Selasa, 07 Mei 2013

DARAH PENDEKAR 18

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Bab 18

Kini perahu kecil itu sudah dekat sekali dan nampak orang - orang tinggi besar yang menuding-nuding ke arah mereka, wajah mereka menyeringai dan pandang mata mereka kurang ajar. Terdengar pula teriakan-teriakan mereka untuk menawan dua orang nona cantik itu hidup - hidup ! Bahkan dua orang di antara mereka dengan tidak sabar telah meloncat turun ke perahu kecil. Tubuh me-reka yang besar dan loncatan mereka yang kasar membuat perahu kecil hampir terguling, akan teta-pi dua batang pedang berkelebat dan tubuh kedua orang kasar itu sudah terguling ke dalam lautan dengan mandi darah. Pek Lian dan Bwee Hong sudah menjadi marah sekali karena mereka tadi diserang anak panah yang mengakibatkan bajak laut itu tewas.

Karena mereka maklum bahwa pe-rahu kecil mereka bukan merupakan tempat yang tepat untuk berkelahi, Pek Lian berseru, "Enci Hong, kita naik dan serbu !"

Dua orang dara perkasa itu lalu meloncat ke atas perahu besar dan kembali, seperti pernah me-reka lakukan di perahu orang - orang Jepang, mere-ka mengamuk. Mereka segera dikeroyok oleh be-lasan orang perajurit asing yang merasa terkejut karena sama sekali tidak mengira bahwa dua orang wanita penumpang perahu kecil itu selain cantik jelita, juga memiliki kepandaian sedemikian hebat-nya. Dan kini Pek Lian dan Bwee Hong sudah marah sekali. Pedang mereka berkelebatan dahsyat dan di antara para pengeroyok sudah ada enam orang yang roboh terluka oleh sambaran pedang mereka.

Tiba - tiba terdengar bentakan halus dan muncullah dua orang laki - laki yang berpakaian pre-man, tidak seperti para pengeroyok yang berpakai-an seragam. Dua orang ini mempunyai rambut, jenggot dan kumis yang lebat namun berwarna agak keputih - putihan, dan muka mereka merah keka-nak-kanakan. Tubuh mereka tinggi besar akan tetapi mata mereka kecil. Begitu kedua orang ini membentak, semua pengeroyok mundur dengan sikap hormat dan kini dua orang laki - laki tinggi besar itulah yang menerjang dan menghadapi Pek Lian dan Bwee Hong.

Mereka berdua tidak bersen-jata, akan tetapi dua pasang tangan telanjang itu berani menangkis pedang dan setiap kali tangan mereka bertemu dengan pedang, terdengar suara nyaring dan pedang di tangan kedua orang dara itu terpental seolah - olah bertemu dengan benda-benda keras yang amat kuat ! Tentu saja Pek Lian dan Bwee Hong terkejut dan mereka mengeluarkan semua kepandaian dan mengerahkan semua tenaga mereka. Dan agaknya mereka berdua itu hanya lebih unggul dalam hal kecepatan saja, akan tetapi kalah tenaga dan semua kecepatan mereka tertum-buk kepada kekebalan dua orang tinggi besar ini !

Bwee Hong dan Pek Lian terdesak hebat dan mereka terpisah. Pek Lian didesak sampai terpak-sa menggunakan kecepatan gerakannya lari ke sa-na - sini dan 'mengelak dari pukulan - pukulan yang amat kuat dari lawannya. Ia berloncatan dan masuk ke lorong-lorong bilik perahu besar itu, terus di-kejar dan didesak oleh lawannya. Ketika gadis ini meloncat lagi untuk menghindar dan hampir me-nabrak pintu sebuah bilik, tiba-tiba terdengar su-ara seorang laki - laki menegur dari dalam bilik itu.

"Hei, siapa ribut - ribut di luar itu ? Pergi dan jangan ganggu aku! Aku tidak sudi dibujuk lagi!" Lalu terdengar suara seperti pukulan dan suara orang itu tidak terdengar lagi.

Pek Lian tertegun dan matanya terbelalak, mu-kanya pucat sekali dan pada saat itu, pukulan la-wannya menyambar. Untung bahwa ia masih sempat membuang diri ke belakang sehingga ia terhuyung dan hampir jatuh, akan tetapi selamat dari pukulan dahsyat yang datang pada saat ia tertegun dan terkejut itu. Jantungnya masih ber-debar kencang, bukan karena ia hampir saja terke-na hantaman lawan, melainkan karena suara itu ! Suara itu adalah suara ayahnya ! Tidak salah lagi! Ia mengenal benar suara ayahnya ! Akan tetapi mana mungkin ? Ayahnya di perahu orang asing ini ?

"Wuuuttt krakkkk !" Pedangnya menyambar ke arah lawan dan ketika lawan mengelak, ia melanjutkan pedang itu menyambar pintu sehingga pintu bilik itu roboh. Akan tetapi di dalam bilik dari mana tadi terdengar suara ayahnya, tidak nampak seorangpun. Ia melihat pintu belakang dalam bilik itu telah terbuka lebar.

Karena perhatiannya terpecah, tentu saja Pek Lian menjadi semakin terdesak. Kembali lawan yang amat tangguh itu menerjang dengan tendang-an kakinya yang besar, kuat dan berat. Pek Lian meloncat ke belakang dan hampir terjatuh oleh tambang yang melintang di belakangnya. Ketika ia berdiri lagi, ternyata ia telah berada di tepi perahu !

"Lian-moi, hati-hati !" Terdengar suara Bwee Hong. Nona yang memiliki ilmu lebih lihai dari pada Pek Lian inipun terdesak, akan tetapi de-ngan kecepatan gerakan tubuhnya, Bwee Hong da-pat berloncatan dan seperti mempermainkan lawan yang terlalu lamban untuk dapat mengikuti gerak-geriknya. Betapapun juga, Bwee Hong juga mak-lum bahwa ia tidak akan mampu mengalahkan rak-sasa berambut putih itu, maka ketika ia melihat Pek Lian terdesak hebat, ia cepat melompat dekat dan pada saat lawan mereka menerjang lagi, melihat mereka telah tersudut di tepi perahu, Bwee Hong berteriak nyaring dan mendorong tubuh Pek Lian keluar dari dalam perahu itu! Setelah Pek Lian terjatuh ke dalam air di luar perahu, Bwee Hong sendiripun lalu meloncat keluar. Tubuh mereka diterima oleh air bergelombang dan sebentar saja terseret jauh dari perahu.

Seorang ahli renang sekalipun takkan banyak dapat berdaya kalau melawan gelombang lautan, apa lagi dua orang dara itu yang kepandaian re-nangnya hanya amat terbatas. Mereka berusaha untuk melawan gelombang dan untuk tidak sampai ber-jauhan, akan tetapi ombak menyeret mereka dan membuat mereka saling terpisah sampai jauh dan akhirnya Pek Lian tidak dapat melihat temannya itu lagi. Karena merasa khawatir, juga lelah dan tidak melihat harapan untuk dapat menyelamatkan diri dari ancaman lautan luas itu, akhirnya Pek Lian tidak sadarkan diri. Tubuhnya hanyut dan diperma-inkan air, dilemparkan tinggi - tinggi lalu dihempas-kan kembali, ditelan dan dimuntahkan kembali!


                                                                  * * *


Telah banyak sekali terbukti dengan peristiwa-peristiwa yang aneh dan luar biasa yang mengantar manusia kepada kematiannya atau sebaliknya yang menghindarkan manusia dari pada ancaman maut yang nampaknya sudah tak mungkin dapat dielak-kan lagi.

Banyak sekali orang yang tewas dalam keadaan yang tidak tersangka - sangka sama sekali, bahkan dalam keadaan jasmani yang nampaknya segar-bugar dan sehat, banyak pula yang mati secara mendadak oleh kejadian - kejadian yang aneh dalam kecelakaan - kecelakaan maupun bencana-bencana alam. Akan tetapi sebaliknya, banyak pu-la orang yang terancam bahaya maut, yang nampak-nya sudah tidak mungkin dapat dielakkan lagi, secara aneh pula terhindar dari kematian. Orang yang menderita sakit yang sudah terlalu parah, da-pat saja sembuh secara aneh dan kebetulan, atau orang yang sudah dianggap tidak ada harapan lagi untuk ditolong kemudian ternyata dapat terhindar dari maut hanya karena hal - hal yang "kebetulan'' dan sederhana. Semua ini merupakan sesuatu yang mujijat, yang aneh dan yang diliputi rahasia yang sudah terlalu sering diselidiki orang dan hendak ditembusnya.

Segala hal yang belum dimengerti selalu menim-bulkan berbagai pendapat, rekaan, dan dipandang sebagai hal yang mujijat dan aneh. Padahal, segala sesuatu yang terjadi di dalam alam ini adalah WAJAR, dan setiap peristiwa itu tentu ada yang menyebabkannya. Hidup dan mati merupakan rangkaian yang tak terpisahkan, merupakan suatu pertumbuhan yang wajar. Kerusakan jasmani kare-na usia tua yang berakhir dengan kematian adalah lumrah dan dapat dimengerti dengan adanya ke-majuan dalam ilmu tentang itu. Akan tetapi, karena manusia selalu dikuasai oleh pikiran yang men-ciptakan "aku", maka si aku inilah yang mencari-cari ke mana dia akan pergi setelah jasmaninya berhenti hidup, setelah tubuhnya mati. Dan ba-yangan bahwa "aku" akan hilang begitu saja mem-buatnya merasa ngeri dan takut.

Kalau memang sudah tiba saatnya sang maut datang menjemputnya, walaupun kita bersembunyi di dalam lubang semut, tetap saja nyawa kita akan direnggut. Sebaliknya kalau memang belum tiba saatnya mati, ada saja yang menjadi penolong diri.

Karena ketidakpengertian tentang rahasia saat ke-matian, kita lalu dengan mudah saja memakai isti-lah nasib dan takdir! Padahal, setiap peristiwa, juga kematian, tentu terjadi karena suatu sebab tertentu. Dan sebab - sebab itu terkumpul karena ulah kita sendiri. Oleh karena itu, dari pada men-cari - cari akal untuk mengungkapkan rahasia yang tidak mungkin dipecahkan selama kita masih hidup ini, lebih bermanfaat kalau kita selagi hidup men-jaga diri, mengurangi hal - hal yang dapat menjadi bertambah banyaknya sebab - sebab yang dapat mengakibatkan kematian.

Menurut perhitungan dan pendapat umum, orang yang dihanyutkan ombak di tengah lautan seperti yang dialami oleh Pek Lian, tentu dianggap sudah tidak ada harapan lagi untuk selamat. Na-mun, ternyata Pek Lian belum mati! Ketika dara perkasa ini siuman dan membuka matanya, ia men-dapatkan dirinya sudah berada di atas perahu. Se-orang nelayan tua dengan caping lebar, nampak se-dang mendayung perahunya perlahan - lahan.

Pek Lian masih rebah akan tetapi matanya su-dah bergerak - gerak memandang ke sana - sini, alisnya berkerut ketika ia mengumpulkan ingatan-nya.

"Ah, untung nona kuat sekali sehingga laut tidak mampu mengalahkamnu," kakek nelayan itu ber-kata mengangguk-angguk, kagum melihat betapa wanita muda yang ditemukannya hanyut oleh ombak dalam keadaan pingsan itu ternyata hanya rne-nelan sedikit saja air dan kini bahkan sudah si-uman kembali.

Kini Pek Lian sudah teringat sepenuhnya dan tiba-tiba ia bangkit duduk dan memandang ke kanan kiri, mencari-cari. "Lopek telah menyela-matkan aku dari lautan ?"

Nelayan tua itu mengangguk. "Nona hanyut dalam keadaan pingsan. Tadinya dari jauh kusang-ka seekor ikan mati. Ketika melihat pakaianmu, aku cepat mendekat dan untung saja engkau tidak di-hanyutkan menjauh dan dapat kuraih dan kutarik ke dalam perahu."

"Ah, terima kasih atas budi pertolonganmu, lopek. Akan tetapi apakah lopek tidak melihat sahabatku ?"

"Sahabatmu ? Siapakah yang nona maksudkan ?"

"Sahabatku, seorang gadis juga. Kami berdua terjatuh dari atas perahu! Apakah lopek tidak melihatnya ?"

Nelayan tua itu menggeleng kepalanya dan mukanya membayangkan rasa duka.

"Hanyut oleh gelombang seperti itu, nona, sukarlah bagi seorang manusia untuk dapat menyelamatkan diri. Nona memiliki tubuh dan semangat yang kuat dan kebetulan sekali bertemu denganku, akan tetapi sahabatmu itu ah, agaknya sukar untuk dapat diharapkan "

Pek Lian menutupi mukanya dengan kedua tangan. Matikah Bwee Hong ? Ia merasa berduka sekali. Mencoba untuk menolong A - hai dan Seng Kun juga belum berhasil, kini malah kehilangan Bwee Hong ! Betapa buruk nasib gadis cantik jelita itu. Tak terasa lagi, dari celah - celah jari tangannya nampak air mata menetes - netes. Pek Lian adalah seorang dara yang sudah banyak di-gembleng oleh kekerasan hidup dan sudah menga-lami banyak hal yang menyedihkan, akan tetapi mengingat dan membayangkan betapa Bwee Hong tewas dicabik - cabik ikan hiu, ia tidak dapat mena-han tangisnya lagi. Nelayan tua itu merasa kasihan.

"Nona. mari kau ikut bersamaku ke daratan un- . tuk memulihkan kesehatanmu. Siapa tahu, secara aneh pula sahabatmu itu juga dapat diselamatkan. Kekuasaan Thian berada di manapun juga, nona, dan lautan inipun hanya sebagian kecil saja dari pada kekuasaan Thian. Kalau Thian menghendaki, mungkin saja sahabatmu itu masih hidup dan se-lamat."

Ucapan seorang yang percaya penuh akan ke-kuasaan Tuhan, ucapan sederhana namun dapat menyegarkan perasaan Pek Lian, dapat menumbuh-kan tunas harapan di hatinya, dan sekaligus me-nyadarkannya bahwa berduka saja tidak ada guna-nya sama sekali, bahkan hanya akan melemahkan dirinya lahir batin. Padahal, tugasnya masih banyak, masih bertumpuk. Bukan hanya mencoba untuk menolong Seng Kun dan A-hai, akan tetapi juga terutama sekali mencari ayahnya ! Dan iapun teringat akan suara di dalam perahu asing itu. Suara ayahnya! Maka iapun mengangguk dan menurut saja ketika diajak kembali ke daratan oleh si nelayan tua.

Yang dimaksudkan daratan oleh nelayan tua itu ternyata bukanlah daratan besar, melainkan sebuah pulau kecil yang dihuni oleh belasan orang keluarga saja, keluarga nelayan. Akan tetapi, di tempat su-nyi sederhana dan miskin ini nampak pula kenya-taan hidup bahwa kemiskinan lahiriah kadang-kadang menonjolkan kekayaan batiniah, sebalik-nya kekayaan lahiriah kadang - kadang mendatang-kan kemiskinan batiniah. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat sikap dan cara hidup orang - orang kota besar dan orang - orang di dusun - dusun ter-pencil. Orang - orang kota sudah terbiasa hidup mewah, hidup bersaing dan memperebutkan keka-yaan, bersaing dan bermusuhan, iri hati dan keta-makan, membuat mereka hidup menyendiri dan tidak mengacuhkan orang lain. Sebaliknya, kehi-dupan di dusun - dusun terpencil, di mana orang-orang-hidup sederhana membuat mereka juga ber-batin sederhana, tidak dijejali oleh banyak keingin-an sehingga rasa persaudaraan dan kegotongro-yongan menjadi tebal, lebih akrab dalam membagi suka dan duka di antara sesama manusia. Pek Lian merasakan benar hal ini ketika para nelayan miskin di pulau itu menyambutnya dengan gembira, dan ikut merasa bersyukur mendengar betapa gadis yang telah hanyut dipermainkan gelombang lautan ini masih dapat tertolong dan selamat. Dalam ke-adaan sederhana dan seadanya itu mereka lalu menyambut Pek Lian dengan perjamuan yang me-riah, walaupun hidangan yang diberikan kepada gadis itu amatlah sederhana, terdiri dari masakan-masakan ikan laut belaka.

Para penghuni pulau itu bukan hanya gembira karena kedatangan seorang nona tamu, melainkan terutama sekali melihat kembalinya kakek nelayan yang dianggap sebagai orang tertua di pulau itu dan disuka oleh semua anggauta keluarga nelayan. Pada waktu itu, para nelayan tidak ada yang berani keluar mencari ikan karena mereka tahu bahwa ba-nyak bajak laut berkeliaran berhubung dengan pesta besar yang diadakan tiap tiga tahun sekali oleh apa yang mereka kenal sebagai Istana Laut. Akan tetapi, kakek nelayan itu berlayar seorang diri dan sudah tiga hari belum pulang, membuat mereka merasa khawatir sekali dan untuk menyusul dan mencari, mereka tidak berani. Kini, kakek itu pulang dalam keadaan selamat, bahkan telah me-nyelamatkan seorang gadis cantik yang hanyut dalam gelombang lautan.

Pek Lian mendengarkan mereka bercakap-ca-kap dan diam - diam ia mengambil keputusan untuk mengunjungi Istana Laut itu. Ia tidak dapat men-cari keterangan tentang nasib Bwee Hong, akan tetapi kedukaan ini tidak menghentikan niatnya untuk mencoba menolong A-hai dan Seng Kun yang ia duga tentu oleh kedua orang Sam - ok di-bawa ke Istana Laut di mana tinggal Rajawali Lautan sebagai pucuk pimpinan para bajak.

Karena maklum bahwa gadis itu baru saja lolos dari cengkeraman maut dan tubuhnya masih lemah, para nelayan tidak terlalu lama membiarkannya bergadang dan nona itu memperoleh sebuah kamar dalam rumah sederhana kakek nelayan. Ia dipersi-lahkan tidur. Akan tetapi, Pek Lian tidak dapat tidur pulas. Ia rebah di pembaringannya dengan gelisah, pikirannya kacau karena ia teringat kepada ayahnya yang tak diketahui di mana adanya dan yang amat membingungkan hatinya adalah ketika ia teringat suara ayahnya di atas perahu asing itu. Selain teringat ayahnya, juga teringat kepada A-hai dan Seng Kun yang juga menjadi tawanan pen-jahat, dan Bwee Hong yang membuatnya amat berduka karena menduga bahwa sahabatnya itu tentu telah tewas, tenggelam atau dimakan ikan.

Hatinya yang gelisah dan berduka membuat Pek Lian tidak dapat memejamkan matanya, makin keras ia berusaha untuk tidur, makin sulitlah. A-khirnya iapun bangkit dari pembaringan, turun dan keluar dari dalam kamar yang sederhana itu, terus keluar dari pondok kecil menuju ke pantai laut yang mengelilingi pulau kecil itu. Bulan muda yang muncul menerangi pulau dan mendatangkan cahaya remang - remang yang indah. Ketika ia se-dang asyik berjalan - jalan di atas pasir yang lunak basah, tiba - tiba ia terkejut melihat seorang manu-sia berpakaian serba hitam duduk bersila di atas gundukan pasir. Sinar bulan yang tidak dihalangi awan itu membuat jubah yang juga hitam warna-nya itu mengkilat seperti dilapisi perak. Seketika Pek Lian merasa kedua kakinya seperti lumpuh, jantungnya berdebar kencang dan semangatnya terbang.

Orang itu adalah Si Raja Kelelawar! I-ngin ia melarikan diri, akan tetapi kedua kakinya mogok. Apa lagi ketika orang itu menoleh, meman-dang kepadanya sambil menyeringai, matanya yang bulat tajam dan mengeluarkan sinar yang dingin dan aneh sekali itu seolah - olah mempunyai kekuatan untuk mencengkeram hatinya. Hampir saja Pek Lian jatuh pingsan saking ngeri dan ta-kutnya. Belum pernah ia merasa takut dan ngeri seperti pada saat itu. Sebetulnya, dara perkasa ini tidak takut mati. Akan tetapi, tokoh yang menjadi raja - di - raja sekalian kaum sesat ini sungguh membuat ia merasa ngeri.
"Ke sinilah engkau, heh budak kecil!" Terde-ngar suara orang berpakaian hitam itu, suaranya berdesah seperti desir angin laut, dingin dan me-nerbangkan butiran pasir lembut. Hati Pek Lian menjadi semakin gentar. Kekerasan hatinya bermaksud untuk membangkang, namun sungguh aneh. Di luar kehendaknya, kedua kakinya bergerak dan iapun mendekat, menghampiri iblis itu. Ia tidak tahu bahwa ini juga merupakan satu di antara il-mu kesaktian si iblis, yaitu di dalam pandang mata dan suaranya terkandung kekuatan khikang yang dapat mempengaruhi semangat orang lain.

"Cepat!!" Bentakan ini seperti mempunyai daya tarik yang amat kuat sehingga Pek Lian merasa seperti ditarik ke depan atau didorong dari bela-kang, membuat ia meloncat ke depan menghampiri orang itu, dan berdiri berhadapan dengan orang itu, mukanya agak pucat dan jantungnya berdebar penuh rasa ngeri dan takut.

"Kenapa takut ? Saat ini aku sedang tidak mem-punyai minat terhadap wanita. Aku hanya ingin bertanya kepadamu. Kenapa engkau sampai di tempat ini dan di mana teman - temanmu itu ? Ke mana perginya kakek tua murid Tabib Sakti yang menolongmu itu ? Hayo jawab sejujurnya ! Kalau tidak kaujawab, akan kutelanjangi kau di sini dan kukubur hidup - hidup di pasir ini!"

Pek Lian mengerahkan tenaga batinnya untuk menenangkan perasaan hatinya, namun iblis itu memiliki wibawa yang sedemikian kuatnya sehing-ga ia tetap saja merasa betapa tubuhnya gemetar dicekam rasa ngeri dan takut. Ia tahu bahwa iblis ini dapat melakukan hal - hal yang tidak lumrah dan yang kejam karena pembawaannya yang tidak seperti manusia biasa, seperti pembawaan yang di-miliki oleh orang gila. Ketika ia menjawab, suara-nya juga tergagap - gagap dan Pek Lian dapat men-dengar sendiri betapa suaranya gemetar ketakutan.

"Saya ...... aku ...... aku ingin mencari kawan-kawanku. Mereka dibawa oleh Si Buaya Sakti dan Harimau Gunung ke tempat Si Rajawali Lautan.

Tentang kakek yang membantuku dahulu itu ...... aku tidak tahu ke mana perginya. Dia bersama ketua muda Lembah Yang - ce itu telah pergi berpisah dengan kami "

"Hemm, sungguh berani engkau, pergi sendirian ke tempat Rajawali Lautan Timur ! Tapi aku senang melihat seorang gadis muda yang berani sepertimu ini. Tidak percuma ayahmu mempunyai anak seper-ti engkau. Eh, bagaimana dengan ayahmu ? Bukan-kah engkau sedang mencarinya ? Sudah dapat kau-temukan ?"

Pek Lian tertegun. Sungguh iblis yang luar biasa, yang agaknya mengetahui segala - galanya ! Hatinya menjadi semakin gelisah. Jangan - jangan ayahnya terjatuh ke tangan iblis ini ? Begitu mem-bayangkan bahwa ayahnya terjatuh ke tangan iblis ini, sungguh aneh, semua rasa takut lenyap dari hatinya dan ia mulai dapat memandang iblis itu dengan berani, dan tubuhnya tidak lagi gemetar. Demi ayahnya, ia sanggup menghadapi dan me-nentang apapun juga, kalau perlu iblis inipun akan ditentangnya mati-matian. Ia sudah mengepal tinjunya. Akan tetapi iblis itu seakan - akan dapat membaca pikirannya.

"Jangan mengira yang bukan - bukan. Tidak ada persoalan antara ayahmu dan aku. Aku belum pernah bertemu dengan dia, hanya baru mendengar namanya saja. Nah, pergilah! Pakailah perahuku untuk melanjutkan usahamu, aku sendiri akan ber-jalan kaki saja!"

Iblis itu lalu bangkit dari duduknya. Badannya jangkung besar dan begitu kedua kakinya bergerak, tubuhnya berkelebat seperti terbang saja. Tubuh itu meluncur ke arah laut tanpa menengok lagi. Pek Lian memandang dengan bengong dan mata-nya terbelalak ketika ia melihat betapa iblis itu te-rus berlari ke arah laut dan ketika telah mencapai air laut, iblis itu masih terus berlari - lari di atas air laut, menempuh gelombang ! Di bawah kedua sepatunya terdapat sepotong bambu kurang lebih semeter panjangnya. Kini iblis itu mengembangkan kedua lengannya dan jubah panjangnya menjadi seperti layar terkembang, menggembung dan tubuh-nya didorong oleh angin, meluncur secepat perahu membalap menuju ke tengah lautan!

Pek Lian baru menarik napas panjang setelah bayangan hitam itu lenyap. Ia menggosok mata dengan ujung lengan bajunya, merasa seperti ba-ngun dari mimpi buruk. Matanya dikejap - kejapkan, akan tetapi bayangan hitam itu telah lenyap. Sunyi sekali di situ. Hanya nampak sebuah perahu kecil tergolek di atas pasir, tidak jauh dari situ dan ini menjadi bukti bahwa ia tidak mimpi, bahwa memang benar ia telah bertemu dengan Raja Ke-lelawar dan bahwa iblis itu telah meninggalkan perahunya, bahkan memberikan kepadanya. Pek Lian menghampiri perahu itu dan memeriksanya. Sebuah perahu kecil yang baik sekali, buatannya kuat dan bentuknya memungkinkan perahu itu da-pat meluncur cepat. Juga perahu kecil ini diper-lengkapi dengan dayung, layar dan juga jangkar. Hatinya menjadi girang sekali. Ia tidak tahu meng-apa sikap Raja Kelelawar terhadap dirinya menjadi begitu baik, bukan saja tidak mengganggunya, bahkan meninggalkan dan memberikan sebuah pe-rahu yang baik kepadanya dan menganjurkannya untuk mencari ayahnya. Dan ia akan mencari ayah-nya besok!


                                                                             * * *

Pada keesokan harinya, pagi - pagi sekali ia me-ninggalkan pulau para nelayan itu setelah mengu-capkan banyak terima kasih kepada nelayan tua yang telah menyelamatkannya. Ia menolak ketika para nelayan yang hidup sederhana dan berwatak jujur itu hendak mengantarnya. Ia bertekad un-tuk mencari sendiri ayahnya. Setelah perahunya meninggalkan pulau itu, ia memasang layar dan mengenangkan semua yang telah dialaminya.

Ia masih bingung mengenangkan suara ayahnya yang didengarnya di dalam perahu para perajurit asing. Benarkah ayahnya berada di dalam perahu itu ? Kalau benar demikian, tentu amat sukar ba ginya untuk menyelamatkan ayahnya. Raksasa-raksasa berambut putih yang berada di atas perahu itu sungguh lihai bukan main. Selain itu, iapun tidak tahu ke mana ia akan dapat menyusul perahu besar yang disangkanya membawa ayahnya itu. Juga ia merasa curiga kepada Si Raja Kelelawar. Iblis ini menyebut - nyebut ayahnya. Apakah hu-bungannya ? Jangan - jangan iblis yang luar biasa lihainya dan mungkin saja melakukan segala macam perbuatan yang aneh - aneh itu benar - benar telah menguasai ayahnya atau setidaknya tahu di ma-na ayalmya berada. Wah, kalau benar demikian dan ia harus berhadapan dengan iblis itu, makin kecil kemungkinannya untuk dapat menyelamatkan ayahnya.

Mengingat akan semua kesukaran ini, Pek Lian termenung dan semangatnya menurun. Hampir ia menangis karena ia tidak tahu ke mana ia harus pergi, ke mana ia harus mencari dan di sekeliling-nya hanya nampak air kebiruan yang demikian lu-asnya. Akan tetapi dara pendekar ini mengepal tinjunya dan mengeraskan hatinya. Tidak, ia tidak boleh menangis! Ia tidak boleh patah semangat! Ia harus berbakti kepada ayahnya. Sampai mati sekalipun ia tak boleh undur selangkah, harus me-lanjutkan usahanya mencari dan menyelamatkan ayahnya.

Akan tetapi, karena ia tidak tahu ke mana harus menuju, perahu layarnya itu meluncur ke depan, ke arah matahari terbit tanpa tujuan tertentu. Ka-dang - kadang ia membelok ke utara dan mencari-cari, namun sehari penuh ia tidak pernah melihat adanya perahu besar yang diperkirakan membawa ayahnya sebagai tawanan itu. Yang dijumpainya hanya perahu - perahu nelayan, itu pun jarang seka-li. Akhirnya, matahari condong ke barat dan malam menjelang tiba.

Untung bagi Pek Lian malam itu bulan purna-ma. Ia tidak perlu menyalakan lampu perahunya. Lebih aman tidak menggunakan lampu agar tidak mudah nampak oleh perahu lain. Tiba - tiba ia me-lihat titik-titik terang di kejauhan. Hampir ia bersorak. Biarpun titik - titik terang itu sama sekali tidak menjamin bahwa ia akan menemukan apa yang dicarinya, akan tetapi setidaknya ada harap-an dan perahunya mempunyai tujuan. Iapun me-ngemudikan perahunya yang didorong angin itu menuju ke cahaya api di depan itu. Lampu itu ke-lihatan dekat saja, akan tetapi setelah ditempuh, ternyata bukan main jauhnya. Sampai hampir se-tengah malam, baru ia dapat mendekat dan kini nampak bahwa banyak sekali lampu bernyala me-menuhi sebuah pulau kecil. Akan tetapi ketika perahu makin mendekat, ribuan lampu itu makin berkurang, lenyap dan yang nampak hanya ting-gal sebuah lampu yang tinggi dan terang, yang terdapat di tengah - tengah pulau. Tadinya Pek Lian merasa heran. Akan tetapi setelah perahunya dekat dengan pulau itu, mengertilah ia mengapa lampu - lampu itu lenyap. Kiranya pulau itu tepinya tidak landai, melainkan merupakan tebing yang curam seperti dinding tembok yang amat tinggi. Tentu saja ketika perahunya masih jauh dari pulau itu, ia dapat melihat semua lampu yang berada di atas pulau, akan tetapi setelah dekat, lampu - lam-pu itu terhalang oleh tebing yang tinggi, kecuali sebuah lampu besar yang agaknya berada di tempat paling tinggi di tengah pulau itu.

Melihat pulau yang tebingnya tinggi itu, Pek Lian menjadi bingung. Bagaimana mungkin men-darat dan memasuki pulau ? Tebing itu amat cu-ram, sedikitnya ada limapuluh meter tingginya. Hanya burung bersayap sajalah yang kiranya akan dapat mendarat ke pulau itu. Pek Lian mengeli-lingi pulau dengan perahunya, menggulung layar dan mendayung dengan perlahan, mencari - cari jalan masuk atau tempat mendarat yang tepat, atau hendak melihat di mana para penghuni pulau men-daratkan perahu mereka. Terdengar suara orang-orang bersorak - sorai di pulau itu, terdengar dari atas dalangnya suara sorakan. Agaknya para peng-huni pulau itu sedang berpesta - pora atau bersuka ria.

Ketika perahu Pek Lian tiba di bagian timur pulau dan dara ini sedang mencari - cari tempat pendaratan, tiba - tiba ia melihat berkelap - kelip-nya banyak lampu yang datang dari arah laut me-nuju ke pulau itu. Ia cepat mendayung perahunya, bersembunyi di balik batu karang menonjol dan mengintai. Beberapa buah perahu datang mende-kati pulau. Karena tidak mengenal tempat apa adanya pulau ini dan siapa pula orang - orang da-lam perahu itu, Pek Lian merasa lebih aman kalau menyembunyikan diri lebih dulu. Kiranya perahu-perahu itupun dihias dengan meriah, digantungi lampu teng warna - warni, suasana pesta nampak di perahu - perahu itu.

Pek Lian mengintai dengan penuh perhatian dan karena perahu-perahu itu mempunyai banyak lampu yang cukup terang, maka dia dapat melihat kesibukan-kesibukan di situ. Di atas perahu paling depan nampak berdiri seorang laki - laki bertubuh kurus dengan kumis tikus, pakaiannya mewah seperti seorang pembesar kerajaan saja. Terdengar orang meniup terompet tanduk dan pe-rahu - perahu itu merapat ke tebing. Ketika Pek Lian memandang ke arah tempat itu, nampaklah olehnya sebuah lubang besar di tebing itu, persis di atas permukaan laut, seperti mulut raksasa. Di dalam lubang itu berserakan batu - batu besar ke-cil dan di sela - selanya mengalir air bening ke laut. Itu adalah sebuah muara sungai bawah tanah yang menembus ke tebing itu dan ternyata muara inilah yang agaknya menjadi pintu menuju ke pulau! Satu - satunya pintu yang aneh sekali.

Para penghuni perahu berlompatan memasuki lubang. Diam-diam Pek Lian mendayung perahu-nya sambil bersembunyi di balik batu karang dan kini ia memandang penuh perhatian. Setelah dekat, baru ia melihat bahwa di mulut lubang terowongan itu terdapat ukiran huruf - huruf di tebing yang licin mengkilap. Jantung gadis itu berdebar tegang ketika ia membaca tulisan huruf - huruf besar itu. Hai Ong Kong Hu (Istana Raja Lautan)! Kiranya di sinilah tempat tinggal Si Rajawali Lautan Timur, datuk atau raja para bajak itu! Akan tetapi meng-apa tidak ada penjagaan sama sekali ? Apakah se-mua sedang berpesta - pora di pulau itu seperti yang dapat didengarnya dari luar pulau ?

Pek Lian menanti sampai semua orang dalam perahu - perahu itu memasuki lubang dan mereka meninggalkan perahu - perahu mereka yang mele-pas jangkar di dekat tebing. Perahu - perahu itu bergoyang - goyang akan tetapi tidak sampai mem-bentur tebing, tertahan oleh tali - tali kuat yang dihubungkan dengan jangkar yang dilepas di dasar laut. Setelah merasa yakin bahwa tidak ada lagi orang yang akan dapat melihatnya, Pek Lian lalu menambatkan perahunya pada batu karang di ping-gir tebing yang terlindung, kemudian berindap-indap dia berloncatan dari batu karang lain menghampiri lubang. Dengan hati - hati iapun mema-suki terowongan itu. Dengan penuh kewaspadaan, ia berloncatan ke atas batu - batu dan ternyata terowongan itu berbelok - belok mendaki. Ia terus mengikuti terowongan itu dan akhirnya sampailah ia ke mulut terowongan di atas pulau. Terowongan itu tiba di tepi sebuah telaga kecil dan agaknya terowongan itu merupakan jalan air untuk pembu-angan air dari telaga.

Dengan berindap - indap, Pek Lian mengintai keluar dari lubang yang merupakan mulut tero-woagan itu. Ia melihat bahwa di mulut terowong-an itu terdapat sepuluh lebih penjaga. Akan tetapi, seperti semua orang yang berada di pulau itu, para penjaga inipun asyik bersorak - sorak dan menonton perlumbaan yang diadakan di atas telaga, menjagoi sampan yang dikemudikan oleh kawan - kawan mereka. Ternyata di atas telaga itu diadakan per-lumbaan perahu sampan yang luar biasa ramainya. Semua orang menonton, di tepi telaga penuh orang dan yang berada di belakang mencari tempat yang agak tinggi untuk dapat menyaksikan perlumbaan perahu itu. Para penjaga ini yang berada di mulut terowongan, mendapatkan tempat yang tinggi se-hingga mereka dapat menyaksikan perlumbaan itu dengan jelas, walaupun dari tempat yang agak jauh.

Agaknya seluruh penghuni pulau itu dan juga semua penjaga dan para tamu, berkumpul di tepi telaga itu. Karena keadaan yang berjejal - jejal ini,

laki - laki dan wanita, walaupun jauh lebih banyak prianya ketimbang wanitanya, maka kehadiran Pek Lian tidak begitu menarik perhatian. Apa lagi waktu itu masih malam dan mulut terowongan itu masih gelap, demikian pula tempat di mana semua orang menonton itu. Hanya di tepi telaga terdapat penerangan yang beraneka warna, dan juga pada sampan - sampan yang melakukan perlumbaan itu terdapat lampu - lampu yang mengenakan kap de-ngan warna dan tulisan tertentu sehingga mereka itu dapat dikenal dari jauh oleh teman - teman me-reka yang menjagoi mereka.

Pertempuran adu kepandaian antara tiga orang raja lautan yang diadakan tiap tiga tahun sekali, selalu diawali dengan tontonan yang amat mena-rik ini, yaitu lumba perahu. Perlumbaan ini diikuti oleh semua perkumpulan bajak laut yang tergabung di bawah bendera tokoh yang dianggap sebagai Raja Lautan dan yang berhak mendiami Istana Ra-ja Lautan selama tiga tahun. Pada saat itu, yang menjadi Raja Lautan adalah Rajawali Lautan Ti-mur. Perkumpulan - perkumpulan ini adalah anak buah Lain - siauw - ong si Raja Muda Selatan, ke-mudian Petani Lautan, dan beberapa perkumpulan kecil lainnya. Akan tetapi tentu saja hanya para anak buah tiga perkumpulan di bawah tiga orang datuk itu saja yang termasuk golongan kuat, yaitu anak buah Rajawali Lautan Timur, Raja Muda Se-latan, dan Petani Lautan. Tiga orang ini sejak bertahun - tahun telah menjadi saingan - saingan yang paling keras, sedangkan para pimpinan perkumpul-an - perkumpulan kecil lainnya boleh dibilang tidak masuk hitungan. Mereka yang kecil ini boleh dibilang hanya bertugas meramaikan pesta perte-muan itu saja, walaupun mereka juga berhak untuk mengikuti perlumbaan, bahkan mencoba kepandai-an mereka untuk dapat terpilih sebagai Raja Laut-an yang baru !

Perahu - perahu yang ikut dalam perlumbaan itu adalah sampan - sampan kecil yang bentuknya runcing, ditumpangi tiga orang. Selain ada lampu warna - warni, juga setiap perahu dihias dan dicat, diberi bendera dari perkumpulan masing - masing yang berkibar di kepala perahu. Namanya saja perlumbaan dan perahu - perahu itu menang ber-lumba cepat mencapai garis yang telah ditentukan di mana dipasang tambang dengan pita berkem-bang. Siapa yang lebih dulu melewati tambang inilah yang dianggap juara.
Namanya saja perlumbaan adu cepat, akan te-tapi karena yang melakukan perlumbaan adalah para bajak perompak, maka perlombaan itupun bersifat keras, sesuai dengan watak mereka masing-masing. Perlumbaan itu tanpa memakai peraturan, pendeknya siapa mencapai dan melewati tambang sebagai garis terakhir, dialah yang menang. Tidak ada larangan apapun dalam perlumbaan ini. Kare-na tidak ada aturan ini, dan tidak ada larangan sama sekali, maka merekapun berusaha untuk mencapai kemenangan dengan segala macam cara mereka sendiri. Terjadilah pukul-memukul dan usaha me-nenggelamkan perahu lawan ! Saling sodok, saling kemplang dengan dayung. Pendeknya, mereka itu saling menghalangi lawan agar jangan sampai mencapai garis finish dan tentu saja usaha ini dila-kukan dengan kekerasan, maka terjadilah perkela-hian sengit di antara mereka sebelum ada yang berhasil mencapai garis kemenangan. Hanya ada batasnya dan hal ini sudah diumumkan sebe-lumnya, yaitu bahwa mereka, sesuai pula de-ngan kedudukan mereka sebagai bajak - bajak laut, mereka tidak diperbolehkan menggunakan alat senjata lain kecuali dayung dan mereka juga tidak boleh meninggalkan perahu masing-masing.

Tentu saja pertempuran yang kacau - balau dan acak - acakan itu amat ramainya. Banyak sudah di antara para anggauta bajak yang terlempar ke luar dari perahunya, tercebur ke dalam air telaga dengan kepala benjol atau bocor terkena hantaman dayung lawan. Akan tetapi mereka adalah orang-orang kasar yang sudah biasa dengan kekerasan se-hingga mereka tidak menjadi marah, bahkan terta-wa - tawa dalam suasana pesta dan mereka itu rata-rata adalah perenang - perenang yang pandai maka masing - masing dapat menyelamatkan dirinya sen-diri. Ada pula perahu yang sempat digulingkan lawan, dan tentu saja tiga orang penumpangnya.

terguling semua dan tercebur ke dalam air, bere-nang ke sana - sini berusaha membalikkan perahu sendiri atau kalau tidak berhasil, merekapun lalu menggulingkan perahu lawan mana yang terdekat. Suasana menjadi ramai, hiruk - pikuk dan lucu. Para penonton bersorak - sorai gembira. Akan tetapi kegembiraan yang kasar, dan tidak jarang terjadi perkelahian sendiri di antara penonton, bukan per-kelahian antara musuh melainkan perkelahian se-sama rekan, menggunakan tangan kosong dan su-dah puas kalau lawan terpelanting, tidak ada yang bermaksud membunuh rekan. Taruhanpun terjadi-lah dan para petaruh ini yang bersorak - sorak kalau melihat perahu yang mereka jagoi itu dapat maju melampaui lainnya.

Pek Lian menengok ke sana - sini, mencari - cari dengan penuh perhatian. Ia tidak melihat adanya orang - orang berperahu yang dilihatnya berlon-catan memasuki terowongan mendahuluinya tadi. Dan iapun tidak dapat menduga di mana adanya Bu Seng Kun atau juga A-hai kalau memang me-reka berdua itu dibawa ke tempat ini oleh para penawan mereka. Pek Lian sendiri sampai menjadi bingung memikirkan nasibnya. Mula - mula ia ber-sama Bu Seng Kun dan Bu Bwee Hong mencari ayahnya. Ayahnya belum bisa didapatkan, Bu Seng Kun dan juga A - hai malah lenyap ditawan orang. Dan akhirnya, mencari ayahnya dan dua orang pemuda itu belum berhasil, ia sudah harus berpisah lagi dengan Bwee Hong yang tidak dike-tahui bagaimana nasibnya itu.

Perlumbaan perahu itu terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama adalah para anggauta bajak tingkat rendah yang tadi telah diperlihatkan kenekatan masing - masing. Adapun golongan ke dua yang diperlumbakan adalah golongan thouw-bak (kepala regu) dari perkumpulan masing - masing yang akan diadakan kemudian. Sementara itu, ke-but - kebutan sambil berkelahi kacau - balau itu masih terus berlangsung dengan ramai dan sengit-nya di tengah telaga.

Pek Lian bersembunyi di belakang setumpuk jerami kering sambil melihat suasana di sekeliling tempat itu. Ia sadar sepenuhnya bahwa ia telah memasuki sarang srigala buas di mana terdapat banyak sekali orang yang memiliki kepandaian tinggi. Juga ia tahu bahwa orang - orang di tempat, ini berwatak seperti binatang, kejam dan buas. Ka-lau sampai ia tertangkap, tentu ia akan mengalami nasib yang amat mengerikan. Akan tetapi ia telah berada di situ, tidak mungkin lagi ia mengundurkan diri karena kini ia melihat betapa mulut terowong-an dari mana ia tadi lewat, telah mulai dijaga dan diperhatikan kembali.

Perlumbaan masih terjadi dengan amat ramai-nya. Sampan dari anak buah Si Raja Muda Selatan agaknya seperti memimpin perlumbaan, dikejar oleh sampan pihak tuan rumah, yaitu anak buah Rajawali Lautan Timur. Sedangkan kelompok perkum-pulan lain mengejar sambil gebug - gebugan. Dua buah perahu, yang lampunya merah dan hijau, saling tabrak dan perahu merah terguling! Tiga orang penumpangnya terpelanting, disoraki lawan. Akan tetapi, tiga orang itu berhasil memegang ujung perahu lawan yang berlampu hijau dan mendorong-nya terbalik pula. Tentu saja tiga orang penum-pangnya juga terpelanting dan tercebur. Dan enam orang itu kini saling pukul menggunakan dayung, berkelahi di air. Hiruk - pikuk suaranya ! Agaknya, perlumbaan ini belum tentu dapat selesai sampai fajar nanti. Perahu - perahu yang sudah maju se-lalu terhalang oleh lawan sehingga segi lumbanya sendiri hanya sedikit sekali, akan tetapi perkelahi-annya yang banyak. Para penonton makin keran-jingan. Makin banyak darah muncrat, makin banyak orang celaka, makin banyak perahu terguling, ma-kin penuh gairah para penonton, makin gembira hati mereka karena dalam keadaan seperti itu me-reka ingin melihat orang menderita sehebat - hebat-nya. Memang demikianlah watak orang. Suka sekali melihat orang lain menderita, bahkan merasa lucu kalau melihat orang lain menderita dan ke-sakitan. Sebaliknya, melihat orang menikmati ke-senangan, timbullah iri hati.

Manusia pada umumnya memiliki watak welas asih (belas kasihan), penuh pertimbangan, suka akan keadilan, menentang kelaliman. Akan tetapi di samping watak - watak yang baik ini, terdapat pula watak yang sadis, yang senang melihat penderitaan orang lain dan merasa iri hati kalau melihat orang lain bersuka ria. Sifat - sifat yang bertentangan ini disebabkan oleh konflik batin yang ditimbulkan oleh pikiran yang menciptakan si aku yang selalu ingin senang dan selalu mencari dan mengejar ke-senangan, atau keadaan lain yang lebih menye-nangkan dari pada keadaan sekarang yang telah dirasakan dan dimilikinya.

Watak seseorang dibentuk oleh kebiasaan - ke-biasaan. Dan kebiasaan lahir dari ketidakwaspa-daan. Kebiasaan membuat seseorang menjadi seperti robot, yang bergerak karena kebiasaan itu sendiri, dan kebiasaan dihidupkan oleh keinginan untuk senang. Kebiasaan ini dapat dihentikan seketika dengan kewaspadaan. Waspada meman-dang kenyataan, mengerti dan sadar akan kekeliru-an sendiri dan kewaspadaan ini, kesadaran ini ber-arti tindakan seketika pula, yang menghentikan kebiasaan itu. Tanpa ini, maka pengertian itu palsu adanya, bukan kewaspadaan, melainkan permainan si aku yang enggan melepaskan kese-nangan sehingga dalam melihat kesalahan atau kekeliruan sendiri, si aku lalu mencari seribu satu macam alasan untuk membela diri dan memperta-hankan kebiasaan itu! Semua ini dapat kita lihat dengan jelas apa bila kita mau membuka mata dan mengamati diri sendiri lahir batin.

Ho Pek Lian melihat betapa semua orang seperti tenggelam ke dalam tontonan yang makin ramai itu, maka iapun berindap - indap meninggalkan tepi telaga menuju ke rumah - rumah yang bertebaran di sekitar telaga kecil itu. Ia memasuki sebuah rumah dengan hati - hati dan tepat seperti yang diduganya, rumah itu kosong karena semua peng-huninya beramai - ramai nonton perlombaan pera-hu. Pek Lian merasa betapa jantungnya berdebar-debar tegang. Ia merasa seperti seorang pencuri memasuki rumah orang yang kosong dan merasa khawatir kalau - kalau penghuni rumah itu akan masuk sewaktu - waktu dan memergokinya di da-lam rumah itu. Dimasukinya sebuah kamar dan dengan girang akhirnya ia menemukan pakaian wanita yang cocok untuknya, pakaian sederhana dan kasar dari keluarga bajak. Setelah merasa bahwa dengan dandanan itu ia tidak akan berbeda banyak dengan para wanita yang berada di tepi telaga, ia lalu keluar. Rambutnya sudah diubah gelungnya meniru gelung cara dusun dari para wanita yang berada di antara para penonton. Mu-lailah ia mencampurkan dirinya dengan para penon-ton lainnya dan memang tidak ada orang yang tertarik untuk memperhatikannya setelah ia mema-kai pakaian seperti para wanita lain di tempat itu. Pek Lian memperhatikan dan mencari - cari dengan pandang matanya, namun ia tetap tidak melihat para penumpang perahu - perahu yang mendahuluinya memasuki terowongan yang menuju ke pulau itu.

Tiba - tiba ia menyelinap di antara banyak orang untuk menyembunyikan diri ketika ia melihat munculnya tiga orang yang telah dikenalnya. Mere-ka itu adalah para pembantu Raja Muda Selatan yang pernah mengeroyok Bwee Hong ketika Bwee Hong dicoba oleh raja bajak itu. Mereka bertiga itu nampak sedang berjalan bersama dua orang bermuka hitam dan bopeng, meninggalkan tepi telaga dan menuju ke sebuah gedung di tengah pu-lau. Melihat tiga orang ini, Pek Lian segera mem-bayangi mereka. Gadis ini tadi sudah melihat bahwa anak buah Si Raja Muda Selatan hadir pula dalam keramaian itu, dan karena itulah ia sangat berhati - hati menyembunyikan diri karena ia ter-ingat akan minat Raja Muda Selatan terhadap Bwee Hong, yaitu ingin mengambilnya sebagai isteri, baik dengan halus maupun kasar.

Lima orang yang dibayangi Pek Lian memasuki gedung itu dan mereka disambut oleh empat orang lain yang wajahnya membayangkan kekerasan dan sikap mereka kasar - kasar, akan tetapi pakaian mereka bukan seperti bajak laut, melainkan seperti para petani. Melihat ini, Pek Lian dapat menduga bahwa tentu empat orang itu anak buah Petani Lautan seperti yang pernah didengarnya dari per-cakapan antara Raja Muda Selatan dengan Bwee Hong. Melihat sembilan orang itu duduk di ruangan depan gedung itu, minum bersama dan ditemani oleh wanita - wanita muda yang genit - genit, Pek Lian menyelinap dan mengintai untuk mendengar-kan percakapan mereka.

"Hei, kawan. Persembahan apakah yang akan dihaturkan oleh pimpinan kalian ?" tanya empat orang anak buah Petani Lautan itu kepada tiga orang anak buah Raja Muda Selatan.

"Pimpinan kami akan menghadiahkan beberapa buah benda berharga hasil rampasan kami dari perahu Pangeran Jepang," jawab seorang di antara mereka, "dan apa yang akan dipersembahkan pim-pinan kalian ?"

"Entah, mungkin sebuah golok pusaka yang kami rampas baru - baru ini dari perahu kerajaan."

"Aih, besok akan ramai sekali dan membayang-kannya hatiku menjadi tegang. Pertandingan silat antara para raja lautan yang hanya dapat kita nik-mati setiap tiga tahun sekali," kata orang yang mukanya bopeng, yaitu anak buah dari tuan rumah, Si Rajawali Lautan.

"Kitapun besok sore akan saling bertemu dalam perlumbaan perahu," sambung temannya yang ber-muka hitam.

"Ha - ha - ha ! Benar sekali, aku sudah ingin sekali tahu kemajuan apa yang kalian peroleh se-lama tiga tahun ini!" seorang thouw - bak dari Raja Muda Selatan berkata gembira. Suasana men-jadi makin gembira ketika mereka itu mengadu tebak jari sambil minum - minum. Makin banyak mereka minum arak, makin gembira suasananya dan kadang - kadang terdengar jerit - jerit kecil para wanita pelayan kalau tangan orang - orang kasar itu mulai usil.

Pek Lian menyelinap masuk ke dalam gedung itu dari pintu samping. Ternyata gedung inipun kosong dan di ruangan dalam ia tidak menemui se-orangpun manusia. Agaknya penghuninya keluar semua dan para wanita yang menemani sembilan orang itu tentu pelayan - pelayan atau memang wanita yang disediakan untuk para tamu. Ketika ia menuju ke ruangan belakang, ia mendengar su-ara orang dari sebuah kamar. Pek Lian cepat me-nyelinap bersembunyi. Suara itu tidak jelas, akan tetapi seperti suara seorang laki - laki dan seorang perempuan. Karena ia hendak menyelidiki dan mencari kalau - kalau ia dapat menemukan di mana adanya Bu Seng Kun atau A - hai, maka ia lalu ber-indap menghampiri kamar itu. Dengan ludah dan jari tangan, ia melubangi kertas jendela dan meng-intai ke dalam kamar yang hanya diterangi oleh sebatang lilin itu. Dan apa yang disaksikannya membuat Pek Lian cepat - cepat membuang muka, wajahnya menjadi kemerahan dan cepat - cepat ia pergi meninggalkan tempat itu dengan hati me-nyumpah - nyumpah ! Kiranya yang berada di dalam kamar itu adalah seorang anggauta bajak yang sedang bergumul dengan seorang wanita !

Pek Lian terus menuju ke belakang dan keluar dari gedung itu melalui pintu belakang. Ia melihat sebidang tanah kosong yang penuh dengan batu-batu karang di antara semak - semak. Di tengah nampak sebatang sungai kecil yang dangkal penuh dengan batu - batu. Fajar mulai menyingsing dan Pek Lian mendaki bukit dari mana air sungai kecil itu mengalir. Pulau itu sepi, tidak nampak ada penjagaan seorangpun. Agaknya, semua orang te-lah pergi menonton perhambaan di tepi telaga.

Pek Lian termenung. Rajawali Lautan bukanlah seorang pemimpin yang baik. Pulau ini memang merupakan tempat sembunyi yang baik sekali, juga dapat menjadi semacam benteng yang kuat karena pulau ini dikelilingi tebing yang terjal dan tidak akan dapat diserbu lawan. Jalan masuk satu - satu-nya hanya melalui terowongan. Akan tetapi meng-apa penjagaannya begini lemah ? Kalau terjadi ser-buan musuh, mana mungkin akan dapat melawan dengan baik ? Apa lagi kalau yang menyerang itu orang - orang yang lihai macam Harimau Gunung dan Buaya Sakti. Berpikir demikian, dara itu ter-ingat akan dua orang dari Sam - ok yang menjadi pembantu - pembantu utama Raja Kelelawar itu. Heran sekali, ke manakah mereka itu pergi ? Apa-kah belum sampai di pulau ini ? Rasanya mustahil. Mereka itu berangkat lebih dulu dari padanya.

Melihat betapa di puncak bukit di depan terda-pat sebuah bangunan besar, jantung Pek Lian berdebar tegang. Bangunan itu seperti istana saja.

Itukah Istana Raja Laut ? Ah, kalau memang benar dua orang pemuda yang dicarinya itu menjadi tawanan, agaknya di istana itulah mereka ditahan !

Dan siapa tahu ia akan bertemu dengan ayahnya pula di istana itu. Hatinya menjadi tegang dan dengan cepat namun hati - hati sekali ia berlari mendaki bukit menuju ke istana itu. Makin dekat, makin nampaklah bahwa bangunan itu memang megah dan indah, pantas menjadi sebuah istana. Ia menyelinap di antara semak-semak dan mengintai ke depan. Nampak para penjaga hilir - mudik di halaman istana.

Tidak salah, pikirnya. Tentu inilah yang dinamakan Istana Raja Laut dan karena bangunan ini merupakan tempat tertinggi, maka satu-satunya lampu yang nampak ketika perahunya sudah mendekati pulau malam tadi tentulah lampu dari istana itu.

Pek Lian maklum bahwa tentu amat berbahaya kalau sampai ketahuan, maka iapun lalu menyeli-nap ke samping bangunan, menjauhi aliran sungai kecil yang agaknya bermata air di bukit itu. Ia mengintai dari balik sebatang pohon dan melihat beberapa orang wanita muda yang berpakaian se-perti pelayan - pelayan istana turun dari anak tangga pintu samping istana membawa keran-jang, menuju ke arah telaga.
Fajar telah tiba dan sinar matahari pagi mulai mengusir kegelapan malam. Pek Ljan mulai melihat para penonton bubaran. Dari tempat tinggi itu ia dapat melihat keadaan di tepi telaga di mana perhambaan diadakan. Celaka, pikirnya. Semua orang akan pergi ke tempat masing - masing dan kalau ia tidak cepat mendapatkan sebuah tempat persembunyian yang baik, tentu akan sukar bagi-nya untuk menghindar dari tangkapan. Mencoba memasuki istana sama dengan menyerahkan diri. Dari tempat tihggi ini ia mencari - cari dengan pan-dang matanya dan akhirnya ia melihat sebuah ba-ngunan kuno yang tidak terawat berdiri terpencil di lereng bukit, arahnya di belakang istana itu. Ce-pat ia meninggalkan tempat ia mengintai tadi dan berlari - lari menuju ke bangunan kuno itu.

Hatinya girang melihat bahwa bangunan kuno itu memang sebuah bangunan yang tidak dipakai orang lagi. Semacam bengkel atau gudang di ma-na bertumpuk banyak bangkai perahu, sampan, tiang layar dan semacam itu, berserakan tidak di-pakai lagi. Pek Lian cepat membuka pintu dan menyelinap masuk. Memang sebuah tempat per-sembunyian yang baik, kata hatinya girang. Di situ terdapat alat - alat pertukangan dan balok - balok kayu. Sebuah bengkel tempat pembikinan perahu. Terdapat banyak pula patung - patung yang bia-sanya dipakai menghias kepala perahu - perahu be-sar, patung dewa - dewa dengan muka yang me-nyeramkan, sebesar manusia.

Mengerikan juga melihat patung - patung itu sebesar orang dengan posisi berdiri atau duduk, dengan muka yang menyeramkan. Ada. patung yang rambutnya terbuat dari rambut manusia aseli. Patung - patung ini berada di sebuah ruangan yang cukup luas dan sambil melangkah perlahan - lahan memeriksa keadaan tempat itu, Pek Lian merasa serem. Seolah - olah semua patung itu mengawasi setiap gerak - geriknya. Dan patung - patung itu seperti hidup saja, apa lagi di dalam ruangan yang remang - remang seperti itu. Pek Lian berusaha untuk tidak mengamati patung - patung itu. Teng-kuknya meremang dan hatinya diliputi rasa serem. Akan tetapi, makin ia berusaha untuk tidak me-mandang, matanya malah selalu memperhatikan ke sekeliling, ke arah patung - patung itu. Berada di tempat itu ia merasa seolah - olah kalau berada se-orang diri di tanah kuburan, atau di ruangan yang penuh dengan peti - peti mati. Seolah - olah ada yang bergerak, ada yang hidup, ada setannya !

Kita tidak mungkin dapat melarikan diri dari rasa takut. Rasa takut bukanlah sesuatu yang ter-pisah dari kita. Rasa takut adalah kita sendiri, ba-tin kita sendiri penciptanya. Ke manapun kita lari, kalau memang kita takut, tentu akan tetap takut. Hiburan yang kita cari hanya akan membuat kita terlupa sebentar saja, akan tetapi rasa takut itu masih ada dalam batin.

Ada bermacam - macam rasa takut, yaitu misal-nya takut terhadap setan, takut terkena malapeta-ka, takut penyakit, bahkan takut mati. Akan tetapi semua bentuk rasa takut itu pada hakekatnya sama saja. Semua itu timbul dari pikiran yang memba-yangkan hal-hal yang belum ada, hal-hal yang dianggapnya amat tidak menyenangkan seperti yang pernah diketahuinya dari orang lain atau dari pengalaman sendiri. Orang takut kepada se-tan yang melakukan hal - hal yang menyeramkan, dan orang yang takut kepada setan itu tentu belum bertemu dengan setan, jadi yang ditakutinya itu hanyalah bayangan - bayangan yang dibuatnya sendiri dalam pikirannya. Orang yang takut mati tentu takut karena membayangkan keadaan yang mengerikan sesudah mati seperti yang pernah di-dengarnya dari cerita - cerita dongeng, atau takut membayangkan kesepian dan kehilangan segalanya sesudah mati. Melarikan diri dari rasa takut sia-sia belaka. Akan tetapi, kalau kita mau mengha-dapinya, menghadapi rasa takut setiap kali ia mun-cul, mengamatinya dengan penuh perhatian, maka pengamatan ini sendiri akan membebaskan kita dari cengkeraman rasa takut. Pengamatan dengan penuh perhatian akan melenyapkan pikiran yang membayang - bayangkan, dan pengamatan ini akan membuat kita mengerti dengan jelas proses terja-dinya rasa takut dalam pikiran kita.

Pek Lian yang sudah merasa ngeri itu hampir saja menjerit ketika ia melirik ke kiri dan merasa ada sebuah patung yang bergerak di pojok ruangan itu. Untung ia masih ingat sehingga tidak ber-teriak dan menutupi mulutnya dengan tangan kiri. Ah, mana mungkin ada patung bisa bergerak ? Di-bantahnya sendiri dugaan tadi. Akan tetapi tetap saja hatinya merasa gentar dan ia menjauhi tempat patung - patung itu menuju ke pintu untuk meng-intai keluar, melihat suasana di luar.

"Gedobrakkk ! Huh, bedebah ! Sialan !"

Tentu saja Pek Lian merasa terkejut sekali se-perti disambar halilintar mendengar suara bising yang disusul suara makian itu. Cepat ia menoleh dan wajahnya menjadi pucat, matanya terbelalak ketika ia melihat sebuah patung benar - benar ber-gerak menyingkirkan sebuah patung lain yang tadi agaknya roboh menimpanya. Rasa takut membuat Pek Lian kehilangan kewaspadaan dan iapun men-dorong daun pintu dan melompat keluar dari da-lam rumah setan itu. Serombongan orang yang se-dang lewat di depan rumah tua itu terkejut me-lihat munculnya seorang gadis yang ketakutan. Mula - mula mereka mengira bahwa gadis itu te-man sendiri karena Pek Lian memang menyamar dengan pakaian yang diambilnya dari sebuah ru-mah, akan tetapi ketika mereka melihat wajah Pek Lian, mereka tahu bahwa gadis itu adalah seorang asing. Karena masih menduga bahwa mungkin ia seorang gadis yang dibawa datang oleh para tamu, maka seorang di antara mereka cepat meloncat ke depan Pek Lian sambil menyeringai.

"Eh, nona manis, engkau datang dari rombong-an manakah ? Dan apa yang telah terjadi maka engkau keluar dari bengkel lama ini ?"

"Ha-ha-ha, agaknya nona manis ini menjum-pai kekasihnya di sini!"

"Tak salah lagi, tentu semalam suntuk telah bermain cinta sepuasnya "

Beberapa orang laki - laki mengeluarkan kata-kata yang makin lama makin cabul dan tidak pan-tas, maka Pek Lian tidak dapat menahan kemarah-annya lagi.

"Tutup mulutmu yang busuk !" bentaknya dan tangan kirinya menampar.

"Plakk !" Orang yang mengeluarkan kata-kata cabul itu terkena tamparan pipinya. Dia mengaduh dan terpelanting roboh, lalu merintih karena muka yang kena dihantam itu membengkak ! Tentu saja para anak buah pulau itu menjadi marah. Dua orang teman yang melihat kawannya ditampar, sudah meloncat ke depan dan mereka berdua ini menubruk untuk merangkul dan menangkap gadis yang galak itu. Akan tetapi, Pek Lian menggerakkan kaki tangannya dan dua orang itupun roboh terpelanting! Gegerlah para anak buah pulau itu. Baru mereka tahu bahwa gadis ini lihai sekali. Lima orang maju mengeroyok dan
yang lain memberi tanda memanggil teman - teman.

Para anak buah Rajawali Lautan berdatangan dan selain nona itu dikeroyok, juga rumah tua itu di kepung.

"Periksa di dalam rumah ! Mungkin masih ada kawan - kawannya. Mereka ini tentu mata - mata dari luar !" demikian seorang thouw - bak pemban-tu Rajawali Lautan berteriak.

Bersambung

Darah Pendekar 17                                                               Darah Pendekar 19