Jumat, 26 April 2013

DARAH PENDEKAR 8

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Bab 8
MENDENGAR penuturan ini, pucatlah wajah Tiong Li dan Yang-ce Sam-lo. Juga Pek Lian dan dua orang gurunya terkejut sekali. Bagai-manapun juga, yang terbunuh semua sampai terbasmi habis itu adalah para anggauta pemberontak Lembah Yang-ce, jadi masih rekan-rekan mereka sendiri. Pimpinan mereka, Liu Pang, adalah juga pemberontak Lembah Yang - ce yang untuk sementara ini membangun pusat perkumpulan di Puncak Awan Biru.

"Siapa lagi kalau bukan Jenderal Beng Tian dan dua orang pengawalnya itu yang memimpin penyerbuan ?" kata Pek Lian dengan gemas.

Kwee Tiong Li mengepal tinjunya, sepasang matanya merah dan mukanya pucat.

"Habis sudah kawan-kawanku.....! Dengan susah payah guruku membimbing mereka, melatih mereka, dan akhirnya, mereka hancur di bawah pimpinanku! Ahhh" Pemuda itu menutupi muka dengan kedua tangannya, merasa berduka dan menyesal bukan main.

Melihat keadaan ketua mereka ini, Yang-ce Sam-lo menghibur.

"Harap kokcu jangan terlalu menyalahkan dan menyesalkan diri sendiri. Semua ini adalah resiko perjuangan menentang kelaliman dan kematian saudara- saudara kita terjadi di luar kemampuan kita untuk mencegahnya," kata seorang di antara mereka.

"Seandainya kita berada di sini sekalipun, kalau dikepung oleh pasukan besar yang dipimpin jenderal itu, apa yang akan dapat kita lakukan untuk menyelamatkan kita semua ? Memang, lebih dari limaratus orang anggauta kita gugur sebagai pejuang - pejuang gagah perkasa yang menentang ketidakadilan, akan tetapi pihak tentara pemerintah juga banyak yang tewas di tangan kita. Setidaknya, setiap anggauta kita tentu sedikitnya merobohkan dua orang, sehingga kalau dihitung-hitung, kita masih tidak rugi."

Akan tetapi hiburan-hiburan tiga orang pembantunya itu tidak melenyapkan kedukaan hati Kwee Tiong Li yang kehilangan semua anak buah-nya. Dia memukulkan tinju kanannya ke atas telapak tangan kirinya dengan keras sehingga ter-dengar suara nyaring.

"Bagaimanapun juga aku tidak mau berhenti sampai di sini saja ! Aku harus menuntut balas. Harap Sam-lo kembali ke lembah dan menyampaikan laporan kepada suhu. Aku sendiri akan mencari jalan untuk membalas dendam ini !"

Tiga orang pembantunya hendak membantah karena perbuatan itu tentu saja amat berbahaya bagi keselamatan pemuda itu. "Sam-lo, ini adalah keputusanku sebagai ketua lembah!" katanya de-ngan tegas dan tiga orang itu tentu saja tidak dapat membantah lagi.

Ho Pek Lian melihat betapa pe-muda yang biasanya bersikap lembut itu kini nam-pak keras, bersemangat dan penuh wibawa sehing-ga hatinya merasa tergetar. Pemuda ini merupa-kan seorang jantan yang gagah perkasa, memba-yangkan kepribadian seorang pemimpin yang he-bat, membuat hati Pek Lian menjadi kagum sekali.

"Siancai..., saat kematian merupakan rahasia yang tak pernah terbuka oleh manusia. Siapa sangka aku bermaksud menolong mereka, tidak tahunya karena perbuatanku, malah mereka mengalami pembasmian di sini" kata kakek Kam dengan suara menyesal. Mendengar ini, Kwee Tiong Li cepat menghadapi kakek itu.

"Harap locianpwe jangan beranggapan demiki-an karena locianpwe sama sekali tidak bersalah dalam hal ini."

"Aku tahu, orang muda... akan tetapi membuat hatiku terasa tidak enak......" tiba-tiba kakek itu berhenti dan cepat menoleh ke belakang.

Pada saat itu terdengar bunyi terompet bersahut-sahutan, diiringi sorak - sorai para perajurit dan ternyata dusun itu telah dikepung! Mendengar ini, para penghuni berlari - larian kembali ke rumah masing-masing dan yang tertinggal di dusun itu, di luar rumah, hanya tinggal delapan orang itu saja. Se-mua penghuni dusun telah bersembunyi !

Delapan orang itu, yang merasa sudah terkepung, tidak mau ikut bersembunyi karena mereka maklum bahwa bersembunyi di dusun kecil itu tidak ada artinya malah - malah akan mencelakakan semua penghuni dusun. Maka, sambil menanti, mereka semua mencabut senjata, siap untuk melawan.

Dengan teriakan yang berisik sekali, bermunculanlah pasukan itu dari segenap penjuru dan mereka segera diserbu dan dikeroyok. Pek Lian telah mencabut pedangnya, Kim - suipoa Tan Sun mengeluarkan senjata suipoanya sedang-kan Pek - bin - houw juga sudah melintangkan pi-kulan bajanya. Begitu para perajurit menyerbu, mereka bertiga mengamuk bagaikan harimau - ha-rimau kelaparan.

Sementara itu, Kwee Tiong Li, biarpun tenaganya belum pulih seluruhnya, juga sudah mengamuk dan menggerakkan pedangnya dengan dahsyat. Tiga orang Yang - ce Sam - lo juga sudah menyambut pengeroyokan musuh de-ngan senjata golok tipis mereka. Tujuh orang pen-dekar itu mengamuk dengan penuh semangat, terutama sekali Tiong Li dan Yang - ce Sam-lo yang seolah - olah memperoleh kesempatan un-tuk membalas dendam atas terbasminya seluruh kawan mereka itu. Empat orang ini merobohkan banyak sekali perajurit.

Adapun kakek Kam Song Ki sendiri hanya melindungi dirinya, menggerak-kan tongkatnya untuk merobohkan semua orang yang menyerangnya, akan tetapi jelaslah bahwa kakek ini merobohkan orang tanpa bermaksud membunuh. Biarpun demikian, tidak ada perajurit yang dapat mendekatinya karena belum juga dekat mereka itu sudah roboh berpelantingan.

Akan tetapi, tiba - tiba muncul dua orang berpakaian preman yang menjadi pengawal pribadi, juga sute - sute dari Jenderal Beng Tian yang amat lihai itu! Bukan hanya kedua orang pengawal ini saja, melainkan juga belasan orang perwira yang memiliki gerakan - gerakan gesit sekali, tanda bahwa mereka adalah orang - orang yang pandai ilmu silat. Pengepungan semakin ketat, pengeroyokan semakin rapat dan dengan munculnya dua orang pengawal bersama para perwira itu, delapan orang yang dikeroyok menjadi kewalahan juga. Betapapun juga, mereka terus mengamuk dengan hebatnya dan sudah puluhan orang banyaknya roboh, tewas atau terluka sehingga mayat - mayat mulai bertumpuk dan berserakan, suara orang - orang mengaduh dan mengerang kesakitan amat mengerikan.

Sore semakin gelap. Satu jam lebih mereka mengamuk, akan tetapi jumlah para perajurit amat banyaknya. Ada ratusan orang! Dan akhirnya, apa yang mereka khawatirkanpun tibalah dengan munculnya Jenderal Beng Tian sendiri! Tadinya, dua orang pengawal pribadi jenderal itu masih me-nemukan kesulitan ketika mereka dihadang dan dibendung oleh tongkat butut kakek Kam, membuat mereka terheran - heran, penasaran dan juga marah karena ternyata tongkat itu membuat mereka tidak mampu banyak bergerak.

Akan tetapi sebaliknya kakek Kam yang tidak ingin membunuh, tidak mu-dah pula merobohkan dua orang pengawal lihai ini seperti yang dilakukannya kepada para pera-jurit. Sedangkan tujuh orang pendekar itu dikero-yok oleh belasan orang perwira yang dibantu oleh puluhan orang perajurit pula. Sampai berdesakan dan sukar sekali untuk bergerak dalam pengepung-an yang ketat itu. Dan kini, jenderal itu sendiri muncul. Tadinya, panglima ini tidak ikut memim-pin anak buahnya.

Bukankah menurut penyelidik, yang berada di dusun itu hanya delapan orang pim-pinan pemberontak ? Cukup diwakilkan kepada dua orang pengawal atau sutenya saja, para perwi-ra dan pasukan. Akan tetapi, dia memperoleh beri-ta yang mengejutkan bahwa di antara delapan orang itu terdapat seorang kakek yang amat sakti yang membuat kedua orang sutenya tidak berdaya Tentu saja dia menjadi terkejut sekali dan jenderal itupun bergegas menuju ke medan pertempuran. Pada saat dia tiba di tempat, itu, dia masih sempat melihat betapa dua orang sutenya mengeroyok seorang lawan yang tidak nampak bayangannya !

Seolah - olah dua orang sutenya itu mengeroyok setan saja. Tahulah dia bahwa lawan dua orang pembantunya itu adalah seorang ahli ginkang yang amat luar biasa.

Sambil mengeluarkan bentakan nyaring, jenderal itu lalu menyerbu dan dua orang sutenya girang bukan main melihat munculnya jenderal yang selain menjadi atasan, juga menjadi suheng mereka itu. Dan pukulan yang dilancarkan jenderal itu terhadap kakek Kam membuat kakek itu mengeluarkan seman kaget. Namun, gerakan kakek itu terlampau cepat sehingga empat serangan yang merupakan rangkaian susul-menyusul dari jenderal itu semua hanya mengenai tempat kosong saja. Dia menduga-duga siapa gerangan orang ini dan diam-diam terkejut bukan main. Kalau pihak pemberontak terdapat orang - orang selihai ini, sungguh amat berbahaya, pikirnya. Bersama dua orang sutenya, dia mengeroyok. Namun tetap saja mereka bertiga menjadi kewalahan karena jauh kalah cepat gerakan mereka. Kadang-kadang kakek itu seperti lenyap saja dan tahu - tahu muncul di atas mereka, di belakang mereka atau di kanan kiri. Dan ma-lampun tibalah. Para perajurit memasang obor sehingga keadaan di situ semakin menyeramkan.

Betapapun lihainya, tujuh orang pendekar yang dikeroyok oleh banyak sekali lawan yang tiada habisnya dan tak kunjung berkurang itu, menjadi repot. Mereka kelelahan, mandi peluh setelah mengamuk selama hampir dua jam lamanya! Dan akhirnya, tak dapat tertolong lagi, Pek-bin-houw roboh terkena tusukan tombak seorang perwira dari belakang. Tombak itu menancap di punggung dan tembus ke dadanya, darah muncrat dan dia berteriak seperti harimau terluka, membalik dan senjata pikulannya menghantam kepala penyerang-nya sampai pecah. Kemudian dia menubruk ke kiri, merobohkan seorang perajurit, akan tetapi dia sendiripun roboh karena sebatang golok membuat lehernya hampir putus, disabetkan oleh perwira lain. Robohlah Pek - bin - houw Liem Tat sebagai seorang pendekar dan patriot.

Melihat ini, Kim-suipoa berteriak marah dan menyerang dengan nekat, menubruk ke arah perwira yang membacok golok tadi. Perwira itu menangkis, akan tetapi go-loknya terpental oleh hantaman suipoa dan ke-pala perwira itupun remuk terkena pukulan suipoa baja. Akan tetapi, pada saat yang sama, dua ba--tang pedang menembus lambung dan dada Kim-suipoa.

Tiong Li dan Pek Lian masih mengamuk dan keduanya maklum bahwa nyawa merekapun tidak akan tertolong lagi. "Nona Ho, selamat berpisah di sini !" kata Tiong Li sambil memutar pedangnya.
Pek Lian terharu sekali, akan tetapi juga bangkit semangatnya melihat pemuda yang gagah perkasa itu!

"Selamat berpisah, saudara Kwee. Akan tetapi aku tidak mau mati sebelum membasmi anjing - anjing ini sebanyak mungkin !"

Keduanya mengamuk lagi penuh semangat. Kakek Kam mendengarkan semua ini dan hatinya tergerak. Kalau dia menghendaki, tentu dia sudah dapat membunuh tiga orang lawannya. Akan tetapi dia tidak tega untuk membunuh. Kalau dia mau melarikan diripun tidak sukar baginya, akan tetapi dia merasa kasihan kepada dua orang muda itu. Diam - diam dia merasa kagum sekali melihat, gerak-gerik Tiong Li dan Pek Lian.
Terutama pemuda itu sungguh membuat hatinya yang tua merasa terharu. Seorang pemuda gagah perkasa yang penuh setia kawan! Sungguh seorang eng-hiong (pendekar) sejati! Dan melihat betapa Pek Lian terhuyung oleh pukulan rayung lawan yang mengenai punggungnya, cepat dia menggerakkan kakinya dan tahu-tahu tiga orang pengeroyoknya sudah kehilangan kakek itu yang kini telah menyambar tubuh Pek Lian sebelum dara itu terguling ro-boh. Dipanggulnya tubuh Pek Lian dan diapun berseru kepada Tiong Li,

"Kwee - sicu, mari kita pergi !'"

Memang mudah saja bagi kakek sakti yang me-miliki ginkang istimewa itu untuk mengatakan de-mikian, bahkan mudah pula baginya untuk me-loloskah diri dari kepungan ketat dan penge-royokan itu, akan tetapi amat sukarlah bagi Tiong Li untuk melaksanakannya. Pula, dia telah dibakar kemarahan meluap - luap dan sudah diambilnya keputusan untuk mengamuk sampai mati, membela kematian tiga orang pembantunya dan juga dua orang guru Pek Lian itu. Melihat betapa pemuda itu mengamuk makin hebat dan seperti tidak memperdulikan ajakannya, kakek itu berseru lagi,

"Orang muda, perlu apa mengorbankan nyawa dengan konyol ? Ingat, kelak engkau harus membuat perhitungan dan membalas semua dendam. Kalau mati sekarang, siapa yang akan membalas dendam kelak ?"

Ucapan ini sengaja dikeluarkan hanya untuk membakar semangat pemuda itu agar mau meloloskan diri, bukan ucapan yang keluar dari lubuk hatinya.

Mendengar ini, Tiong Li menjadi sadar. Semua anak buahnya, berikut tiga orang pembantunya yang setia, telah gugur. Hanya tinggal dia seorang diri. Kalau dia gugur pula, lalu siapa yang akan membalas semua ini.? Siapa yang akan melanjutkan perjuangan, membantu para pendekar lain, membantu gurunya ? Dia tidak boleh sekedar menurutkan perasaan hati duka dan marah. Akan tetapi, bagaimana dia dapat meloloskan diri dari kepungan begini banyak musuh ? Sambil memutar, pedang mengamuk, Tiong Li mencari jalan keluar, namun, sia - sia belaka. Seorang lawan dirobohkan, dua orang menggantikannya.

Dua orang dirobohkan, empat orang yang maju. Pedangnya sudah berlumur darah, pakaiannya juga berlepotan darah, darah lawan dan darahnya sendiri. Tubuhnya sudah lelah sekali dan agaknya gerakannya itu hanya dikendalikan oleh semangatnya yang berkobar - kobar. Seolah - olah kesehatannya yang baru berkembang baik dan belum pulih benar itu kini menjadi sembuh sama sekali dengan adanya pertempuran mati - matian ini.

Sementara itu kakek Kam Song Ki melihat kesukaran yang dialami pemuda itu. Dia sendiri masih dikepung ketat, bahkan kini Jenderal Beng Tian dan dua orang pengawalnya meneriakkan perintah agar para perwira juga ikut mengepung kakek yang luar biasa lihainya itu. Kakek Kam masih memondong tubuh Pek Lian dan tubuhnya berkelebatan ke sana-sini dan tahu-tahu dia sudah mendekati Tiong Li.

Caranya amat menggiriskan hati para pengeroyoknya karena tubuhnya itu berloncatan atau lebih tepat lagi "beterbangan" melayang-layang, meloncat di antara pundak dan kepala para pengeroyok, kadang - kadang menginjak pundak dan kepala, bahkan menginjak ujung senjata, ba-gaikan seekor burung walet saja tubuh itu kini tahu - tahu sudah mendekati Tiong Li dan menyam-bar tangan pemuda itu.

"Pegang erat-erat tanganku dan ikuti gerakan ku. Kau menurut saja, jangan melawan! Dengarkan petunjuk- petunjukku baik-baik. Kalau perlu pejamkan mata, jangan bergerak menurut kemauan sendiri, tapi turuti aku dengan membuta, Ini pelajaran ilmu langkah ajaib yang dapat melolos-kan dirimu dari kepungan!"

"Baik... locianpwe !" Tiong Li menjawab.

Maka mulailah pemuda itu menurutkan tenaga tarikan, betotan, maupun dorongan tangan kakek itu, mengatur langkahnya sesuai dengan tenaga kakek itu, ke kiri, kanan, ke depan, ke samping, ke belakang, kadang - kadang meloncat rendah dan meloncat tinggi, cepat sekali gerakan itu dan amat aneh, akan tetapi hebatnya, gerakan - gerakan itu membuat dia terbebas dari semua serangan dan kepungan tanpa mengelak satu demi satu seperti yang dilakukannya sendiri tadi. Dia tidak tahu bahwa dia telah dibawa oleh kakek sakti itu mela-kukan Ilmu Ban-seng-po Lian-hoan (Langkah Selaksa

Bintang Berantai). Langkah-langkah ini menurut garis-garis perbintangan dan langkahlangkahnya teratur sedemikian rupa, penuh rahasia sehingga seolah-olah semua gerakan itu telah mendahului datangnya hujan serangan. Melihat ini, seorang di antara pengawal atau sute dari Jenderal Beng Tian menjadi marah sekali! Sambil berseru keras dia menyerang dahsyat ke arah kepala Tiong Li. Pemuda ini terkejut, maklum bahwa dia tidak akan mungkin dapat menyelamatkan diri, akan tetapi dia memejamkan matanya dan dengan membuta dia menurutkan tenaga kakek yang me-ngendalikannya. Dia menggeliat dan meloncat ke depan malah! Tentu saja hatinya terasa ngeri sekali. Dipukul demikian dahsyat mengapa malah meloncat ke depan ? Akan tetapi sungguh aneh, karena dia meloncat ke depan ini, dia malah terhindar dari pukulan dahsyat yang ternyata telah datang kecuali tentu saja ke depan, karena si pemukul sama sekali tidak pernah menduga bahwa orang yang dipukul itu malah melangkah maju! Inilah hebatnya Ban - seng - po Lian - hoan itu. Ilmu ini memungkinkan segala gerakan kaki dan tubuh dalam menghadapi pengeroyokan lawan lawannya yang tangguh.

"Plak ! Plakk !" tangan kakek itu menampar dan dua orang pengawal itu terhuyung ke belakang dengan muka pucat ketika mereka menangkis.

"Pemberontak hina !" Terdengar Jenderal Beng Tian membentak dan pedang panjangnya menyambar.

Tiong Li sudah berhasil merampas sebatang tombak yang dibetotnya dari tangan seorang pera-jurit yang menyerangnya dan menggunakan tom bak itu untuk menangkis pedang yang menyambar ke arah kakek Kam.

"Trakkkk..... !"

Tombak itu patah menjadi dua dan Tiong Li merasakan tangannya sampai ke pangkal lengannya seperti lumpuh ! Dia terke-jut setengah mati, akan tetapi pada saat itu, Jen-deral Beng Tian juga terhuyung ke belakang kare-na ketika pedangnya bertemu dengan tombak di tangan pemuda itu, secepat kilat kakek Kam telah berhasil mendorong punggungnya dan dia merasa betapa hawa yang dingin sekali menyusup ke dalam tubuhnya, membuat dia terhuyung dan cepat - cepat jenderal ini yang tidak mau menderita luka parah segera mengatur pernapasan seperti yang dilaku-kan oleh dua orang sutenya pula. Melihat betapa tiga orang tertangguh itu menghentikan penye-rangan, kakek Kam melihat kesempatan yang baik sekali.

"Kwee - sicu, cepat rampas kuda !"

Tiong Li yang sejak tadi secara membuta sudah menurut perintah kakek ini, sekarang membuka mata dan melihat seorang perwira menunggang ku-da tak jauh dari situ, diapun meloncat mendekati. Perwira itu menyambutnya dengan bacokan golok, akan tetapi Tiong Li mengelak ke kiri dan me-nyambar lengan perwira itu, menariknya keraskeras ke bawah. Pada saat tubuh perwira itu ter-pelanting ke bawah, Tiong Li meloncat ke atas punggung kuda! Dan pada saat itu pula, seorang lain telah terlempar dari atas punggung kudanya, tak jauh di sebelah depan Tiong Li, dan tubuh Pek Lian melayang ke atas punggung kuda.

"Naiki kuda itu dan larilah kalian I" terdengar kakek Kam berseru.

Akan tetapi karena Pek Lian menderita luka-luka dan merasa lelah sekali, dara ini tidak dapat mengatur tubuhnya dan ia hinggap di atas kuda itu dalam keadaan terbalik! Akan tetapi sebelum ia terpelanting jatuh, tubuhnya sudah disambar lagi oleh kakek Kam yang tadi merobohkan empat orang perajurit, lalu kakek itupun mem-balapkan kuda, diikuti oleh Tiong Li.

"Hayo, jangan tidur, anak nakal!"

Kakek itu mengguncang-guncang tubuh Pek Lian.

"Engkau seorang gadis gagah perkasa, masa baru begini saja sudah turun semangat ? Bangunlah, dan naiki kuda ini, larikan secepatnya, aku melindungi dari belakang !"

Kembali dia mengguncang. "Mengertikah kau ?"

Mendengar kata - kata ini dan karena guncangan- guncangan itu, apa lagi ketika tengkuknya di-totok dua kali oleh jari si kakek sakti, Pek Lian membuka matanya lebar - lebar.

"Aku mengerti, locianpwe." Dan tahu- tahu kakek itu sudah meloncat ke atas, meninggalkan Pek Lian, berjungkir balik dan membiarkan Tiong Li lewat, lalu dia sendiri menghadang para pengejar!

"Kejar ! Tangkap ! Bunuh mereka !"

Terdengar teriakan para perwira dan tiba - tiba mereka itu melepaskan anak panah!
Hujan anak panah itu tiba - tiba runtuh semua ketika ditahan oleh bayangan kakek Kam yang ber-kelebatan ke kanan kiri, atas bawah. Demikian ce-patnya, gerakan kakek ini sehingga dia mampu membendung dan meruntuhkan semua anak panah yang meluncur itu dengan kebutan - kebutan kedua ujung lengan bajunya dan pemutaran tongkatnya. Bahkan ada beberapa batang anak panah yang mengenai tubuhnya, hanya merobek dan melubangi kain bajunya saja, namun tidak dapat melukai kulit tubuhnya.

Ketika barisan pengejar tiba dekat, kakek itu menggerakkan kedua tangannya dan anak panah yang belasan batang banyaknya meluncur ke depan, ke arah kaki kuda dan barisan terdepan terguling, membawa para penunggangnya terlempar dan jatuh tersungkur, ditabrak oleh teman - teman dari belakang. Tentu saja keadaan menjadi kacau - balau dan terdengar teriakan-teriakan mengaduh dan sumpah - serapah. Sebagian besar meloncat turun dan menyerbu. Kakek Kam sudah mengamuk lagi dengan tongkat bututnya dan siapapun yang dekat dengannya tentu roboh terguling. Akan tetapi

Jenderal Beng Tian dan dua orang pengawalnya, dibantu oleb para perwira, telah mengurungnya la-gi. Sekali ini jenderal itu yang dapat menduga bah-wa dia berhadapan dengan seorang sakti, memben-tak marah.

"Kakek pemberontak jabat! Siapakah engkau ?"

Mendengar bentakan panglima mereka, para pe-ngeroyok itu menahan senjata mereka dan semua mata memandang kakek itu di bawah sinar obor-obor yang cepat menerangi tempat itu, dipegang oleh para perajurit.

“Siancai...... tai-ciangkun yang gagah perkasa. aku bukanlah pemberontak. Namaku Kam Song Ki."

Jenderal Beng Tian adalah seorang panglima yang berilmu tinggi dan sudah banyak pengalaman, sudah banyak mengenal hampir semua tokoh persi-latan, akan tetapi dia tidak mengenal nama ini. Hal itu tidaklah mengherankan mengingat bahwa kakek ini biarpun merupakan murid ke tiga dari Raja Tabib Sakti, namun dia selalu mengasingkan diri dan selama puluhan tahun tidak pernah me-nonjolkan diri di dunia kang - ouw sehingga nama-nya tidak dikenal orang.

"Orang tua she Kam, apakah engkau pura - pura tidak tahu bahwa orang-orang muda yang kaubela itu adalah pimpinan pemberontak - pemberontak besar dari Lembah Yang-ce ?"

"Siancai...... sayang sekali aku tidak tahu tentang berontak-memberontak. Setahuku kalau ada yang memberontak tentu ada sebabnya dan hanya yang tertindas sajalah yang akan memberontak, bu-kan ? Setahuku, mereka adalah orang-orang yang baik dan melihat orang baik- baik dikeroyok, tentu saja aku membela mereka."

"Engkau hendak melawan pasukan pemerintah ? Berarti engkau berani memberontak terhadap pemerintah !"

Kakek itu tertawa. "Tai - ciangkun, kalau tidak salah ciangkun adalah Jenderal Beng Tian yang terkenal itu. Tentu saja orang seperti engkau ini akan bersetia sampai mati kepada pemerintah, tidak perduli bagaimana keadaannya, karena engkau mempertahankan kedudukanmu, kehormatan dan kemuliaan sebagai jenderal besar ! Akan tetapi, aku hanyalah seorang rakyat biasa saja, dan orang macam aku ini hanya mempertahankan hidup, asal dapat makan setiap hari dan dapat menutupi tubuh dengan pakaian saja sudah cukuplah. Aku tidak ingin memberontak, akan tetapi kalau melihat kesewenang - wenangan, tentu saja aku tidak dapat tinggal diam saja."

"Kesewenang - wenangan yang bagaimana maksudmu ?" jenderal itu membentak.

"Nona Ho Pek Lian kehilangan keluarganya. Seluruh keluarga ayahnya ditangkap, padahal, siapakah yang tidak tahu bahwa Menteri Kebudayaan Ho Ki Liong adalah seorang menteri yang amat baik ? Dan semua teman dari Kwee Tiong Li itu telah dibasmi oleh pasukan pemerintah! Apakah namanya itu kalau bukan sewenang - wenang ? Ka-rena itulah aku membela mereka, bukan karena berontak - memberontak!"

Mendengar bahwa gadis yang tadi dikeroyok adalah puteri Menteri Ho, jenderal itu terkejut bu-kan main. Biarpun Menteri Ho dianggap pembe-rontak oleh pemerintah dan menteri beserta selu-ruh keluarganya itu ditangkap, namun diam-diam jenderal yang gagah perkasa ini merasa kagum bu-kan main terhadap Menteri Ho. Tentu saja, seba-gai seorang jenderal dia tidak mampu berbuat se-suatu kecuali merasa menyesal akan nasib menteri yang dia tahu amat setia dan baik itu. Kini, men-dengar bahwa gadis yang gagah perkasa tadi ada-lah puteri Menteri Ho, dia menjadi semakin kagum dan lenyaplah napsunya untuk menangkap atau membunuh gadis itu. Tugasnya hanyalah menum-pas para pemberontak di Lembah Yang - ce dan tugas itu telah diselesaikannya dengan baik. Semua pemberontak telah berhasil ditumpasnya walaupun dia harus kehilangan banyak sekali perajurit. Akan tetapi, sebagai seorrmg panglima, tentu, saja dia tidak boleh memperlihatkan sikap kagum terhadap orang yang dianggap pemberontak, maka diapun berteriak, "Tangkap orang tua ini!"

Dua orang pengawal yang juga menjadi sutenya adalah orang - orang yang amat setia terhadap jen-deral itu, akan tetapi merekapun sudah mengenal baik suheng mereka. Mereka itu, dengan pandang mata saja, sudah maklum akan isi hati suheng mereka yang di dalam hati tidak ingin menangkap atau membunuh kakek ini, maka mereka berduapun bergerak lambat, membiarkan para perwira dan perajurit yang maju mengeroyok. Di lain pihak, kakek Kam juga merasa heran mengapa panglima dan dua orang pembantunya yang amat lihai itu tidak turun tangan melainkan membiarkan anak buahnya yang maju mengeroyoknya. Maka diapun cepat menggerakkan tubuhnya dan dengan mudah saja dia meloloskan diri dari kepungan, terus melarikan diri, sengaja tidak berlari cepat agar para pe-rajurit itu dapat terus mengejarnya. Dia mengambil jalan ke kanan, berlawanan dengan jalan yang diambil oleh dua ekor kuda yang melarikan Tiong Li dan Pek Lian tadi.

Dia terus main kucing - kucing-an dan untuk menyembunyikan perasaan hati yang sesungguhnya, biarpun dia dapat menduga bahwa kakek Kam yang tidak berlari sekuatnya itu sengaja memancing ke arah lain, Jenderal Beng Tian terus mendesak pasukannya untuk mengejar kakek itu sampai pagi!

Tentu saja pasukan itu menjadi semakin jauh dari jejak kaki dua ekor kuda itu dan menjelang pagi, mereka kehilangan bayangan kakek Kam. Kakek ini tentu saja sudah kembali ke tempat semula dan di bawah sinar matahari pagi dia melanjutkan perjalanan mengikuti jejak kaki dua ekor kuda.

Sambil berjalan, kedua kakinya diseret dan meng-hapus jejak kaki kuda itu dari permukaan tanah. Matahari telah naik tinggi ketika kakek Kam tiba di dalam hutan di mana dia mendapatkan Tiong Li dan Pek Lian sedang beristirahat. Tiong Li duduk bersila dan mengatur pernapasan, mengumpulkan hawa murni untuk memulihkan kekuatan badannya sedangkan Pek Lian dengan wajah agak pucat duduk bersandar pohon tak jauh dari pemuda itu. Kedatangan kakek itu sama-sekali tidak mereka ketahui dan barulah setelah kakek itu berada di depan mereka, keduanya terkejut sekali akan tetapi juga girang karena semalam mereka mengkhawatirkan keadaan kakek sakti itu.

"Locianpwe......!" Pek Lian berkata dan tiba- tiba saja kedua mata gadis ini menjadi basah air mata.

Hatinya memang sudah berduka sekali karena kematian dua orang gurunya dan khawatir akan keadaan kakek Kam yang melindungi ia dan Tiong Li.

"Locianpwe, kami menghaturkan terima kasih karena hanya berkat pertolongan locianpwe maka kami berdua masih dapat hidup sampai sekarang," kata Tiong Li, juga suaranya mengandung kedukaan besar.

Kakek itu duduk di dekat mereka. "Nona, engkau masih mengandung luka dalam yang cukup berbahaya kalau tidak diobati. Mendekatlah !"

Kakek itu lalu menaruh telapak tangannya di punggung Pek Lian yang segera merasakan adanya hawa panas menjalar masuk ke dalam ruang dadanya. Iapun cepat memejamkan kedua mata dan menerima hawa panas itu, membiarkan hawa itu berputar - putar dan mendorong atau menekan ke arah bagian yang terkena pukulan dalam pengeroyokan tadi.

Setelah menyembuhkan luka - luka di dalam tubuh Pek Lian dan membantu Tiong Li memulihkan kembali tenaganya, maka kakek itu lalu mengajak mereka duduk bercakap-cakap di bawah pohon dalam hutan itu.

"Sekarang aku ingin sekali mengetahui, apa rencana kalian selanjutnya ? Apa yang akan kaulakukan sekarang, nona ?"

Ho Pek Lian mengusap air matanya akan tetapi tidak terisak, lalu dengan mata kemerahan diamatinya wajah kakek sakti itu, kemudian ia menunduk dan berkata, "Saya hendak menyelidiki keadaan ayah, locianpwe."

"Tapi itu berbahaya sekali!" kata Tiong Li.

"Saya sudah menasihatinya untuk tidak melakukan hal itu, locianpwe. Tentu ia akan terjebak dan tertawan."

"Jangankan hanya tertawan, biar mati sekalipun aku rela !" Pek Lian berkata.

"Bagaimanapun juga, sebelum ayah tewas dalam hukuman... aku ingin melihatnya sekali lagi..."

Kembali tangannya mengusap air mata, membuat Tiong Li dan juga kakek itu menarik napas panjang dan merasa kasihan sekali.

"Dan bagaimana dengan engkau, Kwee-sicu ?"

Bekas kokcu (ketua lembah) itu mengepal tinjunya. Matanya bersinar-sinar seperti mengeluar-kan api ketika dia berkata, suaranya penuh kegeraman, "Saya akan membalas dendam, locianpwe saya akan bergabung dengan suhu yang menjadi bengcu (pemimpin rakyat) dan menghancurkan pemerintah dan Kaisar Chin yang lalim ini !"

"Sayapun demikian !" Tiba - tiba Pek Lian berkata, mengepal tinjunya. "Saya tidak akan berhenti sebelum pemerintah ini dapat dihancurkan!"

"Siancai... siancai... siancai...!" Kakek Kam berseru lirih sambil merangkap tangan di depan dada, lalu menarik napas panjang berulang-ulang.

"Kekerasan... kekerasan..... di mana-mana kekerasan. Mungkinkah kekerasan dapat menghasilkan hal-hal yang baik? Mungkinkah tujuan yang baik dapat dicapai melalui jalan kekerasan ?"

"Akan tetapi, locianpwe !" bantah Kwee Tiong Li dengan suara keras karena hatinya dibakar se-mangat dan kebencian.

"Kaisar telah bertindak lalim dan sewenang-wenang. Lihat saja keadaan rakyat yang miskin terhimpit dan lihat keadaan para pembesar yang berlebihan ! Pembesar bertindak sewenang - wenang menekan rakyat, pembesar - pembesar melakukan korupsi besar-besaran. Sebaliknya rakyat ditindas, disuruh kerja paksa sampai mati untuk membangun tembok besar. Rakyat dibelenggu dan dibikin tak berdaya, membawa senjata pelindung diri dari ancaman bahaya saja dilarang. Kitab-kitab sastera dibakar sehingga rakyat kehilangan pegangan. Sasterawan-sasterawan dibunuh. Apakah kita harus diam saja, locianpwe ? Kalau bukan kita kaum pendekar yang bergerak membela rakyat, habis siapa lagi ? Apakah kaisar dan kaki tangannya yang korup dan sewenang-wenang itu dibiarkan saja merajalela di atas kepala rakyat yang menderita ?"

"Benar sekali!" sambung Pek Lian.
"Kalau orang - orang tua bersikap sabar, maka penindasan akan makin membabi - buta! Ayahku bersabar, akan tetapi aku tidak. Kita kaum muda harus serentak bangkit menentang kelaliman, kalau perlu dengan taruhan nyawa!"

"Siancai.....!" Kakek Kam menarik napas panjang dan menggeleng kepala.

"Nanti dulu, anak - anak. Memang baik sekali semangat kalian untuk membela rakyat yang sengsara dan menderita hidupnya. Akan tetapi, tidak baik kalau hanya menurutkan perasaan marah, dendam dan benci saja. Bangsa merupakan keluarga, pemerintah merupakan rumah keluarga itu. Kalau ada sesuatu yang tidak benar pada rumah itu, mari kita perbaiki bagian yang tidak benar itu saja. Bukan lalu meruntuhkan seluruh rumah itu, bukan lalu harus membakar rumah kita sendiri itu ! Pemerin-tah bukan milik kaisar atau para pembesar saja Mereka bahkan menjadi pelayan dan pelaksana. Pemerintah adalah milik kita bersama. Kalau ada yang tidak benar, mari kita perbaiki bersama, de-ngan musyawarah. Kita berhak menyadarkan pem-besar yang bersalah. Akan tetapi, jalan kekerasan hanya akan menimbulkan perang saudara, sama saja dengan membakar rumah kita sendiri dan ka-lau terjadi perang, akhirnya rakyat pula yang akan menderita, bukan ? Akan jatuh banyak korban, bunuh-membunuh antara bangsa sendiri, betapa-akan menyedihkan sekali kalau hal itu terjadi, se-perti yang terjadi malam tadi."

"Tapi, locianpwe. Tanpa melakukan kekerasan, tanpa menggunakan kekuatan untuk menghantam yang jahat, mana mungkin kita dapat mengenyah-kan kejahatan itu sendiri ?" bantah Tiong Li.

"Kejahatan merajalela, orang - orang jahat bah-kan telah mengadakan rapat, dipimpin oleh iblis hitam itu. Apakah kita harus diam saja, locianpwe? Kalau begitu, apa artinya kita mempelajari ilmu silat sejak kecil ? Apa perlunya jiwa kependekaran di-tanamkan dalam batin kita ?"

Pek Lian juga mem-bantah dan kedua orang muda itu seperti merasa-kan persatuan yang kokoh untuk menentang pen--dirian kakek yang biarpun sakti akan tetapi mereka anggap memiliki pendirian lemah itu.

Kakek itu tersenyum. "Seorang pendekar adalah abdi kebenaran dan keadilan. Hal ini memang benar dan memang sudah sepatutnya demikian. Akan tetapi kebenaran dan keadilan tidak mungkin dapat dipertahankan atau didirikan melalui kekerasan. Mungkin saja kita harus mempergunakan ilmu silat untuk melindungi diri dan untuk menun-dukkan lawan yang juga mempergunakan ilmu itu, akan tetapi ini bukan kekerasan namanya. Pendekar bahkan harus menjadi pembantu pemerintah untuk menahan merajalelanya kejahatan dan melindungi rakyat. Bukan malah menentang pemerintah. Bukankah penjahat - penjahat itu merupakan musuh pemerintah ? Kalau kita menentang pemerintah, berarti kita memberi angin kepada para penjahat."

"Tapi kalau pemerintahnya yang lalim dan jahat ?"

"Tidak ada pemerintah yang lalim. Yang jahat itu. hanya seorang dua orang pembesar saja. Bukan semua pejabat itu jahat. Buktinya, bukankah Menteri Ho juga seorang pejabat yang amat baik ?"

"Juteru karena baik itu maka ayah menjadi celaka !" kata Pek Lian penuh penasaran.

"Ayahmu itulah pendekar dan pahlawan sejati, nona ! Tanpa kekerasan, namun dia berani menentang kejahatan. Kalau kita melihat ada pembesar jahat, jangan lalu menganggap pemerintahnya yang jahat, melainkan pembesar itulah yang merupakan perorangan. Dan kewajiban kita adalah mengingatkan, agar pemerintah bertindak terhadap pembesar yang korup dan jahat itu."

"Akan tetapi, kalau yang lalim kaisarnya dan orang- orang yang duduk di tingkat teratas, seperti kepala thaikam Chao Kao si penjilat dan Perdana Menteri Li Su rajanya segala pembesar korup dan sewenang-wenang, lebih tepat kalau kita memberontak dan menggulingkan pemerintah bejat ini !" Tiong Li berkata lagi.

Kembali kakek itu menggeleng-geleng kepala. "Melalui perang saudara ?"

"Kalau perlu!"

"Mengorbankan ratusan ribu nyawa rakyat yang tak berdosa ? Perang selalu diikuti oleh kejahatan- kejahatan seperti perampokan, perkosaan, pembakaran, balas dendam pribadi, kekacauan karena tidak adanya hukum dan penjaga keamanan ! Setelah pemerintah dapat digulingkan misalnya dan orang - orang yang memimpin pemberontakan itu duduk di atas kursi empuk dan kemuliaan, lalu me-reka ini, para pimpinan pemberontak ini, yang tadinya dengan segala propaganda membujuk para pendekar dengan berbagai slogan indah muluk kosong, menjadi berbalik wataknya dan menjadi tukang korup pula, lalu apa yang hendak kalian lakukan ? Memberontak dan menggulingkan peme-rintahan baru itu pula ? Menimbulkan perang sau-dara yang baru pula ? Membakar pemerintah dan negara yang menjadi rumah bangsa lagi ? Celaka-lah kalau begitu ! Apakah kalian mampu menja-min bahwa di dalam pemerintahan baru tidak akan timbul tikus - tikusnya ?"

Dua orang muda itu saling pandang, ragu - ra-gu, lalu mengerutkan alisnya merenung bingung, tak mampu menjawab ! Penggambaran kakek itu terlalu mengerikan, namun bukan merupakan hal yang tidak mungkin terjadi! Bahkan sejarah sudah mencatat berulang kali terjadinya peristiwa seperti itu! Pemerintah yang dipimpin pembesar-pembesar yang dianggap lalim, ditumbangkan oleh sekelompok orang yang pada waktu itu memang berjiwa pahlawan, mengerahkan rakyat untuk mem-. bantu perjuangan mereka menumbangkan kekuasaan lalim. Kemudian, mereka menang dan menjadi penguasa.

Akan tetapi, setelah menjadi pembesar-pembesar mereka seperti lupa akan suara hati nurani perjuangan, lelap dalam kesenangan, mabok kemuliaan dan berobah menjadi orang - orang yang tidak kalah lalim dan korupnya dibandingkan de ngan pembesar - pembesar terdahulu yang mereka tumbangkan. Muncul pula pahlawan - pahlawan yang mempergunakan kekuatan rakyat menumbangkan pemerintah baru itu, dan demikianlah, susul - menyusul terjadi pemberontakan - pemberontakan dan perang saudara. Rakyat terus - menerus menjadi korban. Kalau ada perjuangan, rakyatlah yang dijadikan perisai dan tombak, kalau perjuangan berhasil, hanya sekelompok manusia sajalah yang menikmati hasil kemenangan itu dan melu-pakan rakyat sampai ada kelompok pejuang atau pahlawan lain yang muncul, yang kembali memper-gunakan rakyat sebagai mata tombak dan perisai-Betapa menyedihkan keadaan di seluruh dunia ini !

"Anak - anak yang baik," kata pula kakek itu melihat mereka termenung.

"Sebuah pemerintahan terdiri dari ratusan, dan ribuan pejabat. Tak mung-kin mengharapkan bahwa seluruh pejabat itu be-kerja dengan jujur dan baik. Tentu ada saja yang salah jalan, sesat dan curang. Adalah kewajiban semua orang yang mencintai tanah air dan bangsanya untuk mengamati hal ini dan memprotes kebu-rukan - keburukan seorang pejabat, menuntut agar pejabat itu diganti dengan orang yang lebih jujur. Bukan lalu memberontak dengan kekerasan. Kekerasan ini mencerminkan adanya keinginan untuk mengejar sesuatu dan biasanya, pengejar - pengejar kesenangan akan mabok kesenangan. Kemenangan dalam kekerasan membuat orang mabok akan kemenangan itu dan menjadi lupa diri dan buta, sebaliknya kekalahan dalam kekerasan menimbulkan sakit hati dan dendam."

Dua orang itu saling pandang dan menundukkan muka. Mereka tidak dapat membantah lagi. Keterangan kakek itu mengejutkan hati mereka, membuat mereka seolah - olah dipaksa membuka mata melihat kenyataan yang amat kotor dan pahit. Membuat mereka merasa ngeri. Mereka sendiri adalah orang - orang muda yang berhati bersih dan jujur. Sedikitpun mereka tidak memiliki keinginan untuk menang dan berpesta dalam kemenangan itu. Mereka hanya melihat ketidakadilan, menjadi penasaran dan hendak membela mereka yang tertindas. Keterangan-keterangan yang baru saja diucapkan oleh kakek itu membuat Pek Lian dan Tiong Li diam-diam membayangkan keadaan guru masing - masing.

Pemimpin rakyat Liu Pang guru Pek Lian yang terkenal dengan sebutan Liu-toako, pendekar dan pahlawan sejati itu, apakah benar dia memiliki keinginan kotor untuk kesenangan diri pribadi yang tersembunyi di balik cita - cita perjuangan demi rakyat itu ? Dan Tiong Li juga meragukan apakah gurunya, pendekar dan pejuang Chu Siang Yu, juga memiliki keinginan demi kesenangan pribadi seperti yang digambarkan oleh kakek ini, atau setidaknya kelak kalau menang akan berobah menjadi penindas dan pengejar kemuliaan sendiri saja ? Dia tidak mampu membayangkan dan merasa ngeri.

"Locianpwe, semua keterangan locianpwe terlalu mengerikan dan terlalu mendalam bagi saya. Sekarang, bagaimana baiknya ? Saya mohon nasihat locianpwe," katanya.

"Aku tetap hendak melihat keadaan ayahku dan selanjutnya... entahlah. Kata - kata locianpwe sudah memadamkan sebagian besar api dendamku..." kata Pek Lian meragu.

Kakek Kam tersenyum. "Anak-anak muda berdarah panas dan bersemangat, memang sudah sepa tutnya demikian, asal saja darah panas dan sema-ngat itu disertai kebijaksanaan dan jangan sampai dipergunakan orang - orang demi keuntungan me-reka sendiri. Kwee Tiong Li, engkau adalah seo-rang pemuda yang hebat! Semuda ini sudah memi-liki ilmu silat tinggi dan tenaga sinkang yang amat kuat, juga memiliki batin yang bersih penuh de-ngan semangat kegagahan. Kalau engkau memiliki sedikit ginkang yang baik, kiranya kelak engkau akan menjadi seorang pendekar pilihan. Maukah engkau ikut denganku untuk belajar ginkang dari-ku ? Dan engkau, nona ? Engkaupun memiliki ba-kat yang amat baik, aku ingin mewariskan bebera-pa ilmuku kepada kalian berdua."

"Teima kasih, locianpwe. Saya terpaksa tidak dapat menerima kebaikan hati locianpwe, karena saya harus pergi melihat keadaan ayah, kemudian kembali ke Puncak Awan Biru," kata Pek Lian.

Akan tetapi Tiong Li menerima penawaran ka-kek itu dengan girang. Pendekar muda ini maklum betapa dengan kepandaiannya yang sekarang, dia tidak dapat berbuat banyak terhadap para kaum sesat yang amat lihai itu, maka kalau kakek sakti ini mau mendidiknya, tentu saja dia merasa gem-bira sekali.

"Kita tidak boleh terlalu lama berada di sini,"" kata kakek Kam.

"Biarpun jejak kaki kuda sudah kuhapus, akan tetapi mereka tentu akan terus mencari dan tentu akan sampai di sini pula."

"Kalau begitu, biarlah saya akan pergi lebih dulu," kata Pek Lian. Ia bangkit berdiri lalu memberi hormat kepada kakek itu.

"Kam - locianpwe, sekali lagi saya menghaturkan terima kasih atas semua budi kebaikan locianpwe kepada saya. Kwee - toako, terima kasih dan selamat tinggal."

Kakek itu hanya mengangguk - angguk dan Tiong Li cepat membalas penghormatan gadis itu. Hatinya merasa terharu sekali. Karena bertemu dengan dia dan kemudian membelanya, maka gadis itu kehilangan kedua orang gurunya.

"Nona, akulah yang harus berterima kasih. Mudah- mudahan kelak kita akan dapat saling bertemu kembali"

Pek Lian mengangguk, tak kuasa menjawab karena ia khawatir kalau - kalau suaranya akan terdengar parau pada saat hatinya amat berduka itu. Ia lalu menghampiri kuda rampasannya, lalu meloncat ke atas punggung sela kudanya. Ia menoleh dan mengangguk, akan tetapi sebelum ia membe-dal kudanya, tiba - tiba Tiong Li meloncat mendekat sambil berseru, "Tahan dulu. nona!"

Pek Lian menahan kendali kudanya dan menoleh. Matanya basah, akan tetapi kini ia dapat menguasai hatinya karena merasa heran. "Ada apa kah, Kwee -toako ?" tanyanya.

Tiong Li tidak menjawab, melainkan cepat dia membuang semua tanda-tanda pada kendali dan pelana kuda itu sehingga yang tertinggal hanya sela kasar dan kulit kendali sederhana tanpa hiasan. Kemudian dia mencari sebatang ranting pohon penuh daun dan mengikatkan ranting ini dengan pelana kuda sehingga ranting itu akan ter-seret kalau kudanya lari.

Setelah selesai melakukan semua itu yang diikuti oleh pandang mata kehe-ranan Pek Lian, dia berkata, "Dengan begini, orang tidak akan mengenal kuda tentara kerajaan dan ranting itu akan menghapus jeiak kudamu, nona Ho."

Barulah Pek Lian mengerti dan merasa gembira. "Terima kasih, toako. Engkau baik sekali. Sam-pai jumpa ! Selamat tinggal, Kam - locianpwe !"

Dan Pek Lian lalu menjalankan kudanya. Kuda itu berlari cepat, menyeret ranting yang mengha-pus jejak Liki kuda, mengeluarkan debu yang me-ngepul tinggi.

Tiong Li memandang sampai bayangan gadis dan kudanya itu lenyap, baru dia membalikkan tubuhnya menghadap kakek Kam dan menjatuhkan dirinya berlutut. "Suhu, teecu mohon petunjuk selanjutnya."

Kakek itu tersenyum. "Bagus, mulai saat ini engkau mei'jadi muridku. Tiong Li, kalau engkau kelak berjodoh dengan nona itu, sungguh akupun merasa gembira sekali. Ia seorang gadis yang luar biasa!"

Mendengar ini, wajah pemuda yang biasanya tenang itu berobah merah sekali, akan tetapi hatinya terasa perih. Dia tidak tahu apakah dia mencinta gadis itu, akan tetapi bagaimana mungkin dia dapat membayangkan dirinya berjodoh dengan seorang puteri menteri kebudayaan ? Dia hanya seorang yatim piatu yang miskin, bahkan rumahpun tidak punya, hidup sebagai seorang pelarian pula. Ah, terlampau jauhlah khayal itu. Dia masih seperti berada dalam lamunan ketika gurunya mengajaknya pergi dari situ, meninggalkan kuda rampasan karena kakek itu tidak mau menunggang kuda dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki saja.


                                                                  ***

Ho Pek Lian melakukan perjalanan seorang diri dengan kudanya. Tadinya, ketika meninggalkan Tiong Li dan kakek Kam, ia membalapkan kudanya karena ingin cepat - cepat pergi agar mereka tidak melihat kesedihan dan tidak mendengar tangisnya. Setelah ia pergi jauh, ia membuang ranting di belakang kudanya dan menjalankan kudanya perlahan-lahan sambil termenung. Kedukaan menghimpit hatinya, membuat wajahnya pucat kehilangan cahaya, matanya sayu dan kadang-kadang, kalau pikirannya meremas perasaan hatinya dengan kenang- kenangan dan bayangan-bayangan, air matanya meluap keluar dari pelupuk kedua matanya Selama ini ia melakukan perjalanan dengan dua orang gurunya, menemui hal-hal hebat dan semua ini seolah- olah merupakan hiburan, atau setidaknya membuatnya seperti lupa akan keadaan dirinya sendiri, keadaan keluarganya yang berantakan itu. Akan tetapi sekarang, pada saat ia menunggang kuda seorang diri, melalui pegunungan yang sepi itu, tanpa adanya seorangpun manusia menyertainya, ia merasa amat kehilangan kedua orang gurunya dan perasaan kesepian ini menjalar ke dalam hatinya, membuatnya termenung dan berdu-ka. Dalam keadaan kesepian itu, pikirannya melayang - layang, mengingat-ingat akan keluarga ayahnya yang menjadi tawanan, dan hatinya terasa semakin terhimpit oleh kesepian yang membuat air matanya mengalir keluar, penuh dengan rasa duka dan sengsara.

Semakin diingat, semakin gundah hatinya, makin besar rasa iba diri menyerangnya dan membuat ia beranggapan bahwa di dunia ini, hanya ia seoranglah yang paling sengsara hidupnya. Kedukaan membuat tubuhnya terasa lemas dan Pek Lian lalu menghentikan kudanya, turun dari atas punggung kuda dan membiarkan kudanya makan rumput, sedangkan ia sendiri duduk di bawah pohon, bersandar batang pohon dan menerawang ke langit yang penuh awan putih berarak. Akan tetapi sekali ini tidak nampak keindahan di angkasa itu bagi Pek Lian. Bahkan membuat rasa dukanya menjadi semakin menyesak di dada. Ia merasa seperti menjadi segumpal awan putih kecil yang melayang-layang jauh dari kelompok awan lain, terpencil di sana, sendirian, kesepian. Semilirnya angin membuat hatinya perih oleh rasa rindu kepada orang tuanya. Kenangan akan tewasnya Kim -suipoa Tan Sun dan Pek - bin - houw Liem Tat, dua di antara guru - gurunya yang amat sayang kepadanya seperti orang tua sendiri, membuat air matanya mengalir lagi. Bencana yang menimpa keluarga ayahnya masih belum dapat diatasi, kedua orang gurunya telah tewas pula.

Usianya baru delapanbelas tahun dan ia sudah harus mengalami demikian banyak kepahitan hidup. Ia bukanlah seorang dara yang cengeng, sama sekali bukan! Biarpun sejak kecil, sebagai puteri seorang menteri yang berkedudukan tinggi ia hidup di dalam kemuliaan, kehormatan dan kaya raya, namun Pek Lian bukanlah seorang dara yang manja dan cengeng. Sejak kecil pula ia digembleng oleh guru - gurunya sebagai seorang wanita yang berjiwa pendekar, yang tidak mudah mengeluh menghadapi kesukaran. Namun, kepahitan yang dihadapinya sekarang ini terlampau hebat, luka di hatinya terlampau parah, membuatnya menangis seorang diri di tempat sunyi itu. Ia harus bertemu dengan ayahnya sekali lagi sebelum ayahnya dihukum ! Di dunia ini, ia hanya mempunyai seorang keluarga terdekat, yaitu ayahnya. Ibunya sudah tiada, dan ia tidak mempunyai saudara kandung. Ia harus bertemu dengan ayahnya, apapun yang akan terjadi ! Bisikan hati ini menggugah semangat Pek Lian dan iapun bangkit lagi, menaiki punggung kudanya dan melanjutkan perjalanan.

Matahari telah condong ke barat ketika kuda yang ditunggangi Pek Lian menuruni sebuah lereng bukit. Ia menghentikan kudanya dan memandang ke sekeliling, hendak mencari sebuah dusun untuk melewatkan malam ketika tiba - tiba ia melihat munculnya lima orang wanita. Begitu bertemu, Pek Lian terkejut karena ia mengenal mereka itu sebagai rombongan wanita bertusuk konde batu giok yang pernah ia jumpai ketika ia masih bersama-sama dua orang gurunya. Lima orang wanita itu muncul dari jalan simpangan dan bertemu dengannya tepat di perempatan jalan kecil itu. Dan mereka berlima itupun agaknya terkejut melihatnya, dan mengenalnya pula. Mereka berhenti dan seorang di antara mereka yang bertahi lalat di bawah telinga kiri berkata, suaranya lantang,

"Ah, engkaukah ini ? Di mana adanya kokcu (ketua lembah) yang muda itu bersama tiga orang sam - lo - nya ? Kenapa engkau hanya sendirian saja ?"

Pertanyaan ini lantang dan diajukan dengan nada suara yang meremehkan, tanpa sikap hormat sama sekali seperti sikap orang dewasa yang bertanya kepada anak kecil saja. Pada saat itu, batin Pek Lian sedang mengalami tekanan dan dalam keadaan seperti itu, tentu saja ia mudah sekali tersinggung. Hatinya terasa mengkal dan ia sama sekali tidak memperdulikan pertanyaan orang, melainkan dengan gemas ia menarik kendali kudanya, membuat kuda itu terlonjak dan lari. Dengan dagu terangkat Pek Lian lewat menanggalkan mereka.

"Haii, bocah sombong, tunggu !" Terdengar bentakan di belakangnya, disusul berkelebatnya bayangan lima orang itu yang sudah melakukan pengejaran.

"Tar - tar - tarrr !"

Pek Lian terkejut sekali melihat sinar biru menyambar-nyambar di dekat kepalanya dan meledak ketika ia mengelak. Kiranya ia telah diserang oleh seorang di antara mereka dengan sehelai sabuk berwarna biru yang tadi melakukan totokan tiga kali berturut-turut ke arah leher dan pundaknya.

"Orang - orang jahat!" bentaknya dan terpaksa ia meloncat turun dari atas kudanya sambil mencabut pedangnya.

"Kalian kira aku takut mela-wan ?"

Iapun sudah memutar pedangnya dan menyerang wanita yang tadi menggerakkan sabuk. Karena dalam keadaan marah dan menganggap bahwa wanita itu tentulah bukan golongan baik-baik dan yang agaknya sengaja hendak memusuhinya, Pek Lian sudah menyerang dengan dahsyat sehingga gerakan pedangnya melahirkan tusukan-tusukan maut ke arah wanita itu. Wanita itu meng-elak beberapa kali, nampaknya terkejut juga me-nyaksikan kehebatan gerakan pedang di tangan Pek Lian.

"Cring ! Tarang - tranggg ! !"

Bunga api berpijar menyilaukan mata dan kem-bali wanita itu terkejut ketika memperoleh kenya-taan betapa tenaga dara muda itu cukup kuat un-tuk menandingi tenaganya. Pek Lian terus menye-rang, akan tetapi wanita yang bertahi lalat, yang menjadi pemimpin di antara mereka, segera ber-teriak dan teman - temannya sudah maju menge-pung Pek Lian.

Pek Lian terus memutar pedangnya, melawan mati - matian dan penuh kemarahan. Akan tetapi tingkat kepandaiannya hanya seimbang dengan se-orang di antara mereka, maka setelah mereka ber-lima maju bersama, tentu saja ia segera terdesak hebat. Untung baginya bahwa lima orang wanita, bertusuk konde batu giok itu agaknya tidak berni-at membunuhnya. Kalau demikian halnya, tentu ia tidak akan dapat bertahan lama. Beberapa belas jurus kemudian, lima orang itu mempergunakan sabuk biru yang menyambar - nyambar dan. akhir-nya Pek Lian terpaksa menyerah ketika sabuk-sabuk biru itu telah melibat tubuhnya, membuat ia tidak dapat lagi menggerakkan kaki tangannya. Ia tertawan dan dibelenggu kedua lengannya ke belakang.

"Manusia-manusia hina, pengecut besar. Beraninya hanya main keroyokan ! Kalau mau bunuh lekas bunuh, jangan dikira aku takut mati!" teriak Pek Lian marah.

"Pemberontak hina!" Si tahi lalat itu memaki dan makian ini membuat Pek Lian membungkam.

Siapakah mereka ini, pikirnya, dan apakah mereka ini tahu bahwa ia adalah puteri Menteri Ho yang dianggap pemberontak? Ia mulai merasa khawatir. Kalau sampai ia ditangkap sebagai pemberontak, ditawan seperti ayahnya, tentu ayahnya akan marah dan semua usahanya sia - sia belaka. Ia harus mencari akal dan kesempatan untuk meloloskan diri dari orang - orang ini. Ia harus mencari ayahnya.

Akan tetapi, gerak - gerik lima orang wanita ini demikian teliti dan teratur, jelas menunjukkan bahwa mereka adalah rombongan orang-orang terlatih, seperti pasukan kecil yang dikemudikan oleh pemimpinnya, yaitu wanita yang bertahi lalat. Tak pernah mereka itu lengah menjaganya dan ketika malam tiba, mereka berhenti di bagian yang tinggi dan agaknya mereka itu menanti sesuatu. Pek Lian tidak pernah membuka mulut dan hanya memperhatikan gerak-gerik mereka yang juga tidak banyak mengeluarkan kata - kata itu. Mereka berlima itu bersikap seperti menantikan orang, sering kali memandang ke empat penjuru dari tempat tinggi itu dan saling pandang seperti orang - orang yang mulai merasa gelisah. Pek Lian menduga - duga siapa gerangan yang mereka nan-tikan. Ia teringat bahwa ketika ia bersama kedua orang gurunya dan juga orang - orang Lembah Yang - ce melakukan perjalanan dan berjumpa de-ngan mereka ini, terdapat delapan orang di antara wanita bertusuk konde batu giok ini.

Akan tetapi sekarang hanya tinggal lima orang. Ke manakah perginya tiga orang lagi ? Apakah mereka ini me-nanti munculnya tiga orang kawan mereka itu ?

Pek Lian diajak makan dan dara ini tidak menolak. "Kalau engkau tidak melawan, kamipnn ti-dak akan mengganggumu, hanya engkau harus menurut saja sebagai tawanan yang baik," kata si tahi lalat sambil melepaskan belenggu kedua tangan Pek Lian.

Pek Lian hanya mengangguk. Ia tidak takut, hanya ia tahu bahwa kalau ia bersikap keras, ia tidak berdaya untuk lolos, ia harus mempergunakan kecerdikan dan tidak menuruti hati yang panas. Setelah makan, mereka berlima itu duduk bersila, seperti orang bersamadhi, membentuk lingkaran dan Pek Lian berada di tengah - tengah. Pek Lian maklum bahwa lima orang wanita itu beristirahat, namun mereka itupun tidak pernah lengah dan ia seperti dikurung. Maka iapun mencontoh perbu-atan mereka, duduk bersila mengumpulkan tenaga. Api unggun yang dibuat oleh mereka itu bernyala tak jauh dari mereka, mengusir nyamuk dan dingin.

Hanya satu kali si tahi lalat itu mengeluarkan suara yang mengandung kegelisahan, "Mengapa sampai sekarang mereka belum juga datang ?"

Ucapan ini meyakinkan hati Pek Lian bahwa mereka tentu menanti datangnya tiga orang kawan mereka, dan memang dugaannya ini tepat. Lima orang wanita yang memiliki ciri khas, yaitu tusuk konde batu giok itu, memang sedang menantikan datangnya tiga orang kawan mereka.

Menjelang tengah malam, suasana. sunyi bukan main di tempat itu. Hutan di dekat puncak bukit nampak hitam menyeramkan dan suara binatang-binatang hutan kadang - kadang membuat Pek Lian terkejut dan membayangkan yang bukan - bukan. Biarpun ia masih duduk bersamadhi seperti lima orang yang menawannya, namun diam - diam Pek Lian selalu waspada. Sedikit saja kesempatan untuk meloloskan diri, sudah pasti tidak akan dilewatkannya. Akan tetapi, lima orang itu agaknya tidak pernah lengah, karena mereka itu masih tetap menantikan munculnya tiga orang kawan mereka.

Tiba - tiba terdengar bunyi desing di sebelah selatan. Mereka semua terkejut, termasuk Pek Lian dan semua orang menengok ke arah selatan. Nampak oleh mereka meluncurnya anak panah berapi kuning yang meluncur ke angkasa. Anak panah tanda bahaya!

Si tahi lalat sudah meloncat bangun dan berkata, "Tanda bahaya mereka ! Tentu terjadi sesuatu yang gawat ! Mari kita bantu mereka. A-bwee, engkau di sini menjaga tawanan!"

Wanita yang disebut A - bwee mengangguk dan tanpa diduga oleh Pek Lian, wanita ini sudah me-ringkus dan membelenggu kedua lengannya. Pek Lian terkejut dan hendak melawan, namun maksud hati ini diurungkannya, karena apa dayanya menghadapi mereka berlima ? Kedua lengannya diikat di belakang tubuhnya dan setelah melihat betapa tawanan itu tidak berdaya, empat orang di antara mereka lalu berloncatan pergi sedangkan yang seorang itu duduk menjaga tawanan yang sudah ter-belenggu kedua lengannya itu. Ketika empat orang wanita gagah itu dengan tangkasnya berloncatan ke arah anak panah tanda bahaya tadi, tiba-tiba mereka melihat anak panah ke dua dan mengertilah mereka bahwa teman - teman mereka terancam bahaya besar.

"Mari cepat!" kata yang bertahi lalat dan me-rekapun mengerahkan seluruh kepandaian mereka berlari cepat menuruni bukit itu dan ketika mereka tiba di lereng, mereka melihat betapa pemimpin mereka sedang berkelahi dengan amat serunya menghadapi seorang nenek yang bertubuh gendut dan lihai bukan main.

Jelaslah bahwa pemimpin mereka itu terdesak hebat. Tak jauh dari situ nampak seorang kakek kurus kecil sedang berjongkok, nongkrong di atas sebuah pedati. Dekat pedati itu tergeletak dua orang tubuh wanita, dua di antara tiga kawan kelompok wanita bertusuk konde batu giok itu. Melihat betapa muka mereka nampak kebiruan, mudah diduga bahwa mereka itu tentu terluka hebat dan keracunan. Begitu melihat nenek gendut dan kakek kurus ini, empat orang wanita yang baru datang terkejut bukan main.

"Iblis-iblis dari Ban-kwi-to (Pulau Selaksa Iblis) !" teriak mereka dan merekapun sudah cepat mencabut pedang untuk membantu pemimpin mereka.

"Awas ......!" Pemimpin mereka berseru sambil memutar pedang melindungi dirinya dari desakan lawan.

"Lindungi hidung dengan saputangan! Tempat ini telah penuh disebari racun oleh iblis-iblis ini!"

Mendengar seruan itu, empat orang wanita bertusuk konde giok segera mengikatkan saputangan melindungi hidung dan mulut mereka, kemudian merekapun maju mengeroyok wanita gendut yang amat lihai itu. Hebat bukan main wanita gendut itu. Biarpun tubuhnya gendut, akan tetapi ia dapat bergerak dengan amat gesitnya dan ia menghadapi pengeroyokan lima orang wanita lihai yang berpedang itu dengan kedua tangan kosong saja! Akan tetapi, yang terancam maut malah lima orang pengeroyoknya karena setiap gerakan wanita gendut ini selalu mengandung bahaya. Jarum-jarum halus menyambar- nyambar dari jarak dekat kepada mereka sehingga mereka itu harus lebih banyak mempergunakan pedang mereka untuk melindungi tubuh. Setiap tamparan tangan wanita itupun me-ngandung hawa beracun yang selain membawa bau amis, juga mengandung hawa yang kadang-kadang amat panas dan kadang-kadang amat di-ngin. Untunglah bahwa lima orang wanita itu memang pada dasarnya memiliki ilmu pedang yang tangguh, dan setelah kini mereka maju berlima, nenek gendut itu tidak mudah merobohkan seorang di antara mereka.

Bersambung

Darah Pendekar 7                                                                       Darah Pendekar 9