Rabu, 15 Mei 2013

DARAH PENDEKAR 20

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Bab 20
Setelah dua orang yang dianggapnya saingan berbahaya itu pergi, Tung - hai - tiauw yang kini untuk ketiga kalinya kembali telah menduduki sing-gasana Raja Lautan dan berhak menjadi majikan dari pulau dengan istananya itu, lalu mengajak dua orang tangan kanannya, yaitu Petani Lautan dan juga Raja Muda Selatan untuk melihat perlumbaan perahu. Dengan diiringkan oleh para pengawal, para dayang dan juga isteri dari Rajawali Lautan, mereka semua lalu pergi ke panggung yang didiri-kan di tepi telaga, dengan wajah gembira nonton perlumbaan yang baru akan dimulai setelah Raja Lautan itu hadir di panggung.
Senja telah mendatang, matahari telah condong jauh ke barat. Perlumbaan yang hendak diadakan sekarang adalah perlumbaan terakhir yang merupa-kan puncak pertunjukan karena kini yang akan berlumba hanya tiga buah sampan saja. Akan te-tapi, para penumpangnya adalah thouw - bak-thouw - bak (mandor - mandor bajak) yang meru-pakan pembantu - pembantu utama para raja bajak yang telah memiliki kepandaian tinggi. Tentu saja keadaan menjadi menegangkan dan panas, karena tiga perahu yang akan berlumba itu seakan - akan mewakili golongan masing - masing, yaitu golongan anak buah tuan rumah yang menjadi Raja Lautan, golongan anak buah Petani Lautan dan anak buah Raja Muda Selatan.
Setelah tiga buah perahu yang ditumpangi ma-sing-masing oleh tiga orang itu siap, dimulailah perlumbaan dan terjadilah perlumbaan seperti yang sudah terjadi kemarin. Akan tetapi sekarang lebih ramai-lagi karena para penghuni perahu itu adalah orang - orang yang lihai, bukan hanya lihai ilmu silatnya akan tetapi juga lihai dalam mengemudikan dan melayarkan perahu mereka. Dan se-perti juga kemarin, perlumbaan ini lebih berupa, perkelahian di atas perahu atau usaha untuk saling; menenggelamkan perahu lawan dari pada perlum-baan adu cepat. Setiap kali ada sebuah perahu yang agaknya meluncur paling cepat, yang dua lalu menggunting dari kanan kiri dan menyerang pera-hu itu dengan dayung-dayung panjang mereka, bukan hanya berusaha menghantam badan perahu atau merusak layar atau merobohkan tiang layar, akan tetapi bahkan tidak segan - segan untuk sa-ling hantam ! Mereka sungguh ahli mengemudikan perahu. Perahu - perahu itu sampai miring, saling, serobot dan saling tabrak, akan tetapi dengan ce-katan mereka mampu menghindar dan balas me-nyerang untuk menggenjot perahu lawan dari sam-ping dalam usaha mereka menggulingkan lawan.
Perlumbaan atau perkelahian antara tiga pera-hu itu terjadi dalam suasana panas, apa lagi karena tepuk sorak para pendukung masing - masing tak pernah berhenti memberi semangat kepada jagoan masing - masing. Beberapa kali ada perahu yang tertabrak dan terguling. Akan tetapi dengan ce-katan para penumpangnya sudah berhasil memba-likkan perahu mereka dan mendayung lagi. Ada yang kepalanya benjol - benjol terkena hantaman dayung. Akhirnya, dengan kepala benjol-benjol dan pera-hu dalam keadaan tidak utuh lagi, perahu anak buah Raja Muda Selatan keluar sebagai pemenang setelah lebih dulu berhasil mencapai garis yang ditentukan. Mereka menerima sambutan sorak-sorai dan juga menerima hadiah-hadiah dari Raja Lautan.
Sementara itu, matahari telah terbenam dan se-bagai gantinya, bulan yang amat besar dan merah muncul dari permukaan laut sebelah timur. Sete-lah perlumbaan selesai, kini disusul pesta air ! Raja Lautan dan keluarganya, juga para kepala bajak seperti Petani Lautan dan Raja Muda Selatan, naik perahu yang dihias meriah dengan lampu - lampu gantung yang berwarna - warni, dan berpesta-pora di atas telaga. Terdengar bunyi musik mengiringi nyanyian wanita-wanita penghibur dan semua orang mulai bermabok - mabokan. Acara terakhir malam itu adalah penyembahan korban untuk Dewa Laut yang akan dilakukan di Pusaran Maut. Seo-rang perawan jelita akan dikorbankan, seperti yang terjadi setiap tiga tahun sekali!
Tiupan rumah kerang raksasa menjadi tanda bahwa upacara itu akan segera dilaksanakan. Pera-hu - perahu dipersiapkan dan semua perahu yang berpesta - pora lalu minggir. Perahu Rajawali La-utan dan perahu - perahu para pimpinan bajak te-lah siap mengikuti upacara itu. Sebuah perahu yang dihias secara khas nampak diturunkan ke air dari pantai. Lalu dari pantai nampak sebuah ge-robak dorong yang didorong orang ke atas perahu. Di atas gerobak dorong ini nampak seorang gadis yang duduk bersandar tiang dalam keadaan terbe-lenggu kaki tangannya. Gadis itu dalam keadaan sadar dan dengan sepasang matanya yang mengelu-arkan sinar berapi - api, gadis itu memandang ke kanan kiri. Jelas bahwa ia berada dalam keadaan terancam, akan tetapi hebatnya, sedikitpun ia ti-dak kelihatan takut. Kedua lengannya terbelenggu ke belakang tubuhnya, diikat oleh belenggu besi pada tiang, dan kedua pergelangan kakinya juga dibelenggu dengan belenggu besi yang dipasang di papan gerobak. Dara itu bukan lain adalah Ho Pek Lian !
Seperti telah kita ketahui, dara itu memasuki pulau dengan berani dalam usahanya mencari Bu Seng Kun, A-hai, dan juga Bu Bwee Hong, di samping juga berusaha untuk mencari ayahnya yang pernah didengar suaranya di dalam sebuah perahu. Akan tetapi, karena terkejut melihat pa-tung yang tiba - tiba hidup, ia ketahuan dan akhir-nya dikeroyok dan tertawan. Sungguh malang ba-ginya, pada waktu itu Raja Lautan membutuhkan seorang dara jelita yang pantas untuk menjadi korban yang akan dipersembahkan kepada Dewa Laut, dan iapun terpilih ! Bahkan Tung-hai-tiauw merasa bangga dapat mempersembahkan seorang dara yang bukan hanya cantik jelita melainkan ju-ga gagah perkasa. Dia percaya bahwa Dewa La-utan akan merasa girang sekali dengan persembah-an istimewa ini dan tentu akan memberi berkah kepada semua bajak sehingga di masa mendatang akan berhasil baik dalam pekerjaan mereka mem-bajak !
Perahu kecil terhias yang membawa Pek Lian itu pun meluncur perlahan, diiringkan oleh perahu-perahu Rajawali Lautan, Petani Lautan, Raja Mu-da Selatan dan para kepala bajak lainnya. Iring-iringan perahu itu amat banyak, seperti armada saja akan tetapi suasananya tetap gembira, apa la-gi karena bulan purnama yang bundar besar ke-merahan itu nampak cemerlang tidak terhalang awan seolah - olah sang bulan ikut merestui kesi-bukan mereka yang akan mempersembahkan kor-ban sedemikian mulusnya kepada Dewa Laut! Bulan purnama yang kemerahan itu nampak besar dan perlahan-lahan naik menjauhi permukaan laut. Malam yang amat indah. Lautpun tenang sekali, seolah - olah tidak ada keriputnya sedikitpun juga. Langit bersih sekali sehingga nampak bin-tang-bjintang dengan cahayanya yang pudar karena dikalahkan oleh sinar bulan.
Akan tetapi, kini para anak buah bajak mulai tenang dan suara kegaduhan merekapun mereda, bahkan lalu menghilang. Mereka maklum bahwa perjalanan sekali ini bukan lagi kelanjutan dari pesta - pora, melainkan perjalanan yang keramat dan penting, juga berbahaya! Mereka akan mela-kukan upacara persembahan korban seorang pera-wan suci, kebiasaan tradisionil nenek moyang mereka. Yang membuat mereka merasa ngeri adalah karena persembahan korban itu dilakukan di dae-rah yang teramat berbahaya dan yang amat mere-ka takuti, yaitu daerah pusaran maut, tempat yang mereka anggap sebagai pintu gerbang menuju ke neraka. Oleh karena itu, makin dekat dengan tem-pat mengerikan itu, makin teganglah hati mereka dan makin sunyilah keadaan di atas perahu-perahu yang beriringan itu.
Pek Lian yang duduk terbelenggu di atas ge-robak dorong yang berada di atas perahu itu, me-mandang semua kegiatan ini. Ia tahu bahwa ia menghadapi bahaya maut walaupun ia belum me-ngerti bahaya maut macam apa yang dihadapinya. Ia tertawan dan dalam keadaan tertotok, ia telah ditelanjangi dan dimandikan oleh para dayang, di-mandikan dengan air yang diberi wangi - wangian seperti seorang calon mempelai saja. Kemudian, pakaian yang baru dari sutera dikenakan pada tu-buhnya. Sampai ia dibelenggu di atas gerobak dan didorong menuju ke perahu itu, ia masih belum mengerti apa yang akan dilakukan orang terhadap dirinya. Namun, ia bersikap tenang walaupun hati dan pikirannya tak pernah berhenti berusaha men-cari kesempatan untuk dapat meloloskan diri. Ia sudah terbebas dari totokan dan sudah beberapa kali ia mengerahkan tenaga mencoba kekuatan be-lenggu kaki tangannya. Maka satu - satunya harap-an hanyalah pada saat orang membebaskannya dari belenggu itu, baru ia akan bergerak mengamuk mati - matian. Kalau perlu, ia akan meloncat ke dalam lautan dari pada mati di tangan iblis - iblis berwajah manusia ini. Satu - satunya hal yang membuatnya berduka hanyalah bahwa ia belum berhasil menemukan ayahnya dan yang amat aneh terasa olehnya adalah betapa dalam keadaan menghadapi bahaya maut seperti itu, yang terba-yang olehnya hanya wajah ayahnya dan wajah A-hai! Di manakah pemuda itu sekarang ? Masih hidupkah ? Apakah masih ingat kepadanya ? Per-tanyaan - pertanyaan ini tanpa disengaja menyeli-nap dalam hatinya dan membuatnya heran sendiri.
Kini semua orang mulai dapat mendengar suara itu. Suara yang selalu mendatangkan rasa ngeri di hati setiap orang bajak laut. Suara gemuruh bagai-kan guntur. Wajah para bajak laut menjadi pucat. Itulah suara Pusaran Maut! Dan sungguh luar bi-asa sekali, berbareng dengan terdengarnya suara gemuruh itu, seperti secara mendadak sekali, nam-pak awan tebal hitam bergulung - gulung datang dan menutupi bulan purnama. Keadaan yang tadi-nya terang-benderang itu tiba-tiba menjadi ge-lap-gulita dan lampu-lampu perahu kini baru nampak terang berkelip-kelip. Semua orang me-mandang ke arah bulan yang menyelinap ke balik awan hitam itu dengan hati cemas. Suara gemuruh semakin keras terdengar, membuat semua orang menjadi gelisah.
Tiba-tiba , tiba-tiba sekali sehingga mem-
bingungkan semua orang, terdengarlah suara
mengiang yang merupakan lengking tinggi, seperti
suara nyamuk di dekat telinga. Mengiang tajam
sekali, membuat semua orang menjadi semakin nge-
ri. Semua orartg yang memandang ke atas meng-
harapkan agar awan yang menutup bulan cepat
berlalu. Mereka tidak ingin datang ke daerah Pu-
saran Maut dalam cuaca yang gelap - gulita seperti
itu. Terlalu berbahaya ! Akhirnya, awan tebal itu
sedikit demi sedikit meninggalkan bulan purnama.
Para pengawal yang menjaga Pek Lian berna-pas lega. Calon korban masih terikat di tempat-nya seperti tadi. Akan tetapi, tiba - tiba juru mudi perahu calon korban itu mengeluarkan teriakan tertahan, disusul kata - katanya yang gagap, "Heiii! Lihatlah ! Lihatlah bulan itu ! Ada manusia di dalamnya!!"
Semua orang, di atas perahu - perahu itu me-mang sudah melihatnya dan semua mata terbela-lak. Memang benar ucapan juru mudi perahu ca-lon korban itu ! Di sana, di atas leher burung raja-wali sebagai penghias ujung perahu Rajawali La-utan, nampak seorang laki - laki berpakaian hitam-hitam dan bermantel hitam pula, berdiri membela-kangi bulan purnama, maka dia kelihatan seolah-olah berada di dalam bulan yang besar itu ! Karena pakaiannya serba hitam dan bulan itu sendiri ku-ning keemasan, maka nampak kontras dan indah seperti lukisan saja. Pek Lian sendiri juga sudah melihat bayangan itu dan jantungnya berdebar te-gang ketika ia mengenal bahwa orang itu serupa benar dengan orang yang pernah dijumpainya di atas pulau nelayan. Raja Kelelawar!
Semua orang masih memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, wajah pucat. Tiba-tiba tubuh orang berpakaian serba hitam itu melayang de-ngan kecepatan seperti burung terbang saja menuju ke arah perahu di mana Pek Lian terbelenggu. Mantel hitam itu berkibar di belakangnya seperti sayap yang lebar dan tahu - tahu dia sudah berada di atas dek perahu dekat gerobak di mana Pek Lian terikat. Kedua tangannya bergerak - gerak dan terdengarlah besi belenggu itu patah - patah dan dalam sekejap mata saja Pek Lian telah be-bas ! Akan tetapi, Pek Lian masih belum mampu bergerak. Tubuhnya masih kaku - kaku karena terlalu lama dibelenggu.
Para pengawal tadinya tertegun seperti orang-orang terpesona oleh permainan sulap yang meng-herankan saja- Akan tetapi, mereka segera sadar bahwa tawanan telah dibebaskan orang, maka em-pat orang pengawal dengan senjata di tangan me-nerjang dan menyerang pria tinggi kurus berjubah hitam itu.
Bit - bo - ong atau Raja Kelelawar, orang yang mukanya kaku seperti topeng itu, seperti tidak memperdulikan datangnya empat buah senjata ta-jam yang menyerangnya. Dia hanya mendengus, tangan kirinya bergerak cepat dan terdengar empat kali suara pekik mengerikan dan empat orang pengawal itu roboh terpelanting dengan kepala berlubang tertembus jari-jari tangan yang runcing bagaikan pedang. Tentu saja para pengawal lain yang berada di atas perahu itu menjadi ngeri dan jerih. Bunyi terompet tanda bahaya segera ditiup-kan orang dan perahu - perahu yang lain berda-tangan mengepung perahu calon korban.
"Hemmmm !" Raja Kelelawar mendengus,
tangan kirinya bergerak ke arah Pek Lian dan ga-dis ini mengeluh karena ia telah tertotok dan di lain saat tubuhnya sudah diangkat dan dipanggul di atas pundak iblis itu. Gilanya, agaknya sesuai dengan watak iblisnya yang biadab, tangan kanan iblis itu mengelus - elus pinggul dara yang membu-sung itu, sedikitpun tidak merasa takut atau ma-lu biarpun ditonton oleh begitu banyaknya musuh
yang mengepungnya ! Kasihan Pek Lian yang ha-nya dapat mematikan rasa malunya karena ia sama sekali tidak berdaya biarpun ia merasa betapa pinggulnya dielus-elus dan beberapa kali dicubit!
Terdengar aba - aba dari Rajawali Lautan dan ratusan anak panah menyambar ke arah Raja Kele-lawar. Agaknya tak mungkin orang dapat meng-hindarkan diri dari sambaran ratusan anak panah itu kecuali kalau dapat memutar senjata menang kis atau kalau mengelakpun harus meloncat keluar perahu. Akan tetapi, iblis itu sama sekali tidak mengelak, juga tidak menggunakan senjata untuk menangkis, melainkan menggerakkan tangannya dan jubah lebarnya bergerak melingkari dan me-nyelimuti seluruh tubuhnya dan tubuh Pek Lian yang dipanggulnya. Anak panah yang ratusan ba-nyaknya itu begitu menyentuh jubahnya, berjatuh-an di sekeliling badannya sampai bertumpuk - tum-puk. Tidak ada sebatangpun yang mampu me-nembus jubah itu. Anak panah yang ratusan ba-nyaknya itu berserakan di sekeliling kakinya. Me-lihat kesaktian ini, para anak buah perahu calon korban cepat-cepat meninggalkan perahu, pindah ke perahu lain karena merasa takut dan ngeri ter-hadap iblis itu.
Para thauw - bak dengan suara gagap dan kaki gemetaran mencoba untuk mengumpulkan kembali anak buah masing - masing yang dilanda ketakut-an. Melihat munculnya orang yang sama sekali tidak pernah mereka sangka - sangka itu, apa lagi karena tadi Raja Lautan memang membicarakan, iblis ini dengan kedua orang pembantunya, maka Tung - hai - tiauw, Petani Lautan dan Raja Muda Selatan serentak berloncatan dari perahu masing-masing menuju ke perahu calon korban di mana iblis itu masih berdiri sambil memanggul tubuh Pek Lian, dengan sikap yang amat tenang. Tiga raja bajak itu tiba di perahu calon korban hampir berbareng, dari tiga jurusan. Melihat ini, tiba - tiba Raja Kelelawar mengeluarkan suara melengking nyaring dan begitu dia menggerakkan jubahnya yang dikembangkan dengan kekuatan dahsyat, tum-pukan anak panah di sekelilingnya itu terbang ber-hamburan kembali ke tempat masing - masing !
Kembali terdengar jerit-jerit mengerikan dan belasan orang anak buah bajak roboh dengan tu-buh tertembus anak panah ! Ada pula yang sempat menyelamatkan diri di balik perisai mereka. Tiga orang raja bajak itu sendiri cepat mengibaskan ta-ngan mereka dan runtuhlah anak panah yang me-luncur ke arah mereka.
Kini Tung - hai - tiauw, Petani Lautan, dan Ra-ja Muda Selatan sudah berdiri berhadapan dengan iblis itu. Mereka bertiga tentu saja sudah mende-ngar dongeng penuturan nenek moyang mereka tentang Raja Kelelawar dan kini, berhadapan de-ngan orang yang mengaku keturunan Raja Kelela-war, mereka memandang tajam penuh selidik. Ter-
utama sekali Tung - hai - tiauw yang baru saja tadi menolak untuk menakluk kepada iblis ini karena bagaimanapun juga, dia masih belum dapat mene-rima begitu saja munculnya seseorang yang meng-aku sebagai keturunan raja - diraja penjahat yang hanya hidup sebagai dongeng itu. Apa lagi kalau dia, seorang Raja Lautan, harus takluk begitu saja !
Bagaimanapun juga, hati tiga orang raja bajak ini gentar juga. Orang yang berdiri dengan tegak di depan mereka itu memang mempunyai ciri - ciri seperti Raja Kelelawar dalam dongeng yang mere-ka dengar dari orang - orang tua dan guru - guru mereka. Orangnya tinggi kurus dengan pakaian serba hitam, mantel atau jubah hitam pula dan mukanya tersembunyi dalam gelap karena membe-lakangi bulan, muka yang nampak kaku seperti to-peng. Di pinggangnya sebelah kiri terselip dua buah pisau panjang yang gagangnya indah berta-bur batu pennata. Tiga orang raja bajak itu terta-rik dan juga merasa tergetar hatinya, Menurut dongeng yang pernah mereka dengar, raja iblis ini memiliki ilmu - ilmu yang sakti dan tidak lumrah. Kabarnya memiliki ginkang atau ilmu meringankan tubuh yang tidak ada bandingnya yang disebut Bu - eng Hwee - teng (Loncat Lari Tanpa Bayang-an), ilmu silat sakti Kim - liong Sin - kun (Naga Emas) dan tenaga sinkang yang dinamakan Pat-hong Sin - ciang (Tangan Sakti Delapan Dewa).
Akan tetapi, mereka bertiga memberanikan diri dan mengandalkan ilmu kepandaian mereka sendiri yang tidak boleh dipandang rendah. Maka, mere-kapun bersikap menantang dan bersiap untuk me-layani iblis itu. Raja Kelelawar melangkah maju dan dengan suaranya yang tajam dan tinggi dia bertanya,
"Siapakah di antara kalian yang berjuluk Raja-wali Lautan Timur ?"
Tung - hai - tiauw juga maju selangkah dengan berani, kemudian menjawab dengan suara nyaring, lebih nyaring dari biasanya untuk menambah se-mangatnya sendiri, "Akulah Tung - hai - tiauw yang juga menjadi Hai - ong ! Siapakah engkau ?"
Iblis itu mendengus. "Huh, mengapa engkau tidak mau datang memenuhi perintahku mengha-diri pertemuan di kuil atas bukit itu ? Kenapa pula engkau tidak menerima kedua orang utusanku siang tadi secara baik ? Benarkah engkau tidak mau bersatu di bawah benderaku, seperti yang terjadi pada jaman nenek moyang kita dahulu ? Apakah engkau masih meragukan aku ? Nah, kalau begitu, majulah, akan kuperlihatkan bahwa aku adalah keturunan Raja Kelelawar yang sejati!"
Sambil berkata demikian, dengan lengan kiri masih memanggul tubuh Pek Lian di atas pundak-nya, tangan kanan bertolak pinggang, raja iblis itu melangkah maju dengan sikap menantang se-kali ! Tung - hai - tiauw abalah seorang tokoh yang memiliki kepandaian tinggi. Apa lagi dia merasa sebagai Raja Lautan, tentu saja dia tidak mau memperlihatkan kelemahannya. Ditantang seperti itu, tentu saja dia tidak sudi untuk undur selangkah.
"Bagus! Hendak kulihat macam apa adanya orang yang berani menggunakan nama Raja Kele-lawar untuk mengacau"
Tung - hai - tiauw sudah menggunakan ilmu andalannya, yaitu Tiauw - jiauw - kang (Ilmu Kuku Rajawali) yang begitu dipergunakan, kuku - kuku jarinya menjadi kaku dan keras seperti baja. Akan tetapi, cakaran - cakaran kedua tangannya itu di-sambut oleh tangan kanan Bit - bo - ong seenaknya saja dan setiap kali cakar yang kuat itu bertemu dengan tangan Raja Kelelawar, Tung - hai - tiauw merasa betapa tangannya panas dan tergetar he-bat ! Padahal, lawannya itu menyambut serangan-serangannya hanya dengan sebelah tangan saja karena tangan kirinya masih memanggul tubuh Pek Lian di pundaknya !
Tung - hai - tiauw merasa penasaran sekali dan dia sudah mengeluarkan senjatanya yang ampuh, yaitu kipas besi dan segera menubruk ke depan, ta-ngan kirinya tetap mencengkeram ke arah kepala lawan sedangkan kipas besinya sudah menotok ke arah pusar. Kembali Raja Kelelawar memperlihat-kan kelihaiannya. Dengan mudah saja dia menang-kis cengkeraman pada kepalanya sedangkan totok-an kipas besi itu diterimanya dengan badan yang terlindung jubah pusakanya.
"Trakkk !" Tubuh Tung - hai - tiauw terpental ke belakang karena ketika kipas besinya menotok, senjatanya itu membalik dengan amat kerasnya. Dia menjadi semakin penasaran dan dicabutlah golok pusaka Toat-beng-to hadiah dari Petani Lautan. Kini golok dan kipasnya berkelebatan cepat menyerang Bit - bo - ong tanpa memperduli-kan kalau - kalau senjatanya itu akan mengenai tu-buh nona yang dipanggul oleh raja iblis itu. Na-mun, tiba - tiba saja tubuh Raja Kelelawar itu le-nyap dari pandang matanya dan dari samping, tangan kanan iblis itu sudah mencengkeram ke arah pelipisnya! Demikian cepat gerakan iblis itu sehingga Tung - hai - tiauw tidak mampu mengikuti gerakannya dengan pandang mata! Namun, Raja Lautan inipun lihai dan dari angin pukulan yang menyambar dia tahu di mana lawan yang pandai "menghilang" itu, dan diapun membacokkan golok nya menangkis untuk membuntungi lengan lawan. Kembali Bit - bo - ong mengelak dan kmi dengan mengandalkan kelincahan gerakan tubuhnya yang seolah-olah pandai menghilang atau beterbangan amat cepatnya itu, dia dapat mempermainkan Tung - hai - tiauw !
Raja Lautan itu merasa terkejut bukan main. Lawannya itu memanggul tubuh dara itu, dan ha-nya mempergunakan sebelah tangan saja, tangan kosong pula, namun sanggup menghadapi golok dan kipas besinya. Maklumlah dia bahwa memang
benar lawan ini sakti bukan main, maka diapun lalu memberi isyarat kepada dua orang pembantu-nya. Memang sejak tadi Petani Lautan dan Raja Muda Selatan sudah merasa penasaran. Mereka berduapun merasa tidak rela kalau sampai kedau-latan mereka di atas lautan digeser dan dikuasai oleh seorang asing yang berada di daratan. Maka, begitu melihat isyarat Raja Lautan, mereka berdua lalu terjun ke dalam perkelahian itu dan memper-gunakan senjata mereka.
"Plakkk !" Tiba - tiba sebuah tamparan tangan kanan Raja Kelelawar mengenai punggung Raja Lautan. Tamparan itu memang bertemu dengan baju emas yang melindungi tubuh Tung-hai-tiauw sehingga tidak sampai terluka. Akan tetapi hawa tamparan itu sedemikian kuatnya sehingga dia me-rasa seolah - olah isi dadanya rontok semua ! Un-tung bahwa pada saat itu, kedua orang pembantu utamanya sudah menerjang. Petani Lautan mem-pergunakan senjata cangkul bergagang panjang sedangkan Raja Muda Selatan mempergunakan pedang pemutus urat yang berbahaya itu.
Bit - bo - ong mengeluarkan suara mendengus keras dari hidungnya. Harus diakuinya bahwa se-telah tiga orang raja bajak ini mengeroyoknya, dia tidak mungkin dapat melayani mereka seenaknya seperti itu. Betapapun lihainya, harus diakuinya bahwa tiga orang itupun memiliki tingkat kepan-daian yang cukup tinggi. Maka diapun lalu meng-gerakkan tangan kanannya dan tahu - tahu dia sudah mencabut keluar sebatang pisau panjang yang gagangnya indah bertaburan batu permata itu. Karena tangan kirinya masih merangkul Pek Lian yang dipanggulnya, maka dia hanya dapat mempergunakan sebatang pisau panjang saja. Na-mun, ini juga sudah cukup karena dengan ilmunya meringankan tubuh yang luar biasa, ditambah pula lindungan yang kuat dari jubah hitamnya, tiga orang lawannya itu tidak mampu berbuat banyak. Senjata mereka hanya dapat mengenai jubah hitam dan selalu senjata mereka terpental tanpa dapat melukai lawan, sedangkan gerakan iblis itu me-mang amat cepat, sukar diikuti dengan pandang mata. Betapapun juga, karena mereka bertiga itu dapat bekerja sama dan saling bantu, bagi raja iblis itupun tidak mudah untuk dapat merobohkan seorang di antara mereka. Kalau saja iblis itu tidak memanggul tubuh Pek Lian, kiranya tiga orang jagoan laut itu tidak akan mampu bertahan sedemikian lamanya.
Pertempuran satu melawan tiga ini sungguh amat seru dan mati - matian. Sebetulnya, kalau saja Raja Kelelawar menghendaki, biarpun dia me-manggul tubuh Pek Lian, dengan ilmunya yang mujijat, agaknya dia masih mampu merobohkan dan membunuh para lawannya dengan serangan-serangan maut. Akan tetapi, dia tidak menghen-daki demikian. Dia membutuhkan bantuan rajaraja bajak ini untuk memperluas kekuasaannya, maka dia harus mampu menaklukkan mereka, bu-kan membunuh mereka. Tenaga mereka akan sa-ngat berguna baginya kelak. Karena inilah maka pertempuran itu berjalan seru dan sampai lewat ratusan jurus belum ada yang kelihatan menang atau kalah.
Perkelahian tingkat tinggi ini amat menegang-kan hati para anak buah bajak, juga para raja ba-jak kecil yang tidak berani maju karena merasa be-tapa tingkat kepandaian mereka masih belum cu-kup untuk membantu raja mereka. Mereka demi-kian tegang dan tertarik, hampir tak pernah ber-kedip menyaksikan pertempuran di atas perahu calon korban itu sehingga mereka tidak sadar bah-wa perahu - perahu itu bersama - sama terbawa arus yang halus mendekati daerah Pusaran Maut! Baru setelah sebagian dari mereka terkena percik-an air laut yang halus seperti kabut, mereka sadar! Tadi, suara gemuruh itu seolah - olah tertelan oleh suara mengaungnya senjata - senjata yang digerak-kan oleh tangan - tangan yang memiliki tenaga sakti amat kuat itu. Kini, tahu-tahu mereka sadar bahwa perahu-perahu mereka telah berada di dae-rah Pusaran Maut. Semburan air akibat berpu-singnya air di pusaran maut itu telah mengenai mereka, padahal pusaran itu masih jauh sekali. Setelah mereka sadar, kini suara gemuruh itu menggeratak dan tiba-tiba saja seperti menulikan telinga. Mulailah mereka menjadi panik dan ber-teriak - teriak, apa lagi setelah perahu - perahu mereka itu mulai terasa oleng terbawa arus dan gelombang yang amat kuat menyeret perahu - pe-rahu itu ke satu jurusan.
Tadi mereka tidak merasakan bahwa perahu-perahu mereka terseret karena perkelahian tingkat tinggi itu memang hebat bukan main. Demikian cepatnya gerakan Raja Kelelawar menghindarkan diri dari kepungan tiga orang lawannya sehingga perkelahian itu dilakukan sambil berloncatan di antara perahu - perahu, tiang - tiang layar, atap dan bergantungan pada tali-tali layar. Memang menakjubkan sekali menyaksikan kehebatan gin-kang dari Raja Kelelawar yang seolah - olah me-mang hendak mendemonstrasikan kepandaiannya sambil memanggul tubuh dara yang masih lemas tertotok itu.
Setelah kini mereka sadar, mereka semua ter-kejut bukan main dan mereka menjadi ketakutan karena mereka maklum akan ancaman bahaya maut yang amat mengerikan. Bagaikan orang-orang yang baru sadar dari mimpi buruk, semua orang tidak lagi memperdulikan pertempuran yang masih berlangsung mati - matian itu dan mereka semua berusaha untuk mendayung perahu masing-masing menjauhi atau keluar dari daerah berba-haya itu. Akan tetapi, arus air begitu kuatnya menarik perahu-perahu itu ke arah satu jurusan dan kini terasa hembusan angin yang amat kuat disertai alunan gelombang yang makin meninggi. Perahu-perahu itu menjadi cerai - berai. Semua perahu seperti tersedot ke arah suara gemuruh sehingga suasana menjadi semakin kacau dan semua orang menjadi panik ketakutan. Kabut tebal menggelap-kan cuaca. Semua orang berteriak-teriak ketakutan. Perahu-perahu mereka tak dapat mereka kuasai lagi, tersedot aras yang amat kuat dan melaju melingkari kabut tebal itu. Mereka telah berada dalam kekuasaan cengkeraman Pusaran Maut! Pe-rahu - perahu berputaran semakin cepat dan sema-kin ke tengah. Kabut air makin tebal, orang - orang berteriak dan tiba - tiba terdengar suara gemeratak seperti benda kayu patah - patah disusul jeritan-jeritan mengerikan. Pusaran Maut telah mendapat-kan korban pertama dengan pecahnya sebuah pera-hu dan menghanyutkan semua penumpangnya, ter-sedot oleh air yang berpusing itu entah ke mana.
Para bajak yang berada di atas perahu - perahu yang agak besar dan yang belum benar - benar ter-cengkeraman sedotan air berpusing itu berusaha mati - mat,ian untuk menjauhi tempat berbahaya itu. Akan tetapi perahu mereka itu rasanya seperti ada yang menahan dari belakang dengan kekuatan yang mengerikan, seperti ada tangan tak nampak yang memegangi buritan mereka. Saking panik dan ketakutan, ada bajak yang meloncat ke laut, ingin berenang menjauhi tempat itu. Akan tetapi justeru - dengan perbuatan itu, mereka itu seperti benda kecil ringan yang dengan mudahnya terseret ke pusat dari Pusaran Maut. Hanya terdengar te-riakan - teriakan mereka yang minta tolong melo-long-lolong lalu sunyi, sunyi yang mengerikan. Korban - korban berikutnya berjatuhan ketika ada tiga buah perahu yang seperti saling diadu oleh tangan raksasa yang tidak nampak, pecah beran-takan dan para penumpangnya terlempar disambut air berpusing lalu disedot entah ke mana.
Para bajak itu menjadi semakin panik. Biasanya, dalam upacara persembahan korban kepada Dewa Laut di Pusaran Maut, mereka tidak pernah sampai ke tempat sedekat itu dengan air berpusing itu. Tadi, saking terpesona oleh perkelahian tingkat tinggi di atas perahu, mereka tidak sadar dan tahu-tahu semua perahu telah berada begitu dekat di tempat berbahaya itu. Perahu di mana tiga orang itu bertanding kini juga sudah berada di tepi pu-saran dan diseret berputar - putar tak dapat diken-dalikan lagi.
Tentu saja perkelahian itu terhenti secara men-dadak. Tiga orang raja bajak itu memandang ke-luar perahu dengan muka pucat dan mata terbela-lak, tidak perduli lagi kepada Raja Kelelawar yarig berdiri tegak di atas dek sambil memanggul tubuh Pek Lian. Anak buah bajak yang kebetulan berada di perahu itu sibuk berusaha mendayung, namun usaha mereka sia-sia belaka, bahkan ada dayung yang patah ketika melawan arus. Tiga orang raja bajak itu adalah ahli-ahli dalam air dan jagoan-jagoan dalam mengemudikan perahu. Akan tetapi sekali ini mereka berdiri bengong dengan muka pu-cat seperti kehilangan akal. Angin menghembus semakin kuat dan ombak mengganas menggiriskan hati. Awan hitam bergulung - gulung dan tiba-tiba turun hujan badai yang dahsyat. Tentu saja hujan badai ini tercipta oleh pusaran maut itu karena di daerah itu langit nampak bersih.
Setelah berada dalam keadaan seperti itu, maka setiap orang hanya ingat akan keselamatan diri sendiri saja. Masing - masing hendak mencari ke-selamatan sendiri - sendiri. Rasa takut merupakan perasaan yang paling kuat untuk menyeret manusia menjadi mahluk yang paling pengecut, paling ke-jam, dan paling tidak berperikemanusiaan! Kalau ada orang yang melakukan perbuatan kejam, pada hakekatnya di lubuk hatinya terdapat rasa takut yang amat besar. Kalau ada orang melakukan per-buatan yang pengecut, diapun sedang dicengkeram oleh rasa takut yang amat besar. Rasa takut meng-hilangkan kewaspadaan dan ketenangan, membuat orang melakukan tindakan karena dorongan rasa takut itu, yang kadang-kadang merupakan perbu-atan yang membuta. Bermacam - macam bentuk-nya rasa takut. Ada yang takut menghadapi kesu-litan, takut kehilangan, takut kesepian, takut menderita, takut dijauhkan dari kesenangannya, dan takut akan kematian. Akan tetapi, semua bentuk rasa takut itu sesungguhnya berdasar sama, yaitu sang pikiran atau si aku yang membayangkan sesu-atu yang tidak menyenangkan, yang mungkin akan menimpanya. Kalau kita dapat terbebas dari rasa takut dan menghadapi segala sesuatu yang menim-pa diri kita pada saat itu juga, tanpa membayang-kan sesuatu yang belum terjadi, maka kita akan selalu tenang dan waspada dan pada saat - saat bahaya mengancam, kita akan dapat bertindak atau memberi tanggapan yang tepat berdasarkan ke-waspadaan dan ketenangan. Dan untuk dapat ter-bebas dari rasa takut tentu saja harus meniadakan si aku yang membayang-bayangkan hal-hal yang belum ada itu.
Tiga orang raja bajak itu cepat mencari perleng-kapan untuk menyelamatkan diri. Mereka memang selalu membawa perlengkapan untuk menolong diri kalau-kalau perahu mereka pecah atau terba-lik diserang badai atau apa saja. Kini mereka telah membawa sebuah jangkar dengan tali yang pan-jang. Raja Laut yang lebih dulu mengayun jang-karnya ke belakang, menggaet sebuah papan dari pecahan perahu. Dengan tepat jangkarnya meng-gaet papan itu dan diapun meloncat sambil meme-gangi tali, lalu berenang menuju ke arah papan. Dari situ dia meloncat lagi, jangkarnya menggaet lain benda. Dengan cara demikan, juga berkat kepandaian renangnya yang mahir, akhirnya dia dapat lolos dari sedotan Pusaran Maut. Dua orang: rekannya juga melakukan hal yang sama. Untuk melontarkan jangkar ke perahu lain tak mungkin karena jarak mereka dengan perahu - perahu lain cukup jauh dan kabut tebal membuat cuaca gelap. Hanya sedikit sinar bulan yang menembus kabut dan awan buatan Pusaran Maut itu, membuat se-keliling tempat itu nampak air berkilauan seperti cengkeraman - cengkeraman tangan maut yang hi-dup.
Raja Kelelawar bersikap tenang untuk memper-lihatkan kebesarannya. Akan tetapi sesungguhnya diapun agak bingung menghadapi ancaman maut mengerikan ini. Dia tahu bahwa sebagai seorang manusia, betapapun saktinya, dia tidak akan mam-pu melawan kekuatan alam yang demikian dah-syatnya. Pula, ilmu - ilmunya adalah ilmu di da-ratan, dan dia sama sekali bukanlah jago air seperti tiga orang raja bajak itu, walaupun ini tidak ber-arti bahwa dia tidak pandai berenang. Untuk dapat melakukan penyelamatan diri seperti tiga orang raja bajak tadi, dia merasa tidak mampu. Akan te-tapi, tokoh yang satu ini memang luar biasa. Dia sama sekali tidak menjadi panik sehingga dia tidak kehilangan kewaspadaannya. Sambil memanggul tubuh Pek Liari, dia melangkah ke tepi perahu. Dia masih mempunyai ilmu yang dapat diandalkan un-tuk menyelamatkan dirinya, yaitu ilmu ginkangnya yang sudah mendekati kesempurnaan itu. Setelah mencari - cari dengan pandang matanya seperti hendak menembus kegelapan, akhirnya dia meli-hat sebuah tiang layar hanyut tak jauh dari perahu. Cepat dia menurunkan tubuh Pek Lian dari pang-gulan, mengempit tubuh itu dengan lengan kirinya dan diapun menggerakkan kedua kakinya meloncat keluar dari perahu. Tubuhnya melayang dengan ringannya dan ketika kedua kakinya hinggap di atas tiang layar yang terapung itu, diapun sudah menggunakan tiang itu sebagai landasan untuk meloncat lagi menjauh dan kini yang hendak dija-dikan tumpuan loncatan adalah sesosok mayat orang yang terapung. Dengan cekatan dia melon-cat ke atas perut mayat itu dan menggunakannya untuk mengenjot tubuhnya lagi ke arah pecahan perahu di dekatnya. Karena pecahan perahu itu cukup besar, dia memperoleh kesempatan untuk berhenti sejenak di atasnya. Akan tetapi dia tidak boleh terlalu lama di situ karena walaupun dia te-lah agak menjauhi pusat Pusaran Maut, namun pecahan perahu itupun masih terseret ke tengah lagi. Maka ketika dia melihat sebuah balok besar lewat, diapun meninggalkan pecahan perahu itu dan meloncat ke arah balok besar. Ketika dia tiba di atas balok, dia mendengar suara hiruk - pikuk dan ternyata perahu yang tadi dipakai meloncat telah "dimakan" pusaran air dan hancur beran-takan. Kini dengan perimbangan badan yang luar biasa, dia berdiri di atas balok yang bergoyang-go-yang. Hujan angin membuat penglihatannya kabur dan dia tidak dapat melihat terlalu jauh. Dia men-cari - cari dengan pandang matanya kalau - kalau terdapat perahu untuk dipakai menyelamatkan diri dari tempat mengerikan itu, karena diapun tidak mungkin dapat terlalu lama bertahan di atas balok itu. Kalau tidak ada tempat lain yang lebih aman, kalau sampai dia tergelincir ke dalam air dan ter-seret ombak, akan celakalah dia !
TIBA-TIBA dia mengeluarkan suara tertahan sa-king girangnya. Dia tidak tahu betapa Pek Lian sejak tadi menderita ketakutan yang amat hebat. Dara ini dalam keadaan tertotok dipanggul dan di-bawa berkelahi mati - matian, lolos dari lubang ja-rum di antara sambaran senjata tiga orang raja ba-jak yang mengeroyok raja iblis itu. Kemudian, se-karang dibawa berloncatan berjuang memperta-hankan nyawa diancam kematian mengerikan di Pusaran Maut! Ingin rasanya Pek Lian menjerit dan menangis, akan tetapi dara ini menguatkan ha-tinya dan hanya memejamkan mata melihat ombak menggunung yang setiap saat seperti hendak me-nelannya. Beberapa kali mukanya disiram air laut dan mulut, hidung dan matanya terasa asin dan pedas sekali. Ketika raja iblis itu mengeluarkan suara tertahan dengan girang, Pek Lian membuka matanya dan dara inipun melihat bayangan sebu-ah perahu yang hanya nampak samar - samar dalam cuaca remang - remang itu. Perahu itu masih agak jauh, dan Raja Kelelawar memperhitungkan bahwa untuk mencapai perahu itu dia membutuhkan tiga atau empat kali loncatan lagi. Balok tempat dia berdiri sudah mulai berputaran kencang. Raja Iblis itu memandang ke sekeliling dan tiba - tiba di de-kat balok yang dipijaknya itu tersembul dua sosok mayat. Otaknya bekerja cepat sekali. Tangan ka-nannya mencengkeram rambut kepala dua mayat itu dan menariknya ke atas. Karena ditambah be-ban dua sosok mayat itu, balok yang dipijaknya tenggelam, akan tetapi raja iblis itu telah memper-gunakan balok itu untuk mengenjot tubuhnya me-loncat ke arah perahu di depan sambil melempar-kan sebuah di antara dua mayat yang dicengkeram-nya. Mayat itu menimpa permukaan air dan kedua kaki Raja Kelelawar menyusul cepat, hinggap di atas punggung mayat itu dan diapun melontarkan mayat ke dua ke depan, meloncat lagi dan dia sudah hinggap lagi di atas mayat ke dua. Kini dia sudah makin mendekati perahu itu, tinggal dua kali loncatan lagi. Akan tetapi tidak ada benda yang mengapung dekat, sedangkan tentu saja dia tidak mungkin dapat berdiri terlalu lama di atas mayat itu yang merupakan benda yang tidak tahan tera-pung. Sekarangpun mayat itu telah mulai turun dari permukaan air dan kedua kakinya sudah te-rendam ! Sekali ini, Raja Kelelawar benar-benar merasa ngeri. Tidak ada jalan lain lagi, pikirnya cepat. Sebelum dia terendam terlalu dalam sehing-ga sukar untuk meloncat, dia sudah mengenjot tubuhnya lagi menggunakan mayat itu sebagai lan-dasan, dan tubuhnya melayang ke depan. Karena tidak ada apa-apa yang dapat dijadikan tempat mendarat, kini dia melemparkan tubuh Pek Lian ke atas air setelah terlebih dahulu menotoknya sehingga jalan darah dara itu pulih kembali.
"Byuuurrr !!" Tubuh Pek Lian jatuh ke air
dan tiba-tiba kaki Raja Kelelawar telah mengin-jak punggungnya. Nona itu gelagapan dan me-ronta, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya tertekan kuat dan diapun tenggelam. Kiranya tubuhnya dipakai landasan meloncat oleh Raja Kelelawar yang kini meloncat ke arah perahu yang telah dekat. Akan tetapi oleh karena ketika dipakai landasan melon-cat, tubuh Pek Lian tenggelam dan meronta, maka loncatan Raja Kelelawar itu tidak dapat mencapai sasaran dan tubuhnya melayang turun masih ku-rang tiga meter dari perahu itu! Kalau orang lain yang meloncat seperti itu, tak dapat dicegah lagi tentu tubuhnya akan terjatuh ke dalam air. Akan tetapi Raja Kelelawar bukanlah manusia biasa, melainkan orang yang telah memiliki tingkat ke-pandaian yang amat hebat. Maka ketika tubuh-nya melayang turun, dia lalu mengeluarkan sa-buknya, melolos sabuk itu dan dihantamkannya sa-buk itu ke atas permukaan air laut. Terdengar bu-nyi ledakan keras seperti cambuk yang dipukulkan dan ketika ujung sabuk itu mengenai permukaan air, terjadilah gelombang besar dan tubuhnya sendiri dapat berjungkir balik ke atas sampai mende-kati perahu, kurang satu setengah meter lagi! Kini sabuknya kembali bergerak menyambar pinggiran perahu dan sekali dia membetot, tubuhnya melun-cur ke arah perahu. Dengan gerakan yang istime-wa, akhirnya Raja Kelelawar itu berhasil mendarat di atas dek perahu itu. Hatinya lega bukan main. Akan tetapi ketika dia menoleh ke arah air di ma-na tadi dia melemparkan tubuh Pek Lian, ternyata nona itu sudah tidak nampak lagi. Akan tetapi raja iblis ini tidak memperdulikannya lagi. Dia lalu mendayung perahunya dan menyelamatkan dirinya dengan membawa perahu itu menempuh ombak dan badai, menjauhi Pusaran Maut.
Badai dan ombak makin menggila dan agaknya keadaan ini malah dapat menyelamatkan sebagian dari para anak buah bajak. Perahu - perahu itu ada yang ditiup badai dan dibawa ombak menjauhi Pusaran Maut, walaupun banyak pula perahu yang diseret tenggelam berikut para pemumpangnya. Tiga orang raja bajak itu dapat menyelamatkan diri mereka dan dengan lesu mereka semua ber-kumpul di pulau Raja Laut, menghitung anak buah masing - masing dan ternyata sepertiga bagian dari anak buah mereka lenyap menjadi korban Pu-saran Maut. Sekali ini, bukan seorang perawan suci yang mereka persembahkan kepada Dewa La-ut, melainkan anak buah mereka sendiri yang pu-luhan orang jumlahnya. Diam - diam mereka menyalahkan peristiwa tiru. kepada Raja Kelelawar, akan tetapi di samping itu merekapun harus meng-akui bahwa Raja Kelelawar itu sungguh luar biasa sekali ilmunya dan memang pantas menamakan diri sebagai keturunan raja iblis itu. Biarpun dia masih terpilih sebagai Raja Lautan, namun sekali ini pengangkatannya sebagai raja diawali peristiwa yang amat tidak menyenangkan, membuat Tung-hai - tiauw berhati - hati dan cepat menyusun ke-kuatan anak buahnya lagi dengan mengambil ang-gauta - anggauta baru.
* * *
Pek Lian mengeluh ketika punggungnya diin-jak oleh kala Raja Kelelawar. Kekuatan yang men-dorongnya membuat tubuhnya tenggelam. Ia gela-gapan, meronta dan akhirnya dapat muncul kem-bali di permukaan air laut. Untung bahwa ia su-dah keluar dari arus berputar yang dibawa oleh Pusaran Maut. Sekuat tenaga ia berenang menja-uhi walaupun seluruh tubuh, terutama punggung-nya, terasa nyeri - nyeri. Akkhirnya ia berhasil meraih sebuah papan yang cukup lebar dan yang lewat di dekatnya. Agaknya papan itu adalah be-kas pintu kamar perahu. Ia lalu naik dan merebah-kan diri di atas papan itu, lalu dibiarkannya ombak membawa papan itu ke mana saja. Ia sudah keha-bisan tenaga dan ia memasrahkan dirinya kepada kekuasaan yang menggerakkan air laut luas itu. Dan iapun terlelap, setengah pingsan, tak tahu apa - apa lagi.
Fajar telah menyingsing. Matahari yang lembut sinarnya, kemerahan dan bulat besar, muncul dari permukaan air laut sebelah timur. Sudah tidak ada bekasnya lagi hujan badai semalam. Langit nam-pak bersih cerah, dengan awan - awan putih kebi-ruan menghias di!sana-sini, nampak begitu tenang tenteram penuh damai yang mengamankan hati. Tiada angin menggerakkan awan - awan tipis itu. Burung camar beterbangan di udara. Sepagi itu mereka belum sibuk mencari ikan, agalknya masih bermalas - malasan membiarkan dirinya melayang dan meluncur berkeliling di udara. Sayap mereka hanya bergerak sekali - kali saja, dan hanya dikem-bangkan untuk menjaga keseimbangan tubuh ketika meluncur di langit yang kosong. Ekornya kadang-kadang bergerak bersama kepala, agaknya untuk mengemudikan penerbangan mereka yang seenak-nya itu. Kadang - kadang mereka mengangkat ke-pala agak tinggi dan mengeluarkan teriakan, mung-kin memanggil pacarnya atau temannya. Namun gerakan tubuh yang meluncur berkeliling itu, teri-akan sekali - kali yang parau itu, sama sekali tidak mengganggu keheningan yang terasa menyelimuti dunia di saat itu. Mereka bahkan menjadi sebagi-an dari kesunyian dan keheningan itu, dan tanpa mereka keheningan itu takkan lengkap agaknya.
Matahari pagi menciptakan sebuah lorong emas di permukaan air laut yang tenang, sebuah lorong emas memanjang yang kadang - kadang dilintasi bayangan ikan yang tersembul dari permukaan air, nampak siripnya lalu menyelam kembali mening-galkan lingkaran - lingkaran di permukaan air. Makin lama, lorong keemasan itu berobah semakin terang dan akhirnya terganti menjadi lorong perak yang mulai menyilaukan mata. Pada saat itu orang sudah tidak lagi berani memandang ke arah mata-hari yang telah berobah menjadi bola perak yang bernyala - nyala.
Pek Lian mengeluh, membuka matanya dan sejenak ia bingung. Akan tetapi, begitu terasa be-tapa punggung dan pundaknya nyeri, dan menge-nal papan di mana ia rebah, ia segera teringat akan keadaannya dan iapun memaksa tubuhnya untuk bangkit duduk. Laut tenang sekali sehingga papan yang ditumpanginya itu hampir tidak bergerak. Ia memandang ke sekeliling. Air dan air biru yang mulai berkilau tertimpa cahaya perak matahari. Ketika menoleh ke arah timur, matanya menjadi silau dan cepat - cepat ia membuang muka. Ia ti-dak tahu sampai di mana papan itu membawanya, dan di sekitarnya yang nampak hanya air laut sa-ja. Perutnya terasa perih dan lapar bukan main.
Ketika ia melihat sebatang dayung di dekatnya, ia merasa girang bukan main dan cepat mengam-bilnya. Ia tidak ingat lagi kapan ia menemukan
dayung ini, mungkiri semalam ketika ia naik ke papan ini, ia tidak tahu lagi. Yang penting, da-yung ini akan dapat membawanya ke darat! Ia harus cepat - cepat menemukan daratan kalau ia ingin hidup karena tidak mungkin ia dapat berta-han lama di atas papan ini tanpa makan dan mi-num, sedangkan tubuhnya masih lelah dan nyeri semua rasanya. Ia tahu bahwa ia berada di laut timur, maka ia tidak ragu lagi bahwa daratan tentu berada di barat, arah sebaliknya dari matahari. Maka iapun mulai mendayung ke arah yang seba-liknya dari matahari terbit, ke barat. Punggung dan pundaknya terasa nyeri ketika mendayung, na-mun ia memaksa diri dan mendayung dengan gerak-an tetap, tidak berani terlalu mengerahkan tenaga karena hal ini akan cepat menghabiskan tenaganya. Karena air laut amat tenang, maka papannya dapat meluncur dengan kelajuan yang cukup membesar-kan hati.
Akan tetapi kebesaran hatinya mulai mengecil dan harapannya makin menipis setelah matahari naik tinggi dan sinarnya menimpa ubun-ubun kepalanya, kedua lengannya sudah pegal - pegal senerti hendak patah-patah rasanya, punggung dan pundaknya kiut - miut rasanya, namun belum juga nampak adanya daratan atau pulau. Perutnya sudah terasa lapar sekali dan tabuhnya lemas. Tenggo-rokannya kering. Tubuh terasa setengah lumpuh dan matanya mulai berkunang-kunang. Pek Lian mengeluh dan menghentikan gerakan tangannya yang mendayung. Ia memejamkan kedua matanya, merasa bahwa kematian agaknya tak lama lagi ten-tu datang menjemputnya. Dari jauh ia seperti me-lihat wajah ayah dan ibunya. Mereka datang hen-dak menjemputnya ! Ayahnya nampak berpakaian serba putih, jenggotnya yang panjang dan putih itu berkibar tertiup angin dan ibunya yang telah tiada itu nampak masih muda dan cantik sekali. Mereka berdua itu mengulurkan tangan kepadanya dan iapun tidak ingat apa - apa lagi !
Samar - samar dilihatnya lagi ayahnya yang ber-pakaian putih, bersama ibunya yang juga berpa-kaian serba putih. Mereka itu lewat atau lebih tepat melayang agak jauh dari tempat ia rebah. Mereka meninggalkannya.
"Ayaaahhh ! Ibu !" Pek Lian menge-
luh dan memanggil lalu tersadar. Ia membuka ma-
tanya. Bayangan ayah bundanya sudah tidak
nampak lagi. Dan ia mendapatkan dirinya berada
di dalam sebuah kamar kecil, rebah di atas sebuah
dipan. Ia terbawa oleng ke kanan kiri dan telinga-
nya dapat mendengar suara hempasan air memu-
kul dinding kamar. Ia berada dalam sebuah bilik
perahu ! Ketika menoleh ke kiri, ia melihat seorang gadis berpakaian serba putih duduk di atas sebuah
kursi kayu, memejamkan kedua matanya, agaknya
tertidur atau beristirahat. Ketika Pek Lian meneliti
dirinya, ternyata pundak kirinya telah dibalut dan
terasa olehnya betapa punggung dan pundaknya hangat dengan obat lumur, juga ada tercium bau obat olehnya. Sekalipun tubuhnya masih penat-pe-nat, akan tetapi punggung dan pundaknya sudah tidak terasa nyeri lagi ketika digerakkan. Ia meman-dang ke sekeliling memeriksa keadaan dalam bilik itu. Di atas meja kecil terdapat bermacam - macam gelas obat, agaknya obat - obat untuknya. Akan tetapi tiba - tiba hidungnya mencium bau yang aneh. Ia menjadi waspada dan ketika ia mengenal bau harum dupa yang biasa dipakai orang untuk menyembahyangi orang mati, alisnya berkerut. Kurang ajar ! Agaknya orang - orang dalam perahu ini menganggap bahwa ia sudah mati! Akan tetapi, pada saat itu timbul gagasan yang membuat dara ini hampir tertawa cekikikan. Kalau ia dianggap sudah mati, biarlah ia akan membuat mereka se-mua itu ketakutan! Tentu mereka itu akan ngeri melihat ia hidup kembali ! Ia melirik ke arah gadis yang terkantuk-kantuk di atas kursi dan tersenyum. Orang pertama yang akan melihat "mayat hidup" adalah gadis ini. Ia membayangkan betapa gadis itu akan terkejut dan ketakutan setengah mati, ter-kencing - kencing!
"Ehem! Ehem!!" Ia terbatuk-batuk sambil duduk menghadapi gadis itu.
Benar saja. Gadis itu terbangun dari tidurnya. Akan tetapi bukan gadis itu yang terkejut ketakutan melihat mayat hidup, melainkan Pek Lian sen-diri yang kecelik karena gadis itu sama sekali tidak kelihatan takut, bahkan girang. Gadis itu lalu me-loncat mendekati dan berusaha mencegahnya un-tuk duduk terlalu lama.
"Aihh nona sudah siuman kembali ?
Dan eh, harap nona jangan banyak bergerak
dulu, harap suka rebah saja "
Akan tetapi Pek Lian tidak mau rebah kembali. Sambil memandang tajam iapun bertanya, "Di mana aku berada ? Dan siapakah engkau ?
Sebelum gadis itu menjawab, pintu bilik perahu itu terbuka dan muncullah seorang gadis cantik je-lita yang berperawakan langsing. Juga gadis ini berpakaian serba putih, terbuat dari pada sutera halus. Wajah yang cantik itu tersenyum ramah ke pada Pek Lian.
"Enci Lian berada di perahu kami. Lupakah enci kepadaku ? Kami adalah kaum Tai-bong-pai dan enci pernah membantuku ketika aku sedang diobati oleh keluarga keturunan Tabib Sakti bebe-rapa bulan yang lalu."
"Ahli engkau adik Kwa Siok Eng ?"
Pek Lian berkata lirih, kini teringat kepada gadis remaja yang cantik itu, yang dahulu menderita sakit lumpuh dan diusung dalam keranjang pada tengah malam oleh anak buah Tai - bong - pai, di-antar oleh nyonya Kwa tokoh Tai - bong - pai, ibu dari gadis ini.
"Enci Pek Lian, aku sangat berterima kasih ke-padamu atas budimu yang besar itu." Siok Eng menjura dengan hormat, kemudian mendekati pem-baringan dan dengan halus ia membujuk agar Pek Lian suka rebah kembali karena gadis itu sedang berada dalam pengobatan. "Lukamu yang berada di sebelah dalam cukup gawat, enci, maka engkau perlu beristirahat dan mengalami pengobatan yang teliti."
"Terima kasih, adik Eng. Kalau tidak bertemu
dengan perahumu eh, bagaimana engkau da-
pat menolongku dan dengan siapa saja engkau ber-
layar ini ? Dan hendak ke mana ?"
Siok Eng tersenyum dan nampak deretan gigi yang putih dan rata seperti rangkaian mutiara. Diam - diam Pek Lian harus mengakui bahwa da-ra ini juga amat cantik jelita ! Hanya sayangnya, wajah yang rautnya manis ini nampak kepucatan seperti wajah orang - orang Tai - bong - pai pada umumnya. Siok Eng merasa geli mendengar hujan pertanyaan itu.
"Enci Lian, aku sedang pergi hendak mencari
Ban - kwi - to "
"Ban - kwi - to ?" Pek Lian bergidik, teri-
ngat bahwa Ban - kwi - to (Pulau Selaksa Setan) adalah tempat tinggal orang - orang yang amat lii hai dan kejam seperti Bouw Mo - ko dan Hoan
Mo - li, kakek nenek cabul tak tahu malu yang gai nas dan amat jahat itu.
Siok Eng mengangguk. "Dengan ditemani ti-gabelas orang dayang dan ahli-ahli perahu, aku berlayar mencari Ban - kwi - to dan kebetulan seka0 li aku melihat engkau rebah pingsan di atas panan itu. Aih, betapa besar rasa terima kasihku kepada Dewa Lautan yang telah mempertemukan kita se-hingga aku berkesempatan untuk membalas segala budi kebaikanmu dahulu, enci Lian." Ia berhenti sebentar dan menatap wajah Pek Lian, lalu melan-jutkan dengan pertanyaan, "Akan tetapi, sungguh tak ada habisnya aku berheran bagaimana engkau tahu - tahu berada di tengah lautan, di atas sebuah papan pintu, dalam keadaan terluka dan kehabisan tenaga, enci Lian ?"
Pek Lian menarik napas panjang. "Ah, agak panjang ceritanya, adik Eng. Aku tertawan oleh anak buah Raja Lautan, hendak dijadikan korban Pusaran Maut agaknya."
"Ah, bukan main! Engkau terpilih menjadi korban Dewa Laut di Pusaran Maut ? Tentu me-reka itu kembali mengadakan pemilihan Raia La-utan yang diadakan tiga tahun sekali, bukan ? Dan bagaimana engkau dapat lolos dari bahaya maut seperti itu ?"
"Terjadi keributan dengan munculnya Raja Ke-
lelawar "
"Ihhh ......!" Siok Eng membelalakkan mata-nya yang bening. "Benarkah raja iblis itu muncul di sana ? Di pulau Raja Lautan ?"
"Tidak, tahu-tahu dia muncul di antara pe-rahu-perahu, hendak menundukkan tiga raja ba-jak laut. Terjadi perkelahian hebat dan perahu-perahu itu tanpa mereka sadari telah terseret oleh Pusaran Maut. Semua orang nyaris tewas dan aku sendiri akhirnya dapat menyelamatkan diri dan
menumpang pada papan itu " Pek Lian tidak
mau menceritakan semua pengalamannya yang mengerikan, juga memalukan. Mana mungkin ia menceritakan betapa ia ditawan Raja Kelelawar, dipanggul dan pinggulnya dielus - elus dan dicubit, kemudian betapa ia dijadikan batu loncatan oleh raja iblis itu yang hendak menyelamatkan diri ?
Siok Eng menarik napas panjang. "Ah, ternyata para dewa masih melindungimu, enci Lian! Lolos dari tangan mereka sungguh merupakan keajaiban, dan lolos dari Pusaran Maut juga merupakan suatu kemujijatan."
"Dan dalam keadaan hampir mati bertemu de-nganmu merupakan berkah yang luar biasa besar-nya, adik Eng. Sebenarnya, orang seperti engkau ini mau apa pergi ke Pulau Selaksa Setan yang menjadi sarang manusia-manusia iblis yang amat kejam itu ?"
Siok Eng tersenyum. "Biarkan aku memeriksa lagi luka-lukamu, enci, nanti kuceritakan semua-nya kepadamu." Dara itu lalu membuka balut pun-dak Pek Lian, memeriksa dan memijat sana - sini dengan jari - jari yang ahli.
"Engkau sekarang telah menjadi seorang ahli pengobatan yang hebat, Eng-moi," ia memuji. "Dan tentu engkau sekarang sudah sembuh sama sekali dari penyakitmu dahulu itu, bukan ?"
Dara yang usianya baru kurang lebih tujuhbelas
tahun itu mengangguk. "Ya, aku sudah sembuh
berkat pertolongan locianpwe Kam Song Ki "
"Apa ? Kaumaksudkan kakek murid ke tiga dari Raja Tabib, yang amat hebat ilmu ginkang-nya itu ?" Pek Lian berseru dan terbayanglah wa-jah yang tampan dari Kwee Tiong Li, ketua lem-bah pemimpin para patriot itu. Biarpun dia menye-but nama kakek itu, namun sesungguhnya yang ter-bayang olehnya adalah pemuda itu yang pergi bersama si kakek. "Di manakah adanya kakek itu sekarang ?"
Siok Eng menggeleng kepalanya. "Entahlah, setelah dia mengobati aku, bersama muridnya dia lalu pergi meninggalkan tempat kami, entah ke mana. Apakah enci mengenal mereka ?"
Pek Lian mengangguk tanpa menjawab. Wajah yang tertimpa sinar lampu itu nampak demikian cantiknya dan karena lampu itu terbungkus kertas warna merah sehingga sinarnya kemerahan maka kepucatan wajahnya tertutup oleh sinar itu. Di lain fihak, Siok Eng yang dipandang seperti itu oleh
Pek Lian, menjadi agak heran dan malu-malu. Ia melanjutkan pengobatannya, memberi obat lumur ke pundak dan punggung Pek Lian sambil berce-rita.
"Engkau tadi bertanya mengapa aku pergi mencari Pulau Selaksa Setan ? Sesungguhnya aku mencari tempat tinggal orang - orang beracun dari pulau itu adalah untuk mencari Hek - kui - hwa (Bunga Mawar Hitam atau Bunga Setan Hitam) yang berdaun putih. Menurut ayahku, bunga itu hanya tumbuh di sana dan bunga itulah yang da-pat menjadi obat untuk membantuku menyempur-nakan latihan ilmu keturunan Tai - bong - pai. De-ngan bantuan racun bunga itu, yang dalam hal umum mengandung racun yang mematikan dan tidak ada obat penawarnya, maka aku akan dapat menyalurkan sinkang untuk membuka jalan darah yang paling rumit dan gawat, yaitu Kim - nauw-hiat di ubun - ubun kepala. Tanpa dapat menem -bus jalan darah itu, ilmu keturunan kami tidak akan danat dikuasai dengan sempurna. Akan tetapi me-mang banyak bahayanya menyempurnakan ilmu itu sehingga ayah telah melarangku. Akan tetapi aku nekat karena ingin sekali mewarisi ilmu itu dan akibatnya engkau telah tahu sendiri. Aku menjadi lumpuh dan hampir saia mati. Melihat kenekatan-ku. setelah aku sembuh, ayah membuka rahasia ini, yaitu bahwa kalau aku bisa memperoleh Hek-kui-hwa dari Pulau Ban-kwi-to, maka aku akan dapat berhasil mewarisi ilmu itu. Sampai kini, hanya ayah seorang saja yang telah menguasai ilmu ketu-runan itu dengan sempurna."

Pek Lian mendengarkan dengan hati penuh ka-gum. Semuda itu, Siok Eng telah mempelajari ilmu yang sedemikian hebatnya dan semangat dara ini demikian besar sehingga berani menempuh ba-haya dengan mencari pulau yang ditakuti oleh se-mua tokon kang-ouw itu. Mereka melakukan pe layaran sampai seminggu lamanya. Karena diobati dengan tekun dan dibantu pengerahan tenaga sinkang dari Siok Eng, maka kesehatan Pek Lian pulih kembali.

Setiap kali melihat cara Siok Eng melakukan siulian, Pek Lian merasa heran sekali. Nona dari Tai - bong - pai itu kalau melakukan samadhi, sela-lu dikelilingi berpuluh dupa wangi yang membara sehingga asap hio itu menyelimuti seluruh tubuh-nya. Akhirnya ia tidak dapat menahan diri dan bertanya tentang hal ini kepada Siok Eng.

Bersambung

Darah Pendekar 19                                                                Darah Pendekar 21