh sinar matahari yang telah mendahului sang raja siang. Udara se-juk dan angkasa cerah. Indah dan nyaman, sungguh berlawanan dengan bahaya yang mengancam di pulau itu yang nampaknya begitu hening dan menyenangkan. Mereka mendarat dengan hati-hati, memilih celah - celah di mana terdapat semak-semak belukar.
Baru saja mereka menarik perahu ke pinggir dan melangkahkan kaki, hampir saja Pek Lian men-jerit ketika tiba-tiba muncul seekor tikus berbulu hitam yang besarnya seperti kucing bunting. Tikus ini muncul di dekat kakinya, hampir terinjak. He-batnya, tikus itu tidak melarikan diri, bahkan ber-henti dan melotot ke arah Pek Lian, dan bibirnya ditarik ke atas, menyeringai memperlihatkan gigi-nya seperti seekor harimau kalau marah. Sikapnya seakan - akan hendak menyerang, dan bulu di ba-gian lehernya tegak, sedikitpun dia tidak kelihatan takut menghadapi manusia!
"Ssttt ! Hushhhhttt!" Pek Lian mencoba mengusirnya dengan desisan suara.

Akan tetapi tikus itu bukannya takut malah me-runcingkan moncongnya dan mengeluarkan bunyi menguik tajam, kepalanya diangkat dan lagaknya siap untuk menyerang.
"Sudahlah, enci, lebih baik jangan kita usik dia. Mari kita pergi ke dalam pulau," kata Siok Eng yang merasa ngeri juga melihat ada tikus sebesar itu yang berani melawan manusia.
"Hei, awas, Eng - moi! Lihat di belakangmu dan itu juga di sebelah kananmu. Awas!" Tiba-tiba Pek Lian berseru dan Siok Eng hampir me-loncat saking kagetnya. Ternyata kini bermunculan tikus - tikus hitam yang besar - besar, seperti me-ngepung mereka dan tikus-tikus itu nampak me-nyeringai dan mengeluarkan bunyi, siap tempur !

Beberapa ekor lagi nampak datang dengan sikap mengancam.

"Wah, wah hiiih, jijik aku. Mari kita cepat pergi, enci Lian!" kata Siok Eng yang sudah me-nyambar tangan Pek Lian dan kedua orang nona itu sudah berloncatan pergi menjauhi tikus - tikus yang melotot marah itu.

Dengan bulu tengkuk me-remang keduanya sudah berlari cepat mengelilingi pulau. Mereka mencari - cari bunga mawar hitam di antara semua tanaman yang tumbuh di pulau dan mereka sengaja menjauhi bangunan - bangunan ru-mah yang nampak berdiri di tengah - tengah pulau. Akan tetapi sekian jauhnya mereka belum juga ber-hasil menemukan apa yang mereka cari dan akhir-nya mereka tiba di pantai yang landai dan penuh pasir. Dan tiba - tiba mereka menyelinap dan ber-sembunyi di balik batu karang. Mereka melihat banyak perahu besar kecil berlabuh di tempat itu. Bermacam-macam perahu yang agaknya datang dari tempat asing yang jauh.
"Aihh, banyak benar tamu yang datang berkun-jung ke pulau ini, enci," kata Siok Eng dengan suara mengandung keheranan.

"Lihat perahu-pe-rahu itu, ada yang berbendera asing pula. Yang kiri itu kelihatannya seperti bendera orang-orang Mo-ngol."

Pek Lian mengangguk. "Tak salah lagi, itu me-mang bendera Mongol. Dan yang di kanan itu, pe-rahu bercat kuning itu. Bukankah orang - orangnya memakai pakaian seragam perajurit pemerintah ? Hemm, apakah tempat ini diserbu pasukan pemerin-tah ?"
"Ah, kurasa tidak, enci. Lihat saja perahu Mongol itu. Di sana juga terdapat pasukan asing dan mereka nampak bersahabat dengan pasukan pemerintah. Hemm, ada apa pula ini? Padahal, antara pasukan pemerintah dan para raja kecil Mongol selalu terjadi permusuhan. Mengapa kini kedua pihak nampak rukun dan bersama - sama berada di sini ? Tidak nampak tanda - tanda pertempuran dan mereka itu agaknya datang ke sini dengan baik - baik "
Pek Lian sebagai puteri menteri dan juga pe-mimpin pasukan patriot, sedikit banyak tahu akan hal itu, maka iapun berkata dengan alis berkerut, "Sungguh membingungkan. Kedua pasukan itu nampak bersahabat, padahal di perbatasan utara antara kedua pasukan selalu terjadi pertempuran. Tentu ada hal - hal yang aneh dan tidak beres di sini."

Karena matahari mulai bersinar dan di tempat itu terdapat demikian banyaknya orang, dua orang dara itu lalu bersembunyi di antara pohon-pohon yang tumbuh di sepanjang pantai itu. Ketika me-lihat sebatang pohon besar yang daunnya lebat, ke-duanya lalu naik ke atas bersembunyi di dalam pohon itu, di antara daun-daun yang lebat. Karena mereka telah memakai olesan obat anti racun, maka mereka tidak takut menghadapi serangan bi-natang-binatang kecil. Dari tempat persembunyi-an ini mereka memandang ke arah pantai di mana terdanat perahu - perahu dan para perajurit itu.
Tiba - tiba jantung Pek Lian berdebar tegang ketika ia melihat sebuah perahu besar yang baru saia meninggalkan pulau itu. Perahu besar itu berbendera asing dan ia mengenalnya sebagai pe-rahu di mana ia dan Bwee Hong pernah berkelahi melawan para penumpang perahu, dan di mana ia pernah mendengar suara ayahnya. Akan tetapi perahu itu agaknya baru saja meninggalkan pulau sehingga hati Pek Lian menjadi kecewa sekali. Ingin ia dapat menyelidiki keadaan perahu itu, untuk melihat apakah benar ayahnya berada di perahu besar itu.

Di tempat persembunyian ini, mereka berdua merasa aman, danat melepaskan lelah sambil meng-atur rencana selanjutnya dalam usaha mereka men-cari Hek - kui - hwa. Tiba - tiba terdengar suara banyak orang. Mereka cepat menoleh dan dari arah tengah pulau nampak belasan orang berbondong-bondong menuju ke pantai. Pakaian mereka itu aneh - aneh dan dari sikap mereka mudah diduga bahwa mereka adalah orang - orang dari dunia per-silatan. Di antara mereka terdapat orang - orang yang dari pakaiannya mudah diduga bersuku Bang-sa Mancu dan Mongol. Semua orang membawa senjata dan sikap mereka gembira sekali ketika me-reka menuju ke perahu - perahu itu. Di belakang mereka nampak belasan orang pula yang agaknya merupakan rombongan tuan rumah, sikap mereka seperti mengantar tamu itu menuju ke perahu - pe-rahu mereka. Mereka berjalan beriringan sambil tertawa - tawa gembira.

Bersambung

Darah Pendekar 20                                                             Darah Pendekar 22