Selasa, 07 Mei 2013

DARAH PENDEKAR 16

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Bab 16

"Kita bicarakan nanti. Lekas, ikut aku !" Dan Pek Lian lalu menarik tangannya. Bwee Hong adalah seorang gadis yang cukup cerdas. Biarpun ia merasa khawatir sekali akan nasib kakaknya, akan tetapi iapun tahu apa yang dimaksudkan oleh Pek Lian. Kalau mereka berdua selamat, setidak-nya mereka akan mampu untuk memikirkan usaha agar dapat menyelamatkan Seng Kun. Sebaliknya, kalau mereka berdua nekat dan melawan, lalu me-rekapun tertawan, habislah sudah semua harapan untuk dapat lolos !
Dua orang wanita itu meloncat dan melarikan diri dalam gelap.

"Kejarl" teriak Harimau Gunung dan Buaya Sakti dengan penasaran, dan merekapun ikut lari mengejar.

Akan tetapi, dua orang gadis itu me-mang dapat bergerak cepat sekali, dan pula, kege-lapan malam menolong mereka sehingga akhirnya para pengejar itu terpaksa kembali ke warung de-ngan tangan hampa.

Setelah melibat tidak ada pihak musuh yang mengejar, kedua orang dara itu berhenti dan Bwee Hong segera mencela Pek Lian,

"Adik Lian, bagai-manakah engkau ini ? Kakakku tertawan dan eng-kau malah memaksaku melarikan diri ! Memang aku tahu bahwa kita tidak dapat selamat dan tidak da-pat menolongnya, akan tetapi, melarikan diri selagi kakakku tertawan, sungguh membuat aku merasa berduka dan malu. Apa yang akan dipikir oleh kakakku ?"

"Kakakmu tentu akan membenarkan tindakan kita ini, enci. Pihak musuh begitu banyak dan di antaranya banyak terdapat orang lihai. Sedangkan kakakmu saja tertawan, apa lagi kita. Belum lagi kalau sampai pimpinan mereka datang, yaitu Si Raja Kelelawar. Sungguh habislah kita ! Sekarang kita berdua masih selamat. Apa kaukira akupun akan diam saja melihat kakakmu dan A - hai dita-wan orang ? Kita dapat membayangi mereka dan melihat keadaan selanjutnya. Kalau memang ba-haya mengancam mereka, kita boleh turun tangan dan mengadu nyawa !"

Bwee Hong yang kebingungan karena memikir-kan kakaknya itu hanya mengangguk dengan lesu dan selanjutnya ia akan menurut saja kepada saha-batnya ini. Biarpun tingkat kepandaian silatnya masih lebih lihai dari pada Pek Lian, namun ha-rus diakuinya bahwa ia kalah wibawa, dan juga kalah pengalaman. Hal ini adalah karena Pek Lian telah mewakili gurunya untuk memimpin para pen-dekar. Pandangannya lebih luas dan ia tidak ber-tindak menurutkan perasaan belaka, melainkan ber-tindak dengan pedntungari sebagai layaknya seorang yang berjiwa pemimpin.

Sementara itu, San-hek-houw dan Sin-go Mo Kai Ci yang memimpin pertemuan itu, nampak tergesa - gesa membagi - bagi tugas kepada para anak buahnya, kemudian terdengar dia berkata, "Munculnya gangguan ini merobah acara. Kita ha-rus cepat pergi meninggalkan tempat ini. Tidak aman setelah diketahui orang lain."

Pertemuan itu-pun bubaran dan dua orang yang ditawan itu,

A - hai dan Seng Kun, dibawa pergi sebagai tawanan oleh dua orang tokoh sesat itu, ditotok dan di belenggu kemudian dilempar di dalam pedati milik A - hai yang tadi dipergunakan untuk mengangkat arak.

Melihat betapa dua orang itu dibawa pergi oleh Si Harimau Gunung dan Si Buaya Sakti, Pek Lian dan Bwee Hong lalu membayangi gerobak itu. Mereka berdua tidak berani sembarangan turun tangan karena maklum bahwa keselamatan A-hai dan Seng Kun terancam jika mereka dengan sembro-no melakukan penyergapan. Apa lagi karena dua orang tokoh sesat itu masih dikawal oleh para pem-bantunya yang lihai.

Sampai beberapa hari lamanya dua orang gadis itu membayangi kereta atau gerobak dua orang tokoh sesat yang menawan A-hai dan Seng Kun. Mereka melihat betapa kedua orang tawanan itu diperlakukan dengan cukup baik, masih dibelenggu akan tetapi setiap kali rombongan berhenti untuk makan, keduanya mendapatkan hidangan secukup-nya.

Hal ini melegakan hati Bwee Hong dan Pek Lian yang mendapat kenyataan bahwa agaknya para penjahat tidak berniat membunuh dua orang tawanan itu.

Dan memang sesungguhnya demikianlah. Se-telah berhasil menawan A - hai dan Seng Kun, Si Harimau Gunung dan Si Buaya Sakti memperhatikan Seng Kun dan melarang anak buah mereka untuk membunuh atau melukainya. Juga A-hai yang telah dibela oleh petani itu mendapatkan perlakuan yang cukup baik walaupun kedua orang tawanan itu selalu dibelenggu.

Hal ini adalah karena Harimau Gunung merasa curiga melihat kelihaian petani itu dan menduga bahwa petani itu tentulah seorang tokoh pembantu yang cukup ting-gi kedudukannya dari Si Petani Laut, seorang di antara raja-raja lautan. Ciri khas dari para tokoh bajak lautan ini adalah pakaian mereka yang seper-ti pakaian petani, walaupun pekerjaan mereka ada-lah perampok - perampok di lautan alias bajak - bajak laut!

Kabarnya, Si Petani Laut berasal dari ke-luarga petani, maka setelah menjadi seorang di antara jagoan-jagoan atau bahkan raja-raja kecil yang menguasai lautan timur, dia tetap berpakaian petani bahkan mengharuskan para pembantunya berpakaian seperti petani! Dan karena Si Petani Laut juga termasuk tangan kanan atau juga sekutu dari Tung-hai-tiauw (Rajawali Lautan Timur), maka Si Harimau Gunung menduga bahwa petani yang tertawan itu adalah seorang utusan dari ke-lompok bajak laut.

Seperti kita ketahui, Sam - ok atau Si Tiga Jahat adalah Tung - hai - tiauw Si Rajawali Lautan Timur, Sin - go Mo Kai Ci Si Bua-ya Sakti, dan San-hek-houw Si Harimau Gunung. Merekalah yang disebut raja - raja di wilayah dan daerah masing - masing, yaitu raja lautan, raja sungai - sungai dan raja daratan. Dua di antara mere-ka, yaitu Si Buaya Sakti dan Si Harimau Gunung telah menakluk terhadap Raja Kelelawar. Kemu-dian Raja Kelelawar yang merupakan datuk terting-gi di antara kaum sesat itu mengutus dua orang pembantunya ini untuk menghubungi Si Rajawali Laut.

Demikianlah, karena menduga bahwa Seng Kun adalah tokoh sesat lautan yang menjadi anak buah Si Rajawali Laut, maka Harimau Gunung dan Buaya Sakti tidak mau bertindak lancang. Bahkan mereka menganggap bahwa Seng Kun dapat men-jadi semacam sandera agar mereka dapat dengan mudah menghubungi rekan yang kadang - kadang menjadi saingan dan musuh itu. Harimau Gunung dan Buaya Sakti scndiripun tadinya sering kali bentrok dan bersaing. Hanya kini setelah muncul Raja Kelelawar, mereka menjadi akur dan tidak berani bentrok, karena sama - sama menjadi pem-bantu dari atasan mereka yang baru, yang amat mereka takuti, yaitu Raja Kelelawar.

Ketika rombongan itu tiba di tepi lautan di se-belah timur kota raja, menghadapi Teluk Po - hai yang luas, rombongan yang mengawal kedua orang raja penjahat itu segera menyediakan sebuah pe-rahu layar besar. Kemudian, dikawal oleh belasan orang saja. Si Harimau Gunung dan Si Buaya Sakti membawa dua orang tawanan naik perahu yang berlayar ke arah timur laut. Ketika itu, hari masih amat pagi akan tetapi matahari telah meninggal-kan permukaan laut dan membakar seluruh per-mukaan air dengan cahayanya yang masih belum terlalu panas, masih keemasan.

Perahu layar besar yang membawa dua orang tawanan itu mem-bentuk sebuah bayangan memanjang di atas per-mukaan air yang merah tembaga. Angin laut pagi itu lembut saja, namun cukup membuat perahu itu melaju karena layar terkembang yang lebar itu menangkap banyak angin yang mendorong pe-rahu. Sunyi sekali, karena perahu - perahu nelayan yang terapung di sana-sini sedang tenang, me-nanti datangnya rombongan ikan yang biasanya muncul setelah sinar matahari menjadi keperakan. Para nelayan duduk di dalam perahu masing-ma-sing, memandang ke arah perahu besar yang lewat melaju, tidak merasa curiga atau heran karena memang sering terdapat perahu - perahu besar lalu - lalang di perairan itu, baik perahu - perahu pedagang maupun perahu - perahu pelancong. Merekapun tidak khawatir kalau - kalau ada pera-hu bajak laut, karena mereka semua berada dalam "perlindungan" raja - raja bajak laut dengan cara membayar "pajak penghasilan" setelah mereka pu-lang membawa hasil penangkapan ikan mereka nanti.

Di darat telah menanti kaki tangan para raja bajak yang akan menentukan besar kecilnya pajak itu disesuaikan dengan hasil pekerjaan mereka semalam, atau sehari. Dengan pembayaran pajak seperti itu, keselamatan mereka terjamin dan mereka dapat bekerja dengan tenang.

Pungutan liar semacam ini terdapat di manapun juga dan di jaman apapun juga. Pungutan liar ini tercipta oleh kesempatan mengeduk keuntungan yang banyak dimiliki oleh mereka yang mempunyai banyak kekuasaan, oleh mereka yang mempunyai wewenang. Dengan kekuasaan atau wewenang yang ada pada mereka, maka terbukalah kesempatan un-tuk memeras. Kekuasaan atau wewenang itu bisa saja timbul dari kedudukan atau dari kekuatan. Kedudukan dan kekuatan itu dijadikan modal untuk memeras atau mencari keuntungan dengan jalan memeras.

Para nelayan itu tanpa mereka sadari te-lah diperas. Mereka merasa "dilindungi" oleh para bajak, dan untuk itu mereka mau menyerahkan se-bagian dari pada hasil keringat mereka. Dilin-dungi dari siapa ? Tentu saja dari gangguan, dan biasanya, yang mengganggu adalah para bajak itu sendiri. Berarti, kalau tidak mau menyogok, akan diganggu ! Perbuatan para bajak laut ini tiada bedanya dengan perbuatan para pejabat yang ju-ga akan "mengganggu" dengan menggunakan ke-kuasaan dan wewenang mereka apa bila mereka ti-dak disogok.

Pungutan liar memang akibat disalahgunakan-nya wewenang dan kekuasaan. Akan tetapi, sumber pokoknya terletak dalam batin seseorang itu sendi-ri. Kedudukan tinggi sebagai pejabat tidak mempunyai kecondongan kc arah perbuatan baik atau buruk tertentu. Kedudukan itu diperlukan untuk mengatur orang banyak, dan untuk pekerjaan ini dia telah menerima upah. Jadi sepenuhnya ter-gantung kepada seseorang itu sendiri, mau dijadi-kan apakah kedudukannya itu !

Dapat saja dija-dikan modal untuk memeras, akan tetapi dapat pula dijadikan alat untuk menertibkan dan mengatur, yang pertama adalah untuk kesenangan diri sendiri sedangkan yang ke dua adalah untuk kesenangan orang - orang lain, atau setidaknya untuk meme-nuhi tugas yang telah dibebankan ke atas pun-daknya dengan imbalan upah yang semestinya.

Demikian pula dengan kekuatan yang ada pada diri seseorang, dapat saja kekuatan itu dipakai un-tuk menindas demi memenuhi kesenangan diri pribadi, dapat juga dipakai untuk melindungi orang-orang lain dari pada ancaman kejahatan yang mengandalkan kekuatan. Jadi, sumber pokok dari perbuatan pungutan liar itu, seperti dari pe-nyelewengan - penyelewengan hidup yang lain, ter-letak dalam batin masing-masing. Tanpa adanya kesadaran batin, segala usaha untuk memberantas-nya hanya akan berhasil untuk sementara saja.

Dengan kekerasan, mungkin saja perbuatan sesat dapat dihentikan, akan tetapi penghentian ini ha-nya lahiriah, hanya bersifat sementara karena bo-rok di dalam batin itu masih belum sembuh. Kalau penjagaannya kurang ketat, maka borok itu akan kambuh lagi dan perbuatan sesat itu akan tendang, mungkin lebih hebat dari pada yang sudah. Seba-liknya, kalau batinnya sudah sembuh dari pada bibit penyakit itu, tanpa pengekangan sekalipun, perbuatan sesat itu takkan muncul.

Ketika Pek Lian dan Bwee Hong melihat persi-apan para penjahat itu, Pek Lian segera dapat men-duga bahwa dua orang tawanan itu akan dibawa pergi berlayar. Maka dengan cepat iapun mencari perahu yang disewanya dari seorang nelayan. Ke-tika perahu besar itu mengembangkan layar, Pek Lian dan Bwee Hong juga sudah mendayung pe-rahu dan tak lama kemudian perahu kecil mereka pun berlayar mengikuti perahu besar. Dengan adanya banyak perahu nelayan di sekitar tempat itu, maka tentu saja perbuatan dua orang wanita ini tidak menarik perhatian, juga tidak dicurigai oleh para penjahat itu.

Dua orang gadis itu telah menanggalkan pe-nyamaran mereka begitu perahu kecil mereka ber-gerak. Kini tidak perlu lagi menyamar karena me-reka bukan sedang melakukan tugas menyelidik dan membantu Seng Kun, melainkan sedang meng-hadapi para penjahat secara langsung. Tidak perlu lagi mereka menyamar. Perahu kecil mereka me-luncur cepat ketika mereka memasang layar. Un-tung bagi mereka bahwa Pek Lian tidak asing de-ngan pelayaran dan Bwee Hong ternyata juga me-rupakan seorang gadis yang dapat belajar dengan cepat. Kekuatan dalam mereka berkat latihan membuat mereka dapat bertahan terhadap gun-cangan dan goyangan perahu mereka ketika di-permainkan oleh air laut yang mulai bergelombang. Bersama meningginya matahari, gelombangpun se-maian membesar. Hal inilah yang membuat mereka tertinggal oleh perahu besar di depan. Perahu be-sar itu tidak begitu payah melawan gelombang seperti perahu kecil dua orang dara perkasa ini.

Menjelang tengah hari, mereka berdua kehi-langan perahu besar di depan! Tentu saja mereka menjadi bingung dan biarpun mereka berusaha untuk mengejar, namun gelombang laut yang besar itu membuat perahu mereka terombang-ambing.

"Ah, celaka perahu itu telah meninggalkan kita! Aih, bagaimana ini, adik Lian ! Bagaimana dengan Kun-koko !"

Bwee Hong meratap dan hampir saja ia menangis. Bwee Hong sama sekali bukan seorang gadis lemah. Bahkan dalam hal ilmu silat, ia masih lebih lihai dari pada Pek Lian. Akan tetapi, ia amat sayang kepada kakaknya. Kini kakaknyalah satu-satunya keluarga terdekat di dunia ini baginya. Ayah kandungnya, yang baru saja dijumpainya, telah merupakan orang yang jauh dari batinnya. Bukan hanya karena sejak kecil terpisah, melainkan juga karena ayahnya itu telah menjadi seorang pendeta di istana dan sudah tidak mau tahu akan urusan keluarga lagi. Keluarga Bu yang mengasuh ia dan kakaknya sejak kecil, sudah tewas. Di dunia ini ia hanya mempunyai seorang saja, yaitu Seng Kun dan sekarang kakaknya itu dilarikan penjahat.

"Tenangkan hatimu, enci Hong. Dalain keadaan seperti sekarang ini, yang penting sekali bagi kita adalah ketenangan. Kita tidak boleh panik dan putus asa. Arah perahu mereka menuju ke arah timur laut dan lihatlah, bukankah di depan sana itu terdapat gugusan pulau - pulau yang nampak lapat - lapat dari sini ? Tentu ke sanalah mereka menuju dan perahu mereka lenyap karena pandang-an kita terhalang oleh gelombang. Kita menuju ke arah itu, pasti kita akan bertemu lagi dengan mereka."

Melihat sikap Pek Lian yang tangkas dan pan-dang mata yang penuh semangat itu, Bwee Hong terhibur dan merasa malu. Dirangkulnya teman-nya itu dan sejenak ia memejamkan mata sambil bersandar pada pundak sahabatnya yang memiliki watak amat kuat itu. Sahabatnya inipun menderita. Ayahnya juga dilarikan penjahat, akan tetapi Pek Lian masih mampu menghibur dan membesarkan hatinya!

"Maafkan aku, Lian-moi. Aku telah bersikap cengeng seperti anak kecil. Mari, kita lanjutkan pelayaran kita. Ombak - ombak ganas ini harus kita lawan dan atasi!"

Di dalam suara dara cantik jelita ini terkandung ketabahan dan ketekadan be-sar sehingga Pek Lian tersenyum,

"Bagus ! Mari kita bekerja keras!"

Demikianlah, kedua orang gadis itu bersitegang dengan gelombang lautan, memperebutkan perahu dan nyawa mereka. Ombak - ombak besar itu seo-lah-olah merupakan jangkauan tangan maut yang hendak menelan dan menghempaskan perahu, se-dangkan mereka berdua dengan kedua tangan yang berjari kecil mungil halus itu mengerahkan tenaga untuk menahan perahu mereka agar jangan teng-gelam ! Terjadilah proses pertarungan dan perju-angan hidup yang mungkin sudah setua lautan itu sendiri atau setua sejarah manusia, antara manusia dan alam ! Antara ancaman mati dan memperta-hankan hidup !

Proses yang sampai kini masih me-landa kehidupan manusia, dan karenanya amat mengharukan. Bukankah kita inipun setiap saat dikelilingi jangkauan tangan - tangan maut ? Me-lalui penyakit, melalui kecelakaan, melalui bencana alam? Betapa mati dan hidup ini seling - menye-ling, merupakan perpaduan yang serasi, yang me-nguasai diri kita ? Kalau kita tidak membuka ma-ta mempelajari apa sesungguhnya kehidupan ini, apakah kita lalu hanya hidup untuk menghindarkan diri dari pada jangkauan maut belaka dan akhirnya kita akan tercengkeram juga dan tunduk di bawah kekuasaan maut sebelum kita tahu apa sesungguh-nya kehidupan ini ? Apakah hidup ini hanya per-juangan, kesengsaraan, kekecewaan, duka nestapa, permusuhan, segala pahit getir dengan hanya sedikit manis sekali - kali, kemudian habislah semua itu dan mati ?

Setelah terhindar dari rasa khawatir, baik ke-khawatiran akan nasib kakaknya maupun rasa ta-kut akan gelombang yang mengancam nyawanya, mulailah terasa oleh Bwee Hong kegairahan dan kegembiraan dalam menghadapi gelombang lautan yang mendahsyat itu. Kegembiraan yang jarang terasa olehnya, mungkin hanya terasa oleh mereka yang tahu apa artinya berdekatan dengan maut, apa artinya dapat menyelinap di antara jari - jari tangan maut yang mengancam. Saking besarnya rasa gem-bira ini, Bwee Hong yang membantu Pek Lian me-ngemudikan perahu, menjerit - jerit, suaranya dite-lan angin dan gemuruh gelombang air yang saling timpa.

"Hayo, majulah! Datanglah gelombang! Ha-ha, hayo serbulah, aku tidak takut padamu ! Huiiii-huuu !"

Perahu itu melambung tinggi lalu meluncur turun dengan kecepatan yang membuat jantung terasa copot tertinggal di udara ! Namun Bwee Hong menjerit dan tertawa, sehingga Pek Lian ikut pula terseret kegembiraan itu dan kedua orang dara perkasa itupun menjerit - jerit dan ter-tawa-tawa, dan gelombang lautan itu berobah menjadi sahabat - sahabat yang mengajak mereka bersendau-gurau!

Setengah hari lamanya dua orang dara pendekar itu berjuang melawan amukan air laut dan tiga kali hampir saja perahu mereka terbalik. Pakaian mereka sudah basah kuyup, basah oleh air bercam-pur keringat mereka. Wajah mereka yang cantik itu nampak berseri, berkilau dengan cahaya kehi-dupan dan kesegaran, kemerahan dan sepasang mata mereka bersinar - sinar, muka mereka yang berkulit halus itu kemerahan dan agak coklat ter-bakar matahari. Setelah setengah hari lamanya bergurau, agaknya air laut menjadi jemu dan bo-san juga dan gelombangpun tidak seganas tadi. Napas lautan yang tadinya terengah - engah itu kini menjadi tenang dan hanya tinggal sisanya saja.

Tiba-tiba Pek Lian menunjuk ke arah depan. "Lihat, itu mereka ! "

Di antara -puncak - puncak gunung ombak di kejauhan, nampak mula-mula ujung tiang perahu layar besar dengan benderanya, kemudian nampak layarnya dan mereka berdua hampir bersorak gi-rang mengenal bahwa memang itulah perahu yang mereka bayangi, perahu yang membawa A - hai dan Seng Kun sebagai tawanan. Karena kini ge-lombang tidak terlalu mengganas lagi, badai tidak mengamuk seperti tadi dan angin bertiup tenang dan kuat, mereka lalu memasang layar besar dan perahu kecil itu melaju, seperti anak kecil berlari-larian di atas rumput - rumput ketika mereka me-nerjang puncak - puncak gelombang, mengejar ke depan.

Matahari telah condong jauh ke barat dan cua-ca sudah mulai berkurang terangnya, sinar perak telah berganti sinar lembayung yang lemah dan redup, seolah - olah matahari telah mulai mengan-tuk dan siap untuk beristirahat di balik permukaan laut, seperti hendak tenggelam di dalam lautan yang amat luas itu. Dan seperti juga di waktu mun-culnya pagi tadi, ketika menghilang, matahari juga bergerak amat cepatnya, tenggelam sedikit demi sedikit sampai akhirnya yang tinggal hanya sinar redup kemerahan, memancar dari balik permukaan kaki langit di atas lautan, bola mataharinya sendiri telah tenggelam di balik ujung laut.

Dua orang gadis itu tidak merasa khawatir lagi. Biarpun kegelapan malam akan melenyapkan pera-hu di depan dari pandang mata mereka, akan tetapi mereka percaya bahwa perahu besar itu akan me-masang lampu, atau setidaknya mereka berdua su-dah melihat bayangan gugusan pulau-pulau di depan. Mereka merasa yakin bahwa ke sanalah perahu di depan itu menuju.

Tiba - tiba, di dalam keremangan senja, nampak cahaya lampu bermunculan di sebelah kanan dan kiri. Perahu - perahu ini membawa penerangan yang cukup terang, menerangi air laut di sekitarnya.

"Eh, eh, dari mana munculnya perahu - perahu ini dan siapakah mereka ?" Pek Lian bertanya de-ngan heran dan juga hatinya terasa tidak enak.

Kini bermunculan perahu - perahu dari kanan kiri dan melihat lampu-lampu mereka, mudah meng-hitung jumlahnya. Ada delapan buah perahu yang muncul, semua memakai penerangan dan dari pe-rahu kecilnya, Pek Lian dan Bwee Hong dapat me-lihat bahwa di atas setiap perahu terdapat anak buah sebanyak sepuluh orang. Dan mereka itu bersenjata lengkap. Delapan buah perahu itu me-luncur searah dengan perahu yang ditumpangi A - hai dan Seng Kun, seolah - olah mengawal pera-hu penjahat itu. Dan mereka itu mungkin tidak melihat perahu kecil Pek Lian yang tidak memakai lampu.

Kurang lebih satu jam lamanya perahu - perahu itu berlayar menuju ke arah timur laut. Tiba - tiba terdengar suara peluit ditiup berulang-ulang saling sahutan dan kedua orang dara itu melihat betapa semua perahu itu berpencar ke kanan kiri dengan teratur, membentuk barisan seperti hendak meng-gunting dan lampu - lampu penerangan merekapun kadang-kadang padam kadang-kadang nampak, itupun hanya merupakan penerangan lampu hijau redup - redup. Karena seolah - olah ditinggalkan oleh barisan perahu itu, perahu kecil Pek Lian dan Bwee Hong kini meluncur ke depan dengan cepat-nya sendirian saja menempuh kegelapan malam.

Keadaan amat mengerikan, seolah - olah setiap saat mereka akan ditelan oleh sesuatu yang telah meng-ancam sejak tadi. Namun, dua orang gadis itu te-lah memperoleh kembali ketabahan mereka dengan jalan bersendau - gurau dan bercakap - cakap, seo-lah - olah mereka sedang menikmati sebuah pela-yaran yang amat romantis dan menggembirakan. Langit amat indah. Langit di waktu malam hanya nampak indah kalau gelap seperti itu. Bintang-bintang nampak jelas menghias angkasa menghitam. Seperti hamparan beludru hitam yang ditaburi ratna mutu manikam yang berkilauan.

ENTAH berapa lamanya mereka berdua me-ngemudikan perahu layar mereka yang me-luncur pesat ke depan sambil menikmati keindahan angkasa dan mendengarkan dendang air yang ter-sayat oleh moncong perahu mereka, ketika tiba-tiba keduanya terkejut melihat sinar terang lampu dari sebuah perahu besar yang meluncur berla-wanan arah dengan perahu mereka.

"Cepat, belokkan perahu !" teriak Pek Lian ke-pada Bwee Hong yang kebetulan sedang menggan-tikan tugas mengemudikan perahu.

Bwee Hong sudah terlatih beberapa jam lamanya, sudah gapah, akan tetapi karena terkejut dan panik, iapun bingung dan perahunya membelok terlampau keras. Ham-pir saja perahu itu terbalik ketika layarnya menja-di kacau.

"Dukkkkk !!" Tiba-tiba mereka merasakan gun-cangan keras dan ternyata perahu mereka telah me-numbuk sebuah perahu lain.

Kiranya di kanan kiri perahu besar yang terang itu terdapat pula dua buah perahu kecil yang agaknya mengawal perahu besar.

Terdengar teriakan dan maki - makian dalam ba-hasa asing. Perahu besar itupun berhenti dan ra-mailah suara orang - orang dengan bahasa asing di atas perahu besar. Ketika Pek Lian dan Bwee Hong dapat menenangkan hati mereka yang terguncang karena perahu mereka hampir terbalik, dengan ma-rah mereka lalu memandang ke atas, ke arah pera-hu besar dan melihat munculnya beberapa orang di atas perahu itu, menjenguk ke bawah ke arah mereka. Sebuah lampu sorot ditujukan kepada me-reka dan perahu kecil mereka kini bermandikan ca-haya sehingga mata kedua orang dara itu menjadi silau karenanya.

Orang - orang yang menjenguk ke bawah itu berteriak-teriak dalam bahasa asing, agaknya ma-rah - marah dan ada pula yang tertawa - tawa, ke-mudian dua buah perahu kecil di kanan kiri perahu besar mewah itu didayung maju dengan cepat dan beberapa batang dayung panjang mendorong - do-rong perahu dua orang dara itu, sehingga perahu itu terguncang - guncang ke kanan kiri.

"Eh, kalian ini mau apa ?" bentak Pek Lian.

Akan tetapi orang - orang asing yang rata - rata bertubuh pendek itu hanya menjawab sambil ter-tawa - tawa dan melanjutkan usaha mereka men-dorong-dorong perahu dua orang dara itu, agak-nya bermaksud untuk menggulingkan perahu. Sementara itu, orang - orang yang berada di atas pera-hu besar itu tertawa-tawa dan menggerakkan tangan, nampaknya memberi anjuran kepada para pembantu mereka yang berada di dalam dua buah perahu kecil di bawah.

Biarpun tidak mengerti bahasa mereka, Pek Lian dan Bwee Hong maklum bahwa orang - orang ini berusaha untuk menggulingkan perahu mereka, maka tentu saja mereka menjadi marah. "Jahanam, kalian hendak menggulingkan perahu kami ?" ben-tak Pek Lian marah. Akan tetapi, orang - orang di atas perahu besar itu tertawa - tawa dan menuding-nuding ke arah dua orang gadis yang marah - marah itu.

"Adik Lian, mari kita hajar mereka !" kata Bwee Hong dan sekali tangannya bergerak, ia sudah me-nangkap sebatang dayung yang mendorong pinggir perahu dan sekali renggut, dayung itu dapat diram-pasnya dan pemegang dayung berteriak ketika tu-buhnya terlarik dan akhirnya dia terjungkal keluar perahu ke dalam air laut!

"Jangan di sini! Mari kita naik ke perahu besar itu saja dan menghajar pimpinan mereka !" kata Pek Lian yang maklum bahwa kalau mereka ber-dua melawan di dalam perahu kecil mereka, kese-lamatan mereka malah terancam. Kalau sampai pe-rahu mereka itu digulingkan, tentu mereka akan celaka.

Bwee Hong mengerti apa yang dimaksud-kan oleh kawannya, maka iapun mengangguk dan tiba-tiba mereka berdua, menggunakan kepa-nikan para pengganggu yang melihat seorang ka-wan mereka tercebur ke dalam lautan tadi, untuk mengenjot tubuh dan meloncat ke atas perahu be-sar yang mewah itu.

Ketika mereka yang berada di atas perahu besar melihat berkelebatnya dua bayangan mereka me-layang ke atas perahu besar, mereka tercengang dan terkejut sekali. Tak mereka sangka bahwa dua orang penghuni perahu nelayan yang mereka permainkan itu ternyata memiliki kepandaian sehe-bat itu. Mereka mengeluarkan seruan kaget, apa lagi ketika melihat dua orang dara cantik telah berada di atas perahu besar mereka. Sejenak me-reka semua melongo.

Baru sekarang mereka dapat melihat jelas betapa cantik jelitanya dua orang penghuni perahu yang bertumbukan dengan perahu mereka tadi! Tadinya mereka mengira bahwa perahu kecil itu hanya ditumpangi dua orang nela-yan dan mereka hendak menghukum dan mem-permainkan mereka yang berani menghadang di tengah perjalanan. Siapa kira, penghuninya adalah dua orang dara yang demikian cantik manisnya! Maka timbullah niat buruk di dalam hati mereka untuk mempermainkan dua orang dara cantik jeli-ta ini.

"Aha, kiranya kalian adalah dua orang dewi lautan cantik jelita yang sengaja datang untuk menghibur kami ? Ha - ha - ha !" kata seorang di antara mereka sambil- menepuk - nepuk perutnya yang gendut.

Orang ini dapat bicara dalam Bahasa Han dan dimengerti oleh dua orang gadis itu, wa-laupun suaranya terdengar kaku dan asing. Pek Lian segera dapat menduga bahwa ia berhadapan dengan orang - orang Jepang. Pernah ia melihat tamu - tamu Bangsa Jepang di istana ayahnya keti-ka ayahnya masih menjadi menteri kebudayaan. Menurut penuturan ayahnya,

Bangsa Jepang adalah orang-orang pelarian dari Tiongkok dan masih seketurunan, bahkan berkebudayaan sama, de-ngan bentuk tulisan huruf yang sama pula, meru-pakan sekelompok suku bangsa yang telah memi-sahkan diri dari daratan Tiongkok dan tinggal di Kepulauan Jepang di sebelah timur laut. Bangsa Jepang ini, menurut ayahnya, merupakan bangsa yang cerdik, pandai, rajin dan orang harus berhati-hati menghadapi mereka karena mereka itu dapat menjadi lawan yang amat berbahaya.

Dua orang laki - laki pendek, si perut gendut itu dan seorang yang mukanya seperti kanak - kanak akan tetapi sepasang matanya mengandung penuh nafsu berahi, kini melangkah maju dan kedua le-ngan mereka yang pendek - pendek dan nampaknya ceko itu dikembangkan seolah - olah mereka hendak menangkap dua ekor ayam, ditonton oleh teman-teman mereka yang sudah berkumpul di situ dan mereka semua tertawa riuh dan gembira.

"Nona manis, mari ke sini... mari kupeluk cium..." kata si gendut yang agaknya merupakan satu-satunya orang di antara mereka yang dapat berbahasa Han, sedangkan teman-temannya hanya tertawa-tawa dan berkata-kata dalam Bahasa Jepang yang tidak dimengerti oleh kedua orang nona itu.

Setelah berkata demikian si perut gendut itu menubruk ke arah Pek Lian. Gerakannya cepat dan nampaknya si perut gendut ini kuat sekali. Temannya, yang bermuka anak-anak itupun sudah mengeluarkan teriakan nyaring sambil menubruk kepada Bwee Hong.

Akan tetapi Pek Lian dan Bwee Hong sudah siap siaga. Pek Lian menyambut tubrukan itu de-ngan elakan ke kiri, kemudian pada saat tubuh si perut gendut itu terdorong ke depan karena menu-bruk tempat kosong, kakinya sudah melayang dan menyambar ke arah perut lawan.

"Ngekkk ! Aughhh... auhhh ......!" Si perut gendut itu membungkuk-bungkuk sambil mendekap perut gendutnya dengan kedua tangan, meringis - ringis karena dia merasa perutnya mulas seketika, begitu mulasnya sampai dia terhuyung-huyung lari ke kakus dan terdengar suara membe-rebet dari tubuh belakangnya !

Si muka kanak - kanak yang menubruk Bwee Hong mengalami nasib lebih buruk lagi diban-dingkan dengan si perut gendut yang menjadi mu-las perutnya sehingga isinya menuntut keluar itu.

Bwee Hong menyambut tubrukan lawannya dengan marah. Ia memiliki ginkang yang luar biasa hebat-nya, dan si muka kanak - kanak itu tadinya sudah merasa yakin bahwa kedua lengannya akan dapat memeluk nona yang cantik jelita itu. Akan tetapi, pada detik terakhir, tahu - tahu tubuh nona itu hi-lang begitu saja dan sebelum dia dapat melihat di mana adanya nona itu, tiba - tiba kaki nona itu me-nyambar dari samping dan menyambar dadanya.

"Desss !" Tendangan itu keras sekali. Tubuhnya yang pendek itu terjengkang dan si muka kanak - kanak itu roboh dan pingsan, mukanya seperti seorang anak kecil sedang tidur dengan nyenyak dan tenteramnya!

Tentu saja peristiwa ini membuat semua orang terkejut dan sekaligus juga sadar bahwa dua orang dara yang hendak mereka permainkan itu ternyata adalah dua orang wanita yang memiliki kepandai-an lihai! Mereka bukan hanya terkejut, akan teta-pi juga merasa penasaran sekali melihat dua orang teman mereka dirobohkan, dan dengan muka ber-ubah merah cemberut, lenyap semua kegembiraan tadi, belasan orang anak buah perahu layar itu me-ngurung Pek Lian dan Bwee Hong! Tentu saja dua orang dara perkasa itupun siap - siap untuk menghadapi pengeroyokan.

Orang - orang yang sebagian bertubuh katai itu mengurung makin ketat. Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan dalam Bahasa Jepang. Bentak-an itu halus, akan tetapi mengandung wibawa yang sedemikian hebatnya terhadap orang - orang itu karena mereka semua terkejut seperti diserang ular dan mereka semua serentak mundur, lalu ber-diri tegak dan memandang dengan penuh ketaatan dan kehormatan kepada seorang laki - laki yang berpakaian indah bersikap agung, yang baru mun-cul dari dalam bilik perahu besar itu diiringkan oleh empat orang yang pakaiannya warna - warni dan menyolok sekali. Empat orang ini bertubuh pendek gempal dan nampaknya kokoh kuat, di pinggang mereka tergantung pedang panjang me-lengkung yang ujungnya terseret di atas lantai pe-rahu !

Perahu layar besar mewah itu adalah milik la-ki - laki berusia tigapuluh lima tahun yang baru muncul ini. Dia seorang Pangeran Jepang yang me-lakukan pelayaran menuju ke daratan Tiongkok untuk mengunjungi kaisar dengan membawa ba-nyak barang-barang berharga yang akan dihadiah-kan kepada kaisar.

Empat orang pengawalnya ada-lah jagoan - jagoan samurai. Ketika sang pangeran ini mendengar suara ribut - ribut di luar dan setelah dia keluar melihat dua orang dara cantik dikurung oleh anak buah perahu, dia menjadi tertarik sekali dan menyuruh para anak buahnya mundur. Dia sendiri memandang kepada dua orang nona cantik itu, maklum bahwa mereka tentulah dua orang dara berbangsa Han dan melihat sikap mereka, tentulah dua orang nona ini merupakan dua orang wanita petualang yang memiliki ilmu kepandaian silat. Sudah banyak sang pangeran ini mendengar ten-tang ahli - ahli silat di Tiongkok, dan tentang pen-dekar-pendekar wanita.

Hatinya tertarik sekali, terutama kepada Pek Lian yang dianggapnya me-miliki sifat kegagahan yang amat mengagumkan hatinya di samping kecantikannya. Maka, kalau dia dapat menawan dua orang dara ini, tentu akan menjadi suatu kebanggaan baginya kalau pulang kelak, sebagai hasil perjalanan jauh ini yang paling menyenangkan dan mengesankan hatinya.

Di antara para selirnya, tidak terdapat seorang pendekar wanita dan betapa akan bangga hatinya memiliki selir yang selain cantik juga berkepandaian silat tinggi seperti dua orang dara ini. Maka, dengan senyumnya yang khas, senyum seorang Pangeran Jepang yang hanya merupakan gerakan bibir ter-buka saja, seperti topeng tersenyum, pangeran itu melangkah maju menghadapi Pek Lian dan Bwee Hong, lalu mengangguk dengan sikap ramah. Se-belum meninggalkan negerinya untuk menghadap Kaisar Tiongkok, tentu saja pangeran ini lebih dulu telah mempelajari bahasa dari negara yang hendak dikunjunginya, dan kini dia berkata dengan suara dan sikap halus, kata-katanya teratur rapi seperti kata-kata seorang yang menguasai bahasa asing melalui pelajaran, bukan karena praktek.

"Harap nona berdua sudi memaafkan kekasar-an orang-orang kami. Akan tetapi mereka itu menentang nona berdua karena perahu nona me-numbuk perahu kami."

"Hemm, dalam hal ini perahu siapa yang me-numbuk perahu siapa ? Agar tidak menuduh yang bukan-bukan dan sembarangan saja !" bantah Pek Lian sambil memandang kepada laki - laki itu de-ngan penuh perhatian.

Juga Bwee Hong meman-dang dengan heran. Laki-laki itu berusia kurang lebih tigapuluh lima tahun, pakaiannya dari sutera halus dengan potongan aneh-aneh. Wajah orang itu dapat dikatakan tampan dan berwibawa, de-ngan jenggot yang dicukur dengan bentuk aneh pula. Rambutnya digelung ke atas dengan hiasan beberapa batang tusuk konde kemala, akan tetapi dahi yang teramat luas itu jelas merupakan dahi buatan, yaitu sebagian besar dari rambut di atas dahi itu dicukur sehingga dahi kelihatan ting-gi dan luas! Diam-diam dua orang dara itu me-rasa geli dan juga heran. Laki - laki ini termasuk tinggi di antara teman - temannya, setinggi Pek Lian, sedangkan yang lain - lain itu jauh lebih pendek.

Pangeran itu menarik napas panjang. "Kami sudah menerima laporan dan ternyata bahwa pe-rahu nona tidak memakai lampu. Jadi, tabrakan ini jelas sekali terjadi karena kelalaian nona."

Pek Lian tidak dapat membantah. Bagaimana-pun juga, ucapan itu memang benar, perahunya tidak mempunyai lampu penerangan sehingga kalau orang - orang ini menabrak perahunya, mereka tidak dapat terlalu disalahkan.

"Memang perahuku tidak mempunyai penerang-an. Lalu, setelah terjadi tabrakan, apakah sudah sepatutnya kalau anak buahmu hendak menggu-lingkan perahuku ? Aturan mana itu ?" kata Pek Lian marah.

"Itupun hanya akibat dari pada tabrakan perahu, nona. Dan nona sudah merasa betapa kesalahan berada di pihak nona karena tidak adanya lampu penerangan. Kemudian nona malah naik ke sini dan merobohkan dua orang kami."

Pek Lian menjadi marah. Dia menegakkan ke-palanya dan memandang tajam. "Habis, kalian mau apa ?"

"Kita mengadu ilmu silat, kalau nona berdua dapat mengalahkan kami, aku berjanji akan mem-bebaskan nona dan akan menghabiskan urusan ta-brakan perahu tadi."

"Kalau kami kalah ?" Pek kian mendesak.

Pangeran itu tersenyum. "Terpaksa nona ber-dua harus menjadi tamuku. Aku ingin berkenalan lebih erat dengan nona berdua yang menarik ha-tiku."

"Bagus!" teriak Pek Lian marah.

"Sudah kudu-ga tentu ada pamrih busuk di balik semua ini. Majulah!" Ia menantang sambil mencabut pedang-nya. Bwee Hong juga mencabut pedangnya dan dua orang dara itu siap menghadapi segala kemungkinan.

Pangeran itu tersenyum dan menoleh kepada empat orang pengawalnya, mengangguk dan ber-kata dalam bahasanya sendiri, "Tangkap mereka ini!"

Seorang jagoan samurai yang pakaiannya war-na-warni, totol - totol dan mewah sekali melom-pat maju ke depan menghadapi Pek Lian. jagoan ini juga memiliki dahi yang amat lebar, bahkan seluruh permukaan kepalanya bagian atas telah dibotaki licin sehingga dahinya seolah - olah sede-mikian lebarnya sampai di bagian belakapg kepa-lanya. Sisa rambut bagian bawah digelung kecil dan dihias tusuk konde.

Muka jagoan ini seperti monyet, akan tetapi harus diakui bahwa gerakannya sigap dan tubuhnya yang pendek itu nampak ku-at bukan main. Bajunya rangkap empat, kedua le-ngannya dari pergelangan tangan sampai dekat siku dibelit - belit kain keemasan, pinggangnya juga dibelit - belit kain totol - totol merah dan sebatang pedang samurai terselip di situ. Kakinya memakai sandal yang banyak talinya.

Jagoan ini berdiri di depan Pek Lian dan de-ngan sikap kaku membungkuk seperti pisau lipat, kemudian dia mengeluarkan seman keras dari da-lam perut, kedua tangan bergerak dan tahu - tahu nampak sinar berkilat dan sebatang samurai telah dicabutnya dengan kedua tangan dan dipegang-nya seperti orang memanggul cangkul. Pedang ini gagangnya dua kali lebih panjang dari pada pe-dang biasa dan jagoan itupun memegang pedang dengan kedua tangan. Kembali jagoan Jepang ini berteriak nyaring dan tiba - tiba dia sudah melaku-kan penyerangan. Tubuhnya bergerak dan pedang samurai yang dipegang dengan kedua tangan itu menyambar dari kanan ke kiri mengarah tubuh Pek Lian.

Dara ini cepat meloncat ke belakang sambil menangkis dengan pedangnya. Ia mengerahkan tenaga sinkang karena ia ingin menguji sampai di mana besarnya tenaga lawan. Karena tangkisan-nya itu, tak dapat dihindarkan lagi. pedangnya bertemu dengan pedang samurai yang dibabatkan dari kanan ke kiri itu.

"Trakkkk !" Pek Lian mengeluarkan seruan kaget dan meloncat ke belakang menghindarkan babatan ke dua ke arah kakinya.

Dara ini melon-cat ke papan lantai perahu yang lebih tinggi, me-mandang kepada pedang yang tinggal gagangnya dan sepotong kecil saja di tangannya, matanya ter-belalak. Tak disangkanya bahwa pedang samurai lawan itu sedemikian tajam dan kuatnya sehingga sekali beradu saja pedangnya telah patah !

Akan tetapi ia melihat bahwa biarpun pedang samurai lawan itu amat ampuh, tajam dan kuat, gerakan lawan ini tidaklah terlalu gesit. Maka iapun membuang pedangnya dan berseru kepada Bwee Hong,

"Hati - hati, enci, jangan mengadu senjata !"

Iapun lalu menerjang maju melawan jagoan yang masih mempergunakan samurainya untuk memba-cok dan membabat itu.

Pek Lian mempergunakan kelincahannya dan memang ia jauh lebih lincah dari pada lawannya sehingga biarpun kini ia ber-tangan kosong, namun menghadapi samurai itu ia tidak terdesak. Tubuhnya berkelebat ke sana - sini mengelak dari sambaran sinar pedang samurai, dan iapun membalas dengan tidak kalah hebatnya, menggunakan pukulan dan tendangan kaki.

"Buk!" Sebuah tendangan kaki kiri Pek Lian mengenai perut lawan dan jagoan ini terpental ke belakang sambil mengeluh dan memaki.

Akan te-tapi ternyata dia memiliki kekebalan juga karena tendangan itu tidak merobohkannya, lalu dia maju lagi sambil memutar-mutar pedang samurainya dengan ganas sehingga terpaksa Pek Lian harus menggunakan kelincahan tubuhnya untuk berlon-catan dan mengelak ke sana - sini.

Sementara itu, Bwee Hong juga sudah diserang oleh seorang jagoan samurai lain. Akan tetapi, ka-rena Bwee Hong sudah melihat betapa samurai-samurai itu amat tajam dan kuatnya, dan mende-ngar peringatan Pek Lian, ia sama sekali tidak mau mengadu pedangnya, melainkan menggunakan ke-cepatan gerakannya untuk menghindarkan setiap bacokan lawan lalu membalas dengan cepat.

Kare-na Bwee Hong memang memiliki ginkang yang amat hebat, maka dalam beberapa kali gebrakan saja, lawannya telah terdesak hebat dan terpaksa jagoan ke tiga lalu mengeroyoknya ! Namun Bwee Hong tidak merasa jerih dan dara ini mengamuk terus, mengandalkan ginkangnya dan juga kece-patan gerakan pedangnya.

Diam - diam sang pangeran mengikuti jalannya pertandingan itu dengan kagum. Melihat betapa seorang di antara jagoannya dalam belasan jurus saja terkena tendangan kaki Pek Lian, dia terke-jut sekali. Apa lagi melihat betapa dara yang ke dua itu bahkan memiliki kecepatan gerakan yang me-lebihi dara pertama sehingga pengeroyokan dua orang jagoannya tidak membuat terdesak, diam-diam dia menjadi kaget, kagum dan juga girang Betapa akan bangga hatinya kalau dia dapat ber-hasil menundukkan dua orang dara perkasa ini dan mengangkat mereka menjadi selir - selirnya ! Selain sebagai selir yang patut dibanggakan, juga dapat menjadi pengawal pribadinya dalam arti yang pa-ling mesra dan mendalam.

Pangeran Akiyama lalu memberi isyarat kepa-da jagoannya nomor empat, lalu memerintahkan jagoan yang melawan Pek Lian untuk membantu dua orang temannya yang sudah mengeroyok Bwee Hong.

Kemudian dia sendiri, dengan tangan ko-song, dibantu oleh jagoan barunya yang juga ber-tangan kosong, menerjang dan mengeroyok Pek Lian. Dan Pek Lian terkejut! Kiranya Pangeran Jepang inipun pandai ilmu silat tangan kosong, de-ngan pukulan - pukulan tangan miring yang cukup kuat, sedangkan pembantunya, jagoan samurai itu pandai ilmu semacam Ilmu Kim - na - jiauw, yaitu ilmu menggunakan jari - jari tangan untuk men-cengkeram dan menangkap ! Dikeroyok dua oleh dua, orang ahli yang memiliki ilmu yang berbeda ini, Pek Lian menjadi sibuk juga. Setelah melawan sampai belasan jurus, tahu - tahu pergelangan ta ngan kirinya sudah dicengkeram dan ditangkan oleh jagoan pembantu pangeran itu !

Untung sekali Pek Lian bersikap waspada dan bergerak cepat. Sebelum sang pangeran yang juga lihai itu sempat memperburuk keadaannya, kakinya sudah mela-yang ke arah bawah pusar jagoan itu dan tangan kirinya menusuk dengan jari telunjuk ke arah mata! Diserang dengan hebat seperti ini, jagoan sa-murai itu terkejut dan cepat membuang tubuh ke belakang dan tiba-tiba saja pundak kanannya tertotok oleh jari tangan Pek Lian. Seketika lengan kanannya seperti lumpuh dan cengkeramannya ter-lepas. Pada saat itu, Pangeran Akiyama telah me-nerjang lagi, akan tetapi Pek Lian sudah terbebas dari cengkeraman sehingga ia mampu bergerak mengelak dan balas menyerang. Si jagoan samurai hanya lumpuh sebentar saja.

Dia sudah pulih kem-bali dan membantu sang pangeran, mengeroyok Pek Lian dengan lebih ganas. Sekali ini Pek Lian benar - benar merasa kewalahan. Tingkat kepan-daian pangeran itu sendiri sudah berimbang dengan tingkatnya, kini pangeran itu dibantu oleh jagoan samurai itu, tentu saja ia menjadi kewalahan.

Keadaan Bwee Hong tidak lebih baik dari pada temannya. Pengeroyokan tiga orang Samurai yang kesemuanya bersenjatakan pedang samurai yang amat berbahaya, tajam dan kuat itu sungguh mem-buat ia kewalahan. Kalau melawan satu demi satu, atau katakanlah dikeroyok dua, ia masih sanggup untuk menang. Akan tetapi yang mengeroyoknya ada tiga orang !Perlahan - lahan dara inipun terde-sak dan main mundur, mandi keringat seperti juga keadaan Pek Lian. Bagaimanapun juga, seperti juga Pek Lian, Bwee Hong pantang menyerah dan mengamuk terus sambil mengandalkan kecepatan gerakan tubuhnya.

Melihat keadaan ini, hati sang pangeran men-jadi khawatir. Dia tidak menghendaki dua orang gadis itu terluka, apa lagi terbunuh. Dia ingin me-nundukkan dan menangkap mereka hidup - hidup. Akan tetapi mereka berdua itu sedemikian lihai nya sehingga tentu sukar untuk mengalahkan me-reka tanpa merobohkannya. Diapun lalu memberi aba - aba dalam bahasanya dan kini belasan orang anak buahnya datang membawa jala yang lebar. Mereka mengurung Bwee Hong dan tiba - tiba, de-ngan cepat sekali jala atau jaring itu mereka lem-parkan dan karena ia sendiri terancam tiga batang samurai, Bwee Hong tidak mampu menghindar la-gi dan tahu - tahu jaring itu telah menimpa tubuh-nya ! Tentu saja dara ini terkejut dan cepat meng-gunakan pedangnya untuk membabat tali jaring yang meringkusnya. Akan tetapi, tiba - tiba pedang-nya bertemu dengan benda keras.

"Krakkkk !" Dan pedang itu, seperti pedang Pek Lian tadi, telah patah - patah bertemu dengan dua batang samurai yang menangkisnya dari luar ja ring !

Dan kini tiga orang jagoan itu menyimpan samurai mereka dan menubruk, meringkus Bwee Hong yang meronta-ronta di dalam jaring seperti seekor ikan yang terjala. Karena tiga orang jagoan itu memang bertenaga besar dan Bwee Hong tak dapat banyak bergerak dalam jaring, akhirnya dara ini telah dibelenggu di dalam jaring dan tidak mampu berkutik lagi.

Melihat ini, Pek Lian marah bukan main.

"Pa-ngeran busuk, lepaskan sahabatku !" bentaknya dan iapun menyerang dengan dahsyat, memukul ke arah kepala Pangeran Jepang itu dengan pengerah-an tenaga.

Pangeran itu melihat pukulan berbahaya, maka diapun cepat merendahkan dirinya dan mengangkat kedua lengan menangkis. Pembantu-nya, jagoan yang- mengeroyok Pek Lian, melihat kesempatan baik. Ketika lengan Pek Lian bertemu dengan lengan pangeran, diapun mendorong dari samping ke arah lambung gadis itu !

"Dukk!" Pangeran Akiyama terguling ketika beradu lengan dengan Pek Lian, akan tetapi gadis ini sendiri terkena dorongan jagoan samurai itu dan terlempar ke kanan.

Malang baginya, di sebelah kanannya adalah tepi perahu itu dan tanpa dapat dicegah lagi, tubuhnya terlempar keluar.

"Byuuurrrr !" Tubuh gadis itu menimpa air. Pek Lian maklum bahwa kalau ia tertawan juga, habislah harapannya untuk menolong Bwee Hong dan juga dua orang pemuda yang tertawan, maka iapun cepat menyelam. Ketika para anak buah pangeran itu menggunakan lampu untuk mencari ke bawah, mereka tidak dapat menemukan gadis itu yang sudah bersembunyi di balik perahu besar, di bagian yang gelap.

Akan tetapi pada saat itu, nampak sinar terang dan ternyata perahu besar mewah milik Pangeran Jepang ini telah dikepung oleh delapan buah pera[ hu yang malam tadi pernah dilihat oleh Pek Lian. Dari permukaan air di balik perahu besar di mana ia bersembunyi, Pek Lian dapat melihat betapa tiga orang yang bergerak sigap sekali memimpin anak buahnya dari delapan buah perahu itu me-nyerbu ke perahu asing.

Terjadi pertempuran hebat, akan tetapi betapapun lihainya sang pangeran dari Jepang itu bersama para jagoan samurai dan anak buahnya, namun pihaknya kalah banyak dan para bajak itu dipimpin oleh tiga orang yang ting-kat kepandaian silatnya tidak kalah dibandingkan dengan para samurai.

Maka akhirnya sang pange-ran yang melihat bahwa melanjutkan perlawanan tiada guna, lalu menyerukan aba - aba kepada anak buahnya untuk menyerah ! Banyak di antara me-reka yang tewas dan sisanya dijadikan tawanan. Para bajak bersorak - sorai penuh kegembiraan ke-tika mendapat kenyataan bahwa perahu yang me-reka bajak itu adalah perahu seorang pangeran dan di dalam perahu terdapat banyak sekali barang-barang berharga yang sedianya hendak dihadiah-kan kepada kaisar !

Benar - benar merupakan hasil besar, mereka telah menangkap seekor kakap yang besar dan gemuk!

"Harap kalian orang - orang gagah suka dengar baik - baik !"

Tiba - tiba Pangeran Jepang itu ber-teriak sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.

"Aku adalah Pangeran Akiyama, seorang bangsawan tinggi dari Jepang yang hendak menghadap kaisar di Kota Raja Sian-yang! Aku adalah sahabat kai-sar, maka harap kalian jangan mengganggu kami dan suka membebaskan kami kembali. Untuk itu, kami tidak akan lupa dan akan memberi hadiah yang besar !"

Akan tetapi, tiga orang yang memimpin pemba-jakan itu tertawa bergelak.

"Ha - ha - ha, pangeran badut! Biar kaisar sendiri yang berada di dalam pe-rahu, tetap saja akan kami bajak !"

Para bajak laut itu bersorak - sorak dan tertawa - tawa dan Sang Pa-ngeran Jepang terpaksa membungkam dan tidak berani bicara lagi, maklum bahwa dia terjatuh ke tangan para bajak laut yang tidak mau mengakui kedaulatan siapapun kecuali kepala mereka. Dia hanya mengharapkan bahwa kepala bajak akan mau menerima tebusan dan tidak akan membunuh-nya. Semua anak buahnya ditawan, dan Bwee Hong juga termasuk menjadi tawanan.

Bwee Hong tidak merasa takut akan nasib dirinya sendiri, akan tetapi ia merasa khawatir sekali ketika melihat Pek Lian tercebur ke dalam lautan tadi. Ingin ia mena-ngisi nasib kawannya itu dan kini setelah ia diting-galkan Pek Lian, mungkin ditinggal mati, ia merasa betapa harapannya untuk dapat menolong kakak-nya menjadi semakin menipis. Akan tetapi, berada di tangan lawan sebagai tawanan, ia pantang me-nangis !


                                                                          ***

Ketika pertempuran antara para bajak dan anak buah Pangeran Jepang terjadi, Pek Lian masih bersembunyi di permukaan air. Dia hanya melihat para bajak berlompatan ke atas perahu mewah setelah menempelkan perahu - perahu mereka ke-pada perahu korban, dan perahu mewah itu ter-guncang - guncang selagi mereka bertempur. Un-tung baginya, ada sebuah perahu sekoci kecil terle-pas dari perahu mewah dalam keributan itu dan iapun cepat berenang dan berhasil memegang pe-rahu itu. Sementara itu, pertempuran sudah ber-henti dan perahu mewah itu lalu ditarik oleh pera-hu - perahu bajak laut yang meninggalkan tempat itu jauh lewat tengah malam.

Pek Lian menggunakan dayung, sekuat tenaga ia mendayung dan melawan ombak untuk mengikuti ke arah perginya perahu - perahu itu. Hari telah hampir pagi dan cuaca mulai remang - remang ke-tika perahu - perahu para bajak itu tiba di sekelom-pok pulau - pulau kecil yang bertebaran di tengah lautan. Perahu besar mewah yang dibajak itu, yang membawa tawanan, diseret ke sebuah pulau ter-besar yang berada di tengah kelompok pulau - pu-lau. Di atas beberapa pulau kecil nampak bebe-rapa orang menyambut iring - iringan perahu itu dengan teriakan dan sorak - sorai gembira. Mereka itu tahu bahwa kawan - kawan mereka telah ber-hasil membajak sebuah perahu mewah yang kaya.

Tidak seperti pulau - pulau kecil di sekelilingnya yang berpantai pasir dan landai, pantai dari pulau di mana perahu bajakan itu diseret merupakan tebing karang yang tinggi. Di tepi tebing yang curam itulah para bajak menghentikan perahu - perahu mereka. Sebuah pintu baja terbuka dan perahu - perahu itu memasuki pintu ini ke dalam pulau. Pintu rahasia dan agaknya perahu luar tidak akan mungkin dapat masuk karena pintu karang itu menutup jalan masuk.

Ho Pek Lian memutar perahu sekocinya dan akhirnya ia mendapatkan sebuah tempat pendaratan yang tersembunyi dan tidak begitu terjal. Ia menarik sekoci kecil itu ke darat, menyembunyikannya dalam guha batu karang, dan ia sendiri lalu mendaki tebing dengan hati - hati karena iapun maklum bahwa ia telah memasuki tempat berbahaya, sebuah pulau yang dihuni oleh gerombolan bajak laut yang ganas.

Sementara itu, Bwee Hong yang masih berada di dalam jaring dan diikat dari luar, tidak dapat bergerak. Selama terjadi pertempuran di atas perahu, ia hanya dapat rebah sambil menonton saja dan ketika iapun terbawa sebagai tawanan bersama Pangeran Akiyama dan anak buahnya, iapun hanya diam saja. Apa gunanya kalau ia berteriak memberi tahu bahwa ia biikan anak buah pangeran itu ? Yang menang itu jelas adalah gerombolan bajak laut yang tentu lebih ganas dan kejam dari pada gerombolan anak buah pangeran itu. Ia merasa betapa baru saja terlepas dari mulut serigala ia kini terjatuh ke mulut buaya !

Semua tawanan dibawa ke dalam sebuah ba-ngunan besar yang dibangun seperti benteng di pulau itu. Mula - mula Sang Pangeran Jepang itu yang dihadapkan kepada pimpinan bajak. Di atas sebuah kursi besar, di ruangan yang luas, duduklah pemimpin bajak itu yang memandang kepada semua tawanan yang dikumpulkan di situ dengan wajah dingin. Dia adalah seorang laki - laki yang usianya kurang lebih limapuluh tahun, pakaiannya mewah, lebih pantas menjadi seorang bangsawan atau se-orang hartawan besar dari pada seorang kepala ba-jak. Wajahnya juga tidak membayangkan kekejam-an atau kekerasan seperti wajah para anggauta ba-jak, walaupun wajah itu berkulit tebal kehitaman dan segala sesuatunya pada kepala bajak ini nam-pak tebal dan bulat!

Wajahnya gemuk bulat, de-ngan mata yang lebar dan biji mata besar. Hidung-nya juga besar dan bulat, bibirnya tebal. Akan te-tapi wajah ini bukan wajah yang buruk atau me-nakutkan, melainkan membayangkan kemakmuran duniawi, sering nampak pada wajah orang - orang kaya atau bangsawan tinggi yang selalu hidup da-lam kemewahan dan kesenangan. Tubuhnya gemuk dan perutnya gendut. Begitu si gemuk ini tadi mun-cul ke dalam ruangan, semua anggautanya memberi hormat dengan menekuk sebelah lutut. Baru setelah ia duduk di atas kursi besar itu, semua bajak berdiri lagi, dan ada pula yang duduk. Ketika Sang Pangeran Jepang dihadapkan, pangeran ini meng-ambil sikap angkuh.

"Engkaukah pemilik perahu itu ?" tanya si ke-pala bajak dengan suara tenang.

Pangeran Akiyama lalu menggunakan kesempatan ini untuk memperkenalkan diri.

"Aku adalah Pangeran Akiyama, seorang bangsawan tinggi di Jepang dan masih kerabat dari kaisar. Aku sedang melakukan perjalanan menuju ke daratan besar untuk menghadap Kaisar Cin Si Hong-te. Karena tidak tahu, kami telah melanggar wilayah tuan, maka harap suka memberi maaf dan untuk itu kami sanggup untuk mengganti kerugian."

Kepala bajak yang perutnya gendut itu terse-nyum, akan tetapi senyumnya penuh ejekan.

"Kaum pedagang kaya raya dan bangsawan yang tinggi kedudukannya merupakan korban yang paling kami sukai. Pangeran, tanpa kau usulkan, karena eng-kau telah terjatuh ke tangan kami, engkau baru akan kami bebaskan kalau keluargamu dapat me-nebus dengan sejumlah emas yang akan kami te-tapkan kemudian. Masukkan dia ke kamar tahanan dan perlakukan dengan baik!"

Empat orang anak buah bajak lalu menarik pangeran itu keluar dari ruangan. Pangeran Akiyama bersikap tenang se-perti layaknya seorang pangeran. Bagaimanapun juga, keluarganya takkan membiarkan dia teran-cam oleh para bajak dan tentu uang tebusan akan dikirim.

Setelah pangeran itu dibawa pergi, kepala bajak itu memandang kepada sisa anak buah sang pange-ran, lalu berkata kepada para pembantunya, "Suruh mereka ini bekerja keras, kalau ada yang me-larikan diri, bunuh saja !"

Para tawanan itu lalu digusur pergi, dan di an-tara mereka itu terdapat Bwee Hong yang masih terikat dan terbungkus jaring.

"Tahan dulu, biar-kan tawanan wanita ini tinggal di sini! Aku mau memeriksanya !" kata si kepala bajak.

Anak buah-nya yang tadi sudah menyeret wanita dalam jaring itu nampak kecewa. Biarpun berada dalam jaring, Bwee Hong masih dapat dilihat dengan mudah dan anak buah bajak itu sudah merasa girang memper-oleh seorang tawanan yang demikian muda dan cantiknya. Akan tetapi kini dia diperintahkan un-tuk meninggalkan tawanan ini maka tentu saja dia kecewa.

Kini yang berada di dalam ruangan itu tinggal-lah si kepala bajak dan tiga orang pembantunya, yaitu bajak laut lihai yang tadi memimpin penye-rangan terhadap perahu asing itu.

"Siapakah engkau?" tanya kepala bajak itu sambil memandang kepada wanita tawanan itu yang rebah miring di atas lantai. Bwee Hong yang merasa amat terhina itu tidak mau menjawab sama sekali.

Ia sudah tertawan dari tangan orang Jepang itu ke tangan bajak laut, dibelenggu dan terbung-kus jaring, merasa seperti seekor harimau tertang-kap, diseret dan dilempar begitu saja di atas lantai. Ingin ia menangis karena sakit hati, maka kini ia menimpakan kemarahan hatinya kepada kepala bajak ini. Ia sudah tertangkap, biar akan dibunuh sekalipun ia tidak akan sudi memperlihatkan sikap lunak atau tunduk !

Melihat wanita itu diam saja, si kepala bajak mengerutkan alisnya. Dalam keadaan terbungkus jaring dan terikat seperti itu, tentu saja Bwee Hong tidak kelihatan terlalu cantik, bahkan sebagian da-ri mukanya tertutup rambutnya yang terlepas dari sanggul dan riap - riapan, dan bagian yang tidak tertutup itupun masih tidak dapat nampak jelas karena tertutup benang-benang jaring.

"Kenapa engkau terbungkus jaring dan dibe-lenggu seperti seekor binatang buas ?" kembali si kepala bajak laut bertanya.

Bwee Hong makin mendongkol dan tidak mau menjawab. Menja-wab sama saja dengan menceritakan kekalahannya.

"Apakah engkau tuli ? Ataukah gagu barang-kali ?" Kepala bajak itu mulai ragu - ragu. Semua tawanan tadi, biarpun tidak kelihatan ketakutan, setidaknya mentaatinya dan tidak memperlihatkan sikap melawan, sadar bahwa mereka sudah kalah dan tertawan.

Agaknya tidak mungkin kalau wa-nita ini berani menentangnya dan sengaja tidak mau menjawab. "Atau barangkali engkau tidak me-ngerti bahasa kami ?"

Lalu tiba - tiba kepala bajak itu mengajukan pertanyaan lagi dalam Bahasa Jepang ! Mendengar ini, diam - diam hati Bwee Hong merasa geli, akan tetapi kemarahannya ti-dak mereda dan tiba - tiba iapun menjawab dengan suara lantang.

"Aku sudah tertawan, kalau mau bunuh, laksa-nakanlah. Siapa takut mati ? Tak perlu banyak cerewet lagi!"

Kepala bajak itu nampak terkejut sekali mende-ngar ucapan ini. Sungguh merupakan jawaban yang sama sekali tidak diduganya. Dan suara wa-nita ini sungguh merdu, nyaring dan penuh sema-ngat, tidak mungkin suara seorang wanita biasa saja !

"Eh, siapakah sesungguhnya engkau ? Bukan-kah engkau juga anak buah Pangeran Jepang itu", kepala bajak itu mendesak dengan penuh keinginan tahu.

"Bukan !" jawab Bwee Hong.

"Perahuku bertabrakan dengan perahunya, aku dikeroyok dan ter-tangkap."


Bersambung

Darah Pendekar 15                                                                     Darah Pendekar 17