Rabu, 15 Mei 2013

DARAH PENDEKAR 19

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Bab 19
Tiba - tiba terdengar sumpah serapah dari da-lam rumah itu dan pintu depan yang baru sete-ngahnya dibuka oleh Pek Lian tadi kini jebol di tendang orang dari dalam. Lalu muncullah dua orang kakek yang keluar sambil mengomel. Yang seorang berusia empatpuluh lima tahun, bertubuh gemuk pendek dan membawa sebatang toya baja putih, sikapnya angkuh dan memandang rendah mereka yang datang mengepung. Orang ke dua adalah seorang kakek berusia limapuluh tahun ber-jubah kulit harimau, tubuhnya tinggi besar mena-kutkan dan tangannya membawa sehelai rantai baja yang ujungnya merupakan tombak berjangkar, dililitkan di lengannya. Dua orang ini bukan lain ada-lah dua di antara Sam - ok, yaitu yang pertama adalah Sin - go Mo Kai Ci Si Buaya Sakti, sedangkan yang ke dua bukan lain adalah San - hek - houw Si Harimau Gunung! Tentu saja Pek Lian segera mengenal dua orang pembantu utama dari Raja Kelelawar ini.
Para pengero-yok terkejut karena ternyata dua orang ini jauh lebih ganas dan lihai dari pada nona itu. Sebentar saja, beberapa orang pengeroyok telah roboh dan luka - luka. Sementara itu, San - hek - houw men-dekati Pek Lian dan memaki, "Bocah kurang ajar! Engkau membikin kacau rencana orang saja!"
Perkelahian keroyokan itu menjadi semakin seru ketika muncul sembilan orang thouw - bak dari tiga kepala bajak itu. Karena mereka ini termasuk orang - orang yang lihai, maka setelah sembilan orang ini mengeroyok, barulah dua orang di antara Sam - ok itu agak dapat ditahan. Bagaimanapun juga, sembilan orang thouw - bak itu kewalahan, walaupun mereka telah dibantu oleh banyak anak buah mereka. Sementara itu, Pek Lian juga repot sekali dikeroyok banyak anggauta bajak, walaupun banyak sudah anggauta bajak yang roboh olehnya. Agaknya perkelahian keroyokan ini merupakan pertunjukan yang tidak kalah menariknya dari pada perlumbaan semalam. Banyak yang datang me-nonton dan kalau ada seorang anggauta bajak yang terpental dengan kepala benjol atau tulang patah,
para penonton mentertawainya. Sementara itu pengeroyokan menjadi semakin ketat.
Tiba - tiba terdengar bentakan-bentakan nyaring dan para penonton bersibak memberi jalan masuk kepada Lam - siauw - ong Si Raja Muda Selatan dan Si Petani Laut. "Kalian mundurlah dan biar-kan kami menghajar pengacau - pengacau ini!" terdengar Raja Muda Selatan berkata dan sembilan orang thouw - bak yang sudah kewalahan itu lalu mundur. Juga para bajak yang tadinya mengeroyok. Pek Lian, mengundurkan diri sehingga - nona itu dapat mengaso dan menghapus peluh di leher dan dahinya dengan ujung lengan baju.
Raja Muda Selatan yang berpakaian mewah dan bertubuh gendut itu segera mencabut sebatang pedang panjang yang besar, lalu menerjang Si Bua-ya Sakti tanpa banyak cakap lagi. Agaknya Lam-siauw - ong ini tadi sudah melihat betapa lihainya kakek gemuk pendek ini, maka dia langsung saja menyerang menggunakan pedangnya.
"Trang - trang - tranggg !" Pedang berte-
mu bertubi - tubi dengan toya baja putih, membu-
at telinga yang mendengarnya menjadi sakit dan
nampak bunga api berpijar menyilaukan mata..
Ternyata keduanya memiliki tenaga yang berim-
bang dan terjadilah perkelahian seru antara Raja
Muda Selatan dengan Si Buaya Sakti.
Adapun Si Petani Laut yang melihat rekannya-sudah saling serang dengan seorang pengacau, lalu menggerakkan senjatanya untuk menyerang Si Ha-rimau Gunung. Senjata dari Petani Laut ini me-mang istimewa, yaitu sebuah cangkul bergagang panjang. Caranya menyerang seperti mencangkul tanah, akan tetapi sekali ini bukan tanah yang di-cangkulnya, melainkan kepala lawan !
"Trangg wuuuut, cringgg !" Si Ha-
rimau Gunung juga cepat menangkis dengan sen-
jata rantainya dan balas menyerang sehingga me-
rekapun terlibat dalam perkelahian yang amat
seru.
Kini para penonton menjadi semakin gembira karena pertandingan itu sungguh amat hebat, jauh lebih ramai dari pada tadi karena kedua pihak memiliki kepandaian dan tenaga yang berimbang. Pek Lian sendiri hanya dapat menonton karena tentu saja ia tidak dapat berpihak manapun. Mere-ka yang saling berkelahi itu adalah sama - sama penjahat, hanya bedanya kalau Si Buaya Sakti dan Harimau Gunung adalah raja - raja penjahat da-ratan, maka dua orang lawannya adalah raja pen-jahat lautan. Diam - diam ia merasa heran mengapa mereka itu saling hantam sendiri, akan tetapi ia teringat bahwa kedua orang raja penjahat daratan itu adalah pembantu - pembantu utama Raja Ke-lelawar dan bahwa Tung - hai - tiauw si Rajawali Lautan Timur sebagai orang pertama dari Sam - ok masih belum menjadi anak buah atau pembantu iblis itu.
"Tahan senjata !" Tiba - tiba terdengar bentakan nyaring. "Kita adalah orang - orang sendiri!" Em-pat orang yang sedang loerkelahi itu berhenti dan ternyata yang muncul itu adalah seorang bertubuh tinggi kurus yang berwibawa dan orang ini bukan lain adalah si Rajawali Lautan Timur sendiri, peng-huni Istana Raja Lautan karena selama tiga tahun ini dialah yang berhak menjadi raja lautan setelah mengalahkan semua kepala bajak lainnya.
Empat orang itu segera berloncatan mundur dan perkelahian yang amat seru itupun segera dihenti-kan. Tung-hai-tiauw tertawa bergelak dan meng-angkat tangan sebagai tanda salam kepada dua orang raja penjahat daratan itu. "Ha - ha, selamat datang di tempat kami! Sungguh tidak pernah kami duga bahwa dua orang sahabat lama kami sudi berkunjung ke sini. Ha - ha, kalau tidak ber-kelahi berarti tidak kenal, betapa tepatnya kata-kata itu. Saudara - saudaraku Raja Muda Selatan dan Petani Lautan, mereka ini adalah sobat - sobat-ku yang baik, yaitu Sin - go Mo Kai Ci Si Buaya Sakti dan San - hek - houw Si Harimau Gunung, dua orang yang amat terkenal di daratan sana!" kata-katanya yang terakhir ini untuk saling mem-perkenalkan empat orang yang tadi saling serang itu.
"Aha! Kiranya ini saudaramu yang berjuluk Raja Muda Selatan yang tersohor itu ? Aihh, pantas saja, hampir - hampir aku terjungkal di tangannya
kalau aku tidak berhati - hati tadi!" kata Si Bua-ya Sakti memuji.
"Wah, Sin - go Mo - sicu terlalu memuji orang," kata Raja Muda Selatan. "Sebaliknya, toya baja putihmu benar-benar membuat aku repot tadi!"
"Gila! Aku sendiripun repot sekali menghadapi cangkul panjang itu, kiranya yang memainkannya adalah Petani Lautan ! Pantas begitu lihai!" kata pula San - hek - houw memuji.
"Dan nona ini, siapakah ia ? Apakah murid dari kalian ?" Rajawali Lautan bertanya sambil me-mandang kepada Pek Lian, diam - diam kagum ka-rena selain cantik sekali, juga nona ini masih muda akan tetapi telah memiliki kepandaian yang cukup tinggi dan keberanian yang luar biasa. Juga sikap dara ini bukan seperti wanita - wanita dari golong-an sesat, melainkan gagah sekali dan membayang-kan keagungan dan ketinggian harga diri.
"Sialan mempunyai murid macam ini!" Hari-mau Gunung berseru.
"Bocah perempuan ini di mana - mana hanya membikin kacau saja!'" kata pula Si Buaya Sakti "Kami tidak mengerti bagaimana ia bisa tiba-tiba muncul di tempat ini!"
Mendengar ucapan dua orang tamu itu, wajah Rajawali Lautan berseri gembira. Kiranya nona ini tidak ada sangkut - pautnya dengan dua orang ta-mu itu. Tentu seorang mata-mata, akan tetapi mata - mata dari mana ? Dan ia begitu muda dan cantik dan lihai. "Bagus! Kalau begitu, ia adalah tawanan kami!" Ia lalu memberi isyarat kepada para pembantunya untuk menangkap Pek Lian.
Empat orang thouw - bak maju dan menubruk Pek Lian. Akan tetapi dara ini sudah siap dan segera menggerakkan kaki dan tangannya mela-kukan perlawanan mati - matian. Semua orang kini nonton dara yang hendak ditawan ini dan ternyata empat orang thouw - bak yang lihai-lihai itu ke-walahan untuk dapat menangkap si nona. Kalau mereka diperintahkan untuk merobohkan Pek Lian, mungkin lebih mudah bagi mereka. Akan tetapi perintahnya adalah menangkapnya, jadi mereka tidak berani mempergunakan senjata dan tidak be-rani menggunakan pukulan maut, hanya berusaha menubruk dan menangkap saja. Karena itu, mere-ka berempatlah yang menjadi bulan - bulanan tam-paran dan tendangan Pek Lian. Bahkan seorang di antara mereka terkena hantaman pada dadanya sehingga roboh pingsan dan tidak mampu bangkit kembali! Melihat keadaan itu, Rajawali Lautan menjadi marah. Dia mendengus dan menerjang maju, tangannya yang berkuku tajam seperti baja kuatnya itu mencengkeram ke arah pundak Pek Lian. Dara ini mengenal serangan berat, maka ia-pun cepat mempergunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak sambil mengirim tendangan yang disusul pukulannya ke arah perut kepala bajak itu.
"Dukk ! Bukkk !" Baik tendangan maupun pukulannya dengan tepat mengenai sasaran, yaitu dada dan perut orang tinggi kurus itu. Akan tetapi sama sekali tidak mengguncangkan tubuh Tung-hai - tiauw, bahkan dia mempergunakan kesempat-an selagi Pek Lian tertegun melihat serangannya mengenai tubuh yang kebal, cepat tangannya me-nyambar tengkuk dan menotok. Seketika Pek Lian merasa tubuhnya lunglai dan iapun tidak dapat melawan lagi ketika para thouw - bak menubruk dan meringkusnya, membelenggu kaki tangannya dan membawanya pergi ke kamar tahanan !
Rajawali Lautan tertawa, lalu berkata kepada empat orang kawannya, "Nah, sobat-sobatku, ma-rilah kita pergi ke ruang tamu untuk bercakap-cakap !" Mereka lalu pergi menuju ke istana di puncak bukit. Dua orang raja penjahat daratan itu tiada habisnya mengagumi istana yang megah dan mewah itu. Sungguh keadaan para bajak lebih baik dibandingkan dengan keadaan para perampok di daratan yang selalu dikejar - kejar oleh pasukan pemerintah.
Di sebuah ruangan yang luas di dalam Istana Raja Lautan itu sedang diadakan perjamuan makan minum istimewa, perayaan pesta untuk meramai-kan pertemuan antara pimpinan yang diadakan tiap tiga tahun itu. Ketika Rajawali Lautan sebagai tuan rumah bersama empat orang tamu dan rekan-nya memasuki ruangan itu, tempat itu sudah penuh dengan para tamu dan sejak tadi suara musik meng-
iringi para penari dan penyanyi yang cantik - cantik. Para tamu bangkit berdiri ketika melihat lima orang gagah itu, terutama sekali untuk menghormat Ra-jawali Lautan yang dianggap sebagai raja dan juga tuan rumah. Dengan sikap ramah dan gagah, Raja-wali Lautan memberi isyarat kepada semua tamu untuk duduk kembali dan diapun mempersilahkan Raja Muda Selatan, Si Petani Lautan, Si Buaya $akti dan Si Harimau Gunung untuk mengambil tempat duduk di kursi - kursi kehormatan, dekat tempat duduknya sendiri sebagai tuan rumah. Se-telah tuan rumah dan para tamu kehormatan hadir, musik dipukul makin meriah, dan para penari mem-perlihatkan keindahan tarian mereka, diseling oleh para penyanyi. Guci-guci arak baru dikeluarkan dan suasana menjadi semakin meriah.
"Kursi siapakah itu?" tiba-tiba Si Buaya Sakti bertanya kepada tuan rumah. Juga temannya, Si Harimau Gunung, merasa heran melihat adanya sebuah kursi yang gemerlapan, seperti sebuah singgasana raja. Kursi itu kosong dan ditutup kain pu-tih, ditaruh di tengah - tengah dan di tempat yang paling tinggi.
Tuan rumah tertawa dan memberi penjelasan kepada dua orang rekan yang menjadi tamu kehor-matan. "Ah, kalian secara kebetulan saja datang ke sini, tidak tahu bahwa kami sedang mengada-kan pesta yang paling meriah di antara kami, para pendekar lautan ! Ketahuilah, di antara kami, seti-
ap tiga tahun sekali dipilih seorang yang paling tinggi tingkat kepandaiannya dan orang ini diang-kat menjadi Raja Lautan, dan dia berhak tinggal di pulau ini, di Istana Raja Lautan sebagai orang yang paling berkuasa di seluruh lautan ini, selama tiga tahun. Dan setelah tiga tahun, diadakan pemi-lihan untuk mengangkat Raja Lautan yang baru. Untuk tiga tahun terakhir ini, akulah yang berun-tung menjadi Raja Lautan. Hari ini aku harus da-pat mempertahankan kedudukan itu untuk tiga tahun lagi. Kalau ada yang lebih lihai dari pada aku, dialah yang berhak menjadi Raja Lautan se-lama tiga tabun mendatang. Kursi itu adalah sing-gasana raja kami dan karena hari ini sedang dia-dakan pemilihan, maka tentu saja kedudukan itu kosong. Hari ini kedudukanku telah berakhir maka akupun tidak duduk di situ. Mengertikah kalian, sekarang ?"
* * *
DUA ORANG gembong penjahat itu meng-angguk-angguk dan saling pandang. Biar-pun mereka bertiga itu terkenal dengan sebutan Sam - ok, yaitu Si Tiga Jahat untuk mengakui ke-dudukan mereka sebagai pimpinan para bajak laut-an, pimpinan para bajak sungai dan pimpinan para perampok, namun mereka itu tidak pernah saling bersahabat Bahkan mereka sering kali bentrok dan bersaing. Hanya setelah muncul Raja Kelela-war, maka Si Buaya Sakti dan Harimau Gunung terpaksa dapat bekerja sama di bawah kekuasaan Raja Kelelawar. Akan tetapi, Rajawali Lautan itu belum menjadi anak buah atau taklukan Raja Ke-lelawar, maka sikapnya tentu saja berbeda dan dia merasa masih menjadi yang dipertuan di daerah lautan. Dua orang gembong daratan itu sama se-kali tidak pernah menyangka bahwa mereka yang datang sebagai utusan Raja Kelelawar, tiba pada saat kebetulan di situ diadakan pemilihan raja lautan baru. Mereka tidak mengira ada peraturan semacam itu. Mereka hanya mengetahui bahwa Rajawali Lautan adalah seorang datuk lautan yang telah men-jadi raja sekalian bajak dan menguasai lautan yang amat luas itu. Mereka berdua maklum bahwa tentu saja urusan itu amat penting bagi para bajak, meru-pakan peristiwa besar dalam dunia bajak. Mereka membayangkan dengan hati tegang betapa akan serunya pertandingan memperebutkan kursi Raja Lautan itu nanti. Mereka tadi sudah merasakan kelihaian Raja Muda Selatan dan Petani Lautan, belum tokoh-tokoh lainnya. Menghadapi urusan besar ini, keduanya saling memberi isyarat dan ber-sepakat untuk menunda urusan mereka sebagai utusan Raja Kelelawar. Mereka ingin melihat per-tandingan itu dan melihat siapa yang akan menang dan menjadi Raja Lautan. Lalu kepada orang yang menjadi Raja Lautan itulah mereka berdua akan berhadapan sebagai utusan Raja Kelelawar sebagai pucuk pimpinan semua golongan di dunia sesat.
Kini Rajawali Lautan bangkit berdiri dan mem-beri isyarat dengan mengangkat tangan kiri ke atas. Seketika suara musik berhenti, para penari berla-rian kembali ke tempatnya dan semua orang me-mandang ke arah tuan rumah. Suasana menjadi su-nyi dan tidak ada yang berani mengeluarkan suara berisik. Hal ini bukan karena para tamu itu tahu akan sopan santun dan aturan. Sama sekali bukan. Mereka taat karena mereka itu takut. Pelanggaran dapat saja mengakibatkan mereka dihukum secara kejam sekali, mungkin dibunuh !
"Saudara saudaraku sekalian yang baik! Se-perti tiga tahun yang lalu, hari ini adalah hari ber-bahagia bagi kita kaum pendekar lautan ! Dan se-kali ini, pertemuan antara kita dihadiri pula oleh dua orang tamu terhormat yang sehaluan dengan kita. Sin-go Mo Kai Ci adalah pimpinan bajak su-ngai, sedangkan San - hek - houw adalah pimpinan dari semua perampok, maling dan copet sehingga lengkaplah tiga golongan dari kaum kita yang di-anggap oleh sementara orang sebagai golongan hitam. Biarlah dua orang tamu kita menjadi saksi atas upacara kita dan marilah kita mulai !"
Para tamu mulai bergerak dan suasana menjadi bising karena para tamu saling bicara sendiri. Ada pula yang sibuk mempersiapkan bingkisan masing-masing. Sebagian besar di antara mereka telah mengenal siapa adanya Rajawali Lautan yang me-miliki ilmu kepandaian amat tinggi, maka jaranglah di antara mereka ada yang berani main - main. Me-reka yang merasa bahwa kepandaian mereka jauh di bawah tingkat Rajawali Lautan, hanya mengha-turkan bingkisan atau sumbangan secara suka rela tanpa hendak menguji kepandaian Akan tetapi, para kepala perkumpulan bajak, tentu saja di antara mereka ada yang merasa penasaran kalau belum memperlihatkan kepandaian, biarpun mereka tiada harapan untuk dapat mengalahkan Rajawali Laut-an, namun setidaknya mereka akan memperlihat-kan kepandaian dan agar mereka dianggap sebagai
orang yang telah berani mencoba kepandaian Ra-jawali Lautan! Ini saja sudah akan mengangkat sedikit derajat mereka dan dapat mereka jadikan bahan cerita yang membanggakan hati.
Seorang bajak laut tunggal yang biasa berope-rasi di sekitar Lautan Jepang, tampak maju mem-bawa sebuah bingkisan. Seperti yang telah diten-tukan dalam peraturan mereka, yaitu peraturan bagi mereka yang hendak menguji kepandaian Rajawali Lautan yang harus mempertahankan kedudukan-nya, bingkisan diletakkan di atas senjatanya. Sen-jata bajak tunggal ini adalah sebatang samurai pan-jang. Dia berdiri tegak di depan Rajawali Lautan yang sudah bangkit berdiri dan melangkah maju di tempat lapang pula. Bajak tunggal itu melonjorkan pedang samurainya di depan dada, dan bing-kisan itu berada di ujung pedangnya. Tangan kiri-nya diangkat ke atas kepala, melintang dan terbuka, lalu tangan kiri itu turun ke depan dada sebagai penghormatan, dan terdengar suaranya yang berlo-gat Jepang karena bajak laut ini memang seorang peranakan Jepang dan lebih banyak merantau di luar daratan.
"Hai-ongya, harap terima bingkisan dariku!" Pedang samurainya digetarkan dan bingkisan yang terletak di ujung pedang itu tiba - tiba mencelat ke atas, ke arah Rajawali Lautan. Raja Lautan yang harus mempertahankan kedudukannya ini berdiri dengan sikap tenang, kipas besinya siap di tangan-nya.
Ketika dia melihat bingkisan itu terbang ke arahnya, tangan kirinya yang memegang kipas besi bergerak untuk menangkap bingkisan itu. Akan tetapi, nampak sinar berkelebat cepat ketika pedang samurai itu menyambar ke arah pergelangan tangan kiri yang memegang kipas dengan gerakan menda-tar dari kanan ke kiri. Suaranya berdesing karena pedang samurai itu tajam dan gerakan orang itu-pun amat kuatnya. Akan tetapi, dengan gerakan pergelangan tangannya, Rajawali Lautan telah membalikkan kipas besinya menangkis dan tangan kanannya diulur ke depan untuk menyambut bing-kisan yang melayang ke arahnya.
"Trangggg !!" Pedang samurai yang ter-
tangkis kipas besi itu terpental, akan tetapi bajak
tunggal itupun cukup lihai. Pedang yang terpental
itu membuat gerakan lingkaran dan tahu - tahu te-
lah menyambar dari samping ke arah leher lawan !
"Bagus!" kata Rajawali Lautan yang telah ber-hasil menangkap bingkisan tadi. Sambaran pedang lawan dibiarkan lewat di atas kepalanya dengan menundukkan kepala, dan kipas besinya sudah menotok ke arah pergelangan tangan lawan yang memegang pedang dan yang menyambar lewat. Bajak tunggal itu terkejut sekali, cepat menarik kembali pedang dan tangannya, akan tetapi pada saat itu, Rajawali Lautan sudah menggunakan tangan kanan yang memegang bingkisan untuk men-dorong ke arah dada lawan sambil berkata, "Teri-ma kasih atas bingkisan yang berharga !"
Dorongan itu mengandung tenaga yang luar biasa kuatnya sehingga biarpun bajak tunggal itu mempertahankan diri, tetap saja dia terdorong ke belakang, terhuyung - huyung dan hampir saja dia terpelanting. Diapun tahu diri karena kalau tuan ramah tadi menghendaki, dia tentu sudah terluka parah atau bukan tidak mungkin roboh dan tewas.
Memang cara - cara yang dipergunakan oleh ka-um bajak ini amat keras. Para tamu menyerahkan bingkisan, akan tetapi pada saat itu dia dan tuan rumah boleh adu kepandaian dan saling serang, bukan hanya untuk saling mengalahkan dan mem-perebutkan kedudukan sebagai Raja Lautan untuk waktu tiga tahun, bahkan boleh saja mereka itu mengalahkan lawan dengan membunuhnya ! Raja wali Lautan sendiripun pada sembilan tahun yang lalu telah merobohkan Raja Lautan lama dengan membunuhnya dalam adu ilmu itu ! Dan semenjak itu, belum pernah ada bajak lain yang dapat me-ngalahkannya. Akan tetapi, Rajawali Lautan adalah seorang cerdik. Dia tidak mau membunuh lawan karena dia ingin agar semua tokoh bajak laut tun-duk dan takluk kepadanya, bukannya membenci dan mendendam. Maka diapun jarang sekali me-nurunkan tangan maut, kecuali tentu saja kalau ke dudukannya terancam.
Beberapa orang maju lagi secara bergiliran, akan tetapi tidak ada seorangpun yang mampu menandingi Rajawali Lautan lebih dari sepuluh jurus! Dan sebagian besar dari pada para tamu yang tadinya ingin mencoba - coba kepandaian, menjadi jerih dan akhirnya mereka itu hanya me-masuki rombongan yang memberi bingkisan secara suka rela tanpa bertanding lagi.
Ketika Petani Lautan maju, semua orang me-mandang dengan hati penuh ketegangan dan di sana - sini terdengar orang berbisik-bisik. Sekarang tuan rumah benar - benar berhadapan dengan seo-rang musuh bebuyutan atau seorang yang memiliki kepandaian setingkat. Semua bajak laut tahu be-laka bahwa di daerah lautan mereka, yang menjadi jagoan hanya tiga orang, yaitu Raja Lautan seka-rang yang berjuluk Rajawali Lautan Timur, Si Pe-tani Lautan, dan Raja Muda Selatan. Mereka ber-tiga inilah yang tiga tahun yang lalu merupakan tokoh - tokoh yang saling memperebutkan kedu-dukan secara seru dan setingkat. Memang akhirnya Rajawali Lautan yang menang, akan tetapi keme-nangannya tipis sekali. Sekarang, tiga tahun telah lewat dan semua orang tentu saja tahu betapa dua orang tokoh yang dikalahkan itu telah memperda-lam ilmu - ilmu mereka untuk dapat menjatuhkan Rajawali Lautan dan merebut kedudukan Rajawali Lautan dalam kesempatan ini. Jadi, dua orang itu tentu telah bersiap - siap dengan matang ! Maka.
setelah kini akhirnya orang yang mereka tunggu-tunggu muncul, yaitu Si Petani Lautan, semua orang memandang dengan hati tegang dan wajah berseri gembira karena mereka maklum bahwa pertunjukan sekali ini benar - benar amat hebat dan menarik.
"Maaf, Hai - ong. Aku yang bodoh ingin mem-persembahkan sebuah pusaka kepadamu!" kata Petani Lautan sambil memberi hormat.
Rajawali Lautan tertawa. Memang sejak tadi dia sudah menanti - nanti datangnya saat ini, di mana Petani Lautan atau Raja Muda Selatan akan menyerahkan bingkisannya yang berarti dia harus mempertahankan kedudukannya terhadap mereka. Hanya dua orang itulah yang dianggapnya sebagai saingan yang patut untuk dilawan, yang lainnya tidak masuk hitungan.
"Ha - ha - ha, silahkan, saudara Phang, silahkan. Sebenarnya hampir aku tidak berani menerima persembahanmu. Tiga tahun yang lalu saja, ham-pir aku kehilangan sebelah tanganku ketika men-coba untuk menerima bingkisanmu. Apa lagi se-karang tentu engkau sudah maju pesat sekali, buk-tinya engkau sudah bisa mengendalikan aliran keringatmu. Dahulu engkau terpaksa harus selalu bertelanjang baju, akan tetapi sekarang engkau sudah dapat memakai baju dan mengendalikan keluarnya keringatmu. Hebat! Aku sebenarnya jerih, akan tetapi aku kepingin mencobanya juga!"
Rajawali Lautan sengaja mengucapkan kata-kata merendah, bukan hanya untuk membuat lawan tenggelam dalam kebanggaannya sehingga mungkin saja menjadi lengah, juga dia harus menjaga segala kemungkinan, sehingga andaikata dia benar - benar kalah, dia tidak sampai terbanting oleh sikap yang congkak sebelum bertanding. Sebenarnya, bagi orang - orang yang hidup di dunia hitam, atau yang disebut kaum sesat, mereka tidak lagi mem-perdulikan akan sopan santun, tidak perduli apakah sikap mereka itu merugikan orang lain atau me-nyinggung orang lain. Setiap jalan pikiran, setiap ucapan dan perbuatan, selalu hanya demi keun-tungan diri sendiri.
Sikap kaum sesat itu menjadi pelajaran yang teramat baik bagi kita. Pernahkah kita meneliti dan mengamati sikap hidup kita sendiri sehari-hari? Bagaimanakah keadaan jalan pikiran atau batin kita, kemudian bagaimana pula keadaan yang nya-ta dari perbuatan dan juga ucapan kita ? Pernah-kah kita berpikir, berkata atau berbuat yang di ba-liknya tidak mengandung pamrih untuk enak sen-diri, senang sendiri, dan menang sendiri ? Benar-kah apa yang terucap oleh mulut kita selalu sejalan dengan bisikan hati kita ? Adakah kesatuan antara batin, ucapan dan perbuatan ? Kita berlumba me-nonjolkan kebaikan - kebaikan kita, bukankah itu hanya merupakan jembatan saja bagi kita untuk mencapai kesenangan dalam bentuk kepuasan batin, pujian, harapan, pahala dan sebagainya ? Per-nahkah kita bertindak atau bicara dengan dasar belas kasihan atau cinta kasih ? Pernahkah ? Kalau tidak pernah, mengapa ? Semua pertanyaan ini kiranya amat perlu bagi kita manusia - manusia yang hidup dan yang dianggap sebagai mahluk berahlak dan berakal budi, bukan ?
Sikap Rajawali Lautan Timur yang merendah tadi jelas mengandung pamrih demi keuntungan diri sendiri, bukan rendah hati lagi. Rendah hati bukan terletak di mulut, melainkan di batin, dan mulut baru bersih dan benar kalau menyuarakan batin tanpa dipertimbangkan dan disensor oleh pikiran yang selalu berpalsu - palsu.
Si Petani Lautan yang bernama Phang Kui ter-senyum. Senyum orang yang percaya akan kehe-batan diri sendiri, yang menyembunyikan rasa bangganya karena pujian lawan tadi, menyembu-nyikannya di balik senyuman, yang bukan lain juga merupakan suatu bentuk pamer terselubung. Dia membuka bajunya sehingga badan yang kurus de-ngan tulang iga menonjol dan membayang di balik kulit nampak nyata. Tidak nampak setetespun keringat keluar dari kulit tubuhnya. Akan tetapi semua orang yang sudah mengenal kelihaian pria ini, cepat mundur dan menjauh karena mereka tahu betapa berbahayanya benda cair kecut yang kelu-ar dari tubuh tokoh ini.
Phang Kui menarik napas panjang, menghim-
pun sinkangnya dan brolll ! Peluhnya mulai
keluar dari pori-pori kulitnya dan mengucur deras ! Mula-mula nampak butir-butir air seperti mutiara menghias kulit tubuhnya, dan tak lama kemudian butir - butir ini saling bertemu dan mengalir ke bawah, berlenggak - lenggok dan membasahi se-mua kulit tubuhnya. Dia mengacungkan senjata-nya yang istimewa, sebuah cangkul bergagang pan-jang. Sebelum bergerak lebih lanjut, Phang Kui menyambar sebuah teko terisi air teh dari atas meja. Teko besar itu dituangkannya ke mulut yang ternganga sampai habis isinya. Dengan wajah nampak lega dan puas, Si Petani Lautan mengem-balikan teko kosong dengan tangan kirinya ke atas meja, kemudian mulutnya berkata lirih dan lem-but, "Terimalah persembahanku !" Kata-kata yang halus itu tiba - tiba disambung dengan bentakan yang amat nyaring dan mengejutkan semua orang.
"Hyaaaatttt !!" Nampak sinar menyambar
dan cangkul bergagang panjang itu telah berge-rak seperti kilat cepatnya. Mata cangkul berki-lauan dan gerakannya mengundang datangnya angin, ketika mata cangkul itu terangkat dan bung-kusan panjang terlempar dengan amat lajunya ke arah muka Rajawali Lautan ! Baru meluncurnya benda sumbangan itu saja sudah merupakan se-rangan kilat yang berbahaya. Akan tetapi itu ha-nya merupakan "pembukaan" belaka karena luncuran benda sumbangan itu disusul hampir sama. cepatnya oleh mata cangkul yang membacok atau mencangkul ke arah dada lawan !
"Hemmmm !" Rajawali Lautan Timur
menggerakkan tubuhnya yang tinggi kurus, melon-cat ke belakang dan miringkan kepala, menangkap bungkusan dengan tangan kiri yang memegang kipas besi.
"Trappp !" Kipas besi yang tadinya terbu-
ka itu, begitu menerima bungkusan lalu menutup
dan menjepit benda sumbangan. Akan tetapi pada
saat itu, cangkul lawan telah datang menyambar
ke arah dadanya dengan kecepatan yang dahsyat.
Dengan gerakan indah Tung - hai - tiauw atau Ra-
jawali Lautan Timur sudah melemparkan barang
sumbangan itu ke arah pembantunya yang segera
menerimanya dan menumpuk benda itu di atas
meja tempat menaruh benda - benda sumbangan,
dan sambil melontarkan benda tadi, Si Rajawali
Lautan sudah mengelak sambil menangkis dengan
gagang kipas besinya. Akan tetapi karena sebelum
menangkis tadi dia melontarkan dulu barang sum-
bangan, tangkisannya agak terlambat sehingga mata
cangkul itu masih menyerempet lambungnya.
"Cringgg trakk !" Mata cangkul tertangkis
gagang kipas lalu menyerempet lambung, akan tetapi Kim-pouw-san (Jubah Mustika Emas) yang kebal membuat serangan itu meleset dan tidak me-lukai kulit lambung! Bahkan karena pengerahan sinkang, mata cangkul itu terpental dan penyerang-nya merasa betapa kuatnya lambung yang mene-rima mata cangkul tadi.
Akan tetapi, Petani Lautan itu lihai bukan ma-in. Dia sudah mempergunakan langkah ajaibnya dan tahu-tahu tubuhnya sudah menyelinap dan gagang cangkulnya kini menyerang dengan sodokan keras ke arah leher lawan !
"Bagus !" Si Rajawali Lautan memuji dan dia-pun terkejut, tidak menyangka lawan memiliki gerakan secepat ini. Karena yang menyerangnya adalah gagang cangkul, maka dia berani menang-kis dengan lengan kirinya yang kuat.
"Dukk !" Lengan kiri yang kuat itu menangkis gagang cangkul. Pertemuan antara lengan dan gagang cangkul itu tidak terhenti di situ saja ka-rena gagang cangkul itu telah membalik dan kini mata cangkulnya mencangkul kepala dan lengan yang tadinya menangkis itupun tiba - tiba meluncur ke depan, tangan yang berkuku tajam sekuat baja itu sudah membentuk cakar rajawali dan menceng-keram ke depan, ke arah pusar lawan ! Begitu ce-patnya kedua orang ini bergerak melanjutkan per-temuan lengan dan gagang cangkul sehingga ke-duanya terkejut karena tahu - tahu serangan lawan telah tiba sedemikian hebatnya ! Kalau mereka berdua melanjutkan serangan dan membiarkan se-rangan lawan datang, tentu berarti akan mengadu nyawa dan mungkin keduanya akan tewas atau setidaknya terluka parah. Melihat ini, diam - diam Lam - siauw - ong sudah tersenyum-senyum girang. Biar mereka berdua itu mampus bersama, pikirnya,, dan kursi Raja Lautan akan dapat diperolehnya tanpa banyak membuang tenaga !
Akan tetapi, Tung - hai - tiauw dan Petani La-utan adalah dua orang tckoh besar yang telah me-miliki kepandaian tinggi, tentu saja mereka tidak mau mati konyol begitu saja. Dalam ilmu silat ada hal - hal yang selalu dipentingkan oleh kaum per-silatan, yaitu pertama, sedapat mungkin mendahu-lui lawan dengan serangan yang tepat, dan kalau hal ini tidak mungkin, maka yang terutama adalah menyelamatkan atau menghindarkan diri lebih du-lu dari bahaya yang mengancam pada saat itu. Ma-ka, melihat bahaya yang mengancam hebat, kedu-anya lalu menunda serangan mereka dan lebih dulu mereka berdua melemparkan diri ke belakang. Ragi Petani Lautan yang memiliki langkah - lang-kah ajaib, dengan lebih mudah sudah dapat memu-tar kaki mengatur langkah sehingga tubuhnya men-jauh dan sekaligus menghindarkan diri dari ceng-keraman lawan akan tetapi juga hantaman mata cangkulnya tidak mencapai kepala lawan. Si Raja-wali Lautan lebih repot dan terpaksa tadi dia me-lempar diri ke belakang sehingga tubuhnya mem-buat poksai (salto) sampai tiga kali ke belakang.
Kesempatan ini tidak disia - siakan oleh Petani Lautan. Dia sudah lebih dulu dapat menguasai posisinya dan melihat betapa lawan masih bersalto untuk mengatur keseimbangan tubuh, dia sudah mendesak dengan cangkulnya, mainkan Ilmu Silat Ban - seng - kun yang dahsyat! Didesak seperti itu, Rajawali Lautan Timur terpaksa memutar ki-pasnya dan mengandalkan jubah emasnya untuk mempertahankan diri dan sampai belasan jurus dia tidak sempat membalas serangan lawan yang ber-tubi - tubi.
Memang hebat sekali permainan cangkul dari Petani Lautan. Selama tiga tahun ini dia sudah memperdalam gerakan - gerakannya, bahkan mem-perkuat sinkangnya dengan latihan - latihan. Selain gerakannya cepat dan kuat, langkah - langkah ke-dua kakinya aneh sekali dan tubuhnya seperti da-pat pindah - pindah posisi di luar perhitungan la-wan, juga kini peluh - peluhnya mulai berpercikan di sekitar tubuhnya dan terutama sekali di bagian depan tubuh sehingga butiran - butiran keringat itu menyambar ke arah lawan seperti senjata - sen-jata rahasia. Memang tentu saja butiran - butiran peluh ini tidak berbahaya, akan tetapi bagaimana-pun juga harus diakui bahwa sambaran air - air yang berbau kecut ini cukup membingungkan la-wan, apa lagi kalau menyambar ke arah muka dan terutama mata.
Tiga tahun yang lalu, dalam pertandingan yang sama, yaitu memperebutkan kedudukan Raja Laut-an, Rajawali Lautan Timur menang tipis. Hanya se-sedikit selisih tingkat di antara mereka. Andaikata tingkat kepandaian Si Rajawali Lautan masih sama dengan tiga tahun yang lalu, sekali ini mungkin dia akan kalah. Akan tetapi, sebagai seorang Raja La-utan, tentu saja selama ini dia tidak tinggal diam. Dia tahu bahwa mempertahankan lebih sukar dan berat ketimbang merebut karena yang hendak me-rebut tentu berusaha mati - matian untuk merebut kedudukan itu. Maka selama tiga tahun ini Si Ra-jawali Lautan Timur juga telah menggembleng diri dan mencapai kemajuan - kemajuan besar.
Setelah agak terdesak selama belasan jurus, akhirnya Tung - hai - tiauw dapat mengatur kem-bali posisinya dan dapat menguasai perkelahian itu. Kipas besinya mengebut runtuh semua butiran keringat yang menyambar ke arahnya dan sekaligus menangkis setiap serangan cangkul dan gagangnya. Kipas besinya itu seolah - olah membentuk benteng baja yang membuat cangkul lawan tidak dapat menembusnya, dan sebagai pembalasan, tangan kanannya membentuk cakar rajawali dan menyam-bar-nyambar ke depan. Kipas telah dipindahkan ke tangan kiri, dan kini lengan kanannya berobah keras dan amat kuat, kuku-kuku jari tangán ka-nannya tajam dan runcing melengkung. Betapapun juga, Si Rajawali Lautan Timur hanya dapat me-lindungi dirinya karena semua cengkeramannya tidak pernah mengenai sasaran. Agaknya langkah-langkah ajaib dari lawannya amat luar biasa pula.
membuat tubuh lawannya itu kadang - kadang se-perti lenyap dari depannya dan tahu - tahu muncul di sebelah kiri, kanan atau bahkan di belakangnya !
Karena merasa jengkel melihat kelincahan la-wan, Rajawali Lautan Timur lalu sengaja memper-lambat gerakannya. Melihat lowongan ini Si Petani Lautan girang sekali dan cangkulnya menyambar dengan dahsyatnya ke arah kepala lawan.
"Wuuuuttt !" Mata cangkul berobah men-
jadi sinar berkilat ketika menyambar muka Tung-
hai - tiauw. Akan tetapi, Rajawali Lautan itu tidak
mengelak atau menangkis, bahkan meloncat ke
atas sehingga mata cangkul menyambar ke arah
dadanya! Raja Lautan itu sengaja menerima han-
taman cangkul itu dengan dadanya yang tentu saja
terlindung oleh jubah emasnya yang membuatnya
kebal. Dan satu - satunya bahaya hanyalah tenaga
pukulan itu yang mengandung sinkang amat kuat,
maka diapun mengerahkan tenaga sinkang ke arah
dada untuk melawan tenaga penyerangnya.
"Desss !" Pada saat mata cangkul meng-
hantam dadanya, pada saat itupun Tung-hai-tiauw menggunakan tangan kiri yang memegang kipas menotok ke arah jalan darah di dada lawan.
Si Petani Lautan terkejut sekali. Mata cang-kulnya terpental ketika mengenai dada lawan dan melihat totokan gagang kipas, dia cepat mengelak. Akan tetapi, kini tangan kanan Tung - hai – tiauw yang membentuk cakar telah mencengkeram ke arah ubun - ubun kepalanya.
Melihat ini, Si Petani Lautan cepat membalik-kan cangkulnya, menangkis dengan gagangnya. Akan tetapi, Tiing - hai - tiauw melanjutkan serang-annya dan ketika gagang cangkul menangkis, dia mencengkeramnya.
"Krekkkk !" Gagang cangkul itu hancur
lebur dicengkeram oleh cakar rajawali! Dengan wajah pucat, Si Petani Lautan meloncat dua meter ke belakang sambil menjura.
"Hai - ong, kepandaianmu makin hebat saja dan engkaulah yang pantas menjadi Raja Lautan. Aku mengaku kalah !"
Semua orang yang mengikuti jalannya perkela-hian itu memandang terbelalak dan merasa ngeri membayangkan betapa kuatnya cakar rajawali itu. Kalau anggauta badan lawan yang kena diceng-keram, tentu akan cabik - cabik dagingnya dan re-muk-remuk tulangnya. Setelah Si Petani Lautan mengaku kalah, terdengar tepuk tangan memuji.
Tepuk tangan itu tiba - tiba terhenti ketika se-mua orang melihat majunya Lam - siauw - ong. Si Raja Muda Selatan. Dengan sikapnya yang ang-kuh, pakaiannya yang mewah seperti seorang bang-sawan tulen, tubuhnya yang gendut, dia melangkah ke depan menghampiri tuan rumah.
"Hebat, hebat kepandaian Si Rajawali La-
utan Timur semakin tangguh saja, membuat aku
merasa jerih untuk dapat merebut kedudukan. Hai-
ong, terimalah persembahanku ini!" Sambil ber-
kata demikian, tangan kanannya meraba ke balik
jubahnya yang lebar panjang dan pada saat itu,
seorang pembantunya melontarkan sebuah bung-
kusan kecil yang kelihatan berat ke arahnya. Nam-
pak kilat menyambar menyilaukan mata dan tahu-
tahu Raja Muda Selatan ini telah memegang se-
batang pedang di depan dadanya, pedang dito-
dongkan ke depan dan bungkusan kecil yang berat
itu telah berada di ujung pedangnya !
"Tunggu sebentar, Siauw - ong !" kata Raja-wali Lautan Timur dan diapun sudah mengham-piri meja tempat ditaruhnya barang - barang bing-kisan, menyimpan kipasnya dan mengambil bung-kusan panjang pemberian Si Petani Lautan tadi. dibukanya bungkusan itu dan ternyata benda itu adalah sebatang golok dengan sarungnya yang amat indah. Sebuah golok pusaka yang telah dirampas oleh Si Petani Lautan dari perahu kerajaan ! Raja-wali Lautan Timur agaknya sudah tahu ketika tadi menerima benda itu dan untuk menghadapi pedang Raja Muda Selatan, tidak cukup kalau hanya mem-pergunakan kipas besinya. Dia sudah mendengar bahwa lawan ini telah memperdalam ilmu pedang-nya dan menguasai Ilmu Pedang Hun - kin - kiam (Pedang Pemutus Urat) yang amat berbahaya. Untuk menghadapi ilmu pedang itu, Raja Lautan ini sengaja menciptakan sebagai tandingannya ilmu golok yang hebat. Dia memang ahli main golok di samping ilmu silat lainnya dan dianggapnya bahwa satu - satunya senjata yang tepat untuk menghadapi pedang lawan hanya ilmu golok. Dia sendiri me-miliki sebatang golok yang baik, akan tetapi karena dia tahu bahwa golok yang dipersembahkan oleh Si Petani Lautan itu adalah golok pusaka yang ampuh, maka diapun segera mengambilnya.
Si Petani Lautan tersenyum. Memang dia se-ngaja menyerahkan golok itu karena dia mende-ngar akan persiapan tuan rumah menghadapi Raja Muda Selatan. Memang sudah direncanakan de-mikian. Kalau dia kalah, biarlah tuan rumah ini tetap menjadi Raja Lautan dan mengalahkan Raja Muda Selatan pula. Dia tidak rela kalau keduduk-an Raja Lautan itu akan terampas oleh Lam-siauw-ong, saingan besarnya..
Tung - hai - tiauw kini melangkah ke depan dan berdiri di lantai atas, lebih tinggi dua anak tangga dari pada Lam - siauw - ong yang berdiri di bawah. Raja Lautan ini nampak gagah perkasa dengan pakaian yang mewah pula, gelung rambut di atas kepala itu dihias dengan hiasan rambut seperti yang biasa dipakai oleh para bangsawan, agaknya untuk menandakan bahwa dia adalah Raja Lautan, walaupun raja kaum bajak! Tubuhnya yang ting-gi itu berdiri tegak, tangan kanan memegang golok
pusaka di depan dada, tangan kirinya siap pula membantu, dan matanya memandang tajam ke arah lawan.
"Lam - siauw - ong, aku telah siap menghadapi Ilmu Hun - kin - kiam dari pedangmu !" katanya dengan sikap tenang.
Lam - siauw - ong berdiri tegak dengan kaki kanan di depan. Suasana amat sunyi dan mene-gangkan hati. Orang bertubuh gendut yang meng-aku sebagai Raja Muda Selatan ini, sejenak meno-leh dan memandang ke arah Petani Lautan dengan alis berkerut. Agaknya diapun dapat "mencium" rencana siasat yang dijalankan oleh saingannya itu dengan memberi sumbangan berupa sebuah golok pusaka kepada tuan rumah. Melihat Si Petani La-utan yang sudah kalah itu tersenyum, Lam - siauw-ong mengeluarkan suara menggumam dari kerong-kongannya, kemudian dia memandang lagi kepada tuan rumah yang sudah siap.
"Hai - ong, terimalah !" Tiba - tiba dia berseru dan sekali pedangnya tergetar, tiba - tiba bung-kusan di ujung pedang itu seperti hidup, bergerak-gerak dan akhirnya meloncat ke arah tuan rumah ! Menyusul itu, nampak sinar pedang bergulung-gulung dan terdengar suara berdesing - desing di-sertai angin yang membuat lampu - lampu gantung bergoyang dan api lilin berkelap - kelip.
"Haiiiittt !" Lam - siauw - ong mengeluar-
kan suara melengking nyaring dan sinar pedang
yang bergulung - gulung itu kini meluncur ke arah tuan rumah, mengikuti bungkusan barang sum-bangannya tadi.
Tung - hai - tiauw sudah menggerakkan golok-nya menyambut bungkusan. "Trakkk !" Bungkusan yang berat itu menempel pada golok itu seperti besi dengan sembrani. Akan tetapi sinar pedang lawan sudah datang menyerang. Menerima bung-kusan sumbangan haruslah dengan hormat dan pantang untuk menjatuhkan bungkusan itu. Akan tetapi kalau bungkusan yang menempel pada golok itu tidak dilempar, tentu akan sukar baginya menghadapi serangan lawan yang demikian dah-syat ! Maka Tung - hai - tiauw lalu menggetarkan goloknya dan bungkusan itu terbang ke atas. Pada saat itulah sinar pedang datang menyambar dan golok yang diputar itupun berobah menjadi gu-lungan sinar putih cemerlang.
"Trang - cringgg tranggg, tranggg !!"
Empat kali beruntun dua senjata itu bertemu. Bu-nga api berpijar dan keduanya merasa betapa ta-ngan mereka tergetar hebat. Pada saat itu, bung-kusan sumbangan sudah melayang turun kembali, disambut oleh Tung - hai - tiauw dengan tangan kiri sedangkan kakinya meloncat ke belakang untuk menghindarkan diri kalau - kalau lawan kembali menyerang. Akan tetapi, sinar pedang itu berkele-bat panjang mengitari tubuh Lam - siauw - ong dan ketika dia berdiri tegak, ternyata ada tiga batang
lilin pendek bernyala di atas pedangnya ! Kiranya pedang itu telah menyambar tiga batang lilin yang bernyala di atas meja tak jauh dari situ dan sede-mikian hebat gerakan pedang itu sehingga mam-pu membabat tiga batang lilin yang potongannya melekat pada pedang, sedangkan api ketiga lilin itu tidak padam! Kecepatan gerak disertai tenaga sinkang yang amat kuat ini membuat semua orang melongo karena gerakan pedang membabat dan membawa potongan lilin itu seperti permainan sulap saja. Maka terdengarlah tepuk tangan me-muji.
Lam - siauw - ong memandang dengan mata bersinar mengejek ketika tuan rumah melempar-kan bungkusan sumbangan itu kepada seorang pembantunya yang segera menaruhnya dengan si-kap hormat ke atas meja, di antara tumpukan ba-rang - barang sumbangan lain. Kemudian, Lam-siauw - ong menggerakkan tangan yang memegang pedang dan tiga batang lilin pendek yang bernya-la itu menyambar berturut - turut ke arah Tung-hai - tiauw. Laki - laki tinggi kurus ini menggerak-kan goloknya dan nampak sinar golok berkelebat menyilaukan mata tiga kali dan tiga batang potong-an lilin itu berobah menjadi enam potong dengan apinya masih menyala ketika enam potong itu runtuh ke atas lantai dan apinya padam. Kiranya golok itu dengan kecepatan kilat telah membelah potongan lilin itu menjadi dua dengan belahan di tengah-tengah sehingga sumbunyapun terbelah dua dan masing - masing masih bernyala ! Tentu saja demonstrasi penggunaan golok yang luar bia-sa hebatnya ini disambut dengan tepuk sorak oleh para tamu.
Lam - siauw - ong memandang dengan hati panas dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah me-nerjang ke depan, pedangnya bergerak dengan ce-pat. Lawannya menyambut dan mereka sudah sa-ling serang dengan serunya, tubuh mereka lenyap terbungkus gulungan sinar pedang dan golok yang seolah - olah berobah menjadi dua ekor naga yang saling belit dan saling himpit.
Dua orang raja kaum sesat yang hadir sebagai tamu, yaitu Sin-go Mo Kai Ci dan San - hek - houw, memperhatikan gerakan mereka berdua yang ber-kelahi itu dan diam - diam mereka terkejut dan kagum bukan main, maklum bahwa mereka berdua tidak akan mampu menandingi tuan rumah dan saingannya itu. Apa lagi mengingat bahwa mereka sebagai tokoh - tokoh darat dan sungai kini berada di "dunia lain", yaitu di daerah kekuasaan bajak-bajak laut sehingga mereka terpencil dan merasa amat asing. Kalau saja mereka tidak mengingat bahwa mereka berdua adalah utusan Raja Kelela-war dan mengandalkan iblis yang amat lihai itu, tentu mereka berdua akan merasa jerih sekali.
"Cring - trang - tranggg !!" Untuk ke seki-
an kalinya pedang bertemu dengan golok dan nampaklah bunga api berpijar menyilaukan mata. Ke-dua orang yang telah mengadu tenaga lewat sen-jata mereka itu cepat memeriksa senjata masing-masing dan legalah hati mereka melihat bahwa senjata mereka tidak menjadi rusak. Lam - siauw-ong yang tadinya mengandalkan pedangnya dengan Ilmu Pedang Hun - kin -kiam - sut itu, merasa pe-nasaran sekali bahwa lawannya mampu mematah-kan semua serangannya dengan ilmu goloknya. Dia mengeluarkan bentakan nyaring dan menerjang la-gi ke depan dengan dahsyat, pedangnya lenyap berobah menjadi gulungan sinar panjang dan me-nyambar - nyambar dengan ganasnya. Hun - kin-kiam-sut (Ilmu Pedang Pemutus Urat) adalah ilmu pedang yang dilatihnya selama tiga tahun ini, dan merupakan ilmu pedang yang amat dahsyat. Ujung pedang itu seperti hidup saja, dapat mencari urat - urat halus dan jalan - jalan darah yang me-matikan, maka setiap tusukan atau bacokan meru-pakan serangan maut. Karena Lam - siauw - ong menggerakkan pedangnya dengan pengerahan sin-kang, maka selain pedang itu lenyap berobah men-jadi sinar bergulung - gulung, juga dari gulungan sinar itu kadang - kadang mencuat sinar menyam-bar ke arah lawan dan setiap kali nampak sinar menyambar ini, terdengar bunyi bercuitan menge-rikan.
Akan tetapi, ternyata ilmu golok yang dimain-kan oleh Tung - hai - tiauw juga hebat sekali. Se-lain golok yang dimainkannya merupakan golok pusaka, juga ilmu goloknya amat hebat. Golok itu adalah golok pusaka yang tadinya merupakan pu-saka istana kaisar, bernama Toat - beng - to (Go-lok Pencabut Nyawa). Sebenarnya, kalau diban-dingkan dengan ilmu golok yang dimainkan tuan rumah dengan Ilmu Pedang Hun - kin - kiam - sut, maka ilmu golok itu masih kalah hebat. Sekiranya Tung - hai - tiauw hanya mengandalkan ilmu go-loknya menghadapi Lam - siauw - ong, agaknya dia akan kalah. Akan tetapi, kekalahannya dalam hal mainkan senjata itu tertutup oleh keuntungannya karena dia memakai baju emas yang membuatnya kebal itu. Beberapa kali ketika ujung pedang me-nyambar ke arah dadanya, dengan berani dia me-nerima tusukan itu dengan baju emasnya dan mem-barengi dengan bacokan golok sehingga Lam-siauw - ong menjadi sibuk bukan main karena tu-sukannya meleset dan dirinya bahkan terancam bacokan maut! Di samping baju emas yang mem-buatnya kebal itu, juga Tung - hai - tiauw masih memiliki cengkeraman kukunya dari tangan kiri dan cengkeraman ini amat berbahaya, tidak kalah dari serangan goloknya. Karena bantuan baju emas dan cengkeraman kuku inilah maka Tung - hai-tiauw mulai dapat mendesak lawannya !
Kembali pedang itu meluncur ke arah leher de-ngan tusukan yang halus dan cepat sekali sampai mengejutkan hati Tung - hai - tiauw. Kalau tusukan itu mengenai jalan darah di lehernya, tidak usah dalam - dalam tusukan itu, tentu dia akan roboh dan tak mungkin dapat bangkit kembali. Maka cepat dia menangkis dengan goloknya sambil me-ngerahkan tenaga. Pedang tertangkis, terpental dan dengan cepatnya pedang yang tertangkis itu me-luncur ke bawah, membacok ke arah urat di pun-dak. Untuk ke sekian kalinya, Lam - siauw - ong yang bergerak menurut ilmu pedangnya, lupa bah-wa lawannya memakai baju emas yang membuat-nya kebal, maka pedangnya membacok pundak lawan. Tung - hai - tiauw membiarkan saja pun-daknya diserang bacokan dan sebagai balasan, go-loknya menyambar ke arah paha kanan lawan dan tangan kirinya mencengkeram ke arah pusar! Sungguh luar biasa dahsyat dan berbahayanya se-rangan balasan Tung - hai - tiauw ini! Pada detik terakhir yang amat menegangkan dan berbahaya bagi nyawanya ini, terdengar Lam - siauw - ong mengeluarkan suara melengking, pedangnya ber-kelebat dan tubuhnya dilemparkan ke belakang.
"Bretttt !!" Terdengar suara nyaring dan
Lam - siauw - ong berjungkir balik dan dapat ber-diri dengan terhuyung, mukanya pucat sekali ka-rena bajunya bagian pusar telah koyak-koyak. Nyaris perutnya yang koyak oleh cengkeraman tadi dan pedangnya mampu menyerempet pung-gung tangan kiri lawan, menimbulkan luka sedikit dan berdarah sedikit.
Mengertilah Lam - siauw - ong bahwa pihak tuan rumah telah bersikap murah hati terhadap di-rinya, karena kalau Tung - hai - tiauw tadi meng-hendaki, tentu kini dia telah roboh dengan isi perut berantakan ! Maka diapun tahu diri, maklum bah-wa sampai saat itu tingkat kepandaiannya masih kalah sedikit. Diapun menjura dan berkata dengan suara mengandung kekecewaan besar, "Hai - ong, aku mengaku kalah !"
Tung - hai - tiauw merasa girang bukan main telah dapat mengalahkan lawan yang paling berba-haya ini. Dia tersenyum lebar dan balas menjura. "Ah, Siauw - ong telah bersikap merendahkan diri dan sengaja telah mengalah terhadapku. Terima kasih, Siauw-ong. Nyaris tanganku buntung oleh pedangmu yang amat lihai!"
Raja Muda Selatan itu kembali ke tempat du-duknya dengan lesu dan tepuk sorak para hadirin yang menyambut kemenangan Rajawali Lautan itu baginya seperti ejekan terhadap dirinya sehing-ga mukanya menjadi kemerahan.
Setelah Petani Lautan dan Raja Muda Selatan kalah, tidak ada lagi kepala bajak yang berani maju mencoba kepandaiannya terhadap Rajawali Lautan, oleh karena itu, jelas bahwa kedudukan Hai - ong (Raja Lautan) masih dimiliki Tung - hai-tiauw untuk jangka waktu tiga tahun lagi. Kursi singgasana yang tadinya ditutupi kain putih kini dibuka dan dengan resmi, di bawah tepuk tangan para hadirin, Tung - hai - tiauw duduk di atas kursi singgasana itu dengan sikap gagah dan gembira. Semua orang lalu mengangkat cawan memberi se-lamat kepada Raja Lautan.
Sin - go Mo Kai Ci dan San - hek - houw yang; datang sebagai tamu yang tidak mempunyai hu-bungan dengan pemilihan Raja Lautan, juga seba-gai rekan - rekan dari Tung - hai - tiauw karena mereka bertiga pernah dikenal di dunia kang - ouw sebagai Sam - ok (Si Tiga Jahat), juga bangkit dari kursi mereka, menghampiri Tung - hai - tiauw sam-bil mengangkat cawan arak mereka.
"Hai - ong, kami berdua dalam kesempatan ini mengucapkan selamat atas kemenanganmu !" kata San - hek - houw dan dia mengangkat cawan arak-nya, diikuti oleh Si Buaya Sakti.
Karena dua orang ini merupakan tokoh - tokoh besar di dunia hitam, Tung - hai - tiauw menerima ucapan selamat itu sambil tertawa gembira dan bangga, mengucapkan terima kasih sambil meng-angkat cawan dan sekali tenggak habislah arak da-lam cawannya. Sebelum kedua orang rekannya itu kembali ke tempat duduk mereka, Tung-hai-tiauw berkata kepada mereka, "Dua sahabat baik yang jauh - jauh datang tentu membawa keperluan pen-ting. Nah, setelah kini upacara pemilihan Raja La-utan yang baru telah selesai, harap kalian suka. menceritakan keperluan penting itu."
Dua orang itu lalu menarik bangku dan duduk di depan Rajawali Lautan itu, dan Si Buaya Sakti dengan suaranya yang tinggi lalu berkata, "Sesung-guhnya kami berdua diutus oleh keturunan dari junjungan golongan kita, yaitu yang mulia Raja Kelelawar, untuk menemuimu dan menanyakan apakah engkau sudah menerima surat undangan beliau beberapa bulan yang lalu ?"
Tung - hai - tiauw mengerutkan alisnya dan memandang tajam kepada kedua orang tamunya. Kalau bukan dua orang ini yang datang bercerita, tentu dia tidak akan mau percaya. Dua orang ini adalah raja-raja kaum sesat golongan darat dan sungai, mana mungkin dapat menjadi utusan kalau yang mengutusnya itu bukan orang yang benar-benar hebat sekali kepandaiannya ? Mereka itu memiliki kedudukan dan kepandaian yang seting-kat dengan dirinya, dan kini mereka datang seba-gai utusan, agaknya untuk menegurnya karena dia telah mengabaikan surat undangan yang diterima-nya secara aneh itu.
"Memang benar, aku telah menerimanya. Akan tetapi aku harus hati - hati. Siapa tahu ada orang yang memalsukan nama junjungan kita itu dan mengaku - aku saja. Kita sendiri kan belum pernah bertemu dengan tokoh yang disebut Raja Kelela-war itu. Kita cuma mendengar saja dari dongeng nenek moyang kita. Mana kita bisa tahu apakah yang muncul ini tulen ataukah palsu ?"
San - hek - houw mengerutkah alisnya dan pan-dang matanya mengandung kemarahan. Dia sudah takluk benar kepada Raja Kelelawar dan dia su-dah yakin bahwa raja iblis itu memang benar amat sakti dan memiliki kesaktian - kesaktian seperti yang terdapat dalam dongeng tentang Raja Kele-lawar. Kini sebagai orang kepercayaan Raja Kele-lawar, dia mendengar bahwa keaselian junjungan-nya itu diragukan orang, maka hatinya menjadi panas. Akan tetapi dia bukan orang bodoh dan dia tahu bahwa dia sebagai seorang tamu di sarang ba-jak, mempunyai kedudukan yang amat lemah dan berbahaya. Oleh karena itu, diapun menelan saja perasaan dongkolnya dan memberi isyarat dengan pandang matanya kepada Buaya Sakti agar mereka cepat - cepat pergi dari tempat itu. Si Buaya Sakti maklum akan kemarahan kawannya, maka diapun berkata dengan suara datar,
"Kami berdua hanya utusan saja, dan jawaban Hai - ong tentu akan kami sampaikan seperti apa adanya kepada Raja Kelelawar yang mengutus kami. Nah, sekarang kami berdua terpaksa mohon diri untuk kembali ke tempat kami masing - ma-sing."
"Ah, kenapa tergesa - gesa ?" Tung - hai - tiauw berkata, merasa tidak enak juga karena tidak ingin dianggap kurang ramah apa lagi mengusir dua orang tamunya ini. Diapun tahu bahwa di darat, dua orang ini jauh lebih terkenal dari pada dirinya-dan juga kedudukan mereka berdua ini lebih kuat. Dengan dua orang seperti ini, yang telah dirang-kaikan dengan dia sebagai Si Tiga Jahat, lebih aman kalau bersahabat, bukan bermusuhan. "Apa-kah kalian tidak ingin melihat perlumbaan perahu-perahu kita malam nanti ? Dan yang lebih mena-rik lagi, apakah kalian tidak ingin melihat upacara penyerahan korban perawan jelita di Pusaran Maut ?"
"Tidak, terima kasih." Kini Harimau Gunung, yang menjawab. "Kami harus cepat - cepat pulang untuk membuat laporan kepada Raja Kelelawar."
Rajawali Lautan Timur bukan tidak berkesan mendengar tentang Raja Kelelawar itu. Kalau dua orang rekannya ini sudah begitu tunduk, tentu to-koh yang mengaku sebagai Raja Kelelawar ini benar - benar hebat kepandaiannya. Akan tetapi, dia sendiri baru saja menangkan kedudukan Raja Lautan, mana mungkin dia memperlihatkan kele-mahan dan rasa jerihnya terhadap tokoh yang baru muncul dan yang belum dikenal serta diketahui sampai di mana kelihaiannya itu ? Pula, dia berada di tempat sendiri, di daerah bajak, di mana hadir orang - orang lihai yang akan membantunya dan membela kawan sendiri seperti Petani Lautan, Ra-ja Muda Selatan dan semua anak buah yang de-mikian banyaknya. Takut apa ? Maka diapun tersenyum mengejek mendengar ucapan Harimau Gu-nung tadi.
"Hemm, baiklah. Aku tidak akan menahan lagi. Akan tetapi, kita bertiga yang sudah lama menjadi rekan - rekan, yang nama kita dikaitkan orang seba-gai Sam - ok, sungguh sayang kita kini berbeda pendapat dalam hal kekuasaan dan kedaulatan kita. Sampaikan saja salam kami kepada orang yang mengaku keturunan Raja Kelelawar itu. Katakan bahwa kami, orang - orang lautan, ingin hidup be-bas tanpa, harus diperintah orang dari golongan lain."
Ucapan ini merupakan tantangan halus yang ditujukan kepada Raja Kelelawar! Dua orang to-koh sesat itu marah dan mendongkol sekali. Kalau saja mereka tidak berada di wilayah bajak, tentu mereka akan menyerang Rajawali Lautan. Akan tetapi mereka tahu diri, maka mereka tidak men-jawab dan hanya mengangguk. Tung - hai - tiauw juga tidak mau banyak cakap lagi, lalu dia sendiri mengantar dua orang tamu ini keluar dan melihat sampai keduanya benar - benar telah pergi mening-galkan pulau itu.
Bersambung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar