Jumat, 26 April 2013

DARAH PENDEKAR 9

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Bab 9

"He-he..., ha-ha-ha, rasakan sekarang ! Kau sekarang dikeroyok banyak orang lihai, sebentar lagi tentu kau akan dicincang pedang mereka menjadi bakso ! Ha-ha-ha ! Mereka akan menggorok lehermu yang buntek, menusuk hidungmu yang pesek dan merobek perutmu yang gendut, lalu kau boleh pelesir ke neraka! Dan aku akan bebas, heh - heh! Jadi ini namanya kita sehidup semati, aku yang hidup, kau yang mati dan aku akan kawin lagi, aku akan mencari yang muda, yang cantik, yang... heiiiittt!"

Kakek kecil kurus itu cepat mencelat dan mengelak karena tiba-tiba saja isterinya, si nenek gendut itu telah me-ninggalkan lima orang pengeroyoknya dan menye-rang ke arah suaminya dengan terkaman dahsyat. Melihat suaminya mengelak, nenek itu menyerang lagi dengan hebatnya dan sekarang suaminya menangkisnya.

"Desss !!"

Nenek gendut itu terdorong sampai tiga langkah akan tetapi suaminya terdorong sampai lima langkah. Ini saja membuktikan bahwa si nenek itu ternyata lebih lihai dari pada suaminya. Perkelahian antara suami isteri iblis ini demikian hebatnya, membuat lima orang wanita bertusuk konde giok itu melongo. Ketika suami isteri itu mulai mempergunakan racun, si suami menyebar pasir beracun, sedangkan isterinya yang tidak mau kalah itu menyebar jarum - jarum dan asap beracun, lima orang wanita itu cepat menyingkir sambil menyeret dua orang kawan mereka yang terluka.

Sepasang iblis tua itu benar-benar gila. Agaknya mereka sudah melupakan sama sekali tentang musuh - musuh mereka dan kini mereka itu berkelahi mati - matian. Si nenek lebih ganas lagi menyerang, baik dengan kaki tangan maupun dengan mulutnya yang memaki - maki, dan akhirnya kakek itu kewalahan lalu melarikan diri terbirit - birit, dikejar oleh isterinya yang makin keras memaki-maki penuh kemarahan. Melihat kesempatan ini, lima orang wanita bertusuk konde giok itu cepat membawa dua orang teman mereka yang terluka untuk menjauhkan diri dari tempat berbahaya itu.

Yang terpenting bagi mereka adalah mencoba untuk menolong dua orang teman yang terluka. Cepat mereka membawa dua orang itu ke dalam hutan dan setelah merebahkan kedua teman itu di atas rumput, mereka berusaha mengobati dengan pe-ngerahan sinkang dan dengan obat - obat penawar racun yang selalu mereka bawa di antara obat - obat luka luar atau dalam. Akan tetapi, luka - luka beracun yang diderita oleh dua orang itu sungguh berbeda dengan luka- luka beracun biasa. Luka gigitan ular berbisa saja masih akan dapat disembuhkan oleh mereka, akan tetapi luka-luka yang diakibatkan serangan tokoh Ban-kwi-to itu sungguh luar biasa sekali dan semua usaha pengobatan mereka sia-sia.

Nyawa kedua orang itu tidak dapat diselamatkan dan akhirnya merekapun tewas tanpa dapat meninggalkan kata-kata pesanan lagi.

Lima orang wanita yang kelihatan gagah perkasa itu, kini menangisi mayat dua orang teman-nya. Kemudian pemimpin mereka, yang tadi dengan gagahnya melawan nenek iblis, menghentikan tangis mereka dan dengan wajah muram berduka mereka lalu mengubur jenazah kedua orang teman mereka di tempat itu juga.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka berlima meninggalkan dua gundukan tanah itu dan bergegas kembali ke tempat di mana mereka meninggalkan seorang teman mereka menjaga tawanan. Akan tetapi apa yang mereka dapatkan ke-tika mereka tiba di tempat itu membuat mereka terkejut bukan main. Tawanan telah lenyap dan teman mereka yang bernama A-bwee itu telah menggeletak tanpa nyawa, dengan muka kebiruan tanda keracunan pula! Setelah mereka berlima memeriksanya, ternyata luka keracunan yang diderita mayat ini sama dengan yang diderita oleh kedua orang teman mereka yang tewas.

"Keparat busuk! !" Pimpinan mereka, wanita berusia empatpuluh tahun yang sepasang matanya berkilat - kilat tajam itu, berseru marah sambil menghentak-hentakkan kakinya ke atas tanah, wajahnya penuh geram dan kedukaan.

"Sepasang iblis itu sungguh jahat dan kejam! Sayang kita bukan tandingan mereka. Kita harus cepat pulang dan melapor, biarlah siocia yang akan membalaskan sakit hati ini!"

Dengan berduka merekapun mengubur jenazah teman ke tiga ini. Tentu saja mereka merasa berduka dan terpukul sekali. Mereka terkenal sebagai Delapan Singa Betina yang terkenal, dan sekarang, sungguh tak terduga sama sekali, dalam waktu- semalam saja, jumlah delapan itu tinggal lima dan yang tiga tewas dalam keadaan yang amat me-nyedihkan. Dan penderitaan ini, korban tiga nyawa ini sungguh merupakan, korban yang sia - sia dan mati konyol, karena mereka bentrok dengan sepasang iblis itu tanpa sebab - sebab tertentu yang kuat, hanya merupakan percekcokan di antara dua kelompok yang berpapasan di jalan ! Setelah selesai mengubur jenazah teman ke tiga itu. lima orang wanita bertusuk konde batu giok itu lalu cepat meninggalkan tempat itu dengan wajah muram.

Sudah sejak tadi Pek Lian merasa betapa jalan darahnya telah pulih kembali. Akan tetapi ia tidak berani bergerak, dan pura - pura masih lumpuh tertotok atau setengah pingsan. Tubuhnya bergoyang - goyang dalam keadaan rebah miring di bagian belakang gerobak yang berjalan lambat - lambat itu, berjalan di atas jalan yang tidak rata sehingga bergoyang - goyang keras. Hanya sepasang mata dara itu saja yang bergerak melirik ke bagian depan gerobak, di mana nampak dua orang suami isteri gila itu sedang duduk berdampingan dan bercanda, tertawa-tawa, kadang-kadang mereka itu bercumbu dengan kasar, tanpa mengenal malu seolah - olah tidak ada Pek Lian di dekat mereka yang dapat melihat semua adegan ini. Begitulah kalau suami isteri itu sedang dalam keadaan rukun.

Pek Lian memejamkan kedua matanya. Wajah-nya yang bulat telur itu agak pucat dan kurus. Memang selama ayahnya ditawan ia mengalami banyak hal - hal yang pahit, ditambah lagi dengan kematian dua orang gurunya, membuat dara ini menderita tekanan batin yang membuatnya kurus dan pucat. Namun wajah yang kini nampak pucat itu masih tidak kehilangan kecantikannya. Biarpun rambutnya awut-awutan, kulit mukanya agak kotor dan pakaiannya kusut, dara ini masih nampak gagah dan cantik manis. Dagunya yang runcing itu membayangkan kekerasan hati dan keberanian yang luar biasa.

Mulutnya tidak pernah membayangkan rasa takut, sedangkan sepasang matanya yang memang agak lebar itu, setelah wajahnya menjadi kurus nampak lebih lebar lagi, sepasang mata tajam yang mengeluarkan sinar berkilat. Memang pantaslah puteri Menteri Ho ini menjadi pimpinan para pendekar di Puncak Awan Biru, membantu suhunya. Sebutan "nona Ho" oleh para pendekar dengan sikap menghormat, tidaklah mengecewakan karena selama ini sepak teriang Ho Pek Lian memang gagah perkasa dan nenuh semangat. Akan tetapi pada saat itu, Ho Pek Lian atau nona Ho yang dikagumi para patriot itu, berada dalam keadaan yang menyedihkan dan sama sekali tidak berdaya. Dalam keadaan lumpuh tertotok ia menjadi tawanan sepasang suami isteri iblis itu, dan ia tahu bahwa kepandaiannya masih jauh untuk dapat menandingi seorang saja di antara mereka, apa lagi kalau harus menghadapi mereka berdua. Dalam keadaan lumpuh tertotok, ia dilempar begitu saia seperti karung kosong di atas gerobak dan selanjutnya suami isteri- itu tidak memperdulikannya dan membawanya melalui dusun - dusun yang terpencil menuju ke utara.

Biarpun ia tidak takut menghadapi kematian, akan tetapi menghadapi kemungkinan apa yang akan dilakukan oleh sepasang iblis itu kepadanya, membuat Pek Lian merasa ngeri juga. Ada hal-hal yang lebih mengerikan dari pada kematian. Siang tadi saja ia telah mengalami hal yang mengerikan, masih meremang bulu tengkuknya kalau ingat. Si kakek kecil kurus yang seperti tulang bungkus kulit itu mendekatinya. Kemudian jari-jari tangan yang kecil dan keras dingin itu mera-ba dan membelai lehernya. Pek Lian merasa ngeri dan bulu - bulu di seluruh tubuhnya bangkit ber-diri. Ia menutupkan kedua matanya dan menahan bau apek yang keluar dari tubuh kakek itu.

"Heh-heh-heh, halus kulitnya. hemm, lunak halus. Cantik sekali gadis ini !"

Jari – jari tangan itu meraba dan membelai. Pek Lian mena-han jeritnya ketika jari-jari tangan itu makin menurun ke dadanya. Akan tetapi, tiba-tiba ka-kek itu menarik tangannya ketika isterinya menghardik.

"Hem, bagus, ya ? Dahulu engkau merayu dan mengatakan bahwa di dunia ini akulah wanita paling cantik! Dan sekarang, di depan hidungku engkau memuji kecantikan lain orang! Bagus, ya ? Engkau menantangku, ya ?"

"Uhh, tidak, tidak ! Jangan salah sangka, isteriku yang manis. Sampai sekarangpun, engkaulah wanita paling cantik di dunia. Gadis ini memang cantik, akan tetapi engkaulah yang paling cantik. Heh-heh!"

"Betulkah itu, kakanda ?" Si isteri merayu manja.

"Heh-heh, siapa bohong padamu?" jawab ka-kek itu dan merekapun lalu bercanda, bergelut di dalam gerobak, saling berciuman, saling cubit dan saling cakar sampai gerobak itu bergoyang - goyang dan berguncang keras!

Melihat semua ini, Pek Lian memejamkan matanya akan tetapi tidak mampu menutup telinganya yang terpaksa mendengar semua cumbu rayu mereka yang kasar itu.

Setelah permainan cinta mereka itu mereda, si isteri berkata, "Awas engkau, ya ? Sekali lagi engkau berani menyentuhnya, akan kurobek kulit yang kausentuh dan akan kupatahkan tanganmu yang menyentuh!"

Tentu saja Pek Lian bergidik ngeri, akan tetapi hatinya merasa lega juga. Kakek itu sangat takut kepada bininya yang besar cemburu itu dan hal ini telah menolongnya karena ia melihat pandang mata penuh nafsu dari kakek itu kepadanya. Akan tetapi suami isteri itu sungguh menyeramkan dan againya keduanya memang tidak normal otaknya. Mereka itu kadang - kadang bermain cinta di depannya saja, dan kadang - kadang bercekcok sampai berkelahi mati-matian.

Pek Lian merasa tersiksa bukan main. Ia tidak tahu hendak dibawa ke mana dan mau diapakan oleh suami isteri itu. Belum setengah hari ia berada di dalam gerobak tubuhnya sudah terasa gatal-gatal, kulitnya timbul bintik-bintik merah seperti digigiti nyamuk. Ia tahu bahwa hal itu disebabkan oleh hawa beracun yang memenuhi gerobak itu.

Untung bahwa ia telah memiliki tenaga sinkang yang cukup kuat sehingga ia dapat melawan hawa beracun ini. Yang amat menyiksanya hanyalah to-, tokan yang membuat kaki tangannya seperti lum-puh itu.

Pek Lian memulihkan tenaganya. Totokan itu telah mulai kehilangan kekuatannya dan jalan da^, rahnya pulih kembali. Ia diam saia, pura - pura masih lumpuh. Sampai lama ia membiarkan darahnya berjalan lancar sampai akhirnya ia merasa betapa tubuhnya telah segar dan sehat kembali.

Pek Lian menanti sampai malam tiba. Gerobak itu dihentikan oleh dua orang penawannya di tepi jalan dan seperti biasa, suami isteri itu meninggalkan gerobak untuk mencari bahan makan malam. Indah kesempatan terbaik, pikir Pek Lian dan setelah melihat mereka pergi, iapun cepat meloncat turun. Senia telah tiba dan cuaca mulai remang-remang. Akan tetapi, tiba - tiba dara ini meloncat kembali memasuki gerobak ketika ia mendengar suara kakek nenek itu tertawa - tawa dari jauh.

"Aduh, dingin sekali airnya ....... !"

Terdengar kakek itu berseru dan tahulah Pek Lian bahwa mereka itu sedang mandi. Agaknya terdanat sumber air, anak sungai atau telaga di dekat tempat itu. Iapun mengintai dari balik tirai gerobak, melihat apakah keadaannya cukup aman baginya untuk melarikan diri. Ia harus berhati-hati sekali karena kakek dan nenek itu lihai luar biasa dan kalau sampai larinya ketahuan sebelum ia pergi jauh se kali, besar bahayanya ia akan tertawan kembali.

Tiba - tiba ada angin menyambar yang membuat pintu gerobak itu bergerak dan hampir saja Pek Lian menjerit saking kagetnya ketika mendadak ada tubuh meloncat masuk dan tahu - tahu kakek kurus itu telah berdiri di pintu gerobak dalam keadaan telanjang bulat sama sekali! Badannya yang kurus itu masih basah kuyup, air masih menetes-netes dari seluruh tubuhnya. Pek Lian menutupi mulut dengan tangan menahan jeritnya dan cepat membuang muka agar tidak usah melihat tubuh telanjang itu walaupun cuaca mulai remang - remang dan ia tidak dapat melihat jelas.

"Heh - heh - heh, engkau sudah dapat bangun, manis ? Bagus, mari temani aku bersenang - senang sebentar !" Dan kakek itu lalu menubruk dan meraih tubuh Pek Lian.

"Tidak ! Jangan... !" teriaknya dan ia memapaki tubuh itu dengan pukulan tangannya.

"Plakk !" Pergelangan tangannya ditangkap dan sebelum tangan ke dua bergerak, juga pergelangan tangan ke dua ini ditangkap oleh kakek itu yang terkekeh dan ada air liur menetes dari mulutnya ketika dia mencoba untuk mencium muka nona itu. Pek Lian. meronta-ronta sekuat tenaga, melawan mati - matian dan tiba - tiba kakinya yang tertindih, tanpa disengaja, menendang sebuah benda di dalam gerobak itu.

"Prakk!" Guci kecil itu pecah dan dari dalam guci itu keluarlah berpuluh - puluh kelabang me-rah. Bau amis memenuhi ruangan gerobak itu dan Pek Lian menggigil ketakutan melihat kelabang-kelabang besar merah itu merayap cepat dan ad. yang merayap ke pakaiannya, bahkan memasuki lubang celana dan bajunya. Ia berteriak - teriak dan mencoba untuk mengusir binatang - binatang itu.

"Heh - heh - heh, ha - ha - ha !" Kakek itu mera-sa girang bukan main dan agaknya dia seperti seo-rang anak kecil yang menemukan permainan baru. Sejenak dia lupa akan rangsangan nafsu berahinya dan dia merasa gembira sekali melihat gadis itu tersiksa seperti itu. Sambil berjongkok di dekat Pek Lian, dia terkekeh - kekeh melihat gadis itu meng-geliat-geliat kengerian dikeroyok puluhan ekor ke-labang itu !

Dan Pek Lian sekali ini baru dapat mengalami apa artinya rasa takut dan jijik. Dari takutnya ia sampai jatuh pingsan ! Melihat gadis ini pingsan, kakek itu seperti kehilangan kegembi-raannya dan teringat lagi akan nafsu berahinya maka diapun mulai meraba - raba hendak menang-galkan pakaian gadis itu. Akan tetapi, baru dua buah kancing baju dibukanya, tiba - tiba dia menarik kembali tangannya mendengar isterinya berteriak-teriak dari kejauhan.

"Bangsat penipu pembohong ! Laki - laki pena-kut dan pengecut! Di mana kau ? Akan kurobek mulutmu yang membohongiku. Di mana ada buaya di sungai itu ? Sampai kehabisan napas aku menye-lam dan mencari - cari tanpa hasil. Kau pembo-hong ! Di mana kau ? Jangan lari !"

Mendengar teriakan isterinya ini, kakek itu men-jadi ketakutan dan cepat diapun meloncat keluar dari dalam gerobak dan melarikan diri dalam kea-daan masih telanjang bulat, meninggalkan Pek Lian yang masih rebah pingsan di dalam gerobak.

Nenek itu meloncat masuk ke dalam gerobak. Matanya terbelalak melihat binatang - binatang itu terlepas dan berkeliaran di situ.

"Wah, celaka, siapa berani melepaskan peliharaan kesayanganku, hah ?"

Cepat ia mengambil sebuah botol kecil dan menuangkan isinya yang berupa cairan ke dalam mangkok. Bau yang amis busuk memenuhi tempat itu dan sungguh mengherankan sekali, semua kela-bang itu cepat - cepat merayap datang dan mema-suki mangkok itu. Nenek itu menangkapi dengan jari - jari tangan yang cekatan sekali dan tak lama kemudian semua kelabang sudah disimpannya kem-bali ke dalam sebuah guci kosong.

Kemudian ia memperhatikan keadaan Pek Lian dan alisnya yang tebal itu berkerut. Apa lagi keti-ka ia melihat genangan air di dalam gerobak. Ia lalu meloncat turun dan kembali terdengar suaranya memaki-maki.

"Bangsat cabul tak tahu diri! Di mana kau ?"

Tak lama kemudian, nenek itu mendapatkan suaminya sedang enak - enak memancing ikan di tepi sungai sambil bersiul - siul, seolah - olah tidak pernah melakukan sesuatu yang salah. Akan tetapi, agaknya isterinya tidak dapat dikibuli begitu saja dan segera telinga sang suami dijewer dan dia di-seret oleh isterinya yang galak itu kembali ke peda-ti, yang segera diberangkatkan oleh nenek yang marah - marah itu.

Dengan terjadinya peristiwa itu, pengawasan si nenek menjadi lebih ketat sehingga kakek itu tidak mempunyai kesempatan sama sekali untuk menco-ba - coba mendekati Pek Lian. Hal ini tentu saja amat menguntungkan Pek Lian, akan tetapi di sam-ping itu, juga ia mengalami penyiksaan lain sebagai akibat dari rasa cemburu dan benci dari nenek iblis. Karena cemburu, kini sikap nenek iblis itu terhadap Pek Lian menjadi sadis. Pada hari ke tiga, Pek Lian tidak dibelenggu kedua lengannya lagi, melainkan diharuskan duduk di bagian depan, di atas tempat duduk kusir dan kaki kanannya di-rantai dengan tiang gerobak. Ia diharuskan men-jadi kusir, mengamati dan mengendalikan kuda penarik gerobak. Lebih celaka lagi, nenek itu telah menotok urat gagunya sehingga ia tidak mampu mengeluarkan suara, hanya duduk dengan anteng-nya di bangku kusir sementara itu suami isteri iblis itu bersenang - senang di dalam gerobak. Pek Lian masih selalu menanti saat baik. Bagaimanapun juga keadaannya, gadis perkasa ini tidak pernah putus asa. Selama hayat dikandung badan, ia tidak akan pernah putus harapan. Pada suatu ketika, ia pasti akan dapat meloloskan diri. Ia tidak mau mati konyol dengan melakukan perlawanan yang sia - sia belaka terhadap suami isteri iblis yang amat lihai itu.

Bagaimanapun juga, ia kini terlindung oleh rasa cemburu isteri itu terhadap suaminya. Bahaya yang terbesar telah tersingkir dan iapun tidak bodoh untuk dapat menduga bahwa suami isteri itu tidak menghendaki kematiannya, karena kalau demikian halnya, tidak mungkin ia dibiarkan hidup sampai tiga hari lamanya.

Hari itu, sejak pagi telah turun hujan. Akan te-tapi suami isteri iblis itu membiarkan Pek Lian tetap duduk di luar dan kehujanan sampai pakaian-nya basah kuyup. Juga nenek itu tidak memper-bolehkannya menghentikan gerobak untuk berte-duh. Tentu saja keadaan Pek Lian ini membuat orang - orang yang melihatnya menjadi terheran-heran. Sementara itu, di dalam gerobak terjadi pu-la perdebatan antara suami dan isterinya yang galak itu.

"Eh, isteriku yang manis, yang denok, di luar hujan deras sekali. Apakah akan kaubiarkan saja anak ayam itu kehujanan di luar ? Ia bisa masuk angin dan sakit"

"Huh ! kau perduli apa sih ? Kau kasihan ya ? Kau cinta padanya ya ?"

"Eh, eh... jangan marah dulu dong! Aku hanya bilang kalau ia sakit dan tidak dapat mengendalikan kuda, kita akan kehilangan seorang kusir yang can... eh,yang cakap."

"Sudah, jangan cerewet! Biarkan saja. Hayo kita bersenang-senang, di dalam sini kan hangat, mari kita main adu kelabang !"

"Isteriku yang manis, mengapa tidak dibunuh saja biar lekas beres dan tidak mengganggu ?"

"Manusia tolol engkau! Lupakah engkau bah-wa kita pernah dipesan oleh Sam - suci ? Aku akan diberi hadiah ramuan awet muda yang diciptakan-nya, apa bila kita dapat mencarikan seorang gadis muda cantik keturunan bangsawan yang bertulang bagus dan berdarah murni, juga mempunyai ke-pandaian tinggi. Nah, inilah gadis itu!"

"Alaaaa, awet muda. Mana bisa orang tetap awet muda kalau usianya sudah tua ?" kakek itu menggerutu.

Mereka tidak dapat mematahkan rantai yang membelenggu kakinya, maka jalan satu - satunya adalah membelokkan kuda menuju ke kota agar kalau ada orang melihat keadaannya, ia akan menarik perha-tian orang dan siapa tahu kalau di antara mereka itu terdapat pendekar-pendekar yang sakti dan dapat membebaskannya dari cengkeraman suami isteri iblis itu. Kini ia sudah tahu mengapa ia dita-wan dan tidak dibunuh. Kiranya iblis betina itu mempunyai niat untuk "menjualnya" kepada seo-rang iblis lain yang disebut Sam - suci oleh iblis betina itu, untuk ditukar ramuan obat awet muda.

Hujan masih deras ketika gerobak itu memasuki pintu gerbang sebuah kota. Agaknya karena hujan yang mendatangkan hawa dingin, suami isteri iblis itu masih enak - enak tidur mendengkur, tidak tahu bahwa gerobak mereka telah disesatkan memasuki kota besar, padahal mereka selalu ingin menjauhi tempat ramai selama ini. Orang - orang yang ber-teduh di tepi jalan memandang dengan heran ke-pada gadis yang menjalankan gerobaknya dan membiarkan dirinya ditimpa air hujan sampai ram-but dan pakaiannya basah kuyup itu.

Kota yang dimasuki gerobak itu adalah Lok-yang, yang merupakan kota kedua setelah Tiang-an yang menjadi kota raja. Tentu saja Pek Lian yang menjadi puteri seorang menteri, mengenal ko-ta besar ini dan diam - diam ia mengharapkan un-tuk dapat bertemu dengan orang - orang gagah yang akan dapat membantunya membebaskan diri dari kedua orang iblis itu. Jantungnya berdebar tegang, akan tetapi ia merasa lega mendengar betapa kedua orang iblis itu masih enak-enak tidur mendengkur. Mereka itu sungguh seperti bukan manusia lagi, pikir Pek Lian. Bermain cinta dengan kasar tanpa mengenal malu, bercekcok dan berkelahi, selalu bersaing, bahkan dalam mendeng-kur saja mereka seperti bersaing keras !

BIARPUN waktu itu sudah tengah hari, akan tetapi cuacanya agak dingin dan agak gelap karena sejak pagi hujan. Kota yang besar, penuh dongan toko - toko, rumah- rumah makan dan juga rumah - rumah penginapan itu nampak sunyi karena yang berani berlalu - lalang hanya mereka yang membawa payung dan yang naik kereta. Sebagian besar orang berteduh di emper - emper toko dan jalan raya yang cukup lebar itu telah digenangi air.

Ketika gerobak yang dikendarai Pek Lian me-masuki pintu gerbang, tak lama kemudian masuk pula sebuah kereta indah yang dihias tanda - tanda kebesaran. Kereta itu dikawal oleh belasan orang perajurit yang berpakaian serba mewah dan indah gemerlapan. Di sebelah kanan kiri kereta itu nampak dua orang gadis cantik yang berpakaian indah se-perti puteri - puteri bangsawan istana atau penga-wal-pengawal wanita istana yang berkedudukan tinggi. Di belakang masing - masing gadis ini ter-dapat seorang perajurit yang melindungi mereka dari air hujan dengan sebuah payung bergagang panjang.

Perlakuan ini saja membuktikan bahwa dua orang gadis itu bukanlah sembarang pengawal, setidaknya tentu pengawal- pengawal seorang puteri istana yang dipercaya. Melihat pedang panjang tergantung di punggung dua orang gadis itu, makin mudah diduga bahwa mereka itu tentulah pengawal-pengawai istana yang penting.

Karena kereta indah itu mendahuluinya, Pek Lian dapat memperhatikan kereta di depannya itu. Ia melihat betapa orang-orang yang berteduh di tepi jalan, membungkuk dengan hormat ketika ke-reta lewat. Ini hanya menunjukkan bahwa penum-pang kereta itu tentulah seorang pejabat tinggi. Dan melihat dua orang pengawalnya, mudah di-duga bahwa penumpang itu tentulah seorang wanita bangsawan. Pek Lian menduga-duga. Siapa-kah wanita bangsawan tinggi di dalam kereta itu ?

Pek Lian memandang kepada dua orang penga-wal wanita itu dengan penuh perhatian. Sejak melihatnya tadi, ia merasa seperti telah menge-nal atau setidaknya pernah melihat mereka ini, akan tetapi ia lupa lagi entah kapan dan di mana. Kini ia memandang lagi penuh perhatian dan karena kini ia memandang dari belakang, sege-ra ia tertarik oleh sesuatu pada rambut mereka itu. Tentu saja! Tusuk konde batu giok! Sama benar bentuknya dengan tusuk konde yang dipakai oleh delapan orang wanita berpakaian sutera hitam itu, yang pernah menawannya. Hanya bedanya, dua orang gadis ini masih muda, cantik dan pakaian-nya indah. Karena ia sendiri tidak tahu harus me-nujukan gerobaknya ke mana, maka kuda yang di-diamkannya itu otomatis mengikuti jalannya kereta di sebelah depan.

Kereta mewah itu berhenti di pintu gerbang se-buah gedung besar dengan pekarangan yang luas dan indah. Pek Lian juga menghentikan gerobak-nya di belakang kereta itu sambil memandang dengan penuh perhatian. Pintu kereta terbuka dan turunlah seorang wanita tua yang berwibawa, ber-pakaian indah dan bersikap tenang sekali. Wanita tua ini menengok satu kali ke arah gerobak, lalu melangkah ke depan, disambut oleh seorang laki-laki setengah tua yang agaknya menjadi tuan ru-mah penghuni gedung itu.

Pek Lian melihat nenek ini dan juga pria itu, hatinya berdebar tegang. Ia mengenal dengan baik siapa adanya mereka, walau-pun ia tidak pernah berkenalan dekat dengan mere-ka. Pria setengah tua yang kelihatan gagah itu, yang us;anya antara limapuluh lima tahun, adalah Wakil Perdana Menteri Kang yang amat terkenal karena selain wakil perdana menteri ini amat cerdik pandai, juga dia terkenal sebagai seorang pembesar atau pejabat yang adil, jujur dan set;a. Semua pe-jabat di kota raja segan kepadanya, bahkan kaisar sendiripun menaruh hormat kepada wakil perdana menteri ini.

Sedangkan nenek itupun pernah dilihat oleh Pek Lian, bahkan nama nenek ini sudah lama dikenalnya. Nenek ini dikenal sebagai Siang Houw Nio - nio, bukan nenek sembarangan karena ia adalah bibi dari kaisar sendiri ! Bahkan, biarpun tidak secara resmi, terdengar desas - desus bahwa nenek inilah yang bertanggung jawab atas keaman-an keluarga kaisar di istana karena nenek ini me-mang memiliki ilmu kepandaian yang amat- lihai.

Pek Lian hanya dapat memandang dengan me-longo ketika nenek itu disambut dengan penuh kehormatan oleh pihak tuan rumah, kemudian ne-nek itu diiringkan masuk ke dalam gedung, dika-wal oleh dua orang gadis cantik yang berjalan gagah di belakangnya. Setelah mereka itu lenyap, ke dalam gedung, barulah Pek Lian sadar bahwa ia sejak tadi telah duduk bengong di atas gerobak yang dihentikannya di belakang kereta. Dan baru ia tahu bahwa para pengawal yang jumlahnya em-patbelas orang tadi mulai memperhatikan gerobak-nya. Bahkan empat orang segera melangkah lebar menghampirinya.

"Heii, nona ! Sejak tadi engkau mengikuti kami, ada urusan apakah ?" tegur seorang di antara me-reka. Mereka tadi ketika mengawal kereta, meli-hat gerobak ini, akan tetapi mereka tidak berani membikin ribut karena takut kepada Siang Houw Nio - nio yang mereka kawal, juga karena dua orang nona pengawal pribadi nenek itu diam saja, mere-kapun tidak berani banyak bertingkah. Sekarang, setelah nenek penghuni kereta bersama para pe-ngawal pribadinya telah diterima oleh pihak tuan rumah dengan selamat, barulah mereka berani ribut - ribut untuk menyatakan rasa penasaran dan mereka menghampiri gerobak yang masih berhenti tak jauh dari pintu gerbang itu.

"Jangan-jangan ia menyelidiki perjalanan kita !" kata seorang di antara mereka sambil. mendekat.

"Eh, kenapa kakimu dirantai, nona ?" tanya orang ke tiga dan kini ada enam orang pengawal ramai-ramai mendekat karena tertarik oleh seru-an terakhir ini.

Pek Lian tidak dapat banyak mengharapkan orang- orang seperti para pengawal ini. Ia sudah tahu sampai di mana kepandaian perajurit - perajurit pengawal ini. Kalau dua orang gadis tadi, barulah boleh diharapkan dapat menolongnya. Akan tetapi, betapapun juga, ia melihat kesempatan untuk me-nimbulkan keributan dan menarik perhatian, maka mendengar pertanyaan itu, ia lalu menoleh dan me-nudingkan jari telunjuknya ke dalam gerobak.

Isyarat ini cukup bagi para perajurit pengawal. Bagaikan pendekar - pendekar atau pahlawan - pah-lawan yang hendak menolong seorang gadis manis yang tersiksa, mereka itu lalu mendobrak pintu dengan gedoran - gedoran keras.

"Penjahat-penjahat keji yang berada di dalam gerobak ! Hayo keluar menerima hukuman !" teriak mereka sambil beramai-ramai mendorong pintu gerobak yang terkunci dari dalam itu.

Tiba-tiba terdengar teriakan melengking dari dalam, me-ngejutkan para perajurit pengawal karena teriakan seperti itu hanya dapat dikeluarkan oleh mulut bi-natang-binatang buas. Dan tiba-tiba saja pintu gerobak itu terbuka lebar dari dalam, disusul beri kelebatnya dua bayangan orang dan empat orang perajurit berteriak dan roboh, menggigil kedinginan terkena pukulan beracun !

Tentu saja hal ini amat mengejutkan sepuluh orang perajurit pengawal la-innya dan mereka sudah cepat mencabut senjata lalu mengeroyok kakek dan nenek yang telah me-robohkan empat orang kawan mereka itu. Terja-dilah perkelahian yang ramai, di mana sepuluh orang pengawal dihadapi oleh dua orang kakek dan nenek yang amat lihai.

Kakek itu berkelahi sambil terkekeh - kekeh dan seperti biasa, dia memperma-inkan para pengeroyoknya, membuat mereka jatuh bangun hanya dengan menjegal, mendorong dan tidak menjatuhkan pukulan maut karena memang dia ingin puas mempermainkan dulu para pengero-yoknya sebelum membunuh mereka. Sebaliknya, nenek itu menggerakkan kaki tangannya dengan buas sambil memaki - maki dan dalam waktu sing-kat, sudah ada dua orang lagi perajurit pengawal yang dirobohkan oleh pukulannya yang mengan-dung hawa beracn. Suasana menjadi ribut karena para penjaga gedung itupun sudah berlari - lari mendatangi sambil memegang senjata.

Kembali sudah jatuh dua orang perajurit penga-wal sehingga kini sudah ada delapan orang meng-geletak keracunan oleh pukulan suami isteri yang lihai itu. Keributan ini tentu saja segera diketahui oleh para pengawal - pengawal dalam gedung dan merekapun cepat berlari keluar. Kini kakek dan nenek itu dikeroyok oleh puluhan orang perajurit pengawal dan penjaga. Akan tetapi, para perajurit itu sama saja dengan menyerahkan nyawa mencari kematian. Makin banyak kini yang roboh sehingga mayat mereka malang melintang memenuhi ha-laman yang luas itu. Melihat ini semua, diam - diam Pek Lian bergidik. Kakek dan nenek itu benar-benar amat keji dan juga amat lihai.

Tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring dan nampak berkelebat bayangan merah dan putih meluncur keluar dari dalam gedung. Pek Lian melihat bahwa yang bergerak cepat sekali itu ternyata adalah dua orang gadis pengawal tadi. Tahu - tahu mereka telah berada di situ dan mereka sudah me-ngenal keadaan dengan pandang mata mereka yang tajam dan berpengalaman.

"Pek - cici, tentu mereka inilah yang telah mem-bunuh orang - orang kita ! Manusia - manusia iblis dari Ban - kwi - to !"

"Benar, Ang - siauwmoi! Kau bantu para pengawal, biar aku bebaskan gadis tawanan itu !" kata wanita baju putih, sedangkan wanita yang bajunya merah telah mencabut pedang panjangnya dan dengan gerakan yang amat cepat dan dahsyat, ia sudah menerjang kakek nenek iblis dengan serangan maut.

Pedangnya membuat gulungan sinar dan mengeluarkan suara bercicit, tanda bahwa ilmu pedang gadis baju merah ini amat lihai dan digerakkan oleh tenaga sinkang yang amat kuat. Sementara itu, gadis baju putih sekali meloncat telah tiba di dekat Pek Lian. Dengan cekatan ia mematahkan rantai kaki Pek Lian dengan pedangnya yang ternyata terbuat dari pada baja yang amat kuat itu, dan melihat keadaan Pek Lian, iapun lalu menotok dan mengurut leher Pek Lian sehingga Pek Lian dapat mengeluarkan suara lagi.

"Terima kasih," kata Pek Lian.

"Tidak perlu, kalau engkau ada kepandaian, lebih baik bantu kami menghadapi sepasang iblis itu!" jawab si wanita baju putih yang kini segera meloncat turun dan membantu gadis baju merah dengan putaran pedangnya yang ternyata tidak kalah hebatnya dibandingkan dengan si baju merah.

Dua orang gadis itu memang benar amat lihai. Terutama sekali ilmu pedang mereka sedemikian hebatnya sehingga sepasang iblis itupun berkali-kali mengeluarkan seruan kaget dan nyaris menjadi korban pedang kalau mereka tidak cepat - cepat menghindarkan diri dengan cekatan sambil mem-balas dengan mengawut - awut jarum, pasir dan asap beracun.

Para pengawal yang mengeroyok hanya berani menggunakan senjata - senjata panjang seperti tombak untuk menyerang kakek daii nenek itu dari jarak jauh setelah melihat betapa pe-rajurit pengawal yang berani mehyerang terlalu dekat tentu roboh dalam keadaan mengerikan, men-jadi korban pukulan beracun. Melihat betapa se-pasang iblis itu terdesak, akan tetapi masih amat sukar bagi dua orang gadis dan para pengawal un-tuk merobohkannya, Pek Lian yang merasa sakit hati terhadap mereka lalu meloncat turun dari atas gerobak, dan menyambar sebatang pedang yang berserakan di halaman.

Banyak senjata para penga-wal yang sudah roboh itu berserakan di tempat itu dan pedangnya sendiri entah dibuang ke mana oleh suami isteri iblis itu. Dengan pedang di ta-ngan, Pek Lian menyerbu dan ikut mengeroyok. Tentu saja serangan Pek Lian dengan ilmu pedang yang tidak boleh dipandang ringan ini membuat suami isteri dari Ban-kwi-to menjadi semakin terdesak.

Bagaimanapun juga, ilmu silat pedang Pek Lian adalah ilmu pedang yang masih aseli dan bersih, mengandung dasar yang kuat. Dan selama ini ia telah memperoleh banyak pengalaman dalam pertempuran-pertempuran melawan musuh-musuh yang tangguh sehingga ia memperoleh banyak kema-juan pesat. Maka, pengeroyokannya juga terasa berat oleh suami isteri iblis itu sehingga mereka semakin terdesak.

Karena khawatir kalau-kalau sampai terluka dan roboh, tiba-tiba nenek itu mengeluarkan sebuah tabung bambu kuning dari saku jubahnya yang kedodoran, dan membuka tutupnya.

Melihat ini, Pek Lian yang selama tiga hari berkum-pul dengan mereka dan sudah tahu akan isi tabung bambu itu, berteriak kaget, "Awas binatang berbisa !!"

Teriakannya itu ternyata benar karena dari ta-bung bambu itu keluar beterbangan beratus - ratus lebah yang warnanya putih yang mengamuk dan menyerang para pengeroyok. Hebatnya, di antara para perajurit yang terkena sengatan lebah itu, se-ketika roboh berkelojotan, tubuhnya kejang - kejang !

Bukan main hebatnya bisa dari sengatan lebah pu-tih ini. Yang belum menjadi korban sengatan lebah, segera melarikan diri ke dalam gedung, termasuk Pek Lian dan dua orang wanita tokoh tusuk konde batu giok itu, dikejar oleh lebah - lebah yang marah.

Sementara itu, melihat jatuhnya beberapa orang korban sengatan lebahnya, kakek dan nenek itu se-perti kumat gilanya. Mereka tertawa - tawa, ber-tepuk - tepuk tangan dan bersorak, lalu berjongkok dan menonton orang-orang yang berkelojotan dan kejang-kejang sebagai akibat sengatan lebah, ke-lihatan gembira bukan main seperti anak-anak ke-cil menikmati cacing - cacing yang berkelojotan ter-kena abu panas. Mereka agaknya seperti telah me-lupakan keadaan sekeliling mereka, karena asyik dengan permainan baru ini. Memang nampaknya dua orang ini seperti iblis yang amat kejam. Akan tetapi, bukankah kesadisan, yaitu rasa gembira me-lihat orang atau mahluk lain tersiksa ini telah ada pada diri setiap orang manusia sejak kanak - kanak ? Hanya agaknya pada suami isteri ini kesadisan itu menonjol sekali sehingga kelihatannya luar biasa dan keterlaluan.

Sementara itu, nenek Siang Houw Nio - nio yang berada di dalam gedung, sedang bercakap - cakap dengan Wakil Perdana Menteri Kang. Mereka bica-ra dengan serius sekali dan wajah keduanya agak muram dan nampak bersemangat. Agaknya mereka saling berbantah dan kini terdengar suara nenek yang berwibawa itu, yang bicara sambil menatap tajam wajah wakil perdana menteri itu, suaranya terdengar lantang dan berpengaruh.

"Menteri Kang! Aku pribadi dapat mengerti akan perasaan hatimu. Aku mengerti, apa yang men-jadi sebab sesungguhnya dari permintaanmu untuk pensiun itu. Alasan yang kauajukan bahwa engkau sudah merasa terlalu tua dan tidak sanggup bekerja lagi adalah alasan yang dicari - cari saja. Aku tahu bahwa sebab yang sesungguhnya adalah karena se-mua nasihatmu tidak pernah digubris oleh kaisar, bukankah demikian? Di dalam batinmu, engkau selalu berselisih pendapat dengan Sri baginda dan hal itu amat mengesalkan hatimu. Bukankah demi-kian ? Apa lagi setelah sahabat eratmu, yaitu Men-teri Ho, ditangkap karena dianggap menentang kebijaksanaan pemerintah. Dan karena engkau setia, muka dari pada engkau harus mengalami tekanan batin, lebih baik engkau mengundurkan diri saja. Bukankah demikian, Wakil Perdana Menteri Kang !'"

Ucapan nenek itu begitu terus terang dan ditujukan langsung tanpa pura-pura lagi sehingga bagi men-teri setia itu terasa seolah-olah ada todongan pedang langsung ke ulu hatinya.

Mendengar ucapan itu, pembesar ini agak pucat mukanya dan sampai lama dia menundukkan muka-nya. Dia maklum bahwa akan percuma saja untuk menyangkal terhadap puteri yang amat cerdas ini. Akhirnya, setelah menarik napas panjang, diapun berkata, suaranya terdengar berat membayangkan keadaan hatinya yang terhimpit,

"Tuan puteri, hamba mengerti bahwa sebagai bibi dan pelindung sri baginda kaisar, paduka memiliki pandangan yang luas, waspada dan bijaksana. Oleh karena itu, tentu paduka juga maklum bahwa hamba sama sekali tidak mempunyai niat yang kurang baik terhadap sri baginda. Di dalam lubuk hati hamba, yang ada hanyalah kesetiaan, sifat yang dijunjung oleh nenek moyang hamba. Selama ini, selagi mendampingi sri baginda, hamba selalu berbuat baik dan bijaksana agar dapat meraih rasa hormat dan cinta dari rakyat. Kekuatan negara terletak kepada kekuatan kaisarnya dan kekuatan kaisar timbul dari kesetiaan rakyat yang mencintanya. Akan tetapi... ah, bagaimana hamba harus mengatakannya ?"

"Lanjutkanlah, Menteri Kang. Jangan khawatir, engkau bicara dengan orang yang mempergunakan hati nuraninya, bukan hanya mempergunakan perasaannya."

"Bagaimana hati hamba tidak akan berduka me-lihat betapa sri baginda agaknya hanya selalu me-nuruti keinginan beberapa orang kepercayaan saja. Mengejar kesenangan dan kurang mempertimbang-kan usul - usul mereka yang dipercaya sehingga sering kali muncul keputusan dan perintah yang amat berlawanan dengan kehendak rakyat jelata. Hal itu membuat negara kita menjadi tegang dan kacau seperti sekarang ini. Hamba adalah wakil perdana menteri, tentu ikut bertanggung jawab atas keadaan negara. Akan tetapi apa yang dapat hamba lakukan kalau semua usul hamba tidak di-perhatikan ? Kalau semua nasihat hamba dikalah-kan oleh bujuk rayu para penjilat ? Lebih baik hamba mengundurkan diri saja. Bukan karena ham-ba ingin melarikan diri atau karena kecewa, mela-inkan karena kehadiran hamba di dekat sri baginda sama sekali tidak ada artinya lagi."

"Aku dapat mengerti perasaan hatimu, akan te-tapi jalan pikiranmu yang demikian itu sesungguh-nya keliru sama sekali, menteri yang baik. Kalau engkau mundur, apakah keadaan akan menjadi le-bih baik ? Tentu akan semakin parah. Aku sendiri tidak berhak mencampuri urusan pemerintahan, akan tetapi aku tahu bahwa kalau engkau mundur, berarti makin berkurang pula menteri yang berani memberi ingat dan menegur sri baginda kalau be-liau melakukan kesalahan dalam tindakannya.Betapapun juga, usia sri baginda masih terlalu muda sehingga beliau perlu dibimbing dan dinasihati oleh orang-orang yang bijaksana dan berpengalaman seperti engkau. Sayang bahwa aku hanya mahir dalam urusan ilmu silat, sedikitpun aku tidak tahu akan seluk-beluk pemerintahan, maka aku minta dengan sangat kepadamu, Menteri Kang, secara pribadi dan demi persahabatan kita, agar engkau suka mempertahankan kedudukanmu, mendampingi sri baginda. Biarlah kita bekerja sama. Aku yang mendampingi dan menjaga keselamatan sri bagin-da, sedangkan engkau yang menjaga kebijaksanaan-nya."

Setelah bicara dengan panjang lebar, nenek itu menghapus sedikit peluh dari dahi dan lehernya.

"Akan tetapi, tuan puteri... paduka tentu mengenal kekerasan hati sri baginda. Mungkin saja peringatan hamba akan membuat hamba dijebloskan pula ke dalam penjara seperti Menteri Ho yang baik dan jujur itu"

"Hemm, kalau begitu engkau merasa takut dan ngeri ? Engkau lebih suka melihat keadaan menjadi semakin buruk dari pada kehilangan nyawamu un-tuk negara ? Inikah ucapan Wakil Perdana Men-teri Kang yang terkenal setia dan berbudi itu ?"

"Bukan begitu, tuan puteri..."

Akan tetapi pembesar ini tidak melanjutkan kata- katanya karena pada saat itu terdengar suara hiruk- pikuk dari para pengawal dan penjaga yang berlarian ke dalam gedung, dikejar oleh lebah-le-bah berbisa. Bahkan di ruangan depan gedung itu, terdapat beberapa orang pengawal yang jatuh ber-gelimpangan dan sekarat.

Dua orang gadis bertusuk konde batu giok su-dah meloncat ke dalam dan dengan singkat men-ceritakan kepada nenek itu tentang pengamukan suami isteri dari Ban - kwi - to yang memperguna-kan lebah - lebah berbisa untuk merobohkan banyak sekali pengawal. Mendengar keterangan dua orang pengawal pribadi yang juga menjadi murid - murid kesayangannya itu, Siang Houw Nio-nio menjadi marah sekali. Dikibaskannya lengan bajunya.

"Pek-ji! Ang-ji! Apakah menghadapi iblis Ban- kwi-to saja kalian tidak mampu mengatasi-nya dan perlu menggangguku ?" bentaknya penasaran.

Biasanya, kedua orang muridnya ini sudah dapat mengatasi segala persoalan yang timbul, karena itu ia sudah menaruh kepercayaan besar dan bahkan mengangkat mereka menjadi pengawal-pengawal pribadinya agar ia tidak usah turun ta-ngan sendiri kalau timbul persoalan. Tentu saja ia merasa penasaran dan marah melihat kedua orang murid yang diandalkannya ini sekarang menjadi kacau hanya oleh amukan dua orang iblis Ban-kwi-to saja.

"Maaf, subo, sebetulnya teecu berdua tidak akan kalah kalau saja mereka itu mempergunakan ilmu silat biasa. Akan tetapi mereka melepaskan lebah yang ratusan ekor banyaknya, lebah berbisa yang mengerikan sehingga sudah banyak perajurit yang roboh dan keracunan. Teecu berdua kewalahan untuk mengusirnya."

Mendengar laporan muridnya yang berbaju putih yang diberi nama panggilan Pek In (Awan Putih) sedangkan yang berbaju merah disebut Ang In (Awan Merah), Siang Houw Nio - nio mengerutkan alisnya.

"Lebah berbisa ...... ? Apakah berwarna putih dan yang kena sengatannya terus kejang - kejang karena panas yang hebat dan berkelojotan, lalu kulit para korban juga menjadi putih ?"

"Benar, subo," kata Ang In.

"Hemm, tentu lebah beracun dari pohon - pohon arak di Sin - kiang yang amat berbahaya. Dalam waktu tiga jam kalau tidak diberi obat penawarnya, luka sengatan itu akan menjadi busuk dan sukar ditolong lagi. Menteri Kang, apakah engkau mempunyai arak yang tua, keras dan wangi ? Cepat keluarkan dan bawa ke sini. Suruh semua orang membawa obor, karena hanya dengan api sajalah lebah-lebah itu dapat diusir dan mereka sangat suka kepada arak wangi dan keras. Cepat!"

Wakil Perdana Menteri Kang lalu memberi pe-rintah kepada pengawal pribadinya dan tak lama kemudian nenek bangsawan itu telah menuangkan arak wangi ke dalam guci arak yang indah buatannya, kuno dan nyeni. la membawa keluar guci arak itu dan meletakkannya di ruangan depan. Dan terjadilah keanehan.

Bau arak yang harum itu agaknya menarik lebah - lebah putih itu yang beterbangan dengan cepatnya menuju ke guci arak itu dan sebentar saja semua lebah mengerumuni guci dan mengeroyok arak harum itu seperti semut - semut mengerumuni gula. Setelah semua lebah berkumpul di situ, Siang Houw Nio - nio lalu menyingsingkan lengan bajunya dan dengan kedua tangannya ia meraup lebah - lebah itu dan memasukkannya ke dalam sebuah botol besar, kemudian iapun keluar membawa botol terisi lebah - lebah putih itu.

Di halaman depan, suami isteri iblis itu masih seperti orang gila, berjongkok dan tertawa terpingkal- pingkal melihat para korban yang berkelojotan di atas tanah. Memang ada lucunya melihat muka yang tertarik- tarik itu dan kaki tangan yang kejang-kejang, akan tetapi bagi orang biasa, tentu rasa ngeri dan kasihan akan mengusir semua bagian yang lucu.

"Heh-heh-heh, lihat hidungnya ! Heh-heh, hidungnya jadi bengkok!" kata nenek itu sambil terpingkal- pingkal.

"Dan yang sana itu, kakinya menendang-nendang, ha-ha, agaknya dia mimpi belajar ilmu tendangan baru yang sakti, ha-ha-ha!" suaminya juga tertawa bergelak melihat tingkah laku seorang korban lain.

"Hemm, kiranya tak salah dugaanku. Im-kan Siang-mo yang datang mengacau, sungguh berani mati sekali!" nenek bangsawan itu berkata.

Suami isteri itu terkejut dan cepat melompat berdiri, berdampingan menghadapi nenek itu, me-mandang heran bahwa ada seorang yang mengenal julukan mereka di tempat ini. Akan tetapi ketika mereka melihat nenek yang berpakaian indah dan bersikap penuh wibawa itu, mereka berdua saling pandang dan nampak terkejut, lalu dengan sikap canggung keduanya menjura ke arah nenek itu.

"Bagaimana toanio dapat mengenal Im - kan Siang - mo ?" tanya nenek itu dengan suara parau. Siang Houw Nio - nio tersenyum.

"Memang baru sekarang aku dengan sial bertemu dengan kalian, akan tetapi siapakah yang tidak pernah mendengar nama kalian sebagai tokoh - tokoh Ban - kwi - to ? Kalian mempunyai ciri - ciri badan yang mudah di-kenal. Im - kan Siang - mo, Sepasang Iblis dari A-khirat, juga suami isteri Bouw Mo - ko dan Hoan Mo - li."

"Engkau mengenal kami, lalu mau apa ?" tiba-tiba nenek iblis itu menantang.

Siang Houw Nio - nio tetap tersenyum dengan tenang. "Lihat, tidak kenalkah kalian kepada lebah-lebah ini lagi ?"

Melihat betapa lebah - lebah putih itu berada di dalam botol yang dipegang oleh si nenek sakti, suami isteri itu menjadi marah sekali. "Kembali-kan lebah - lebahku !" bentak Hoan Mo - li, nenek gendut itu sambil menyerang, diturut pula oleh suaminya. Lebah - lebah itu adalah binatang - bi-natang peliharaan mereka yang menjadi sahabat-sahabat baik dan bahkan merupakan senjata mere-ka yang terampuh dalam menghadapi lawan tang-guh, dan mereka memperoleh lebah - lebah itu de-ngan amat sukar, bahkan dengan taruhan nyawa. Belum lagi waktu yang dipergunakan untuk men-jinakkan mereka yang membutuhkan ketelitian, ke-sabaran dan juga mengandung bahaya. Oleh kare-na itu, melihat betapa lebah - lebah itu berada di tangan nenek bangsawan itu, tentu saja mereka menjadi marah dan menyerang dengan dahsyat dan mati - matian.

Akan tetapi, suami isteri yang mempunyai pukulan- pukulan beracun itu sekarang seolah-olah ketemu gurunya. Pada hakekatnya, dasar ilmu si-lat dari tokoh - tokoh Ban - kwi - to ini tidaklah ter-lalu tinggi. Yang membuat mereka berbahaya bu-kanlah kelihaian ilmu silat mereka, melainkan ra-cun - racun yang mereka pergunakan itulah.

Kini, berhadapan dengan Siang Houw Nio - nio yang memiliki tingkat ilmu silat tinggi, mereka itu mati kutu. Puteri tua yang menjadi bibi dan juga pe-lindung kaisar ini ternyata amat lihai. Ia menghadapi pengeroyokan dua orang itu hanya dengan tangan kanan saja, sedangkan tangan kirinya dipa-kai untuk memegang botol terisi lebah - lebah putih. Biarpun demikian, dengan langkah-langkah ajaib, ia selalu dapat menghindarkan diri dan kedua orang suami isteri iblis itu tidak pernah mampu menyen-tuhnya.

Sampai tigapuluh jurus lebih suami isteri itu mendesak tanpa ada gunanya sama sekali. Tiba-tiba, Siang Houw Nio - nio yang tadi hanya ingin melihat dasar - dasar gerakan mereka dan mengu-kur tingkat mereka, meloncat ke pinggir sambil berseru, "Berhenti!!"

Seruannya mengandung tenaga khikang yang demikian kuatnya sehingga dua orang lawannya itu, mau atau tidak, otomatis berhenti bergerak dan memandang kepadanya dengan bengong.

"Kita tukar lebah - lebah peliharaan kalian ini dengan obat pemunahnya untuk menyembuhkan para korban. Hayo cepat, kalau tidak, kuhancurkan lebah - lebah ini kemudian kepala kalian juga !"

Ucapan nenek itu penuh wibawa dan sekali ini suami isteri itu tidak ragu - ragu lagi. Mereka telah memperoleh bukti bahwa nenek ini tidak hanya mengeluarkan gertak sambal belaka, karena selama tigapuluh jurus lebih tadi mereka berdua memang sama sekali tidak berdaya dan kalau nenek itu be-nar-benar hendak membunuh mereka, agaknya hal itu bukan tidak mungkin.

"Baik..., baik... ini obat pemunahnya, obat luar dan obat minum. Berikan kembali lebah-lebahku," kata Hoan Mo-li si nenek gendut.

Penukaran terjadilah dan Siang Houw Nio-nio lalu memerintahkan dua orang muridnya untuk mengobati para korban. Dan benar saja, setelah diolesi obat luar dan diberi minum obat minum-nya, para korban itu berhenti berkelojotan dan tak lama kemudian merekapun sembuh kembali.

Sementara itu, kakek kecil kurus, Bouw Mo - ko, setelah sejak tadi memandang kepada nenek bang-sawan itu, lalu berkata, "Benarkah kami berhadap-an dengan yang mulia Siang Houw Nio-nio?"

Mendengar ucapan suaminya itu, Hoan Mo - li juga kelihatan terkejut. Nenek bangsawan itu mengangguk dan berkata, "Nah, kalian boleh pergi dari sini dan jangan mencoba untuk membikin ka-cau di kota ini !"

Bouw Mo - ko yang maklum bahwa tinggal le-bih lama di tempat itu tidak menguntungkan mere-ka, lalu menggandeng tangan isterinya. "Isteriku, mari kita pergi dari sini!"

"Nanti dulu !" Hoan Mo - li mengibaskan ta-ngannya yang digandeng suaminya.

"Siang Houw Nio-nio, perjanjian antara kita hanya mengenai tukar - menukar lebah dan obat penawarnya. Akan tetapi gadis itu adalah tawanan kami, maka kami akan membawanya kembali!"

Nenek bangsawan itu menoleh kepada Pek Lian yang ditudingi oleh nenek iblis itu, lalu ia mengangkat pundaknya.

"Tidak ada hubungannya de-nganku," katanya. Mendengar ini, Hoan Mo - li lalu menghampiri Pek Lian.

"Anak manis, mari kau ikut dengan kami!"

"Tidak sudi! Biar mati aku tidak akan mau menyerah !" bentak Pek Lian sambil melintangkan pedangnya, pedang yang dipungutnya dari atas tanah di halaman itu.

"Eh, eh, kau berani melawanku, ya ?" Hoan Mo - li membentak dan menubruk maju. Pek Lian mengelak dan balas menyerang.

Akan tetapi, Bouw Mo - ko kini juga sudah maju menubruk dan Pek Lian menjadi repot sekali. Melawan seorang di an-tara kedua iblis itu saja ia takkan mampu menang, apa lagi kalau dikeroyok dua. Akan tetapi pada saat itu, Pek In dan Ang In sudah menerjang maju membantunya.

"Eh, eh, bukankah gadis tawananku ini tidak termasuk perjanjian tukar - menukar lebah ?" Hoan Mo - li mencela.

"Kalian berjanji dengan subo, bukan dengan ka-mi. Kami tidak terikat perjanjian!" jawab Pek In yang terus menggerakkan pedangnya, dibantu oleh Ang In dan Pek Lian.

Kini dua orang suami isteri iblis itu yang menjadi kewalahan. Untuk mempergunakan racun, mereka segan dan jerih terhadap Siang Houw Nio-nio, maka akhirnya sambil mengeluarkan seruan - seruan marah dan kecewa, keduanya meloncat ke atas gerobak dan melarikan gerobak mereka itu dengan cepat meninggalkan tempat itu, langsung keluar dari pintu gerbang kota besar Lok - yang.

Setelah dua orang iblis itu melarikan diri, Siang Houw Nio - nio memandang kepada Pek Lian de-ngan sinar mata penuh selidik, kemudian bertanya, "Nona, siapakah engkau ?"

Pek Lian merasa ragu - ragu untuk menjawab. Ia tahu siapa adanya nenek ini yang masih keluarga dekat kaisar. Tentu saja ia tidak berani mengaku bahwa ia adalah puteri Menteri Ho yang kini men-jadi musuh dan tawanan pemerintah. Sebagai bibi kaisar, tentu saja nenek inipun memusuhi keluarga Ho yang dianggap pemberontak.

Melihat keraguan Pek Lian, gadis baju merah lalu berkata sebagai keterangan kepada subonya,"Gadis ini tentu merupakan kawan dari orang-orang Lembah Yang - ce yang memberontak. Anak buah teecu pernah menawannya. Bukankah begi-tu ?" tanyanya kepada Pek Lian.

Pek Lian tak dapat menyangkal akan hal ini dan iapun tahu bahwa tentu wanita - wanita bertusuk konde batu giok itu telah melapor kepada pimpinan mereka ini. Maka iapun menjawab dengan suara mengejek, "Hemm... kiranya wanita – wanita bertusuk konde batu giok itu adalah anak buah-mu ?" Pek Lian memandang ke arah tusuk konde pada rambut nona baju merah itu.

"Anak buahmu itu sungguh kurang ajar sekali. Aku hanya pernah berjalan bersama - sama ketua lembah itu saja, dan aku lalu ditangkap ! Aturan mana itu ?"

"Adik yang baik, kaumaafkanlah anak buah ka-mi. Akan tetapi orang - orang lembah itu adalah buronan pemerintah, maka karena engkau menge-nal mereka, sudah selayaknya kalau engkau dicu-rigai," kata Pek In si baju putih.

"Akan tetapi, apa hubungannya dengan wanita-wanita baju sutera hitam bertusuk konde batu giok itu ? Ada hak apakah mereka mencurigai orang ?" Pek Lian bertanya penasaran.

Gadis baju putih itu tersenyum dan kalau biasa-nya ia nampak gagah, kini baru terlihat jelas bahwa wajahnya manis sekali kalau tersenyum.

 "Adik, tahukah engkau siapa pembesar pemilik gedung ini ? Beliau adalah Wakil Perdana Menteri Kang, dan guru kami ini, beliau adalah bibi dari sri ba-ginda kaisar. Nah, kini engkau mengerti mengapa anak buah kami mencurigai orang - orang yang menjadi teman para pemberontak, bukan ?"

Tentu saja Pek Lian sama sekali tidak terkejut mendengar siapa adanya pembesar dan nenek bangsawan itu karena memang ia sudah pernah menge-nal dan mendengar tentang mereka. Hanya tadi ia merasa kagum bukan main menyaksikan kelihaian nenek itu ketika menghadapi Im - kan Siang - mo, suami isteri iblis yang lihai itu. Dan baru sekarang ia tahu bahwa pasukan wanita berpakaian sutera hitam dengan tusuk konde batu giok itu adalah anak buah murid - murid dari Siang Houw Nio - nio jadi orang-orangnya pemerintah! Atau setidak-nya adalah golongan yang membela kaisar.

Ia sendiri tidak ingin dikenal sebagai puteri Menteri Ho karena hal ini akan berbahaya sekali baginya. Maka, ketika melihat Wakil Perdana Men-teri Kang keluar dan memandang kepadanya de-ngan sinar mata tajam, Pek Lian menundukkan mukanya. Menteri Kang itu mengerutkan alisnya dan merasa seperti pernah mengenal gadis ini. akan tetapi dia lupa lagi.

Pek Lian merasa betapa jantungnya berdebar tegang. Bagaimana kalau sampai ia dikenal ? Tidak ragu lagi, ia tentu akan ditangkap sebagai anggauta keluarga pemberontak. Ia harus berhati - hati dalam memberi jawaban, pikirnya dan ia tidak boleh terlalu banyak bicara.

"Nona, siapakah engkau ? Benarkah orang-orang Lembah Yang - ce itu adalah kawan - kawanmu ? Ataukah engkau barangkali juga anggauta pemberontak ?" kembali wanita tua itu bertanya dengan halus, namun sinar matanya seperti hendak menembus jantung Pek Lian.

"Saya adalah seorang perantau dan kebetulan bertemu di jalan dan berkenalan dengan ketua lem-bah itu. Karena saya pernah ditolongnya, maka kami menjadi sahabat, akan tetapi saya bukan anggauta mereka."

"Di manakah sekarang sahabatmu, ketua lembah itu ?"

Ho Pek Lian memang tidak tahu ke mana pergi-nya Kwee Tiong Li yang ikut bersama gurunya yang baru, yaitu kakek Kam Song Ki yang lihai.

Maka iapun menggeleng kepalanya dan berkata, "Saya tidak tahu. Kami saling berpisah tiga hari yang lalu dan saya ditawan oleh pasukan tusuk konde batu giok lalu dirampas oleh sepasang iblis itu."

Wakil Perdana Menteri Kang mempersilahkan nyonya bangsawan itu untuk duduk kembali di ruangan tamu melanjutkan percakapan mereka.

Siang Houw Nio - nio memberi isyarat kepada dua orang muridnya, "Bawa ia masuk dan awasi baik-baik."

Pek In dan Ang In lalu memegang kedua ta-ngan Pek Lian dengan halus dan mengajaknya ma-suk pida ke ruang tamu di mana kedua orang gadis itu duduk agak jauh di belakang nenek yang kini melanjutkan percakapan dengan Menteri Kang. Dua orang muridnya adalah orang-orang keper-cayaan maka diperbolehkan untuk hadir. Dan ne-nek ini biarpun seorang bangsawan, akan tetapi sikapnya seperti orang kang - ouw, tidak begitu perduli akan segala peraturan.

Bahkan ia seperti sengaja membiarkan Pek Lian ikut pula mendengar-kan, agaknya memang nenek ini ingin memancing agar Pek Lian dapat memberi keterangan lebih banyak tentang para pemberontak. Pek Lian duduk diapit-apit dua orang gadis lihai yang biarpun bersikap halus akan tetapi tetap saja merupakan pengawal - pengawal yang takkan membiarkan ia lolos. Diam - diam Pek Lian memasang telinga men-dengarkan percakapan tingkat tinggi itu.

Bersambung

Darah Pendekar 8                                                                    Darah Pendekar 10