Selasa, 07 Mei 2013

DARAH PENDEKAR 17

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Bab 17

"Ah, begitukah ?" kepala bajak itu berseru he-ran dan kagum. Tahulah dia kini bahwa wanita itu adalah seorang wanita gagah, kalau tidak de-mikian, tak mungkin sampai dikeroyok.

"Lepas-kan !" katanya kepada tiga orang pembantunya.

Tiga orang pimpinan bajak itu lalu mengguna-kan golok untuk membikin putus tali yang mengikat kaki tangan dan tubuh Bwee Hong. Begitu terle-pas dari ikatan, Bwee Hong meronta dan jaring itupun jebol dan iapun meloncat keluar, berdiri tegak dengan gagahnya di depan kepala bajak itu.

"Ahhh !" Kepala bajak yang perutnya gendut itu kini memandang dengan melongo, juga tiga orang pembantunya itu memandang kagum.

Kiranya tawanan wanita itu adalah seorang dara yang luar biasa cantik jelitanya! Biarpun pakaiannya kusut dan rambutnya awut - awutan, mukanya kotor, namun jelas nampak betapa cantiknya gadis ini. Seketika jantung kepala bajak itu berdebar-debar dan diapun sudah jatuh hati kepada gadis itu. Dia sudah mempunyai seorang isteri dan beberapa orang selir, akan tetapi begitu melihat Bwee Hong, mau rasanya dia membuang semua isteri dan selirnya itu dan menggantikan tempat mereka dengan gadis ini!

"Aihh, nona yang cantik dan gagah perkasa. Si-apakah engkau ? Siapa namamu ?"

Melihat perobahan sikap itu, senyum lebar yang disertai pandang mata -penuh gairah, hati Bwee Hong sudah menjadi penasaran dan mendongkol. Ia menduga bahwa tentu si gendut inilah yang pernah dibicarakan oleh Pek Lian, yaitu kepala atau raja penjahat yang menguasai lautan dan memimpin para bajak yang berjuluk Tung-hai-tiauw Si Rajawali Lautan Timur, seorang di an-tara Sam - ok yang sedang dicari - cari oleh dua orang rekannya, yaitu Si Harimau Gunung dan Si Buaya Sakti, atas perintah Raja Kelelawar! Ia ti-dak ingin berkenalan atau memperkenalkan diri kepada segala macam raja penjahat!

"Namaku tidak ada sangkut - pautnya dengan kalian!" jawabnya kaku.

Kepala penjahat itu tidak menjadi marah meli-hat sikap ini. Malah sikap itu nampak semakin me-narik dan gagah baginya! Setiap pendapat itu selalu diwarnai oleh perasaan suka atau tidak suka, karenanya, pendapat itu selalu palsu adanya dan tidak dapat dijadikan ukuran untuk menilai kea-daan sesungguhnya dari sesuatu.

"Nona, bagaimanapun juga, aku telah menyelamatkan nona dari pada malapetaka hebat. Kalau tidak ada aku yang menolongmu, bukankah engkau akan celaka sebagai tawanan pangeran asing itu ?" katanya membujuk.

"Kalian menyerbu perahu pangeran itu untuk membajak, sama sekali bukan untuk menolongku," bantah Bwee Hong.

Makin lama, kepala bajak itu menjadi semakin tertarik dan terpesona oleh kecantikan gadis ini.

"Kalau begitu, berilah kesempatan kepadaku untuk dapat menolongmu, nona. Agar aku dapat membuktikan bahwa aku sungguh ingin menolongmu dan mempunyai niat baik terhadap dirimu "

"Kalau engkau beriktikad baik, berilah aku se-buah perahu kecil agar aku dapat pergi mencari temanku yang terpisah dariku karena pengeroyokan orang - orang Jepang itu !"

"Ah, ada lagi seorang temanmu ? Apakah diapun tertawan ? Seorang pemuda ataukah sudah tua ?"

"Sahabatku itu juga seorang gadis, ia terjatuh dari perahu " Bwee Hong mulai mau bercerita karena ia mengharapkan orang - orang ini akan da-pat membantunya mencari dan menyelamatkan Pek Lian. Selain itu ia percaya bahwa kakaknya tentu sudah menjadi tawanan pula di tempat ini dan siapa tahu ia akan dapat membujuk agar ke-pala bajak ini mau membebaskan kakaknya pula.

"Nona, Lautan Po - hai ini begini luas dan eng-kau yang tidak berpengalaman, bagaimana dapat mencari seorang teman yang hilang hanya dengan menggunakan sebuah perahu kecil ? Jadilah tamuku yang terhormat dan aku akan membantumu men-carikan sahabatmu itu. Akan kukerahkan semua anak buahku. Engkau tentu lelah sekali, biarlah engkau mengaso dulu. Mari, nona, mari kuantar nona ke kamar tamu dan nona akan menikmati ke hidupan di tempat ini."

Kepala bajak itu lalu mem-bawa sendiri Bwee Hong menuju ke ruangan sebe-lah dalam dan di situ, beberapa orang pelayan wa-nita menyambutnya. Bwee Hong diberi sebuah kamar yang indah. Karena mengharapkan bantuan untuk menemukan kembali Pek Lian, juga karena mengharapkan akan dapat membebaskan kakaknya yang ia kira tentu berada di tempat ini pula seba-gai tawanan, Bwee Hong tidak menolak, walaupun ia tidak pernah kehilangan kewaspadaannya dan tidak mau bersikap manis kepada tuan rumah yang pandang matanya mengandung gairah itu. Bagai-manapun juga, nona ini terkesan juga oleh sikap tuan rumah. Sama sekali tidak seperti sikap kepala bajak. Begitu halus dan sopan, dan ternyata di se-belah dalam istana itu, keadaannya seperti dalam istana raja - raja saja. Juga para pelayan wanita terlatih baik dan bersikap amat halus!

Para anak buah bajak selama sehari semalam berpesta - pora merayakan hasil yang amat besar di malam hari itu. Para tawanan, yaitu anak buah pangeran, dijebloskan dalam tempat tawanan yang berada di bawah tanah. Hanya Pangeran Akiyama seorang yang dimasukkan dalam kamar tahanan lain dan diperlakukan dengan sikap baik. Anak bu-ah pangeran ini menjadi orang tahanan dan dipe-kerjakan secara berpencar untuk pembangunan di pulau itu.

Ho Pek Lian telah berhasil naik ke tebing dan dengan berindap - indap ia menyelinap melalui bu-kit-bukit karang dan akhirnya ia berhasil mema-suki bangunan megah seperti istana itu. Ia melihat betapa tempat itu terjaga ketat seolah - olah tempat itu merupakan benteng dengan banyak bala tentaranya. Dan istana itu, yang terletak di tengah - te-ngah kompleks bangunan benteng, sungguh megah. Aneh melihat sebuah istana dibangun di tengah-tengah pulau kosong ini, di antara pulau-pulau kecil yang terpencil di tengah lautan.

Untung bagi Pek Lian bahwa para anak buah bajak sedang merayakan pesta kemenangan dengan hasil baik itu. Para penjaga ikut pula berpesta dan biarpun mereka masih tetap dalam tempat penja-gaan masing - masing, namun mereka juga kebagian arak dan daging sehingga tentu saja penjagaan me-reka menjadi kurang teliti dan lengah. Kesempatan inilah yang dipergunakan oleh Pek Lian, dengan mengandalkan gerakannya yang gesit dan ginkang-nya yang tinggi, untuk menyusup masuk ke dalam istana itu melalui pintu belakang di dekat taman bunga batu karang. Hanya ada beberapa pohon bunga kecil yang hidup di dalam pot-pot bunga, dengan tanah yang diambil dari daratan besar, se-dangkan hiasan lain merupakan batu-batu karang yang dibentuk dengan nyeni, dicat dan diatur se-demikian rupa sehingga tempat itu merupakan se-buah taman yang aneh tapi indah.

Bukan main girangnya hati Pek Lian ketika da-lam usahanya menyelidik dan mencari Bwee Hong dalam istana yang luas ini, ia tersesat masuk ke dalam dapur! Memang perutnya sudah terasa lapar bukan main. Kalau menurut perasaan hatinya, ingin ia menyerbu dan merampas makanan dengan kekerasan. Akan tetapi Pek Lian bukanlah seorang gadis sebodoh itu. Tidak, ia adalah seorang dara muda yang sudah banyak digembleng oleh keadaan, yang membuatnya menjadi cerdas, tenang dan juga berpemandangan luas. Ia melihat tiga orang tukang masak sedang sibuk di dapur itu dan beberapa orang pelayan hilir - mudik mengangkuti masakan - masakan.

Beberapa kali Pek Lian mene-lan ludah ketika bau masakan yang sedap memasuki hidungnya, membuat perutnya berkeruyuk seperti ayam jago sedang berlagak. Ia sampai terkejut sendiri dan menekan perut dengan tangan, khawa-tir kalau - kalau suara perutnya itu akan terdengar orang dan membuatnya ketahuan. Ia hanya menan-ti kesempatan baik untuk dapat mencuri makanan. Tiga orang koki itu sibuk masak dan kini, setelah para pelayan yang mengangkuti masakan-masakan itu pergi, mereka bercakap-cakap.

"Huh, kalau sedang begini, kitalah yang repot!" kata seorang di antara mereka yang matanya juling, agaknya karena bertahun - tahun bekerja di dapur dan matanya terlalu sering terserang asap.

"Setiap orang - orang merayakan pesta dan bersenang - se-nang, kita sendiri yang repot di sini setengah mati. Terlambat sedikit akan didamprat!"

Dengan gerak-an tangan yang sudah terlatih baik sehingga tidak perlu lagi menggunakan mata melihat, dia menca-cah daging, agaknya hendak membuat bakso.

"Aih, A - pek, engkau ini mengomel saja !" kata koki ke dua sambil melemparkan sepotong daging panggang yang banyak gajihnya ke dalam mulutnya, lalu mengunyahnya sampai ada minyak gajih yang menetes dari ujung bibir. Melihat ini, kemba-li Pek Lian menelan ludah dan memandang dengan mata benci kepada koki yang perutnya amat gen-dut ini. Mungkin karena terlalu banyak makan, pikir Pek Lian iri.

"Sekali ini bukan hanya karena pesta. Untuk anak buah itu, cukup masakan seada-nya, asal sudah ada panggang daging dan arak bagi mereka sudah cukup. Akan tetapi apakah eng-kau tidak tahu bahwa ong - ya mempunyai dua orang tawanan istimewa ?"

Ucapan ini membuat Pek Lian melupakan laparnya dan mendengarkan penuh perhatian. Koki ke tiga yang tubuhnya jangkung dan kurus seperti orang kurang makan, keadaan yang amat janggal mengingat akan pekerjaannya sebagai tukang masak, segera berkata, "Tawanan pangeran itu ?"

"Yang pertama adalah pangeran itu. Biarpun dia menjadi tawanan, akan tetapi dari keluarganya diharapkan uang tebusan yang besar, maka dia harus dijamu dan diperlakukan sebagai seorang-tamu terhormat dan berharga," jawab si gendut dengan mulut masih bergerak-gerak mengunyah daging. "Tapi yang paling istimewa adalah tamu ke dua."

"Kaumaksudkan gadis yang cantik dan gagah itu ?" kata si juling.

"Kabarnya ia cantik sekali. Semua pelayan mengatakan bahwa belum pernah mereka melihat seorang gadis secantik tawanan itu, Aihhh, aku jadi ingin sekali menengoknya!"

Si juling itu tersenyum - senyum dan sikapnya menjadi genit, tanda bahwa kalau temannya yang gendut itu lebih suka makan enak, dia sendiri agaknya le-bih memperhatikan wanita cantik.

"Hushh! Apa kau sudah bosan hidup ? Kau tahu apa ?" cela si gendut yang agaknya selain doyan makan enak juga paling tahu akan keadaan dalam istana itu.

"Ong - ya agaknya jatuh cinta kepada gadis ini dan karena itulah kita sekarang harus masak semua bahan simpanan seperti mengadakan pesta besar. Semua ini untuk disuguhkan kepada gadis itu ! Masak pauwhi, sarang burung, daging capit kepiting, sup kaki biruang, hemmm... hebat deh !"

Tukang masak gendut ini mengusap air liurnya ketika menyebutkan nama masakan-masakan mewah ini dan diam-diam Pek Lian juga menelan ludahnya. Tentu Bwee Hong yang mereka bicarakan, pikirnya. Wah, Bwee Hong agaknya menjadi tamu terhormat dan disuguhi makanan le-zat - lezat sedangkan ia sendiri harus bersembunyi-sembunyi setengah kelaparan !

Tiga orang koki itu kini sibuk memasak sayuran yang tadi disebutkan oleh si gendut dan Pek Lian semakin menderita karena bau masakan itu sung-guh luar biasa sedapnya, apa lagi bagi seorang yang sedang kelaparan seperti dirinya. Ia tahu bah-wa kalau masakan - masakan itu sudah selesai dan siap, tentu para koki itu akan menarik tali yang agaknya menjadi penyambung tanda rahasia bagi para pelayan bahwa masakan telah siap dan para pelayan itu akan datang mengangkut masakan - ma-sakan tadi. Maka Pek Lian pun siap - siap. Ketika masakan - masakan itu sudah selesai dan dipindah-kan dari tempat masak ke dalam mangkok - mang-kok besar, tiba-tiba Pek Lian menggerakkan ta-ngannya. Terdengarlah suara gedombrangan bi-sing sekali di lain ruangan dapur itu, di mana di-simpan mangkok piring dan panci - panci. Men-dengar ini, para koki itu terkejut.

"Wah, wah, jangan - jangan ada kucing lagi ma-suk ke sana !" kata si gendut yang segera berlari ke tempat itu disusul oleh dua orang temannya. Pek Lian cepat meloncat keluar dan dengan cekatan sekali ia bekerja. Tak lama kemudian ia sudah kembali ke tempat persembunyiannya, membawa sebuah mangkok besar terisi nasi dengan lauk - pa-uknya, yaitu pauwhi, sarang burung, capit kepiting, dan sup cakar biruang. Lezat! Ia makan dengan lahapnya, dengan tangan saja karena dalam keada-an tergesa - gesa itu ia lupa menyambar sumpit. Hatinya girang dan geli ketika mendengar tiga orang itu kembali ke dalam dapur sambil mengomel, akan tetapi agaknya mereka tidak tahu bahwa masakan - masakan itu telah berkurang.

Ketika akhirnya pelayan - pelayan datang meng-angkut masakan - masakan, Pek Lian sudah selesai mengisi perutnya dan iapun menyelinap dan mem-bayangi para pelayan yang membawanya ke tem-pat di mana sahabatnya ditahan ! Di lain saat, Pek Lian telah bersembunyi di atas genteng kamar Bwee Hong dan mengintai ke dalam. Dilihatnya Bwee Hong duduk menghadapi meja, dilayani oleh dua orang pelayan wanita dan benar saja, sahabat-nya yang cantik itu diperlakukan sebagai seorang tamu kehormatan. Akan tetapi Bwee Hong tidak kelihatan gembira, bahkan sebaliknya, sahabatnya yang cantik itu kelihatan pucat dan agak kurus dan menghadapi hidangan lezat itu dengan wajah ge-lisah dan duka. Karena agaknya kurang bernafsu, maka tidak lama Bwee Hong makan, lalu ia me-nyuruh para pelayan membersihkan meja. Tak lama kemudian, gadis itu nampak duduk termenung ditemani oleh dua orang pelayan yang agaknya juga bertugas untuk menjaga dan mengamatinya.

Selagi Pek Lian berniat untuk meloncat masuk, tiba - tiba terdengar suara orang dan Pek Lian me-lihat seorang laki - laki setengah tua yang pakaian-nya mewah dan perutnya gendut, yang memasuki kamar Bwee Hong itu diikuti oleh empat orang dayang muda-muda dan cantik-cantik. Melihat masuknya kepala bajak ini, Bwee Hong bangkit dari tempat duduknya dan memandang dengan sinar mata bertanya-tanya dan alis berkerut. Sudah sehari semalam ia ditahan di situ sebagai tamu terhormat dan ia masih menanti berita ten-tang Pek Lian, dan mencari kesempatan untuk ber-tanya tentang kakaknya.

"Bagaimana kabarnya dengan usaha mencari sahabatku itu?" Bwee Hong segera menyambut-nya dengan pertanyaan ini.

Kepala bajak yang gendut itu lalu memberi isyarat kepada para dayang dan pelayan yang se-gera meninggalkan kamar itu dan menutupkan da-un pintunya dari luar, kemudian mereka duduk di luar bersama dengan tiga orang pembantu utama kepala bajak itu yang agaknya memang mengawal dan menanti di luar. Dari atas genteng Pek Lian dapat melihat bahwa selain tiga orang itu, terdapat pula belasan orang penjaga yang agaknya siap membantu kalau sampai pimpinan mereka membu-tuhkan tenaga mereka. Keadaan ini membuat Pek Lian menjadi waspada dan tidak berani turun ta-ngan secara lancang. Iapun mengintai ke dalam kamar dan memperhatikan pertemuan antara saha-batnya dan kepala bajak itu.

"Belum berhasil, nona. Kalau sahabatmu itu tidak mendapatkan perahu untuk menyelamatkan diri, setelah tercebur ke dalam lautan, mana mung-kin ia dapat diharapkan tinggal hidup ? Di daerah itu terdapat banyak ikan hiunya yang ganas. Jadi, hanya ada dua kemungkinan. Pertama, ia menemukan perahu dan berhasil menyelamatkan diri, atau ke dua, yaaahh... nyawanya sukar tertolong"

"Ahhh...... !" Bwee Hong mengeluh sambil menutupi mula dengan kedua tangannya.

Hening sejenak, kemudian kepala bajak laut itu berkata, suaranya halus seperti juga sikapnya,

"Nona, engkau telah menjadi tamuku, dan aku akan tetap mencari sampai anak buahku tahu di mana adanya sahabatmu itu. Akan tetapi sampai sekarang aku belum mengenal namamu "

Agaknya Bwee Hong. merasa tidak enak juga kalau tidak memperkenalkan nama, karena memang sesungguhnya sikap kepala bajak ini amat baik se-lama ia menjadi tamu, balikan baru sekarang kepala bajak ini datang menjenguknya.

"Namaku Chu Bwee Hong ......"

"Nona Chu, sungguh aku merasa berbahagia sekali mendapatkan kesempatan bertemu dan ber-kenalan denganmu. Aku ingin sekali mendengar sendiri bagaimana jawabanmu terhadap usul yang kuajukan pagi tadi. Engkau tentu telah mendengar-nya dari pelayan dan utusanku, bukan ?"

Sepasang mata yang jernih dan indah itu tiba-tiba mengeluarkan sinar berkilat dan Bwee Hong bangkit berdiri dengan sikap marah.

"Aku sudah mendengarnya dan justeru karena itulah aku akan menjawab dan menegurmu ! Sudah kukatakan ke-marin bahwa anak buahmu menyerang perahu Pangeran Jepang itu untuk membajak, bukan untuk menolongku! Kemudian, engkau memperlakukan aku dengan baik, sudah kuduga bahwa tentu ada pamrih sesuatu yang busuk. Ternyata benar, engkau hendak membujuk aku menjadi isterimu! Hemm, dengarlah. Aku tidak sudi menerimanya dan kalau sampai besok engkau tidak berhasil mendengar ten-tang sahabatku, aku akan pergi dari sini!"

Kepala bajak itu menarik napas panjang. "Aku dapat mengerti penolakanmu, nona. Engkau seo-rang dara yang cantik jelita dan berkepandaian tinggi. Akan tetapi, engkau belum tahu siapa ada-nya aku. Kalau engkau menjadi isteriku, nona Chu, berarti engkau akan mendapatkan kemuliaan, ke-dudukan tinggi dan juga menjadi kaya."

Bwee Hong teringat akan kakaknya dan ia mengangkat mukanya memandang, lalu bertanya dengan suara ketus, "Siapakah engkau ?"

"Nona Chu, dengarlah. Aku adalah raja di lautan sebelah selatan, aku hanya dikenal dengan sebutan Lam - siauw - ong (Raja Muda Selatan) dan "

"Ehh... ?" Bwee Hong memotongnya dengan kaget dan juga dengan wajah mengandung keke-cewaan.

"Jadi engkau bukan Tung-hai-tiauw ?"

Kepala bajak itu mengerutkan alisnya dan meng-geleng kepala. Hatinya kecewa pula karena nona yang dicintanya ini ternyata mengira dia orang lain, orang yang selama ini memang menjadi saingannya!

"Bukan! Tung - hai - tiauw itu adalah seorang di antara kami, di antara tiga raja bajak di lautan ini, dan dia kebetulan pada saat ini sedang menduduki kursi pimpinan."

Pek Lian yang ikut mendengarkan percakapan itu, juga sama kecewanya dengan Bwee Hong. Kalau orang ini bukan Si Rajawali Lautan Timur, berarti bahwa dua orang di antara Sam - ok itu ti-dak datang ke tempat ini, dan dengan demikian mereka telah kehilangan jejak dari A - hai dan Seng Kun yang dibawa oleh kedua orang raja penjahat itu. Orang ini telah memiliki kedudukan tinggi dan kuat, kalau orang ini masih merupakan pembantu saja dari Rajawali Lautan, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya raja penjahat itu sendiri.

Bwee Hong tidak tahu banyak tentang dunia penjahat dan ia hanya tahu sedikit - sedikit karena mendengar cerita Pek Lian. Ia sudah men-dengar dari sahabatnya itu bahwa Sam - ok adalah tiga raja penjahat yang kini menjadi pembantu-pembantu dari Raja Kelelawar yang dianggap se-bagai datuknya kaum sesat. Akan tetapi mengapa kini kepala bajak ini mengatakan bahwa Rajawali Lautan kini menduduki kursi pimpinan ?

Biarpun hatinya kecewa karena merasa seperti kehilangan jejak kakaknya, akan tetapi keinginan tahu membuatnya bertanya, "Apa maksudmu mengatakan bah-wa dia menduduki kursi pimpinan ?"

"Duduklah, nona dan agaknya engkau belum mengenal kami. Baiklah, engkau perlu mengenal keadaanku lebih baik. Lautan di sebelah timur ini dikuasai oleh kami bertiga dan kami masing-ma-sing mempunyai anak buah sendiri. Kami bertiga adalah Tung-hai-tiauw yang menguasai wilayah timur, yang ke dua adalah Si Petani Lautan yang menguasai wilayah utara, sedangkan ke tiga adalah aku sendiri yang menguasai wilayah selatan. Kami masing-masing tidak saling melanggar wilayah dan melakukan operasi di batas wilayah masing-masing. Tempat kami menyerang perahu Jepang itu adalah batas wilayah kami."

"Jadi kalian bertiga adalah saingan - saingan yang saling bermusuhan ?" tanya Bwee Hong yang tertarik juga hatinya. Kepala bajak ini biarpun se-orang penjahat, namun sikapnya bukan seperti penjahat yang kasar.

"Pada mulanya kami memang saling bermusuh-an sehingga terjatuh banyak korban di antara kami sendiri. Lalu kami bermufakat untuk bersatu dan yang paling lihai di antara kami berhak menduduki kursi pimpinan, menempati gedung istana lautan yang kami bangun bersama. Nah, ternyata Rajawali Lautan yang berturut-turut menang dalam pemi-lihan dan menjadi raja lautan. Setiap tiga tahun sekali kami mengadakan pertemuan dan mengadu ilmu. Tiga tahun telah lewat sejak pemilihan yang lalu dan di dalam bulan ini juga, kurang beberapa hari lagi, kami akan mengadakan lagi pertemuan. Tiga hari lagi dan aku yakin akan dapat mengalahkan Si Rajawali Lautan karena selama ini aku telah berlatih dengan tekun. Tentu saja aku harus dapat pula mengalahkan Petani Lautan yang mem-perdalam ilmunya yang hebat, yaitu ilmunya Ban-seng-kun ( Silat Selaksa Bintang ) yang hebat. Dan engkau...... kalau engkau menerima pinanganku, nona, engkau akan menjadi ratu lautan !"

Baik Bwee Hong maupun Pek Lian yang ikut mendengarkan, menjadi ngeri. Macam apakah Ilmu Silat Selaksa Bintang itu ? Sampai di mana kehe-batannya ? Dan si gendut ini agaknya memiliki il-mu yang tidak kalah tingginya, karena buktinya dia merasa yakin akan dapat menangkan Petani Lautan dan juga Rajawali Lautan ! Betapa banyak-nya terdapat orang - orang lihai di dalam dunia kaum sesat.

"Engkau akan merasa ngeri kalau menyaksikan Ilmu Silat Selaksa Bintang itu, nona. Petani Lautan itu tidak pernah memakai baju karena tubuh atas-nya selalu penuh dengan keringat yang keluar ba-gaikan sumbernya yang tidak pernah kering. Dia selalu membawa tempat air ke manapun dia pergi untuk minum setiap saat. Minumnya banyak sekali, melebihi kuda karena keringatnya luar biasa ba-nyaknya. Di dalam pertempuran, keringatnya itu memercik - mercik keluar dan kalau tertimpa sinar matahari atau lampu, dapat menimbulkan sinar berwarna - warni dan berkelap - kelip seperti selak-sa bintang di langit. Itulah sebabnya maka ilmunya dinamakan, Selaksa Bintang dan gerakannya demikian cepatnya seperti bintang beralih. Siapa-pun yang bertanding melawannya akan menjadi basah kuyup tersiram keringat-keringat itu, apa lagi kalau keringat itu menyerang ke arah muka lawan, akan membuat mata menjadi silau dan ge-rakan Petani Lautan yang cepat itu akan sukar dapat diikuti lagi."

Bwee Hong mendengarkan cerita itu dengan alis berkerut dan diam - diam ia kurang begitu percaya akan cerita ini. Ilmu sesat macam itu tidak perlu ditakuti, pikirnya. Yang hebat hanya luarnya saja, akan tetapi pada hakekatnya, tidak mengandung inti yang kuat dan dalam. Akan tetapi, Pek

Lian yang sudah sering menyaksikan betapa ganas dan jahatnya ilmu orang-orang dari dunia hitam, mendengarkan dengan hati ngeri dan jijik. Betapa menjijikkan kalau harus bertanding melawan Petani Lautan itu. Keringat orang itu akan menyiram seluruh tubuhnya, mukanya dan ihh, betapa keras dan busuk baunya dan menjijikkan! Pek Lian bergidik.

"Akan tetapi, sehebat itu, dia masih kalah oleh Rajawali Lautan ?"

 Bwee Hong bertanya, bukan hanya ingin tahu, akan tetapi juga untuk mengikat tuan ramah itu dalam membicarakan urusan lain agar urusan "pinangan" itu tidak diulang lagi.

"Nona Chu, agaknya engkau belum tahu siapa Rajawali Lautan itu. Dia amat lihai, dia malah orang pertama dari Sam - ok, Si Tiga Jahat di da-ratan besar. Bukan saja ilmu silatnya yang amat tinggi, akan tetapi sepuluh buah jarinya mempunyai kuku yang kuat seperti baja, dan juga dia mema-kai baju emas yang membuatnya kebal terhadap segala macam senjata."

"Hemm, jadi dia kebal ?"

"Benar, dan kekebalan serta kuku-kuku jari tangannya itulah yang berbahaya."

"Kalau begitu, bagaimana engkau akan dapat menang menghadapinya ?"

Si gendut itu menarik napas panjang. "Entahlah, akan tetapi pokoknya, aku harus menang dan aku telah memperdalam ilmu pedangku yang kuberi nama Hun - kin - kiam (Pedang Pemutus Urat), mu-dah - mudahan aku akan dapat mengalahkan me-reka berdua."

"Mudah - mudahan."

"Dan engkau menjadi ratu "

"Sudahlah, jangan bicara soal itu. Aku tidak dapat menjadi isterimu."

"Kenapa tidak dapat ? Kurang apakah aku ini?"

"Pokoknya aku tidak mau, aku belum mau menikah."

"Engkau harus !"

Bwee Hong meloncat berdiri dan menegakkan kepalanya.

"Eh ? Siapa yang menghaluskan ? Aku tidak mau dan hendak kulihat engkau akan dapat berbuat apa terhadap diriku!"

Bwee Hong menantang berani. Agaknya tidak ada jalan lain ba-ginya kecuali menggunakan kekerasan. Kakaknya tidak berada di sini dan agaknya sukar mengharap-kan bantuan Pek Lian, maka jalan satu-satunya hanya menantang dan menggunakan kekerasan. Menang dan bebas, atau kalau kalah biarlah ia mati di situ dari pada harus menjadi isteri si perut gendut ini.

Lam - siauw - ong juga melompat dari tempat duduknya. Mukanya yang bulat itu menjadi merah, matanya yang lebar itu melotot semakin lebar dan kepalanya yang bundar itu mengangguk-angguk.

"Bagus, akupun ingin sekali melihat sampai di ma-na kelihaianmu agar dapat kupertimbangkan- apa-kah engkau memang patut menjadi ratuku." Si gendut ini menepuk tangan dua kali dan tiga orang pembantunya yang lihai itupun bermunculan dari pintu, berdiri dengan sikap hormat.

"Nona Chu ingin memperlihatkan kepandaian-nya. Coba kalian menangkapnya dan kalau berha-sil, ikat kaki tangannya I"

Tanpa bertanya lagi, tiga orang pembantu setia ini maklum dan dapat menduga bahwa tentu nona ini menolak kehendak raja mereka, maka setelah memberi hormat kepada Lam - siauw - ong, mereka lalu menghampiri Bwee Hong dan mengurungnya dengan kedudukan segi tiga." Bwee Hong berdiri tegak dan siap untuk menghadapi pengeroyokan mereka. Bahkan ia tidak mau membuang waktu lagi karena maklum bahwa perkelahian yang akan dihadapi ini baginya bukan sekedar menguji kepan-daian, melainkan perjuangan untuk mencapai ke-menangan dan untuk meloloskan diri! Begitu tiga orang lawan itu datang dekat, ia sudah menge-luarkan teriakan melengking nyaring dan tubuhnya sudah bergerak cepat sekali mengirim serangan kepada orang yang di depannya, sedangkan kakinya mencuat dalam tendangan kilat ke arah lawan di sebelah kanan.

Dua orang lawan itu terkejut bukan main. Ham-pir mereka tidak melihat gerakan nona itu dan tahu - tahu orang yang berada di kanan itu telah ke-na tendangan pada pahanya! Dan orang yang berada di depannya itu hanya menggulingkan tu-buh saja dapat terhindar. Dan Bwee Hong lalu mengamuk ! Tiga orang itu berusaha untuk mengu-rungnya rapat, akan tetapi mereka itu bahkan men-jadi bulan - bulanan pukulan dan tendangan Bwee Hong yang membuat mereka jatuh bangun ! Me-lihat ini, Lain - siauw - ong memandang dengan wajah berseri - seri dan tiada hentinya memuji.

"Bagus ! Bagus ! Ginkang yang sempurna ! Hebat ! Pantas menjadi ratuku, lebih dari pada pantas !"

Dia bertepuk tangan tiga kali dan muncul-lah lima orang pembantu lain yang dia perintahkan untuk membantu tiga orang pertama dan menge-royok Bwee Hong.

"Keparat, curang tak tahu malu!" Bwee Hong memaki dan Pek Lian yang berada di atas juga merasa marah sekali menyaksikan kecurangan si gendut yang main keroyok itu.

Akan tetapi ia tidak menurutkan hati, tidak mau turun tangan memban-tu sebelum melihat kesempatan baik agar ia dan sahabatnya itu dapat lolos dari pulau yang dihuni oleh para bajak itu. Andaikata ia turun membantu dan mereka menang sekalipun, masih amat sukar untuk dapat lolos dari pulau itu karena para penja-hat itu tentu akan merintangi dan menghadapi mereka di laut, sama saja dengan membunuh diri atau menyerahkan diri! Tidak, ia harus menanti saat baik. Hanya kalau terpaksa saja, kalau melihat Bwee Hong menghadapi ancaman maut, baru ia akan turun tangan dengan nekat, kalau perlu mati bersama dengan sahabatnya itu.

Biarpun dikeroyok delapan, namun Bwee Hong tetap mengamuk dan semua pengeroyoknya telah merasakan pukulan atau tendangannya. Semua pe-rabot dan isi kamar menjadi porak - poranda ketika para pengeroyok itu terlempar ke sana - sini. Akan tetapi, tiba - tiba Lam - siauw - ong sendiri maju dan begitu dia menyerang, Bwee Hong terkejut sekali. Ternyata raja penjahat ini benar - benar amat lihai! Bahkan melawan satu sama satu saja ia belum tentu dapat mengalahkan si gendut ini! Maka ia menjadi penasaran dan marah sekali. Memiliki ke-pandaian yang tinggi, namun si gendut ini masih mengerahkan anak buahnya untuk mengeroyok !

Akan tetapi Pek Lian mengerti mengapa si gen-dut itu tadi tidak maju sendiri dan menyuruh orang-orangnya untuk mengeroyok. Tentu selain ingin menguji sampai di mana kelihaian Bwee Hong, juga si gendut ini ingin menangkap Bwee Hong tanpa melukainya, maka dia menggunakan tenaga banyak orang. Dan memang dugaannya ini tepat. Setelah dikeroyok sembilan orang, maka akhirnya Larn-siauw - ong berhasil menotok pundak kiri Bwee Hong. Separuh tubuh dara itu menjadi lumpuh dan ketika si gendut "memeluk dan meringkusnya, iapun tidak dapat berkutik dan di lain saat dara itu telah dibelenggu kaki tangannya !

Pek Lian sudah mengepal tinju. Ia tentu akan nekat kalau melihat Bwee Hong hendak diperkosa, akan tetapi ternyata si gendut iba, biarpun kepala bajak, bukanlah seorang yang kasar. Dia sama se-kali tidak memperkosa, bahkan menciumpun tidak ! Agaknya, di depan delapan orang anak buahnya, si gendut ini menahan diri dan karena itulah maka dia dihormati sekali oleh para anak buahnya. Seti-daknya, biarpun dia kepala bajak, namun julukan-nya adalah Raja Muda Selatan !

Setelah tubuh Bwee Hong direbahkan di atas pembaringan, kedua kaki dibelenggu, kedua lengan diikat di belakang tubuh dan mulutnya juga diikat saputangan agar jangan mengeluarkan teriakan atau makian, si gendut menyuruh semua anak buahnya keluar lagi. Mereka keluar, ada yang terpincang-pincang, ada yang mengaduh memegangi perut, ada yang kepalanya benjol-benjol dan ada yang sebelah matanya menghitam. Kini tinggallah si gendut berdua dengan Bwee Hong dan kembali Pek Lian siap untuk menolong sahabatnya.

Akan tetapi, Lam - siauw - ong hanya mendekati pemba-ringan sambil berkata, "Nona Chu, salahmu sendi-rilah sehingga terpaksa aku membelenggumu. A-kan tetapi, engkau masih kuberi waktu untuk berpi-kir selama tiga hari ini. Setelah selesai menghadiri pertemuan antara pimpinan lautan, baru aku akan memaksa engkau mengambil keputusan, yaitu men-jadi isteriku secara suka rela ataukah secara pak-saan !" Setelah berkata demikian, Lam - siauw - ong meninggalkan kamar itu. Tak lama sesudah si gendut ini pergi, barulah Pek Lian cepat melayang turun ke dalam kamar itu. Tadi, ketika mencari-cari di dalam istana, ia menemukan gudang sen-jata dan ia telah memilih sebatang pedang untuk dibawa berlindung diri.

Melihat melayangnya sesosok tubuh ke dalam kamarnya, Bwee Hong cepat memandang dan da-pat dibayangkan betapa girangnya melihat bahwa yang melayang turun itu adalah Pek Lian yang ta-dinya dikhawatirkan telah terkubur di perut ikan hiu ! Kalau saja mulutnya tidak diikat dengan kain, tentu ia sudah berteriak saking girangnya.

"Ssttt !" Pek Lian menaruh telunjuk kanan di depan mulut memberi isyarat kepada sahabatnya itu agar tidak bersuara. Kemudian dengan cekatan ia meloncat ke dekat pembaringan, mencabut pe-dang curiannya dan membebaskan Bwee Hong dari belenggu.

Setelah bebas dari belenggu, Bwee Hong me-rangkul sahabatnya itu. Sejenak mereka berangkul-an tanpa ada sepatahpun kata keluar dari mulut mereka. Kata - kata tidak berarti lagi untuk menya-takan kebahagiaan hati mereka masing-masing pada saat itu, bahkan kata - kata dapat berbahaya karena dapat terdengar para penjaga di luar pintu.

"Mari kita pergi, melalui atas saja," bisik Pek Lian. Bwee Hong mengangguk dan dara ini telah mendapatkan kembali semangatnya setelah melihat sahabatnya ini. Seperti biasa, biarpun kepandaian-nya masih kalah dibandingkan dengan Bwee Hong, namun Pek Lian mengambil sikap memimpin. Ia sudah mendahului meloncat ke atas dan dengan se-lamat mereka berdua lolos dari kamar itu tanpa menimbulkan suara berisik dan keduanya di lain saat telah berdiri di atas genteng dan memandang ke kanan kiri.

"Kita ke mana, adik Lian ?" tanya Bwee Hong.

Karena tidak melihat seorangpun penjaga. Pek Lian berbisik memberitahukan rencananya, "Kita harus dapat cepat meninggalkan pulau ini sebelum ketahuan. Kita naik perahu dan mencari Istana Laut di mana tinggal Si Rajawali Lautan !”

"Kau tahu juga ?"

"Aku tadi ikut mendengarkan cerita Lam-siauw-ong. Tapi kita harus mempunyai seorang petunjuk jalan. Kita tawan seorang anggauta bajak dan me-maksanya membawa kita ke sana. Nah, mari ikuti aku, enci, dan berhati - hatilah. Sekali ketahuan dan kita dikepung, akan sukar sekali meloloskan diri."

Dengan Pek Lian menjadi petunjuk jalan di depan karena Pek Lian sudah mulai mengenal tempat itu, mereka menuju ke belakang gedung besar itu, di tempat sunyi dari mana Pek Lian tadi datang dan bersembunyi. Mereka berdua mende-kam di balik pohon dalam taman batu karang, po-hon buatan dari batu karang pula dan menanti. Tak lama kemudian rombongan penjaga meronda lewat dan kedua orang gadis itu membiarkan mereka lewat tanpa mengganggu. Setelah keadaan sunyi kem-bali dan aman, barulah Pek Lian mengajak Bwee Hong melanjutkan perjalanan. Dengan berindap-indap dan hati - hati, mereka menyelinap dan me-nyusup, menuju ke pantai. Untung bagi mereka bahwa pantai itu gelap dan malam hanya diterangi bintang saja. Di pantai itu terdapat banyak perahu dan terdapat pula beberapa orang anggauta bajak yang hilir-mudik, dan ada pula yang bertugas menjaga pantai.

"Enci, kita harus dapat menangkap seorang "Lian-moi, sekarang giliranku. Engkau sudah terlalu banyak bekerja, dan aku hanya menyusah-kan saja. Sekarang biarkan aku yang turun tangan menangkap seorang bajak."

Pek Lian mengangguk. Sudah tentu saja ia percaya akan kemampuan Bwee Hong dan kalau ia menolak permintaan itu, mungkin saja Bwee Hong akan tersinggung dan merasa tidak percaya.

"Baiklah, enci Hong, asal engkau berhati-hati saja. Aku menanti di sini," bisiknya kembali. Bwee Hong mengangguk dan tak lama kemudian dara itu berkelebat lenyap.

Diam-diam Pek Lian me-rasa kagum sekali. Ia sudah tahu bahwa Bwee Hong terutama sekali amat unggul dalam ilmu ginkangnya. Ia sendiri kalah jauh dibandingkan dengan Bwee Hong walaupun ia sendiri telah me-nerima gemblengan dari Huang - ho Su - hiap (Em-pat Pendekar Huang - ho) bahkan kemudian di-perdalam oleh bimbingan Liu - twako atau Liu-taihiap. Akan tetapi kalau diingat bahwa Bwee Hong mewarisi ilmu keturunan dari mendiang Sin-yok - ong, maka kehebatan ginkangnya itu memang tidaklah mengherankan.

Betapapun juga, Pek Lian merasa tidak enak kalau membiarkan sahabatnya itu bekerja tanpa perlindungannya, maka diam-diam iapun memba-yangi. Ia melihat Bwee Hong telah berada di ujung pantai, agaknya mendekati dua orang penjaga yang terpencil. Dara itu mengambil dua potong batu karang sebesar kepalan tangan, kemudian menga-yun tangannya ke kanan kiri. Terdengarlah dua suara berisik berturut-turut di kanan kiri tempat itu.

"Eh, apa itu ?" terdengar dua orang penjaga bertanya kaget dan merekapun lalu bangkit berdiri dan berpencar ke kanan kiri, hendak memeriksa apa gerangan yang menimbulkan bunyi berisik tadi. Setelah jarak antara mereka cukup jauh, tiba-tiba Bwee Hong meloncat ke depan dan sebelum orang itu sempat berteriak, ia sudah merobohkannya de-ngan pukulan pada tengkuknya, menggunakan ta-ngan miring.

Orang itu roboh pingsan lalu dara cantik dan perkasa itu menyeretnya pergi ke tempat semula ia meninggalkan Pek Lian. Akan tetapi, Bwee Hong merasa kaget ketika ia tidak menda-patkan lagi Pek Lian di tempat itu. Ia melempar-kan tubuh orang yang pingsan itu ke atas tanah dan ia sendiri lalu berdiri dan memandang ke sana-sini, mencari - cari Pek Lian. Tak lama kemudian, muncullah Pek Lian dan dara ini tersenyum, me-nyerahkan sebatang pedang kepada Bwee Hong.

"Ih, engkau membuatku gelisah, adik Lian. Ke-mana saja engkau pergi dan dari mana kau men-dapatkan pedang ini ?"

Sambil berbisik Pek Lian menceritakan bahwa ketika melihat Bwee Hong merobohkan seorang di antara dua penjaga, ia berpendapat bahwa kalau penjaga ke dua tidak dirobohkan pula, tentu pen-jaga itu akan kehilangan kawannya dan menjadi curiga.

"Karena itu, aku merobohkannya, dan kini dia tersembunyi dalam keadaan tertotok dan kaki tangannya terikat, mulutnyapun kusumbat. Selain itu, juga pedangnya ini tentu berguna bagimu. Aku sendiri sudah mengambil pedang dari gudang sen-jata. Mari kita kerjakan tawanan itu, enci!"

Bwee Hong menerima pedang dan semakin ka-gum. Sungguh seorang dara muda yang cerdas se-kali, pikirnya. Ia sendiri sama sekali tidak memi-kirkan kemungkinan-kemungkinan itu dan kalau tidak bersama Pek Lian, mungkin perbuatannya menawan seorang bajak ini akan cepat ketahuan dan hal ini tentu akan membahayakan sekali. Maka iapun menyerahkan segala sesuatu selanjutnya ke-pada Pek Lian, juga ketika "mengerjakan" tawanan itu.

Dengan beberapa kali tepukan, Pek Lian me-nyadarkan tawanan itu, akan tetapi begitu orang itu membuka mata, ujung pedang di tangan Pek Lian telah menempel di lehernya. "Engkau tentu belum ingin mati, bukan ?" bisiknya dengan suara penuh ancaman. Orang itu terkejut sekali, apa lagi ketika merasa betapa lehernya sakit tertusuk ben-da tajam.

"Belum , ampunkan aku " bisiknya.

"Baik, kamipun tidak ingin membunuhmu. Ka-mi hanya ingin engkau membantu kami melarikan diri dari sini. Kalau sampai kami berhasil lolos dengan selamat, engkau akan kami ampuni dan tidak kami bunuh. Mengerti ?"

Bajak itu mengangguk dan matanya terbelalak ketakutan. "Ampun aku mempunyai anak isteri, ampunkan aku dan aku akan berusaha membantu ji - wi lihiap (nona pendekar berdua).”

"Bagus ! Nah, sekarang kita harus dapat meng-gunakan sebuah perahu untuk melarikan diri. Hayo bawa kami mendapatkan sebuah perahu yang baik. Awas, jangan sampai ketahuan kawan - kawanmu, karena kalau ketahuan, terpaksa aku akan membu-nuhmu lebih dulu sebelum kami mengamuk dan membasmi mereka semua!"

"Baik, saya tidak berani menipumu, nona, saya masih ingin hidup."

"Kalau begitu, mari kita ke sana," Pek Lian me-nunjuk ke kiri, ke tempat yang nampaknya sunyi untuk mencari perahu di sana.

"Tidak, di sana berbahaya."

"Mengapa?" Pek Lian menghardik.

"Di sana sunyi tidak nampak penjaga dan kulihat ada bebe-rapa buah perahu di sana."

Ia merasa curiga.

"Jangan salah duga, nona. Di sana ada penja-ga-penjaga tersembunyi, memang disengaja kare-na semua pelarian tentu akan mencari perahu di sana. Tidak, mari kita mencari ke sana."

Orang itupun menunjuk ke kanan, arah sebaliknya dari yang dikehendaki Pek Lian. Sebelah kanan itu nampak ramai oleh hilir - mudiknya para anggauta bajak. Tentu saja dia dan Bwee Hong meragu.

Melihat keraguan mereka, bajak yang sudah ter-tawan itu berkata, "Tentu ji - wi mengetahui bahwa sekali saya menipu, ji - wi akan membunuh saya. Marilah, saya tidak menipu, saya masih sayang nyawa."

Pek Lian dan Bwee Hong menurut, akan teta-pi mereka tidak pernah melepaskan pedang yang selalu siap untuk menyerang bajak ini kalau - kalau dia mengkhianati mereka. Akan tetapi, setelah me-lalui jalan berliku-liku, akhirnya bajak itu dapat menemukan sebuah perahu dan tidak ada seorang-pun penjaga di situ. Cepat dia melepaskan tali perahu dan mereka bertiga lalu naik ke dalam pe-rahu dan mereka bertiga bekerja sama mendayung perahu itu meninggalkan pantai. Karena langit mulai penuh dengan awan hitam, dan cahaya bin-tang - bintang di langit yang sudah muram itu kini menjadi semakin gelap, maka hal ini amat mengun-tungkan mereka yang sedang berusaha untuk me-larikan diri.

Akan tetapi, tiba - tiba bajak itu mengeluarkan seruan kaget dan nampak panik. Sungguh tidak kebetulan sekali, dari depan datang meluncur em-pat buah perahu bajak yang baru saja pulang ! Ten-tu saja hal ini sama sekali tidak disangka - sangkanya.

"Celaka, kita ketahuan !" katanya dan diapun mendayung perahu itu dengan sepenuh te-naga. Dan memang benar. Dari perahu - perahu itu terdengar bentakan - bentakan dan perahu - pe-rahu itupun lalu memutar haluan dan melakukan pengejaran!

Melihat ulah si bajak yang mati - matian menda-yung perahu itu, Pek Lian dan Bwee Hong maklum bahwa bajak itu tidak mengkhianati mereka dan memang pertemuan dengan perahu - perahu bajak itu merupakan hal yang tidak disangka - sangka dan di luar perhitungan, maka mereka berduapun lalu membantu bajak itu mendayung perahu menambah lajunya perahu yang hanya terdorong oleh sedikit angin pada layar terkembang yang hanya kecil itu. Akan tetapi, begitu mendapat bantuan dua orang dara perkasa itu, perahu kecil melaju lebih cepat dan empat buah perahu bajak yang lebih besar de-ngan layar yang lebih lebar itu tertinggal. Mereka berteriak - teriak dan kini merekapun mengerah-kan anak buah bajak untuk mendayung sehingga kembali jarak di antara mereka tidak begitu jauh.

Kalau pengejaran itu terjadi di darat, tentu Pek Lian dan Bwee Hong takkan merasa gentar. Mere-ka berdua dapat melarikan diri lebih cepat, dan kalau perlu harus bertanding sekalipun, mereka ti-dak takut menghadapi pengeroyokan duapuluh le-bih bajak - bajak ini. Akan tetapi, mereka berada di atas perahu - perahu di tengah lautan, daerah yang asing bagi mereka dan kalau sampai mereka dapat disusul, tentu keadaan mereka berbahaya sekali. Para bajak itu tentu saja lebih mahir menjalankan perahu dan lebih mahir pula berkelahi dalam air kalau sampai perahu itu digulingkan. Maka Pek Lian dan Bwee Hong lalu mati - matian mengerah-kan tenaga untuk mendayung perahu kecil itu.

"Cepatan ! Cepatan lagi ! Ah, untung ji - wi sungguh hebat dapat mendayung begini kuat ...... ah, kita dapat meninggalkan mereka !" Bajak itu terengah-engah memuji karena memang dia kagum sekali terhadap dua orang gadis ini.

SEMENTARA itu, langit makin gelap karena berkumpulnya awan - awan mendung dan tiba - tiba perahu mereka terguncang keras dan ter-ayun tinggi, mengejutkan Pek Lian dan Bwee Hong. "Apa yang terjadi ?" tanyanya kepada ba-jak itu.

"Alih, sungguh nasib kita yang buruk. Agaknya sebentar lagi badai akan mengamuk dan ini tidak kalah bahayanya dari pada pengejaran mereka itu ! Cepat bantu saya menurunkan layar, nona. Cepat sebelum badai melanda kita !"

Karena maklum akari kemahiran bajak itu me-nangani perahu, Pek Lian dan Bwee Hong cepat membantunya dengan membuta dan memang be-nar sekali, air laut bergelombang hebat dan angin menderu kencang. Kalau layar masih terpasang, entah apa akan jadinya dengan perahu kecil itu ! Mereka bertiga kini mengemudikan perahu dan berusaha menguasainya dengan kekuatan dayung mereka, agar perahu itu tetap berada di atas puncak ombak - ombak yang mengalun ganas. Empat buah perahu bajak yang melakukan pengejaran ta-dipun tahu akan bahaya dan mereka sudah sejak tadi putar haluan meninggalkan perahu kecil yang ditelan badai itu.

Semalam suntuk tiga orang dalam perahu kecil itu berjuang melawan badai lautan yang mengga-nas. Demikian hebatnya hempasan badai sehingga tiang layarpun patah ! Kalau saja tidak ada Bwee Hong yang cepat menangkis tiang itu dengan le-ngannya yang kecil dan berkulit halus, tentu tiang itu akan menimpa kepala bajak itu.

"Krekkk!" Tiang sebesar paha itu patah ketika bertemu dengan lengan Bwee Hong sehingga bajak laut itu menjadi semakin kagum. Mereka terus mempertahankan perahu mereka agar tidak sampai terbalik sampai mereka hampir kehabisan tenaga dan napas. Mereka tidak tahu lagi di mana mereka berada. Sekeliling mereka hanya ada air mengga-nas, bahkan di antara mereka nampak puncak - pun-cak ombak dengan lidah - lidah yang terjulur dari sana - sini seolah - olah hendak menelan mereka. Mereka tentu telah terseret jauh sekali.

Untung bagi mereka, pada keesokan harinya, bersama dengan munculnya matahari di ufuk timur, badai mereda dan air laut menjadi tenang kembali. Mereka bertiga, di bawah pimpinan si anggauta bajak yang lebih paham akan perahu, mulai beru-saha memperbaiki perahu sedapat mungkin. Untung bahwa mereka berjuang dengan gigih sehingga da-yung - dayung tetap berada di tangan mereka.

Diam-diam mereka bersyukur bahwa mereka dapat lolos dari lubang jarum, lolos dari ancaman maut yang mengerikan ditelan badai. Dan bagaimanapun juga, anggauta bajak ini sudah ber-jasa, karena tanpa adanya orang ini, mereka ber-dua belum tentu akan mampu mempertahankan perahu kecil itu. Pek Lian agak paham tentang perahu dan lautan, sedangkan Bwee Hong baru sa-ja belajar mengenal air dan perahu setelah pergi bersamanya. Mereka berdua kini sibuk membersih-kan pakaian mereka yang basah dan kotor.

Melihat betapa dua orang nona itu tidak me-nanggapi ucapannya, bajak itupun berdiam diri dan melanjutkan pekerjaannya memperbaiki perahunya yang rusak diamuk badai. Dua orang gadis itu saling pandang. Bajak laut ini bagaimanapun juga menarik hati mereka. Seorang laki - laki yang usia-nya kurang lebih empatpuluh tahun, agak kurus dan kulit mukanya kehitaman karena terlalu ba-nyak dibakar matahari. Yang menarik adalah sikap-nya yang sama sekali berbeda dengan penjahat pada umumnya. Tidak kurang ajar pandang mata-nya, tidak kasar bicaranya dan tidak ugal - ugalan sikapnya.
"Paman, sudah berapa lamakah engkau menjadi bajak laut ?" Akhirnya Pek Lian bertanya setelah selesai membereskan pakaian dan rambutnya. Orang itu mengangkat mukanya memandang, agaknya terkejut mendengar dirinya disebut paman.

"Sudah lama juga, nona. Belasan tahun sudah."

"Mengapa engkau menjadi bajak laut ? Dan engkau tidak seperti bajak laut yang kasar itu."

"Nona, tidak semua anak buah Lam-siauw-ong-ya berasal dari penjahat. Lam - siauw - ongya sen-diri bukan berasal dari penjahat, bahkan masih ada darah bangsawan dalam tubuhnya. Kami meng-anggap pembajakan di laut ini sebagai pekerjaan, bukan sebagai kejahatan. Kami tidak pernah meng-ganggu para nelayan, baik di lautan maupun di pantai."

"Huh, membajak masih dikatakan bukan kejahatan ? Lalu apa saja yang dinamakan kejahatan kalau merampok barang orang dengan kekerasan tidak dianggap kejahatan?" Bwee Hong berkata dengan suara mengejek.

Bajak itu menarik napas panjang.

"Entahlah, nona, saya sendiripun tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Akan tetapi, sebelum saya menjadi anggauta bajak dan mengabdi kepada Siauw - ong-ya, saya pernah hidup sebagai anak keluarga petani. Saya melihat kejahatan - kejahatan yang lebih ga-nas dan kejam dilakukan oleh para tuan tanah dan para pejabat terhadap keluarga petani miskin yang tidak mempunyai tanah, yang hanya mengandalkan tenaga dan cucuran keringat mereka untuk dapat makan setiap hari. Membajak memang merampas milik orang lain, akan tetapi setidaknya kami mem-beri kesempatan yang sama kepada pemilik barang untuk mempertahankan barang - barangnya. Akan tetpi, para tuan tanah dan pejabat di dusun - dusun itu seperti lintah yang menghisap darah para kelu-arga petani, sedikitpun tidak memberi kesempatan kepada para petani untuk dapat memperjuangkan hak dan nasibnya. Saya melihat mereka itu jauh lebih kejam dan jahat dari pada bajak!"

Anggauta bajak itu berhenti sebentar dan dua orang dara itu termenung karena merekapun pernah mendengar tentang kesewenang - wenangan mereka yang meng-andalkan kekayaan atau kekuasaan mereka.

"Kemudian, dari dusun saya pernah pindah ke kota dan hidup sebagai buruh kasar. Dan di sana-pun saya menyaksikan kekejaman - kekejaman yang luar biasa, dilakukan olth semua orang kepada orang lain dalam memperebutkan uang dan kekuasaan. ji-wi lihiap, harap maafkan saya. Akan te-tapi sesungguhnya, katakanlah bahwa pembajakan merupakan kejahatan, namun kejahatan yang sifat-nya terbuka, tidak seperti kejahatan orang-orang itu yang melakukan kejahatan secara gelap dan terselubungi bahkan kadang-kadang kejahatan me-reka dilindungi oleh hukum."

Dua orang dara itu kembali saling pandang. Mereka mendengar akan kekejaman - kekejaman para pembesar bahkan kekejaman yang dilakukan kaisar. Bukankah semua itupun merupakan keja-hatan, bahkan amat besar, jauh lebih besar dari pada kejahatan para bajak laut ini yang hanya mempergunakan kesempatan dan mengandalkan tenaga mereka untuk merampas barang orang, dan kadang-kadang kalau pihak pemilik barang lebih kuat, mereka akan mati konyol? Kata-kata bajak yang sederhana itu sama sekali bukan merupakan pembelaan diri seorang penjahat, bukan untuk membenarkan perbuatannya, melainkan timbul karena kepahitan melihat 'kenyataan yang terjadi di dalam dunia ramai yang sopan.

Dan kepahitan-kepahitan macam ini sering kali mendorong orang untuk menjadi penjahat secara berterang! Pek Lian teringat akan para pendekar yang berkumpul di gunung - gunung dan lembah - lembah sungai. Bukankah mereka itu melakukan gerakan menen-tang pemerintah karena kepahitan itu, dan bukan-kah merekapun dicap sebagai pemberontak - pem-berontak, yaitu golongan yang dianggap paling rendah dan paling berdosa, lebih rendah dari pada perampok atau bajak ? Dan bukankah kalau perlu para pendekar yang memberontak itupun akan me-lakukan perampokan - perampokan dan pembajak-an - pembajakan untuk menentang pemerintah? Sampai di sini jalan pikirannya, Pek Lian menjadi bingung.

"Di manakah kita sekarang, paman ?" tanyanya dan suaranya kini lebih ramah, tidak seperti suara orang terhadap musuh yang ditawan, melainkan suara orang terhadap teman seperjalanan, bahkan teman senasib. Setelah mengalami ancaman badai seperti yang telah terjadi semalam, orang - orang yang bersama-sama mengalaminya terdorong un-tuk menjadi lebih erat dan akrab.

Mendengar pertanyaan itu, si bajak laut agaknya baru sadar dan diapun memandang ke kanan kiri sambil berkata, "Aih, kita sudah terseret jauh ke timur oleh badai semalam, nona. Dan kita harus berhati - hati daerah ini agaknya telah dekat dengan " bajak laut itu berhenti bicara dan mukanya berobah pucat sekali ketika tiba-tiba terdengar suara bising yang gemeresak disertai suara melengking dan mengiang seperti suara suling yang ditiup secara aneh sekali, makin lama makin nyaring.

Sikap bajak laut itu menjadi semakin aneh. Tu-buhnya menggigil dan matanya beringas, memandang ke kanan kiri dengan sikap yang amat ketakutan. Melihat ini, tentu saja dua orang dara itu menjadi terkejut dan khawatir juga.

"Paman, ada apakah ?" Pek Lian bertanya.

"Nona cepat cepat belokkan arah perahu! Itulah yang kumaksudkan yang kutakuti suara itu 1 Ah, daerah ini termasuk daerah Siluman Lautan! Itu adalah suara pintu masuk sarang mereka. Pusaran Maut! Dalam jarak selemparan batu, tidak ada benda atau mahluk yang mampu terlepas dari daya sedotnya.Mari kita menghindar cepat, nona !"

Tentu saja Pek Lian tidaklah setakut orang itu. Bukan hanya karena ia lebih tabah dan sudah ter-lalu sering menghadapi ancaman bahaya dengan mata terbuka, akan tetapi juga karena ia belum mengenal tempat ini dan karenanya ia tidak begitu percaya akan keterangan orang itu. Akan tetapi tiba-tiba ia dan Bwee Hong melihat di kejauhan ada kabut tebal membubung tinggi berbentuk tiang layar yang luar biasa besarnya dan mengeluarkan suara gemuruh. Dua orang dara itu menjadi terke-jut dan gentar juga, mulai percaya akan keterangan bajak laut itu. Jangan - jangan keterangan itu tidak bohong ! Mereka lalu cepat - cepat membantu un-tuk memutar haluan perahu mereka.

Bajak laut itu berhasil memperbaiki perahu dan memasang tiang layar darurat, lalu mereka mema-sang layar sedapatnya. Layar itu tertiup angin dan perahupun meluncur menjauhi tempat yang ber-bahaya itu sampai akhirnya kabut itu tidak nampak lagi dan suara gemuruhpun tidak lagi terdengar oleh mereka.

Perahu mereka meluncur ke arah utara ketika mereka menghindarkan diri dari kabut mengerikan tadi dan tiba - tiba dari jauh nampak sebuah perahu besar yang berlayar menuju ke selatan. Karena pe-rahu itu masih terlampau jauh untuk dapat dilihat dari atas geladak, bajak laut itu lalu memanjat ti-ang layar dan melindungi kedua mata dari sinar matahari untuk mempelajari keadaan perahu dari jauh itu.

"Itu perahu asing dan membawa banyak pera-jurit asing!" akhirnya dia berkata kepada dua orang pendekar wanita yang berada di atas geladak.

"Ah, apakah mereka itu pasukan Jepang, jago-an - jagoan samurai ?" tanya Pek Lian yang teri-ngat akan pengalamannya bertemu dengan perahu Jepang.

"Bukan, nona. Kalau tidak salah mereka itu tentulah orang - orang dari daerah utara, jauh di luar tembok besar. Lebih baik kita menghindar saja, jangan sampai bertemu dengan mereka yang sebentar lagi tentu akan berpapasan dengan perahu kita."

Akan tetapi, agaknya para penumpang perahu besar itu sudah melihat mereka dan memang benar, perahu dari depan itu memotong jalan! Dan kini nampak ada beberapa orang yang berada di pun-cak tiang layar mengamati perahu kecil yang ditum-pangi Pek Lian dan Bwee Hong. Tidak ada kesem-patan untuk menghindar lagi dan jelaslah bagi dua orang nona itu bahwa perahu besar dari depan itu memang sengaja memotong jalan perahu kecil me-reka ! Dan bajak laut itu sibuk untuk berusaha menghindarkan perahunya ditabrak perahu besar itu.

Pek Lian dan Bwee Hong sudah siap dengan pedang di tangan, berdiri di geladak perahu kecil dan memandang marah. Tiba - tiba terdengar te-riakan - teriakan dari perahu besar dan muncullah beberapa orang yang segera meluncurkan anak pa-nah ke arah perahu kecil.

"Keparat! Mereka menyerang dengan anak pa-nah !" teriak Pek Lian dan bersama Bwee Hong ia segera memutar pedang untuk meruntuhkan semua anak panah yang menyambar. Akan tetapi, sung-guh kasihan sekali nasib bajak laut itu.

Sebatang anak panah menembus dadanya. Dia berteriak ke-ras dan tubuhnya terjungkal keluar dari perahu, tercebur ke dalam lautan.

"Manusia - manusia jahanam !" Bwee Hong juga memaki marah.

Bersambung

Darah Pendekar 16                                                                  Darah Pendekar 18