Kamis, 25 April 2013

DARAH PENDEKAR 7

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Bab 7

"Kakek yang nekat, mari kita mulai. Ingat, kita berlumba meletakkan batu ini di puncak bukit sana itu, lalu kembali ke sini. Kuhitung sampai tiga. Satu... dua... tiga!"

Dan orang hanya melihat dua bayangan berkelebat dan tahu-tahu dua orang itu lenyap dari tempat mereka berdiri seperti dua setan yang menghilang saja! Tentu saja semua orang terkejut dan melihat betapa orang - orang yang memiliki kepandaian tertinggi di antara mereka seperti si Buaya Sakti dan si Ha-rimau Gunung memandang ke satu arah, mereka-pun ikut-ikut memandang dan dapat dibayang-kan betapa kagum rasa hati mereka melihat di titik hitam "terbang" menuju ke puncak bukit di depan !

Kehebatan ilmu ginkang dari Raja Kelelawar telah menjadi semacam dongeng, karena Raja Ke-lelawar telah meninggal dunia puluhan tahun yang lalu. Dan sekarang muncul seorang keturunan yang menguasai semua ilmu - ilmunya, termasuk ilmu ginkang luar biasa itu. Memang jarang ada orang yang sanggup menandingi ginkang dari Raja Kelelawar, karena kalau para ahli yang lain hanya mengandalkan kemampuan tubuh latihan dan kekuatan dalam, Raja Kelelawar mempunyai rahasia-rahasia yang tidak diketahui orang lain. Ada alat-alat rahasia yang dipakainya, yang membantunya dapat berlari seperti terbang dan bergerak amat lincahnya. Alat - alat rahasia itu sebagian tersem-bunyi di dalam jubahnya, dan juga di sepatunya yang membuat kakinya seperti menginjak pegas yang dapat membuatnya memantul.

Iblis berpakaian hitam itu dapat menduga akan kelihaian kakek yang menantangnya maka diapun mengerahkan seluruh kemampuannya sehingga tubuhnya bagaikan terbang saja. Dia terkejut melihat betapa kadang - kadang ada bayangan berkelebat di dekatnya, dan tahulah dia bahwa kakek itu benar - benar amat luar biasa, dapat menyamai kecepatan gerakannya. Dan dia menjadi semakin penasaran dan terheran - heran ketika dia meletakkan batu besar itu di puncak bukit, diapun melihat batu yang tadi dibawa oleh kakek itu telah berada di situ ! Maka diapun tidak mau menengok lagi ke sana - sini, melainkan "tancap gas" dan ngebut, secepat mungkin dia terbang menuruni puncak bukit! Ketika dia tiba di situ, terdengar sorak-sorai dan tepuk tangan para "anak buahnya" menyambutnya. Baja Kelelawar menjadi girang sekali dan merasa menang, akan tetapi dia mendengar suara terkekeh dan ternyata kakek itupun sudah berada di situ, agaknya bersamaan waktunya dengan dia ! Jantung Baja Kelelawar terasa berdebar dan perutnya panas. Dia merasa ditantang benar-benar ! Jelaslah bahwa biarpun kakek ini tidak dapat dikatakan menang atau mendahuluinya, akan tetapi setidaknya dapat menyamainya !

"Bagus, sekarang pertandingan ke dua kita mu-lai," katanya dengan suaranya yang melengking tinggi.

"Pertandingan pertama masih belum dapat menentukan siapa menang siapa kalah !"

Berkata demikian, sekali menggerakkan tubuhnya, si iblis hitam telah lenyap dari situ dan sebelum semua orang hilang Kagetnya, tubuhnya sudah melayang turun dari atas pohon dan tangannya membawa dua tangkai daun. Dia memberikan setangkai kepada kakek, itu dan memasukkan yang setangkai lagi ke lubang kancing bajunya.

Kakek itupun sambil tersenyum dan terkekeh memasukkan tangkai daun ke lubang kancingnya, lalu menghadapi Raja Kelelawar sambil berkata, "Bu - eng Hwee - teng memang hebat bukan main ! Akan tetapi hendaknya diingat bahwa kita tidak sedang berkelahi, melainkan mempergunakan kecepatan gerakan untuk saling merampas daun, Maka, kita berdua cukup mengerti banwa tidak dipergunakan pukulan dan tangkisan dalam lumba ini, melainkan hanya usaha merampas daun dan pengelakan untuk menyelamatkan daun, jadi sepenuhnya menggunakan kecepatan gerakan. Begitu, bukan ?"

Si iblis hitam mengangguk. "Begitulah, dan mari kita mulai!"

Berkata demikian, tiba-tiba iblis hitam sudah menggerakkan tangannya, cepat sekali, menyambar ke arah dada kakek itu.

"Eeiiiittt, luput !" Si kakek sudah mengelak dengan kecepatan yang tak terduga-duga sehingga tubuhnya seperti menghilang saja. Selanjutnya, semua orang melihat betapa tubuh dua orang itu benar - benar lenyap bentuknya, yang nampak ha-nya bayangan berkelebatan sedemikian cepatnya sehingga sukar untuk dapat diikuti dengan pandang mata! Bahkan para tokoh kaum sesat yang sudah tinggi ilmunya menjadi pening dan silau mpnyaksikan gerakan dua tubuh itu dan kadang-kadang bayangan itu seperti menjadi satu, kadang-kadang saling kejar akan tetapi tidak dapat dibe-dakan siapa yang dikejar dan siapa yang mengejar.

Bukan main hebatnya permainan kejar - kejaran saling memperebutkan daun ini sehingga seperempat jam lewat sudah, dan semua orang memandang dengan penuh ketegangan. Dua orang yang sedang berlumba itu sendiripun menjadi kagum bukan main karena sampai sekian lamanya, belum juga mereka mampu merampas daun. Iblis sakti itu mengeluarkan suara melengking nyaring karena penasaran. Sungguh di luar dugaannya bahwa dia akan bertemu dengan seorang kakek yang mampu menandinginya! Dan kakek ini keluar pada saat dia memperkenalkan diri kepada dunia lagi!

Tiba - tiba kakek itu mengeluarkan seruan kaget karena kini tangan yang mencengkeram ke arah daun itu membalik ke arah lehernya dengan totokan maut! Akan tetapi, kakek ini memang sudah bersiap-siap, maklum akan curang dan kotornya watak seorang dari dunia hitam. Cenat dia mengelak dan pada saat itu, daun di lubang kancingnya telah kena dirampas! Si iblis hitam meloncat ke belakang dan mengangkat tinggi-tinggi daun itu di atas kepalanya.

"Hemm, daunmu telah dapat kuambil!" katanya dan semua tokoh sesat bersorak menyambut kemenangan ini.

Akan tetapi tanpa dilihat siapa-pun, kakek itu membuka tangannya dan melihat sebuah kancing hitam di telapak tangan kakek itu. Raja Kelelawar terbelalak. Itulah kancingnya, kancing jubahnya! Kalau kancing jubahnya saja dapat diambil kakek itu, apa lagi daunnya. Senga-ja kakek itu tidak mau mengambilnya dan sengaja kakek itu mengalah! Iblis hitam itu adalah seo-rang yang tingkatnya sudah tinggi sekali, maka diapun maklum bahwa lawan telah mengalah dan memberi muka terang kepadanya. Hal ini berarti bahwa biarpun kakek itu lihai dan mampu meng-atasinya, namun kakek itu tidak berniat buruk dari hanya ingin menyelamatkan tujuh orang itu saja Maka diapun lalu membuang daun itu dan berka-ta, suaranya melengking nyaring.

"Sudahlah ! Betapapun juga, ilmu kepandaian mu hebat dan sudah lebih dari cukup untuk membiarkan engkau membawa pergi tujuh orang itu !"

Semua tokoh sesat merasa heran karena tadinya mereka mengira bahwa Raja Kelelawar tentu akan membunuh kakek itu bersama tujuh orang lainnya Akan tetapi tidak ada seorangpun di antara mereka yang berani membantah.

Kakek itupun membungkuk - bungkuk dan tertawa. "Ahh, ternyata Raja Kelelawar seperti hidup kembali! Kebesarannya sungguh hebat, sesuai dengan perbuatannya dan kegagahannya. Terima kasih, sobat!"

Kakek itupun menghampiri Pek Lian dan teman - temannya, lalu berkata.

"Orang telah bersikap lunak kepada kita, tidak lekas pergi mau tunggu apa lagi ?"

Tujuh orang itu tidak menjawab hanya melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Ketika kakek itu hendak pergi juga, tiba-tiba Raja Kelelawar bertanya, suaranya melengking, membuat Pek Lian dan kawan - kawannya terkejut dan me-rekapun menghentikan langkah dan menengok, siap menghadapi segala kemungkinan. Hal macam apa saja dapat dilakukan oleh orang - orang dari dunia hitam!

Akan tetapi, ternyata Raja Kelelawar itu hanya bertanya kepada kakek itu dengan suara mengandung geram, "Kakek, siapakah engkau sebenarnya ?"

Kakek itu mencoret - coret tanah dengan ujung tongkat bututnya dan menarik napas panjang ber-ulang - ulang sebelum menjawab.

"Aihh, belasan tahun hidup aman tenteram penuh damai di puncak gunung, siapa kira hari ini terpaksa terjun ke dalam kekeruhan dunia. Dan tidak nyana sama sekali bahwa mendiang Raja Kelelawar benar-benar telah mempunyai seorang pewaris sepertimu ini. Sungguh mengagumkan. Terus terang saja, selama hidupku, baru sekali ini aku mengalami bertemu tanding yang membuatku kewalahan dalam ilmu ginkang. Padahal, aku mengira bahwa aku telah mewarisi semua kemampuan mendiang guruku yang terkenal, dengan julukan Bu - eng Sin - yok-ong (Si Raja Tabib Sakti Tanpa Bayangan)." Kakek itu menarik napas panjang lagi dan memandang kagum kepada iblis berpakaian hitam itu.

Semua orang terkejut mendengar ucapan kakek itu. Nama Si Raja Tabib Sakti amat terkenal, seperti tokoh dongeng yang sama terkenalnya dengan nama Raja Kelelawar, di jaman dahulu. Juga Pek Lian dan kawan-kawannya memandang heran. Mereka teringat akan keluarga Bu, keturunan dari Raja Tabib Sakti pula, keturunan murid pertama manusia sakti itu. Juga mereka pernah bertemu dengan murid - murid ketua iblis berambut riap-riapan yang jubahnya bergambar naga, sebagai keturunan murid ke dua si Raja Tabib Sakti. Jadi inikah murid, ke tiga Raja Tabib Sakti yang dikabarkan mewarisi ginkang dari manusia sakti itu ? Pantas ginkangnya demikian hebatnya !

Timbul dalam hati Ho Pek Lian untuk menceritakan semua yang telah dialaminya di rumah ke-luarga Bu, tentang perebutan kitab pusaka pening-galan Raja Tabib Sakti, maka iapun melanjutkan langkahnya diikuti oleh kawan-kawannya mening-galkan tempat itu.

"Heh - heh - heh, selamat tinggal, Raja Kelelawar, atau engkau hendak mempergunakan julukan lain ?" kata kakek itu kepada si iblis hitam.

"Tidak ! Aku tetap memakai nama Bit - bo - ong si Raja Kelelawar untuk melanjutkan nama besar dari nenek moyangku dan mempersatukan semua sahabat di dunia kang - ouw dan liok - lim."

"Bagus, Raja Kelelawar, selamat tinggal dan sampai jumpa pula."

'Selamat jalan, dan dalam perjumpaan lain kali, bagaimanapun juga aku tidak akan melepaskan engkau begitu saja!" kata si Raja Kelelawar dengan sikap angkuh untuk meyakinkan hati para pengikutnya bahwa dia "lebih unggul" dari pada kakek itu, walaupun di dalam hatinya dia mengakui bahwa ginkangnya masih setingkat kalah oleh kakek itu.

Setelah kakek itu pergi pula mengikuti rom-bongan Pek Lian, si Raja Kelelawar lalu melanjut-kan pertemuannya dengan para tokoh sesat. Dengan suaranya yang melengking tinggi dan penuh wibawa dia lalu berkata kepada dua di antara Sam - ok yang hadir, yaitu Sin - go Mo Kai Ci dan San - hek - houw, "Kalian berdua telah datang dan menyambutku. Itu bagus sekali dan biarlah kalian menjadi pembantu - pembantuku di bidang masing-masing. Akan tetapi mengapa Tung - hai - tiauw tidak muncul di sini ?"

Setelah berkata demikian, iblis hitam itu me-mandang ke sekeliling, seolah - olah hendak mencari orang pertama dari Sam - ok itu di sekitar tempat itu. Suasana menjadi tegang dan semua orang memandang kepada iblis itu dengan rasa takut, khawatir kalau - kalau raja mereka itu marah.

Akhirnya San - hek - houw memberanikan diri menjawab, "Ong - ya, kami semua tidak tahu mengapa dia tidak muncul, mungkin saja terhalang sesuatu."

"Selidiki tentang dia!" kata raja datuk sesat itu. "Kalau dia memang sengaja tidak memenuhi panggilanku, kalian berdua bunuh dia dan bawa kepalanya di depanku ! Akan tetapi kalau memang terhalang sesuatu, bantu dia, kemudian ajak dia bersama - sama menghadap padaku."

"Akan tetapi, ong - ya, kalau kami sudah bertemu dengan Tung - hai - tiauw, ke manakah kami harus pergi untuk dapat menghadapmu ?" tanya Sin - go Mo Kai Ci.

"Datang saja ke kuil ini!" jawab sang raja sing-kat. "Akan ada wakilku di manapun kalian kehendaki untuk menghadapku. Tandanya adalah kele-lawar itu. Di mana ada kelelawar itu, maka di situ akan terdapat seorang wakilku. Dan kalau kalian ingin langsung menghadapku, dapat kalian pergi ke kota raja."

"Kota raja......?" Tentu saja dua orang raja kecil kaum sesat itu terkejut sekali. Tentu saja mereka terkejut karena kota raja merupakan tempat terakhir yang ingin mereka kunjungi, tempat yang amat berbahaya karena di kota raja terdapat petugas - petugas keamanan yang berilmu tinggi dan merupakan tempat paling tidak aman bagi penjahat - penjahat yang menjadi tokoh besar dan mudah dikenal orang.

"Ya, di kota raja. Di belakang istana kaisar terdapat sebuah kuil kecil. Datanglah ke sana, katakan kepada hwesio penjaga kuil bahwa kalian ingin menghadapku, dan kalau aku kebetulan berada di kota raja, aku akan datang. Seandainya aku tidak sedang berada di sana, dapat kalian meninggalkan pesan kepada hwesio di situ."

"Tapi, ong-ya..." San-hek-houw berkata.

"Jangan bantah! Tidak ada orang yang berani menggangguku di sana! Cukup, aku hendak pergi sekarang."

Akan tetapi dia tidak melangkah pergi, melain-kan memandang ke sekeliling, kepada mereka semua.

"Tidak tahukah kalian bagaimana caranya menyambut dan mengantar kepergian Raja Kelelawar, pemimpin besar kalian ??"

Semua orang terkejut dan dua orang raja kecil kaum sesat itu lalu membungkuk dengan dalam, tidak berani memandang. Semua orang mengikuti gerakan mereka. Terdengar suara melengking tinggi yang dibalas oleh lengking suara kelelawar besar yang tadi bergantung pada pohon, lalu terasa oleh mereka angin menyambar. Kemudian sunyi. Setelah beberapa lamanya dan mereka mengangkat muka, ternyata iblis berpakaian hitam itu telah lenyap dari tempat itu !

Maka kini meledaklah suara berisik di antara mereka, membicarakan pemimpin mereka itu. Dan rata - rata mereka merasa gembira sekali karena kalau keturunan Raja Kelelawar ini seperti pada jamannya dahulu, maka dunia hitam akan bangkit dan menjadi jaya! Para pendekar tidak akan sem-barangan berani menindas mereka, bahkan peme-rintahpun akan bersikap lunak. Dan dua orang "raja kecil" yang tadinya hampir saja saling serang itu kini hanya dapat saling pandang, merasa seo-lah - olah ada kekuasaan lain yang mengamati me-reka dan merekapun tidak berani berkutik.

Mereka merasa seperti seekor harimau yang dicabuti ca-karnya, tidak berani lagi merajalela memperlihat-kan kekuasaan. Betapapun juga, mereka tidak merasa menyesal karena mereka maklum bahwa dengan munculnya seorang datuk besar seperti Raja Kelelawar itu, kedudukan mereka malah lebih terjamin. Apa lagi sebagai pembantu - pembantu raja datuk itu ! Kemunculan kakek yang mengaku sebagai murid Raja Tabib Sakti saja tentu sudah membuat mereka semua ketakutan dan mungkin saja celaka di tangan orang sakti itu kalau saja di situ tidak ada Raja Kelelawar!

Maka mereka merasa terlindung dan Si Buaya Sakti tiba-tiba ber-teriak, "Hidup Bit-bo-ong pemimpin kita !"

Dan semua orangpun lalu menyambutnya dengan sorakan yang sama sampai berkali - kali sebelum mereka bubar dengan kacau seperti biasa menjadi watak mereka yang tak pernah dapat tertib.


                                                                    ***


Tujuh orang itu menuruni bukit bersama kakek yang masih berjalan tertatih - tatih dibantu tong-katnya. Tidak ada seorangpun di antara mereka yang mengeluarkan kata-kata ketika mereka menuruni bukit itu, meninggalkan kuil kuno yang kini menjadi tempat mengerikan. Mereka semua merasa seolah - olah mata Raja Kelelawar mengikuti mereka sehingga membuat hati terasa tegang dan tidak enak. Akhirnya, kesunyian yang amat mencekam itu dipecahkan oleh si kakek sakti yang terkekeh.

"Heh - heh - heh, sejak dahulu nama Raja Kele-lawar selalu mendatangkan perasaan menyeramkan. Sudah lama meninggalkan dunia, tahu-tahu kini muncul lagi dan aku berani bertaruh bahwa Raja Kelelawar yang sekarang ini tidak kalah lihainya oleh Raja Kelelawar yang tua dan yang sudah tidak ada lagi itu. Sungguh berbahaya!"

Kakek itu berhenti melangkah dan tujuh orang itupun Menghentikan langkah mereka. Kini mereka telah tiba di kaki bukit, sudah jauh dari kuil itu. Melihat kakek itu duduk di tepi jalan kecil, di atas akar pohon yang menonjol keluar dari permukaan bumi, tujuh orang itu saling pandang lalu merekapun semua duduk menghadapi kakek itu.

Bagaimanapun juga, kakek ini telah menyelamatkan nyawa mere-ka dari ancaman tangan maut Raja Kelelawar. Me-reka maklum bahwa mereka semua sudah pasti akan mati kalau tidak ada kakek itu. Baru Raja Kelelawar sendiri saja sudah demikian lihainya sedangkan ketua Lembah Yang - ce, Kwee Tiong Li, masih dalam keadaan lemah, walaupun sean-dainya dia dalam keadaan sehat sekalipun dia bu-kanlah lawan Raja Kelelawar. Selain merasa ber-hutang budi dan nyawa, juga mereka semua ingin bicara dengan kakek ini, menceritakan pertemuan mereka dengan keluarga Bu yang kemudian meli-hat keluarga Bu tertimpa malapetaka sedangkan keluarga itu masih ada hubungan dekat dengan ka-kek ini, masih sekeluarga perguruan. Juga, mereka maklum bahwa kakek ini adalah seorang sakti yang menentang kejahatan dan kelaliman, maka ada ba-iknya kalau mereka "mendekati" orang sakti ini agar kelak dapat membantu mereka menentang kelaliman kaisar dan kaki tangannya.

Tanpa menanti kakek itu mengeluarkan suara Kwee Tiong Li lalu mewakili teman - temannya memperkenalkan diri sambil memberi hormat, "Lo-cianpwe, setelah menerima budi pertolongan locian-pwe sehingga kami semua masih dapat hidup sam-pai saat ini, perkenankanlah kami memperkenal-kan diri kepada locianpwe."

Kakek itu mengangkat tangannya ke atas sambil tertawa.

"Heh-heh, jangan kecewa, aku sudah mengenalmu, orang muda. Engkau adalah ketua Lembah Yang-ce, memimpin para pendekar yang sedang melawan kekuasaan kaisar dan namamu Kwee Tiong Li, engkau murid dari pendekar Chu pemimpin besar para pemberontak, bukan ?"

Tiong Li mengangguk dan memandang kagum. Kakek itu tidak perduli lalu menoleh kepada tiga orang kakek pembantunya.

"Dan kalian ini yang disebut Yang-ce Sam-lo, pembantu ketua Lembah Yang - ce."

"Locianpwe sungguh berpengetahuan luas dan berpemandangan tajam," puji seorang di antara Yang - ce Sam - lo.

Kembali kakek itu tertawa, ketawanya polos.

"Heh - heh, orang yang tahu bukan merupakan hal yang patut dibanggakan. Kalau sudah mendengar dari orang lain, tentu saja tahu, apa sih hebatnya ? Aku mendengar nama para pimpinan Lembah Yang - ce dari anak buah Lembah Yang - ce sendiri."

Mendengar ini, giranglah hati Tiong Li. "Ah, kiranya locianpwe yang telah menolong para saudara kami pula ? Di manakah mereka sekarang, locianpwe ?"

"Tidak jauh dari sini, di sebuah pondok tua kosong di dalam hutan kecil. Terpaksa kusembunyi-kan di situ karena aku tahu betapa bahayanya kalau mereka berkumpul di dalam kuil itu lalu bertemu dengan para tokoh sesat yang mengadakan pertemuan. Akan tetapi harap kalian maafkan aku. Orang-orang Lembah Yang-ce itu agaknya sudah terbiasa dengan kekerasan dan selalu mencurigai orang. Mereka tidak percaya kepadaku dan terpaksa aku harus menotok roboh mereka dan membawa mereka turun bukit ke hutan itu. Maaf !"

"Ah, kami yang sepatutnya minta maaf kepada locianpwe bahwa para saudara kami itu mencurigai maksud baik locianpwe."

"Dan nona ini siapakah ? Juga dua orang sauda-ra yang gagah ini ? Apakah juga tokoh - tokoh Lembah Yang - ce ?" tanya kakek itu sambil me-mandang kepada Pek Lian dan dua orang gurunya dengan penuh perhatian, terutama sekali kepada Pek Lian kakek itu memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik.

Tiong Li lalu memperkenalkan Pek Lian dan dua orang gurunya sebagai rekan - rekan patriot yang menentang kelaliman kaisar.

"Nona Ho Pek Lian ini adalah puteri dari Menteri Ho Ki Liong yang telah ditangkap oleh kaisar dan yang namanya menggemparkan seluruh dunia orang gagah itu."

Kakek itu mengerutkan alisnya. "Aku pernah mendengar akan nama besar menteri kebudayaan itu. Bukankah kabarnya beliau itu menentang pembakaran kitab - kitab Guru Besar Khong Cu yang dilakukan oleh kaki tangan kaisar ? Apa yang terjadi dengan dia ? Mengapa seorang pejabat tinggi yang demikian baiknya malah ditangkap oleh kaisar ?"

Tiong Li memandang kepada Kim-suipoa dan berkata, "Kiranya Tan - lo - enghiong yang dapat berceritera lebih jelas mengenai hal itu, atau nona Ho sendiri."

Ho Pek Lian lalu menceritakan tentang keadaan ayahnya, betapa ayahnya menentang keputusan kaisar yang dianggapnya keterlaluan dan merusak kebudayaan itu, yaitu menentang pembakaran kitab - kitab yang dianggapnya sebagai kitab - kitab kesusasteraan dan kitab - kitab yang menjadi pe-gangan seluruh rakyat tentang cara hidup tata su-sila mereka.

Pada waktu itu, biarpun pelajaran dari Nabi Khong - cu masih belum dianggap sebagai suatu agama dan Nabi Khong - cu sendiri disebut sebagai seorang Guru Besar, namun pelajarannya banyak dianut oleh rakyat sebagai pedoman hidup mereka. Setelah Pek Lian selesai bercerita tentang ayahnya yang ditangkap oleh kaisar, tentu saja karena hasutan - hasutan pembesar - pembesar lalim dan penjilat, Kim - suipoa dan Pek-bin-houw juga menceritakan tentang kelaliman kaisar, bukan hanya memaksa rakyat bekerja sampai mati untuk membangun Tembok Besar sehingga yang jatuh menjadi korban sampai ratusan ribu orang, akan tetapi juga pemerintahan tangan besi yang dijalankan kaisar untuk menekan rakyat, dan semua perbuatan kaisar yang membuat para pendekar diamdiam menentangnya dan menyusun kekuatan untuk memberontak.

Mendengar semua itu, kakek ini menarik napas panjang.

"Siancai... siancai... siancai... ! Dunia takkan pernah aman, manusia takkan pernah hidup dalam damai selama masih terjadi ke-kerasan- kekerasan. Sudah menjadi penyakit umum bahwa penguasa mempergunakan tangan besi terhadap rakyat, dibantu oleh semua kaki tangannya, dengan seribu satu macam alasan, katanya demi kebaikan kehidupan rakyat. Mengapa para penguasa tidak sadar bahwa rakyat hanya akan menentang karena tidak puas melihat kelaliman mereka? Biasanya, kaisar tidak tahu bagaimana macam para pembantunya yang selalu bertindak sewenang - wenang, memeras dan korup, sama sekali tidak ada ingatan untuk memperbaiki kehidupan rakyat melainkan hanya berlumba untuk mengumpulkan kekayaan bagi dirinya dan keluarganya sendiri saja. Mengapa kaisar sejak dahulu sampai sekarang tidak mau menyadari bahwa dia dikelilingi oleh orang-orang yang sifatnya penjilat ke atas dan menindas ke bawah ? Aihh, kapankah ada kaisar seperti Bu Ong yang akan memerintah dengan adil dan bijaksana ? Seorang kaisar sepatutnya menggunakan tangani besi terhadap bawahannya, terhadap semua kaki tangannya agar semua pejabat menjadi pejabat yang bijaksana dan baik. Bukan mempergunakan tangan besi terhadap rakyat! Salahnya, hampir semua kaisar tidak menya-dari bahwa dia dibantu oleh iblis - iblis yang ko-rup, yang memeras rakyat akan tetapi selalu mem-buat pelaporan yang baik - baik saja kepada kaisar. Kapankah ada kaisar yang menyelinap di antara rakyat dan menyelidiki sendiri kehidupan rakyat, menyelidiki sendiri cara kerja para pembantunya ? Aih, agaknya untuk itu, Thian harus menciptakan manusia - manusia yang khas."

"Locianpwe benar sekali," kata Kim - suipoa sambil menarik napas panjang.

"Sang Bijaksana mengajarkan bahwa sebelum mengatur orang lain, harus lebih dulu dapat mengatur diri sendiri. Se-orang ayah takkan mungkin dapat mendidik anak-anaknya kalau dia sendiri tidak terdidik, karena dia menjadi contoh dari pada anak-anaknya. Seorang pembesar harus mencuci bersih kedua tangannya sendiri terlebih dahulu sebelum dia ingin melihat anak buahnya bersih. Kalau penguasa yang di atas korup, mana mungkin bawahannya jujur dart tidak korup ? Akan tetapi, kalau atasannya bersih, tentu dia akan berani bertindak terhadap bawahannya yang kotor."

Pek-bin-houw menarik napas panjang.

"Siancai..., alangkah akan senangnya kalau keadaan pemerintahan dapat seperti itu. Sayang, kaum atas-an hanya menuntut agar bawahannya bersih, dan hal ini sama sekali tidak mungkin selama dia sendiri masih kotor. Bawahan mencontoh atasan, dan pula, atasan yang kotor mana akan ditaati oleh bawahannya ? Sungguh sayang...!"

"Munculnya Raja Kelelawar menandakan bahwa kaum sesat kini bangkit dan menjadi semakin kuat. Kalau hal ini ditambah lagi dengan kela-liman kaisar dan kaki tangannya, sungguh amat mengerikan kalau dibayangkan bagaimana akan jadinya dengan nasib rakyat jelata," kata kakek itu sambil menarik napas panjang penuh penyesalan.

Keadaan seperti itu tentu akan memaksa orang-orang seperti dia yang tadinya sudah mengasingkan diri dan hidup tenteram dan penuh damai, akan terpaksa terjun ke dunia ramai.

Kalau kita memperhatikan percakapan mereka, sungguh banyak terdapat pelajaran yang dapat di-ambil berdasarkan kenyataan hidup. Memang tak dapat dipungkiri kebenaran pribahasa yang mengatakan bahwa "guru kencing berdiri, murid ken-cing berlari". Kebaikan seorang guru belum tentu dapat ditauladani muridnya dengan mudah, namun keburukan seorang guru akan dapat diikutinya de-ngan amat cepatnya. Guru dalam hal ini dapat di-perluas menjadi orang tua atau juga kepala suatu kelompok atau seorang pemimpin. Betapapun ke-rasnya seorang ayah melarang anaknya berjudi, kalau dia sendiri seorang penjudi, maka dia tidak akan berhasil. Betapapun kerasnya seorang atas-an melarang bawahannya agar tidak korupsi, kalau dia sendiri tukang korup maka usahanya akan sia-sia. Bawahan selalu condong mencontoh atasan, seperti murid condong mencontoh guru dan anak mencontoh orang tua. Menekan anak, atau murid, atau bawahan untuk meniadi baik, tanpa si orang tua, guru atau atasan lebih dulu membereskan dirinya, tidak akan ada gunanya !

Namun, kekuasaan selalu digandeng oleh kesewenang- wenangan. Orang tua, atau guru, atau pemimpin yang merasa berkuasa, selalu membenarkan dirinya sendiri. Orang tua bilang, berjudi untuk dia tidak apa - apa, akan tetapi tidak boleh untuk anak - anak. Guru mengatakan, tidak sopan sedikit untuk guru tidak mengapa, akan tetapi tidak boleh untuk murid. Atasan bilang, penyalahgunaan wewenang untuk atasan adalah wajar, tapi tidak boleh untuk bawahan ! Seorang kaisar merupakan batang sebuah pohon. Kalau batang itu sehat, ca-bang ranting dan daunnya juga tentu sehat. Akan tetapi kalau batangnya sakit, jangan mengharapkan cabangnya, rantingnya dan daun - daunnya akan tumbuh sehat.

"Locianpwe, belum lama ini kami bertiga telah berjumpa dengan murid keponakan locianpwe."

Akhirnya Ho Pek Lian berkata kepada kakek itu setelah percakapan mereka mengenai keadaan negara karena kelaliman kaisar itu mereda.

Kakek itu memandang kepadanya. "Murid ke-ponakan ? Yang mana ?"

"Namanya Bu Kek Siang," Pek Lian memberi keterangan.

"Bu Kek Siang ? Ah, dia itu putera Bu - suheng ! Sudah puluhan tahun aku tidak bertemu dengan dia," kata kakek itu, tersenyum dan wajahnya men-jadi berseri.

"Di antara murid suhu, Bu - suhenglah murid yang boleh dibanggakan mendiang suhu."

"Memang, beliau adalah seorang pendekar yang amat hebat dan budiman, seorang ahli pengobatan yang dalam menolong manusia tidak memandang bulu, sungguh sayang, seorang pendekar sedemikian hebatnya harus tewas dalam keadaan yang amat menyedihkan," kata pula Pek Lian.

Kakek itu tidak nampak terkejut, hanya nam-pak alisnya yang sudah putih itu berkerut seben-tar. "Kek Siang? Tewas?"

Hanya itulah tanyanya dan Pek Lian lalu menceritakan semua peristiwa yang terjadi di rumah keluarga Bu itu. Kakek itu menarik napas panjang mendengar betapa murid keponakannya itu bersama isterinya tewas di waktu mengobati puteri tokoh iblis Tai - bong - pai, dan yang membuat dia merasa menyesal adalah bahwa kedua orang murid keponakannya itu tewas di ta-ngan murid - murid keponakan lain, yaitu murid-murid dari ji - suhengnya (kakak seperguruan ke dua).

"Hayaaaa...!" Dia mengeluh.

"Jadi ji-suheng masih hidup malah mendirikan Perkumpulan Baju Naga. Sungguh luar biasa, sudah tua masih bersemangat! Ji - suheng itu amat lihai, memiliki ilmu silat yang paling hebat di antara kami ber-tiga. Heran, dia bukan orang jahat, kenapa murid-muridnya begitu kejam, tega membunuh Bu Kek Siang yang masih saudara seperguruan ? Mungkinkah ji-suheng tua-tua telah berobah ?"

Tujuh orang itu tentu saja tidak berani me-nanggapi urusan perguruan orang, apa lagi karena mereka merasa bahwa mereka berada di tingkat yang jauh lebih rendah. Kakek itu menarik napas panjang lagi.
"Kedua orang anaknya itu... apakah mereka terluka parah ?"

"Bu Bwee Hong tidak terluka, akan tetapi ka-taknya, Bu Seng Kun, terluka parah. Untunglah bahwa mereka adalah ahli - ahli pengobatan yang pandai sekali sehingga agaknya tidak perlu dikhawatirkan keadaannya, locianpwe," kata Pek Lian.

"Sudahlah, lain hari akan kujenguk mereka. Se-karang mari kutunjukkan kepada kalian di mana kusembunyikan orang-orang Lembah Yang-ce itu."

Kakek itu bangkit dan melangkah dibantu tong-katnya, nampaknya seenaknya saja akan tetapi tujuh orang itu terpaksa harus mengerahkan tenaga Snkang mereka untuk mengikutinya! Bahkan Tiong Li yang masih belum pulih seluruh tenaganya, digandeng oleh dua orang pembantunya dan mereka bertujuh itu harus berlari - larian agar ti-dak sampai tertinggal oleh kakek sakti itu. Ketika mereka tiba di sebuah hutan kecil, kakek itu memasuki hutan dan tak lama kemudian mereka telah tiba di depan sebuah pondok tua. Kakek itu me-mandang ke arah sebuah gerobak yang berhenti tak jauh dari pondok. Kuda penarik gerobak nam-pak sedang makan rumput dengan tenangnya, tak jauh dari gerobak itu. Ketika Pek Lian dan ka-wan - kawannya melihat gerobak itu, mereka terke-jut bukan main. Jantung mereka berdebar tegang dan wajah mereka agak pucat oleh rasa khawatir. Dan gerobak itu bergoyang - goyang mengeluarkan bunyi berkereyotan karena memang gerobak tua. Pada saat itu, Pek Lian menoleh dan saling pan-dang dengan Tiong Li. Mendadak, keduanya me-nunduk dengan muka merah karena malu dan je-ngah. Kembali mereka dihadapkan dengan keca-bulan yang tidak tahu malu dari kakek dan nenek iblis pemilik gerobak!

Kakek sakti itupun tidak lama memandang kepada gerobak yang bergoyang - goyang itu, lalu dia melangkah memasuki pondok diikuti oleh tujuh orang pendekar. Akan tetapi, begitu masuk pondok kakek bertongkat itu berseru perlahan, "Siancai... ke mana mereka ?"

Tiong Li dan tiga orang Yang - ce Sam - lo me-mandang kepada kakek itu dengan sinar mata pe-nuh pertanyaan. Hati mereka berempat menjadi tegang dan khawatir sekali. Kalau para anak buah mereka itu bertemu musuh dalam keadaan tertotok, tentu tidak akan ada seorangpun di antara mereka yang dapat lolos dan selamat. Akan tetapi, kalau bertemu musuh dan dibunuh, lalu ke mana perginya mayat - mayat mereka ? Apakah mereka ditemukan oleh pasukan pemerintah yang menawan mereka semua ? Akan tetapi, pasukan pemerintah biasanya tidak bersikap demikian lunaknya dan tentu langsung membunuh orang - orang Lembah Yang - ce, walaupun pada saat itu pemerintah membutuhkan banyak tenaga orang - orang hukuman untuk membangun tembok besar.

"Ah, siapa lagi kalau bukan perbuatan dua orang itu ?" tiba - tiba kakek itu berkata dan dia-pun sudah berjalan keluar dari dalam pondok, diikuti oleh tujuh orang itu, menghampiri gerobak yang masih bergoyang - goyang. Kakek itu tidak berani lancang menuduh orang, akan tetapi karena di tempat itu tidak terdapat lain orang kecuali pemilik gerobak yang berada di dalam kendaraan itu, diapun menghampiri untuk bertanya.

"Sobat - sobat pemilik gerobak, keluarlah, aku ingin bertanya!" kakek itu berkata dengan suara yang bernada halus. Tujuh orang pendekar itu me-mandang dengan khawatir.

Tidak ada jawaban, bahkan gerobak itu makin keras guncangannya dan kini terdengar suara cekikikan genit diiringi suara ketawa parau. Jelas suara laki - laki dan wanita ! Kakek sakti itu mengangkat alisnya dan kembali dia bertanya.

"Maaf, sobat - sobat yang berada di dalam gero-bak. Apakah ada yang melihat orang - orang yang tadinya mengaso di dalam pondok itu ? Ke ma_ kah perginya mereka ? Apa yang telah terjadi de-ngan mereka ?" Pertanyaan ini diajukan oleh ka-kek sakti karena dia maklum bahwa menurut per-hitungannya, pada saat itulah orang-orang Lem-bah Yang - ce itu baru akan dapat pulih dari totok-annya. Jadi tidak mungkin kalau dapat terbebas sebelumnya. Akan tetapi tidak terdengar jawaban dari dalam gerobak dan sendau - gurau di dalam gerobak itu malah lebih seru dan ramai!

"Locianpwe, yang berada di dalam adalah dua orang tokoh terakhir dari Ban - kui - to (Pulau Selaksa Setan)..." tiba - tiba Kim - suipoa membisiki kakek sakti itu. Kakek itu mengerutkan alisnya.

Akan tetapi sebelum kakek itu menjawab atau melakukan sesuatu, tiba - tiba terdengar suara ke-ras dan gerobak itu bergoyang - goyang keras, lalu terdengar suara gedebugan seperti orang berkelahi disusul maki - makian dan tiba - tiba daun pintu gerobak itu jebol dan terlepas dari kaitannya, disu-sul terlemparnya sesosok tubuh setengah telanjang seorang kakek yang begitu terlempar dari atas ge-robak lalu berjungkir balik dan bangkit berdiri te-rus lari.

"Mau lari ke mana kau!" terdengar bentakan dan dari dalam gerobak meloncat seorang nenek yang pakaiannya juga tidak karu - karuan, agaknya dikenakan secara tergesa - gesa dan celananya ma-sih kedodoran. Nenek ini tidak memperdulikan semua orang yang berada di situ, langsung saja mengejar kakek tadi sambil memaki - maki ! Sekejap mata saja sepasang iblis itu telah lenyap. Tentu saja melihat ini, Ho Pek Lian menundukkan mukanya dan merasa jengah sekali. Sepasang iblis tua bangka itu benar - benar keterlaluan sekali !

Tujuh orang pendekar itu tadi hanya memandang dengan bengong, tidak tahu harus berbuat apa, sedangkan kakek sakti hanya menggeleng kepala menyaksikan kelakuan sepasang iblis itu.

"Siancai, kiranya Ban - kui - to sampai sekarang masih dihuni iblis - iblis seperti itu. Kalau mereka itu sudah berkeliaran di tempat ramai, hal itupun menjadi tanda - tanda bahwa dunia akan menjadi semakin tidak aman. Ahhh, mana mungkin orang dapat menikmati keheningan lagi melihat munculnya orang - orang seperti Raja Kelelawar dan penghuni Pulau Selaksa Setan itu ?"

Mereka mendekati gerobak dan longak - longok mengintai ke dalam. Akan tetapi tidak nampak ada seorangpun manusia di situ, kecuali benda-benda aneh yang mereka duga tentulah barang-barang berbahaya milik sepasang iblis itu. Mereka tidak mengganggu milik orang, melainkan menanti di dalam hutan itu sampai kembalinya sepasang iblis yang tadi lari berkejaran seperti gila itu. Akan tetapi sampai lama sekali, belum juga nampak ada tanda-tandanya nenek dan kakek itu kembali.

Tak lama kemudian, dari dalam hutan mereka melihat banyak orang lewat dan mereka mengenal tokoh - tokoh sesat yang tadi hadir dalam pertemu-an mereka menghadap pimpinan baru mereka, si Raja Kelelawar. Mereka tetap tinggal di dalam hutan dan tidak memperlihatkan diri. Akan tetapi ketika tiba-tiba terdapat serombongan orang menyusup keluar dari balik semak - semak belukar di dalam hutan, tidak jauh dari tempat mereka berada, tujuh orang pendekar itu terkejut dan diam-diam merekapun mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan sambil memandang kepada rombongan orang itu. Mereka itu tadi tidak nampak hadir dalam pertemuan para tokoh sesat. Mereka berjumlah delapan orang dengan pakaian sutera hitam. Kesemuanya adalah wanita yang sudah setengah tua, antara empatpuluh sampai empatpu-luh lima tahun usianya.

Rata - rata bersikap gagah dan gerakannya gesit, dan selain pakaian sutera hitam yang ringkas, juga di sanggul rambut mereka terhias tusuk konde dari batu giok. Selagi Pek Lian dan kawan-kawannya memperhatikan, tiba-tiba dari lain jurusan muncul pula rombongan empat orang pria yang memakai seragam putih-putih. Di punggung masing - masing terdapat sepasang pedang panjang dan sikap mereka juga gagah sekali, sedangkan usia mereka kurang lebih empatpuluh tahun. Rombongan empat orang seragam putih inipun tadi tidak kelihatan di antara kaum sesat yang berkumpul di depan pondok di atas bukit. Maka merekapun menduga bahwa agaknya, selain para tokoh sesat yang hadir, kiranya banyak juga terdapat tamu tak diundang yang secara diam - diam berdatangan ke tempat itu secara sembunyi-sembunyi. Ketika kedua rombongan, yaitu delapan orang wanita berpakaian hitam - hitam dan empat orang pria berpakaian putih - putih itu berpapasan di dalam hutan, kedua pihak nampak kaget.

"Ah, mereka berempat itu adalah pendekar-pen-dekar Thian - kiam - pang ( Perkumpulan Pedang Langit) yang terkenal itu!" bisik Kwee Tiong Li. Sebagai ketua Lembah Yang - ce, tentu saja dia sudah banyak mengenal atau mendengar tentang perkumpulan - perkumpulan pendekar lainnya.

"Perkumpulan macam apakah itu ?" Pek Lian berbisik, ingin tahu.

"Itu adalah perkumpulan pendekar pedang yang terkenal gagah perkasa. Kalau di daerah untuk daerah utara, nama Thian - kiam - pang amat ter-kenal, ilmu pedang mereka hebat."

Kini muncul pula rombongan para tosu Bu-tong - pai, terdiri dari lima orang tosu. Kedua rombongan terdahulu segera menyingkir, pergi ke jurusan - jurusan yang berlainan. Juga para tosu Bu - tong - pai itu menyingkir. Mereka adalah tokoh - tokoh dari dunia putih, akan tetapi karena mereka semua datang ke daerah itu sebagai pengintai dan tidak saling berhubungan, maka mereka-pun saling menghindar, tidak ingin berjumpa karena kalau mereka berkumpul, berarti mereka tidak dapat bergerak secara sembunyi - sembunyi lagi.

Kakek itu makin tertarik dan diapun melangkah keluar dari hutan kecil itu, diikuti oleh Tiong Li, Pek Lian dan teman - teman mereka. Dan ter-nyata banyak bermunculan rombongan - rombongan dan tokoh - tokoh persilatan dari kaum bersih atau dari mereka yang tidak memasukkan dirinya ke dalam kaum bersih maupun kaum sesat, yang ingin berdiri bebas. Melihat betapa banyak orang itu baru mereka ketahui sekarang kehadirannya, diam - diam Ho Pek Lian merasa kagum dan dapat menduga bahwa mereka itu adalah orang - orang yang berkepandaian hebat.

"Siancai... !" Kakek ahli ginkang yang sakti itu berkata setelah melihat betapa banyaknya para pendekar bermunculan setelah pertemuan para tokoh sesat itu bubar,

"Agaknya kemunculan keturunan Raja Kelelawar benar-benar membuat dunia persilatan menjadi geger! Bukankah demikian, sobat yang berada di balik semak - semak itu ?"

Kalimat terakhir ini ditujukan ke arah semak - semak yang berada di sebelah kiri, beberapa meter jauhnya dari tempat mereka berdiri. Tentu saja tujuh orang pendekar yang mendengar kalimat ini menjadi terheran - heran kemudian terkejut ketika tiba-tiba melihat tiga orang hwesio muncul dari balik semak-semak itu sambil (mengangkat kedua tangan memberi hormat dengan wajah mereka yang alim dan ramah.

"Omitohud..., lo-sicu sungguh bermata tajam bukan main !" seorang di antara mereka memuji. Melihat seorang di antara tiga hwesio berusia kurang lebih enampuluh tahun ini, yang dahinya terhias bekas luka memanjang, Pek-bin-houw Liem Tat cepat maju memberi hormat.

"Ah, kiranya Ta Beng losuhu yang berada di sini. Tidak kami kira bahwa para tokoh Siauw-lim - pai juga hadir di tempat ini! Terimalah hormat saya, losuhu."

Hwesio itu sejenak memandang wajah Pek-bin-houw yang putih, mengingat-ingat, lalu menepuk dahinya dan balas menjura.

"Omitohud... bukankah Si Harimau Putih yang berada di sini ? Bagaimana kabarnya, sicu ? Pinceng mendengar berita bahwa sicu dan kawan- kawan mengadakan gerakan di Lembah Yang-ce sekarang, meninggalkan Huang-ho. Benarkah ?"

Pek - bin - houw Liem Tat lalu memperkenalkan hwesio itu kepada teman - temannya. Hwesio itu berjuluk Ta Beng Hwesio, seorang tokoh Siauw-lim - pai, merupakan tokoh ke dua dalam urutan tingkat di Siauw - lim - pai, seorang hwesio yang berilmu tinggi.

"Sicu tentu mencari para pendekar Lembah Yang - ce, bukan ?" Tiba - tiba hwesio itu bertanya.

"Karena itulah pinceng bertiga sengaja menanti di sini." Lalu Ta Beng Hwesio menceritakan bahwa dia dan dua orang sutenya itulah yang membebas-kan totokan para anak buah Lembah Yang - ce itu.

"Pinceng melihat munculnya kakek dan nenek iblis dari Ban - kui - to, maka pinceng merasa khawatir melihat mereka itu dalam keadaan tertotok. Kami membebaskan mereka dan menyarankan agar me-reka menjauhi tempat itu dan menanti cu - wi (an-da sekalian) sebagai pimpinan mereka di dalam dusun di sebelah utara sana."

Mendengar keterangan ini, bukan main girang-nya hati Kwee Tiong Li dan tiga orang pembantu-nya. Cepat dia maju dan memberi hormat.

"Sung-guh besar budi pertolongan losuhu terhadap kawan-kawan kami. Saya menghaturkan banyak terima kasih."

Ketika hwesio itu mendengar bahwa pe-muda yang perkasa ini adalah ketua muda dari Lembah Yang - ce, murid dari pendekar Chu Siang Yu, wajahnya berseri girang.

"Ah, kiranya sicu adalah murid Chu - taihiap. Sudah lama sekali pinceng tidak berjumpa de-ngan dia. Bagaimana kabarnya ?"

"Suhu dalam keadaan baik saja, akan tetapi per-kumpulan kami di Lembah Yang - ce mengalami pukulan hebat dari pasukan pemerintah."

Tiga orang hwesio itu mengangguk - angguk karena mereka sudah mendengar akan berita buruk itu dari para anak buah Lembah Yang - ce yang mereka bebaskan dari totokan. Mereka lalu berpisah dan kakek sakti bersama tujuh orang pendekar itu menuju ke dusun yang ditunjuk oleh para hwesio Siauw - lim - pai.

                                                                                 ***

"Maafkan pertanyaan saya, locianpwe. Akan tetapi setelah menerima budi pertolongan locian-pwe, kami ingin sekali mengenal nama locianpwe yang mulia. Sudikah locianpwe memberitahukan kami ?"

Pertanyaan yang diajukan oleh Pek Lian ini melegakan hati enam orang lainnya karena mereka semuapun ingin sekali mendengar lebih banyak dari kakek sakti ini, hanya karena kakek itu lebih sering berdiam diri seperti orang melamun, mereka merasa ragu - ragu dan tidak enak hati untuk bertanya, hanya mengharapkan kakek itu akan memberitahukan sendiri.

Akan tetapi, kini Pek Lian yang mungkin sebagai seorang dara yang lincah lebih berani dalam hal bertanya seperti itu, te-lah mewakili keinginan hati mereka, maka kini mereka semua memandang kepada kakek sakti itu dengan penuh perhatian.

Kakek itu menarik napas panjang. "Hemm, sudah puluhan tahun aku ingin menyembunyikan diri agar namaku tidak disebut - sebut orang. Siapa tahu, gara - gara Raja kelelawar kedua tanganku menjadi kotor, berlepotan dengan urusan dunia. Datuk - datuk sesat, seperti setan - setan yang keluar dari neraka, telah bermunculan. Biarlah aku menceritakan keadaanku, apa lagi karena kalian telah berkenalan dan menjadi sahabat dari keluarga Bu."

Kakek itu mulai bercerita sambil berjalan. Tu-juh orang pendekar mendengarkan dengan penuh perhatian. Gurunya, mendiang Bu - eng Sin - yok-ong atau Raja Tabib Sakti Tanpa Bayangan mem-punyai tiga orang murid. Murid pertama adalah ayah dari Bu Kek Siang dan murid pertama ini me-warisi ilmu pengobatan dan tenaga sinkang yang amat kuat sehingga bagaimanapun juga, dengan kekuatan sinkang itu, dia dapat dikatakan paling unggul di antara tiga orang murid, sesuai de-ngan kedudukannya sebagai murid tertua.

Murid ke dua adalah seorang yang berasal dari selatan bernama Ouwyang Kwan Ek, yang mewarisi ilmu pukulan sehingga murid ini memiliki ilmu silat yang amat hebat gerakan - gerakannya. Sedangkan orang ke tiga yang menjadi murid termuda dan yang mewarisi ilmu ginkang adalah kakek bertongkat itu yang bernama Kam Song Ki. Semenjak matinya Raja Tabib Sakti, tiga orang murid ini terpencar dan saling berpisah. Ayah Bu Kek Siang yang bernama Bu Cian itu tinggal di utara. Ouw-yang Kwan Ek yang berasal dari selatan itu kem-bali ke dunia selatan dan tidak pernah terdengar beritanya, sedangkan Kam Song Ki yang memang hidup sendirian saja dan suka merantau, tidak diketahui di mana tempat tinggalnya yang tetap. Tentu saja di samping mewarisi keahlian - keahlian itu, masing - masing juga mewarisi ilmu silat yang tinggi, ilmu pengobatan dan ilmu ginkang serta tenaga sinkang. Hanya saja, masing - masing telah mewarisi keistimewaan yang diberikan oleh guru mereka disesuaikan dengan bakat masing - masing pula.

"Aku suka merantau, dan aku tidak suka ber-urusan dengan dunia, seperti juga halnya dengan twa - suheng almarhum. Bahkan ji - suhengpun bi-asanya tidak pernah mau merisaukan urusan dunia sesuai dengan pesan suhu yang tidak ingin murid-muridnya mengandalkan kepandaian untuk melakukan kekerasan dan bermusuhan dengan orang lain. Maka, sungguh mengherankan sekali kalau kini ji-suheng selain masih hidup, malah juga mendirikan perkumpulan Liong-i-pang (Perkumpulan Jubah Naga) itu, bahkan telah membunuh murid keponakannya sendiri hanya untuk memperebutkan kitab pusaka." Dia menarik napas panjang dengan penuh penyesalan.

Mendengar penuturan singkat itu, tujuh orang pendekar ini menjadi kagum. Kakek ini murid seo-rang yang kesaktiannya terkenal seperti dewa, dan memiliki ilmu kepandaian yang sukar diukur tingginya. Namun sikapnya demikian sederhana, tidak ingin namanya dikenal orang, bahkan tidak ingin mempergunakan kepandaiannya untuk bermusuhan dengan orang lain.

Dengan kagum Tiong Li lalu memberi hormat. "Penuturan Kam-locianpwe membuka mata kami bahwa makin banyak gandumnya, makin menunduklah tangkainya, makin dalam airnya, makin tenang dan diam. Akan tetapi, kalau para locianpwe seperti Kam-locianpwe tidak mempergunakan kepandaian untuk membendung datuk-datuk hitam yang berkepandaian tinggi, tentu akan lebih parah dan celakalah kehidupan rakyat jelata, dilanda oleh kejahatan mereka."

"Itulah yang menyebalkan !"' kata Kam Song Ki sambil menggurat - guratkan ujung tongkatnya di atas tanah di depannya.

"Kemunculan iblis-iblis seperti Raja Kelelawar itu mau tidak mau menyeret pula orang-orang tua yang sudah mendekati lubang kubur seperti aku ini untuk ikut pula meramaikan dunia dengan pertentangan-pertentangan antara manusia !"

Setelah berkata demikian, kakek itu mempercepat langkahnya sehingga semua orang bergegas mengejarnya dan sikap ini seperti menjadi tanda bahwa dia tidak ingin bicara lagi tentang dirinya.

Ketika akhirnya mereka tiba di dusun itu, hari telah sore dan keadaan dusun yang agak sunyi itu membuat mereka merasa heran. Bahkan beberapa orang kanak-kanak yang tadinya bermain-main di pekarangan rumah, ketika melihat munculnya delapan orang ini, dengan wajah ketakutan mereka melarikan diri memasuki rumah mereka, rumah pondok miskin. Beberapa orang dewasa yang kebetulan berada di luar rumah juga cepat - cepat memasuki rumah dan menutupkan daun pintu rumah mereka. Jelaslah bahwa penduduk di dusun itu dicekam rasa ketakutan melihat orang asing memasuki dusun mereka. Hal ini hanya berarti bahwa tentu telah terjadi sesuatu yang hebat. Mereka terus memasuki dusun itu dan ketika mereka tiba di tengah dusun, tiba - tiba saja bermunculan puluhan orang penduduk dusun itu, kesemuanya pria dan mereka membawa alat - alat senjata seadanya, mengurung dengan sikap mengancam.

Melihat ini, kakek itu tenang - tenang saja, akan tetapi Kwee Tiong Li segera mengangkat tangan ke atas dan berkata dengan suara berwibawa, "Saudara-saudara hendaknya jangan salah menyangka orang ! Kami bukanlah orang-orang jahat dan kami datang untuk mencari teman- teman kami yang kemarin dulu datang ke tempat ini. Jumlah mereka kurang lebih ada limapuluh orang "

Dari para pengepung itu majulah seorang laki-laki berusia lebih dari empatpuluh tahun. Suaranya agak parau ketika dia berkata, "Mereka semua telah mati! Semua telah mati!"

Tentu saja delapan orang itu terkejut, terutama sekali Tiong Li. "Mati ? Kenapa ? Siapa membunuh mereka dan mengapa ?"

"Malam tadi di sini terjadi pertempuran hebat, antara pasukan pemerintah yang menyergap orang-orang yang agaknya bersembunyi di dusun kami. Kami semua ketakutan, takut terbawa - bawa dan memang ada belasan orang muda di dusun kami yang ikut pula terbunuh karena disangka menyembunyikan mereka. Kami semua bersembunyi ketakutan. Akhirnya, semua orang itu tewas, juga puluhan orang perajurit tewas. Sejak pagi tadi kami penduduk dusun bertugas untuk mengubur semua mayat itu. Mengerikan ! Lebih dari seratus mayat terpaksa dikubur dalam beberapa lubang besar saja, di luar dusun."

Bersambung

Darah Pendekar 6                                                                 Darah Pendekar 8